Penghujung Tahun.

dsc_0014

Di bawah guyuran hujan di langit kota Malang, hari ini mencoba kembali membuka gagasan-gagasan Mahfud MD, dalam Perdebatan Hukum Tata Negara: Pasca Amandemen Konstitusi. Mantan ketua mahkamah konstitusi yang dibesarkan dari kultur Nahdlatul Ulama yang kental namun tak menutup untuk memasuki pemahaman rasional a la Muhammadiyah ini, memberikan si pembaca untuk menelurkan spirit dalam mencari segala hal, khususnya terkait hukum.

Tentu saja, ini hanyalah pembacaan singkat yang tak bisa dijadikan konklusi akhir, terlebih si pembaca adalah orang yang bukan dibesarkan dari disiplin ilmu hukum. Namun setidaknya, menggelindingkan serta meningkatkan wilayah pemahaman di disiplin ilmu lain, khususnya bagi diri si pembaca secara subjektif, di rasa penting. Ada poin-poin kecil yang digaris-bawahi si pembaca untuk paling tidak menjadi perenungan atas pembacaan Perdebatan Hukum Tata Negara dari Mahfud MD:

1) Dalam bagian Pancasila Sebagai Dasar dan Sistem Hukum. Mahfud MD, memukul kesadaran si pembaca bahwa hukum harus menjamin kebebasan beragama di antara pemeluknya. Tidak boleh ada pengistimewaan perlakuan tehadap agama hanya didasarkan pada besar dan kecilnya jumlah pemeluk. Negara boleh mengatur kehidupan beragama sebatas pada menjaga ketertiban agar tidak terjadi konflik serta memfasilitasi agar setiap orang dapat melaksanakan ajaran agamanya dengan bebas tanpa mengganggu atau diganggu oleh orang lain. Hukum agama tidak perlu diberlakukan oleh negara karena pelaksanaan ajaran agama diserahkan kepada masing-masing pemeluknya, namun negara dapat mengatur pelaksanaannya oleh pemeluk masing-masing untuk menjamin kebebasan dan menjaga ketertiban dalam pelaksanaannya.

2) Dalam bagian Sipil dan Militer dalam Sistem Ketatanegaraan. Kekalahan kaum marginal menurut Antonio Gramsci, tulisnya, menjinakan budaya dan ideologi masyarakat oleh negara dan pemikiran tentang masyarakat sipil senantiasa dipandang sebagai pemikiran kritis terhadap kapitalisme. Lebih lanjut, Mahfud MD, mengurai tentang bagaimana gerakan masyarakat melawan hegemoni negara sehingga memunculkan wacana bahwa masyarakat sipil adalah masyarakat yang menolak dominasi militer dalam negara dan dalam literatur tak ditemukan perangkat konsepnya. Dan, dalam wacana publik sering berkembang pemikiran bahwa masyarakat madani adalah lawan militerisme, dan upaya membangun masyarakat madani harus menghilangkan pemerintah militer atau menata kembali relasi yang proporsional antara sipil dan militer.

3) Dalam bagian Hukum Islam dalam Pancasila. Orang madura yang mengagumi sastra Kho Ping Hoo ini, menjelaskan bahwa di dalam nash (dalil naqly) dan sejarah dan pemikiran politik Islam, tak ada perintah tegas untuk mendirikan negara Islam atau memberlakukan hukum Islam secara formal. Membuat dasar negara Islam di dalam komunitas yang tidak seluruhnya menganut Islam masih menimbulkan persoalan, baik untuk keseluruhan masyarakat maupun di kalangan masyarakat Islam sendiri. Memberlakukan hukum Islam secara formal di dalam komunitas yang tak seluruhnya menganut agama Islam tentu dapat menimbulkan konflik, seperti yang terjadi dalam kenyataan sejarah.

Demikianlah yang pembaca kagumi atas gagasan-gagasan Mahfud MD, yang pembaca kemas dengan teknik rewriting dan tak menutup kemungkinan ada poin-poin yang sebenarnya penting namun tak tercatat, dan untuk lebih menikmati Perdebatan Hukum Tata Negara: Pasca Amandemen Konstitusi, pembaca menyarankan kepada pembaca lain untuk mengunjungi perpustakaan terdekat atau membelinya di toko buku, dan selalu ada yang mengagumkan dalam setiap pergulatan pencarian atas sesuatu meskipun bernaung dalam setiap kelelahan yang tak mampu ditampik menghadapi suatu proses.

Selamat tahun baru dan senantiasa diberikan kesehatan.

Malang, 29 Desember 2016.

Iklan

Papa Panov dan Natal Spesialnya – Leo Tolstoy*

04b5db793f9271a242267421ffd161b6

Hari ini adalah Natal dan meskipun masih sore, lampu-lampu telah mulai terlihat di dalam toko-toko dan rumah-rumah di desa kecil Rusia, karena hari musim dingin singkat hampir berlalu. Anak-anak berlarian dengan terkejut di dalam rumah dan sekarang hanya bersuara dengan gemertakan dan tertawa lepas karena daun-daun penutup jendela tertutup.

Papa Panov tua, pembuat sepatu di desa, melangkah ke luar tokonya membawa sesuatu terakhir disekitar. Suara-suara kebahagiaan, lampu-lampu terang dan redup sementara bau-bau jajanan Natal mengingatkannya tentang masa-masa Natal yang lalu ketika istrinya dan anaknya yang kecil masih hidup. Sekarang, mereka telah pergi.

Sekarang kesedihan menghiasi wajah keriputnya yang biasanya gembira dengan sedikit tertawa di balik kacamata besinya. Namun ia kembali ke dalam rumah dengan langkah yang tegap, mengatur daun penutup jendela dan mengatur cerek kopi panas di atas tungku arang kayu. Kemudian, dengan mendesah, ia bertahan di kursi besarnya.

Papa Panov tak sering membaca, namun malam ini ia menurunkan Bible milik keluarga besarnya dan, dengan perlahan mengikuti kata-kata dengan salah satu jari telunjuknya, ia membaca kembali cerita Natal. Ia membaca tentang Mary dan Joseph yang kelelahan dalam perjalanan mereka ke Bethlehem, tak menemukan ruangan untuk mereka di pemondokan, sehingga bayi kecil Mary lahir di bangsal sapi.

“Oh, oh!” seru Papa Panov, “andaikan mereka datang kemari! Aku akan memberikan kepada mereka kasurku dan aku bisa melindungi bayi itu dengan potongan kecil selimut kapas untuk menghangatkannya.”

Ia membaca tentang orang-orang bijak yang telah datang untuk melihat bayi Jesus, membawakannya hadiah-hadiah terbaik.

Wajah Papa Panov melihat ke bawah. “Aku tak punya hadiah yang bisa aku berikan padanya,” pikirnya dengan sedih.

Kemudian wajahnya menjadi terang. Ia meletakkan Biblenya, bangkit dan merentangkan kedua lengan panjangnya ke rak yang tinggi di ruangan kecilnya. Ia menurunkan kotak kecil berdebu dan membawanya. Di dalamnya terdapat sepasang sepatu bulu yang kecil sekali dan bagus.

Papa Panov tersenyum dengan puas. Ya, mereka sebaik apa yang telah ia ingat—sepatu paling bagus yang pernah ia buat. “Aku seharusnya memberikan padanya sepatu ini,” putusnya, saat ia dengan hati-hati menyimpan sepatu itu dan duduk kembali.

Sekarang ia merasa kelelahan, dan lebih jauh ia mulai membaca dengan mengantuk. Huruf kecil mulai menari dihadapan kedua matanya sehingga kedua matanya tertutup, hanya sesaat. Papa Panov tertidur dengan cepat.

Dan saat ia tertidur, ia bermimpi. Ia memimpikan bahwa seseorang berada di ruangannya dan ia mengenali dengan segera, sebagaimana sesuatu yang yang dilakukan di dalam mimpi, dan itu adalah Jesus.

“Kau telah berkeinginan bahwa kau bisa melihatku, Papa Panov,” ia berkata dengan murah hati, “kemudian esok mencariku. Itu akan terjadi pada hari Natal dan aku akan mengunjungimu. Namun hati-hati, karena aku tak akan mengatakan kepadamu siapakah aku.”

Ketika Papa Panov terbangun, bel-bel berdering dan cahaya tipis merembes melalui daun-daun jendela. “Berkahilah jiwaku!” kata Papa Panov. “Hari ini adalah Natal!”

Ia berdiri dan merentangkan dirinya karena sedikit kaku. Kemudian wajahnya dipenuhi dengan kebahagiaan saat ia mengingat mimpi-mimpinya. Inilah Natal yang sangat spesial, karena Jesus datang untuk mengunjungi Papa Panov. Bagaimana ia akan melihat? Akankah ia menjadi bayi yang mungil? Akankah ia menjadi seorang yang tumbuh dewasa, seorang tukang kayu, atau raja yang mahsyur bahwa ia, putera Tuhan? Ia harus melihat dengan hati-hati sepanjang hari yang dilalui sehingga ia mengenalinya ketika datang.

Papa Panov meletakkan cerek kopi spesial untuk sarapan Natalnya, membuka daun-daun jendela dan memandang ke luar dari Jendela. Jalanan demikian sunyi, tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun kecuali penyapu jalan. Ia memandang sesedih dan seburuk sebelumnya, dan, nah, ia bertenaga! Siapa yang ingin bekerja di hari Natal—dan dalam hawa dingin yang buruk dan kabut membeku yang dingin sekali seperti pagi ini?

Papa Panov membuka pintu tokonya, membiarkan masuk aliran udara tipis yang dingin. “Masuklah, masuklah!” ia berteriak menyeberangi jalan dengan riang. “Masuklah dan nikmatilah sedikit kopi panas untuk menjaga dari hawa dingin!”

Penyapu jalanan memandang, hampir tak memercayai pendengarannya. Ia terlalu senang untuk meletakkan sapunya dan masuk ke dalam ruangan yang hangat. Pakaian-pakaian dari penyapu tua menguap di dalam panas tungku dan ia mendekap kedua tangannya yang memerah disekeliling mug hangat saat ia minum.

Papa Panov melihatnya dengan puas, namun sekarang kedua matanya berkeliaran ke jendela dan tak ingin kehilangan tamu spesialnya.

“Mengharapkan seseorang?” akhirnya si penyapu jalan bertanya. Jadi, Papa Panov berkata kepadanya tentang mimpinya.

“Nah, aku harap ia datang,” si penyapu jalan berkata, “kau memberiku sedikit Natal yang menceriakan dan aku tak pernah mengharapkannya. Aku akan mengatakan kepadamu bahwa kau patut menerima mimpimu menjadi kenyataan.” dan ia tersenyum.

Ketika si penyapu jalan pergi, Papa Panov meletakkan sup kubis untuk makan malam, kemudian pergi ke pintu lagi, meneliti jalanan. Ia tak melihat siapa pun. Namun ia salah, seseorang kemudian tiba.

Seorang perempuan berjalan dengan pelan dan tenang, menyusuri dinding toko-toko dan rumah-rumah, dan sementara itu Papa Panov memerhatikannya. Dia terlihat sangat kelelahan dan membawa sesuatu. Saat perempuan itu mendekat, Papa Panov bisa melihat bahwa sesuatu itu adalah seorang bayi, terbungkus dalam selendang yang tipis. Terdapat semacam kesedihan di wajahnya dan di wajah kurus nan mungil si bayi, jantung Papa Panov lenyap untuk mereka.

“Tak inginkah kau masuk,” panggilnya, melangkah ke luar untuk menemui mereka. “Kalian berdua perlu kehangatan api dan beristirahat.”

Ibu muda membiarkan pelindungnya masuk ke dalam rumah dan menyamankan di kursi. Ibu muda itu memberikan desahan nafas besar dengan lega.

“Aku akan menghangatkan sedikit susu untuk bayimu,” Papa Panov berkata, “Aku punya anak, aku bisa memberinya makan untukmu.” ia mengambil susu dari tungku dan memberikan makan dengan hati-hati pada bayi itu dari sendok, menghangatkan kaki-kaki kecilnya di tungku pada saat bersamaan.

“Dia memerlukan sepatu,” kata tukang sepatu.

Sementara perempuan itu berkata, “aku tak bisa membeli sepatu, aku tak punya seorang suami yang membawa uang ke rumah. Aku berada di jalanku untuk ke desa sebelah demi mendapatkan pekerjaan.”

Mendadak perhatian menyala melalui pikiran Papa Panov. Ia ingat akan sepatu kecil yang ia lihat pada malam terakhir. Namun, ia masih menjaga benda itu untuk Jesus. Dan ia memandang kembali pada kaki-kaki kecil si bayi yang kedinginan itu dan menghiasi pikirannya.

**

[*] Dialih-bahasakan dari http://classiclit.about.com/od/christmasstoriesholiday/a/aa_papachr.htm

[] Image dari https://www.amazon.com/Papa-Panovs-Special-Day-Holder/dp/0745945643/ref=sr_1_1?s=books&ie=UTF8&qid=1472010489&sr=1-1&keywords=papa+panov%27s+special+day

[] Bagian lanjutan dari Papa Panov dan Natal Spesialnya bisa dinikmati di sini.

Daras, Pendidikan, Kamus dan Rumah Bahasa.

81o2o-edjdl-_sl1500

Hello, is this your house? – Explosions In The Sky & David Wingo, Soundtrack Prince Avalanche.

Kicau burung-burung saling bersahutan di luar rumah. Daun-daun pohon mangga di depan rumah saling bergesekan satu dengan yang lain. Rumput-rumput serta bunga-bunga melati yang ditanam oleh istriku masih dibasahi oleh embun. Sinar matahari pagi perlahan-lahan muncul ketika awan-awan dengan gerak lambat bergerak sesuai arah angin. Sinar matahari pagi yang menurut sebagian orang, memiliki fungsi yang baik untuk kesehatan itu mulai menyinari ruangan kerjaku ketika tirai-tirai mulai aku sibak. Sinar matahari pun menampilkan debu-debu ruangan kerja yang bergerak.

Dalam dua bulan, di pekan terakhir, para penghuni rumah ini—Aku, istriku, dan Daras—melakukan peraturan rumah yang telah disepakati: membersihkan rumah. Aku dan istriku selalu senang untuk menata ruang kembali, agar mereduksi kejenuhan yang hinggap. Bagi Daras, membersihkan rumah, tepatnya kamar kecilnya, adalah untuk kedisiplinannya sendiri, meskipun pada akhirnya, gadis kecil berponi hanya membawa beberapa boneka-boneka dan bantal serta guling kesayangannya untuk dijemur. Ah, tidak. Tak hanya boneka, bantal atau guling, namun Daras juga mengeluarkan alat-alat mewarnainya, buku gambar serta buku cerita anak-anak berilustrasinya.

Suara vacuum cleaner terdengar dari kamar yang mana istriku mulai membersihkan ruangan. Sedangkan aku mulai mengeluarkan buku-buku dari rak untuk meletakkan mereka di teras rumah. Satu demi satu mulai aku angkut ke luar selama lebih dari tiga puluh menit: buku teknik, agama, sastra, bahasa, seni, ekonomi, politik, filsafat, pertanian dan berbagai tema yang lain. Mataku terpana kala melihat tumpukan buku yang hampir menyamai tinggi badanku dan buku-buku itu telah aku koleksi sejak masa kuliah.

Alunan musik Hello, is this your house?, dari band post-rock USA, Explosions In The Sky, pada satu menit terakhir tertelan oleh suara dari luar pagar rumah:

“Makanan untuk isi kepala sama mahalnya dengan makanan untuk perut!” seru Shendy, tetangga dekatku yang kini menjadi dosen muda di sebuah universitas negeri di atas sepeda polygonnya dan Shendy memang selalu menghabiskan akhir pekannya dengan berolahraga.

Aku melambaikan tangan, menjawab Shendy, “Ha-ha. Mengeluarkan tumpukan kertas ini seperti bersepeda mengelilingi kota, Bung.”

Ketika Shendy berpamitan untuk melanjutkan kegiatan olahraganya, suara teriakan lain menyusul dari dalam rumah.

“Bu…! Aku taruh di mana boneka ini?” atau “Bu…! Aku ingin memandikan bonekaku” atau “Bu…! Boleh aku membersihkan kandang kelinci?”

“Taruh di halaman belakang, Daras” dan “Tunggu…” dan “Tanya ayahmu di depan…”

Suara langkah-langkah kecil berdebukan dengan ritme yang cepat saat aku menyulut sebatang rokok. Gadis kecil berponi menghampiriku dan menanyakan pertanyaan yang sama, “Yah…! Aku taruh di mana boneka ini?” atau “Yah…! Aku ingin memandikan bonekaku” atau “Yah…! Boleh aku membersihkan kandang kelinci?”

Aku hanya menjawab pertanyaan terakhir, “Nanti sore kita bersihkan kandang kelinci ya…”

“Asyiiik…” kata Daras sambil melonjak-lonjak kegirangan seperti ketika dia mendapat hadiah pertama karena telah belajar dengan keras dan aku, juga istriku, tak pernah memikirkan apakah Daras harus mendapat hasil memuaskan atau tidak. Aku, dan juga istriku, menganggap proses belajar adalah hal paling fundamental dari pandangan-pandangan seputar hasil. Lalu, Daras melihat tumpukan buku, secara tiba-tiba, tangan kecilnya menggenggam sebuah buku, berujar, “Yah…buku Daras juga taruh di situ.” Tangan kecilnya menunjuk ke tumpukan buku-buku yang melebihi ukuran tubuh kecilnya.

“Buku apa itu?” aku bertanya, sambil memikirkan bahwa aku tak pernah melihat dan membeli buku tersebut.

“Ini, Yah…” Gadis kecil berponi menyodorkan bukunya.

Ketika aku melihat di sampul buku tertera ‘Kamus Kecil Prancis Untuk Daras’ kemudian di bawahnya tertera pula ‘Dari: Ibu.’ Sungguh pun, aku terkejut sekaligus termenung dan serangkaian pertanyaan dengan rasa kagum menghujam pikiranku. “Sejak kapan istriku membuat kamus ini? Ah, betapa kreatif dan cerdasnya dia?”

“Yah, Yah.” Gadis kecil berponi memanggilku dengan menarik kaosku. Aku pun tersadar kembali dari permenungan dari rasa terkejut sekaligus kekaguman. “Daras masih punya lima lagi,” tambahnya dengan menunjukkan gigi-gigi kecil yang rapih.

“Apa? Lima? Mana?”

“Tunggu, ya, Yah.”

Ketika Daras menggambil benda yang diinginkannya, aku membuka kamus kecil itu. Sungguh luar biasa. Istriku membuat kamus itu dengan menyertakan gambar-gambar yang membuat gairah tinggi untuk seorang anak untuk belajar bahasa. Dia membubuhkan mulai dari angka, satu hingga sepuluh; struktur keluarga, dari kakek-nenek hingga adik; benda alam dari pohon hingga bunga; hewan-hewan dari semut hingga singa; dan benda-benda yang dimengerti oleh anak berumur empat hingga enam tahun. Kamus bergambar itu berukuran lebar sebelas sentimeter melawan panjang tujuh belas sentimeter dengan tebal lima puluh halaman.

Kemudian Daras muncul, “Ini, Yah…”

Sekali lagi, aku terperangah. Daras menyodorkan koleksi kamusnya. ‘Kamus Kecil Jerman Untuk Daras.’ ‘Kamus Kecil Arab Untuk Daras.’ ‘Kamus Kecil Inggris Untuk Daras.’ ‘Kamus Kecil Jawa Untuk Daras.’ ‘Kamus Kecil Indonesia Untuk Daras.’

Toh, pada akhirnya, senyumanku merekah dari bibirku sembari menahan haru ketika membaca semua kamus dibubuhi ‘Dari: Ibu.’ Aku benar-benar menghargai upaya keras kawan hidupku tersebut untuk pendidikan buah hatinya. Dia selalu mempunyai cara-cara yang tak pernah terduga.

Aku kemudian duduk di kursi depan dan menyuruh Daras untuk membaca satu halaman dalam konten angka.

“Coba tunjukkan pada ayah.”

Daras dengan kemanjaannya, mendesak ke tubuhku dengan rasa kasihnya dipangkuanku.

Aku menunjuk pada kamus Prancisnya, “Yang ini…”

“Un. Dibaca: Ang. Satu.”

Aku menunjuk pada kamus Jermannya, “Yang ini…”

“Eins. Dibaca: Ains. Satu.”

Aku menunjuk pada kamus Inggrisnya, “Yang ini…”

“One. Dibaca: Wan. Satu.”

Saat melihat semua itu, saat aku mencium pipi kanannya. Terdengarlah suara istriku:

“Maaf, sayang, aku tak pernah memberitahumu tentang kamus-kamus yang aku buat itu,” katanya sambil membawakan secangkir kopi dan dua cangkir teh hangat bersama kue-kue brownies, lalu duduk di kursi yang berseberangan.

“Kapan kamu membuat ini semua?”

“Kamus itu, aku kerjakan ketika ada waktu luang di kantor dan aku pernah membaca catatan harianmu saat kita kuliah dulu, bahwa kamu ingin membuatkan kamus untuk anak-anakmu, ah, tentu kamu lupa, kan.”

Aku hanya tersenyum.

Ketika aku dan istriku sedang bercakap-cakap, Daras sedang memakan kue brownies, dengan bergerak ke sana-ke sini, suatu hal yang amat naluriah di mana fase kekanakannya memberikan suatu penanda bahwa gadis kecil berponi itu ingin diperhatikan lebih.

“Bu, Bu, bukuku taruh di atas buku ayah, Bu.”

“Baiklah, nak.”

Dan tumpukan buku dari dua generasi yang berbeda bersanding dalam rotasi ilmu pengetahuan dan pendidikan.

“Inikah rumah bahasa yang aku idam-idamkan selama ini, aku masih tak percaya…” tuturku dalam hati.

Senja Dan Mentari Dalam Potrait Camera.

Bagaikan senja dan mentari / Berdua lukiskan pelangi / Inilah yang kita rangkaikan / Langkahkan jiwa yang berseri / Awalkan dunia baru dengan berani / Mengetuk pintu kokoh dari hati / Disanalah kita berbagi cinta / Dalam cinta kita akan selalu bersama – Senja dan Mentari, MarcoMarche.

Satu bulan ini istriku sedang gemar dengan fotografi. Pada minggu pertama, dia suka mengambil gambar dari ruang-ruang di rumah kecil kami: Halaman depan beserta kebun dan bunga yang ditanamnya; ruang kerjaku beserta buku dan pengarsipan media cetak berbentuk koran dan majalah; kamar kecil milik Daras, puteri kecil kami, beserta penak-perniknya; dan ruang-ruang yang lain. Minggu kedua, dia senang mengambil gambar tentang air dan laut, dua hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupannya—sungguh bertolak belakang denganku yang menyukai angin dan gunung—ketika dia mendapatkan jatah libur dan pergi bersama sahabat-sahabatnya dan puteri kami, tentu saja, dia tak mengajakku, karena dia tahu apa jawaban dariku. Minggu ketiga, dia suka mengambil gambar tentang persona-persona yang menurutnya tepat dengan instingnya, seperti, seorang ibu tua yang menggendong potongan-potongan kayu besar dengan tubuh membungkuk saat dia melewati satu daerah sebelum menuju pantai, atau dengan diam-diam, dia mengambil foto Amara, kawan kantornya sekaligus kawan yang dirasa penting untuk mencurahkan isi hatinya saat dia kerepotan mengurus puteri kecil kami atau ketika terjadi konflik rumah tangga denganku. Minggu keempat, yang paling aku kagumi dari hasil jepretnya, adalah gambar-gambar tentang bidadari kecilku saat melakukan aktivitasnya, seperti menari balet, membaca buku anak-anak, menumpahkan kepenatan dengan mewarnai, bahkan ketika puteri kecilku tidur dengan posisi yang tak karuan. Namun, dari semua gambar yang diambilnya, tak satu pun ada foto atau gambar yang berbentuk landscape, dia lebih menyukai bentuk potrait.

“Kenapa semua berbentuk potrait?” tanyaku, saat melihat hasil-hasilnya.

Sambil memegang gelas berisi air putih dan menggoyang-goyangkan gelasnya, dia berkata: “Aku menyukai kedekatan, potrait adalah ilusi tentang kedekatan; lain dengan landscape.”

Lalu, aku mencoba sedikit menggodanya, “Mulai berfilsafat, Nyonya.”

“Ha-ha, oh tuan penulis, bukankah filsafat ini kamu yang mengajarkan.” katanya, sambil meletakkan gelas di bufet ruang keluarga, mulai berjalan perlahan-lahan, duduk disampingku dan senyum kemenangan mengembang, dan melanjutkan, “karena dengan bentuk potrait, aku menemukan diriku yang sebenarnya, yang tak bisa diberikan oleh bentuk landscape.”

Ya Tuhan, kataku dalam hati, menggerutu tentang betapa gigihnya dia dalam berprinsip. Namun, justru di sanalah aku semakin mencintainya. Seorang perempuan yang dari luar terlihat lemah-gemulai, namun di dalamnya, dia memiliki suatu bangunan kokoh yang mana godam-godam opiniku tak mampu meruntuhkannya. Tubuhnya yang sedikit menggemuk paska tujuh tahun kelahiran Daras, yang dibalut dengan V-Neck sweater woman berwarna cokelat gelap, bergeser mendekat, lebih dekat kepadaku. “Sayang, dari semua gambar tersebut, mana yang kamu suka?”

Aku kemudian melompat dari satu gambar ke gambar yang lain dari camera Sony Cybershot-nya. Aku menemukan satu foto yang mana Daras menampakkan punggung kecilnya dan sedang mengajari kawan-kawannya berbentuk boneka Charlie Brown dan Masha untuk berhitung di dua kursi kecil. Satu meja kecil yang disulapnya menjadi sebuah kelas. Istriku tertawa dan dia mulai bercerita bagaimana proses pengambilan gambar tersebut:

Pada suatu hari, ketika aku pergi ke rumah Prof. Atmodjo untuk membicarakan ajakannya dalam diskusi publik yang digagasnya dengan judul ‘Kemiskinan struktural: dari tanah desa ke tanah kota’, yang mana aku ditunjuk sebagai moderator acara; dan pada saat dia menjaga Daras dan melihat puteri kecilnya sedang bermain di kamar. Kamu coba hafalkan angka satu hingga lima, Charlie, kata Daras melalui penuturan kisah istriku yang menggelikan, dan melanjutkan; sedangkan kamu, Masha, dari angka enam hingga sepuluh. Istriku melihat satu momen yang menurutnya sungguh mengagumkan dan tak ingin kehilangan satu detik dari momen tersebut, lalu istriku berlari menuju kamar dan mengambil camera, setelah itu ketika Daras membelakanginya, istriku mengambil gambar berbentuk potrait tersebut. Istriku terus tertawa dan tak mampu menahan ingatan tentang ulah gadis kecilnya.

“Kamu tahu,” katanya kemudian, “kelak aku yakin, gadis kecilmu akan menjadi seorang yang akan memperjuangkan hak-hak kaumnya. Ah, Kartini kecilku.”

Aku mendesah berat.

“Kamu? Mendesah?” tanyanya, dengan melirikku. “Kamu tak senang?”

“Tentu saja, aku senang, namun…”

Ketika aku akan melanjutkan, mendadak istriku memotong.

“Namun apa? Namun kamu selalu hidup dalam impianmu tentang masa depan puterimu.”

“Bukan begitu maksudku.”

“Nggak!” tegasnya dan dia memasang wajah yang tak menyenangkan, “Kamu tahu, kita selalu hidup dalam pembenaran kita masing-masing!” Setelah berucap, dia berdiri dan akan meninggalkanku dengan rasa jengkel.

Sebelum istriku menjauh dan aku memegang tangan kanannya dengan tangan kiriku.

“Sayang, dengarkanlah, aku tak ingin berdebat denganmu.”

“Berdebat? Oh, jadi kau anggap percakapan kita ini dengan perdebatan? Aku bahkan tak berpikir ke arah tersebut. Ini hanyalah perbedaan cara pandang dan bukankah itu hal biasa, bahkan dalam rumah tangga.”

Ya Tuhan, kataku dalam hati. Sungguh betapa sulitnya menjinakkan cara berpikir perempuan yang aku kagumi karena kecerdasannya ini. Perempuan yang selalu gigih dalam mengejar dan memperjuangkan apa yang diinginkannya. Seorang kawan hidup layaknya bunga yang mekar mendewasa dengan indah karena tempaan-tempaan hidup yang telah dilakoninya. Seorang sahabat yang mengikhlaskan dirinya untuk mengisi gelas kaca kehidupanku yang kosong, tatkala aku belum bertemu dengannya, dengan kejernihan kasih yang diberikannya kepadaku secara tulus. Aku masih memegang tangan kanannya dengan tangan kiriku secara lembut. “Duduklah didekatku, aku mohon.”

Dia pun menurut.

“Mungkin kamu benar, bahwa kita selalu hidup dalam pembenaran kita masing-masing. Namun, yang aku takutkan selama ini adalah ketika pembenaran kita menunjukkan pada kita tentang kenyataan yang tak kita inginkan.”

Dia hanya terdiam dan masih menyimpan rasa jengkel terhadapku.

“Sayang,” sapaku dan aku menggerakkan tangan kananku di atas genggaman tangan kiriku pada tangan kanannya dengan kehangatan rasa kasih. “Aku beruntung memilikimu. Aku percaya bahwa apa yang kamu berikan pada Daras adalah hal terbaik. Kamu ingat, saat di bulan ketujuh saat kau mengandung gadis kecil kita yang cantik itu dengan kondisimu yang sulit, di mana kita, pada saat itu, masih menjadi pasangan muda yang mencoba mandiri dan ingin lepas dari orang tua kita masing-masing dalam bantuan ekonomi mereka. Kamu pun sering aku tinggal sendiri untuk mengisi acara literasi di kota lain demi keuangan rumah tangga kita. Aku menyadari, meskipun aku menjadi kepala keluarga, aku juga memerlukan kritik darimu dan kamu baru saja menyadarkanku. Aku berterima kasih kepadamu.”

Mendengar uraian panjangku, dia menoleh dengan kedua mata yang berkaca-kaca yang ingin menumpahkan air bening dari matanya.

“Kamu tak ingin memberikan pelukan hangat kepadaku?”

Dia tersenyum disertai rasa haru. Kedua kepala kami saling berpapasan, pelukan hangat yang kami lakukan mengingatkan pelukan-pelukan lain, ketika pertama kali aku menyatakan cinta, ketika aku melamarnya dengan sebuah novel sufistik tentang cinta hamba kepada Sang Pencipta yang tak terpermanai, ketika kami usai melangsungkan pernikahan, ketika dia merasakan momen untuk menjadi seorang ibu muda ketika jerit-tangis sesosok tubuh manusia kecil mengudara memenuhi ruangan. Ketika kami berpelukan itulah, tiba-tiba dari arah yang tak terduga, terdengar suara:

“Yah. Bu.”

Lalu kami melepaskan pelukan dan mencari sumber suara. Gadis kecil berponi yang mengenakan piyama tidur datang dengan tatanan rambut yang tak karuan hadir dengan membawa boneka Masha.

“Ah, gadis poniku, sudah bangun.” seru istriku. “Kemari, kemarilah, ibu ingin memangkumu.”

Ketika Daras duduk dipangkuan ibunya, aku melihat satu momen yang mengagumkan: dua perempuan dari generasi yang berbeda sedang menikmati keintiman relasi antara ibu dan anak.

“Baiklah, sekarang, ayah ingin mengambil fotomu dengan ibu, Daras. Nanti kamu senyum saat ayah sudah menghitung di angka tiga ya…” kataku yang masih tetap memegang camera Sony Cybershot-nya, segera menentukan posisi dan frame untuk mengambil gambar. Ketika aku telah menentukan posisi dan frame, Aku segera menghitung, “Satu…dua…tiiggg…Clap!”

Aku melihat satu gambar berbentuk potrait dari dua keindahan, senjaku dan mentariku, yang menawarkan warna terang dari setiap detik-detik langkah buramku dalam mengarungi gergasi arus modernitas peradaban yang dibungkus oleh sistem fungsionalisme struktural yang tak mengijinkan untuk menjadi manusia seutuhnya.