Pengembangan Pengusaha Kecil: Salah Satu Aspek Ekonomi Terpimpin – Mohammad Hatta*

Kedaulatan ekonomi ini sesuai dengan cita-cita kita untuk tidak tergantung pada ekonomi atau kekuatan asing […] Demikian pula tidak lagi ekonomi desa tereksploitasi oleh ekonomi kota, tidak lagi perusahaan-perusahaan yang besar-besar hidup maju dan terpisah dengan perusahaan-perusahaan yang kecil-kecil yang sulit kehidupannya.” – Mohammad Hatta.

Pendahuluan.

Nasib sedih yang diderita oleh rakyat Indonesia seluruhnya dan kekuasaan ekonomi asing yang begitu kuat di Indonesia di bawah perlindungan pemerintah jajahan, mempengaruhi jalan pikiran ke jurusan ekonomi terpimpin.

Di bawah tindasan imperialisme dan kapitalisme kolonial, dengan sendirinya pergerakan kebangsaan tidak dapat menerima stelsel ekonomi liberalisme.

Liberalisme yang dipraktikkan oleh orang Belanda di Indonesia tidak sedikit pun membayangkan lahirnya semboyan: kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan. Perbuatannya yang terasa ialah pemerasan kaum buruh, perampasan tanah rakyat, penindasan kemerdekaan dan perkosaan dasar-dasar perekonomian.

Anti Kapitalisme.

Maka karena itu lahirlah dalam pangkuan pergerakan nasional dari semulanya sentimen anti kapitalisme. Pemimpin-pemimpin Budi Utomo menyebut kapitalisme itu een plant von vreemde bodem—sebuah tanaman dari negeri asing—yang tidak sesuai dengan iklim Indonesia.

Pemimpin Sarekat Islam yang ternama, Oemar Said Tjokroaminoto, mencapnya dengan sebutan het zondig kapitalisme (Kapitalisme yang murtad.)

Thamrin, sekali pun ia sendiri seorang kapitalis, menolak kapitalisme kolonial itu sebagai penjahat dan perusak penghidupan rakyat. Pergerakan islam kemudian, dari berbagai aliran, rata-rata menentang kapitalisme itu sebagai suatu sistem ekonomi yang menyalahi kebenaran dan keadilan Ilahi. Pergerakan nasional radikal yang berdasarkan non-cooperation banyak mengambil paham sosialisme Barat, yang selain dari mengemukakan dasar-dasar perikemanusiaan juga mengutamakan pelaksanaan cita-cita demokrasi ekonomi di sebelah demokrasi politik. Demokrasi tidak lengkap, apabila tidak berlaku kedua-dua seginya, demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.

Dengan sentimen itu lahirlah dalam pangkuan pergerakan kebangsaan konsepsi ekonomi nasional yang berdasarkan kolektivisme. Kolektivisme Indonesia yang terpadu dari ajaran sosialisme Barat, ajaran Islam dan pembawaan masyarakat sendiri yang terkenal sebagai “gotong royong”. Gotong royong ini harus tetap menjadi ciri dan identitas bangsa kita.

Sesudah Indonesia merdeka, dengan sebuah Undang-Undang Dasar yang bersendikan Pancasila dan memuat di dalamnya beberapa pasal yang merumuskan cita-cita perjuangan lama, masalah ekonomi terpimpin bukan cita-cita lagi. Pelaksanaannya menjadi kewajiban sosial dan moril.

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, termuat suatu pernyataan, bahwa pergerakan kemerdekaan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Baru sampai di muka gerbang. Langkah masuk ke dalam alam ciptaan selama ini adalah tugas bagi bangsa Indonesia sendiri, apa dia sanggup merealisasi cita-cita selama itu tentang Indonesia yang adil dan makmur.

Bahwa tugas ini tidak mudah dan tidak ringan, diinsafi benar-benar. Itulah sebabnya maka dirasa perlu ada dasar pelaksanaannya, sebagai filsafat negara, yang menjadi pedoman dalam segala kerja.

Ekonomi Terpimpin.

Di dalam ekonomi terpimpin, pemerintah mengambil keputusan-keputusan ekonomi sesuai dengan cita-cita rakyat banyak, sesuai dengan cita-cita Undang-Undang Dasar 1945, dan tidak berdasarkan pada mekanisme pasar seperti pada ekonomi liberal. Saat ini ada beberapa masalah yang perlu dikemukakan di dalam ekonomi terpimpin kita.

Di dalam ekonomi terpimpin itu harus dicapai kedaulatan ekonomi masyarakat dan bangsa kita seiring dengan kedaulatan politik kita yang sepenuhnya telah kita miliki ini. Kedaulatan ekonomi ini sesuai dengan cita-cita kita untuk tidak tergantung pada ekonomi atau kekuatan asing. Kedaulatan ekonomi itu dapat secara riil kita miliki, jika kita melaksanakan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 secara konsekuen. Kedaulatan ekonomi berisikan kemampuan masyarakat dan bangsa untuk mengambil sikap dan keputusan dengan semangat berdikari, memiliki individualitas dan otoaktivita, berkepribadian, memiliki harga diri dan mempunyai kepercayaan pada diri sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini perlu dilaksanakan di dalam pengembangan dan pembangunan pengusaha kecil.

Di dalam ekonomi terpimpin, pertumbuhan pendapatan nasional secara riil tidak selayaknya dipandang dari segi aggregative thinking. Tujuan pertumbuhan pandapatan nasional harus menjadi satu dengan memperbesar kemakmuran rakyat secara seadil-adilnya, secara merata sesuai dengan cita-cita Undang-Undang Dasar 1945. Ekonomi terpimpin menuju kepada realisasi ‘jalur-jalur pemerataan’ seperti yang didengung-dengungkan sekarang ini adalah harapan kita semua, dan sekaligus merupakan keterikatan dan tantangan yang realisasinya tidak boleh tertunda-tunda lagi.

Ekonomi terpimpin harus dapat menyusun menggerakkan kekuatan-kekuatan ekonomi nasional menuju ke kesatuan ekonomi dan kerukunan ekonomi nasional. Di dalam ekonomi terpimpin tidak selayaknya terjadi dominasi ekonomi golongan tertentu terhadap ekonomi golongan yang lainnya, tidak pula yang satu menekan yang lain. Demikian pula tidak lagi ekonomi desa tereksploitasi oleh ekonomi kota, tidak lagi perusahaan-perusahaan yang besar-besar hidup maju dan terpisah dengan perusahaan-perusahaan yang kecil-kecil yang sulit kehidupannya. Kegiatan pengusaha kecil adalah bagian yang tidak boleh terpisahkan dari kegiatan perusahaan besar. Kedua-duanya berperanan sejajar, maju bersama dan berkembang bersama-sama dan mempunyai kaitan interdependent.

Ekonomi terpimpin harus mencerminkan politik kemakmuran Indonesia, ialah politik yang didasarkan kepada ‘pembangunan tenaga beli rakyat.’ Mana pun yang hendak dicapai, semuanya itu hanya bisa terjadi dengan memperbesar produksi dan menyediakan lapangan kerja penuh. Hubungan pendapatan yang semakin menguntungkan terhadap harga hendaklah terutama tercapai pada barang-barang yang terpenting bagi keperluan hidup, seperti makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan pendidikan.

Ada syarat pendahuluan yang paling penting harus dipenuhi untuk melaksanakan ekonomi terpimpin dengan baik. Prinsip ekonomi harus dapat dijalankan dalam segala sektor dan tindakan. Mentalitas baru yang lahir sesudah kemerdekaan ternyata lebih condong kepada pemborosan daripada penghematan, ini bertentangan dengan prinsip ekonomi. Hidup sederhana, hemat dan tidak boros, baik yang menyangkut keuangan negara, kekayaan negara dan kekayaan alam negara, harus dilaksanakan. Menanam prinsip itu dalam masyarakat dan administrasi negara tidak tercapai dengan anjuran saja, melainkan dengan contoh dari atas. Semangat ekonomi itu harus ditanam dengan tiada mengabaikan dasar-dasar moral dan perikemanusiaan.

Penutup.

Apabila dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tersimpul tujuan bangsa dan Pancasila sebagai pegangan dalam melaksanakannya, dalam Undang-Undang Dasar sendiri terdapat beberapa peraturan tentang melakukan ekonomi terpimpin. Peraturan itu terdapat dalam Pasal 33, Pasal 27 ayat 2 dan Pasal 34. Yang pertama, mengenai sistem, yang kedua mengenai hak sosial warga negara, dan yang ketiga mengenai tugas pemerintah. Pasal 33 itu adalah sendi utama bagi politik perekonomian dan politik sosial Republik Indonesia. Dasar ekonomi rakyat mestilah usaha bersama dikerjakan secara kekeluargaan. Maksudnya ialah koperasi. Cita-cita koperasi Indonesia menentang individualisme dan kapitalisme secara fundamental.

Di antara bidang koperasi dan perusahaan negara, masih luas daerah perekonomian yang dapat diselenggarakan atas inisiatif partikelir. Dengan inisiatif partikelir dimaksudkan perusahaan perseorangan yang berbentuk perusahaan sendiri, firma atau perseroan terbatas dan lainnya.

Seimbang dengan Pasal 33, tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat 2 yang menyatakan “Tiap-tiap warga berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.” Membayar upah yang cukup layak bagi kemanusiaan bukan kewajiban pemerintah saja, melainkan juga kewajiban partikelir terhadap buruhnya.

Saya mengharapkan para anggota dan pimpinan HIPKI bekerja sekeras-kerasnya agar HIPKI dapat menjadi pelopor pembangunan nasional.

HIPKI akan berhasil dalam usahanya jika tetap menjaga persatuan dan kegotong-royongan antara anggota-anggotanya.

[*] Sambutan tertulis pada pelantikan Badan Pimpinan dan daerah HIPKI Sumatera Barat di Padang, tanggal 18-4-1979. Dua bulan kemudian, tulisan ini juga disampaikan dalam pidato pengarahan pada Lembaga Pengkajian Ekonomi Pancasila, Jakarta, tanggal 21-6-1979. diterbitkan dalam Kumpulan Pidato, II, 1983.

[**] Saat membuka dan membaca di lembar yang lain, tepatnya dalam tulisan ‘Ekonomi dan Pengangguran’ di kalimat terakhir, Mohammad Hatta, memberikan spirit seperti ini: “Mengetahui kesulitan itu adalah syarat yang pertama untuk mencari jalan memperbaikinya.”

Iklan

Suatu Oksimoron: Lindsay Lohan dan Mohammad Natsir.

Tiap manusia, komunitas atau bangsa memiliki cara dan prosedurnya sendiri-sendiri. Realitas manusia sebagai pribadi atau kolektivitas sebenarnya selalu berada dalam keadaan yang goyah. Tak ada satu pun pengikat yang begitu kuat dan permanen mematri keberadaan manusia. Karena kebudayaan berkembang, peradaban berubah, dan pada akhirnya struktur, tatanan nilai dan apa pun yang menjadi standar atau indikator dari kenyataan eksistensial itu pun senantiasa bergeser – dalam prakata di ‘Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia’ (Resist Book, 2007), Radhar Panca Dahana.

*

Di antara berita-berita tentang domain ‘agama’ yang beredar saat ini, khususnya kasus Lindsay Lohan yang menjadi mualaf, entah benar atau tidak, dan hubungan vertikal (yang personal) antara Sang Maha Agung—Cinta yang melampaui cinta itu sendiri—dan nurani Lindsay yang tahu.

Di luar si ‘Aku’ dari Lindsay, siapa pun tak berhak mengintervensi. Pilihan tentang ‘choice’ tak pernah mudah: dari spiritual, ideologi, atau bahkan jodoh/karir sekalipun. Saya sedang belajar mengamini bagaimana setiap pilihan selalu memunculkan resiko, dan resiko memunculkan masalah, namun bagaimana kita bermain dengan keasyikan, mengubah masalah menjadi tantangan. Di luar si ‘Aku’ dari Lindsay, semua orang telah mencacinya atau telah memberikan applause. Pilihan Lindsay adalah pilihan sulit. Sesulit bagaimana kita harus menerima fakta bahwa kelak kita akan/telah kehilangan orang-orang yang kita cintai.

Adalah Mohammad Natsir, seorang intelektual Islam Indonesia, yang menyukai biola dan mengajarkan saya banyak hal dalam suatu proses pembelajaran yang teramat panjang, yang mungkin kini—entah sengaja atau tidak—dilupakan oleh sebagian orang Islam. Natsir muda, bagi saya, adalah Natsir yang kaku secara doktrin pemikiran. Namun, waktu bergulir dan mencair, meresap ke dalam tanah pengalaman; Natsir tua, bagi saya, menjadi Natsir yang lentur.

Meminjam judul Pramoedya Ananta Toer, ‘Maaf, Atas Nama Pengalaman,’ saya dibesarkan dari ayah-ibu dalam tradisi Muhammadiyah, yang lebih berorientasi pada pemahaman Islam yang arab-sentris, sementara si ‘Aku’ dari saya memilih berorientasi pada pemahaman Islam yang global secara imanen—dalam pengertian singkat saya, berarti yang beroperasi dalam suatu proses. Pada suatu ketika, terjadi pembenturan antara dua pembenaran, pembenaran ayah-ibu dan pembenaran saya tentang Islam, meskipun kami masih sama-sama berada sirkulasi kultur Muhammadiyah. Jika menganut pembenaran ayah-ibu, saya yang melaksanakan ibadah lima waktu, seakan-akan melaksanakan ibadah dengan kekosongan nikmat. Sedangkan, jika menganut pembenaran—dalam percampuran pemahaman Islam dari Natsir, Hamka, Gus Dur, Ibnu Rusyd—saya, dan seakan-akan melaksanakan ibadah lima waktu dengan hati yang riang.

Adakalanya saya merasa menyesal mengapa saya harus bertemu dengan pesona Natsir, Hamka, Gus Dur, Ibnu Rusyd; dan menjadi pembangkang bagi pembenaran Islam dari ayah-ibu. Namun, dari dasar si ‘Aku’ saya, saya lebih memilih untuk melaksanakan ibadah lima waktu dengan hati yang riang, dan berusaha terus-menerus belajar (pencarian Islam), daripada merasakan beribadah lima waktu, namun merasakan kekosongan nikmat.

Apakah kau, juga mengalami pergolakan batin seperti ini, Lindsay? Salam dari Sang Maha Agung—Cinta yang melampaui cinta itu sendiri—melalui Mohammad Natsir:

“Tiada paksaan dalam agama.” 🙂

[] Kawan mengetik Jika Engkau Bersedih, Album Tak Hanya Diam, Padi.

Das Wort.

dsc_0003

Sebagai seseorang yang jauh dari kata tekun dalam ibadahnya dan (masih) belajar Islam kembali, dan akan terus belajar Islam tanpa pernah final; Tafsir Al-Misbah (Lentera Hati, 2004), dalam konteks juz amma, karya Prof. Quraish Shihab, menjadi arsenal, untuk paling tidak, membantu memahami struktur tata bahasa dalam Al-Quran. Dalam satu surah, dengan fokus pembacaan surah Al-Balad ayat 10, pembaca mencatat dua poin: satu hal untuk kata hadiyyah; dan satu hal lain untuk mutsanna (dual).

Untuk poin pertama, Prof. Quraish Shihab menafsir seperti ini:

“Dan Kami telah menunjukinya dua jalan.” – Surah Al-Balad, ayat 10.

Setelah menyebut ketiga nikmat di atas, tulis beliau, dan melanjutkan, ditegaskan lagi satu nikmat yang lain. Allah dan berfirman: Dan di samping potensi-potensi yang disebut, Kami juga telah menunjukinya dua jalan. Kemudian dilanjutkan bahwa, kata hadainâhu terambil dari kata al-hudâ yang pada mulanya digunakan dalam arti batu besar yang terdapat di laut atau sungai dan yang digunakan sebagai rambu guna menghindari bahaya, katakanlah ia berfungsi sebagai mercu. Kata ini juga diartikan sebagai siang hari bolong karena dengan cahaya matahari yang demikian jelas, seseorang tidak akan salah langkah, dan karena itu kata al-hâdi diartikan sebagai penunjuk jalan.

Lebih lanjut, beliau mengurai bahwa, pengertian itu kemudian berkembang, tetapi tidak keluar dari maknanya yang pertama ini. Dalam Al-Quran, kata hadâ dan hidayâh serta berbagai bentuknya yang seakar, diartikan sebagai petunjuk yang bersifat lemah lembut, baik dalam bentuk ilham, petunjuk lisan, maupun dalam arti taufiq, yakni “persesuaian kehendak Tuhan dengan kehendak manusia.” Kata hadiyyah, juga berasal dari kata al-hudâ karena pemberian tersebut merupakan suatu petunjuk yang sangat halus guna menyampaikan simpati pemberi hadiah terhadap penerimanya.

Dengan sebuah pensil, pembaca memberikan underline untuk kata hadiyyah, yang mana dalam bahasa Indonesia memiliki persamaan makna dan pelafalan, namun berbeda pada penulisan latin dengan kata, hadiah. Hadiah, bagi pembaca, bisa berupa benda dan non-benda. Pembaca kerapkali mengasosiasikan hadiah dengan benda. Namun, pembaca mencoba membuka jendela lain, melongokkan kepala ke luar, dan melihat hal-hal kecil bahwa, hadiyyah/hadiah juga bisa bermain dalam wilayah non-benda.

Hari minggu, bagi seorang pekerja yang terdesak oleh kebutuhan sehari-hari dan diharuskan bekerja dari senin hingga sabtu, hari minggu juga bisa berarti hadiah; seorang filsuf yang merenung dan menatap langit, seakan-akan di sanalah segala jawaban hadir, kemudian memetik satu idea, dan mencoba menuangkan ideanya ke lembaran kertas, sehingga menjadi puisi yang romantik, juga hadiah; seseorang yang berjuang untuk melindungi alam sekitarnya dengan membuat penghijauan untuk generasi mendatang, juga hadiah; seorang ayah/ibu atau seorang anak atau seorang laki-laki/perempuan yang bekerja atau menyelesaikan studi di luar negeri dan hanya berkomunikasi melalui gadget, dan pada suatu ketika, seorang ayah/ibu atau anak atau seorang laki-laki/perempuan tersebut kembali ke negeri tercinta, dan berhadapan langsung dengan orang-orang terkasih dan memeluknya, demikian juga bisa berupa hadiah.

Untuk poin kedua:

Pembaca tertarik pada uraian Prof. Quraish Shihab yang memaparkan bahwa, ada juga yang menjawab bahwa dalam bahasa Arab, dikenal istilah mutsannâ (dual). Apabila ada dua hal yang ingin digabungkan maka ketika itu, dipilih salah satunya untuk dibentuk dengan bentuk mutsannâ, misalnya kata al-qamar/bulan dan asy-syams/matahari maka ketika itu bahasa memilih Qamar dan menjadikannya dalam bentuk mutsannâ, sehingga matahari dan bulan dinamai al-qamarain.

Dalam titik tekan pada penggabungan itulah, dalam bahasa Jerman, pembaca yang masih pemula teringat pada wilayah permainan Komposita dan die Präposition (syarat: selalu dativ) dalam bahasa Jerman. Komposita adalah penggabungan dua kata atau lebih. Mengambil sedikit contoh: die Milch (susu) dan der Kaffee (kopi), digabung menjadi: der Milchkafee (kopi susu); Der Fuβ (kaki) dan der Ball (bola), digabung menjadi: der Fuβball (sepakbola). Dalam wilayah preposisi (die Präposition), kita pun akan menemui penggabungan seperti aus (dari), bei (pada), mit (dengan), nach/zu (ke), seit (sejak), dan von (dari). Mengambil sedikit contoh: zu der schule, digabung menjadi: zur schule; zu dem museum, digabung menjadi: zum museum.

Demikianlah.

[] Kawan mengetik Witness A Rebirth oleh Strife.

L’Esprit Des Pondok Pesantren en Les Pondok Pesantren en Indonesié.

img_20170117_204106

Beberapa bulan lalu, setelah kelelahan selama beberapa jam di lantai dasar di shopping centre Yogyakarta, mencoba melanjutkan untuk ke lantai kedua. Sesampainya di sana, ada beberapa kios yang menyediakan buku-buku lama, buku-buku yang berdebu dan tak pernah mendapatkan perhatian lebih. Dengan berpendarnya angan-angan untuk menemukan karya seorang linguis, The Bible Translator dari Eugene Nida, namun keberuntungan memberikan jalan lain dengan dipertemukannya pada salah satu karya dari sejarawan arsitektur dari Meksiko, Alberto Pérez-Gómez. Lalu beralih ke kios yang lain, duduk sejenak, memandang ke sana-sini, dan pada satu sudut pandang, melihat punggung buku dengan berbahasa Prancis yang tertindih buku-buku berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris: L’Islam En Indonesie. Setelah memegang buku tersebut, terjadilah tawar-menawar harga dan cukup alot, namun pada akhirnya, saya pun menggambil. Sambil menanti uang kembali, saya melihat dari daftar isi, banyak nama tertera dari Marcell Bonneff, yang menuliskan tentang ‘Komik Indonesia’ melalui disertasinya; lalu Prof. Henri Chambert Loir, penulis Ziarah dan Wali di Dunia Islam; pasangan leksikograf dalam Prancis-Indonesia Pierre Labrouse dan Farida Soemargono, dan satu alasan kuat dari segala alasan, sebuah essai berbahasa Inggris dari Abdurrahman Wahid, kita sering menyapanya dengan Gus Dur—dan segala hormat mengagumi kecerdasan beliau perihal bahasa asing.

Di luar nama-nama itu, ada satu nama yang mengusik, izinkan menyebutnya, KH. Imam Zarkasyi, salah satu pendiri pondok modern Gontor, yang berguru pada Al-Hasyimi, seorang ulama, tokoh politik cum sastrawan Tunisia yang diasingkan oleh Pemerintah Perancis dan menetap di Solo. Dalam tulisan beliau di buku L’Islam En Indonesie, beliau menceritakan banyak hal terkait pondok pesantren, dari sejarah, program-program, prinsip-prinsip, potensialitas, dan beberapa gambaran tentang pondok pesantren. Namun, saya tertarik pada satu gambaran dari keseluruhan gambaran beliau, tentang semangat pondok pesantren.

*

L’Esprit Des Pondok Pesantren en Les Pondok Pesantren en Indonesié.

KH. Imam Zarkasyi, l’un des animateurs du pondok de Gontor, est décédé au début de 1985. Adapté de l’indonésien par Pierre Labrousse.

Pourquoi les pondok pesantren ont-ils pu produire des leaders politiques et des chefs religieux?

Sans doute le contenu des études était-il au début d’une grande simplicité, mais avec de la force de caractère et un esprit sain les élèves ont pu développer leur connaissances. Car l’esprit et le caractère peuvent s’affirmer au contract de la personnalité du kyai qui est, comme nous l’avons déjà dit, la figure centrale du pesantren. On peut dire que les qualités de cet esprit sont au nombre de cinq:

1. L’esprit de sincérité (jiwa keikhlasan). Les javanais disent: Sepi ing pamrih, c’est-à-dire: ne pas être poussé par le désir de tirer un profit personnel, parce que tout doit être consacré au devoir religieux. Toute la vie quotidienne des pesantren est imprégnée de cette atmosphère. Le kyai est disposé à enseigner, les santri sont disposés à apprendre, les assitants sont disposé à aider. Toutes les actions se font dans une atmosphère de bonne volonté, et c’est ainsi que l’on obtient une relation harmonieuse entre un kyai qui est honoré, des santri qui sont obéissants, pleins d’amour et de respect.

De cette manière, chaque élève a conscience de ce qu’est le sens du divin, de l’acte méritoire, de la piété, de la sincérité et du combat. En bon musulman, il doit essayer partout de propager sa foi. Ses études lui servent de formation et on peut dire que le pondok pesantren est le flambeau qui apporte la lumière de l’islam.

2. L’humilité (Jiwa Kesederhanaan). La vie dans les pondok pesantren est imprégnée d’une atmosphère de simplicité, mais en même temps de noblesse. «Simple» ne signifie pas fataliste (narimo). Ce n’est pas synonyme non plus de «misère», mais de force l’âme, détermination, de maîtrise de soi dans le combat pour la vie. Et sous cette simplicité-là, se cache le rayonnement d’une grande âme, de l’audace pour aller de l’avant dans le combat et du refus de reculer en toutes circonstances. Cette simplicité-là ne signifie pas pour le santri qu’il doive être statique, car il ne faut pas se contenter de rester immobile dans un état social traditionnel. Elle ne signifie pas non plus qu’il faille rester comme jadis, au temps de la lampe à huile. Les pondok pesantren ont aujourd’hui des sols carrelés, des plafonds en dalles d’éternit et l’electricite. Mais s’ils n’ont pas encore tout cela, ils ne vont pas arrêter leur lutte pour autant.

3. L’aptitude à l’autonomie individuelle (jiwa kesanggupan menolong diri sendiri.) Voler de ses propes ailes est pour la vie une arme puissante et ne signifie pas que le santri doit se contenter toujours d’étudier et de s’occuper de son propre intérét. Dans les pondok pesantren il apprend à ne jamais dépendre d’autrui pour sa subsistance. Il apprend à contribuer activement et à partager, mais sans être trop rigide et refuser, par exemple, l’aide extérieure qui viendrait subvenir aux besoins de l’école.

4. La fraternité démocratique (jiwa ukhuwah diniyah yang demokratis antara para santri.) La vie quotidienne baigne dans une atmosphère d’étroite fraternité, de sorte que toutes les joies sont vécues dans un réseau de forts sentiments religieux. Et ce sentiments de fraternité ne s’arrête pas aux portes du pondok pesantren. Il se prolonge dans l’union de la communauté des fidèles, après la fin des études.

5. Un esprit libre (jiwa bebas). Les santri sont libres dans leurs pensées et dans leurs actions, ils sont libres de déterminer leur avenir et de choisir leur voie. C’est cette liberté qui les a amenes à s’affranchir de l’influence étrangère et coloniale. Mais il ne faut pas que cette liberté soit pénétrée d’éléments négatifs, c’est-à-dire mal utilisée, pour tomber dans les excès du libéralisme.

Inversement, ils ne doivent pas être de ceux qui ne s’en tiennent qu’à la tradition considérée comme le principe suprême, sans voir autour d’eux les changements de l’époque. A ne s’en tenir qu’au connu, ils finiraient par perdre leur propre liberté.

*

Jiwa Pondok-Pondok Pesantren dalam Pondok-Pondok Pesantren di Indonesia

KH. Imam Zarkasyi, salah satu pemimpin di Pondok Gontor, telah meninggal di awal 1985. Diadaptasi dari Indonesia oleh Pierre Labrousse.

Kenapa pondok-pondok pesantren sanggup menghasilkan para pemimpin politik dan para ulama?

Tanpa meragukan isi dari studi-studi adalah awalan pada suatu kesederhanaan yang besar, namun dengan kekuatan karakter dan pikiran sehat dari para pembelajar yang sanggup menggembangkan pengetahuan-pengetahuan mereka. Karena semangat dan karakter dapat menyatakan diri untuk persetujuan personalitas dari Kyai yang, seperti telah dikatakan, menjadi sosok sentral dari pesantren. Kita bisa mengatakan bahwa kualitas-kualitas jiwa itu memiliki lima jumlah:

1. Jiwa keikhlasan. Orang-orang jawa mengatakan: Sepi ing pamrih, itulah yang dikatakan: bukan didorong oleh ketertarikan hasrat pada suatu keuntungan personal, karena segalanya haruslah menjadi kerja relijius. Kehidupan sehari-hari di pesantren diresapi dari atmosfer itu. Kyai mengatur untuk mengajar, para santri mengatur untuk belajar, para pembantu mengatur untuk membantu. Semua tindakan dibuat dalam suatu atmosfer keinginan yang baik, dan inilah yang kita peroleh dari suatu relasi harmonis antara seorang kyai yang dihormati, para santri yang mematuhi, dipenuhi cinta dan saling menghargai.

Dalam hal ini, setiap murid memiliki kesadaran tentang makna Ilahi, tentang tindakan yang bermanfaat, tentang kesalehan, tentang ketulusan dan perjuangan. Seorang muslim yang baik, ia harus mencoba dimana pun menyebarluaskan keyakinannya. Studi-studinya difungsikannya sebagai suatu latihan dan itu bisa dikatakan bahwa pondok pesantren adalah obor yang membawa cahaya islam.

2. Jiwa Kesederhanaan. Hidup dalam pondok pesantren dipenuhi dengan suatu atmosfer kesederhanaan, namun pada saat yang sama dipenuhi dengan keluhuran. “Kesederhanaan” bukan berarti suatu hal yang fatalistik (nerimo). Kesederhanaan bukanlah sinonim yang bukan lagi “penderitaan”, namun penguatan jiwa, kebulatan tekad, kontrol diri dalam perjuangan hidup. Dan di bawah kesederhanaan ini, untuk menyembunyikan pancaran kebesaran jiwa, keberanian maju ke depan dalam perjuangan dan menolak melarikan diri dalam segala situasi. Kesederhanaan ini bukan berarti bagi seorang santri harus menjadi hal yang statis, karena ia tak harus berpuas diri dengan tetap berdiri dalam keadaan sosial tradisional. Dan itu tak berarti lagi yang mana ia menyisakan kesalahan seperti sebelumnya, seperti pada ketika zaman lampu minyak. Pondok-pondok pesantren hari ini berlantai ubin, dengan atap-atap langit dengan berbahan papan-papan eternit dan listrik. Namun, jika semua ini masih saja, mereka tak akan menghentikan perjuangan mereka untuk semua itu.

3. Jiwa kesanggupan menolong diri sendiri. Terbang dengan sayap-sayap milik mereka sendiri adalah untuk senjata ampuh kehidupan dan bukan berarti bahwa seorang santri harus selalu puas dalam belajar dan memerhatikan kepentingan mereka sendiri. Dalam pondok pesantren, belajar untuk tidak pernah bergantung pada penghidupan orang lain. Belajar untuk secara aktif berkontribusi dan berbagi, namun tanpa menjadi terlalu kaku dan menolak, contohnya, bantuan lahiriah yang akan datang untuk membantu pada keperluan-keperluan sekolah.

4. Jiwa ukhuwah diniyah yang demokratis antara para santri. Kehidupan sehari-hari digenangi dalam suatu atmosfer persaudaraan yang dekat, sehingga seluruh kegembiraan hidup dalam suatu jaringan yang kuat akan perasaan relijius. Dan perasaan persaudaraan ini tak berhenti di pintu-pintu pondok pesantren. Persaudaraan ini berlangsung lama dalam persatuan komunitas yang sebenarnya, setelah berakhirnya masa studi.

5. Jiwa bebas. Para santri bebas dalam pikiran-pikiran mereka dan dalam tindakan-tindakan mereka, mereka bebas untuk menentukan masa depan mereka dan memilih jalan mereka. Inilah kebebasan yang telah membawa mereka untuk dibebaskan dari pengaruh asing dan kolonial. Namun kebebasan ini seharusnya tak dimasuki oleh unsur-unsur negatif, katakanlah disalahgunakan, untuk jatuh dalam ekses-ekses liberalisme.

Sebaliknya, mereka tak harus menjadi orang-orang yang, tak hanya memperhitungkan pada pertimbangan tradisi sebagai prinsip tertinggi, tanpa melihat perubahan-perubahan sekitar mereka pada saat ini. Jangan hanya meyakini pada yang diketahui, dan mereka pada akhirnya akan kehilangan kebebasan mereka sendiri.

Le Monde du Texte d’Hatta (Dunia Teks Hatta.)

dsc_0002

Mohammad Hatta menawarkan kemagisan teks Wilhelm Windelband dalam Platon (1923) yang dikutipnya untuk pengantar jilid kedua “Alam Pikiran Yunani”–karya yang dipersembahkan untuk wanita yang dicintainya, istrinya, Rahmi Hatta–dan ditulis pada 6 Desember 1949 di Yogyakarta: “…Und das Auge des Geistes hat sich nach innen aufgeschlagen [dan mata pikiran memandanglah ke dalam].”

Jilid kedua “Alam Pikiran Yunani” ini mengurai masa sofisme (masa peralihan) yang mana pecinta kopi dan sepakbola ini mencoba memunculkan pembacaan persona seperti Protagoras hingga Prodikos dan merangkak ke masa filosofi klasik dengan memunculkan pembacaan persona dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles.

Diluar dari “Alam Pikiran Yunani”, dalam karya yang lain, penulisan yang dikonstruksi secara rapi dan kompleks oleh Mohammad Hatta memberikan nuansa yang berbeda. Hatta nampak seperti kawan yang karib:

“[…] Aku sambut, “Kalau begitu Saudara Darsono sudah mahir berbahasa Jerman. Cepat sekali Saudara mempelajarinya. Apakah Saudara sudah mempelajarinya dahulu di Indonesia?” Dijawabnya, tidak, baru sesampai di Jerman ini ia belajar bahasa Jerman, hari-hari belajar dan saban hari bergaul dengan kawan-kawan Jerman. Dalam bulan pertama memang sukar rasanya. Tetapi, sesudah itu berangsur-angsur bertambah lancar. […] Setelah meninggalkan Kantor Cabang PKJ itu aku pergi ke sebuah toko buku yang dekat di situ. Tak lama sesudah itu aku pergi pulang ke Papendam. Sedang menunggu dr. Soetomo pulang tengah hari, kubaca buku-buku yang ringan.” (lihat dalam bagian ‘Kunjungan Darsono dan Partai Komunis Jerman’ dalam Otobiografi Untuk Negeriku: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, Penerbit Buku Kompas, 2011.)

Tak hanya itu,

Hatta bisa menjadi sosok tegas laiknya ayah pada anak atau guru pada murid:

“[…] Metode pertama ialah logika yang biasa, artinya dicari hubungan kausalitas, sebab dan akibat. Sesuatu yang terjadi haruslah ada sebabnya dan ada akibatnya. Itu yang dipecah dari logika yang biasa. Selain daripada itu logika ada yang disebut orang fungsional [italic]. Logika Fungsional banyak dipakai orang dalam ilmu matematika. Misalnya ada hubungan A dan B. Kalau logika biasa, B adalah kelanjutan A. Kalau fungsional, saling pengaruh kedua-duanya. Dan ada pula satu metode yang dipakai untuk pemecah masalah sehari-hari dalam praktek, yaitu metode teleologi. Bukan teologi. Teleologi artinya, kalau kita mau mencapai satu tujuan, kita tunjukkan tujuan itu. Kita pikirkan secara rasional bagaimana kita menuju tujuan itu. Kalau secara logika biasa kita pelajari sebab dan akibatnya. Sekarang kita tujukan pada apa yang mau kita capai, umpamanya pembangunan bangsa kita ini. Saya mau membangun lima tahun dan dalam lima tahun saya mau mencapai itu.

Dan apa jalan yang serasional-rasionalnya untuk menuju tujuan tadi. Itu namanya teleologi. Jadi kita tetapkan tujuannya dulu dan kemudian kita berpikir apa jalan yang serasional-rasionalnya untuk menuju tujuan itu. Ketiga macam ilmu itu, metode dipergunakan. Selalu dipergunakan untuk memecah masalah-masalah alam dan masyarakat. Tapi dalam praktek kita berhadapan pula dengan ruang dan waktu. Sebab teori, termasuk dalam alam abstraksis. Pendeknya tidak ada pengaruh apa-apa. Kalau dalam logika biasa, ini terjadi dan ini kelanjutannya. Kita tidak memikirkan pengaruh ruang dan waktu. Kan itu ada juga pengaruhnya. Misalnya kalau harga beras naik, itu apa sebabnya? Tidak dipikirkan hanya dalam jumlah beras yang ada. Kurang jumlahnya maka naik harganya, atau bagaimana. Tapi pikirkan juga apa yang terjadi dalam praktek, pengaruh ruang dan waktu. Kapan dipikirkan kenaikan harga itu, dipikirkan juga pengaruh ruang dan waktu. Mungkin orang menyimpan karena meyangka beras jadi mahal, maka disimpannya dulu sebagian. Dikempiskan jumlah beras yang ada, sehingga beras harganya melonjak lagi.” (lihat dalam ceramah tanggal 29 Agustus 1974 di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dalam Hubungan Ilmu dan Agama, kerja sama Yayasan Idayu-Ui-Press-Gunung Agung, 1980.)

Relasi antara teks dalam otobiografi dan ceramah Hatta seakan-akan menegaskan pola subyektif dalam konteks Hatta di luar teori dan Hatta dalam teori, yang mana seperti yang ia kemukakan dalam ‘Alam Pikiran Yunani’ yang menarik pembacanya ini ke alam dari Protagoras dari Abdera, yang menjadi murid serta menganut ‘Panta Rei’ (semuanya berlalu) a la Herakleitos.

“Bagi Protagoras “manusia itu adalah ukuran bagi segalanya, bagi yang ada karena adanya, bagi yang tidak ada karena tidaknya. [italic]. Maksudnya bahwa semuanya itu harus ditinjau dari pendirian manusia sendiri-sendiri. Kebenaran umum tidak ada. Pendapatku adalah hasil pandanganku sendiri. Apa ia juga benar bagi orang lain, sukar mengatakannya, boleh jadi tidak. Apa yang kukatakan baik, boleh jadi jahat bagi orang lain; apa yang kukatakan bagus, boleh jadi buruk dalam pandangannya. Alamku adalah bagiku sendiri. Orang lain mempunyai alamnya sendiri pula.

Pandangan berubah-ubah menurut yang dipandang yang sekarang benar, beresok barangkali tidak lagi. Bukan kejadian di dunia saja berlalu dan bergerak senantiasa, tetapi juga pandangan manusia. Dan bukan barang yang dipandang itu saja bergerak, juga panca indera yang memandang. Sebab itu tiap-tiap pemandangan bergantung kepada dua macam gerakan [italic]. Mencari pengetahuan [italic] juga memandang, sekalipun memandang dari dalam dengan jiwa, dengan pikiran. Sebagaimana padangan mata berdasarkan kepada dua macam gerakan, demikian juga pandangan pikiran.

Kalau tiap-tiap pandangan itu berdasar kepada dua macam gerakan yang bertentangan jalannya, maka barang yang dipandang itu lain daripada subyek (manusia) yang memandang dan lain pula daripada obyek (barang) yang dirupakan oleh pandangan itu. Wajah yang terlukis dalam pandangan kita tidak sama dengan barang yang dipandang. Barang yang terpandang berlainan dengan barang yang dipandang! Sungguhpun hasil pemandangan itu ditentukan oleh kedua-duanya, oleh barang yang dipandang dan oleh orang yang memandang, wajah yang terpandang berlainan daripada keduanya. Sebabnya karena gerakan yang bertentangan tadi. Sebab itu pula tiap-tiap pandangan bersifat subyektif. Pemandangan seseorang berlainan daripada pandangan orang lain. Sebab itu pemandangannya itu benar bagi dia sendiri. Demikian juga pengetahuan tentang sesuatunya. Sifatnya sudah subyektif.” (lihat dalam “Protagoras” pada bagian Sofisme di Alam Pikiran Yunani (Tintamas-UI-Press, 1986)

Seperti membaca teks kitab suci, pun dengan teks Hatta, yang terus menerus ingin diresapi dan direnungkan melalui avonturir waktu dan ruang dalam yang lalu, yang sekarang, dan yang akan datang. Semoga kebahagiaan menyertai kita semua.

[] Kawan mengetik teks Hatta, Souvenirs D’un Autre Monde oleh Alcest.

Le Grand-Père Bien Qui Vient Sur L’obscurité de la Nuit (Kakek Baik Yang Datang Pada Malam Kelam)

dsc_0001

Ketika memegang buku ini dan membacanya dibawah selimut tebal untuk menghangatkan diri dari cuaca dingin akibat guyuran hujan terus-menerus di bawah naungan langit Yogyakarta, dengan sedikit berimajinasi bahwa Mohammad Hatta hadir dalam peralihan masa: past-present-future, dan menjelma seperti seorang kakek yang penuh kasih dan sedang bertutur pada cucunya di malam yang kelam, di mana si cucu sedang tenggelam dalam rasa ke-tak-percaya-diri-an yang akut dan terbenam dalam lumpur pesimisme pada narasi besar krisis ekonomi.

Dengan nada geram, Kakek Hatta–yang juga menjadi guru ekonomi dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer (Lihat Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang II, Gramedia, 1984)–membangkitkan spirit pada cucunya sembari membenarkan selimut dan mengusap kening si cucu yang dibesarkan pada zaman kecemasan, “Membunuh kuman sangat kapitalisme dalam kalbu mereka, dan menanam sebagai cita-cita persamaan dalam dada mereka!”

Si cucu kemudian menangis mengingat kawan sekolahnya yang miskin. Kakek Hatta dengan senyum yang lebar, menahan nafas sejenak, kemudian berkata dalam bab Politik dan Ekonomi:

Jadi bagaimana memajukan ekonomi, kalau rakyat tidak insaf akan harga dan arti dirinya, kalau rakyat tak tahu mempertahankan haknya sendiri? […] Selama rakyat belum percaya akan diri dan kesanggupan sendiri, selama ia mengharapkan belas kasihan dari luar, selama itu pula pergerakan ekonomi tidak akan berhasil.”

Si cucu berhenti menangis, Kakek Hatta mengusap air mata cucunya, kemudian berkisah dalam bab Nasib Kaum Dagang Kecil di Indonesia:

Tak ada yang tidak bisa dengan usaha dan pendidikan. Boleh jadi pekerjaan kita mula-mula tidak berhasil, karena pengaruh egoisme dan individualisme amat kuat atas manusia, tetapi lambat-laun maksud kita mesti tercapai, apalagi kalau proses kapitalisme sudah bertambah lanjut! Di sini waktu berjalan seiring dengan kita!”

Si cucu tersenyum, Kakek Hatta mencium pipi kanan dan melanjutkan kata pengantar tidur dalam bab Ekonomi Rakyat:

Ke arah inilah harus ditujukan ekonomi rakyat, kalau kita mau memperbaiki nasibnya. Usaha ini tidak mudah, menghendaki tenaga dan korban yang sepenuh-penuhnya dengan menyingkirkan segala cita-cita partikularisme. Dapatkah ia dicapai? Bagi kita tidak ada yang mustahil, asal ada kemauan. Susunlah kemauan itu lebih dahulu!”

Si cucu pun tertidur. Kakek Hatta menghilang, terbang, memandang cucunya dari jarak yang terjauh, namun terasa dekat: di langit ketujuh!

[] Kawan mengetik petikan Karya Lengkap Bung Hatta Buku 4, Keadilan dan Kemakmuran (LP3ES, 2015), To the Stars… Demos, Odds and Ends oleh Tom DeLonge.

Malang

Biasanya, jika pagi hari, ada sunrise yang membuat hati berdecak kagum. Jika sore hari, ada sunset yang membuat rindu. Jika malam hari, satu bulan, seperti menemani ratusan bahkan ribuan anak-anaknya yang saling berkejaran, bintang-bintang. Namun, awan-awan yang sering terabaikan, meminta perhatian yang lebih.

Salah satu band Prancis, Alcest, punya judul untuk menyimpan semua dalam musik mereka:

Là où naissent les couleurs nouvelles (Di sanalah di mana lahir warna-warna baru.)

Malang adalah rasa syukur yang tak ternilai.

***

Normalerweise, wenn der frühe Morgen, es gibt Sonnenaufgang, dass macht Herz erstaunt. Wenn die Nachmittage, es gibt Sonnenuntergang, dass macht Machen nostalgisch. Wenn die Nacht, ein Mond, wie zugehörig Hunderte oder sogar Tausende, bei seinen Kindern, die jagen einander, die Sterne. Jedoch die Wolken, deren oft vernachlässigt, wollen mehr Aufmerksamkeit.

Einer der französischen Band, ,,Alcest”, Haben einen Titel, alle zu halten in ihrer Musik:

Là où naissent les couleurs nouvelles (Dort wo die Farben des Neuen geboren werden.)

Malang ist Dankbarkeit von unschätzbarem Wert.

Batu, Buku, dan Seorang Geolog: Silogisme Cinta.

dsc_0035

Tepat pukul tiga sore, aku menuju ke desa pesanggrahan, di kota administratif Batu. Desa itu adalah desa terakhir untuk menuju ke gunung panderman, tempat di mana pertama kali aku belajar untuk melangkahkan kaki di bebatuan di dataran tinggi, menghanyutkan diri dalam terpaan semilir angin yang menggersakkan pohon-pohon pinus sehingga suara alam itu memunculkan kemistikannya sendiri dalam perhitungan digit, 2.045 mdpl.

Tentu tak baik, jika menyamaratakan tingkat kesukaran semua gunung. Seorang kawan pernah berujar bahwa, entah gunung dengan ketinggian di bawah 2000 mdpl atau lebih dari 2000 mdpl punya keunikannya masing-masing. Bagiku, gunung panderman, punya tingkat kesukaran pada elevasi kemiringan track (jalur) yang curam dan kelokan yang tajam dengan batu-batu dari prosesi alam gunung api kwarter muda—jika dugaanku tepat. Dan aku merindukan masa ketika menggambar peta topografi, dalam studi ilmu ukur tanah beberapa tahun lalu, yang bermain-main dengan garis lengkung—garis kontur curam dan garis kontur landai—alat theodolit, skala peta, dan interpolasi kontur, yang berarti suatu metode untuk mendapatkan nilai kontur yang diharapkan pada satu titik ke titik yang lain, yang memiliki diferensiasi ketinggian.

Ada yang menarik ketika aku tak hanya memaknai sudut pandang panorama, dan namun juga pada sudut pandang yang lebih detail, bebatuan dengan warna kecokelatan itu, yang mengingatkanku pada satu sosok, seorang geolog dan vulkanolog, Reinout Willem van Bemmelen, profesor dari Universitas Utrecth dan penulis dari ‘The Geology of Indonesia.’ Seperti halnya kesetiaan batu pada gunung begitu pun dengan kisah Reinout dan sang istri, Lucie, kekasih yang kemudian menjadi istrinya. Yang mana dengan kesetiaan serta kesabaran dari Lucie untuk menemani serta menjadi spirit bagi Reinout untuk mengerjakan naskah bukunya yang tebal selama tiga tahun. Seperti Mohammad Hatta yang memberikan ‘Alam Pikiran Yunani’ pada Rahmi Hatta, pun dengan Reinout, yang mendedikasikan antara alam dan buku ‘The Geology of Indonesia’ pada sang istri.

Ketika di gunung panderman inilah, hirupan udara segar yang menghubungkan pada ketenangan yang ganjil namun mesra. Sepulangnya dari gunung panderman, lekaslah mulai tersadar satu petikan, satu prinsip yang sering didengungkan para geolog:

“The present is the key to the past.”

31 Desember ’16, Latar Ombo (1600 mdpl), Gunung Panderman, Kota Batu.

***

À quinze heures, je suis allé vers le village Pesanggrahan, dans la ville administrative Batu. Le village était le dernier village pour aller vers à la montagne Panderman, l’endroit où le premier fois, j’apprenais à mettre les pieds, sur les pierres, sur le plateau. Et je tombais à l’assaut du vent que crépitement les pins si bien que ces sons du naturels apportais son mystique dans calcul du nombre: 2.045 Mdpl.

Certainement pas bon si nous égalons le niveau de difficulté de toutes les montagnes. Un ami a dit une fois: «la montagne avec des altitudes au-dessous 2000 Mdpl ou plus que 2000 Mdpl ont l’unicité de chacun.» Pour moi, la montagne Panderman avait un niveau de difficulté à la pente d’élévation de la piste escarpée et la virage brusque avec les pierres de procession naturelle du «gunung api kwarter muda»—si ma conjecture était vrai. Et je manque l’époque où j’ai dessiné une carte topographique, dans l’étude du géométrie de sol il y a quelques années, que joue avec la lignes courbes—la lignes de contour abruptes et la lignes de contour rampes—Le theodolit, la carte d’échelle, et l’interpolation du contour, ce qui signifie une méthode pour obtenir les valeurs de contour, ceux qui sont attendus à un point à un autre point, qui avaient une différenciation de hauteur.

Il était intéressant, je ne faisait pas juste sens à la vue panoramique, mais aussi dans une perspective plus détaillée, ces pierres de couleur brunâtre, Cela me rappelle à quelqu’un, Le géologue et le volcanologue, Reinout Willem van Bemmelen, le professeur de l’Université d’Utrecht et l’auteur de «The Geology of Indonesia». Tels que les pierres à la montagne, ainsi que l’histoire de Reinout et sa femme, Lucie. Ce qui fidèle et patient pour accompagner le travail de Reinout épaisseur pendant trois ans. Comme Mohammad Hatta qui donnent « Alam Pikiran Yunani» à Rahmi Hatta, ainsi que Reinout qui donnent «The Geology of Indonesia» pour sa femme.

Quand sur ce montagne Panderman, respiration d’air frais que se connectant sur un calme étrange, mais tendrement. Après le retour de la montagne Panderman, je me suis souvenu d’une citation appelée par les géologues:

« Le présent est la clé du passé.»

31 Decembre 2016, Latar Ombo (1600 mdpl), La montagne du Panderman, La ville du Batu.