Pohon Natal – Fyodor Dostoevsky

Smogsmog

”Ibu, Ibu; oh, betapa menyenangkannya di sini, Ibu!”

– untuk keponakan kecilku dan semua anak-anak yang, telah senang, tenang, serta dengan riang bermain BersamaNya, di suatu tempat yang mengagumkan.

Aku seorang novelis, dan kukira aku telah mengarang cerita ini. Aku menulis ‘kukira,’ meskipun aku tahu, nyatanya bahwa, aku telah mengarangnya. Sementara itu, aku tetap saja membayangkan bahwa karangan semestinya terjadi di suatu tempat, di saat karangan  terjadi pada  malam natal di beberapa kota besar, ketika cuaca dingin yang mengerikan.

Aku membayangkan tentang seorang anak lelaki kecil yang, berumur enam tahun atau bahkan lebih muda. Pada pagi hari itu, anak lelaki kecil ini terbangun . Ia berada di dalam gudang bawah tanah yang berkabut dingin dan mengenakan sejenis kimono pendek, dan gemetar kedinginan. Ada kepulan asap putih dari nafasnya, dan ia duduk di atas sebuah kotak di suatu tempat. Ia meniup kepulan itu dari mulutnya dan menyenangkan dirinya sendiri dengan ketololannya melihat asap-asap itu melayang jauh. Namun ia sangat kelaparan. Beberapa kali di pagi hari itu, ia menuju ke tempat tidur, di mana ibunya sedang sakit terbaring di atas kasur yang setipis kue serabi, dengan beberapa macam buntalan di bawah kepala ibunya untuk dijadikan bantal. Bagaimana ibunya datang kemari? Dia telah datang bersama anak lelakinya dari beberapa kota lain dan tiba-tiba jatuh sakit. Seorang nyonya tanah yang menyewakan ‘tempat-tempat’ itu dua hari sebelumnya menuju ke kantor polisi, orang-orang yang menginap segera keluar, dan berkeliling saat hari libur begitu dekat, dan satu-satunya orang yang tinggal, terbaring selama dua-puluh empat jam karena benar-benar mabuk, dan tak menantikan Natal.

Di sebuah tempat, di ruangan lain, seorang wanita tua berumur delapan puluh tahun sedang tak enak badan, yang pernah menjadi perawat anak lelaki kecil itu. Sekarang, dia mengerang dan merintih bersama penyakit reumatiknya, dan seakan-akan dibiarkan mati dengan tak bersahabat. Wanita tua itu marah dan menggerutu kepada anak lelaki itu, sehingga membuatnya ketakutan untuk pergi mendekat ke tempatnya. Anak lelaki itu telah mengambil air minum di ruangan paling luar, hanya tak dapat menemukan roti di mana pun, dan nyaris membangunkan ibunya berkali-kali. Anak lelaki itu merasa ketakutan, setidaknya di dalam kegelapan: saat itu telah lama petang, sementara tak ada cahaya yang menyala. Anak lelaki itu menyentuh wajah ibunya, ia terkejut bahwa ibunya tak bergerak sama sekali dan menjadi sedingin dinding.

”Demikian dingin di sini,” pikirnya. Ia bertahan sejenak, tak sadar membiarkan kedua tangannya disandarkan di atas dua pundak wanita yang mati itu, kemudian anak lelaki itu meniup jari-jari wanita yang mati itu untuk menghangatkannya. Kemudian dengan tenang meraba-raba pada topinya di atas kasur, ia pun pergi dari tempat itu. Ia pergi lebih awal dan takut pada anjing besar yang menyalak sepanjang hari di atas tangga-tangga di pintu tetangga sebelah. Namun, saat itu, anjing-anjing itu tak di sana sekarang, dan anak lelaki itu pergi ke jalan.

Alangkah kota itu benar-benar menyayangi kami! Anak lelaki kecil itu tak pernah melihat apa-apa sebelumnya. Di kota yang mana ia datangi, malam hari selalu hitam pekat seperti itu. Hanya terdapat sebuah lampu untuk seluruh jalan, kecil, dan terpasang dengan rendah. Rumah-rumah berbahan kayu terlindungi oleh daun penutup jendela dan tak seorang pun terlihat di jalanan saat menjelang malam, semua orang mengurung diri mereka sendiri di dalam rumah-rumah mereka, dan di sana tak ada apa-apa kecuali lolongan sekumpulan anjing-anjing,  ratusan dan ribuan dari mereka menyalak dan melolong sepanjang malam. Namun di sana demikian hangat dan ia diberikan makanan. Sementara di sini—astaga, andaikan anak lelaki kecil itu punya satu-satunya sesuatu untuk dimakan! Dan alangkah berisik dan berderak-derak di sini, alangkah terang dan alangkah banyaknya orang-orang, kuda-kuda dan kereta-kereta kuda, dan alangkah dinginnya! Uap dari salju yang membeku bergantungan di awan-awan di atas kuda-kuda, di atas mulut-mulut kuda-kuda yang bernafas dengan hangat; kuku-kuku kuda-kuda berbunyi terhadap batuan-batuan yang melewati taburan salju, dan setiap orang menekannya, dan—astaga, betapa ia menginginkan beberapa potong makanan, dan mendadak merasakan betapa malangnya ia. Seorang polisi berjalan dan berpaling menjauh untuk melihat anak itu.

Inilah suatu jalan lain—oh, suatu jalan yang lebar, di sini anak lelaki kecil itu akan berlari tanpa rasa ragu; betapa setiap orang berteriak, berjalan, berkendara terus, dan menyala, menyala! Dan apakah ini? Sebuah kaca jendela besar, dan melalui jendela itu, sebuah pohon menyentuh atap langit-langit; dan itulah pohon cemara. Pada pohon itu sesungguhnya begitu banyak lampu-lampu, kertas-kertas emas dan buah-buah apel dan boneka-boneka kecil dan kuda-kuda; dan ada anak-anak yang berpakian rapi dengan berlari disekitar ruangan, tertawa dan bermain dan makan dan minum sesuatu. Kemudian gadis kecil mulai berlari dengan salah seorang anak dari beberapa anak lelaki, alangkah manisnya gadis kecil itu!

Dan anak lelaki kecil itu hanya bisa mendengarkan musik melalui jendela. Ia menatap dan berpikir dan tertawa, melalui ibu jari-jari kakinya yang kesakitan karena kedinginan, jari-jari tangan yang memerah, dan terasa kaku, sehingga menyakitinya saat menggerakkan jari-jari itu. Dan segera, anak lelaki itu ingat bagaimana ibu-ibu jari kaki dan jari-jari tangannya terluka, dan mulai menangis, dan berlari. Melalui jendela kaca yang lain, ia melihat pohon natal yang lain, dan di atas meja, terdapat segala kue-kue—kue-kue almon, kue-kue berwarna merah dan kue-kue berwarna kuning, dan tiga wanita muda sedang duduk di sana, dan mereka memberikan kue-kue pada siapa pun yang menuju mereka, dan pintu tetap terbuka. Banyak para pria dan wanita memasuki jalanan.

Anak lelaki kecil itu merangkak, tiba-tiba membuka pintu dan masuk. Oh, bagaimana mereka berteriak padanya dan melambai tangan kebelakang padanya! Salah satu wanita menujunya dengan tergopoh-gopoh dan menyelipkan satu kopek ke dalam tangannya, dan dengan kedua tangan dari wanita itu membuka pintu untuknya agar menuju jalanan! Ia demikian ketakutan. Dan uang kopek itu menggelinding jauh dan berdentingan di atas langkah-langkahnya; ia tak mampu melipat jari-jarinya yang memerah untuk memegang uang kopek itu dengan keras.

Anak lelaki kecil itu berlari menjauh dan terus berlari, ke mana ia pergi pun tak tahu. Ia bersiap untuk menangis lagi namun ia takut. Anak lelaki itu berlari terus-menerus dan meniupi jari-jarinya. Ia menjadi sedih karena ia tiba-tiba merasa demikian kesepian dan ketakutan, dan segera semuanya, kasihinilah kami!

Apalagi ini? Orang-orang berdiri berkerumun dengan rasa takjub. Di belakang sebuah kaca jendela, terdapat tiga buah boneka, yang berpakaian merah dan hijau, dan tepatnya, tepatnya seakan-akan mereka hidup. Salah satu boneka adalah boneka seperti seorang pria tua kecil yang duduk dan memainkan biola besar, dua boneka yang lain sedang berdiri di dekatnya dan memainkan biola-biola kecil dan mengangguk pada waktu itu, dan menatap pada masing-masing yang lain, dan bibir-bibir mereka bergerak, mereka berbicara, benar-benar berbicara, hanya satu boneka yang tak bisa didengar melalui kaca.

Awalnya, anak lelaki kecil itu memperhatikan bahwa boneka-boneka itu hidup, dan di saat ia mengerti bahwa mereka adalah boneka-boneka, ia pun tertawa. Ia tak pernah melihat boneka semacam itu sebelumnya, dan tak memiliki gagasan bahwa ada boneka-boneka semacam itu! Dan ia ingin menangis, namun ia merasa gembira, gembira karena boneka-boneka itu.

Segera ia menyadari bahwa seseorang memegang baju bagian luarnya dari belakang: seorang anak lelaki kecil berbadan besar yang jahat sedang berdiri dibelakangnya dan tiba-tiba memukul kepalanya, merengut topinya, dan membuatnya tersandung. Anak lelaki kecil itu jatuh ke bawah tanah, dan segera berteriak, ia menjadi kaku karena takut, ia melompat dan berlari menjauh.  Ia berlari dan tak tahu kemana ia akan pergi. Kemudian ia berlari ke sebuah gerbang di halaman milik seseorang, dan duduk di belakang tumpukan kayu: ”Mereka tak akan menemukanku di sini, sebab disebelahnya gelap!”

Ia duduk membungkuk dan tak dapat bernafas karena ketakutan; mendadak, ia merasa demikian bahagia. Kedua tangannya dan kedua kakinya tiba-tiba mulai kesakitan dan demikian bertambah hangat, hangatnya seakan-akan ia berada di sebuah kompor. Kemudian seluruh tubuhnya menggigil, ah, seharusnya ia tidur. Betapa menyenangkannya tidur di sini!

”Aku akan duduk di sini sebentar dan pergi dan akan mencari boneka-boneka itu lagi,” kata anak lelaki kecil itu, dan tersenyum memikirkan boneka-boneka itu. ”Mereka seakan-akan hidup!” dan tiba-tiba ia mendengar ibunya menyanyi kepadanya.”Ibu, aku tertidur; betapa menyenangkannya tidur di sini!”

Ia berpikir bahwa itulah ibunya, tapi tidak, itu bukan ibunya. Siapakah yang memanggilnya, ia tak bisa melihat, akan tetapi seseorang membungkuk dan memeluknya di dalam kegelapan. Seseorang mengulurkan kedua tangannya kepada anak lelaki itu, dan…dan segera semuanya—oh, alangkah terangnya suatu cahaya! Oh, pohon natal itu! Dan tetap saja itu bukanlah pohon cemara, ia tak pernah melihat pohon semacam itu! Ke mana ia sekarang? Segalanya menjadi terang dan bersinar, dan semua yang mengelilinginya adalah boneka-boneka; tapi tidak, mereka bukanlah boneka-boneka itu, mereka adalah anak-anak lelaki kecil dan anak-anak perempuan kecil, yang begitu terang dan bersinar.

Mereka semua datang dengan melayang-layang mengitarinya, mereka semua menciumnya, memegang dan membawanya jauh bersama mereka, dan ia melayang-layang sendiri, dan ia melihat bahwa ibunya menatap padanya dan tertawa dengan riang. ”Ibu, Ibu; oh, betapa menyenangkannya di sini, Ibu!” Dan kembali ia dicium oleh anak-anak itu dan ingin mengatakan kepada mereka segera, pada boneka-boneka itu di jendela sebuah toko.

”Siapakah kalian, anak-anak lelaki? Siapakah kalian, anak-anak perempuan?” tanyanya, tertawa dan mengagumi mereka.

”Inilah pohon natal Kristus,” jawab mereka. ”Kristus selalu memiliki pohon natal di hari ini, untuk anak-anak kecil yang tak memiliki pohon natal mereka sendiri…” Dan ia mendapati bahwa semua anak-anak lelaki dan perempuan kecil ini adalah anak-anak seperti dirinya sendiri; yang beberapa di antaranya telah membeku di dalam keranjang, yang mana mereka masih menjadi bayi-bayi yang diletakkan di ambang pintu orang-orang kaya di Petersburg. Dan bayi-bayi yang lainnya telah dititipkan kepada para wanita Finlandia oleh penemu bayi dan telah mati lemas, dan bayi-bayi yang lainnya yang telah mati di dada ibu mereka yang kelaparan (di saat orang-orang Samara kelaparan), bayi-bayi yang lain telah mati di rel-rel kereta–kereta kelas tiga karena udara yang kotor; dan masih saja mereka semua di sini, mereka semua seperti malaikat-malaikat di sekitar Kristus, dan Kristus ditengah-tengah mereka dan tanganNya memegangi  mereka dan memberkahi mereka dan ibu-ibu mereka yang berdosa…dan para ibu dari anak-anak ini berdiri di salah satu sisi dan menangis; masing-masing ibu mengenali anak lelakinya atau anak perempuannnya. Anak-anak beterbangan ke atas menuju ke ibu-ibu mereka; mencium, menyeka air mata ibu-ibu mereka dengan tangan kecil mereka, dan meminta mereka untuk tak menangis, sebab mereka begitu bahagia.

Dan di bawah pagi hari itu, seorang penjaga pintu menemukan tubuh anak kecil yang mati kedinginan di tumpukan kayu; mereka juga menemukan ibunya…dia mati dihadapan anaknya. Mereka bertemu di hadapan Tuhan di surga.

Mengapa aku membuat sebuah cerita semacam ini, tak semestinya menurut catatan harian yang asli, dan diatas semua penulis? Aku berjanji membagikan dua cerita dengan kejadian-kejadian yang sesungguhnya! Namun hanya itulah, aku tetap membayangkan kemungkinan ini semua benar-benar telah terjadi—itulah, apa yang terjadi di tempat itu dan di tumpukan kayu itu; kecuali mengenai pohon natal Kristus, aku tak bisa mengatakan apakah telah terjadi atau tidak.

 

Malang, 28 Juni 2013

 

:: Dialih-bahasakan dari The Heavenly Christmas Tree (1876): Short Stories by  Fiodor Dostoievski, the world’s popular classics.

Iklan

Yang Berbeda

Adakalanya yang berbeda, memang diharuskan ada.

Apabila minyak, senyawa non-polar itu, andaikan ia menyalahi kodratnya, dengan menambahkan satu atom H dalam dirinya, dan menyatu dengan air, senyawa polar, tentu tak akan ada yang dipelajari dengan satu landasan pertanyaan, “Mengapa?”

Dan, ketika ‘Logic’ (Think) hanya mampu memberikan batas wilayah warna, hitam atau putih, dengan mata tertutup pula, tentu memiliki nuansa yang beda atas nuansa yang diberikan ‘Ilogic’ (Feel)  dengan mata terbuka, yang memberikan warna-warna lain, tak hanya merah, bisa juga kuning, atau bahkan biru.

Membaca, memahami, menyimpulkan, dan pada akhirnya menerima, atas “sesuatu yang berbeda,” memang tak mudah, lama, dan acapkali membosankan.

Namun, mungkin, di sanalah tersimpan suatu hal yang mengagumkan, yang hanya bisa dinikmati oleh satu ego, satu individu.

Hand and Heart – Elizabeth Gaskell

Elizabeth_Gaskell_7

Sekarang, kita semua memiliki kebaikan hati di dalam kekuatan kita. Anak kecil berumur dua tahun, yang hanya bisa berjalan terhuyung-huyung, dapat menunjukkan kebaikan hatinya.

”Bu, aku suka punya banyak uang,” kata si kecil Tom Fletcher pada suatu malam saat ia duduk di bangku tanpa sandaran yang rendah di lutut ibunya yang sibuk merajut di dekat perapian, dan mereka berdua terdiam beberapa saat.

“Apa yang akan kau lakukan jika kau punya banyak uang ?”

“Oh! Aku tak tahu—aku akan melakukan banyak hal-hal yang menyenangkan. Tapi, tidakkah Ibu suka punya banyak uang, Bu?” tanyanya.

”Mungkin suka,” jawab Nyonya Fletcher. ”kadang-kadang aku sepertimu, sayang, berpikir bahwa aku akan sangat senang memiliki uang yang lebih. Tapi satu hal yang aku tak berpikir sepertimu, karena aku selalu punya sedikit rencana di dalam pikiran yang membuatku menginginkan uang itu. Aku tak mengharapkan uang itu demi diriku sendiri.”

“Ah, bu! Akan ada banyak hal yang bisa kita lakukan jika yang kita punyai hanyalah uang—maksudku, hal-hal yang baik dan benar-benar bermanfaat.”

“Dan andaikan kita punya hal-hal yang sesungguhnya baik dan bijaksana di kepala kita untuk dilakukan, yang tak akan bisa dilakukan tanpa uang, sesungguhnya bisa kulakukan keinginan itu karena uang. Tapi kau tahu, anakku, kau tak menceritakan kepadaku tentang setiap hal yang baik atau bermanfaat itu.”

“Tidak! Aku percaya aku tak memikirkan hal-hal yang baik dan bermanfaat, akan tetapi seberapa banyak aku akan menyukai uang untuk melakukan apa yang aku sukai,” jawab Tom kecil dengan banyak akal, dan memandang ke wajah ibunya. Ibunya tersenyum dan membelai kepala Tom. Tom tahu bahwa ibunya senang bahwa ia mengatakan dengan jujur kepada ibunya apa yang terlintas dipikirannya. Saat itu Tom memulainya lagi.

“Bu, jika kau ingin melakukan sesuatu yang sangat baik dan bermanfaat dan tak bisa melakukannya tanpa uang, apa yang mestinya kau lakukan?”

”Ada dua cara untuk memperoleh uang seperti yang diinginkan. Pertama dengan mendapatkan penghasilan dan yang lainnya dengan menabung. Kedua cara itu bermanfaat karena keduanya mengorbankan kepentingan sendiri. Kau mengertikan, Tom? Jika kau harus memperoleh uang, kau semestinya dengan teratur terus mengerjakan apa yang mungkin tak kau suka, semisal bekerja saat kau suka bermain, atau di tempat tidur, atau duduk berbincang denganku di perapian. Kau menolak dirimu sendiri pada sedikit kesenangan-kesenagan ini; dan itulah suatu kebiasaan yang baik, tak mengatakan apa-apa tentang tenaga yang kau gunakan dalam bekerja. Andaikan kau menabung, kau bisa dengan mudah memahami bagaimana kau menggunakan pengorbanan dirimu sendiri. Kau tak melakukan sesuatu pada apa yang kau inginkan agar punya uang, itulah pengorbanan. Mengorbankan diri, tenaga, dan rajin sesering mungkin adalah hal-hal yang semuanya bermanfaat, lebih baik kau mendapatkan uang atau menabung. Tapi, kau lihat untuk tujuan apa kau menginginkan uang itu dan pertimbangkan. Kau mengatakan, ‘untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.’ Baik menghasilkan uang atau menabung menjadi suci dalam hal ini. Aku lalu berpikir mana yang paling konsisten dengan tugas-tugasku yang lain, sebelum aku memutuskan apakah aku akan menghasilkan uang atau menabung.”

“Aku benar-benar tak tahu apa yang kau maksudkan, bu.”

”Aku akan coba dan jelaskan kepada diriku sendiri. Kau tahu aku harus menjaga toko kecil dan berusaha merajut kaus kaki, dan membersihkan rumah, dan menjahit pakaian-pakaian kita, dan mengerjakan banyak hal-hal lainnya. Sekarang, apa kau pikir aku akan mengerjakan kewajibanku jika aku meninggalkanmu di malam-malam hari, saat kau pulang dari sekolah, keluar sebagai pelayan di pesta-pesta? Dengan begitu aku bisa menghasilkan uang banyak dan aku bisa menghabiskannya dengan baik di antara yang lebih miskin dari aku (misalnya si pincang Harry), kemudian aku harus meninggalkanmu sendirian sejenak saat kita harus bersama; aku tak berpikir aku harus melakukan ‘tujuan yang bermanfaat dan baik’ yang tepat untuk kita agar memperoleh uang, jika itu menjauhkanku darimu di malam-malam hari: benarkan, Tom?”

“Tidak, sungguh. Kau tak bermaksud melakukan itu, kan, bu?”

“Tidak,” kata Ibunya, “Bagaimana pun tidak, sampai kau besar. Lihatlah sekarang, aku tak bisa memperoleh uang, jika aku memerlukan lebih sedikit dari biasanya membantu tetangga yang sakit. Aku harus berusaha menabung. Hampir setiap orang bisa melakukan itu.”

“Bisakah kita, bu? Kita begitu hati-hati dalam segalanya. Ned Dixon menyebut kita pelit: apakah kita bisa menabung?”

“Oh, banyak sekali barang yang kecil. Kita banyak menggunakan barang yang mewah yang mana tak kita inginkan. Sementara kita hanya menggunakan barang itu karena kesenangan. Teh dan gula—mentega—saat makan malam dengan daging babi atau daging pada hari minggu kita—kau perhatikan pita berwarna kelabu yang aku beli untuk topiku, lebih cantik dari yang hitam, lebih murah, dan semua itu adalah kemewahan. Kita menggunakan sedikit teh atau gula, itu benar; namun kita tak mememerlukan apa-apa lagi.”

“Kau tak memerlukan apa-apa lagi, bu, sejak lama, lama sekali, kau tahu, saat membantu si janda Black. Hanya saja itu membuat sakit kepalamu bertambah buruk.”

“Nah! Kau mengerti, kan, kita bisa menabung: satu penny, setengah penny sehari, atau bahkan satu penny satu minggu. Pada saatnya, kita akan membuat toko kecil yang siap dipakai untuk tujuan ‘yang baik dan bermanfaat’, saat tiba waktunya. Tapi, kau tahu, anakku, aku pikir kita terlalu sering mempertimbangkan uang seperti suatu hal yang diperlukan jika kita ingin melakukan kebaikan.”

“Andaikan itu bukanlah satu-satunya hal, andaikan itu adalah hal yang utama.”

“Tidak, cintaku, itu bukanlah hal utama. Aku mestinya berpikir bahwa pengemis yang sangat malang itu yang menyukai sixpence[1] yang diberikan dengan makian (adakalanya aku mendengarnya), lebih baik dari ucapan-ucapan beberapa orang-orang yang baik dan lemah lembut yang biasanya menolak memberikan. Menanamkan makian dalam-dalam ke hati atau tidak adalah bukti bahwa makhluk malang akan menjadi keras karena perlakuan kasar. Dan uang hanya bisa menyoraki kejengkelan hati. Kebaikanlah yang bisa melakukan ini. Sekarang, kita semua memiliki kebaikan hati di dalam kekuatan kita. Anak kecil berumur dua tahun, yang hanya bisa berjalan terhuyung-huyung, dapat menunjukkan kebaikan hatinya.”

“Apakah aku bisa, bu?”

“Tentu saja, sayangku. Dan kau sering melakukannya, hanya mungkin tak bersungguh-sungguh seperti yang sering kau kerjakan. Begitu pun dengan yang aku lakukan. Malahan, aku hanya menginginkan uang (yang mana aku tak berpikir, baik kau atau pun aku, sesungguhnya hampir berlebihan), esok hari kau berusahalah membuat orang-orang lebih bahagia dengan sedikit memikirkan tindakan untuk membantu. Ayolah kita berusaha dan ambilah ayat wejangan kita, “uang perak dan emas aku tak punya, namun sebagaimana yang telah aku berikan atasmu.”

“Ah, ibu, kita akan melakukannya.”

 *

Aku tak tahu jika si kecil Tom membayangkan apa yang telah ia dan ibunya bicarakan, namun aku tahu bahwa hal pertama yang ia pikirkan saat bangun di pagi hari adalah perkataan ibunya bahwa ia harus mencoba bertindak baik sesering mungkin yang dapat dilakukannya di hari itu tanpa uang, dan ia tak sabar untuk memulainya. Ia bangkit dan mengenakan pakaiannya sendiri meskipun lebih dari satu jam dari jadwal biasa bangunnya. Sepanjang waktu, ia memikirkan apakah seorang anak kecil sepertinya, yang berusia delapan tahun, bisa melakukan kebaikan untuk orang lain. Sampai pada akhirnya ia bertambah kebingungan dengan alasan untuk menunjukkan kebaikan hati, karena itu ia memutuskan dengan bijaksana untuk tak berpikir lagi tentang menunjukkan kebaikannya, namun mempelajari pelajaran-pelajaran itu dengan sungguh-sungguh, itulah hal pertama yang harus ia lakukan. Kemudian ia berusaha untuk tak terlalu sering membuat rencana sebelumnya dan menyiapkan dirinya untuk menolong atau memberikan kata-kata yang menyenangkan di saat waktu yang tepat. Demikianlah, ia pun meenempatkan dirinya sendiri ke suatu tempat, karena cara yang telah ibunya yakinkan dan kemukakan, dan melipatkan kedua kakinya ke atas kursi berjeruji, membalikkan wajahnya ke dinding. Sekitar setengah jam, ia dapat membalikkan hati yang ringan dan merasakan bahwa ia telah mempelajari pelajarannya dengan baik dan boleh jadi menggunakan waktunya seperti yang ia sukai sampai sarapan siap. Ia menatap ke sekitar ruangan, ibunya telah mengatur segalanya dengan rapi dan sekarang pergi ke kamar tidur. Ember untuk batu bara dan kaleng untuk air yang kosong dan Tom berlari untuk memenuhi kedua benda itu. Dan saat ia teringat akan pompa air, ia melihat Ann Jones (tetangganya yang cerewet) menggantungkan pakaian-pakaiannya di atas tali yang terbentang dan menyilang dari sisi ke sisi di halaman dan berbicara dengan sangat marah dan keras kepada gadis kecilnya yang sedang bertengkar di ruang utama, saat Ann Jones memerhatikan melalui pintu yang terbuka.

”Tentu saja, anakku tak pernah ada yang menjadi pengganggu semacam itu,” kata Ann Jones, saat dia memasuki rumahnya, menatap dengan wajah yang merah-padam dan penuh nafsu. Segera setelah itu, Tom mendengar suara tamparan dan kemudian anak kecil itu berteriak kesakitan.

“Aku ingin tahu,” pikir Tom, “jika aku memberanikan diri pergi dan menawarkan perawatan dan bermain dengan si kecil Hester. Ann Jones jengkel dengan membuat tanda salib, dan mungkin sepertinya menyalahkanku; sementara dia tak ingin mengurungku demi ibu; ibu merawat Jemmy berhari-hari karena demam, kupikir, Ann Jones tak akan memukulku, bagaimanapun juga, aku akan berusaha.” Sementara itu hati Tom berdentaman mengatakan kepada si wajah sengit Nyonya Jones, “Tolonglah, bolehkah aku pergi dan bermain dengan Hester. Mungkin saja aku dapat menenangkannya saat kau sibuk menggantung pakaian kami.”

“Ah! Dan membiarkanmu menumpahkan air, saat aku menyiapkan semua sarapan untuk majikanku. Terimakasih untukmu, tapi kenakalan anak-anakku bergantung kepadaku. Aku tak punya anak-anak aneh di rumahku.”

“Aku tak bermaksud untuk melakukan kenakalan atau menumpahkan air,” kata Tom sedikit sedih dengan maksud baiknya. “Aku hanya ingin membantu.”

“Jika kau ingin membantu, angkatkan untukku galah pakaian-pakaian itu dan selamatkan aku dari kebungkukan ini dan punggungku terasa patah karena melakukan ini.”

Tom ingin pergi bermain bersama dan menghibur si kecil Hester, namun itulah saat yang cukup tepat agar ia menyerahkan galah-galah pakaian saat Nyonya Jones meminta memerlukannya, dan mungkin saja itu dapat menahan amarahnya pada anak-anaknya andaikan mereka mengganggunya. Disamping itu, tangisan si kecil Hester telah lenyap dari pendengaran dan Nyonya Jones dengan jelas disibukkan dengan beberapa sesuatu yang baru (Tom hanya bisa berharap bahwa bantuannya bukanlah kenakalan pada saat itu). Ia pun mulai memberikan galah-galah itu kepada Nyonya Jones seperti yang dia inginkan dan dengan bantuannya menjadikan Nyonya Jones tenang dan sedikit membuka hatinya pada Tom.

”Aku ingin tahu bagaimana cara ibumu mendidikmu hingga menjadi ringan tangan, Tom. Kau semanis seorang gadis—lebih baik dari gadis kebanyakan. Aku pun tak terpikirkan bahwa Hester dalam waktu tiga tahun ini akan menjadi sebaik kau. “Lihat! (saat sebuah teriakan dari salah satu anak-anak di dalam rumah itu baru saja menjangkau Tom dan Nyonya jones), “mereka melakukan kenakalan lagi, aku akan menghajar mereka,” katanya, turun dari bangku dengan berjalan penuh nafsu.

”Ijinkan aku pergi,” kata Tom dengan suara yang mengemis, karena ia takut akan suara tamparan kejam lainnya. ”Aku akan mengangkat keranjang ke atas kursi sehingga kau tak perlu membungkuk dan aku akan menjaga si kecil dari kenakalannya sampai kau selesai. Jadi, ijinkanlah aku pergi, Nyonya.”

Dengan sedikit menggerutu karena menyia-yiakan bantuannya, Nyonya Jones mengijinkannya pergi ke kediamannya. ia mendapati Hester, gadis kecil berumur lima tahun dan dua anak yang lebih muda. mereka bertengkar karena sebilah pisau dan di dalam perebutan itu, Jamie, anak yang kedua, jarinya telah terluka—luka itu tak parah, namun ia ketakutan melihat darah;dan Hester-lah yang telah berbuat dan benar-benar menyesal. dia berdiri menjauhkan dirinya dengan wajah yang cemberut dan takut terkena marah ibunya jika salah satu dari anak-anak itu saling melukai sewaktu di bawah asuhan Hester.

“Hester,” kata Tom, “dapatkah kau mengambilkanku sedikit air dingin, kumohon? Air dingin itu dapat menghentikan darah dengan baik dari apa pun. Carikan aku sebuah baskom dan memegangnya.”

Hester menderap pergi dan terpuaskan pada rasa percaya diri Tom dengan tenaganya. saat sebagian darah telah berhenti, Tom memintanya untuk dicarikan sedikit kain lap dan dia berjuang di bawah lemari rias untuk mengambil sedikit potongan yang dia sembunyikan di sana sehari sebelumnya. Sementara itu, Johnny menghentikan tangisannya, ia menjadi tertarik dengan semua persiapan untuk membalut sedikit lukanya dan begitu senang mendapati dirinya sendiri sebagai tujuan perhatia. Seorang bayi duduk di atas lantai, dengan kepayahan terheran-heran pada keributan yang ada; dan begitulah kesibukan yang terisi kemudian menjadi tenang dan tak ada kenakalan sampai Ann Jones datang setelah menggantungkan pakaian-pakaiannya, dan menyelesaikan sebagian pekerjaan di pagi hari dan dia bersiap untuk mengurus anak-anaknya dengan sukar dan dengan cara yang tergesa-gesa.

”Nah! Aku yakin, Tom, kau telah mengikat lukanya serapi yang aku lakukan. Aku berharap aku selalu memiliki seseorang sepertimu untuk mengurus anak-anak, tapi kau mesti pergi sekarang, Nak, ibumu memanggilmu saat aku datang dan aku mengatakan akan menyuruhmu—selamat tinggal dan terima kasih.”

Saat Tom pergi, seorang anak yang duduk di atas lantai menyadari keramahan hal-hal yang bermanfaat pada Tom dan kemudian mulutnya ditempatkan untuk dicium dan Tom membungkuk dengan membalas sedikit gerakan tubuh itu. Tom merasakan sangat bahagia dan sangat dipenuhi oleh cinta dan kebaikan hati.

Setelah sarapan, ibunya menyuruh Tom untuk sekolah dan ia pun pergi. Sepertinya, ibunya tak suka jika Tom berlari dengan terengah-engah dan melakukan keributan, tepatnya saat kepala sekolah akan memulainya, dan ibunya berharap agar Tom masuk dengan sopan dan baik, dan dengan pantas dan perhatian seperti yang ia lakukan. Tom mengambil topi dan tasnya dan pergi dengan hati yang terang dan kukira itu membuat langkah-langkahnya menjadi ringan. Lalu, ia mendapati dirinya telah menempuh setengah perjalanan menuju sekolah dan waktu yang dibutuhkan masih seperempat jam lagi. Tom melambatkan langkahnya, dan melihat sejenak apa yang ia lakukan. Ada seorang gadis kecil di tepi jalan yang membawa keranjang besar sekali. Kukira, anak kecil itu  sanggup berjalan  dan kelelahan, sehingga ia menangis dengan sedih, dan duduk di setiap dua atau tiga depa. Tom berlari menyeberang jalan. Seperti yang telah kalian ketahui bahwa Tom mengasihi anak-anak itu dan tak tahan mendengar tangisan mereka.

“Gadis kecil, mengapa ia menangis? Apakah ia ingin dibawakan? Aku akan mengangkatnya dan membawanya sejauh mana aku pergi disamping kalian.”

Kemudian Tom pergi untuk merayu dengan kata-kata dan anak kecil itu tak ingin siapapun membawakannya kecuali saudarinya dan menolak kebaikan hati Tom. Bahkan Tom membawakan keranjang yang berat yang berisi kentang-kentang untuk gadis kecil dan ia melakukan sejauh mungkin di jalan yang ditempuh dengan bersama-sama, gadis kecil pun berterima kasih, mengucapkan selamat tinggal, mengatakan bahwa dia dapat mengurusnya dengan sangat baik dan rumahnya begitu dekat kepada Tom. Kemudian, Tom pergi ke sekolah dengan riang, tenteram, dan mendapatkan sifat baik untuk dibawa kepada ibunya pada pelajaran pagi hari itu.

Kebetulan saja di setengah hari libur, di setiap minggunya, Tom memiliki banyak jam-jam kosong di sore itu. Tentu saja, yang dikerjakan pertama kali setelah makan malam adalah mempelajari pelajaran-pelajaran untuk keesokan hari dan kemudian menyisihkan buku-bukunya dan mulai memikirkan apa yang dilakukan selanjutnya.

Ia bertahan di kursi panjang yang mengarah ke pintu dan ingin bermalas-malasan, suatu kebiasaan yang mungkin menjadi kebiasaannya. Ia berharap bahwa ia adalah anak lelaki kecil yang tinggal dihadapan tiga saudara yang siap untuk di ajak bermain dengannya pada setengah hari di hari libur. Ia berharap bahwa ia menjadi Sam Harrison, yang pada suatu ketika ayahnya mengajaknya berjalan di rel kereta api dan ia berharap bahwa ia adalah anak kecil yang selalu pergi bersama para penumpang bis—sepertinya menyenangkan berpergian disekitar dengan melangkah dan melihat begitu banyak orang. Ia berharap bahwa ia menjadi seorang pelaut untuk berlayar ke daerah-daerah di mana buah-buahan tumbuh dengan liar dan monyet-monyet dan burung-burung kakak tua dapat ditemukan. Sebagaimana ia berharap pada dirinya sendiri agar Puteri Wales berkendara disekitarnya dengan kereta yang ditarik oleh seekor kambing, dan ingin tahu andaikan ia tak merasa takut pada tiga burung onta berbulu besar yang selalu menaik-turunkan kepalanya, bersama orang-orang yang mengenalnya. Ibunya datang dari mencuci piring-piring dan melihat Tom dalam-dalam dengan lamunan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan yang menjadi kebiasaan di mana mereka menjadi satu-satunya anak di rumah.

“Tom sayang,” katanya, “mengapa kau tak keluar dan membuat hal yang paling menyenangkan di sore hari ini?”

”Oh, ibu,” jawabnya (mendadak teringat kembali kenyataan bahwa ia adalah si kecil Tom Fletcher, yang bukanlah Pangeran Wales dan akibatnya perasaannya sedikit hambar), “bosan pergi keluar sendirian. Aku tak punya kawan bermain. Tak bisakah kau pergi dengaku, bu—sekali ini…ke lapangan?”

Nyonya Fletcher yang malang sesungguhnya berharap bahwa dia bisa memuaskan keinginan dari anak lelakinya; namun dia punya toko untuk dijaga dan banyak hal kecil yang harus dilakukan dan tak mungkin untuk mengajaknya pergi. Bagaimana pun, dia sering menyesali suatu hal yaitu dia terlalu setia. Jadi, setelah berpikir sesaat dia mengatakan dengan riang, “Pergilah ke lapangan dan lihatlah betapa banyaknya bunga-bunga liar yang bisa kau bawa pulang untukku, dan aku akan menurunkan kendi ayah untukmu agar dapat menaruh bunga-bunga itu saat kau kembali.”

“Tapi, bu, ada beberapa bunga-bunga yang indah di dekat kota,” kata Tom sedikit segan karena ingin menjadi Pangeran Wales dan ia masih benar-benar tak menerima nasibnya.

“Oh sayangku! Ada banyak hal baik jika kau akan mencari bunga-bunga itu. Aku berani mengatakan bahwa kau akan menghiaskan aku bunga sebanyak dua puluh jenis yang berbeda.”

“Maukah kau menggabungkan bunga-bunga aster, bu?”

“Tentu saja; bunga-bunga itu cantik.”

“Oh, jika kau ingin menggabungkan bunga-bunga semacam itu, aku bisa membawakanku lebih dari dua puluh bunga.”

Tom pun pergi dan ibunya melihatnya sampai ia menghilang dari pandangan dan kembali bekerja. Sekitar dua jam, Tom kembali dengan kedua pipinya yang pucat dan tampak benar-benar memerah dan kedua matanya benar-benar terang. Tom berjalan melewati desanya dengan semangat yang ceria dan ia mengerjakan semua keinginan-keinginan dari ibunya dan memperbaiki setiap kebiasaannya, dengan perasaan kebahagiaan.

“Lihat, bu! Ini dua puluh tiga jenis bunga yang berbeda. Kau mengatakan kepadaku akan menghitung semuanya, jadi aku hitung bunga ini seperti tumbuhan jelantang dengan bunga-bunga bungur dan bersama sedikit bunga berwarna biru ini.”

Robin-run-in-the-hedge adalah namanya,” kata ibunya. “Ini sangat indah jika kau melihatnya dari dekat. Satu, dua, tiga”—ibunya menghitung seluruh bunga-bunga itu dan benar-benar berjumlah dua puluh tiga. Dia pergi untuk mengambilkan kendi terbaik.

“Ibu,” kata si kecil Tom, “apakah kau sangat suka pada bunga-bunga itu?”

“Ya, sangat,” kata ibunya yang tak memahami maksudnya. Tom terdiam dan memberikan sedikit desahan. “Kenapa, sayangku?”

“Oh, hanya—itu tak berarti kau sangat suka bunga-bunga itu, kupikir alangkah menyenangkannya membawakan bunga-bunga itu pada si pincang Harry yang tak bisa berjalan jauh ke lapangan dan tak tahu seperti apakah musim panas itu, pikirku.”

“Oh, itu akan sangat menyenangkan; aku senang kau memikirkan hal itu.”

Si Pincang Harry sedang duduk sendirian dengan sangat sabar di dekat gudang bawah tanah. Ia terbantu oleh penghasilan puterinya, sementara, saat puterinya bekerja di pabrik, ia sering sendirian. .

Jika seikat bunga terlihat cantik di tanah lapang, bunga-bunga itu terlihat sepuluh kali lebih cantik di gudang bawah tanah di mana bunga-bunga itu sekarang akan dibawa. Kedua mata si pincang Harry menjadi terang dengan senang saat memandang dan ia mulai berbicara lama sekali. Saat ia masih kanak-kanak di desa dan memiliki tempat untuk menyendiri di kebun ayahnya untuk disinggahinya sendiri dan muncullah rasa suka dari seorang anak lelaki dan bunga-bunga berbau sedap di akhir musim semi. Si kecil Tom meletakkan dan menempatkan kendi yang berisi bunga-bunga dan air di atas meja, yang mana puterinya meletakkan Injil lama, yang tampaknya sering dibaca, dan dirawat dengan hati-hati dan penuh takzim. Injil itu diletakkan dengan terbuka bersama sebuah kacamata yang dimasukkan untuk penanda.

”Aku bergantung kepada kacamata yang kupakai hingga menjemukkan; saat digunakan kacamata itu tak jelas lagi; dihadapan kedua mataku, kacamata itu seperti buram dan menyakitiku saat membaca terlalu lama,” kata Harry. ”Kesedihan inilah yang kurasakan. Saat aku membaca, aku tak berpikir dalam waktu lama, tapi sekarang aku tetap keletihan pada saat hari berakhir, meskipun pada malam hari, saat aku tak bisa tidur karena kedua kakiku sakit, sepertinya buruk. Bagaimanapun inilah kehendak Tuhan.”

“Akankah kau menyukaiku—aku tak bisa membaca dengan baik, tapi aku akan melakukan sebaik-baiknya, jika kau suka aku membacakan sedikit demi sedikit kepadamu. Aku akan pulang dan mengambil teh dan langsung kembali.” Dan Tom pun berlari.

Ia merasakan kesenangan saat membacakan dengan keras kepada si pincang Harry, karena orang tua itu sering mengatakan bahwa pendengarannya begitu berharga dan senang menjadi seorang pendengar. Bahwa kupikir ada obrolan yang sering seperti melakukan membaca pada malam itu. Sementera Injil dimanfaatkan sebagai buku pelajaran pada percakapan mereka. Di dalam kehidupan yang panjang dari si tua Harry telah melihat dan sering mendengar, yang berhubungan dengan kejadian-kejadian atau janji-janji, atau yang memuat perintah-perintah dalam kitab Injil, hal itu benar-benar aneh untuk menemukan betapa segalanya yang sedang dikemukakan sebagai suatu gambaran yang sedang mereka baca.

Saat Tom bangkit untuk pergi, si pincang Harry memberikannya ucapan banyak terima kasih kepadanya dan mengatakan kepadanya bahwa ia tak akan mengalami tidur yang lebih buruk karena telah membuat malam hari dari seorang pria tua begitu menyenangkan. Tom kembali ke rumah dengan rasa puas. ”Ibu,” katanya, “ini semua sangat benar seperti yang kau katakan tentang kebaikan yang mungkin dilakukan tanpa uang: aku telah melakukan banyak kebaikan hari ini tanpa seperempat penny. Awalnya,” katanya dengan memegangi jemari kecilnya, “Aku membantu Ann Jones dengan menggantungkan pakaiannya saat ia bekerja”—

Ibunya mendengarkan saat membalik halaman-halaman pada kitab Perjanjian Baru yang mana diletakkan olehnya dan sekarang telah menemukan apa yang dia inginkan. Dia menempatkan kedua tangannya dengan lemah-lembut disekitar pinggang Tom dan menariknya dengan penuh kasih ke arahnya. Tom melihat jari ibunya diletakkan di bawah satu bagian dan membacanya—

“Jangan biarkan tangan kirimu tahu apa yang tangan kananmu lakukan.”

Tom terdiam sesaat.

”Tomku tersayang, meskipun aku tak ingin kita membicarakan hal itu, seakan-akan kau telah banyak melakukan apa yang semestinya kau lakukan, aku senang kau telah melihat kebenaran dari apa yang aku katakan; betapa banyak manfaat yang mungkin dapat dikerjakan dengan hati yang penuh kasih dari pada dengan memberikan uang; dan setiap orang boleh jadi memiliki hati yang penuh kasih itu.”

*

Aku telah menceritakan kalian tentang kehidupan si kecil Tom, saat ia berumur delapan tahun dan tinggal bersama ibunya. Aku harus melewati setahun dan menceritakan kepada kalian perbedaan kehidupan yang telah ia jalani. Pada akhirnya Ibu Tom jatuh sakit dan segera merasakan bahwa tak ada harapan untuk kesembuhannya dan tak pernah memiliki kekuatan dan sering gelisah; selama itu ibunya berpikir untuk meninggalkan anak lelakinya adalah kesedihan terbesar baginya, dan uijian terbesar bagi kepercayaannya. namun, Tuhan menguatkannya dan mengirimkan kedamaianNya ke dalam jiwanya, dan sebelum kematiannya, ibu Tom merasa lega untuk meninggalkan anaknya yang berharga di dalam kekuasaanNya, siapa yang menjadi Bapa bagi anak yatim dan membela para janda.

Ibu Tom merasa tak punya banyak hari lagi untuk hidup, dia menyuruh saudara suaminya, yang tinggal di kota yang jauhnya bermil-mil dan menyerahkan Tom dalam penguasaan saudara suaminya untuk diasuh.

“Ada beberapa pound yang ditabung di bank—aku tak tahu berapa banyak tepatnya—dan perabot rumah dan sedikit persediaan di toko; mungkin itu semua akan cukup untuk mengasuhnya sampai bekerja, seperti ayahnya sebelumnya.”

Ibu Tom berbicara dengan lemah dan kerapkali berhenti. Saudara iparnya, meskipun orang yang kasar, berkeinginan untuk melakukan segala yang ia bisa untuk membuat Ibu Tom merasa tenang di saat-saat terakhirnya, dan tersentuh berkenaan dengan kematian Ayah Tom dan berjanji kepada ibu Tom akan memenuhi segelanya.

“Aku akan membawanya bersamaku setelah itu”—di pemakaman, ia berlanjut mengatakan, namun ia terhenti. Ibu Tom tersenyum dengan lembut dan sedalam-dalamnya memahami maksudnya.

“Barangkali, kami tak sabar seperti yang telah kau lakukan; tapi aku rasa ia tak akan apa-apa. Itu akan menjadi hal yang bermanfaat baginya untuk hidup sedikit bebas bersama anak-anak lainnya,—ia terlalu dingin untuk seorang bocah lelaki; aku akan membalas mereka jika tak menyayanginya, jangan takut.”

Meskipun obrolan ini sebenarnya tak Ibu Tom sukai, ada perasaan yang cukup menyenangkan yang membuatnya berterima-kasih karena menjadi pelindung dan seorang kawan bagi anak lelakinya. Demikianlah, Ibu Tom berterima kasih atas kegembiraan yang dia rasakan, dan berterima-kasih atas penderitaan yang telah mengajarinya kelembutan-hatinya, berterima kasih atas kehidupan, dan berterima-kasih atas kematian, dan Ibu tom pun mati.

Saudara iparnya mengatur segalanya seperti yang Ibu Tom harapkan. Setelah pemakaman yang benar-benar sederhana itu berakhir, ia menggamit tangan Tom dan mulai berjalan menuju rumahnya sejauh enam mil. Tom menangis sampai ia tak bisa menangis lagi dan hanya muncul sedu-sedan yang bergetar dari hatinya sesekali, saat ia melewati dengan ingatan yang baik pada beberapa pondokan, atau semak-berduri, atau sebuah pohon di suatu jalan. Pamannya sangat bersedih atasnya, dan ia tak tahu apa yang harus dikatakan, atau bagaimana cara untuk menghibur Tom.

“Sekarang perhatikan, Nak, kau datanglah kepadaku jika saudara sepupumu mengasarimu. Biarkanlah aku mendengarnya jika mereka menyalahaknmu dan aku akan memberitahu mereka.”

Tom menjauhi gagasan yang diberikan kepadanya ini tentang saudara-saudara sepupunya, yang dekat dengannya, sampai kemudian, Tom melihat ke depan sebagai suatu kesenangan. Ia tak tenang saat menyusup ke beberapa jalanan, mereka datang ke suatu halaman yang dikelilingi dinding di rumah-rumah yang tampak kumal, dan pamannya membuka salah satu pintu, yang mana terdapat suara keributan, jika bukan, suara-suara amarah terdengar.

Seorang wanita berbadan besar sedang dipusingkan oleh salah satu anaknya, dan dengan kasar menggerakkan kedua tangannya; dia mengomeli seorang anak lelaki yang lebih tua dari Tom yang sedang berdiri dan mendengarkan dengan merengut pada kata-kata amarah wanita itu.

“Aku akan menceritakan kepada ayahmu,” katanya dan berbalik ke paman John, dia mulai mencurahkan keluhannya terhadap Jack, tanpa menaruh sedikit perhatian kepada si kecil Tom, yang melekatkan pada tangan pamannya yang bermaksud berlindung terhadap pemandangan kekerasan yang dilihatnya saat masuk.

“Nah, nah, istriku!—aku akan menguliti si Jack lain waktu dan aku akan menariknya ke air yang dialirkan dari pipa; sekarang bawalah dia dan buatkan aku teh, karena kami kelelahan.”

Rasa-rasanya bibi Tom mungkin mengharapkan si Jack dikuliti sekarang juga dan memarahi suaminya karena tak membalaskan atas luka-lukannya; karena luka itu yang telah dilakukan anak lelaki itu kepadanya dengan membiarkan semua air mengalir dan pada saat mencuci. Si ibu menggerutu saat berhenti membersihkan lantai yang basah dan menuju ke perapian untuk menyiapkan sebuah cerek tanpa mengucapkan salam kepada keponakan kecilnya atau menyambut suaminya. Sebaliknya, dia mengeluh untuk menyiapkan teh sekali lagi, ketika dia telah mengendurkan perapian dan tak ada air di rumah untuk mengisi cerek tersebut. Suaminya bertambah marah dan Tom ketakutan mendengar pamannya berbicara dengan kasar.

“Jika aku tak bisa menikmati secangkir teh di rumahku sendiri tanpa semua keributan ini, aku akan menuju ke Spread Eagle dan membawa Tom bersamaku. Mereka punya perapian yang terang di sana sepanjang waktu, dan bagaimana cara mereka memperlakukannya; dan tak ada para istri yang mengomel. Ayo, Tom, kita pergi.”

Jack mencoba berusaha untuk berkenalan dengan sepupunya dengan sebuah kedipan dan menyeringai di belakang punggung ibunya dan sekarang memberikan isyarat minum dengan gelas khayalan. Sementara Tom melekat kepada pamannya dan menariknya ke bawah dengan perlahan-lahan lagi ke kursinya, di mana paman Tom telah berdiri untuk pergi ke rumah umum.

“Jika kau senang, bu,” kata Tom dengan ketakutan kepada bibinya, “kukira aku bisa memahami tentang pompa itu, jika kau ijinkan aku mencobanya.”

Bibi Tom memberengutkan sesuatu seakan-akan setuju dengan diam-diam; jadi Tom mengambil sebuah cerek dan kelelahan saat ia melakukannya, lalu ke luar menuju pompa itu. Jack, yang tak melakukan apa-apa hanya melakukan kenakalan sepanjang hari dan berdiri dengan takjub, pada akhirnya menjawab pada saudara sepupunya dengan pelan-pelan.

Saat Tom kembali, ia mencoba untuk meniup perapian dengan lenguhan yang terpatah-patah dan pada akhirnya air mendidih dan teh segera tersaji. “Kau anak yang luar biasa, Tom,” kata pamannya. “kupikir Jack kami akan menjadi berguna.”

Membandingkan inilah yang tak disukai baik, pada Jack atau pun ibunya, yang suka menjaga kehormatannya diri dengan menunjukan rasa ketidakpuasan pada ayah mereka dengan anak-anaknya. Tom ingin merasakan kebaikan hati mereka terhadapnya; dan sekarang ia tak melakukan apa-apa hanya beristirahat dan makan dan ia mulai merasa sangat sedih, dan kedua matanya dipenuhi dengan air-mata, ia seka dengan punggung tangannya dan tak ingin mereka melihatnya. Sementara itu, pamannya memerhatikannya.

“Kau lebih baik menikmati segelas minuman di Spread Eagle,” katanya dengan perasaan terharu.

“Tidak; aku hanya agak lelah. Bolehkah aku pergi tidur?” katanya, ingin sekali menangis dan tak ingin diketahui di bawah kain tempat tidur.

“Di mana ia tidur?” tanya paman Tom kepada istrinya.

“Tidak,” kata bibi Tom, tetap terganggu karena jack, “Lihatlah. Ia adalah darah dan dagingmu, bukan darah dan dagingku.”

“Ayolah, istriku,” kata paman John, “ia adalah seorang anak yatim-piatu, seorang anak yang malang. Seorang anak yatim-piatu adalah keluarga bagi setiap orang.”

Bibi Tom langsung melunak, karena dia memiliki banyak kebaikan hati di dalamnya, meskipun malam itu dia menjadi begitu sering geram.

“Tak ada tempat untuknya kecuali bersama Jack dan Dick. Kita punya anak-anak, dan tiga anak cukup sesak.”

Bibinya membawa Tom sampai ke ruangan kecil di belakang dan berhenti untuk berbicara kepadanya semenit-dua menit, karena ucapan-ucapan suaminya telah menghantam hatinya dan dia menyesal karena menerima Tom dengan kasar Tom pada awalnya.

“Jack dan Dick tak tidur sampai kami datang, dan pekerjaan yang cukup untuk menarik mereka di malam-malam hari yang menyenangkan,” katanya dengan membawa sebatang lilin.

Tom berusaha untuk berbicara kepada Tuhan seperti yang ibunya telah ajarkan kepadanya, dari kesempurnaan hati kecilnya, yang mana cukup berat pada malam itu. Ia mencoba berpikir bagaimana ia berharap agar berbicara kepada bibinya dan melakukan sesuatu, dan saat ia merasa kebingungan karena teringat akan kekacauan suasana dan amarah yang telah ia lihat, ia dengan sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan akan membuat dan menjaga jalan terangnya di hadapannya. Dan ia tertidur.

Ia merasakan mimpi panjang yang lain dan hari-hari yang membahagiakan, dan memikirkan bahwa ia sekali lagi di suatu minggu malam berjalan bersama ibunya, dan pada saat bermimpi ia dibangunkan dengan kasar oleh kedua saudara sepupunya.

“Aku katakan, kau berbaring menyilang ke arah kanan kasur. Bangunlah dan biarkan aku dan Dick berbaring. Bergeraklah ke tempat kosong di bagian kiri.”

Tom bangun dengan kepala pusing dan setengah sadar. Kedua saudara sepupunya pergi tidur dan kemudian bertengkar akan bagian yang paling luasdi tempat tidur. Pertengkaran itu berakhir dengan adu tendang, saat waktu itu Tom bertahan menggigil di sebelah kasur.

“Aku yakin, kita cukup terjepit sepertinya,” akhrinya Dick berkata. “Mengapa ayah dan ibu menempatkan Tom bersama kita, aku tak bisa berpikir. Tapi aku tak akan betah. Tom seharusnya tak tidur dengan kita. Ia terbaring di atas lantai, jika ia suka. Aku tak akan menghalanginya.”

Ia berharap Tom melawan dan agak terkejut saat ia mendengar anak kecil itu berbaring dengan tenang, dan melindungi dirinya sendiri sebaik mungkin dengan pakaian-pakaiannya. Setelah sedikit berselisih lagi, Jack dan Dick tertidur. Namun, di tengah malamnya, Dick terbangun, dan mendengar desahan nafas Tom yang kemudian terbangun dan menangis dengan pelan.

“Kenapa! Mengancam dengan menangis karena alas yang lebih lunak?” tanya Dick.

“Oh, tidak—aku tak peduli itu—jika—oh! Jika ibu masih hidup,” si kecil Tom terisak-isak dengan keras.

“Aku,” kata Dick sesaat berhenti. “Ada tempat di belakangku, bergeraklah dengan pelan. Di sini! Jangan khawatir—ah, betapa kau kedinginan.”

Dick meminta maaf atas penderitaan saudara sepupunya dan tak bisa mengatakan apa-apa kepadanya. Bagaimanapun juga, sifat yang menyenangkan itu masuk ke dalam hati Tom dan ia tertidur nyenyak sekali lagi.

Ketiga anak lelaki itu bangun di saat yang sama di pagi hari, namun cenderung tak bicara. Jack dan Dick mengenakan pakaian mereka secepat mungkin dan turun ke lantai bawah; namun benar-benar berbeda dengan cara kebiasaan yang Tom lakukan. Ia menatap beberapa jenis baskom atau gelas untuk di cuci disekitarnya dan tak ada satu barang pun—bahkan tak ada kendi yang terisi air di ruangan itu. Ia mengenakan beberapa pakaian yang diperlukan dan pergi ke lantai bawah, menemukan kendi, dan pergi menuju pompa. Saudara-saudara sepupunya, yang bermain di halaman, menertawakannya, dan tak mengatakan kepadanya di mana sabun cuci disimpan: Tom harus mencari beberapa menit sebelum ia dapat menemukannya. Kemudian ia kembali ke tempat tidur; saat memasukinya untuk menyegarkan udara, ia mencium bau yang begitu menyesakkan yang tak bisa ia tahan. Tiga orang sedang menghembuskan nafas sepanjang malam dan menghabiskan setiap partikel udara berkali-kali; dan setiap kali udara telah dikeluarkan dari paru-paru, udara itu kurang baik karena nafas yang dikeluarkan sebelumnya dihirup kembali. Mereka tak merasa bagaimana racun itu sementara mereka bertahan di kamar itu; mereka hanya merasa kelelahan dan tak segar dan akibatnya mereka pun pusing; namun sekarang Tom datang kembali lagi ke dalamnya, ia tak dapat menyalahkan sesak nafasnya. Ia menuju ke jendela dan berusaha membukanya. Orang-orang menyebutnya “Yorkshire light[2],” di mana kau mengetahui jendela itu terbuka setengahnya untuk ditekan ke dalah satu sisi. Jendela itu sangat kaku dan tak di buka dalam waktu yang lama. Tom menekan jendela itu dengan segala kemungkinannya, akhirnya jendela tersentak dan ambruk; kaca jendela yang retak bergoncang keluar di atas lantai berkeping-keping. Tom ketakutan saat ia melihat apa yang sedang dilakukannya. Ia akan menyesal telah melakukan kesalahan di setiap waktu, namun ia melihat bibinya pada malam sebelumnya apakah dia sedang marah; dan begitu sukar untuk mengawali hari di rumah baru dan jatuh ke dalam pertengkaran. Tom duduk di tepi kasur dan mulai menangis. Tapi udara pagi dengan tiba-tiba mendatanginya, menyegarkannya, dan membuatnya merasa lebih kuat. Ia bertambah lebih berani saat ia membersihkan dirinya dengan air yang dingin yang jernih. ”Bibi tak akan memarahiku dari sehari; malam ini semuanya akan berakhir; aku bisa bertahan selama sehari.”

Dick berlari menuju ke lantai atas karena melupakan sesuatu.

”Astaga, Tom! Kau akan dihukum!” serunya, saat ia melihat jendela itu patah. Bagaimanapun juga, Dick merasa setengah senang dan setengah menyesal pada Tom.”Ibu memukul Jack minggu yang lalu karena melempar sebuah batu tepat melewati jendela di ruangan bawah tanah. Ia melarikan diri sampai malam hari dan ibu terus mencarinya dan segera mungkin dia melihatnya, dia menahannya dan menghukumnya. Eh! Tom, aku tak akan berurusan denganmu!”

Tom mulai menangis lagi saat memandang amarah bibinya; Dick menjadi lebih dan lebih bersedih atasnya.

“Aku akan mengatakan kepadamu; kita akan turun ke bawah dan mengatakan pada ibu bahwa seorang anak dari halaman belakang telah melempar batu-batu, dan memukul melalui jendela. Aku mengambil salah satu batu di kantongku yang akan ditunjukkan.”

“Tidak,” kata Tom, tiba-tiba berhenti menangis. “Aku tak berani melakukan itu.”

“Tak berani! Kenapa, kau harus sedikit berani jika kau turun ke bawah dan menghadapi ibu tanpa bercerita semacam itu.”

“Tidak! Aku tak akan melakukannya. Aku tak akan berani menghadapi amarah Tuhan. Ibu mengajariku untuk takut pada hal itu; dia mengatakan bahwa aku sesungguhnya tak perlu takut pada ajaran yang lain. Tenanglah, Dick, sementara itu aku mengucapkan doa-doaku.”

Dick melihat saudara sepupunya yang kecil itu berlutut ke bawah di kasur dan mengubur wajahnya di pakaian-pakaian itu; ia tak mengucapkan doa lain yang dibuat (Dick biasa memikirkan satu-satunya cara adalah berdoa), namun rasa-rasanya Tom, dengan bisikan yang pelan dan terdengar oleh Dick, berbicara kepada seorang kawan yang dikasihinya; dan meskipun awalnya ia terisak-isak dan menangis, saat ia meminta bantuan dan tenaga, tetap saja saat ia bangkit, wajahnya tampak tenang dan terang dan ia berbicara dengan tenang seperti yang ia katakan kepada Dick, ”Sekarang aku siap untuk pergi dan mengatakannya kepada bibi.”

Sementara itu, bibi tak melihat kendi dan sabunnya dan tak dengan perasaan yang menyenangkan saat Tom datang untuk melakukan pengakuannya. Tom telah mengganggu pekerjaan bibinya di pagi hari dengan membawa barang-barang bibinya; dan sekarang ia datang untuk mengatakan kepada bibinya tentang jendela yang pecah dan akan memperbaikinya, dan uang harus hilang karena semua omong kosong seorang anak.

Bibinya memberinya (saat Tom telah mengemukakan pendapat) satu-dua pukulan keras, Jack dan Dick melihatnya dengan rasa ingin-tahu, melihat bagaimana Tom akan menanggungnya; Jack, bagaimanapun juga, mengira Tom sungguh-sungguh menangis dengan “pelan” (Jack sendiri menangis dengan keras pada tamparan terakhir untuknya), namun Tom tak menitikkan satu air mata pun, meski wajahnya menjadi sangat merah dan mulutnya bertambah kesakitan. Namun apa yang menyerang anak-anak itu menjadikan keadaan lebih sulit dengan pukulan-pukulan semacam itu, dan menjadi tenang setelah itu. Tom tak mengeluh, saat Jack melihatnya atau pun ia berbalik cemberut, seperti kebiasaan Dick; namun semenit setelah itu ia siap berjalan saat bibinya menyuruhnya; atau pun ia akan mengatakan tamparan-tamparan keras, pada saat pamannya datang untuk sarapan, saat bibinya mengira ia akan melakukannya. Bibinya senang bahwa ia tak melakukannya, karena ia tahu bahwa suaminya tak senang mengetahui bagaimana di awal pagi dia telah memukul keponakannya yang yatim-piatu. Demikianlah, dia merasa berterima kasih kepada Tom karena telah diam dan tentu saja mulai bersalah karena dia telah memukulnya dengan begitu keras.

Tom yang malang! Ia tak tahu bahwa kedua saudara sepupunya mulai menghargainya, atau pun bibinya sedang belajar menjadi sepertinya; dan ia merasa sangat sendirian dan kesepian di awal pagi. Ia tak melakukan apa-apa. Jack pergi bekerja ke pabrik dan Dick pergi dengan menggerutu ke sekolahnya. Tom berpikir pergi ke sekolah kembali, namun ia tak suka untuk bertanya. Ia duduk di atas bangku kecil yang tak bersandar. Bibi Tom memiliki anak yang paling muda, seorang gadis kecil yang berumur sekitar setahun setengah, merangkak di sekitar di atas lantai. Tom bermain lama dengannya; namun ia tak yakin bibinya akan menyukai apa yang ia lakukan. Namun, ia tetap tersenyum kepada gadis kecil itu dan melakukan setiap perbuatan kecil di mana Tom bisa lakukan untuk menarik perhatiannya dan membuatnya mendatangi Tom. Akhirnya, gadis kecil itu dibujuk untuk menuju ke atas lututnya. Bibinya melihat kejadian itu dan meskipun dia tidak berbicara, dia tampak tak senang. Tom melakukan segalanya yang dapat ia pikirkan untuk menghibur si kecil Annie dan bibinya sangat senang telah ditolongnya. Saat, Annie tertidur, dia tetap memegang dengan cepat salah satu dari jari-jari Tom, menangkapnya, dijaganya dengan tenang, dan Tom mulai merasakan kebahagiaan dari mencintai seseorang lagi. Suatu malam sebelumnya, saat kedua sepupunya menyuruhnya pergi dari kasur, ia berpikir jika ia akan hidup menjadi seorang pria dewasa dan tak memiliki siapapun untuk di cintai sepanjang waktu itu; namun hatinya merasa benar-benar hangat untuk makhluk kecil yang terletak di atas pangkuannya.

“Dia akan membuatmu kepayahan, Tom,” kata bibinya, “kau lebih baik membiarkanku meletakkan Annie kecil di pelbet.”

“Oh, tidak! katanya, “tolonglah jangan! Aku suka dia di sini,” Tom tak bergerak, meskipun si kecil Annie terbaring sangat berat di kedua tangannya dan takut membuatnya terbangun.

Saat si kecil Annie bangun, bibinya mengatakan, “Terima kasih, Tom. Aku telah sedikit menyelesaikan pekerjaanku karena kau merawatnya. Sekarang, pergilah ke halaman dan bermainlah.”

Bibinya sedang mempelajari sesuatu dan Tom sedang mengajarkannya. Bilamana saja, di dalam sebuah keluarga, setiap orang mementingkan diri sendiri dan (dan hal seperti itu disebut dengan) “mempertahankan hak-haknya miliknya sendiri,” tak ada perasaan untuk berterima kasih. Keanggunan untuk “berterima-kasih” tak pernah disebut; atau pun di kesempatan lain, keprihatinan bagi orang lain saat orang lain itu meyakinkan untuk dapat mulai berpikir di dalam diri mereka sendiri dan menjaga sejumlah orang. Bibi Tom tak harus mengingatkan Jack atau Dick untuk keluar bermain. Mereka telah cukup untuk memahami kesenangan-kesenangan milik mereka sendiri.

Nah! Makan malam tiba dan semua keluarga mengerubungi makanan. Terlihat siapa yang berebut untuk menjadi yang pertama dan berteriak untuk potongan yang terbaik. Wajah Tom tampak sangat merah. Bibinya menyukainya, awalnya memperhatikan apa yang Tom sukai. Namun ia tak mulai makan. Seperti kebiasaan ibunya untuk mengajari putera kecilnya mengucapkan “doa kecil” yang sederhana sebelum mereka memulai makan malam. Ia kira pamannya akan mengikuti dan menanti. Kemudian ia sangat merasa hangat dan malu; sementara itu, benarlah yang diucapkannya, ia mengesampingkan rasa malunya dan sangat tenang, namun ia juga sangat sungguh-sungguh mengucapkan kalimat rasa syukur menurut kebiasaan lamanya. Jack dengan tiba-tiba tertawa saat Tom melakukannya; di mana ayahnya memberinya dampratan dan kata tajam, yang membuatnya terdiam melalui tenangnya makan malam. Namun, terkecuali Jack, yang marah, aku pikir semua keluarga lebih bahagia setelah mendengarkan rasa hormat (jika bersama beberapa orang) karena rasa syukur Tom. Mereka tak bersikap ramah pada sekumpulan orang-orang, namun ingin perhatian di setiap hari dalam kehidupan mereka, perhatian semacam itu memberikan perintah untuk pulang dan membuat suatu kearifan dalam semangat suci akan cinta pada suatu dasar perintah.

Sejak hari pertama, Tom tak pernah kembali lagi dengan rasa hormat yang ia mulai menangkan. Ia berguna bagi bibinya dan dengan sabar menahan cara-cara bibinya yang gegabah. Pamannya adakalanya mengatakan kepada Tom bahwa ia lebih seperti seorang anak gadis dari pada seorang anak lelaki, karena diasuh selama bertahun-tahun oleh seorang wanita; dan karena Tom berani melakukan apa yang benar, dan yang mana ia menanggung banyak penderitaan sejenis itu. Tentang si kecil Annie, kemudian bersahabat dengan Tom dan mengasihi dan mecintainya, dan itulah yang memuaskan hati Tom. Ia tak tahu betapa besar ia menyukai Annie, dan Annie menunjukkannya dengan setiap cara dan Tom mencintainya. Dick segera berpikir bagaimana memanfaatkan cara Tom lakukan agar dapat dilakukannya. Karena meskipun lebih tua dari saudara sepupunya, yang dikuasai Dick adalah orang bodoh biasa dan tak sungguh-sungguh pernah ingin belajar sampai Tom datang; dan jauh sebelum itu, Jack dapat membawa balasannya. Dick berpendapat bahwa “Tom memiliki banyak kebenaran di dalamnya, meskipun itu tak menyenangkan Jack.”

*

Sekarang aku akan melompat ke tahun yang lain dan mengatakan kepada kalian sedikit tentang rumah tangga itu selama satu tahun setelah Tom memasuki keluarga tersebut. Aku mengatakan di atas bahwa bibinya telah belajar untuk mengurangi bicaranya dengan amarah kepada seseorang yang selalu lemah-lembut. Segera jalan-jalannya semua menjadi sedikit penuh gairah, karena dia bertambah malu saat berbicara kepada siapapun dengan cara marah dihadapan Tom; Tom selalu terlihat sedih dan menyesal saat mendengar bibinya. Bibinya juga adakalanya berbicara kepada Tom tentang ibunya; sebab pada awalnya, bibinya berpikir bahwa Tom akan menyukainya; namun akhirnya, bibinya benar-benar tertarik untuk mendengar melalui Tom; dan Tom menjadi satu-satunya anak dan kawan ibunya dan rekan yang dapat mengatakan kepadanya tentang kenyamanan akan berumah tangga, dan sesungguhnya tak menyadari tujuan lain, bahwa dari mulut seorang anak, yang telah mengajarinya banyak hal, di mana Bibi Tom terlalu membanggakan diri untuk belajar dari orang yang lebih tua. Suaminya melunak dengan bertambah bersih dan tenang di rumahnya. Sekarang suaminya tak terus-menerus mencari-perlindungan di dalam rumah umum, untuk ke luar karena hal-hal seperti kebisingan anak-anak, tak meniup tungku dan seorang istri yang mengomel. Suatu kali saat Tom sedang sakit selama berhari-hari, pamannya tak membiasakan diri doa kecil dan mencoba mulai mengatakan kepadanya sendiri. Ia sekarang memainkan peranan untuk berkata “Tenanglah, anak-anak;” dan kemudian menawarkan makanan yang menyenangkan. Mereka berkumpul mengelilingi meja, malahan duduk di bawah di sana-sini dengan ketak-nyamanan, dengan cara yang tak ramah, yang biasanya mereka lakukan. Sekarang, Tom dan Dick pergi sekolah bersama-sama, dan sanggup membantu pelajaran-pelajaran saudaranya, seperti saat tom membantunya.

Bahkan Jack mengakui bahwa Tom telah ‘tertarik’ kepadanya; dan sepertinya ‘tertarik’ ke dalam pikiran Jack tentang cara singkat menyimpulkan semua kebaikan, ia akhirnya sangat mengasihi saudara sepupunya. Tom tak memikirkan akan kebahagiaan, hanya menjadi bahagia; dan kukira kita berharap bahwa Tom akan diadopsi.

Sekarang apakah kalian tak melihat betapa lebih bahagia keluarga ini karena seorang anak kecil datang di antara keluarga itu? Bisakah uang membuat seper-sepuluh bagian untuk meningkatnya kebahagiaan sesungguhnya ini? Kukira kalian semua akan mengatakan tidak. Dan sampai sekarang Tom bukanlah orang yang sangat kuat; ia juga tak pandai; awalnya ia sangat tak berteman, namun ia begitu baik dan mencintai; dan dua sifat itulah, di mana setiap dari kita memilikinya, jika mencoba kekayaan yang melimpah, yang terdapat di dalam keberkahan Tuhan.

 

[1] koin kecil berwarna perak yang di gunakan Inggris Raya sampai 1971 yang senilai enam penny, atau jumlah uang.

[2] Jendela Geser

 

 

Malang, 12 Agustus 2013.

 

:: Dialih-bahasakan dari cerita pendek, Hand and Heart (1849), karya Elizabeth Gaskell, novelis dan penulis cerita pendek Inggris di era Victorian.

 

 

And Tears In Our Own Ways.

Happiness doesn’t take its time to judge // And tears in our own ways – Water, Happy Coda, Frau.

– Untuk Soren Kierkegaard dan Regine Olsen.

Sejak pagi, langit begitu muram, tak ada satu sinar matahari yang mampu menembus awan-awan tebal nan gelap. Pada siang harinya, cuaca mencapai klimaks. Perlahan demi perlahan, rintik-rintik hujan membasahi bumi. Beberapa menit kemudian, bulir-bulir air hujan semakin membesar. Terdengar suara teriakan seseorang yang tak jauh dari pusat perbelanjaan pada kawan-kawannya, “Hujan semakin deras!”

Seorang wanita mendengar teriakan itu dan memandang disekelilingnya, bahwa saat ini dia berada dalam situasi yang serba pelik. Pertama, karena hujan yang menyebabkan dia tak bisa kembali pulang; dan yang kedua, waktu mempertemukannya kembali dengan seorang pria yang telah memberikan sedikit pengalaman pahit dari masa lalu, tepatnya tujuh tahun lalu.

“Apa sebaiknya kita tak mencari tempat minum untuk mengobrol,” kata pria dihadapannya.

Mendengar ajakan tersebut, wanita itu awalnya menolak, namun ada sesuatu yang dirindukannya dari pria dihadapannya. Anggukan kepala menjadi tanda persetujuan.

“Tujuh tahun,” kata pria itu, kemudian melanjutkan, “Tujuh tahun kita tak bertemu.”

“Tujuh?”

“Ya, Tujuh.”

Hanya angka itulah yang hadir pada obrolan saat pertemuan mereka, yang mana mereka berdua terjebak dalam nuansa yang kian rumit. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin diceritakan oleh masing-masing dari mereka, setelah perpisahan panjang itu. Namun, dari segala pertanyaan-pertanyaan yang mengendap di dalam kepala, hanya ada satu pertanyaan utama yang ingin dilontarkan dari masing-masing pihak: “Apa yang dilakukan setelah berakhirnya hubungan?”

Keheningan yang mereka ciptakan, suara yang dimunculkan oleh hujan yang deras, canda tawa orang-orang disekitar, membuat suasana serba tak nyaman. Rasa canggung merayap ke wajah mereka masing-masing. Dibalik wajah-wajah canggung mereka berdua, menyimpan cerita pahit yang tak menyenangkan. Wanita itu masih menyimpan ingatannya dengan baik, saat pria dihadapannya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka tanpa alasan jelas, dan dia teringat bagaimana air matanya tak mampu dibendungnya. Sementara, si pria, yang memutuskan hubungan dengan wanita di depannya, dengan suatu alasan yang tak mampu dijelaskanya pada saat itu.

Namun, kini segalanya telah berbeda. Rentang waktu yang panjang telah mengubah kehidupan-kehidupan mereka berdua. Si wanita telah menikah dengan orang lain, dan telah memiliki puteri kembar yang cantik. Sementara, si pria sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita lain, dan akan menikah.

*

Ketika mereka berdua telah duduk disebuah meja bundar kecil di tempat minum itu. Di luar, terdengar suara gemuruh petir, di mana pada saat yang sama, seorang pelayan telah berada di antara mereka untuk mengantarkan minuman, dan hampir saja menumpahkan isi cangkir itu ke si pria, akibat terkejut mendengar suara gemuruh petir.

“Maaf, tuan, hampir saja, maaf,” kata pelayan itu pada si pria.

Si pria membalas dengan senyuman, disertai sedikit  memandang pada wanita dihadapannya yang tampak gelisah.

Seusai pelayan itu pergi, barulah mereka memulai obrolan singkat, namun terasa hampa. Suatu obrolan yang hanya berkutat tentang aktivitas yang mereka lakukan di pusat perbelanjaan, bersama siapa mereka, lalu beralih ke berita tentang kawan-kawan mereka yang masih berhubungan, dan tetap saja mereka terlalu takut untuk bertanya, “Apa saja yang dilakukan setelah berakhirnya hubungan?”

Mereka berdua, kembali terjatuh ke dalam terali-terali besi penjara masa lalu, dan mereka terjebak di sana. Mereka tak mampu membebaskan diri mereka, dan terus berperang dalam diri mereka, mencoba memainkan sugesti bahwa segalanya yang lalu, telah berlalu. Namun semakin lama mereka mencoba, kepedihan masa lalu semakin menggerogoti diri mereka masing-masing.

Bagi si wanita, menghilangnya pria yang dihadapannya menjadi penyakit dari kebahagiaan yang telah direngkuhnya saat itu. Dia mulai mencoba memunculkan kesedihan lamanya. Dia mengingat kembali mengapa pria dihadapannya itu telah membuat dunianya menjadi gelap dan muram. Dia, wanita itu, berpikir bahwa lelaki dihadapannya tak pernah mencintainya dengan sungguh-sungguh dalam mempertahankan hubungan mereka.

Lain halnya dengan si pria, ia punya alasan tersendiri, mengapa ia sampai memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Saat itu, ia merasa tak pantas untuk menjadi pasangan wanita dihadapannya, sebab kesalahan-kesalahan amoral yang ia lakukan, sekaligus terjebak dalam mempelajari empati dan simpati di dalam dirinya, yang membuatnya menjadi sangat melankoli. Rasa melankoli itu terus-menerus mendorongnya untuk menumbuhkan kepekaan terhadap keadaan disekitarnya. Ia menjerumuskan dirinya pada suatu petuah, ‘kau adalah apa yang kau lihat.’ Kedua mata tajamnya melihat kemiskinan-kemiskinan yang terus mengedar disekitarnya dan menyerang kepekaan hatinya. Sampai ketika, ia dihadapkan pada suatu pertentangan, serta suatu pilihan: Apakah ia memilih cinta wanita itu, atau cinta dalam bentuk lain untuk berbuat sesuatu terhadap keadaan sekitarnya dengan cara yang dimiliknya. Dan, ia memilih opsi kedua, dan membiarkan wanita yang dicintainya hidup bahagia bersama pria lain, yang lebih mampu membuatnya tersenyum, serta tak ingin membuat wanita dihadapannya itu menderita karena pilihan hidup yang telah ia mainkan.

*

Selama hampir satu jam, ketika cangkir minuman mereka hampir tandas, mereka hanya melompat-lompat di antara kata-kata: “Ya,” “tidak,” “Lalu, kau?” “Oh, ya?” dan seterusnya. Silih berganti.

Kepala wanita itu menoleh ke arah jendela, matanya menjeling tajam, menatap kondisi di luar tempat minum itu. Kemudian dia mengembalikan pandangannya ke cangkir minumannya, memegang, mengangkat, dan kemudian menyorongkan bibir gelas ke bibir tipisnya, dan meletakkan cangkir di tempat semula.

Saat pria itu melihat kegugupan wanita dihadapannya, ia memberanikan untuk bertanya, “Apa aku boleh mengatakan sesuatu?”

Wanita itu terkejut, dan berkata: “Ya, ya, tentu saja.”

Simpul senyum pria itu mengembang lebar, dari senyuman itu, ia seperti mendapatkan kekuatan magis entah dari mana.

“Aku tak tahu apa yang sedang terjadi tujuh tahun lalu. Namun, kurasa, bahwa saat itu aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku telah banyak melakukan kesalahan-kesalahan pada masa laluku sebelum kita menjalin hubungan, kemudian aku terus-menerus mencoba memahami serta memperbaiki diriku dengan mencari-cari jawaban yang terus mendengung baik di dalam hati dan di kepalaku. Hingga aku terjebak dalam rasa kasih yang lain, pada saat, aku melihat seorang ibu tertidur memeluk anaknya di salah satu emperan toko, dan kejadian itulah yang kemudian mengubahku untuk menjadi aku yang lain, yang tak pernah kau pahami selama kita menjalin hubungan, sehingga, kukira, aku tak pantas untuk menjadi seseorang yang berarti untukmu di hari-hari kedepan saat itu. Dan…”

“Dan apa? Dan kau kira, sekarang kau masih berarti untukku. Bodoh! Mengapa kau menyakiti dirimu sendiri dengan kepekaanmu itu…”

“Kau tak tahu apa yang kurasakan.”

“Aku…” tahan wanita itu, dan kemudian melanjutkan, “Aku tak tahu sebab kau tak pernah ingin berbagi kepadaku saat itu. Kau menyimpan segalanya sendiri, kau benar-benar bodoh!”

Suara wanita meninggi dan merendah seperti ombak laut hingga mencapai ke beberapa telinga para pengunjung yang ada, dan menoleh kepada kedua pasangan itu.

“Maafkan aku.”

“Maaf, hanya itu. Kau tahu, selama dua tahun setelah kau pergi, aku masih menantimu, beserta segala keputus-asaan yang membelengguku.”

Pria itu hanya mendesah, dan menahan air matanya sekuat mungkin.

Wanita itu pun melanjutkan kata-katanya: “Kau tahu, kau bukan malaikat yang mampu merubah keadaan di sekelilingmu.”

Pria itu hanya terdiam, mematung. Ia menjadi terbebani dengan rasa sesal yang menghakimi dirinya. Namun, di sisi lain, ia mampu membebaskan dirinya, setelah ia mengutarakan alasannya berkenaan dengan risiko yang telah menjadi pilihannya.

Pada akhirnya, kedewasaan masing-masinglah yang menuntun untuk membuat kedua pasangan masa lalu itu memahami peristiwa yang sedang mereka alami. Dan selama rentang waktu tujuh tahun itu, mereka terus belajar tentang dunia luas yang berada di dalam diri mereka, melalui segala masalah, kenyataan, serta pencarian-pencarian bentuk  kebahagiaan yang terus-menerus.

“Lalu bagaimana dengan keluarga kecilmu?” tanya pria itu.

“Baik. Kedua puteriku sudah mulai belajar merangkak.”

Di luar ruangan itu, hujan memberikan hawa dingin. Obrolan-obrolan hangat kedua pasangan itu seakan memberikan arti lain bagi suasana alam yang sedang terjadi. Mereka pun saling berbincang tentang orang-orang yang mereka cintai. Hingga pelukan cinta dalam bentuk persahabatan dan air mata yang tak mampu tertahan dari masing-masing pihak, menjadi akhir dari pertemuan mereka.

Malasha dan Akoulya – Leo Tolstoy

tolstoy_with_graddaughter_by_olgasha-d35ruit - Copy

Pagi hari, di hari paskah. Satu-satunya kereta telah lewat, salju tetap tergeletak di halaman, dan air mengalir ke jalan desa

Dua gadis kecil dari rumah yang berbeda kebetulan bertemu di jalan kecil di antara rumah-rumah, di mana air yang kotor mengalir sampai ke halaman pertanian dan membentuk kubangan besar.

Terdapat seorang gadis bertubuh kecil, dan yang lain seorang gadis bertubuh besar. Ibu mereka masing-masing telah mendadani mereka berdua dengan baju dan rok baru. Gadis betubuh kecil mengenakan baju rok berwarna biru dan gadis bertubuh besar menggenakan baju rok berwarna kuning. Keduanya memakai ikat kepala berwarna merah di kepala mereka masing-masing. Mereka telah kembali dari gereja ketika mereka bertemu. Dan awalnya mereka saling memamerkan pakaian bagus milik mereka masing-masing. Kemudian mereka mulai bermain. Segera mereka mengkhayal untuk berceburan di sekitar kubangan air. Gadis bertubuh kecil telah pergi melangkah ke kubangan, dan ketika yang paling tua mencegahnya.

“Jangan masuk, Malasha,” katanya, “ibumu akan mengomelimu. Aku akan melepas sepatuku dan kaos kakiku, dan kau lepaslah milikmu.”

Mereka melakukannya. Kemudian, mengangkat baju rok mereka, dan mulai berjalan mengarah ke kubangan. Air mencapai pergelangan kaki Malasha.

“Ini dalam, Akoulya. Aku takut!”

“Ayo,” balas Akoulya. “Jangan takut. Ini tak seberapa dalam.”

Ketika mereka telah mendekat satu dengan yang lain. “Ingat, Malasha, jangan mencebur. Jalan hati-hati!”

Akoulya dengan keras mengatakan hal itu. Di saat Malasha menjatuhkan kakinya sehingga air memercik tepat ke baju Akoulya. Percikan air kotor itu mengenai baju, mata dan hidung Akoulya. Ketika dia melihat noda di bajunya, dia marah dan berlari ke Malasha untuk memukulnya. Malasha ketakutan dan melihat bahwa dirinya akan mendapat masalah. Malasha berjuang keluar dari kubangan dan bersiap untuk lari ke rumah. Ketika kejadian itu berlangsung, Ibu Akoulya melintas dan melihat bahwa baju anaknya terpercik dan lengan-lengannya kotor.

“Kau nakal sekali, gadis kotor. Apa yang kau lakukan?”

“Malasha yang melakukan semua ini,” balas Akoulya.

Ibu Akoulya meraih Malasha dan memukulnya di belakang lehernya. Malasha mulai berteriak sehingga teriakannya terdengar ke seluruh jalan. Ibu Malasha pun keluar.

“Mengapa kau memukul gadisku?” tanya Ibu Malasha. Dan mulai mencaci-maki tetangganya. Satu kalimat merentet ke hal lain dan mereka menjadi bertengkar. Orang-orang keluar dan beramai-ramai berkumpul di jalan. Setiap orang berteriak dan tak ada seorang pun yang ingin mendengar. Mereka semua segera berselisih. Sampai seseorang yang lain memberikan desakan dan keadaan mulai mendekati pada adu pukul. Nenek Akoulya melangkah di antara mereka, dan mencoba menenangkan mereka.

“Apa yang kalian pikirkan, kawan-kawan? Benarkah kelakuan ini? Pada hari seperti ini, pula. Ini waktunya bergembira dan bukan melakukan kebodohan seperti ini.”

Mereka tak mendengarkan Nenek Akoulya dan kakinya hampir dipukul. Wanita tua itu tak mungkin menenangkan kerumunan orang-orang ini jika bukan dari Akoulya dan Malasha sendiri. Sedangkan para wanita mencaci maki satu dengan yang lain. Akoulya telah menyeka kotoran dari bajunya dan kembali bermain ke kubangan.

Dia mengambil batu dan mulai menggaruk tanah di depan kubangan untuk membuat saluran air, di mana air bisa mengalir ke luar, mengarah ke jalan. Segera Malasha bergabung bermain dengan Akoulya. Dengan sepotong kayu Malasha membantu Akoulya menggali saluran air.

Orang-orang mulai berkelahi. Air dari saluran kecil milik gadis-gadis kecil itu mengalir ke jalan, dan mengarah di mana Nenek Akoulya sedang mencoba mendamaikan orang-orang. Gadis-gadis kecil mengikuti aliran air tersebut. Salah satu gadis kecil berlari sepanjang sisi sungai kecil.

“Kejar, Malasha! Kejar!” teriak Akoulya. Sedang Malasha tak mampu bicara karena tertawa riang.

Begitu senangnya dan melihat potongan kayu mengapung sepanjang aliran air milik mereka. Gadis-gadis kecil berlari lurus ke arah kerumunan orang-orang. Dan Nenek Akoulya melihat kedua gadis kecil itu.

“Apa kalian tak malu pada diri kalian sendiri? Pergi berkelahi atas cerita anak-anak ini, ketika mereka sendiri telah melupakan semuanya dan bermain bersama dengan bahagia. Jiwa-jiwa terkasih! Mereka lebih bijak dari kalian!”

Para orang-orang memandang gadis-gadis kecil dan merasa malu dan menertawakan diri mereka sendiri. Mereka pun segera kembali ke rumah masing-masing.

Kecuali kau berbalik menjadi seperti anak-anak kecil, kau boleh menjadi untuk tak bijaksana dan memasuki kerajaan Tuhan

 

***

:: Diterjemahkan dari cerita pendek untuk anak-anak, Little Girls wiser Than Men (1885), oleh Leo Tolstoy. Terj. Rusia-Inggris oleh Louise & Aylmer Maude.

Happy Weekend, Daras.

23-peanuts-happiness-is-a-warm-puppy

 

“Yah, main itu, main itu,” kata Daras, puteri kecilku, sambil menunjuk ke luar melalui kaca dari dalam sebuah gedung.

Ya, hari ini adalah akhir pekan, dan kami sekeluarga: Aku, istriku, dan Daras, menghadiri sebuah acara yang berkaitan dengan penanganan untuk anak-anak autis di salah satu universitas. Acara tersebut diadakan oleh komunitas yang digagas oleh Alinka, kawan dari istriku semasa kuliah. Di mana pada komunitas itu, istriku hanya menjadi partisipan.

Istriku, sejak dia mengenyam pendidikan psikologi di universitasnya dulu, dia memiliki impian untuk membuat sebuah rumah belajar bagi anak-anak autis. Sementara lain halnya dengan impianku, karena aku berprofesi sebagai seorang penerjemah, aku pun berharap kelak nanti mampu membuat rumah bahasa. Dan, kami berdua pun menyadari bahwa, membangun impian saat menikah dan berumah tangga, sungguh pun amat sulit. Akan tetapi kami tak menyerah. Api impian kami tak boleh meredup sedikit pun. Aku ingat tentang perkataan bapak saat aku masih menjadi mahasiswa, bahwa dalam hidup ini, harus ada sesuatu yang wajib diperjuangkan, meskipun pada akhirnya nanti tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Oleh sebab itu, aku terus menyemangati diri dan demikian pula istriku, agar semangat-semangat impian yang naik-turun laiknya gelombang tak boleh padam. Aku, serta istriku, sangat mengerti bahwa akan ada banyak tantangan yang harus kami tempuh untuk mencapai impian itu. Rumah belajar, bagi istriku. Rumah bahasa, untukku.

Kemudian aku menolehkan kepala, di mana jari telunjuk Daras mengarah ke sebuah tempat. Sebuah playground bagi anak-anak autis milik fakultas psikologi, di salah satu universitas, di kota ini. Kulihat dari kejauhan, saat hampir mendekati pukul sepuluh, sinar-sinar mentari menyusup melalui celah-celah daun-daun dari sebuah pohon beringin tua, yang mana hanya berjarak sekitar lima langkah kaki, terdapat tiga ayunan dudukan berbahan plastik fleksibel. Dan Daras terus merengek untuk mencoba ayunan itu. Mendengar tingkah gadis kecil berponi ini, istriku menoleh dan berkata lirih:

“Ras, yang bagus dong.”

“Main bu, main.”

“Habis ini acaranya selesai, Ras.”

“Ahh!”

Setiap mendengar kata Ahh dari mulut gadis kecil berponi ini, aku dan istriku memang tak mampu berbuat apa-apa. Lalu kedua mata istriku yang agak sayu namun amat indah, memandangku, dan kepalanya sedikit mengangguk, penanda bahwa dia mengijinkan permintaan gadis kecil berponi ini.

Saat sampai di playground tersebut, Daras memilih ayunan paling kiri berwarna biru muda. Kaki-kaki kecilnya dengan cepat dan tangkas mendekat ke ayunan itu, kemudian kedua tangan kecilnya menjangkau ayunan, memainkankannya dan mengayunkannya.

“Yah, lihat, yah.”

“Jangan kencang-kencang, Ras.”

Poni-poni Daras yang diterpa angin bergerak tak beraturan. Mataku memandang ke sekeliling fakultas psikologi yang memang banyak perubahan pembangunan, seperti halnya fakultasku, fakultas sastra di universitas ini. Saat aku memandang gedung-gedung itu, aku teringat pada kawan-kawan psikologiku. Ah, sayang, hanya ada satu nama yang menggores di dalam ingatanku: Ramdan.

Ramdan, bagiku, adalah seorang intelektual sejati. Ia seperti ilmuwan-ilmuwan Islam masa lalu yang menguasai lebih dari satu disiplin ilmu. Meskipun ia menempuh pendidikan di disiplin ilmu psikologi, akan tetapi ia juga haus akan segala ilmu, entah sastra, politik, sejarah, bahkan ekonomi. Pernah suatu ketika, di sebuah kantin yang telah tergantikan oleh sebuah gedung baru di fakultas ini, saat aku terlambat memasuki kelas drama, lalu bertemu dengannya dan mengajakku ke kantin fakultas psikologi. Saat di kantin itulah, ia memberikan sedikit uraian tentang sejarah perkembangan kapitalisme yang membuatku kagum dan menaruh rasa hormat atas keluasan ilmunya. Pada saat itu pula, ia mengatakan bahwa kapitalisme dibagi menjadi tiga perkembangan: kapitalisme muda, kemudian menjadi kapitalisme raya, dan diakhiri dengan kapitalisme tingkat penghabisan.*

Tiga burung gereja terbang melintas disertai teriakan-teriakan Daras yang girang, membuat kenanganku akan Ramdan menjadi sirna. Tak lama, orang-orang ke luar dari gedung. Kulihat, di belakang dari orang-orang yang ke luar itu, berjalanlah Alinka dan istriku yang sedang mengobrol. Aku melihat betapa cantiknya istriku. Istriku, memang terlalu dipenuhi gagasan yang berbau tentang Paris, di mana wanita-wanitanya tak hanya dituntut untuk cantik, namun pintar, di sanalah terletak konsep elegan. Hari ini dia tampak berbeda. Dia memakai blouse salia putih, dipadukan dengan rok midi Paris hitam, mengenakan sepasang winslet shoes putih, serta rambut diikat ke belakang, dengan make-up sederhana. Kekagumanku padanya adalah dia mampu menciptakan selera modelnya sendiri. Satu hal yang kuingat atas perkataannya suatu ketika, bahwa apapun yang kita kenakan, yang terpenting adalah kenyamanan, yang mana kenyamanan pakaian itu memberikan kita rasa kepercayaaan diri, menurutnya demikianlah sebuah fashion. Mengagumkan!

“Yah, lihat!”

Lalu aku menoleh ke Daras. Gadis kecil berponi ini berdiri di atas dudukan ayunan, lalu aku mendekat dan menghardiknya untuk tak mengulanginya. Setelah itu, Alinka dan istriku telah berada di taman bermain.

“Hai, gadis kecil berponi,” sapa Alinka.

Daras sedikit ketakutan, karena memang baru sekali bertemu Alinka.

“Beri salam ke tante, sayang,” kata istriku.

Lalu dia menuruti titah istriku.

Kemudian kami berjalan ke parkiran mobil, di saat menuju parkiran itu, Alinka memuji karya terjemahanku yang telah diterbitkan oleh sebuah penerbit. Aku mengucapkan terima kasih. Pada akhirnya, Alinka berkata kepadaku, saat kami telah berdiri dua meter di dekat mobil kami:

“Aku berharap padamu, bahwa kau juga memiliki keinginan untuk menerjemahkan karya cerita anak-anak bagi penderita autis,” ujarnya padaku.

Aku terdiam, memandang istriku, lalu aku berkata pada Alinka bahwa, aku tak mampu memberikan janji, namun aku akan melakukannya jika telah mendapatkan materi cerita yang tepat untuk anak-anak autis yang mana mampu membantu perkembangan mereka. Kecupan hangat Alinka di dahi daras menandakan pertemuan harus diakhiri.

*

Pukul satu siang, kami melanjutkan makan siang di sebuah tempat makan. Lalu, mengambil tiga pigura art letter yang berisikan dari kutipan-kutipan beberapa tokoh yang memang telah disepakati antara aku dan istriku. Pigura itu nantinya akan diletakkan untuk mengisi kekosongan view di beberapa dinding rumah. Dan, kami pun melanjutkan perjalanan ke pasar buku bekas.

Setelah sampai di pasar buku bekas. Jarum jam menunjukkan pukul setengah dua siang. Daras terlelap di pangkuan istriku.

“Biar aku yang menjaga Daras, kau carilah buku-buku resep masakan yang kau perlukan,” ujarku pada istriku. Lalu dia mengangkat tubuh kecil Daras dan menyerahkannya kepadaku, bersamaan dengan itu, Daras terbangun.

“Di mana, Bu? Di rumah?”

Kami berdua tertawa terbahak-bahak melihat wajah gadis kecil berponi ini yang mana disertai kedua mata yang masih berat untuk dibuka.

“Belum sayang, kita sedang di pasar buku,” kata istriku, tersenyum.

Kemudian kusela dengan sebuah pertanyaan, “Kau tak ingin buku bergambar?”

“Ingin yah.”

Setelah itu, di dalam mobil, istriku melepas pakaian Daras dan menggantikannya dengan kaos—kaos itu bergambar Charlie Brown yang sedang memeluk Snoopy, dan bertuliskan Happiness is Warm Puppy—sebab, di dalam pasar buku bekas itu aku sudah membayangkan udara akan panas, setelah selesai, kami bertiga berjalan bersama-sama mengarah ke pintu utama di pasar buku bekas.

*

Saat berjalan menuju pintu utama, di mana Daras berada di antara aku dan istriku, aku mengenang segala masa mudaku yang selalu kuhabiskan di tempat ini, selepas pulang kuliah beberapa tahun lalu. Kini, dua tahun sudah aku jarang mengunjungi pasar buku ini, sebab begitu padatnya pekerjaan, meskipun masih dalam satu kota! Entahlah, aku selalu tak mengerti dengan keadaan itu.

“Selamat datang di rumah keduamu, sayang,” kata istriku, disertai simpul senyuman yang mendinginkanku.

“Aku benar-benar merindukannya.”

Akhiran ‘-nya’ di sini, yang kumasudkan adalah Abah Tanzin, seorang pedagang buku bekas di salah satu toko. Ia telah berdagang buku bekas selama tiga puluh tahun lebih. Dari toko bukunyalah satu-persatu para pelanggannya banyak yang telah berhasil. Ia adalah orang yang memunculkan bibit-bibit semangat para pemuda yang larut dalam problem dunia. Orang tua itu tak sekedar berdagang, namun adakalanya ia bersikap seperti ayah, bahkan sahabat. Ia, mengingatkanku, pada sosok tokoh Tjokroaminoto. Di masaku, ada banyak para pemuda-pemuda yang memiliki minat belajar tinggi dengan berbagai bidang keilmuan, yang mana para pemuda itu sering membeli buku darinya. Tak hanya itu, ia pun sering mengajak berdebat para pembeli muda yang tengah merasakan kehausan menikmati setiap teks di lembaran-lembaran yang menguning. Apabila Ramdan adalah intelektual yang dilahirkan dari lingkungan akademisi, namun beda halnya dengan Abah Tanzin, ia adalah intelektual yang tak pernah mengenyam bangku sekolah. Pernah ketika aku mulai keranjingan ke toko bukunya, lalu ia menceritakan pengalaman hidupnya kepadaku. Ada yang menarik saat itu, jadi, saat ada sebuah buku bekas yang belum akan dijual, ia pelajari lebih dulu buku tersebut dan dicatatnya. Melalui catatan itu, ia pelajari dengan seksama. Ia punya satu metode khusus untuk memahamkan berbagai buku-buku dari berbagai disiplin ilmu, dan hebatnya, ia pelajari secara sendiri.

Puluhan orang berlalu-lalang, kesana-kemari, dan saling berjalan cepat. Kedua tanganku menggendong Daras, sementara istriku berjalan di belakangku. Di dalam pasar buku, terdapat sebuah tempat terbuka di tengah-tengahnya, di mana ada tiga sisi yang memiliki tiga lorong, pun dengan yang berada di lantai dua. Uniknya, di pasar buku ini, pedagang buku, selalu memiliki selera jualnya sendiri-sendiri. Pak Alimin, yang berada di sekitaran daerah kiri fokus menjual tentang buku-buku sejarah kuno. Om Lin—orang yang pertama kali mengenalkanku pada puisi-puisi Ho Chi Minh, Catatan Harian Dalam Rumah Penjara—berada di sekitaran daerah kanan, ia senang menjual buku-buku politik dan ekonomi. Sementara Abah Tanzin, berada di bagian daerah yang menjorok di tengah, agak lebih kedalam, porsi besar diberikan pada buku-buku yang berhubungan dengan sastra, namun ia juga menjual berbagai buku dalam disiplin ilmu lainnya, dan Abah Tanzin adalah seseorang yang pandai dalam merangkul, tak hanya untuk orang-orang tua, atau anak-anak muda.

Kedua mata kecil Daras mengarah ke segala arah. Dia melihat dengan penuh kebingungan pada aktivitas orang-orang di pasar buku bekas ini. Sebab, inilah kali pertama dia kuajak pasar buku ini, bersama dengan istriku, yang telah dua kali kuajak kemari. Singkatnya, aku melihat sesosok orang tua dengan memakai kaos putih, dan memakai peci beludru putih, dan tengah membaca surat kabar.

“Abah…” sapaku, saat dibelakangnya.

Lalu ia memutar badannya, membenarkan kembali kacamatanya, dan memandangku dengan terus menerus. Kedua matanya menyipit seakan-akan bertanya siapakah orang yang mengganggu ketenangan membacaku. Lalu Abah Tanzin meletakkan surat kabarnya, dan berkata:

“Kau…!”

Aku tersenyum, aku menurunkan Daras dari gendonganku, dan kemudian bergerak maju perlahan-lahan dan memeluknya erat-erat, seakan-akan seperti seorang ayah dan anak yang dipisahkan oleh jarak karena kesibukannya masing-masing.

Lalu ia merengangkan pelukanku, dan berkata, “Oh…beginikah caramu? Sejak karya terjemahan pertamamu laku keras dua tahun lalu, kau tak pernah menjengukku kembali. Kau tahu betapa kesepiannya aku, tak ada lawan bicara sepertimu! Kau tak tahu terima kasih! Kau tak ingat sejarahmu sendiri, hah…!”

Dan, aku tak dapat menahan haru. Demikianlah, karakter Abah Tanzin. Mungkin, jika ada seseorang yang pertama kali mengenalnya, ia terlihat kaku, namun justru di balik kekakuan itu, ia menyimpan kelembutan yang hangat. Aku, juga Abah Tanzin, kemudian tertawa bersama-sama. Daras serta istriku diambilkannya kursi-kursi berbahan plastik. Di lorong sempit itu, kami mulai mengundang kembali kerinduan lama. Sesekali, bila ada pembeli, ia melayaninya.

“Sungguh, kau benar-benar beruntung mendapatkan wanita seperti Nak Ayu ini.” katanya tegas, mulai meminum kopi yang menyisakan setengah gelas, lalu dia menoleh ke istriku, dan melanjutkan, “kuberitahu kau, Nak Ayu, dulu suamimu pernah kudidik di sini.’

Kami pun terjebak dalam masa silam.

“Ke mana, Bu?” tanya Daras, saat istriku berpamitan, untuk mencari buku resep masakan Eropa dan Indonesia di toko bekas lain. Daras ikut melenggang pergi bersama istriku. Kedua permata hatiku itu pun menghilang dibalik lalu-lalang orang-orang yang datang dan pergi.

*

Satu jam waktu yang kuhabiskan untuk menggelar kembali saat-saat aku melakukan pencarian diri melalui buku-buku bersama Abah Tanzin. Sampai kemudian dua permata hatiku tiba.

“Yah, lihat!

Daras menunjukkan dua buku ensiklopedia Charlie Brown berbahasa Inggris. Lalu, kami pun berpamitan pada Abah Tanzin. Namun, orang tua itu menahan kami, seakan-akan tak pernah ada waktu lagi untuk bertemu. Akan tetapi aku berjanji ditengah-tengah kepadatan aktivitasku, akan kuselakan untuk menemuinya.

Daras masih asyik membuka-buka buku Charlie Brown. Gadis kecil berponi ini kusuruh untuk bersalaman dengan Abah Tanzin. Ajaibnya, dia tak malu dengan orang tua ini.

“Siapa namamu gadis kecil?”

“Daras.”

“Daras. Artinya membaca, kan,” kata orang tua ini yang kemudian tersenyum memandang aku dan istriku.

“Nama yang singkat, namun punya makna yang dalam,” ujarnya kemudian.

Kami bertiga pun menyudahi pertemuan dengan orang tua ini.

*

Beberapa meter setelah meninggalkan pasar buku bekas, di dalam mobil, kulihat istriku tengah terlelap memangku buku-bukunya, kulihat dia membeli, dua buku resep masakan Eropa, satu buku resep masakan Indonesia, satu buku teori psikologi, dan satu psikologi untuk anak autis. Sementara, melalui kaca dalam mobil, di kursi belakang, kulihat Daras sedang asyik mengamati gambar-gambar karakter-karakter Peanuts.

“Yah lihat Snoopy, yah, lihat, haha…”

Sesekali, dalam perjalanan pulang ini, kubayangkan betapa indahnya akhir pekan ini. Benar-benar akhir pekan yang tak lazim seperti keluarga lainnya, yang lebih memilih ke pantai, atau gunung. Istriku bertemu dengan kawannya, Alinka. Aku bertemu dengan orang yang memberikan warna terang dalam pencarian diri di masa mudaku dulu, Abah Tanzin. Dan Daras bertemu dengan kawan imajinasinya, Charlie Brown. Ah, betapa membahagiakannya ini.

“Maaf, aku hanya bisa melakukan ini untukmu, Daras, sayangku,” kataku dalam batin.

Lalu kami telah berada di depan rumah, saat matahari sore muncul disertai burung-burung yang akan kembali ke sarangya melalui langit-langit dunia.

 

 ***

*Mohammad Hatta, Untuk Negeriku Sebuah Otobiografi: Berjuang dan Dibuang, Hlm. 97.