Daras Kecil dan Kuliner. [*]

rawon jogja dua

Dari kuliner kita bicara banyak hal – kawan lama, di Malang.

Pada minggu kali ini, setelah menanti dan menemani istriku untuk berbelanja ke pasar besar, selain berbelanja, aku juga ingin membiasakan puteri kecilku untuk bersosialisasi dengan orang-orang pasar, baik para pembeli atau para pedagang, dan kubiarkan saja sebebas mungkin ia memelajari kondisi masyarakat dengan keragaman di pasar itu. Setelah sejenak membeli beras serta bercengkrama dengan Koh Along, seorang keturunan Cina; lalu ke toko Bang Idrus, seorang keturunan Arab, untuk membeli beberapa meter kain pesanan kawan istriku di kantor; dan membeli beberapa kebutuhan pangan, di toko Yu Marti, di toko Teteh Lina, orang-orang dengan latar kebudayaan yang berbeda. Saat di toko Yu Marti, Daras mendapat sedikit jajanan, dan bertanyalah perempuan tua itu:

“Duh, Nduk, kowe kok ayu tenan. Persis koyo jenenge ibumu, Ayu. Iyo tho…?”

Istriku dengan pemahaman perempuannya, hanya tersenyum. Dan, membalas sanjungan Yu Marti:

“Ah, Yu Marti juga ayu kok, ya kan Daras.”

Daras memonyongkan bibir dan sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan situasi pasar besar dengan keanekaragaman corak kultur yang mengendap dalam setiap insan, dan membalas dengan suara yang lirih:

“Iyaaaa…”

Ledakan tawa Yu Marti, aku, istriku, dan dua orang lainnya pun mengudara di panasnya lorong pasar bagian pangan.

Dua jam sudah, lalu barang-barang belanja bulanan telah berada di mobil kecil kami, aku menutup pintu mobil, menghidupkan mesin, dan kemudian bergerak mengikuti aba-aba si tukang parkir dengan suara tiupan peluit yang begitu melengking, beradu dengan suara klakson mobil-mobil lain serta sepeda-sepeda motor lain yang mana sebagian pengemudinya tak sabar menanti, kami keluar dari parkiran.

Di dalam mobil kecil kami, Daras menikmati jajanan pasar serta pemberian Yu Marti; setelah istriku memberikan sedikit perintah untuk menggosok gigi pada gadis kecil berponi yang duduk di kursi belakang, lalu dengan mengikat rambut belakangnya, dan menyeka dahinya dengan tisyu, lalu bertanya, “Kita cari makan di mana?”

Anjuran empat tempat kuliner tak menemukan persetujuan, setelah melewati satu pertigaan, dua perempatan, dan pada akhirnya, aku teringat kawan lama serta seorang guru hidup, semasa aku es-em-a yang banyak memberikan narasi-narasi tentang lika-liku hidup, Pak Darman, seorang penjaja makanan tradisonal Jawa Timur.

“Ya, aku tahu. Aku akan mengenalkanmu dengan seseorang.”

“Siapa?”

“Kejutan…”

“Amanda? Penulis perempuan yang novel ketiganya meledak di pasaran itu, yang kemudian kamu diminta untuk mengulas karyanya itu?”

Aku hanya tersenyum melihat kecemburuan istriku. Bagiku, cemburunya seorang perempuan adalah tanda bagaimana mereka ingin suatu perhatian khusus.

“Mungkin?” balasku, dengan menggodanya.

“Mungkin?” balasnya dengan memalingkan wajah ke arah yang lain.

Tangan kiriku memasukkan ke gigi selanjutnya, dan setelahnya, tangan kiriku merambat dan menggenggam tangan istriku yang lembut.

“Kau cantik, jika cemburu.”

“Oh, ya, ya, ya,” tambahnya dengan wajah masam, namun segera membentuk nuansa mesra.

Daras pun menghancurkan sisi nuansa keintiman hubungan kami, dengan mengatakan bahwa perut kecilnya lapar dan berbunyi ‘krucuk-krucuk-krucuk’, dan aku menimpalinya, saat menurunkan gigi mobil ketika berada di tikungan:

“Laksanakan, tuan puteri kecilku.”

“Daras jadi seorang puteri, Yah?”

“Iya, dong!”

Daras kegirangan mengangkat tangannya sambil menggerakkan tubuh kecilnya, lalu istriku menyela:

“Tapi seorang puteri yang baik, kalau buang sampah harus di tempatnya, lho ya.”

“Sudah, Bu. Sudah.”

Lalu telunjuk tangan istriku menunjuk ke pembungkus jajanan ringan yang tercecer di karpet-karpet mobil. Dan, gadis kecil itu memunguti sampah-sampah sisa makanannya ke keranjang yang telah tersedia di dalam mobil kecil.

Sebuah papan berwarna hijau bertuliskan ‘Rawon’ sedikit demi sedikit mulai menampakkan dirinya. Perlahan-lahan, mobil kecil kami telah sampai di parkiran warung ‘Rawon.’

“Kita makan di sini, sayang?”

“Ya, kamu akan bertemu dengannya?”

“Siapa?”

“Seseorang yang mengajariku banyak hal, yang tak pernah kumengerti hingga sekarang.”

Istriku memandangku, sambil memegang tanganku dengan mesra. Dan berkata pelan:

“Duniamu terlalu luas, sayang. Aku hanya mengenal sebagian duniamu. Kamu banyak menyimpan cinta orang-orang yang masih tak kuketahui,” Setelah nafas beratnya dihembuskan, lalu dia berpaling ke Daras, “Ras, yuk, turun, makan?”

“Yeeey!”

Setelah menutup pintu dan mengunci pintu mobil di parkiran warung itu, hadirlah orang yang datang dan keluar dari warung ‘Rawon’ itu, lalu mataku sedikit dibasahi oleh air mata, dan cepat-cepat kuseka dengan tangan. Setelah dua belas tahun tak pernah kemari, ya, dua belas tahun. Lalu aku melihat ke sisi kiriku, trotoar jalan yang membangkitkan masa lalu, ketika aku masih berseragam es-em-a, ketika aku dikejar-kejar oleh anak es-em-a lain karena melindungi kawanku yang dipalak uangnya, dengan menghajar salah seorang dari mereka dengan batu yang ada di jalanan. Sungguh, begitu mengerikan dunia kemiskinan! Dan, tempat inilah, warung inilah yang menyelamatkanku, ketika aku melarikan diri dari gerombolan anak-anak es-em-a lain yang beberapa diantaranya membawa balok kayu. Pak Darman, pemilik warung ‘Rawon’, dari lantai dua rumahnya, kemudian memberikan kode ‘ssst-ssst’ ketika pandangannya yang jauh telah melihatku sedang kesulitan, dan aku menoleh ke asal suara, Pak Darman menyuruh untuk masuk ke warungnya, sekan-akan mengatakan bersembunyilah di sini, di sini. Warung ‘Rawon’ dua belas tahun inilah yang menyelamatkan hidupku. Sejak kejadian pengejaran anak-anak es-em-a lain itulah aku terus-menerus ke warung ‘Rawon’ Pak Darman untuk bekerja membantunya selama dua jam, dan memberiku sedikit upah, meski aku berasal dari keluarga kelas menengah. Dan, dari Pak Darmanlah, dari caranya sendiri yang mengelaborasi akan kehidupan anak muda itulah, yaitu aku, dan kumengerti bagaimana memainkan metode pendekatan personal yang lebih manusiawi kepada mereka yang perlu ditemani, merasakan dunia mereka, hati ke hati.

“Yah, ayo masuk!” Daras menarik tanganku, dan lamunanku segera buyar.

Aku berjalan dengan menggandeng Daras. Langkah-langkah kami melalui orang-orang yang sedang menyantap rawon. Kedua bola mataku melihat bahwa sudah banyak yang berubah. Dari tata ruang hingga perabotannya lebih modern. Kulihat seorang lelaki yang sedang mengaduk-aduk nasi, seorang lelaki muda. Lalu kusuruh Daras dan istriku duduk di meja panjang yang kosong, dan aku memesan rawon. Selama memesan itulah, aku bertanya kepadanya, ke mana Pak Darman. Lelaki itu adalah anak pertama Pak Darman yang dulunya tinggal bersama kakek-neneknya di ibukota, dan pernah diceritakan oleh orang tua yang menolongku itu.

“Bapak, telah pergi, dua tahun lalu, Mas.”

Aku hanya terdiam. Aku hanya bergeming.

*

Tiga porsi rawon telah terhidang di depan kami. Asap-asap mengepul dari kuahnya yang kental serta dagingnya yang lunak.

“Daras yang pimpin doa kali ini ya?” tawar istriku.

“Iya, Bu.” Lalu tangan kami bertiga terangkat. Daras dan istriku berdoa menikmati keberkahan makanan kuliner itu karena serangkaian proses panjang hingga menjadi santapan yang melezatkan; sementara aku, berdoa untuk kepergiannya, kepergian oleh orang yang mengajarkanku untuk hidup cukup; dan Daras melanjutkan, “Bismillah…”

*

Sesampainya di rumah, di dalam kamar pribadi, aku hanya membaringkan tubuhku ke samping, menindih kedua tangan dengan kepalaku, sambil mengulang pengalaman itu. Dari arah belakangku, istriku melekatkan tubuhnya yang sintal, kurasakan sentuhan lekuk tubuhnya, memelukku dari belakang, dan mencium pipiku dengan kasihnya, sungguh suatu keajaiban yang mengagumkan, lalu sambil memandang wajah muramku, ditengah kehangatan pelukannya, aku bercerita tentang sejarah Pak Darman dan warung kuliner rawonnya.

“Ia orang baik, meski aku tak mengenalnya, yang membuat suamiku dan ayah dari anakku menjadi manusia pembelajar,” tutur suaranya yang pelan, dan mencium pundakku dengan kesederhanaan cintanya.

[*] Diadopsi dari esai Radhar Panca Dahana, ‘Hidup Cukup’, dalam Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia (Resist Book, Maret 2007), “’Bang Uki, telah lebih dua puluh tahun berdagang nasi uduk, di pinggir pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Uduk yang sungguh enak. Tiap pagi, puluhan orang antre, untuk makan di tempat atau dibawa pulang. Paling lama dua jam saja, seluruh dagangan Bang Uki—ada empal, “tusukan”, telor, semur daging, tempe goreng, dan sebagainya—ludes habis. Begitu setiap hari. Dua puluh tahun lebih. […] Pertengahan 80-an, ekonomi Orde Baru tengah menanjak ke puncak ketinggiannya. Bang Uki, dengan ritme stabil batang pohon cabai terus berproduksi, belanja pukul satu dini hari, masak mulai pukul dua, berangkat pukul empat, dan usai Subuh telah menggelar barang dagangnya. Tepat jam tujuh pagi, semua tuntas. Pukul sepuluh, ia sudah nongkrong di teras rumah, lengkap dengan kretek, gelas kopi, dan perkutut. “Tinggal nunggu lohor,” tukasnya pendek. […] Berulangkali pertanyaan bahkan desakan untuk membuka kios terbukanya hingga lebih siang sedikit, ditolak Bang Uki. “Buat apa?” ketusnya sedikit kesal. “gua udah cukup. Anak udah lulus es-te-em, berdua nyak gua udah naik haji. Apalagi?” Dan rutin 20 tahun itu pun berlangsung terus. Pernah sekali penulis jumpai ia sedang memasak di rumahnya. Langit di luar masih gelap. Kedua mata Bang Uki terpejam. Tangannya lincah mengiris bawang merah. Saya menegur. Tak ada reaksi. “Abah masih tidur,” istrinya balas menegur. […] Lima belas tahun kemudian, sekali lagi saya datang. Bang Uki sudah pensiun. Wajahnya penuh senyum. Hidupnya penuh, tak ada kehilangan. Kami yang kehilangan, masakan sedap khas betawi. Kami sedikit tak rela. Bang Uki terlihat begitu ikhlasnya. Wajahnya tenang saat ia dimandikan untuk kali terakhirnya. Dua jam berdagang, enam jam bekerja, telah mencukupkan hidupnya. […] Dan Bang Uki tidak sendiri. Nyi Omah di Pasar Jum’at, pak Haji Edeng tukang soto Pondok Pinang, pun begitu. Tukang Pecel di solo, gudeg di Yogya, nasi jamblang di Cirebon, atau bubur kacang hijau di Bandung, juga demikian. Mungkin Anda bisa temukan pula di Padang, Banjar, Ujung Pandang, Ubud, atau kota-kota lainnya. Mereka yang bekerja dan berdagang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika telah cukup, untuk apa bekerja lebih. Untuk apa hasil, harta, atau uang berlebih? “Banyak mudharatnya,” kilah pak Haji Edeng. Mungkin.’”

[**] Image di atas adalah salah satu warung kuliner Jawa Timur favorit saya, di sepanjang jalan Gejayan, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Iklan

Daras Kecil dan Gamelan.

DSC_0001

Seni terwujud di dalam kemampuannya untuk mempesonakan: seni memberikan ilusi tercapainya dunia maya justru pada saat menguasai unsur-unsur dunia material – Lèbur: Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura (La matière des émotions. Les arts du temps et du spectacle dans la société madouraise), Hélène Bouvier, École Française d’Extrême-Orient. 1994.

*

Malam itu aku mengajak Daras dan istriku ke suatu pertunjukan musik gamelan. Suatu pertunjukan dengan konsep mempertemukan beberapa grup gamelan. Di halaman gedung, aku berdiri dan menatap gedung itu. Entah telah berapa lama aku tak mengunjungi gedung itu. Meskipun, aku termasuk golongan akademisi, namun aku tak membatasi ruang gerak pertemananku. Di gedung itulah, aku banyak bertemu dengan para penyair, para novelis, para cerpenis, para kritikus, para komposer, para dramawan, atau para musisi. Gedung itulah yang dibuat untuk menampilkan imajinasi-imajinasi manusia dalam beragam bentuk, siapapun kerapkali menyebutnya dengan ‘karya.’ Di gedung itulah yang kelak nanti akan memunculkan benih-benih muda kebudayaannya. Dan di gedung itulah aku bertemu dengan beberapa kawan musisi dan sastrawan, seperti Si Rolis, penyair yang terlalu mengarah pada Marcel Proust; ada Bastian, seorang novelis realisme cum sejarawan; ada Binar, seorang perempuan dengan alat musik flute-nya; dan sahabatku, Mischa, seorang komposer yang kini telah melalang-buana ke berbagai belahan dunia, dan dari gedung itulah ia menanam bibit-bibit mimpi untuk menjadi seorang komposer dunia.

Aku masih berdiri dan menatap gedung itu. Kulihat seorang fotografer sedang membidikkan kameranya ke audiens yang telah datang, seperti seorang penembak jitu yang begitu fokus pada objek yang dituju; kudengar seorang muda-mudi sedang membicarakan tentang transformasi-transformasi suatu genre musik, percakapan yang telalu hangat bagi mereka; atau dua jurnalis musik sedang tertawa terbahak-bahak menikmati kisah pertemanan mereka. Langit malam begitu cerah dan semilir angin menyusup ke tempat yang ingin mereka isi.

Kurasakan telapak tangan kecil itu menggenggam jari telunjukku dan menarik-nariku sehingga aku tersadar bahwa aku terlalu lama terjerumus dalam suasana gedung.

Yah, yah!”

Aku menolehkan kepalaku ke sisi kanan, sedikit ke bawah.

Oh, sudah? Mana ibu?”

Daras membalikkan tubuh kecilnya, lalu menjulurkan tangannya, dan berkata, “Itu, Yah!”

Lalu aku mengikuti arah tangan bidadari mungil itu. Tampak kejauhan istriku berjalan pelan-pelan dengan membenarkan rok panjang batik bermotif. Dari kejauhan itu pula, aku melihat keeleganannya dibalik kesederhanaannya, sambil memutar ingatan tentang doktrin fashionnya, bahwa fashion terletak pada kepercayaan diri.

Lama sekali, puteri cantik?” sindirku, ketika dia mendekat.

Jaket Daras tertinggal di mobil,” tegasnya, lalu mengarah ke Daras, “Daras pakai jaketnya, dingin.”

Nggak, Bu. Nggak mau.”

Nanti kamu sakit lagi.”

Nggak, Bu. Nggak mau.”

Perdebatan kecil antara ibu dan anak gadisnya memulai kembali.

Ya sudah, nanti kalau Daras kedinginan, bilang ya,” tambah istriku.

Hm, hm.”

Kami bertiga mulai berjalan untuk memasuki hall gedung. Ketika menuju hall itulah, aku teringat bagaimana Kyai Makrus berkata padaku saat aku belajar mengeja kalam-kalam Ilahi dalam bahasa Arab ketika di pondok pesantren dulu, suara tuanya pun masih membekas, “jika kamu membacanya dengan benar, maka alunan merdu akan muncul, sehingga menarik bagi siapa yang mendengar, seperti musik, seperti seni.” Pun dengan dengan Romo Suryadi, guru dan kawan dekat saat membicarakan filsafat dengan pemahaman relijiusnya yang sangat luas sehingga nampak dinamis, “kehidupan adalah kesenian bermusik yang adakalanya menawarkan kebahagiaan dan kesedihan, dan kita hanya bisa menikmatinya.” Berangkat dari kedua pemahaman itulah, aku senang mengajak keluarga kecilku ke suatu pertunjukan musik, dan mengajarkan pada Daras tentang emosi, tentang perasaan, agar mampu mencapai tahapan memanusiakan manusia, di kemudian hari.

Lalu kami memasuki sebuah lorong dengan beberapa panitia yang menunjukkan tempat di mana harus dilewati, lalu di ujung lorong terbagi dua arah, arah kiri untuk penonton, dan arah kanan untuk para fotografer dan media partner. Kami mengarah ke arah kiri. Kaki-kaki kami bersama puluhan audiens lain bergerak hingga mencapai suatu tempat di mana kursi-kursi telah tertata rapi, berderet memanjang. Istriku memilih untuk duduk di deretan kedua. Sesampainya, kami pun duduk. Mata kecil Daras terkagum-kagum melihat tatanan panggung di mana backdrop dihias dengan anyaman bambu-bambu, lighting yang memancar di antara gelapnya ruangan, dan terdapat dua layar besar di kanan-kiri panggung. Di atas panggung, terdapat instrumen-instrumen musik yang memiliki falsafahnya masing-masing: Kendang, Saron, Gong, Bonang, Slenthem, Kenong, Gender, dan Siter.

Seketika itu juga, Daras, puteri kecilku, yang selalu ingin tahu pada hal-hal baru terus saja bertanya sambil menatap dengan tajam. Istriku, yang mana keluarga besarnya masih terasa adat Jawa yang kental, kemudian menjawab, yang mana Kendang, yang mana Saron, yang mana Gong, yang mana Bonang, yang mana Slenthem, yang mana Kenong, yang mana Gender, dan yang mana Siter.

Bu, Daras coba, ya Bu?”

Nggak boleh, itu khusus pemain.”

Ahhh! Bu, Daras coba, ya Bu?”

Daras, nanti setelah pertunjukan Daras bisa coba,” tambahku.

Sekarang, Yah. Sekarang.”

Di saat gadis berponi itu terus merengek, dari arah yang tak terduga, mendadak muncullah suatu suara:

Selamat malam, ibu muda.”

Aku dan istriku menuju ke sumber suara.

Wiiildaaa!” teriak istriku.

Daras berhenti merengek, dan gestur wajahnya memandang aneh pada ibunya.

Apa kabar kamu?” tanya Wilda kepada istriku.

Mereka bersalaman lalu berpelukan. Lalu aku diperkenalkan pada Wilda oleh istriku. Wilda adalah seorang dosen di Belanda yang mengajar etnomusikologi, studi tentang bentuk seni pertunjukan yang berkaitan dengan teknik garapan dan dokumentasi musik-musik etnis. Wilda adalah kawan lama istriku semasa es-em-a. Setelah aku diperkenalkannya, lalu Wilda berkata bahwa dia adalah ketua pelaksana dari acara gamelan itu, kemudian Wilda berkata:

Maaf, tadi aku mendengar anakmu ingin menyoba alat musik itu, benar?”

Ah, Wilda.”

Kamu, mau coba, sayang?”

Daras tak menjawab, rasa malu menguasai dirinya.

Kalau mukul alat musiknya sama ibu, mau?” tambah istriku, dan Daras mengangguk.

Sayang, aku ajak Daras ke atas panggung dulu.”

Oh, tentu saja, tentu saja.”

Wilda, yang wajahnya nampak lebih tua dari istriku, hanya tersenyum kepadaku dan menganggukkan kepala, dan aku pun membalasnya. Lalu, istriku berdiri, menggeser tubuhnya di sela-sela kursi penonton, dan menggandeng tangan Daras, untuk menuju ke panggung sebelum pertunjukan di mulai. Daras berjalan ditengah dua perempuan dewasa itu. Pelan-pelan, mereka menaiki tangga panggung, dan tangan mungil Daras mulai mencoba alat-alat musik tradisional seperti Kendang, Saron, Gong, Bonang, Slenthem, dan Kenong. Seluruh audiens menyaksikan apa yang sedang dilakukan Daras, istriku, dan Wilda. Selang beberapa menit, istriku dan Daras, gadis kecil yang telah terpuaskan keinginan pengetahuannya akan alat-alat musik tradisional, kembali duduk disampingku.

Sembari duduk dipangkuanku, lalu mencium ubun-ubunya dan aku bertanya pada gadis berponi itu, “Bagaimana, Daras senang?”

Senang, Yah.”

Beberapa saat kemudian, pertunjukan gamelan segera dimulai.

Yogyakarta Gamelan Festival, PKKH UGM, 21 Juli 2017.

Daras Kecil dan Belajar Mengayuh Sepeda Roda Dua.

Kazam-Learn-How-To-Ride-1

Take my hand / I’ll teach you to Dance / I’ll spin you around / Won’t let you fall down – All About Us, Owl City, feat He Is We.

Pada kenaikan kelas yang lalu, aku menjanjikan puteri kecilku, Daras berponi, sepeda roda dua. Satu bulan setelah penerimaan raport, setelah aku selesai membantu mengumpulkan data-data untuk Prof. Anara, untuk bahan buku terbarunya tentang sejarah film Prancis, dan menerima sedikit upah. Upah itu kubelikan sepeda KaZAM bicycle.

Siang itu aku menjemput Daras pulang sekolah, dan kemudian mampir sejenak ke tempat kerja istriku, di Pusat Kajian Budaya dan Bahasa Inggris. Selama di perjalanan menuju tempat kerja istriku, Daras banyak bercerita tentang hari-harinya, terlebih tentang sulitnya dia menghafal perkalian dalam bilangan puluhan. Dari sanalah aku bisa sedikit menerka bahwa Daras memang lemah dalam angka. Belasan menit kemudian, ketika telah berada di depan Pusat Kajian Budaya dan Bahasa Inggris, aku memarkir mobil, dan mengantarkan Daras dengan menggandeng tangan mungilnya yang lembut ke ruang informasi itu, dan di sana, Daras menjadi primadona. Kawan-kawan kerja istriku seperti Tante Nana atau Bu Rista, dan beberapa murid yang belajar di sana mengerubunginya.

Ah, kau manis sekali, sayang, seperti ibumu,” kata Tante Nana.

Aduh, aduh, Juliet kecilku,” kata Bu Rista sambil mencubit pipi, dan melanjutkan, “Bagaimana nilai raportmu, pasti bagus!”

Daras memang pemalu, hanya menganggukkan kepala berkali-kali, sehingga poninya bergerak ke sana- kemari. Setelah Istriku mengajak Daras makan siang, aku pergi ke luar ruangan untuk merokok.

Ketika duduk di sebuah bangku kayu dengan pinggiran besi, aku mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulut salah satu rokok. Pada hembusan ke tiga, sambil memandang pohon beringin tua yang meneduhkan, di mana aku melihat seekor induk burung gereja sedang dilingkari anak-anaknya untuk memberi makan; dan aku melihat burung gereja paling kecil terdorong oleh dua burung gereja yang lebih besar darinya dan mencoba mendesak kembali. Sungguh, kejadian itu mengagumkan untukku. Betapa indahnya karya Sang Pencipta membuat makhluk-makhluk yang manis itu.

Pada hembusan keenam, dari sisi kananku, dari beberapa meter, hadirlah Andra, mahasiswa ekonomi, yang telah kukenal sejak ia menulis kajian Marxisme di blognya. Tentang pemuda itu, ada satu yang menarik hatiku, tentang bagaimana ia memetakan kembali gagasan sosialisme Indonesia yang telah di analisa oleh Mohammad Hatta.

Mas…!” sapanya, sepuluh langkah kaki dariku.

Hai, Ndra!” balasku kembali.

Andra duduk tepat di sebelahku dan aku membuka obrolan dengan menawarinya rokok. Ia menolak, aku tak merokok, katanya. Lalu, sedikit-demi sedikit, perbincangan menjadi cair, aku lebih banyak menyodorkan pertanyaan tentang dunia Andra, karena aku lebih senang mendengarkan seseorang bercerita. Dan kami terhisap dalam perbincangan politik dan ekonomi. Tanpa disadari, pintu ruang informasi terbuka, dan tampak dua perempuan, dari dua zaman yang berbeda itu. Daras dan istriku mendekat saat aku sedang mendengar bagaimana sejarah Revolusi Industri di Inggris, di mana tenaga manusia akan terganti dengan tenaga mesin.

Wah, kalau dua pemikir sudah bertemu, seru ya,” kata istriku.

Ah, Mbak,” kata Andra.

Lalu Daras berada di pangkuanku.

Andra berdiri, dan berkata, “Baiklah, kalau begitu, Mas. Kapan-kapan kita sambung. Aku selesaikan urusanku dulu.”

Aku mengangguk dan menjabat tangannya dengan erat. Ia berpamitan kepada kami.

Sambil melihat Andra melangkah pergi, aku berkata kepada istriku, “Kau tahu, sayang, aku melihat diriku sepuluh tahun yang lalu dalam tubuh dan pikiran mudanya. Semangatnya luar biasa.”

Ya, ia memang pintar. Teknik menulis dalam bahasa Indonesia ke bahasa Inggris pun juga lumayan. Oh ya, sudah beli sepedanya?”

Mendengar kata ‘sepeda’, Daras lalu menyela, “Sepeda apa, Bu? Sepeda apa, Bu?”

Katanya ingin sepeda?” tambah istriku.

Mana, Yah. Mana, Yah?”

Nanti, dong.”

Yey…!” gadis kecil penyuka Charlie Brown itu melompat-lompat kegirangan.

Setelah itu aku berpamitan pulang dengan istriku. Bibir tipis istriku mengecup pipi Daras. Setelah itu berkata, “Sampai ketemu nanti di rumah, ya, Ras. Jangan nakal, dengarkan perintah ayah.”

Hm, hm.”

Sebelum melangkah ke parkiran, aku mendekat dengan lebih dekat ke istriku, dan membisikinya di telinga kanannya: “Kau tahu, kau tampak semakin manis dari Julietnya Shakespeare.”

Istriku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar rayuanku.

*

Sesampainya di rumah, setelah Daras berganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai, aku mengeluarkan KaZAM bicycle dari pintu belakang mobil, dan membawanya ke halaman belakang rumah. Aku memilihkan sepeda KaZAM bicycle bukan karena tanpa alasan, aku merasa sepeda itu tepat untuk melatih keseimbangannya meski tanpa pedal dan melatih kedua kakinya.

Woh,” kata Daras ketika kedua mata bundarnya melotot melihat bungkusan yang kubawa. “Aku yang buka, Yah. Aku yang buka.”

Tangan kecil Daras membuka kotak itu dan sedikit kesulitan menariknya.

Berat, Yah. Berat.”

Aku tertawa melihat tindak-tanduknya dan aku mengeluarkan sepeda itu, sepeda KaZAM bicycle berwarna biru laut. Setelah sepeda dikeluarkan, Daras berjingkat-jingkat tak sabar ingin mencobanya. Lalu, aku menyuruhnya untuk duduk di seat. Aku memeganginya di bagian bawah seat dan di bagian handle grip dan berjalan ke depan, setelah itu memutar ke sisi kanan dan terus beberapa langkah, memutar ke sisi kanan lagi dan terus beberapa langkah, sehingga membentuk satu putaran persegi panjang. Awalnya, Daras sangat kikuk karena masih belum terbiasa. Lalu kuulangi tiga putaran lagi. Selama, empat putaran itulah aku memberikan instruksi bagaimana cara memainkannya.

Saat akan menuju ke putaran kelima, aku berhenti di depan Daras, dan berkata:

Baiklah, Daras lihat dan dengarkan ayah,” kataku, dan gadis kecil itu menatap dengan penuh keyakinan dan aku pun melanjutkan, “Daras harus berani bermain sepeda sendiri setelah dengan bantuan ayah dan Daras jangan takut jatuh? Masih ingat apa yang ayah katakan tadi?”

Hm, hm.”

Sekarang, ayah berdiri di sini untuk melihatmu. Kamu coba bergerak ke arah sana, seperti tadi, Daras mengerti.”

Hm, hm.”

Daras mulai memasang kuda-kuda yang kuat di kaki-kakinya. Satu kayuhan, dua kayuhan, dan pada kayuhan ketiga, Daras gagal menyeimbangkan tubuhnya, dan sedikit condong ke kiri, dan, “Braaak!” Daras jatuh dengan tertindih sepeda mungil itu.

Aku tetap berdiri di posisiku. “Daras, bangun, Ras. Coba sekali lagi, jangan takut jatuh.”

Daras mengusap-usap bagian lututnya. Gadis kecil itu berdiri kembali dan duduk di posisi semula.

Ayah yakin, Daras bisa,” kataku.

Hm, hm.”

Dengan penuh keyakinan, Daras mencoba lagi. Satu kayuhan, dua kayuhan, tiga kayuhan, empat kayuhan, lima kayuhan dan, “Braaak!”

Daras, nggak apa-apa?”

Nggak apa-apa, Yah.”

Mau berhenti?”

Nggak, Yah. Daras bisa.”

Ya Tuhan, betapa kuat dan hebatnya puteriku. Nanti, jika kau sudah dewasa, kau akan jatuh berkali-kali, Nak. Namun, ingatlah pengalaman pertama jatuh dari sepeda ini.” kataku dalam hati, dan tersenyum ketika melihat Daras telah menyesuaikan keseimbangannya. Dan gadis kecil berponi itu terus mengayuh, terus mengayuh, tanpa henti…

[] image by kazambikes