Belajar Pada ‘Kepintaran’ Merpati.

Izinkanlah aku / Menyingahi hatimu / Oh… Untuk berlabuh – Bunga (Album Terbang Tinggi), Naff (1).


Yogya habis hujan sore tadi, suasana yang nyaman untuk ngobrol yang lebih intim. Secara tak sengaja, ogut kesasar ke satu situs, id(dot)quora(dot)com. Dalam situs tersebut tertulis judul:

Benarkah pernyataan bahwa semakin pintar seorang wanita, maka semakin sulit ia mencari pasangan? Bagaimana menurutmu? (2)

Ogut merasa tak hanya wanita, bahkan pria, termasuk ogut, bila masuk kategori ‘pintar’—dan ogut sebenarnya bingung, yang dimaksud pintar itu seperti apa, sebab menurut ogut ada kepintaran yang dibentuk oleh bakat alam; dan ada kepintaran yang dibentuk oleh waktu, seperti ogut yang belajar otodidak bahasa Inggris selama empat tahun, belajar bahasa Prancis selama (hampir) tiga tahun dan belajar bahasa Jerman selama enam bulan, yang sebenarnya adalah pelarian dari kegagalan cinta sekitar enam/tujuh tahun lalu—akan sulit mencari pasangan.

Dalam konteks Islam, ogut selalu meyakini  An-Nisa ayat 1, bahwa Tuhan yang baik memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak dalam artian berpasangan seperti filosofi burung merpati, makhluk manis dari Tuhan yang setia dan tak pernah memiliki dendam di hati (2), seperti yang pernah disinggung oleh Prof. Quraish Shihab dalam karyanya, Dia Dimana-Mana, bahwa ada hal-hal yang mana hewan memiliki kelebihan yang menutupi kekurangan manusia; seperti Burung dijadikan manusia sebagai pesawat; atau kuda dijadikan manusia sebagai kendaraan bermotor.

Ogut adalah pengagum Ibnu Khaldun yang mana hadir dengan tesis, jangan berikan kesimpulan, melainkan berikanlah faktanya. Silakan baca sendiri dengan kesimpulan masing-masing namun ogut tertarik dengan satu pernyataan dalam situs tersebut:

“…anda hanya perlu menemukan satu orang sebagai pasangan hidup anda.”

Bila siapa pun telah menemukannya, perjuangkan relasi merpati itu hingga ajal menjemput. Semoga yang sedang bertengkar dengan pasangannya segera berdamai. Semoga yang belum dipertemukan segera bertemu. Semoga yang sedang mesra-mesraan tambah semakin mesra.

Salam sayang dan rindu dari Yogyakarta, kota syahdu, kota yang-yangan.

(1) https://www.youtube.com/watch?v=J4H3xx5Jpck

(2) https://id.quora.com/Benarkah-pernyataan-bahwa-semakin-pintar-seorang-wanita-maka-semakin-sulit-ia-mencari-pasangan-Bagaimana-menurutmu

(3) https://www.hipwee.com/narasi/belajar-dari-burung-merpati/

Iklan

Bicara dan Dengar: Interpreter dan Radio.

[German] Wie sind die Entwicklungen des Radios für Kinder, die in den 2000er Jahren geboren wurden? Ich, der 1989 geboren wurde, hatte die Chance, den Klang von Rundfunkveranstaltern zu spüren, die den Hörern in FM-Wellen wie ein Monolog zuhören.

Wie sind die Entwicklungen des Radios für Kinder, die in den 2000er Jahren geboren wurden? Ich, der 1989 geboren wurde, hatte die Chance, zufällige Songs von einem MD, einem Musikdirektor, zu spüren, und muss eine breite Auswahl an Referenzen und Songauswahl haben, wie ein Schriftsteller bei der Auswahl der Diktion.

Das Radio hat mir im Zusammenhang mit Dolmetschern sehr geholfen, vor allem wenn es um viele Themen im Sprachunterricht ging, wie beispielsweise Gespräche im Film Before Sunrise. Nichtformale Sprache von Jugendlichen im Radio von UGM, Swaragama, um mit Jugendlichen zu kommunizieren, die weit unter meinem Alter sind. Formale Sprachen im RRI-Radio zur Kommunikation mit Kollegen, die weit über meinem Alter liegen.

Und durch Streaming, den Prozess von Audioinhalten über das Internet, empfehle ich eine Reihe von Radios, die ich oft höre:

1. Swaragama, 101,7 FM, Radio von UGM.

2. Swara Koncotani Radio, Radio zum Lernen des Javanesisch (Mitte).

3. Radio Ardia, 104.1 FM, Radio speziell für Jazzmusik.

4) Radio Republik Indonesia, 91. 1 FM, Radio für indonesische Politik und Kultur.

*

[Indonesia] Apa kabar radio bagi anak-anak yang dilahirkan pada tahun 2000-an? Aku yang lahir pada tahun 1989, sempat merasakan bagaimana nikmatnya alunan suara penyiar yang bergerak ke telinga pendengar dalam gelombang FM, seperti suatu monolog.

Apa kabar radio bagi anak-anak yang dilahirkan pada tahun 2000-an? Aku yang lahir pada tahun 1989, sempat merasakan bagaimana nikmatnya lagu-lagu yang random atau acak dari seorang MD, music Director, yang diharuskan memiliki keluasan refrensi serta pemilihan lagu, seperti seorang penulis dalam pemilihan diksi.

Radio banyak membantuku dalam konteks Interpreter, khususnya speaking dalam bicara banyak tema dalam kelas bahasa, seperti percakapan dalam film Before Sunrise. Bahasa-bahasa non-formal di radio anak-anak UGM, Swaragama, untuk berkomunikasi dengan anak-anak yang berada jauh di bawah umurku. Bahasa-bahasa formal di radio RRI, untuk berkomunikasi dengan kolega-kolega yang berada jauh di atas umurku.

Dan melalui streaming, proses suatu konten dari audio melalui internet, kurekomedasikan beberapa radio yang sering kundengar:

1. Swaragama, 101.7 FM, radio anak UGM.

2. Radio Swara Koncotani, radio untuk belajar bahasa Jawa (tengah).

3. Radio Ardia, 104.1 FM, radio khusus musik Jazz.

4) Radio Republik Indonesia, 91. 1 FM, radio untuk politik dan kebudayaan Indonesia.

L’Agenda Quatorzième Jours (Catatan Harian Ke-14); 1 Januari 2019.

The Happy Ending Is You – Paint The Sky Red.

Au début de cette année, j’ai essayé de ne pas regarder en arrière, le temps passé. Au début de cette année, je donnerai une grande partie pour écrire sur l’avenir, le temps futur.

Pour moi, l’avenir est un foyer de possibilités pour tous, pour n’importe quoi. On ne peut que devine ça, et tout le monde a toujours peur des conséquences des résultats d’un échec pour l’avenir, qui ne fait pas. Cependant, depuis mon vingt-cinq ans, j’ai appris beaucoup de choses sur l’échec dans tous les aspects. Maintenant, en 2019, au présent, la maturité de la pensée et un apprentissage assez long, j’ai beaucoup réduit ma peur de l’échec, même s’il reste encore de cette peur; comme j’ai fait depuis deux ans.

Avec Le Dieu, je n’ai besoin d’avoir peur de n’importe quoi. Pendant ce temps, j’étais trop longtemps seul en termes de relations d’amour, de relations au sexe opposé, une femme. Je pense que la solitude que j’ai vécue jusqu’à présent suffit à donner beaucoup de leçons. Maintenant, j’ai une autre perspective, c’est qu’en aimant quelqu’un, alors c’est une bénédiction qui a été donnée par Dieu le Très-Grand.

Je crois que dans les jours à venir, Je rencontrerai de bons et merveilleux événements, l’un d’eux rencontre ma futur femme, elle m’aidera du trou noir tout ce temps.

Je crois, je crois encore, je dois croire et je croirai toujours en un avenir meilleur et ferai de son mieux pour lui – ma futur femme et mon futur enfant, pour Lui, Dieu.

*

Di awal tahun ini, aku mencoba untuk tak melihat ke belakang, masa lalu, past; Di awal tahun ini, aku akan memberikan porsi besar untuk menuliskan tentang masa depan, future.

Bagiku, masa depan adalah rumah kemungkinan bagi siapa saja, bagi apa saja. Kita hanya bisa menerkanya atau menduganya, dan setiap orang selalu ketakutan pada hasil berupa kegagalan tentang masa depan, yang belum dilaksanakan. Namun, sejak umur duapuluh lima, aku telah belajar banyak hal tentang kegagalan dalam aspek apa pun. Kini, di tahun 2019, di masa sekarang, dengan bertambahnya usia, dengan semakin matangnya pemikiran, dan melalui pembelajaran yang cukup panjang, aku telah banyak mereduksi ketakutan pada kegagalan, walaupun masih ada sisa-sisa ketakutan itu; dan aku telah mantap untuk melangkah ke depan, seperti yang telah aku lakukan selama dua tahun terakhir.

Bersama Tuhan Yang Maha Agung, aku tak perlu takut pada apa pun. Selama ini, aku terlalu lama sendiri dalam arti relasi tentang cinta, relasi pada lawan jenis, seorang perempuan. Aku berpikir bahwa kesendirian yang selama ini telah aku alami cukup memberikan banyak pelajaran. Kini, aku memiliki cara pandang lain, bahwa dengan mencintai seseorang, maka hal tersebut adalah suatu berkah yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Agung.

Aku percaya bahwa di hari-hari ke depan, aku akan menemui kejadian-kejadian baik dan mengagumkan, salah satunya adalah bertemu dengan pasangan sejatiku, yang akan menolongku dari lubang kegelapan selama ini.

Aku percaya, aku masih percaya, aku harus percaya dan aku akan selalu percaya, pada masa depan yang lebih baik, dan melakukan yang terbaik untuknya—calon istri dan calon anakku, untuk-Nya.

Surat untuk gadis kecilku dan para (keturunan) petani: Suatu pertentangan ilmu pengetahuan?

À cette époque, l’économie était submergée par des mathématiques très abstraites, explique Christian Gollier, directeur adjoint de TSE. Jean s’est inscrit à contre-courant, dans des problématiques très concrètes.

[Di masa lalu, ekonomi tenggelam oleh matematika yang sangat abstrak, jelas Christian Gollier, direktur TSE. Jean—Peraih nobel ekonomi 2014—melawan arus, dalam problem-problem yang sangat konkrit] – Matthieu Ravaud, tentang gagasan Jean Tirole, Aset, Ekonomi, Perusahaan, Pajak, Sistem Prancis. (1)

Hari ini, calon bapakmu masih menikmati kota tumbuh kembangnya dan melanjutkan untuk mengunjungi satu tempat yang telah lama tak dikunjungi, Villa Bukit Tidar, daerah Genting. Daerah ini, Nak, semasa es-em-pe, masih seperti hutan, hanya suara jengkerik yang terdengar; namun, kini, suara jengkerik menghilang berganti suara deru kendaraan penduduk setempat. Calon bapakmu hanya bisa mendesahkan nafas dalam-dalam, ketika berangkat dari rumah dan telah mencapai satu perumahan lama, tempat di mana masa kecil calon bapakmu dihabiskan di tempat tersebut bersama kawan-kawan masa kecil calon bapakmu, Perumahan Joyo Grand.

Tujuan calon bapakmu ada dua: 1) Dari Perum Joyo Grand ke Villa Bukit Tidar, terdapat jalan tanjakan yang cocok untuk berolahraga, khususnya untuk mendaki gunung, dan jika kamu ingin naik Gunung Elbrus, maka kamu harus menyiapkan kondisi tubuh, dalam istilah olahraga, khususnya mendaki gunung, seperti: Itenerary, perbedaan antara Hiking- Mountainering-Treking, Bonus. Nah yang calon bapakmu lakukan adalah olahraga Treking. Semoga, nanti, calon bapakmu dan calon ibumu—yang entah di mana—bisa mendaki Elbrus bersama-sama dan menceritakan pengalaman padamu; 2) Melihat sawah dari calon kakekmu bersama sayur-mayurnya. Sekalipun calon bapakmu telah ter-brainwash oleh pendidikan Barat, khususnya Eropa, namun calon bapakmu tak akan lupa pada akarnya sebagai seorang keturunan petani. Tokoh muda Nahdlatul Ulama yang calon bapakmu kagumi, pernah menulis seperti ini dalam blognya, yang sampai detik ini masih calon bapakmu simpan baik-baik: Sejauh-jauhnya aku belajar ke luar negeri, aku toh tetap santri. (2) Pun demikian dengan calon bapakmu, Sejauh-jauhnya aku belajar ke luar negeri, aku toh tetap petani.

Selangkah demi selangkah, calon bapakmu menapaki jalan aspal dari Perum Joyo Grand ke Villa Bukit Tidar. Mata calon bapakmu menangkap banyaknya perubahan yang terjadi: Perumahan, Cafe, Masjid, et cetera. Calon bapakmu, bukan Sherlock Holmes yang ingin menyelematkan dunia dari cara kotor ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Prof. Moriarty; calon bapakmu hanya seorang keturunan petani yang diberikan kenikmatan oleh Tuhan berupa merasakan pendidikan Barat, Eropa.

Pertanian kini bukan pertanian saat Hatta menuliskan bahwa sistem Sosialisme paling ideal untuk Indonesia adalah sistem yang ada di desa: kerja sama, tolong menolong. Kini, di era calon bapakmu yang sangat modern, kata ‘kerja sama, tolong menolong’ dapat disamakan dengan kolaborasi. Dari kolaborasi itulah, calon bapakmu menggunakannya sebagai tool dalam ilmu pengetahuan. Pertanian, tak bisa hidup tanpa ilmu-ilmu yang lain. Saat memotret yang entah ke berapa kalinya, saat berhenti memandang Gunung Arjuno dari kejauhan, calon bapakmu sempat berpikir: Jika pembangunan secara masif tak diatur, tak ada lahan untuk menanam secara alami dari tanah, maka pertanian akan masuk dalam laboratorium: rekayasa cabai, rekayasa petai, rekayasa padi, rekayasa lain-lain…

Tak hanya itu,

Didikan calon kakekmu yang keras, bukan kasar, dalam artian apa yang calon bapakmu inginkan, maka calon bapakmu harus memulai, berusaha-berjuang, pelajari kegagalan, temukan solusi. Dari hal-hal seperti, memulai, berusaha-berjuang, pelajari kegagalan, temukan solusi, plus cara pandang visioner, calon bapakmu tak tertarik untuk menjadikan sawah kakekmu sebagai bangunan, meskipun background pendidikan dari calon bapakmu adalah Teknik Sipil dan Bangunan. Calon bapakmu menduga bahwa di masa depan, perang ketahanan pangan akan sangat riuh, seriuh lalu lalang kendaraan yang melintas. Calon bapakmu lebih senang melihat sawah dari kakekmu menumbuhkan sayur-mayur, dan tentu saja tanpa rekayasa ilmu pengetahuan.

Semoga tahun ini, 2019, adalah tahun di mana calon bapakmu dipertemukan dengan calon ibumu yang manis itu, Nak. Dan satu hal, jangan malu punya calon bapak seorang (keturunan) petani yang mengenyam pendidikan Barat, Eropa.

Salam sayang dan rindu. Amin.

(1) https://lejournal.cnrs.fr/articles/jean-tirole-prix-nobel-deconomie

(2) https://fayyadl.wordpress.com/2012/12/19/des-feuilles-de-paris/

Bacaan lain tentang Jean Tirole di surat kabar Le Monde:

() https://www.lemonde.fr/economie/article/2014/10/13/le-prix-nobel-d-economie-distingue-le-francais-jean-tirole_4505250_3234.html