Sang Otodidak. L’Autodidacte. Der Selbstunterricht.

gus prancis

Mulanya, saya kira bahwa Gus Dur belajar bahasa Prancis dan bahasa Jerman ketika berkunjung ke Eropa. Tapi dugaan saya salah setelah membaca Gus Dur versi Greg Barton. Gus Dur, dalam sedikit pemahaman saya, tak pernah menolak apapun ilmunya, seperti bahasa. Dan belajar tentang Gus Dur memberi pencerahan kepada saya bahwa bahasa adalah penting, bahkan wajib, selaras dengan ilmu agama, ilmu sosial, dan ilmu alam.

Prof. Henri Chambert-Loir, pernah menulis makalah bahwa bahasa Melayu (bahasa Indonesia) diajarkan untuk pertama kali di Paris, Prancis, pada tahun 1840, di École nationale des langues orientales vivantes: ENLOV. Bahkan terdapat kamus Jawa-Prancis. Hm, jadi, masihkah menganggap remeh bahasa? Tak ada yang terlambat untuk memulai sesuatu, kan, mungkin demikian kata Gus Dur, sang otodidak.

*

Au début, j’ai deviné que Gus Dur avait étudié le français et l’allemand quand visitant en Europe. Mais j’ai deviné faux après avoir lu version de Greg Barton sur Gus Dur. Dans mon manque de compréhension, il ne rejette jamais aucune connaissance, tel que la langue. Et apprenant sur Gus Dur m’a donné éclaircissement que la langue était importante, même obligatoire, a aligné avec la science de la religion, la science de la sociale et le science de la naturelle.

Prof. Henri Chambert-Loir a écrit un document que le malais (l’indonésie) qui enseigné pour la première fois à Paris, en France, en 1840, à L’école nationale des langues orientales vivantes: ENLOV. Même il y avait un dictionnaire le javanais à le français. Donc, encore sous-estimer la langue? Rien de trop tard pour commencer quelque chose, n’est-ce pas, peut-être Gus Dur a dit. L’autodidacte.

*

Zuerst, das habe ich mir gedacht, Gus Dur studierte die Französisch und die Deutsch bei einem Besuch in Europa. Aber meine Vermutung war falsch nach dem Lesen von Greg Barton Version von Gus Dur. In meinem fehlenden Verständnis, er ignoriert niemals irgendwelche seiner Kenntnisse wie die Sprache. Und über ihn zu lernen hat mich aufgeleuchtet dass die Sprache wichtig war, sogar obligatorisch, mit ausgerichtet haben die Religionwissenschaft, die Sozialwissenschaften und die Naturwissenschaften.

Prof. Henri Chambert-Loir schrieb einmal ein Dokument, dass der Malaiisch (die Indonesisch), dass zum ersten Mal in Paris gelehrt hat, in Frankreich, im Jahre 1840, bei École nationale des langues orientales vivantes: ENLOV. Auch dort war ein Javanisch-Französisch Wörterbuch. Also unterschätzen die Sprache noch? Nichts zu spät, um etwas zu beginnen, vielleicht sagte Gus Dur. Der Selbstunterricht.

Iklan

Have Fun With Your Friends (HFWYF)

Have Fun With Your Friends (HFWYF) adalah salah satu gerakan di Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia, yang berelasi pada musik, khususnya musik hardcore. Gambar ini adalah bentuk perhatian HFWYF terhadap sesama; hasil keuntungan dari merchandise mereka disumbangkan kepada kawan kecil mereka, Muhammad Ghofi di Tumpang, Malang, Jawa Timur, Indonesia.

Have Fun With Your Friends (HFWYF) is one of movements in Malang, East Java, Indonesia, Southeast-Asia, that relates to music, especially hardcore music. This image is a concern from HFWYF for others; the result from their merchandise profit have donated to their little friend, Muhammad Ghofi in Tumpang, Malang, East-Java, Indonesia.

Have Fun With Your Friends (HFWYF) est un de mouvements à Malang, Est-Java, Indonésie, Asie du Sud-Est, qui concerne avec la musique, en particulier la musique hardcore. Cette image est une préoccupation de HFWYF pour les autres; le résultat de leur bénéfice de marchandise a fait don pour leur petit ami, Muhammad Ghofi, à Tumpang, Malang, Est-Java, Indonésie, Asie du Sud-Est.

Have Fun With Your Friends (HFWYF) ist eine Bewegung in Malang, Ost-Java, Indonesien, Südost-Asien, was sich auf Musik, besonders Hardcore-Musik bezieht. Dieses Bild ist ein Anliegen von HFWYF für andere; das Ergebnis von ihrer Ware profitieren haben zu ihr kleiner freund gespendet, Muhammad Ghofi in Tumpang, Malang, Ost-Java, Indonesien, Südost-Asien.

#havefunwithyourfriends #hardcoreismorethanmusic

For detail info and contact HFWYF: Aston or HFWYF.

Keturunan Imigran Pertambangan Menuju Legenda.

FOOTBALL LIGUE 1 / Rennes - Reims

: Untuk Raymond Kopa; sekaligus persembahan kecil untuk Abdurrahman Wahid.

Apa yang bisa ditawarkan oleh sejarah pada babakan perang dunia? Sepakbola, sebagai salah satu instrumen pemersatu dari gejolak-gejolak dunia punya keunikannya sendiri, dengan melahirkan Napoleon dalam ranah sepakbola, sebut khalayak ramai pada legenda yang baru saja meninggalkan hingar-bingar dunia serta lapangan hijau yang membesarkan namanya: Raymond Kopa.

Kopa kecil lahir pada tahun 1931 di Nœux-les-Mines, 25 mil dari barat daya dari Lille. Ia besar dari satu keluarga imigran Polandia yang kemudian menganggap bahwa salah satu area pertambangan di Prancis bagian utara menjadi hunian layak bagi keluarganya. Pembangkangannya sejak kecil telah muncul terhadap disiplin ilmu matematika dan sejarah, akan tetapi justru itu tak membuatnya untuk melarikan diri dari sekolah, namun ia lebih memilih bermain sepakbola saat sekolah di pagi hari dan di kebun milik kedua orang tuanya di siang hari. Pembangkangan itu terus berlanjut, ketika ia mengisahkan dalam Mon football, L’Heure du Sport (Calmann-Lévy, 1972), berkolaborasi bersama Paul Katz, ketika Prancis bagian utara diduduki oleh tentara Jerman dan keturunan Polandia itu memberikan bola bulu pertamanya ke tentara Jerman yang mengambil-alih lapangan sepakbola dengan meminta untuk bermain bersama. Kopa kecil dan kawan-kawannyanya mengambil kesempatan untuk mencuri bola tersebut dari tentara Jerman, dan pembangkang kecil, Kopa, membuat lelucon:

“Dengan cara kami, kami hampir melakukan aksi perlawanan, bukan?”

Keberanian Kopa kecil melontarkan lelucon pada tentara Jerman membawanya untuk mengikuti jejak langkah dari garis keturunan pemain Polandia lain yang bermain di atmosfer sepakbola Prancis seperti Ignace Kowalczyk (Lens, Valenciennes, Marseille), Edmond Novicki (Lens), atau bahkan Joseph Jadrejak dan César-Jean Ruminski (Lille). Keberanian itulah yang menjadi satu ‘kick-off’ untuk karir profesionalnya dalam perjalanan menuju legenda dari keluarga imigran.

Masa ‘kick-off’ dalam karir sepakbolanya dilalui dengan tak mudah, setelah kecelakaan tambang yang dideritanya dan diharuskan mengamputasi ibu jari dan jari telunjuk di tangan bagian kiri, kemudian ia terpilih untuk bermain bersama tim wilayah utara dalam Piala Nasional Para Kadet, namun harus kalah melawan Lorraine dengan angka 6-3, meski ia bermain cemerlang. Bukanlah legenda apabila ia tak mampu mengaktualisasikan dirinya, sampailah ia mendapatkan kontrak semi-profesional dua tahun bersama SCO d’Angers, kemudian tiga belas tahun untuk Stade de Reims dan tiga tahun bersama Real Madrid.

Sebagai Attacking Midfielder Right yang dianugerahi dribbling menawan, dengan torehan statistik 11 gol dari 31 pertandingan bersama Stade de Reims membawanya untuk memasuki skuad Les Blues di bawah asuhan Pierre Pibarot, pada Piala Dunia 1954 yang diselenggarakan di Swiss. Namun ayam jantan bermain dengan performa buruk dengan mengalami kekalahan dari Brazil dan Yugoslavia, dan tak lolos pada fase selanjutnya, meski di pertandingan terakhir, Kopa menjadi penyelamat wajah negeri para filsuf itu dengan satu gol dari titik putih melawan Meksiko.

Ketika bersama Real Madrid, 8 gol dari 27 pertandingan, membawa Attacking Midfielder Right itu diuji sekali lagi dalam Piala Dunia 1958 di Swedia. Bersama Just Fontaine, ia—yang menarik dalam momen ini adalah Kopa menjadi satu-satunya pemain yang bermain di liga luar—memang tak mampu membawa Les Blues untuk mengecap trophy, setelah ditaklukkan Brazil di semifinal. Namun, setidaknya, kenangan masa kecilnya ketika membuat lelucon pada tentara Jerman yang mengambil-alih lapangan sepakbola, dilampiaskan dengan menggoyak jala gawang Jerman Barat dalam perebutan tempat ketiga dengan skor 6-3 untuk Prancis.

Tak hanya itu, keberanian Kopa dalam menyuarakan suara imigran (atau pinggiran) yang berelasi dengan lapangan hijau, seperti yang dituliskan Xavier Béal dalam jurnal, Footbal Et Immigration: Les Figures de Kopa, Platini, Zidane Dans Les Medias:

“Ia (Kopa) menulis dalam autobiografi terakhirnya bahwa, ‘buku tentang kehidupanku ini adalah suatu harapan yang luar biasa juga untuk para pemuda hari ini. Perjalananku sungguh-sungguh menjadi topik yang hangat, aku sendiri adalah anak dari imigran Polandia…Dan dalam banyak hal-hal serupa pada Zinedine Zidane. Daerah pinggiran? Aku dibesarkan di dunia yang bahkan lebih menyedihkan, lebih sulit, pertambangan.’”

Jejak langkah peraih Ballon d’Or di tahun 1958 itulah, yang nantinya menumbuhkan spirit pada keturunan imigran lain seperti Michel Platini dari Italia, dan Zinedine Zidane dari Aljazair. Dan, Kopa menyadari benar bahwa, ada saat di mana titik kelelahan melalui peluit panjang atas hidup, harus terdengar.

“Selamat jalan, Opa Kopa. Adieu, Le grand-père Kopa,” yang (mungkin akan) diucapkan oleh, la prochaine génération du football de la france (generasi mendatang sepakbola Prancis), yang (mungkin akan) melanjutkan perpanjangan spirit-realitas hal-ihwal warisan kata-katanya:

“[…] dibesarkan di dunia yang bahkan lebih menyedihkan.”

Image: www[dot]lanouvellerepublique[dot]fr

Merasa Luas Dalam Keterbatasan.

linux

Jika memori dicoba untuk memundurkan langkahnya, di bulan Oktober tahun 2015, saya melakukan perjudian untuk berpindah ke satu kota dengan iklim yang menyenangkan dalam belajar apapun, Yogyakarta. Bagaimanapun, adaptasi hingga Februari 2016, di rasa sulit. Di Yogyakarta pula, saya banyak bertemu dengan persona-persona dari para pengarang hingga para seniman, dari para musisi hingga akademisi.

Setelah melewati masa adaptasi, tepatnya Maret 2016, kejadian buruk menghampiri. Komputer jinjing, D**L, yang saya gunakan di tahun 2010, saat mahasiswa harus terlelap untuk selamanya. Untungnya, beberapa data yang penting telah dipindahkan ke perangkat keras yang lain. Beberapa hari setelah komputer jinjing lama tak mampu beroperasi kembali, dan dengan budget seadanya, saya pergi ke salah satu toko komputer di depan rumah sakit mata Dokter Yap.

Di dalam toko tersebut, saya menikmati kecanggihan produk-produk terbaru dari segala brand, dan saya tak akan menyebutkan, toh siapapun telah mahfum. Saat itu, saya melihat satu produk di balik display yang tertata cantik, dan saya berpikir, dan terus berpikir. Satu keingintahuan mengonversi pertanyaan: “Bagaimana proses serta idea yang ada di balik produk ini?”

Tak lama berselang, seorang pramuniaga menyapa saya. Dan, saya mengutarakan budget serta produk yang sesuai dengan kebutuhan saya. Lalu, seperti seorang konsultan dengan kliennya, pramuniaga tersebut menyodorkan beberapa produk beserta rincian spek-speknya, meskipun di dalam hati saya ingin produk yang jauh lebih canggih dari produk yang sesuai budget saya. Namun, bermain dalam posisi terdesak dan serba keterbatasan, mengharuskan saya menerima produk sesuai budget itu. Dan saya pulang dengan membawa D**L baru berwarna merah mengkilap dengan sistem linux ubuntu—satu sistem yang sungguh baru bagi saya—yang, menggantikan si mantan, D**L berwarna hitam dengan sistem windows yang telah lama setia menemani.

Mencoba memahami sistem linux perlu waktu panjang, dari spyware, security dan virus, sistem file, terlebih program-program aplikasinya. Program-program aplikasinya yang tentu berbeda dengan sistem windows. Seusai memakai linux, terdapat penyesalan, dan harus diakui, saya merindukan dunia lama di D**L hitam bersama windowsnya tentang bagaimana mengaktualisasi diri dari photoshop, corel, auto cad, archicad, autocad architecture, bahkan microsoft office; bagaimanapun, kini, saya diharuskan mencari alternatif program-program aplikasinya di dunia baru, D**L merah.

Saya yang terlalu windows-sentris, akhirnya menerima linux ubuntu sebagai kawan hidup baru, setelah saya merefleksi tentang Suryomentaram, pangeran yang meninggalkan gelarnya, tentang untung-rugi:

“Latihan ini dapat pula dijalankan di antara keluarga. Umpama orang melihat anaknya tidak naik kelas dalam sekolahnya. Bila ia memakai kacamata untung-rugi, ia tidak dapat menghayati rasa anaknya, maka memarahinya. / Bila rasa untung-rugi yang ada pada dirinya diketahui, ia akan merasa salah dan menghayati rasa anaknya. Ternyata rasa anak sekolah yang tidak naik kelas itu tidak enak, seakan-akan putus asa dan ingin bunuh diri. Menghayati rasa anaknya itu, maka tentu saja orang segera berusaha menghilangkan rasa putus asa dan tidak memarahinya.” [1]

Dan filosofi linux ubuntu:

“Ubuntu mempunyai filosofi sebagai berikut : [a] bahwa perangkat lunak harus tersedia dengan bebas biaya; [b] bahwa aplikasi perangkat lunak tersebut harus dapat digunakan dalam bahasa lokal masing-masing dan untuk orang-orang yang mempunyai keterbatasan fisik; [c] bahwa pengguna harus mempunyai kebebasan untuk mendapatkan, mengubah, dan mendistribusikan perangkat lunak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan tanpa halangan apapun. / Perihal kebebasan inilah yang membuat Ubuntu berbeda dari perangkat lunak berpemilik (proprietary); bukan hanya peralatan yang Anda butuhkan tersedia secara bebas biaya, tetapi Anda juga mempunyai hak untuk memodifikasi perangkat lunak Anda sampai perangkat lunak tersebut bekerja sesuai dengan yang Anda inginkan.” [2]

Jadi, masihkah merasa terbatas?