Bonne Chance, Le Vieil Homme!

pakdhe2

Keberuntungan, seperti masa muda. Setiap orang punya bagiannya. Sedikit yang mengambilnya, yang lain membiarkannya pergi diantara jari-jari mereka, dan yang lain, masih menantinya jauh dibelakang mereka…Yasmina Khadra, novelis Franko-Aljazair.

Pada pukul sepuluh malam, aku memutuskan pergi ke pinggir jalan di dekat kediamanku saat itu, untuk menuju ke suatu tempat dagang kecil, sebuah angkringan. Sejak sore hari langit Jogja dirundung hujan tiada henti. Dan, kupikir menikmati mie kuah serta teh-susu yang khas, adalah cara unik untuk mengusir dingin, mereduksi sunyi, melipat waktu, di malam hari.

Ketika langkah-langkah kaki mulai memangkas jaraknya dan tepat akan mencapai angkringan itu, kulihat tak ada satu pelanggan pun. Kau duduk dengan tenang serta memandang kecipak-kecipak air hasil gilasan roda-roda kendaraan pada cekungan air di atas aspal jalan, seakan-akan kecipak-kecipak yang dihasilkan akibat tumpahan air dari langit Jogjakarta sore itu, adalah kawan yang akrab bagimu.

Lalu kau menoleh ke arahku. Kulihat senyuman yang khas dari seorang pria berumur enampuluhan sepertimu, seakan-akan menyambut pelanggan favoritmu dengan hati yang tulus. Aku pun tersenyum, saat kau, pada malam itu, berpenampilan berbeda: menggenakan baju putih serta kopiah putih, menyiratkan orang-orang salih yang kubaca dalam cerita-cerita sufisme. Aku mulai melontarkan percakapan ringan seputar cuaca kota. Dan kau menimpalinya, dengan memegang cangkir kecil dan langsung meracik minuman favoritku, tanpa terlebih dulu kupesan. Aku, dan juga pelanggan-pelanggan mudamu yang lain, yang sekiranya tepat menerka, mereka bekerja di sebuah advertising yang tak jauh dari tempat dagangmu, kerapkali memanggilmu dengan sebutan, Pak Dhe.

Seusai kau meracik minumanku, dan menyodorkannya dihadapanku. Tak lama kemudian, kuangkat kuping cangkir, dan menyesap perpaduan teh tawar dengan susu, yang mana air-air panas yang memuai di dalam cerek akibat arang merah yang membara, menghasilkan kepulan asap yang memberikan aroma, suatu aroma yang melampaui ‘petrichor’, suatu aroma alami yang tercium kala hujan turun membasahi tanah yang kering. Dan saat aku menyesap untuk pertama kalinya hasil olah tanganmu, aku teringat pada kunjunganku, yang entah keberapa-kalinya, namun aku dapat mengingatnya dengan jelas bahwa saat itu, kau sedang bercerita tentang suatu ujian yang sedang mewarnai hidupmu: salah seorang anakmu mengalami kecelakaan. Aku menajamkan pendengaranku, ketika kau memulai mengisahkan kejadian tersebut. Kau menghubungi anak tertuamu yang berada dan bekerja di ibukota, untuk meminjam uang, dan sisanya kau cari dari hutang-hutang lain; dan kau menguras pendapatan-pendapatanmu yang tak seberapa itu, yang telah kau kumpulkan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mungkin. Bahasa-bahasa dari lisanmu kemudian memukul kesadaranku tentang menyikapi ‘suatu ketak-pastian,’ sesuatu yang cukup problematik bagiku, sekaligus menghadirkan suatu pertanyaan yang memunculkan pertanyaan lain—dalam pengertian filsuf Heidegger: Seberat itukah kejadian yang kau alami? Bagaimanakah kau mampu meloloskan diri dan mencari jalan keluar dari ujianmu tersebut? Kelelahan seperti apakah yang kau rasakan? Apa yang harus aku lakukan andaikan aku menjadi—seorang pria sekaligus ayah—sepertimu dan berada dalam posisi—tekanan psikologis bahkan ekonomi—yang kau alami? Sanggupkah aku menerima segalanya setegar bagaimana kau menerima kenyataan tersebut? Atau benarkah sebaris puisi dari Chairil Anwar, bahwa, nasib adalah kesunyian masing-masing?

Sementara itu, dikunjunganku berikutnya, kita mulai saling bertukar kisah terkait sejarah diri masing-masing; dan tak ada lapisan-lapisan ruang antar penjual-pembeli, yang ada hanyalah percakapan manusia antar manusia dalam mengarungi avonturir kehidupan. “Selama aku menjajakan makanan atau minuman ini,” katamu saat itu, “Aku selalu mengutamakan kebersihan. Mungkin pelanggan sepertimu telah memahami bagaimana kinerjaku. Namun, untuk pelanggan baru, mereka belum memahaminya. Aku selalu mendahulukan mencuci cangkir serta gelas atau mangkuk, lalu melayani pesanan. Sebab, aku tak ingin saat mereka makan dari sini, kemudian jatuh sakit. Sebab itu, aku selalu menjaga kebersihan tempat ini dan alat-alat ini.” Sungguh, aku tak memahami jalan pikiran saat menjalankan cara dagangmu. Namun, aku ingat dalam konteks dagang lain, melalui Mohammad Hatta dalam otobiografinya, bahwa, dagang waktu selalu memunculkan risiko yang tak dapat diperhitungkan secara matematis, dan dalam melaksanakan dagang waktu haruslah dimiliki suatu feeling, rasa, dan perasaan tentang perdagangan lain.

*

Kemudian setelah aku menandaskan secangkir teh-susu dan mie kuah yang kau buat beberapa saat kemudian, sekembalinya di tempat kediaman, aku seringkali berpikir bahwa, pada orang-orang sepertimu terdapat suatu muatan ilmu yang tak diajarkan di ruang-ruang akademik yang selama ini kudapatkan. Dan bertemu orang-orang baru sepertimu, yang hadir serta mewarnai petualangan hidupku, benarkah hanya suatu kebetulan belaka, ataukah memang menjadi suatu ketetapan, sebab di dalam setiap persona selalu mengandung keunikannya sendiri. Dan bertemu denganmu, Pak Dhe, seperti yang digambarkan oleh sastrawan Prancis, Victor Hugo, dalam Les Miserables: pertukaran-pertukaran tempat yang misterius tentang kedalaman jiwa bersama kedalaman alam semesta.

Dari satu titik di sepanjang trotoar jalan Gejayan-Affandi, Jogjakarta. Bonne Chance, Le Vieil Homme! Dieu Vous Benisse!

 

 

 

Iklan

Sauvé la vie moi, Ma Cherie.

Huuu..we’re living the utopian dream / Sauvé la vie moi, sauvé la vie moi – Utopian Dream (Album Grey), Pure Saturday.

Hari minggu sore di suatu taman bermain kota. Aku duduk di suatu bangku panjang dan menyendiri. Dari kejauhan, kedua mataku menangkap aksi yang mengagumkan: Sekitar dua puluh anak kecil yang berumur lima tahun, dengan berjajar empat baris, sedang menari. Mereka menirukan seorang perempuan muda di depan mereka, dengan tubuh yang luwes dan menggerakan kedua tangannya. Dari kedua puluh anak tersebut, Daras, puteriku berada di baris ketiga, paling kecil sendiri. Berkali-kali, gadis kecil berponi itu kerepotan mengikuti gerakan perempuan muda itu yang mana seharusnya bergerak ke kiri, tapi menghadap ke kanan, namun dengan cepat menghadap kiri. Ah, betapa lucunya melihat wajah gadis kecilku yang kebingungan tersebut.

Daun-daun pohon yang merangas. Teriakan-teriakan orang tua pada anak-anaknya. Instrumen musik yang menawarkan keceriaan. Beberapa pedagang jajanan yang mengusap peluh mereka dengan sapu tangan mereka masing-masing. Riuh-rendah suara kendaraan-kendaraan yang melintas adalah suasana-suasana yang demikian merindukan yang ditawarkan oleh taman bermain kota ini.

Setiap hari minggu sore, aku selalu mengajak Daras ke tempat ini. Sebuah tempat yang memberikan serta mengajarkan anak-anak kecil untuk mengasah potensinya. Kegiatan ini digagas oleh kawan-kawan lamaku, Brenda dan Nyoman, sepasang suami-istri yang jatuh cinta pada dunia anak-anak. Dua tahun sudah mereka menjalankan kegiatan ini dengan kondisi jatuh-bangunya dan yang lebih mengagumkan adalah ketika menganggap buah kerja mereka ini sebagai bagian dari non-profit. Pada suatu ketika, sebelum kegiatan hari minggu sore ini benar-benar dilaksanakan, Nyoman meminta saran padaku. Aku menjawab bahwa se-non-profit apapun suatu kegiatan haruslah diperlukan dana. Nyoman, yang memang cukup visioner, menjawab bahwa ia telah menyisakan sedikit penghasilannya untuk ditabung dan untuk mengadakan kegiatan ini. Saat itulah aku benar-benar mengagumi kesungguhannya dalam mengubah sesuatu dilingkungannya, sesuai dengan cara yang diinginkannya.

Daras dan kawan-kawannya masih tetap menari dan masih tetap melakukan kesalahan-kesalahannya. Suatu kesalahan yang wajar bagi seorang amatiran tentunya.

“Nah, baiklah, kita sudahi dulu ya.”

“Lagi, Bu, lagi,” kata salah satu anak di barisan paling depan.

“Iya, Bu, lagi…!” kata salah satu anak, di barisan belakangnya.

“Sudah cukup. Sebab, sebentar lagi akan ada cerita untuk kalian.”

“Tentang apa, Bu?”

“Aduuh, ibu kurang tahu. Tapi, tunggu saja ya, sekarang kalian beristirahat dulu.”

Satu-satu dari mereka berhamburan ke orang tua masing-masing. Daras semakin mendekat kepadaku. Dari pintu taman yang kecil, muncullah istriku dengan membawa sebuah kantong plastik. Aku melihatnya, dia berhenti sejenak dan memandang sekitar mencariku. Aku melambaikan tangan kanan ke atas, penanda di mana aku berada. Sepersekian detik, mata istriku yang mengagumkan mencoba untuk menangkap gerakan tanganku dan dia membalasnya, kemudian mengarah ke tempat di mana aku berada, yang baru saja puteri kecilku telah duduk manis disampingku.

“Ibu bawa apa?” tanya Daras, setelah istriku mendekati kami.

“Hai, sayang. Ibu bawa…ini!” ujar istriku, yang menunjukkan sebotol jus mangga, minuman yang disukai gadis kecil berponi akhir-akhir ini, istriku menambahkan, “Lalu ibu juga bawa kue cocochips.”

“Mau, Bu, mau,” kata Daras dengan manja.

Saat istirahat dari arah yang tak terduga, muncullah Brenda dan Nyoman dengan raut wajah yang muram. Mereka tampak mengobrol dengan amat serius. Pasangan itu menghampiri tiga pemuda dan melanjutkan obrolan. Detik demi detik menjalar. Nyoman menolehkan wajahnya ke arahku.

“Nyomaaan!” teriakku, sambil melambaikan tangan kembali. Pria yang berumur denganku itu pun mendengar suaraku, menyeringai dan memberi tanda melalui kedua tangannya, seakan-akan mengatakan, tunggulah sejenak, tunggulah sejenak, aku akan mendatangimu.

Beberapa saat kemudian, ia bersama Brenda melangkah menujuku dan menyapa sebagian orang tua yang mereka lalui.

“Ah, selamat datang kawan,” kata Nyoman memberikan salam hangat kepadaku dengan menyodorkan tangan kanannya dan menambahkan, “Untung ada kamu?”

“Maksudmu?”

Brenda, perempuan blasteran Eropa-Asia membalas dengan cepat, “Pengisi acara kami untuk bercerita hari ini tak datang dan saat kamu menyapa Nyoman, lalu kami berpikir bahwa kamu sebagai seorang penerjemah novel mampu menggantikannya?”

Aku mengernyitkan dahi dan menoleh ke istriku. Sementara Daras masih asyik menyantap cocochips dan meminum jus mangganya. “Sruuut…Sruuut!”

“Tapi, aku…!”

Sebelum menuntaskan pembicaraan, Nyoman menyela, “Ayolah sekali saja bantu kami.”

“Tapi, Nyoman, meskipun aku seorang penerjemah novel, namun aku bukan seorang yang ahli dalam bercerita secara lisan,” jelasku. “Dan kamu tahu, aku tak mampu memberikan nuansa yang menghidupkan cerita seperti itu. Tapi…”

“Tapi apa?” tanya Brenda.

“Bagaimana bila istriku?”

“Hah, aku,” istriku terperangah saat aku menyebutkan namanya.

“Iya, sayang, bukankah selama ini, kamu yang mahir bercerita saat Daras akan tidur, dan kamu juga pernah mengajari anak-anak saat kawan-kawan Daras main ke rumah, apakah kamu ingat?”

Istriku terdiam sesaat.

“Bang Nyoman. Sudah waktunya!” teriak suara seorang pemuda dari kejauhan.

“Baik, sebentar lagi,” balasnya pada pemuda itu, lalu memandang kami dan menegaskan kembali, “Bagaimana?”

“Baiklah. Akan aku coba, namun maaf bila tak sesuai hasil nantinya.”

Brenda mendekati istriku, mengusap-usap lengannya dan berkata, “Bukankah kita semua sedang belajar dalam kehidupan ini, Ayu.”

“Ah. Brenda, betapa manisnya kamu. Suamiku bahkan tak pernah menyemangatiku seperti itu.” Sindirnya.

*

Gumpalan awan-awan gelap menyelimuti sekitar taman bermain kota. Aku dan beberapa orang yang lain mengira bahwa akan turun hujan. Namun, kegiatan terus berlangsung. Aku tetap di bangku taman, memandang istriku dari kejauhan yang akan bersiap untuk mendongeng.

“Baiklah sekarang ibu akan bercerita tentang dua hewan. Siapa yang pernah mengetahui belalang?”

“Aku, Bu, aku, Bu…” hampir sebagian anak berteriak sambil mengacungkan jari termasuk Daras.

“Lalu siapa yang pernah juga mengetahui tentang semut?”

“Aku, Bu, aku, Bu…” teriak mereka kembali.

“Sekarang kalian dengarkan baik-baik ya.”

Lalu istriku melakukan aksinya:

“Di sebuah ladang, pada suatu hari, di musim panas, seekor belalang sedang meloncat disekitar,” katanya, sambil menirukan seekor belalang dengan kedua tangannya yang dijadikan sayap, lalu kemudian melanjutkan, “mengerik dan bernyanyi dengan sesuka hati.”

Kini Ayu mengubah dirinya menjadi seekor semut dengan mencoba kedua jari telunjuk tangannya diletakkan dikepalanya:

“Seekor semut berlalu dan memikul sebuah jagung dengan usaha kerasnya untuk dibawa ke sarangnya.”

Dan cerita terus menggelinding:

“’Mengapa kamu tak datang dan mengobrol bersamaku, kata belalang, malah bekerja keras dengan cara seperti itu?

Aku sedang membantu menyimpan makanan untuk musim dingin, kata si semut, dan menasehatimu untuk melakukan hal sama.

Mengapa kamu bersusah payah tentang musim dingin? kata belalang; kita telah dapat banyak makanan sekarang ini. Tapi si semut meneruskan caranya dan melanjutkan kerja kerasnya.

Ketika musim dingin tiba, si belalang mendapati dirinya sendiri sekarat dalam kelaparan, sementara itu semut-semut sedang berbagi jagung dan biji-bijian dari simpanan-simpanan mereka yang telah dikumpulkan selama musim panas.’”

Cerita berakhir dengan tepuk-tangan yang meriah dari telapak tangan para pembelajar kecil.

Aku sempat terkejut saat Ayu, istriku, memilih cerita belalang dan semut itu. Sebuah cerita yang mengisyaratkan bagaimana kerja keras dalam bentuk apapun akan menghasilkan sesuatu yang bermakna, di kelak nanti. Saat itu pula, aku teringat pada Jenny Marx, istri Karl Marx yang tak hanya setia namun cerdas. Seorang perempuan yang menyelamatkan hidup Marx dengan idea-ideanya yang brilian.

Ketika pukul lima sore, ketika satu-satu anak mulai kembali pada orang tua mereka masing-masing dan meninggalkan taman bermain kota, Nyoman dan Brenda menghampiri kami, yang juga bersiap akan pulang.

“Aku sangat berterima kasih pada kalian untuk minggu ini,” kata Nyoman.

“Kamu luar biasa, Ayu,” tambah Brenda.

“Tapi ini hanyalah bagian kecil jika dibandingkan usaha keras kalian untuk mengagas kegiatan ini,” kata istriku.

“Bu, Yah, ayo pulang,” rengek Daras, yang juga mengakhiri pertemuan kami pada minggu sore ini. Kecupan hangat Nyoman dan Brenda di kedua pipi gadis kecil berponi, menutup cerita hari ini, untuk membangun cerita-cerita yang lebih mengagumkan di hari-hari esok.

“Terima kasih telah menyelamatkan hidupku, sayang,” kataku saat berada di belakang Ayu dan Daras, saat menuju pintu keluar taman bermain kota.

[1] Cerita belalang dan semut diadaptasi dari Fabel Aesop, ‘The Ant and The Grasshopper.’

[2] Bagian Jenny Marx, diambil dari surat ‘Mengenang Marx’ oleh Paul Lafargue, dalam Konsep Manusia Menurut Marx karya Erich Fromm, terjemahan Agung Prihantoro.

Jogjakarta, 14 Juni 2016

Anak Baptis – Leo Tolstoy

ce4695cac1323aacc183ed0091ea479b

Pangeran Muda Leo Tolstoy

Namun hatiku tak mampu mencair, hingga kau mengasihiku dan menangis untukku

 

I

Lahirlah seorang anak dari seorang petani miskin. Petani itu amat senang dan pergi ke tetangganya untuk bertanya siapa yang ingin menjadi ayah baptis untuk anaknya. tetangga itu menolak–dia tak menyukai kedudukan sebagai ayah baptis untuk anak orang miskin. Petani itu bertanya kepada tetangga yang lain, namun juga ditolak. Setelah ayah yang miskin itu pergi ke setiap rumah di desa, namun tak menemukan seorang pun yang sudi menjadi ayah baptis bagi anaknya. Ia berangkat ke desa lain, dan diperjalanan bertemu seseorang yang berhenti dan berkata:

Selamat siang, pria baik, ke mana tujuanmu?”

Tuhan memberiku seorang anak,” kata petani, “untuk menggembirakan pandanganku saat masa muda, untuk menghibur di masa tuaku, dan untuk mendoakan rohku setelah mati. Namun aku miskin, dan tak seorang pun di desa kami mau menjadi ayah baptis baginya, sehingga aku sekarang dalam perjalanan untuk mencari seorang ayah baptis di tempat lain.”

Biarkan aku menjadi ayah baptis,” kata orang asing. Petani itu senang, dan berterima kasih kepadanya, tapi ia menambahkan: “Dan siapa yang akan aku mintai untuk menjadi ibu baptis?”

Pergilah ke kota,” balas orang asing, “Dan, di alun-alun, kau akan melihat sebuah rumah berbahan batu dengan jendela jual di depannya. Pada pintu masuk kau akan menemukan pedagang yang menjual barang-barang miliknya. Mintalah padanya untuk membiarkan ibu baptis bagi anakmu.’

Petani itu ragu-ragu.

Bagaimana bisa aku meminta pada seorang pedagang yang kaya?” katanya. “Pedagang itu akan memandang rendah aku, dan tak akan membiarkan anaknya datang.”

Jangan mempermasalahkan hal tersebut. Pergi dan mintalah. Dapatkan semuanya dengan cepat esok pagi, dan aku akan datang untuk upacara pembaptisan.”

Petani miskin kembali ke rumah, dan kemudian berjalan ke kota untuk menemukan si pedagang.

Pedagang itu menaiki kudanya di halaman, ketika pedagang itu sendiri keluar.

Apa yang kau inginkan?” kata pedagang.

Kau lihat Tuhan memberiku anak untuk menggembirakan saat masa mudaku, untuk menghibur di umur tuaku, dan mendoakan rohku setelah mati. Akan menjadi baik bila membiarkan kau menjadi ibu baptis baginya.”

Dan kapan upacara pembatisan?” kata pedagang.

Esok Pagi’

Tentu. Selamat. Anakku akan bersamamu saat upacara esok pagi.”

Hari selanjutnya ibu baptis tiba, dan begitupun dengan ayah baptis, dan bayi itu telah dibaptis.

Akhirnya setelah upacara pembaptisan, ayah baptisnya segera pergi. Mereka tak tahu siapa ia sebenarnya, dan tak pernah melihatnya lagi.

II

Anak itu tumbuh dewasa dan menjadi keriangan bagi orang tuanya. Ia kuat, mau bekerja, pandai dan penurut. Ketika ia berusia sepuluh tahun orang tuanya mengirimnya ke sekolah untuk belajar membaca dan menulis. Apa yang orang lain pelajari dalam lima tahun, ia pelajari dalam setahun, dan segera di sekolah itu mereka tak mampu berbuat banyak mengajarinya.

Hari paskah tiba, dan anak laki-laki pergi untuk melihat ibunya, untuk memberikannya ucapan selamat hari paskah.

Ayah dan ibu,” katanya ketika ia pergi ke rumah kembali, “Di manakah ayah baptisku tinggal? Aku akan memberinya ucapan selamat hari paskah juga.”

Dan ayahnya menjawab:

Kami tak tahu mengenai ayah baptismu, anakku sayang. Kami kerapkali menyesalkan kejadian itu pada diri kami sendiri. Sejak hari upacara pembaptisanmu, kami tak pernah bertemu dengannya, pun sesuatu berita tentangnya. Kami tak tahu dimana ia tinggal, atau apakah ia masih hidup.”

Si anak tunduk kepada orang tuanya.

Ayah dan ibu,” katanya, “Biarkan aku pergi dan mencari ayah baptisku. Aku harus menemukannya dan memberikannya ucapan selamat paskah.”

Sehingga, ayah dan ibunya membiarkan ia pergi, dan anaknya memulai untuk menemukan ayah baptisnya.

III

Si anak meninggalkan rumah dan berangkat mendekati jalan. Ia telah berjalan untuk beberapa jam, dan ia bertemu orang asing yang memberhentikannya dan berkata:

Selamat siang untukmu, anakku. Ke mana kau akan pergi?”

Dan si anak menjawab:

Aku melihat ibu baptisku dan memberinya ucapan selamat hari paskah, lalu aku kembali ke rumah, aku menanyakan kepada orang tuaku di mana ayah baptisku tinggal, karena itulah aku pergi dan menyambutnya juga. Mereka memberitahuku, mereka tak mengetahui, mereka berkata ia pergi segera setelah aku telah dibaptis, dan mereka tak mengetahui tentangnya, sekalipun ia tetap tak hidup. Namun aku berharap untuk melihat ayah baptisku, dan aku berangkat untuk mencarinya.”

Lalu orang asing itu berkata: “Akulah ayah baptismu.”

Si anak senang mendengar hal itu. setelah mencium ayah baptisnya tiga kali untuk mengucapkan selamat paskah, ia bertanya kepadanya:

Ke jalan mana kau akan pergi sekarang, ayah baptisku? Jika kau datang ke daerah kami, mohon datang ke rumah kami, jika kau akan pulang, aku akan bersamamu.”

Aku tak punya waktu sekarang,untuk datang ke rumahmu.” balas ayah baptisnya, “Aku punya bisnis di beberapa desa, aku akan kembali ke rumah lagi besok. Datang dan kunjungilah aku.”

Tapi bagaimana aku harus menemukanmu, ayah baptisku?”

Ketika kau meninggalkan rumah, pergilah lurus ke arah matahari terbit, dan kau akan sampai di hutan; pergilah melewati hutan, maka kau akan sampai ke sebuah sebuah lapangan ditengah tanah rimba, ketika kau mencapai lapangan tersebut duduklah dan beristirahatlah sejenak, lihatlah sekitarmu dan lihatlah apa yang terjadi. Pada sisi yang lebih jauh dari hutan, kau akan menemukan sebuah taman, dan di dalamnya terdapat sebuah rumah beratapkan emas. Itulah rumahku. Bukalah pintu, dan aku sendiri yang akan menemuimu.”

Dan setelah berkata itu, ayah baptis menghilang dari penglihatan anak baptisnya.

IV

Si anak melakukan apa yang ayah baptisnya telah sampaikan. Ia berjalan ke arah timur hingga  mencapai hutan, di sana ia tiba ke lapangan. Di tengah-tengah lapangan ia melihat sebuah pohon cemara bercabang yang terikat tali, yangdisokong dengan lebatnya batang kayu oak. Pada bagian bawah batang, berdirilah sebuah kayu dengan bak penuh madu. Si anak hampir tak punya waktu berpikir mengapa madu itu ditempatkan di sana, dan mengapa batang kayu menggantung di atasnya, lalu ia mendengar sebuah patahan pada kayu, dan melihat beberapa beruang mendekat; beruang betina, diikuti oleh anak kuda dan anak-anak beruang yang kecil.

Beruang betina, menghirup udara, pergi lurus ke bak, dan anak-anak beruang mengikutinya. Dia mendorong moncongnya ke madu, dan memanggil anak-anak beruang untuk melakukan hal sama. Mereka tergesa-gesa dan mulai memakannya. Saat mereka melakukan itu, batang kayu, di mana beruang betina telah memindahkan kepalanya disebelah. Lalu, mengayunkan sedikit lebih jauh dan, kembali, memberikan anak-anak beruang dorongan. Melihat itu, beruang betina mendorong jauh batang kayu dengan cakarnya. Batang kayu mengayun keluar lebih jauh dan kembali dengan lebih keras, menyerang seorang anak beruang dibelakang dan kepala yang lain. Anak-anak beruang lari menjauh berteriak kesakitan, dan ibu mereka, mengaum, menangkap batang kayu dengan cakar bagian depan dan, mengangkat batang kayu tersebut lalu melempar jauh ke atas kepalanya.

Batang kayu terbang tinggi di udara dan anak kuda, menyibukkan diri ke bak, namun tak dapat mencapai bak. Lalu batang kayu, terbang kembali, membentur kepala anak kuda dan membunuhnya. Beruang betina mengeram keras dari sebelumnya dan, menangkap batang kayu, melemparkan benda itu darinya dengan seluruh kemungkinannya. Batang kayu terbang tinggi dari dahan kayu yang telah terikat; sehingga tali yang tinggi mengendur, dan beruang betina kembali ke bak, dan anak-anak beruang kecil mencarinya. Batang kayu terbang tinggi dan tinggi, kemudian berhenti, dan mulai jatuh dengan tiba-tiba memutar cepat. Pada akhirnya, saat kecepatan penuh, batang kayu menubruk kepalanya. Beruang betina terguling, lengannya tersentak dan dia mati! Anak-anak beruang pergi berlari ke dalam hutan.

Si anak baptis melihat semua itu dengan terkejut, dan melanjutkan perjalanannya. Meninggalkan hutan, ia tiba di atas sebuah taman yang besar, di mana ditengah-tengah berdiri istana yang megah dengan beratapkan emas. Ayahnya berdiri di gerbang, tersenyum. Ia menyambut anaknya, dan membawanya melewati pintu gerbang ke dalam taman. Si anak tak pernah bermimpi betapa indahnya dan senangnya berkeliling di istana tersebut.

Lalu ayah baptisnya membawanya ke dalam istana, di mana di dalam rumah itu sangatlah indah daripada di luar. Ayah baptisnya menunjukkan pada si anak saat melewati seluruh kamar: masing-masing kamar sangat cerah dan sangat bagus daripada yang lain, namun akhirnya mereka tiba ke satu pintu yang tertutup.

Kau lihat pintu ini,” katanya. “Ini tak terkunci, hanya tertutup. Ini bisa dibuka, tapi aku melarang kau untuk memasukinya. Kau boleh tinggal di sini, dan pergi ke mana pun kau suka dan nikmati semua kesenangan tempat ini.Hanya perintahku adalah–jangan membuka pintu tersebut! Jika kau melakukannya, ingat apa yang kau lihat di hutan.”

Setelah berkata hal itu ayah baptisnya segera pergi keluar. Si anak tetap di istana, dan hidup di sana dengan sangat gembira dan ia berpikir bahwa ia telah berada di sana selama tiga jam, kemudian ia telah benar-benar tinggal di sana selama tigapuluh tahun. Ketika tiga puluh tahun telah berlalu, suatu hari si anak kebetulan melewati pintu tertutup, dan ia penasaran mengapa ayah baptisnya melarangnya memasuki kamar itu.

Aku akan singgah ke dalam dan melihat apa yang di sana,” pikirnya. Dan ia mendorong pintu itu, memberi tanda jalan, pintu terbuka, dan si anak masuk melihat ruangan yang lebih megah dan indah dari seluruh ruangan yang lain, dan ditengah-tengahnya terdapat sebuah singgasana. Ia berkeliling disekitar ruangan sejenak, dan kemudian melangkah naik dan dirinya duduk di atas singgasana. Saat ia duduk di sana, ia memperhatikan tongkat lambang kekuasaan yang bersandar di singgasana, dan mengambil dengan tangannya.

Ia tak pernah melakukannya, sehingga kemudian empat dinding ruangan tiba-tiba menghilang. Si anak memandang sekelilingnya, dan melihat seluruh dunia, dan seluruh manusia sedang dilihatnya. Ia memandang di depannya, dan melihat laut dengan kapal berlayar di atasnya. Ia memandang ke kanannya, dan melihat di mana orang asing penyembah berhala tinggal. Ia memandang ke kiri, dan melihat di mana manusia itu adalah seorang kristiani, namun bukan orang Russia. Ia memandang sekitarnya, dan dari empat sisi, ia melihat orang-orang Rusia, seperti dirinya.

Aku akan memandang,” katanya, “dan melihat apa yang terjadi di rumah, dan apakah panen berlangsung baik.”

Ia memandang ke arah ladang ayahnya dan melihat ikatan-ikatan jagung berdiri dalam persediaan. Ia mulai menghitung ikatan-ikatan jagung itu untuk melihat apakah cukup banyak, lalu ia memperhatikan seorang petani mengendarai sebuah gerobak. Saat itu malam hari, dan si anak baptis berpikir itu adalah ayahnya yang datang dengan gerobak jagung di malam hari. Namun, ia melihat Vasily Koudryasof, seorang pencuri, berkendara ke dalam ladang dan memulai memuat ikatan-ikatan panen jagung ke gerobaknya. Hal ini membuat si anak marah, dan ia berteriak:

Ayah, ikatan-ikatan panen itu sedang dicuri dari ladang kita!”

Ayahnya, yang sedang mengeluarkan kuda-kudanya di malam hari untuk digembalakan, terbangun.

Aku bermimpi ikatan-ikatan panen itu sedang dicuri,” katanya. “Aku akan berkendara dan melihatnya.”

Sehingga si ayah dari anak itu menaiki kuda dan berkendara menuju ladang. Menemukan Vasily di sana, ia memanggil petani-petani lainnya untuk membantunya, dan Vasily telah dikalahkan, diikat, dan dipenjarakan.

Ketika si anak melihat ke kota, di mana ibu baptisnya tinggal. Ia melihat bahwa ibu baptisnya sekarang menikah dengan seorang pedagang. Dia terbaring tidur, dan suaminya bangkit dan menuju ke pembantunya. Si anak berteriak kepadanya:

Bangun, bangun, suamimu sedang melakukan hal buruk.”

Ibu baptisnya melompat dan berpakaian, dan keluar mencari di mana suaminya berada, dia malu dan memukul pembantunya, dan memaksanya pergi.

Lalu si anak melihat ibunya, dan melihat ia terbaring tidur di pondoknya. Dan seorang pencuri merangkak ke dalam pondok dan mulai membuka lemari di mana ia menyimpan barang-barangnya. Si ibu bangun dan berteriak, dan si pencuri menggunakan kapaknya, mengayunkan kapak ke atas kepalanya untuk membunuhnya.

Si anak tak mampu menahan diri dan melemparkan tongkat ke pencuri. Tongkat itu dipukulnya ke atas pelipispencuri, dan membunuhnya di tempat.

V

Segera si anak telah membunuh pencuri, dinding itu tertutup dan ruangan menjadi seperti sebelumnya.

Lalu pintu terbuka dan ayah baptisnya masuk, dan mendatangi anak baptisnya ia membawa anaknya dengan tangannya dan menuntunnya turun dari singgasana.

Kau tak mentaati perintahku,” katanya. “Kau melakukan satu hal kesalahan, ketika kau membuka pintu terlarang.Yang lainnya, ketika kau menaiki singgasana dan mengambil tongkat ke dalam tanganmu. Kau telah melakukan tiga kesalahan, yang mana menambah banyak kejahatan di dunia. Ketika kau duduk di sini sepanjang jam, kau telah merusak setengah dari umat manusia.”

Lalu ayah baptisnya menuntun anak baptis itu kembali dari singgasana, dan mengambil tongkat itu kedalam tangannya, dan dinding-dinding menjadi runtuh dan segala sesuatu dapat terlihat. Dan ayah baptisnya berkata:

Lihat apa yang kau lakukan untuk ayahmu. Vasily saat ini mendapat hukuman setahun penjara, dan telah keluar untuk melakukan pelajaran dari setiap jenis kejahatan, dan keamanan tak dapat diperbaiki. Lihat, ia sedang mencuri dua kuda milik ayahmu, dan ia sekarang meletakkan api pada gudang ayahmu. Semua hal ini, kau bawa pada ayahmu.”

Si anak melihat gudang ayahnya dihancurkan dengan api, namun ayah baptisnya menutup pandangannya, dan memberitahukannya untuk melihat jalan yang lain.

Ini adalah suami ibu baptismu,” katanya, “ini setahun sejak ia meninggalkan istrinya, dan sekarang ia pergi ke wanita lain. Pembantunya yang dulu telah terbenam turun dalam kedalaman. Dukacita telah mendorongnya untuk minum. Inilah yang kau lakukan untuk ibu baptismu.”

Ayah baptisnya menghentikan peristiwa ini juga, dan menunjukkan si anak pada rumah ayahnya. Di sana ia melihat tangisan ibunya karena dosa-dosanya, penyesalan, dan berkata:

Akan menjadi lebih baik jika pencuri itu membunuhku pada malam itu. Aku tak akan punya dosa yang sangat berat.”

Hal ini,” kata ayah baptisnya, “adalah apa yang telah kau lakukan kepada ibumu.”

Ia pun menghentikan peristiwa tersebut, dan menurunkan hal tersebut, dan si anak melihat dua orang yang menahan pencuri di depan sebuah penjara.

Dan si ayah baptis berkata:

Pria ini telah membunuh sepuluh orang. Ia akan bicara panjang lebar tentang dosa-dosanya sendiri, namun dengan pembunuhannya, kau telah mengambil dosa-dosa pada dirinya. Sekarang kau harus menjawab seluruh dosa-dosanya. Ini adalah apa yang kau lakukan untuk dirimu sendiri. beruang betina mendorong batang kayu di sebelahnya, dan mengganggu anak-anaknya. Ia mendorong benda itu lagi, dan membunuh anak kudanya, dia dorong benda itu ketiga kalinya, dan membunuh dirinya. Kau akan melakukan hal sama. Sekarang aku beri kau tiga puluh tahun untuk masuk kedalam dunia dan menebus dosa-dosa pencuri itu. Jika kau tak menebus dosa-dosa mereka, kau akan mengambil tempatnya.”

Bagaimana aku menebus dosa-dosanya?” Tanya si anak.

Dan si ayah baptis menjawab:

Ketika kau telah dibuang ke dunia yang sesungguhnya jahat, kau telah terbawa kedalam kejahatan tersebut, kau akan menebus kedua-duanya, untuk dosa-dosamu sendiri dan untuk dosa-dosa si pencuri.”

Bagaimana aku bisa menghancurkan kejahatan di dunia?” Si anak bertanya.

Pergilah,” balas ayah baptisnya, “dan berjalan lurus ke arah matahari terbit. Setelah itu, kau akan tiba ke sebuah lapangan dengan beberapa manusia disana. Peringatkan apa yang mereka lakukan, dan ajari mereka apa yang kau tahu. Lalu pergilah dan catat apa yang kau lihat. Di hari keempat kau akan tiba ke sebuah hutan. Ditengah-tengah hutan ada sebuah penjara dan di dalam penjara hiduplah seorang pertapa. Beritahu ia semua yang telah terjadi. Ia akan mengajarimu apa yang harus dilakukan. Ketika kau telah melakukan semua yang ia katakan kepadamu, kau akan menebus dosa-dosa untukmu sendiri dan pencuri itu.”

Dan, setelah berkata itu, si ayah baptis menuntun si anak keluar pintu gerbang.

VI

Si anak pergi di jalannya, dan saat ia pergi serta berpikir: bagaimana aku menghancurkan kejahatan di dunia? Kejahatan adalah kehancuran yang dibuang oleh manusia-manusia jahat, menjaga mereka di dalam penjara, atau menyerahkan mereka pada kematian. Lalu bagaimana aku menghancurkan kejahatan tanpa membawa dosa-dosa orang-orang lain ke dalam diriku sendiri? Si anak mempertimbangkan itu semua sejenak, namun tak bisa mendatangkan kesimpulan. Ia pergi hingga tiba ke sebuah lapangan di mana jagung sedang tumbuh lebat dan siap untuk ditunai dengan mesin. Si anak baptis melihat bahwa ada anak sapi kecil yang pergi diantara jagung-jagung. Beberapa manusia yang sedang di sekitar melihat itu, dan menaiki kuda-kuda milik mereka, mereka berburu dibelakang dan di depan melalui ladang jagung. Setiap waktu, anak-anak sapi baru saja akan keluar ladang jagung, seseorang penunggang kuda dan anak sapi mejadi sangat takut dan belok kembali, dan mereka semua berderap setelah itu, menginjak-injak jagung. Di sebuah jalan berdiri seorang wanita yang menangis.

Mereka akan memburu anak sapiku sampai tewas,” katanya.

Dan si anak berkata kepada para petani:

Apa yang kalian lakukan? Keluar dari ladang jagung kalian semua, dan biarkan wanita ini memanggil anak sapinya.”

Para pria melakukannya; dan si wanita datang ke pinggir ladang jagung dan memanggil anak sapinya. “Berjalanlah, Browney, berjalanlah,” katanya. Si anak sapi memasang telingga, mendengar sejenak, dan kemudian berlari ke arah wanita itu dengan sendirinya, dan menyembunyikan kepalanya di rok wanita itu dan hampir menjatuhkannya. Para pria terlihat senang melihat wanita itu senang, begitupun dengan anak sapinya. Si anak segera pergi, dan ia berpikir:

Sekarang aku melihat bahwa kejahatan menularkan kejahatan. Banyak orang-orang mencoba untuk mengusir kejahatan, dan lebih banyak kejahatan yang tumbuh. Kejahatan, terlihat, tak mampu dihancurkan oleh kejahatan, namun pada suatu cara yang mampu menghancurkannya, aku tak tahu. Anak sapi mematuhi pemiliknya dan semua pergi dengan baik, namun jika anak sapi itu tak menurutinya, bagaimana bisa kami akan pergi keluar ladang ini?”

Si anak mempertimbangkan kembali, namun tak ada kesimpulan, dan melanjutkan jalannya.

VII

Ia pergi hingga tiba di sebuah desa. Pada akhir tempat yang paling jauh, ia berhenti dan meminta tinggal untuk menetap semalam. Wanita di rumah tersebut seorang diri, rumah itu bersih, dan wanita itu membiarkannya masuk. Si anak masuk, dan mengambil posisi duduk di atas kompor berbata, ia melihat apa yang wanita itu lakukan. Ia melihat wanita itu menyelesaikan pekerjaan menyikat kamar dan mulai menyikat sebuah meja. Setelah melakukan itu, wanita itu mulai membersihkan meja dengan kain kotor. Wanita itu membersihkan meja dari sisi ke sisi–namun itu tak membuat bersih. Tanah di kain meninggalkan corengan kotor. Lalu wanita itu membersihkan bagian meja yang lain. Corengan pertama menghilang, namun yang lain muncul di bagian lain. Lalu wanita itu mebersihkan dari sisi akhir ke yang lain, namun kembali hal yang sama terjadi. Tanah pada kain mengotori meja, ketika salah satu corengan telah diseka, corengan yang lain dibiarkan. Si anak melihat sejenak dalam diamnya. Lalu berkata:

Apa yang kau lakukan, nyonya.”

Kau tak lihat aku sedang bersih-bersih di hari libur. Hanya aku tak mampu menangani meja ini, meja ini tak bersih juga. Aku sangat kelelahan.”

Kau harus bilas kainmu,” kata si anak, “sebelum kau membersihkan meja itu dengan kain.” Wanita itu melakukannya, dan segera meja telah bersih.

Terima kasih karena memberitahuku,” kata wanita itu.

Pada keesokan pagi, ia melanjutkan tujuannya. Setelah berjalan agak lama, ia tiba di sisi hutan. Di sana ia melihat beberapa petani yang membuat roda gerobak melingkar dari kayu yang melengkung. Si anak mendekat melihat bahwa para manusia sedang saling berkeliling, namun tak dapat melengkungkannya di sebuah pohon.

Apa yang kau lakukan, kawan-kawan?”

Apa kau tak lihat, kami sedang membuat roda melingkar. Kami telah dua kali kehabisan energi karena pohon ini, dan sekarang sangat lelah, namun kayu tak melengkung.”

Kau harus menentukan kayu itu, kawan,” kata si anak, “atau segeralah kelilingi kayu itu seperti ketika kalian lakukan.”

Para petani mencoba nasihatnya dan menentukan kayu, kemudian pekerjaan segera menyenangkan.

Si anak menghabiskan malam bersama mereka, kemudian segera melanjutkan perjalanannya. Ia berjalan sepanjang hari dan sepanjang malam, sebelum shubuh tiba ia tiba di tenda beberapa sekumpulan peternak pada malam hari, dan terbaring disebelah mereka. Ia melihat bahwa mereka telah membereskan seluruh hewan ternak mereka, dan mencoba untuk menghidupkan api. Mereka mengambil ranting-ranting basah dan menyalakan api dari ranting itu, namun sebelum ranting siap terbakar, mereka menutupi ranting-ranting dengan semak belukar yang lembap. Semak belukar mendesis dan api yang membara dan mati. Lalu mereka membawa lebih banyak kayu basah, menyalakannya, dan kembali menaruh semak belukar–dan kembali api segera mati. mereka berjuang menghidupkan untuk waktu yang lama, namun tak bisa mendapatkan api untuk membakar. Kemudian si anak berkata:

Jangan meletakkan semak belukar dengan tergesa-gesa. Biarkan kayu yang basah terbakar sebagaimana mestinya sebelum kau menaruh sesuatu apapun di atasnya. Ketika api menyala dengan baik, kau bisa menaruh sebanyak apapun yang kau suka.”

Kelompok itu mengikuti nasihatnya. Mereka membiarkan api membakar dengan ganas sebelum menambahkan semak belukar, di mana kemudian nyala api menjulang sehingga mereka segera mendapatkan api yang berdesar-desar.

Si anak tetap tinggal dengan mereka untuk sejenak, dan kemudian melanjutkan tujuannya.

Si anak berjalan sepanjang hari, dan pada malam hari tiba di hutan yang lain. Di sana ia menemukan sebuah penjara seorang pertapa, ia mengetok.

Siapa disana?” Tanya sebuah suara dari dalam.

Seorang pendosa besar,” balas si anak. “Aku harus menebus dosa-dosa lain sebagaimana baiknya untuk diriku.”

Si pertapa keluar mendengar hal itu.

Dosa-dosa siapakah yang kau tanggung?”

Si anak memberitahu segalanya, tentang ayah baptisnya, tentang beruang betina bersama anak-anak beruang, tentang tongkat di ruangan tertutup, tentang perintah-perintah ayah baptisnya yang diberikan padanya, sebagaimana tentang para petani yang ia lihat menginjak-injak jagung, dan anak sapi keluar ketika si pemilik memanggilnya.

Aku menjumpai bahwa seseorang tak bisa menghancurkan kejahatan dengan kejahatan,” katanya, “namun aku tak mengerti bagaimana hal ini menjadi hancur. Ajari aku bagaimana melakukan hal ini.”

Beritahu aku,” balas si pertapa, “apa yang kau lihat dalam perjalananmu.”

Si anak memberitahunya tentang wanita yang membersihkan meja, dan para pria yang sedang membuat roda gerobak, dan sekumpulan orang berkelahi dengan api mereka.

Si pertapa mendengarkan seluruh cerita, kemudian pergi kembali ke penjaranya dan membawa keluar kapak bergrigi. “Ayo ikut aku,” katanya.

Ketika mereka telah pergi ke beberapa tujuan, si pertapa menunjuk ke sebuah pohon. “Potong pohon itu,” katanya.

Si anak menebang pohon itu.

Sekarang belah pohon itu menjadi tiga,” kata si pertapa.

Si anak membelah pohon menjadi tiga bagian. Kemudian si pertapa kembali ke tempat pertapaannya, dan membawa beberapa batang kayu yang meyala dengan api.

Bakar ketiga batang kayu ini,” katanya.

Sehingga si anak menerima api itu, dan membakar ketiga batang kayu sampai ujung ketiga-tiganya menjadi arang.

Sekarang tanam ketiganya separuh bagian kedalam tanah, seperti ini.” Si anak melakukannya.

Kau lihat sungai di kaki bukit itu. Bawalah air dari sana dengan mulutmu, dan siram puntung-puntung ini. Sirampuntung pertama ini, seperti kau mengajari wanita itu: Puntung yang kedua ini seperti kau mengajari membuat roda, dan yang ini, seperti kau mengajari gerombolan itu. Ketika ketiga-tiganya telah mengakar dan dari puntung-puntung arang dari pohon apel yang telah rusak, kau akan tahu bagaimana menghancurkan kejahatan pada manusia, dan akan menebus seluruh dosa-dosamu.”

Setelah mengatakan itu, si pertapa kembali ke tempat pertapaannya. Si anak mempertimbangkan dengan waktu yang lama, namun tak mengerti apa yang pertapa maksudkan. Meskipun demikian, ia bersiap untuk bekerja, melakukan seperti apa yang telah diberitahukan padanya.

Si anak pergi ke bawah sungai, mengisi mulutnya dengan air, dan kembali, menuangkan air diatas salah satu puntung arang. Hal ini dilakukannya lagi dan lagi, dan menyirami ketiga puntung. Ketika ia lapar dan sangat lelah, ia pergi ke tempat pertapa untuk bertanya kepada pertapa tua itu tentang beberapa makanan. Ia membuka pintu, dan di atas bangku, ia melihat pria tua itu tergeletak mati. Si anak melihat ke makanan, dan ia menemukan beberapa makanan dan sedikit memakannya. Kemudian ia mengambil sekop dan bersiap untuk melakukan penggalian kuburan untuk si pertapa. Selama malam hari, ia membawa air dan menyiram arang-arang itu, dan pada siang hari ia menggali kuburan. Ia hampir menyelesaikan kuburan dan hampir mengubur mayat tersebut, lalu beberapa orang dari desa datang, membawa makanan untuk pria tua tersebut.

Orang-orang mendengar bahwa pertapa tua telah mati, dan telah memberikan kepada si anak keberkahannya, dan meninggalinya tempat kediamannya. Sehingga mereka mengubur pria tua itu, memberikan makanan yang mereka bawa kepada si anak, dan berjanji untuk membawakannya lebih, mereka segera pergi.

Si anak menetap di tempat pria tua itu. Di sana ia tinggal, memakan makanan orang-orang yang membawakan untuknya, dan mengerjakan seperti yang pria tua itu katakan: membawa air dari sungai dengan mulutnya dan menyiram puntung arang.

Ia hidup disana selama setahun, dan banyak orang mengunjunginya. Kemahsyurannya menyebar, sebagai orang suci yang hidup di hutan dan membawa air dari tengah bukit dengan mulutnya untuk menyirami puntung arang agar menyelamatkan jiwanya. Orang-orang berkumpul untuk melihatnya. Saudagar kaya berbondong-bondong membawa hadiah-hadiahnya, namun ia hanya menyimpan sedikit kebutuhan untuk dirinya sendiri, dan sedikit mendermakan untuk yang miskin.

Dan kemudian si anak tetap membawa air dalam mulutnya dan menyiram arang setengah hari, dan beristirahat, dan menerima orang-orang setengah hari yang lain. Lalu ia mulai berpikir bahwa ini adalah cara memberitahunya untuk hidup, supaya menghancurkan kejahatan dan menebus dosa-dosanya.

Ia menghabiskan dua tahun dengan cara hidup seperti ini, tak mengabaikan satu hari untuk menyiram arang. Namun bahkan tak salah satu pun dari arang-arang itu bertunas.

Suatu hari, saat ia duduk di dalam tempat pertapa, ia mendengar seorang pria lewat berkendara, dan bernyanyi. Si anak keluar untuk melihat apa rupa pria berkendara itu. Ia melihat seorang laki-laki yang muda dan kuat, berpakaian bagus, dan menunggang dengan gagah, berkuda dengan pelana yang bagus.

Si anak memberhentikannya, dan bertanya siapakah ia sebenarnya, dan kemana ia kan pergi.

Aku si pencuri,” pria itu menjawab, dengan menarik tali kekang. “Aku berkendara karena jalan raya untuk membunuh orang-orang, dan aku gembira seperti lagu-lagu yang aku nyanyikan.”

Si anak begitu ketakutan, dan berpikir:

Bagaimana bisa kejahatan dihancurkan sebagaimana manusia ini? Orang ini sangat mudah untuk membicarakan hal ini dengan mendatangiku atas kehendaknya sendiri dan mengakui dosa-dosanya. Namun orang ini menyombongkan kejahatan yang ia lakukan.

Si anak tak berkata apapun, dan berbelok kembali, berpikir: apa yang aku lakukan sekarang? Pencuri ini mungkin akan berkendara disekitar sini, dan ia akan mengusir orang-orang. Mereka akan berhenti mendatangiku. Ini akan menjadi kerugian untuk mereka, dan aku tak dapat mengetahui bagaimana untuk hidup. Sehingga si anak menoleh kebelakang, dan berkata ke pencuri tersebut:

Orang-orang datang untukku di sini, bukan untuk membanggakana dosa-dosa mereka, namun untuk menyesalinya, dan untuk memohon agar termaafkan. Sesalilah dosa-dosamu, jika kau takut Tuhan, namun jika di sana tak ada penyesalan di dalam hatimu, pergilah dan jangan pernah kembali lagi. Jangan membuat masalah denganku, dan jangan menakut-nakuti orang sehingga menjauhi aku. Jika kau tak mendengarkan, Tuhan akan menghukummu.”

Si pencuri tertawa:

Aku tak mengkhawatirkan Tuhan, dan aku tak akan mendengarkanmu. Kau bukan tuanku,” katanya. “Kau hidup dengan kesalehanmu, dan aku dengan perampokanku. Kita semua harus hidup. Kau mungkin mengajari wanita tua yang mendatangimu, namun kau tak mengajariku. Karena kau telah mengingatkanku pada Tuhan, aku akan membunuh lebih dari dua manusia besok. Aku akan membunuhmu, namun aku tak ingin mengotori tanganku sekarang. Lihat lain kali kau jangan mencampuri tujuanku!”

Setelah mengucapkan ancaman, si pencuri pergi. Ia tak kembali lagi, dan si anak hidup dalam damai, selama delapan tahun lebih.

VIII

Suatu malam si anak menyiram arang-arangnya, dan, setelah kembali ke tempatnya, ia duduk untuk beristirahat, dan melihat ke jalan setapak, berpikir jika seseorang akan segera datang. Namun tak seorang pun datang sepanjang hari ini. Ia duduk sendiri hingga malam, merasakan kesendirian dan kesepian, dan ia berpikir tentang kehidupan masa lalunya. Ia ingat bagaimana si pencuri telah mencelanya karena hidup dengan kesalehan, dan ia mengenang jalan hidupnya.

Aku tak hidup seperti perintah pertapa kepadaku,” pikirnya. “Si pertapa meletakkan penebusan dosa kepadaku, dan aku telah membuat kedua-duanya hidup dan kemahsyuran semua ini, dan telah menjadi godaan oleh hal itu, bahwa sekarang aku merasa kesepian ketika orang-orang tak mendatangiku, dan ketika mereka datang, aku kegirangan sebab mereka memuji kesucianku. Ini bukanlah sebagaimana seseorang hidup. Aku telah menuju kesesatan oleh kecintaan pada pujian. Aku tak menebus untuk dosa-dosa masa laluku, namun telah menambah dosa-dosa baru. Aku akan pergi ke bagian lain di hutan di mana orang-orang tak dapat menemukanku, dan aku akan hidup mengenai penebusan dosa untuk dosa-dosa lamaku dan tak melakukan dosa-dosa baru.”

Setelah sampai pada kesimpulan itu si anak mengisi tas dengan makanan dan, mengambil sekop, meninggalkan tempat pertapa dan mulai menuju jurang yang ia ketahui dalam dan suatu tempat yang sepi, di mana ia bisa menggali sebuah gua dan bersembunyi dari orang-orang.

Saat pergi dengan tas dan sekopnya, ia melihat si pencuri berkendara mengarah padanya, si anak begitu ketakutan, dan mulai berlari, namun si pencuri menyusulnya. “Ke mana kau akan pergi?” Tanya si pencuri.

Si anak memberitahukan padanya, ia berharap untuk melarikan diri dari orang-orang dan tinggal dimanapun yang tak seorang pun akan mendatanginya. Si pencuri terkejut.

Apakah kau akan hidup, jika orang-orang tak datang untuk melihatmu?” Tanya si pencuri.

Si anak tak pernah memikirkan hal itu, namun pertanyaan si pencuri mengingatkannya akan makanan yang menjadi suatu kebutuhan.

Demi Tuhan tolong maafkan aku,” balasnya.

Si pencuri tak mengatakan apapun, dan pergi.

Mengapa tak kukatakan apapun kepadanya tentang jalan hidupnya?” Pikir si anak. “Ia barangkali menyesal sekarang. Hari ini ia terlihat dengan suasana hati yang jinak, dan tak mengancam untuk membunuhku.” Dan ia berteriak ke si pencuri:

Kau tetap akan menyesali dosa-dosamu. Kau tak bisa melarikan diri dari Tuhan.”

Si pencuri membelokkan kudanya, dan menarik pisau dari korsetnya mengancam si anak. Yang terakhir adalah pemberitahuan, dan berlari pergi lebih jauh ke dalam hutan. Si pencuri tak mengikutinya, namun hanya berteriak:

Dua kali aku membiarkanmu pergi, pria tua, namun lain kali saat kau mendatangi jalanku, aku akan membunuhmu!” Setelah berkata itu, ia pergi. Di malam hari ketika si anak pergi menyirami arang-arangnya–satu di antara batang kayuitu telah bertunas. Sebuah pohon apel kecil telah tumbuh.

IX

Setelah menyembunyikan diri dari setiap orang, si anak tinggal sendiri. ketika persediaan makananya telah habis, ia berpikir: sekarang aku harus pergi dan mencari beberapa akar untuk di makan. Ia pergi tak jauh, tetapi, sebelumnya, ia melihat sebuah tas berisi makan tergantung di atas ranting. Ia mengambil tas itu.

Ketika ia telah memakan semuanya, ia menemukan sekantong penuh yang lain di ranting yang sama. Sehingga ia tinggal di sana, permasalahannya hanya ketakutannya akan si pencuri. Di mana pun ia mendengar si pencuri lewat ia bersembunyi dan berpikir:

Ia mungkin membunuhku sebelum aku punya waktu untuk menebus dosa-dosaku.”

Dalam cara ini, ia tinggal selama sepuluh tahun lebih. Satu pohon apel terus tumbuh tumbuh, namun dua arang yang lain justru tetap sebagaimana mereka dulu.

Suatu pagi, si anak bangun terlalu pagi dan segera bekerja. Saat itu ia sepenuhnya membasahi tanah disekeliling arang, ia lelah dan duduk untuk beristirahat. saat ia duduk di sana ia berpikir kepada dirinya sendiri:

Aku punya dosa, dan mulai mengkhawatirkan kematian. Ini barangkali menjadi kehendak Tuhan aku harus menebus dosa-dosaku dengan kematian.”

Hal ini hampir tak terpikir pada pikirannya ketika ia mendengar si pencuri berekndara, mengutuk sesuatu. Ketika si anak mendengar suara itu, ia berpikir:

Tak ada kejahatan dan tak ada kebaikan bisa menimpa aku dari suatu apapun melainkan dari Tuhan.”

Dan ia pergi untuk bertemu si pencuri. Ia melihat si pencuri tak sendiri, namun disebelahnya di atas pelana duduk seseorang yang lain, disumbat, tangan dan kakinya terikat. Si pria tak melakukan apapun, namun si pencuri telah menyiksanya dengan keras. si anak segera pergi dan berdiri di depan kuda.

Ke mana kau akan membawa pria ini?” tanyanya.

Ke dalam hutan,” balas si pencuri. “Ia anak orang kaya, dan tak memberitahuku di mana uang ayahnya disimpan. Aku pergi untuk mencambuknya hingga ia memberitahuku.”

Dan si pencuri memacu kudanya, namun si anak mampu menahan tali kekangnya, dan tak akan membiarkannya lewat.

Biarkan pria ini pergi!” Katanya.

Si pencuri bertambah marah, dan mengangkat lengannya untuk memukul.

Apakah kau suka merasakan seperti apa yang aku lakukan pada pria ini? perlukah aku tak berjanji untuk membunuhmu? Cepat pergi!”

Si anak tak khawatir.

Kau tak boleh pergi,” katanya. “Aku tak takut denganmu. Aku tak takut pada seorang pun kecuali Tuhan, dan kehendaknya bahwa aku tak akan membiarkanmu lewat. Biarkan pria ini bebas!”

Si pencuri mengernyitkan dahi, mengambil pisaunya, memotong tali yang mana mengikat anak orang kaya itu, dan membiarkannya bebas.

Pergilah kalian berdua,” katanya, “dan berhati-hatilah kau saat menyeberangi jalanku lagi.”

Si anak orang kaya melompat dan berlari pergi. Si pencuri telah berkendara, namun si anak memberhentikannya lagi, dan kembali berbicara padanya tentang menghentikan kejahatan dalam hidupnya. Si pencuri mendengarkannya sampai akhir dalam diam, dan kemudian pergi tanpa sepatah kata.

Pagi hari berikutnya, si anak pergi menyirami arang-arangnya. Arang kedua telah bertunas. Pohon apel muda yang kedua telah tumbuh.

X

Sepuluh tahun telah berlalu. Suatu hari, si anak sedang duduk terdiam, tak berhasrat, tak ketakutan, dan penuh rasa senang.

Berkah apa yang Tuhan tunjukkan pada manusia! pikirnya. “Sampai bagaimana mereka begitu sangat membutuhkan siksaan mereka sendiri. Apa yang menghalangi mereka dari hidup yang bahagia? Dan mengingat semua kejahatan dalam manusia, dan permasalahan yang mereka bawa atas diri mereka sendiri, hatinya dipenuhi dengan rasa kasih.Ini adalah kesalahanku pada hidup yang aku lakukan, ia berkata pada dirinya sendiri. Aku harus pergi dan belajar yang lain atas apa yang aku telah pelajari sendiri.”

 Hampir ia tak berpikir tentang hal ini, ketika ia mendengar si pencuri mendatanginya. Ia membiarkannya lewat, dan berpikir:

Ini tak baik berbicara kepadanya, ia tak akan mengerti!”

Ia melihat bahwa si pencuri begitu murung, dan berkendara dengan mata sedih. Si anak menatapnya, mengasihinya, dan berlari kepadanya meletakkan tangannya diatas lututnya.

Saudara, yang terhormat,” katanya, “miliki beberapa rasa kasih pada jiwamu sendiri! hiduplah kau dalam semangatTuhan. Kau menderita, dan penyiksaan lainnya, dan letakkan lebih banyak dan banyak penderitaan untuk masa depan. Sampai Tuhan mencintaimu, dan telah menyiapkan semacam keberkahan untukmu. Jangan menghancurkan dirimu sama sekali. Rubahlah hidupmu!”

Si pencuri mengerutkan dahi dan berbelok.

Tinggalkan aku sendiri!” katanya.

Tapi si anak memegang pencuri bahkan dengan cepat, dan mulai menangis.

Lalu si pencuri mengangkat matanya dan memandang ke si anak. Ia memandang kepadanya untuk waktu yang lama, dan turun dari kudanya, menjatuhkan lutunya pada kaki si anak.

Kau telah menguasaiku, pria tua,” katanya. “Selama dua puluh tahun aku telah melawanmu, namun sekarang kau telah menaklukkanku. Lakukanlah apa yang kau kehendaki dariku, aku tak punya kekuatan lebih melawan diriku. Ketika kau pertama kali mencoba mengajakku, itu hanyalah kemarahanku yang berlebih. Ketika kau menyembunyikan dirimu dari manusia, aku mulai melakukan pertimbangan terhadap kata-katamu: saat aku melihat kemudian kau meminta menolak mereka untuk dirimu sendiri. Sejak hari itu, aku telah membawakan makanan untukmu, menggantungkannya diatas pohon.”

Lalu si anak teringat akan wanita yang sedang membersihkan mejanya setelah ia mencuci kain itu. Pada hal yang sama, ia berhenti memperdulikan tentang dirinya, dan membersihkan hati miliknya, dan telah mampu untuk mencuci hati-hati yang lain.

Si pencuri meneruskan.

Ketika aku melihatmu bahwa kau tak takut pada kematian, hatiku berubah.”

Lalu si anak ingat tentang pembuat roda tak mampu membengkokan kayu sampai mereka terhalang kesulitannya sendiri. Jadi, ia telah menghilangkan ketakutan akan kematian dan membuat hidupnya begitu cepat pada Tuhan, ia mampu menundukkan hati manusia yang kacau ini.

Namun hatiku tak mampu mencair,” lanjut si pencuri, “hingga kau mengasihiku dan menangis untukku.”

Si anak, penuh kegembiraan, membawa si pencuri ke tempat di mana arang-arang tumbuh. Dan ketika mereka sampai di sana, mereka melihat bahwa arang pohon apel ketiga telah mulai bertunas. Dan si anak ingat bahwa segerombolan yang tak mampu menyalakan kayu yang lembap sampai api telah membakar dengan baik. Sehingga hal itu adalah ketika hatinya sendiri terbakar hangat, hati yang lain telah dinyalakan.

Dan si anak penuh kesenangan di mana ia akhirnya menebus dosa-dosanya.

Ia menceritakan semua itu pada pencuri, dan ia meninggal. Si pencuri menguburnya, dan hidup seperti si anak baptis telah memerintahkannya, mengajari orang lain apa yang si anak baptis ajarkan kepadanya.

[] Dialih-bahasakan dari cerita pendek ‘The Godson’ (1886) karya Leo Tolstoy; teks translasi Rusia-Inggris oleh Louise dan Aylmer Maude.

Malang, 15 Juli 2013

Mengingat Iqbal. Mengingat Sepi. Mengingat Sendiri.

Screenshot from 2016-06-10 21:42:15

Ada kerinduan yang amat sangat untuk membaca kembali serba-serbi tentang Muhammad Iqbal hari-hari ini. Ada banyak pertanyaan yang mendasari kalimat pertama itu. Beberapa diantaranya adalah namaku sendiri, Iqbal; serta pertanyaan tentang pemberian nama oleh kedua orang tuaku tentang nama itu, nama yang pada akhirnya mempertemukanku dengan Iqbal, si filsuf yang sunyi dan sendiri, saat umurku menginjak usia duapuluh tahun ke atas. Suatu pertemuan yang tak mampu dinafikan, yang menuntun pada pengalaman, petualangan, serta penjelajahan, pada ranah irasional.

Muhammad Iqbal adalah seorang filsuf, pemikir, penyair, serta pembaharu di dunia Islam yang termahsyur. Tak hanya itu, Iqbal juga merupakan pengkritik, sekaligus pengagum filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche. Dan, mengingat Iqbal, adalah mengingat tentang sepi, mengingat tentang sendiri.

Apakah sebenarnya kesepian atau kesendirian itu; apakah kesepian atau kesendirian harus dikonsepsikan bahwa tak menyatunya dua subjek, dua aku, Iqbal? tanya Iqbal yang lain.

Bukankah kesendirian atau kesepian justru memberikan kita keberanian bagi siapa yang mempelajari kesendirian atau kesepian itu sendiri; serta kesendirian atau kesepianlah yang mengajarkan kita untuk menyayangi dan tak menyakiti siapapun, sebab betapa mengerikannya berada di ruang-ruang tersebut, benarkah seperti itu, Iqbal? tanya kembali Iqbal yang lain.

Bagaimanakah bentuk kesepian atau kesendirian itu, Iqbal; Apakah seperti pada suatu kisah yang menggoncangkan sanubari dengan nuansa yang menyedihkan, seperti ketika Muhammad yang mengalami kesepiannya, kesendiriannya, di mana hampir beberapa waktu tak mendapatkan wahyu dari-Nya, serta celaan-celaan kaum Quraisy kepadanya, yang menambah kesedihannya menjadi-jadi: “Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.’ Begitukah, Iqbal? tanya Iqbal yang lain, untuk kesekian kali.

Datanglah, Iqbal…Datanglah pada suatu hari yang tak pernah kuduga. Seperti aku menemukanmu di rak buku beberapa tahun yang lalu. Seperti ketika Muhammad menantikan wahyu-Nya, melalui malaikat Jibril. Bacakanlah kepadaku dengan suara yang pelan dan tenang tentang surah 93, ayat 3, itu kembali: Tuhanmu tidak meninggalkan kamu (Muhammad) dan tidak (pula) benci kepadamu.”

[] Image di atas di ambil dari buku Nietzsche karya St. Sunardi via eBookstore – Google Play.

Daras, Gazebo Saung, dan The Smashing Pumpkins.

melloncollie

Dua minggu lalu, aku bersama istriku memutuskan untuk menambah satu ruangan lagi di rumah kecil kami dan ruang itu bernama gazebo saung. Gazebo tersebut terletak di halaman belakang, tepat di pojok halaman belakang, bekas kandang kelinci Daras.

Tiga hari sebelum memutuskan untuk membuat gazebo, Ayu, istriku, telah menemui Destika, salah satu kawan di fakultasnya, fakultas Psikologi, yang sempat indekost di rumah mertuaku di masa kuliah dulu; dan kini, Destika menjadi seorang arsitek sekaligus kolumnis khusus di salah satu majalah arsitektur terkemuka. Aku hanya sekali bertemu dengannya saat resepsi pernikahan kami.

“Lebih baik seperti ini,” kata Destika melalui istriku, “Karena halamanmu kecil jadi gazebo yang bagus adalah ukuran dua meter kali dua meter.”

“Lalu, bahannya?” tanyaku.

“Kata Destika, sih, dia akan membuat gazebo model klasik seperti gazebo saung, yang sisinya akan dibuatkan dinding berbahan bambu, dan ada beberapa bagian yang ditambahkan kayu meranti,’ balas istriku.

Sesekali, kenakalanku untuk menggodanya muncul. Aku ingin membuatnya cemburu dan itu hal kesukaanku, meski aku tahu perempuan tak pernah suka untuk dibandingkan.

“Kamu tahu, sayang, aku selalu kagum dengan perempuan-perempuan yang kreatif seperti Destika?”

“Oh, jadi aku tak kreatif?”

“Maksudku, enggg…”

Dengan wajah yang tak menyenangkan, lalu kedua tangannya mengikat rambut belakangnya dan menghilang dari hadapanku untuk menuju ke puteri kecilnya, yang sedang asyik mengotori tangan-tangan serta bajunya dengan tanah liat di halaman belakang.

*

Pada hari-H, ketika pengerjaan gazebo tersebut, setelah istriku berangkat bekerja dan mengantarkan Daras ke sekolah; dua jam kemudian, Destika datang membawa tiga pekerjanya. Aku berkenalan dengan mereka: Pak Tarman, bertubuh kurus kering dengan kumis tebal; lalu Mas Bagong, pemuda seumuranku, yang bertubuh kekar dengan kulit cokelat-gelap; dan Pak Sarwi, berambut putih, dengan tubuh agak padat, serta tak lepas dari rokok kreteknya. Setelah material-material datang, mereka bertiga langsung mengerjakan konstruksi gazebo tersebut. Destika memberikan arahan pada ketiga pekerjanya dan kemudian berpamitan karena ada pekerjaan lainnya yang harus dikerjakannya. Pekerjaan konstruksi gazebo itu memakan waktu selama lima hari dan finishing gazebo dilakukan selama dua hari.

Selama hampir seminggu itulah, aku banyak berbincang dengan ketiga pekerja tersebut di sela-sela aku menuntaskan project terjemahanku. Mereka adalah orang-orang lapangan yang terbuka. Pada hari ketiga, saat kami berempat di teras belakang, ketika menikmati kopi panas kami, satu-satu dari mereka menceritakan sejarah diri mereka masing-masing.

Pak Tarman yang telah asam-garam di dunia pertukangan, dari proyek bangunan yang kecil hingga besar, dari jawa sampai luar jawa, telah dilakoninya, khususnya pekerjaan kayu, keahliannya. Lalu ia berkata dengan bahasa Jawa Timurnya yang khas, “Aku wis tuo, Mas. Pengen golek sing enteng-entengan ae. Untunge ketemu MbakDestika, sing ngajak aku nyambut gawe.” [1]

“Iyo, Mas. Mbak Destika wong e apik tenan, koyo simbah kakung e, seng urip nang ndesoku, seko keluarga sugih banget, ning karo wong cilik koyok aku karo Pak Sarwi, sering ngewangi,” sela Mas Bagong dengan campuran bahasa Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kemudian melanjutkan, ‘Iyo, kan, Pak Sarwi?‘ [2]

Pak Sarwi mengangguk-angguk sambil menghirup rokok kreteknya dan dari mulutnya menyembul asap-asap tebal dari tembakau yang telah dihisapnya.

*

Destika sendiri selama pengerjaan gazebo hanya tiga kali berkunjung: Pertama, saat pertemuan awal; kedua, ketika di hari keempat pengerjaan; dan yang terakhir, di hari kedua proses finishing gazebo, sekaligus hari terakhir di mana aku bertemu dengan ketiga pekerja yang telah memberikanku pelajaran hidup tentang gambaran kehidupan mereka, yang jujur saja, aku tak akan mampu melakoni kegetiran hidup mereka. Ah, betapa bersyukurnya aku memiliki Ayu, Daras dan rumah kecil ini.

Pernah aku mengutarakan satu pertanyaan pada Destika saat beberapa kunjungannya bahwa mengapa dia berani untuk memulai dari bawah dan meneruskan impiannya kembali untuk menjadi seorang arsitek setelah bertahun-tahun berada di dunia psikologi.

“Aku tak pernah tahu bagaimana hidup akan membawaku. Mungkin, karena kamu orang sastra jadi kamu mungkin yang lebih paham. Namun, aku tak mampu menolak garis keturunan yang telah diwariskan oleh kakekku, seorang arsitek, yang selalu mengagumi Romo Mangunwijaya. Tentu kamu pernah membaca tentang pengubahan yang dilakukan Romo Mangunwijaya untuk orang-orang kecil di Kali Code, kan? Saat ingat Romo Mangunwijaya, aku pun langsung teringat yang dilakukan kakek untuk orang-orang desa di tempat tinggalnya.”

*

Lalu, pada tiap-tiap malam selama masa pengerjaan gazebo itu, gadis kecil berponi terus-menerus bertanya kepadaku dan kepada istriku, seperti kapankah gazebo itu selesai dan siap ditempati; atau apakah dia boleh mengajak kawan-kawan sekolahnya seperti Rara, Jodi, Dyra, Adelia, Dido, Kevin, dan Mala untuk menginap di gazebo itu; dan pertanyaan-pertanyaan yang mana orang dewasa sepertiku tak mampu menjawab.

Pada malam hari, pada sehari sebelum gazebo itu siap digunakan. Aku, istriku dan gadis kecil berponi duduk di teras belakang. Malam itu puteri kecilku mempesonaku dengan kaus kecil hitam yang aku buat untuknya dengan gambar cover album Mellon Collie and the Infinite Sadness, dari band alternative kegemaranku, The Smashing Pumpkins. Bagian belakang dari kaus tersebut aku beri dengan lirik lagu, Tonite Reprise.

“Yah…Bu…Kapan Daras bisa menggambar di sana sama Rara, Jodi, Dyra, Adelia, Dido, Kevin, dan Mala?” tanyanya, entah yang ke berapa kali. Aku dan istriku tertawa terkekeh-kekeh.

Istriku kemudian menimpalinya, “Besok, sayang. Besok rumah kecil itu menjadi rumah untuk gadis kecilku, agar selalu semangat belajar.”

“Hmm…Hmm!” kata Daras, sambil menganggukkan kepalanya sehingga rambut poninya bergerak naik-turun. Kaki-kaki kecilnya bergerak sana-sini dengan riang. Lalu dia mengajak ibunya untuk mendekati gazebo saung itu.

“Besok, sayang. Sudah malam.”

“Ah…Ayo, Bu.” Tangan kecil itu bersikukuh serta menarik-narik tangan halus dari istriku.

“Baiklah, baiklah.” Kemudian kedua mata istriku menoleh padaku dan berkata, “lihatlah puteri kecilmu, siapa yang mampu menolak keinginannya.”

Aku tersenyum. Saat istriku bangkit dan salah satu tangan dari perempuan dan gadis kecil yang aku cintai itu saling berpegangan, mereka membelakangiku sembari berjalan perlahan-perlahan menuju ke tempat baru, suatu objek yang akan memberikan nuansa perubahan bagi rumah kecil ini beserta penghuninya untuk hari-hari ke depan. Kedua mataku memandang empat baris lirik yang telah meracuniku selama ini di kaus belakang Daras:

Believe, believe in me / That you can change, that you’re not stuck in vain / The impossible is possible tonite / Believe in me like I believe in you tonite.

“Perubahan, perubahan, perubahan…Adakah ia sementara? Ataukah ia abadi?” tanyaku pada diri sendiri, tanpa pernah mampu menjawabnya, bahkan sampai Daras menjadi perempuanj cantik nantinya, di saat dewasa.

**

[1] ‘Aku wis tuo, mas. Pengen golek sing enteng-entengan ae. Untunge ketemu MbakDestika, sing ngajak aku nyambut gawe.‘ // ‘Saya sudah tua, mas. Ingin cari yang mudah-mudah saja. Untungnya bertemu Mbak Destika, yang mengajak saya kerja.’

[2] ‘Iyo, Mas. Mbak Destika wonge apik tenan, koyo simbah kakunge, seng urip nang ndesoku, seko keluarga sugih banget, ning karo wong cilik koyok aku karo Pak Sarwi, sering ngewangi,’…’Iyo, kan, Pak Sarwi?‘ // Iya, mas. Mbak Destika orang baik, seperti kakeknya, yang hidup di desa saya, dari keluarga kaya sekali, tapi dengan orang kecil seperti saya dan Pak Sarwi, sering membantu,’…’Iya, kan, Pak Sarwi?’

Dari Satu Ruang Virtual: Untuk Para Penjaga Langit Yang Tak Lelah Memainkan Manuvernya.

Kini aku hanya beberapa kali melihatmu secara langsung, seperti ketika di masa kecilku, ketika ibu mengajakku pergi ke kebun binatang dan memperkenalkan jenis-jenis makhluk Aves sepertimu. Kini, aku pun tak mampu melihatmu di persawahan-persawahan yang masih tersisa meski sepetak atau dua petak di tengah kota.

Beruntunglah, saat aku memandang salah satu mahkluk aves lain di suatu senja yang menakjubkan, di mana dia bertengger di kabel tiang listrik yang melintang dekat kediamanku saat ini. Tubuh ringkihku terdiam sejenak, memandangnya dengan takjub dibalik kacamataku, menengadahkan ke langit—sebuah ruang di mana seluruh doa diterbangkan. Dan apakah kau tahu, bahwa kemungkinan terkecil, doa-doa dari makhluk jenisku itu tak satu pun menyertai tentang keberlangsungan hidupmu, bahkan doaku sendiri…maafkan, maafkan. Dan, kawanmu yang bertengger di kabel listrik itu pun merentangkan sayap kecilnya, dan dia menembus angin-angin kota di satu peradaban yang tentunya tak kau, bahkan kawanmu itu inginkan, ketika tata kota yang dibuat oleh makhluk jenisku telah menjadikanmu minoritas dan bahkan keterasingan bagi sesama makhluk lainnya, yang mana, Ia-Yang-Penuh-Pesona, telah ciptakan. Setiap tahun jenis-jenis makhluk sepertimu akan terkikis habis, hingga ekosistem menjadi tak seimbang, dan terjadilah kekacauan.

Ya, aku tahu, bahwa di dalam dirimu, meski tak diberikan suatu perangkat yang bernama ‘Akal’—yang menyebabkan makhluk jenisku begitu sempurna, namun akal pulalah yang menjatuhkan makhluk jenisku sendiri, ketika akal tak berjalan seiring-seirama dengan hati—kau tak mengeluhkan keadaan yang kau alami; Bahkan kau tak merasa iri.

Ajarilah aku, wahai para penjaga langit yang tak lelah memainkan manuver kalian di sebuah hamparan yang terlampau luas. Para penembus waktu.

Ajarilah aku tentang ketekunan itu, Tuan, bagaimana ketika kau memunguti satu biji jerami demi jerami untuk membuat sarang yang nyaman bagi keluarga kecilmu, meski tak sebesar sarang yang kuhuni kelak.

Ajarilah aku tentang kesabaran itu, Nyonya, ketika setiap pagi, bagaimana kau, mau tak-mau, harus meninggalkan sarang untuk mencari makan demi diamnya cicit-cicit dari anak-anakmu.

Ajarilah aku tentang keberanian itu, Tuan, ketika para burung-burung pemangsa lainnya mengusik keluarga kecilmu, dan kau siap mempertaruhkan nyawa demi keberlangsungan keluarga dan generasimu.

Ajarilah aku tentang kesederhanaan itu, wahai kalian para penjaga langit yang tak lelah memainkan manuvernya, di mana setiap ilmuwan serta pemikir mengambil gagasan dari aktivitas yang kalian lakukan: merentangkan sayap menembus lazuardi setinggi mungkin! Di mana kalian tak meminta apapun dari zaman Hero dari Alexandria, Leonardo da Vinci, George Cayley, dan bahkan Orville dan Wilbur Wright.

Tuan dan Nyonya, harapan sekali lagi dijunjung, agar puluhan tahun ke depan, aku masih mendengar cicit-cicit serta kicauan-kicauan dari generasi-generasi kalian. Terbanglah yang tinggi, Tuan. Terbanglah yang tinggi, Nyonya. Mari berjuang, Tuan. Mari berjuang, Nyonya. Terbanglah dalam perjuangan demi mempertahankan ekosistem hidup hingga energi kalian, energiku, tak tersisa, meskipun pada akhirnya, kita semua akan tersungkur, bahkan menukik. Namun, kita semua telah berusaha, sebaik-baiknya, Tuan; sebaik-baiknya, Nyonya. Demikianlah yang dinamakan cita-cita.