AJI TEKAD

Seperti halnya seorang balerina kecil yang sedari tadi, telah dengan anggun, memakai leotard, tutu, dan soft shoes; yang mana kedua bola mata mungil itu sedang asyik memandang sekaligus mempelajari gerakan plié dan pointe dari guru wanitanya; pun denganku saat asyik memandang sekaligus memplejari olah pikir guru-guru yang tak kukenal seperti mbah kakung Suryomentaram dan mbah kakung Sosrokartono melalui petuah-petuah jawa mereka. “Ajinipun inggih mboten sanes naming aji tekad.”

Iklan

PADA SUATU KETIKA, DIALOG JULIA DAN MARTHA.

Dialog ini dibuat ketika aku mendapatkan satu pertanyaan dari seorang kawan, “Mengapa kau sering mengutip para tokoh dan menjejalkannya ke dalam diri sendiri, tak bisakah kau menjadi dirimu sendiri?” Kemudian, aku termenung cukup lama, sangat lama. Perasaan yang bertaut dengan pikiran, lalu menuntunku ke tuts laptop, dan kedua jari telunjukku seperti tersihir untuk mengkonstruksi sebuah dialog.

***

Di sebuah komplek perumahan. Di sebuah rumah bercat cokelat muda. Di ruang keluarga. Dua wanita, Julia dan Martha, sedang berdialog:

(Suara host infotainment di teve)

J: Tha, sejujurnya, aku iri denganmu. Kau punya suami yang setia seperti Santon. Tak seperti suamiku yang kemarin kudapati berselingkuh bersama rekan kantornya.

M: Iri? Maksudmu?

J: Ya, bagiku Santon adalah suami ideal. Meski ia pendiam, namun ramah dan hangat pada wanita, dan tentu saja sederhana. Yah, walaupun agak kutu buku, sih!

M: (Tertawa) Justru kau yang beruntung, Ju.

J: (Terkejut) Maksudmu? Aku tak paham?

M: Menurut Dira, Agnes, atau Lala, sih, memang suamiku adalah suami ideal. Selain pendiam, juga ramah dan hangat pada wanita, dan membebaskan apapun yang aku sukai. Namun, ada satu hal yang perlu kau tahu?

J: (Penasaran) Apa itu?

M: Para tokoh idolanya. Kau tahu, aku hanya ingin Santon menjadi dirinya sendiri. Bagiku, ia punya lima kepribadian yang tak pernah mampu kulacak. Adakalanya ia seperti novelis X. Adakalanya ia seperti filsuf H. Adakalanya ia seperti pelawak N. Adakalanya ia seperti musisi O. Dan bahkan, adakalanya ia seperti tokoh agama P. Kau lebih beruntung daripada aku, Ju.

J: (Bingung) Sumpah, aku tak paham, Tha?

(Hening)

M: Tak ada yang perlu dipahami, Ju. Tak ada. Ah, betapa para tokoh idolanya itu menyiksaku. (Dalam hati). Ya Tuhan, maafkan aku. Santon, sayangku, maafkanlah aku.

(Lalu Martha dan Julia ke dapur, memasak bersama, melepaskan beban mereka.)

KUBERIKAN MALAM (PLAYDOUGH), KAU CIPTA BONEKA SALJU.

Dua jarum pada jam dinding di kamar kerja, menunjukkan pukul sembilan malam, dan suara-suara yang dihasilkannya menemani kesendirianku. Istriku sedang berada di kamar Daras untuk membacakan fabel favoritnya, lomba lari antara kura-kura dan kelinci, dan kemudian menemaninya tidur.

Aku masih berdiam diri di dalam kamar kerja, memangku dagu dengan kedua tangan yang tergenggam erat di atas meja, dan sedang tak berselera untuk menyentuh kamus-kamus bahasaku, artikel-artikel, bahkan melanjutkan terjemahan pada satu buku yang sedang kukerjakan setengah tahun ini, setelah mencari data tentang satu tokoh Islam termahsyur, Muhammad Iqbal.

Kucoba melakukan aktivitas lain yang membuang-buang waktu yakni melamun—sebuah lamunan yang dulu sewaktu muda sering kulakukan setelah membaca roman-roman sastrawan dunia. Pada akhirnya, lamunan liarku pada hal-hal yang aneh dan tak masuk akal menghampiriku. Saat aku melamun, seringkali aku menghadirkan sosok tokoh politik dari sebuah Partai, di satu negara yang memegang kendali dunia ini misalnya, sedang memandang dan menatap langit, serta menggumamkan harapannya dalam hati agar partai politiknya kembali menang di pemilu selanjutnya; bersamaan dengan itu, di tempat lain, kuhadirkan seorang pedagang makanan ringan yang sedang memandang langit, serta mengumamkan harapan untuk kejelasan nasibnya serta puluhan pedagang lainnya atas keadaan yang akan segera dialaminya, sebab tempatnya berdagang selama berpuluh-puluh tahun akan digusur dengan datangnya investor-investor ambisius. Ya, demikianlah caraku membuang waktu.

Lalu sorot cahaya komputer tua menyala di depanku pelan-pelan membuyarkan lamunanku. Cahaya itu juga menerangi sisi kanan dan kiri. Pancaran cahaya di sisi kiri membentur sebuah benda kecil. Pandanganku menangkap bayang-bayang benda kecil, sehingga menggerakkan rasa penasaran, tubuhku mendekat, dan mengambilnya.

Playdough Daras?,” tanyaku dalam hati. Aku pun mengambil mainan playdough yang berbentuk siput, dan kemudian duduk sambil memandang mainan gadis kecil berponi itu. Aku mengingat-ingat kembali mengapa mainan ini bisa sampai di sini.

“Ah, ya, aku ingat sekarang,” seruku, pelan.

*

Playdough–sebuah mainan yang mana pada masa kecilku sering disebut dengan ‘Mainan malam.’ Mainan itu dulunya sering kumainkan bersama dua kakak perempuanku. Dan gadis kecil berponi itu memang sengaja kuberikan playdough untuk merangsang kreativitas serta imajinasi dalam dirinya sejak dini, dan tentu saja dia senang bukan main.

Pernah, saat pertama kali memainkan playdough, Daras senang jika kubuatkan seekor siput, dengan dua bola mata yang lebih besar daripada cangkangnya.

“Tapi mana ada siput seperti ini, Ras,” jelasku.

“Ah…bagus, Yah, bagus,” rengeknya.

Aku tak dapat menggugatnya kembali.

Pernah juga, saat dia sedang bermain playdough bersama istriku, dia senang dibuatkan sebuah apel merah Newton—Daras mengenal apel merah Newton setelah kubelikan cerita bergambar anak-anak tentang biografi Newton.

“Bu, apel kakek Newton. Ya, Bu.”

“Baiklah, tapi playdough-playdough merahmu kurang jika harus mirip seperti milik kakek Newton,” lanjut istriku.

“Ah…apel kakek Newton, Bu,” gadis kecil berponi bersikukuh.

Sungguh, aku dan istriku kewalahan mengatasi keinginan imajinasi liar dalam diri gadis kecil berponi itu.

*

Sore tadi, saat aku sedang mencari data serta bahan-bahan tentang gagasan ego kreatif dari Muhammad Iqbal, untuk membantu seorang kawan dalam mengerjakan jurnal Islam yang akan diadakan di tempat diskusinya. Mendadak Daras menyorong pintu kamar kerjaku dengan keras, dan tentu saja itu mengagetkanku. Sambil berjalan perlahan-lahan menujuku, dan memegang playdough siput mata besar, dia berkata bahwa ingin segera membersihkan diri. Lalu aku menyanggupinya, dan menyuruhnya untuk meletakkan mainannya di atas mejaku. Aku memegang tangan kecilnya dan melangkah bersama ke luar kamar kerjaku.

Kusuruh dia melanjutkan permainannya, saat aku menuju dapur untuk menjerang air. Semenit kemudian, suara desisan yang disertai uap, menandakan air telah mendidih. Aku segera menuju ke kamar mandi, menuangkan air panas, dan mencampurnya dengan air dingin, di bak mandi Daras. Tangan kanan kumasukkan, dan kurasakan bahwa air telah hangat.

“Sudah! Cepat mandi, Ras.”

Namun aku tak mendengar jawabannya. Kualihkan pandanganku ke ruang keluarga. Daras masih asyik dengan satu mainannya. Aku mendekat padanya dan kulihat kedua tangan kecilnya memutar sebuah playdough seukuran kelereng. Benda itu terus-menerus diputar di sela-sela kedua telapak tangan dan tanpa henti.

“Nanti dingin, Ras! Ayo cepat sebelum ibu pulang!”

Daras tak menjawab. Setelah playdough seukuran kelereng itu jadi, lalu ditempelkan ke atas playdough bekas apel newton. Dua bulatan lain yang lebih kecil, diambilnya dan tempelkan ke playdough sukuran kelereng, sehingga membentuk seperti orang-orangan.

“Kau sedang buat apa, sih?” tanyaku.

“Lihat, Yah,” pamer Daras.

“Apa itu?”

“Boneka salju yang diceritakan ibu.”

Aku tertawa geli. Sejujurnya, tak kulihat bahwa apa yang dibuat gadis kecil berponi itu menyerupai boneka salju. Namun, paling tidak, aku senang saat dia telah mampu membuat sesuatu yang dia ciptakan, berdasarkan apa yang dia pikirkan dan rasakan.

Daras berdiri, mendekat kepadaku, dan segera kulepaskan pakaiannya. Langkah-langkah kecil itu dengan cepat menuju ke kamar mandi, dan tak lupa sambil menenteng playdough yang menurutnya itu, berbentuk boneka saljunya. Daras telah terbiasa untuk membersihkan diri sendiri. Karena sejak istriku bekerja di luar rumah, aku bersepakat dengannya untuk mendidiknya mandiri dalam melakukan sesuatu yang sanggup dilakukannya sejak dini. Meskipun pernah ide itu sempat ditentang oleh orang tuaku dan juga orang tua istriku. “Belum saatnya!” bantah mereka.

Kecipak-kecipak air terdengar dari kamar mandi.

“Kamu juga harus pakai sabun, ya,” kata Daras pada boneka saljunya, kemudian melanjutkan, “biar wangi kata ibu.”

Aku melihat apa yang dilakukan Daras dari jauh. Dia terus-menerus melakukan monolognya pada playdough boneka salju, seakan-akan mainan itu adalah benda hidup dan memiliki nyawa. Entahlah, demikian rumitnya pikiran anak sekecil Daras. Lima belas menit kemudian, Daras masih tak beranjak dari bak mandinya.

“Sudah belum, Ras.”

Lalu terdengar suara deru mesin mobil di luar. Ya, istriku telah pulang dari bekerja. Beberapa saat kemudian, istriku masuk ke dalam rumah dan bertanya di manakah gadis kecil itu.

Aku menjawab, “Tuh, sama teman barunya.”

“Oh, ada teman Daras? Siapa? Kok di kamar mandi?”

Saat istriku dipenuhi rasa penasaran, dan akan melangkah ke kamar mandi untuk menemui Daras. Kupegang tangan kanan istriku.

“Biarkan, coba lihatlah,” kataku.

Aku dan istriku menggeser posisi kami agar lebih leluasa melihat yang dilakukan Daras.

“Kau nakal sekali, sayang. Kau biarkan puterimu melakukan kegilaannya,” seloroh istriku, disertai canda.

“Dia sedang berlatih monolog, siapa tahu dia seperti Charlie Chaplin.”

“Oh ya, itukan maumu. Dasar!” tegas istriku, sambil mencubit mesra pinggangku.

Kami pun tertawa kembali, ketika kepala playdough boneka salju itu jatuh ke dalam bak mandi, dan gadis kecil berponi itu berulang kali menancapkan bagian kepala dari mainan itu berkali-kali namun tak berhasil. Pada akhirnya, dia menyerah dan membiarkan mainan itu di dalam bak mandinya.

“Yah, handuk!”

Lalu istriku mengambil handuk dan menemui Daras. Sementara aku kembali ke kamar kerjaku melanjutkan pencarian data.

*

Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh. Di tangan kananku, siput mata besar masih kumainkan dan sedikit tersenyum geli melihat bentuknya.

Sampai pada akhirnya, aku teringat oleh sebaris syair Iqbal saat mencari data tentangnya: “Kau ciptakan malam, kuciptakan lentera.” Bagiku sebaris syair itu memiliki substansi yang amat dalam. Di mana kata ’cipta’ telah diturunkan oleh-Nya ke dalam setiap manusia melalui potensi-potensi yang semestinya terus-menerus dicari dan ditemukan di dalam diri itu sendiri. Hingga beruntunglah pada manusia yang terus-menerus mencari dan mengasah ego kreatifnya yang dinamis di dalam dirinya, seperti ketika aku melihat Daras membuat ciptaannya secara spontanitas dan apa adanya, yang kusaksikan sore tadi.

Aku meninggalkan kamar kerja dan menemui gadis kecil berponi dan istriku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

François Hardy et Sa Chanson

 

François Hardy adalah penyanyi wanita idola di Prancis buatku. Aku menyukai salah satu lagunya: Même Sous La Pluie. Bagiku, lagu ini tentang suatu penantian, kesetiaan, dan kepasrahan. Aku sering mendengarkan lagu ini di mana saja dan aku suka kata-kata ini:

seperti seekor burung di dalam angin / pada sekembalinya musim semi, cintaku / aku menantimu, cintaku, aku menantimu // namun aku bisa melupakanmu, cintaku / jika aku menantimu kembali terlalu lama

 ***

François Hardy est une idole chanteuse de France pour moi. J’aime l’une des ses chansons: Même Sous La Pluie. D’après moi, ce chanson au sujet de la loyautè, l’attente, et l’abandon. J’etends souvent ce chanson partout et j’aime dans ces paroles:

Comme un oiseau dans le vent / Au retour du printemps, mon amour / Je t’attends, mon amour, Je t’attends // Mais je pourrais t’oublier, mon amour / Si trop longtemps, j’attendais ton retour

Deux Oiseaux

cropped-bif-tam-image-11.jpg

Ada dua burung sedang terbang di bawah langit, sangat tinggi. Tiga puluh menit kemudian, mereka kelelahan dan turun. Lalu, mereka menuju ke sebuah pohon. Mereka selalu bersama dan saling menyayangi.

Il y a deux oiseaux sont s’envoler sous le ciel, très grand. Trente minutes plus tard, ils son aller vers un arbre. Ils sont toujours ensemble et s’aimer.

Rendez-vous Avec Hugo

hugo

(Indonesia) Aku berkata kepada diriku sendiri:–Sekarang semua keperluan untuk menulis telah tersedia, kenapa aku tidak melakukannya? Tapi apa yang akan kutulis? Terkungkung di antara empat tembok batu dingin tanpa hiasan apa pun, tanpa kebebasan melangkah, tanpa cakrawala yang bisa kupandang, dan pelipur lara satu-satunya hanyalah menyibukkan diri tanpa berpikir mengikuti pantulan cahaya yang masuk melewati lubang pintu sel dan membentuk persegi keputih-putihan yang merayap pelahan di tembok suram di hadapannya dan, seperti kukatakan barusan, seorang diri berhadapan dengan suatu pikiran, pikiran tentang kejahatan dan hukuman, pembunuhan dan kematian! Adakah yang bisa dikatakan oleh orang yang tidak mempunyai apa-apa lagi untuk dilakukan di dunia ini? Dan apa ada yang berharga untuk dituliskan di dalam otakku yang telah layu dan kosong ini?

Kenapa tidak? Meski semua yang berada di sekelilingku monoton dan tidak berwarna, bukankah di dalam diriku terjadi badai, pergulatan dan tragedy? Pikiran yang selalu sama, yang menguasai diriku saat ini, tidakkah ia menampakkan dirinya terus kepadaku dalam bentuk yang selalu berubah, menjadi semakin mengerikan dan semakin berlumuran darah seiring dengan semakin mendekatnya waktu yang telah ditentukan? Kenapa aku tidak mencoba mengatakan kepada diriku sendiri mengenai semua yang kurasa kejam dan asing di dalam keadaan terlantar ini, di mana aku berada sekarang? Pasti banyak bahan, dan sesingkat apa pun hidupku, pasti masih akan ada sesuatu di dalam kekhawatiran, ketakutan, dan siksaan, yang akan mengisi hidupku ini, dari sekarang hingga akhir, yang akan mengusangkan bulu-bulu pena dan mengeringkan botol tinta.—Selain itu, satu-satunya cara untuk mengurangi was-was ini adalah dengan mengamatinya. Melukiskannya akan membuatku melupakannya.

Lagi pula, yang akan kutuliskan ini barangkali ada gunanya. Catatan harian tentang penderitaanku ini, jam demi jam, menit demi menit, siksaan demi siksaan, bila aku mempunyai kekuatan untuk menuliskannya sampai secara fisik aku tidak bisa lagi meneruskannya, meneruskan cerita yang pasti tidak akan terselesaikan ini, namun selengkap mungkin, mengenai perasaan-perasaanku, tidakkah nantinya ia akan menjadi suatu pelajaran yang hebat dan mendalam? […]

(Prancis) Je me suis dit:–Puisque j’ai le moyen d’écrire, pourquoi ne le ferais-je pas? Mais quoi écrire? Pris entre quatre murailles de pierre nue et froide, sans libérte pour mes pas, sans horizon pour mes yeux, pour unique distraction machinalement occupé tout le jour à suivre la marche lente de ce carre blanchatre ue le judas de ma porte decoupé vis-à-vis sur le mur sombre, et, comme je le disais tout à l’heure, seul à seul avec une idée, une idée de crime et de châtiment, de meurtre et de mort! Est-ce que je puis avoir quelque chose à dire, moi qui n’ai plus rien a faire dans ce monde? Et que trouverai-je dans ce cerveau flétri et vide qui vaille la peine d’âtre écrit?

Pourquoi non? Si tout, autour de moi, est monotone et décoloré, n’y a-t-il pas en moi une tempête, une lute, une tragédie? Cette idée fixe qui me possède ne se présente-t-elle pas à moi à chaque heure, à chaque instant, sous une nouvelle forme, toujours plus hideuse et plus ensanglantee à mesure que le terme approche? Pourquoi n’essairais-je pas de me dire à moi-meme tout ce que j’éprouve de violent et d’inconnu dans la situation abandonée où me voilà? Certes, la matière est riche; et, si abrégée que soit ma vie, il y aura bien encore dans les angoisses, dans les terreurs, dans les tortures qui la rempliront, de cette heure a la dernière, de quoi user cette plume et tarir cet encrier.—D’ailleurs, ces angoisses, le seul moyen d’en moins souffrir, c’est de les observer, et les preindre m’en distraira.

Et puis, ce que j’écrirai ainsi ne sera peut-être pas inutile. Ce journal de mes souffrances, heure par heure, minute par minute, supplice par supplice, si j’ai la force de le mener jusqu’au moment où il me sera physiquement impossible de continuer, cette histoire, nécessairement inachevée, amis aussi complète que possible, de mes sensations, ne portera-t-elle point avec elle un grand et profound enseigment? […] (1)

*

Pada pukul sebelas malam, setelah beberapa saat tanah kota Yogyakarta di guyur hujan. Aku masih bertahan di hadapan sebuah roman dari seorang penulis Prancis di abad kesembilan-belas, ijinkan aku menyebut namanya, Victor Hugo. Dan, aku tak pernah tahu apakah kau pernah menikmati karya Hugo dalam bentuk roman atau adaptasi film.

Yang ingin kuceritakan adalah perihal apa yang telah kuketik ulang di atas, di sebuah roman bilingual yang kupinjam dari sebuah rak buku, di sebuah tempat saat aku sedang menempuh pendidikan untuk belajar budaya serta bahasa dari negeri Hugo, dengan terbata-bata serta tergagap-gagap. Kau tahu, ini adalah kali kedua aku membaca roman yang berjudul, Hari Terakhir Seorang Terpidana Mati (Le Dernier Jour d’Un Condamne.) Jauh sebelum ini, beberapa tahun lalu, di salah satu rak buku, di perpustakaan kota Malang, aku telah berkenalan dengan penulis ini untuk kali pertama, dengan roman yang sama.

Pada pukul sebelas malam, setelah beberapa saat tanah kota Yogyakarta di guyur hujan, aku membaca roman Hugo kembali. Halaman demi halaman kunikmati benar. Kutenggelamkan diriku ke dalam teks di dalam roman ini. Lalu aku mencapai pada halaman ke 12 sampai ke 14. Saat aku membacanya di halaman-halaman tersebut, kupejamkan mata, dan mengingat apa yang pernah kau tulis di sebuah ruang lain, di saat Sang Waktu mempertautkan kita kembali setelah bertahun-tahun terpisah, dan secara tak sengaja aku menemukan tulisan singkatmu, dan demikianlah kau menulis, ‘aku tak pernah mampu mengungkapkan dengan baik dan iri dengan cara bagaimana orang-orang mengungkapkannya melalui tulisan.’

Kau tahu, saat aku mengingat apa yang pernah kau tulis, waktu berjalan amat lambat. Beberapa detik kemudian, aku memandang teks di halaman itu. Apakah kau membaca atau tidak apa yang telah kuketikkan-ulang untukmu ini, aku tak terlalu ambil pusing. Aku percaya, suatu saat Sang Waktu akan membuatmu menemukan, membaca, dan memahami, apa yang telah kulakukan semua ini untukmu, seperti saat kita terpisah bertahun-tahun yang lalu. Lalu apabila kau punya sedikit waktu di antara rutinitas yang tak membiarkanmu untuk merefleksikan dirimu sejenak, curilah sedikit waktu, pilihlah tempat yang paling nyaman, bersama musik yang kau sukai, dan bacalah apa yang telah Hugo tulis dalam karakter utama saat berada di dalam penjara, sendiri, dan tengah menantikan hukuman mati:

Kenapa aku tidak mencoba mengatakan kepada diriku sendiri mengenai semua yang kurasa kejam dan asing di dalam keadaan terlantar ini, di mana aku berada sekarang? /…/ mengenai perasaan-perasaanku, tidakkah nantinya ia akan menjadi suatu pelajaran yang hebat dan mendalam?.

Toh pada akhirnya, yang perlu kau garis-bawahi adalah satu kata yang Hugo tulis, mencoba. Terus dan terus. Aku tahu kau sebenarnya menyukai dunia kata dan bahasa, dan percayalah bahwa kau memiliki suatu potensi yang harus kau kembangkan sendiri. Ya, hanya kaulah yang mampu. Namun, dari tulisan singkatmu yang pernah kubaca, kau tak pernah bisa (atau tak ingin?) membebaskan sebuah rasa yang kau alami, kau telah memenjarakan rasa itu. Kau, juga aku, memiliki problem yang sama. Kita terbelenggu oleh dinding-dinding yang kita ciptakan di dalam diri kita masing-masing.

Hal kecil inilah yang bisa kulakukan untukmu, dengan sejujurnya. Dan, kenapa kau tak coba untuk memulainya kembali, mengambil perangkat-perangkat tulismu, lalu tuliskan kepadaku tentang destinasimu ke benua biru dulu, tentang bagaimana kau menyukai birunya air, atau tentang banyak hal yang tak kuketahui tentangmu, dari dalam hati kecilmu, secara sederhana dan sebenarnya.

Doa terbaik selalu kutujukan untukmu, dari tempat yang jauh.

 

nb:

1. Diketik-ulang dari roman bilingual, Hari Terakhir Seorang Terpidana Mati (Le Dernier Jour d’Un Condamné) karya Victor Hugo; tr. Prancis-Indonesia oleh M. Lady Lesmana.

2. Mengetik bersama mengudaranya Parallel Highway milik God Is An Astronaut yang menyesaki setiap sudut kamar.

 

 

Ganzo dan Air Mata Simpati

  • Untuk seorang wanita tangguh yang kukagumi

We promise with a view to hope, but the reason to “accomplish” what we promised would be fear – te’

Ganzo berdiri di tengah-tengah busway yang akan membawanya ke tempat tujuan. Untuk sampai ke tempat tersebut, ia harus melewati dua halte lagi. Saat ini bus berhenti di halte X. Pintu bus dan pintu halte terbuka bersamaan. Lima orang ke luar, dan tujuh orang masuk. Tak kurang dari semenit saat  busway akan melaju dan menutup pintu, seorang penjaga berkata, “tunggu-tunggu.”

Pintu busway terbuka lebar kembali. Dan tampaklah seorang pria bertubuh kecil, mengenakan kacamata bundar, berpakaian rapi, dengan rambut belahan pinggir, namun dengan raut muka yang tua, serta sebuah tongkat di tangan kanannya untuk menyangga kakinya yang pincang. Pria itu masuk, dan berdiri di dekat Ganzo.

Keadaan di dalam busway penuh sesak, bau keringat tubuh bercampur dengan bau pewangi dalam busway itu. Lalu Ganzo menolehkan kepalanya. Kedua mata Ganzo memandang ke semua orang yang duduk dan seakan-akan tak melihat kehadiran pria cacat itu. Mereka semua yang duduk menegasikan kehadiran pria cacat itu. Ganzo memandang sinis pada mereka semua yang tak ingin membagikan bangkunya pada pria cacat disebelahnya. Mereka adalah  orang-orang yang membaca koran, orang-orang yang membaca buku, orang-orang yang mendengarkan musik, orang-orang yang mempercakapkan situasi kantor, orang-orang yang asyik mengobrolkan politik, dan orang-orang yang asyik membicarakan hubungan asmara mereka. Ganzo terus-menerus mengumpat dalam hati, “matikah nurani mereka”.

Bus terus melaju, melewati dua kali tikungan, kemudian berhenti di sebuah persimpangan jalan. Warna merah pada traffic light membuat busway itu berhenti. Angka merah terus mengurangi jumlahnya, dari 90 ke 0. Kemudian lampu kuning menyala, beberapa saat kemudian diikuti lampu hijau.

Melihat lampu hijau, si supir segera memasukkan gigi 1, dan busway kembali berjalan. Pada saat akan memasukkan gigi 2, mendadak seorang pengendara motor memotong jalan. Secara reflek si supir mengerem mendadak, roda-roda berdecit, serta suara klakson busway terdengar.

“Bajingan!” umpat si supir. Pria cacat jatuh ke arah Ganzo dan menabraknya.

“Anda tak apa?” kata Ganzo.

“Tak apa-apa,” kata pria cacat itu, menaikkan tubuhnya dengan menopang tongkat di tangan kanannya, dan membenarkan kacamatanya.

Ganzo memandang sinis bahkan jijik pada mereka yang duduk dan sehat.

“Apakah Anda perlu duduk?”

Pria cacat itu tersenyum geli mendengar pertanyaan Ganzo, seakan-akan senyuman itu mengatakan bahwa untuk apa kau bertanya seperti itu, kau tahu di negeri ini, di kota besar mana pun yang pernah kudiami, semua orang telah mati nuraninya, mereka tak pernah punya rasa iba kepadaku, dan aku telah terbiasa dengan kondisi hidup semacam ini, jadi kau tak perlu berbaik hati untuk menawariku duduk.

“Tak perlu,” jawab pria cacat, singkat.

Lima belas menit kemudian busway telah sampai ke halte di mana Ganzo harus turun. Pintu busway dan halte terbuka, dan Ganzo seakan berat meninggalkan pria cacat itu. Namun aktivitas menyuruhnya untuk melangkahkan kaki ke luar.

Ganzo ke luar dari halte dan memandang busway yang melaju itu, semakin kecil dan semakin kecil.

*

Pada malam harinya, Ganzo duduk termenung di jendela kamar yang dibukanya, membiarkan angin malam yang sejuk memenuhi ruangan. Ia mengingat kembali peristiwa siang tadi. Ia memunculkan kembali wajah pria cacat, memunculkan kembali wajah orang-orang yang membaca koran, wajah orang-orang yang membaca buku, wajah orang-orang yang mendengarkan musik, wajah orang-orang yang membicarakan politik, wajah orang-orang yang mempercakapkan situasi kantor, dan wajah orang-orang yang asyik membicarakan hubungan asmara mereka.

Mendadak, percikan api gelora amarah Ganzo muncul. Ia marah bukan hanya kepada orang-orang yang telah mati nuraninya itu, melainkan juga pada rasa simpati di dalam dirinya. Ia terus berpikir dan berpikir, “Mengapa aku diberikan rasa simpati yang begitu tinggi! Aku juga ingin menjadi seperti orang-orang yang telah mati nuraninya itu!” Ganzo merasa tersiksa dengan simpatinya pada pria cacat itu, sementara ia tak mampu berbuat apapun.

Setelah itu, Ganzo berdiri dan meninggalkan jendela yang terbuka, dan menuju ke meja kecilnya. Di atas meja itu, ada puluhan pensil, bolpoin, sketsa-sketsa wajah dan bangunan, beberapa kaset dan compact disc, serta perangkat keras elektroniknya yang telah menyala tiga puluh menit lalu.

Ganzo duduk, fokus perhatiannya di arahkan ke layar, sementara tangan kanannya memegang mouse, dan mengarahkan cursor ke sebuah situs blogging yang sering ia kunjungi dulu.

Laman blog itu adalah milik wanita yang pernah dekat dengannya. Seorang wanita idealis yang sering menyuarakan protes terhadap masyarakat. Dan sesungguhnya pun, Ganzo jatuh hati pada wanita idealis itu. Naas, dua tahun sudah wanita itu pergi ke eropa untuk melanjutkan studi dan tak lagi mengisi laman blognya.

“Kapan kau kembali?” tanya Ganzo, sambil membaca postingan terakhir di blog tersebut, yang bertuliskan 2 years ago, lalu ganzo melanjutkan, “aku memerlukanmu. Kumohon menulislah kembali. Aku merindukan suara-suara melalui teksmu tentang ketidak-adilan yang sering kau lontarkan. Kau tahu, bahwa, apa yang selama ini kau suarakan telah menjadi daya hidupku.”

Ganzo terdiam, ia menjambak rambutnya.

“Kumohon menulislah kembali. Kau adalah wanita yang begitu berharga bagiku. Kau tahu, aku menyukai cara pandangmu melawan dunia ini. Aku jatuh cinta pada kegigihanmu dalam mempertahankan apa yang kau yakini benar. Aku menyukai ke-keras-kepala-mu yang justru bertentangan dengan pandanganku. Kau tahu, apa yang kau tulis  adalah udara bagiku.”

Dan Ganzo mulai menangis. Menangisi simpati di dalam dirinya, menangisi pria cacat itu, menangisi orang-orang yang telah mati nuraninya, dan menangisi kenyataan bahwa suara protes wanitanya tentang masyarakat tak lagi muncul, raib, tertelan waktu dan keadaan.

Cursor tertera di atas kata-kata yang ditulis wanitanya: “Aku akan mengatakan kepada mereka semua tentang suatu kebenaran…”

Dan Ganzo terus menangis.

 

Yogyakarta, 7 Desember 2015.