Sebuah Biografi Seorang Pekerja: “Di Atas Jalan Bebatuan.” Bagaimana Bapaknya Cak Zidane Mengajarkan Bermimpi Sekali Lagi. [*]

ob_b33cd2_picsart-02-19-01-18-44

Ayah Zinedine Zidane, bintang sepakbola dunia yang berasal dari Kabyle, membukukan dirinya dalam suatu biografi. “Di atas jalanan bebatuan”, Smaïl Zidane, 81 tahun, mengisahkan sejarah hidupnya, dari desa Kabylie hingga ke Marseille di mana Zizou, paling kecil dari 5 anaknya, akan memulai pendakian yang luar biasa hingga ke kejayaan agung yang kita ketahui.

“Ia ingin mewasiatkan perjalanannya ke cucu-cucunya, dari mana ia berasal, jelas Elsa Lafon dari Paris. Apa yang menyenangkannya dalam pendekatan kita, yang mana buku ini tak fokus pada ketenaran Zinedine Zidane.”

Itu membuatku sering bertanya jika, dalam masa mudaku dan sebelum menjadi ‘Ayah Zidane’, aku mempraktikkan olahraga. Apakah kamu juga, kamu bermain sepakbola, Tuan Zidane, di posisi mana? Tidak, tidak, maafkan. Aku amat suka. Tapi di Aguemoun, desa kecil Kabyle di mana aku tumbuh, dan di sana tak ada bola! Dan teman-teman gembalaku, kami membuat bola dengan kain yang digulung dan kami menepuk dengan tenaga yang sama begitu bola itu telah menjadi kulit. Dengan saling memutarkan ujung kaki dari waktu ke waktu, karena kami bermain dengan kaki telanjang. Keluarga kami miskin, kami tak punya sepatu lagi.

CloXbu6WYAAdzjz

Olahraga, selanjutnya? Tidak. Aku telah berumur 17 tahun ketika aku meninggalkan Aljazair untuk bekerja sebagai buruh di Paris. Ketika, sepanjang perjalanan, kamu membawa balok-balok arang, dan sekop di bawah hujan dan sinar matahari, yang mana bor masih menggetarkan tulang-tulangmu dan tengkorak-tengkorakmu. Kamu tak akan melatih dirimu selanjutnya di ruangan olahraga atau di atas lapangan sepakbola. Malam harinya, kamu tertidur.

Jadi disanakah, tempat berkembang seorang pemenang? Ya, tapi tak sendiri. Tempat itu adalah tanah gersang di pegunungan Kabyle di mana aku hidup bersama keluargaku, suatu tanah yang bukan salah satu dari para pemenang melainkan sangat besar. Karena untuk mengolah tanah yang keras dan berbatu ini akan memakan keringatmu dan adakalanya darahmu, hal itu menjadikanmu orang terkuat. Itulah ayahku [Kakek Zidane, Pent.]. Orang kuat dengan hati yang lembut. Berolahraga, ia hampir tak pernah memikirkannya, dia juga: pekerjaan sehari-hari cukup untuknya!

Dalam keluarga Zidane, kami tak terlalu banyak bicara. Ayahku tak melakukan perbincangan, ia tak memberiku nasihat-nasihat. Itu cukup membuatku untuk melihat kehidupannya dan pesan melintas: dalam kehidupan, segalanya diperoleh dengan bekerja. Disanalah segalanya, bekerja, bekerja, bekerja…Jangan takut berusaha, tekun, percaya diri dalam hidup. Dalam kondi-kondisi ini, kehidupan bisa memesan kejutan-kejutan yang indah untukmu!

Ayahku dan ibuku tak pernah meninggalkan pegunungan orang asli mereka. Mereka bahkan tak pernah keluar dari Kabylie. Mohrand dan Zahra, pasangan tanpa sejarah, rendah hati, bijaksana, sangat baik dengan orang lain, dermawan meskipun mereka miskin…Mereka adalah asal-usul dari segalanya. Jangan mencari terlalu jauh. Tempat tumbuh kembang keluarga, ialah mereka.

Dalam penulisan kisah keluarga kami, itulah kedua orang tuaku yang mana aku ingin membayar penghormatan, sehingga kami tak melupakan mereka. Mereka adalah yang pertama dan yang masih menunjukkan jalan kepada kami.

Redaksi.

[*] Image dan teks buku Smail Zidane, Sur Les Chemins De Pierres, D’Aguemon au Stade de France oleh Smail Zidane (Pengantar Zinedine Zidane) (Penerbit Michel Lafon, 2017, Bahasa Prancis), dari https://k-direct.info/2017/02/19/le-pere-de-zidane-se-livre-dans-une-biographie-sur-les-chemins-de-pierres-kdirect-actualite/

[] Image Zidane dan Vieira dari https://www.scoopnest.com/user/WillHillBet/745934464057020416

Iklan

Menelaah Identitas sekali lagi: Fashion, Warna dan Kaos Gildan.

gildan

Image di atas adalah tiga kaos polos ‘Gildan’ buatan Thailand yang saya beli di daerah sekitaran Universitas Atma Jaya, Sleman, DIY. Kata ‘Gildan’ menyibak masa lalunya sendiri, semasa di Malang, saya dan beberapa kawan kerapkali nyeken (nyeken atau sekenan atau second, sepemahaman saya, adalah kata yang digunakan untuk mencari atau membeli barang bekas). Karena alasan ekonomi, saya dan beberapa kawan nyeken tentang kaos import—dan bisa diperpanjang dalam ranah yang lain seperti nyeken apparel outdoor hingga sepakbola, bahkan buku, atau CD—dan menemukan merk Gildan atau Fruit of the Loom.

Lalu, beberapa motif awal dari membeli tiga kaos polos itu adalah iklim Yogya yang panas, sedangkan saya dari Malang yang dingin, dan sangat mempengaruhi adaptasi (psikologi) untuk bertahan; selain itu untuk menyablon petikan atau wajah dari tokoh pe(r)sona idola saya—untuk menyebut beberapa—seperti Emile Zola, Mangunwijaya, atau Steven Gerrard. Ketika telah mendesain petikan dalam beberapa font, saya termenung, dan melihat tiga kaos polos itu kembali. Kemudian muncullah soliloqui:

“Apakah saya masih tetap Emile Zola, ketika saya memakai kaos Gildan dengan petikan dan wajah Romo Mangunwijaya.”

“Apakah saya masih tetap Romo Mangunwijaya, ketika saya memakai kaos Gildan dengan petikan dan wajah Steven Gerrard.”

“Apakah saya masih tetap Steven Gerrard, ketika saya memakai kaos Gildan dengan petikan dan wajah Emile Zola.”

Senyuman kecil hadir di wajah saya. Kemudian mengambil kesimpulan terakhir, bahwa saya tak akan menyablon petikan atau wajah, saya lebih memilih bermain dengan warna.

Ada alasan lain yang memunculkan dirinya bila saya mencoba membaca kembali apa yang dikatakan Audrey Hepburn, “For beautiful eyes look for the goods in the others […] walk with knowledge that you are never alone.”

Suara Audrey Hepburn, duta UNICEF yang menyisakan sisa hidupnya dihabiskan membantu anak-anak di negara-negara miskin, terutama Afrika, dan pernah memainkan karakter Natasha Rostova dalam adaptasi film War and Peace (1956) karya Leo Tolstoy yang diadaptasi oleh sutradara (realisateur) King Vidor, benar-benar memberikan saya satu stimulus untuk mempelajari kembali apa-yang-tampak dan apa-yang-tak-tampak. Serupa dengan yang dikatakan oleh Mangunwijaya, yang dikutip oleh Naomi Klein dalam No Logo 10th Anniversary Edition (Knopf Canada, 2010):

“You might not see things yet on the surface, but underground, it’s already on fire.”

Tak hanya itu.

Dalam plato[dot]stanford[dot]edu, warna memiliki ketertarikan filosofis untuk sejumlah alasan. Salah satu alasan yang paling penting adalah bahwa warna menimbulkan masalah metafisik yang serius, mengenai sifat fisik dan pikiran.

Hingga pada akhirnya, saya menyerahkan kepada siapapun untuk menafsir/menerjemahkan identitas ‘siapakah saya’ ketika memakai kaos Gildan berwarna biru gelap, atau memakai warna abu-abu, atau memakai warna merah gelap. Namun yang jelas, ada satu identitas yang benar-benar masih tak bisa saya simpulkan:

Bilal bin Rabah, seorang budak yang dicintai Rasulullah, yang berkulit hitam legam, namun memiliki hati yang putih, seputih awan di langit, ketika saya, yang berada di bawah, memandang ke atas, ke Atas.

Karta Pustaka Yogyakarta.

DSC_0065

Masa depan memang unik, kita tak pernah tahu apa yang terjadi, mungkin hanya bisa menduga. Kemarin saya menemukan gamabar lama tentang Karta Pustaka dari Kompas—Pusat Kebudayaan (Bahasa) Belanda di Yogyakarta. Kemudian, tanpa sengaja mencari nama ‘Karta Pustaka‘ dan beruntung, dan bertemu suatu flyer. Kemudian menemukan tulisan Scholastica Asyana Prasetio, yang mengambil jurusan Droit internasional des droits de l’homme di Université Lille II, yang menulis seperti ini:

“Eyang Oetari Siswomihardjo-Prawirohardjo, adalah salah satu guru dan koordinator di @kartapustaka, kini berusia 86 tahun. Menganggap bahwa Ibu Kartini bukan hanya membuka akses pendidikan formal ataupun profesi bagi perempuan Indonesia melainkan juga memberi askses untuk para perempuan dapat menjadi diri mereka sendiri, bahkan memilih jalan hidup seperti yang mereka inginkan.”

Bagi yang dekat dengan teks-teks Mohammad Hatta, tentu tak jauh dari bahasa asing semacam Inggris, Jerman, Prancis, dan tentu saja, Belanda.

Salam cinta dari Yogyakarta.

*

The future is unique, we never know what happened, maybe just guessed. Yesterday I found an old picture of Karta Pustaka from Kompas—The Cultural Center (and Language) Dutch in Yogyakarta. Then, accidentally search for the name ‘Karta Pustaka’ and got lucky, and met a flyer. Then found the writing of Scholastica Asyana Prasetio, which takes concentration at Droit internasional des droits de l’homme at Université Lille II, who wrote like this:

“Grandma Oetari Siswomihardjo-Prawirohardjo is one of the teachers and coordinator at @kartapustaka, now 86 years old. Assume that Kartini not only open access to formal education or profession for Indonesian women but also giving women access to themselves, even choose the way of life as they want.”

For those close to Mohammad Hatta’s texts, certainly not far from foreign languages like English, German, French, and of course, Dutch.

Love from Yogyakarta, Indonesia.

*

Die Zukunft ist einzigartig, wir wissen nie was passiert ist, vielleicht nur erraten. Gestern fand ich ein altes Bild von Karta Pustaka von Kompas–Das Kulturzentrum (und Sprache) Holländisch in Yogyakarta. Dann, versehentlich, nach dem Namen ‘Karta Pustaka’ gesucht und hatte Glück, und traf einen Flyer. Dann fand die Schrift von Scholastica Asyana Prasetio, welches Konzentration nimmt bei Droit internasional des droits de l’homme an der Université Lille II, wer schrieb so:

“Oma Oetari Siswomihardjo-Prawirohardjo ist einer die Lehrerin und Koordinator bei @kartapustaka, jetzt 86 Jahre alt. Nehmen Sie an, dass Kartini nicht nur offenen Zugang zur formalen Bildung oder Beruf für indonesische Frauen aber auch den Frauen Zugang zu sich selbst geben, sogar wählen Sie der Weg des Lebens, wie sie wollen.”

Für diejenigen in der Nähe von Mohammad Hattas Texten, sicherlich nicht weit von Fremdsprachen wie Englisch, Deutsch, Französisch und natürlich Niederländisch.

Liebe aus Yogyakarta, Indonesien.

*

Le futur est unique, on ne sait jamais ce qu’il s’est passé, peut-être juste deviné. Hier, j’ai trouvé une vieux image du Karta Pustaka de Kompas—Le Centre culturel (et la langue) néerlandais à Yogyakarta. Puis, accidentellement j’ai cherché le nom ‘Karta Pustaka’ et eu de la chance, et a rencontré un dépliant. Puis, j’ai trouvé l’écriture de Scholastica Asyana Prasetio, qui prend la concentration Droit international des droits de l’homme à l’Université Lille II, qui a écrit comme ceci:

“La grand-mère Oetari Siswomihardjo-Prawirohardjo est l’un des enseignants et coordinateur de @kartapustaka, maintenant elle a 86 ans. Elle suppose que Kartini non seulement ouvre l’accès à l’éducation formelle ou à la profession aux femmes indonésiennes, mais donne aussi aux femmes l’accès à elles-mêmes, même choisir le mode de vie comme ils le veulent.”

Pour ceux qui sont proches des textes de Mohammad Hatta, certainement pas loin des langues étrangères comme l’anglais, l’allemand, le français et bien sûr le néerlandais.

Amour de Yogyakarta, Indonésie.

Pintu.

– Untuk kamu yang sedang cantik-cantiknya.

Ada sebagian orang memulai dari menulis, kemudian membaca, dan akhirnya menerjemah. Ada juga sebagian orang memulai dari membaca, kemudian menulis, dan akhirnya menerjemah. Kedua pola ini, aku sebut sebagai pintu. Namun sebelum memasuki pintu itu, kita dihadapkan ‘pilihan’—meminjam Soren Kierkegaard, filsuf yang anti-filsuf, dalam  The Choice of Being: Soren Kierkegaard and the Essence of Existence dari Nathan Johnson. Ketika kita telah yakin, meng-Ada-kan, menghadirkan pilihan, barulah kita menjejakkan langkah-langkah kecil untuk memasuki pintu, memasuki dunia yang kita inginkan. Setiap pilihan yang menuntun keinginan, tentu saja, mengandung resiko yang menjelma menjadi masalah jika titik tekan pada kata ‘masalah’; atau menjadi tantangan jika titik tekan pada kata ‘tantangan.’ Bila di transformasikan dalam ruang lain: jalan mana yang kau pilih, menerjemahkan kehidupan dalam penulisan, ataukah menerjemahkan kehidupan dalam pembacaan? Ataukah, Prancis yang cantik, cerdas, mempesona, dan reflektif; ataukah Jerman yang tampan, jujur, dan penuh spirit.

There are some people starting from writing, then reading, and finally translating. There are also some people starting from reading, then writing, and finally translating. Both of these patterns, I call the door. But before entering that door, we are faced with ‘choice’—borrow from Soren Kierkegaard, the philosopher who is an anti-philosopher, at The Choice of Being: Soren Kierkegaard and the Essence of Existence from Nathan Johnson. When we are convinced, to be, to present our choices, then we step into small steps to enter the door, enter the world we want. Any choice that leads to desire, of course, contains risks that become problematic if the point of press on the word ‘problem’; or becomes a challenge if the press on the word ‘challenge’. When transformed in another space: Which way do you choose, translating of life in writing, or translating of life in reading? Or, the French language who beautiful, intelligent, fascinating, and reflective; or, the German language who handsome, honest, and full of spirit.

Il y a des gens qui commencent d’écrire, puis de la lecture, et enfin la traduire. Il y a aussi des gens qui commencent de la lecture, puis de l’écrire, et enfin la traduire. Ces deux modèles, j’appelle la porte. Mais avant d’entrer dans cette porte, nous sommes confrontés au «choix»—emprunter à Soren Kierkegaard, le philosophe qui est un anti-philosophe, au choix de l’être: Soren Kierkegaard et l’essence de l’existence de Nathan Johnson. Lorsque nous sommes convaincus d’être, pour présenter nos choix, nous entrons dans de petits pas pour entrer dans la porte, entrer dans le monde que nous voulons. Tout choix qui mène au désir, bien sûr, contient des risques qui devient problématiques si le point de pression sur le mot «problème»; ou devient un défi si le point de pression sur le mot «défi». Lorsque transformé dans un autre espace: De quelle façon choisis-tu, traduisant de la vie en écrire ou traduisant de la vie en lecture? Ou, le français qui est belle, intelligente, fascinante et réfléchie; ou, l’allemande qui beau, honnête et plein d’esprit.

Es gibt einige Menschen, die vom Schreiben, Lesen und schließlich Übersetzen starten. Es gibt einige Menschen, die vom Lesen, Schreiben und schließlich Übersetzen starten. Beide Muster nenne ich die Tür. Aber bevor Sie diese Tür betreten, wir stehen vor „Wahl”, Von Soren Kierkegaard, dem Philosophen, der ein Anti-Philosoph ist, bei Die Wahl des Seins: Soren Kierkegaard und die Essenz der Existenz von Nathan Johnson. Wenn wir überzeugt sind, zu sein, unsere Wahlen zu präsentieren, dann treten wir in kleine Schritte, um die Tür zu betreten, geben wir die Welt, die wir wollen. Jede Wahl, die zum Verlangen führt, enthält natürlich Risiken, die problematisch, wenn der Punkt der Presse auf das Wort „Problem” werden; oder wird zu einer Herausforderung, wenn der Punkt auf das Wort „Herausforderung”. Wenn in einem anderen Raum transformiert: Welchen Weg wählst du, das Leben schriftlich übersetzen oder das Leben im Lesen übersetzen? Oder die französische Sprache, die schön, intelligent, faszinierend und reflektierend ist; oder die deutsche Sprache, die gutaussehend, ehrlich und voller Geist ist.

Hari Yang Lain. (L’Autre Jour)

21765095_1512082368874749_7024809302464741267_n

Kata sebagian orang, hidup selalu diterjemahkan dengan beragam warna. Namun, ada sebagian yang menafsir bahwa hidup hanyalah hitam dan putih. Andaikan kita bermain-main dengan dua warna saja, seperti hitam dan putih, warna mana yang akan kamu pilih?

Di satu sisi, tentu saja, semua orang akan memilih warna putih, warna suci. Warna putih bisa diterjemahkan dalam domain-domain lain seperti kebahagiaan, kesenangan, kesuksesan, etcetera. Di sisi yang lain, tentu saja, semua orang tak akan memilih warna hitam, warna keruh. Warna hitam bisa diterjemahkan dalam domain-domain lain seperti ketakbahagiaan, kesedihan, kegagalan, etcetera.

Segalanya berputar, dinamis, kata orang seperti roda. Namun, apakah kita siap menerima itu semua, seperti menerima kebahagiaan, kesenangan, kesuksesan, tanpa harus merendahkan yang lain? Ataukah kita siap menerima itu semua, seperti menerima ketakbahagiaan, kesedihan, kegagalan, tanpa harus menyalahkan yang lain?

Kata ‘kebahagiaan’, ‘kesenangan’, ‘kesuksesan’, ‘ketakbahagiaan’, ‘kesedihan’, ‘kegagalan’, memiliki dinamika yang unik untuk dipelajari. Ketika warna hitamku hadir, biarkan ia hadir, agar aku memahami bahwa warna putihmu yang menakjubkan. Ketika warna putihku hadir, biarkan ia hadir, agar aku sedikit demi sedikit menyeka warna hitam yang menyedihkanmu.

Siapkah kita saling mengisi? Bila kamu (terus) memilih kebahagiaan, maka ijinkan aku menjadi ‘yang lain’, yang akan (terus berusaha) memunculkan kebahagiaan untukmu.

[] Image album baru dari Endless Melancholy.

Dialog (Percakapan) (Bilingual Jerman-Indonesia)

burgess

Klaus frühstück bei Ani zu Hausse.

Lernen Sie folgenden Dialog auswendig.

Ani:

Ibu, ini Klaus, teman saya dari Jérman. Klaus, ini ibu saya.

Mutter, dies ist Klaus, mein Freund aus Deutschland. Klaus, dies ist meine Mutter.

Ibu (Anrede: Ibu) Mutter. | ini dies (-er, -e) | teman Freund, Bekannter | Jérman Deutschland, deutsch.

Ibu Héndro :

Selamat datang, Tuan Klaus! Mari silakan duduk!

Willkommen, Tuan Klaus! Bitte setzen Sie sich!

Ibu (+ Name) Frau… | Tuan (+ Name) Herr… | mari silakan… Bitte… | duduk sitzen, sich setzen.

Klaus :

Terima kasih, Bu. Tetapi maaf, Ibu jangan memanggil saya Tuan. Panggil saja saya Klaus.

Danke, Bu. Aber Entschuldigung, reden Sie mich nicht mit Tuan an. Nennen Sie mich einfach Klaus.

Bu Kurzform von Ibu | tetapi aber, jedoch | maaf Entschuldigung | jangan leitet negative Befehlssatze ein | memanggil rufen, nennen, anreden | panggil Grundform (hier als Imperativ verwandt).

Ibu Héndro :

Baiklah, Saudara Klaus mau minum apa? Minuman panas atau dingin?

Gut, was möchten Sie trinken, Klaus? Ein warmes oder ein kaltes Getränk?

Baiklah gut, in Ordnung | Saudara (+ Name) Herr… | minum trinken | minuman Getränk | panas warm, heiß | atau oder | dingin kalt, kühl.

Klaus :

Ah, apa-apa sajalah, Bu. Jangan répot-répot!

Ach, irgendetwas, Bu. Nur keine Umstände!

Apa-apa saja(lah) irgendetwas, was auch immer | répot gescähftig sein | répot-répot viel Aufhebens machen.

Ani :

Téh mémang sudah siap, Klaus. Air jeruk atau setrop juga ada.

Tee steht ohnehin bereit, Klaus. Zitrussaft oder Limonade ist auch da.

Téh Tee | mémang natürlich, selbstverständlich | siap bereit, fertig | air Wasser | jeruk Zitrusfrucht | air jeruk Zitronen-, Orangensaft | setrop Limonade

Klaus :

Ya, air jeruk sajalah.

Nun, einfach Zitrussaft.

Ya verzögerungspartikel (Redeeinleitung)

Ani (als das Getrank kommt)

Silakan minum! Itu air jeruknya.

Bitte, trink! Da (wörtl. Das) ist dein Zitrussaft.

Itu das, jen(-er, -e, es)

Ibu Héndro :

Sarapan juga sudah sedia, Ani, kalau mau.

Das Frühstück ist auch schon fertig, Ani, wenn (es) ihr wollt.

Sarapan Frühstück | sedia bereit, fertig, vorräatig | kalau wenn, falls.

Ani :

Bagaimana, Klaus? Saya belum makan pagi. Kita makan bersama-sama, ya?

Wie steht’s, Klaus? Ich habe noch nicht gefrühstück. Wir essen gemeinsam, ja?

Belum noch nicht | makan pagi frühstücken | bersama-sama gemeinsam, zusammen, miteinander | …ya?… nicht war? (Nachfrage zur vergewisserung).

Klaus :

Sebetulnya, tadi di pesawat sudah sarapan.

Eigenlich gab es vorhin im Flugzeug schon Frühstück.

Sebetulnya eigentlich, tatscählicht | tadi vorhin, zuvor | pesawat (terbang/udara) flugzeug.

Tetapi boléhlah, sedikit-sedikit.

Trotz dem einverstandem, (noch) ein bißchen.

Boléh dürfen | boléhlah in Ordnung!, einverstanden! | sedikit-sedikit ein bißchen, ein wenig.

Ani :

Ayo, mari makan!

Komm, essen wir!

Ayo los! auf!, komm! (Aufforderungspartikel)

[] Diketik dari Bahasa Indonesia, Indonesisch fur Deutsche. Teil 1, 6., verbesserte Auflage. Terbitan Julius Groos Verlag Tubingen.

Tous humains, tous différents, tous égaux ! (Prancis-Indonesia)

Tous-humains-tous-differents-tous-egaux

Tous humains, tous différents, tous égaux !

Par Les Petits Débrouillards.

128 pages. 9 euros. À partir de 8 ans.

Chacun d’entre nous est à la fois un être biologique, social et culturel, un individu unique et une partie de l’espèce humaine. Identiques biologiquement à plus de 99%, nous somme façonnés différemment par notre environnement familial, culturel, naturel, social…

Dans ce livre, 19 jeunes du monde entier racontent une tranche de leur vie, commentée par une approche scientifique. Cela permet de saisir ce qui caractérise l’être humain, et ce qui est à l’origine de notre diversité et de nos ressemblances. La diversité humaine est naturelle, mais ce qui peut poser problème, c’est la façon dont elle est perçue (et utilisée) dans toute société. Cet ouvrage veut inciter les jeunes à se protéger des manipulations, stéréotypes ou conditionnements qui justifient certaines discriminations, qui alimentent le racisme déjà existant et en font émerger de nouvelles formes.

La notion d’égalité des individus, elle, n’est pas naturelle : c’est un choix de société, une valeur essentielle qui permet d’organiser le vivre ensemble dans le respect des êtres humains. C’est une construction humaine fragile, un acquis à défendre par chacun et à améliorer. Devenons ce que nous voulons devenir.

*

Seluruh manusia, seluruh perbedaan, seluruh persamaan !

Oleh Les Petits Débrouillards.

128 halaman. 9 euro. Untuk umur 8 tahun.

Masing-masing dari kita, pada suatu waktu, adalah makhluk biologis, sosial dan budaya, seorang individu yang unik dan sebagian dari makhluk spesies. Identitas secara biologi lebih dari 99%, kita terbentuk secara berbeda melalui lingkungan keluarga, budaya, alam, sosial kita…

Dalam buku ini, 19 anak dari seluruh dunia bercerita tentang kejadian dalam kehidupan manusia mereka, berkomentar melalui suatu pendekatan saintifik. Ini memungkinkan untuk menangkap karakteristik manusia, dan apa saja asal usul keragaman kita dan persamaan kita. Keanekaragaman manusia itu natural, tapi bisa menjadi problematik, inilah jalan yang mana perbedaan adalah merasakan (dan digunakan) dalam seluruh masyarakat. Karya ini bertujuan untuk mendorong anak-anak muda untuk melindungi diri mereka dari manipulasi-manipulasi, stereotip-stereotip atau mengondisikan yang membenarkan diskriminasi tertentu, yang mengisi rasisme yang telah ada dan muncul dalam bentuk-bentuk baru.

Gagasan tentang persamaan individu, itu, tidaklah alami : itu suatu pilihan masyarakat, suatu nilai esensial yang mengijinkan untuk mengatur kehidupan bersama dalam menghormati manusia. Suatu konstruksi manusia yang rapuh, suatu aset yang dipertahankan oleh masing-masing dan memperbaiki. Mari menjadi apa yang kita inginkan.

: Image dari livre[dot]fnac[dot]com

: Teks diketik dan dialih-bahasakan dari “22 rue huyghens. Rentree 2017. #5.”