AS Roma: Surat Perpisahan dari Francesco Totti.

8feb6

Totti bersama keluarganya dan kawan satu timnya (Reuters)

Francesco Totti, yang beragumen tentang pertandingan terakhirnya bersama AS Roma, minggu ini, menghadapi Genoa (3-2) telah membaca surat pada para pendukung Roma. “Aku mencintaimu”, tutup kapten itu.

 

Terima kasih Roma, terima kasih ayah dan ibu, terima kasih pada saudara-saudaraku, pada keluargaku, pada kawan-kawanku. Terima kasih pada istriku dan pada ketiga anak-anakku. Aku ingin memulainya dengan mengakhiri, melalui ucapan-ucapan terimakasih, karena aku tak tahu apakah aku berhasil membaca surat ini hingga akhir. Ini tak mungkin untuk menceritakan kisah tentang 28 tahun dalam beberapa kalimat. Aku suka melakukannya dengan nyanyian atau dengan suatu puisi, tapi aku tak sanggup. Aku telah mencoba, selama tahun-tahun itu, untuk mengekspresikan diriku dengan kaki-kakiku, dengan segalanya yang benar-benar datang kepadaku, sejak aku anak-anak.

Omong-omong, apakah kau tahu apa permainan favoritku? Jelasnya, sebuah bola, inilah hal itu. Namun pada satu momen, dalam kehidupan, kita tumbuh dan itulah saat-saat untuk mengambil suatu keputusan. Saat yang membingungkan. Inilah saat yang sama bahwa kita ingin melihat melewatinya dengan cepat pada 17 Juni 2001 (hari memenangkan gelar juara bagi AS Roma): Kita tak bisa menanti lebih lama lagi dari tiga peluit dari wasit. Aku selalu merinding ketika aku memikirkannya.

Sekarang ini, waktunya datang untuk menepuk pundakku dan berkata: “kita harus semakin meningkat, untuk esok yang akan membuat menjadi hebat, sekarang kau adalah seorang lelaki dan kau tak bisa merasakan lagi rumput dengan begitu dekat, sinar matahari di wajahmu selama kau berlari ke arah gawang, andrenalin yang kau habiskan dan kepuasan yang luar biasa”.

(…) Ingatkah ketika kau anak-anak dan kau bermimpi tentang hal-hal yang indah. Ibumu bisa membangunkanmu untuk pergi ke sekolah lalu kau ingin meneruskan tidur dan mencoba untuk melanjutkan rangkaian cerita itu, namun kau tak berhasil. Saat itu, bukanlah suatu mimpi, itulah kenyataan. Dan sekarang ini, aku tak bisa membawanya kembali, merangkainya.

Menjadi kapten di tim ini adalah kehormatan.”

Aku suka berpikir bahwa karirku akan menjadi suatu cerita untuk diceritakan padamu. Sekarang benar-benar berakhir. Aku melepaskan jersey untuk terakhir kalinya. Aku tak siap untuk mengatakan “Basta” dan tak akan pernah mungkin. Maafkan jika di saat-saat terakhir, aku tak memberikan wawancara dan menjelaskan pikiran-pikiranku dengan jelas, namun memadamkan cahaya tidaklah mudah. Sekarang, aku takut. Ini bukanlah hal yang sama ketika kau berada di depan pintu dengan yang mana ketika kau harus membuat gol pinalti. Saat-saat ini, aku tak bisa melihat melalui lubang-lubang dalam jaring, jika akan menjadi sesuatu, “setelahnya.”

Pada saat ini, aku memerlukanmu dan kehangatanmu, yang selalu kau tunjukkan kepadaku. Bersama cintamu, aku bisa terus maju dan memulai suatu petualangan baru. Sekaranglah saatnya untuk berterima kasih kepada semua kawan-kawan satu timku, staff teknik, para pelatih, para presiden, orang-orang yang bekerja bersamaku selama bertahun-tahun. Fans dan Curva Sud, satu petunjuk untuk orang-orang Romawi kita dan para supporter Roma. Dilahirkan di Roma dan menjadi suporter Roma adalah hal khusus, menjadi kapten dari tim ini adalah kehormatan. Kau berada dan akan selalu dalam hidupku: aku berhenti memberikan perasaan-perasaan dengan kaki-kakiku, namun hatiku akan selalu di sana bersamamu. Sekarang ini, aku akan menuruni tangga-tangga, aku akan masuk ke locker-room yang membawaku ketika aku anak-anak dan sekarang aku berhenti ketika telah menjadi seorang lelaki.

Aku bangga dan senang padamu yang telah memberiku cinta selama 28 tahun.

Aku mencintaimu.

: Dialih-bahasakan dari Lequipe[dot]fr.

Iklan

Ruang Lain: Sekali Lagi, Bapak Yauch.

Bila bertemu orang-orang terkasih, siapapun itu, cobalah untuk meluangkan waktu sejenak dan bertanyalah, apakah itu cinta? Tentu saja, ada banyak jawaban yang ditawarkan, bahkan diam pun juga termasuk jawaban. Namun sebelum mendefinisikan cinta, maka perlu untuk menyelam ke alam-alam cinta yang lain, salah satunya adalah alam cinta salah satu member Beastie Boys, Adam Yauch, sebagai seorang ayah dan seorang suami.

Pada tahun 1996, seorang perempuan bernama Dechen Wangdu, aktivis perempuan Tibet, melakukan puasa berhari-hari untuk menunjukkan keprihatinannya atas penahanan aktivis China, Wei Jingsheng. Setahun sebelumnya, di Universitas Harvard, Dechen Wangdu bertemu dengan seorang lelaki ketika menghadiri pidato dari Dalai Lama, dan bertemu kembali dalam konferensi mahasiswa pembebasan Tibet. Dalam dunia musik, lelaki tersebutlah yang nantinya menjadi belahan hatinya, yang kerapkali di sapa dengan Adam Yauch a.k.a MCA. Yauch muda menaruh hatinya pada kegigihan Dechen Wangdu. Hubungan mereka pun kemudian memberikan salah satu keajaiban dengan lahirnya puteri kecil mereka, Tenzin Losel, yang mana MCA, mengajak puterinya untuk mengisi sampling dalam track Shazam! dalam album To the 5 Boroughs:

I’m gonna’ tell on you!” kata Losel kecil.

Tak hanya itu, persembahan kecil penganut Buddha yang—dengan berani—membela umat Muslim pasca 911 di US itu, bagi Dechen Wangdu dan Tenzin Losel, juga dituangkan dalam gagasan feminisnya melalui rimanya, dalam track Sure Shot di album Ill Communication:

I want to say a little something that’s long overdue / The disrespect to women has got to be through / To all the mothers and the sisters and the wives and friends / I want to offer my love and respect to the end

Perjuangan Bapak Yauch pun kemudian berlanjut pada level yang lain, dalam melawan kanker. Tentu saja, pada akhirnya, Dechen Wangdu dan Tenzin Losel, harus memaknai dengan berat kata Dalai Lama, bahwa:

Kematian adalah bagian dari seluruh hidup kita.”

Relasi intim antara kata dan nada melalui mikrofon MCA, siapapun berhak menafsir MCA secara personal, termasuk sepenggal paragraf dari esai Got More Rhymes Than I Got Grey Hairs: RIP Adam Yauch milik Ucok Homicide :

Ada perasaan aneh lewat ketika saya mendapat kabar itu. Rasanya seperti ada kawan lama pergi dan sebagian memori masa muda kalian dibawa serta. Aneh, karena saya tak pernah mengenalnya secara personal.”

Pun dengan, Chris Martin dan Coldplay-nya yang menafsir MCA melalui: A tribute to Adam Yauch.

Au revoir, Monsieur Yauch, MCA.

Sejarah Panjang Film Pendek – Rebecca Davies [*]

Film pendek telah mengambil beberapa ketertarikan dalam memutar rutenya dari the Lumières ke YouTube dengan jutaan penonton, kata Rebecca Davies.

*

Pada awalnya, semua film adalah pendek. Awalnya para penonton sinema barangkali tak terlalu menyadari hal itu saat mereka terkagum-kagum pada para pelaku sirkus dalam adegan-adegan panjang, kota-kota eksotis, para nona berpakaian minim dan orang-orang yang menjalankan urusan mereka sehari-hari. Bagi mereka, kesenangan baru dan kejayaan teknologi terakhir kali dari sensasi yang dialami orang-orang itu adalah yang terpenting. Namun saat permulaan abad 20, film-film mulai menjadi lebih lama.

Film-film awal saat itu dihadirkan pada publik di tahun 1894 melalui Kinetoskop dari Thomas Edison, seperti alat peep-show [1] untuk gambaran individu. Hal inilah dan proyek-proyek film yang menyukseskan mereka, seringkali menjadi one-shot dari “aktualitas” atau “ketertarikan” bagi film-film yang melukiskan perayaan-perayaan, prosesi kerajaan, film-film perjalanan, urusan dan kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Film yang terkenal pada saat itu mungkin adalah Arrival of a Train at La Ciotat (1895) dari the Lumière brothers, yang menurut dugaan membuat para penonton melarikan diri dengan ketakutan seperti lokomotif seluloid yang meluncur ke arah mereka.

Keringkasan dari film-film one-shot itu sesuai dengan model-model pertunjukan Victorian. Saat Bryony Dixon, kurator film silent nasional di BFI dan direktur dari British Silent Film Festival, menjelaskan: “tempat penjualan utama hiburan saat itu adalah hall-hall musik dan tempat-tempat pekan raya, di mana program-program dibuat dari berbagai peran berbeda dan berlangsung sekitar 20 menit. Sebagian besar, pada awalnya, film-film meniru media hiburan lainnya yang telah ada: pertunjukan lentera ajaib, ilustrasi-ilustrasi, bermacam-macam peranan, tableaux presentations [2]. Jadi, film pendek adalah norma.

Sementara di awal tahun 1900, teknologi perekaman dan pengeditan mengalami perbaikan-perbaikan yang memungkinkan para pembuat film untuk menghasilkan lebih lama, film-film multi-shot. Beberapa film pendek yang paling berkesan di era pra film-film utama termasuk A Trip to the Moon (1902) dari Georges Méliès—sekelompok astronom yang membangun kapal ruang angkasa yang mustahil dan bertemu dengan beberapa orang-orang dari bulan yang berakrobatik—dan The Great Train Robbery (1903) dari Edwin S Porter, seringkali dikenal dengan orang Barat pertama.

Dari sekitar tahun 1910 dan selanjutnya, permintaan kompetisi studio dan para penonton mendorong para pembuat film untuk membuat lebih lama lagi, film-film multi-rol dan film utama pertama lahir. Sejak dari kontroversi DW Griffith, Ku Klux epic The Birth of a Nation (1915), yang telah jatuh dalam kenangan populer sebagai film utama pertama, dan nyatanya, itulah didahului oleh beberapa film utama yang panjang yang multi-rol dari Itali, Prancis, Denmark, dan Amerika Serikat, termasuk yang sama kontroversialnya dari Traffic in Souls (1913) dari George Loane Tucker, yang mana menghadapi perbudakan kulit putih dan prostitusi.

Film-film utama dianggap lebih terhormat daripada film-film pendek. Kompleksitas dan durasi panjang film-film utama memungkinkan mereka lebih baik dibandingkan dengan teater dan opera daripada dengan kesenangan dasar dari tempat-tempat pekan raya. Film-film utama bisa menarik bayaran yang lebih baik, sekumpulan masyarakat kelas-menengah dan membantu untuk mendanai pembangunan dari “picture palaces” yang semakin mewah selama tiga dekade selanjutnya.

Sedangkan daya tarik yang bagus dari tujuan pembangunan bioskop-bioskop itu adalah tanpa meragukan film-film utama, penyuka program sandiwara modern yang umumnya menguasai dan film-film pendek terus ditampilkan bersama news-reel dan adakalanya adegan-adegan langsung. Permasalahan ini tetap dan pada Perang Dunia Dua, ketika film-film pendek mengambil peran tambahan sebagai propaganda pemerintahan.

Dr Richard Farmer, seorang ahli bioskop era perang–pergi ke University College London, melihat periode di antara tahun 1938 dan 1945 sebagai “sesuatu titik puncak bagi film pendek di Inggris”, meskipun tak setiap orang menyukainya. “Sementara pemerintah dengan luar biasa ingin menempatkan pesan-pesannya dalam bioskop-bioskop Inggris, manajer-manajer bioskop dan para penyokong yang jauh lebih ambivalen,” katanya.

“Beberapa film-film pendek, yang khususnya menunjukkan tentara Inggris secara aktif melawan perang, terbukti sangat populer, namun terdapat juga kekhawatiran bahwa bioskop akan meningkatkan reputasi sebagai suatu ‘interfering marm’ [3] andaikata itu didedikasikan terlalu banyak waktu bagi film-film pendek pemerintahan dan tak cukup untuk film-film utama [Dominasi Amerika] di mana gambar-gambar ajaib diistirahatkan.”

Sukses Singkat.

Penyesuaian yang tak mudah di antara eskapisme film-film Hollywood dan sifat informatif (dan sedikitnya boleh jadi mengatakan munafik) dari beberapa film-film pendek dengan instrumental yang memastikan warisan mereka di bisokop-bioskop sepanjang tahun lima-puluhan dan tahun enam-puluhan.

Chris Hilton, bekas manajer umum di Odeon Leicester Square, mulai bekerja di bioskop pada tahun 1966 dan mengingatkan tentang ketidak-populeran dari beberapa film-film pendek dokumenter: “Dalam tahun enampuluhan, kau masih berkesempatan mendapatkan film-film pendek dalam program, persoalan-persoalan seperti the Rank Organisation’s Look di Life series [yang adegannya digambarkan pada ‘Swinging Britain’]. Namun kebanyakan hal itu sangat membosankan dan para penonton biasanya menggunakan film-film pendek sebagai alasan untuk singgah ke toilet atau mendapatkan sedikit popcorn.”

Perubahan-perubahan motivasi keuangan bagi program bioskop—menjejalkan beberapa sesi-sesi pemutaran dalam satu malam dan termasuk banyaknya trailer dan iklan—juga memainkan bagian mereka dalam mengusir film-film pendek. Di akhir tahun enampuluhan, film-film pendek seluruhnya hanya absen dari program-program bioskop komersil, meskipun kartun-kartun pendek terus ditampilkan pada awal film anak-anak hingga akhir tahun enampuluhan.

Konsep-Konsep Film Pendek.

Sementara film-film pendek barangkali menjatuhkan rasa suka karena bioskop-bioskop komersil, popularitas mereka tak pernah memudar di kalangan seniman-seniman visual, yang awalnya bereksperimen dengan film-film pendek di tahun duapuluhan. Film selalu menjadi anak mengerikan dari seni dunia—beberapa kritikus masih saja bersengketa apakah film harus dianggap sebagai seni—jadi, mungkin, tak mengejutkan bahwa beberapa seniman pemberontak dari ratusan tahun yang lalu sangat ingin merangkulnya.

Termasuk para surealis semacam Luis Buñuel dan Salvador Dalí—yang mengiris bola mata dalam Chien Andalou (1929) yang tetap menjadi ikon sampai sekarang ini; para avant-garde di tahun enampuluhan semacam Agnes Varda dan Chris Marker di Prancis, dan Andy Warhol di Amerika Serikat; dan seniman-seniman video terbaru semacam Bruce Nauman dan Steve McQueen.

Nathaniel Mellors adalah salah satu seniman multimedia yang paling inovatif yang berkarya di Inggris hari ini dan baru-baru ini menciptakan film pendek yang mewakili “seni kontemporer” untuk The Seven Ages of Britain series di BBC. Ia mengatakan bahwa ia mendapati kebebasan karena film-film pendek: “Seniman-seniman tak dipegang kembali oleh nilai produksi yang diperlukan pada bioskop atau televisi. Dan mereka biasanya tak mempelajari film dalam arah akademik apapun, jadi mereka seringkali membawa suatu frame yang berbeda pada perefrensian, seperti seni konseptual, pertunjukan atau lukisan bagi karya mereka—bisa menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk.”

Bintang-Bintang Video.

Sejak tahun 1981 dan kelahiran MTV, video musik juga mewakili suatu alternatif jalan keluar bagi pembuat film pendek. Tim Pope, yang menyutradarai video-video bagi musisi beragam seperti The Cure, the Bangles dan Neil Young, percaya bahwa video musik menciptakan jenis baru bagi pembuatan film pendek.

“Dengan video musik, narasi yang mengikuti irama lagu, terdapat sedikit kebebasan. Aku selalu sangat hati-hati untuk tak memaksakan kebutuhanku untuk membuat film ke video,” katanya.

Pope juga percaya pada gaya irama cepat dalam editing terkait dengan video-video musik yang telah memberi makan kembali dalam jenis-jenis lain dari pembuatan film, termasuk film-film pendek, dan sebaliknya telah mengubah jalan orang-orang yang mengonsumsi dan mengapresiasi film: “Pada tahun delapanpuluhan, aku biasanya mendapatkan pemberitahuan oleh MTV untuk memotong videoku yang terlalu cepat. Namun aku berpikir bahwa orang-orang itu bisa memakan waktu lebih banyak yang jauh lebih cepat. Video musik pastinya telah terpengaruhi oleh tampilan dan bahasa dari pembuatan film secara umum.”

Tahun sembilanpuluhan menjadi suatu penunjuk dekade bagi pembuatan film pendek dan berterima kasih pada pemberian kedatangan—dan akhirnya digital—alat-alat rekam, yang ringan dan mudah untuk digunakan. Inilah yang menyebabkan kebangkitan dalam pembuatan film yang independen, terutama film-film pendek, yang umumnya lebih murah dan lebih sedikit tuntutan dalam pembuatan dari film-film utama.

Martina Amati, yang memenangkan Bafta tahun ini untuk film pendeknya, I Do Air, mulai berkarya dengan video sekitar waktu itu dan sekarang pendukung yang gigih dari keuntungan digital. “Dengan digital, kau bisa langsung men-shooting hingga editing ke komputer. Ini membuatnya lebih praktis dan menyenangkan, dan kau bisa mencapai keintiman dan pertunjukan-pertunjukan yang spontanitas,” katanya.

Philip Ilson, direktur dari the London Short Film Festival, juga mulai membuat dan menampilkan film-film pendek di pertengahan tahun sembilanpuluh dan mengacu pada era ini sebagai “periode tahun kosong.” “Mendadak murah dan mudah untuk membuat film. Itulah kesamaan bagi pemutaran dan inilah pertama kalinya ketika proyektor video portable bisa disiapkan di mana saja dengan sheet di dinding hingga layar menyala,” katanya.

Renaissance.

Film-film pendek selalu diperlakukan sebagai sesuatu dari sepupu miskin dari film-film utama pada festival-festival film besar seperti Venice dan Cannes. Namun kemampuan layar-layar film dengan mudah dan dengan murah telah menelurkan ratusan dedikasi pada festival-festival film pendek dan perusahaan di dunia. Inilah yang telah berkembang selama bertahun-tahun, menemukan jalan baru yang inovatif—dari pesta-pesta warehouse ke live music dan kolaborasi pertunjukkan—untuk menghadirkan film-film pendek pada penonton yang terus berkembang.

Sementara permintaan baru terbesar untuk film-film pendek tanpa diragukan lagi berasal dari internet. “Kami memiliki jutaan penonton setiap bulan di YouTube,” kata Fabien Riggall, pendiri dan direktur kreatif dari perusahaan film pendek, Future Shorts, “dan hanya melalui mulut ke mulut dan media sosial. Kupikir orang-orang hari ini benar-benar tertarik dalam potongan-potongan informasi dalam seukuran gigitan.”

Internet juga membuktikan menjadi alternatif populer untuk para pembuat film pendek yang tidak mampu mendistribusikan film mereka di DVD. Cindy Rose, direktur eksekutif dari hiburan digital di Virgin Media—yang adalah pendukung pelengkapan ini, dan telanta juara film pendek yang menuju suksesnya via website mereka (www.virginmediashorts.com) dan kompetisi film pendek tahunan—mengatakan bahwa keuntungan paling besar dari internet bagi pembuat film pendek adalah bisa memposting film secara online “tanpa menghabiskan satu penny pun.” “Mereka bisa mendapatkan ribuan potensi, dalam beberapa juta kasus-kasus, dilihat dalam waktu singkat. Inilah cara yang bagus untuk menjangkau penonton baru,” katanya.

Bahkan sutradara-sutradara Hollywood mulai me-release film-film online mereka. Spike Jonze—sutradara dari Being John Malkovich dan Where the Wild Things Are—baru-baru ini meluncurkan film pendeknya terakhirnya, I’m Here, dengan tujuan membangun website (www.imheremovie.com).

Film-film pendek telah muncul dengan cara lama sejak Train dari the Lumières. Hari ini, mereka muncul dalam berbagai bentuk dan ukuran, dan bisa berakhir kapan saja dari beberapa menit ke sekitar 40 menit. Sementara mengonsumsi film pendek muncul ke lingkungan sepenuhnya, dalam arti tertentu. Karena seluruh kemajuan teknologi dari 116 tahun terakhir, melihat sendiri di internet tak begitu jauh terhapus dari Kinetoscope Edison dan pemrogram multimedia yang seringkali digunakan oleh bayang-bayang promotor film pendek dalam berbagai pertunjukan tadi.

Film-film mereka sendiri boleh jadi menjadi lebih canggih, namun, mungkin, film-film pendek yang sangat pendek dibuat sesuai yang mereka cita-citakan untuk bentuk-bentuk eksebisi yang sementara, seperti Victorians dan Edwardians yang memahami dengan baik.

Sementara itu diragukan bahwa film pendek akan diadakan kembali lagi di bioskop komersial—kecuali film-film pendek yang menyenangkan disaring dihadapan film-film utama dari Pixar—Kita hidup dalam waktu yang sangat menarik untuk film-film pendek. Dan sepertinya lebih baru, lebih mudah, lebih murah dalam sarana-sarana pembuatan, disitribusi dan melihat film-film mejadi terbuka, popularitas saat ini tak mungkin berumur pendek.

Catatan terjemahan:

[1]. Dalam kamus merriam-webster, untuk frasa definisi peep-show adalah, suatu hiburan (semacam film) atau objek (semacam gambar kecil) yang dilihat melalui lubang kecil atau kaca pembesar dan biasanya dieksplisitkan secara seksual.

[2] Dalam kamus merriam-webster, untuk frasa tableaux presentations, merujuk pada definisi frasatableauxdalam konteks film pendek atau pertunjukan adalah, (dari Prancis, secara harfiah, gambar bergerak.) penggambaran suatu adegan yang biasanya disajikan di atas panggung oleh peserta kostum yang diam dan tak bergerak. Sehingga tableaux presentations adalah, pertunjukan-pertunjukan untuk menggambarkan suatu adegan yang biasanya disajikan di atas panggung oleh peserta kostum yang diam dan tak bergerak.

[3] Tak terjemahkan.

[*] Dialih-bahasakan dari : http://www.telegraph.co.uk/culture/film/film-life/7593291/The-long-history-of-short-films.html

Balerina Kecil.

Aku datang pukul tiga sore ke gedung tua itu, untuk mengatur dekorasi panggung pertunjukan yang besok diadakan oleh satu sekolah balet anak-anak. Di sisi kanan panggung, kedua mataku melihat para balerina kecil bergerak dengan riang seperti angsa di danau bersama instrukturnya. Mereka seakan-akan tak pernah lelah. Energi muda yang tak kurasakan lagi.

Setelah menugaskan beberapa orang untuk mengatur cahaya lampu di sisi kiri panggung, aku membalikkan badan, dan melihat seorang gadis kecil dengan kostum balerina yang duduk di kursi penonton dengan wajah cemberut. Lalu, aku bergerak menujunya. Setelah mendekat, aku menyapanya:

“Hei…”

Dia mengangkat kepalanya, dan membenarkan duduknya.

“Kenapa kamu tak ikut latihan?” tanyaku.

Dia membalas dengan menggelengkan kepala, sambil menyeka kedua matanya, wajah mungilnya masih cemberut.

“Ah, aku tahu, pasti kamu tak bisa mengingat salah satu gerakannya, ya kan?”

Dia masih membalas dengan menggelengkan kepala.

“Hmm, Pasti tentang kostum buat besok?”

Dia masih membalas dengan menggelengkan kepala.

“Lalu?”

Dia ingin menjawab, namun terasa berat. Aku melihat sekelilingku. Dan, saat aku tertuju padanya kembali, bibir mungil di antara kedua pipi chubby itu membuka:

“Aku ingin ayah dan ibu melihat, Om.”

Kini aku yang terdiam, seakan-akan duniaku menjadi hening. “Ya, Tuhan. Apa yang harus kulakukan untuk mengusir kesedihan dari wajah manisnya?” Begitulah pikirku saat itu, dan melanjutkan, “Memang ayah dan ibu ke mana?”

“Bekerja, Om,” jawabnya dengan suara rendah dan memainkan jari-jari mungilnya di rok ballet chiffon-nya.

“Ya, Tuhan,” balasku sekali lagi dalam hati. Kemudian, tambahku, “Baiklah, begini saja, sekarang kamu latihan dan besok om akan memberikan sesuatu spesial untukmu.”

Dia terkejut, dan seakan-akan dunianya hidup kembali.

“Apa itu, Om?”

“Kita lihat saja besok. Sekarang, kamu kembali ke kawan-kawanmu, dan berlatih dengan semangat ya.”

Tangan kananku terangkat dan tangan kanannya diangkat, dan kami saling mengayunkan tangan kanan dan terdengar suara: “Plook.”

Dia bergegas turun dari kursi penonton, berlari kencang menuju kumpulannya, menaiki tangga panggung, dan ketika di atas panggung, dia mengucapkan terima kasih dengan menggerakkan tangannya tinggi-tinggi, dengan satu mukjizat mengagumkan, senyuman mungilnya.

“Bonne chance, ma petite amie,” [1] teriakku, dari tempat penonton dan melihatnya bergerak, bergerak, dan bergerak dengan bebas.

Lima menit kemudian, aku meninggalkan gedung tua, dan mencari bingkisan kecil untuk kawan kecil baruku.

*

[1]: Semoga beruntung, kawan kecilku.

Dua Cinta Hakimi.

J’ai attendu, j’ai attendu longtemps (E skeud teñval an tourioù gell) // Entre la mer et les étoiles (Etre ar mor hag ar stered) – J’attends (Gortoz A Ran) (Ost. Black Hawk Down); Denez Prigent feat Lisa Gerrard.

*

Pada sore hari, Hakimi, seorang dosen muda, sedang duduk di teras rumahnya yang sempit. Ia pun mengambil tempat di salah satu kursi dari empat kursi berbahan kayu Jepara yang mengitari meja kayu di teras itu. Ia menekuk lengan baju putihnya, dan mendesahkan nafasnya dalam-dalam, tanda bahwa ada tekanan berat yang sedang menghinggapinya. Sorot matanya yang tajam melihat ke arah pohon mangga yang rindang. Suara angin yang menggersakkan dedaunan itu, yang sebenarnya mampu menyamankan siapa saja yang mendengarnya, namun tekanan yang dialami dosen muda itu adalah tekanan yang hanya ia sendiri yang mampu memahaminya, bukan orang lain, bahkan gersakkan dedaunan itu pun tak mampu mengeliminasi tekanan berat yang menghinggapinya.

Tekanan berat itu hadir bukan di satu jam lalu, tatkala ia bersama ibunya menghadiri pernikahan seseorang yang dianggapnya berarti, namun jauh sebelum pernikahan itu di mana secara tak terduga Tuhan Yang Maha Agung mempertemukannya dengan seorang perempuan yang luar biasa di satu komunitas baca. Klara, demikianlah ia dan kawan-kawan baiknya menyapanya. Ingatan Hakimi melangkah mundur.

*

Setiap pekan demi pekan, setiap bulan dan bulan, hingga satu tahun melengkapi avonturir asmara antara Hakimi dan Klara, yang dilahirkan serta dibesarkan dari keyakinan yang berbeda. Hakimi dibesarkan dari keluarga Islam moderat, pun dengan Klara yang dibesarkan dari keluarga Nasrani moderat. Tekanan berat itu terus menumpuk dalam kepalanya manakala satu cerita demi cerita tentang Klara hadir. Dan salah satu cerita yang demikian tak bisa dilepaskan dari kepala Hakimi adalah saat terjadi satu malam di bulan ramadhan.

Saat itu, Hakimi baru saja menuntaskan satu papernya di kampus. Adzan maghrib terdengar dan ia membatalkan puasanya dengan segelas teh manis dan buah melon dan lekaslah menuju masjid—Klara pernah meminta Hakimi untuk menceritakan detil-detil tentang arsitektur dari masjid yang dikagumi lelaki itu, meski tak terlalu besar dan dipenuhi bahan-bahan kayu. Setelah melakukan ibadah maghribnya, Hakimi bergegas menuju ke rumah Klara. Sesampai di rumah Klara, Hakimi melihat dengan kekaguman pada rumah tua Belanda dengan arsitektur yang elegan dan klasik, dengan roofline yang lebar, dengan dinding bata yang di-ekspose, serta beberapa ornamen nampak dari bahan kayu walnut. Beberapa menit kemudian, Klara yang nampak dewasa dengan rambut bobs-nya segera menemuinya dan mempersilakannya masuk. Hakimi, lelaki yang mengerti etika itu, lebih memilih untuk duduk di kursi teras rumah, meski Klara memaksanya masuk ke ruang tamu. Di dalam rumah Klara, Hakimi sempat mendengar keluarga besar perempuan yang dikaguminya itu sedang berkumpul; jeritan-jeritan keponakan-keponakannya, bahkan kata ‘syuut’ dari Nenek Klara berkali-kali terdengar. Masjid terdekat dari rumah Klara mengumandang adzan Isya dengan lafal yang mengagumkan dari seorang muadzin, tanda bahwa Hakimi harus menunaikan shalat tarawih.

“Kau, tak ke masjid untuk ibadah?” tanya Klara, perempuan yang religius, perempuan yang mengagumi karya religius dari pengarang besar Rusia, Fyodor Dostoevsky.

“Nanti, bisa dikerjakan di rumah, Ra.” balas Hakimi.

“Tapi, bukankah lebih baik di masjid?” tanya Klara sekali lagi.

Mendengar pertanyaan Klara, Hakimi hanya tersenyum. Entah tersenyum begitu kagum atau justru memilukan. Di saat, kawan-kawannya tak pernah mengingatkan Hakimi seperti itu, justru perempuan yang tak mungkin ia miliki, yang justru mengingatkannya.

“Tapi, Ra?”

“Tapi, apa? Bukankah kau dulu yang membawakanku buku-buku religius dari Tolstoy, Dostoevsky, bahkan Kierkegaard. Apakah kau masih ingat ketika aku pernah bertanya padamu tentang, apa pentingnya masjid bagimu, dan aku masih ingat jawabanmu bahwa, disanalah tersimpan ‘cinta yang tak bisa didefinisikan.’ Dan kau tahu, begitu pun gereja bagiku. Jadi, cepatlah ke masjid, sebelum terlambat.”

Hakimi mengangguk, dan tersenyum pada Klara. Lalu lelaki itu menitipkan map dan tasnya, dan meninggalkan rumah keluarga Nasrani yang religius itu dan menuju masjid dengan pertanyaan dalam diri yang perlu waktu panjang untuk menemukan jawaban-jawabannya. Setelah Hakimi menghilang, Klara duduk di teras dan tanpa sengaja membaca judul paper dari lelaki yang dikaguminya karena semangat hidupnya itu: Al-Quran, Ilmuwan Islam, dan Ilmu pengetahuan alam.

Seusainya melaksanakan ibadah tarawih, Hakimi menikmati makan malam bersama keluarga besar Klara, dan awalnya Hakimi sempat menolak, namun Ayah Klara terus memaksanya. Dan waktu berlalu dengan cepat. Dua hari setelah lebaran, berganti Klara yang menikmati makan malam di rumah Hakimi atas undangan Hj. Maulida, ibunda Hakimi, seorang muslimah yang berpikiran luas.

Meskipun Hakimi dan Klara saling menaruh hati, namun kecintaan pada ‘cinta yang tak bisa didefinisikan’ membuat luka yang tak dipahami oleh siapapun, kecuali Hakimi, Klara, dan ‘cinta yang tak bisa didefinisikan’ itu sendiri. Dan, beberapa bulan setelah Hakimi menikmati makan malam di rumah Klara, dan Klara menikmati makan malam di rumah Hakimi; perempuan yang dikagumi Hakimi itu memberikan undangan pernikahan.

*

Pada sore hari, matahari bergerak perlahan untuk membenamkan dirinya. Kehadiran Ibunya menyadarkan puteranya pada petualangan masa lalu yang demikian sulit untuk dihapuskan. Dan Ibu Hakimi tahu bahwa hanya ‘cinta yang tak bisa didefinisikan’ itulah yang mampu menyembuhkan luka puteranya, hubungan timbal-balik antara tanah dan langit. Dan adzan terdengar, bersahutan dengan suara yang terus menghantuinya dari seseorang yang tak mampu dimilikinya, Klara:

“Di sanalah tersimpan ‘cinta yang tak bisa didefinisikan.’”

Tentang Kampung.

gg

Image ini diambil di depan rumah, di kampung yang sedikit unik. Keunikan kampung saya adalah tata ruang kampungnya. Setengah ke arah kanan adalah kampung asli, tempat yang telah saya nikmati sejak berpindah dari kota kelahiran Surabaya ke Malang pada tahun 1990an, akulturasi Bonek-Arema; Setengah ke arah kiri adalah perumahan-perumahan baru yang dulunya adalah sawah serta lahan kosong tempat bermain bola serta memancing belut.

Kampung saya itu, memunculkan ketertarikan pada bahasa serta warganya, antara warga asli Malang dan pendatang, yang kebanyakan para mahasiswa/i yang mengenyam pendidikan di Malang. Dari warga aslilah, saya yang pendatang saat itu terbiasa mendengar orang-orang berbahasa walikan/bahasa malangan seperti ‘oyi,’ ‘nakam,’ ‘ngalup’ dan lain sebagainya; sementara meskipun saya pendatang, namun menjejakkan kaki dari tahun 1990an membuat saya merasa seperti (telah) warga asli terhadap pendatang baru seperti para mahasiswa/i yang membawa bahasa beserta kultur dari daerahnya masing-masing, seperti dari Pulau Lombok dengan bahasa Sasak seperti ‘ndarak’ atau ‘silak tame’; Pulau Bali seperti ‘mapamit’ atau ‘patut’; Pulau Kalimantan seperti ‘ikam’ atau ‘katuju’; dan juga Pulau Jawa seperti Jawa Timur lebih banyak dari Gresik dan Lamongan seperti ‘dak’, ‘seru’ atau ‘pareg’; Bojonegoro seperti ‘we’em; Surabaya dengan ‘cak-cuknya’; Pasuruan dengan ‘riko’ atau bahasa Madura; Blitar, Kediri, Nganjuk, atau Tulungagung seperti ‘peh’ atau ‘nyapo.’

Proses-proses akivitas yang terbungkus dalam sistem-sistem bahasa yang dijalani setiap hari menyebabkan satu identitas diri semakin sulit ditemukan, apakah saya yang Malang jika berkomunikasi dengan warga asli Malang, ataukahsaya orang Lombok jika berkomunikasi dengan teman-teman Lombok, ataukahsaya orang Bali jika berkomunikasi dengan teman-teman Bali, ataukah saya orang Kalimantan jika berkomunikasi dengan teman-teman Kalimantan, dan ataukah saya orang Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Surabaya, Pasuruan, Blitar, Kediri, Nganjuk, atau Tulungagung, jika berkomunikasi dengan mereka.

Siapapun yang mempelajari Bahasa dalam Linguistik, mungkin hal tersebut bisa ditelaah melalui relasi “Idiolek,” yang secara umum dimengerti sebagai varian bahasa oleh seorang individu, dan “Dialek,” varian bahasa oleh sekelompok masyarakat dalam satu momen tertentu.

Secara keseluruhan, penjelajahan-penjelahan yang terjadi antara identitas dan bahasa melalui kampung atau lingkup kecil kita, akan memunculkan ketertarikan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih mendalam, sehingga menawarkan satu jawaban dari sekian jawaban, yang salah satunya adalah falsafah bernama:

Tat twam asi: aku adalah engkau, engkau adalah aku.”

Bon Weekend! Glückliches Wochenende!  😊

Keluarga Demokratis.

Since he came down from the trees, man has faced the problem of survival, not as an individual, but as a member of a social group. His continued existence is testimony to the fact that he has succeeded in solving problems; but the continued existence of want and misery, even in the richest of nations, is evidence that his solutions has been, at best, a partial one. – Robert L. Heilbroner, The Worldly Philosophers.”

*

Di akhir pekan, Prof. Tanja sedang bepergian ke hutan pinus bersama puteranya, Zola; menantunya, Amara; dan cucunya yang berumur empat tahun, Rusyd, nama yang diambil dari filsuf Islam yang mencerahkan Eropa, Ibnu Rusyd. Tepat pada siang hari, mereka telah sampai ke hutan pinus itu. Mereka beribadah bersama-sama di pondok rumah kayu pinus dengan konstruksi yang sederhana. Seusai mereka beribadah, mereka lalu berjalan-jalan sekitar pohon pinus dan mengambil beberapa foto untuk dijadikan kenangan di kemudian hari. Setelah mereka lelah, mereka duduk di sebuah bangku kayu di antara dua pohon yang menjulang tinggi. Angin menggoyangkan ujung pinus ke ujung pinus sehingga menimbulkan suara keteduhan. Hawa dingin menelusup hingga ke tulang rusuk mereka.

Aku ajak Rusyd ke sana,” kata Zola kepada ayahnya dan istrinya sambil menunjuk hammock berwarna biru yang menggantung serta diikat di dua pohon pinus. Kemudian ia menambahkan, “Ayo, Rusyd, ikut ayah.”

Kaki-kaki kecil Rusyd berlarian mengikuti ayahnya dengan riang, tak hanya itu, gerakan-gerakan dua kaum adam dari generasi yang berbeda itu diikuti oleh pandangan mata dari Prof. Tanja dan Amara yang kemudian mengambil tempat di sebuah bangku kayu.

Setelah Zola dan Rusyd semakin menjauh dan mengecil, setelah beberapa keheningan sesaat mengedar di antara mertua dan menantu, kemudian Prof. Tanja bertanya kepada menantunya:

Amara, boleh ayah sedikit bercerita tentang Zola?”

Tentu saja, Yah.”

Keheningan tetap mengukuhkan dirinya.

Profesor tua yang tak ingin disebut ‘profesor’ kemudian berpikir sejenak, mencari titik pijak untuk mulai bercerita.

Amara, dari ketiga anak lelaki ayah, Zola-lah yang berbeda. Berbeda di sini adalah bagaimana mengambil cara pandang tentang sesuatu hal. Dulu, bila ada permasalahan di dalam keluarga, ayah selalu menyuruh Zola dan kedua kakak lelakinya serta Ibu Zola, untuk berkumpul di ruang tamu dan membicarakan tentang sesuatu hal. Dan ketika satu masalah telah dipaparkan, ayah, Ibu Zola, dan kedua kakaknya, langsung mengajukan opini-opini masing-masing, demikianlah ayah membentuk satu keluarga yang demokratis, dan ayah percaya bahwa negara yang demokratis harus di mulai dari keluarga yang demokratis, yang tak terjebak pada baik atau buruk suatu ilmu serta pengalaman dalam aspek apapun, intinya adalah proses dari menemukan sintesis, substansi, itu sendiri, paham maksud ayah?”

Amara, seorang perempuan yang sederhana dan cerdas dengan background studi ilmu filsafatnya, tentu memahami apa yang mertuanya maksudkan, dan dia tersenyum karena perhatian yang tinggi, yang menganggap Ayah Zola seperti ayahnya sendiri.

Baiklah ayah akan lanjutkan,” kemudian ia mengingat bagian kata-katanya yang lalu, dan melanjutkan sekaligus mengulanginya, “Dan ketika satu masalah telah dipaparkan, ayah, Ibu Zola, dan kedua kakaknya, langsung mengajukan opini-opini masing-masing, namun tidak dengan Zola. Ia hanya diam, mengamati, dan bukan tipikal persona yang mudah untuk ‘menjudge’ sesuatu hal. Dalam artian seperti ini, ketika ayah, Ibu Zola, dan kedua kakaknya melihat sungai, maka kami akan melihat aliran sungai itu, ke mana air bergerak, sementara tidak dengan Zola. Ia lebih memilih untuk memahami segalanya berdasarkan cakupan yang luas, bagaimana sungai terbentuk, ke mana air itu bergerak, bagaimana air tercipta, bagaimana sifat-sifat air, apa manfaat dari air itu…Ia benar-benar tak mudah dipahami. Oleh sebab itu, kelak jika ada permasalahan rumah tangga, Zola bukanlah tipikal persona yang dengan cepat memutuskan suatu hal itu. Jadi, mau, tak mau, kau harus mengimbanginya, dalam pengambilan keputusan tentunya. Dan, Zola dan kami semua beruntung memilikimu yang cerdas.”

Dikedalaman hati Amara merasakan sesuatu penghargaan yang tak terduga-duga. Dia ingin menangis. Hawa dingin yang disebabkan oleh dataran tinggi serta angin bukit masih mewarnai sekelilingnya.

Amara memegang tangan keriput mertuanya dengan penuh kasih.

Terima kasih untuk perhatian ayah kepadaku dan kepada keluarga kecilku ini,” kata Amara yang setelah itu membenarkan kembali Tee Cardigan-nya berwarna kelabu.

Bu…Kakek!” teriak Rusyd dari kejauhan sambil mengangkat tangan kecilnya.

Prof. Tanja dan Amara membalas sapaan calon pemimpin bangsa itu.

Petikan Kakek Hatta Jika Kau Besar Nanti, Nak.

“Dengan kemerdekaan yang sepenuh-penuhnya itu nenek moyang Tuan yang berjiwa pionir itu mendirikan suatu masyarakat dan negara besar, Amerika Serikat. Seperti saya katakan tadi, tuan-tuan tidak mempunyai tradisi yang dibawa dari tanah asal. Tuan-tuan menanam dasar-dasar hidup baru sendiri, sesuai dengan cita-cita kemerdekaan yang membawa nenek moyang tuan sebagai pionir kemari dan sesuai pula dengan alam yang luas dengan kemungkinan tidak terbatas. Jiwa tuan dikuasai oleh semangat liberalisme dengan free competition dan free entreprise. Kapitalisme berkembang di sini dengan suburnya, dengan mempunyai corak sendiri pula, banyak berbeda dari patroon kapitalisme di benua Eropa. Tetapi dalam satu hal tuan membuat tradisi sendiri, yaitu kekuatan tuan berpegang pada proteksi untuk memperlindungi dasar hidup yang tinggi, untuk memperoleh comfort dalam penghidupan. Dalam hal ini tidak berbeda pendapat majikan kapitalis dengan kaum buruh. Kemajuan teknik yang tuan capai dalam waktu beberapa puluh tahun saja hanya memperkuat cita-cita itu. Hidup dengan segala comfort menjadi tujuan dan cita-cita orang Amerika. Maka timbullah patokan hidup baru, yang dikenalkan kemana-mana sebagai the American way of life. Daerah tanah air tuan yang begitu luas membuat tuan-tuan berpandangan kontinental Amerika. Tuan hanya memandang cara hidup tuan sendiri yang dilingkungi oleh comfort dan rasional, dan kebanyakan daripada rakyat tuan tak dapat mengirakan adanya pandangan hidup lain.

Tetapi, ada cara dan pandangan hidup lain di sebelah yang tuan dapati di sini! Yaitu cara dan pandangan hidup bangsa lain yang terbentuk pula oleh sejarahnya sendiri. Ini perlu saya kemukakan! Apabila tuan nanti mendengarkan uraian saya, tuan akan merasa masuk ke dalam suatu dunia yang ganjil. Bukan saja bentuk rumahnya, bangun masyarakatnya, adat-istiadatnya berlainan sama sekali dari yang didapati di sini, tetapi tuan juga akan heran mendengar bahwa ada bangsa dalam abad teknik ini yang hidup miskin dan melarat di tengah-tengah kekayaan alamnya yang melimpah-limpah.

Saya datang dari satu negeri, Indonesia namanya, yang dalam istilah baru termasuk ke dalam lingkungan underdeveloped regions. Underdeveloped, negeri saya, tetapi hanya underdeveloped dalam arti ekonomi dan teknik. Dilihat dari sudut kultur, bangsa saya adalah suatu bangsa kultur yang mempunyai sejarah yang panjang. Di waktu Raja Germania Karl yang Besar pada usia 60 tahun baru belajar membaca dan menulis, di Jawa Tengah orang sudah mendirikan Candi Borobudur yang indah mengesankan, yang kesohor ke seluruh dunia dan sepanjang masa. Pada bangunan candi itu tergabung perasaan seni yang indah dan pengetahuan teknik yang halus, hasil perasaan agama dan kebudayaan yang menciptakan perdamaian universal.

Juga saya berasal dari bangsa yang ulung, yang mempunyai daerah gilang-gemilang tetapi pula disusul oleh nasib yang sial. Tidak ada yang tetap di dunia ini, semuanya berubah dan berganti. Panta Rei – kata filosof Herakleitos. Dari daerah pegunungan di daratan luas Asia, kata orang dari sebelah utara Kamboja, datang kira-kira 25 abad sebelum Masehi leluhur kami yang pertama, menuju ke selatan untuk memperoleh tempat kediaman baru yang lebih banyak memberi harapan baru buat hidup. Dengan melalui Penanjungan Malaka, sampailah mereka akhirnya ke nusantara Indonesia dan menjadikan pulau-pulau itu pusaka kami. Ahli-ahli sejarah belum dapat menentukan dengan pasti, beberapa kali terjadi pemboyongan manusia itu berturut-turut dan dalam jangka waktu berapa lama. Yang diketahui hanya bahwa letak nusantara Indonesia di tengah-tengah jalan raya laut dan perhubungan bangsa-bangsa dan susunannya yang melingkung di khatulistiwa sebagai suatu untai merjan kata Multatuli, merupakan deretan stepping stones bagi jenis bangsa yang datang itu untuk bertolak dari pulau ke pulau. Dengan cara begitulah leluhur kami dalam rombongan yang berturut-turut dan tak tentu jangka waktunya, menduduki seluruh kepulauan Indonesia. Dalam perjuangan buat hidup, penduduk asli yang lebih lemah lenyaplah. Maka nusantara Indonesia menjadi tanah pusaka kami, tanah air kami bangsa Indonesia.

Bangsa pengembara ini tidak mengenal gentar. Dari bangsa pegunungan ia menjadi bangsa pelaut. Laut yang melingkungi tempat kediamannya membentuk karakternya. Pecahan ombak yang berderai di tepi pantainya, dengan irama yang tetap, besar pengaruhnya atas timbulnya perasaan yang menjadi semangat bangsa. Penduduk yang menetap di daerah pantai saban hari mengalami pengaruh alam yang tidak berhingga, yang hanya dibatasi oleh kaki langit yang makin dikejar makin jauh. Bangsa-bangsa asing yang sering singgah di Indonesia dan melakukan perniagaan dari negeri ke negeri mendidik nenek moyang kami ini dalam berbagai rupa, memberi ia petunjuk tentang barang-barang yang berharga dan tentang jalannya perniagaan. Last but not least, pertemuan-pertemuan yang tetap dengan bangsa-bangsa asing itu, orang Tionghoa dan banyak lainnya, mengasah budi-pekertinya dan menjadikan bangsa kami jadi tuan rumah yang peramah.

Pada bangsa pelaut ini, keinginan untuk menempuh laut besar membakar jiwa senantiasa. Dengan pengaruhnya yang ramping, dilayarinya lautan besar dengan tiada mengenal gentar, ditempuhnya rantau yang jauh dengan tiada mengingat takut. Di mana ia menginjak tanah, disebarkannya bibit kebudayaan Indonesia. Dari Madagaskar dekat pantai Afrika sampai ke tengah-tengah Samudera Pasifik, leluhur kami itu mengharumkan nama bangsanya. Sampai sekarang didapati di Madagaskar bentuk-bentuk hukum adat Indonesia sebagai peninggalan nenek moyang kami di sana. Didapati pada beberapa tempat di lautan Pasifik sisa-sisa kebudayaan bangsa kami dahulu kala. Bentuk rumah di Pulau Paasch (Pulau Paskah) pada pasifik Barat adalah dasarnya bentuk rumah Indonesia asli.

Pernah Indonesia merupakan suatu kerajaan besar di masa Majapahit, pada abad 14. di situlah pula terletak puncak kebesaran bangsa Indonesia. Sesudah itu mulailah masa berantakan dan kemunduran. Bangsa yang terpecah-pecah ini tidak sanggup lagi berjuang kemudian dengan bangsa-bangsa dari barat, seperti bangsa Portugis, Spanyol dan terutama bangsa Belanda, yang datang berniaga ke Asia dengan kapal perangnya dan dengan organisasi yang lebih sempurna. Sebagian demi sebagian Indonesia ke bawah penjajahan Belanda. Selama penjajahan yang lebih dari 300 tahun lamanya itu, lenyaplah tanda-tanda kebesaran dahulu kala itu berangsur-angsur.

Selama dijajah, Indonesia mengalami tiga macam stelsel eksploitasi yang menghabiskan tenaga rakyat dan membunuh semangatnya.”

– dipetik dari teks Masalah Politik Perekonomian Bagi Indonesia oleh Mohammad Hatta; teks Pidato pada Pertemuan dengan para Pemimpin Politik, Bankir, dan Ahli Pertanian di New York, Amerika Serikat, tanggal 6 Juni 1960. Pidato diucapkan dengan teks bahasa Inggris. Diterbitkan dalam Kumpulan Pidato, II, 1983.