Suara Wanita Tanpa Nama.

Love sings / When it transcends the bad things / Have a heart and try me / ‘Cause without love I won’t survive – Love Hurts, Incubus.

 

Beberapa jam lalu, aku bertemu dengan Melvin, seorang kawan dekat, yang juga memiliki toko buku kecil. Di toko buku itu, ia tak hanya menjual buku, namun juga vinyl, kaset, dan berbagai merchandise band. Ia meminta ijin ke ruang belakang beberapa menit, dan kemudian kembali dengan membawakanku sebuah novella dari Dostoevsky.

Ya, novella itu kini sedang kupegang, di mana aku sekarang berjalan di taman kota. Perlu kau tahu, bahwa aku seminggu sekali menyempatkan untuk datang ke taman kota ini bersama kekasihku. Taman kota ini, disekelilingnya, dipenuhi dengan pohon-pohon tua yang menjulang tinggi disertai dedaunan yang rimbun, kau mampu melihat betapa tua umur mereka dari kulit-kulit pohon yang tampak keras. Tak hanya itu, ada empat kandang besar untuk burung-burung dara. Dua burung dara tengah memutar-mutar disekitarku seakan-akan mengejek bahwa, mengapa kau tak membawa pasanganmu ke taman kota ini.

Suara-suara sepatu gunungku tertelan oleh teriakan-teriakan keluarga-keluarga kecil yang sedang asyik menikmati taman kota. Aku masih berjalan, dan mencari bangku yang nyaman untuk duduk. Aku berhenti sejenak, memandang sekilas dengan memutar badanku, dan mengembalikannya kembali. Lalu, aku menemukan satu bangku kosong, di dekat pintu ke luar, di pojok belakang taman. Segeralah aku bergegas ke bangku tersebut.

Aku telah berada di bangku kosong, duduk, dan menyamankan posisiku. Beberapa meter disampingku, seorang ayah sedang duduk dengan membaca surat kabar dengan kacamatanya yang sedikit turun di tengah-tengah hidung. Sesekali, ia memandang kedua anak dan istrinya yang sedang bermain di pancuran air di tengah taman kota. Lalu, si istri kembali dengan langkah langkah kecil namun cepat, dan segera duduk di dekat suaminya. “Tak di rumah, tak di sini, kau selalu saja membaca. Nikmatilah harimu dengan mereka,” kata si istri dengan bersungut-sungut, menunjuk ke kedua anak mereka.

Aku mendengarkan keluhan si istri dan sedikit tertawa kecil. Sebab, aku juga pernah mengalami hal serupa, saat aku dan kekasihku sedang menikmati momen berdua kami, dan aku menyempatkan untuk ke toko buku, membeli satu novel dari penulis tua, dan membacanya saat kami tengah makan siang bersama.

Aku adalah seorang novelis muda, karyaku baru saja diterbitkan oleh sebuah penerbit, dan untungnya laku keras di pasaran. Selama setengah tahun, ada berbagai resensi serta kritik, baik yang pro dan kontra terhadap karyaku. Namun, semua itu kuanggap biasa dalam suatu kompetisi. Aku, menyelesaikan novel pertamaku, dengan jangka waktu dua tahun, tak mudah, melelahkan, serta sifat pesimisku seringkali menjadi penghalang. Untunglah aku memiliki kekasih yang sangat optimis, serta mampu membangkitkan semangatku dengan cara-caranya tak pernah mampu diduga,  saat aku tengah mengalami kekeringan ide, dan berani melontarkan kritik pada setiap karakter-karakter yang kuciptakan, atau plot yang kumainkan. Kekasihku, mengingatkanku pada Sofya Tolstoy[1]. Sungguh aku beruntung mendapatkannya. Dia, adalah wanita aktif, dan cukup cerdas. Kini, dia bekerja menjadi seorang penulis di salah satu majalah fashion.

Kami tak seperti pasangan-pasangan lainnya yang selalu bersama-sama ke mana pun pergi. Kami hampir tak memiliki waktu yang disebabkan pekerjaan-pekerjaan kami berdua. Deadline-deadline yang kerapkali menghantuinya, serta pencarian data untuk novelku di perpustakaan, begitu mencekik kami berdua. Sehingga, kami melakukan persetujuan bahwa, akhir pekan, di minggu sore, adalah hari di mana kami harus bertemu, dan membahas masalah kecil hingga masalah besar dalam hubungan kami.

Waktu menunjukkan pukul tiga tepat. Matahari sore masih belum beranjak di atas ubun-ubun kepala, bersinar terang. Suara adzan dari seorang muadzin terdengar. Mendengar seruan itu aku memandang arah ke sisi kanan beberapa derajat, kulihat dua tempat peribadatan[2], dari dua keyakinan, tegak berdiri bersebelahan. Betapa mengagumkannya melihat itu semua. Setelah seruan itu berhenti, aku mengeluarkan novella Dostoevsky, dan membacanya secara acak.

Lima burung pipit mengusikku dengan tingkah mereka, di atas hamparan rumput yang hijau dan kering. Sepertinya mereka adalah satu keluarga. Dua ekor burung pipit besar, dan tiga ekor burung pipit kecil. Mereka terbang ke sana-kemari. Burung pipit paling kecil, terbang dan mendesak salah satu kakaknya yang akan bersiap mematuk makanannya. Aku tersenyum, dengan menggeleng-gelengkan kepalaku melihat keusilan burung pipit paling kecil.

Semilir angin berhembus pelan dan tenang. Daun-daun pepohonan tua, dan bulu-bulu burung bergetaran. Bersamaan dengan itu, selembar kertas melayang-layang, dan jatuh ke rerumputan, yang tak jauh dari keluarga burung pipit berkumpul, sehingga menyebabkan kelima hewan itu terkejut, dan kemudian terbang mencari makanan di tempat tenang lainnya.

Dari kejauhan, kulihat warna hitam dengan barisan horizontal yang rapi, terlihat seperti suatu tulisan. Sebab, keseharianku berkumpul dengan kata yang membentuk paragraf, jadi dapat kupastikan bahwa itu suatu tulisan, namun apa itu, dan rasa ketertarikanku yang semakin menggebu-gebu, menyuruhku untuk bangkit dari bangku taman, meletakkan novella Dostoevsky, dan menuju ke lembaran itu. Untunglah tak ada angin kencang, sehingga kupercepat langkah menuju kertas yang tergolek itu.

Saat di depan lembaran itu, aku membungkuk, dan meraihnya. Aku menoleh ke sisi kanan dan sisi kiriku, aku mencoba menerka, mungkin lembaran kertas ini milik salah satu pengunjung taman. Namun, tak ada yang mendekatiku. Aku pun memegangnya, tangan kiriku mulai membersihkan debu-debu yang mengotori beberapa bagian lembaran tersebut. Dan kutiup kencang-kencang dengan mulutku.

Dan aku membacanya sambil berjalan kembali ke bangku taman tempatku, dan menyamankan posisi kembali.

*

Untuk: Wanita tanpa nama.

Setiap langkah yang mesti berhenti. Setiap tujuan yang mesti berbeda.

Apakabarmu, wanita tanpa nama. Kau tahu, sejak dua bulan lalu, di dua halte busway yang dipisahkan oleh dua jalur serta taman jalan, aku terus menanti kehadiranmu lagi.

Di hari pertama, saat aku melihatmu dengan tajam dari halte seberang, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kau berdiri sambil terus menatap jam tanganmu. kegelisahan menyertai wajahmu. Saat itu, kau demikian sederhana bagiku, dengan potongan rambut angled bob, lalu menggenakan work blouses long sleeve kelabu, gaucho pants panjang, flatshoes flat, dan anting-anting berwarna hitam.

Di hari kedua dan keempat, aku melihatmu lagi, dan memandangmu sekejap, setelah lima menit aku datang ke halte, dan kemudian bus yang membawamu ke tempat tujuan, telah tiba.

Di hari kelima. Aku datang pagi di halte itu, dan anehnya, kau pun telah ada di halte itu. Kau tahu, aku sebenarnya ingin bersikap acuh, namun entah kenapa, sedikit demi sedikit, aku mencuri pandang ke arahmu. Dan kau membalas dengan ekspresi wajah yang aneh, dan memalingkan pandanganmu ke arah lain.

Dari hari ke hari, di hari ke enam hingga hari kelimabelas, kau semakin memberiku ketertarikan. Aneh memang. Aku terus bertanya, apakah ini semua karena suatu kebiasaan? Benarkah itu? Namun, aku tak terlalu berharap banyak.

Di hari keenamabelas dan kedelapanbelas. Aku tak datang ke halte, sebab aku pergi ke kota lain. Aku terus bertanya, apakah kau memikirkanku? Atau penggandaianku yang terlalu tinggi terhadapmu. Tapi, apakah kau tak menyadari, bahwa dari sekian banyak orang yang berada di halte seberang tersebut, yang tetap hanyalah aku. Ah, entahlah.

Di hari kesembilanbelas, kau semakin memikatku. Dan aku berkata dalam hati bahwa, aku ingin memberanikan diri untuk berkenalan denganmu.

Di hari keduapuluh, rasa untuk berkenalan denganmu semakin besar. Ada keraguan, ada keyakinan, yang semua bercampur menjadi satu di dalam diriku.

“Cepatlah bodoh,” kata suara keyakinanku.

“Heh, lalu untuk apa tujuanmu berkenalan dengannya? Kawan? Kekasih? Atau?”

Di hari keduapuluhdua, keyakinanku membulat. Namun, sayang, saat kau duduk ditengah-tengah seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang menangis, dan seorang gadis muda berseragam sekolah yang sedang memegang buku pelajaran, dari tengah-tengah pintu halte, kulihat rona wajah begitu sendu, dan kukira, dalam suatu tebakan perjudian, kau sedang mengalami suatu masalah. Aku mampu melihat itu semua. Ya, sejak aku datang, kau terus memandang langit, seakan-akan di sanalah tersimpan segala bentuk jawaban. Apakah kau tahu, bahwa aku juga senang memandang langit. Perlu kau ketahui juga, bahwa menafsir makna langit tak semudah yang kau pikirkan. Seringkali aku belajar tentang ketak-pastian pada langit. Aku percaya kau pun juga merasakan seperti apa yang kurasakan. Dan, apakah kau tak ingin berbagi cerita denganku?

Di hari keduapuluhlima, aku datang pagi sekali. Namun aku tak berada di halteku. Aku sengaja melintasi jalan ke halte seberang, tempat di mana kau biasanya menanti bus tujuanmu. Dan, dengan degup jantung yang cepat, aku dipenuhi dengan ketaksabaran. Hingga sampai tiga puluh menit kemudian, kau tak menghadirkan diri.

Di hari keduapuluhenam hingga keduapuluhsembilan, kau tetap saja tak hadir. Dan, aku mengira kau mungkin sedang mengalami kondisi buruk.

Di hari ketigapuluh, ketika satu meter akan sampai ke halteku, aku melihat sebuah angka serta huruf, di kaca bagian atas bus, di mana bus itulah yang sering kau naik. Dan aku terdiam sejenak. Memandang bus itu, dan aku melihatmu. Kau tengah berdiri, dengan mengaitkan tanganmu ke suatu pengait, dan kau melihat ke arah kaca pinggir bus yang sedikit buram. Dan simpul senyummu yang mengembang mengarah padaku. Dan, aku membalas senyumanmu itu.

Di hari ketigapuluhsatu, aku merasakan keyakinanku, untuk mengenal namamu melalui suaramu akan menjadi kenyataan. Sekali lagi kuberanikan untuk menyeberangi jalan, dan menuju ke haltemu. Satu jam kemudian, aku tak menemukanmu lagi.

Di hari ketigapuluhdua hingga sekarang, aku tak lagi melihatmu. Kau tahu, andaikan Tuhan memberiku satu kesempatan lagi, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk segera mengetahui namamu. Tapi hidup dan perasaan, tak mampu dituntaskan hanya dengan kata ‘andai’, dan ‘bukan-andai.’

Dan untuk setiap langkah yang mesti berhenti. Untuk setiap tujuan yang mesti berbeda. Aku telah kehilanganmu.

Josef.

*

Aku segera menghela nafas berat. Sekali lagi, kubaca kalimat terakhir dengan amat sangat. Lalu kulipat lembaran itu menjadi setengah bagian, dan kulipat setengah bagian lagi, lebih kecil. Dan kumasukkan ke dalam saku jaketku.

“Aku tak tahu apa yang mesti kupikirkan, Josef,” kataku pada diri sendiri. “Aku tahu kesedihan yang sedang kau alami. Aku pun pernah mengalaminya, dan siapapun pernah mengalaminya. Josef, aku tak pernah mengenalmu. Aku hanya mengenalmu melalui kata-kata yang sedih namun hidup, yang kau tulis. Di dalam setiap kesedihan, kita semua bersaudara. Di dalam setiap kesedihan pula, kita menjadi manusia seutuhnya. Untuk persahabatan kita, Josef, ijinkanlah aku menjadikanmu tokoh utama di karyaku berikutnya. Aku berharap, melalui waktu, mungkin kita akan bertemu, dan berbicara banyak dari hati ke hati.”

Aku pun terhanyut dalam pikiran kesedihan Josef.

*

“Coba tebak siapa aku?” kata suara yang pelan dan menenangkan, dengan tiba-tiba, dan kedua mataku tertutup oleh tangan-tangan halus.

“Ayolah, sayang, jangan bercanda.”

Kedua tangan itu kemudian mengendur, dan aku memutar badan, dan kulihat seorang wanita fashionable tersenyum.

“Kenapa kau lama sekali,” kataku sekali lagi.

“Kau tahu, hari ini akhir pekan, dan keadaan kota begitu sesak. Dan, lagi, aku harus menunggu bus sangat lama,  di halte biasanya.”

Dan kami larut dalam perbincangan tentang siapa karakter utamaku untuk karyaku berikutnya, tentang desainer-desainer muda yang tengah menghinggapi kepala kekasihku, dan sinar matahari sore di suatu jarak menuntun keintiman saat memandang dua tempat peribadatan yang berbeda namun bersebelahan, dan diakhiri dengan membicarakan tentang hubungan masa depan kami.

 

 

[1]Diambil dari kata pengantar novel Kebangkitan karya Leo Tolstoy oleh Koesalah Soebagio Toer (Adik dari Pramoedya Ananta Toer, dan salah satu penerjemah yang kukagumi serta yang mengenalkanku pada Leo Tolstoy melalui karya terjemahannya, yang pada 16 Maret 2016 lalu, beliau meninggal dunia): ‘Ketiga, yang mengejutkan saya, adalah cara Tolstoi menuliskan karyanya. Dia selalu membaca karyanya berulang kali dan mengoreksinya sampai “sempurna” dan tak perlu koreksian lagi. Dan teks yang penuh coretan itu tiap kali pula ditulis ulang oleh sang istri yang setia, Sonya (Sofya) Andreyevna Bers. Dengan cara itu roman Anna Karenina (menurut guide, dan saya rasa, saya tidak salah dengar) dikoreksi sampai sekitar 120 kali! Pendek kata, Tolstoi adalah seorang perfeksionis. Dia selalu menimbang-nimbang kata yang akan digunakannya.’
[2] Jika kau datang ke kotaku di Malang, Jawa Timur, cobalah untuk berjalan-jalan sejenak ke pusat kota, tepatnya di alun-alun kota, di antara beberapa tempat perbelanjaan, kau akan menemui dua bangunan peribadatan yang berbeda keyakinan, namun bersebelahan: Masjid Agung Jami Kota Malang dan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Immanuel (GPIB).
Iklan

Rendez-Vous Avec RPD

Kedua bola mataku dengan jeli melihat salah satu kolom tentang hasil pertandingan sepakbola di tahun 1998. Pada tahun itu pula, dua peristiwa besar terjadi : jatuhnya rezim Soeharto, sekaligus berlangsungnya piala dunia Prancis, piala dunia pertama yang kusaksikan, di mana pada saat itu aku berumur sekitar 9 tahun. Masih kuingat benar, bagaimana kakek rajin membaca koran pagi, di saat aku berlibur ke kota kelahiranku, Surabaya, di tahun-tahun itu. Ada jeda panjang selama 10 tahun—tahun 2008. Aku kemudian tertarik pada koran lagi, tepatnya koran minggu, dan tertelan dalam keasyikan menikmati satu-satu cerita pendek yang kerap hadir memenuhi di setiap lembar koran minggu pagi. Cerita-cerita pendek tersebutlah yang menyeretku untuk menyelami dunia sastra Indonesia secara acak. Pada akhirnya, aku tertarik pada satu persona di ranah penulis kontemporer Indonesia: Radhar Panca Dahana.

RPD, adalah problem bagiku. Dalam artian, melalui satu karyanya—yang satu antaloginya cerpen pernah kupinjam melalui perpustakaan selama satu minggu—yang kujumput di lorong-lorong gelap bersama ribuan buku yang tertata rapi di rak-rak berkayu. Nama RPD kembali tenggelam, tergusur nama penulis-penulis besar lainnya, seperti Pramoedya Ananta Toer, atau Romo Mangunwijaya. Namun, ia muncul kembali, saat aku yang, pada masa itu, tak terperiodesasi untuk membeli koran minggu, dan tepat di 16 September 2012, aku membaca profil singkat hidupnya yang membuatku menaruh kagum, serta hormat padanya. “Karena sakit bisa dipelajari,” ujarnya. Dan ada beberapa karyanya yang masih ingin kulengkapi, bersanding dengan karyanya yang lain. Ketika  berada di toko buku bekas, aku selalu menyodorkan namanya, paling awal.

Baru saja, ia kembali hadir di saat aku tengah terhisap oleh sastrawan-sastrawan dunia semacam Tolstoy, Dostoevsky, Zola, bahkan Balzac, di sebuah rak yang dipenuhi serba-serbi tentang Paris. Ia pun, hadir melalui satu essai yang cukup menarik terkait Paris, sebuah kota yang konon, menjadi tempat para intelektual berkumpul. Essai tersebut kubaca dalam buku Rantau dan Renungan III, Budayawan Indonesia Tentang Pengalamannya di Prancis, yang baru saja kubaca. Dan ijinkan aku mengetikkan ulang untukmu:

*

Boneka Menangis Di Metro Paris

Radhar Panca Dahana

Paris memang rumah di mana anda diizinkan tegak, seperti Eiffel, seperti monumen di mana semua orang, semua dunia berpaling ke arahnya. Tapi jangan sekali-kali datang hanya berbekal sandal atau tumpukan rekening bank saja. Paris tidak membutuhkan itu lagi, sebagai wanita penuh pesona, laiknya porselen yang cantik, ia adalah gagasan yang merindukan gagasan lain sebagai simbol kejantanan. Kalau kita hendak berduyun mendatanginya, berilah ia sekuntum mawar ide yang cemerlang; dan kita boleh antre sebagai teman dansanya. Mungkin meminangnya, entah sebagai suami keberapa.

Paris…Paris…

Kelamin tua, do’a yang habis

Porselen cantik, anggun dan manis

Pondok yang papa, salju gerimis

Akan terpana, hati yang giris

Paris…uh, Paris!

Perjalanan dari Leuven, desa kecil dan artistik di Belgia, ke Paris, terasa seperti perlintasan dari masa lalu ke masa kini dan menemukan masa depan. Dengan sedan dan autobahn, jarak lebih dari dua ratus kilo itu jadi tak terasa, bahkan terasa indah dan mengesankan. Ladang-ladang gandum, perkebunan, rumah-rumah tua di desa atau sesekali binatang liar melintas, seperti pemandangan yang mengantarkan kita dengan baik menuju ke sebuah kota impian. Seperti garis waktu yang mendekatkan kita pada sebuah tempat, di mana segala yang utama dan yang terbaik di dunia ini pernah muncul dan bersemi.

Di kota yang terpilah enam belas seperti siput ini, memang lama dikenal sebagai sebuah ruang yang berisi dan menghasilkan pikiran-pikiran utama dunia modern. Hampir semua gerakan politik, kesenian, agama, atau tradisi, memiliki tapaknya di kota ini. Tak mengherankan jika seniman-seniman konsen senantiasa berharap mengunjungi bahkan meninggalinya. Tak aneh jika ribuan pelarian politik dari seluruh dunia menganggapnya sebagai sorga, walau hanya sementara. Hanya sementara.

Sitor Situmorang, penyair gaek itu, salah satunya. Dengan piyama cokelat kusam, langkah lebar, gerak yang bebas, dan tawa yang lepas, ia menyambut kami—saya, Rendra dan istrinya Ken Zuraida—membuka tangannya lebar, seperti menawarkan kamar apartemennya di bilangan mewah Paris 16. Penyair asli Batak dengan jantung tinggal seperempat, terlihat begitu rileks dan semeleh. Pengalaman tua di kerut wajahnya seperti mengatakan: “Menetaplah di Paris dan jadilah dunia!”

Wanita cantik bermantel kulit hitam dengan anjing pudel berlarian dirantai emas yang digenggamnya, menoleh kecil. Tak ada tarikan mukanya yang sedikit pun tidak menyetujui seruan ajakan itu. Sebagaimana pula balet Rudolph Nureyev di Opéra Bastille, teater de la Huchette di Quartier Latin yang mementaskan La Leçon, karya Ionesco selama lebih dari 30 tahun ; atau pigura kerajaan La Grande Arche, atau juga pengamen di pompidou dan pengemis di metro Paris yang terkenal itu; atau pula pemerintahnya, baik yang progresif maupun konservatif. Semua seakan menyetujui: “di Parislah, ibu kota kesenian dnia berada,” sambil kemudian mereka menderetkan nama: mulai dari James Joyce hingga Beckett, dari Dali sampai Picasso, dari Arkoun hingga Kristeva, dari Kenzo hingga Calvin Klein, etcetera. Nama-nama asing yang datang ke Paris untuk menjejakkan kaki, pikiran, dan pengaruhnya, sekaligus untuk diisap dalam pusaran waktu yang berjalan pulang pergi di kota ini. Pusaran yang juga menciptakan labirin aneh, seperti jalur kendaraan di atas maupun di bawah kotanya. Paris mungkin satu-satunya kota di dunia yang memiliki perenaman di seluruh meeting room jalan-jalan utamanya. Kemudahan yang dapat membuat anda tersesat segera.

Bursa Ide.

Paris memang rumah di mana anda diizinkan tegak, seperti Eiffel, seperti monumen di mana semua orang, semua dunia berpaling ke arahnya. Tapi jangan sekali-kali datang hanya berbekal sandal atau tumpukan rekening bank saja. Paris tidak membutuhkan itu lagi, sebagai wanita penuh pesona, laiknya porselen yang cantik, ia adalah gagasan yang merindukan gagasan lain sebagai simbol kejantanan. Kalau kita hendak berduyun mendatanginya, berilah ia sekuntum mawar ide yang cemerlang; dan kita boleh antre sebagai teman dansanya. Mungkin meminangnya, entah sebagai suami keberapa.

Lihatlah di Montmartre, pojokan kota yang membuat saya dalam enam jam telah merindukannya. Di satu taman kecil, dikelilingi kafe-kafe yang mengalunkan Chopin dan La Bamba, berkumpul puluhan artis pelukis. Entah dari mana saja. Dari Warsawa hingga Okinawa, dari Milan sampai pedalaman Cina. Seperti kita lihat di Ancol, mereka menawarkan jasa lukis cepat dengan hasil mempesona. Di pojokan, di bawah basilika ini, hampir seluruh seniman dunia pernah menghabiskan waktunya untuk kemudian lupa.

Atau datanglah ke museum Pampidou, di mana artis-artis ternama dunia, dulu, kini, dan masa depan, memberikan karya terbaiknya sebagai warisan utama. Kecantikan akan rindu Paris memang disusun dari energi dan darah kreatif yang datang dari seluruh dunia. Anda akan menemukannya juga di Piramid Louvre, monumen kaca karya Ming Pei; atau La Grande Arche, monumen modernisme Paris karya arsitek tak ternama Denmark, Johan Otto von Sepreckelsen; bahkan obelisk purba, batu seperti potlot yang tinggi dengan hiroglif ditubuhnya, dipancang kuat sebagai Place de la Concorde, monument kejayaan. Siapa pun tahu, Napoleon mencuri obelisk itu dari Mesir.

Namun lebih dari itu semua, adalah sebuah tempat di pinggir barat Paris, di suburb yang kini menjadi Paris yang lain: Paris di masa depan. La Defense, tempat itu. Sebuah wilayah sekitar 750 hektar, yang disulap dari sebuah dusun dan pemakaman tradisional menjadi distrik bisnis bergengsi di dunia. Pembangunannya, yang dimulai sejak 1958, menghasilkan sebuah arsitektur yang tak memiliki bangsa ; arsitektur rakyat yang menganjurkan manusia menepis emua perbedaan. Bangunan raksasa, patung, monumen, instalasi, lukisan, peralatan, juga ruang istirahat dan petilasan, dibangun dengan satu cita rasa yang mewakili selera semua bangsa.

Di wilayah ini, kita hampir menemukan semua karya modern terbaik yang pernah dihasilkan dunia. Seakan hendak mengatakan dengan lebih artikulatif: “jadikanlah tanah ini tanah airmu juga, tanah air masa depan.” Dan Paris pusat, menjadi tak lebih dari museum di mana seseorang bisa pura-pura melupakan kekiniannya yang penuh rona. La Défense menjadi sebuah representasi paling baik dari kepribadian Paris. Kepribadian tuan rumah yang ramah, dengan rumah yang indah dan mempersilakan tamu menjadi salah stau bagian dari dekorasinya.

La Défense juga menjadi sebuah simbol dari gaya sebuah masyarakat yang menghargai—bahkan cenderung gandrung—pada monumen-monumen besar. Pemerintah paris demikian progresifnya, sehingga begitu permisifnya ia pada ide-ide asing, seliar atau seganjil apa pun, untuk kemudian dijadikan batu bata yang menyusun kanon-kanon kebudayaannya. Inilah negeri dengan master piece dan grand narrative di setiap kelokan jalannya. Luar biasa luasnya istana dan taman Versaillesyang dibangun Le Notre sejak 1640, jalan urat Grand Axe yang membelah Paris dari Louvre ke La Défense, Museum Georges-Pompidou (dengan 134 juta pengunjung dalam usianya yang hanya 10 tahun), dan begitu banyak contoh lain yang akan membuat mata dan akal kita terpana.

Dihadapan itu semua, manusia terasa begitu kecil, seolah tidak percaya bahwa dia juga yang telah mengkonstruksinya. Di hadapan itu semua, kita hampir tidak merasa berdaya, melihat keterbatasan kita, lalu melupakan segalanya; meninggalkan kekinian bahkan masa depannya. Tak mengherankan, justru belakangan, masyarakat Prancis yang égalité dan liberté itu ramai memprotes para imigran. Pendapat umum gencar membatasi imigran, bahkan kalau bisa mengusirnya . ̋Mereka merebut lahan kami, rezeki kami, ̋ kata seorang pemuda di sebuah metro.

Ketakberdayaan.

Ketakberdayaan manusia di hadapan Paris barangkali menjadi sebuah kewajaran yang memang memilukan. Sebuah pool yang pernah dilakukan majalah Time, misalnya, menunjukkan bagaimana generasi sudah tidak dapat mengenali lagi tokoh-tokoh mereka sendiri, keliru menempatkan seorang sastrawan ternama sebagai desainer top, musikus jenius sebagai model. Semuanya menggambarkan ketidakberdayaan yang telah menjadi ketidakperdulian, bahwa kejayaan masa depan, tempat Paris sebagai jantung kebudayaan dunia, tidak perlu lagi diimpikan. Manusia sudah terlalu kecil untuk ukuran-ukuran monumental peradaban sekarang.

Memandang panorama seperti itu, panorama yang menggemaskan dan memancing rindu itu, lalu mengalihkannya sebagai cermin diri—dan negeri—sendiri, melahirkan keheranan yang mengiriskan. Di Indonesia, sebagian masyarakatnya tengah berpesta merayakan sukses pertumbuhannya , sebagian lagi menyesali kekalahannya. Seolah mereka sangat percaya bahwa hidup dan masa depan masih berada dalam genggaman. Sementara di puncak kemajuan, di negeri yang over developed ini, sebagaian besar manusia dengan rasa miris menepikan diri: pasrah menjadi partikel dari renik yang tumbuh dan berkembang tak tertahankan.

Dalam situasi seperti itu, saya mengikuti patahan-patahan jalan di Paris, sekedar untuk mengais tempat atau pojokan di mana saya masih bisa menjumpai seseorang yang masih bisa bergembira. Di tepian jalan raya Montmartre, saya senantiasa berpapasan dengan perempuan dan lelaki yang menjajakan tontonan seks 10 franc. Saya melihat mereka adalah tontonan itu sendiri, tontonan gratis. Sementara di beberapa sudut, gembel-gembel berselimut kardus seperti melindungi diri dari tarikan-tarikan zaman, yang jauh lebih menggigit lebih dingin dari gerimis salju di tubuhnya.

Gembel-gembel yang segera kembali setelah selalu dibuang di luar kota itu, mungkin manusia yang masih bisa memiliki dirinya sendiri di hadapan raksasa industry dan monumen megalomania. Seperti tampak pula pada seorang gadis lusuh, yang saya temui saat menuruni tangga metro menjelang tengah malam. Ia asyik sekali bermain dengan bonekanya. Seolah boneka itulah dunianya yang tersisa. Ia juga manusia yang memiliki manusianya sendiri. Namun seperti gembel berkardus, ia tak bisa bicara. Bahasanya berbeda.

Saya tak bisa menjalankan komunikasi yang begitu ingin saya lakukan. Gadis itu kini sudah tertidur di kursi tunggu. Dan boneka kecil dan cantik, tergolek di sampingnya, jatuh ke lantai. Saya melihat, boneka itu tetap tersenyum, sebagaimana pemiliknya. Ia tidak tampak merasa sakit dan sedih. Tapi saya tahu, matanya yang senantiasa terbuka itu, menyatakan segalanya, bersyair liris, memberi tangis.

 

 

Dari Thord Overaas: Untuk Sesuatu Yang Lebih Baik.

Aren’t We Running? – 65daysofstatic

Aku akan mengawali suatu keresahan ini dengan sebuah retold-story dari cerita pendek ‘Ayah dan Anak’ milik sastrawan Norwegia, Bjørnstjerne Bjørnson, yang dialih-bahasakan dengan baik oleh penerjemah, Anton Kurnia, dalam antalogi cerpen Cinta adalah Kesunyian.

Dan ijinkan aku mengisahkannya kembali:

Ada seorang pria yang bernama Thord Overaas, yang kaya raya di desanya. Lalu, suatu ketika, ia mendatangi seorang pendeta. Aku, katanya, baru saja memiliki seorang putera. Pendeta itu pun segera bertanya siapakah nama anak itu. Finn, seperti ayahku, jawabnya. Setelah itu, pendeta berkata bahwa Thord Overaas telah diberkahi Tuhan dengan lahirnya seorang anak.

Waktu pun menggelinding jauh, selama enam belas tahun, ia mendatangi pendeta itu lagi. Terjadilah percakapan, dan pendeta berkata pada Thord Overaas bahwa ia tampak muda dan menjawab pada pendeta itu, karena ia tak memiliki masalah. Lalu ia mengutarakan maksud kedatangannya untuk menanyakan di urutan berapakah puteranya saat mengikuti wisuda sekolah gereja. Urutan pertama, jawab kembali pendeta.

Waktu terus menggelinding. Delapan tahun kemudian, Thord Overaas kembali menemui pendeta dan mengumumkan pernikahan puteranya dengan Karen Storliden, anak perempuan  Godmund. Setelah itu, ia berpamitan pada pendeta. Ini, kata pendeta, adalah kali ketiga kau datang untuk puteramu. Setelah pertemuan dengan pendeta, Thord Overaas bersama puteranya melintasi danau untuk menuju ke kediaman keluarga Storliden untuk menyusun acara pernikahan. Naas, saat puteranya akan mengatur posisi duduk, papan tempat berpijaknya terlepas dan terjatuh ke danau. Situasi yang serba cepat dan kepanikan tak mampu dihindari oleh Thord Overaas. Berpeganglah pada dayung, katanya, pada puteranya. Namun kehidupan memberikan cerita lain. Puteranya tenggelam dan ia tak mempercayai kenyataan itu. Setelah kejadian itu, Thord Overaas terus mencari anaknya yang belum ditemukan. Pada hari keempat, jasad puteranya ditemukan.

Waktu tetap menggelinding. Setahun setelah kematian puteranya, pada malam hari yang larut, Thord Overaas mendatangi pendeta itu kembali. Dengan penasaran, pendeta bertanya tentang tujuan kedatangannya, dan Thord Overaas berkata, bahwa ia punya sesuatu untuk didermakan pada orang-orang miskin dan menyedekahkan atas nama puteranya. Uang—hasil penjualan dari setengah harga ladang—pun diserahkan, dan pendeta menghitung uang itu. Tak lama, pendeta itu bertanya kembali tentang apa yang akan dilakukan Thord Overaas setelah ini. Dengan penuh keyakinan, Thord Overaas menjawab: Sesuatu yang lebih baik.

Dan kisah diakhiri dengan perkataan lembut pendeta, bahwa putera Thord Overaas telah memberikan keberkahan sejati padanya. Sambil menatap wajah pendeta, Thord Overaas meneteskan air mata.

*

Setelah membaca cerpen Bjørnstjerne Bjørnson, aku terpaku pada dua hal berikut: Pertama, saat Thord Overaas berkata bahwa ‘ia tak memiliki masalah’. Kedua, kejadian saat puteranya tenggelam.

Ada yang menarik pada dua rangkaian hal itu. Lalu aku berpikir pada hal pertama, dan terlintas sebuah pertanyaan, apakah benar jika seseorang di dalam kehidupan ini, andaikan ia tak memiliki masalah, maka hidup akan menjadi bahagia? Sebagian orang akan menjawab, ya.

Lalu, aku meloncat ke hal kedua, dan memunculkan pertanyaan kembali, apakah dengan adanya suatu kejadian—yang tentunya tak kita inginkan—akan membawa dampak kesedihan? Sebagian orang pun akan menjawab, ya.

Berangkat dari dua hal itulah, aku melakukan suatu antithesis awal. Masalah, acapkali serupa bayangan yang mengendap di bawah langkah-langah kaki. Masalah, toh pada akhirnya, akan membawa pada suatu kejadian-kejadian lain yang dipertautkan oleh proses-proses, hingga harapan akan bahagia selalu disematkan dalam perubahan bentuk yang baru. Dengan kata lain, masalah, akan mengajarkan kita untuk terus-menerus merasakan kekalutan demi kekalutan dalam batin sehingga kita dituntut untuk melakukan proses berpikir melalui perenungan-perenungan, yang mungkin membuahkan suatu solusi atau jalan keluar atas kejadian (atau masalah) yang dialami, di mana tanpa disadari akan berguna di momen-momen yang akan datang.

Dua atau tiga tahun silam, salah seorang yang ada dalam kehidupanku jatuh sakit, dan harus terbaring dengan selang-selang yang mengerikan. Pemandangan yang berada dihadapanku itu tak mengijinkan untuk sedetik pun memejamkan mata dengan nyaman, berteman dengan kegelisahan di saat-saat malam yang paling sunyi. Setahun kemudian, orang tersebut sembuh dari penyakitnya, namun masalah datang menimpa kembali, seakan-akan mengakrabinya; dan pada suatu pagi, orang tersebut jatuh dari sebuah sepeda yang terbentur oleh sebuah mobil yang melaju. Tak sampai di situ, narasi-narasi hidup yang tak mampu ditebak mengalirkan cerita lain yang lebih mengerikan, dan seringkali sulit diterima, atau bahkan sukar dipahami; saat aku tertidur di suatu shubuh, orang itu mengetuk pintu kamarku, dengan cepat dan terdengar keras, lalu aku membuka pintu, dan aku terkesiap saat kedua bola mataku melihat cairan warna merah yang mengucur di kepala orang tersebut: salah satu dari dua orang pencuri yang akan mencuri dari rumahku, telah menembak kepalanya. Dan orang yang tertembak kepalanya itu sering kupanggil dengan sebutan: Bapak!

Setelah menajamkan pengamatan pada bapak yang selalu bertarung dengan masalahnya; cara pandangku terhadap hidup pun berubah.

Rangkaian masalah, atau kejadian,  yang tak diinginkan, selalu ingin dirumuskan dalam bentuk proses panjang, atau ditengah-tengah penyelaman ke dalam ruang-waktu kehidupan yang dipenuhi ketidakpastian. Dan, masalah, sedikit demi sedikit menuntun untuk mengajarkan kepada diri agar menemukan cara atau jalan keluar yang acapkali tak terduga, dan hidup menjadi, seperti yang dikatakan oleh Thord Overaas: Sesuatu Yang Lebih Baik.

 

Daras dan Bebek Kakek Andersen.

rubber-duck-594356_640

 

Pada pukul sebelas pagi, saat aku menjemput Daras disekolahnya, awan-awan gelap menyelimuti kota. Kubayangkan bahwa sesaat lagi, hujan badai akan segera muncul, seperti tiga hari sebelumnya, yang mana pada saat itu, koran-koran lokal pagi, menulis bahwa ada dua kejadian yang mengerikan.

Dalam Koran Mercusuar—milik seorang pengusaha rokok—mengabarkan bahwa cabang pohon besar dari sebuah pohon besar di pinggir jalan, telah jatuh menimpa seorang pengendara motor, dan tewas seketika. Sedangkan, di koran Harian Kata, dan tentu saja dengan kejadian yang berbeda, diberitakan bahwa banjir telah mengepung salah satu daerah di tengah kota setinggi lutut orang dewasa. Dan, Profesor Joesoef, seorang ekolog, berargumen dalam koran Harian Kata bahwa jika resapan air satu-satunya di kota ini tak mampu dijaga dengan baik karena segelintir orang ambisius, masyarakat di kota ini akan secepat mungkin menggali kuburannya sendiri.

Aku masih memandang kumpulan-kumpulan awan gelap yang bergerak pelan, saling bersatu-padu dan tak membiarkan cahaya matahari menyusup ke kota. Kurasakan benar, nuansa yang amat muram, seperti alunan nada pembuka dari Kinderszenen: Traeumerei dari Robert Schumann yang dimainkan oleh Evelyn Dubourg. Kekhidmatanku memandang fenomena alam itu, mendadak terganggu oleh obrolan dari beberapa orang ibu-ibu, yang juga sedang menjemput anaknya.

“Eh, tau gak sih, itu lho si artis Jamila, kok bisa-bisanya menjalin hubungan sama si pejabat itu ya.” seloroh ibu berbaju kuning.

“Iya Jeng, kok bisa ya?” tanya ibu berbaju hijau.

“Aduuh, jeng-jeng ini kayak gak tau aja, kan sekarang dengan uang, apa saja bisa kita dapetin, kan,” sela ibu berbaju merah, sambil memainkan gadget.

Obrolan itu menjadi kawan saat menanti bel sekolah berdering. Lalu, saat-saat yang ditunggu telah datang. Bel berdering. Pintu-pintu kelas satu hingga kelas empat terbuka serentak, dan puluhan anak berhamburan, berlarian tak tentu arah. Aku berdiri, memandang ke pintu kelas dua, tempat di mana Daras belajar bersosialisasi dengan kawan-kawan seangkatannya. Aku melangkahkan kaki dengan cepat, tak sabar menemui buah hatiku, selain itu faktor cuaca juga menjadi penyebab utama.

“Ayaaah!”

Suara khas itu terdengar, aku menajamkan pandangan, seorang gadis kecil berponi sedang melambaikan tangan kanannya. Kulambaikan tangan kananku sebagai balasan bahwa aku telah melihatnya. Kupercepat langkah-langkah kakiku. Saat tepat berada di depan gadis kecil itu, aku mengamati roman mukanya yang manis. Singkatnya, kusuruh dia untuk melepaskan tasnya. Sementara tangan kananku menggenggam lembut tangan mungilnya, kutuntun gadis kecil itu menuju ke parkiran mobil di depan sekolah.

Saat berjalan menuju parkiran mobil, di depan kantor ruang guru, seorang kawan sekelasnya, yang berjalan bersama ibunya mendahului kami, dan dia menyapa gadis kecilku.

“Rasss! Jangan lupa besok ya,” kata gadis kecil dengan rambut berkepang, dan, secara bersamaan ibu gadis itu menoleh kepadaku dan tersenyum. Aku membalas senyuman ibu gadis berkepang sebagai tanda hormat.

“Iyaaa!” Kata Daras.

Lalu kuajukan sebuah pertanyaan apakah gadis kecil berkepang tadi juga salah satu sahabatnya. Daras mengangguk, dan gadis kecilku yang tak pernah berhenti bicara ini menambahkan nama-nama lain, seperti, Rara, Jodi, Dyra, Adelia, Dido, Kevin, Mala, dan lain-lain.

“Wah, bisa-bisa satu sekolah kawanmu semuanya,” kelakarku.

Ingatan tajam Daras akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan kelas dan sekolahnya, membuat mulut kecilnya sibuk bekerja. Dia menceritakan tentang perseteruan antara Dyra dan Kevin, perkara penghapus yang mereka miliki serupa.

“Ah, betapa rumitnya dunia para pemikir cilik ini,” kataku setelah mendengarkan cerita Daras. Hingga pada akhirnya, kami berada di parkiran.

*

 “Blaaak!” terdengarlah suara pintu mobil yang tertutup, bersamaan dengan itu kunyalakan mesin mobil. Ketika mobil telah meninggalkan lingkungan sekolah, dan mencapai jalan utama, tepatnya di salah satu persimpangan jalan, kemacetan mendera kami. Awan-awan kelabu itu mulai mengeluarkan rintik-rintik air, lalu menjadi lebat. Nuansa yang kutangkap seperti saat ibu menceritakan kisah Nuh dan banjir bandang di setiap aku akan tidur saat seumuran Daras. Wiper mobil kunyalakan untuk memperjelas pandangan. Terdengar suara klakson-klakson mobil dari beberapa pengendara yang tak sabar dan selalu ingin menang sendiri. Lalu lintas benar-benar khaos. Saat mobil berhenti agak lama, istriku menelepon. Kuambil dan kulihat, lalu kunyalakan dengan sistem loudspeaker di gadgetku, dan menyerahkan pada gadis kecil berponi ini.

“Ibu, Ras, angkat,” suruhku.

Tangan kecilnya begitu fasih menggunakan perangkat keras tersebut, sebab mata kecilnya selalu awas mempelajari bagaimana aku dan istriku menggunakannya.

“Ibuuu!”

“Hei, gadis kecil,” kata istriku, melalui saluran telepon. “Kau ingin dibawakan apa saat ibu pulang nanti?”

“Hmm, es chocochip!”

“Jangan dong, yang lain.”

“Ahhh!”

Aku mendengarkan perdebatan dari dua kaum hawa dari generasi yang berbeda ini. Akhirnya, kegigihan Daras dalam merajuk membuahkan hasil.

“Baiklah, sayang, mana ayah?”

Lalu istriku bertanya tentang bahan apa saja untuk makan siang Daras yang telah kupersiapkan. Roda-roda mobil mulai bergerak, lalu lintas kembali berjalan normal, meskipun hujan semakin deras, dan  mendera manusia-manusia kota.

*

Hujan pun reda. Aku menuju ke kantor redaksi Majalah Paradigma, untuk menemui Mas Andi, salah satu kawan yang dipertemukan di sebuah acara diskusi beberapa tahun lalu. Pada akhirnya, waktu mengikat kami menjadi kawan. Mas Andi, adalah orang yang memiliki banyak wawasan, dan aku mengaguminya. Yang menarik dari perkawanan kami adalah, ketika kami dihadapkan oleh cara pandang politik yang berseberangan dari para tokoh bapak bangsa idola kami. Mas Andi, adalah pengagum Soekarno, sedang aku pengagum Mohammad Natsir. Namun kami punya batas, di mana konflik Soekarno-Natsir tak menjebak wilayah–wilayah kami yang lain.

Setelah di depan kantor redaksi Majalah Paradigma, dan mobil kuparkir, aku berkata pada gadis kecil berponi, “Daras di sini atau ikut ayah.”

“Ikut yah.”

Setelah turun dari mobil, dan menguncinya. Kami masuk dan menuju ke resepsionis kantor. Daras, kusuruh untuk duduk di ruang tunggu, yang tak jauh dari resepsionis.

“Baik pak, saya akan panggilkan, Pak Andi.”

“Terima kasih, mbak. Saya tunggu di sana—aku menunjuk di mana Daras duduk.”

Selang dua puluh menit kemudian. Mas Andi datang. Ia tetap saja seperti pertemuan kami pertama. Ia selalu senang menggenakan pakaian polo shirt. Pernah kuingat saat pertemuan ketiga, dan ia berkata bahwa ia merasa gatal memakai pakaian formal.

“Ah, ada pengagum berat Pak Natsir rupanya.”

“Hai, mas.” aku tersenyum.

Lalu kami berdua duduk. Perhatian Daras tertarik pada akuarium besar yang terletak di sekitar bawah anak tangga, di akuarium itu terdapat seekor ikan arwana berjenis Silver Brasil. Saat itu pula, aku sedang membicarakan niatku untuk mencoba mengalih-bahasakan salah satu konten utama yang ditulis oleh seorang essais muda di Prancis, di salah satu majalah budaya, terkait tentang dunia politik dari sastrawan Emile Zola.

“Baik,” katanya. “akan kupertimbangkan. Sebab kau tahu, anak-anak muda di bawahmu sekarang ini, selalu memiliki ide yang lebih cemerlang.”

Aku tersenyum. “Baik, terima kasih mas.”

“Dua hari lagi, akan kuhubungi.”

Lalu aku memanggil Daras. Gadis kecil berponi melangkahkan kakinya dengan riang menuju tempatku.

“Ah, ini Daras?”

“Iya, mas.”

“Kau sudah besar sekali, Ras.”

Daras menampilkan sikap malunya kepada orang lain selain, aku, ibunya, dan kawan-kawan dekatnya.

“Ucapkan salam pada Paman Andi,” suruhku.

Setelah Daras selesai mengucapkan salam, Mas Andi menyuruhku untuk menanti sejenak, dan ia menuju ke ruangannya. Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah buku anak.

“Ini untukmu, Daras.” kata Mas Andi, sambil mengaca-acak poni Daras.

Aku membaca judul buku anak itu, Seekor Bebek oleh Hans Christian Andersen.

“Ah, buku dari Andersen rupanya.”

“Iya, ini karya istriku. Dia mencoba menceritakan ulang karya-karya Andersen, serta menambahkan ilustrasi gambar didalamnya.”

“Ah, Mas Andi memang beruntung mendapatkan Mbak Wulan, salah satu penulis anak terbaik.”

Tanganku dan tangan Mas Andi menjabat erat. Aku dan Daras pun pulang. Dan gadis kecil berponi mendapatkan hadiah istimewanya.

*

Pada malam hari, setelah kami sekeluarga menyelesaikan makan malam, dan Daras ditemani ibunya untuk belajar.  Aku membaca kembali naskah drama milik kawanku Bastian, yang menyuruhku untuk menjadi proofreader-nya.

“Brengsek, benar-benar liar imajinasi anak ini.”

Setelah lembar kesepuluh kemudian.

“Di bagian ini, seperti satu scene di film Woody Allen.”

Setelah lembar kelimabelas kemudian.

“Dan yang ini, ia pasti meminjam ide Bertolt Brecht.”

Setelah lembar ketujuhbelas kemudian.

Aku ini anak angin,

Yang mencari rumahnya sendiri,

Yang kehilangan sanak dan tempat bermainnya,

Yang tak punya kompas, penunjuk arah berputar.[1]

Aku menghanyutkan diri dalam teks-teks liar Bastian, dan tanpa mencoba mempertanyakan lagi, dan ingin total menikmatinya. Sampai kemudian suara decit pintu mengusikku.

“Dasar kutu buku,” kata istriku, yang mendadak muncul.

“Ah, ada apa, sayang?”

“Daras mencarimu. Kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan,” katanya manja.

Aku menghela nafas.

“Baiklah.”

“Apa aku boleh menyarankan sesuatu?”

“Tentu…tentu saja.”

Aku berjalan mendekati istriku yang berdiri dan menyandarkan tubuh rampingnya di kusen pintu ruang kerjaku. Setelah mendekatinya, aku memegang kedua tangannya, dan kedua tubuh kami saling merapat. Deru nafas kami saling berpacu, mendekati keintiman paling mengagumkan. Aku memandang kedua matanya, dan sekaligus simpul senyumnya. Mata dan senyumnya adalah karunia terbesarku, ketika kejenuhan-kejenuhan seringkali melandaku. Kedua tanganku terangkat, dan jari tanganku menepikan rambut panjangnya yang harum, ke sisi kiri telinganya.

Lalu istriku berkata, “Sayang, mendongenglah seakan-akan kau pengarang itu.”

Aku mengangguk. Meskipun aku sering menerjemahkan cerita pendek dari beberapa sastrawan dunia, namun dalam hal mendongeng, aku tak selihai istriku. Lalu, aku dan istriku menuju kamar Daras, yang pada saat bersamaan sedang membolak-balik buku pemberian Mas Andi.

*

Ketika istriku sedang menyelesaikan sedikit tugas kantornya. Aku telah berada di tepi ranjang kecil milik Daras. Gadis kecil berponi ini telah membaringkan dirinya, sambil mendekap guling seukuran dirinya. Dia mulai tak sabar untuk mendengarkanku menuturkan cerita bebek.

“Ayo, yah!”

“Baiklah, dengarkan baik-baik ya. Dan, ingat, jangan menyela sebelum cerita habis.”

“Hmm…hmm.”

Lalu aku pun bercerita.

“Di musim panas,” kataku pada Daras sambil memegang buku pemberian Mas Andi, dengan cover warna terang yang membuat anak-anak tertarik, dan kemudian melanjutkan, “saat cuaca demikian menyenangkan. Seekor ibu bebek di sarangnya, sedang mengerami empat telur kecil dan satu telur besar. Lalu anak-anak bebek menetas dan berkata, alangkah besarnya dunia. Sayang, telur  yang besar belum menetas. Mungkin ini telur ayam kalkun, kata nenek bebek. Dan, ibu bebek menanti dengan sabar. Akhirnya telur besar menetas. Astaga, kata ibu bebek, lalu menambahkan, kau berbeda dengan yang lain.”[2]

“Kenapa harus berbeda yah?”

“Daras…dengarkan ayah dulu…”

“Hmm…Hmm.”

Aku memulainya lagi.

“Kemudian, induk bebek menuntun anak-anaknya ke danau, dan anak-anaknya melompat ke air. Ketika, anak-anak bebek mencelupkan kepala, dan mengayuh kaki mereka. Anak bebek yang menetes dari telur besar bisa berenang. Dan ibu bebek melihatnya. Lalu, ibu bebek menggiring anak-anak bebek ke kumpulan bebek dewasa. Salah satu bebek tua berujar, anak bebek besar itu tak seperti kita! Dan, Suatu ketika, saat anak-anak bebek akan pergi dari sarang, anak bebek besar ditinggalkan sendirian, bahkan ditendang dan diusir.”

Daras menyela lagi.

“Kenapa anak-anak bebek lain jahat sama anak bebek besar yah?”

“Karena anak bebek besar berbeda dengan anak-anak bebek lain. Pertanyaan ayah, apa Daras mau jadi anak-anak bebek lain yang jahat itu?”

Daras termenung, berpikir. Lalu menggeleng.

Kemudian aku melanjutkan cerita bebek itu.

“Tak seorang pun menyukaiku, kata anak bebek besar, kemudian menambahkan, aku akan mencari tempatku di dunia ini. Sayang perjalanan tak mudah. Berbagai hewan liar dan jahat ditemuinya, bahkan sampai ia tinggal bersama seekor ayam dan kucing, namun tak cocok. Dan anak bebek besar bergerak kembali mencari tempatnya. Musim gugur tiba. Suatu ketika, anak bebek besar melihat kumpulan burung berwarna putih, dan ia tak pernah melihat hewan-hewan seperti itu sebelumnya. Ia menyukai mereka, dan ingin tinggal bersama mereka. Namun, burung-burung  putih terbang ke selatan dan meninggalkannya sendirian. Salju pun turun. Anak bebek besar mengalami keadaan yang sulit. Saat hari-hari bertambah hangat di bawah mentari musim gugur, secara tiba-tiba, anak bebek besar mengepakkan sayapnya, dan ia pun terbang. Lalu, ia menuju ke sebuah taman, di dekat danau. Ia pun berenang di danau itu.”

Daras menyela untuk kesekian kalinya.

“Apa anak bebek besar berenang seperti ibu di kolam renang, yah?”

“Ah…” dan aku tertawa geli. “Biar nanti ibumu yang menjawab. Ayah teruskan ya?”

Daras mengangguk.

“Lalu, ada beberapa anak yang bermain di taman. Lihat, kata salah satu anak, sambil menunjukkan telunjuk, angsa baru telah muncul, dan dia yang paling cantik dari semua angsa. Anak bebek besar mendengar suara itu, dan memandang dirinya sendiri ke air. Ia terkejut, bahwa ia menjadi seperti seekor burung  putih yang cantik, dan ia ternyata adalah seekor angsa. Sehingga, angsa-angsa lain menyambutnya. Kau, kata angsa lain, adalah angsa paling cantik. Namun, anak bebek besar yang ternyata angsa itu berkata dengan rendah hati: Aku bukan angsa yang paling cantik, namun aku angsa yang paling bahagia.”

“Akhirnya dia punya teman, ya, yah,” kata Daras sambil menguap.

“Tentu teman-temanmu lebih banyak, Ras, karena kau baik pada siapa pun.”

Gadis kecil berponi memanjatkan doa kecilnya kepada Yang Maha Agung, dan terlelap untuk memulai hari esok dengan kisah serunya, suatu kisah yang akan diceritakannya nanti, padaku, pada ibunya, dan orang-orang yang mencintai dan dicintainya.

“Dan semoga nanti, kau akan memahami sendiri apakah itu, beda dan tak-beda, yang hingga saat ini sulit kurumuskan, Nak.” kataku dalam hati.

 

[1] Diambil dari naskah drama ‘Gamang’ karya Radhar Panca Dahana, dalam Republik Reptil dan Drama-Drama Lainnya (Balesastra pustaka, 2010)

[2] Cerita Bebek diadaptasi dari Le Vilain Petit Canard karya Hans Christian Andersen, atas teks Prancis oleh David Soldi.

 

Tiga Menguak Sunyi: WB. Yeats, Hermann Hesse, dan Emily Dickinson.

 

Saat memutar kembali album No Need To Argue (1994) dari The Cranberries, kemudian pada track kesebelas, lagu Yeat’s Grave segera melantun, dan memenuhi ruang kamar serta ruang dalam diri. Dan, ingatan menajam pada suatu ketika di mana aku membaca bahwa Dolores, fronted female The Cranberries tersebut, menyukai puisi dari Yeats. Segeralah aku mencari beberapa puisi Yeats dalam folder-folder yang masih tersimpan rapi, dan akhirnya aku menemukan puisi berjudul, After Long Silence, puisi di mana beberapa tahun silam, coba kuterjemahkan secara bebas, saat aku belajar tentang sastra inggris. Seusai membaca puisi Yeats, pikiran menyeret pada dua puisi lain yang memiliki nuansa yang seragam: tentang kesepian, kesendirian, kesunyian dan juga tentang diam. Dua puisi lain, diwakili oleh Hermann Hesse dalam ‘In The Fog’ dan Emily Dickinson dalam ‘I Hide Myself Within My Flower.’

Tanpa banyak retorika lagi, selamat menyelam ke dalam palung dasar kenikmatan nuansa-nuansa ketiga penyair ini:

Setelah Terdiam Lama – William Butler Yeats (1865-1939)

Bicara setelah terdiam lama; itu tepat,
Semua para pecinta lain menjauh atau sepi dan menjemukkan,
Cahaya lampu yang tak bersahabat sembunyi di balik bayang-bayangnya,
Tirai-tirai di tarik pada malam yang tak bersahabat,
Bahwa kita menggubah dan tetap saja menggubahnya kembali[1],
Pada Seni dan Lagu yang agung,
Badan yang tua adalah kearifan; dan masa muda
Kita mencintai satu sama lainnya dan menjadi bebal.

::  William Butler Yeats adalah salah satu penyair serta tokoh politik  Irlandia. Ia juga meraih penghargaan nobel sastra pada tahun 1923. Puisi asli bertajuk, ‘After Long Silence.’
[1] dalam baris asli ini: That we descant and yet again descant. Kosakata ‘descant’ dalam Merriam-Webster berarti: seni tentang gubahan atau improvisasi bagian dari musik

 

Di Dalam Kabut – Hermann Hesse (1877-1962)

Aneh, mengembara di dalam kabut.
Setiap semak dan bebatuan berdiri sendiri-sendiri,
Tak ada satu pohon pun yang terlihat di sana
Masing-masing sendiri.

Duniaku dipenuhi dengan kawan-kawan
Ketika hidupku diisi dengan cahaya,
Sekarang, saat kabut turun
Tetap saja, tak seorang pun terlihat.

Sesungguhnya, di sana, tak ada orang bijak
Yang tak diketahui dalam kegelapan
Yang berdiam dan tak mampu mengelak
Memisahkannya dari segala sesuatu yang lain.

Aneh, mengembara di dalam kabut.
Hidup menjadi sendiri.
Tak seorang pun mengenal orang yang lain,
Masing-masing sendiri.

::  Hermann Hesse adalah salah satu sastrawan Jerman yang menerima nobel sastra pada tahun 1946. Puisi di atas diambil dari Harpers Magazine, dengan tajuk  ‘In The Fog,’ atas terjemahan Jerman-Inggris oleh Scoot Horton.

 

Bersembunyi Dalam Bungaku – Emily Dickinson (1830-1886)

Aku menyembunyikan diriku di dalam bungaku,
Yang tertahan di dadaku,
Kau, tak menyangka, terlalu menahanku—
Dan para malaikat mengetahui dengan tenang.

Aku menyembunyikan diriku di dalam bungaku,
Yang, memudar karena pot bunga milikmu,
Kau, tak menyangka, mengasihiku—
Yang hampir kesepian.

::  Emily Dickinson adalah salah satu penyair  wanita terbaik sepanjang sejarah sastra Amerika. Dia juga dikenal sebagai seorang introvert. Puisi di atas diterjemahkan dari ‘I hide myself within my flower’  dalam  Complete Poems of Emily Dickinson.

 

 

Deux Choses

lyssa

Paragraf di atas adalah petikan dari newsletter ‘Lyssa Belum Tidur #1’ dari Morgue Vanguard. Aku telah membaca newsletter itu sekitar lima tahun lalu. Di mana pada saat itu, aku mencoba untuk mengurangi waktu bermainku bersama kawan-kawanku. Dan memberi kesempatan pada diriku untuk menjerumuskan diri ke dalam dunia teks dan buku. Melalui semua itu, aku merasakan perubahan besar. Dan, newsletter itu masih ingin dibuka kembali sampai saat ini, untuk menjaga ingatan yang sering lupa.

Namun, di atas semua itu, terdapat satu alasan mengapa dunia teks dan dunia buku, memberikan warna terang di dalam hidup, ditengah-tengah tentang pencarian diri, dan alasan itu bernama, ibu.

Aku beruntung, aku masih menyimpan satu buku bahasa asing yang ibu berikan kepadaku, saat aku berumur delapan tahun,  Charlie Brown Cyclopedia. Yang mana, saat aku telah dewasa, bahasa asing itu mengajakku untuk menikmati sastra dunia. Hingga, aku tak mampu lepas dari dunia realisme serta eksistensialisme dari dua sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoevsky.

Akhirnya, ibu dan buku adalah dua hal yang acapkali menjelma seperti angin yang menyegarkan; yang memberikan ketenangan seperti suara gemericik air; dan seperti api yang menyalakan kobaran hasrat, saat kesedihan, keputus-asaan, dan kesunyian, mulai mengakrabi diri.

 *

Le paragraphe en haut est cité de Morgue Vanguard de son bulletin, «Lyssa Belum Tidur #1». J’ai lu ce bulletin, il y a cinq ans. À ce moment, j’ai essayé réduit  mes temps de jouer avec mes amis. Alors, pour donner une chance de moi et être plongé dans l’univers les livres et les textes. Pendant ce temps-là, je dois que des changements majeurs. Et, ce bulletin veux toujours être la réouverture jusqu’à present, de perpétuer le souvenir que l’on oublie souvent.

Mais par-dessus tout, il y a une raison pour laquelle l’univers les livres et les texts, pour donner une couleur vive dans la vie, au milieu de sur la recherche de soi-même, et la raison qu’elle s’appelle, La mère

J’ai eu de la chance. Je peux sauver un seul livre avec la langue étrangère que ma mère m’a donné. Quand j’ai 8 ans, « Charlie Brown Cyclopedia.» Où, quand j’étais une adulte, la langue étrangère m’a conduit s’amuser dans le monde de la literature. Jusqu’à je n’ai pas pu s’éloigne du thème et du monde du Realisme et d’Existentialisme par deux grands écrivains Russe, Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoevsky.

Finalement, la mère et le livre sont deux choses que souvent s’incarné comme un rafraîchissant du vent; qui donne la paix comme le bruit des de l’eau qui court; et comme la feu que allumez de la passion; quand la tristesse, le désespoir, et le silence, se familiariser du moi.

 

 

Melangkah

 

Adakah yang kau ingat melalui ketajaman ingatanmu pada hal-hal kecil di masa lalu, hal-hal yang seringkali baik, aku atau kau—sengaja, atau tidak sengaja—melupakan. Mungkin jawabmu, banyak.

Satu hal yang sampai detik ini kuingat benar adalah ketika ibu mencoba mengajariku cara melangkahkan kaki dengan memegangiku dengan kedua tangannya, setelah aku fasih merangkak. Di detik-detik ini, di hari-hari ini, aku senang sekali berjalan kaki untuk menuju ke suatu tempat yang menjadi tujuanku, yang tak jauh dari kediaman. Berjalan, bagiku adalah, suatu aktivitas manusia yang mungkin paling menarik, serta tak lagi dinikmati oleh manusia modern sepertiku, yang telah terkontrol oleh barang-barang yang diciptakan manusia itu sendiri. Dan, dengan melangkahkan kaki aku teringat, sekaligus mempelajari, sesuatu yang mengagumkan.

*

Sesuatu yang mengagumkan itu kudapat tatkala aku sedang berjuang mencapai puncak Mahameru, di Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Kurang lebih pada pukul dua belas dini hari, aku berangkat bersama kedua kawanku dari Pos Kalimati menuju puncak Mahameru. Saat itu, kali ketiga aku ke Semeru, namun baru sekali aku mencoba untuk ke puncak.

Aneh memang, namun sering kudengar dari pendaki-pendaki lain, bahwa ada pendaki yang sekali ke Semeru dan mencapai puncak; namun, ada pula pendaki yang dua kali pergi ke Semeru, namun belum pernah mampu untuk sampai ke puncak, tentu ada berbagai faktor serta alasannya masing-masing.

Lalu, setapak demi setapak, kami bertiga berjalan dengan perlahan-lahan, seusai melalui Pos Arcopodo. Singkatnya, kami telah berada di bawah kaki Puncak Mahameru, sekitar pukul tiga dini hari. Cuaca begitu dingin. Namun gerak kaki menghangatkan tubuh, membakar habis kalori-kalori di tubuh kami dan para pendaki lainnya. Kemudian, kaki-kaki kami menjejak di pasir-pasir kerikil yang cukup menyakiti bagian telapak kaki. Aku tak mampu membayangkan bagaimana adaptasi para pendaki eropa misalnya, saat merasakan transisi dari salju ke pasir-pasir kerikil itu.

Dan, aku menggunakan, dalam istilahku ‘gaya berjalan’:  setidaknya berjalan lima langkah kaki, dan kemudian berhenti, demikianlah seterusnya, saat berjalan menuju puncak. Entah pada pemberhentian ke berapa kali, aku, serta dua kawanku kemudian duduk, mencoba menepi dari track pendakian puncak, dan melepas lelah. Dengan  nafas terengah-engah, kami memandang ke bawah. Saat itu pula, kedua mataku begitu terpukau dengan suatu pemandangan yang ditampakkan, di mana ketika matahari belum menghadirkan dirinya, dan sekelilingnya masih gelap-gulita. Warna-warna emas dan putih gading dari headlamp-headlamp pendaki seperti bintang-bintang yang bergerak di langit yang luas, serta berjalur panjang seperti semut-semut yang membentuk barisannya di dinding.

Kami melanjutkan perjalanan, dengan gaya berjalan yang tetap sama. Ketika matahari muncul dari ufuk barat, kulihat fenomena alam lain yang mengagumkan. Warna-warna orange, biru tua, biru langit, kelabu, hitam, berbaur menjadi satu dihadapanku. Bahkan Gunung Agung di Bali mampu terlihat meski hanya puncaknya ditengah hamparan awan-awan. Andaikan aku dapat melukisnya dalam persentuhan kuas-kuas yang dilekati cat minyak, dan digoreskan ke sebuah kanvas, aku akan memamerkannya pada para pelukis naturalis semacam Béla Iványi-Grünwald atau Jean-François Millet.

Kami, atau para pendaki lain, setidaknya berkejaran dengan waktu, sebab pada pukul sembilan pagi, puncak harus kosong oleh pendakian, di mana disebabkan oleh gas beracun serta angin yang mengarah ke jalur pendakian. Detik-detik jam digital kawanku menunjukkan sekitar pukul lima. Dengan kesabaran serta tekad, dengan kelelahan serta dehidrasi yang akut, toh pada akhirnya, kami tak mampu mendapatkan apa yang sering diidam-idamkan pendaki lain, ‘Momen Sunrise Puncak.’

Kami menembus sisa-sisa tiga ribu enam ratus tujuh puluh enam mdpl. Udara kian menipis tatkala kami mengikis sisa-sisa tiga ratus meter lainnya. Satu-satu pendaki lain melewati kami yang mulai kehabisan tenaga, dan lebih banyak membuang waktu dengan berhenti, terutama aku. Tubuhku tak mampu beradaptasi dengan baik, di saat-saat akan mencapai puncak. Akhirnya, aku menyerah di titik di mana sekitar tiga puluh langkah kaki lagi mencapai puncak.

Tidak rugikah kau, kata pendaki lain, seingatku. Aku tersenyum, sebagai jawaban. Di sanalah pembelajaran di dapat saat melakukan suatu handicap dengan alam liar, suatu kreasi Tuhan yang tak mampu dirumuskan keindahannya, serta kemisteriusannya. Dan, kegagalan serta keletihan yang mendera seakan-akan memanggil kembali Gao Xingjian, sastrawan China peraih nobel sastra tahun 2000, melalui penggalan dari satu paragraf cerita pendeknya, One Man’s Bible:

‘Of course you continue to have your own opinions, interpretations, tendencies and can even get angry as you haven’t got to the age when you no longer have the energy for anger. Naturally, you still become indignant but it is without a great deal of passion. Your capacity for feelings and sensory pleasures remains intact but as this is so then so be it. However there is no longer remorse, remorse is futile and, needless to say, damaging to the self.[1]

Seorang kawan melanjutkan untuk menuju puncak. Sementara kawan yang lain menemaniku, serta menanti kawan yang menuju puncak itu, kembali turun. Saat penantian itulah, aku menyadari betapa kecilnya aku ditengah-tengah alam liar. Dan sekitar pukul tujuh pagi, kami bertiga kembali ke tenda kami, rumah kecil kami, di Pos Kalimati, dengan membawa pengalaman-pengalaman personal masing-masing, khususnya aku.

*

Dan melangkahkan kaki mengajariku bahwa: Ada titik-titik di mana kita harus memulai, ada titik-titik di mana kita harus berhenti. Namun, di antara titik mulai dan titik henti, selalu memunculkan perjuangan melalui telapak-telapak kaki yang menyeret langkah berat dari satu jarak ke jarak yang lain di dalam narasi kehidupan itu sendiri.

Apakah kau juga merasakan seperti yang kurasakan? Dan, aku ingin sekali melangkahkan kaki disampingmu, serta bercerita tentang banyak hal.

*

[1] ‘Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apa pun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan lagi ada penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.’-  Bayangan Kematian, Gao Xingjian, terj. Anton Kurnia, dalam antalogi cerita pendek, Cinta adalah Kesunyian (Pustaka Sastra, 2002).