(Happy) Ending Film.

Screenshot from 2018-03-30 14:07:44

–Untuk Hari Jumat, Untuk Hari Film Nasional, Untuk Hari Paskah.

Childlike was your first gracious allurement / Her offering hands touched mine in content – Holding Hands, Downset.

Terima kasih, adalah kata yang tak ternilai ketika mengikuti dua kelas bahasa internasional di dua Institusi. Selain bicara tentang masakan, fashion, politik, dan banyak tema lainnya, dan tentu saja, film; dalam satu sudut pandang secara subyektif, film sebagai ‘tool’ untuk membantu perkembangan menguasai bahasa. Bersama pengalaman, di satu kelas, perdebatan yang tak pernah berakhir tentang mana yang lebih bagus, film manca negara atau film Indonesia, dimunculkan, namun hanya untuk menambah pandangan-pandangan lain.

Berangkat dari disiplin ilmu teknik dan penggemar roman (novel) menuju ke pemahaman audio-visual, memang tak mudah. Namun ada banyak arah menikmati budaya layar, kita bisa memulai gerakan dari bangunan berupa bioskop dan film. Dua domain itu, bioskop dan film menjadikan hal yang perlu ditafsir ulang ketika membaca tesis ‘Sejarah dan Produksi Ruang Bioskop,’ (1) Patricia Elida Tamalagi, pendiri Kinoki, bioskop alternatif di Yogyakarta yang beroperasi dari 2005 sampai 2010, yang berpulang kala hampir merampungkan tesisnya yang luar biasa. Dan dalam pengantar tesis ‘Sejarah dan Produksi Ruang Bioskop’, salah satu pengajar di Sanata Dharma, Katrin Bandel, menulis, “Saya berusaha untuk sebisa mungkin sekadar merapikan tulisan yang masih berupa draft tersebut tanpa mengubah substansinya, serta menambahkan kesimpulan singkat di akhir tulisan.” (2)

Patricia Elida Tamalagi, membukakan mata bahwa film tak melulu perkara Hollywood, Bollywood, Jean-Luc Godard di Prancis atau Festival Berlin; dan mengajak untuk melihat secuil perkembangan sejarah bioskop, seperti yang Patricia tulis, “ Maka dibangunlah bioskop khusus untuk orang Eropa, seperti Decca Park di Jakarta dan Concordia di Bandung. Di samping itu, terdapat bioskop untuk kelas bawah, seperti Kramat di Senen dan Rialto yang kini menjadi gedung wayang orang Bharata.” (3)

Dan untuk Hari Jumat yang istimewa dan sebagai penggemar (awam) film pendek, maka untuk merayakan Hari Jumat, Hari Film Nasional, atau Hari Paskah, tak ada salahnya untuk memutar film pendek Indonesia favorit, Arah Kisah Kita, (4) besutan Salman Aristo.

Seberani apa kau mencintai dan mencari arah hidupmu?

Iklan

Catatan Harian 7 (28/03/2018)

 

Manajemen Waktu dan Menghafal Konjugasi. Risiko bagi orang yang belajar bahasa adalah menghafal konjugasi. Setiap orang punya metodenya masing-masing, yang terpenting adalah kenyamanan dan paling nyaman untuk ukuran saya adalah pagi hari.

Biasanya, diawali (1) pukul lima pagi hingga enam pagi, 20 menit untuk bahasa Inggris, bahasa Prancis, dan bahasa Jerman dengan baca/read/lire/lesen; (2) Pukul enam pagi hingga pukul tujuh pagi, 20 menit untuk bahasa Inggris, bahasa Prancis, dan bahasa Jerman dengan dengar/listen/ecouter/hören; (3) pukul tujuh pagi hingga pukul delapan pagi, 20 menit untuk bahasa Inggris, bahasa Prancis, dan bahasa Jerman dengan tulis/write/ecrire/schreiben; (4) pukul delapan pagi hingga sembilan pagi, 20 menit untuk bahasa Inggris, bahasa Prancis, dan bahasa Jerman dengan hafalan/memorize/mémoriser/memorieren, dari konjugasi alfabet A hingga Z. Setelah itu sarapan.

Kata ‘Manajemen Waktu’ ini didapat ketika berada di forum Emha Ainun Nadjib dulu sekali sewaktu di Malang, yang kini hampir tak pernah lagi. Kemudian, benar-benar mendalami ‘Manajemen Waktu’ dari otobiografinya Hatta. Manajemen waktu ini telah berjalan hampir tiga tahun ini, dan itupun masih jauh dari kata sempurna.

Das Geheimnis des Könnens liegt im Wollen, Zitat von Giuseppe Mazzini.

Rahasia kemampuan terletak dalam keinginan, kutipan dari Giuseppe Mazzini.

Catatan Harian 6 (26/03/2018)

Firasat dan Puasa. Pada pukul dua belas dini hari, aku pulang dari tempat ngopi dan menuju ke satu tempat yang menjual nasi goreng dan susu murni langgananku di daerah Colombo, dekat Universitas Negeri Yogyakarta. Sesampainya di tempat itu, sambil menanti pesanan, aku terpikirkan untuk berpuasa. Aku pun tak tahu kenapa, ingin sekali rasanya melakukannya. Apakah ini yang dinamakan kebetulan, keinginan ataukah firasat? Pikirku saat menanti pesananku jadi. Aku tak tahu. Setelah pesananku jadi, aku pun membayar dan pulang.

Seusai menyantap nasi goreng, aku terpikir kembali tentang kebetulan, keinginan ataukah firasat yang kuhubungkan dengan puasa, agak irasional memang, untuk orang serasional diriku. Namun, ada yang menarik ketika aku membuka kembali buku dari Prof. Quraish Shihab, Dia Di Mana-Mana. Di dalam buku itu, terdapat satu bab yang membahas tentang ‘firasat’, dan dalam pemahaman Prof. Quraish Shihab adalah:

“Dalam Literatur agama, kita menemukan uraian yang dikenal dengan nama firasat, yakni pandangan mata hati. Agamawan berpendapat bahwa firasat ada dua macam. Ada yang dapat diperoleh melalui indikator, pengalaman dan pengamatan terhadap perilaku manusia. Sementara ilmuwan mengartikannya sebagai ‘seni memprediksi sesuatu melalui pengamatan wajah atau tingkah laku’. Firasat macam kedua adalah yang muncul tanpa upaya manusia, tetapi pengetahuan yang dicampakkan Tuhan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (1)

Sementara, dalam ranah lain, yang kuluaskan jarak pencariannya tentang ‘puasa-ke-firasat’. Dalam dietdoctor[dot]com malah dijelaskan bahwa:

“Ini telah dikenal melalui sejarah. Di Yunani Kuno, para pemikir hebat berpuasa berhari-hari, bukan karena mereka perlu menurunkan berat badan, tetapi karena mereka percaya (dengan benar) bahwa berpuasa akan meningkatkan kelincahan mental mereka. Bahkan hari ini, kita mengagumi filsuf Yunani kuno dan matematikawan. Dalam kisah-kisah tawanan perang Jepang dalam Perang Dunia II (Unbroken oleh Laura Hillenbrand), banyak yang menggambarkan kejelasan pikiran yang luar biasa yang sering menyertai kelaparan. Dalam buku ini, tokoh utama menggambarkan seorang narapidana yang akan membaca seluruh buku dari ingatan, dan yang lain belajar bahasa Norwegia dalam beberapa minggu.” (2)

Apakah ini yang dinamakan kebetulan, keinginan ataukah firasat?

Yoo Jae Ha – Because I Love You (Cover), Gita Savitri.

Bakso.

20180324_171457

Dari sebagian daerah yang telah dijelajahi, dari Jalan Kaliurang, Jalan Gejayan, bahkan Jalan Solo, di Jogja, bakso yang ada tahu putihnya hanya ada di bakso Cak Pur Arema di seberang Plaza Ambarukmo, tapi tetap saja, tak ada lontong, sebab bagi lidah Jawa Timur yang ortodok/fundamental, terlebih dibesarkan dari kultur kota yang menyantap bakso dengan intensitas tinggi seperti Malang, adanya lontong akan menambah ‘sense’-nya sendiri.

Seorang kawan, menyebut bakso di Malang adalah bakso Anarko, terserah mau ambil gorengan (kembang atau bulat) berapa pun, ambil pentol (kasar atau halus) berapa pun, atau bahkan hanya beli mie (kuning atau putih) saja pun tak ada yang melarang, asal bayar; tapi kalau di Jogja tidak bisa, hanya ada pilihan antara komplit dan tidak komplit. Walaupun sama-sama bakso namun cara penyajiannya berbeda.

Dalam image tersebut, dalam konteks bahasa, mungkin bakso, bisa diteliti lebih lanjut melalui ‘studi gastronomi’, yang memiliki perbedaan dengan ‘studi kuliner’. Dalam satu aspek, tentang karakteristik bakso sendiri, dengan mengambil contoh mie, bakso di Malang memiliki mie kuning atau putih dibentuk menjadi bulat, lain halnya dengan bakso di Surabaya yang hanya menyajikan mie putih, lain halnya dengan bakso di Jogja yang mie putih dan mie kuning dicampur menjadi satu.

Apapun itu, eat local, think global, ya.

Catatan Harian 5 (22/03/2018)

Pemimpin (yang demokratis) dan kepala keluarga. Pagi tadi, di Kompas, ditulis bahwa dua calon wali kota Malang menjadi tersangka KPK. Aku tak heran dan aku tak terkejut. Dalam politik, kekuasaan dan uang, apa saja bisa terjadi. Kawan bisa menjadi lawan atau lawan bisa menjadi kawan. Namun, sejak membaca Hatta, saat kepindahanku dari Malang ke Jogja, aku memiliki satu gagasan bahwa menjadi kepala keluarga ibarat seorang pemimpin negara atau presiden. Presiden sebagai ayah, wakil presiden sebagai ibu, dan rakyat sebagai seorang anak. Tentu saja ini masih menjadi konklusi awal dan bisa diperdebatkan kembali; selain itu, aku tak suka pada kata ‘kepala keluarga’. Ibarat satu tubuh, aku lebih suka bahwa seorang pemimpin (keluarga) sebagai ‘kaki keluarga’, yang menopang segalanya, berkorban segalanya. Menjadi pemimpin (keluarga) memang tak mudah.

Tahun ini, di umurku yang akan mencapai 29 tahun, 40 persen porsi bacaanku tentang keluarga: persoalan keluarga, relasi antara suami dan istri, persoalan parenting dan persoalan anak. Tahun ini, aku pun lebih banyak membeli buku cerita anak-anak sebagai tabungan untuk anakku nanti. Aku memang melangkahkan pikiranku lima hingga sepuluh tahun mendatang, memainkan imajinasi dan merancang segala sesuatu untuk anakku nanti, meskipun apa yang aku rancang bisa berubah tergantung situasi. Aku memang fokus pada pendidikan, namun itu bukanlah hal yang utama. Yang utama bagiku adalah gairah, minat, hasrat, si anak itu nanti. Tentu saja, selain itu, suara gagasan seorang istri/ibu adalah hal penting lainnya. Bagiku, seorang istri/ibu, harus berani memberikan kritik pada seorang suami/ayah, ketika dalam hati nuraninya, terdapat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan si pemimpin (keluarga), dan menjadi pendukung utama ketika seorang suami/ayah mengalami kejatuhan mental.

Pada akhirnya, untuk merangkum semua hal itu, tak ada kata yang tepat selain: Komunikasi. Presiden, wakil presiden, dan rakyat. Ayah, ibu, dan anak. Demikianlah penggambaran keluarga demokratis bagiku.

Aku pun berterima kasih kepada kawan-kawanku yang telah menjadi ayah/ibu muda, yang banyak memberikan nasihat melalui cerita-cerita parenting yang mengasyikkan, untuk pengalamanku mengarungi bahtera keluarga nantinya, seperti mengingat kembali kata Hatta dalam otobiografinya, Berjuang dan Dibuang:

Kalau nahkoda menjadi bingung atau kehilangan akal, itulah alamat kapal bakal binasa.

Communication – The Cardigans.

Catatan harian 4 (21/03/2018).

[Indonesian] Pada pukul satu siang, aku menyelesaikan naskah cerita remaja Prancis. Cerita tentang seorang fotografer di Marseille. Singkatnya, ketika ia berada di satu museum, ia melihat dua orang sedang mencuri lukisan. Kemudian, dua pencuri itu melihat si fotografer dan menangkapnya. Lalu, telepon si fotografer terjatuh dan ditemukan oleh seorang perempuan muda. Dan kemudian perempuan muda itu mencari keberadaan di mana si fotografer yang diculik. Rencananya, aku akan menerbitkannya dalam dua bahasa, Prancis dan Indonesia, ke salah satu penerbit di Jogja. Kemudian aku akan segera meminta ijin hak terjemahan pada penerbit Prancis yang menerbitkan buku tersebut.

Satu jam kemudian, aku membuka salah satu sosial mediaku. Ada banyak hal-hal kecil yang mengejutkan terjadi, salah satunya adalah seorang kenalan yang memiliki anak yang berbeda, dan aku tak ingin menyebutkan kenapa, sebab bagiku itu privasi antara ia dan keluarganya. Aku mencoba memahami kasus itu, ketika aku menjadi seorang ayah seperti kenalanku itu dan harus menghadapi kondisi sulit. Selain itu, dari sisi anak, setiap anak telah diciptakan dengan keunikannya sendiri-sendiri dan adalah tugas para orang tua untuk mencoba memahami dan mengeluarkan potensinya, sungguh tak mudah menghadapi anak-anak. Aku percaya bahwa segala kesulitan yang ada di dunia ini punya jalan keluarnya masing-masing, siapapun pasti memahami itu. Hidup ini sangat sulit, kata sebagian orang. Oleh sebab itu, aku pun menulis catatan-catatan kecil ini, untuk melihat kesulitan yang ada dan mencoba merumuskannya, sehingga terciptalah kemudahan untuk siapa saja. Sebab, aku percaya bahwa kesulitan adalah kemudahan yang menyamarkan tentang kebahagiaan. Ya, kebahagiaan itu ada.

[German] Um ein Uhr nachmittags beendete ich das Drehbuch einer französischen Teenagergeschichte. Die Geschichte eines Fotografen in Marseille. Kurz gesagt, als er am Museum war, sah er, dass zwei Männer die Gemälde stahlen. Dann sahen die zwei Diebe ihn und hielten auf ihn. Dann fiel das Telefon des Fotografen ab und wurde von einer jungen Frau gefunden. Und dann suchte sie nach dem Verbleib des gekidnappten Fotografen. Mein Plan ist, dass ich es in zwei Sprachen, Französisch und Indonesisch, bei einem der Verleger in Jogja veröffentlichen werde. Dann werde ich sofort das Recht auf Übersetzung an den französischen Verleger verlangen, der das Buch veröffentlicht hat.

Eine Stunde später öffnete ich eines meiner sozialen Medien. Es geschehen viele überraschende Kleinigkeiten, einer meiner Bekannten, der ein anderes Kind hat, und ich wollte nicht erwähnen, warum, denn für mich ist es die Privatsphäre zwischen ihm und seiner Familie. Ich versuchte, den Fall zu verstehen, als ich ein Vater wie meine Bekanntschaft wurde und schwierigen Bedingungen ansehen mußte. Außerdem, auf der Seite des Kindes, ist jedes Kind mit seiner eigenen Einzigartigkeit geschaffen worden, und es ist die Aufgabe von Eltern zu versuchen, und breiten Sie sein Potential aus, Es ist nicht einfach, sich Kindern zu stellen. Ich glaube, dass alle Schwierigkeiten, die es auf dieser Welt gibt, einen Ausweg haben, jeder wird das verstehen. Das Leben ist sehr schwierig, sagen manche. Also habe ich diese kleinen Notizen geschrieben, um die Schwierigkeiten zu erkennen und zu versuchen, sie zu formulieren, um es für jeden einfach zu machen. Weil ich glaube, dass Schwierigkeit die Leichtigkeit ist, die Glück verkleidet. Ja, Glück ist existieren.

Lass Uns Gehen – Revolverheld.

Catatan Harian 3 (19/03/2018).

[Indonesian] Untuk kekasihku nanti dan mimpinya. Beberapa langkah lagi menuju Prancis, tapi aku tak merasa bahagia. Sudah sejak lama aku mengubur mimpiku dan aku ingin membantu seseorang yang menurutku berarti, terlepas dari keluarga dan kawan, yaitu kekasihku nanti. Pikiran itu kudapat berulang kali ketika aku membaca keromantisan Hatta pada istrinya, Rahmi Hatta. Perjuangan untuk menanti dan bertemu dengan Rahmi Hatta hingga membuatkan sandwich untuk istrinya ketika melahirkan itu, membuatku berpikir kembali tentang mimpiku. Aku bukanlah seorang yang bisa egois atau orang yang senang berjalan sendiri, aku lebih senang berada di samping, dalam membantu siapapun, meski aku tahu bahwa apapun yang aku lakukan akan segera hilang dan terlupakan. Itu pasti.

Setiap kali datang dan memasuki pintu IFI Yogya dan disambut dengan satu pertanyaan, “Apa Mimpimu?” Dalam hatiku, aku selalu menjawab, aku ingin menghidupkan mimpi-mimpi orang terdekatku seperti keluarga, teman, dan salah satunya, kekasihku nanti. Apa yang aku lakukan saat ini, belajar tentang apa saja yang berhubungan dengan Prancis dan Jerman, hanyalah satu loncatan kecil untuk menghidupkan mimpi-mimpi mereka, dan justru bukan mimpiku.

Dan, sekali lagi, sudah sejak lama aku mengubur mimpiku. Aku tak ingin berjalan di depan keluargaku, temanku, atau orang yang paling kucintai, kekasihku nanti. Aku ingin berjalan di samping, menemani mereka. Demikianlah aku mengartikan slogan ‘You’ll never walk alone’, slogan tim sepakbola favoritku. Dan, aku lebih senang melihat orang lain senang daripada melihatku senang sendirian, itulah pengorbanan.

[France] Pour mon prochain bien-aimé et son rêve. Quelques pas de plus vers en France, mais je ne suis pas content. J’ai enterré mon rêve depuis longtemps et je veux aider quelqu’un que je pense signifie, en dehors de la famille et des amis, mon prochain bien-aimé. La pensée a été répétée quand j’ai lu l’histoire de Hatta à sa femme, Rahmi Hatta. La lutte pour attendre et pour rencontrer Rahmi Hatta et pour faire un sandwich pour sa femme quand elle accouche, me fait penser à nouveau à mon rêve. Je ne suis pas une personne qui égoïste ou celle qui aime marcher seule, je préfère être celui qui est sur le côté et aider tout le monde, même si je sais que tout ce que je ferai sera bientôt perdu et oublié. C’est sûr.

Chaque fois que je venais et entrais dans la porte de l’IFI Yogya, j’ai été accueilli par une question: “Quel est votre rêve?” Dans mon cœur, je réponds toujours, je voulais vivre les rêves de mes proches comme la famille, les amis, et l’un d’eux, mon prochain bien-aimé. Ce que je fais en ce moment, en apprenant tout ce qui concerne la France et l’Allemagne, seulement un petit saut pour vivre leurs rêves, et n’est pas mon rêve.

Et, encore une fois, j’ai enterré mon rêve depuis longtemps. Je ne veux pas marcher devant ma famille, mon ami, ou mon prochain bien-aimé. Je veux marcher à côté, pour leur accompagner. Ainsi, je veux dire le slogan «You’ll never walk alone», le slogan de mon équipe de football préférée. Et, je suis heureux de voir d’autres personnes heureux que de me voir heureux seule, c’est un sacrifice.

Never, Never, Never Give Up – Explosions In The Sky.

Catatan Harian 2 (15-16/03/2018).

Pada tanggal 15 Maret, aku memulainya pada siang hari. Aku membaca kembali buku Mangunwijaya tentang pondasi bangunan. Aku tak tahu dari mana ide muncul untuk membuat suatu fragmen tentang itu. Ketika aku membaca bagian itu, aku merasa bahwa hal yang paling penting adalah pondasi bangunan untuk menahan sekaligus menyalurkan tenaga beban dari atas ke bawah. Aku mencoba untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk cerita. Pondasi itu kuanggap sebagai seorang ayah. Kemudian aku memunculkan dua karakter, si ayah dan si gadis kecil. Aku selalu senang bermain dengan dua karakter, selain mudah untuk belajar mendalami psikologi dari setiap karakter, juga bagus untuk belajar membangun suatu dialog. Setelah selesai membuat cerita, pada sore hari, aku tetap melakukan olahraga di UGM. Di tempat itu, banyak sekali anak-anak muda yang suka berolahraga, dan paling diminati adalah berlari. Namun, kini, aku mencoba untuk lebih banyak berjalan dari pada berlari. Dan aku senang melakukan hal yang berbeda, meski aku tahu bahwa pengambilan resiko terhadap perbedaan sangat sulit. Saat berjalan pada putaran ke sembilan, dengan memutar When I’m Gone dari Eminem, aku merasa bahwa jejak-jejak kakiku yang kulangkahkan di jalan paving UGM ini, akan menjadi saksi sejarah bagi apa yang kulakukan saat ini. Pada tanggal 16 maret, pada malam hari, aku bertemu dengan kawan lamaku dari Malang, senang rasanya bisa bertemu lagi dengannya. Bercerita banyak hal dari dunia yang lalu namun dalam kemasan dunia yang baru. Ah…

Am 15. März. Ich begann den Tag. Ich las Buch von Mangunwijaya auf dem Fundament des Gebäudes neu. Ich wusste nicht, wann die Idee kam, um ein Fragment darüber zu erstellen. Wie ich las jenen Passage, Ich fühlte, dass das Wichtigste das Fundament des Gebäudes war und kanalisieren Sie die Last von oben nach unten. Ich habe versucht, es in die Form der Geschichte zu übersetzen. Diese Grundlage ich betrachtet als ein Vater. Dann ich bringe zwei Charaktere heraus, den Vater und das kleine Mädchen. Ich spiele immer gerne mit zwei Charakteren, aber um die Psychologie jedes Charakters zu vertiefen, ist es auch gut zu lernen, einen Dialog aufzubauen. Nachdem ich die Geschichte, am Nachmittag beendet hatte, ich setzte fort, den Sport an UGM zu tun. An diesem Ort, viele junge Leute, die gerne Sport treiben, und das beliebteste war Laufen. Jedoch, jetzt, versuchte ich, mehr spazierenzugehen, als Durchlauf. Und ich bin froh, die verschiedenen Dinge getan zu haben, obwohl ich wusste, dass es sehr schwierig ist, Risiken für Unterschiede einzugehen. Als ich in der neunten Runde lief und ein Lied von “When I’m Gone-Eminem” spielte, spürte ich, dass meine Fußabdrücke, die ich in dieser UGM Pflasterstraße gemacht hatte, ein historischer Zeuge für das sein würden, was ich tat. Am 16. März, nachts, traf ich meinen alten Freund aus Malang, es war schön ihn wieder zu treffen. Es erzählt viele Dinge aus der Vergangenheit, aber in der Verpackung einer neuen Welt. Ah…

Le 15 mars, je l’ai commencé pendant la journée. Je relisais le livre de Mangunwijaya sur la fondation du bâtiment. Je ne savais pas quand l’idée venait de créer un fragment à ce sujet. Pendant que je lisais le passage, j’ai senti que la chose la plus importante était la fondation du bâtiment pour maintenir et canaliser la puissance de la charge de haut en bas. J’ai essayé de le traduire en forme d’histoire. Cette fondation je considère comme un père. Puis j’ai créé deux personnages, le père et la petite fille. J’aime toujours jouer avec deux personnages, en plus, pour approfondir la psychologie de chaque personnage, il est aussi bon d’apprendre à construire un dialogue. Après avoir terminé l’histoire, dans l’après-midi, j’ai continué à faire du sport à l’UGM. Dans cet endroit, beaucoup de jeunes qui aiment faire du sport, et le plus populaire était courir. Cependant, maintenant, j’ai essayé de marcher plus que de courir. Et je suis heureux de faire les différentes choses, même si je savais qu’il était très difficile de prendre des risques pour les différences. Alors que je marchais au neuvième round, en jouant une chanson de When I’m Gone d’Eminem, j’ai senti que mes traces de pas que j’avais faites dans cette rue pavée UGM seraient un témoignage historique de ce que je faisais. Le 16 mars, le soir, j’ai rencontré mon vieil ami de Malang, c’était agréable de le revoir. Il raconte beaucoup de choses du passé mais dans l’emballage d’un nouveau. Ah …

Catatan Harian 1 (14/03/2018).

Kemarin adalah hari yang mengejutkan bagiku. Pada pagi hari, aku membaca sebuah berita tentang kekalahan Manchester United ketika melawan Sevilla di Liga Champion. Yang menarik bagiku adalah musim ini Manchester United menggelontorkan dana besar dengan perkiraan sebesar 1/3 dari Sevilla, namun Sevilla tak takut menghadapi MU dengan penuh perjuangan dan pada menit ke 74 dan menit 78, striker asal Prancis, Ben Yedder, membuat MU harus tersingkir dari Liga Champion dengan dana besar. Namun, bagiku, kekalahan MU tak sepenuhnya menjadi kesalahan Mou. Pada siang harinya, aku membaca tentang berita kematian seorang fisikawan yang bernama Stephen Hawking. Aku pernah membaca bukunya namun tak selesai. Yang kusuka dari Stephen Hawking adalah perjuangannya melawan disabilitasnya hanya dengan mengandalkan otak yang tak mampu dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki kesehatan baik. Pada malam harinya, aku melanjutkan membaca buku tentang arsitektur yang membahas tentang pengamatan. Dalam buku tersebut, dalam bab pengamatan, ditulis bahwa pengalaman dalam mengartikan sesuatu, merupakan suatu hal yang sangat penting dalam seluruh proses dari suatu pengamatan.

Gestern war ein überraschender Tag für mich. Ich habe gelesen eine Geschichte über Manchester United gegen Sevilla in der Champions League. Welch mich interessiert, war in dieser Saison Manchester United haben große Mittel mit einem geschätzten 1/3 von Sevilla, aber Sevilla hatte keine Angst, United mit einem Kampf zu konfrontieren und in 74 Minuten und 78 Minuten, Französischer Stürmer Ben Yedder machte MU beseitigt von der Meisterliga mit großem Fonds. Jedoch, für mich, war die Niederlage von MU nicht völlig ein Fehler Mou. Am Nachmittag ich wurde gelesen über den Tod eines Physikers namens Stephen Hawking. Ich hatte gelesen sein Buch aber nicht beendet. Was ich an Stephen Hawking mag, ist sein Kampf gegen die Behinderung, indem er sich auf ein Gehirn stützt, das von Menschen mit guter Gesundheit nicht getan werden kann. Am Abend setze ich fort, ein Buch auf Architektur zu lesen, die ‘einer Beobachtung’ bespricht. In dem Buch, im Kapitel ‘einer Beobachtung’, es wurde das eine Erfahrung in Interpretation geschrieben etwas war im ganzen Prozeß einer Beobachtung sehr wichtig.

Hier était un jour surprenant pour moi. Dans la matinée, j’ai été lu une nouvelle sur Manchester United (MU) battu contre Sevilla dans la Ligue de Champions. Ce qui m’intéresse était cette saison MU ont de gros fonds avec un estimé de 1/3 de Séville, mais Sevilla n’avait pas peur de faire face MU avec une lutte et à 74 minutes et 78 minutes, par le buteur français Ben Yedder, MU doit être éliminé de la Ligue de Champions avec de grands fonds. Cependant, pour moi, la défaite de MU n’est pas entièrement une erreur de Mou. L’après-midi, j’ai été lu de la mort d’un physicien nommé Stephen Hawking. J’avais lu son livre, mais pas fini. Ce que j’aime sur Stephen Hawking, c’est sa lutte contre le handicap en s’appuyant sur un cerveau qui ne peut être fait par des personnes en bonne santé. À le soir, je continuais à lire un livre sur l’architecture qui discute de «l’observation». Dans le livre, dans le chapitre d’observation, il a été écrit qu’une expérience dans l’interprétation de quelque chose était très importante dans le processus entier d’une observation.

Rumus Pondasi (Sendi Alas)

20180315_095049

 

Gadis kecil berponi yang sedang memeluk boneka Charlie Brown berwarna kuning melihat ayahnya sedang mengerjakan maket. Saat gadis kecil itu telah mendekat dan melihat apa yang dikerjakan ayahnya, lalu berkata:

“Rumah-rumahan itu buatku ya, Yah?”

“Oh, puteri cantik ternyata,” kata si ayah terkejut mendengar suara mungil dari belakang, dan melanjutkan, “Bukan ini buat teman ayah. Nanti, kamu akan ayah buatkan rumah-rumahan, mau?”

Gadis kecil mengangguk.

“Lalu itu apa Yah?” tanya gadis kecil sambil memajukan telunjuk kecilnya ke bagian sendi alas.

“Oh, itu pondasi.”

“Pondasi apa sih, Yah?” tanya gadis kecil pemeluk boneka Charlie Brown yang serba ingin tahu.

Ah, keluh ayahnya, dan baru menyadari bahwa anaknya belum memahami hal-hal yang sulit dan ia mencoba untuk memudahkan hal-hal yang sulit. Ayah tersebut berjongkok dihadapan anaknya dan sekarang tinggi badan mereka setara.

“Hmm, begini…” kata si ayah berpikir sedikit lama, dan mulai menjawab, “Kamu bisa berdiri seperti ini karena apa?”

Gadis kecil melihat ke lantai dan melihat dua kakinya.

“Punya kaki, Yah.”

“Nah, gadis cerdas! Dan di antara bagian-bagian kaki yang membuat kamu bisa berdiri adalah telapak kaki, nah ini ayah sebut pondasi,” jelas ayahnya sambil menunjukkan di mana letak telapak kaki.

“Woo…woo…” seru gadis kecil itu mendapatkan hal-hal baru.

Tak lama setelah percakapan itu, karena gadis kecil pemeluk Charlie Brown berani bertanya atau mengutarakan pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya, ayahnya menraktir es krim sambil berjalan-jalan dan membelikan satu es krim untuk ibunya.

Image-Teks: Fisika Bangunan -Mangunwijaya.