Selamat Ulang Tahun, Bu.

As far you can go, and reach out to the world / Knowing that there’s nothing you can control // You try and tried, nothing seems to work / Just lost in the pride of human kind // Now is the time, and let the Sublime light / to take us far away to the sky // Far away to the sky / Far away to the sky . – In Solitude, Netral.

Kejadian ini terjadi kemarin, di saat udara begitu dingin menyelimuti kotaku. Di luar rumah, embun dan sisa hujan semalam, masih asyik menempel di rerumputan-rerumputan yang berada di taman kecil rumah, di mana ada satu pohon bougenville berwarna ungu, dan juga enam tumbuhan melati. Taman kecil itu aku yang mendesain dan istriku yang memilih jenis tanaman-tanamannya. Kemudian, angin pagi menerpa melati-melati itu, dan menyebarkan wewangian yang mereka hasilkan.

Bau harum itu menyebar ke seluruh bagian depan rumah, dan juga terbawa hingga ke ruang kerjaku, yang mana aku masih duduk dengan tekun di hadapan komputer tuaku dan mempelajari alur dari enam naskah drama dari pengarang Indonesia era 60’an. Kemudian saat kutarik satu hembusan, bau itu membaur menjadi satu bersama udara dan masuk ke dalam indera penciumanku, lalu pada saat bersamaan, kurasakan seluruh organ-organ bagian dalam tubuhku seakan-akan mendapat kesegaran serta tenaga baru, setelah pada pukul tiga dini hari aku terbangun Pada saat, jam digital di gadgetku perlahan-lahan memutar waktu, tepat pada pukul tujuh pagi, tanda pengingat yang telah kusetel berbunyi.

Awalnya aku menganggap bahwa itu adalah tanda-tanda pengingat yang belum sempat kuhapus setahun yang lalu dari berbagai macam acara. Lama-lama, aku jenuh juga mendengar bunyi dari tanda pengingat tersebut dan ingin mematikannya. Tangan kananku menjangkau gadget, setelah itu kedua mataku menatap tajam tulisan yang tertera di layar: “Ulang Tahun Istriku.”

“Sial,” gerutuku.

Kepanikan menghampiriku. Aku terdiam dan menyalahkan diri, bahwa mengapa tak seminggu yang lalu mengatur tanda pengingat itu. Aku coba berjalan kembali ke masa setahun yang lalu, tepat ketika hari ulang tahun istriku. Dan pada saat setahun yang lalu itu, memang tak ada perayaan apapun. Perlu kalian tahu, bahwa, walaupun istriku dari kalangan menengah-atas, dia tak pernah menyukai perayaan semacam ulang tahun. Aku pernah bertanya di awal hubungan kami, mengapa dia tak menyukai perayaan ulang tahun dan bukankah perayaan itu untuk menghargai masa kelahiran. Dan pada saat beberapa tahun dari awal hubungan kami, barulah aku mendapatkan jawabannya, bahwa, ketika berumur tujuh belas tahun, dia dikecewakan oleh kekasihnya di saat hari istimewanya tersebut. Aku mencoba memahaminya semampuku, bahwa bagi seorang wanita siapapun itu, umur tujuh belas tahun adalah umur yang spesial bagi mereka, tentu saja bagi istriku juga, dan aku dapat merasakan betapa sakitnya hati istriku saat berumur tujuh belas. Hingga pada akhirnya, dia telah memutuskan untuk tak pernah merayakan ulang tahunnya dan juga masih tak mampu menghilangkan traumatiknya, dan dia lebih memilih untuk merayakan ulang tahun orang-orang yang dicintainya, termasuk ulang tahunku dan ulang tahun Daras.

“Tidak,” pikirku saat itu, lalu kulanjutkan, “bagaimanapun waktu telah lama bergulir, dan aku merasa dia perlu mendapatkan sesuatu yang istimewa meskipun hanya dilangsungkan secara sederhana.”

Setelah itu, aku merapikan segalanya, bergegas ke dapur, di mana pada saat itu, istriku sedang menyuapi Daras di meja makan. Saat melihat kedatanganku, dia bertanya:

“Apa kau tak tidur sama sekali?”

“Aku bangun jam tiga.”

“Hanya dua jam setengah waktu tidurmu.”

“Kurasa itu sudah cukup.”

Istriku hanya menggeleng, sambil menyendokkan nasi goreng yang dia masak, dan perlahan-lahan disorongkan ke mulut kecil Daras yang penuh dan terus mengunyah. Lalu dia meletakkan sepiring nasi goreng itu, dan menyiapkan piring lain untukku.

Lima belas menit kemudian, seusai makan pagi, aku melihatnya berangkat ke tempat kerjanya sekaligus mengantarkan Daras pergi ke sekolah. Saat aku melihat mereka di pintu depan, dia menyuruh Daras untuk melambaikan tangan ke arahku. Aku membalas lambaian tangan gadis kecil berponi itu.

“Nanti ayah jemput,” kataku pada Daras.

“Hm, hm.”

*

Pada siang hari, setelah menjemput Daras. Aku pergi ke pasar tradisonal dan supermarket untuk membeli berbagai bahan. Di pasar tradisional aku mengeluarkan catatan kecil yang berisi daftar belanja untuk membuat sop buntut kesenangan istriku, dia menyukai sop buntut yang dibuat oleh ibuku yang memang pandai memasak. Kulihat daftar belanjaan itu: buntut sapi, wortel, kentang, daun seledri, bawang merah goreng, mentega, lada butir, biji pala, kayu manis dan cengkeh, tomat, dan buncis.

Saat membeli salah satu bahan itu aku teringat hardikan ibu: “Sudah kubilang sejak lama, meskipun kau seorang pria, tapi kau harus bisa apa saja, termasuk memasak,” kata, ibu yang beberapa menit setelah Daras dan ibunya pergi berangkat sekolah dan kerja. Meskipun agak kepayahan, toh akhirnya aku mampu membeli semuanya. Setelah itu, aku menitipkan Daras ke keluarga Rara, keluarga dari kawan istriku, dan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa minuman kotak dan beberapa snack.

Tepat pada pukul dua siang, aku menjemput Daras dan kembali ke rumah. Segera aku menuju ke dapur dan mengeluarkan alat-alat masak. Sungguh, pada awalnya aku tampak canggung dihadapan alat-alat itu, aku bertanya pada diriku sendiri apakah aku bisa membuat sop buntut senikmat sop buntut ibu. Lalu, aku mengenyahkan pertanyaan yang semakin membebaniku itu. Lalu aku mencoba menelpon ibu.

“Sudah kau dapatkan bahan-bahannya,” kata ibu, setelah tersambung.

“Sudah.”

“Sekarang cuci semua bahan-bahan itu termasuk buntut sapinya.”

“Baik bu”

Setelah selesai aku menelpon ibu kembali.

“Lalu bu?”

“Sekarang rebus buntut sapi selama lima belas menit.”

Aku melakukan apa yang ibu perintahkan. Dan lima belas menit berlalu.

“Sekarang buang air rebusan air dari buntut sapi itu, dan ganti dengan air baru sebanyak tiga setengah liter, lalu masukkan juga cengkeh dan kayu manis.”

“Sudah…”

“Oh ya, jangan lupa kau buat juga tumisan bumbu halusnya.”

“Tumisan bumbu halus? Aku tak paham?”

“Aduuuh…tumisan bumbu halus itu lada hitam, jahe, pala, bawang merah, dan bawang putih.”

“Berapa takarannya?”

Lalu ibu menyebutkan takaran yang menurutnya pas.

“Sudah? Kalau sudah masukkan tumisan bumbu halus ke air yang berisi buntut daging, cengkeh dan kayu manis. Aduklah selama satu jam. ”

“Baiklah.”

Selama proses menanti itu. Daras datang dan berkata dengan kebingungan, apa yang harus dia buat. Lalu aku menyarankan untuk menggambar potret wajah ibu. Lalu Daras kembali ke kamarnya untuk mengambil peralatan gambar.

Proses demi proses kujalani dengan menelpon ibu. Sesekali Daras menganggu percakapanku dengan ibu.

“Nenek…Nenek…aku sedang menggambar ibu.”

“Bagus anak manis.”

“Daras, jangan ganggu ayah dan nenek.”

“Biarkan saja…sudah belum? Lalu masukkan kentang, wortel, dan…”

Energi yang kukeluarkan banyak sekali. Setiap keringat menetes jatuh ke lantai. Kulihat Daras sedang asyik menggambar. Waktu menunjukkan pukul tiga sore lebih.

“Sial!” kutukku dalam hati. Aku ingat bahwa pada pukul lima sore istriku pulang.

Kulanjutkan proses-proses selanjutnya, yang tentu saja diarahkan oleh ibuku.

*

Pada pukul empat lebih lima belas menit di sore itu aku menyudahi segalanya, dan meletakkan sop buntut, yang jujur rasanya sedikit aneh bagiku. Lalu aku menempatkan panci yang berisi sop buntut itu di tengah alat-alat masak lainnya agar tak ketahuan. Kemudian aku membantu Daras untuk membungkus kado yang berupa satu buah buku gambar. Kertas kado itu berwarna biru.

“Ibu belum pulang, Yah?”

Lalu aku melirik ke jam dinding kecil milik Daras, dan waktu menunjukkan pukul empat lebih empat puluh menit. Tiba-tiba suara mobil terdengar, disertai dengan suara pintu pagar yang terbuka.

“Itu ibu, cepat mandi,” kataku pada Daras.

Lalu aku memandikan Daras. Setelah selesai, istriku masuk ke dalam dengan wajah yang lelah. Dia melihatku dan Daras.

“Baru mandi?”

Aku terdiam sejenak, pun dengan Daras, untuk memikirkan alasan yang tepat. Lalu, aku berkata pada istriku bahwa kami terlalu lama bermain di teras belakang. Daras meminta untuk dipakaikan baju kepada ibunya. Saat dia dan Daras masuk ke kamar, aku segera pergi ke ruang kerjaku.

Di dalam ruang kerja itu, aku menelepon Siska, tetanggaku, untuk meminta tolong agar nanti menelepon istriku, tepatnya membuatnya sibuk, dan kuceritakan tentang rencana pada hari itu, dan dia menyanggupi. Itu semua kuperbuat agar aku mampu menghangatkan kembali sup buntut yang telah dingin. Seusai menghubungi Siska, aku mencari sekeping dvd dan memasukkan beberapa video peristiwa yang menurutku bagus tentang Daras dan ibunya, yang telah kurekam sejak Daras masih berumur satu tahun hingga kini, lalu aku mem-burning dvd tersebut.

*

Selepas maghrib, saat istriku akan pergi ke dapur untuk memasak, sesegera mungkin aku menelepon Siska agar menghubungi istriku. Setelah itu, bunyi gadget istriku terdengar.

“Halo, ya Sis.”

Dan istriku menuju ke teras depan rumah dan berbincang dengan Siska. Setelah mendengar suaranya aku segera menuju dapur dan menghangatkan sup buntut selama lima menit. Lalu aku mengambil mangkuk dan mengeluarkan beberapa minuman kotak yang telah kubeli di supermarket. Dan mengaturnya di meja makan. Aku pun menyuruh Daras untuk duduk tenang di meja makan. Lalu semuanya siap seperti yang kurancang secara mendadak. Aku dan Daras duduk tenang menanti istriku.

“Breeek!” kudengar suara pintu depan tertutup.

Setelah menutup pintu, dia membalikkan badan dan dari kejauhan melihat aku duduk tenang yang berhadapan dengan hidangan makanan dan beberapa piring. Kulihat wajahnya berubah menjadi keheranan. Lalu kaki-kakinya yang putih dan halus itu mengajaknya untuk mendekat, lebih dekat, dan saat beberapa senti akan melewati batas antara ruang kelurga dan dapur…

“Selamat ulang tahun, Bu,” kata Daras tersenyum, pun dengan aku.

Dia hanya berdiri terdiam dan tak mampu mengatakan apa-apa. Senyuman bibirnya yang tampak memberikan dua arti yang sulit ditangkap, antara kesedihan ataukah kebahagiaan. Pada akhirnya, dia melanjutkan langkah-langkah kakinya, dan mendekat ke meja makan.

“Apa maksud semua ini?”

“Hari ini ulang tahunmu, kan.”

“Tapikan aku…”

Dia tak melanjutkan, sebab dia tahu ada Daras di antara kami. Kedua matanya mulai dipenuhi dengan air mata. Lamat-lamat, air bening itu jatuh ke kedua pipinya. Lalu dia menyeka air matanya dengan tangan kanannya.

“Kenapa ibu menangis?” Tanya Daras polos.

“Ah, sayangku, ibu bahagia,” lalu dia menarik satu kursi, dan kemudian duduk, dan melanjutkan, “Pasti ini kau yang buat dengan ayahmu.”

Saat daras ingin menjawab, aku menyelanya dengan mengatakan bahwa ini semua Daras yang memiliki ide, dengan harapan bahwa istriku mampu menerima kerja kerasku untuk merancang semua ini.

“Aku cuman buat ini, Bu…”

Lalu Daras memberikan sebuah kado. Air mata istriku kembali tumpah. Sementara aku terharu menyaksikan itu semua dan begitu ajaibnya kesederhanaan yang telah tercipta.

“Ah, sayangku,” kata istriku, kemudian mendekat ke Daras dan mencium pipinya, “Apa boleh ibu buka?”

Daras menggangguk. Istriku melihat potret-potret anehnya yang dibuat oleh gadis kecil berponi ini. Lalu mengatakan bahwa potret-potretnya bagus, dan aku sedikit melakukan joke:

“Yakin, bagus?” kataku, mengejek.

“Ssst!” raut wajah istriku mengencang, dengan mata melotot.

Aku tertawa, dan pada akhirnya kami pun menikmati sup buntu bersama-sama. Saat makan sup buntut itulah beberapa kerabat dari istriku menghubungi dan mengucapkan selamat kepadanya. Dan, tentu saja ibuku, namun ibuku lebih fokus menanyakan apakah sup buntut buatanku gurih dan enak. Saat loudspeaker dinyalakan, istriku mengatakan bahwa masakanku sempurna, namun dengan menggelengkan kepalanya, dan memandangku dengan ejekan. Dan aku hanya bisa menahan canda tawaku.

“Ah, syukurlah kalau begitu, tapi ibu masih tak yakin jika tak merasakannya sendiri.”

Kami pun menahan tertawa, sementara Daras melihat kami dengan aneh.

*

Setelah makan malam, aku mengajak Daras dan istriku untuk ke ruang keluarga, duduk di sofa besar, dan memutar dvd. Saat melihat peristiwa-peristiwa kecil itu, Daras senang bukan main. Daras melihat dirinya saat berumur dua tahun, tiga tahun, empat tahun, hingga delapan tahun. Lalu berbagai pertanyaan gadis kecil berponi ini menyerang kami dan kami kewalahan untuk menjawabnya. Hingga pada pukul sembilan lebih, Daras kelelahan dan tertidur di tengah-tengah kami.

“Terima kasih untuk segala usahamu.”

“Ini bukan apa-apa, bila dibandingkan usahamu untuk menjagaku dan Daras.”

“Tapi aku masih kurang dalam hal menjadi istri.”

“Ayolah…apakah tak ada hal yang menyenangkan lagi, selain membicarakan kekurangan atau kelebihan?”

“Tapi…” katanya, dan terdiam, dan kemudian melanjutkan, “tapi…aku masih tak mampu melupakan beberapa masa laluku.”

Kemudian aku memegang tangan istriku.

“Dengarkan aku, biarkan masa lalumu hidup seperti apa adanya. Dan, sekarang, yang bisa kita lakukan adalah mengembalikan kepala ke depan, lalu mulai berjalan perlahan-lahan dan sesekali mengangkat pandangan ke atas, untuk melihat sebuah cahaya agung yang akan membawa kita bersama-sama ke langit yang jauh.”

Kedua mata serta kedua bibir kami saling bertemu, merasakan kehangatan serta kemesraan, yang mungkin di lain waktu tak akan kami berdua rasakan kembali suasana seperti ini, di tengah kesendirian kami masing-masing di dalam aktivitas menjadi manusia modern.

*

 Dan cerita kemarin yang telah terjadi, telah kutulis di buku catatanku. Ah, dan aku tak sabar untuk membukanya kembali, entah kapan itu.

 

 

 

 

Iklan

Seekor Rubah dan Anggur-Anggur.

y

  • Untuk Harris dan Ibay

Le Renard et Les Raisins

Un renard affamé, voyant des grappes de raisin pendre à une treille, voulut les attraper; mais ne pouvant y pervenir, il s’éloigna en se disant à lui-même: «C’est du verjus.»

Pareillement certains hommes, ne pouvant mener à bien leurs affaires, à cause de leurs incapacité, en accusent les circonstances.

Seekor Rubah dan Anggur-Anggur.

Seekor rubah sedang lapar, dan melihat buah-buah anggur yang bergantungan di sebuah punjung, akan tetapi anggur-anggur itu tak dijaga, dan ia pun mengambilnya; setelah itu, si rubah pergi dan berkata pada dirinya sendiri: “Anggur-anggur ini masih mentah.”

Seperti halnya pada orang-orang, yang tak sanggup memahami sesuatu melalui persoalan-persoalan mereka, disebabkan pada ketak-sanggupan mereka, dengan menyalahkan keadaan.

:: Dialih-bahasakan dari Ésope Fables, terjemahan Prancis oleh Émile Chambry.

Yogyakarta, 12 November 2015.

I Gave You All

Ide cerita di ambil dari sebaris lirik: But your tears feel warm as they fall on my forearms, di lagu I Gave You All, oleh band Mumford & Sons.

“Kraakk,” terdengar tirai jendela kamar pribadiku bergeser. Cahaya mentari pagi menghantam kaca jendela bagian luar, dan pancaran cahaya menyusup ke dalam kamar dan menyilaukan kedua mataku yang masih saja tertutup. Pelan-pelan kedua mataku terbuka.

Istriku, setelah menggeser tirai jendela itu, kemudian berjalan ke sisi ranjang. Dia duduk, tersenyum, dan kemudian tangan kanannya menyentuh dahiku. Lalu, dia mendesah dalam-dalam, dengan wajah yang tak seperti biasanya, wajah yang selalu dipenuhi dengan senyuman-senyuman, yang membuat orang-orang disekitarnya merasa nyaman.

Lalu aku bertanya padanya jam berapakah sekarang. Mulutnya yang sedikit basah mengatakan bahwa saat ini pukul delapan pagi. Setelah mendengar jawabannya, aku mengatur posisiku di ranjang, dan kurasakan di bagian punggung, dan juga di sekitar ketiak, dipenuhi dengan keringat dingin. Selimut yang menutupi sekujur tubuhku, kini berada di sekitar kedua paha, lalu aku menepikan selimut.

“Suhu badanmu, masih tinggi,” katanya. Namun aku tak mendengarkannya.

“Di mana Daras?”

“Sudah berangkat. Tadi Ian yang mengantar.”

Ian, adalah adik iparku yang kedua, dan telah seminggu ini ia berada di rumah kami untuk mengisi liburan semesternya.

“Kenapa kau tak kerja?”

“Aku cuti.”

Lalu aku mengatakan padanya bahwa aku telah baikan. Kini, berganti dia yang tak mendengarkanku. Kemudian tangan kanannya yang putih dan halus menjangkau semangkuk bubur ayam yang dia buat sendiri, yang diletakkan di meja kecil, beberapa senti dari sisi ranjang bagian kanan. Bersama kasih sayang yang diperlihatkannya, dia menyendokkan bubur ayam, kemudian bibir yang basah itu meniup-niup bubur ayam agar panas segera hilang. Lalu, dia sorongkan ke mulutku yang kering dan pecah. Saat bubur ayam itu telah masuk ke dalam mulutku, tak ada rasa apapun, begitu hambar. Ya, aku tahu, ini diakibatkan dari penyakit demam yang kuderita dua hari yang lalu, atau kemungkinan juga, karena bakteri-bakteri yang ada terus menyerang indera perasaku. Tanpa banyak pikir, aku menelan bubur ayam itu. Entah kenapa, seakan-akan sistem pencernaan di dalam tubuhku menolak makanan itu, lalu aku memuntahkannya, ‘Hoek!’ Bubur ayam yang sempat tertelan itu pun ke luar kembali dan mengotori selimut serta sprei ranjang. Setelah aku memuntahkan makanan itu, kedua mataku berair. Istriku kebingungan, dan kemudian jari-jarinya menyapu bibir bawahku yang masih terdapat sisa muntahan.

“Tak apa, tak apa,” katanya, sambil meletakkan semangkuk bubur ayam itu di meja kecil, mengambil beberapa helai tisu, dan membersihkan sisa-sisa muntahan.

Melihat itu semua, kesedihan mencengkramku. Aku seakan-akan menjadi orang yang tak berguna. Dalam hati, aku seperti ingin menangis. Setelah itu, bekas tisu muntahan dibuangnya. Segelas teh diambilnya dan tubuhnya sedikit merapat ke arahku. Dengan hati-hati dia menyorongkan gelas itu ke bibirku, dan aku meminumnya. Kurasakan kehangatan di sistem pencernaanku.

“Makan lagi ya?”

Aku menggeleng.

“Tapi kemarin malam kau makan sedikit.”

Sekejap, suasana hening menghampiri kami berdua. Karena aku tak ingin mengecewakannya, aku pun mengangguk. Satu hingga lima suapan sendok bubur ayam akhirnya kulahap.

*

Menjelang petang, suara adzan berkumandang dan menggugahku, kurasakan suasana begitu sepi. Sungguh, meskipun aku berani menghadapi tantangan apapun di dunia ini, namun tidak dengan kesepiaan. Bagiku kesepiaan lebih mengerikan daripada suatu kematian, terlebih pada kondisi demam yang kualami saat ini.  Lalu aku ingin melakukan ibadah, kutepikan selimut dan kurasakan setengah pinggangku terasa remuk-redam. Aku menyugestikan pikiranku, bahwa aku baik-baik saja, aku telah sehat, dan aku ingin melanjutkan pekerjaanku.

Kini, aku dalam posisi duduk, dan sedikit memutar tubuh. Lalu aku duduk di tepi ranjang dengan kedua kaki telah berada di ubin. Seluruh tenaga kukumpulkan di kedua telapakku, agar dapat mendorong tubuhku untuk berdiri tegap. Awalnya segalanya berjalan lancar, kemudian aku dapat berdiri tegap. Namun, kupejamkan mata dan menggelengkan kepala yang berpendar-pendar. Pandanganku tak begitu jelas, dan tanpa kesadaran yang utuh, tubuhku bergerak jatuh ke arah meja di sisi ranjang, yang mana di atas meja itu terdapat mangkuk dan gelas, salah satu lenganku membentur meja, dan, “Praaaang!” gelas itu terjatuh membentur ubin, dan beling-beling berserakan di mana-mana. Dalam posisi terbaring miring,  aku mendengar suara-suara ini:

“Kau kenapa!”

“Biar aku saja, mbak!”

“Daras! Jangan mendekat! Tetap di situ!”

“Ayah kenapa, bu.”

Yang aku bisa hanya mendengar suara-suara mereka, namun aku tak mampu melihat apa yang terjadi. Kepalaku amat pusing, sedikit hembusan angin membuat tubuhku benar-benar mengigil, dan lenganku yang terbentur meja sedikit berdenyut. Mataku masih terpejam,  kurasakan cengkraman kedua tangan yang kuat dari seorang lelaki, dan aku tahu bahwa itu Ian, yang memegang bagian tubuh di bawah ketiakku, lalu aku diangkatnya. Lalu kurasakan punggungku menyentuh bantal-bantal yang dipenuhi dengan keringat dingin. Pada akhirnya, selimut kembali membungkus tubuhku yang kedinginan.

Lima menit kemudian, aku merasakan kain basah menempel di dahiku, amat hangat. Aku pun mulai membuka mataku pelan-pelan.

“Kenapa aku?” kataku lirih, dan masih kurasakan nyeri di lenganku yang terbentur meja, juga rasa pusing yang amat sangat di kepala.

“Kau baru saja jatuh,” kata istriku, lalu dia menambahkan, “kita ke dokter sekarang ya?”

Mataku terpejam kembali, aku menggeleng, tanda menolak.

“Kenapa?”

“Aku tak ingin mengurangi tabungan.”

“Ayolah, kau kenapa? Kita masih punya uang sisa dua bulan lalu.”

Sifat keras kepalaku membuat aku tetap menggeleng, tanda menolak. Kugerakkan tubuhku, dan kusandarkan punggungku ke bantal yang telah ditekuk. Aku minta untuk diberi sedikit teh, yang mana kemudian kurasakan bibir gelas telah menyentuh bibirku, dan hangatnya uap-uap air teh di dalam gelas membingkai wajahku. Secara samar-samar, dari kejauhan, kudengar suara Daras: “Ayah, kenapa Om.” Setelah itu tak kudengar kembali suaranya.

Lalu, istriku tetap kukuh untuk membawaku ke dokter, namun aku juga tetap tegas pada pendirianku bahwa aku tak ingin ke dokter. Lalu kami terjadilah perdebatan kecil.

“Sekali lagi,  aku tak ingin ke dokter!” teriakku, dan kemudian terbatuk.

“Tapi kenapa,” katanya.

Aku diam, tepatnya menyimpan jawaban yang sama. Aku tak ingin uang yang telah kukumpulkan dari kerja kerasku hanya kugunakan diri sendiri, dan  yang kuinginkan adalah segalanya untuk Daras dan istriku. Aku tak memerlukan apa-apa lagi, pikirku.

Melihat lemahnya diriku akibat demam yang kuderita ini, aku seperti menangisi diriku sendiri. Aku mengingat-ingat kembali apa yang kuperbuat selama jasmani ini masih segar bugar. Aku mulai menangis dan selalu ingat kata ayah bahwa seorang lelaki tak boleh menangis dalam hal apapun. Namun, kini, aku telah mengingkari janji itu. Aku tak dapat berbuat apapun.

“Ijinkan aku bekerja lagi,” kata lirih.

Bulir-bulir air mata membasahi kedua pipi istriku, dan berkata, “Keras kepala!”

“Aku tak ingin mengurangi uang. Segalanya hanya untukmu dan Daras.”

“Ini bukan tentang uang! Ini tentang kita! Dan bisakah kau diam sesaat,” lalu istriku menangis dan menatapku tajam. Baru kali ini kulihat roman wajahnya yang selalu berseri berubah memucat.

Lalu istriku menambahkan, “Kau terlalu keras bekerja, sayangku. Aku dan Daras mencintaimu dengan sepenuh hati, dan kami berdua hanya ingin melihatmu sehat! Apakah kau tak ingin menagajak puteri kecilmu ke perpustakaan kembali, hah? Apakah kau tak ingin mengajak puteri kecilmu ke pasar hewan lagi, hah? Apakah kau tak ingin mengajak puteri kecilmu mendaki bukit lagi, hah? Jawab! Ayo, jawablah.”

Dan aku menangis baik, di kedua mataku dan juga di dalam hatiku.

*

“Bu…”

Mendengar suara itu, aku dan istriku terkejut. Istriku dengan cepat menyeka air matanya, dan membalikkan badan, seakan-akan segalanya baik. Kulihat puteri kecilku berjalan dari pintu kamar pribadi. Rambut poninya bergerak ke kanan dan ke kiri, tak hanya itu, roknya yang berwarna biru—warna kegemaranku dan istriku—bergerak mengikuti irama langkah kaki kecilnya. Sementara tangan kanannya memegang telinga dari Snoopy, sebuah boneka dari kartun favoritku, yang dua bulan lalu kubeli setelah aku menerima honor dari empat terjemahanku, dua karya dari Pierre Loti dan dua karya dari Anatole France, yang kukirimkan di dua surat kabar terkemuka di ibukota.

“Ayah kenapa?”

Lalu aku menggeleng dan tersenyum pada gadis kecilku. Aku dan istriku sepakat untuk menyembunyikan sesuatu dari gadis kecil ini, dan tak ingin menampilkan wajah-wajah yang muram, yang telah merasuk kepada kami berdua.

“Ayah sedikit pusing,” kata istriku.

“Ya, ayah sedikit pusing,” balasku.

Daras pun naik ke ranjang, mendekat kepadaku, dan meletakkan boneka Snoopy di samping kepalaku. Punggung tangan kanannya diangkat dan didekatkan ke dahiku, seperti yang kerapkali istriku lakukan, meskipun aku tahu gadis kecil ini masih tak mengerti apa maksud dari menyentuh dahi orang yang sakit demam.

“Apa saja kegiatanmu di sekolah tadi?” tanyaku.

Gadis kecil berponi ini diam, dan tak mengatakan apapun. Aku tahu bahwa ini bukanlah Daras yang seperti biasanya, yang ceria dan bahkan  cengeng. Namun kini kulihat dia hanya terdiam dan terdiam. Lalu dia membaringkan tubuh kecilnya disebelahku, seakan-akan ingin menjagaku, menjagaku dari segala kondisi apapun. Pada akhirnya tangan-tangan kecilnya memainkan boneka anjing itu lagi. Saat melihat wajah mungilnya, aku merasakan sesuatu yang tak mampu diungkapkan. Sebuah perasaan cinta seorang ayah kepada anaknya yang, pada akhirnya siapapun dapat merasakannya, hanya melalui hati ke hati.

Kutatap mata istriku, seakan-akan kami berbicara dengan suatu sandi. Lalu aku mengangguk, sebuah jawaban tersirat bahwa, ya, aku ingin segera lekas sembuh untuk mereka berdua, dan sifat keras kepalaku yang mengeras seperti batu, pada akhirnya hancur seketika saat melihat wajah mungil gadis kecil berponi ini. Tepat pukul delapan malam, aku pergi ke dokter.

*

“Selain Tuhan, dan mereka berdua, siapa lagi yang akan mengasihiku tanpa suatu imbalan?” pikirku, saat kembali dari dokter, sambil memangku Daras yang memegang Snoopy, di kursi belakang mobil.

Aku dan Burung-Burungku

Cerita pendek ini, di adaptasi dari video klip Breathturn dari album Chasing After Shadows…Living with the Ghosts oleh Hammock, yang di-direct oleh David Altobelli.

Setelah eksperimenku berhasil tadi sore, aku mencoba untuk menuliskannya di buku catatan sekolahku, agar aku tak lupa, namun yang terpenting agar aku bisa menceritakan kepada kawan-kawanku apa yang telah kukerjakan beberapa hari ini. Aku pun mengambil tas, dan mengeluarkan seluruh isinya: kuambil pensil dan buku catatan sekolah. Lalu aku bergerak ke meja belajarku, dan menghidupkan lampu belajar. Setelah itu aku kebingungan memikirkan kalimat awal untuk memunculkan kalimat-kalimat berikutnya. Lalu, aku mengigit pensilku seraya berpikir sambil memandang burung yang terluka di keranjang kecil, di dekat tempat tidur. Saat memandang burung itu, entah kenapa, tangan kananku yang memegang pensil, bergerak secara perlahan dan kemudian menulis seperti ini:

Pada hari pertama, setelah beberapa jam di dalam sebuah ruangan, aku mencoba ke luar untuk mencari benda-benda yang sekiranya dapat membantu eksperimenku ini. Namun aku kesulitan untuk menentukan benda apa yang dapat membantu eksperimenku ini. Langit sore masih cerah. Lalu aku melihat ke sekelilingku, dan kedua bola mataku melihat sepasang sepatu bot yang menggantung di atas kabel listrik. Aha, lalu terbersit satu ide untuk eksperimen yang tengah kulakukan.

Pada hari kedua, kulihat seekor kucing masuk melalui celah-celah dinding besi pembatas, di luar ruangan eksperimen. Lalu aku menuju ke sebuah tempat sampah berbahan besi berwarna hijau, dan kemudian kedua tanganku yang kecil mengangkat penutup tempat sampah itu, amat berat, namun aku terus berusaha. Kedua kakiku berjinjit, agar aku mampu melihat apa yang ada di dalam bak sampah besar itu. Sebuah koran bekas berada di bawah kakiku. Lalu aku menemukan sebuah buku tua di dalam tempat sampah itu. Aku mengeluarkan buku dengan kertas yang mulai menguning. Lalu pada halaman ke sekian aku mencoba untuk membersihkannya, dan segera kubawa buku itu. Setelah itu, aku harus melewati sebuah galur yang berisi air dan melompatinya. Kemudian aku sampai di sebuah tempat di mana terdapat dua buah mobil, dan tak jauh dari kedua mobil itu ada genangan air yang besar sekali, sambil memegang buku, aku berjongkok untuk menyentuhkan telunjukku ke dalam  lumpur yang mulai mengering dan menempelkannya ke tanganku. Beberapa saat kemudian, aku meletakkan buku itu di ruangan eksperimenku.

Pada hari ketiga, aku kembali ke ruangan eksperimenku, dan kurasakan ada sesuatu yang kurang. Aku mencoba berpikir dengan keras. Lalu aku ke luar ruangan untuk kesekian kali. Aku menuju ke sebuah tumpukan kotak-kotak kayu, sayang aku tak dapat menemukan sesuatu, kemudian aku menuruni dinding besi pembatas.  Aku amat sangat kebingungan, lalu duduk di sebuah beton yang keras untuk menenangkan pikiran. Dan secara tak sengaja, aku menemukan sebuah besi di dekat sepatu bagian kiriku. Aku pun mencoba untuk membengkokkannya, namun demikian sukar. Lalu aku berdiri dan menuju ke ruangan eksperimenku.

Perlu kalian tahu bahwa tempat eksperimenku adalah sebuah ruangan tua yang tak terpakai: ada lampu kuno, sebuah meja dengan dua laci, kaca dinding, sisa-sisa koran bekas yang telah kupakai untuk membuat burung-burung origami, dan tentu saja sebuah jendela besar.

Setelah aku sampai di ruangan eksperimenku, aku segera menuju ke jendela besar yang terdapat di ruang itu, yang mana ada dua  tali yang kupasang dua hari yang lalu. Pada salah satu tali, telah kurangkai burung-burung origami yang telah kubuat. Lalu salah satu tali itu dengan beberapa burung-burung origami berputar terkena sedikit angin, sungguh senang sekali aku melihat itu semua. Lalu aku menuju ke sebuah meja, dan mengambil sebuah buku yang kutemukan di tempat sampah sehari sebelumnya, dan merobeknya, untuk kujadikan burung-burung origami. Kedua lengan sweaterku kusingsingkan dan aku mulai dengan tekun mengerjakan burung-burung origami itu. Entah sudah burung ke berapa yang aku buat, namun di lantai begitu banyak burung yang berserakan, ada banyak warna tentunya. Tak hanya kertas pada buku, jika masih ada kertas koran tersisa, aku pun akan membuat dari kertas koran tersebut. Sebanyak mungkin, sebanyak mungkin. Di atas meja ada sekitar tujuh burung origami. Ah, aku harus berkejaran dengan waktu, agar senja tak mendahului apa yang kukerjakan ini. Dan, di saat mengerjakan satu origami burung, aku demikian menikmatinya, betapa senangnya. Lalu aku melubangi burung-burung origami di bagian punggung dan memasukkannya dengan tali. Lalu aku menariknya pelan-pelan. Satu burung, dua burung, atau tiga burung, telah kumasukkan bersama tali itu, atau jika kurang, aku segera membuka laci meja untuk mengambil burung yang menurut bagus, karena tidak semua burung yang kubuat demikian sempurna, lalu aku mengambil satu burung origami yang berwarna biru, dan kalian tahu biru adalah warna langit, tempat di mana burung-burung terbang dengan bebas.

Setelah satu tali dengan sekitar enam burung selesai, lalu aku mengambil kursi kecil, untuk membantuku menjangkau tali lain yang telah kupasang sebelumnya. Dan berkat sebuah katrol yang kutemukan di suatu tempat dan dikupasang di dinding, lalu kukerek tali dengan enam burung origami itu ke luar jendela. Aku pun menuju ke jendela, dan mengeluarkan kepala, ah, tak kusangka, aku telah membuat demikian banyak tali dengan burung-burung origami yang kubuat. Dan senang rasanya melihat hasil karya yang kuciptakan sendiri. Angin sore menggoyangkan burung-burung origami yang berada di luar ruangan, mereka seakan-akan terbang, terbang, dan terbang. Dan aku tak ingin ketinggalan, satu burung origami kuambil dan aku mulai berkhayal bahwa itu adalah burung sesungguhnya. Lalu aku bergerak ke sana-kemari. Dari jarak yang paling jauh di atas langit, terdengarlah suara pesawat terbang. Hari akan semakin gelap. Buru-buru, aku mengambil seekor burung—seekor burung yang tak bisa terbang akibat luka di salah satu sayapnya, yang kutemukan sebelum menciptakan eksperimen ini, lalu aku merawatnya seperti seorang dokter—dari ruangan lain, dan kuletakkan di atas meja. Aku kasihan padanya. Saat burung yang terluka ada di tanganku, kurasakan sekujur tubuh burung itu bergerak cepat, dan kuharap ia senang dengan apa yang kulakukan ini.

Tak lama kemudian, aku mengambil sebuah keranjang kecil, di mana keranjang itu telah kuberi besi yang kutemukan di dekat dinding besi pembatas itu, dan di keranjang kecil itu kuberi tumpukan kain agar menjadi hangat bagi burung yang terluka. Kedua tanganku membawa keranjang kecil, dan kaki-kaki kecilku melangkah ke sebuah katrol lain untuk mengerek burung. Dengan bantuan kursi kecil sebagai pijakan, aku segera naik dan mencoba untuk menyesuaikan besi ke tempat katrol itu. Lalu aku siap untuk mengarahkannya ke luar melalui jendela ruangan yang telah terbuka. Dan, di dalam hati, aku mulai menghitung: satu…dua..dan tigaaa! Burung di dalam keranjang pun meluncur.

Saat keranjang yang membawa burung itu meluncur, aku bergegas berlari cepat ke luar ruangan untuk mengejar keranjang berisi burung yang terluka itu dan juga burung-burung origami itu. Saat aku telah berada di luar ruangan, aku segera berlari disekitar burung-burung origami itu. Aku terus berlari ke sana-kemari. Ah, kalian tahu, betapa senangnya aku. Tak lama kemudian, saat aku berlari, datanglah keranjang berisi burung yang terluka itu, yang mana melewatiku, juga melewati serangkaian burung-burung origami yang kubuat. Dan aku berharap agar burung yang terluka itu mampu merasakan bahwa ia masih memiliki harapan untuk mampu terbang, dan tentu saja ia tak merasa sendirian, sebab ada aku dan burung-burung origami yang kuciptakan. Namun sayang, kian lama langit kian gelap, lalu aku berdri sejenak, memandang langit. Pada akhirnya, kedua bola mataku melihat dua burung dewasa terbang melintas.

Dan untuk beberapa hari ke depan, aku akan terus melakukan eksperimen ini: meluncurkan burung yang terluka ini dari ruang eksperimenku sampai ia mampu terbang kembali seperti sedia kala.

Kebahagiaan – Guy de Maupassant

Saat itu waktunya minum teh, dihadapan lampu-lampu yang dibawa masuk. Di sebuah pondokan yang berdiri di atas lautan; matahari lenyap menghilang meninggalkan seluruh warna merah yang telah berlalu; butiran debu berwarna emas; dan di Laut Tengah, tanpa gelombang atau desiran, membentang datar dan masih saja berkilauan di bawah hari yang hampir hilang, rasa-rasanya seperti selembar baja yang dipoles dan sangat panjang. Di bagian kanan, membentang jauh ke dalam jarak, gunung-gunung yang bergerigi kehilangan warna siluet mereka terhadap warna merah tua pada senjakala yang memudar.

Mereka sedang membicarakan cinta, mendiskusikan soal-soal yang lalu, mengatakannya lagi dan mengatakan hal-hal yang begitu sering sebelumnya. Kesedihan yang menyenangkan dari senjakala dalam pembicaraan mereka yang amat pelan, disebabkan emosi yang lembut di dalam jiwa-jiwa mereka; dan kata ’cinta’ ini, yang terdengar lagi dan lagi—sebagian besar bersuara dan sekarang berbicara dengan keras dan juga suara pelan dari seorang wanita—rasa-rasanya memenuhi ruangan kecil, berkibaran seperti seekor burung yang melayang-layang di dalamnya seperti suatu semangat.

Bisakah satu cinta berlangsung bertahun-tahun? “Ya,” kata beberapa orang: “Tidak,” tegas yang lain, mereka membeda-bedakan persoalan, membentuk perbedaan dengan menyebutkan contoh-contoh: dan setiap orang, baik pria atau wanita, yang dipenuhi dengan tenaga dan kenang-kenangan yang menggetarkan muncul dari kedua bibir mereka sebagai contohnya, yang menyentuh dan membicarakan suatu hal yang banal dan berkuasa ini, keserasian dari dua makhluk yang misterius dan mesra, dengan emosi yang amat sangat dan menarik kegairahan.

Lalu mendadak seseorang yang membentang jauh di dalam jarak, dan berteriak, “Oh! lihatlah, di sana! Apakah itu?”

Di atas lautan, di tepi horizon, sekumpulan warna kelabu yang amat besar dan tak jelas pun hadir. Para wanita bangun dan menatap dengan tak dapat memahami hal yang mengejutkan ini dan mereka tak pernah melihat hal itu sebelumnya.

Seseorang mengatakan, “itu Korsika! Kau bisa melihatnya dua atau tiga kali dalam setahun seperti ini, di bawah kondisi atmosfer yang tentu saja tak biasa, saat udara sepenuhnya jelas dan hampir tak bisa bersembunyi di balik perlakuan benda-benda yang tak dikenal dalam suatu jarak.”

Mereka bisa melihat secara samar-samar pada puncak-puncak tertinggi; beberapa perhatian bisa mereka lihat sekarang ini di puncak-puncak gunung. Dan setiap orang terkejut, kesusahan, dan hampir ketakutan oleh munculnya dunia ini, sesosok hantu yang muncul dari lautan, kemungkinan bagi yang menyatakan, seperti Colombus, yang menyeberangi samudera yang belum dijelajahi, dan memiliki impian yang aneh.

Kemudian, seorang pria tua, yang masih saja tak berbicara, berkata, “Dengarlah, aku menemukan pulau ini—yang telah muncul di depan kita dan seakan-akan menjawab apa yang telah kita katakan, dan mengingatkanku pada satu kenangan—aku bertemu dengan satu contoh cinta yang mengagumkan. Beginilah ceritanya:

*

Lima tahun lalu, aku melakukan perjalanan ke Korsika. Pulau-pulau liar ini tak dikenal dan begitu jauh dari kita di Amerika, meskipun kau bisa melihatnya kadang-kadang dari tepi-tepi pantai di Prancis, seperti hari ini.

Gambaran dunia tetap saja dalam kekacauan, gunung-gunung dengan badai memisahkan jurang-jurang yang sempit bersama aliran air yang deras. Tempat ini, boleh jadi, bukanlah suatu daratan, hanya tebing batu granit yang terjal dan luas sekali. Tanah bergelombang yang luas, yang tertutupi dengan semak belukar atau pohon pinus dan pohon chesnut di hutan-hutan. Tanahnya alami, tak digarap, bahkan adakalanya kau bisa melihat sebuah desa, yang tampak seperti segumpal bebatuan di puncak gunung. Tak ada budaya, tak ada industri, atau pun seni. Kau tak akan pernah menjumpai sepotong kayu yang digarap, sedikit bebatuan yang terpahat, atau tak pernah menjumpai tanda perasaan yang diturunkan pada hal-hal yang indah dan anggun, bagaimana pun sederhananya. Justeru kau akan menemukan salah satu tanah yang paling keras dan agung ini: pencarian-pencarian yang diabaikan secara turun-temurun dalam bentuk-bentuk kesenian.

Italia—adalah setiap istana, yang dipenuhi dengan karya-karya agung, dan bahkan Italia sendiri adalah karya yang agung; di mana batu pualam, kayu, perunggu, besi, dan semua baja dan bebatuan diperlihatkan kepada seseorang yang jenius; di mana benda-benda kuno paling kecil yang terletak di sekitar rumah-rumah tua membuka perhatian yang hebat pada keanggunan ini—dan untuk semua kesucian warisan leluhur yang kita cintai, sebab itulah yang diperlihatkan kepada kita: usaha, kemuliaan, kekuatan, dan hasil kreatifitas dari kepandaian.

Dan, setelah menyeberang ke Italia, Korsika yang liar telah membekas seperti di hari awal. Kehidupan-kehidupan manusiawi ada di dalam rumah yang paling sederhana, dan bukan tak tertarik pada segala hal yang berdekatan dan disangkut-pautkan antara kehidupan atau perselisihan keluarga. Dan itulah yang menjaga dari kesalahan-kesalahan dan kualitas-kualitas suku bangsa yang tak terdidik: kebengisan, kebencian, pertumpahan darah tanpa kesadaran; tapi juga kemurahan hati; kedermawanan, ketekunan, kenaifan, membukakan pintu pada pejalan kaki dan memberikannya kepercayaan perkawanan setelah diabaikannya tanda-tanda pada rasa simpatik.

Dan sekitar sebulan, aku telah mengembara melewati pulau yang indah ini, dengan perasaan bahwa aku berada di ujung dunia. Tak ada penginapan, tak ada bar, tak ada jalan beraspal. Hanya melalui jalan setapak yang kasar, dan kau akan menjangkau desa-desa paling kecil ini, yang berkerlipan di sisi gunung-gunung, dan berdiri di atas ngarai-ngarai yang berliku-liku. Di mana pada malam harinya, kau mendengar munculnya suara kebisingan yang terus-menerus, dan suara aliran air yang amat sangat deras. Kau mengetuk pintu dari rumah ke rumah, kau meminta menginap semalam, dan menginginkan sesuatu untuk dimakan yang terakhir kalinya sampai keesokan harinya. Dan kau duduk di meja yang sederhana, tidur di bawah atap yang sederhana; dan pada pagi harinya kau menjabat tangan pada tuan rumah, yang telah menuntunmu ke sisi desa.

Begitulah, suatu malam, setelah berjalan selama sepuluh jam, aku mencapai tempat tinggal yang kecil dan sendirian di tengah-tengah lembah yang sempit yang menghadap sedikit lebih jau ke laut. Dua lereng yang curam di gunung, yang tertutupi dengan semak belukar, batuan yang pecah, dan pohon-pohon raksasa, didekat jurang yang begitu menyedihkan seperti dua dinding berwarna gelap. Di sekitar gubuk beberapa tanaman anggur, sebuah kebun kecil, dan beberapa pepohonan chestnut; setidaknya telah hidup, dan sungguh menjadi suatu keberuntungan bagi tanah yang melarat.

Seorang wanita yang menerimaku telah tua dan bersahaja. Seorang pria, duduk di kursi rotan, bangkit untuk menemuiku, lalu duduk lagi tanpa berkata apa-apa. Pasangannya berkata kepadaku, “Maafkanlah, ia sekarang tuli. Ia berumur delapan puluh dua tahun.”

Dia berbicara dengan bahasa Prancis. Aku terkejut dan bertanya padanya, “Anda tak berasal dari Korsika?”

Dia menjawab, “Tidak, kami berasal dari sebuah benua. Hanya kami telah hidup di sini sekitar lima puluh tahun.”

Suatu perasaan kesedihan yang mendalam dan ketakutan menarikku pada perhatian akan lima puluh tahun itu di dalam lubang gelap ini, begitu jauh dari kota-kota di mana orang-orang hidup. Dan seekor anjing tua mengeluyur masuk, dan kami duduk untuk makan malam: sup kentang, lemak babi, dan kubis.

Saat makan yang singkat itu usai, aku ke luar untuk duduk di depan pintu, hatiku dilanda kesedihan pada daerah yang menyedihkan ini, diselimuti dengan kesusahan yang kadang-kadang memikat para pelancong di malam-malam yang menyedihkan, tentu saja di tempat-tempat yang terpencil seperti ini. Rasa-rasanya bahwa segala kehidupan dan dunia disekitar akan berakhir. Mendadak, aku melihat kesengsaraan hidup yang mengerikan, setiap orang terisolasi, segalanya seperti kosong, dan kesunyian yang gelap di dalam hati, menipu diri sendiri dengan impian-impian sampai mati.

Wanita tua itu bergabung denganku dan, tersiksa oleh keingintahuan yang selalu hidup di dasar jiwa, dan bertanya, “Jadi, kau berasal dari Prancis?”

Ya, dan aku senang jalan-jalan.”

Kau dari Paris?”

Tidak, aku dari Nancy.”

Tampak bagiku ada emosi yang luar biasa sedang menghasutnya. Alangkah aku melihatnya, atau sedikit merasakan hal ini, aku pun tak tahu.

Dia mengulangi suaranya dengan pelan, “Kau dari Nancy?”

Pria tua itu muncul di pintu, tenang, seperti yang setiap orang tuli kerjakan.

Dia berkata, “Jangan hiraukan ia. Ia tak bisa mendengar apapun.” Lalu, setelah beberapa detik, “Jadi, kau mengenal setiap orang di Nancy?”

Tentu saja, hampir setiap orang.”

Keluarga Sainte-Allaize?”

Ya, kenal baik. mereka adalah kawan-kawan dari ayahku.”

Siapa namamu?”

Aku mengatakan namaku padanya. Dia memandangku, lalu berkata dengan suara rendah dengan membangkitkan kenangan, “Ya, ya, aku ingat baik. Dan keluarga Brismare, apa yang terjadi pada mereka?”

Mereka semua meninggal.”

Ah! Dan keluarga Sirmonts, kau kenal mereka?”

Ya, Salah seorang keluarga yang terakhir adalah seorang jenderal.”

Kemudian dia mengatakan, dengan getaran emosi, dengan kesedihan yang mendalam, dan aku pun tak tahu apa yang dibingungkan, begitu kuat, dan perasaan-perasaan suci, pada apa yang tak perlu kuketahui untuk diakui, untuk mengatakan segalanya, untuk membicarakan hal-hal di mana dia telah menutup hati hingga bagian paling dasar, untuk membicarakan orang-orang yang nama mereka menggetarkan jiwanya:

Ya, Henry de Sirmont. Aku mengenalnya dengan baik. Ia adalah kakakku.”

Aku menaikkan kedua mataku ke arahnya, kebingungan serta terkejut.

Dulu ada sebuah skandal yang mengerikan di dalam keluarga bangsawan Lorraine. Seorang wanita muda, cantik dan kaya, Suzzane de Sirmont, telah dibawa pergi oleh seorang sersan dari resimen yang dipimpin oleh ayah wanita tersebut. Sersan itu, adalah lelaki yang tampan, seorang anak petani, berpenampilan baik dengan seragam yang dikenakannya, prajurit itulah yang telah merayu puteri kolonelnya. Tak ada keraguan yang diperlihatkan oleh wanita itu pada prajurit itu. Wanita itu pun memperhatikannya, jatuh cinta kepadanya saat melihat barisan pasukan. Bagaimanapun, prajurit itu harus bicara padanya, bagaimanakah mereka sanggup memahami satu sama lain untuk bicara? Bagaimana dia akan berani untuk membuat si prajurit mengerti bahwa dia mencintainya? Tak seorang pun yang tahu. Tak seorang pun mampu mencurigai. Pada suatu malam, saat si prajurit telah menyelesaikan pendaftarannya, ia menghilang bersama gadis itu.

Mereka mencari pasangan itu, namun tak pernah menemukan. Mereka tak pernah mendengar tentang gadis itu lagi, dan mereka memutuskan bahwa gadis itu telah mati. Dan aku telah mendapati gadis itu di lembah yang menyeramkan ini.

Kemudian aku bertanya, “Ya, aku ingat dengan baik. Anda adalah Suzzane.”

Dia menggerakkan kepalanya dengan mengatakan ya. Air mata jatuh dari kedua matanya. Kemudian, dengan satu tatapan ke seorang pria tua yang duduk tak bergerak di pintu gubuk, Suzzane mengatakan kepadaku, “Itulah ia.”

Dan aku memahami bahwa Suzzane tetap mencintainya, bahwa dia tetap melihatnya dengan kedua pandangan perayu.

Aku bertanya, “setidaknya, apakah Anda bahagia?”

Dia menjawab, dengan suara yang berasal dari hatinya, “Oh! Ya, sangat bahagia. Ia membuatku sangat bahagia. Aku tak pernah ragu pada apapun.”

Aku menatapnya dengan kesedihan dan kejutan serta kekaguman pada kekuatan cinta! Wanita kaya ini telah mengikuti kekasihnya, seorang anak petani ini, dan dia sendiri menjadi seorang petani. Dia mendiami kehidupannya tanpa pesona, tanpa kemewahan, tanpa makanan yang lezat berbagai macam, dia telah bertekad pada dirinya sendiri kepada kebiasaan-kebiasaannya yang sederhana. Dan wanita itu masih tetap mencintai si prajurit, anak petani itu. Dia telah menjadi orang desa, dengan kaus berbahan kain mota dan juga topi yang diikat di dagu. Dia makan di atas piring berbahan tembikar pada meja berbahan kayu sederhana, duduk di atas kursi berbahan rotan, memakan kubis dan kentang dengan lemak babi. Dia terbaring di atas kasur jerami di sisi prajurit, anak petani itu.

Dia tak pernah memikirkan apapun, kecuali pasangannya! Dia telah meninggalkan kalun-kalung berlian, atau perhiasan, atau keanggunan, atau tempat duduk yang lunak, atau kehangatan wewangian di kamar-kamar yang dibungkus dengan tirai, atau bantal-bantal yang tertutup dengan bulu halus yang mana untuk mengistirahatkan tubuh seseorang. Dia tak memerlukan apapun, kecuali pasangannya; selama pasangannya ada, wanita itu tak memerlukan apa-apa.

Dia memiliki kebebasan hidup sejak muda, di antaranya untuk dunia dan bagi siapa yang telah merawatnya dan mencintainya. Dia telah datang bersama pasangannya ke jurang yang liar ini. Dan si prajurit itu menjadi segalanya baginya, segalanya yang menjadi satu keinginan, segalanya menjadi satu impian, segalanya yang menjadi satu hal yang di nanti terus-menerus, segalanya yang menjadi harapan-harapan abadi. Si prajurit telah memenuhi kehidupannya dengan kebahagiaan, dari satu ujung ke ujung yang lain.

Dan sepanjang malam, mendengarkan desahan nafas yang berat dari pria tua yang terentang di atas palletnya, di samping gadis yang telah mengikutinya demikian jauh, kupikir bahwa itulah petualangan yang sederhana dan aneh, kebahagiaan yang begitu lengkap.

Dan aku pergi bersama munculnya matahari, setelah menjabat tangan pada dua orang tua, seorang pria dan istrinya.

*

Seorang pria tua merasakan keheningan.

Seorang wanita berkata, “Meskipun begitu, dia memiliki suatu pemikiran yang terlalu mudah, kebutuhan yang terlalu primitif. Dan syarat-syarat yang terlalu sederhana. Suzzane adalah wanita yang bodoh.”

Orang lain berkata dengan pelan, “Apa masalahnya! Dia bahagia.”

Dan di sana, di tepi horizon yang paling jauh, Korsika menghilang di malam hari, terbenam kembali dengan pelan ke dalam lautan, dan bayang-bayang besar berangsur-angsur menghilang, yang mana bayang-bayang itu seakan-akan muncul untuk menceritakan sebuah kisah tentang dua orang pecinta yang bersahaja, yang bersembunyi di atas tepi pantai.

Le Gaulois, 16 maret 1884.

:: Dialih-bahasakan dari cerita pendek Bonheur (Happiness) karya Guy de Maupassant. Tr. Prancis – Inggris oleh Jeffrey B Taylor.

Polikusha – Leo Tolstoy

CHAPTER I.

Polikey adalah orang istana—salah satu dari petugas pelayanan milik rumah istana dari Boyarinia (seorang wanita bangsawan.) Ia memegang jabatan yang tak berarti di perkebunan, dan hidup dengan agak miskin, di mana ia memiliki rumah kecil bersama istri dan anaknya.

Rumahnya dibangun oleh seorang Janda bangsawan dan masih membantu Polikey, dan barangkali akan dijelaskan sebagai berikut: empat dinding mengelilingi satu ruang yang dibangun dari batu, dan bagian dalam kamar memiliki luas sepuluh yard persegi. Ditengah-tengah kamar terdapat sebuah tungku, dan disekitarnya ada jalan lapang. Masing-masing kamar dipisahkan oleh pagar pemisah dengan tinggi beberapa kaki, dan di dekat pintu (Kamar yang paling kecil di antara semuanya adalah Kamar dari Polikey.)

Di kamar mana pun terdapat kasur (dengan selimut berbahan kapas, alas tilam, dan bantal berbahan katun), lalu ayunan (di mana seorang bayi terbaring di dalamnya), dan tiga meja, di mana makanan telah disiapkan dan keluarga Polikey sedang menyelesaikan cucian. Lalu, bekerjalah Polikey dengan menyiapkan sedikit bahan untuk pekerjaannya—menjadi seorang dokter bedah hewan amatir.

Seekor anak sapi, beberapa ayam betina, pakaian-pakaian keluarga dan alat rumah tangga, dengan tujuh orang, memenuhi rumah kecil itu. Dan hampir tak mungkin untuk bergerak, dan saat beberapa orang dari keluarga itu tidur di malam hari di atas tungku, dan tungku itu siang harinya dijadikan meja.

Sulit untuk dibayangkan bagaimana orang-orang yang begitu banyak mengatur hidup mereka di tempat-tempat tertutup seperti itu.

Istri Polikey, yang bernama Akulina sedang mencuci, memintal benang, dan menenun, menjemur kain, memasak, membakar, dan juga punya waktu untuk bergosip serta bertengkar dengan para tetangga.

Rumah wanita bangsawan itu selalu memberikan uang untuk jatah makan bagi mereka yang menderita karena keluarganya, dan ada juga makanan sisa untuk seekor sapi. Bahan bakar mereka gratis dan juga makanan ternak. Dan mereka juga diberikan sepetak tanah kecil untuk menanam sayur. mereka punya sapi, lalu anak sapi, dan ayam-ayam untuk dirawat. Polikey bekerja di kandang, merawat dua kuda jantan, dan bila perlu, kuda-kuda dan hewan ternak dikeluarkan dari kandang untuk dibersihkan kuku-kukunya.

Polikey menggunakan alat semprot, plester, dan berbagai obat-obatan, dan alat ciptaannya sendiri, untuk merawat hewan-hewan itu. Untuk tugas ini, ia menerima barang apa saja yang diperlukan bagi keluarganya, dan sedikit uang—yang mana semua itu akan cukup untuk hidup mereka dengan nyaman dan bahagia, andaikan mereka tak dipenuhi oleh bayang-bayang penderitaan. Bayang-bayang gelap inilah yang tinggal di seluruh keluarga.

Saat muda, Polikey bekerja di perusahaan peternakan kuda di desa sebelah. Kepala peternakan adalah seorang pencuri kuda yang terkenal, dan dikenal luas sebagai bajingan besar, dan diasingkan ke Siberia.

Polikey, di bawah arahannya, menjalani latihan kerja, dan menjadi seorang anak lelaki kecil yang mudah dirayu untuk melakukan banyak pebuatan-perbuatan jahat, dan ia menjadi ahli sebab dilatih berbagai macam kejahatan oleh gurunya itu, meskipun ia memiliki waktu yang banyak untuk menjauhi jalan kejahatan itu. Sayang, Polikey, tak bisa, dan pengakuan akan kehebatan yang diberikan padanya, menjadikannya suatu kebiasaan. Ayah dan ibunya meninggal saat kecil, dan Polikey tak memiliki siapapun untuk menunjukkan jalan kebenaran.

Di samping itu ada banyak kekurangan lain dari Polikey, yakni menyukai minuman keras. Ia juga punya kebiasaan mengambil barang milik orang lain bila ada kesempatan yang untuk melakukannya. Kerah tali pengikat, gantungan gembok, rendel kunci, dan benda-benda yang bernilai tinggi milik orang lain banyak ditemukan di rumah polikey. Bagaimanapun, ia tak menyimpan barang-barang itu untuk digunakan sendiri, melainkan untuk di jual di mana saja ia menemukan seorang pembeli. dan bayaran utamanya adalah whisky, dan adakalanya uang tunai.

Pekerjaan semacam ini, seperti yang para tetangga katakan, dua-duanya mudah dan menguntungkan. Suatu pekerjaan memerlukan baik, pendidikan atau tenaga. Bagaimana pun, terdapat satu kekurangan, yang mana menghitung kejahatannya untuk kerugian-kerugian mereka:

Meskipun sejenak ia mampu menyediakan segala kebutuhannya tanpa mengeluarkan tenaga dan uang, selalu ada cara-cara yang ditemukan. dan hasil inilah yang pastinya diikuti oleh masa tahanan yang panjang. Marabahaya yang akan datang, mengubur kehidupan Polikey dan keluarganya.

Polikey mengalami semacam kemunduran di awal karirnya. Ia menikah saat muda dan Tuhan memberinya banyak kebahagiaan. Istrinya seorang pengasuh anak, dia kuat dan cerdas, serta pekerja keras, dan melahirkan banyak anak.

Polikey masih meneruskan pencuriannya, namun segera tertangkap karena beberapa benda kecil milik orang lain. Di antara benda-benda itu adalah sepasang tali kekang berbulu, milik seorang petani lain, yang kemudian memukulnya dan melaporkan kepada majikannya. Sejak saat itu, Polikey menjadi sasaran kecurigaan. Dua kali ia didapati melakukan hal serupa. Orang-orang pun mulai memakinya, dan juru tulis pengadilan mengancamnya untuk di rekrut ke dalam ketentaraan sebagai prajurit (yang dianggap oleh para petani sebagai hukuman besar dan memalukan). Majikannya mengomelinya dengan bengis. Istrinya menangis sedih pada kehancurannya dan segalanya yang buruk menjadi bertambah buruk.

Betapa pun lemahnya Polikey, namun ia termasuk orang yang baik, dan kecintaannya pada minuman telah menguasai setiap moralnya, dan ia hampir tak mempertanggung-jawabkan tindakannya. Ia usaha kerasnya untuk mengatasi kebiasaan ini dirasa sia-sia.

Ia sering pulang dalam keadaan mabuk, dan istrinya kehilangan seluruh kesabaran, dan mengutuk lalu memukulnya dengan kejam. Saat itu, Polikey berteriak seperti anak kecil yang meratapi nasibnya. Aku adalah pria bernasib sial, apa yang harus kulakukan? Biarkan mataku hancur andaikan aku tak bisa menghentikan kebiasaan buruk untuk selamanya! Dan aku takan menyentuh vodka lagi.”

Meskipun ia berjanji sepenuhnya untuk memperbaiki diri, namun dalam waktu sebulan Polikey kembali menghilang secara misterius dari rumahnya dan beberapa hari berplesiran.

“Dari mana ia mendapatkan uang yang ia habiskan dengan bebas?” para tetangga saling bertanya, dan mereka menggelengkan kepala dengan sedih.

Satu yang patut disayangkan dari perbuatannya adalah pencurian jam milik majikannya. Jam itu berada di kantor pribadi milik wanita bangsawan itu, dan dirawat sebagai harta warisan.

Suatu hari Polikey pergi ke dalam kantor dan tak ada siapapun kecuali dirinya, lalu ia melihat jam kuno yang tampaknya memiliki daya tarik baginya. Ia pun dengan cepat mengirimkan jam itu kepada orangnya. Ia membawa jam itu ke kota yang tak jauh dari desa, di mana ia bersiap untuk bertemu dengan seorang pembeli.

Kebetulan, ia menjual pada seorang penjaga toko yang ternyata kerabat dari salah satu pegawai istana, dan saat penjaga toko itu mengunjungi kawannya di hari libur, ia pun menceritakan semua tentang pembelian jam tangan tersebut.
Penyelidikan segera diadakan dan seluk-beluk transaksi dari Polikey dilaporkan kepada majikannya. Ia pun dipanggil majikannya. Saat menghadap, ia menceritakan tentang pencuriannya dan mengakui semuanya.

Ia berlutut dihadapan wanita bangsawan itu dan mengaku padanya yang murah hati. Wanita yang baik hati itu berceramah tentang Tuhan, penyelamatan jiwa, dan kehidupan masa depan, dan dia juga membicarakan tentang kesengsaraan dan aib yang di bawa Polikey untuk keluarganya. Lalu ia berteriak seperti anak kecil.

“Aku memaafkanmu saat ini, dengan syarat kau harus menepati janji untuk menjadi lebih baik dan tak pernah mengambil apa yang bukan milikmu,” kata majikannya.

Polikey masih menangis. “Aku tak akan pernah mencuri sepanjang hidupku dan jika aku melanggar, bukalah tanah dan biarkan tubuhku terkubur bersama besi panas!”

Polikey pulang dan melemparkan dirinya ke atas tungku dan menghabiskan sepanjang hari dengan menangis dan mengulangi janji yang dibuatnya pada majikannya.

Sejak saat itu, ia tak kedapatan mencuri lagi, sementara hidupnya menjadi luar biasa sedih, karena ia dicurigai oleh setiap orang dan dicap sebagai pencuri.

Sewaktu ada perekrutan ketentaraan, semua petani memilih Polikey sebagai orang pertama yang diterima. Dan seorang pengawas pergi ke majikan Polikey untuk membujuk Polikey agar dikirim pergi. Wanita bangsawan yang baik hati dan murah hati itu, menolak permintaan si pengawas, dan menyuruhnya untuk mengambil beberapa pria lain sebagai pengganti Polikey.

CHAPTER II.

Suatu malam, Polikey duduk di atas kasur yang bersebelahan dengan meja. Ia menyiapkan sedikit obat untuk hewan ternak, mendadak pintu terbuka, dan Aksiutka, gadis muda dari istana masuk dengan tergesa-gesa. Gadis itu berdiri dan bernafas dengan berat. “Egor Mikhailovitch, si pengawas itu, sedang menemui nyonya tentang wajib militermu, Polikey Illitch, namamu disebut di antara mereka. Nyonya menyuruhku untuk memberitahukannya kepadamu agar datang ke istana dengan segera.” Segera setelah Aksiutka mengirim pesannya dan meninggalkan ruangan tiba-tiba dengan cara yang sama seperti dia masuk.

Akulina, tanpa mengatakan sepatah kata, bangun dan membawa sepatu bot milik suaminya. Mereka amat miskin, benda-benda dipakainya sampai lusuh. Sejumlah prajurit telah memberikan padanya, dan istrinya tak menatap suaminya saat dia membawakan barang-barang itu kepada suaminya.

“Apakah kau akan mengganti pakaianmu, Illitch?” Akhirnya dia bertanya.

“Tidak,” jawab Polikey.

Akulina tak menatap kepadanya sepanjang waktu. Polikey menegenakan sepatu botnya dan bersiap untuk pergi ke istana. Wajahnya sangat pucat dan bibirnya gemetar. Ia menyisir rambutnya dengan lambat dan berniat untuk berangkat tanpa mengatakan sepatah kata pun, saat istrinya mengatur dasi bajunya. Dan setelah memakai mantelnya sesaat, Akulina menaruh topi pada suaminya dan pria itu meninggalkan rumah kecil itu.

Tetangga sebelah Polikey yang senang berkumpul dengan istrinya. Dinding partisi yang tipis sebagai satu-satunya pemisah dari dua keluarga dan masing-masing mampu mendengar apa yang mereka katakan. Segera setelah Polikey berangkat, wanita itu mendengarkan perkataan itu, “Baiklah, Polikey Illitch, jadi majikanmu telah mengirimmu!”

Lalu Akulina dan seorang wanita sedang bertengkar pagi itu tentang sejumlah hal sepele yang dilakukan oleh salah satu anak Polikey, dan tetangga itu luar biasa senang bahwa Polikey telah dipanggil kehadapan majikan bangsawannya. Ia melihat keadaan sekitar sebagai sebuah petanda buruk. Dia meneruskan obrolannya sendiri dan berkata: “Mungkin dia ingin dikirimn ke kota untuk membuat sejumlah belanjaan bagi tuan rumahnya. Aku tak mengira ia akan dipilih menjadi orang setia seperti kau telah melakukan pelayanan baginya. Jika ternyata dia ingin mengirimmu ke kota berikutnya, belikan aku seperempat pon teh. Maukah kau, Polikey Illitch?”

Akulina yang malang, mendengar pembicaraan tetangganya itu dengan begitu kasar terhadap suaminya. Dia pun tak dapat menahan tangisannya dan melanjutkan semburan kata-kata amarah yang lama. Akulina pun marah dan dia ingin dapat menghukum wanita itu dengan sejumlah cara.

Akulina melupakan kekejaman yang dilakukan tetangganya, segera berbalik ke arah lain, dan memandang anaknya yang sedang tidur. Dia berkata pada dirinya sendiri, bahwa anak-anaknya akan segera menjadi anak yatim dan dia akan menjadi janda dari seorang prajurit. Pikiran ini membuatnya susah dan membenamkan wajahnya ke dalam tangan, ketika dia duduk sendiri di kasur, di mana beberapa anaknya tertidur. Segera suara teriakan menyela, “Mamuskha (ibu), kau mendesakku,” dan anak itu menarik pakaian malamnya dari bawah lengan ibunya.

Akulina mengistirahatkan kepalanya di kedua tangannya. lalu berkata, “Mungkin lebih baik jika kami semua mati. Aku telah membawamu ke dalam dunia penderitaan dan kesengsaraan.”

Tak sanggup terlalu lama dikuasai kesedihan, Akulina mulai menangis dengan keras, yang mana membuat tetangganya itu senang dan tak melupakan pertengkaran di pagi hari, dan dia tertawa pada kesengsaraan Akulina.

CHAPTER III.

Setengah jam berlalu, anak yang terkecil berteriak dan Akulina bangkit untuk memberinya makan. Saat anak itu berhenti menangis dan kemudian memberi makan bayinya, dan jatuh ke posisi semula, dengan membenamkan wajahnya di kedua tangannya. Wajah Akulina pucat, sementara bertambahlah kecantikannya. Lalu dia menaikkan kepalanya dan memandang pada lilin yang terbakar, dia mulai bertanya kepada dirinya sendiri mengapa dia menikah, dan perihal mengapa Tsar memerlukan banyak prajurit.

Segera, Akulina mendengar langkah-langkah di luar dan tahu bahwa suaminya telah kembali. Dia cepat mengakhiri tangisannya dan bangkit untuk menemui suaminya yang lewat ke dalam tengah-tengah ruangan.

Polikey menerima kehadirannya dengan tatapan kemenangan, melemparkan topinya ke atas kasur, dan melepaskan mantelnya, namun tak satu kata pun yang ia ucapkan.

Akulina tak sanggup untuk mengendalikan kesabarannya. “Apakah yang dia inginkan darimu?”

“Cih!” jawabnya, “Polikushka sangat dikenal sebagai pria paling buruk di desa; namun saat datang urusan penting, lalu siapa yang di pilih? Ah, Polikushka, tentunya.”

“Urusan macam apa?” Akulina bertanya dengan malu-malu.

Namun Polikey tak terburu-buru untuk menjawab pertanyaan Akulina. Ia menyalakan pipa dengan udara yang sangat mengganggu dan meludah beberapa kali ke lantai sebelum ia menjawab.

Menahan sikap angkuhnya. “Dia menawariku untuk pergi ke seorang pedagang di kota dan mengumpulkan sejumlah uang sedapat mungkin.”

“Kau mengumpulkan uang?” tanya Akulina.

Polikey hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, dan berkata:.

“’Kau,’ kata majikanku, ‘adalah seseorang yang terletak di bawah kecurigaan—seorang pria yang dianggap berbahaya untuk dipercaya dalam setiap kapasitas apapun; namun aku percaya kepadamu dan akan mempercayakan urusan penting milikku ini kepadamu.”

Polikey menceritakan ini semua dengan suara keras sehingga tetangganya mungkin mendengar apa yang ia katakan.

“’Kau berjanji kepadaku untuk lebih baik,‘ majikanku berkata kepadaku, ‘dan aku jadi yang pertama untuk menunjukkan kepadamu alangkah besarnya kepercayaan yang aku berikan pada janji-janjimu. Aku ingin kau menuju kota dan pergi ke pedagang utama di sana, kumpulkan sejumlah uang darinya dan berikan kepadaku.’”

“’Segalanya yang Anda perintahkan akan dilakukan. Aku akan senang mentaati keinginan Anda,’ kataku kepada majikanku.’”

“’Kemudian majikanku berkata, ‘Apakah kau mengerti Polikey, bahwa nasib masa depanmu bergantung atas kesetiaan melaksanakan urusan yang aku bebankan kepadamu?’

‘Kemudian aku menjawab, ‘Ya, aku mengerti semuanya dan merasa aku akan berhasil dengan pantas melaksanakan tugas apapun yang Anda bebankan kepadaku. Aku telah keliru dalam setiap perbuatan kejahatan yang mengubah seseorang, sementara aku tak pernah serius melakukan kesalahan terhadap Anda, Yang Mulia.’ Dengan cara ini, aku berbincang kepada majikan kita sampai aku berhasil meyakinkannya bahwa penyesalanku telah sungguh-sungguh dan dia menjadi lembut terhadapku.

‘Jika kau berhasil, aku akan memberimu tempat pertama di istana ini, katanya.’”

“Dan berapa banyak uang yang kau kumpulkan?” tanya Akulina.

“Seribu lima ratus rubel,” dengan gegabah Polikey menjawabnya.

Akulina menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Kapan kau memulainya?”

“Dia menawariku untuk pergi dari sini besok,” jawab Polikey. “’Ambillah kuda apapun yang kau suka,’ katanya. ‘Datanglah ke kantor dan aku akan menemuimu di sana dan menginginkanmu semoga berhasil di perjalanan.’”

“Terpujilah Kau, Ya Tuhan!” kata Akulina, saat dia bangkit dan membuat tanda salib. “Aku yakin Tuhan akan memberkatimu, Illicht,” Dia berbisik, sehingga orang-orang di dinding yang terpisah di sisi lain tak dapat mendengar apa yang dia katakan.

Sepanjang waktu Akulina menahan lengan panjangnya. “Illitch,” dia berteriak akhirnya dengan gairah, “Demi Tuhan, berjanjilah kepadaku bahwa kau tak akan menjamah setetes vodka pun. Bersumpahlah di depan Tuhan, ciumlah salib ini, sehingga aku yakin kau tak akan melanggar janjimu.”

Polikey menjawab dengan nada yang rendah, “Apa kau pikir aku berani menyentuh vodka, saat aku harus mengumpulkan sejumlah uang yang besar di dalam perlindunganku?”

“Akulina, siapkan baju bersih untuk besok pagi,” sebagian kata-katanya pada malam itu.

Polikey dan istrinya tidur dengan pikiran yang terbingkai kebahagiaan dan dipenuhi mimpi-mimpi yang terang akan masa depan.

CHAPTER IV.

Keesokan pagi sekali. Hampir sebelum bintang-bintang menyembunyikan diri mereka dari pandangan, di depan rumah Polikey berdirilah sebuah kereta kuda kecil. Kereta yang juga digunakan si pengawas untuk berkendara. Pakaian kuda terpasang di tulang besar dari kuda betina berwarna cokelat gelap, yang dipanggil dengan nama Baraban untuk beberapa alasan yang tak diketahui.

Aniutka, anak perempuan tertua Polikey, meskipun hujan berat dan angin dingin sedang bertiup, berdiri di luar tak bersepatu dan berkaos dan menahan (tanpa rasa takut) tali kekang dengan tangan, saat tangan yang lain berusaha keras untuk mejaga mantel hijaunya dan mantel kuning yang menggulung pada tubuhnya, dan juga memegang mantel kulit domba Polikey.

Di dalam rumah, terdengarlah suara bising yang keras dan kacau. Pagi itu masih begitu gelap di mana sedikit cahaya jatuh menembus melalui kaca-kaca jendela yang retak, jendela itu diisi di banyak tempat dengan kertas dan kain untuk menahan udara dingin.

Akulina berhenti memasak sejenak dan membantu Polikey untuk persiapan di perjalanan. Kebanyakan dari anaknya tetap di tempat tidur, karena itu Akulina mengangkat mantel besar yang selalu melindungi mereka dan digantinya dengan sebuah syal miliknya, dan sangat mungkin sekali sebagai pelindung dari hawa dingin.

Seluruh baju Polikey telah disiapkan, bagus dan bersih, sementara sepatunya yang lusuh perlu perbaikan, dan inilah yang menyebabkan kegelisahan pada istrinya. Dia mengambil dari kakinya sebuah kaos kaki berbahan wol yang tebal yang dia kenakan dan diberikan pada Polikey. Kemudian Akulina mulai memperbaiki sepatu suaminya, yang berlubang dengan seadanya agar kaki Polikey terlindungi dari kelembapan.

Ketika ia duduk di sisi tempat tidur dengan kakinya menjuntai ke tepi dan mencoba untuk membalikkan ikat pinggang yang menahan mantelnya di pinggang. Ia sangat cemas menatap dengan serapi mungkin dan ia menganggap ikat pinggangnya seperti sebuah tali yang kotor.

Salah satu dari para puterinya, yang diselimuti mantel berkulit, dikirim ke rumah tetangganya untuk meminjam topi.

Ada banyak kekacauan di dalam rumah polikey, sebab para pelayan istana terus berdatangan bersama pesanan-pesanan kecil mereka yang dititipkan pada Polikey di kota. Ada yang menginginkan jarum-jarum, ada yang ingin teh, ada yang ingin tembakau, dan datanglah para istri yang berkumpul, yang saat itu sedang menyiapkan samovar dan mulai betengkar seperti kemarin, dan membawakan si pengembara secangkir teh.

Nikita, tetangganya, menolak meminjamkan topi, sehingga salah satu topi yang usang sempat ditambal dan ada banyak lubang-lubang di dalamnya.

Akhirnya Polikey menyiapkan segalanya dan melompat ke atas kereta kuda dan memulai perjalanannya, setelah pada awalnya membuat tanda salib.

Saat terakhir, anak lelakinya, Miskha, berlari ke pintu meminta untuk naik sebentar dan kemudian anak perempuan yang terkecil, Maskha, hadir di tempat itu dan meminta juga dibolehkan naik, dan dianggapnya akan sangat cukup hangat tanpa pakaian bulu.

Polikey menghentikan kudanya saat mendengar anak-anak dan Akulina menempatkan anak-anak di dalam kereta kuda bersama-sama dengan kedua anak tetangga yang lain—semuanya tampak gelisah saat naik sebentar.

Saat Akulina membantu salah satu anak kecil ke dalam kereta kuda, dia mengambil kesempatan untuk mengingatkan janji Polikey dengan sungguh-sungguh bahwa suaminya tak boleh menyentuh setetes vodka selama perjalanan.

Polikey mengantarkan anak-anak sampai di tempat sebuah pandai besi, dan ia membiarkan mereka ke luar dari kereta kuda. Ia memberitahukan kepada mereka bahwa mereka mesti kembali ke rumah. Kemudian ia menatap pakaiannya dan mengatur topinya rapat-rapat di kepalanya dan menggerakkan kudanya dengan menderap.

Kedua anaknya, Miskha dan Maskha, keduanya telanjang kaki, mulai berlari melangkah cepat. Dan pada saat itu seekor anjing dari desa yang lain melihat mereka berjalan cepat di atas jalan, anjing itu menjatuhkan ekor di antara kaki-kakinya dan berlari pulang dengan mendengking.

Udara sangat dingin, tiupan angin terus-menerus memotong dengan tajam; namun itu tak mengganggu Polikey, yang sedang asyik dengan pikiran-pikiran yang menyenangkan. Saat ia berkendara melewati hembusan dingin, ia tetap berkata pada dirinya sendiri:

“Jadi akulah pria yang ingin mereka kirim ke Siberia dan mereka mengancam untuk mendaftarkanku sebagai prajurit—pria yang sama inilah yang setiap orang memperlakukannya dengan kejam dan mengatakan bahwa ia pemalas dan dicap sebagai seorang pencuri dan diberikan pekerjaan yang paling berarti untuk dipekerjakan di perkebunan!

Sekarang, aku akan menerima sejumlah uang yang besar, karena majikanku telah mengirimku dan dia mempercayaiku. Aku juga mengendarai kereta yang sama dengan si pengawas sendiri yang digunakan saat dipakai sebagai seorang pelaksana di istana. Aku punya pakaian kuda yang sama, ban leher kuda berbulu yang sama, tali kekang yang sama dan seluruh perlengkapan lain yang sama.”

Polikey, dipenuhi dengan kebanggaan dengan memikirkan misi yang telah dipercayakan padanya. Polikey menarik suasana kebanggaan dan membenarkan topinya lebih rapat ke kepalanya, kancing mantelnya diikat disekitarnya dan mendesak kudanya untuk berkecepatan lebih tinggi.

“Pikirkanlah,” lanjutnya, “Aku akan mendapatkan setengah dari tiga ribu rubel itu [para petani biasanya membicarakan uang agar membuat uang itu tampak berjumlah lebih besar dari kenyataannya], dan aku akan membawa uang itu ke dalam kantongku. Jika aku ingin, mungkin, akan kubawa pergi ke Odessa mengganti uang yang di bawa untuk majikanku. Tapi tidak, aku tak akan melakukan itu. Aku akan tetap membawa uang itu ke hadapan seseorang yang telah cukup baik karena mempercayaiku.”

Saat polikey mendekati Kabak (kedai minuman). Ia menemukan kembali kebiasaan lamanya, kuda betina itu secara alamiah membalikkan kepalanya ke arah kedai itu; namun ia tak mengijinkannya berhenti, meskipun uang telah diberikannya untuk dibelanjakan makanan dan minuman. Hewan yang sedang mogok itu dipukulnya dengan cambukan yang keras, dan ia melalui kedai itu. Perbuatan itu terulangi lagi saat ia mendekati kedai berikutnya, yang mana terlihat sangat menarik, namun ia dengan tegas mengatur wajahnya ke pintu masuk dan berlalu.

Pada tengah hari, datanglah ia tempat tujuannya dan turun dari kereta kuda mendatangi gerbang dari rumah seorang pedagang yang mana para pelayan istana selalu berhenti. Gerbang itu dibuka, ia menuntun kuda betinanya dan (setelah melepaskan pakaian kudanya) memberi makan pada kudanya. Setelah itu, ia memasuki rumah dan makan malam bersama para pekerja dari si pedagang, dan kepada mereka, ia menceritakan apakah misi penting yang akan disampaikannya, dan hal itu membuat dirinya sendiri sangat terhibur dengan suasana keangkuhan yang ia tanggung. Makan malam berakhir, ia membawa sebuah surat kepada si pedagang itu, di mana seorang wanita bangsawan telah memberikan surat kepadanya untuk diantarkan.

Pedagang itu, mengetahui sepenuhnya nama yang Polikey pikul, dan merasa meragukan kepercayaannya karena uang yang begitu banyak dan agak cemas, dan bertanya jika ia sungguh-sungguh telah menerima perintah untuk membawa begitu banyak uang rubel.

Polikey mencoba untuk memperlihatkan hati yang terluka pada pertanyaan ini, namun tak berhasil dan ia hanya tersenyum.

Pedagang itu membaca surat untuk kedua kalinya dan merasa yakin bahwa semua benar dan memberikan uang itu kepada Polikey yang mana uang itu ia taruh di dalam kantong untuk disimpan.

Saat perjalanan menuju rumahnya, ia tak sekali pun berhenti di toko-toko mana pun yang ia lewati. Perusahaan pakaian tak menarik baginya, dan setelah ia melalui semua toko dengan selamat, ia berdiri sejenak, merasa sangat senang bahwa ia telah sanggup untuk bertahan terhadap godaan, dan kemudian meneruskan perjalanannya.

“Aku punya cukup uang untuk membeli segalanya,” katannya “namun aku tak bisa melakukannya.”

Banyaknya pesanan yang telah ia terima memaksanya untuk pergi ke sebuah bazaar. Di sana ia hanya membeli apa yang telah dipesan, namun ia tak dapat melawan godaan untuk menanyakan harga sebuah mantel kulit yang sangat indah, yang menarik perhatiannya.

Pedagang itu sedang berbicara dan memandang pada Polikey dan tersenyum tak percaya bahwa ia memiliki cukup uang untuk membeli jenis mantel yang mahal. Namun Polikey menunjuk ke dadanya dan mengatakan bahwa ia dapat membeli semua dari toko ini jika ia ingin.

Lalu ia memerintahkan kepada penjaga toko untuk mengambil ukurannya. Ia mencoba mengenakan mantel dan melihat dirinya dengan hati-hati, menguji kualitas mantel dan meniup bulu untuk melihat apakah tak ada bulu yang terlepas. Akhirnya, setelah mendesah cukup dalam, ia melepas mantel itu.

“Harganya terlalu mahal,” katanya. “Jika kau membiarkan aku memilikinya dengan harga lima belas rubel.”

Namun pedagang itu memotongnya sejenak dengan mengambil mantel itu darinya dan melemparkan mantel itu dengan marah ke salah satu sisi.

Polikey meninggalkan bazaar dan kembali ke rumah pedagang dengan semangat yang tinggi.

Seusai makan malam, ia keluar dan memberi makan kuda betina dan menyiapkan segalanya untuk malam itu. Sekembalinya ke rumah, ia naik ke atas tungku untuk beristirahat dan saat di atas tungku ia mengeluarkan amplop yang berisi uang dan menatap lama dan tekun pada amplop itu. Ia tak bisa membaca namun bertanya-tanya pada salah satu kata-kata untuk diberitahukan kepadanya apa maksud tulisan di amplop itu. Tulisan itu dengan mudah menunjukkan dan memberitahukan bahwa amplop itu berisi uang seribu lima ratus rubel.

Amplop itu terbuat dari kertas biasa dan terdapat tanda warna cokelat tua. Ada salah satu tanda besar di tengahnya dan empat tanda kecil di salah satu sudut. Polikey berlanjut memeriksa amplop itu dengan hati-hati, dan tetap memasukkan jarinya sampai ia menyentuh uang kertas yang kering dan segar itu. Ia tampak puas seperti anak-anak yang mendapat begitu banyak uang.

Seusai menyisipkannya, ia menaruh amplop ke dalam kain berlapis di topi usang dan menaruh di bawah kepalanya, ia pun tidur, namun selama malam itu ia seringkali terbangun dan selalu merasa ingin tahu apakah uang itu aman. Setiap waktu, ia ingin tahu bahwa uang itu aman, ia gembira memikirkan bahwa ia, Polikey, yang diperlakukan dengan kejam dan dihormati oleh setiap orang sebagai seorang pencuri, telah dipercaya untuk mengurus sejumlah uang yang besar dan juga bahwa ia berniat untuk kembali dengan sungguh-sungguh seaman seperti si pengawas yang dapat melakukannya.

CHAPTER V.

Keesokan harinya, sebelum subuh, Polikey terbangun dan setelah memasang pakaian kuda ke kuda betinanya dan menatap ke dalam topinya untuk melihat uang itu tak apa-apa, ia pun memulai perjalanannya kembali.

Banyak waktu di perjalanan, Polikey melepas topinya untuk melihat apakah uang itu aman. Sesekali ia berkata kepada dirinya, “Kupikir mungkin akan lebih baik uang itu jika aku taruh ke dalam sakuku.” Ini mengharuskannya untuk melonggarkan pinggangnya, sehingga ia mempertimbangkan untuk tetap menjaga uang itu di dalam topinya, atau sampai ia telah menempuh separuh jalan, saat ia terpaksa akan berhenti untuk memberikan makan kudanya dan beristirahat.

Ia berkata kepada dirinya, “kain ini tak terjahit dengan kuat dan amplop itu kemungkinan akan jatuh, kupikir lebih baik tak melepas topiku sampai aku mencapai rumah.”

Uang itu aman—akhirnya amplop itu terlihat baginya­—dan ia mulai berpikir bagaimana cara untuk berterima kasih kepada majikannya dan dengan khayalan yang menggairahkan bahwa ia melihat lima rubel di mana ia begitu yakin akan menerimanya.

Sekali lagi, ia memeriksa topinya untuk melihat bahwa uang itu aman dan menemukan bahwa segalanya baik-baik saja. Ia mengenakan topinya dan menurunkan di atas telinganya, tersenyum sepanjang waktu pada pikirannya sendiri.

Akulina telah hati-hati dalam menjahit semua lubang di topi itu, sementara lubang itu keluar di tempat-tempat lain yang tampak sering dibuka oleh Polikey.

Di dalam kegelapan, ia tak memperhatikan lubang baru. Ia mencoba menekan amplop itu lebih jauh ke bawah kain, dan saat menekan di salah satu sudut topi melewati kain beludru.

Matahari mulai meninggi di langit dan Polikey telah tidur sejenak pada malam sebelumnya, dan merasakan kehangatan sinar matahari dalam tidurnya yang nyenyak, setelah pada awalnya merapatkan topinya ke kepalanya. Dengan tindakan ini, ia memaksa lebih jauh amplop melewati kain beludru dan ia menaikkan terus kepalanya ke atas dan ke bawah.

Polikey tak bangun sampai ia datang mendekati rumahnya sendiri dan tindakan pertamanya adalah meletakkan tangannya ke kepalanya untuk mengetahui jika topinya baik-baik saja. Setalah menemukan bahwa topinya berada di tempatnya, ia tak berpikir untuk perlu memeriksa topinya dan melihat apakah uang itu aman. Cambuknya menyentuh kuda betina dengan tegas dan kuda betina itu mulai lari berderap. Saat ia terus mengendarai, ia menyusun pikirannya sendiri seberapa banyak ia akan menerima. Dengan suasana seorang manusia yang telah memegang sebuah kedudukan yang tinggi di istana, ia menatap sekelilingnya dengan ekspresi wajah yang memandang dengan keangkuhan.

Saat ia mendekati rumahnya, ia bisa melihat di depannya salah satu kamar yang merupakan rumah sederhana milik mereka dan istri-istri yang berkumpul di sebelah membawa gulungan kainnya. Ia juga melihat seorang petugas istana dan rumah majikannya yang mana ia berharap ia akan dapat segera membuktikan bahwa ia adalah seseorang yang jujur, seseorang pria yang dapat dipercaya.

Ia beralasan kepada dirinya bahwa setiap orang bisa menjadi kejam dengan meletakkan lidah-lidahnya, sementara saat majikannya melihatnya dan mengatakan, “baik, Polikey, kau telah menunjukkan bahwa kau jujur. Di sini terdapat tiga—atau barangkali lima—mungkin sepuluh—rubel untukmu,” dan juga ia akan memesankan teh untuknya dan barangkali menawarinya vodka—siapa tahu?

Akhirnya pikiran itu memberikan kesenangan terbaik baginya saat ia merasa sangat kedinginan.

Ia berkata dengan keras, “alangkah bahagianya bila hari libur kami bisa mendapatkan sepuluh rubel! Memiliki uang banyak, aku akan membayar Nikita empat rubel lima puluh kopek di mana aku telah berhutang kepadanya dan masih memiliki sisa sedikit untuk membeli sepatu bagi anak-anak.”

Saat mendekati rumah, Polikey mulai menyusun pakaiannya, meratakan ban leher berbulunya, mengikat kembali pinggangnya dan mengusap rambutnya. Yang dilakukan terakhir adalah melepaskan topinya dan meraba amplop yang berada di dalam kain di topinya. Lebih cepat dan lebih cepat ia mengalirkan tangannya di sekitar kain dan tak menemukan uang dengan menggunakan kedua tangannya, satu tangan dan kemudian tangan yang lainnya. Namun amplop itu tak ditemukan.

Saat itu Polikey sangat tersiksa dan wajahnya memucat ketakutan saat ia melewatkan tangannya melalui bagian paling atas dari topi usangnya. Polikey menghentikan kuda betinanya dan mulai mencari dengan tekun di dalam kereta kudanya dan beserta isi-isinya. Amplop berharga itu tak ditemukan, ia meraba seluruh kantong-kantongnya—NAMUN UANG ITU TAK DITEMUKAN!

Dengan gila, ia mencengkram rambutnya dan berkata, “Batiuskha! Apa yang akan aku lakukan sekarang? Apa yang akan terjadi olehku?” Pada saat yang sama, ia menyadari bahwa ia telah mendekati rumah tetangganya dan dapat dilihat oleh mereka, sehingga ia membalikkan kuda betinanya di sekitar dan menurunkan topinya di atas kepalanya, ia berkendara kembali dengan cepat mencari barang berharganya yang hilang.

CHAPTER VI.

Sepanjang hari terlewati tanpa seorang pun melihat Polikey di desa Pokrovski. Sejak sore hari, majikannya seringkali meminta keterangan mengenai keberadaannya dan mengirim Aksiutka berkali-kali ke Akulina yang setiap waktu mengirim kembali kata-kata bahwa Polikey masih tak kembali, dan juga mengatakan mungkin pedagang itu telah menahannya atau sesuatu terjadi kepada kuda betinanya.

Istrinya yang malang merasakan beban berat atas hatinya, dan hampir tak dapat melakukan pekerjaan rumah dan meletakkan segalanya untuk diselesaikan di hari berikutnya (yang mana pada saat itu adalah hari libur). Anak-anaknya juga menanti dengan gelisah kehadiran ayah mereka dan meskipun dengan alasan-lasan yang berbeda, anak-anak Polikey hampir tak dapat mengendalikan kesabaran mereka. Wanita bangsawan itu dan Akulina hanya memikirkan Polikey, saat anak-anaknya tertarik dengan apa yang ayahnya akan bawa untuk mereka dari kota.

Satu-satunya berita yang di terima oleh penduduk desa sejak hari itu dari para petani sebelah yang melihat Polikey yang berlari mondar-mandir dan bertanya kepada setiap orang yang ia temui, jika seorang pria atau seorang wanita telah menemukan sebuah amplop.

Salah satu dari mereka telah melihat Polikey yang sedang berjalan di tepi jalan dengan kudanya yang kelelahan. “Aku pikir,” katanya, “bahwa pria itu sedang mabuk dan tak memberi makan kudanya selama dua hari—hewan itu terlihat kelelahan.”

Akulina terbaring dan terjaga sepanjang malam dengan kesia-siaan menanti suaminya kembali. dan dia tak dapat tidur serta hatinya berdebar. saat ayam jantan berkokok untuk ketiga kalinya, Akulina terbangun untuk menyalakan api. Hari telah subuh dan bel gereja mulai berbunyi. Segera semua anak terbangun, sementara tetap tak ada kabar akan hilangnya suami dan ayah mereka.

Pagi itu, udara musim dingin memasuki rumah sederhana mereka dan mereka melihat ke luar, menatap rumah-rumah, ladang-ladang, dan jalan-jalan tertutupi dengan salju yang tebal. Hari itu cerah dan dingin seakan-akan sesuai dengan hari libur mereka yang sedang dirayakan. Mereka dapat melihat jarak yang jauh dari rumah, namun tak seorang pun terlihat.

Akulina sedang sibuk membuat kue, dan teriakan gembira anak-anak mereka dan Ajulina tak tahu bahwa Polikey muncul di jalan. Selama beberapa menit kemudian, ia datang dengan ikatan di tangannya dan berjalan sangat tenang ke sudut ruangannya. Akulina memperhatikan bahwa suaminya sangat pucat dan ekspresi wajahnya termuat sebuah penderitaan—seakan ia akan berteriak namun ia tak bisa melakukannya. Namun Akulina tak berhenti untuk mempelajari wajah suaminya, dan bertanya dengan gembira. “Ah! Illitch, apakah segalanya baik?”

Ia mengatakan sesuatu dengan pelan namun istrinya tak mengerti apa yang ia katakana.

“Apa!” Akulina berteriak, “apakah kau telah menemui majikan kita?”

Polikey tetap duduk di atas kasur di kamarnya, menatap dengan liar di sekitarnya dan tersenyum dengan sengit. Ia tak menjawab untuk waktu yang lama dan Akulina kembali berteriak.

“Eh? Illitch! Mengapa kau tak menjawabku? Mengapa kau tak berbicara?”

Polikey akhirnya bicara, “Akulina, aku mengantarkan uang milik majikan kita dan oh, bagaimana dia berterima kasih kepadaku!” Kemudian tiba-tiba ia menatap disekitarnya dengan gelisah, suasana yang mengejutkan dan dengan senyuman yang sedih di bibirnya. Dua benda di kamar itu tampak memikat perhatiannya: Bayi di dalam ayunan dan sebuah tali yang mana terikat di tangga. Polikey mendatangi ayunan itu, ia mulai cepat melonggarkan simpul pada tali yang keduanya terhubung dengan jari-jarinya yang kurus. Setelah melonggarkan tali itu, ia berdiri sesaat menatap diam pada bayinya.

Akulina tak memperhatikan dan kue-kuenya di atas papan ditempatkan ke salah satu sudut kamar.

Polikey dengan cepat menyembunyikan tali itu di bawah mantelnya dan kembali duduk sendiri di atas kasur.

“Apa masalahmu, Illitch?” tanya Akulina. “Kau bukan seperti dirimu.”

“aku tak bisa tidur,” jawabnya.

Tiba-tiba sebuah bayangan gelap melintas ke jendela dan semenit kemudian Aksiutka dengan cepat memasuki ruangan dan berseru, “Boyarinia memerintahkanmu, Polikey Illitch, untuk datang kepadanya saat ini!”

Polikey menatap pertama kali kepada Akulina dan kemudian kepada gadis itu.

“Saat ini!” Polikey berteriak. “Apa yang diinginkan?”

Ia membicarakan kalimat terakhirnya dengan lembut bahwa Akulina menjadi terdiam dalam pikirannya, memikirkan kemungkinan majikan mereka yang bermaksud untuk menghadiahi suaminya.

“Katakan bahwa aku akan datang dengan segera,” katanya

Sementara polikey melupakan ajakan gadis itu dan berganti pergi ke tempat yang lain.

Dari beranda rumahnya, terdapat sebauh tangga yang mencapai ke loteng. Kaki Polikey  mencapai tangga dan  melihat ke sekelilingnya dan tak melihat seorang pun di sekitar. Ia dengan cepat naik ke loteng di bawah atap rumah.

Sementara itu Aksiutka telah mencapai rumah majikannya.

“Apakah maksud Polikey tak datang?” kata wanita bangsawan itu dengan tak sabar. “Ke mana ia? Mengapa ia tak segera muncul?”

Aksiutka kembali berjalan cepat ke rumahnya dan diminta untuk melihat Polikey.

“Ia sudah lama pergi,” jawab Akulina, dan melihat sekitarnya dengan sebuah ekspresi ketakutan di wajahnya, dia menambahkan, “ia mungkin telah tidur nyenyak di suatu tempat di jalan.”

Waktu itu, seorang istri yang berkumpul, dengan rambut tak disisir dan berpakaian basah kuyup, pergi ke atas loteng untuk mengumpulkan kain yang sebelumnya dia letakkan di sana untuk dikeringkan.

“Illitch,” dia berteriak, “telah menggantung dirinya!”

Akulina yang malang berlari ke atas tangga di depan setiap orang yang telah berkumpul di sekeliling rumah-rumah dan menghalangi Akulina, yang menjerit keras, Akulina terjatuh ke belakang seakan-akan mati, dan memastikan telah terbunuh bahwa tak seorang pun dari penonton itu berhasil menangkap Akulina pada lengan Polikely.

Sebelum gelap, di hari yang sama, seorang petani dari desa, saat kembali dari kota, menemukan amplop berisi uang Polikely di tepi jalan, dan segera mengantarkan amplop itu ke Boyarinia, wanita bangsawan itu.

 

:: Dialih-bahasakan dari cerita pendek Polikushka Or, The Lot of a Wicked Court Servant karya Leo Tolstoy. Tr. Rusia – Inggris oleh Benjamin Tucker.

Life is About Love, Daras

Life is about love…- I Knew Prufrock Before He Got Famous, Frank Turner.

Di kamis sore ini, saat musim kemarau telah meninggalkan segala aktivitas manusia, berganti dengan musim hujan, yang dua jam yang lalu, air ditumpahkan lazuardi biru, dan telah berhenti. Angin sore membawa hawa segar dari tanah yang basah melalui jendela ruang kerja yang terbuka lebar-lebar, dan indera penciumanku menghirupnya dan membuat sekujur tubuh demikian segar.

Di kediamanku saat ini, terlihat suasana yang amat berbeda. Biasanya, rumah ini amatlah sepi, jika tanpa tangisan atau canda tawa puteri kecilku, Daras, yang mampu membunuh kesunyian. Namun tidak saat ini, yang mana  suasana rumah menjadi amat gaduh. Kegaduhan ditimbulkan dari suara-suara teriakan tiga bocah yang sedang bermain di ruang keluarga. Kegaduhan lama-lama membuyarkan konsentrasiku untuk mengerjakan satu essai tentang salah satu novelis Prancis.

“Aku di sini, aku di sini,” kata Daras, dengan berteriak pada kedua kawannya.

Rasa penasaran pada apa yang tengah tiga bocah itu lakukan, menjangkitiku. Oleh sebab itu, lekaslah aku beranjak dari kursi berbahan rotan, dan meninggalkan komputer tua serta beberapa kertas dan buku yang berserakan. Persentuhan suara antara tangan dan gitar dari Frank Turner, yang tadinya sedikit kencang lalu kupelankan. Langkah-langkah kaki kuatur agar tak bersuara keras. Pada akhirnya, aku berdiri di balik pintu dan membuka beberapa senti. Aku mengintip apa yang mereka lakukan.

*

Di ruang keluarga itu, selain Daras, ada pula Rara dan Jodi. Mereka berdua adalah kawan sekelas dari puteri kecilku di sekolah dasar yang terletak  di belakang salah satu universitas negeri.

Jodi, adalah anak dari kawan dekatku, yang berprofesi sebagai seorang jurnalis di surat kabar lokal di kotaku. Karena kesibukannya yang padat sore ini, dan juga istrinya yang mengajar di salah satu sekolah menengah pertama, maka Jodi, putera mereka, dititipkan pada keluargaku. Tentu saja aku dan istriku senang, sebab kami menyukai anak-anak dan ingin Daras beinteraksi dengan manusia-manusia seumurannya.

Sedangkan Rara, adalah anak dari sahabat istriku semasa di sekolah menengah atas. Rara juga pernah sekelas bersama Daras saat di taman kanak-kanak. Sehingga hubungan antara keluargaku dan juga keluarga dari Rara amat sangat dekat. Pada hari ini pula, Rara merengek agar diijinkan bermain di rumahku.

Sebenarnya, ibu Rara melarang—namun rengekan adalah senjata ampuh dari anak kecil—lalu istriku tak tega benar melihat rengekan gadis kecil yang suka bila rambutnya dikepang menjadi dua itu. Istriku pun menyuruh sahabatnya itu agar membiarkannya bermain di rumah kami.

*

Jodi, anak yang bertubuh sedikit gendut itu, tampak paling pendiam di antara kedua gadis kecil. Rara, yang bertubuh sedikit kurus, namun manis, seringkali meladeni ocehan-ocehan dari Daras. Pada akhirnya, Daraslah otak dari segalanya, dan dia mengajukan suatu permainan yang mereka sepakati bersama. Aku tak tahu apa sebutan permainan mereka, namun secara samar-samar, aku mendengar bahwa nama permainan itu bernama ‘guru-guruan’ atau ‘murid-muridan.’ Lalu, Daras terpilih untuk menjadi guru, sedangkan Rara dan Jodi menjadi muridnya.

Daras menuju ke kamarnya untuk mengambil dua meja kecilnya. Dia mengajak Jodi untuk membantu membawakannya. Lalu ketiga bocah kecil itu mengatur sedemikian rupa permainan mereka, dan ingin meniru suasana selayaknya kelas mereka secara nyata. Daras mengambil kaca mata hitam milik ibunya, yang kudengar agar serupa dengan Ibu Sella, guru bahasanya yang baik dan cantik—dan aku pernah bertemu dengan guru itu, dan memang cantik. Aku sedikit tertawa dalam hati, saat dia memakai kaca mata itu, dan telihat kebesaran. Daras menyuruh Rara dan Jodi mengeluarkan buku mereka masing-masing. Lalu gadis kecilku menyuruh Jodi ke depan, untuk membaca satu paragraf cerita di bukunya, dan kemudian dilanjutkan dengan Rara.

“Nggak gitu, Ras,” Sanggah Rara.

“Iya, iya, nggak gitu,” Tambah Jodi, yang akhirnya berani bersuara.

“Tapi aku kan gurunya. Bu Sella biasanya duduk seperti ini,” Daras mempertahankan argumennya.

“Nggak, nggak,” kata Rara, lalu berdiri, dan menirukan gaya Bu Sella saat mengajar.

“Kamu salah, Ra,” balas Jodi, lalu ikut berdiri, menirukan gaya berjalan Bu Sella.

“Nggak bisa, nggak bisa, aku kan gurunya.’ Kata Daras.

Pertentangan pun memuncak. Hanya suara-suara gaduh dari ketiga bocah bisa disamakan dengan suara keras sirine mobil ambulan. Saat pertentangan berlangsung. Istriku membawakan sepiring kue-kue cubit dan tiga jus apel, yang dibelinya saat menjemput tiga bocah tadi. Saat itu pula, aku melihat karakterku di dalam tubuh kecil Daras. Karakter yang ngeyel dan tak ingin kalah pada apapun yang telah dikehendaki. Dan entah kenapa aku merasakan sesuatu perasaan bersalah.

“Daras jangan gitu, dong,” kata istriku.

“Tapi aku kan gurunya, Bu.”

“Dan tak selamanya guru harus benar, Ras. Guru yang baik apabila ia salah, maka ia tak malu mengakui kesalahan pada muridnya.”

Dari kejauhan, kulihat bagaimana cara istriku melakukan interaksi dan meredam suasana pertentangan ketiga bocah itu. Senyumnya mengembang saat melakukan dialektikanya bersama mereka. Kuperlebar pintu beberapa senti lagi agar pandanganku sedikit luas. Lalu, istriku juga ikut dalam permainan itu. Dia memposisikan dirinya sebagai murid. Kuamati benar bagaimana dia melakukan interaksi tak hanya kepada Daras, namun juga kepada Jodi dan Rara.

“Coba sekarang Rara yang jadi Bu Sella,” Kata istriku.

Kemudian Rara menirukan gaya Bu Sella, dan berlainan dengan gaya yang ditirukan Daras. Lalu giliran Jodi, yang mencoba menirukan gaya guru wanita itu, meskipun agak kikuk, namun Jodi tetap melakukannya.

“Nah sekarang ganti tante yang jadi Bu Sella, ya Jodi, ya Rara.”

Lalu ketiga bocah menganggukan kepala secara bersamaan. Istriku berjalan dari arah dapur menuju ke ruang keluarga. Lalu dia mengucapkan selamat pagi kepada tiga bocah itu. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan berdoa, mengeluarkan buku, sedikit bercerita, dan pada akhirnya istriku menyuruh mereka untuk maju satu-satu, menceritakan peristiwa-peristiwa yang berkesan menurut mereka masing-masing:

“Nah kita mulai dari sisi kanan, ayo Rara.”

“Malu tante.”

“Loh kenapa malu, kan hanya ada kita berempat.”

Daras dan Jodi menarik kedua tangan Rara dan mendorongnya ke depan. Lalu Rara maju dan menceritakan tentang peristiwa saat dia mendapatkan boneka baru dari ibunya. Lalu kemudian Jodi, dan entah kenapa anak ini kemudian menjadi berani, lalu ia bercerita saat pertama kali pergi menuju stadion bersama ayahnya untuk menyaksikan kesebelasan di kota ini bertanding. Kemudian Daras, gadis kecil berponi ini menceritakan saat Kakek Hatta, ayah mertuaku, mengajaknya memancing di sebuah kolam, di kediamannya di Jogjakarta. Dan yang terakhir istriku, dia menceritakan tentang pengalaman masa kecil saat mengayuh sepeda roda dua, terjatuh dan menangis, lalu dia coba kembali sampai bisa mengendarai sepeda roda dua.

“Apa kalian bisa menaiki sepeda roda dua?”

“Belum tante!” teriak Rara dan Jodi.

“Aku juga belum, Bu!” Daras melanjutkan.

Lalu, istriku menyuruh mereka untuk menghabiskan kue-kue cubit serta jus apel yang telah disediakan.

Ah, kau benar-benar istimewa, kataku dalam hati, saat melihat cara berinteraksi dengan ketiga bocah itu.

*

Pada tengah malam, tepatnya pukul dua belas lebih lima belas dini hari, aku masih berkutat dengan kamus-kamusku. Rasa pedih pada mataku tak mampu ditahan lagi. Cangkir kopi hanya menyisakan ampas. Aku menyulut sebatang rokok untuk terakhir kalinya, dan membaca ulang apa yang telah kutulis, dan memberi tanda pada paragraf mana yang harus kuperbaiki. Puntung rokok yang masih menyala, kumatikan. Aku pun bergegas ke kamar kecil, menggosok gigi, dan menuju ke kamar Daras untuk melihatnya, lalu menuju ke kamar tidur pribadiku.

Ketika aku membuka pintu, lampu kamar masih menyala, dan istriku, dengan tubuh sedikit padat berisi, duduk di depan meja yang memiliki kaca besar. Di sanalah istriku sedang mengerjakan sesuatu.

“Belum tidur?” tanyaku, dan menuju padanya, melihat apa yang sedang dikerjakannya. Lalu aku melihat kedua tangan yang putih dan halus itu memegang pena, dan menulis sesuatu. Aku memegang kedua pundaknya, dan mencium pipi kanannya, dan berkata, “Apa yang kau tulis?”

“Aku menulis kejadian kemarin sore, di ruang keluarga.”

“Ah, kau tahu aku kagum dengan interaksimu pada anak-anak itu.”

Dia hanya tesenyum. Wajahnya benar-benar lelah, dan aku buru-buru menyuruhnya tidur. Saat aku berada di atas ranjang, istriku membalikkan badan, dan sedikit menceritakan tentang bagaimana cara ibunya berinteraksi pada setiap anggota keluarganya. Istriku memang dibesarkan dari kalangan berada dan menganut konsep berpikir modern dan barat. Lalu aku sedikit menyanggah bahwa pandangan ketimuran juga tak kalah baiknya. Pertentangan kecil perihal barat atau timur dalam konsep keluargaku seringkali muncul, dan, justeru dari pertentangan kecil itulah aku semakin menyukainya. Seringkali aku mengambil apa yang perlu aku ambil dari setiap hasil olah pikir dari istriku yang memang tak pernah berhenti mempelajari sesuatu apapun. Dan aku mengucapkan selamat tidur kepadanya.

Pukul empat, suara adzan shubuh terdengar. Desiran angin melalui celah-celah ventilasi menyusup ke selimut dan membuat sekujur tubuhku mengigil. Alangkah dinginnya. Aku pun bangun. Kulihat istriku meringkukkan badan dengan menghadap ke sisi yang berlainan dariku. Aku ingin membangunkannya, namun kulihat wajahnya yang lelah. Mendadak, aku ke luar dari ranjang. Menuju ke kamar kecil, mengambil wudlu, dan melakukan ritual ibadah. Seusainya, aku melihat buku kecil berwarna merah yang tergeletak di samping produk-produk kecantikannya. Ya, itulah buku catatan harian milik istriku, meskipun di masa di mana teknologi menjadi kebutuhan dan candu bagi masyarakat modern sepertiku, namun dia tetap gemar menulis dengan kertas, pena, tinta, kata. Karena baginya, kertas, pena, tinta, kata adalah sahabat yang dia miliki dan kekasih untuk menumpahkan segala sesuatu apa yang dia rasakan. Aku membuka cover depan, dan membaca beberapa kata, di halaman pertama:

“Untuk Daras nanti. Life is about love.”

Dan demikianlah cara istriku mengajari puteri kecilnya tentang cinta dan kehidupan.