Audio To Text.

26329930_169619500320018_6262966184845508608_n

Basman: Iyo Kastini, Kastini!

Sokran: Iyo, nok kene.

Basman: Lho kok apik koen gak laporan barek aku he!

Sokran: Lho aku laporan, opo peno iku hansip tah ?!

– Ilmu Ngglethek Prabu Minohek (Boekoe Tjap Petroek Jogjakarta, 2004), Sindhunata.

Karakter orang Jawa Timur itu memang keras dan ceplas-ceplos, bagi yang ingin menyelami karakter orang Jawa Timur bisa dirujuk melalui buku dari Romo Sindhunata yang menuangkan dialog-dialog cerdas ludruk Jawa Timuran, Kartolo Cs—yang tanpa naskah dan mengalir begitu saja. Jauh sebelum ada teknologi sekarang seperti tool-tool transkripsi online, seperti converter audio to text, yang menransformasikan dari alam lisan ke tulisan. Dulu, tentu saja, itu tidak mudah, namun Romo Sindhunata, orang asli Batu, Malang, ini memang ciamik. Ilmu Ngglethek Prabu Minohek, bacaan saat masih kuliah dulu, saat menggandrungi Kartolo di radio. Suara radio/mp3 Kartolo Cs dan teks tulisan dari buku Ilmu Ngglethek Prabu Minohek banyak membantu bagi yang mendalami penerjemah (interpreter) konsekutif/simultan.

Apa kabar gunung panderman, Romo Sindhunata, gunung kecil namun memiliki kemiringan yang luar biasa, semoga kita bisa mendaki gunung bareng ya, Romo Sindhu. Amin.

Pict: https://www.instagram.com/p/BeR7qXwFvyN/?taken-by=tb_ukdw

Iklan

Mumumu.

 

Mumumu, botol penyimpan segalanya, kecuali kenangan. Adopsi dari Tsutsumu-nya Jepang, tempat menyimpan makanan dari bambu. Nah, kalo Mumumu, materialnya dari bahan botol plastik 600 ml, agar tak dibuang ke sungai atau dibakar terus jadi asap, tak menghasilkan apa-apa. Mumumu, bisa juga buat tempat nyimpan lipstik calon istri atau tempat nyimpan pensil warnanya calon anak nanti.

Selamat mencoba dan selamat berkarya! Salam cinta!

Sawang-Sinawang.

20180226_112425

Ada yang menarik ketika berjalan-jalan ke Gang 1 Sosrowijayan di Yogya. Di gang ini, dulu terdapat tiga toko buku dan seluruhnya memiliki konsep yang sama, toko yang menjual buku-buku berbahasa asing mulai Jerman, Belanda, Inggris, Prancis, Denmark, Swedia, Rusia, Ceko, Jepang, ini seingatku. Toko-toko ini juga lebih fokus pada penjualan dalam travel guide dari Bangkok hingga Bali; buku resep masakan; novel-novel pop seperti penulis perempuan—dan penulis anak-anak—Australia, Di Morrissey; atau yang lebih bersastra seperti Haruki Murakami namun dalam bahasa Swedia; tak hanya itu, bahkan kartu pos pun masih ada, namun aku lebih mengincar pada kamus saku. Dan tak perlu kaget bila melihat bagaimana asia tenggara, khususnya Indonesia, dalam bahasa-bahasa asing. Sempat bercakap-cakap dengan penjaga toko, kadang-kadang, orang bule yang kekurangan uang menjual buku-bukunya di sini, mas, katanya. Kemudian aku membatin, ealah, sawang sinawang tiba e. Dan perlahan-lahan, dua dari tiga toko buku itu menghilang. Kini hanya tersisa satu toko buku, satu toko buku yang mempertemukanku dengan buku (bi)lingual bahasa Jerman-Indonesia, Bahasa Indonesia, Indonesisch fur Deutsche.

Chaplin, Si Kecil Bermata Jeli – Salim Said.*

the_kid

: Upaya kecil berupa pengetikan ulang ini ditujukan untuk si maestro, Charlie Chaplin, para aktor pantomim di mana pun berada, para penggiat serta penikmat film bisu, para difabel bisu yang berkomunikasi dengan gerak tubuh melalui tangan/jari-jari untuk satu hal yang paling sulit, ‘memahami’, mengingat bagaimana si pengetik juga pernah mengalami kesulitan berbahasa pada pengalaman pertama bersama pengajar native asing dan menggunakan medium tangan/jari-jari sebagai alat bantu komunikasi ketika melakukan ‘pemahaman’ komunikasi dari dua budaya yang sangat berbeda melalui dialog oral; tentu saja, Salim Said sendiri, yang memudahkan kaum awam untuk bagaimana menyukai—serta menikmati—dunia gambar bergerak, melalui satu tulisan yang menarik tentang Chaplin. Selamat membaca dan semoga bermanfaat:

“Tentang Chaplin,” tulis Gilbert Seldes di tahun 1937, “semuanya telah ditulis. Hal-hal yang sama akan terus ditulis orang pada masa-masa mendatang.” Empat puluh tiga tahun kemudian, tahun 1980, Lennart Eriksson, seorang ahli sejarah kebangsaan Swedia, berhasil mencatat lebih lima ratus judul buku tentang Chaplin yang telah terbit dalam 30 bahasa. Yang menarik, bahasa Jawa termasuk dalam “lebih dari 30 bahasa” yang ditemukan Eriksson itu.

Kecuali jika kita menemukan bahan baru tentang Chaplin—dalam bentuk film yang belum pernah dipublikasikan—hampir pasti tidak ada hal yang baru yang mungkin kita kemukakan tentang Chaplin pada kesempatan ini. Maka satu-satunya alasan untuk sebuah diskusi tentang karya-karyanya bukan hal baru bagi sejarah kemanusiaan dalam hubungan dengan seni peran dan seni bercerita. Yang baru cuma cara Chaplin menyampaikan lewat medium baru yang tumbuh bersama dirinya.

Mengenai dirinya, tokoh Charles Spencer Chaplin, sudah terlalu banyak kita ketahui. Ia lahir dari keluarga seniman panggung yang melarat, menjelang akhir abad ke-19 (16 April 1889). Ia memulai debutnya di panggung pada akhir usia balita, tatkala secara mendadak ia naik ke pangung menggantikan ibunya yang tiba-tiba kehilangan suara ketika sedang menyanyi. Selanjutnya adalah kisah perjuangan dalam kemiskinan, pergulatan di panggung dan akhirnya sukses di layar putih. Tetapi sukses di layar putih yang dialami Chaplin adalah suatu yang tidak terpisahkan dengan pengalamannya di panggung rombongan sandiwara Inggris, tempat ia memulai debut keseniannya.

Pada usia belasan tahun, atas ajakan abangnya, Sidney Chaplin, Charlie bergabung dengan rombongan sandiwara milik Fred Karno. Rombongan milik Karno itu cukup besar dan terkenal di Inggris masa itu. Selain bermain di berbagai kota di Inggris dan daratan Eropa, rombongan Karno ini juga berkali-kali berkunjung ke Amerika Serikat. Dua kali Charlie Chaplin ikut rombongan sandiwara keliling tersebut ke Amerika. Pada kunjungan kedua ia ditemukan oleh Mack Sennet—sutradara film komedi dari perusahaan Keystone.

Adalah pada rombongan Fred Karno itu Chaplin mendapatkan dasar bagi keseniannya yang kemudian menjadikannya manusia yang terkenal, pada usia mudanya, di seluruh dunia. Untuk mendapatkan gambaran tentang Chaplin pada masa awal itu, saya ingin membawa Anda ke rombongan Srimulat. Bentuk pertunjukan Srimulat sesungguhnya hampir sama dengan bentuk rombongan Fred Karno, sebab toh Srimulat mengacu pada rombongan sandiwara lama (tonil) yang meniru pola yang datang dari Barat pada awal abad ini. Nah, kalau dalam Srimulat ada pelawak seperti Gepeng, Tarzan, Asmuni, dalam rombongan Fred Karno antara lain ada Chaplin di samping stand Laurel yang kemudian terkenal dalam seri film komedi Laurel and Hardy.

Lelucon yang dibawakan oleh Chaplin dalam rombongan Karno itu tampil terutama dari pantomim, suatu kesenian tua yang konon mulai populer pada zaman Romawi. Maka Chaplin selalu tampil dengan nomor-nomor yang bersifat sketsa yang menggambarkan orang mabuk, pencuri, pemain bilyar, pemain tinju, kepala keluarga dengan anak istrinya, penyanyi yang gagal dan sebagainya. Menurut pengakuan Chaplin sendiri, Fred Karno selalu mengingatkan Chaplin agar mengintegrasikan unsur pathos pada setiap nomor yang dimainkannya. Jika kita tahu bahwa unsur pathos pada setiap nomor dalam karya seni adalah kemampuan sang seniman mengidentifikasi diri dengan manusia yang malang, maka tidak sulit membayangkan seorang Charlie melahirkan pantomim yang lucu tetapi juga membayangkan kesedihan. Bukankah Chaplin tumbuh dalam kemiskinan dan penderitaan itu?

Kemiskinan, penderitaan dan pathos adalah nada dasar setiap lelucon Chaplin yang disampaikan lewat bakat pantomimnya yang hebat. Kombinasi komik, pathos dan kebolehan pantomim yang luar biasa itulah akar kebesaran Chaplin. Belum pernah sebelumnya dan belum ada sesudahnya yang mencapai apa yang telah diberikan Chaplin kepada manusia. Karena itulah maka Chaplin unik. Dan itu disadari Chaplin pada hari-hari pertamanya di Hollywood. Di bawah penanganan Sennet, Charlie ternyata tidak bisa memberikan apa yang diminta Hollywood. Sennet kecewa dan berpikir untuk membebaskan Chaplin dari kontraknya dengan Keystone. Tetapi sebelum itu terjadi Chaplin mengajukan gagasan membuat film dengan cara dan gaya Chaplin sendiri.

Cara Chaplin amat mahal, tetapi ia berhasil meyakinkan Sennet dan para pembesar di Keystone. Dan mulailah Chaplin membuat film dengan material yang luar biasa banyaknya untuk ukuran Hollywood masa itu. Chaplin membuat film dengan rasio 1:30. Artinya, untuk sebuah film dengan masa putar sepuluh menit ia menghabiskan material untuk sebuah film dengan masa putar 300 menit. Mahal memang. Tetapi hasilnya mengagumkan. Satu adegan di shot sampai dua puluh kali atau lebih. Barulah setelah film-film tersebut diputar di ruangan projeksi studio, Chaplin memutuskan pilihannya mengenai shot mana atau adegan mana yang dipakai.

Dengan cara inilah Chaplin, dalam masa lima tahun, berhasil menjadi orang paling dikenal di seluruh dunia. Memulai karirnya dengan penghasilan 150 dolar sepekan pada tahun 1913, pada tahun 1917 ia telah sanggup mendirikan studio sendiri di daerah mewah Hollywood. Kecuali beberapa film pertamanya yang hingga kini tidak banyak terkenal, semua filmnya disutradarainya sendiri.

Film-film pertama yang dibuatnya masih jelas merupakan kelanjutan dari karya-karyanya pada periode Fred Karno: sketsa-sketsa pendek tentang tokoh-tokoh tertentu. Baru pada tahun 1917 ia mulai bercerita (dalam pemahaman tradisional) lewat film. Film pertamanya yang mengemukakan cerita adalah Easy Street. Ini adalah sebuah film dengan dua plot. Plot pertama tentang tokoh yang dimainkan Chaplin, seorang yang bertubuh kecil menjadi polisi dan menundukkan seorang bandit “besar” bertubuh besar yang berkuasa di Easy Street. Plot kedua berkisah tentang bandit dan lingkungan yang ia teror. Kedua plot ini secara bersamaan mendukung suatu tema yang ingin disampaikan Chaplin.

Pada film pertama ini Chaplin mendemonstrasikan kehebatannya berkisah dengan menggunakan cara yang sebelumnya hanya dipakai untuk melukiskan (sketsa) tokoh-tokoh yang menarik perhatiannya. Barangkali karena persiapannya lewat sketsa-sketsa itulah maka Easy Street dan film-film sesudahnya terasa sangat subtil. Ia subtil karena tokoh-tokohnya tampil dengan sangat manusiawi antara lain karena di bawah permukaan kelucuan membayang pathos yang memberi dimensi kepada tokoh-tokoh yang dikisahkannya. Seumpama pelukis, maka sebelum menciptakan lukisan-lukisannya yang monumental, Chaplin sudah terlebih dahulu berlatih dan terlatih dalam membuat sketsa-sketsa yang detail tentang tokoh-tokoh yang kemudian muncul dalam lukisan-lukisannya. Inilah menurut saya, penjelasan mengapa Charlie Chaplin dengan cepat merebut hati penonton pada masanya dan tetap memukau hati kita hingga saat ini.

Sketsa-sketsa Chaplin dalam bentuk film-film pendek (two reelers, istilahnya di Hollywood masa itu) sungguh bagaikan ensiklopedia tentang topik-topik yang menarik perhatiannya. Inilah ensiklopedia yang tidak menggunakan kata-kata namun amat komunikatif, lengkap, subtil, dimengerti oleh lebih banyak orang. Ini karena bahasa yang dipakai Chaplin adalah bahasa tertua di dunia: pantomim. Begitu yakinnya Chaplin akan bahasa pantomim tersebut, bukan saja ia menolak memberi keterangan tertulis berpanjang-panjang pada film-filmnya, ia bahkan menolak film bicara (talkies) di akhir tahun dua puluhan dan awal tiga puluhan. “Film bicara itu hanya akan memusnahkan kesenian tua pantomim,” katanya. Karena itulah ia membuat City Lights sebagai film bisu dua tahun setelah Hollywood berhasil membuat The Jass Singer sebagai film berbicara pertama pada tahun 1928. Bahkan di tahun 1935, Chaplin masih nekat membuat Modern Times dalam tradisi pantomim. Dan berhasil.

Dalam Modern Times sebenarnya secara malu-malu Chaplin mengakui ketidakmampuannya menahan arus sejarah. Betapa pun yakinnya ia akan kekuatan pantomim, ia toh harus bergerak dalam irama perkembangan sejarah. Meski dengan enggan, Modern Times tidak semuanya bisu. Di sana direktur pabrik berbicara, bahkan membentuk buruh-buruh yang dianggapnya kurang memeras keringat. Dan pada film ini pulalah suara Chaplin untuk pertama kalinya terdengar lewat layar putih. Saya melihat ada suatu yang simbolis di sini. Chaplin menerima film bicara dengan amat enggan, itu kita tahu. Adalah keenganannya itu yang kita rasakan pada Modern Times. Yang bicara adalah tokoh yang kasar, yakni direktur pabrik yang memperlakukan buruhnya sebagai bagian-bagian dari mesin-mesin yang dimilikinya. Dan manusia yang berbudaya, Chaplin sendiri, cukup tampil dengan nyanyian. Itu pun dengan syair tidak bermakna, sebab yang penting bukan verbal kata melainkan irama dan suasana.

Chaplin yang kita kenal, Chaplin yang ditiru oleh banyak pelawak, Chaplin yang diabadikan oleh iklan IBM, adalah Chaplin si gelandangan (tramp). Ini suatu hal yang tidak sulit untuk kita mengerti jika kita kenal masa kecil Chaplin yang sengsara. Chaplin kenal betul dengan kemiskinan dan kesengsaraan, dan itulah sumber ilhamnya yang terus mengalir dan kemudian berwujud dalam penampilan tokoh-tokoh orang kecil yang tertindas (underdog). Kebetulan sekali tubuhnya pun kecil dan itu sangat cocok untuk peranan underdog. “Kalau saja tubuh saya lebih tinggi tiga inci maka akan lebih susah mendapatkan simpati penonton,” tulis Chaplin dalam salah satu artikelnya. Agar kontras terjaga, lawan main Chaplin selalu orang-orang yang bertubuh lebih besar, seperti Eric Campbell dalam Easy Street.

Dan sosok Chaplin dengan topi, jas ketat, celana kedombrangan, sepatu kebesaran dan tongkat? “Itu adalah rekonstruksi saya terhadap orang-orang Inggris yang saya lihat pada masa kecil saya di London ketika saya tinggal di kota itu,” jelas Chaplin. Penjelasan ini menunjukkan pengamatan Chaplin yang tajam. Pengamatan atau observasi yang bagus memang syarat mutlak yang harus dimiliki seorang seniman pantomim. Tetapi Chaplin ternyata tidak hanya mahir dalam mengamati yang pisik, yang berwujud, ia juga mengamati dengan saksama di balik yang pisik. Itu sebabnya sketsa-sketsanya, juga tokoh-tokoh dalam film-film panjangnya terasa amat manusiawi. Chaplin kenal betul manusia yang ia gambarkan, lahir maupun batin. Dalam keadaan film tidak berbicara pada awal abad kita ini, kebolehan Chaplin mengamati dan memanfaatkan pengamatannya itulah yang mengungguli semua film-film bisu pada zamannya. Dan ketika kita masih memutar film bisu dari banyak sutradara (Griffith, Einstein, Abel Gance, dan lain-lain) untuk keperluan studi, kita memutar film Chaplin untuk menikmatinya. Persis seperti menonton film-film Chaplin itu puluhan tahun silam. Inilah saya kira, penjelasan di balik ucapan George Bernard Shaw: “Satu-satunya jenius yang muncul dari dunia film adalah Chaplin.”

Sebagai pengamat dengan ketajaman yang jenial, Chaplin tahu apa yang membuat orang ketawa. Chaplin tahu dan memanfaatkan kesenangan orang banyak akan kontras dan surprise; kesenangan orang pada perjuangan antara yang kuat dan lemah, yang miskin dan kaya, yang baik dan buruk. Dan bahwa penonton amat siap bersimpati pada underdog. Tentu saja pengamatan dan penggambaran itu dipersembahkan dalam bingkai kehidupan masyarakat tempat Chaplin hidup. Harus diakui yang terakhir ini memainkan peranan penting dalam sukses Chaplin. Di negeri yang kekuasaan dan kontrol berat ke atas, tidak ada tempat bagi Chaplin untuk menggambarkan polisi, brigade pemadam kebakaran, dan aparat pemerintahan yang kocar-kacir dalam menjalankan tugasnya. Dari dari film-film pendeknya yang bisu hingga Monsieur Verdoux (1947) polisi senantiasa jadi bahan lelucon bagi Chaplin.

Tampilnya aparat kekuasaan sebagai bahan lelucon dalam film-film Chaplin (dan banyak serial Televisi Amerika) haruslah dilihat sebagai hasil pengamatan yang tajam Chaplin terhadap masyarakat, pemerintah dan aparatnya. Inilah yang dirumuskan di Barat sama sebagai The less government is the best government.

Surprise juga salah satu hasil pengamatan Chaplin. Ia tahu bahwa dugaan dan ekspektasi penonton bukan cuma alat pengikat untuk mengikuti cerita, tetapi juga bisa menjadi sumber kelucuan jika ternyata dugaan tersebut meleset. Itulah yang terjadi pada adegan memancing dalam film The Immigrant. Kita menduga Chaplin mabuk laut dan sedang muntah-muntah, ternyata ia sedang memancing dan berhasil. Kita tidak dongkol oleh tipuan atau surprise itu. Sebaliknya kita malahan ketawa gembira karena tokoh kita, sang underdog, ternyata tidak menderita mabuk laut.

Chaplin tidak hanya mengamati masyarakat sebagai sumber materi lawakannya, ia juga mengamati mereka yang menonton filmnya. Tidak jarang Chaplin menyamar menonton filmnya dengan orang banyak, dan jika di sana ia menemukan leluconnya yang tidak melahirkan kelucuan, ia melakukan revisi pada film tersebut.

Chaplin pada dasarnya adalah orang yang membuat film dengan prinsip audience approach. Suatu istilah yang di awal tujuh puluhan terdengar santer dari Direktor Film, Departemen Penerangan (Deppen). Bedanya dengan Chaplin adalah audience approach kita tidak dilandasi dengan pengamatan yang baik tentang obyeknya, yakni materi yang akan diolah dalam film. Yang diamati keinginan penonton melulu. Maka lahirlah film-film yang betul-betul mengakomodir selera rendah orang banyak. Proses seperti inilah yang melahirkan komedi konyol yang menghadirkan adegan-adegan tanpa akar psikologis, historis maupun sosiologis. Film seperti ini bukan saja membosankan, tetapi juga tidak memperkaya rohani kita.

Jika kita mencari penjelasan mengapa film-film Chaplin tergolong warisan terdepan karya seni yang memperkaya rohani, maka barangkali hal demikian akan kita temukan pada bakat besar Chaplin sebagai pemain pantomim dan kebolehannya mengamati dunia sekelilingnya tempat ia menimba bahan bagi keseniannya. Tetapi di samping itu saya kira masalah yang digelutinya—yang kemudian tampil sebagai pesan dalam karya-karyanya—adalah pengikat yang kukuh yang memberi bobot pada setiap karyanya. Chaplin adalah orang kecil (wong cilik adalah terjemahan dalam bahasa Jawa yang tepat, saya kira) yang amat bersimpati pada sesamanya. Itu adalah benang merah yang merangkai dan menyatukan terutama karya-karya Chaplin dalam periode film bisu.

Sebagai orang kecil Chaplin tidak berkepentingan dengan perang, karena itu ia berpandangan damai. Dan ini terlihat dalam cara Chaplin melihat perang dalam film Shoulders Arms dan The Great Dictator. Sebagai orang kecil Chaplin prihatin dengan nasib orang kecil, kaum buruh, yang terancam menjadi bagian dari mesin besar industri. Ini terlihat jelas dalam film Modern Times. Dalam City Lights Chaplin memperlihatkan simpatinya yang hebat kepada seorang gadis buta. Dalam Monsieur Verdoux (1947) ia mengumumkan perang kepada kepercayaan yang menghukum pembunuh, tetapi menghalalkan perang yang lebih banyak mengorbankan orang-orang kecil.

Pengamat biasanya mecoba-coba mencari sikap politik Chaplin lewat film-filmnya, terutama sejak ia membuat Modern Times. Ada yang mencoba melihat film tersebut sebagai terjemahan sinematik dari suatu sikap anti kapitalisme. Jika kita menonton film itu dengan saksama, akan kelihatan dengan jelas bahwa Chaplin yang muncul di sana adalah Chaplin si gelandangan (tramp), orang kecil yang jadi korban keserakahan manusia. Tidak ada sedikit pun saran dari Chaplin tentang bagaimana orang kecil sebaiknya menghindarkan diri dari keserakahan manusia modern itu. Chaplin hanya menggambarkan dengan simpatik penderitaan manusia akibat keserakahan sesamanya. Tidak lebih dari itu. Ia mengemukakan persoalan dengan cara yang tidak pahit, dan sama sekali tidak dibumbui dengan anjuran untuk mengadakan revolusi guna menggulingkan kapitalisme.

Menggambarkan dengan simpatik itu jugalah yang dilakukan Chaplin dalam City Lights. Dalam film ini digambarkan seorang gadis buta dan miskin yang hampir terusir dari rumah sewaannya karena kemiskinannya, sementara seorang milyuner kerjanya hanya berfoya-foya. Kontras ini diciptakan Chaplin tidak untuk menjelekkan yang satu sembari memuji yang lain. Ia tampaknya hanya mebeberkan kepada kita bagaimana dunia kita sebenarnya. Chaplin si kecil itu menunjukkan simpatinya kepada si buta tanpa harus pahit terhadap yang kaya. Ia bahkan berhasil mendapatkan bantuan keuangan dari si kaya buat pengobatan si buta. Ketika si buta sanggup menggunakan indra penglihatannya dan menemukan Chaplin ternyata cuma gelandangan, semuanya berakhir dengan puitis dan sama sekali jauh dari sentimental.

Jika kita percaya bahwa seniman mempunyai indra keenam berupa kemampuan propetik melihat ke depan, maka kita bisa saja melihat City Light sebagai ramalan Chaplin tentang dirinya. Dalam City Light digambarkan betapa gadis buta dan miskin itu bisa melihat kembali akibat sebagai usaha Chaplin. Di akhir cerita kita bisa yakin bahwa imbalan yang diterima Chaplin cuma kebahagiaan seorang manusia kecil yang berhasil menolong sesamanya. Gadis buta yang cantik itu tidak membalas kebaikan Chaplin dengan mengawininya. Chaplin akhirnya melanjutkan perjalanan hidupnya sebagai gelandangan. Bukankah nasib yang demikian ini juga menimpa Charlie ketika ia terusir dari Amerika setelah ia dicurigai sebagai simpatisan komunis.

Tentang nasib Chaplin yang terusir karena tuduhan komunis pada masa Mac Carthyisme melanda Amerika, sebenarnya Chaplin bisa dengan gampang membela diri. Tetapi sebagai seniman besar ia tampaknya merasa karya-karyanya sudah cukup menjelaskan dirinya, dan ia tidak ingin memprosakan apa yang telah dengan indah dipersembahkannya kepada kemanusiaan sebagai puisi. Chaplin seorang seniman besar yang konsekuen. Ia anti perang dan pencinta damai. Itu terlihat dalam film-filmnya. Karena ia menganggap perang adalah akibat nasionalisme, maka ia menghindari sikap nasionalisme. Karena itu ia tidak merepotkan dirinya untuk jadi warga negara Amerika meski ia tinggal, berkarya, menjadi terkenal, dan jadi kaya di negeri tersebut. Sebagai orang kelahiran Inggris, ia pun tidak pulang ke negeri kelahirannya ketika harus meninggalkan Amerika. Dalam karya-karyanya Chaplin membela kemanusiaan yang tertindas, dalam hidupnya ia adalah warga negara dunia.

Pada bagian terakhir tulisan ini, ada beberapa hal yang saya anggap menarik untuk diperhatikan tentang Chaplin. Pertama mengenai perbedaan antara film-film bisunya dengan film-film yang dibuatnya sejak The Great Dictator. Saya menganggap karya-karya Chaplin terbaik adalah film-film bisunya. Salah satu yang terbaik dari yang bisu itu adalah Modern Times. Di film ini terbaik, bagi saya, karena ia mempersembahkan di sana semua yang telah dicapainya dalam film-film sebelumnya. Semua itu diperkaya dengan tema yang digarapnya dengan tuntas, yakni perjuangan manusia kecil untuk mempertahankan kebebasan dan harga dirinya. Baik kebebasan dari penindasan industri (mesin yang memperbudak manusia), kebebasan dari kungkungan kekuasaan (polisi), maupun kebebasan dari kemiskinan (gadis lapar yang mencuri pisang). Dengan kata lain pada Modern Times ini Chaplin mencapai satu kesatuan utuh antara bentuk yang sempurna dan isi yang berbobot.

Kedua, kecuali Limelight (1952), film-film bersuara Chaplin tidak mencapai tingkat subtil sebagai yang dicapainya lewat film-film bisunya. Barangkali ini membuktikan ketakutan Chaplin akan hancurnya seni film akibat ditemukannya teknologi yang memungkinkan film berbicara. Paling tidak dalam tangan Chaplin, film-film bisu jauh lebih sugestif dan subtil dari film-film bicara. Film-film bicara tidak bisa menghindarkan diri dari sebuah diskursi, akibatnya maka appeal-nya merebut porsi kerja otak kita. Film-film bicara Chaplin memang lebih celebral dari film-film bisunya. Bandingkan misalnya Modern Times dengan A King in New York. Kedua film ini pada dasarnya bicara tentang penindasan manusia kecil oleh kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya, (mesin dan sistim kapitalisme dalam Modern Times, kekuasaan politik dan birokrasi dalam A King in New York). Menyadari itulah rupanya maka Chaplin meramalkan kembalinya film bisu di kemudian hari. Tetapi kecuali jika dunia masih akan mendapatkan manusia seperti Chaplin, ramalan kembalinya film bisu akan tetap tinggal sebagai ramalan.

1988.

[*] Diketik dari ‘Dari Festival Ke Festival: film-film manca negara dalam pembicaraan’ (Pustaka Sinar Harapan, 1994) oleh Salim Said.

[] Pict Charlie Chaplin dan Jackie Coogan dalam film The Kid (1921)

 

Tentang Mata : Barthes dan Hepburn.

AudreyHepburn1

– Untuk seseorang yang mengagumi Hepburn, Duta Unicef untuk anak-anak di Afrika.

Tadi ngopi dengan kawan baik saya, seorang pengajar musik di salah satu sekolah musik Yogyakarta. Ia sedang membaca buku tentang Roland Barthes terbitan Jalasutra—siapapun tentu telah membaca karya terjemahan itu, tentunya yang berhubungan dengan musik. Secara jujur, saya bukan pembaca Roland Barthes, lalu mendadak saya tertarik mencari tahu tentangnya, dan lagi-lagi, hal-hal mengejutkan menjumpai saya. Saya menemukan karya Barthes, ‘Essais critiques’ ( Paris: Seuil, 1991. 288 p.);* kemudian saya terpaku dengan satu bab ‘La métaphore de l’Œil’, Metafora Tentang Mata. Sayang, saya tak membawa kamus (cetak) besar dan hanya bisa membaca sekenanya dengan bantuan kamus online favorit saya, reverso[dot]net. Barthes menulis seperti ini:

“…Meskipun Sejarah Tentang Bawah Putih (l’Histoire de l’ail) terdiri dari beberapa penyebutan karakter dan cerita dari permainan erotik mereka, Bataille tak bermaksud menuliskan di sana sejarah tentang Simone, tentang Marcelle atau tentang narator (seperti Sade yang sanggup menulis sejarah tentang Justine atau Juliette). Sejarah Tentang Mata, sesungguhnya sejarah tentang suatu benda. Bagaimanakah suatu benda bisa memiliki suatu sejarah? Tak diragukan bahwa ia bisa melalui dari tangan ke tangan (memberikan kejadian lalu pada fiksi-fiksi yang menjemukkan dari genre Sejarah Tentang Pipaku [Histoire de ma pipe] atau Kenangan Tentang Kursi Berlengan [Mémoires d’un fauteuil]), itu bisa juga menghentikan tentang gambaran ke gambaran; Kemudian sejarahnya itulah salah satu tentang suatu migrasi, putaran dari avatar-avatar (secara harfiah) bahwa ia menjelajah jauh dari ada-nya yang asli, bagaimanapun menurut penurunan dari imajinasi tertentu yang merusak bentuknya tanpa membuangnya : itulah masalah dari buku Bataille.

1. Dengan rasa hormat pada Georges Bataille (Critique, n0(8) 195-196, Agustus. 1963).

Apa yang terjadi pada Mata [l’Œil] (dan bukan lagi untuk Marcelle, untuk Simone atau untuk seorang narator) tak bisa diasimilasikan pada suatu fiksi yang umum; ‘Petualangan-Petualangan’ dari suatu benda yang secara mudah mengubah pemiliknya, jatuh ke dalam imajinasi romantik yang memuaskan dirinya untuk mengatur kenyataan; disamping itu, ‘avatar-avatar’-nya, men-gada melalui kekuatan imajiner yang sesungguhnya (dan bukan lagi secara mudah ‘diciptakan’), tak hanya sanggup meng-ada-kan imajinasi yang sama: mereka bukanlah produksi melainkan substansi; dengan menjelaskan migrasi dari l’ŒÛ [1] terhadap benda-benda yang lain (dan karena itu penggunaan-penggunaan lain dari ‘Melihat’), Bataille tak berkompromi dengan dirinya lagi dalam roman, yang saling berakomodasi melalui definisi dari imajinasi parsial, diturunkan dan tak murni (segalanya bercampur dengan kenyataan); sebaliknya, itu tak menggerakannya di dalam suatu esensi dari imajiner. Haruskah itu memberikan pada genre dari komposisi nama tentang ‘puisi’ itu? Kita tak melihat yang lain untuk melawan roman, dan oposisi itu perlu: imajinasi romantik adalah ‘mungkin’: roman, adalah apa yang, secara keseluruhan, bisa terjadi : imajinasi memalukan (bahkan dalam kreasi yang paling mewah), sebab itu tak berani menjelaskan dirinya di bawah jaminan kenyataan; sebaliknya, imajinasi puitik adalah ketak-mungkinan: puisi, dalam situasi apapun, tak bisa terjadi, kecuali secara tepat dalam bagian yang gelap atau fantasi-fantasi yang membakar, dengan demikian, ia sendiri sanggup untuk menandai; roman dilanjutkan melalui kombinasi-kombinasi acak dari elemen-elemen kenyataan; puisi melalui ekplorasi yang tepat dan elemen-elemen virtual yang komplit. Kita akan mengenali dalam oposisi itu—jika itu didasarkan—dua kategori besar (operasi-operasi, benda-benda atau figur-figur) bahwa linguistik telah mengajarkan kita sekarang ini untuk membedakan dan menyebutkan: rancangan dan seleksi, sintagma dan paradigma, metonimi dan metafor. Jadi, Sejarah dari Œ, secara esensi, suatu komposisi metaforik (bagaimanapun kita akan melihat metonimi di sana menjadi penegah sesudahnya): Mata [l’Œil], suatu istilah di sana itu adalah varian yang mengarah pada sejumlah benda tertentu yang tersubstitusi, yang bersamanya dalam pertalian seksama dari benda-benda yang tertarik (sebab kedua mata seluruhnya berbentuk bulat) dan bagaimanapun tak sama (sebab kedua mata secara beragam memberi nama);…”

Dan tentang mata, benda ciptaan Yang-Maha-Agung, saya teringat pada si manis yang sendu, Audrey Hepburn dengan petikannya:

“The beauty of a woman must be seen from in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides.”


[1] Catatan: Tak terjemahkan, namun ada kemungkinan yang dimaksud, l’ŒÛ, dalam teks tersebut adalah huruf, yang dimungkinkan, dalam konteks bahasa Prancis, ‘Œ’ adalah alfabet latin, ligatur o dan e (lih. https://en.wikipedia.org/wiki/%C5%92); dan ‘Û’ adalah huruf dari alfabet bahasa Turki, bahasa Kurdi, bahasa Prancis, bahasa Friulian (lih. https://en.wikipedia.org/wiki/%C3%9B). Sementara, ‘Œ’, juga ditemukan dalam bahasa pemrograman Macintosh (lih. http://www.columbia.edu/itc/french/matheis/1102fa01/edit/accents.html) dan untuk pelafalan ‘Œ’ bisa merujuk ke https://www.thoughtco.com/french-pronunciation-of-oe-1369577.

(*) Beberapa teks dari La métaphore de l’Œil dalam Essais critiques’ ( Paris: Seuil, 1991. 288 p.) dari Roland Barthes http://www.ae-lib.org.ua/texts/barthes__essais_critiques__fr.htm#30

Kakek.

20180210_163138 (copy)

“Terima kasih,” kata Siddharta. “terima kasih dan saya terima. Saya juga terima kasih pada anda. Vasudeva, karena mendengarkan demikian baik. Sedikit orang yang tahu cara mendengarkan dan aku tidak menemukan orang yang dapat berbuat seperti anda. Dalam hal ini pun saya akan belajar dari anda.” – Siddharta, Hermann Hesse. tr. Hilda Rosner dan Asbari Nurpatria Krisna (Pustaka Utama Grafiti, 1987)

Di kelas bahasa Prancis dan kelas bahasa Jerman, aku menemukan banyak hal-hal menarik. Yang paling menarik adalah menjadi pencerita dan menjadi pendengar, namun, agaknya aku lebih senang dengan menjadi pendengar, tapi madame atau frau berkata bahwa kekuranganku ada di ‘speaking’ terlalu banyak ke ‘writing’ dan ‘translating.’

Pada suatu waktu, di salah satu kelas bahasa, aku diharuskan menjadi pencerita tentang siapa anggota keluarga yang paling dirindukan. Dari kelima anak—rata-rata anak Hubungan Internasional; empat anak rata-rata empat tahun lebih muda dariku dan aku mendapat bagian keempat. Satu, dua, tiga, usai menceritakan anggota keluarga yang paling dirindukan dan aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Lalu aku menjadi pencerita, dan kemudian mulut terbuka dengan melafalkan satu nama: Kakek. Agar mendapatkan feel yang menyentuh, jika menganut bahasa Prancis, ada bentuk sapaan Saya-Anda (Je-Vous), tapi karena konteksnya bercerita pada teman-teman jadi menggunakan aku-kamu (Moi/Je-Toi/Tu).

“Pada suatu saat,” mulaiku pada kawan-kawan muda, dan melanjutkan, “aku dan ibu pergi dari Malang ke Surabaya dengan naik kereta, tempat kelahiran yang tak pernah kurasakan. Di tengah perjalanan, ibu banyak bercerita tentang kakek. Mulai dari pengagum organisasi Masyumi hingga menguasai empat bahasa asing, Inggris, Arab, Jerman, Belanda, dan pembaca Hamka, juga Chairil Anwar…Seusai keluar dari pondok saat kelas satu es-de, kakek mengajakku bermain keliling kota Malang naik angkot, meski punya mobil. Kakek tak pernah lepas dari tembakau, papirnya, dan topi koboinya. Di pasar comboran, kakek membeli beberapa alat pertanian untuk kebunnya sembari bercakap-cakap dengan pedagang, sebelum pulang kembali ke Surabaya. Dari kakekklah aku menyadari bahwa bahasa dan komunikasi begitu penting. Pemahaman kakek tentang relijiusitas tak perlu ditanyakan lagi dan beberapa puluh tahun kulihat buku-bukunya tak ada yang merawat. Jadi tanpa sepengetahuan keluargaku, aku merawatnya baik-baik. Jika ditanya siapa anggota keluarga yang paling dirindukan, tentu saja, kakek. Terima kasih untuk kalian semua.”

Untuk itulah aku mengambil resiko untuk belajar bahasa (untuk teknik?) dari dasar. Atau bisa jadi, setiap kata yang tertulis dan dilisankan, seakan-akan kakek hadir dan menyapa cucunya, langit menyapa bumi dan bumi tersenyum pada langit: Resiprokal.

Selamat merayakan akhir pekan bersama orang-orang terkasih.

Hari Pers!

27857844_1838622399503039_5198309094616770187_n

Meski bukan orang pers, namun sejak kecil telah melihat kakek memegang dan membaca media cetak berupa koran, Kompas dan Jawa Pos, di setiap pagi, bersama teh pahit dan rokok tembakau lintingannya sendiri itu. Kebiasaan membaca kakek menjerumuskan ke kolom olahraga dan menjadi kolom favorit saat itu, di mana Zidane bermain laiknya musik klasik Erik Satie, di Piala Dunia 1998. Pelajaran pertama adalah memahami skor pertandingan, misalnya, Brasil 0 (0)–(2) 3 Prancis. “Apa maksud dari tanda kurung (0)–(2)?” bertanya-tanya pada saat itu. Tak lama kemudian, ketika di sekolah dasar, seorang kawan memberitahu bahwa tanda kurung itu hasil dari pertandingan babak pertama.

Selepas sekolah dasar, kemudian mulai membaca Soccer dan Bola. Di Soccer, setiap di bagian tengah halaman selalu ada profil pemain dengan gambar kartunnya, sementara Bola, selalu kecanduan dengan gaya menulis Weshley Hutagalung saat itu. Lalu vakum, membaca koran beberapa tahun, beralih membaca buku cerita silat. Saat kuliah tertarik media cetak lain berupa zine saat pemikiran masih unyu-unyu, namun di satu sisi juga terjebak belantara koran minggu, karena ada kolom sastra atau kolom arsitektur.

Kini, belajar menaiki satu langkah anak tangga sebagai pembaca bersama koran-koran Prancis seperti Le Monde, Le Parisien, Libération (koran yang didirikan oleh Jean-Paul Sartre), La Marseillaise, L’Humanité, La Dépêche Du Midi, Le Courrier De L’ouest. Untuk Koran Jerman masih belum memetakan, namun sedang senang membaca Frankfurter Rundschau.

Secara pribadi, koran atau media cetak, telah seperti suatu sekolah. Dan mungkin benar seperti yang dikatakan sastrawan Prancis, Bapak Uni Eropa, Victor Hugo, melalui Pak Bos Macron di akun twitternya:

“Victor Hugo disait qu’ouvrir une école, c’est fermer une prison. Nous voulons fermer beaucoup de prisons. [Victor Hugo pernah mengatakan bahwa, membuka satu sekolah sama dengan menutup satu penjara. Kita ingin menutup banyak penjara.]”

Selamat Hari Pers! Terima kasih warisan membaca korannya, Kek!

Dibalik Cita dan Rasa: Dari Masakan Padang Hingga Lalapan Lamongan.

 

 

I am not giving up what I most love doing – Sri Owen (1), penulis Indonesian Regional Cooking (1995).

Sore tadi berkunjung ke masakan padang ‘Lima Sekawan’, ketika telah mengambil lauk dan menuangkan sambal hijau pada nasi di atas piring, kemudian duduk, dan menyantap masakan padang yang tak jauh dari tempat Jokowi menimba ilmu. Perpaduan cabe rawit hijau dan tomat hijau kemudian meledak di lidah Jawa Timurku. Ya, masakan padang ini tak hanya mengingatkanku pada Agus Salim, satu tokoh bangsa yang kocak dan cerdas dengan kemampuan bahasa (poliglot) yang mengagumkan dan, tentu saja, kesederhanaanya; akan tetapi juga kenangan tentang seorang perempuan tangguh yang mengubah cara pandangku, seorang pengagum akting Anne Hathaway dan penggemar Coldplay, yang kini telah menjadi seorang istri dan seorang ibu bagi keluarga kecilnya. Setiap kali datang untuk menikmati kuliner Indonesia ini, aku ingat tentang bagaimana dia dulu mengenalkanku pada masakan padang yang terletak di sekitar Fakultas Teknik/Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Karena aku tak ahli dalam menganalisis ‘cita-rasa’ masakan, aku pun hanya bisa menikmatinya. Rasa pedas masakan padang ini, masih sama dengan rasa pedas masakan padang yang pernah dia kenalkan.

Setelah sore hari menikmati masakan padang, pada malam harinya, sekitar pukul sepuluh malam, aku menikmati lalapan Jawa Timur di samping kanan Pasar Demangan Yogyakarta, untuk kali pertama, yang diajak oleh satu kawan baru laki-laki mudaku dari Kalimantan, yang beberapa waktu lalu menyelesaikan tesis Psikologinya. Aku senang ia telah melewati proses akademiknya. Ia berumur tiga tahun lebih muda dariku dan setiap menghadapi orang-orang yang umurnya dibawahku, aku selalu ingat istilah ‘Gerontologi’ yang pernah ditulis Gus Dur di Kompas tahun 1980: “Hal ini sudah tentu sesuai dengan watak psikologis dari kehidupan perorangan pada usia sangat tinggi: sulit merubah pendirian lagi, sukar menerima pendapat orang lain, dan sibuk dengan mempertahankan apa yang telah dicapai belaka.” Jadi, ketika kami telah memesan makanan dan kemudian aku menikmati lele yang kupesan dengan menutulkan ke sambal khas Jawa Timur yang pedas, dan aku terus bertanya-tanya tentang dunianya. Lalu ia bercerita tentang tempat kuliner di Jogja yang telah dikunjunginya dan belum sempat kucoba. Meskipun perkawananku bersamanya sejenak—tidak, semoga selamanya, namun aku bersyukur kepadaNya, telah dipertemukan dengan kawan-kawan muda yang hebat sepertinya. Dan kemudian, seusai makan, kami berpisah untuk melanjutkan esok hari, melanjutkan mimpi masing-masing.

(1) http://sriowen.squarespace.com/

A Desert of Human.*

Hari ini membuka file lama tentang sejarah jalan raya, khususnya Mac Adam (Di Indonesia sering disebut dengan ‘makadam’), yang nantinya berkesinambungan dengan perkerasan jalan raya seperti flexible pavement (perkerasan lentur) dan rigid pavement (perkerasan kaku). Tak hanya bangunan, jalan raya pun punya lapisan-lapisannya sendiri seperti tanah dasar (sub grade), pondasi bawah (subbase course), pondasi atas (base course), permukaan / penutup / aspal (surface course). Tentang aspal sendiri, juga ada perhitungannya di dalam laboratorium, seperti dari daktilitas aspal hingga viskositas aspal, dari analisa agregat halus dan kasar hingga sand equivalen test, atau dari marshall test hingga kadar aspal (ekstraksi). Tak mudah memang.

Namun, sayangnya, dulu tak pernah diajarkan tentang lima elemen alam yang pernah kubaca di perpustakaan kota Malang bahwa berasal dari filsafat Cina seperti kayu, api, tanah, baja dan air. Dengan nada yang sedikit pesimis, perlu diketahui bahwa sekeras apapun aspal dengan uji laboratoriumnya, air tetap saja terus mengikis. Apabila melihat suatu jalan yang berlubang kecil, jika tak segera ditutup, maka air dengan sangat senang akan bergerak ke lubang kecil itu dan meresap ke tanah, sekali, dua kali, tiga kali, lima kali, hingga lubang jalan membesar. Dan menurutku, ini masih perlu jawaban yang panjang—beserta praktik-praktik nakalnya dan bumbu politiknya.

Setelah merefleksi kembali ingatan tentang jalan raya dan uji aspal di laboratorium kampus dulu, aku juga teringat kembali satu cerpen Radhar Panca Dahana, tentang jalan jika meminjam konsep intertekstualitas dari feminis yang keibuan, Julia Kristeva, di blog lamanya (1). Tak hanya itu, dari beberapa karya RPD, aku masih belum berjodoh dengan karya-karya lamanya seperti Le Monde est Temps (1999) atau novel Ganjar dan Si Leungli (1995).

Ah, Leungli, apa kabar dia?

Meskipun aku belum membaca novel RPD itu, dari satu kata kunci ‘Leungli,’ kemudian aku dituntun hingga membaca dongeng anak-anak tradisional Sunda itu, yang serupa dengan kisah lama pada masa Hindu-Budha. Perlu diketahui, bahwa kisah—atau cerita rakyat—Leungli itu, tentang menghormati saudara, bisa adik ke kakak, bisa kakak ke adik, bagus untuk diceritakan pada anak-anak saat menjelang tidur, seperti cerita bebek dari HC. Andersen atau cerita sufi Nasrudin Hoja. Dan akhirnya, si bungsu, kawan si Leungli, bertemu seorang pangeran, menikah dan mereka hidup bahagia.

[*] Judul diambil dari salah satu lagu band Math-Rock Jepang, toe, dalam album Hear You (2015).

(1) http://radhar-radhar.blogspot.co.id/search/label/Cerpen%20cerpen

Untuk Simbok di Kampung dan Untuk Kartiniku (Nanti).

DONHOm2WsAEopYb (1)

– Und setzet ihr nicht das Leben ein, Nie wird euch das Leben gewonnen sein.’ [Dan jika kamu tak mempertaruhkan hidupmu, kamu tak akan pernah memenangkan hidupmu.] – Petikan Wallenstein, Friedrich Schiller.

*

Di musim panas pada tahun 1967, ibunya meninggalkan keluarga di rumah selama sebulan. Elisabeth [Ibu Jurgen Klopp] mengandung berat, dan resiko dari komplikasi membuatnya memerlukan untuk memeriksa ke klinik di Stuttgart, 80 menit jauhnya ke barat-laut. Rumah sakit lokal hanya 8,5 km ke jalan, tidak dilengkapi dengan melakukan bedah sesar. Itu sangat sulit bagi Stefanie dan Isolde [Kakak-kakak perempuan Jurgen Klopp] tanpa ibu mereka untuk waktu yang lama. “Kami berjanji: “Ibu akan membawakan sesuatu yang mengagumkan untuk kalian ketika kembali.”

Ketika Norbert dan Elisabeth [Ayah dan Ibu Jurgen Klopp] tiba di rumah, mereka punya bayi kecil di lengan mereka, menahan jeritannya. Setelah sekitar satu jam, kakak-kakak perempuan bertanya-tanya apakah bayi itu tidak bisa dibawa kembali dan ditukar dengan sesuatu yang berbeda. Adik kecil itu menjerit—alangkah terkejutnya! Tapi Isolde segera menyadari bahwa dia telah diberi waktu lebih dari satu detik, mengganggu saudara kembarnya pada hari itu. ‘Semua fokus olahraga ayahku segera beralih ke anak laki-laki itu. Aku lega karena berlatih dengan kepala pendulum, diijinkan untuk mengambil balet dan olahraga atletik sebagai gantinya. Kelahiran Jurgen adalah nasib baik bagiku. Ia membebaskanku.’

*

Biografi Bring the Noise: The Jürgen Klopp Story karangan  Raphael Honigstein (Penerbit Jonathan Cape, 2017)