Les Mots-Valises.

(Dua kata yang digabungkan menjadi satu untuk membentuk kata terma atau definisi baru)

1. Plan: Rencana (istilah ekonomi) dan Annonceur: pemasangan iklan (istilah publisistik).

Plan+Annonceur = Plannonceur (Rencana pemasangan iklan; ekonomi dan publisistik).

Plannonceur est le nouveau term dans le domain de la publicité. Le mot de «Plan» est prendre de la stratégie d’économie; alors, le mot d’«Annonceur» est prende d’operation de communication.

Plannonceur, Rencana pemasangan iklan adalah terma baru dalam domain periklanan. Kata ‘Plan’ diambil dari strategi ekonomi; lalu, kata ‘Annonceur’ diambil dari operasi komunikasi.

2. Bilingue: dua bahasa (istilah bahasa) dan Guêpe (istilah fauna): Tawon.

Bilingue+Guêpe = Bilinguêpe (Tawon dengan dua bahasa).

Noun. Masculin. Animal qui est deja créée par les chercheurs en forme de robot pour aider les enfants qui a difficulte d’apprendre le langue.

Kata benda. Kata benda jenis maskulin. Seekor hewan yang diciptakan oleh para peneliti dalam bentuk robot untuk membantu anak-anak yang memiliki kesulitan belajar bahasa.

Iklan

Seni Rima.

– Persembahan agung untuk para pembuat lirik (lirisis) yang sangat dihargai di Seni/Budaya Prancis.

Sur La Ville (Tentang Kota)

Je me lève sur la terre dans la mont[agne] A

Devant-moi, je regarde à ma v[ille] B

A cote de moi, je raconte pour lui qui comp[agne] A

Il/elle repond-moi que ma ville est comme la ville de L[ille] B

Pelafalan:

[zemelev su later dong lamontayn

devangmwa, ze regad a maviy

akotedemwa, ze rakong pur lui ki kompayn

ilrepongmwa ke maviy e kom laviy de liy]

Indonesia:

Aku berdiri di atas tanah pegunungan

Dihadapanku, aku melihat kotaku

Disisiku, aku bercerita untuknya yang menemani

Ia/dia membalasku bahwa kotaku seperti Kota Lille

Aksentuasi (pemberian tekanan suara pada suku kata atau kata).

– Untuk seorang kawan di bidang sineas/film di Universitas Muhammadiyah Malang–dan apa kabar Madame Hannah Al Rashid.

Semasa kuliah, jika tepat, ogut pernah diajak oleh kawan baik ogut, Anak UMM Malang, di es-em-a untuk main film di PH-nya sebagai figuran. 3 kali scene, seingat ogut. Pengalaman menegangkan dihadapan kamera untuk main film. Membaca script film dan kemudian improvisasi.

Ada tarikan waktu antara momen pada main film saat itu ke momen di mana mempelajari bahasa yang maniak/fanatik dengan film: kurang-lebih 9 tahun yang lalu, dan catatan tambahan, di budaya Prancis, semua judul film di luar bahasa Frankofon harus di-Prancis-kan.

Di dalam script film terdapat susunan teks yang hampir mirip dengan naskah drama, dan ada pula istilah seperti tokoh dialog, beat, dan dialog (1). Dalam dialog, tak hanya tentang bagaimana teks dibentuk, melainkan ada emosi yang harus dimainkan dalam suatu bunyi atau suara pada kata-kata yaitu aksentuasi (2). Dalam gambar ada tulisan:

Je VEUX un bonbon (lafal: ze Ve (nada tinggi/pelan) angbongbong) [Aku ingin permen].

Dalam olah vokal ada term-term yang hampir mirip dengan aksentuasi semacam artikulasi perihal kejelasan vokal huruf hidup; intonasi lebih ke nada bicara tinggi/rendah; Phrasering, penggalan kalimat (3).

(1) http://idseducation.com/articles/contoh-format-skenario-film/

(2) https://kbbi.web.id/aksentuasi

(3) http://xp-dc.blogspot.com/2013/02/melatih-pelafalan-intonasi-jeda.html / http://publicspeakingmalang.blogspot.com/2017/01/olah-vokal-dalam-public-speaking.html

Parenting meet science.

“It is easier to build strong children than to repair broken men.” –Frederick Douglass.

Anak: Yah, kemarin aku main sepeda ke jalan X, jalannya mulus dan sepi; tapi di dekat mall, di jalan Y yang ramai, jalannya melengkung. Kok bisa ya, Yah?

Ayah: Oh, masalah itu. Gimana ya njelasinnya, oke gini aja. Setiap kendaraan punya bebannya masing-masing, truck atau mobil pribadi. Di jalan X, tak di lalui truck atau mobil pribadi, jalan masih rata; tapi beda dengan jalan Y, yang setiap hari dilalui, truck atau mobil pribadi dengan bebannya masing-masing, maka jalan tidak rata lagi tapi melengkung dan mengalami kejenuhan.

Anak: Jalan bisa jenuh, Yah?

Ayah: Bisa dong, kan produk manusia. Nah, nanti, jika sudah dewasa seperti ayah, maka kamu juga punya beban pada keluarga kecilmu, pada anak dan istrimu. Akan tetapi, beban itu bisa diminimalisir dengan pondasi-pondasi tanah yang kuat.

Anak: Apa Yah pondasi itu?

Ayah: 1) Cinta. 2) Perjuangan. 3) Pengorbanan. 4) Kepercayaan. 5) Harapan.

Anak: Wah, aku ngerti sekarang. Makasih ya, Yah.

Fuite Des Cerveaux.

I see white / Bright flashes of souls of those I know / They are so bright / They are so controlled / They won’t let go / And this vision – Synthesis of classic forms (album End Transmission, 2002), Snapcase.

Suatu term tentang peneliti—musik, kuliner, olahraga, sosial, iptek dan lain-lain—dari negara X yang kemudian terbang dan melanjutkan studi di negara Y. Ketika peneliti dari negara X selesai studi, akan kembali ke negaranya, dan kinerjanya baik, suatu institusi dari negara Y memberikan tawaran yang membuatnya harus berkompromi untuk menggadaikan nasionalisme-nya. Dalam konteks ini, peneliti memiliki alasan kuat:

Lingkungan penelitian yang tak dimiliki di negara X; 2) Negara Y memberikan apresiasi yang tinggi—seperti bayaran tinggi, pendidikan-kesehatan bagi istri dan anak si peneliti—yang mana negara X tak memberikannya; seperti perawatan gigi anak oleh dokter gigi di Denmark diberikan secara gratis sejak anak umur 1,5 tahun sampai 17 tahun; atau Subhanallah, disini saya benar-benar merasa disupport; atau salah satu programnya adalah spouse program, yakni program berdurasi 6 bulan yang tujuannya adalah untuk membantu suami/istri dari mahasiswa/pekerja international untuk mendapatkan pekerjaan di Denmark. (1)

Apabila negara X tak segera membenahi sistem yang ada bagi para peneliti muda, dan para stakeholder lebih senang membangun citra partai demi kekuasaan, percayalah negara X akan kehilangan Habibie-Habibie muda yang brilian, yang buah kerjanya justru diminati oleh negara Y.

Seperti mengingat judul lagu band Hardcore Jakarta Timur, Lost Sight: For those who care—to young Indonesian.

(1) Mamarantau Denmark—salah satu negara skandinavia dengan corak ekonomi mix/campuran sosialisme-kapitalisme https://mamarantau.com/2018/01/18/merantau-di-aalborg-denmark/

() Denmark dan Skandinavia Lebih Sosialis dari Negara Komunis https://www.kompasiana.com/terlambang/59c84a5f63a8e664a40e9352/denmark-dan-skandinavia-lebih-sosialis-dari-negara-komunis

Catatan Harian ke-15 (17-18 Januari 2019).

[Indonesia]

17 Januari 2019.

Sampai pada batas tingkatan pada kelelahan apakah perjuangan itu? Aku tak bisa menjawab. Aku hanya bisa menjalani segalanya dengan sisa tenaga yang ada. Aku terus memotivasi diriku untuk selalu tegak di jalan yang sedang aku lalui saat ini, meski aku juga tahu bahwa aku memerlukan motivasi dari orang lain, seperti kekasih, dan aku bukan orang yang bisa hidup sendirian, sebab berjuang bersama orang terkasih adalah hal yang menakjubkan.

Perjuangan adalah bapak dari segala hal, kata Hatta mengutip filsuf Herakleitos.

Kelas Prancis baru telah dimulai. Kawan lama hilang, kawan baru datang. Aku selalu belajar untuk beradaptasi dengan situasi seperti itu selama hampir tiga tahun ini. Kawan-kawan baru menyenangkan, memberikan suatu kesegaran dan dorongan semangat baru untuk menyelesaikan segalanya.

Pada kelas Prancis itu, aku mendapati banyak hal seperti formasi pendidikan di Prancis: 1) BAC General, BAC Technologie dan BAC Professional. Pada BAC General ada struktur yang dinamakan L-S-ES yaitu Literature-Scientifique-Economique et Social; sedangkan BAC Technologie ada Technique Ingenieur dan Gestion; dan BAC Professional ada Imprimerie untuk bekerja.

Lalu terdapat perdebatan antara sistem pendidikan di Prancis dan Indonesia. Dari pengalamanku secara personal, seperti halnya manusia, pendidikan memiliki keunikannya masing-masing; namun, aku sedang tertraik dengan sistem pedagogi yang diajarkan padaku. Aku mengajukan satu tesis bahwa di Indonesia tak memiliki sistem pedagogi yang membuat aku merasa kreatif dan inovatif untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan; sementara, di Indonesia, pendidikan masih terlalu baku/formal, sangat rigor.

Lalu perdebatan lain adalah apakah dengan menjadi murid yang baik akan memiliki pekerjaan yang baik? Dalam kelompok yang dibagi menjadi dua, kelompokku menjawab bahwa sebelum memberikan kesimpulan pada pertanyaan itu, kami harus masuk ke dalam sistem pemikiran untuk menentukan kriteria seperti apa yang dimaksud dengan ‘murid baik.’ Lalu kami menentukan beberapa kriteria seperti faktor kapasitas, faktor kompetensi, faktor keberuntungan, faktor inovasi dan kreativitas dan pengaruh dari situasi atau kondisi.

Seusai kelas, aku menemani temanku yang lain, dari kelas conversation, seorang pengajar Arsitektur, seumuranku, di Universitas Atmajaya dan mengobrolkan banyak hal. Dan kami melupakan bahwa hari itu debat calon presiden Indonesia sedang berlangsung, hujan pun turun dengan sangat lebat.

18 Januari 2019.

Badanku lelah, namun bagaimana pun aku harus memulai hari, sangat berat, meski tak ada semangat. Aku menjalani hari seperti biasanya dengan penuh kejenuhan dan mengharapkan suatu sensasi baru dari seseorang yang benar-benar mencintaiku seperti apa adanya. Pukul sembilan pagi, aku memulai kelas Prancis kembali. Singkat cerita, aku mendapatkan hal lama yang bisa diperbarui seperti tentang diskurs langsung dan tak langsung dalam bahasa Prancis.

A (Orang Pertama) – B (Orang Kedua) – C (Orang Ketiga) – A (Orang Pertama)

Mudahnya seperti ini: Si A menelpon Si B tentang suatu hal, tentang Si C; setelahnya, Si B melaporkan hasil percakapan dari Si A pada Si C.

Kemudian berlanjut dengan bahasan tentang Survey (atau Sondage). Survey ini sangat penting untuk melihat tingkatan seperti ‘sangat puas (très satisfaisante)’, ‘cukup puas (Assez satisfaisante),’ ‘Sedikit puas (Peu Satisfaisante),’ ‘sama sekali tak memuaskan (Pas du tout satisfaisante)’ dan ‘tanpa opini (sans opinion)’. Setelah survey dilakukan dalam statistik dan angka kemudian kita dapat menariknya menjadi suatu kesimpulan berupa data (les données). Survey ini cukup penting untuk melakukan suatu evaluasi pada apa yang telah dikerjakan dan apabila mencapai titik ‘sangat puas’ tergantung bagaimana kita mampu menjaga bersama kestabilan dan apabila berada dalam tingkatan ‘sedikit puas’ atau ‘sama sekali tak memauskan’ tergantung bagaimana kita mampu memperbaikinya untuk mencapai tingkatan ‘sangat puas.’ Kelas pun berakhir dan aku merasa sangat lelah dan tak enak badan.

Pada malam harinya, aku mengumpulkan sedikit bahan untuk penelitian tentang Kota Malang dari berbagai sumber, suatu proyek panjang bagiku. Perasaan melankoliku pun hadir, entah kenapa. Sebentar lagi akan mencapai umur kepala 3, dan aku masih tetap sendiri, dan aku masih berharap bahwa seseorang perempuan akan hadir untuk menyegarkan kehidupanku yang kering selama enam hingga tujuh tahun ini.

[German]

17 Januari 2019.

Inwiefern ist Müdigkeit in diesem Kampf? Ich kann nicht antworten, Ich kann nur mit dem Rest meiner Energie in allem leben. Ich motiviere mich immer, auf dem Weg zu stehen, den ich gerade durchmache, auch wenn ich weiß, dass ich Motivation von anderen Menschen brauche, wie von meinem Geliebten, und ich bin kein Mensch, der alleine leben kann, weil es eine erstaunliche Sache ist, mit meinem Geliebten zu kämpfen.

Der Kampf ist der Vater aller Dinge, zitiert Hatta den Philosophen Herakleitos.

Ein neuer Französischklasse hat begonnen. Der alte Freund war gegangen, der neue Freund war angekommen. Ich habe immer gelernt, mich an die Situation anzupassen, so wie es fast drei Jahre war. Die neuen Freunde machen Spaß und geben Frische und neuen Mut, um alles zu lösen.

In der Französischklasse, Ich habe viele Dinge wie die Bildungsform in Frankreich gefunden: „BAC General“, „BAC Technologie“ und „BAC Professional“. Beim „BAC General“ gibt es eine Struktur namens „L-S-ES“, nämlich „Literature-Scientifique-Economique et Social“; während „BAC Technologie“ „Ingenieur“ und „Gestion Technique“ hat; und „BAC Professional“ haben „Imprimerie“ zu arbeiten.

Dann gab es die Debatte zwischen dem Bildungssystem in Frankreich und Indonesien. From my personal experience, as well as in humans, education has its own uniqueness; Ich interessierte mich jedoch für das pädagogische System, das mir beigebracht wurde. Ich habe eine These aufgestellt, dass es in Indonesien kein pädagogisches System gab, das mich kreativ und innovativ fühlt, um einen Job zu schaffen; In Indonesien war die Ausbildung noch zu formal und sehr streng.

Eine weitere Debatte war, ob ein guter Student einen guten Job haben wird? In einer zweigeteilten Gruppe, meine Gruppe hat darauf geantwortet, bevor die Frage abgeschlossen wurde, Wir müssen in das Denksystem einsteigen, um zu bestimmen, welche Kriterien von „guten Schülern”. Anschließend bestimmen wir verschiedene Kriterien wie Kapazitätsfaktoren, Kompetenzfaktoren, Glücksfaktoren, Innovations- und Kreativitätsfaktoren sowie den Einfluss der Situation oder des Zustands.

Nach dem Unterricht begleitete ich meinen anderen Freund aus der Konversationsklasse, einen Architekturlehrer an der Atmajaya University, und sprach über viele Dinge. Und wir haben vergessen, dass an diesem Tag die Debatte der indonesischen Präsidentschaftskandidaten stattfand und der Regen sehr stark fiel.

18 Januari 2019.

Mein Körper war müde, aber schließlich musste ich den Tag beginnen, es war sehr schwer, obwohl es keinen Geist gab. Ich habe den Tag wie üblich mit voller Langeweile durchgemacht und erwarte ein neues Gefühl von jemandem, der mich so liebt, wie ich bin. Um neun Uhr morgens, Ich habe die Französischklasse angefangen. Kurz gesagt, ich bekam alte Dinge, die aktualisiert werden könnten, wie zum Beispiel direkter und indirekter Diskurs auf Französisch.

A (Erste Person) – B (Zweite Person) – C (Dritte Person) – A (Erste Person)

So einfach war das: Si A ruft Si B über etwas, über Si C; Danach meldet Si B die Ergebnisse der Konversation von Si A zu Si C.

Dann die Diskussion über Umfrage (oder Sondage). Diese Umfrage war sehr wichtig für Sägegrade wie „sehr zufrieden (très satisfaisante)”, „ziemlich zufrieden (Assez satisfaisante)”, „etwas zufrieden (Peu Satisfaisante)”, „völlig unbefriedigend (Pas du tout satisfaisante)” und „ohne Stellungnahme (sans opinion)”. Nachdem die Umfrage in Statistiken und Zahlen durchgeführt wurde, konnten wir sie in Form von Daten (les données) zu einem Schluss ziehen. Diese Umfrage war wichtig genug, um eine Bewertung dessen durchzuführen, was gemacht wurde und ob es den Punkt „sehr zufrieden” erreicht, abhängig davon, wie wir die Stabilität aufrechterhalten konnten und ob auf der Ebene „ein wenig zufrieden” oder „nicht alle”je nachdem, wie wir es beheben konnten, um das Niveau „sehr zufrieden” zu erreichen. Der Unterricht endete und ich fühlte mich sehr müde und fühlte mich nicht gut.

Am Abend sammelte ich aus verschiedenen Quellen ein kleines Forschungsmaterial über Malang City, ein langes Projekt für mich. Aus irgendeinem Grund war ein melancholisches Gefühl vorhanden. Bald werde ich das Alter von drei Köpfen erreichen, und ich bin immer noch alleine und hoffe immer noch, dass jemand kommt, um mein trockenes Leben für sechs bis sieben Jahre aufzufrischen.

Belajar Pada ‘Kepintaran’ Merpati.

Izinkanlah aku / Menyingahi hatimu / Oh… Untuk berlabuh – Bunga (Album Terbang Tinggi), Naff (1).


Yogya habis hujan sore tadi, suasana yang nyaman untuk ngobrol yang lebih intim. Secara tak sengaja, ogut kesasar ke satu situs, id(dot)quora(dot)com. Dalam situs tersebut tertulis judul:

Benarkah pernyataan bahwa semakin pintar seorang wanita, maka semakin sulit ia mencari pasangan? Bagaimana menurutmu? (2)

Ogut merasa tak hanya wanita, bahkan pria, termasuk ogut, bila masuk kategori ‘pintar’—dan ogut sebenarnya bingung, yang dimaksud pintar itu seperti apa, sebab menurut ogut ada kepintaran yang dibentuk oleh bakat alam; dan ada kepintaran yang dibentuk oleh waktu, seperti ogut yang belajar otodidak bahasa Inggris selama empat tahun, belajar bahasa Prancis selama (hampir) tiga tahun dan belajar bahasa Jerman selama enam bulan, yang sebenarnya adalah pelarian dari kegagalan cinta sekitar enam/tujuh tahun lalu—akan sulit mencari pasangan.

Dalam konteks Islam, ogut selalu meyakini  An-Nisa ayat 1, bahwa Tuhan yang baik memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak dalam artian berpasangan seperti filosofi burung merpati, makhluk manis dari Tuhan yang setia dan tak pernah memiliki dendam di hati (2), seperti yang pernah disinggung oleh Prof. Quraish Shihab dalam karyanya, Dia Dimana-Mana, bahwa ada hal-hal yang mana hewan memiliki kelebihan yang menutupi kekurangan manusia; seperti Burung dijadikan manusia sebagai pesawat; atau kuda dijadikan manusia sebagai kendaraan bermotor.

Ogut adalah pengagum Ibnu Khaldun yang mana hadir dengan tesis, jangan berikan kesimpulan, melainkan berikanlah faktanya. Silakan baca sendiri dengan kesimpulan masing-masing namun ogut tertarik dengan satu pernyataan dalam situs tersebut:

“…anda hanya perlu menemukan satu orang sebagai pasangan hidup anda.”

Bila siapa pun telah menemukannya, perjuangkan relasi merpati itu hingga ajal menjemput. Semoga yang sedang bertengkar dengan pasangannya segera berdamai. Semoga yang belum dipertemukan segera bertemu. Semoga yang sedang mesra-mesraan tambah semakin mesra.

Salam sayang dan rindu dari Yogyakarta, kota syahdu, kota yang-yangan.

(1) https://www.youtube.com/watch?v=J4H3xx5Jpck

(2) https://id.quora.com/Benarkah-pernyataan-bahwa-semakin-pintar-seorang-wanita-maka-semakin-sulit-ia-mencari-pasangan-Bagaimana-menurutmu

(3) https://www.hipwee.com/narasi/belajar-dari-burung-merpati/

Bicara dan Dengar: Interpreter dan Radio.

[German] Wie sind die Entwicklungen des Radios für Kinder, die in den 2000er Jahren geboren wurden? Ich, der 1989 geboren wurde, hatte die Chance, den Klang von Rundfunkveranstaltern zu spüren, die den Hörern in FM-Wellen wie ein Monolog zuhören.

Wie sind die Entwicklungen des Radios für Kinder, die in den 2000er Jahren geboren wurden? Ich, der 1989 geboren wurde, hatte die Chance, zufällige Songs von einem MD, einem Musikdirektor, zu spüren, und muss eine breite Auswahl an Referenzen und Songauswahl haben, wie ein Schriftsteller bei der Auswahl der Diktion.

Das Radio hat mir im Zusammenhang mit Dolmetschern sehr geholfen, vor allem wenn es um viele Themen im Sprachunterricht ging, wie beispielsweise Gespräche im Film Before Sunrise. Nichtformale Sprache von Jugendlichen im Radio von UGM, Swaragama, um mit Jugendlichen zu kommunizieren, die weit unter meinem Alter sind. Formale Sprachen im RRI-Radio zur Kommunikation mit Kollegen, die weit über meinem Alter liegen.

Und durch Streaming, den Prozess von Audioinhalten über das Internet, empfehle ich eine Reihe von Radios, die ich oft höre:

1. Swaragama, 101,7 FM, Radio von UGM.

2. Swara Koncotani Radio, Radio zum Lernen des Javanesisch (Mitte).

3. Radio Ardia, 104.1 FM, Radio speziell für Jazzmusik.

4) Radio Republik Indonesia, 91. 1 FM, Radio für indonesische Politik und Kultur.

*

[Indonesia] Apa kabar radio bagi anak-anak yang dilahirkan pada tahun 2000-an? Aku yang lahir pada tahun 1989, sempat merasakan bagaimana nikmatnya alunan suara penyiar yang bergerak ke telinga pendengar dalam gelombang FM, seperti suatu monolog.

Apa kabar radio bagi anak-anak yang dilahirkan pada tahun 2000-an? Aku yang lahir pada tahun 1989, sempat merasakan bagaimana nikmatnya lagu-lagu yang random atau acak dari seorang MD, music Director, yang diharuskan memiliki keluasan refrensi serta pemilihan lagu, seperti seorang penulis dalam pemilihan diksi.

Radio banyak membantuku dalam konteks Interpreter, khususnya speaking dalam bicara banyak tema dalam kelas bahasa, seperti percakapan dalam film Before Sunrise. Bahasa-bahasa non-formal di radio anak-anak UGM, Swaragama, untuk berkomunikasi dengan anak-anak yang berada jauh di bawah umurku. Bahasa-bahasa formal di radio RRI, untuk berkomunikasi dengan kolega-kolega yang berada jauh di atas umurku.

Dan melalui streaming, proses suatu konten dari audio melalui internet, kurekomedasikan beberapa radio yang sering kundengar:

1. Swaragama, 101.7 FM, radio anak UGM.

2. Radio Swara Koncotani, radio untuk belajar bahasa Jawa (tengah).

3. Radio Ardia, 104.1 FM, radio khusus musik Jazz.

4) Radio Republik Indonesia, 91. 1 FM, radio untuk politik dan kebudayaan Indonesia.

L’Agenda Quatorzième Jours (Catatan Harian Ke-14); 1 Januari 2019.

The Happy Ending Is You – Paint The Sky Red.

Au début de cette année, j’ai essayé de ne pas regarder en arrière, le temps passé. Au début de cette année, je donnerai une grande partie pour écrire sur l’avenir, le temps futur.

Pour moi, l’avenir est un foyer de possibilités pour tous, pour n’importe quoi. On ne peut que devine ça, et tout le monde a toujours peur des conséquences des résultats d’un échec pour l’avenir, qui ne fait pas. Cependant, depuis mon vingt-cinq ans, j’ai appris beaucoup de choses sur l’échec dans tous les aspects. Maintenant, en 2019, au présent, la maturité de la pensée et un apprentissage assez long, j’ai beaucoup réduit ma peur de l’échec, même s’il reste encore de cette peur; comme j’ai fait depuis deux ans.

Avec Le Dieu, je n’ai besoin d’avoir peur de n’importe quoi. Pendant ce temps, j’étais trop longtemps seul en termes de relations d’amour, de relations au sexe opposé, une femme. Je pense que la solitude que j’ai vécue jusqu’à présent suffit à donner beaucoup de leçons. Maintenant, j’ai une autre perspective, c’est qu’en aimant quelqu’un, alors c’est une bénédiction qui a été donnée par Dieu le Très-Grand.

Je crois que dans les jours à venir, Je rencontrerai de bons et merveilleux événements, l’un d’eux rencontre ma futur femme, elle m’aidera du trou noir tout ce temps.

Je crois, je crois encore, je dois croire et je croirai toujours en un avenir meilleur et ferai de son mieux pour lui – ma futur femme et mon futur enfant, pour Lui, Dieu.

*

Di awal tahun ini, aku mencoba untuk tak melihat ke belakang, masa lalu, past; Di awal tahun ini, aku akan memberikan porsi besar untuk menuliskan tentang masa depan, future.

Bagiku, masa depan adalah rumah kemungkinan bagi siapa saja, bagi apa saja. Kita hanya bisa menerkanya atau menduganya, dan setiap orang selalu ketakutan pada hasil berupa kegagalan tentang masa depan, yang belum dilaksanakan. Namun, sejak umur duapuluh lima, aku telah belajar banyak hal tentang kegagalan dalam aspek apa pun. Kini, di tahun 2019, di masa sekarang, dengan bertambahnya usia, dengan semakin matangnya pemikiran, dan melalui pembelajaran yang cukup panjang, aku telah banyak mereduksi ketakutan pada kegagalan, walaupun masih ada sisa-sisa ketakutan itu; dan aku telah mantap untuk melangkah ke depan, seperti yang telah aku lakukan selama dua tahun terakhir.

Bersama Tuhan Yang Maha Agung, aku tak perlu takut pada apa pun. Selama ini, aku terlalu lama sendiri dalam arti relasi tentang cinta, relasi pada lawan jenis, seorang perempuan. Aku berpikir bahwa kesendirian yang selama ini telah aku alami cukup memberikan banyak pelajaran. Kini, aku memiliki cara pandang lain, bahwa dengan mencintai seseorang, maka hal tersebut adalah suatu berkah yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Agung.

Aku percaya bahwa di hari-hari ke depan, aku akan menemui kejadian-kejadian baik dan mengagumkan, salah satunya adalah bertemu dengan pasangan sejatiku, yang akan menolongku dari lubang kegelapan selama ini.

Aku percaya, aku masih percaya, aku harus percaya dan aku akan selalu percaya, pada masa depan yang lebih baik, dan melakukan yang terbaik untuknya—calon istri dan calon anakku, untuk-Nya.

Surat untuk gadis kecilku dan para (keturunan) petani: Suatu pertentangan ilmu pengetahuan?

À cette époque, l’économie était submergée par des mathématiques très abstraites, explique Christian Gollier, directeur adjoint de TSE. Jean s’est inscrit à contre-courant, dans des problématiques très concrètes.

[Di masa lalu, ekonomi tenggelam oleh matematika yang sangat abstrak, jelas Christian Gollier, direktur TSE. Jean—Peraih nobel ekonomi 2014—melawan arus, dalam problem-problem yang sangat konkrit] – Matthieu Ravaud, tentang gagasan Jean Tirole, Aset, Ekonomi, Perusahaan, Pajak, Sistem Prancis. (1)

Hari ini, calon bapakmu masih menikmati kota tumbuh kembangnya dan melanjutkan untuk mengunjungi satu tempat yang telah lama tak dikunjungi, Villa Bukit Tidar, daerah Genting. Daerah ini, Nak, semasa es-em-pe, masih seperti hutan, hanya suara jengkerik yang terdengar; namun, kini, suara jengkerik menghilang berganti suara deru kendaraan penduduk setempat. Calon bapakmu hanya bisa mendesahkan nafas dalam-dalam, ketika berangkat dari rumah dan telah mencapai satu perumahan lama, tempat di mana masa kecil calon bapakmu dihabiskan di tempat tersebut bersama kawan-kawan masa kecil calon bapakmu, Perumahan Joyo Grand.

Tujuan calon bapakmu ada dua: 1) Dari Perum Joyo Grand ke Villa Bukit Tidar, terdapat jalan tanjakan yang cocok untuk berolahraga, khususnya untuk mendaki gunung, dan jika kamu ingin naik Gunung Elbrus, maka kamu harus menyiapkan kondisi tubuh, dalam istilah olahraga, khususnya mendaki gunung, seperti: Itenerary, perbedaan antara Hiking- Mountainering-Treking, Bonus. Nah yang calon bapakmu lakukan adalah olahraga Treking. Semoga, nanti, calon bapakmu dan calon ibumu—yang entah di mana—bisa mendaki Elbrus bersama-sama dan menceritakan pengalaman padamu; 2) Melihat sawah dari calon kakekmu bersama sayur-mayurnya. Sekalipun calon bapakmu telah ter-brainwash oleh pendidikan Barat, khususnya Eropa, namun calon bapakmu tak akan lupa pada akarnya sebagai seorang keturunan petani. Tokoh muda Nahdlatul Ulama yang calon bapakmu kagumi, pernah menulis seperti ini dalam blognya, yang sampai detik ini masih calon bapakmu simpan baik-baik: Sejauh-jauhnya aku belajar ke luar negeri, aku toh tetap santri. (2) Pun demikian dengan calon bapakmu, Sejauh-jauhnya aku belajar ke luar negeri, aku toh tetap petani.

Selangkah demi selangkah, calon bapakmu menapaki jalan aspal dari Perum Joyo Grand ke Villa Bukit Tidar. Mata calon bapakmu menangkap banyaknya perubahan yang terjadi: Perumahan, Cafe, Masjid, et cetera. Calon bapakmu, bukan Sherlock Holmes yang ingin menyelematkan dunia dari cara kotor ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Prof. Moriarty; calon bapakmu hanya seorang keturunan petani yang diberikan kenikmatan oleh Tuhan berupa merasakan pendidikan Barat, Eropa.

Pertanian kini bukan pertanian saat Hatta menuliskan bahwa sistem Sosialisme paling ideal untuk Indonesia adalah sistem yang ada di desa: kerja sama, tolong menolong. Kini, di era calon bapakmu yang sangat modern, kata ‘kerja sama, tolong menolong’ dapat disamakan dengan kolaborasi. Dari kolaborasi itulah, calon bapakmu menggunakannya sebagai tool dalam ilmu pengetahuan. Pertanian, tak bisa hidup tanpa ilmu-ilmu yang lain. Saat memotret yang entah ke berapa kalinya, saat berhenti memandang Gunung Arjuno dari kejauhan, calon bapakmu sempat berpikir: Jika pembangunan secara masif tak diatur, tak ada lahan untuk menanam secara alami dari tanah, maka pertanian akan masuk dalam laboratorium: rekayasa cabai, rekayasa petai, rekayasa padi, rekayasa lain-lain…

Tak hanya itu,

Didikan calon kakekmu yang keras, bukan kasar, dalam artian apa yang calon bapakmu inginkan, maka calon bapakmu harus memulai, berusaha-berjuang, pelajari kegagalan, temukan solusi. Dari hal-hal seperti, memulai, berusaha-berjuang, pelajari kegagalan, temukan solusi, plus cara pandang visioner, calon bapakmu tak tertarik untuk menjadikan sawah kakekmu sebagai bangunan, meskipun background pendidikan dari calon bapakmu adalah Teknik Sipil dan Bangunan. Calon bapakmu menduga bahwa di masa depan, perang ketahanan pangan akan sangat riuh, seriuh lalu lalang kendaraan yang melintas. Calon bapakmu lebih senang melihat sawah dari kakekmu menumbuhkan sayur-mayur, dan tentu saja tanpa rekayasa ilmu pengetahuan.

Semoga tahun ini, 2019, adalah tahun di mana calon bapakmu dipertemukan dengan calon ibumu yang manis itu, Nak. Dan satu hal, jangan malu punya calon bapak seorang (keturunan) petani yang mengenyam pendidikan Barat, Eropa.

Salam sayang dan rindu. Amin.

(1) https://lejournal.cnrs.fr/articles/jean-tirole-prix-nobel-deconomie

(2) https://fayyadl.wordpress.com/2012/12/19/des-feuilles-de-paris/

Bacaan lain tentang Jean Tirole di surat kabar Le Monde:

() https://www.lemonde.fr/economie/article/2014/10/13/le-prix-nobel-d-economie-distingue-le-francais-jean-tirole_4505250_3234.html