Die Neue Wirtschaft*.

39500006_303

Satu satu daun jatuh kebumi / Satu satu tunas muda bersemi – Satu Satu (Orang Gila, 1994) – Iwan Fals.

Dalam Piala Dunia 2014 yang dihelat di Brasil, Jerman memenangkan trofi tersebut seusai mengalahkan Argentina melalui Mario Gotze pada menit 113. Jika diijinkan untuk menolehkan kepala ke belakang, pada Piala Dunia 1990 yang dihelat di Italia, Jerman memenangkan trofi tersebut seusai mengalahkan Argentina melalui Andreas Brehme pada menit 85 melalui pinalti. Dari tahun 1990 dan kemudian terulang pada 2014, Jerman menagalami kegagalan pada Piala Dunia 2006 yang dihelat di Jerman, satu cambuk bagi persepakbolaan Jerman untuk mencari serta melakukan pemetaan atas kegagalan di tahun 2006, dan mereka mengubah cara pandang. Dan ada yang menarik bila memanjangkan leher sejenak pada ranah pemain dalam perkembangan sepakbola Jerman:

Kami memberi kesempatan terbaik untuk menjadi pesepakbola tapi kami memberikan dua pendidikan di sini. Jika 80 persen tidak bisa bermain di tim profesional, kami harus mengawasi mereka. Para pemain yang bermain di sini, sebagian besar dari mereka melanjutkan ke pendidikan tinggi. Dan kami butuh pemain cerdas di lapangan.” (1)

Lalu kita memanjangkan leher sejenak pada ranah klub/tim dalam perkembangan sepakbola Jerman:

“Bukan hanya klub-klub besar yang mengambil bagian dalam perombakan struktur pemuda. Ada lebih dari 31.000 klub tersebar di Jerman yang dibuat lebih dari 2.200 divisi. Ada begitu banyak anak-anak yang bisa bergabung dengan akademi-akademi muda di klub profesional dan semi-profesional yang dibentuk kurang dari 0,01% klub nasional. Jika klub-klub kecil ini bisa menyediakan suatu tingkatan yang dapat diterima tentang pelatihan dan pengembangan kepada pemain mudanya, mereka [pemain muda] berada pada suatu kesempatan nyata pada suatu hari untuk bergerak ke tim yang lebih besar dan, andaikan mereka sangat baik, dan timnas Jerman itu sendiri. Inilah yang terjadi pada seorang anak kecil Jerman dari kota kecil di Bavaria yang disebut, Pähl.” (2)

Perpanjangan leher pada ranah pemain serta ranah klub/tim pada perkembangan sepakbola Jerman, juga bisa dilacak pada konteks ekonomi ketika Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia yang menyukai kucing dan sepakbola itu, bicara—serta menganalisis—tentang ‘Ekonomi Berencana’ (Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977), Kompas, 2015).

“Tujuan ekonomi berencana,” kata Hatta dan melanjutkan, “ialah supaya tindakan kesatuan-kesatuan ekonomi itu banyak sedikitnya diusahakan merangkaikan dan dikuasai menurut tujuan yang tertentu. […] ideal dari suatu rencana ditentukan oleh dua anasir. Pertama, ada suatu proyek, yaitu suatu tujuan yang diputuskan untuk dicapai. Kedua, ada susunan peraturan yang diputuskan untuk mencapai tujuan itu, yaitu menetapkan cara pelaksanaannya. […] Ekonomi berencana menghadapi perekonomian nasional keseluruhannya, yang berkembang terus. Jumlah penduduk umumnya tidak statis, melainkan bertambah selalu. Demikian juga selera, berubah dari waktu ke waktu. Semuanya itu harus diperhatikan. Sebab itu ekonomi berencana disusun sewaktu-waktu dengan pikiran yang memandang ke muka. […] Berdasarkan berbagai macam perhitungan yang rasional yang sesuai dengan keadaan dalam negeri orang dapat memikirkan lebih dari suatu corak ekonomi berencana. Dalam hal ini orang mesti pula belajar dalam pengalaman. Tidak sekaligus orang mendapat patokan yang terbaik untuk dijalankan. Seperti yang dikatakan oleh Fred Polak, rencana yang realis adalah suatu tujuan yang tidak habis-habisnya ke arah kesempurnaan, berdasarkan metode trial and error, disesuaikan dengan keadaan waktu dan ruang yang senantiasa dalam perubahan.”

Pada Piala Dunia 2018 di Rusia nanti, dalam fase grup, Jerman berada dalam grup F bersama Korea Selatan, Meksiko, dan Swedia, dan menarik untuk melihat penantian bibit yang berbuah dalam perkembangan sepakbola Jerman melalui Goethe-Goethe muda dalam lapangan hijau.

Hab einen schönen Tag!

Yogyakarta, perpustakaan Kolese St. Ignatius.

(1) https://www.bundesliga.com/en/news/Bundesliga/confederations-cup-and-under-21-euro-wins-part-of-germanys-strategy-to-return-to-world-footballs-summit-454171.jsp

(2) http://www.eifsoccer.com/articles/youth-development-germany/

() Image http://www.dw.com/en/champions-germany-beat-spain-to-win-under-21-european-championship/a-39495090

(*) Judul terambil dari satu catatan kaki di satu analisis Mohammad Hatta tentang ‘Ekonomi Berencana.’ Beliau mengambil satu karya dari Walter Rathenau, Die neue wirtschaft (The new economy), yang mana kemudian berkata bahwa buku kecil itu menarik perhatian dan diterbitkan kembali dalam kumpulan karangan, ‘Wirtschaft, Staat und Gesselschaft,’ dan memberikan pendapat bahwa siapa yang memiliki impian membangun, buku tersebut dapat menebalkan semangat dan menajamkan pikiran, lalu pelajari bagian ketiga, ‘Von Kommenden Dingen’ untuk dasar filosofi, tujuan dan jalan.

Iklan

Kierkegaard dan tiga pria setia yang kerap terluka karena cinta.

kie

Malam hari, tiga pria yang berteman lebih dari tiga tahun yang telah terpisah karena kesibukan masing-masing dan akhirnya bertemu. Satu pria 28 tahun, pria 27 tahun dan pria 26 tahun. Kopi menghangatkan suasana bersama cerita-cerita masa silam tentang cinta yang pupus dan entah kapan akan mampu mengikhlaskan segalanya. Pada saat segalanya telah bercerita, salah satu dari ketiga pria memandang langit malam yang teramat gelap dan melihat satu titik cahaya dari bintang yang bersinar. Kemudian bintang yang bersinar berkata melalui semesta alam kepada pria yang memandang langit:

“Salah seorang seniman tersebut mengelilingi dunia sambil mencari seseorang yang cantik untuk dilukis, namun tidak pernah menemukan seorang pun yang cocok dengan kemampuan melukisnya. Seniman yang satunya tetap tinggal di rumah dan menemukan sesuatu yang indah untuk dilukis dari setiap orang yang dijumpainya.” [*]

Pria yang memandang langit itu pun kemudian tersenyum dan melanjutkan perbincangan dengan kawan-kawannya.

[*] Dipetik dari Kierkegaard oleh Peter Vardy, tr. P. Hardono Hadi (Kanisius, 2005)

Das Geheimnis des Könnens liegt im Wollen.

yuk

Siapapun yang menjadi pembaca Hatta, tentu tak asing dengan nama satu persona Giuseppe Mazinni (1805 – 1872), yang bertualang ke seluruh Italia untuk memersatukan tanah berbentuk kaki manusia yang memakai sepatu itu. Dan judul di atas adalah petikan dalam bahasa Jerman dari pengacaranya orang-orang miskin, dalam terjemahan bebasnya, “Rahasia dari kemampuan terletak pada keinginan.”

Beberapa hari ini kepenatan-kepenatan terus memerkecil ruang dari ‘keinginan’ itu salah satunya tekanan untuk berhasil dalam ujian Internasional bahasa dari salah satu negara tricolore nanti. Meninggalkan sejenak bacaan tentang teknik dan bacaan tentang ekonomi. Untuk mengurangi tekanan itu—dan menjaga gairah membacaku, aku selalu menyempatkan untuk membaca buku anak-anak atau buku travelling. Kemudian, aku teringat bahwa aku belum sempat menyelesaikan buku travelling milik Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia; Kumpulan Catatan Perjalanan (Insist, 2012).

Seusai memungut buku travelling Sigit Susanto, bersama dengan sentuhan ajaib grup musik Depapepe melalui Miura Takuya dan Tokuoka Yoshinari melalui komposisi musik mereka dalam album ‘Let’s Go!’ dan ‘Do!.’ Secara acak, ketika aku membuka bagian ‘Goethe dan Strasbourg’ dan mencoba meleburkan diri dalam teks-teksnya yang ia ceritakan. Dalam catatan itu, Sigit menceritakan alam persahabatan antara Heinrich Heine dan Karl Marx, lalu Goethe dengan Herder. Not-not balok dalam perasaan reflektif pada track Saigo No Bansan dari Takuya dan Yoshinari yang dituangkan dalam petikan gitar mereka membawa atmosfer lain ketika kedua mataku tertumbuk pada beberapa kalimat yang berhubungan dengan teknik sipil, Sigit menulis:

“[…] kami sudah di stasiun kota Strasbourg […] Kaki-kaki kami siap menapaki kota lama yang pernah dijuluki ibu kota Eropa. Toko-toko berjejer dengan aneka ragam model bangunan kuno. Jalan pun tertata dengan batu kali bundar hitam rapi. Aspal belum masuk, saat kota itu mulai dibenahi. Jembatan menyambung perjalanan kami.”

Tak hanya itu, seusai mengisahkan percakapannya bersama sang istri, Sigit menulis kembali:

“[…] Tampak di depan mata, dua benteng kembar berdiri sama tinggi dan sama gemuk. Bahan dua benteng tersebut dari batu padas besar. […] Sesekali berhenti dan mengamati bangunan-bangunan yang agak miring ke kanan atau ke kiri, bangunan-bangunan tembok dengan ruas-ruas dari bahan kayu cokelat atau hitam.”

Lalu aku merenung sejenak, jika Sigit melukiskan bangunan Eropa lalu mengapa aku juga tak mencoba untuk melukiskan bangunan Indonesia, seperti yang penah ditulis oleh sejarawan dan pembuat kamus (leksikograf) Romo Adolf J. Heuken, S.J dalam bukunya, Mesjid-Mesjid Tua Di Jakarta, batinku. Kemudian aku melanjutkan, mungkin, nanti. Dan aku terhanyut dalam imajinasi ganjil yang mana Hatta dan Romo Mangunwijaya, seolah-olah di samping kananku dan kiriku, dan mengusap-usap rambutku, tanda sayang dari seorang kakek kepada cucu, atau bisa menjadi Analgetik, dalam dunia kedokteran, sebagai senyawa atau obat penahan rasa sakit bernama ‘kepenatan,’ mungkin.

Aku pun semakin tenggelam dalam gaya menulis Sigit Susanto dan sedikit berpikiran nakal untuk meniru teknik menulisnya. Menghanyutkan diri dalam sungai-sungai catatan perjalanannya.

Dari Kakak Untuk Adik, Dari Klopp Untuk Gerrard: Nikmatilah!

Dalam indonesia[dot]liverpoolfc[dot]com dikabarkan bahwa Gerrard akan kembali lagi ke Anfield, namun dalam fase baru, sebagai manajer Liverpool U-18 yang akan menghadapi Arsenal U-18 di ajang FA Youth Cup. Jurgen Klopp, dalam pengagum kecilnya ini, memposisikan dirinya sebagai kakak yang memberikan nasihat positif kepada adiknya, Gerrard: “Nikmatilah!”

Pengalaman Gerrard menjadi pemain di youth career serta senior career Liverpool selama 26 tahun, dirasa hanya bisa memberikan pengaruh ‘setengah’ dari karir sepakbolanya. Tentu saja, ayah dari ketiga gadis mungil serta satu lelaki tangguh, Lilly-Ella, Lexie, Lourdes, serta Lio, akan belajar dari setengah pengalaman itu mengapa di masanya, ia gagal meraih trofi Liga Inggris yang begitu didambakannya, kasih yang tak sampai; bagaimana ‘sakit’nya ketika mengalami cidera saat masa kecil dan divonis oleh dokter bahwa penggemar Coldplay itu tak akan pernah bisa menjadi pemain bola; dan kematian sepupunya yang dijadikan inspirasinya, Jon-Paul Gilhooley dalam tragedi Hillsborough. Satu prediksi lain, pengalamannya menjadi kapten di saat keadaan tim sedang terpuruk adalah modal lain, sebab ia sudah melampaui dirinya sendiri dan bisa kita lihat bagaimana Gerrard selalu bermain dengan spirit yang tiada duanya dan tak pernah lelah untuk memberikan letupan-letupan emosional di atas lapangan kepada rekan-rekannya, untuk paling tidak, berkata, ‘kalian mampu, kalian mampu,’ dan secara ajaib atmosfer pertandingan pun berubah.

Kini Gerrard kembali ke Anfield dalam fase baru sebagai manajer dan masih terlalu dini untuk mereka-reka masa depannya apakah ia akan berhasil atau tidak. Mengamini Jurgen Klopp: “Nikmatilah! (jatuh dan bangunnya)”

Selamat datang kembali, Kapten. You’ll Never Walk Alone.

Impian Dari Yogyakarta.

a20180120_000505

– Untuk Pak Tri dan Pak Heru.

Dia hadir bukan karena nyata, tapi hadir karena ditulis dan diucapkan berulangkali/…/ah, sampun pinestine jawata, mas (ah, sudah takdir ilahi, mas)!” kata-kata Pak Em (Emmanuel Subangun), wartawan cum peneliti pembangkang, yang tak menyelesaikan studinya di Filsafat Sanata Dharma dan Psikologi UGM, dalam karyanya, Syuga Derrida (Alocita, 1994), terus mendengung di otakku, sampai ketika aku tiba di depan Pasca sarjana Hukum UII, tempat yang belajar untuk memahami ‘keikhlasan’–meski sampai sekarang aku tak pernah tahu apa itu ikhlas–dan belajar memahami ‘kenyataan’.

Di depan Pasca sarjana Hukum UII, tak jauh dari base camp mapala anak-anak UII, ada dua penjaja makanan, Pak Tri untuk angkringan dan Pak Heru untuk nasi goreng dan mie goreng. Mereka berdua adalah orang-orang yang seperti Romo Mangun bilang dalam karyanya, Impian dari Yogyakarta: Kumpulan Esai Masalah Pendidikan (Penerbit Kompas, 2000), “Dengan kata lain, kita mulai belajar, bahwa tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali di antara kaum rakyat biasa yang sehari-hari, yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan.”

Seusai memarkir sepeda motor, aku memesan mie goreng plus telor ceplok ke Pak Heru, dan kemudian menuju ke tempat duduk berbahan semen di sebelah kiri angkringan. Pak Tri, orang tua itu dengan hangat menyapaku, “Ke mana saja selama ini, kok nggak pernah kelihatan?” Mendengar sapaannya, aku seperti tertampar peribahasa, bagai kacang lupa kulitnya. Sejak ramadhan yang lalu, aku tak pernah lagi main ke angkringannya. Padahal, Pak Tri-lah yang mengajariku tentang kesetiaan terhadap profesi dan melakukan repetisi/pengulangan hidup agar tetap tegak-berdiri sejak tahun 1990 untuknya.

Tipe orang seperti Pak Heru atau Pak Tri, dalam dunia translasi, adalah tipe ‘untranslate’ (tak-terjemahkan), mereka hanya bisa dirasakan. Karena aku lebih dekat dengan Pak Tri, aku mengingat bagaimana percakapan-percakapan yang lalu ketika beliau mengembalikan pikirannya ke masa lalu dan dengan asyik bercerita tentang Yogyakarta dan jalan Cik Di Tiro dari masa ke masa. Setelah beliau membuatkan teh pesananku, beliau bertutur bahwa istrinya sedang tak enak badan, begitu pun dengan diri beliau.

“Ke mana saja selama ini, kok nggak pernah kelihatan?” kata beliau, seorang penjaja makanan sejak tahun 1990 dan tak pernah tertarik pada profesi lain.

“Pengulangan? Kesetiaan? Tak-terjemahkan?” tiga hal yang terus kukejar hingga aku menemukan jawabannya, entah sampai kapan. Namun, setidaknya, dalam lingkup kecilku, Pak Heru atau Pak Tri adalah orang-orang yang terus merawat impian-impianku.

Pembuktian Andrew Robertson!

26238837_1695858723800417_3110002619696841355_n

This is my chance to change the rules, of my own game – A New Turn For A New Life (album Appearances Are Deceptive), From Heaven We Fall.

Pertandingan yang luar biasa. Sempat tak percaya ketika melihat line-up tak ada nama Virgil van Dijk. Tapi fokus saya lebih ke sisi kiri, jatuh cinta pada permainan Andrew Robertson. Ia begitu bermain dengan disiplin menjaga daerahnya dari pressure si mantan, Raheem Sterling; tak hanya itu, ia juga bermain taktis dengan clearing ball ke luar lapangan, tak mau ambil resiko.

Ada satu momen yang membuat saya tergeleng-geleng, ketika City melakukan posession ball di setengah pertahanannya, dan Robertson berlari dari belakang hingga ke kotak pinalti City untuk merebut bola, tak kenal menyerah, spartan. Kedisiplinan Robertson mengingatkan kembali pada Steve Finnan (2003–2008) di era pelatih Prancis, Gérard Houllier. Pertandingan besar melawan City ini benar-benar dimanfaatkannya, kesempatan tak datang dua kali, kata pepatah. Musim ini, Robertson baru bermain 9 kali, ia harus bersaing dengan bek muda lainnya seperti Jon Patrick Flanagan atau Alberto Moreno Pérez.

Sementara itu, koordinasi serta konsentrasi lini belakang setelah unggul dengan range 2 gol, masih menjadi hantu untuk Jurgen Klopp. Dua gol City yang tercipta oleh Bernardo Silva dan Ilkay Guendogan yang menipiskan skor dari 4-1 menjadi 4-3, tak boleh terjadi lagi di masa-masa penentuan ini. Dan saya masih belum bisa lepas dari permainan Andrew Robertson!

Danke und wir vertrauen dir, Herr. Trainer! You’ll Never Walk Alone!

❤️

Rasa Sakit dan Coutinho.

 

tumblr_p0l2o0W5na1vqb7ufo1_1280

 

A revolution has begun today for me inside /…/ The evolution is coming! – R-Evolve (A Beautiful Lie, 2005), 30 Seconds To Mars.

Adalah bagaimana cara terbaik merumuskan kembali arti ‘sakit.’ Ekspresi itu tercipta ketika keinginan Coutinho berbaju Barcelona sudah tak terbendung. Bayangkan, ketika LFC harus berjuang untuk mempertahankan posisi di empat besar di Premier League dan mencipta asa di Champions League, salah satu kepingan itu menghilang. 2013 hingga 2018, tak bisa menggantikan arti uang sebesar £142m beserta perkembangan pesat dan kenangan Cou di Anfield setelah direkomendasikan oleh Rafa benitez ketika 26 January 2013 dan 17 Februari adalah gol pertamanya untuk LFC.

Secara personal, sakit pertama adalah ketika Michael Owen memutuskan hengkang ke Real Madrid (1996–2004), sakit kedua adalah ketika Luis Suarez memutuskan hengkang ke Barcelona (2011–2014), dan kini Cou memperpanjang daftar sakit itu. Tapi dalam halaman lain, penulis Radhar Panca Dahana punya cara untuk memahami rasa sakit itu:

“Enggak, karena sakit bisa dipelajari,” tutur penulis Radhar Panca Dahana di Kompas.

Selamat jalan dan terima kasih untuk kenanganmu, dan nikmati petualangan keduamu di tanah di mana tiga keyakinan pernah saling berangkulan, Andalusia. Jurgen Klopp benar:

“Ini merupakan hal yang berat karena kami harus mengucapkan salam perpisahan dengan sosok, teman spesial, dan seorang pemain yang fantastis, Philippe Coutinho,” kata Juergen Klopp di situs resmi klub.

*

Der Schmerz und Coutinho.

A revolution has begun today for me inside /…/ The evolution is coming! – R-Evolve (A Beautiful Lie, 2005), 30 Seconds To Mars.

Es ist am besten, die Bedeutung von “Der Schmerz” neu zu formulieren. Der Ausdruck wurde geschaffen, als Coutinho Wünsche in Barcelona nicht aufzuhalten waren. Wenn LFC kämpfen muss, um die Position in den ersten vier in der Premier League zu halten und um die Hoffnung in der Champions League zu schaffen, ist eines der Stücke verschwunden. 2013 bis 2018, konnte nicht die Bedeutung des Wertes von £ 142m zusammen mit der schnellen Entwicklung ersetzen und Cou Erinnerungen im Anfield nach der Empfehlung von Rafa Benitez am 26. Januar 2013 und am 17. Februar war sein erstes Tor für LFC.

Persönlich war der erste Schmerz Michael Owen entschieden, Real Madrid (1996-2004) zu verlassen, der zweite Schmerz war Luis Suarez entschieden, Barcelona (2011-2014) zu verlassen, und jetzt erweitern Cou die Liste der Schmerzen. Aber auf einer anderen Seite, Radhar Panca Dahana, die Indonesien Autor, hat eine Möglichkeit, den Schmerz zu verstehen:

“Nein, weil der Schmerz gelernt werden kann,” sagte Radhar Panca Dahana in Kompas .

Auf Wiedersehen und danke für deine Erinnerungen, und genieße dein zweites Abenteuer auf dem Boden, wo sich die drei Glaubenssätze einstmals umarmen, die Andalusien. Jürgen Klopp hatte Recht:

“Es ist eine schwierige Sache, weil wir uns von einem besonderen Mann, einem besonderen Freund und einem fantastischen Spieler, Philippe Coutinho, verabschieden müssen.” sagte Jürgen Klopp auf der offiziellen Website des Clubs. (2)

*

[] Image Coutinho.

Arrangement For Invisible Voices.

 

– Surat singkat untuk calon belahan jiwa.

11 Januari 2018, Tumpukan Kertas.

Bicara tentang Paris, kotanya perempuan itu, tentu aku tak akan bicara tentang bagaimana perdebatan kontraktor Gustav Eiffel dengan sastrawan/cerpenis Guy de Maupassant tentang polemik pembangunan menara Eiffel, akan tetapi aku akan senang bila menceritakanmu tentang pelbagai roman/novel Prancis yang telah kubaca sedikit demi sedikit, La Ventre de Paris (1873), atau Perut Kota Paris, khususnya. Roman itu adalah roman ketiga dari satu seri Les Rougon-Macquart (Duapuluh judul) dari Emile Zola. Kamu tahu, Zola tak hanya cerdas memasukkan unsur pasar—mengingatkan pada karya Pasar dari Kuntowijoyo, politik, bahan pangan, romansa, ekonomi, keluarga, kuliner, bahkan stratifikasi sosial, dan aku mengagumi ketahanan fisik, kesabaran dan keseriusannya dalam mengolah anak-anak rohaninya.

Seperti halnya seorang perempuan, aku tahu kamu menginginkan hal-hal romantis, seperti yang telah kamu dapatkan dari pengetahuanmu jauh sebelum bertemu denganku. Tapi, ijinkan aku memainkan keromantisanku sendiri dengan membacakan roman La Ventre de Paris dalam bahasa asli, bahasa ibunya. Dalam roman tersebut, Florent Quenu, kembali lagi ke Paris setelah melarikan diri dari Devil’s Island, Guyana-Prancis, dekat Guyana-Belanda (Suriname?), setelah dituduh ikut serta dalam sebuah rencana untuk menggulingkan pemerintahan. Florent, dari keluarga menengah-atas, kembali ke Paris dan bekerja sebagai inspektur ikan di Les Halles. Namun, kamu perlu tahu bahwa meskipun ia dari keluarga menegah-atas, lingkup dunia perkawanannya dari pelbagai strata sosial yang berbeda, tak hanya kelas atas, juga kelas bawah. Selain bumbu sosial-politik, melalui bumbu romansa, Florent Quenu bertemu dengan calon istrinya—yang kemudian menjadi istrinya, Zola menulis seperti:

Le mariage eut lieu le mois suivant. /…/ après tout, elle pouvait ne rien dire à Quenu, garder les écus pour elle ; si elle avait parlé, c’était par honnêteté pure, puisque personne ne l’avait vue. Elle méritait bien que Quenu l’épousât. Ce Quenu avait de la chance, il n’était pas beau, et il trouvait une belle femme /…/ Elle et son mari vivaient comme auparavant, dans une bonne amitié, dans une paix heureuse. Elle l’aidait, rencontrait ses mains au milieu des hachis, se penchait au-dessus de son épaule pour visiter d’un coup d’œil les marmites. /…/ Et ce n’était toujours que le grand feu de la cuisine qui leur mettait le sang sous la peau.

Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia, seperti ini:

Pernikahan berlangsung sebulan kemudian. /…/ bagaimana pun, Lisa tak bisa berkata apa-apa pada Quenu, menjaga pelindungnya olehnya; jika Lisa telah bicara, itu melalui kemurnian kejujuran, sebab seseorang tak melihatnya. Lisa pantas sehingga Quenu menikahinya. Quenu beruntung, ia tak tampan, dan ia menjumpai seorang perempuan cantik /…/ Dia dan suaminya hidup seperti sebelumnya, dalam suatu persahabatan yang baik, dalam suatu kedamaian yang menyenangkan. /…/ Dia membantu Quenu, mempertemukan kedua tangannya di tengah-tengah potongan-potongan daging kecil, menyandarkan di bawah pundaknya untuk menunjukkan tatapan sekilas pada panci masaknya. /…/ Dan tak hanya selalu api besar untuk memasak yang memasukkan darah mereka di bawah kulit.

Begitulah, aku tak ingin berjanji, sebab masa depan sulit dilampaui bila tak disertai optimisme, mungkin hanya bisa mengusahakan, semampuku. Kelak, kamu akan aku ajak ke satu pasar di Yogyakarta, setidaknya kita bisa membeli sayuran, buah, atau daging, dan berdialoglah dengan simbok-simbok yang ada. Bila ingin, cobalah dengan pendekatan intelektual hati, ketika bicara dengan mereka dan rasakan, kamu akan menemukan hal-hal menakjubkan, dan demikianlah aku memainkan keromantisanku. Kita pun mulai (belajar) memasak, satu bumbu untuk mengharmoniskan hubungan, kan.

Salam sayang dan rindu.

[] Judul Arrangement For Invisible Voices dari judul lagu band hardcore/metal, Undying.
[] Cover Le Ventre de Paris karya Emile Zola (Penerbit Livre de Poche)
[] Cover The Belly of Paris karya Emile Zola, tr. Brian Nelson (Penerbit Oxford World’s Classics)
[] Image suasana pagi Pasar Demangan Yogyakarta.

Satnite.

 

Momen satnite dengan menjadi high quality jomblo itu harus dinikmati dan ketika mensyukuri apa yang dimiliki sekarang selagi berusaha maka kejutan-kejutan kecil akan datang. Kejutan itu salah satunya adalah membaca interviewnya Shimon Peres, Presiden Israel ke 9, dalam majalah Prancis tentang geopolitik, anak muda, perusahaan dan ekonomi, pada tahun 2014.

Jika mengingat perlakuan Israel ke Palestina, sempat ada sedikit amarah, akan tetapi amarah saja tak cukup, malah menguras tenaga. Untung saja amarah itu segera tereduksi oleh suara surga Astrid dalam lagu Terpukau, sehingga menyikapi dengan dingin apa yang dijawab oleh Peres, dan tak menggebu-gebu, mungkin, seperti masa muda dulu di umur dua-puluhan. Menghadapi orang pintar seperti Peres ini ibarat seorang Scout dalam sepakbola.

Dalam interviewnya, ada yang bisa digarisbawahi untuk dikembangkan—atau dipelajari—lebih lanjut, dan tak perlu menyetujuinya atau membenarkannya secara penuh:

A) Kita harus memulai mengukur pertumbuhan melalui potensi pada kemajuan ilmiah. Untuk melihat apa yang akan mendorong, itu harus melihat pada biji-bijinya, bukan bunga-bunganya…dan sekarang ini, biji-bijinya dalam laboratorium pencarian. B) Struktur perusahaan-perusahaan juga memaksa pada perubahan: para pemuda tak memerlukan organisasi besar, mereka bisa mengatur suatu masyarakat bersama smartphone mereka! C) Jawabannya, itulah mengubah sistem pendidikan: seluruh anak-anak harus belajar paling tidak dua atau tiga bahasa. D) L’histoire est optimiste. Sejarah adalah optimis.

Demikianlah, selamat berakhir pekan bersama orang-orang terkasih.