Mencari Pintu Di Ruang Keterbatasan Dalam Suatu Ketak-Mungkinan.

 

– Untuk K, yang jauh.

Seseorang pernah berkata kepadaku dengan penuturan yang lambat, disertai intonasi tak keras, juga tak pelan, namun penuh refleksi:

“Di dalam suatu ketak-mungkinan, selalu memunculkan ruang keterbatasan yang, akan selalu tampak sulit, namun percayalah bahwa akan ada satu pintu untuk melaluinya.

Lain halnya, di dalam suatu kemungkinan, yang menghadirkan ruang ketak-terbatasannya, dan selalu tampak mudah, namun ada banyak pintu yang, pada akhirnya membuat kita terjungkal dalam satu momen yang membingungkan.

Untuk segala sesuatu yang paradoks, dan akan selalu terus-menerus mengendap baik, pada internal diri atau eksternal diri itu sendiri. Dan kusodorkan satu pertanyaan untukmu:

‘Apakah aku, kau, dan setiap orang di mana pun, akan mampu melalui pintu di ruang keterbatasan dalam suatu ketak-mungkinan itu sendiri?’”

Salam hangat untukmu.

 

Iklan

Yang Hidup Bersama Manusia – Leo Tolstoy

Tolstoy Ploughing

“Simon!” / “Ya?’ / “Kita sering memberi, tapi mengapa tak seorang pun memberikan sesuatu pada kita?” – Chapter IV, What Men Live By, Leo Tolstoy.

 

I

Seorang pembuat sepatu bernama Simon yang tak punya rumah ataupun tanah milik sendiri. Di pondok tani, ia hidup bersama istri dan anaknya. Dari membuat sepatu itulah ia mendapatkan penghasilan.

Upah Simon begitu murah, sementara makanan amat mahal. Upahnya selalu habis untuk makanan. Simon dan istrinya hanya punya satu mantel berkulit domba untuk dikenakan pada musim dingin. Ia bahkan mengenakan pakaian compang-camping. Di tahun kedua pada musim dingin, Simon telah menanti untuk membeli kulit domba demi mantel baru. Sebelum musim dingin, ia menabung sedikit uang–sejumlah tiga rubel yang di sembunyikan di kotak milik istrinya dan lima rubel serta dua puluh kopek yang di terimanya kepada para pelanggan di desa.

Suatu pagi, Simon bersiap pergi ke desa untuk membeli kulit domba. Ia memakai kaos dan menggulung jaket berwarna kuning milik istrinya, di tambah lagi mengenakan mantel miliknya sendiri. Ia ambil tiga rubel uang kertas dalam sakunya. Kemudian ia memotong sebatang kayu yang dijadikan tongkat untuk membantunya. Seusai makan ia pun berangkat.

“Aku telah kumpulkan lima rubel yang jadi hakku,” kata Simon, “di tambah tiga rubel yang aku dapat. Uang itu cukup untuk membeli kulit domba.”

Simon tiba di desa dan mengunjungi pondok para petani. Salah seorang petani tak ada di rumah, hanya ada istri dari petani yang berjanji membayar minggu depan, akan tetapi istri petani itu enggan untuk membayar sendiri. Kemudian, Simon memanggil petani yang lain, akan tetapi petani yang lain ini bersumpah bahwa ia tak punya uang dan hanya mampu membayar dua puluh lima kopek di mana ia berhutang sepasang sepatu boot yang Simon tambal. Simon kemudian mencoba untuk membeli kulit domba dengan mengredit, namun pedagang tak mempercayainya.

“Bawalah uangmu,” kata pedagang, “kau boleh mengambil kulit-kulit itu. Kami tahu apa yang disukai penagih hutang.”

Sehingga semua bisnis si pembuat sepatu hanya mendapat dua puluh kopek untuk sepatu yang ia tambal. Kemudian, Simon mengambil sepasang sepatu boot seorang petani yang memberikan sol dengan bulu.

Simon putus asa. Ia keluarkan dua puluh kopek untuk membeli vodka dan pulang tanpa membawa kulit. Saat pagi harinya, ia merasa kedinginan. Namun setelah meminum vodka, ia merasakan hangat tanpa sebuah mantel berkulit domba.

Simon terus berjalan sempoyongan. Mendorong tongkat ke atas tanah bersalju dengan satu tangan. Mengayunkan sepatu boot yang di bawa dan berbicara kepada dirinya sendiri. “Aku sangat hangat,” katanya, “walau aku tak punya mantel kulit. Aku mabuk dan seluruh urat-urat darah halusku berlarian. Aku tak butuh kulit-kulit itu. Aku harus pergi dan tak khawatir pada apapun. Manusia sepertiku! Apa yang kupedulikan? Aku mampu hidup tanpa kulit domba dan aku tak butuh mereka. Istriku akan resah, itu pasti. Benar-benar memalukan. Satu pekerjaan sepanjang hari, tak dapat bayaran. Berhenti sejenak! Jika kau terus tak membawa uang, aku akan mengulitimu, bila aku tak gila. Bagaimana menurutmu? Petani itu membayar dua puluh kopek! Apa yang bisa aku lakukan dengan dua puluh kopek. Aku harus membeli bibit. Apa yang harus kulakukan. Aku mengeluarkan tiga rubel setiap minggu untuk makanku sendiri. Aku tiba di rumah dan semua makanan telah habis. Aku telah membayar serubel lagi dan separuhnya. Jadi kau membayar penuh, tapi apa yang kau terima. Ini bukan omong kosong.”

Sekarang Simon telah mencapai tempat suci di tikungan jalan. Ia memandang sesuatu berwarna putih di sebelah tempat suci. Siang hari telah memudar. Si pembuat sepatu memandang tajam benda itu tanpa sanggup melihat apa yang ia lihat. “Di sana sebelumnya tak ada batu berwarna putih. Bisakah itu seekor lembu jantan? Itu bukan seekor lembu, itu kepala manusia, namun terlalu putih,” rasa ngeri ditangkap oleh si pembuat sepatu, lalu ia berpikir, “seseorang telah membunuhnya, merampoknya, dan meninggalkan ia di sana. Jika aku ikut campur aku akan mendapat masalah.”

Simon berlalu. Ia melewati depan tempat suci agar tak melihat manusia tersebut. Beberapa jarak setelah melalui tempat suci, Simon menoleh kebelakang dan melihat bahwa manusia itu bersandar sejenak, lalu bergerak seolah manusia itu melihat kearahnya.

Si pembuat sepatu merasa sangat ketakutan daripada sebelumnya. “Haruskah aku kembali? Atau kuteruskan? Jika aku mendekat, sesuatu mengerikan pasti terjadi. Siapa tahu ia bersahabat? Ia kemari bukan untuk sesuatu yang baik. Jika aku mendekatinya, ia mungkin akan melompat dan memberangusku, dan aku tak mampu meloloskan diri. Atau jika tidak, ia akan menjadi beban di tangan seseorang. Apa yang bisa aku lakukan untuk seseorang telanjang itu? Aku tak bisa memberikan pakaian terakhirku. Tuhanlah yang mampu membantuku!”

Si tukang sepatu pergi dengan cepat meninggalkan tempat suci–tiba-tiba hati nuraninya mengalah dan berhenti di jalan.

“Apa yang kau lakukan, Simon?” Ia berkata pada dirinya sendiri. “Seseorang mungkin saja sekarat, dan tergelincir pada kekhawatiranmu. Apakah kau bertambah kaya jika mengkhawatirkan pencuri? Ah, simon, betapa memalukannya kau ini!” Lalu ia kembali ke jalan semula dan melangkah ke orang tersebut.

 

II

Simon mendatangi orang asing itu, memandanginya, dan melihat bahwa ia seorang pria muda yang sehat tanpa ada luka ditubuhnya. Ia jelas kedinginan dan ketakutan. Di tempat suci itu, ia bersandar kebelakang tanpa memandang Simon. Matanya seolah bergerak lemah. Saat Simon mendekat, pria itu bangun, kepalanya menoleh dengan membuka kedua mata memandang ke wajah Simon. Melihat itu, cukup membuat Simon merasa mengasihinya. Simon melemparkan sepatu boot yang dibawanya ke atas tanah. Lalu ia membuka ikat sepatu dan melepaskan sepatu serta mantelnya.

“Ini bukan waktunya bertanya,” kata Simon. “kemari, pakai mantel ini segera!” Simon memegang siku pria itu dan membantunya berdiri. Dilihatnya pria itu saat berdiri, tubuhnya bersih dan baik, tangan dan kakinya memiliki bentuk yang indah, dan wajahnya tampan juga manis. Simon melempar mantelnya melalui pundak pria itu namun akhirnya tak menemukan lengannya. Simon memandu lengannya ke dalam mantel, menarik mantel dengan baik sampai menutupinya, menjerat rapat sekitarnya dengan tali yang telah diikat.

Simon melepas topinya untuk ditaruh di kepala pria itu, akan tetapi kepala Simon sendiri merasakan kedinginan. “Aku sangat botak, sedang ia punya rambut panjang bergelombang,” pikir Simon.

Simon menaruh topinya kembali. “Akan baik jika kakinya diberi sesuatu,” pikir Simon dan mendudukan pria itu serta membantu memasangkan sepatu boot kepdanya. “Ini, kawan. Sekarang bergeraklah dan hangatkan dirimu. Hal lain bisa saja menanti. Bisakah kau berjalan?” pria itu berdiri dengan memandang baik ke Simon, namun ia tak mengatakan apapun.

“Mengapa kau tak berbicara?” kata Simon. “Terlalu dingin untuk tinggal di sini. Kita harus kembali ke rumah. Sana sekarang, ambil tongkatku, dan jika kau merasa lemah tekan tongkat itu. Sekarang melangkahlah!” pria itu berjalan dengan lambat.

Saat mereka melanjutkan, Simon bertanya, ”Dan kemanakah barang milikmu?”

“Aku bukan dari daerah ini.”

“Aku berpikir terlalu banyak. Aku tahu orang-orang di sekitar sini. Tapi bagaimana kau bisa tiba di tempat suci itu?”

“Aku tak bisa cerita.”

“Apakah seseorang telah menyakitimu?”

“Tak ada orang yang menyakitiku. Tuhan telah menghukumku.”

“Tentu, Tuhan penguasa segalanya. Tapi kau butuh makanan dan tempat berlindung di suatu tempat.”

“Semua sama saja bagiku.”

Simon terkejut. Pria ini tak terlihat jahat. Ia bicara dengan lemah lembut, akan tetapi sampai sekarang ia tak memberikan keterangan tentang dirinya. Lalu Simon berpikir kembali, ”Siapa yang tahu apa yang mungkin terjadi?” Dan Simon berkata,”Baik, mari ke rumah bersamaku. Setidaknya hangatkan dirimu walau sebentar.”

Simon berjalan ke arah rumahnya. Orang asing itu berada di sisinya. Angin bertambah kencang. Simon merasakan dingin di bawah kaosnya. Simon mengalami mabuk ringan dan merasakan kebekuan. Simon terus berjalan dengan tersedu-sedu dan melilitkan mantel istrinya disekitar tubuhnya.

Simon berpikir kembali, “Di sana sekarang—mungkin sedang membicarakan kulit domba! Aku pergi ke luar rumah untuk kulit domba itu! Dan pulang ke rumah tanpa membawa apapun, kecuali mantel di punggung. Aku pun membawa seorang pria telanjang bersamaku. Matryona tak akan suka!” Simon pun merasa sedih, namun ia memandang orang asing dan ingat bagaimana ia melihatnya di tempat suci, hatinya merasa senang.

 

III

Istri simon telah menyiapkan segalanya sejak pagi. Dia memotong kayu, membawa air, memberi makan anak-anaknya, memakan makanannya sendiri. Sekarang dia duduk dan berpikir. Dia ragu kapan harus membuat makanan? Sekarang atau besok?

“Jika Simon telah makan di kota,” pikirnya, “dan tak makan malam terlalu banyak, makanan terakhir ini untuk hari yang lain.”

Dia sedang menimbang sepotong makanan ditangan, lagi dan lagi. “Aku tak akan membuat lagi hari ini. Kita hanya punya sejumlah tepung gandum yang cukup untuk dibakar. Kita bisa mengaturnya untuk membuat makanan bertahan sampai jumat,” pikir Matryona.

Matryona menyimpan makanan dan duduk di meja untuk menambal kaos suaminya. Sedang dia bekerja, dia berpikir bagaimana suaminya membeli kulit-kulit untuk mantel musim dingin.

“Jika para pedagang tak mencuranginya. Priaku yang baik itu terlalu jujur. Tak seorang pun ia curangi, bahkan setiap anak bisa melakukan padanya. Delapan rubel itu uang yang banyak–ia harusnya dapat mantel bagus dari harga tersebut, bukan mantel dengan kulit yang disamak, bahkan mantel yang asli. Bagaimana susahnya saat akhir musim dingin berlangsung tanpa sebuah mantel yang hangat. Aku juga tak mampu turun ke air atau pun pergi keluar kemana pun. Ketika Simon pergi keluar, ia mengambil semua yang dimiliki, dan tak ada yang ditinggalkan untukku. Ia tak berangkat sejak pagi tapi ini waktunya ia kembali. Aku berharap ia tak pergi bersenang-senang!”

Dengan susah payah Matryona berpikir tentang Simon, ketika langkah-langkah terdengar diambang pintu, dan seseorang masuk, Matryona menusukkan jarum ke pekerjaannya dan segera keluar ke jalan. Di sana dia melihat dua orang pria. Simon dan seorang pria yang bersamanya tanpa topi serta mengenakan sepatu boot.

Matryona memperhatikan dengan segera mencium minuman suaminya. “Di sana ia telah mabuk-mabukan,” pikirnya. Dan ketika dia melihat bahwa Simon tak menggunakan mantel dan hanya mengenakan jaket, tak membawa bingkisan, berdiri diam di sana, dan terlihat malu. Hati Matryona terluka dengan kekecewaan. “Ia mabuk” pikir Matryona,”dan bersenang-senang dengan kawannya yang tak berguna, yang ia bawa ke rumah.”

Matryona membiarkan mereka memasuki pondok dan mengikuti mereka. Matryona melihat bahwa orang asing itu masih sangat muda, berbadan kecil, dan mengenakan mantel suaminya. Di lihat dari balik mantel, orang asing itu tak memakai baju, dan tak memakai topi. Seusai masuk, orang asing itu berdiri tak bergerak atau mengangkat matanya. Matryona berpikir, ”Ia mesti orang jahat–ia menakutkan.”

Matryona mengerutkan dahi dan berdiri di sebelah tungku, melihat apa yang mereka akan lakukan. Simon melepas topinya dan duduk di bangku seakan semuanya baik.

“Ayo, Matryona. Jika makan malam telah siap, biarkan kami mencobanya.”

Matryona mengeluh. Dia tak bergerak, namun tetap tinggal di tempatnya sekarang, di tungku. Dia melihat pertama kali pada orang asing itu. Matryona hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Simon melihat bahwa istrinya sangat menjengkelkan, namun ia mencoba untuk melupakannya. Berdalih tak meperhatikan apapun. Simon memegang lengan orang asing itu.

“Duduklah, kawan,” katanya,”dan mari kita nikmati makan malam.”

Orang asing itu duduk di atas bangku.

“Apa kau tak memasak apapun untuk kita?” kata Simon.

Kemarahan Matryona meluap. “Jika aku memasak, itu bukan untukmu. Masakan itu untukku, kau pemabuk, hilang akal. Kau pergi untuk membeli sebuah mantel kulit, tapi pulang ke rumah tanpa mantel yang kau kenakan dan membawa seorang pengembara telanjang ke rumah bersamamu. Aku tak punya makan malam untuk pemabuk sepertimu.”

“Cukup, Matryona. Jangan kau menggunjingkan mulutmu tanpa alasan! Kau sebaiknya bertanya pria semacam apa ia.”

“Dan kau ceritakan apa yang kau lakukan dengan uang itu?”

Simon menemukan kantong di jaket, mengeluarkan tiga rubel uang kertas, dan membukanya.

“Ini uangnya. Trifonov tak membayar namun berjanji segera membayar.”

Matryona bertambah marah. Simon tak membeli kulit domba, malah menaruh mantelnya pada pada kawannya yang telanjang dan telah membawanya ke rumah mereka. Matryona merampas uang dari meja, mengambilnya untuk di taruh di tempat yang aman. Matryona berkata,”Aku tak punya makan malam untukmu. Kita tak bisa memberi makan untuk semua pemabuk telanjang di dunia.”

“Sekarang, Matryona, Jaga mulutmu. Pertama dengar apa yang pria itu katakan!”

“Terlalu bijak. Aku harus mendengar dari seorang pemabuk yang bodoh. Aku benar dengan tak ingin menikahimu–seorang pemabuk. Perselisihan pribadi dengan ibuku memberikanku seorang pemabuk sepertimu. Kain linen ibuku diberikan pada pemabuk sepertimu, dan sekarang kau akan membeli sebuah mantel—dan mabuk juga!”

Simon mencoba menjelaskan kepada istrinya bahwa ia hanya menggeluarkan dua puluh kopek dan mencoba memberitahu bagaimana ia menemukan pria itu–namun Matryona tak mengijinkannya berkata sepatah kata pun. Matryona membicarakan tentang umur kesembilan belas tahun berkali-kali dan menyeret pada hal-hal yang telah terjadi selama sepuluh tahun sebelumnya.

Matryona terus biacara dan bicara. Dia berjalan cepat pada Simon dan meraih lengan suaminya.

“Berikan jaketku. Ini satu-satunya yang aku punya dan kau mesti membutuhkannya dariku dan memakainya untukmu sendiri. Berikan, kau anjing kudis, dan mungkin iblis akan mengambilmu.”

Simon mulai melepas jaket, membelokkan lengannya ke luar dari jaket. Matryona meraih dan merampas jaket, melemparkannya ke atas kepala, dan menuju ke pintu. Matryona bermaksud pergi keluar, namun berhenti tak pasti–dia ingin membuang kemarahannya, namun dia juga ingin mengenal manusia seperti apa orang asing itu.

 

IV

 Matryona berhenti,”Jika ia orang yang baik, ia tak akan telanjang. Mengapa ia sama sekali tak punya baju. Jika ia baik, kau akan mengatakan di mana kau melewati kawanmu.”

“Itulah yang aku coba beri tahu kepadamu,” kata Simon. “Saat aku tiba di tempat suci, aku melihatnya duduk telanjang bulat dan kedinginan. Cuaca tak aman untuk duduk dengan telanjang! Tuhan mengirimku kepadanya atau ia akan meninggal. Apa yang akan kulakukan? Bagaimana kita tahu apa yang akan terjadi kepadanya? Jadi aku membawanya, memakaikan pakaian kepadanya, dan terus membawanya. Jangan marah, Matryona. Ini sebuah dosa. Ingat, kita semua akan mati suatu hari nanti.”

Kata-kata marah muncul dari mulut Matryona. namun dia melihat ke orang asing itu dan sedang terdiam. Orang asing itu duduk di pinggir atas bangku, tak bergerak, tangan-tangannya melipat di atas lututnya, kepalanya turun di atas dadanya, matanya menutup, dan keningnya merajut seolah ia sedang sakit. Matryona terdiam. Kemudian Simon berkata, “Matryona, tidakkah kau cinta pada Tuhan?”

Matryona mendengar kalimat itu. Saat dia memandang ke orang asing, tiba-tiba hatinya melunak. Matryona kembali dari pintu, pergi ke tungku mengeluarkan makan malam, mengatur cangkir di atas menja, dan menuangkan beberapa Kvas.

Matryona membawa keluar sepotong makanan terakhir dan mengeluarkan pisau dan sendok. Dia berkata pada Simon, “Makanlah, jika kau ingin.”

Simon menarik orang asing itu ke meja.

“Ambil tempatmu, Pria muda,” kata Simon.

Simon memotong makanan, menghancurkannya ke dalam air kaldu. Saat mereka makan, Matryona duduk di sudut meja dengan meletakkan kepalanya di atas tangan. Dia menatap ke orang asing tersebut.

Dia merasa sedikit kasihan dan mulai mengasihinya. Dengan segera, wajah orang asing itu menyala, kedua alis orang asing itu tak membengkok, dan menaikkan kedua matanya dan tersenyum pada Matryona.

Ketika mereka menyelesaikan makan malam. Wanita itu memindahkan peralatan dan mulai bertanya kepada orang asing. ”Dari mana kau berasal?”

“Aku bukan dari daerah ini.”

“Tapi bagaimana kau bisa tiba di jalanan?”

“Aku tak mungkin menceritakannya.”

“Apakah seseorang mencurimu?”

“Tuhan menghukumku.”

“Dan kau terbaring di sana dengan telanjang.”

“Ya, telanjang dan kedinginan. Simon melihatku dan merasa kasihan padaku. Ia melepas mantel, memakaikan mantel itu padaku, dan membawaku kemari. Lalu kau memberiku makanan, memberiku minum, dan menunjukkan rasa kasih kepadaku. Tuhan akan membalasmu!”

Matryona berdiri, mengambil kaos usang Simon yang telah ditambal, dan memberikan kepadanya. Dia juga membawa keluar celana panjang untuk diberikan.

“Ini,” kata Matryona, “Aku lihat kau tak punya baju, pakailah. Dan berbaringlah di mana pun kau suka, di balkon atau di atas tungku.”

Orang asing itu melepas mantel, memakai baju, dan terbaring di balkon. Matryona mengambil lilin dan mantel. Kemudian naik dimana suaminya terbaring.

Lalu Matryona teringat bahwa orang asing itu telah memakan potongan terakhir makanan mereka dan makanan tak tersisa untuk besok. Matryona berpikir menghadiahkan baju dan celana panjang. Wanita itu merasa sedih ketika mengingat bagaimana orang asing itu tersenyum, dan hatinya merasa senang.

Selama Matryona terbaring dan terjaga, dia memperhatikan bahwa Simon juga belum tidur –Simon melempar mantel.

“Simon!”

“Ya?”

“Kau telah memakan makanan terakhir, aku tak memasukkan apapun untuk berdiri. Aku tak tahu apa yang akan kita lakukan esok. Mungkin aku bisa meminjam sementara ke Martha, tetangga kita.”

“Selama kita hidup, kita akan menemukan sesuatu untuk di makan.”

Wanita itu tetap terbaring sejenak, kemudian berkata, “Ia sepertinya orang yang baik, tapi mengapa ia tak menceritakan kepada kita tentang siapa dirinya?”

“Aku kira ia punya alasannya sendiri.”

“Simon!”

“Ya?’

“Kita sering memberi, tapi mengapa tak seorang pun memberikan sesuatu pada kita?”

Simon tak tahu apa yang harus dikatakan. Ia pun berkata, “Mari kita hentikan pembicaraan ini.” Mereka berbalik dan segera tidur.

 

V

Pagi harinya, Simon bangun, anak-anak sedang tidur, dan istrinya telah pergi ke tetangga untuk sementara meminjam makanan. Orang asing itu sendiri sedang duduk di bangku, berpakaian dengan baju usang dan celana panjang. Ia menatap ke atas. Wajahnya begitu terang dari hari kemarin.

“Baik kawan,” kata Simon, “Perut ingin makan dan tubuh telanjang perlu pakaian. Seseorang harus bekerja untuk hidup. Kerja apa yang kau tahu?”

“Aku tak tahu apapun.”

Hal ini membuat Simon terkejut. Namun, ia berkata, “Seorang manusia yang ingin belajar, bisa mempelajari apapun.”

“Manusia bekerja, dan aku akan bekerja juga.”

“Siapa namamu?”

“Michael.”

“Baik, Michael. Jika kau tak ingin membicarakan tentang dirimu, itu urusanmu. Tapi kau harus berpenghasilan untuk menghidupi dirimu sendiri. Jika kau akan bekerja seperti yang aku ceritakan. Aku akan memberimu makanan dan tempat berlindung.”

“Semoga Tuhan membalasmu! Aku akan belajar. Tunjukkan kepadaku apa yang harus di lakukan.”

Simon mengambil benang, menaruhnya di sekitar ibu jari, dan mulai untuk memilinnya.

“Ini cukup mudah –lihatlah!”

Michael melihatnya, menaruh beberapa benang di sekitar ibu jarinya sendiri dengan cara yang sama, menyangkutkan dengan cekatan, dan dua benang sekaligus.

Kemudian Simon menunjukkan bagaimana memasang benang. Ini pun Michael kuasai. Berikutnya, Simon menunjukkan kepadanya bagaimana memilin bulu. Setelah itu bagaimana menjahit, dan ini juga, Michael pelajari dengan segera.

Apapun yang Simon tunjukkan kepadanya, ia mengerti dengan segera. Setelah tiga hari ia bekerja seakan ia telah menjahit boot selama hidupnya. Michael bekerja tanpa henti dan sedikit makan. Ketika pekerjaan telah usai ia duduk terdiam dengan melihat ke atas. Ia hampir tak pernah pergi ke jalan, berbicara seperlunya, dan tak pernah bercanda ataupun tertawa. Mereka tak pernah melihat Michael tersenyum, kecuali saat malam pertama kali matryona memberikan mereka makan malam.

 

VI

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun segera berputar. Michael tinggal dan bekerja dengan Simon. Reputasinya menyebar, sampai orang-orang berkata bahwa tak ada seorang penjahit sepatu serapi dan sekuat seperti Michael, pekerja Simon. Dan dari semua distrik di sekitar, orang-orang datang ke Simon untuk boot mereka, dan ia mulai beruntung.

Suatu hari di musim dingin, saat Simon dan Michael duduk bekerja. Roda-roda berputar di atas kereta, bersama tiga kuda dan lonceng kendaraan menuju pondok milik Simon. Mereka melihat ke luar jendela. Kereta kuda berhenti di pintu. Seorang pelayan yang baik meloncat ke bawah dari sebuah kotak dan membuka pintu kereta. Seorang pria memakai mantel bulu keluar menuju pondok milik Simon. Matryona berdiri dan membuka pintu dengan lebar. Pria itu membungkuk untuk memasuki pondok. Ketika ia menarik dirinya ke atas lagi, kepalanya menjangkau langit-langit, dan ia terlihat tenang untuk memenuhi ruangan.

Simon berdiri, memberi salam dengan membungkuk, dan memandang pria tersebut dengan terkejut. Ia tak pernah melihat seseorang sepertinya. Simon sendiri kurus, Michael ramping, dan Matryona benar-benar kurus kering. Akan tetapi pria ini seperti seseorang dari dunia yang lain; berwajah merah; kekar; dengan leher seperti banteng; dan secara keseluruhan seakan melihatnya seperti besi kotak.

Pria itu menghembus, menanggalkan mantelnya, dan duduk di atas bangku. “Yang mana di antara kalian adalah tuan si pembuat sepatu?”

“Aku, Tuan,” kata Simon, melangkah maju.

Lalu pria itu berteriak kepada pelayannya, “Hey, Fedka, bawa bulu itu!”

Pelayan itu berlari ke dalam dengan membawa sebuah bingkisan. Pria itu mengambil bingkisan dan menaruhnya ke atas meja.

“Buka,” katanya. Pelayan itu membukanya.

Pria itu menunjuk kepada bulu tersebut.

“Lihat ini, tukang sepatu,” katanya. “Kau lihat bulu ini?”

“Ya, Tuan.”

“Namun, kau tahu bulu jenis apa ini?”

Simon merasakan bulu itu, “Ini bulu yang bagus.”

“Bagus, tepat! Mengapa, kau bodoh, kau tak pernah melihat bulu semacam ini selama hidupmu. Ini bulu Jerman, dan harganya dua puluh rubel.”

Simon ketakutan. “Di mana aku bisa melihat bulu seperti itu?”

“Setuju! Sekarang, bisakah kau membuatkan boot untukku?”

“Ya, Tuan. Aku bisa.”

Lalu pria itu berteriak kepada Simon, “Kau bisa, mampu? Baik, dan Ingat! Apapun sepatu yang kau buat, apapun bulu yang kau pakai. Kau mesti membuktikan boot yang akan dipakai selama setahun tak kehilangan bentuk atau tak lepas jahitannya. Jika kau bisa melakukannya, ambil bulu itu dan potonglah. Namun jika kau tak mampu, katakan. Kuperingatkan kau sekarang, jika bootmu tak terlepas jahitan atau kehilangan bentuk dalam setahun, aku akan menaruhmu ke dalam penjara. Jika sepatu itu tak membuka atau kehilangan bentuk selama setahun, aku akan bayar kau sepuluh rubel untuk pekerjaanmu!”

Simon merasa ketakutan dan tak tahu apa yang akan dikatakan. Ia melihat sekilas kepada Michael dan menyikutnya dengan siku. “Akankah aku ambil pekerjaan ini?” bisik Simon.

Michael menganggukkan kepalanya, seolah berkata, “Ya, ambilah.”

Simon melakukan seperti Michael nasihatkan dan menyetujui untuk membuat sepatu yang tak kehilangan bentuk atau robek sepanjang tahun.

Pria itu memanggil pelayannya dan memberitahu untuk melepaskan boot di kaki sebelah kiri. Ia pun berbaring.

“Ambil ukuranku!” katanya.

Simon menjahit kertas berukuran dengan panjang tujuh belas inchi, meratakannya, berlutut ke bawah, menyapu tangannya pada celemek agar tak mengotori kaos kaki, dan mulai mengukur. Simon mengukur telapak sepatu, mengitari kura-kura kaki, dan mulai mengukur betis kaki namun kertas terlalu pendek. Betis kaki itu setebal tiang.

“Ingat kau, jangan membuat sepatu terlalu sempit di kaki.”

Simon menjahit di kulit kertas yang lain. Pria itu mengejangkan ibu jarinya ke dalam kaos kaki. Lalu, ia melihat sekitar di dalam pondok dan saat itu ia memperhatikan Michael.

“Siapa kau yang di sana?” tanya pria itu.

“Ini pekerjaku. Ia yang akan menajahit boot.”

“Ingat,” kata pria itu kepada Michael. “Ingatlah untuk membuat boot itu hingga bertahan selama setahun.”

Simon pun menatap ke Michael. Ia melihat bahwa Michael tak menatap pria tersebut, namun menatap ke sudut di sebelah pria itu, seakan melihat seseorang di sana. Michael menatap dan menatap, tiba-tiba tersenyum dan wajahnya menjadi terang.

“Apa yang kau tertawakan, Bodoh?” suara pria itu bergemuruh. “Kau sebaiknya lihat pekerjaan itu. Boot harus siap pada waktunya.”

“Mereka akan siap pada waktu yang tepat,” kata Michael.

“Ingat itu juga,” kata pria itu sambil memakai boot dan mantelnya. Menyelimuti sekitar tubuhnya dan pergi ke pintu. Namun, ia lupa untuk membungkuk dan kepalanya menabrak ambang pintu.

Pria besar itu mengutuk dan menggosok kepalanya. Kemudian ia mengambil duduk di dalam kereta kuda dan pergi.

Ketika pria itu telah pergi, Simon berkata, “inilah sosok manusia untukmu! Kau tak bisa membunuhnya dengan sebuah martil. Ia hampir roboh oleh potongan kayu, namun sedikit membahayakannya.”

Dan matryona berkata: “kehidupan yang seperti ia lakukan, bagaimana ia tak akan bertambah kuat? Kematian sendiri tak bisa menyentuh semacam sebuah batu.”

 

VII

 “Baik,” kata Simon kepada Michael. “Kita telah ambil pekerjaan itu. Namun kita harus lihat, kita jangan sampai mendapat masalah. Bulu itu mahal dan pria itu pemarah. Kita tak akan membuat kesalahan. Kemari, kedua matamu jernih dan tangan-tanganmu cekatan daripada yang kumiliki, jadi kau ambil ukuran ini dan potong boot itu. Aku akan selesaikan dengan menjahit muka sepatu.”

Michael melakukan seperti Simon katakan. Ia mengambil bulu dan menyebarkan ke atas meja, melipatnya menjadi dua, mengambil pisau, dan mulai memotong.

Matryona tiba dan melihat Michael memotong. Dia terkejut saat melihat Michael melakukannya. Wanita itu biasa melihat bagaimana sebuah boot dibuat. Matryona menatap dan melihat yang pekerja itu lakukan, ia tak memotong bulu untuk boot, akan tetapi memotong di sekitarnya.

Matryona ingin mengatakan sesuatu, namun dia berpikir kepada dirinya sendiri, “Mungkin aku tak mengerti bagaimana sebuah boot pria dibuat. Aku kira Michael lebih tahu tentang itu –aku tak akan ikut campur.”

Ketika Michael telah memotong bulu, ia mengambil benang yang telah dimasukkan ke jarum dan mulai menjahit tidak dengan dua bagian, saat boot itu dijahit. Tapi dengan satu bagian, sepatu boot yang lunak.

Matryona kembali berpikir akan tetapi kembali tak ingin ikut campur. Michael menjahit terus menerus sampai tengah hari. Ketika Simon berdiri untuk makan, memandang sekitar, dan melihat bahwa Michael telah mengeluarkan bulu dari boot pria itu.

“Ah!” Simon mendesah dan berpikir, “Bagaimana Michael ini, ia telah bersamaku sepanjang tahun dan tak pernah membuat kesalahan sebelumnya, mengapa ia melakukan hal yang mengerikan? Pria itu memesan boot yang tinggi dengan seluruh bagian depan terjahit. Michael membuat sol yang lunak dengan satu telapak sepatu dan membuang bulunya. Apa yang akan kukatakan pada pria itu? Aku tak akan pernah bisa mengganti bulu seperti itu.”

Lalu Simon berkata kepada Michael, “Apa yang kau lakukan, kawan? Kau telah menghancurkanku! Kau tahu pria itu memesan boot yang tinggi, namun lihat apa yang kau buat!”

Dengan keras ia memarahi Michael. Lalu pintu terketuk. Ring besi yang tergantung di pintu berbunyi. Seseorang telah megetuk. Mereka melihat ke luar jendela. Seorang pria telah datang dengan menaiki kuda dan telah mengikat kuda tersebut. Mereka membuka pintu dan pelayan dari pria itu masuk ke dalam.

“Selamat siang,” katanya.

“Selamat siang,” balas Simon. “Apa yang bisa kami lakukan untukmu?”

“Nyonyaku telah mengirimku mengenai boot itu.”

“Bagaimana boot itu?”

“Sebab, Tuanku sudah tak membutuhkan boot itu. Ia telah mati.”

“Apa mungkin?”

“Ia mati saat pulang setelah meninggalkanmu. Tuanku mati di dalam kereta kuda. Ketika kami mencapai rumah, pelayan tiba untuk membantunya turun, namun ia terguling seperti sebuah karung. Tuanku telah mati dan mayatnya hampir tak bisa dikeluarkan dari kereta kuda. Nyonya mengirimku kemari dan berkata, ‘Beritahu si pembuat sepatu bahwa pria yang memesan sepatu dan tinggalkan bulu untuk mereka, akan tetapi ia mesti cepat membuat sol yang lunak untuk mayatnya. Tunggu hingga mereka selesai dan bawa boot kembali bersamamu.’ Inilah mengapa aku datang.” Michael mengumpulkan sisa dan menggulung bulu-bulu itu. Lalu mengambil sol yang lunak yang telah ia buat, menjatuhkan boot bersama-sama, membersihkan dengan celemek, dan menyerahkan boot beserta gulungan bulu ke pelayan.

Dan pelayan itu mebawanya, “Sampai jumpa, Tuan. Selamat siang untuk Anda!”

 

VIII

Tahun yang lain telah lewat. Michael telah tinggal bersama Simon selama enam tahun. ia hidup seperti sebelumnya, tak pernah kemana pun, berbicara seperlunya, dan tersenyum dua kali sepanjang tahun–sekali ketika Matryona memberikan makanan dan yang kedua ketika seorang pria besar sedang di dalam pondok mereka. Simon amat senang bersama pekerjannya. Kini, Simon tak pernah bertanya kepada Michael dari mana ia berasal, dan hanya kekhawatiran kalau-kalau Michael harus pergi.

Suatu hari mereka semua berada di rumah. Matryona sedang meletakkan panci besi ke atas tungku. Anak-anak sedang berlarian sepanjang bangku-bangku dan melihat keluar jendela. Simon sedang menjahit di salah satu jendela. Dan Michael sedang mengikat pada tumitnya di tempat yang lain.

Satu dari anak-anak berlari sepanjang bangku lalu menju ke Michael, menyandarkan bahunya, dan melihat keluar jendela.

“Lihat, Paman Michael! Seorang nona bersama gadis-gadis kecil terlihat kemari! Dan salah satu gadis itu pincang.”

Ketika si anak berkata, Michael menghentikan pekerjaan, berbalik ke jendela, dan melihat ke luar.

Simon terkejut. Michael tak biasa melihat ke luar jalan, namun sekarang ia mendesak jendela dan menatap sesuatu. Simon juga melihat keluar dan melihat seorang wanita berpakaian bagus benar-benar datang ke pondoknya, tangannya menuntun dua gadis kecil dengan mantel berbulu dan syal berbahan wol. Gadis-gadis itu hampir tak bisa diberitahu salah satunya, kecuali salah seorang dari mereka yang pincang di kaki kiri dan berjalan perlahan-lahan.

Wanita itu masuk ke dalam beranda dan memasuki jalan lintas. Meraba-raba pintu masuk dan menemukan grendel yang dia angkat dan di buka. Dia membiarkan dua gadis kecil masuk terlebih dahulu dan mengikuti mereka ke dalam pondok.

“Selamat siang, saudaraku yang baik!”

“Silahkan, masuklah,” kata Simon. “Apa yang bisa kami lakukan untuk anda?”

Wanita itu duduk di meja. Dua gadis kecil menekan rapat ke lututnya, takut dengan orang-orang di dalam pondok.

“Aku ingin di buatkan sepatu berbulu untuk dua gadis kecil ini, untuk musim semi.”

“Kami bisa melakukan itu. kami tak pernah membuat sejenis sepatu berukuran kecil, namun kami bisa membuatkan mereka, setiap sepatu di jahit atau ganti sepatu, yang di lapisi kain putih. Orangku Michael adalah orang yang ahli pada pekerjaannya.”

Simon sekilas menatap Michael dan melihat bahwa ia telah meninggalkan pekerjaannya dan duduk dengan mengatur matanya ke gadis-gadis kecil. Simon terkejut. Mereka benar-benar gadis yang cantik, dengan mata hitam, gemuk, dan berpipi merah. Mereka juga mengenakan ikat kepala yang manis dan mantel berbulu. Tapi Simon tetap tak mengerti mengapa Michael harus memandang kedua gadis kecil seperti itu–seakan Michael telah mengetahui mereka sebelumnya.

Simon kebingungan, tapi ia tetap melanjutkan perbincangan dengan wanita itu dan menetapkan harga. Seusai menetapkan harga, Simon menyiapkan ukuran. Wanita itu mengangkat gadis pincang ke atas pangkuannya.

“Ambil ukuran dari dua gadis kecil ini. Buatkan satu sepatu untuk kaki yang pincang dan tiga sepatu untuk kaki yang sama. Mereka berdua punya ukuran kaki yang sama, mereka kembar.”

Simon mengambil ukuran dan membicarakan kepincangan gadis itu. “Bagaimana ini terjadi padanya? Dia gadis yang cantik. Bagaimana dia lahir?”

“Ibunya menindihnya.”

Lalu Matryona bergabung. Dia ingin tahu siapa wanita ini dan siapa anak-anak itu. “Kau bukan ibu dari mereka, lalu?”

“Bukan, wanita yang baik. Aku bukan ibu mereka ataupun saudara mereka. Mereka sangat asing bagiku, namun aku mengadopsi mereka berdua.”

“Mereka bukan anakmu dan kau masih mengasihi mereka?”

“Bagaimana bisa aku bersedia mengasihi mereka? Aku memberi makan mereka berdua di payudaraku sendiri. aku punya seorang anak kandung, namun Tuhan mengambilnya. Aku tak menyayanginya seperti sekarang aku terhadap mereka.”

“Lalu, anak siapa mereka?”

 

IX

 Wanita itu mulai berbicara menceritakan semuanya.

“Ini terjadi enam tahun sejak kematian orang tua mereka. Keduanya mati dalam satu minggu. Ayah mereka di kubur pada hari selasa dan ibu mereka mati pada hari jumat. Anak-anak yatim piatu ini lahir tiga hari setelah kematian ayah mereka dan kematian ibu mereka di hari yang lain.

Suamiku dan aku hidup sebagai petani di desa. Kami bertetangga dengan mereka. Halaman kami bersebelahan dengan mereka. Ayah mereka adalah orang yang kesepian, seorang pemotong kayu di hutan.

Suatu hari ketika menebang pohon-pohon, salah satu pohon menjatuhinya. Pohon itu jatuh menyilang ke tubuhnya dan menghancurkan isi perutnya keluar. Orang desa membawanya pulang sebelum mati. Dan di minggu yang sama, istrinya memberikan kelahiran kembar–-gadis-gadis kecil ini. Ibunya sangat miskin dan sendirian, tak memiliki saudara tua ataupu muda yang bersamanya. Kesendirianlah yang memberikannya kelahiran dan kesendirianlah yang mempertemukannya dengan kematian.

Keesokan pagi, aku pergi melihatnya. Ketika aku masuk ke pondok, dia, orang yang malang, tubuhnya kaku dan dingin. Di saat sekarat, dia berguling ke atas anak ini dan mematahkan kakinya. Orang-orang desa tiba ke pondok, memandikan tubuhnya, membaringkannya di luar, membuatkan peti, dan menguburnya. Mereka orang-orang desa yang baik dan bayi-bayi ini di tinggal sendiri.

Apa yang harus dilakukan dengan mereka? Aku hanya seorang wanita di sana yang memiliki bayi saat itu. Aku merawat kelahiran pertamaku–berumur delapan minggu. Dan aku mengambil gadis-gadis kecil saat itu.

Para petani tiba bersama-sama. Mereka berpikir apa yang dilakukan kepada bayi-bayi ini dan akahirnya mereka berkata, ’Untuk sekarang, Mary, kau jagalah dengan baik anak-anak ini dan nanti kami akan mengatur apa yang harus dilakukan untuk mereka.’

Hingga merawat salah satunya di dadaku, pada mulanya aku tak memberi makan pada bayi yang pincang. Aku tak mengira dia akan hidup. Tapi aku berpikir kepada diriku sendiri, mengapa yang malang dan tak berdosa yang menderita? Aku pun mengasihinya dan mulai memberi makan kepadanya. Aku memberi makan ke anak kandungku dan gadis-gadis ini–-mereka bertiga–di payudaraku sendiri.

Aku muda dan kuat, punya makanan yang baik, dan Tuhan memberikanku lebih banyak susu saat itu, bahkan melimpah. Terkadang aku memberi makan dua anak sekaligus, sedang anak yang ketiga menunggu. Ketika salah satu telah cukup aku merawat yang ketiga. Dan Tuhan mengatur gadis-gadis itu tumbuh, sedang anakku sendiri telah dikubur sebelumnya, saat ia berumur dua tahun.

Aku tak memiliki anak meskipun kami makmur. Sekarang suamiku bekerja sebagai pedagang jagung di penggilingan. Bayarannya cukup baik dan kami begitu beruntung. Namun, aku tak punya anak kandung, dan alangkah kesepiannya aku jika tanpa gadis-gadis kecil ini! Bagaimana bisa aku menghindari untuk mencintai mereka. Mereka adalah kegembiraan dalam hidupku!”

Wanita itu mendesak gadis pincang dengan satu tangan, sedang gadis yang lain menyapu tangis dari pipinya.

Dan Matryona mendesah, “Pepatah dengan benar mengatakan, seseorang mungkin bisa hidup tanpa ayah atau ibu, akan tetapi seseorang tak bisa hidup tanpa Tuhan.”

Tiba-tiba seluruh pondok menyala seakan-akan seperti menyala di musim panas dari tempat di mana Michael duduk. Mereka memandang ke arah Michael dan melihatnya duduk. Tangannya melipat di atas lutut, menatap ke atas, dan tersenyum.

 

X

 Wanita itu pergi bersama gadis-gadis kecil. Michael bangkit dari bangku, meletakkan pekerjaannya, dan menarik celemeknya. Kemudian ia memberi salam dengan membungkuk rendah kepada Simon dan istrinya.

“Selamat jalan, Tuan, Tuhan telah memaafkanku. Aku meminta maaf kepadamu juga, untuk segala sesuatu kesalahan.”

Dan mereka melihat cahaya terang dari Michael. Simon berdiri, memberi salam dengan membungkuk kepada Michael.

“Aku lihat, Michael, bahwa kau bukan manusia biasa. Aku tak bisa menjagamu atau bertanya kepadamu. Hanya beritahu aku, bagaimana hal itu terjadi ketika aku menemukanmu dan membawamu ke rumah, kau murung dan ketika istriku memberimu makanan kau tersenyum kepadanya dan menjadi terang? Kemudian ketika seorang pria besar datang memesan boot, kau tersenyum lagi dan menjadi lebih terang? Dan sekarang ketika wanita ini membawa gadis-gadis kecil, kau tersenyum ketiga kalinya, dan menjadi seterang hari ini? Beritahu aku ,Michael, mengapa wajahmu bersinar dan mengapa kau tersenyum tiga kali?”

“Sinar terang dariku,” jawab Michael, “karena aku telah di hukum, akan tetapi sekarang Tuhan telah mengampuniku. Aku tersenyum tiga kali karena Tuhan mengirimku untuk mempelajari tiga kebenaran, dan aku telah mempelajari ketiga kebenaran tersebut. Pertama, aku belajar ketika istrimu mengasihi aku dan itulah mengapa aku tersenyum pertama kali. Kedua, aku belajar ketika orang kaya itu memesan boot dan kemudian aku tersenyum kembali. Dan sekarang, ketika aku melihat gadis-gadis kecil itu, aku mempelajari yang ketiga dan kebenaran terakhir, dan aku tersenyum ketiga kalinya.”

“Beritahu aku, Michael, apa hukuman Tuhan kepadamu? Dan apa saja tiga kebenaran itu? barangkali aku pun boleh mengetahui tiga kebenaran tersebut,” kata Simon.

Dan Michael menjawab, “Tuhan menghukumku karena mengingkari perintahnya. Aku dalah malaikat di surga dan menghindari perintahNya. Tuhan mengirimku untuk mengambil nyawa seorang wanita. Aku terbang ke bumi dan melihat seorang wanita sakit terbaring sendiri. Wanita itu telah diberikan kelahiran untuk gadis-gadis kembar. Mereka bergerak begitu lemah di sisi ibunya akan tetapi dia tak mampu mengangkat mereka ke payudaranya.

Ketika dia melihatku, dia mengerti bahwa Tuhan mengirimku untuk mengambil nyawanya dan dia menangis. ‘Malaikat Tuhan! Suamiku telah di kubur, terbunuh oleh sebuah pohon yang runtuh. Aku tak punya saudara ataupun bibi bahkan ibu. Tak seorang pun peduli pada yatim piatu sepertiku. Jangan ambil nyawaku! Biarkan aku merawat bayi-bayiku, memberi makan mereka dan menaruh mereka di atas kaki mereka sebelum aku mati. Seorang anak tak bisa hidup tanpa ayah atau ibu.’ Aku mendengarkannya. Aku menaruh salah satu anak di dadanya dan memberikan anak yang lain ke lengannya, dan kembali ke surga.

Aku terbang kepada Tuhan dan berkata, ’Aku tak mampu mengambil nyawa seorang ibu. Suaminya telah terbunuh oleh sebuah pohon, wanita itu memiliki anak kembar dan memohon bahwa nyawanya tak di ambil. Dan wanita itu berkata agar membiarkan dia merawat dan memberi makan anak-anaknya, mengatur mereka di atas kaki mereka. Wanita itu juga mengatakan seorang anak tak mampu hidup tanpa ayah dan ibu.’

Aku tak mengambil nyawanya. Dan Tuhan berkata, ’Pergilah–ambil nyawa ibu itu dan pelajari tiga kebenaran: Pelajari apa yang dihuni dalam manusia, Apa yang tak di berikan pada manusia, dan Apa yang hidup bersama manusia. Ketika kau memperoleh pelajaran tentang hal-hal ini, kau boleh kembali ke surga.’ Aku terbang kembali ke bumi dan mengambil nyawanya ibu tersebut.

Bayi-bayi terjatuh. Tubuhnya berguling di atas tempat tidur dan meremukkan salah seorang bayi, kakinya bengkok. Aku terbang di atas desa, berharap mengambilnya demi Tuhan. Akan tetapi angin mencengkamku dan sayap-sayapku begitu berat dan semakin turun. Nyawanya bangkit sendiri menuju Tuhan. Sedang aku jatuh ke bumi di pinggir jalan.”

 

XI

Simon dan Matryona mengerti siapa yang telah tinggal bersama mereka, dan siapa yang mereka beri pakaian dan makanan. Mereka menangis dengan pesona dan kegembiraan. Malaikat itu berkata, “Aku sendirian di lapangan dan telanjang. Aku tak pernah mengetahui kebutuhan manusia, dingin dan kelaparan. Sampai aku menjadi seorang manusia. aku sangat kelaparan, kedinginan, dan tak tahu apa yang akan dilakukan. Aku melihat di dekat lapangan ada sebuah tempat suci yang di bangun untuk Tuhan. Aku pergi ke tempat suci berharap untuk menemukan perlindungan, namun tempat suci terkunci dan aku tak bisa masuk. Sehingga aku duduk di sebelah tempat suci untuk berlindung setidaknya dari angin. Malam menjelang. Aku sangat lapar, kedinginan, dan kesakitan. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berjalan sepanjang jalan. Ia membawa sepasang boot yang sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pertama kali sejak aku menjadi manusia, aku melihat wajah mematikan dari seorang manusia. Wajahnya terlihat mengerikan untukku dan berbelok dari sebuah jalan. Aku mendengar pria itu berbicara kepada dirinya sendiri, bagaimana melindungi tubuhnya dari dingin di musim dingin. Dan bagaimana memberikan makan untuk istri dan anaknya.”

Dan aku berpikir, ”Aku mati kedinginan dan kelaparan. Di sini seorang pria hanya berpikir bagaimana membeli pakaian bagi dirinya dan istrinya, bagaimana mendapatkan makanan untuk diri mereka sendiri. Ia tak bisa menolongku. Ketika pria itu melihatku ia mengerutkan dahi dan menjadi lebih ketakutan, dan melewatiku di salah satu sisi. Aku putus asa namun tiba-tiba aku mendengarnya kembali. Aku memandangnya dan tak mengenali pria yang sama: sebelumnya, aku melihat kematian di wajahnya, namun sekarang ia hidup, dan aku mengakui kehadiran Tuhan di dalam dirinya. Ia mendekatiku, memberikan baju, dan membawaku ke rumahnya. Aku memasuki rumahnya. Seorang wanita datang menemui kami dan mulai berbicara. Wanita itu lebih mengerikan dari pada pria itu, jiwa kematian datang dari mulutnya. Aku tak mampu bernafas sebab mencium kematian yang menyebar di sekitarnya. Dia memaksaku ke luar ke cuaca yang dingin, dan aku tahu bahwa jika dia melakukannya dia akan mati. Tiba-tiba suaminya berbicara tentang Tuhan kepadanya. Wanita itu berubah dengan segera. Ketika dia membawakanku makanan dan menatapku, aku memandang sekilas padanya dan melihat bahwa kematian tak lama mendiaminya, dia telah menjadi hidup, dan di dalam dirinya juga, aku melihat Tuhan.”

“Lalu aku ingat pelajaran pertama Tuhan yang diberikan kepadaku, ’Pelajari apa yang dihuni dalam manusia.’ Dan aku mengerti bahwa di dalam manusia dihuni oleh cinta! Aku senang bahwa Tuhan mulai sungguh menunjukkan kepadaku apa yang ia janjikan, dan aku tersenyum untuk pertama kali. Namun aku belum sampai mempelajari semuanya. Aku masih tak mengetahui ‘Apa yang tak diberikan pada manusia’ dan ‘Apa yang hidup dengan manusia.’”

“Aku tinggal bersamamu dan satu tahun terlewati. Seorang pria datang untuk memesan boot yang akan dipakai selama setahun. Tanpa kehilangan bentuk atau retak. Aku memandangnya, dan tiba-tiba, di sebelah pundaknya, aku melihat kawanku–malaikat kematian. Tak seorang pun selain aku yang melihat malaikat itu, dan aku mengetahuinya. Aku pun mengetahui bahwa sebelum matahari terbenam malaikat itu akan mengambil nyawa orang kaya itu. Dan aku berpikir kepada diriku sendiri, ‘Manusia membuat persiapan untuk setahun dan mengetahui bahwa ia akan mati sebelum malam hari.’ Dan aku ingat perkataan kedua Tuhan, ‘Pelajari apa yang tak diberikan kepada manusia.’”

“Yang dihuni dalam manusia, telah aku ketahui. Sekarang aku mempelajari apa yang tak diberikannya. Yang tak diberikan kepada manusia untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Dan aku tersenyum untuk kedua kalinya. Aku senang melihat kawanku si malaikat kematian–juga senang bahwa Tuhan telah menunjukkan kepadaku perkataan yang kedua.”

“Namun aku tetap tak mengetahui semuanya. Aku tak mengetahui, Apa yang hidup bersama manusia. Aku bertahan hidup, menunggu sampai Tuhan akan menunjukkan kepadaku pelajaran terakhir. Dalam masa enam tahun, datang gadis kembar bersama seorang wanita, dan aku mengenali gadis itu, dan mendengar bagaimana mereka telah bertahan hidup. Setelah mendengar cerita tersebut, aku berpikir, ’ibu mereka memintaku untuk kepentingan anak-anaknya dan aku mempercayainya ketika dia berkata bahwa anak-anaknya tak bisa hidup tanpa ayah atau ibu. Tapi orang asing telah merawat dan membawa mereka.’ Ketika wanita itu menunjukkan cinta untuk anak-anak itu yang bukan miliknya dan menangisi mereka. Aku melihat di dalam wanita itu hiduplah Tuhan. Dan aku mengerti apa yang hidup dengan manusia. Aku tahu bahwa Tuhan telah menunjukkanku di perjalanan terakhir dan telah memaafkanku. Kemudian aku tersenyum untuk ketiga kalinya.”

 

XII

Tubuh malaikat itu telanjang dan berpakaian dalam cahaya, sehingga mata tak mampu memandangnya. Dan suara bertambah keras seakan suara itu tak datang darinya namun dari atas surga.

“Aku telah mempelajari bahwa semua manusia hidup bukan bersama kepeduliaan diri mereka sendiri, melainkan dengan cinta.”

“Itulah yang tak diberikan kepada si ibu untuk mengetahui apa yang anak-anaknya butuhkan untuk kehidupan mereka.”

“Juga tak diberikan untuk pria kaya itu yaitu untuk mengetahui apa yang ia butuhkan. Juga tak diberikan kepada setiap manusia untuk mengetahui apakah saat malam datang, ia membutuhkan boot untuk tubuhnya atau sol untuk mayatnya.”

“Aku tetap hidup saat aku sebagai manusia, bukan dengan kepeduliaan pada diriku, melainkan karena cinta pada orang berjalan melaluiku, karena ia dan istrinya mengasihi dan mencintaiku. Gadis kembar yatim piatu tetap hidup bukan karena kepeduliaan ibu mereka, melainkan karena di sana terdapat cinta di dalam hati wanita asing untuk mereka, yang mengasihi dan mencintai mereka. Semua manusia hidup bukan dengan pikiran mereka tentang mengeluarkan kesejahteraan milik mereka, melainkan karena cinta yang hidup di dalam manusia.”

“Aku mengerti bahwa Tuhan tak ingin manusia hidup terpisah, sebab, Tuhan tak ingin memperlihatkan pada mereka yang dibutuhkan setiap orang untuk diri sendiri, melainkan Tuhan ingin mereka hidup bersatu, karena ingin menunjukkan pada masing-masing apa yang terpenting bagi semua.”

“Aku sekarang mengerti bahwa pikiran itu tampak oleh manusia bahwa mereka hidup dengan kepedulian sendiri, di dalam kebenaran itulah cinta itu sendiri yang mereka tinggali. Ia yang memiliki cinta di dalam Tuhan, dan Tuhan ada di dalam dirinya, karena Tuhan adalah cinta.”

Dan malaikat menyanyikan pujian Tuhan sehingga pondok bergetar akibat suaranya. Atap terbuka, tiang api muncul dari tanah menuju surga. Simon, istrinya, dan anaknya jatuh ke tanah. Sayap-sayap muncul di atas pundak malaikat, dan malaikat naik ke dalam surga.

Dan ketika Simon di hadapan pondoknya sendiri, di sana tak ada seorang pun kecuali keluarganya sendiri.

***

:: Diterjemahkan dari cerita pendek, What Men Live By (1885), karya Leo Tolstoy. Terj. Rusia-Inggris oleh Louise & Ayler Maude.

:: Image Tolstoy Ploughing karya Ilya Repin diambil dari https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Tolstoy_ploughing.jpg