Membaca Sturridge: Dari penolakan ke penolakan menuju pembuktian.

Screenshot from 2018-09-30 02:17:01

Chelsea 1 – 1 Liverpool.

Murakami pernah berkata seperti ini, Sturridge: “Ketika kamu [di umur] 27 atau 28? Sangat sulit untuk hidup di usia itu. Ketika tidak ada yang pasti. Saya bersimpati dengan Anda. (1)” Tapi di menit 89, di Standford Brige, beberapa jam lalu, ketika menyerah pada kekalahan telah mencapai 99 persen, namun ada 1 persen yang mampu menghadirkan kemungkinan itu menjadi nyata.

Kemungkinan itu pun juga hadir mana kala kau membantu anak-anak muda yang tak memiliki kesempatan berkarir di level tertinggi, hanya mencicipi level Street League. Meskipun hanya level Street League, namun itu sangat berarti bagi seorang pemuda yang terus mengembangkan potensinya. Pemuda 20 tahun itu, Dale Williams, pernah berkata: “Saya sangat menikmati hari itu. Sungguh luar biasa bertemu Daniel Sturridge dan mendengar tentang bagaimana dia mengatasi hambatannya sendiri untuk mencapai tempat dia hari ini. Saya menemukan itu menginspirasi dan memotivasi. (2)”

Sebagai seorang striker dengan gaya bermain bak Thiery Henry, berada di umur 29 tahun dan hanya mendapatkan kesempatan bermain 15 laga di tahun 2017 dan dipinjamkan ke West Bromwich Albion; tak masuk dalam planning squad Klopp di 2017, apalagi kehadiran Salah (26 tahun), Firminho (26 tahun), dan Mane (26 tahun), bisa saja membuatmu frustasi. Murakami, sastrawan besar yang tak pernah mendapatkan hadiah nobel Sastra itu, mungkin perlu belajar kepadamu tentang bermain dengan kemungkinan—dan menumbuhkan harapan.

“Aku melakukan semua melalui Kristus yang menguatkanku,” ujarmu. (3)

Terima kasih untuk pembelajaran pertandingan kali ini, Stu. Buktikan pada Klopp dan setiap hari adalah pertandingan dan jalan meraih gelar masih terlalu panjang. Stu.

You’ll Never Walk Alone.

(1) https://www.brainyquote.com/quotes/haruki_murakami_219798

(2) Di masa-masa ekonomi yang penuh tantangan, pekerjaan yang dilakukan oleh Street League untuk membantu kaum muda menjadi lebih kompetitif di pasar kerja sangatlah relevan. Kami bangga dapat mendukung aspirasi generasi muda di seluruh negeri, memberikan efek positif kepada mereka, keluarga mereka, dan komunitas mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang. https://web.archive.org/web/20180131200942/https://www.hyundaipressoffice.co.uk/release/409/

(3) https://twitter.com/DanielSturridge/status/378554379328323585

Iklan

Robot Plastik.

a20180929_152402

Why can’t you want me like the other boys do? / They stare at me while I crave you – Flight Facilities – Crave you feat. Giselle (1)

Ide awal penggabungan tiga botol besar dan dua botol sedang adalah ketika mengingat film Warkop DKI dengan filmnya, Sama Juga Bohong (1), yang menurut personal sangat science-fiction dan melampaui zamannya. Ada banyak campuran domain seperti teknik sipil-arsitektur tentang dunia bangun yaitu kolom; ditambah ekologi dengan berusaha menjadikan recycle plastik; juga sudut pandang seni kontemporer; dan tujuannya sebagai mainan anak-anak atau untuk edukasi-parenting (2); pada akhirnya memiliki nilai jual—sebut ekonomi.

Saya memang sengaja tak membungkus (cover) dengan material yang saya sukai kain flanel untuk membuat boneka, sebab agar seorang anak mampu memahami proses dalam kerangka yang dikonstruksi dengan bagaimana tampak 2 dimensi diterjemahkan ke tampak 3 dimensi.

Selamat mencoba, selamat berakhir pekan dengan orang-orang terkasih.

(1) https://www.youtube.com/watch?v=r0bS-YnLf4s

(2) https://id.wikipedia.org/wiki/Sama_Juga_Bohong

(3) https://www.orami.co.id/magazine/pentingnya-mainan-edukasi-bagi-anak/

Momen Kesebelas: Sisi dan Kakeknya.

a20180925_164756

Show me, show me, show me how you do that trick / The one that makes me scream she said / The one that makes me laugh she said / Threw her arms around my neck / Show me how you do it and I’ll promise you / I’ll promise that I’ll run away with you, I’ll run away with you – Just Like Heaven, The Cure (1)

Setelah menonton berita politik di salah satu channel te-ve, Prof. R, 67 tahun, seorang pengajar Ekonomi, melangkah ke kamar kerjanya dan melihat dua rak kecil. Rak pertama adalah kumpulan pigura untuk puteranya yang tinggal bersamanya, dan yang kedua adalah pigura untuk puterinya yang kini tinggal bersama suaminya, seorang pengajar bahasa di suatu institut. Mata tua itu melihat sepuluh pigura beserta momen-momennya:

Pertama, momen kelahiran Daras; kedua, momen ketika merasakan taman kanak-kanak; ketiga, momen ketika mengenakan seragam putih-merah; keempat, momen ketika mengenakan seragam putih-biru; kelima, ketika merasakan seragam putih-abu; keenam, ketika puterinya meraih penghargaan debat dalam bahasa Jerman; ketujuh, momen ketika puterinya bekerja untuk kali pertama dan gaji pertamanya untuk menraktir ayah dan ibunya di suatu rumah makan; kedelapan, momen ketika seorang lelaki kiriman Ilahi yang datang dengan mengejutkan dan melamarnya; kesembilan, momen ketika puterinya menjadi ratu sehari dalam acara pernikahannya; dan yang terakhir, momen ketika puterinya menjadi seorang ibu dengan bayi ditangannya. Melihat itu semua, Prof. R, hanya bisa mendesah dalam-dalam menahan kerinduan. Suara cicit burung-burung gereja terdengar nyaring, terbang mengepakkan sayap dari pohon mangga ke kabel tiang listrik.

Di luar kamar kerjanya, Prof. R, mendengar suara mesin taksi yang menyala, yang terbawa angin pagi. Ia menyadari bahwa capaian angka 6 pada patokan umur bukanlah capaian angka 2 pada patokan umur. Di kepala 6, Prof. R, lebih banyak belajar untuk merefleksi diri, dan terus merefleksi diri; berbeda dengan masa mudanya di kepala 2, di mana segala ambisi serta impian adalah hal utama. Langkah kaki itu berjalan pelan dan membuka seluas mungkin salah satu jendela yang tertutup. Mata tuanya melihat satu sosok yang telah dikenalnya, intuisi seorang ayah pada anak perempuannya.

“Daras (2)?” gumamnya dalam hati. “Ah, mana mungkin? Bukankah jika dia pulang selalu mengabari aku lebih dahulu? Tapi, ya, itu Daras!”

Sesegera mungkin Prof. R mempercepat langkahnya ke teras rumah tua, hunian yang dihasilkan dari keringatnya selama bertahun-tahun. Suara taksi masih menyala dan dibarengi suara ucapan terima kasih. Setelah itu taksi pergi. Di bawah matahari pagi, perempuan 32 tahun itu membenarkan shwal (3) untuk menutupi payudara dan tubuh kecilnya dari atmosfer rumah yang selalu dirindukannya: dingin yang memberikan nuansa kesegaran yang bersahabat.

Empat meter jarak antara teras dan pagar kecil yang dirambati oleh bunga serta daun bugenvil (4), ketika dibalik kacamata tua, pupil matanya melihat gadis kecilnya yang kini telah menjadi seorang ibu muda. Pun demikian dengan Daras, kedua bibir itu mengembangkan senyumannya mana kala melihat sosok pahlawannya selama ini yang dengan kesabaran membesarkannya hingga menjadi seperti sekarang.

Dengan membenarkan kacamatanya, Prof. R bergumam kembali, “Tapi aneh, kenapa dia sendirian? Mana cucuku?”

Suara kersakan terdengar dari bunyi pagar kecil yang dirambati oleh bunga serta daun bugenvil.

“Psst, Sisi, sini, lihat siapa yang ada di teras rumah…”

“Siapa, Bu, Siapa, Bu?” tanya Sisi, gadis kecil 8 tahun, cucu Prof. R, yang sedang asyik memetik bunga bugenvil.

“Udah, bunganya nanti aja, lihat itu, Kakek.”

Mendengar suara ‘kakek’, gadis kecil itu segera membuang bunga yang dipetiknya dan berlari kecil menuju tempat di mana ibunya berdiri. Dan:

“Siiisiiii!”

“Kakeeek!”

Sisi membuka pagar kecil dan berlari menuju ke halaman rumah, pun demikian dengan Prof. R yang mempercepat langkahnya di usia kepala 6. Dua generasi yang sangat berbeda dunia itu bertemu dan akhirnya berpelukan. Suatu pelukan yang tak bisa tergantikan oleh angka-angka di pasar saham Eropa (5). Daras tersenyum, dia seperti melihat dirinya dulu sewaktu sekolah dasar persis seperti yang dilakukan Sisi pada kakeknya, ayah dari ibu Sisi, Daras, si pembelajar.

(1) “Just Like Heaven” is a song by British alternative rock band the Cure. […] Before Smith had completed the lyrics, an instrumental version of the song was used as the theme for the French television show Les Enfants du Rock (Anak-Anak Rock-pen). https://en.wikipedia.org/wiki/Just_Like_Heaven_(song)

(2) Daras: belajar (mempelajari, menyelidiki) dengan sungguh-sungguh https://kbbi.web.id/daras

(3) https://www.ravelry.com/patterns/library/everyday-shawl

(4) https://www.hipwee.com/tips/rumahmu-nggak-butuh-ac-lagi-kalau-sudah-ada-10-tanaman-rambat-yang-berbunga-terus-ini/

(5) https://id.investing.com/equities/europe

Hari Tani Nasional dan Petani Muda.

Rumah

–Sesuaikah kerja yang telah ia kerahkan untuk memperoleh uang itu dengan kenikmatan yang diberikan barang yang dibeli dengan uang itu, pikiran seperti itu sudah lama hilang dari ingatannya. Hitungan pertanian yang mengatakan bahwa ada harga patokan terendah yang tak bisa dilampaui dalam menjual gandum juga sudah ia lupakan. Gandum hitam yang lama ia pertahankan harganya kini ia jual limapuluh kopek, lebih murah seperempat gantang dibandingkan dengan yang ia jual sebelumnya. – Anna Karenina Jilid II, Leo Tolstoy, trans. Koes. S. Toer.

Kutipan di atas adalah satu dari puluhan kutipan yang penulis garis-bawahi mana kala membaca roman Tolstoy yang mencoba masuk ke dalam polemik tuan tanah dan petani. Penulis adalah seorang yang dibesarkan dari persinggungan darah antara keluarga tuan tanah dan keluarga petani.

Pada masa kecilnya, penulis sering diajak oleh bokapnya untuk mengunjungi satu sawahnya di Jombang. Melalui pengalaman secara langsung itulah, penulis yang masih kecil mendengar kata-kata seperti ‘gabah basah’ atau ‘gabah kering’, tak hanya itu, perkara irigasi juga merupakan faktor penting. Mata kecil penulis melihat secara langsung bagaimana ¼ dari kurang-lebih 1,5 hektar sawah milik bokap penulis yang berada di Jombang, yang berada di pinggir sungai harus mengalami gagal panen, sementara sisanya terselamatkan.

Relasi antara roman Tolstoy dan pengalaman penulis masa kecil di sawah bokapnya, di Jombang, mengingatkan penulis pada satu tema ketika membaca di bibliotheque (perpustakaan) tentang iklim pertanian Prancis yang terkenal dengan pertanian anggur untuk memproduksi wine merah seperti Merlot, Syrah, Cabarnet Sauvignon, Cabarnet Franc dan Pinot Noir; dan wine putih seperti Chardonnay, Sauvignon Blanc, dan Chenin Blanc (1). Jauh sebelum membicarakan produk wine, penulis berpikir bahwa mau tak mau juga harus bicara tentang sumber untuk menghasilkan wine: ketersediaan tanah, anggur sebagai material utama dan petani.

Tak hanya itu, di kelas Prancisnya, penulis juga perlu bersyukur pada pengetahuan atas apa yang didapat seperti bagaimana mempelajari gastronomi Prancis (2) yang nantinya berkaitan dengan iklim—serta geografi dari—Prancis yang nantinya menghasilkan buah atau sayur yang berbeda antara Prancis utara dan Prancis selatan. Bisa saja kita bicara soal le goût (rasa), namun lagi-lagi: ketersediaan tanah, buah atau sayur sebagai material utama dan petani.

Dalam konteks pertanian-ekonomi, penulis mendapati satu istilah la [dé]croiss[ance] (3), suatu gerakan untuk menciptakan perlawanan untuk membuat bumi semakin baik. Ketika harga-harga bahan pangan meroket, maka gerakan ‘la décroissance’ yang dilakukan oleh les decroissants, para pelaku, untuk menciptakan ekonomi mereka sendiri dengan menanam bahan pangan sebagai alternatif tandingan dari bahan pangan yang meroket di petak-petak tanah yang mereka buat di halaman belakang rumah.

Bagi penulis, yang dilahirkan sebagai jembatan antara tuan tanah dan petani; dan jembatan dunia yang lalu dan dunia masa depan; menganggap bahwa pertanian yang melibatkan anak-anak muda tak hanya berkutat perkara kapitalisme, komunisme atau sosialisme, atau syariah-isme. Namun bagaimana anak-anak muda memiliki suatu kegairahan terhadap pertanian guna menciptakan produk bahan pangan semisal Andrea Pirlo dengan produk wine yang ia ciptakan. (4)

Selamat hari tani nasional, para petani muda (yang high quality jomblo). Ojo wedi dadi tani enom rek, westala oleh bojo ayu engkok.

[] Image: View depan rumah, jepretan simbok di kampung, 2015.

(1) http://www.europe-educatour.com/layananan-perjalanan/perjalanan-pendidikan/wisata-pertanian-anggur/

(2) a) http://www.indonesie.campusfrance.org/id/node/9259; b) https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160316153024-262-117845/gastronomi-gaya-hidup-prancis-lewat-makanan; c) https://id.wikipedia.org/wiki/Gastronomi

(3) Simplicité volontaire et décroissance https://www.youtube.com/watch?v=6pl5XDCf8Ug

(4) Unlike most of his colleagues, who at the end of their career all over Europe stop working and don’t know what to do with their handsome profits, Andrea Pirlo, grown up in Brescia, has provided for his future: the land! The inevitable choice for a smart and cautious person. […] The farm “Pratum Coller” took his name from this particular area, whose acreages were already reserved for vineyard. https://shop.italiaamicamia.com/blog-en/Andrea-Pirlo%3A-passion-for-wine-and-football-67.html

Nabil Fekir: Totalitas Untuk Keluarga dan Olympique Lyon.

DnfDFvpXoAABbaz

Umurnya baru 25 tahun namun telah menjadi kapten untuk satu klub besar Prancis, tawaran menggiurkan dari Liverpool tak membuatnya goyah, Lyon adalah jantung-nya. Pada menit ke 43, pada pertandingan yang dihelat beberapa jam lalu, ia mencetak gol ke gawang Manchester City, salah satu klub terkaya di dunia milik Syaikh Mansour bin Zayed Al Nahyan–anggota keluarga penguasa Abu Dhabi, dan pebisnis besar dari Abu Dhabi Investment Council. Keputusan sulitnya adalah ketika ia dihadapkan pada pilihan identitas antara jersey Aljazair atau jersey Prancis? Nabil Fekir, siapkah ia menjadi legenda untuk kota festival keju itu?

*

Aku tidak suka sekolah, bukan itu yang kusuka. Tetapi di sana ada ayah dan ibu dibelakangku yang mendorong dan memaksaku mengerjakan PR. […] Sangat penting untuk memiliki orang tua yang mengikuti Anda.

Aku tidak pergi ke kelas untuk bersenang-senang atau apapun. Sebenarnya, aku berada di tempat lain, Kau paham? Itu tidak terlalu menarik bagiku. Sangat disayangkan untuk mengatakan itu. Hari ini, aku sedikit menyesal. Tapi itulah, kita tidak bisa kembali.

Aku membakar diriku ketika aku masih kecil, di Aljazair. Aku bermain sepak bola di rumah, memukul minyak panas. Ini kesalahanku. Inilah hidup, itu pasti terjadi. Aku suka bermain sepakbola, aku bermain di mana-mana. Itu yang terjadi.

Bagiku, para penyihir, itu Zizou, Messi, apakah kau tahu apa yang aku maksud? Setelah itu, senang mendengarnya. Aku seorang pemain berteknik, aku suka membuat perbedaan, aku suka permainan yang indah juga. Melihat sebuah tim bersenang-senang, itu menyenangkan.

Yah, aku tidak akan melihat diriku di suatu kantor, itu bukan [tipe]ku. Aku lebih manual, aku suka bergerak.

http://www.onzemondial.com/france/294199-exclu-mag-314-nabil-fekir-je-ne-me-vois-pas-comme-un-magicien

Aku tidak sempurna, itu yang selebihnya terjadi padaku. Aku kemudian lebih berusaha untuk berlatih. Kami berada di lingkungan di mana kami harus memperhatikan semuanya. Ketika aku masih muda, aku mengalami masalah lutut [penyakit Osgood-Schlatter] yang membuatku cacat dan aku harus meninggalkan Lyon sebelum kembali.

Di lapangan, ia berbicara dengan kakinya. Kedekatan ayah membawanya sesuatu yang sangat kuat. Mohamed tahu betul bagaimana melakukan ini dengan Nabil, yang sedang menarik kekuatan luar biasa dari akar keluarganya. Kadang-kadang ia menelepon saya dan hanya punya satu pertanyaan: “Apakah Nabil berperilaku baik?

Aku besar di Villeurbanne. Ibuku seorang penjaga bayi, dan ayahku bekerja di bidang metalurgi sebelum menjadi cacat. Ia adalah sukarelawan di klub Vaulx-en-Velin. Akulah yang tertua, dan dua saudara laki-lakiku, Hamza dan Tarik, bermain di sana. Yassin menandatangani pro di Lyon tahun lalu. Sejak pernikahanku dan kelahiran putriku, aku menjadi lebih sadar, aku punya keluarga untuk diurus. Orangtuaku mengajariku untuk jangan membawaku pada orang lain, bersikaplah murah hati dan santun.

Ia memiliki nilai-nilai yang ditransmisikan oleh orang tuanya, yang selalu dia rawat. Sebagai seorang ayah, ia [Nabil Fekir] memandang kehidupan secara berbeda. Ia melakukan hal yang benar dan tahu ke mana ia ingin pergi. Pada saat yang sama, ia sangat percaya [pada kepercayaanya], membiarkan sebagian dari takdir yang bertindak.

Ia pemalu, introvert dan tidak suka mengekspos dirinya. Itu tidak mencegahnya untuk menjadi mudah diakses dan menjadi altruistik. Ia mendukung badan amal, dalam kemanusiaan atau melawan cacat (disabilitas), dan bahkan pada klub kami, tetapi ia tidak pernah membicarakannya.

https://www.liberation.fr/sports/2018/04/09/nabil-fekir-le-clou-du-spectacle_1642181

Variasi.

thumb

Gonna shine like a sunbeam // Another dimension, new galaxy – Intergalactic Robot Rock aka Daft Boys (Daft Punk vs Beastie Boys) (1)

Pada malam hari, di salah satu channel, setelah iklan, di acara penganugerahan musik itu, salah satu penyanyi folk legenda segera mengumumkan tentang score film terbaik. Kami—aku, puteri kecilku, dan ibunya—tak sabar untuk menanti bahwa ia akan mendapatkan sesuatu spesial dari buah usahanya selama ini. Ia, yang kumaksudkan di sini adalah kawan baikku, seorang peneliti musik dari Universitas X, yang mengajariku banyak hal tentang suatu perjuangan.

Puteri kecilku yang mengenakan kaus bergambar Charlie Brown dan Adiknya, dengan tulisan, ‘You’re a Big Brother, Charlie Brown!’ (2) berdiri di atas kursi palet bekas yang kubuat (3), dan berada di tengah diriku dan istriku, sambil menghadap layar flatron, dan dia bertanya-tanya dengan keingintahuan yang menyeruak:

“Mana, Yah, Om Zaky?”

“Sebentar, dong, sayang,” sela istriku dengan membenarkan rambut pendeknya bergaya ‘Bob’.

“Ahhh,” tambah puteriku dengan merengek bila permintaannya tak dipenuhi, “Ahh, mana, Bu? Mana, Bu?”

Sambil memegang mikrofon dan membuka sebuah kertas pengumuman, kemudian penyanyi folk legenda itu mengangkat mikrofon dan bersuara:

“Peraih score film terbaik pada penganugerahan kali ini adalah….”

Sambil berjoget kecil ke kanan dan ke kiri, gadis kecil kami terus bertanya pada hal-hal yang sebenarnya tak sanggup kami layani, namun dengan kesabaran yang utuh, aku menjawab:

“Habis ini, Om Zaky muncul, tapi kalau kamu mau duduk manis…”

“Beneran, Yah?”

“Tentu dong.”

“Yeeaayyy!” teriak puteri kecilku, dan duduk manis di tengah-tengah kami, sambil memangku toples berisi camilan favoritnya.

Delay, atau penundaan (4), untuk menyebutkan nama pemenang tentang score film terbaik dari penyanyi folk legenda, memberikan variasi yang membuatku teringat tentang penyataan Zaky, saat kami telah memiliki jalan hidup masing-masing bahwa pada suatu penundaan, kita bisa menghidupkan variasi-variasi pada apa yang tak bisa terpikirkan. Dan Zaky benar, setelah sekian lama, setelah mengalami penundaan-penundaan, toh pada akhirnya aku dipertemukan oleh variasi lain seperti istriku yang memberikan variasi yang lebih semarak, gadis kecil disampingku ini, suatu cahaya lain yang setiap hari mengisi kegelapanku meskipun energi tubuh kecilnya membuatku dan membuat istriku kewalahan.

Sambil memegang mikrofon dan membuka sebuah kertas pengumuman, kemudian penyanyi folk legenda itu mengangkat mikrofon dan bersuara:

“Peraih score film terbaik pada penganugerahan kali ini adalah….Zaky Sound!” Seluruh hadirin yang ada bertepuk tangan, pun dengan kami. Dan sorot mata kamera mengarah pada Zaky, yang memakai blazer dan kaus band favoritnya. Tak hanya itu, puteri kecilku berteriak-teriak ketika melihat Zaky di teve, yang telah dianggap sebagai om-nya sendiri. Beberapa menit kemudian, Zaky berada di podium, untuk memberikan pidato kemenangannya:

“Terima kasih, beribu-ribu terima kasih,” kata pembuka dari Zaky, dan terdiam, mengatur nafas, memejamkan mata, mengatur kata-kata yang berserakan di dalam kepalanya, membuka mata dan melihat bahwa ia berada dihadapan ratusan pasang mata, dan melanjutkan, “Singkat saja, saya berterima kasih kepada dunia anak-anak, dunia yang tak mampu orang dewasa seperti saya masuki. Saya berterima kasih untuk seorang gadis kecil, anak dari kawan saya, yang mengajarkan saya banyak hal tentang bagaimana memungkinkan ketak-mungkinan itu sendiri, seperti ketika mewarnai matahari dengan warna ungu; dan dari sanalah, ide memungkinkan ketak-mungkinan itu sendiri muncul, dan saya mampu membuat score film dari variasi antara kemungkinan dan ketak-mungkinan yang dibalut dalam waktu penundaan (dengan berpikir) yang amat panjang. Sekali lagi, terima kasih, beribu-ribu terima kasih kalian semua (wahai para inspirasi) di mana pun berada.”

Dan aku pun melihat kedua cahayaku, puteri kecilku, bersama istriku, pun ikut bertepuk tangan bersama.

(1) https://sowndhaus.audio/track/5526/intergalactic-robot-rock-aka-daft-boys-daft-punk-vs-beastie-boys

(2) http://www.simonandschuster.biz/books/Youre-a-Big-Brother-Charlie-Brown!/Charles-M-Schulz/Peanuts/9781534409613

(3) https://www.homify.co.id/ideabooks/1483772/43-ide-daur-ulang-palet-kayu-yang-wajib-anda-coba

(4) “[…] konsep mistik tradisi yang diperbarui sebagai pernyataan peristiwa yang tertunda.” – Diambil dalam Sufism and Deconstruction: A Comparative Study of Derrida and Ibn ‘Arabi oleh Ian Almond (Routledge, 2009) https://www.amazon.com/Sufism-Deconstruction-Comparative-Routledge-Religion/dp/0415578973

Kisah Cinta Empat Penjuru: Peyek, Tauge, Petis dan Trasi.

Asleep and awake / Happy and sad / Aware and subconcious / With you – Today and Forever, Homogenic. (1)

Di depan cermin dengan memandang wajah manisnya, Tauge, perempuan 30 tahun, penulis kuliner, penyuka lagu ‘Takkan Berhenti Di Sini’ dari Homogenic, serta menjadi orang pertama yang mengatur jadwal suaminya itu, Peyek, lelaki 30 tahun, seorang penulis muda yang sedang naik daun dan menjadi perbincangan khalayak ramai akhir-akhir ini, mengingat kejadian dua jam lalu, ketika di satu acara musik, dia bertemu dengan orang yang memiliki kesan di masa lalunya, Trasi, lelaki 31 tahun, yang baru saja pulang dari menempuh studinya di Rotterdam, spesialisasi Teknik Bangunan Air. (2)

Sementara, beberapa meter dibelakang Tauge yang mengenang ingatan pada Trasi, Peyek meringkukkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk guling dan memandang daun-daun pohon mangga yang bergoyang dihembuskan angin malam melalui jendela kecil yang terbuka sambil mengingat kejadian dua jam lalu, ketika di satu acara musik, ia bertemu dengan orang yang pernah hidup dan meninggalkan bekas di masa lalunya, Petis, seorang perempuan 29 tahun, yang sangat dinamis dalam berpikir dan pernah menjadi Music Director di satu radio.

Tauge dan Peyek mengingat satu kejadian yang (mungkin) akan menghempaskan biduk rumah tangga mereka, ketika mereka bertemu di akhir acara musik dan bersalaman dengan Trasi dan Petis. Setelah sejenak terdiam, seakan tak percaya pada apa yang ada dihadapan mereka masing-masing, Trasi, mencairkan suasana dengan memperkenalkan istrinya,

“Kenalkan, ini Petis,” kata Trasi pada Tauge.

“Hai, kenalkan juga ini, Peyek,” balas Tauge ke Trasi.

Tak sampai di situ. Kekacauan pun semakin meningkat ketika, Peyek dan Petis juga saling mengenalkan pasangan mereka masing-masing.

Di depan cermin dengan memandang wajah manisnya, Tauge, mencoba mengingat masa-masa sulitnya bersama Peyek, masa-masa yang saling menguatkan cinta mereka. Ketika Tauge sakit, Peyek selalu hadir untuk sekedar melakukan hal-hal remeh seperti mengambilkan air putih.

Pun dengan Peyek yang meringkukkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk guling dan memandang daun-daun pohon mangga yang bergoyang dihembuskan angin malam melalui jendela kecil, membalikkan ingatan ketika masa-masa sulit di mana pada setiap malam, ketika pihak penerbitan memberikan jadwal deadline untuk revisi karyanya, Tauge-lah yang menemani Peyek pada setiap malam dan membuatkan kopi favoritnya.

Secara bersamaan, Tauge dan Peyek, membalikkan tubuh mereka berdua, dan kedua mata itu saling berpandangan, dan mereka saling tersenyum untuk satu keabadian.

(1) https://www.youtube.com/watch?v=aXlunMvw1Hg

(2) a) https://regional.kompas.com/read/2016/04/12/06070091/Menara.Air.Peninggalan.Hindia-Belanda.Dibiarkan.Terbengkalai;

b) https://tulisannda.wordpress.com/2013/05/08/belanda-sang-juuara-penakluk-air/;

c) http://www.mongabay.co.id/2016/01/05/peninggalan-belanda-ini-masih-jadi-penyedia-air-bersih-bagi-warga/;

d) https://today.line.me/id/pc/article/Kokoh+Hingga+Kini+Inilah+Rahasia+Konstruksi+Belanda+Lebih+Kuat+Dari+Bangunan+Jaman+Now-OVGDLV;

e) https://www.dw.com/id/rumah-apung-cara-belanda-atasi-perubahan-iklim/a-17533962

Sayap Impian Gadis Kecil Berkepang.

Screenshot from 2018-09-13 01:03:00

– Untuk Prof. Habibie, dikarang setelah membaca Jusuf Habibie in Münster, di koran Westfälische Nachrichten; dan Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny RA Habibie, di Kompas. (1)

– I’ve been reading books of old / The legends and the myths – Something Just Like This, The Chainsmokers, Coldplay.

Sore hari, di bukit kecil itu, setelah menapaki anak tangga yang terbuat dari material kayu dengan railling yang juga berbahan kayu, gadis kecil berkepang itu terengah-engah, dan satu langkah dibelakangnya menyusul si ayah muda.

“Capek?” tanya ayah muda pada gadis kecilnya.

Gadis kecil itu menggeleng, menaikkan scarf anak-anaknya dari bahan kain linen (2), dan menyeka keringat yang menetes ke kedua pipinya yang bulat. Kedua mata bundarnya melihat ayahnya yang justru terengah-engah karena faktor usia.

“Ayah capek?” tanya gadis kecil berkepang sambil menurunkan kembali scarfnya ke leher mungil dan putih itu.

Ayahnya tertawa terkecil, dan kemudian melanjutkan perkataannya, “Huh, berkali-kali, ayah selalu kalah denganmu, kasih tahu dong apa rahasianya…”

Gigi-gigi kecil yang rapat nan putih itu terlihat, sambil merentangkan kedua tangan ke samping, menirukan burung-burung yang terbang bebas, yang dilihatnya di langit Yogya, di sekitar Fakultas Kehutanan UGM, pada setiap sore hari (3), “Karena aku punya sayap impian, Yah. Hi-hi-hi.”

“Sayap impian?” tanya ayahnya dengan membenarkan resleting jaket gunungnya.

“Iya, Yah. Kata ibu, aku harus punya sayap impian. Ibu di kanan dan ayah di kiri.”

Ayahnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Ada ledakan emosi yang tak bisa dijelaskan, hanya dirasakan. Satu jam kemudian, mereka berdua duduk di satu gazebo bambu (4), menikmati hubungan ayah dan puteri kecilnya yang intim, dan si ayah mulai bercerita tentang banyak hal, termasuk salah satu idolanya, si pembuat pesawat, Prof. Habibie, yang memiliki Rumah Sakit bernama, Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny RA Habibie, khusus untuk orang-orang yang kurang mampu.

“Pesawat Kakek Habibie pasti niru burung terbang di hutan UGM itu ya, Yah…”

“Hmm, mungkin, mungkin. Tapi kalau kamu ingin punya pesawat terbang seperti Kakek Habibie, seperti burung-burung yang kamu lihat, untuk membawa teman-teman sekelasmu keliling dunia seperti Mimi, Icha, Tasya, Ruli, kamu harus rajin belajar. Sebab, burung-burung itu adalah makhluk rajin, pergi pagi mencari makan dan pulang sore setelah kenyang (5). Nah, mumpung ini sudah sore, dan ibu sudah masak sup untuk kita, jadi kita pulang dan belajar lagi, gimana? Mau?”

“Iya, Yah. Aku bakal belajar biar punya impian buat pesawat, buat terbang dengan Mimi, Icha, Tasya, dan Ruli.”

Perlahan-lahan matahari sore (6) memancarkan cahaya kuning keperakan, menemani hubungan ayah muda dan gadis kecil berkepang dengan balutan scarf yang cantik di leher mungilnya.

(1) https://www.wn.de/Muenster/2016/11/2596114-Jusuf-Habibie-in-Muenster-Er-brachte-die-Demokratie-nach-Indonesien; https://regional.kompas.com/read/2016/08/08/13400491/habibie.di.rs.khusus.ginjal.warga.miskin.bisa.dapat.pengobatan.cuma-cuma

(2) https://www.etsy.com/listing/217694868/scarf-for-kids-childs-scarf-scarf-for?ga_order=most_relevant&ga_search_type=all&ga_view_type=gallery&ga_search_query=kids%20scarf&ref=sr_gallery-1-2&more_colors=1

(3) http://www.mongabay.co.id/2012/08/28/foto-surga-burung-di-arboretum-fakultas-kehutanan-ugm/

(4) https://www.dekoruma.com/artikel/52474/apa-itu-gazebo-bambu

(5) https://rumaysho.com/689-burung-saja-bekerja-untuk-meraih-rizki.html

(6) https://langitselatan.com/2017/02/13/leap-menjelajahi-antariksa-apa-warna-sesungguhnya-matahari/

Terima Kasih & Selamat Ulang Tahun: Tolstoy, Kompleksitas Yang Sederhana.

A20180909_093834

A quiet secluded life in the country, with the possibility of being useful to people to whom it is easy to do good, and who are not accustomed to have it done to them; then work which one hopes may be of some use; then rest, nature, books, music, love for one’s neighbour — such is my idea of happiness. – Family Happiness, Leo Tolstoy dalam film Into the Wild.

*

Satu scene terbaik dari roman Anna Karenina adalah ketika Pangeran Levin, bangsawan cum tuan tanah/petani, akhirnya menikah dengan perempuan yang jauh lebih muda, Puteri Kitty, seorang puteri dari keluarga bangsawan yang memilih meninggalkan kenyamanan di kota besar dan hidup di desa, membantu suaminya. Ketika bayinya lahir, Pangeran Levin, yang agnostik akhirnya harus memikirkan satu cahaya yang tak ternilai: Tuhan.

Satu scene terbaik dari roman Kebangkitan adalah ketika Pangeran Nekhlyudov, bangsawan dan prajurit (dan juri persidangan?), berada di ruang sidang dan melihat tersangka di depannya, Katyusha/Maslova, seorang perempuan desa yang sebenarnya memiliki masa depan cerah, namun Pangeran Nekhlyudov menghamilinya di masa lalu dan masa depan Katyusha/Maslova seakan gelap dan memilih menjadi pelacur. Kemudian, dunia kepelacuran membawa Katyusha/Maslova terjebak pembunuhan di hotel, dan pada saat yang tak terduga, Tuhan Yang Maha Pengasih, mempertemukan mereka di ruang persidangan. Pangeran Nekhlyudov terkejut dan penyesalan membawanya untuk menyelematkan Katyusha/Maslova dari jerat hukuman dan ingin menikahinya.

Satu scene terbaik dari cerita anak-anak Si Kecil Filip Pergi Sekolah adalah ketika niatan untuk belajar dan merubah diri sudah menguat, Filip Kecil memberanikan diri untuk pergi ke sekolah kakaknya, jalan itu ternyata tak mudah, ia harus dikejar-kejar anjing dan jatuh tersungkur, dan hal paling sulit adalah mengatasi rasa takut ketika ia telah berada di depan pintu kelas di sekolah kakaknya, dan ketika di dalam kelas, Filip berkata: “Saya Filip, saya anak pemberani!”

*

Tak semua orang menjadi pembacamu, namun tak mengapa. Tak semua orang menjadikanmu pegangan hidup, namun tak mengapa. Pada akhirnya, tak semua orang akan mengingat kebaikan serta apapun yang telah kau lakukan untuk petanimu, di tanah yang sangat luas, YASNAYA POLYANA, di Tula, yang terdapat sekolah anak-anak petani, namun tak mengapa.

Di kelas bahasanya, pembacamu ini selalu ditanya, apa roman yang kamu sukai dan siapa pengarang yang kamu sukai: Leo Tolstoy dan roman Anna Karenina. Kenapa? Dan pembacamu menjawab bahwa di dalam roman itu terdapat komplesitas yang pada akhirnya mengerucut pada satu konklusi: Kesederhanaan hidup itu sendiri.

Pernikahan dan Keluarga. Perempuan dan Lelaki. Kultur Rusia, Kultur Jerman, Kultur Prancis. Bangsawan dan Petani. Politik, Sastra, Cinta. Atheisme dan Theisme. Anak-anak, Ayah dan Ibu. Kaya dan Miskin. Dari Dostoevsky hingga Mahatma Gandhi. Nasrani, Hindu, Budha, Islam. Hidup dan Mati. Dan seorang penulis besar Indonesia berkata seperti: Sastra paling sulit adalah sastra Rusia.

Terima kasih telah menjadi kawan, serta kakek, melalui kesendirian selama ini. Salam untuk Pak Koes. S. Toer, penerjemah yang mengagumkan, di langit yang indah. Untuk cinta, ya, untuk cinta.

Belakang Pabrik Gula.

zidane

– Ayahkulah yang mengajari kami bahwa seorang imigran harus bekerja dua kali lipat dari orang lain – Zinedine Zidane (1).

Dalam bungkusan sepatu New Balance Motion Controlnya, ia menahan bola plastik, yang dibelinya di satu warung, dengan kaki bagian dalam; lalu pandangan matanya melihat satu ruang di sela-sela kaki lawannya. Dengan ketenangan yang pasti, dengan mengumpulkan energi pada kura-kura kakinya, ia kemudian menendang bola plastik. Bola bergerak melawan arus angin dan memasuki sela-sela kaki lawannya. Seperti gelombang amplitudo, bola bergerak naik-turun menuju ke gawang yang dibuat dari susunan vertikal tiga batu bata dengan lebar jarak tiga telapak kaki, dalam ingatannya, gawang tersebut dinamakan, gawang cilikan—gawang kecil.

Mata serta tubuh lawan yang mengenakan sepatu Puma itu memutar, melihat bola yang telah melewatinya, dan sesegera mungkin ia berlari untuk mencoba sebisa mungkin ‘mengintersep’—memotong titik (2)—bola. Sayang, kekuatan energi akibat gesekan bahan kulit sepatu New Balance Motion Control dengan bahan plastik bola itu, jauh lebih cepat satu langkah dari pada gesekan antara paving lapangan kecil di belakang pabrik gula itu dengan sol sepatu Puma, dan ia menjatuhkan dirinya dengan menjulurkan kaki bagian kanan. Nahas, ujung kaki sepatu Puma itu malah mendorong bola untuk masuk ke gawang kecilnya, dan:

“Goal!” teriak si pemakai New Balance Motion Control, sambil meninjukan kepalan tangan ke langit, pada pertandingan 1 on 1 itu.

Si sepatu Puma tergeletak dengan memandang langit biru yang luas sambil mengatur nafasnya. Mendadak, terdengar langkah dari si sepatu New Balance Motion Control, dan menyodorkan tangan kanannya. Si sepatu Puma menolehkan pandangan dan melihat sodoran tangan kawan lamanya itu, kawan yang telah tak ditemuinya selama 15 tahun. Dan si sepatu Puma menerima sodoran tangan itu dan membangunkan tubuhnya, sambil berkata, “Kita imbang. 3-3, untuk dua jam setengah.”

Seusai pertandingan, di bawah pohon asam yang berada di tepi lapangan, dibelakang pabrik gula, mereka menikmati dua botol mineral masing-masing sambil membincangkan masa kecil mereka. Si sepatu New Balance Motion Control, seorang anak perumahan dari pengajar di satu universitas ternama saat itu, mengingat kejadian bagaimana tiga anak kampung X mencoba memeras uangnya di lapangan kecil, di belakang pabrik gula, namun si sepatu Puma, seorang anak kampung dari seorang ayah yang berprofesi sebagai loper koran olahraga, mencoba melindungi anak perumahan itu. Dari kejadian itulah, perkawanan anak kampung dan anak perumahan, terjalin dengan baik. Si anak perumahan selalu menyempatkan bermain ke kampung si anak kampung dan melihat titik-titik kemiskinan. Sementara, pada suatu saat, si anak kampung merasakan—sekaligus memanfaatkan—fasilitas seperti perpustakaan dengan buku anak-anak yang tak pernah dilihatnya di rumah anak perumahan itu. Hingga pada akhirnya, ayah dari anak perumahan itu melanjutkan studi ke luar negeri dan secara terpaksa ia harus ikut, dan meninggalkan kawan kampung yang telah melindunginya.

15 tahun bersama kisahnya masing-masing, media sosial merekatkan hubungan pertalian perkawanan itu setelah pada momen yang tak terduga si sepatu Puma, yang kini menjadi satu dari empat pengelola platform berita olahraga, melihat satu wajah di foto profil milik si sepatu New Balance Motion Control, yang kini bekerja sebagai seorang pengajar Ekonomi, dengan fokus kemiskinan dan Psikologi Ekonomi (3). Dan dari komunikasi di media sosial itulah, mereka saat ini bertemu dan menyelesaikan pertandingan persahabatan mereka.

Angin menerpa pohon asam, dan satu tegukan demi tegukan dari air mineral mereka, tak hanya menyegarkan kerongkongan mereka, namun menyegarkan ‘goal’ baru mereka, suatu tujuan baru, yaitu membuat satu usaha di luar profesi mereka dan dimulai dari memberikan edukasi pada anak dan istri mereka dalam keluarga kecil, untuk melawan kemiskinan.

(1) http://citation-celebre.leparisien.fr/citations/121213

(2) http://idstatistik.com/penerapan-analisis-regresi-linier/

(3) http://blog.ugm.ac.id/2010/09/23/psikologi-ekonomi-pengantar/