Mahfud MD: Madura, Yogya, Hingga Mimpi. (1)

17934152._UY630_SR1200,630_

Pondok pesantren itu diasuh oleh Kyai Mardhiyyan. Kini Mahfud merasa, dialah orang yang memiliki andil besar membentuk pribadinya. Kyai Mardhiyyan adalah orang yang baik pada siapapun, bahkan kepada orang yang sinis kepadanya sekalipun. […] Pada saat mengobrol di sela makan siang itu, Mahfud sering memperhatikan percakapan ayahnya dengan Kyai Mardhiyyan. Suatu ketika, Mahmodin bertanya tentang Apollo 11, misi luar angkasa berawak pertama yang berhasil membawa manusia ke bulan yang diluncurkan 16 Juli 1969. “Bagaimana Apollo menurut agama? Apa mungkin manusia pergi ke bulan?” Kata Mahmodin. / Pada saat itu, sebagian besar orang Madura menganggap misi itu tidak mungkin. Bahkan, banyak orang yang memandang manusia pergi ke bulan itu tahayul. Tetapi, Kyai Mardhiyyan yang berada di desa terpencil itu mengatakan sebaliknya. Katanya, manusia bisa pergi ke bulan. Lalu ia menunjukkan QS. Ar-Rahman. / Ketika itu Kyai Mardhiyyan menjelaskan, misi semacam itu justru didorong oleh Islam. Kyai mengatakan, “Di dalam QS. Ar-Rahman disebutkan, tembuslah langit dan bumi. Dan kamu bisa menembus langit dan bumi itu kalau punya sulthon.” Sulthon, menurut, kyai, adalah kemampuan, termasuk iptek, yang bisa diberikan oleh Tuhan kalau kita berusaha. / Bahasa Indonesia Kyai Mardhiyyan pun bagus. Untuk orang Madura pada waktu itu memiliki kemampuan berbahasa Indonesia terbilang mewah. Tetapi, Kyai Mardhiyyan sudah mengajarkan bahasa Indonesia di kelas. Dia katakan, “Kalian tidak akan maju kalau kalau bahasamu cuma bahasa Madura.” Bukan hanya para santri yang ia ajari bahasa Indonesia. Ia bahkan membuka kelas-kelas khusus pelajaran bahasa Indonesia untuk tetangga-tetangganya. / Hingga kini, Mahfud menilai, Kyai Mardhiyyan adalah orang desa yang pintar. Karena kemampuan dan kebaikannya itu, Kyai Mardhiyyan kemudian menjadi sosok idola Mahfud semasa kecil. – Dalam Bab ‘Santri Kesayangan.’

Rasa penasaran Mahfud kecil sangat besar. Ia selalu ingin mengetahui segala sesuatu. Kalau ada keramaian, misalnya, ia akan cepat-cepat datang menghampiri untuk mengetahui apa yang terjadi. / di sekolah, Mahfud dikenal pandai dalam pelajaran Ilmu Berhitung sejak kelas satu. Nilainya hampir selalu mendapat angka 10. daya ingatnya kuat, sehingga ia bisa hapal pelajaran Sejarah dan Ilmu Bumi. Ia hapal gambar bendera di seluruh dunia. Ia juga menguasaipeta buta Indonesia dan dunia. Minatnya pada tata negara kala itu sudah tampak dari kesukaannya pada pelajaran yang kini dikenal sebagai Pendidikan Kewarganegaraan. – Dalam Bab ‘Serba ingin Tahu.’

Di masa kecilnya Mahfud juga pernah nakal. Ia suka mengambil uang dari saku ayahnya. Kalau ketahuan, ia pasti dimarahi, lalu dinasihati suapaya meminta uang dengan cara baik-baik. Biasanya Mahfud akan mengakui kalau ia yang mengambil uang. Tapi, kemarahan ayahnya akan mereda begitu Mahfud mengatakan uang itu dipakai untuk membeli kitab. / Kitab adalah sebutan untuk buku pelajaran agama yang ditulis dengan bahasa Arab yang seringkali disebut kitab kuning. “O iya, bagus, bagus, bagus itu,” kata Mahmodin. / Padahal, Mahfud menggunakan uang itu untuk main atau jajan. Sedangkan kitabnya, kadangkala ia hanya meminjam saja pada teman. Ayah Mahfud memang senang dengan buku agama yang ditulis dengan tulisan Arab gundul seperti itu. Hingga masa tuanya, Mahmodin juga terus menerus belajar. Karena itu, ia akan senang sekali kalau anaknya belajar. […] “Nah, oleh sebab itu, apapun yang kamu inginkan sekarang, carilah ilmu dulu,” ujar Mahmodin. – Dalam Bab ‘Habisan-Habisan Untuk Ilmu.’

Mahfud suka betul cerita silat Kho Ping Hoo. Bisa dibilang, dia adalah seorang penggila. Setiap jilid cerita silat Kho Ping Hoo dikemas dalam buku saku tipis bersampul putih. Meski isinya tak bergambar, orang-orang sering menyebut buku itu komik. Sewaktu Mahfud masih kecil, komik-komik semacam itu banyak disewakan di pinggir-pinggir jalan di pamekasan. Lembaran-lembaran bukunya lusuh saking cepatnya perpindahan komik itu dari tangan ke tangan. […] Mahfud seperti tidak peduli bahwa buat orang Madura, membaca roman itu dosa. Orang madura berpandangan, roman berisi kisah percintaan yang dekat dengan zinah. Membaca komik juga dilarang karena buang-buang waktu. Daripada membaca komik, lebih baik berzikir dan tadarus Al-Quran. Menurut pakemnya, di dalam kamar orang Madura itu harus ada Al-Quran dan buku-buku agama. Sementara Mahfud penggila bacaan-bacaan terlarang itu. Ia adalah anak di luar pakem orang Madura. […] Akhirnya, dari ratusan judul cerita yang sudah ia baca itu, Mahfud mengambil kesimpulan. “Semua cerita Kho Ping Hoo punya benang merah yang sama,” katanya. Pertama, bagaimana kebenaran itu selalu menang pada akhirnya. Buktinya, dari semua cerita yang ia baca, tak ada tokoh baik yang kalah. Kebenaran hanya kalah sebentar, kelak di akhir cerita ia pasti menang. Kedua, manusia akan bahagiakalau hidup apa adanya. Ketiga, kesaktian itu akan muncul manakala kita jujur. [..] Dari perpaduan antara filsafat yang ada dalam Al-Quran dengan cerita komik Kho Ping Hoo itu, Mahfud mengambil pelajaran untuk menjadi air. Bukan menjadi buih yang sering tidak punya jati diri karena dia hanya mengikuti air. Kalau air belok, buih ikut berbelok, kalau belokannya deras maka buihnya terlempar. Sekarang hidup Mahfud juga seperti itu, mengalir saja, tetapi jangan sampai menjadi buih. Dengan menjadi air, seseorang akan mengikuti aliran yang ada. Tapi, kalau menjadi buih, ia akan menjadi orang yang tak berguna. – Dalam Bab ‘Tersesat Di Jalan Yang Benar.’

“Hai Mahfud! Mau ke mana?” tiba-tiba seorang calo di terminal memanggil Mahfud. / “Mau ke Yogya,” jawab Mahfud. – – Dalam Bab ‘Meninggalkan Madura.

PHIN adalah sekolah agama milik Departemen Agama yang didirikan oleh KH. Wahid Hasyim, ayah Gus Dur. Sekolah ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan akan hakim-hakim agama, karena pada saat itu peradilan agama menjadi bagian tata hukum nasional. Wahid Hasyim kemudian menyiapkan panitera pengadilan agama dan hakim pengadilan agama dengan membentuk PHIN. Semula sekolah ini bernama Sekolah Guru dan Hakim Islam (SGHI). Kemudian diubah menjadi Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA), sebelum akhirnya menjadi PHIN. […] Di sanalah Mahfud mulai terpukau pada ilmu hukum. Ia seperti memasuki sebuah dunia baru yang penuh harapan. Sebab, ternyata di dalam subsistem kemasyarakatan itu ada hukum yang bisa menjamin ketertiban dan kedamaian. […] Mahfud juga terkesan pada seorang guru agama yang mengajar bahasa Arab. Namanya Ustad Bakir Soleh. Ketika itu, ia dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah. Dari dialah Mahfud memperdalam bahasa Arab, sehingga ia tahu bahwa satu kata dalam bahasa Arab bisa dipecah menjadi 14 kata. Mahfud merasa cara mengajar Ustad Bakir sangat menyenangkan. Jadi, walaupun pelajaran itu terbilang susah, Mahfud bisa menghapal pecahan-pecahan 14 kata dalam setiap kata bahasa Arab itu sampai sekarang. […] Tugas seorang hakim adalah menegakkan hukum dan mengendalikan hak-hak masyarakat secara kolektif maupun hak perseorangan. Hakim adalah pekerjaan mulia. Sebab, rusaknya suatu bangsa tergantung pada penegakan hukumnya. Kalau penegakan hukum dan keadilan itu bagus, bangsa itu akan maju dan beradab. Sebaliknya, kalau suatu bangsa tidak mampu menegakkan hukum, bangsa itu akan mengalami kemunduran dan hancur. – Dalam Bab ‘Wakil Tuhan Di Dunia.’

Namun Mahfud justru menganggap, di dunia modern saat ini yang diperlukan seorang hakim malah perasaan. Sebagai hakim konstitusi, Mahfud memakai perasaan dalam memutus perkara. Bagi dia, rasa juga dipertemukan dengan common sense. “Kalau pakai logika-logika saja kita terjebak,” ujarnya. Sebab, bagi Mahfud, keadilan adalah pertemuan antara logika dan perasaan. “Kalau keduanya bertemu, itulah keadilan,” kata Mahfud. Dalam Bab ‘Konsep Keadilan.’

Sebab itu Mahfud kemudian agak sependapat dengan Nurcholis Madjid, ketika dia menyebut perbedaan NU dan Muhammadiyah. Nurcholis mengatakan, NU itu ibarat perpustakaan yang isinya bermacam-macam, tetapi tidak mempunyai katalog. Di situ semua ada, tetapi sulit dicari karena tidak sistematis. Sedangkan kalau Muhammadiyah yang ada hanya katalog, tapi bukunya sendiri tidak ada. Karena Mahfud mengikuti katalog dan materi perpustakaannya, maka ia merasa biasa saja ketika diajak berbicara dengan orang Muhammadiyah. Ia mengerti pokok dasar pemahaman mereka. – Dalam Bab ‘NU Tulen.’

Demi mengejar cita-cita sebagai dosen, Mahfud belajar sungguh-sungguh. Hasilnya tak mengecewakan. Pada akhir tahun pertama masa kuliahnya, ia memborong nilai A. sebanyak 9 dari 10 mata kuliah yang ia ambil mendapat nilai A. hanya satu mata kuliah yang mendapat nilai B, yakni sosiologi. Itu pun sudah bagus, karena mahasiswa lain rata-rata mendapat nilai C. / Prestasi akademis Mahfud yang membanggakan itu seketika mendapat ganjaran. Kampus memberinya beasiswa sehingga ia dibebaskan membayar uang kuliah. Ia juga mendapat tambahan uang saku dari Yayasan Supersemar. Yayasan yang didirikan oleh Presiden Soeharto itu menyediakan dana untuk mahasiswa berprestasi. Sambil tersenyum penuh ironi Mahfud berkata, dengan uang beasiswa Supersemar itu, mahasiswa-mahasiswa itu dididik supaya menyadari hak-hak politiknya untuk kemudian digunakan melawan Pak Harto. – Dalam Bab ‘Aktivitas Paralel.’

Pada saat menulis tesis, Mahfud mendalami soal konstitusi dan demokrasi. Konstitusi adalah faktor normatifnya, sedangkan demokrasi adalah faktor politiknya. Di akhir studi, Mahfud sampai pada kesimpulan. Ternyata, subsistem kemasyarakatan yang bernama hukum itu energinya memang lebih lemah daripada politik. Posisi hukum lebih lemah karena sesungguhnya hukum adalah produk politik. […] Di sana ia menulis disertasi tentang politik hukum, tentang bagaimana politik mengarahkan hukum. Dalam disertasi itu ia menjabarkan bagaimana keputusan politik mempengaruhi hukum, baik dalam pembuatan norma, maupun dalam penegakan normanya. […] Pulang dari Amerika pada 1991, draf disertasi Mahfud sudah selesai. Pembimbingnya hanya tinggal mengoreksi dari bab ke bab. Itulah sebabnya, awal 1993 seluruh draf sudah selesai dikerjakan. Bulan April ia menjalani ujian tertutup. Baru Juni ujian terbuka dilangsungkan. / itulah rahasia Mahfud bisa menyelesaikan pendidikan doktoral dengan cepat. Ia merasa beruntung mengenal orang-orang baik yang memberitahu cara menulis disertasi. Mereka bilang, menulis disertasi itu jangan terlalu muluk-muluk, buat saja bingkainya. Kalau sudah terjawab, itu sudah cukup. Sedangkan kalau disertasi itu mau dikembangkan lagi ya nanti saja. – Dalam Bab ‘Doktor Politik Hukum.’

Sejak berpacaran, Mahfud dan Yatie selalu terlihat berdua dengan vespa cokelat ke mana pun. Mahfud jadi tahu tempat-tempat jajanan terkenal di Yogya karena sering diajak Yatie makan. “Kan dia uang kosnya lebih banyak,” kata Mahfud. Pasangan Yatie-Mahfud juga terkenal di kalangan dosen sehingga mereka dikenal sebagai pasangan vespa cokelat. […] Mereka berdua memiliki pondasi NU yang sama-sama kuat. “Tapi sentuhan-sentuhan interiornya itu Muhammadiyah,” kata Mahfud. Itulah yang membuat mereka berdua lebih terbuka dan tidak fanatik pada agama. […] Sekalipun Mahfud belum bekerja, Yatie merasa dirinya mujur. “Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, saya selalu diberi kemudahan,” katanya. Kepada yatie, Mahfud mungkin tak pernah secara lisan mengungkapkan perasaannya. Tapi, bagi dia, Yatie adalah cinta pertama dan terakhirnya, sampai sekarang. Dalam Bab ‘Cinta Pertama dan Terakhir.’

[] Diketik dari Biografi Mahfud MD, Terus Mengalir – Rita Triana Budiarti; Cet.1 – Jakarta: Konstitusi Press, Maret 2013.

Iklan

Ideologi Perkawanan Yang Menuliskan Ceritanya Sendiri.

– Untuk S, dan Keluarga Kecilnya.

But, if youre human being, you will get the blues.”- John Mayer.

Hari libur adalah hari yang dinanti oleh siapapun. Hari di mana manusia menjadi manusia sesungguhnya. Hari di mana identitas asli ayah adalah ayah sebenarnya, ibu adalah ibu sebenarnya, dan anak adalah anak yang sebenarnya. Dalam artian seperti ini, pada hari libur, seorang ayah bukan lagi menjadi mesin, melainkan seorang manusia yang utuh/lengkap untuk seorang pasangan dan buah hatinya, begitu pun dengan si ibu, dan si anak.

Pada hari libur seperti ini, ingin sekali bersua keluarga kecil di kota sendiri bersama kawan-kawan lama, namun resiko dan (banyaknya) tanggung jawab terhadap aktivitas/pekerjaan baru—katakanlah mimpi baru—membuat hari libur seperti surga, mengingat jarak Yogyakarta-Malang, begitu dekat, sebenarnya. Namun, dua hal itu tadi, resiko dan tanggung jawab terhadap mimpi baru memunculkan pengorbanan untuk, paling tidak, menanti satu momen, bisa berkumpul kembali bersama keluarga dan kawan-kawan lama.

Dunia internet, yang konon, kata beberapa orang membuat dampak negatif, bagiku tidak; aku mencoba untuk memutar pandangan umum dari beberapa orang itu. Bagiku, internet adalah suatu keberkahan, tergantung bagaimana terus memahami/mempelajari/merumuskan, meminjam istilah dari murid Jacques Derrida, Radhar Panca Dahana, lulusan studi Sosiologi di École des Hautes Études en Science Sociales, Paris, Prancis: “Ledakan data.”

Dunia internet atau virtual dengan aliran ber-byte-byte membuat kerinduan yang memuncak itu terobati. Melihat foto ibu-ayah, melihat status adik, mengamati perkembangan keponakan yang di-post oleh kakak ipar, mencoba tersenyum meskipun harus menerima dengan berat orang di masa lalu berbahagia dengan orang yang dipilihnya, mencoba membuka ruang baru bagi orang baru yang (ternyata) di sanalah terletak suatu destinasi/avonturir kesedihan dan kebahagiaan bergumul menemui pemberhentiannya. Tak hanya itu, pun dengan kawan-kawan lama, dari masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, bahkan—saat ini—yang akan merangkak pada masa tua.

Mengamati mereka semua dari jarak yang bisa terbilang, tak jauh, dan tak dekat, cukup mengasyikkan. Untuk menyebut satu dari sekian banyak kawan yang seluruhnya spesial tanpa harus membeda-bedakan, adalah Si S, kawan dalam penjelajahan di dunia musik dan menikmati alam. Ideologi perkawanan yang sewajarnya itu—tanpa harus melebih-lebihkan—telah menuliskan ceritanya sendiri. Dan beranjak dari dunia virtuallah, aku mengikuti seluruh perkembangannya. Belajar tentang ‘Waktu’ tak pernah habis dicecap. Kini Si S, telah menjadi seorang ayah dari dua gadis kecil mungil yang cantik. Lalu, ada keriaan tersendiri ketika ia menuliskan sesuatu gagasan di akun instagramnya:

[1] “Outing Class… Mengenal Moda Transportasi Massal, Kereta Api & Angkot… Penting bagi kita untuk mengenalkan dan membiasakan diri pada anak2 untuk suka naik angkutan umum… Selain seru dan menyenangkan, ini bisa membentuk mental dan kebiasaan anak untuk tidak tergantung pada kendaraan pribadi… Kemacetan lalu lintas hari ini adalah imbas dari meningkatnya jumlah kendaraan pribadi di jalan raya yg bersumber dari meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia… Kelas menengah yg adalah seorang intelektual, terpelajar yg sejatinya adalah agen perubahan… Stop mengeluh macet karena secanggih apapun sistem dan rekayasa lalu lintas yang kita buat, jalanan akan tetap macet selama kita tidak menciptakan budaya untuk naik angkutan umum.. Jadi sebelum kita mewariskan kemacetan lalu lintas pada anak2 kita, sebaiknya kita tanamkan dulu budaya untuk suka naik angkutan umum pada mereka…”

Atau,

[2] “Kalau ditanya kalau sudah besar mau jadi apa? Jawabnya mau jadi robot.. Minta pakai helm, ngakunya Ultraman. Tapi pakai helm motif Spiderman, pakai buff biasa buat naik gunung, pakai sarung tangan buat naik motor tapi naik kuda kudaan yang nggak mirip kuda.. aaahhh seru sekali dunia anak2.. kreatif.. pure imagination.. selamat bermain dan belajar semoga kalau sudah besar kamu suka menulis…”

Dan, sekali lagi, ideologi perkawanan yang sewajarnya itu—tanpa harus melebih-lebihkan—telah menuliskan ceritanya sendiri.

Be great-blues daddy!

Batas Pengorbanan Dan Cinta.

Hari ini aku membuka majalah kebudayaan Basis yang mana Romo Sindhunata sebagai pemimpin redaksinya. Pada Basis nomor 05-06, Tahun Ke 60, 2011; Ketika Romo Sindhunata mengurai perihal budaya Jepang sebagai Kulturnation. Lalu beliau menulis seperti ini:

*

“Salah satu ciri pokok Kulturnation mereka adalah rasa solidaritas yang dalam. Rasa solidaritas ini ternyata tak luntur, juga ketika Jepang diterpa oleh arus individualisme modern. Malahan rasa solidaritas itu menjadi unsur yang sangat menentukan dalam proses mereka membentuk masyarakat sipil yang saling solider. Tingkat bela rasa mereka pun menjadi makin merekat ketika menghadapi bencana. Karena merupakan bagian yang membentuk Kulturnation mereka, solidaritas itu hidup tidak hanya karena tantangan sejarah, tapi juga karena penghayatan-penghayatan mitis mereka. Salah satu contoh yang dapat menerangkan hal ini misalnya adalah petikan kisah sebuah sandiwara Noh yang sangat tua ini :

Seorang anak mendaki sebuah gunung yang suci untuk meminta obat penyembuh bagi ibunya yang sedang sakit. Di tengah pendakian, ia melihat sekelompok rohaniawan yang sedang berziarah. Si anak lalu menceburkan diri dalam rombongan itu. Selama perjalanan, si anak tiba-tiba jatuh sakit. Sesuai dengan aturan tradisi, si anak harus dibuang dan diterjunkan melewati batu-batu karang. Diperlihatkan, betapa mengharukan kejadiannya, ketika si anak menimbang-nimbang untuk menjatuhkan keputusan. Akhirnya ia setuju. Dan orang-orang suci itu melemparkannya ke bawah dan anak itu mati.

Penyair dan penghayat teater terkenal Jerman, Bertold Brecht, melihat dalam sandiwara Noh tersebut ada dialektika antara “ya” dan “tidak”, yang diperlihatkan oleh si anak. Akhirnya si anak sampai pada sintese dialektik, bahwa ia harus setuju untuk mengorbankan dirinya. Ia tidak lagi berpikir tentang ibunya yang memerlukan obat, yang harus dicarinya. Ia melihat ada kepentingan yang lebih besar, kepentingan sosial, yang tak boleh ia cemarkan karena sakitnya. Brecht melihat, dari segi dialektis, dengan keputusan yang akhirnya diambil si anak, sandiwara itu sesungguhnya mengandung ajaran yang memperlihatkan benih “sosialisme”, yang paling asasi, yakni pengorbanan individu bagi kepentingan sosial masyarakatnya. Dalam mitos macam inilah misalnya rasa solidaritas orang Jepang sangat dipertajam.”

*

Aku terdiam. Tak mengambil kesimpulan apa-apa, hanya saja jari-jariku kemudian berhenti, seperti ketika Jan A.P. Kaczmarek menuntaskan nomor, Marzyciel – The Park On The Piano, tepat ketika aku berhenti mengetik tiga paragraf di atas.

Bahasa Indonesia, Indonesisch Für Deutsch von Bernd Nothofer / Karl-Heinz Pampus. (Bilingual Jerman-Indonesia)

Mzg3Mjc2NTU0WDtodHRwOi8vcGljdHVyZXMuYWJlYm9va3MuY29tL0ZBQ0hCVUVDSEVSV0VMVC8xMzY2MTU1MzczMi5qcGc=

[Jerman] Bahasa Indonesia (indonesisch Sprache, Sprache Indonesiens), die Sprache der Republik Indonesien, ist nicht, wie gelegentlich behauptet wird, eine Art Kunstsprache, sondern eine natürlich gewachsene Sprache, die aus dem Malaiischen hervorgegangen ist und zahlreiche lexikalische Elemente aus anderen Sprachen Indonesiens wie auch aus westlichen Sprachen in sich aufgenommen hat. Das Malaiische, das die Basis bildet, ist unter anderem die Muttersprache de Mehrzahl der Bewohner der malaiischen Halbinsel und der zentralen Regionen Sumatras. Es ist wie die meisten anderen Sprachen Indonesiens ein Mitglied der austronesischen Sprachfamilie, deren Verbreitungsgebiet sich über den indischen und pazifischen Ozean von Madagaskar bis zur Osterinsel und von Taiwan un Hawaii bis Neuseeland erstreckt.

Diese Sprachfamilie ist die umfangreichste der Welt und umfaßt mehr als 700 Sprachen wie zum Beispiel Javanisch, Tagalog (auf den Phillippinen), Maori und Hawaiisch. In der Republik Indonesien gibt es ungefähr 250 verschiedene sogennante Regionalsprachen, die zum größten Teil der austronesischen Sprachfamilie angehören. Nur auf Halmahera und im Inneren von Irian Jaya (West-Neuguinea) werden nicht-austronesische Papua-Sprachen gesprochen. Die Bekanntesten und verbreitetsten indonesischen Regionalsprachen (die nicht bloße Dialekte sind) sind Javanisch (gesprochen von etwa 80 Millionen Menschen in Mittel- und Ostjava), Sundanesisch (gesprochen von etwa 20 Millionen Menschen in Westjava) und Maduresisch (gesprochen von etwa 8 Millionen Menschen auf de Insel Madura).

[Indonesia] Bahasa Indonesia, bahasa dari Republik Indonesia, bukanlah, adakalanya dinyatakan sebagai, semacam bahasa seni bicara, namun bahasa yang berkembang secara alami, yang mana muncul dari bahasa Melayu dan banyak unsur leksikal dari bahasa lain di Indonesia, serta dari bahasa Barat yang telah diterima dalam dirinya sendiri. Bahasa Melayu yang membentuk dasar antara lain adalah bahasa ibu dari mayoritas penduduk Semenanjung Malayu dan daerah pusat Sumatera. Seperti kebanyakan bahasa-bahasa Indonesia, itu adalah anggota keluarga bahasa Austronesia, yang menyebar di atas India dan Samudra Pasifik dari Madagaskar ke Pulau Paskah dan dari Taiwan dan Hawai ke Selandia Baru.

Keluarga bahasa ini adalah paling komprehensif di dunia dan mencakup lebih dari 700 bahasa seperti bahasa Jawa, Tagalog (di Filipina), Maori dan Hawai. Di Republik Indonesia, terdapat sekitar 250 bahasa berbeda yang disebut bahasa daerah, sebagian besar milik keluarga bahasa Austronesia. Hanya di Halmahera dan di pedalaman Irian Jaya, bahasa-bahasa Papua non-austronesia diucapkan. Bahasa daerah Indonesia yang paling populer (yang mana tak hanya dialek) adalah bahasa Jawa (diucapkan sekitar 80 juta orang di Jawa Tengah dan Jawa Timur), bahasa Sunda (diucapkan sekitar 20 juta orang Jawa Barat) dan bahasa Madura (diucapkan sekitar 8 juta orang di Pulau Madura.)

: Pict : https://www.abebooks.com/book-search/author/bernd-nothofer/ dan https://www.buecher.de/shop/indonesisch/bahasa-indonesia-indonesisch-fuer-deutsche-1/nothofer-bernd-pampus-karl-heinz/products_products/detail/prod_id/02900262/

Fyodor Dostoevsky Meet An Autumn For Crippled Children.

0011253263_36

Hari ini aku membuka salah satu media sosialku. Suatu halaman mengunggah gambar berupa merch satu band yang bergambarkan seorang anak kecil perempuan yang, duduk dengan menengadahkan tangan ke atas. Dia, anak kecil perempuan itu, seakan-akan meminta suatu pengharapan dalam satu doa; doa yang hanya dia sendiri dan Tuhan yang tahu. Apakah harapan bagi anak kecil perempuan—yang cacat/sakit itu? Demikianlah, ketika aku melihat design merch band Belanda dengan tema-tema yang sangat kelam itu.

An Autumn For Crippled Children (Musim Gugur Bagi Anak-Anak Cacat) mengingatkanku pada cerita-cerita sedih, namun reflektif, dari pengarang Rusia, Fyodor Dostoevsky dalam cerita pendek ‘The Heavenly Christmas Tree (1876)’ [1] tentang seorang anak yang terlalu miskin dan tak bisa menikmati hari natal—atau jika kita tarik lebar, dalam wilayah lain, wilayah Islam, tentang seorang anak yang terlalu miskin dan tak bisa menikmati hari raya lebaran.

Dalam karya Dostoevsky yang lain, dalam novel Brother Karamazov, aku menyukai petikan yang berelasi dengan tema design merch dari band, An Autumn For Crippled Children itu, yang bertajuk: ‘New Hope.’ [2]

“Cintailah seorang anak khususnya,” tulis Dostoevsky, lalu melanjutkan, “Karena mereka tak berdosa seperti malaikat; mereka hidup melembutkan dan menyucikan hati kita dan, seakan-akan, membimbing kita.”

Untukmu yang (tetap) merindukan dan memperjuangkan harapan-harapan baru.

Ketika Hatta Mendaraskan Exogena Dan Endogena.

609829-foto-langka-ini-ungkap-sisi-lain-kehidupan-bung-hatta

I’m still there, pure trauma / Frame by frame pure trauma – Pure Trauma, Downset, Check Your People.

“Apakah sebenarnya ‘Krisis’?” tulis Mohammad Hatta dalam ‘Krisis Ekonomi Dan Kapitalisme (Kumpulan Karangan III, 1954).’

Kemudian dua bola mata di balik kacamata lelaki yang telah berusia duapuluh-delapan tahun itu melanjutkan kembali dalam spasi-spasi berikutnya, dan Hatta berkata:

“Amat susah memberi keterangan dengan sepatah kata, karena krisis itu—seperti yang disebut tadi—berubah-ubah rupanya dari zaman ke zaman, dan banyak pula macamnya. Demikian juga sifatnya berlain-lain menurut kedudukannya. Hanya satu tanda umum pada tiap-tiap macam krisis, yaitu kekacauan dan kerusakan dalam harta benda.”

Lelaki duapuluh-delapan tahun itu berhenti sejenak, mengangkat cangkir kopinya, meminum minumannya, meletakkan buku Hatta, sambil memandang foto-foto dari orang-orang yang dicintainya, kawan, keluarga, dan perempuan yang membuat, meminjam Leo Tolstoy, menghidupkan hidupnya; namun, perempuan itu telah berbahagia dengan orang yang dipilihnya beberapa tahun yang lalu. Setelah itu, lelaki duapuluh-delapan tahun itu tak ingin terhantam dalam ‘abu ingatan’ menurut Jacques Derrida, sehingga ia mengangkat kembali buku Hatta dan melanjutkan membaca ‘Krisis Ekonomi Dan Kapitalisme.’ Penyuka sepakbola itu berkata kembali:

“Berhubungan dengan sebab yang membangkitkannya, krisis itu boleh dibagi atas dua golongan besar, yaitu krisis exogena (krisis dari luar) dan krisis endogena (krisis dari dalam). […] Yang pertama ditimbulkan oleh kodrat alam, seperti : banjir, lahar, gempa, musim kemarau, musim penyakit tanaman yang menimbulkan bahaya kelaparan, musim epidemi (wabah) dan lain-lain. Manusia tidak ada campur tangan dalam keadaan ini. Krisis golongan kedua, endogena, ialah kejadian yang timbul dari dalam pergaulan hidup, seolah-olah penyakit keturunan daripada penghidupan ekonomi. Ialah perbuatan manusia sendiri, sekalipun tidak disengaja dan tidak dikehendaki. Atau, boleh juga dikatakan, ekor dari perbuatan manusia. […] Krisis macam yang kemudian inilah yang disebut krisis ekonomi. Kedua macam golongan krisis itu merusak perekonomian dan mengacau penghidupan, memang. Akan tetapi krisis exogena, seperti disebut tadi, berlaku di luar kodrat dan tanggungan manusia, sedangkan krisis endogena lahir karena perbuatan manusia. Ia takluk ke bawah hukum pergaulan hidup atau dinamika sosial.”

Lelaki duapuluh-delapan tahun itu berhenti kembali, menghembuskan nafas berat, dan menyelipkan pembatas buku dan menutup buku Hatta. Lalu, ia mengemasi perangkat-perangkatnya berupa satu buku anak-anak berbahasa Jerman, kamus konjugasi Prancis, mesin ketik elektroniknya dan memasukkan barang-barang itu ke dalam daypack consina seri tamadue, dan bergerak ke luar kamar kecilnya untuk menuju ke salah satu pusat kebudayaan, bergerak untuk mencari pengharapan baru yang masih tersisa, serta berkawankan spirit yang masih tersisa.

[] pict: https://www.brilio.net/sosok/8-foto-langka-ini-ungkap-sisi-lain-kehidupan-bung-hatta-top-banget-170402q.html

Untuk Kawan Dari Timur.

bland (another copy)

Baim, namanya. Ia datang ke Pulau Jawa untuk mencapai mimpinya. Ia bicara tentang pengalamannya tentang tanah yang ditinggalkannya berkilo-kilo meter jauhnya dengan nada bicaranya yang tegas, “Di Ambon, lebih ke dalam, bahkan sinyal telepon pun tak ada, apa lagi internet.”

Baim, namanya. Ia datang ke Pulau Jawa untuk mencapai mimpinya. Ia bicara tentang pengalamannya dengan keinginan yang keras dan mengambil kursus bahasa Inggris di Pare, Kediri. Dan aku pun dibuatnya takjub dengan kecerdasannya mana kala mengurai gramatika dalam bahasa Inggris.

Baim, namanya. Ia datang ke Pulau Jawa untuk mencapai mimpinya. Ia bicara tentang pengalamannya beradaptasi dari makanan Papeda hingga ujaran, “Aku tak bisa makan pecel, Bang.”

Baim, namanya. Ia datang ke Pulau Jawa untuk mencapai mimpinya. Dengan semangat menggebu-gebu, ia bercerita bahwa ia ingin masuk ke jurusan Hubungan Internasional, satu semangat yang pernah ditulis Mohammad Hatta dalam ‘Di Atas Segala Lapangan Tanah Air, Aku Hidup Aku Gembira’ :

‘Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Teluk yang molek dan telaga yang permai, gunung yang tinggi dan lurah yang dalam, rimba belantara dan hutan yang gelap, ataupun pulau yang sunyi serta padang yang lengang, semuanya itu bagian Tanah Air yang sama kita cintai. Semuanya itu tidak boleh asing bagi kita. Dan kita bersedia akan menempuhnya satu-persatu, bila perlu.’

Untuk kawan dari Timur, yang memiliki keinginan keras ke Pulau Jawa dan untuk mencapai mimpi-mimpinya, rasa hormat melalui petikan drama dari Friedrich Schiller:

‘Und setzet ihr nicht das Leben ein, Nie wird euch das Leben gewonnen sein.’

‘Dan jika kamu tak mempertaruhkan hidupmu, kamu tak akan pernah memenangkan hidupmu.’

Yang Tersisa Di Hari Yang Suci.

IMG_20170901_162252

Love is power! Love is truth! Love is endless! Love is your forgiveness! Love is your sacrifice! Love is your faith! Love is your trust! Love is your hope! – Touch, Downset, Do We Speak A Dead Language? (1996).

Di satu tempat kopi, aku sedang berhadapan dengan dua naskah dari para linguistik Prancis, salah satunya, si feminis yang keibuan, Julia Kristeva. Namun, ketika mengerjakannya, ada pemandangan yang mengusikku. Seorang ayah dengan dua anak lelakinya. Si ayah bekerja—semoga dugaanku tepat dan aku melihatnya memainkan pointer laptopnya dengan memainkan data-data; si kakak bermain gadget dan si adik berlari ke sana-kemari.

Aku mencoba untuk memproyeksikan diriku ke masa depan, meluncur bebas dengan: “Andaikan aku menjadi [Seorang ayah dengan dua anak lelakinya. Si ayah bekerja, si kakak menghadapi gadget, dan si adik berlari ke sana-kemari…]”; untuk membalik pernyataan seperti: “Jangan berandai-andai dengan menjadi [Seorang ayah dengan dua anak lelakinya. Si ayah bekerja, si kakak menghadapi gadget, dan si adik berlari ke sana-kemari…]”

Di hari libur seperti ini, di hari yang suci ini, di era di mana kemanusiaan terus memudar ini, seorang ayah (muda) harus menjadi mesin, demi (masa depan) cinta-cinta yang mengedarinya. Betapa menakjubkan kekuatan cinta, salah satu kata yang tak mampu kudefinisikan hingga sekarang, dan aku tahu bahwa ia, ayah (muda) itu, merasakan kelelahan di sisi dalam manusianya; namun cinta seakan-akan menjadi vitamin untuk mengatasi penyakit kelelahannya. ‘Masa depan’ membuatku harus merekonstruksi mimpi-mimpi yang memudar. Ketika sebagian tak berani bermain-main dengan mimpinya lagi, dengan cita-citanya—aku teringat sebagian kawanku, seumuranku, yang dikeluarkan dari tempat bekerja mereka.

Masa depan, sekali lagi, mengajarkanku untuk bermimpi, terbang sebebas burung di angkasa, meskipun aku tahu bahwa, si burung akan mengalami resiko, jatuh meluncur dengan terhantam permukaan yang keras. Mimpiku—anggap saja narasi besar—agar semua keluarga (muda) bisa seperti apa yang diharapkan oleh Bung Hatta: “Kemakmuran.”

Seperti apa mimpimu untuk mewujudkan “Kemakmuran” itu? Tanya suara yang entah dari mana asalnya.

Lalu, aku menjawab dengan menciptakan satu sistem di mana negeri yang dicintai Bung Hatta ini (baca: Indonesia) memiliki sistem ekonomi dan pendidikan seperti Jerman, diramu dengan kemerdekaan berpikir secara personal seperti Prancis, dan sekaligus, meramunya dengan konsep kolektivisme ke-Indonesia-an à la desa yang sering kubaca di teks-teks dari Bung Hatta. Ugh, kamu bisa membayangkan, betapa rumitnya itu.

Beranikah aku mulai menjalankan mimpi-mimpi baruku? Ah, ya, bila mewujudkannya bersamamu, bersama kita.

Selamat Hari Raya Idul Adha, Yogyakarta, 1 September 2017.

Bacaan lain:

[1] http://studi-di-jerman.com/kehidupan-kerja-orang-jerman/

[2] http://studi-di-jerman.com/kehidupan-sehari-hari-orang-jerman/