Tentang Tanah.

Lubang-jalan-yang-kembali-muncul-di-Jalan-Bendungan-Sigura-Gura-Kota-Malang-dan-membahayakan-pengguna-jalan.-Foto-Istimewa6015b58f995b426cb2c91b8734c3153d

Pada Selasa lalu, anak Malang yang tak pernah pulang itu, meski jarak Malang-Yogya, tak sampai dua jam bila ditempuh dengan pesawat, sekitar tujuh jam bila ditempuh dengan kereta api, menahan segala bentuk kerinduan pada kota dingin itu dan kemudian satu kabar muncul bahwa ada longsor kecil di sekitaran, Jl. Sigura-gura, satu jalan yang mana kerap kali dilintasi untuk jogging pagi oleh anak Malang yang tak pernah pulang itu, alternatif bila jenuh dengan spot rektorat Universitas Brawijaya, tak jauh dari rumahnya di Jl. Simpang Gajayana, belakang UIN Malang.

Berkat jogging itulah, sekaligus pernah diajak oleh sahabatnya dari Lamongan, yang telah bekerja di perusahaan Petrokimia, Gresik, untuk pembangunan pabrik, untuk magang di sana, mencatat produktivitas waktu pada alat berat, tepatnya analisis dalam produktivitas alat terkait kapasitas, waktu siklus alat, dan efisiensi alat dalam Dump Truck. Kemudian, mata anak Malang yang tak pernah pulang itu, melihat ada perbedaan tanah antara di sekitaran Lamongan-Gresik dengan Malang. Segera, setelahnya, anak Malang yang tak pernah pulang itu, mendapatkan data bahwa tanah di Gresik adalah tanah jenis Grumusol, tipe pesisir; sedangkan Malang adalah jenis tanah andosol, tipe pegunungan. Bila ditarik lebih jauh, tanah tipe pesisir dan tanah tipe pegunungan juga bisa menjadi alat pembacaan profesi dari warga lokal.

Dibawah langit Yogya yang muram dan terus-menerus disertai hujan yang tak kunjung henti, di satu kedai kopi dengan lantunan sound-dari-track, Taipei, dari 65daysofstatic dari album Wild Light, ia segera mengumpulkan kembali ingatan kolektif tentang tanah dari pengujian CBR (California Bearing Ratio), daya dukung tanah (bearing capacity), beban yang berlebihan yang diberikan dari kendaraan dan turun memaksa pondasi tanah, retakan kecil dan kemudian membesar pada bagian aspal dan tanah disebabkan curah hujan tinggi. Sebagai tambahan, bagi perusahaan yang ‘bermain nakal’, bisa merekayasa data pengujian CBR dan ilmu pengetahuan yang ditujukan untuk kebaikan setiap insan ciptaan-Nya menjadi tidak relevan kembali.

Dari kejauhan, di bawah langit Yogya yang muram, di kedai kopi itu, di antara kamus bahasanya, dengan membaca kabar tentang longsornya Jl. Sigura-gura, ia, anak Malang yang tak pernah pulang itu, hanya bisa mengulang ingatan, pada kota dingin yang memunculkan kerinduan pada setiap tarikan udaranya, sembari menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan ibunya:

“Kamu, kapan ke Malang, Nak? Ibadahnya di jaga ya.”

[] Taipei – 65daysofstatic https://www.youtube.com/watch?v=DmL5Cb7ljn8

[] Image https://www.malangtimes.com/baca/33567/20181126/193100/hatihati-lubang-besar-muncul-lagi-di-jalan-bendungan-siguragura/

Iklan

Jacques Derrida & Filsafat Bahasa Prancis: «Là» (Di Sana).

a20181127_070258

– Sekaligus persembahan agung penulis pada Ajip Rosidi, Guru Besar di Universitas Jepang yang tak punya ijazah itu, yang masih menggunakan bentuk penulisan tanda aksen dalam bahasa Indonesia antara /é/ dan /e/ dalam satu karyanya.

(Tu)lisan.

Jika melihat waktu pengembalian pinjaman buku dari perpustakaan, bibliotheque, yang penulis pinjam, maka terhidang tanggal 10/08/2011 – 29/02/2016. Ada jeda dan jarak di sana: 5 Tahun.

Dalam waktu 5 tahun, apa yang bisa dilakukan oleh seseorang, atau katakanlah peristiwa apa saja yang terjadi pada waktu 5 tahun itu, di sana, «Là». Là, di sini, adalah perihal waktu dan juga jarak.

1) Là, juga bisa bisa diartikan tentang ‘pembacaan’—dalam beragam bentuk seperti artikel surat kabar atau foto—yang sangat jauh puluhan tahun silam dalam teritori masa lalu (passé) seperti sejarawan yang menafsirkan suatu periode, sebutlah Nusantara;

2) Là, juga bisa diartikan tentang ‘pembacaan’—dalam tanda-tanda alam dan tanda-tanda perubahan masyarakat—yang sangat jauh puluhan tahun ke depan, futuristik, dalam teritori masa depan (futur) seperti seorang anak Indigo yang diberikan keajaiban khusus oleh Sang-Pencipta-Yang-Maha-Segalanya untuk melihat kejadian di depan; lihat kembali cerita dalam tradisi Islam antara Nabi Musa as dan Nabi Khidir as.

3) Là, juga bisa tentang ‘pembacaan’ kerinduan—dalam intuisi, suatu kemampuan memahami sesuatu tanpa pikiran, irasional—yang terpisah jarak yang sangat jauh seperti penantian, katakanlah, seorang kekasih yang berada di benua Asia pada kekasihnya yang berada di benua Eropa, sehingga menimbulkan rasa kasih dalam bentuk kekhawatiran yang mendalam, “Di sana, kau sedang apa?”.

Lisan.

Bahasa adalah jambangan besar yang rapuh, kata Derrida, melalui tuturan sahabat perempuannya, filsuf Hélène Cixous.

Di dalam dunia tulisan «Là», akan dapat dipahami melalui aksen grave dengan tanda /à/, yang akan berbeda dengan /a/ dalam «La», artikel definitif untuk merujuk pada kata benda feminin. Dalam dunia lisan, dunia yang tak terlacak jejaknya: A là, di sana. À la (varian «ala»), terma untuk ‘dalam gaya atau cara.’ Namun, /à/ adalah /a/, melebur menjadi satu. «Là», dilafalkan sebagaimana, «La». Sehingga, dalam lisan, «Là» adalah «La».

Tulisan dan lisan, dalam «Là», seperti pengibaratan yang dipancarkan oleh Api pada Abu.

Teks Prancis Jacques Derrida: Jacques Derrida – Feu La Cendre.

Il y a plus 15 ans, une phrase m’est venue, comme malgré moi, revenue plutôt, singulière, singulièrement brève, presque muette. Je la croyais savamment calculee, maîtrisée, assujettie, comme si je me l’étais à tout jamais appropriée.

Or depuis, sans cesse je dois me rendre à l’évidence : la phrase s’était passé de toute autorisation, elle avait vécu sans moi.

Elle avait toujours vécu seule.

La première fois (était-ce la première fois?), ce fut donc il y a plus de 15 ans, à la fin d’un livre, La Dissémination. Dans un paragraphe de remerciements, au moment où un livre se dedicace, se donne ou se rend à ceux qui, connus ou inconnus, vous l’ont d’avance donné, ladite phrase vient s’imposer à moi avec l’autorité, si discrète et simple qu’elle fût, d’une sentence : il y a là cendre.

Là s’écrivait avec un accent grave : là, il y a cendre, il y a, là, cendre. Mais l’accent, s’il se lit à l’œil, ne s’entend pas : il y a là cendre. A l’écoute, l’article défini, la, risque d’effacer le lieu, la mention ou la memoire du lieu, l’adverbe là…Mais à la lecture muette, c’est l’inverse, là efface la, la s’efface : lui-même, elle-même, deux fois plutôt qu’une.

[…]

Qu’on me permette de souligner enfin deux difficultés parmi d’autres dans la scénographie sonore qui fut tentée d’autre part. Tout d’abord, il fallait à la fois marquer et effacer l’accent sur le à cle là dans «il y a là cendre» et ailleurs. Faire les deux à la fois était impossible et si le mot «accent» dit quelque chose du chant, c’est l’expérience de la cendre et du chant qui cherche ici son nom.

Puis si la version enregistrée donne à entendre deux voix, dont l’une paraît masculine, l’autre féminine, cela ne réduit pas le polylogue à un duo, voire à un duel. Et en effet la mention «une autre voix», qu’on entend parfois sans la lire, aura souvent la valeur d’une mise en garde. Elle signale que chacune des deux voix se prête à d’autres encore. Je le répète, elle sont en nombre indéterminé : celle du signataire des textes ne figure que l’une d’entre elles, et il n’est pas sûr qu’elle soit masculine. Ni l’autre femme.

Mais les mots «une autre voix» ne rappellent pas seulement la multiciplité des personnes, ils appellent, ils demandent une autre voix : «une autre voix, encore, encore une autre voix». C’est un désir, un ordre, une prière ou une promesse, comme on voudra: «une autre voix, que vienne à cette heure, encore, une autre voix…» un ordre ou une promesse, le désir d’une prière, je ne sais pas, pas encore.

Jacques Derrida.

Nabi Musa as dan Nabi Khidir as https://medium.com/@galihfajarr09/cerita-dibalik-3-sikap-nabi-khidir-as-yang-tidak-disukai-nabi-musa-as-a250656f1fbf

Feu La Cendre Jacques Derrida https://soundcloud.com/iqbal-iqbal-146880652/feu-la-cendre-jacques-derrida

Derby Rhône-Alpes: Stade de Gerland, Olympique Lyonnais.

stade_de_gerland06

Jika Paris adalah ibukota Prancis, maka Lyon adalah ibukota Provinsi (1), demikianlah yang ditulis oleh esais Prancis dan kritikus sastra, Albert Thibaudet, dalam franceculture[poing]fr. Ketertarikan pada Lyon, tak hanya dikemukakan oleh Thibaudet, namun juga pada Philip Stanhope, 4th Earl of Chesterfield also-known-as Lord Stanhope, negarawan Inggris, diplomat, sastrawan kelahiran 22 September 1694 itu: Lyon adalah ibukotanya; kota ini sangat besar dan indah; itu juga sangat kaya karena pembuatan kain sutra, emas dan perak, yang didirikan di sana, dan yang memasok hampir seluruh Eropa. Jaket perak Anda yang indah berasal dari sana. (2)

Andaikan Paris adalah perempuan yang elegan dan independen di kota besar, maka Lyon adalah perempuan desa berdikari dan pergi ke kota. Perpindahan perempuan desa berdikari ke kota itu juga dialami oleh klub sepakbolanya, Olympique Lyonnais, memindahkan homeground mereka dari Stade de Gerland, di Kota Lyon, ke Stade de Parc Olympique Lyonnais, sub-urban Lyon Metropolis. Dari dua stadion itulah, penulis tertarik pada stadion lama mereka, Stade de Gerland, yang dibangun pada 1914 dengan kapasitas 25,000.

Stade de Gerland, bersama dengan rumah sakit, musium botani dan sekolah seni adalah sebagian gagasan dari urban planner dan arsitek, Tony Garnier, dengan proyek «Une Cité Industrielle». Proyek itu tak asal-asalan dibentuk oleh Garnier. Perpaduan teori «Regionalisme», dan melalui sastrawan naturalisme, Emile Zola, dalam roman Le Travail (1901), Garnier seakan mendapatkan ilham dan tahu apa yang akan dilakukan pada kota kecilnya itu. Satu imajinasi yang kemudian diaplikasikan dalam kenyataan: Sastra untuk Arsitektur. (3)

Dari era Garnier, waktu merambat ke depan, era arsitek Rene Gagis, dengan merenovasi tribun dan memberi nama tribun dengan tribun Jean Bouin, pelari atletik yang meninggal pada Perang Dunia I; dan tribun Jean Jaurès, pendiri surat kabar L’Humanité (4). Dan penambahan atap lengkung bertingkat ganda, arched roof with two double-tiered, dibelakang gawang (5).

Di dalam stadion, tak hanya chant-chant fans yang memberikan satu spirit tersendiri mana kala terjadi derby Rhône-Alpes melawan AS Saint-Étienne; tapi kita juga bisa membubuhkan satu napak tilas tersendiri di mana David Bowie, Roger Waters (Pink Floyd), atau Mick Jagger (The Rolling Stones), pernah mengudarakan sound-sound di antara dua atap dengan bentuk yang berbeda.

(1) https://www.franceculture.fr/emissions/la-conclusion-daurelien-bellanger/les-villes-de-province

(2) Le Lyonnois. Lyon en est la capitale; c’est un très grand et belle ville; elle est aussi très riche à cause de la manufacture d’étoffes de soye, d’or et d’argent, qui y est établie, et qui en fournit presque toute l’Europe. Votre belle veste d’argent vient de là – Lord Stanhope, The Works Of Lord Chesterfield: Including His Letters To His Son

(3) a) http://architectureandurbanism.blogspot.com/2010/11/tony-garnier-une-cite-industrielle-1917.html; b) https://thisislyon.fr/things-to-do/sports-lyon/sporting-venues-lyon/stade-de-gerland/; c) Surga dunia olahraga https://www.lyon-gerland.com/gerland-qui-bouge/le-paradis-des-sportifs/

(4) http://www.goalzz.com/MAIN.ASPX?c=10561&cm=c|2025|p

(5) a) Architecture of Thailand: A Guide to Tradition and Contemporary Forms oleh Nithi Sthapitanond, Brian Mertens; b) Exhibiting Modernity and Indonesian Vernacular Architecture: Hybrid Architecture at Pasar Gambir of Batavia, the 1931 Paris International Colonial Exhibition and Taman Mini Indonesia Indah oleh Yulia Nurliani Lukito. c) https://structurae.info/ouvrages/stade-de-gerland/photos

(6) Image Stade de Gerland, Lyon http://stadiumdb.com/stadiums/fra/stade_de_gerland

Stade de la Meinau (Stadion Meinau).

702px-Stade_de_la_Meinau_fassade2_(cropped)

Tak jauh dari perbatasan sungai Rhine yang membatasi wilayah Prancis dan Jerman, terdapat satu kota di Prancis yang dipenuhi aksen-aksen aneh bernama Franko-Jerman. 22 Oktober 1949, seorang anak kecil bernama Arsene Wenger lahir di kota Strasbourg ini, satu kota yang dipenuhi material-material berbahan klasik seperti Katedral «Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg» (1), lalu jembatan «Ponts Couverts» (2) hingga stadion «Stade de la Meinau», rumah dari Klub Racing Club de Strasbourg Alsace, dengan kapasitas 29.000.

Dalam wikipedia Prancis, dijelaskan bahwa pada tahun 1906, anak-anak muda « strasbourgeois » membentuk satu klub sepakbola, dan melakukan pertandingan persahabatan untuk kali pertama dengan FC Germania. Pada tahun 1933, RC Strasbourg mengklaim menjadi klub profesional, perjalanan panjang selama 27 tahun untuk menjelma dari klub amatir ke klub profesional. Warna strip biru yang didominasi warna putih menjadi jersey pertama (3). Kini, klub di kota yang, sekarang ini, dipimpin oleh walikota Roland Ries (Partai Sosialis Prancis) ini, memiliki presiden klub yang juga dipercaya mengelola manajemen klub yakni Marc Keller (Strasbourg, 1991-1996) setelah menggantikan posisi presiden klub terdahulu, Philippe Proisy, ex-pemain tenis Prancis.

Dalam konteks bangunan stadion, Stade de la Meinau adalah perpaduan beton dan logam. Bagian bawah stadion dengan beton bertulang dan baja ; sementara pada tribun fasad-fasad yang tinggi menghiasi antara kolom dan portico, semacam  teras yang mengarah ke pintu masuk gedung pada budaya Yunani Kuno.

Stade de la Meinau, satu material berbahan klasik yang masih tegak berdiri sejak era PD I, tarikan antara Prancis dan Jerman.

(1) https://structurae.info/ouvrages/cathedrale-notre-dame-de-strasbourg/photos

(2) https://structurae.info/ouvrages/ponts-couverts/photos

(3) https://racingstub.com/club/20/history/shirts/shirt/359

Surat Kenangan Untuk Penemu Aspal.

– Untuk WH Hetzel Asbuton, Geolog Belanda.

Pak Buton, ada dua daerah di Indonesia yang ingin penulis kunjungi bersama anak dan istri, nanti: 1) Banda Neira, tempat pengasingan yang malah menjadi surga bagi Hatta-Sjahrir, dan 2) Pulau Buton, tempatmu menemukan sumber daya alam yaitu aspal.

Di Teknik Sipil, di lab aspalnya, sebelum memanaskan aspal, penulis bersama kawan-kawannya diharuskan untuk menyaring aggregat dari ayakan no. ½, ¾, 3/8, 4 (agregat kasar); 8, 30, 50, 100, 200 (agregat halus), dengan memakai standart US—mengapa harus US, mengapa tidak standart Jerman yang dipakai oleh perusahaan Shell? Pertanyaan yang belum mampu penulis jawab, Pak Buton. Dan, kemudian, masuk ke dalam pengujian-pengujian lain seperti pengujian daktalitas (kekenyalan aspal) dan pengujian Marshall.

Pak Buton, entah harus berterima kasih atau tidak, aspal yang kau temukan adalah aspal terbaik di dunia bersama dengan aspal di Pulau Trinidad. Akan tetapi, Pak, penulis membayangkan bagaimana jika seluruh daerah di Indonesia dilalui jalan yang beraspal, dan kita tahu, di sanalah titik masuknya segala investasi melalui sudut pandang mata burung dari para developper. Tentu saja ini bukan salahmu, Pak, kau hanya menemukan. Harusnya ada filter, mana daerah yang harus di aspal dan mana yang tidak melalui sudut pandang mata burung dari para planner. Jika tidak, eksistensi desa, komunitas adat dan para pelajar antropologi akan terancam.

Oh ya, apakah bapak kenal dengan Ir. John Loudon McAdam (Skotlandia), penemu jalan Makadam, yang cerita hidupnya pernah kubaca dalam satu buku tentang sejarah konstruksi jalan raya dari periode mesir kuno hingga periode romawi, dan Pak Telford memodernisasikan pada awal abad ke 18 dan kemudian dirimu, Pak Buton? Tata letak himpitan-himpitan batu-batu kecil yang telah dipadatkan dengan alat berat yang masih bertahan eksis sebelum dilapisi oleh aspalmu, dan serupa dengan lantai dasar di suatu gereja kecil di Prancis yang penulis baca di buku Romo Mangunwijaya. Yang terakhir, Pak Buton, doakan kawan-kawan lelaki penulis yang Nasrani untuk pergi ke gereja lagi, baik yang ditinggal belahan jiwanya atau yang karena beda agama. 😀

(1) Image http://hedvvich.nl/stamreeks-hetzel/wilhelm-heinrich-hetzel/asfalt-buton/

(2) Fisika Bangunan – Mangunwijaya.

Linguistik (Pikiran) v Sastra (Perasaan).

Pada menit ke 3:00 di track 7:25, score film dokumenter ‘Zidane, un portrait du 21e siècle’, (1) dari band Mogwai, aku melepaskan headphone Sonyku, setelah berjalan dari halte X. Aku berada di pinggir jalan di daerah kota tua, tempat di mana aku akan bertemu dengan dua kawan perempuanku selama menempuh pendidikan di kota kecil, Nantes, yang dipimpin oleh seorang perempuan dari Partai Sosialis Prancis, Johana Rolland. Kedua perempuan, generasi muda Indonesia, bertemu kembali di satu kedai kopi, di daerah kota tua. Si Sastra, 29 tahun, berambut pendek, style sporty, lulusan dari Akademi Prancis; sementara Si Linguistik, 29 tahun, berambut panjang, style elegan, lulusan dari Institut Prancis. Dan, selama menanti tanda warna merah pada traffic light, aku mencoba mengingat kejadian:

Perdebatan pertama mereka terjadi di koran Le Lyon, mana kala mereka mendebatkan, mana yang lebih penting, pikiran atau perasaan? Si Linguistik membantah dengan mengajukan tesis dari pemikir perempuan Prancis, Julia Kristeva, feminis keibuan, tentang bagaimana pikiran mengontrol perasaan melalui lompatan-lompatan intertekstualitas sehingga menjadikan suatu karya begitu obyektif. Segera, Si Sastra, mengajukan anti-tesis bahwa linguistik terlalu kering apabila tak menyertakan perasaan dalam suatu karya. Sebab, membaca Coelho hanya bisa dirasakan, dihayati, bayangkan bagaimana jika kau bercinta dengan orang yang kau kasihi dan menyuruh, harus begini, harus begitu? Cukup pejamkan mata dan rasakan.

Perdebatan mereka tak hanya dalam area (tu)lisan, melainkan juga dalam area lisan. Dalam Radio France, mereka berdebat tentang aksen Prancis Utara dan Prancis Selatan yang berelasi dengan tingkat pendidikan serta kemiskinan. Si Linguistik, mengatakan bahwa gaya bicara seseorang dilihat dari pendidikan, dan pendidikan mampu mengangkat seseorang dari lubang kemiskinan, dan tak akan lagi ada intonasi-intonasi kasar. Sementara, Si Sastra, melawan dengan justru intonasi kasar diperlukan di wilayah urban yang berpendidikan rendah, agar orang-orang berpunya dari pendidikan tinggi sadar untuk membantu mereka.

Lampu merah berganti dengan lampu hijau, tanda para pejalan kaki bergerak dan kendaraan-kendaraan berhenti. Aku melintasi jalan dan menuju kedai itu. Setelah tiga tahun tak jumpa mereka, kedua perempuan itu, generasi muda Indonesia, bertemu kembali setelah pulang dari negeri anggur. Kedua mataku melihat mereka tertawa bersama dan sedang mengobrolkan sesuatu.

(1) https://en.wikipedia.org/wiki/Zidane:_A_21st_Century_Portrait_(soundtrack) / https://www.youtube.com/watch?v=IJNPDlzF4Wg

(2) Image https://savadaller.wordpress.com/category/bahasa-perancis/page/3/

(3) Image Google Books Cara Mudah Belajar Bahasa Prancis Oleh Ridwansyah

Tentang Waktu (Sur Le Temps).

f20181122_090909

Gunanya belajar kala/waktu dalam setiap bahasa di mana pun, dalam setiap sejarah kapan pun, dalam setiap peristiwa bersama siapa pun: Proses menuju ke satu kata, ‘memahami.’

1) Seorang suami muda yang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan istrinya yang ‘ngidam’ (aksi 1), akan tetapi satu kejadian membuatnya tak bisa memenuhi kebutuhan istrinya yang ‘ngidam’ (aksi 2).

2) Seorang fotografer berkali-kali gagal mendapatkan momen dalam Shutter Speed (a) dan kemudian memahami kejadian sebelum (avant) dan kejadian sesudah (après).

3) Seseorang memposting suatu berita di Kanada (aksi 1), seseorang yang lain memposting suatu berita yang lain di Nganjuk, Jawa Timur (aksi 1), secara bersamaan, dan sama-sama menjadi viral (aksi 2).

4) Seorang pemuda—akan—menggunakan uangnya di tempat prostitusi, seorang pemuda lain—akan—menggunakan uangnya di tempat peribadatan gereja untuk amal, dan kejadian yang belum terjadi sedang menanti.

(a) https://kelasfotografi.wordpress.com/2013/08/26/shutter-speed-dan-penerapannya-dalam-fotografi/?fbclid=IwAR1gdgIIeJkYy_ucU4d9GHKr-FrxyUQoAFevk8bwX72R3xbTTd8qGRzAAtA

L’Agenda douzième jours. 20 Novembre 2018. (trilingual/tiga bahasa).

[Prancis] J’ai commencé aujourd’hui pour continuer mon livre sur la culture d’Allemagne par John Ardagh, un chercheur. Sur le theme d’Allemagne de l’Ouest et d’Allemagne de l’Est en «the one-party State,» en l’anglais et ai souligné, qui est commencée par la page de 388, en fragments de phrases, par exemples:

1) […] those who in Western societies would be opinion-makers or social critics.

2) They had grown used to the system; and most of them had no direct experience of Western democracy (after all, the last free elections had been in 1933). Their concerns were more practical and material.

3) […] But they were careful not to flaunt their modest wealth as they might in the West, for this was still ideologically mal vu […]

4) The failure to report or explain the consumer shortages was just one aspect of a general suppression of information and ultra-selectivity of news in the State-controlled newspapers, radio and television. Any event at home or abroad that embarrassed the regime or went against its policy was passed over in silence or relegated to an inside paragraph.

5) News priorities were entirely different from those in the West, and this was not just a matter of expected political bias but of a different philosophy of the role of the media.

6) […] ‘We know the West will cover this story better than we can, so let’s not mention it.’ The only retort that GDR TV did make to Western competition was to run a programme called Der Schwarze Kanal (black channel) that sought to show up the week’s ‘lies’ and ‘distortions’ on West German TV.

7) This was about as far as ‘public opinion’ had any organised forum. The party rulers would also listen to the views of a kind of institutionalised counter-elite, made up of scientist, academics, managers and senior economic officials who could express their opinions on specialist matters, but must then dutifully execute Politbüro policies.

Après ça, dans le sous-chapitre «Brecht to Biermann: Dealing with Intellectual Dissidents», j’ai noté quelques les nommés des personnes, par exemple:

1) Anna Seghers (Une Romancière); 2) Stefan Heym (Un Romancier); 3) Stephan Hermlin (Un Poète); 4) Ernst Bloc (Un Philosophe); 5) Wolfgang Harich (Un Philosophe de Marxist); 6) Uwe Johnson (Un Romancier); 7) Christa Wolfs (Une Romancière); 8) Ulrich Plenzdorf (Un Dramaturge); 9) Wolf Biermann (Un Chanteur et Poète de Satiriste); 10) Rudolf Bahro (Un Économiste); 11) Günter Kunert (Un Poète); 12) Reiner Kunze (Un Poète); 13) Volker Braun (Un Écrivain Satiriste); 14) Roger Loewig (Un Artiste); 15) Heiner Müller (Un Dramaturge).

Après ça, j’ai appris encore des cours d’allemand sur le niveau A1 et ai lu deux textes dans le livre de cours que j’ai enregistré par un enregistreur sur mon téléphone, sur les pièces de la chambre et la correspondance sous forme d’informel. J’ai avoué que j’étudie de manière incohérente et c’est difficile.

Quelques mois quand j’ai appri l’allemand, je ne faisais plus concentré. A cette époque, je sentais que le programme d’étude de ma langue et ce n’était pas bien arrangé. Ensuite, je pensais que je devais oser admettre mon échec de ce que je faisais, et ce n’étais pas la faute des autres mais c’étais de ma faute.

De cette expérience, je prend les leçons sur le «temps», ce qui est très difficile. Si quelqu’un(e) est capable de maîtriser le temps à travers un très long processus dans la gestion du temps, c’est quelqu’un(e) qui valorise le «temps». Par exemple, s’il fait un accord avec quelqu’un(e) d’autre, alors il vient plus tôt qu’à partir du temps spécifié. Il/elle, qui garde ce temps, ne veut pas décevoir quelqu’un pour attendre, même si lui-même gardera ce temps, et sera piégé dans sa propre attente. Je l’appelle un jeu de temps paradoxal: passé (past), présent (present) et futur (future).

Pour ces cinq années, j’apprends toujours à comprendre sur le «temps». Certains d’entre moi ont réussi, d’autres ont échoué. Je pense que je présente alors quelque chose qui se dit souvent avec: la dualité. Selon Mustofa Bisri (Gus Mus), il n’y a rien de parfait chez l’homme, et la perfection n’appartient qu’au Créateur, Le Dieu.

J’ai la chance d’apprendre (un peu) sur la déconstruction de Jacques Derrida. Il est possible que je fasse la deconstruction sur mon échec dans l’exécution de la gestion du temps d’apprendre l’allemand. Au début, j’ai un plan pour étudier l’allemand par une heure, mais cela n’a fonctionné que quatre mois. Par la déconstruction, je veux le rénover l’interprétation du «temps» sur mon échec et, à venir, je voudrai le changer à quinze minutes, chaque jour, lentement, constamment.

Puis-je? Le temps va se répondre, se répondrai.

*

[Indonesia] Aku memulai hari ini dengan melanjutkan bacaan tentang Kultur Jerman karya John Ardagh, seorang peneliti. Pada tema tentang Jerman Barat dan Jerman Timur dalam ‘the one-party State,’ dalam bahasa Inggris dan aku menggaris-bawahi, yang dimulai pada halaman 388, pada penggalan frasa seperti:

1) […] those who in Western societies would be opinion-makers or social critics.

2) They had grown used to the system; and most of them had no direct experience of Western democracy (after all, the last free elections had been in 1933). Their concerns were more practical and material.

3) […] But they were careful not to flaunt their modest wealth as they might in the West, for this was still ideologically mal vu […]

4) The failure to report or explain the consumer shortages was just one aspect of a general suppression of information and ultra-selectivity of news in the State-controlled newspapers, radio and television. Any event at home or abroad that embarrassed the regime or went against its policy was passed over in silence or relegated to an inside paragraph.

5) News priorities were entirely different from those in the West, and this was not just a matter of expected political bias but of a different philosophy of the role of the media.

6) […] ‘We know the West will cover this story better than we can, so let’s not mention it.’ The only retort that GDR TV did make to Western competition was to run a programme called Der Schwarze Kanal (black channel) that sought to show up the week’s ‘lies’ and ‘distortions’ on West German TV.

7) This was about as far as ‘public opinion’ had any organised forum. The party rulers would also listen to the views of a kind of institutionalised counter-elite, made up of scientist, academics, managers and senior economic officials who could express their opinions on specialist matters, but must then dutifully execute Politbüro policies.

Kemudian dalam sub-bab ‘Brecht to Biermann: Dealing with Intellectual Dissidents’ aku mencatat beberapa nama dari beberapa persona, seperti:

1) Anna Seghers (Novelis); 2) Stefan Heym (Novelis); 3) Stephan Hermlin (Penyair); 4) Ernst Bloc (Filsuf); 5) Wolfgang Harich (Filsuf Marxist); 6) Uwe Johnson (Novelis); 7) Christa Wolfs (Novelis); 8) Ulrich Plenzdorf (Dramawan); 9) Wolf Biermann (Penyanyi dan Penyair Satiris); 10) Rudolf Bahro (Ekonom); 11) Günter Kunert (Penyair); 12) Reiner Kunze (Penyair); 13) Volker Braun (Satiris); 14) Roger Loewig (Seniman); 15) Heiner Müller (Dramawan).

Sesudahnya, aku mempelajari kembali pelajaran bahasa Jermanku di A1 dan membaca dua teks dalam buku kursus yang aku rekam melalui recorder di ponselku tentang bagian-bagian kamar dan surat-menyurat yang berbentuk informal. Aku mengakui bahwa aku belajar dengan tak-konsisten dan itu sungguh sulit.

Beberapa bulan ketika aku telah belajar bahasa Jerman, aku tak lagi fokus. Saat itu, aku merasa bahwa jadwal dari waktu belajar bahasaku yang telah aku susun dalam manajemen waktuku tak tersusun rapi. Lalu, aku berpikir bahwa aku harus berani mengakui kegagalan dari apa yang aku jalankan, dan itu bukanlah kesalahan dari orang lain melainkan adalah kesalahanku sendiri.

Dari pengalaman itulah, aku mengambil pelajaran tentang ‘waktu’ yang sangat sulit. Apabila seseorang telah mampu menguasai ‘waktu’ melalui proses yang sangat panjang dalam manajemen waktu, ia adalah seseorang yang menghargai ‘waktu.’ Contohnya, bila ia melakukan perjanjian dengan seseorang yang lain, maka ia datang lebih awal dari waktu yang ditentukan. Ia, orang yang menepati waktu itu, tak ingin mengecewakan seseorang dengan menanti, meskipun ia sendiri, orang yang (akan) menepati waktu itu, (akan) terjebak dalam penantiannya sendiri. Aku menyebutnya dengan permainan paradoks tentang waktu: Masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

Selama lima tahun ini, aku selalu belajar memahami ‘waktu.’ Sebagian aku berhasil, sebagian aku gagal. Aku berpikir bahwa aku kemudian menghadirkan sesuatu yang sering dikatakan dengan: dualitas. Tak ada yang sempurna dalam manusia, kata Mustofa Bisri (Gus Mus), dan kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta.

Aku beruntung belajar (sedikit) hal tentang dekonstruksi dari Jacques Derrida. Itu mungkin bahwa aku melakukan dekonstruksi pada kegagalanku dalam menjalankan manajemen waktu dari belajar bahasa Jerman. Awalnya, aku memiliki rencana belajar bahasa Jerman dalam kurun waktu satu jam dan hanya berhasil empat bulan. Melalui dekonstruksi, aku ingin merenovasi ulang tafsiran tentang ‘waktu’ pada kegagalanku dalam menjalankan manajemen waktu dari belajar bahasa Jerman dengan mengubahnya menjadi lima belas menit, setiap hari, secara pelan-pelan, dengan konsisten.

Bisakah aku? Waktu yang akan menjawab dirinya sendiri.

Tears Seven Times Salt.

20181117_103956

– Seni bertahan, tips dan trik untuk calon puteriku nanti.

Di Malang, calon bapakmu punya segalanya, bisnis keluarga, mobil dan orang tua yang mendukung. Tapi saat di posisi umur 25 tahun, calon bapakmu memang telah memutuskan langkah hidupnya. Ia, calon bapakmu, memutuskan untuk keluar rumah, belajar mandiri.

Tapi sebelum keluar rumah, calon bapakmu telah berpikir untuk membagi masa hidupnya dalam dua periode, dua planning, jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek dari umur 25 ke umur 30, dan jangka panjang dari umur 30 ke umur 35.

Sekarang ini, di tahapan umur 25 ke umur 30, calon bapakmu sedang menghadapi masa sulitnya, berkelahi dengan situasi, di Yogya. Studi, sekaligus bekerja, tak mudah dilaksanakan. Dari pengalaman itu, ada bea untuk pendidikan dan bea untuk hidup. Oya, jangan lupa, yang terpenting, atur manajemen waktu: kapan belajar, kapan bermain, atau malah belajar sambil bermain.

Omong-omong, hal paling gila yang dilakukan oleh calon bapakmu adalah makan abon, sambal dan nasi, selama empat hari hanya untuk membeli buku, makanan bagi pikiran. Andaikan calon nenekmu dan calon kakekmu tahu pasti marah besar.

Kerjakan apa yang bisa dikerjakan lebih dulu, jangan meminta tolong kepada orang lain sebelum kamu melakukannya, bila telah melakukan sesuatu dan kesulitan, barulah meminta bantuan orang lain, pelajari juga bagaimana orang lain itu memecahkan masalahnya. Semoga pengalaman singkat calon bapakmu ini, bisa kamu gunakan ketika mengambil studi di Jerman atau di Prancis, nanti.

Cukup sekian, Nak. Salam dan doakan, calon bapakmu dan calon ibumu yang manis itu, mampu menghadapi segalanya.

[] Judul diambil dari lagu instrumental band metal/hardcore Undying, Tears Seven Times Salt (1), yang serupa dengan karya Hamlet dari Shakespear (2).

(1) Tears Seven Times Salt – Undying https://www.shazam.com/track/61132358/tears-seven-times-salt

(2) O heat, dry up my brains! Tears seven times salt https://www.sparknotes.com/nofear/shakespeare/hamlet/page_248/

Alam: Budaya Layar.

 

Setelah seminggu tak berkunjung ke Lembaga Indonesia-Prancis, tempat yang terlalu nyaman dan tempat dari beberapa penulis Indonesia yang kini telah mewarnai dunia tulis menulis di Indonesia. Di tempat ini pula, generasi 60-an mengenalnya dengan Le Centre Culturel Français de Yogyakarta, generasi 80-an mengenalnya dengan Lembaga Indonesia-Prancis dan generasi sekarang dengan Institut Français.

Kantin baru hadir dan sempat bersua dengan food writer dan chef, Éric Kayser, menggantikan kantin lama yang pernah diisi oleh Mbak Sarah, istri Eros S07. Mengurus administrasi untuk tingkatan B2, tingkatan untuk anak-anak Ilmu Sosial dan Sastra/Bahasa dan untuk Anak Teknik cukup tingkatan B1, dan menjumpai buku foto beserta petikan dari Sylvain Leroy, ketika melangkahkan kaki di beberapa gunung di Jawa, sempat terkenang seseorang dan kawan-kawan di Jawa Timur saat mencicipi track gunung Jawa Tengah yang memiliki tingkat kemiringan yang mengerikan bagi yang telah mencicipi track gunung Jawa Timur yang sangat, sangat panjang dan menjenuhkan.

Setelah mengurus administrasi, melihat papan acara dan, wow, bulannya film dokumenter. Dulu di festival film dokumenter 2016, ketika diputar di Gedung Kesenian Societet Militair – Taman Budaya Yogyakarta, pernah menyaksikan satu film dokumenter, 1880 MDPL, sutradara Riyan Sigit Wiranto dan Miko Saleh (Aceh), tentang kehidupan para transmigran yang cukup pelik (1).

Kejadian kemarin menyuruh mengingat judul lagu dari band shoegaze Yogya, Lazy Room: Take Me Home (2). Salam sayang dan rindu dari Yogya, buat kamu.

(1) https://www.kompasiana.com/ammycheery/5b964afdab12ae7434611086/1880-mdpl-sebuah-film-dokumenter-tentang-himpitan-ekonomi-dan-pemenuhan-cinta?page=all / https://ffd.or.id/film/1880-mdpl/ / trailer: https://www.youtube.com/watch?v=zwHTdFMA5iw

(2) https://www.youtube.com/watch?v=QFKrcWHRWhI