Daras Dan Hujan.

girl_child_rain_dress_wet_25735_2560x16001

Anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik – Ki Hadjar Dewantara.

Air dari langit tumpah sejak pagi tadi. Memasuki waktu siang, hujan belum juga reda. Bulir-bulir kecil, dengan intensitas yang lebat, terus mengguyur bumi. Mengguyur kegersangan tanah bumi dan menjadikan suasana yang sejuk, meski dingin; serta mendinginkan psikis-emosi manusia yang meletup dengan mata memejam karena petrichor.

Dari balik jendela ruang keluarga dekat dapur, aku melihat puteri kecilku, Daras, sedang berkejaran dengan kelinci-kelincinya, di taman kecil yang terletak di belakang rumah. Gelak tawa dari bibir mungil itu mengudara. Dua kelinci kecil milik Daras berlompatan tak tentu arah. Kaki-kaki kecil gadisku yang, pelan-pelan, telah menjadi gadis kelas dua es-de, membuatku cemas. Kecemasan itu hadir mana kala merambat dengan cepat untuk mengarah ke masa depan. Ya, aku takut kehilangan kelincahan kedua kaki kecilnya yang menjadi keajaiban atau obat lelah saat aku terlalu sibuk bekerja. Pelan-pelan suara penyanyi UK, Adelle, melalui satu lagu favorit istriku mengalun dan memenuhi seluruh ruangan:

“But I set fire to the rain / Watched it pour as I touched your face / Well, it burned while I cried / ‘Cause I heard it screaming out your name, your name!”

Saat melihat Daras, pikiranku melangkah ke tempat lain, dan aku berkata bahwa dalam hati, pasti istriku sedang menikmati jenis suara Adelle yang khas; dan penyanyi yang mengagumi klub sepakbola, Totenham Hotspurs itu, menambah romansa yang mistis ketika hawa dingin melewati jendela dan merasuk ke tulang-tulangku. Suara lain tiba dari luar.

“Yaaaah! Ha-ha-ha! Lihatlah, lihatlah!

“Pelan-pelan,” timpalku.

“Ayah, sini, sini,” lambainya sambil menyeka poni dan wajahnya yang sudah basah kuyub.

“Ayah takut air, Ras.”

“Ahh…,” rengeknya, lalu membalas, “Ibu mana, Yah?”

Perlahan suara lembut itu terdengar.

“Di sini, Ras,” katanya, sambil memelukku dari belakang.

“Ibu, sini, sini,”

“Ibu juga takut air, Ras.”

“Ahh…,” rengeknya kembali.

Lalu istriku melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggangku, dan menuju ke dapur. Suara gelas, suara kucuran air, suara adukan, terdengar melengkapi kebahagiaan yang sederhana dari rumah kecil ini.

Lalu, aku menuju ke kursi kayu kecil di pelataran belakang melihat Daras bermain di bawah guyuran hujan bersama kelinci-kelincinya. Tak lama, istriku membawakan dua cangkir kopi dan satu susu hangat. Kopi itu untuk kami berdua, sedangkan susu hangat untuk gadis kecil yang ingin menjadi seorang guru seperti ibunya.

“Kalau sudah selesai, ini ada susu hangat untuk Daras.”

“Iyaaa, Bu,” dan dia kembali mengejar kelinci lagi.

Demikianlah, aku dan istriku, mencoba untuk mendidik Daras sesuai dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara, yang serupa dengan pendidikan di Finlandia [1]. Kesenangan belajar sambil bermain, adalah hal utama bagi istriku. Pada suatu malam, aku pernah berdebat dengan belahan hatiku tersebut perihal pendidikan Daras. Namun, aku mengalah, sebab dia lebih memahami sisitem pendidikan yang cocok bagi karakter gadis kecil berponi ini. Daras, katanya, lebih condong kepada karakterku yang tak menyukai angka. Dari perdebatan itulah, aku belajar banyak kepada istriku. Dan, kerapkali, ketika Daras selesai bermain di bawah guyuran hujan, ketika aku sudah mulai lagi dengan aktivitas menerjemahku, ketika Daras telah cantik dan manis dengan kaus favoritnya yang bergambar Charlie Brown dan Snoopy, dia mulai mengarahkan jari-jari tangan kanannya untuk menulis diary, tentang momen apa saja yang membuatnya berkesan. Dan suara kecil itu menghantam rapalan ingatanku.

“Kamu jangan di bawah kandang, sini, sini,” kata Daras, berjongkok, sambil memegang wortel. “Husy, husy. Ayo pulang ke kandang, aku mau mandi.”

Daras pun meletakkan wortel yang dipegangnya. Dan buru-buru menuju kami berdua yang menikmati kopi dan hujan.

“Bu, handuk.”

Istriku menyerahkan handuk kecil bergambar Dora The Explorer.

“Sini, ayah yang mengeringkan.”

Nggak, ibu aja.”

“Oh, jadi pilih ibu nih?”

“Iyaaa! Karena kemarin malam ayah pulang malam sekali.”

“Jadi, kalau ayah pulang malam, Daras nggak mau berteman sama ayah.”

“Iyaaa!”

“Kenapa?” tanyaku.

“Kan, aku dan ibu nggak ada temannya,” lanjut Daras sambil meminum susu hangat dan menggoyang-goyangkan poninya.

“Oke, oke, besok, ayah janji nggak akan pulang malam lagi.”

Aku pun melirik kepada istriku, dan dia hanya tersenyum manis, semanis ketika aku pertama kali bertemu dengannya dan menatap matanya, semasa menempuh kuliah. Air hujan tak ingin berhenti mengguyur bumi, seperti gadis kecil berponi yang tak ingin berhenti belajar menemukan dirinya dan kebahagiaannya sendiri.

[1] image.

Iklan