Lila, Butterfly and Museum.

glasswing butterfly 1

Every Saturday, I had always invited my daughter Lila for visit the museum. Aside from learning about history, I had also suggested Lila to place where I’ve visited when I was young. Butterfly museum was our destination. The distance from home to the museum about twenty five kilometers. During the journey, Lila kept asking about the butterflies and the world. Arriving at the museum, I parked the car, and bought two tickets for twenty thousand. In the museum, there were two hundred and fifty species of butterflies. Lila like on Glasswing Butterfly, because she thought it was gorgeous. After two hours had enjoyed the beauty of the butterflies and the world, we went home. In the night, Lila tried to write in his diary. And then, in the front of me and my wife, she began to read what was written, then told us happily about Glasswing Butterfly. Is this happiness?

Chaque les samedis, j’avais toujours invité ma fille Lila à visiter le musée. Mis à part apprendre sur l’histoire, J’avais aussi invité Lila à l’endroit où je suis allé quand j’étais jeune. Le musée de la papillon était notre destination. La distance de la maison au musée environ vingt-cinq kilomètres. Pendant le voyage, Lila a continué à poser la question sur les papillons et du monde. Arrivé au musée, j’ai garé la voiture et j’ai acheté deux billets pour vingt mille. Dans le musée, il y avait deux cent cinquante espèces de papillons. Lila a aimeé sur la papillon de glasswing, parce qu’elle pensait que c’était magnifique. Après deux heures avait apprécié la beauté des papillons et du monde, nous sommes allés a la maison. Dans la nuit, Lila a essayé d’écrire par son journal. Et puis, devant moi et ma femme, elle a commencé à lire ce qui a été écrit, puis nous a dit heureusement sur la papillon de glasswing. Est-ce le bonheur?

Jeden Samstag hatte ich immer meine Tochter Lila zum Besuch des Museums eingeladen. Abgesehen von dem Lernen über die Geschichte, hatte ich auch vorgeschlagen, Lila zu platzieren, wo ich dort war, als ich jung war. Schmetterlingsmuseum war unser Ziel. Die Entfernung von zu Hause zum Museum etwa fünfundzwanzig Kilometer. Während der Reise fragte Lila nach den Schmetterlingen und der Welt. Ankunft im Museum, parkte ich das Auto und kaufte zwei Karten für zwanzigtausend. Im Museum gab es zwanzig hundertfünfzig Schmetterlingsarten. Lila Liebe auf Glasswing Schmetterling, weil sie es schön hielt. Nach zwei Stunden hatte die Schönheit der Schmetterling und der Welt genossen, wir gingen nach Hause. In der Nacht versuchte Lila in seinem Tagebuch zu schreiben. Und dann, vor mir und meiner Gattin, sie begann zu lesen, was geschrieben wurde, dann erzählte uns glücklich über Glasswing Schmetterling. Ist das Glück?

Image from arkinspace.

Iklan

Maaf, Bung.

11899464_947945108632642_1900809821_n

–Untuk Mohammad Hatta, yang meninggal pada 14 Maret 1980.

Bung, apa kabar di sana?

Semoga tetap selalu riang bersama para founding people Indonesia yang lain di tempat yang jauh. Bung, pernahkah kau memimpikan pada satu masa, akan ada generasi penerus yang sepertimu lagi, seperti generasi pertama, yang tak bergulat pada kepentingan diri sendiri, melainkan juga memikirkan kepentingan bersama, demi kemajuan bersama suatu bangsa yang benar-benar mengagumkan, seperti Indonesia?

Bung, apa sebenarnya arti kebersamaan itu sendiri, apakah kebersamaan yang dimaksud adalah saling menguntungkan golongannya sendiri, ataukah kebersamaan yang dimaksud seperti ketika seorang gadis kecil yang memberikan sepotong roti untuk kawannya yang menangis, sebab lupa membawa bekal makanan, di suatu taman kanak-kanak, dan gadis kecil itu berkata, “ini, makanlah, aku tidak lapar.” Seperti itukah, Bung?

Bung, bagaimanakah cara mendepak pesimisme yang menggelayuti diri, saat memandang masa depan bangsa dari Bung yang begitu buram, hampir-hampir tak ada satu noktah berwarna putih pun yang hadir di suatu ruang bernama optimisme?

Oya, masih adakah noktah-noktah putih yang bernama kejujuran, kepercayaan-diri pada potensi diri, kebersamaan segala golongan, dan bangsa Bung, Indonesia, memiliki potensi ajaib dalam setiap perbedaan serta keberagaman yang terbungkus dalam semangat gotong-royong, seperti yang dilakukan orang-orang desa, yang kerap kau dengungkan di dalam teksmu?

Maaf, Bung. Namun generasi kami sekarang adalah generasi pesimisme dalam memandang segalanya. Generasi yang juga hidup dalam idea filsuf Denmark, Soren Kierkegaard: Kecemasan.

Image dari: Instagram Mata Najwa.