Lala dan Mimpinya.

Sekarang, Dina sedang mengajar kelas anak-anak. Salah satu muridnya, Lala, adalah murid kesayangannya. Gadis kecil ini paling lambat dalam memahami pelajaran. Dina terus-menerus memberi semangat padanya. “Lala, apa impianmu?” kata Bu Guru Dina.
Lala terdiam, malu.
“Tak perlu malu, di kelas ini hanya ada kamu dan ibu?”
Kemudian, Lala bicara.
“Aku ingin sepertimu, Bu, yang membantu anak sepertiku.”
Dina, perempuan muda yang menjadi guru itu, tak mampu berkata apa-apa. Pada akhirnya, mengajar adalah rasa cinta yang tak ternilai.

Maintenant, Dina enseigner une classe d’enfants. Un de ses élèves, Lala, est son élève préféré. Cette petite fille est la plus lente à comprendre la leçon. Dina lui donne encourage constamment.
“Lala, quel est ton rêve?” Dire le professeur Dina.
Lala est silencieuse, honte.
“Rien à avoir honte, dans cette classe il y a toi et moi?”
Puis, Lala parle.
“Je veux être comme vous, Madame. Qui aident des enfants comme moi.”
Dina, une jeune femme qui devient professeur, ne peux rien dire. En fin, l’enseignement est l’amour qui n’a pas de prix.

Nun, Dina lehrt eine Klasse von Kindern. Einer seiner Schüler, Lala, ist sein Lieblingsschüler. Dieses kleine Mädchen ist das langsamste im Verständnis der Lektion. Dina ermutigt sie ständig.
“Lala, was ist dein Traum?” Sagen Sie die Lehrerin Dina.
Lala ist still, peinlich.
“Nichts zu schämen, in dieser Klasse gibt es nur dich und mich?”
Dann Lala spricht.
“Ich möchte so sein wie Sie, Frau. Wer hilft Kindern wie mich.”
Dina, eine junge Frau, die zum Lehrerin wird, Kann nichts sagen. Am Ende ist die Lehre die Liebe, die unbezahlbar ist.

Iklan

Membaca Biru (II)

416

Dalam review Readings on Color, Vol. 1: The Philosophy of Color milik Alex Byrne dan David R. Hilbert, warna adalah subjek mengagumkan yang tak berujung-pangkal bagi para filsuf, ilmuwan, dan bagi kaum awam, sebaik suatu mikrokosmos yang mengandung pelajaran dari ilmu kognitif.

Ketika pupil mata memandang dengan intens, kandungan pelajaran itu terjelmakan pada permainan tebal-tipis garis, baik yang lengkung dan lurus, maupun komposisi warna putih yang dipadu warna kuning-kecokelatan, serta pada keberanian—tanpa ada tekanan untuk takut melakukan kesalahan—dalam menggabungkan warna biru dan hitam yang diletakkan pada satu angle. Sketch—sayangnya saya tak menemukan siapa nama si pencipta—ini mengingatkan saya pada apa yang pernah ditulis tentang estetika Islam milik Ismail Raji al-Faruqi dalam Seni Tauhid (Bentang, 1999) yang dialih-bahasakan oleh Hartono Hadikusumo:

“Sebagai manifestasi ketuhanan yang gaib dan kekal.”

Selamat berakhir pekan. Maknai warnamu. Merahkan merah. Hijaukan hijau. Birukan biru. Hitamkan, kopimu.

FLORA DAN FAUNA SERTA PENGELOLAAN EKOLOGIS – ROMO MANGUNWIJAYA

toko-buku-kafka_kalam-lazuardi

Image tbkafka/kalam lazuardi https://www.instagram.com/p/BQZo3pVgGp_/

Hubungan Bangunan dan Flora Fauna.

Alam Indonesia serba subur dalam flora (dunia tumbuh-tumbuhan) dan fauna (dunia binatang.) Lazimnya soal flora tidak dimasukkan dalam bidang arsitektur atau ilmu bangunan, kecuali yang ikut seni-taman. Memang selayang pandang soal bangunan dan soal tumbuh-tumbuhan atau pun dunia binatang tidak berpautan dengan soal bangunan, dan dianggap dunia tersendiri. Sebagian itu disebabkan karena secara tidak sadar, tetapi sering parah akibatnya, dunia bangunan dan flora-fauna bermusuhan. Di mana bangunan tumbuh, flora dan fauna harus menyingkir. Arsitektur bertindak sebagai agresor, seperti juga kota urban semakin mengganyang desa sawah agraris.

Permasalahan tersebut memang sangat kompleks dan rumit serta sulit penyelesaiannya, walaupun setiap orang yang terpelajar maupun yang berpikir praktis tahu, bahwa dunia urban dan dunia agraria, dunia bangunan dan flora-fauna harus saling mengisi, hidup bersama dalam suatu integrasi yang selaras. Di sinilah tanggung jawab setiap arsitek, ahli bangunan maupun pihak-pihak yang berwenang dalam masa demam pembangunan sekarang. Soal itu tidak hanya ada di negeri kita, tetapi adalah masalah dunia. Sebenarnya adalah masalah dan tanggung jawab kita masing-masing juga.

Kesatuan Ekologis Alam Lingkungan Kita.

Dunia kehidupan manusia, kehidupan flora dan fauna yang mendapat tempat di bumi dengan segala kemungkinan namun juga keterbatasan fisiknya adalah SATU KEHIDUPAN TUNGGAL. Seperti anggota-anggota tubuh kita juga. Jika kita mengabaikan pengelolaan kesehatan paru-paru (misalnya terus-menerus bekerja dalam pabrik berdebu dan penuh gas berbisa) seluruh tubuh dan bukan hanya paru-paru saja yang menderita. Unsur kecil empedu rusak, seluruh tubuh bisa mati. Demikian juga seluruh unsur dan proses-proses keadaan serta kehidupan apapun, binatang maupun tumbuh-tumbuhan, pengotoran air sungai atau pengotoran hawa udara, penebangan hutan atau pembangunan bidang-bidang kota luas serba aspal dan beton, semua itu tidak boleh seenaknya saja. Tidak semua yang kita mampu selalu boleh kita kerjakan.

Seluruh kehidupan di planet bumi ini, merupakan kesatuan hidup bersama (ekologis) yang saling tergantungan dan saling menyumbang selaku kawan anggota keluarga tunggal yang hidup atau mati bersama (organis, integral.) mental dan kebijaksanaan ekologis, organis, integral itulah, terutama sekarang, demi kelangsungan kesejahteraan bangsa kita dan seluruh bangsa manusia harus kita latih dan kita bina. Dengan kata lain: kita harus sadar dan ikhlas mengelola alam keliling kita, justru bila kita sedang merencanakan atau memperbaiki bangunan-bangunan dan pergedungan kita.

Mulai sekarang memang dalam kenyataannya, walaupun tak sadar, tak sengaja, arsitek dan pembangunan gedung atau kota semakin menjadi agresor flora dan fauna serta tata-kesatuan-hidup keliling kita. Di masa-masa dulu bangunan masih sederhana dan selalu selaras dengan alam, dan tidak dibangun dalam jumlah yang sangat besar. Bahan-bahan bangunan pun adalah bahan-bahan alam, yang diambil dari alam dan dikembalikan kepada alam. Misalnya kayu yang menjadi busuk kembali pada alam. Pengambilan bahan dari alam lebih sedikit dari yang diproduksi oleh alam sendiri. Kebersihan dan kewajaran air serta hawa-udara tidak ternoda.

Tetapi pada masa sekarang alam hanya disedot saja terus-menerus. Pohon-pohon di hutan ditebang terus-menerus tanpa jaminan peremajaan kembali. Selain itu bahan-bahan baru, beton, sintetis kimia dan sebagainya semakin membanjir dan jelas bahwa nampak benda-benda plastik, kaca dan sebagainya tidak bisa busuk, artinya tidak dikembalikan kepada alam agar bisa diolah oleh alam sendiri menurut hukum-hukum alam. Air dan hawa udara semakin dikotori oleh gas-gas dan kotoran pabrik buatan manusia, yang jelas semakin lama semakin menimbulkan kegoncangan. Oleh karena itu kita yang diberi tugas membangun perumahan atau gedung-gedung lain harus menyumbang mentalitas baru yang mengendap dalam karya bangunan yang benar. Benar di sini berarti: bukan sebagai musuh alam, melawan flora-fauna dan keseimbangan alamiah di keliling kita, melainkan sebagai pecinta alam yang mencipta bangunan selaku PENGANGKATAN alam menjadi anggota organis PEMBUDAYAAN planet bumi.

Re-Architecture.

Karena alam Indonesia serba subur, maka flora dan fauna harus merupakan fasal integral dalam pemikiran bangunan. Di tanah Arab atau padang-pasir sering kita menemukan arsitektur dan sistim bangunan yang bisa lepas dari flora-fauna, karena memang di padang pasir unsur-unsur itu dapat dikatakan tidak ada. Di tanah air kita hal itu tidak boleh. Bangunan dan flora-fauna merupakan satu perkara tunggal. Bila kita merencanakan bangunan, kita harus sekaligus juga merencanakan unsur tumbuh-tumbuhan dan bila kita membangun kota, kita harus sekaligus merencanakan juga kehidupan burung-burung dan sebagainya.

Pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan, lagi seluruh alam sekitar kita sebenarnya SUDAH merupakan arsitektur alam yang merupakan modal sangat besar (gambar 180). Pengabaian modal itu tidak hanya suatu penghamburan ekonomis yang salah, tetapi juga suatu tindakan yang mencekik diri sendiri. Bahkan sering ada situasi, di mana kita sebenarnya sama sekali tidak membutuhkan arsitektur buatan manusia seperti gedung, dinding beton dan sebagainya. Cukuplah misalnya pohon beringin yang besar dijadikan “gedung” gelanggang remaja atau pasar atau bangunan pelindung stasiun bis. Mungkin dengan tambahan sedikit yang tidak terlalu mahal dan yang fleksibel kita berikan perlindungan sekedarnya terhadap hujan. Atau: mengapa mutlak kita harus bisa mendirikan dinding dari batu-bata ataupun pagar dari baja?

romo-mangun

Apakah pagar flora kalah indah dan kalah effisien. Pagar kayu dari kaktus yang indah jelas lebih aman dari pagar besi. Dengan istilah lain: kita harus mahir dan mau berstrategi “re-architecturing” (re; kembali). Artinya, bukan mendirikan bangunan (saingan) di samping atau pengganti suatu pemberian alam tertentu, melainkan sejauh mungkin menerima penuh pemberian alam tertentu. Bukan menerima begitu saja, melainkan dengan menyelidiki pertama: hal-hal apa yang menjadi modal di alam itu, hal-hal apa yang kita tidak perlu membuatnya sendiri dengan biaya mahal dan belum tentu effisien. Dan tinggal kita mengubah, membentuk sedikit sana-sini dan cukuplah. Alam yang tadi masih liar menjadi alam yang sudah dibudayakan dan bagus baik dalam guna maupun citra. Sesuatu yang tadi hanya alami, menjadi manusiawi. (gambar 181.)

romo-mangun2

Arsitektur Flora.

Dengan demikian jelaslah, bahwa untuk tanah air kita Arsitektur flora (dan tidak hanya seni-taman) memegang peran yang sangat vital. Orang Belanda dulu sangat menyadari perkara ini. Di mana saja mereka mendirikan kampung perumahan mereka, tangsi atau istana (lihat istana Bogor dengan taman Botani mereka) dan tata kota, selalu yang pertama yang mereka kerjakan ialah menanam pohon-pohon penaung. Kota-kota Belanda di Indonesia, sama dengan desa-desa pribumi, selalu adalah kota penuh pohon. Dan selalu di kota manapun mereka tidak lupa (persis dengan filsafat pribumi kita) membentangkan alun-alun. Sesudah kita merdeka, kita bahkan menggunduli kota dan halaman-halaman kita.

Fungsi flora bukan hanya berarti sebagai kenikmatan dan perlindungan terhadap matahari, melainkan vital demi kesehatan raga kita. Juga kesehatan jiwa kita, sebab pohon dalam pengertian asli nenek-moyang kita yang bijaksana, bukanlah hanya benda ber-GUNA melainkan CITRA dan lambang kebudayaan serta keyakinan terdalam dari roh sesuatu bangsa yang agung, manusia yang peka mencari segala yang indah dan sejati.

[] Diketik dari bagian 5, Soal-Soal Khusus; pada poin 19; dalam Pengantar Fisika Bangunan (Penerbit Djambatan) oleh Y.B. Mangunwijaya.

Pemilihan Bahan-Bahan Bangunan – Romo Mangunwijaya.

rm-mangun

Jika prinsip ini kita teruskan konsekwen tidak terhingga, maka dengan sendirinya kita akan selalu menyisihkan orang-orang kecil dan menguntungkan kontraktor-kontraktor yang besar dan kuat. Jelaslah, bahwa pada suatu titik kita harus meninjau kembali kebijaksanaan, dan meneliti kembali, apakah betul bahan-bahan sederhana dari industri kecil itu SEMUA tidak bisa dipercaya? […] Setiap bahan punya bahasa masing-masing dan kita harus belajar peka terhadap warta dan watak bahan bangunan. Tidak semua bahan bangunan cocok dengan bangunan yang ingin kita dirikan. Bangunan taman kanak-kanak punya watak dan warta sendiri yang lain dari pada suatu paberik misalnya […] Bukan yang mewah atau mahal yang indah selalu, melainkan yang benar yang wajar itulah yang selalu indah.

*

1. Faktor-faktor penentu

Biasanya kita tidak bebas sama sekali dalam pemilihan bahan bangunan. Baik dari segi ekonomi pembiayaan, kemungkinan-kemungkinan lokal yang tersedia serta pertimbangan-pertimbangan teknik-konstruktip lainnya atau pun kemampuan tenaga pekerja kita, tidaklah selalu bahan yang kita rasakan terbaik atau yang sesuai dengan selera kita, tidaklah selalu bahan yang kita rasakan terbaik atau yang sesuai dengan selera kita, dapat kita pakai. Dalam soal pemilihan bahan mana yang seyogyanya kita pakai untuk bangunan kita, baiklah kita memakai pegangan seperti di bawah ini: tidak ada bahan bangunan satu pun yang hina, walaupun itu bambu atau tanah liat belaka. Harga yang tinggi atau kepuasan mode maupun sifat-sifat fisik yang bermutu tinggi bukan selalu garansi, bahwa juga bahan-bahan semacam itulah yang harus kita dahulukan. Kerap sekali bahan yang hebat sebenarnya keliru penempatannya dan mengungkapkan jiwa-budaya yang miskin. Sebaliknya kerap sekali bahan yang murah dan “bertaraf desa/kampung” benar-benar bermutu tinggi, baik teknis, ekonomis maupun dari segi kebudayaan. Bahan bambu misalnya yang dipakai oleh orang-orang desa kita tidak harus dan sayang seandainya disuruh ganti dengan bahan batu batako misalnya.

Bukan karena setiap rumah atau bahan bambu itu lebih “mulia” dari batu batako. Melainkan karena INTEGRASINYA dalam keseluruhan gugusan pertimbangan banyak dimensi harus kita perhatikan. Bahan bangunan yang baik dan betul pemakaiannya, ialah yang benar-benar serasi dan memang wajar dipakai di situ dalam keseluruhan susunan dan urutan-urutan skala penilaian. Memang ada rumah bambu yang jelek, tidak awet dan tidak sehat. Tetapi itu bukan karena bahan bambunya yang salah, melainkan cara pemakaian atau pengolahan/penempatannya kurang tepat. Oleh karena itu kita harus mau menerobos sampai inti-persoalan dan inti-bahasa bahan-bahan yang ingin kita pakai dalam bangunan.

2. Sifat fisik

Setiap bahan punya sifat fisik, ciri-ciri kelakuan dan reaksi terhadap pengaruh-pengaruh luar, lagi punya bahasa masing-masing. Kita harus teliti dan jujur dalam pemakaian dan penempatan mereka. Kita harus menangkap apa koderat mereka dan daerah pemakaian mereka yang wajar. Batu alam misalnya ataupun batu beton memang bahan yang sungguh-sungguh kuat dan tahan terhadap daya tekan, akan tetapi tidak tahan terhadap daya-daya tarik. Oleh karena itu penempatan bahan batu juga harus cocok dengan sifat fisikalis itu: ditempatkan di tempat-tempat, di mana tenaga-tenaga tekan paling merajai. Dan jangan dijadikan misalnya batang-tarik sesuatu kuda-kuda.

Sebaliknya kabel baja sangat tahan terhadap daya tarik dan karena itu dipakai untuk tali-tali jembatan gantung yang bisa mengangkat beban sangat berat. Akan tetapi kabel baja tidak bisa dipakai untuk dijadikan tiang, yang harus menahan tenaga-tenaga tekan.

Sebaliknya kabel baja sangat tahan terhadap daya tarik dan karena itu dipakai untuk tali-tali jembatan gantung yang bisa mengangkat beban sangat berat. Akan tetapi kabel baja tidak bisa dipakai untuk dijadikan tiang, yang harus menahan tenaga-tenaga tekan.

Tetapi kayu sangatlah luwes. Ia bisa bertahan dan baik dipakai untuk unsur-unsur bangunan yang mendapat beban tekanan, seperti tiang, alas dan sebagainya. Akan tetapi ia juga bertahan terhadap daya-tarik, sehingga batang tarik kuda-kuda dari kayu sangat tepat. Begitu juga terhadap daya lenturan ia cukup elastis, sekalipun terbatas. Namun ia kalah bertahan terhadap daya-tarik dari pada batang baja.

Seumumnya pemilihan bahan yang ingin kita pakai pertama harus menjawab pertanyaan pertama ini: unsur ini atau itu harus dapat bertahan terhadap daya tenaga apa? Daya tarik? Daya tekan? Daya lentur? Dan sebagainya. Dan selanjutnya ditanyakan: dan berapa beban maksimal tarik-tekan-lentur yang tidak boleh dilampaui bila memakai bahan ini ataupun itu?

3. Peletakan dan peruntukan bahan

Begitu juga harus ditanyakan dulu, di mana unsur bangunan itu akan diltekakkan: di atas? Di dalam udara lepas dari tanah atau pegangan orang? Di atas tanah? Peka terhadap pegangan usil manusia atau anak? Di dalam tanah? Lembab atau kering? Banyak rayap atau serangga penghancur lain? Mudah sekali terbakar karena harus ditempatkan dalam dapur atau tidak? Dan sebagainya.

4. Ekonomi penyediaan bahan.

Perlu ditanyakan juga, apakah bahan-bahan tertentu mudah terdapat di dalam daerah itu ataukah harus mencarinya jauh sekali? Apakah pertimbangan pengangkutan bahan itu jauh atau dekat? Seumumnya kita wajib memanfaatkan bahan-bahan yang paling dekat terdapat dalam suatu tempat.

Pemakaian bahan lain yang jauh dan mahal pengangkutannya mungkin bisa saja kita usahakan, akan tetapi dari segi kebudayaan arsitektur dan metode kerja jelaslah salah. Setiap pemakaian bahan asing dan yang sulit didapat dalam daerah lokal, sekaligus akan menurunkan nilai arsitektural (kebudayaan) gedung tersebut.

5. Kemampuan tukang dan pekerja lokal

Ikut menjadi faktor pertimbangan ialah kemampuan tukang-tukang dan pekerja lokal, di mana bangunan itu akan didirikan. Sama dengan bahan asing di atas, pemakaian tenaga tukang asing yang berkelebihan menurunkan nilai budaya gedung itu dan sebenarnya tidak susila juga. Terutama bagi suatu negara yang banyak sekali pengangguran. Tetapi sering untuk tujuan-tujuan tertentu kita harus membawa tukang yang tidak “pribumi” untuk daerah pembangunan tertentu. Itupun harus selalu disertai dengan kebijaksanaan, agar hanya tukang-tukang inti saja yang memang sulit diganti, dipekerjakan sebagai “tukang impor”. Sedangkan tenaga tukang/pekerja lainnya yang tidak mutlak demi kelancaran karya, harus kita ambil dari daerah lokal di situ. Selain dalam hal tenaga atau tukang, juga dalam hal teknik pengerjaan karya kita harus sejauh mungkin menyesuaikan diri dalam pemilihan bahan.

Itu tidak berarti, bahwa kita tidak boleh memasukkan teknik-teknik dan cara-cara pengerjaan baru atau pun memilih bahan-bahan baru yang belum lazim dipakai. Baik pemilihan bahan maupun pengolahannya kita harus progresip, selalu maju dan serba meremajakan, memperbaharui diri.

6. Pertimbangan ekonomi nasional

Akan tetapi kita harus tahu, latar belakang Ekonomi Nasional mana yang sebetulnya terkandung dalam suatu material atau teknik tertentu. Misalnya pemakaian konstruksi-konstruksi baja. Bahan besi dan baja untuk Indonesia selalu akan merupakan bahan impor yang mahal. Artinya: di dalam bahan baja ini sudah terkandung suatu industri dan sendi-sendi asing dari pada misalnya memakai baja berarti mendukung seluruh kekuatan ekonomi dan industri di belakang baja itu, sedang memakai kayu setempat kita mendukung seluruh dunia ekonomi dan sosial masyarakat setempat. Untuk konstruksi-konstruksi baja kita tidak bisa memakai tenaga setempat, harus tenaga-tenaga “asing”. Padahal bila kita mempergunakan kayu dengan harga yang sama dan kekuatan yang sama kita bisa memakai tenaga-tenaga sebangsa sendiri yang lapar akan pekerjaan dan nafkah. Pemakaian bahan baja dalam situasi seperti itu berarti melaparkan bangsa sendiri dan memperkaya orang asing lain. Demikian juga misalnya pemakaian tenaga tangan atau mesin diesel untuk mencampur beton yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh sekian banyak tenaga penganggur yang mencari nafkah dengan kwalitas yang sama, bahkan biasanya lebih murah. Pertimbangan-pertimbangan semacam itu dalam pemilihan bahan bangunan beserta penggarapannya selalu kita perhatikan pada setiap situasi dan kondisi. Itu bila kita ingin membangun tidak hanya untuk keenakan kita sendiri, tetapi bersama dan di dalam kerukunan bangsa yang sama-sama sedang bergulat dalam pembangunan serba baru dan tidak mudah.

Tentu saja pertimbangan-pertimbangan teknik bangunan yang rasionil dan ekonomis harus mendapat tempat penting, akan tetapi itu bukan satu-satunya pertimbangan yang menentukan. Ada segi-segi kemanusiaan lain yang sama bobotnya dan yang harus kita jawab dengan perasaan solider.

Juga dalam pemilihan bahan dan metode kerja kita bisa kejam; bermental tidak rukun atau sebaliknya bisa penuh dengan rasa dharmasetia kemanusiaan.

Hal di atas juga berlaku dalam kebijaksanaan kita mengambil bahan-bahan bangunan ditinjau dari sudut keamanan dan kelancaran kontrak kerja. Proses pembangunan akan terhambat bila arus material pembangunan tidak teratur dan tidak menurut jadwal yang sudah ditentukan. Banyak kerugian bisa diakibatkan oleh kontraktor-kontraktor penjual bahan material yang tidak memenuhi janji. Dengan demikian pembangunan kita cenderung mencari kontraktor penjual bahan yang bonafide dan selalu bisa menepati jadwal janjinya. Tetapi kontraktor sedemikian biasanya juga yang bermodal besar.

Jika prinsip ini kita teruskan konsekwen tidak terhingga, maka dengan sendirinya kita akan selalu menyisihkan orang-orang kecil dan menguntungkan kontraktor-kontraktor yang besar dan kuat. Jelaslah, bahwa pada suatu titik kita harus meninjau kembali kebijaksanaan, dan meneliti kembali, apakah betul bahan-bahan sederhana dari industri kecil itu SEMUA tidak bisa dipercaya? Memanglah seringlah sulit hal itu dapat kita ketahui, bila kita memang tidak pernah mau meluangkan waktu sedikit untuk menolong orang-orang kecil ini menurut kemampuan dan batas-batas yang tidak merugikan bangunan kita. Akan tetapi suatu kebijaksanaan pembelian material yang tidak melihat aspek sosial dan kemanusiaan dengan sesama bangsa yang masih kecil, sebenarnya bukan di negara yang sedang berkembang tempatnya. Dalam soal ini pun kita punya tugas dan kewajiban.

7. Ungkapan bahasa budaya dari bahan yang dipilih

Pemilihan bahan harus selaras juga dengan ungkapan bahasa apa yang ingin dilahirkan oleh sesuatu bahan atau konstruksi. Misalnya bahan batu-alam selalu membahasakan keteguhan, kestabilan, sesuatu yang berat, padat, tahan serangan, benteng perlindungan dan sebagainya. Sedangkan kaca membahasakan sesuatu yang membatasi, namun terbuka, tanpa tedeng aling-aling, namun tidak campur-baur. Jendela berkaca menunjukkan sikap penghuni yang memang juga demikian jiwanya, sadar ke dalam namun suka melihat ke luar. Bangunan dengan kaca-kaca besar dan luas jelas lebih mengesankan sikap pemakaianya yang lebih terbuka dan mengharapkan kesatuan karya dengan orang-orang di luar gedung (kantor pelayanan masyarakat misalnya) dari pada benteng pertahanan yang jelas tidak akan memakai jendela-jendela kaca yang luas. Benteng akan memakai jendela-jendela yang sangat sempit kecil dan keseluruhannya serba tertutup dan memang bahasa yang diucapkan dalam bahan maupun pengerjaannya mengatakan sesuatu pertahanan, sesuatu permusuhan. Bahan yang dipakai tentulah beton-baja atau jendela berdaun saja, dan bukan kaca atau pun kayu. Begitu juga bahan yang dipakai untuk atap sangat berbicara. Atap dari seng atau sirap jelas menunjukkan dua dunia yang berlainan. Demikian juga pagar-halaman terdiri dari dinding tinggi rapat dan dari anyaman bambu-bambu yang jarang berlainan bahasanya. Setiap bahan punya bahasa masing-masing dan kita harus belajar peka terhadap warta dan watak bahan bangunan. Tidak semua bahan bangunan cocok dengan bangunan yang ingin kita dirikan. Bangunan taman kanak-kanak punya watak dan warta sendiri yang lain dari pada suatu paberik misalnya. Begitu juga masjid atau gereja ingin membahasakan di dalam bangunannya, sesuatu yang tidak terdapat dalam misalnya hotel atau gedung bioskop. Pemilihan bahan untuk gedung-gedung semacam itu harus berhati-hati dan selaras. Dan seandainya pun dibuat dari bahan yang sama, seyogyanya penggarapanyalah yang berlainan. Demikianlah kita jujur dan berbudaya dalam membangun. Tidak asal pakai ini itu tanpa pertimbangan yang lebih rohani dan dalam. Barulah nanti kita akan menghayati, bahwa bahan dan bangunan pun punya bahasa masing-masing, punya warta, tentang tugas bangunan itu sendiri, namun juga tentang siapa dan untuk siapa bangunan dibuat.

8. Kemungkinan pengontrolan dan pemeliharaan

Salah satu faktor pertimbangan penting dalam pemilihan bahan adalah juga faktor kemungkinan-kemungkinan pengontrolan dan pemeliharaan dalam jangka waktu sesudah pembangunannya. Ada bahan-bahan yang sangat bagus dan tepat bila dipilih dan dikerjakan dalam suatu pembangunan. Akan tetapi pemeliharaan selanjutnya bahan itu membutuhkan kontrol yang sangat teliti dan ketat. Apakah tidak lebih bijaksana untuk memilih bahan bangunan lain dengan cara pemeliharaan yang lebih sederhana dan tidak teramat peka terhadap erosi keawetan oleh perjalanan waktu? Hal-hal semacam itu sering praktis dituntuk dari situasi dan kondisi suatu daerah yang jauh serta sulit dicapai. Terutama dalam keadaan kita masih kekurangan ahli dan tukang-tukang yang terlatih.

9. Pertimbangan biaya

Tentulah pertimbangan biaya sangat berpengaruh dalam pemilihan bahan. Biasanya orang memilih bahan yang memungkinkan biaya pembangunan rumah atau gedung menjadi sedikit mungkin. Akan tetapi mungkin juga faktor biaya di sesuatu ketika tidak amat dijadikan faktor sangat menentukan, melainkan misalnya hasil estetika seni bangunan. Hasil yang bagus dapat kita capai bila biaya yang mahal kita pusatkan pada salah satu sesuatu unsur bangunan dan tidak pada semua unsur bangunan, sehingga unsur yang mahal itu seolah-olah mengangkat keseluruhan bangunan ke atas. Walaupun pada kenyataannya hanya satu unsur itulah yang mewah, sedangkan lainnya sangat biasa saja. Dengan demikian bisa dicapai keseimbangan dan tercapailah efek yang maksimal dengan biaya yang cukup ditekan. Lain halnya jika biaya kita hamburkan pada seluruh detail dari bangunan. Karena biaya akan terlalu menjulang padahal efek “kemewahan budaya” tidak seberapa tampak.

10. Indah = benar dan wajar

Seumumnya yang kita cita-citakan bukanlah bangunan yang mewah dan menggemparkan, melalui bangunan yang sederhana namun begitu menyinarkan nilai-nilai budaya yang anggun dan indah, sehingga di sini berlakulah kebijaksanaan yang berlaku untuk segala jaman: PULCHRUM SPLENDOR EST VERITATIS, keindahan adalah kecerlangan kebenaran. Bukan yang mewah atau mahal yang indah selalu, melainkan yang benar yang wajar itulah yang selalu indah.

Hal itu dapat kita lihat di seluruh alam-raya dan koderat dunia tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Kebenaran, kewajaran adalah sumber dari cahaya keindahan.

*

[] Diketik dalam bagian 5, Soal-Soal Khusus; pada poin 16; dalam Pengantar Fisika Bangunan (Penerbit Djambatan) oleh Y.B. Mangunwijaya.

Birrul Walidain untukmu, Gus.

Kemarin aku pergi ke salah satu pusat dokumentasi. Setelah berada di pusat dokumentasi itu, aku mengambil satu kumpulan kertas lama. Aku bertemu dengan banyak tokoh-tokoh yang hidup di era tahun 1980 melalui lembaran kertas berwana cokelat itu, salah satunya Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dan aku mengetik satu essainya yang mengurai bagaimana kita memahami keimanan dengan memandang berbagai konflik dan kondisi. Band Hardcore Swedia, Refused, menemaniku ketika mengetik teks dari Gus Dur. Setelah menyelesaikannya, satu kalimat darinya terus menghantuiku:

“kenyataan itu sendiri akan bernilai seribu kali lebih kuat dari argumentasi manapun.”

Bahkan hingga sekarang, aku masih tak mampu memahami apa yang dimaksud dengan kalimat di atas. Bagiku, Gus Dur adalah orang yang amat cerdas. Kecerdasan Gus Dur adalah kesantunan dan rendah-hatian yang membuat kecerdasan lain harus berpikir ulang dua kali. Cara memandang Gus Dur dalam memahami setiap konflik mengajarkanku banyak hal kepadaku. Aku tunduk pada kecerdasan yang santun dan rendah-hati, yang kau miliki, Gus.

*

Yesterday I went to one of documentation center. After being in the documentation center, I took this one a collection of old paper. I met with a lot of figures who live in the era of 1980 through that a sheet of brown paper, one of them was Abdurrahman Wahid (Gus Dur). And I was typing his essay that breaks down how we understood the faith with regard to various conflicts and conditions. Swedish hardcore band, Refused, accompanied me when typing the text of Gus Dur. After completing it, one sentence from him haunt me:

“that fact alone would be worth a thousand times more powerful than any argument.”

Even now, I still cannot understand what is meant by the sentence above. For me, Gus Dur is a very intelligent person. The Gus Dur’s intelligence is modesty and humility which makes the other intelligences should re-think twice. The point of view’s Gus Dur in understanding any conflict teach me a lot of things. I bow to your intelligence that polite and humble, that you have, Gus.