Daras dan Perspektifme

Pukul tiga sore, di hari sabtu, aku pulang ke rumah setelah, dua jam lalu aku bertemu dengan kawan-kawan lama di sebuah kedai musik. Kedai itu di khususkan bagi pemusik-pemusik indie yang ingin menampilkan karya sekaligus bakatnya. Aku terus mengenang obrolan-obrolan tadi, hingga secara tak sadar bahwa, aku telah berada di depan pagar rumah. Selangkah seusai melewati pagar, aku berdiam diri sejenak, memandang kediaman kecilku, meski pun tak besar dan mewah, namun membuatku merasakan bahagia.

Lalu aku berjalan ke teras depan, duduk di bangku besi, melepaskan sepatu, meletakkannya di rak sepatu dan kemudian masuk. Daras dan ibunya, biasanya banyak menghabiskan waktu di sekitaran dapur atau teras belakang. Namun, saat aku menuju tempat-tempat itu, tak kulihat mereka. Lalu aku membuat secangkir kopi, dan mendadak suara pagar rumah berbunyi. Dua kali kuhirup kopi itu dan meletakkan. Kemudian aku berjalan ke ruang tamu, dan seketika itu pula, pintu depan terbuka.

“Dari mana kalian?” tanyaku.

“Dari rumah Siska,” jawab istriku.

Siska adalah tetangga kami, dan rumahnya berjarak empat rumah dari sisi kiri kediaman kami, yang mana usia perkawinanya sama dengan usia perkawinan kami. Aku melihat Daras memegang sebuah buku gambar, beserta krayon-krayonnya. Lalu, keisenganku muncul, dan meminta pada Daras untuk menunjukkan gambar-gambar yang dibuatnya. Di ruang tamu aku duduk, sambil memangku Daras, dan membuka satu-persatu halaman buku gambar.

Di halaman pertama, hanya berupa arsiran-arsiran warna.

Di halaman kedua, aku melihat Daras menggambar seperti halnya anak-anak lain, pemandangan alam dengan dua gunung besar, yang mana di tengahnya terdapat matahari dan jalan raya.

Di halaman ketiga, aku melihat Daras mengalami sedikit kemajuan, meskipun dia hanya menggambar sebuah hamparan langit biru yang luas dan ada tiga burung sedang terbang (dan burung yang digambar bocah ini, hanya berupa dua garis seperti huruf ‘V’ dan dibawahnya diberi garis vertical).

Dan di halaman keempat, Daras menggambar satu objek: Layang-layang. Namun layang-layang itu di bagi menjadi tiga bagian: layang-layang besar, layang-layang sedang, dan layang-layang kecil.

“Ini gambarmu?” tanyaku pada Daras, seakan tak percaya. Dan dia hanya menggangguk sambil membenahi krayon-krayonnya. Bila ada satu krayon yang terbagi menjadi dua, dia terus merengek untuk dibelikan yang baru.
Layang-layang yang digambar Daras adalah perkara perspektifme. Bagaimana Daras memandang objek dari sudut pandang yang berbeda: besar, sedang dan kecil. Pengetahuan ini kudapat di kedai musik tadi, saat aku berjumpa dengan Yusuf, kawan main di masa kuliah dulu, meskipun ia lulusan komunikasi, toh pada akhirnya gerak hidup menyuruhnya untuk meneruskan bisnis dari ayahnya. Dan aku mencoba mengingat-ingat kembali apa yang diceritakan Yusuf.

“Ah,” katanya sambil memegang majalah musik ibukota, kemudian menambahkan, “dalam setiap menghadapi persoalan, aku selalu menggunakan apa yang Aubrey Fisher pernah ceritakan dalam bukunya Perspectives On Human Communication.”

Aku kemudian menyamankan posisi dudukku, dan tertarik pada apa yang dibicarakan Yusuf.

“Di buku itu, aku tak ingat pastinya, secara garis besar bahwa Aubrey Fisher menggambarkan, misalkan, satu objek: Mobil X, keluaran tahun 2010. Dan ada tiga sudut pandang: si pengendara, si pecinta mobil klasik, dan si ahli ekologi. Si pengendara akan menganggap mobil itu sebagai alat transportasi. Si pecinta mobil klasik menganggap mobil itu sebagai suatu teknologi yang canggih. Dan si ahli ekologi, menganggap bahwa mobil adalah sebuah monster yang menimbulkan polusi. Dan demikianlah bahwa aku menganggap bahwa suatu persoalan adalah perkara objek.“

Dan sejujurnya, aku tak sepaham dengan apa yang dikatakan Yusuf, namun aku tak memiliki referensi serta data untuk membantah opininya. Lalu aku, Yusuf, dan kedua kawan kami yang lain mulai menikmati lagu-lagu yang disuguhkan.

*

Tak lama setelah itu, istriku datang membawa secangkir kopiku yang telah dingin. Di ruang tamu, istriku menceritakan tentang persoalan yang tengah Siska alami bersama suaminya. Lalu, aku pura-pura mendengarkan sambil terus-menerus memikirkan gambar Daras, puteri kecilku, dan perkataan Yusuf.

Iklan

Daras dan Ikan Lemon

  • Untuk Bhekti Setyowibowo dan Chilla kecil.

Di akhir pekan ini, aku mengajak Daras, puteri kecilku, berkunjung ke perpustakaan kota. Dan inilah kunjungan keduanya. Tempat ini demikian sepi, hanya ada empat orang pengunjung dan empat orang petugas. Tak lama kemudian, aku mengajaknya ke rak buku anak. Awalnya, dia kebingungan dan berjalan kesana-kemari mencari buku yang menarik minatnya. Kusodorkan dua komik, Asterix dan Obelisk yang ditulis oleh René Goscinny; dan juga Charlie Brown dan Snoppy karya Charles M Schulzt. Sayang dia tak terkesan. Pada akhirnya, tangan kanan kecilnya meraih buku ensiklopedia tentang ikan hias. Aku tak terkejut mengapa Daras memilih buku itu, sebab istriku, ibunya daras, adalah penyuka laut dan ikan.

Setelah Daras memegang buku ensiklopedia itu, aku mengajaknya untuk memilih tempat duduk dekat jendela yang terbuka. Aku ingin Daras membaca dengan nyaman. Lalu aku meninggalkannya sejenak untuk pergi ke rak sastra, rak kegemaranku sejak masa kuliah, guna mencari data tentang kesusasteraan daerah yang diminta oleh Prof. Adam, guru besar bahasa di universitasku. Setelah dapat, aku pergi ke rak yang mana berjejer buku atau majalah tentang dunia arsitekur, harapanku adalah agar mendapat inspirasi guna membenahi dapur di rumah kecil kami, dan juga agar istriku–dia juga penggemar kuliner tradisional—nyaman memasak. Akan tetapi yang membanggakanku adalah, kerja keras kami berdua dalam menabung selama empat bulan untuk melakukan renovasi.

Setelah aku mendapatkan buku-buku yang kucari. Aku kembali ke tempat di mana Daras membaca. Mata kecilnya yang bundar, dengan antusias melihat gambar-gambar ikan. “Ayah, lihat, lihat!” jari telunjuknya mengarah ke salah satu ikan hias, tepatnya ikan discus, yang berbentuk pipih dengan aksen warna merah terang.

“Bagus,” kataku, tersenyum. Aku membuka buku arsitektur. Setengah jam dikuasai kebingungan dalam mencari inspirasi untuk warna ornamen-ornamen dapur, dan Daras mulai menggangguku.

“Ayah aku ingin pelihara ini,” rengeknya. Lalu jari telunjuk kurapatkan ke mulutku, tanda agar tak berisik di dalam perpustakaan. Melihat apa yang kulakukan, bibir mungil Daras dimonyongkan penuh-penuh, tanda pemberontakan seorang anak kecil. Lalu aku mendekatkan mulutku ke telinganya, dan berbisik bahwa setelah ini kita pergi ke pasar hewan. Dia kegirangan, dan mulai merubah wajahnya, sesekali menyeka poni, dan kemudian berbicara sendiri pada gambar-gambar ikan itu.

“Nanti kau akan sekamar dengan ikan molly ya, kau juga, dan kau juga.”Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

*

Akhirnya aku pun memilih buku tentang La Galigo, mitologi dari Sulawesi Selatan yang termahsyur itu, serta satu buku tentang warna dari Charles A Riley. Daras tak meminjam buku apapun. Jarak perpustakaan kota dengan pasar hewan hanya berkisar dua kilometer. Selang lima belas menit, kami telah berada di depan gapura pasar hewan.

Kami pun berjalan, aku memegang tangan kirinya yang lembut. Suara angin, cicit burung, bau pesing kotoran-kotoran hewan, aksen-aksen Madura para penjual, menyambut kedatangan kami. Inilah pengalaman pertama Daras ke pasar hewan. Kulihat kedua matanya membelalak, seakan-akan dia tengah mempelajari sesuatu yang selama ini hanya dia pelajari di dunia maya. Dan aku teringat saat ayahku, kakek Daras, mengajakku pertama kali ke pasar hewan, demikian senang rasanya.

Enam langkah telah kami lalui. Para penjual mulai mengeluarkan jurus agar si kecilku ini tertarik dan kemudian merengek, lalu dia meminta untuk dibelikan. Namun aku mengingatkan kembali padanya, bahwa tujuannya ke pasar hewan ini untuk membeli ikan. Dia mengangguk, dan di langkah ke kedua belas, di depan sebuah toko burung, dia berhenti, dan menatap seekor anak burung hantu di atas tenggeran. Lalu dia melepaskan pegangan tanganku, dan berlari kecil-kecil dan mendekat. Dia terdiam, penuh takjub. Aku melihatnya dari belakang, tak jauh. “Yah ini burung apa?”

Ketika aku ingin menjawab, si penjual burung menyela dan berkata, “Ini burung hantu kecil, umurnya 2 bulan. Burung ini cocok buatmu.”

Lalu setelah Daras jenuh melihat, aku mengajaknya berjalan lagi. Aku menggandeng tangannya kembali, dan beberapa langkah dari toko burung, dia menoleh sejenak, melihat burung hantu kecil yang telah dilihatnya tadi. Lalu aku mulai menguji keyakinannya. “Burung hantu atau ikan?” kataku.

Dia terdiam, membalikkan badan, dan berjalan kembali. Tampak ada keraguan di wajahnya. Saat itu pula, kami berada di depan toko kucing. Di toko itu, terdapat kucing anggora dengan bulu putih tebal, yang tengah tertidur. Daras kembali melepas pegangan tanganku. Kaki-kaki kecilnya berlari dan mendekat ke sebuah kandang dengan jeruji berwarna merah. Dia asyik melihat dengan berjongkok. Aku menunggunya sekali lagi. “Yah, ini kucing Alika.”

Aku mengangguk saja. Kucing Alika yang dimaksud Daras adalah kucing peliharaan kakak iparku. Setiap kali Daras menginap di rumah budhenya, dia bersama puteri kakakku, Alika, bermain bersama kucingnya itu. Lalu Daras mulai jenuh dan bangkit. Aku mengajaknya kembali ke toko-toko ikan yang beberapa langkah lagi sampai. Tapi setelah meninggalkan toko kucing, Daras berhenti sejenak, dan memandang dari jauh kucing itu. “Hm, burung hantu, kucing, atau ikan, Ras?” ujiku sekali lagi.

“Tapi ibu suka ikan, Yah.”

“Dari mana kamu tahu ibu suka ikan?”

“Kan ibu suka berenang.”

Secara spontan, aku tertawa mendengar jawabannya. Kami pun berjalan kembali. Sinar matahari hampir sejajar dengan kepala-kepala manusia. Kegerahan menghampiri kami semua yang berada di pasar hewan itu. Satu kubangan kecil telah menyambut kami berdua. Warna-warna biru dari air, dan juga lampu akuarium, menjadi pemandangan yang terhampar di depan mata kami. Lalu aku mengajaknya untuk berkeliling toko-toko ikan sejenak, dan kemudian biarlah nantinya Daras yang memilih ikannya sendiri untuk dijadikan hewan peliharaan. Kami pun kembali ke toko pertama. Aku ingin mencoba daya ingat Daras. “Mana ikan yang di ensiklopedia tadi?”

Daras tampak kebingungan. Matanya kembali membelalak, seakan-akan dia tengah mempelajari sesuatu. Aku tak tahu apa yang ada di dalam kepala bocah ini. Toko pertama, kedua, dan ketiga, kami lewati. Di toko keempat, kaki kecil Daras berhenti, telunjuknya mengarah ke sekumpulan ikan di dalam sebuah akuarium. Penjual ikan di toko keempat menyuruh kami masuk. Daras memilih ikan lemon, ikan predator berwarna kuning. Kemudian aku berkata pada Daras bahwa, bukannya tadi ikan discus yang dia pilih. Dia tak menjawab dan tetap bertahan pada ikan lemon. Seusai Daras mendapatkan tiga ekor ikan lemon, kami pun pulang. Seketika diperjalanan, aku bertanya kenapa hanya tiga ikan. Sambil memegang kantong plastik yang menggelembung, dia mengatakan bahwa satu untuknya, satu untukku, dan satu untuk ibunya.

*

Istriku telah menanti kami di teras rumah, lalu memarahiku karena pergi terlalu lama. Ketika ditanya ke mana, kemudian Daras menunjukkan tiga ekor ikan lemon. Lalu aku disuruhnya untuk mengambil akuarium bekas di gudang dan membersihkannya. Satu jam kemudian aku meletakkan akuarium itu di teras belakang rumah, di dekat dapur. Saat memperbaiki pump akuarium itu, istriku bertanya, apakah aku sudah dapat warna untuk ornamen dapur. Kedua mataku menatap tiga ekor lemon yang bergerak degan gesit.

“Sudah.”

“Warna apa?”

“Kuning.”

“Kuning?”

Istriku keheranan, sebab tak biasanya aku menyukai warna terang. Lalu aku jelaskan bahwa warna kuning, agar selaras dengan warna ikan ini. Dapur dan teras belakang inilah, tempatku untuk melepaskan segala kelelahan setelah bekerja berhari-hari tanpa jadwal libur yang pasti.

Chopin – Marcel Proust

Chopin, lautan mengeluh, air mata, berduyun-duyun

kupu-kupu beterbangan tanpa turun melewati

hari-hari di atas kepiluan atau berdansa di atas alunan

mimpi, cinta, derita, jeritan, ketenangan, pesona, atau bahkan guncangan,

yang selalu membuatmu berlari di antara setiap duka

untuk melalaikan nafas yang menyesakkan dan tenangnya khayalanmu

seperti kupu-kupu yang melayang di antara bunga ke bunga ;

Kesedihanmu lalu kecerianmu adalah kesempurnaan

Hawa panas berputar-putar memperluas dahaga air mata

bulan dan air memucat dan seorang kawan yang baik,

pangeran yang putus-asa atau Tuhan agung yang menyingkap,

kau pun tetap bergairah, dan memucat kembali,

cahaya matahari meluapi kamar yang memuakkan itu,

yang menangis di dalam senyuman itu sendiri dan penderitaan menampakkan…

senyuman penyesalan dan air mata harapan !

Dialih-bahasakan dari karya Marcel Proust : Les Plaisirs et les Jours, Portraits de peintres et de musiciens 1896

Daras dan Om Badut

Siang tadi, aku bertemu dengan Dinar–kawan baik dalam mengobrol soal sastra dan musik—yang mengirim satu artikel berbahasa Prancis untuk kuterjemahkan. Setelah di rumah, aku tak langsung beristirahat. Aku berlanjut untuk merapikan barang-barang di gudang, yang mana  gudang itu terletak di sisi kanan teras belakang. Sebenarnya istriku telah jauh-jauh hari menyuruhku. Sekitar dua puluh menit, waktu yang kuhabiskan untuk merapikan barang-barang. Saat aku ingin menutup pintu gudang, mendadak terdengar suara gesekan yang berasal dari bawah pintu gudang itu. Kedua mataku melihat selembar foto yang tampak menguning. Aku hanya melihat sekilas, lalu kuambil dan kusimpan di saku belakang. Beberapa menit kemudian, aku menuju ke meja kerjaku. Kuletakkan selembar foto itu di atas beberapa buku dari  penulis Indonesia, dan aku pun pergi untuk menemui istriku di dapur.

Seusai makan malam, tepat pukul setengah delapan, aku kembali ke meja kerjaku untuk mengecek e-mail yang telah dikirim oleh Dinar. Saat aku telah menyalakan komputer tuaku dan duduk dengan tenang, selembar foto yang kutemukan tadi siang menyita perhatianku. Di foto itu kulihat Daras, puteri kecilku saat masih berumur empat tahun, yang sedang menangis di sisi ibunya, di sebuah tempat wisata. Di depan Daras terdapat seorang badut, yang memakai pakaian yang didominasi warna putih dengan pola polkadot merah, orange, dan biru muda; badut itu pun memakai topi berwarna merah menyolok; sementara wajahnya putih dan mulutnya merah penuh gincu; dan hidung dan perutnya amat sangat besar. Dan perhatian kufokuskan pada roman wajah si badut, tak lama aku pun terkesiap ke dalam foto tersebut.

“Apa jadinya bila aku menjadi badut itu,” pikirku.

Aku membayangkan cerita apa yang selaras dengan foto ini. Aku pun memejamkan mata, dan kemudian tergambar cerita dalam alam imajinasiku:

*

Di salah satu tempat wisata, pada tengah hari, ada seorang badut, yang berjalan dengan tubuh lunglai menuju ke tempat peristirahatannya, sambil memberengut, menahan lapar dan dahaganya, setelah empat jam menghibur orang, dan berkata, “Aku seorang badut, dan tugasku menghibur orang.”

Ia pun duduk, mengeluarkan botol air mineral dan kemudian meneguknya. Tak jauh darinya, dengan jarak lima meter, terdapat sebuah kedai minum, yang mana di dalamnya, seorang barista yang sedang meracik minuman seraya mendengarkan breaking news dari satu stasiun tv, dan pembawa berita berkata, “Tuan Z, anggota dewan perwakilan rakyat komisi 9, telah terjerat kasus suap. Hanya dalam masa jabatan 2 tahun, ia mampu menggelapkan dana ratusan juta.” Namun si badut tak dengar, atau ia tak ingin dengar?

Sambil memakan sedikit roti, si badut mendesah, mengingat kembali lima tahun yang lalu, masa awal di mana ia memulai profesinya menjadi seorang badut di tempat wisata ini. Saat itulah, ia berpikir dan mulai meragukan kembali profesinya, bahwa apa yang ia jalani sekarang tampak sia-sia. Kesedihan membingkai wajahnya. Namun, suara itu kembali muncul, suara harapan yang kerapkali menjaganya: “Aku seorang badut, dan tugasku menghibur orang.”

Sakan-akan seperti mantra suci, ia terus bergumam dalam hatinya. Semangat pun muncul kembali. Ia pun berdiri. Menyimpan makanannya dalam tas, dan kemudian mendesah dalam-dalam lagi. Sampai ketika, ia melihat seorang gadis kecil yang merengek di sisi ibunya, di bawah pohon, dekat satu wahana bermain. Maka lekas, ia bergerak menuju ke anak dan ibu itu. Dan ketika sampai di depan mereka.

Si badut berkata, “Kenapa kau menangis, anak manis?”

Si gadis kecil awalnya ketakutan melihat si badut, dan merapatkan tubuh kecilnya ke si ibu.

“Ia tak sengaja melepaskan balonnya,” kata si ibu, jari telunjuknya mengarah ke balon yang terbang dan semakin mengecil.

Hembusan angin melewati mereka. Menggetarkan beberapa daun di pohon, sehingga bergerak jatuh lamat-lamat ke  tanah, serta menggoyangkan gaun indah berwarna ungu muda serta poni dari gadis kecil itu, dan juga menyentuh pori-pori kulit si badut sehingga menimbulkan kesegaran, kesegaran yang membuatnya tersenyum.

“Aku seorang badut, dan tugasku menghibur orang,” katanya.

Ia segera melakukan satu permainan sulap sederhana. Namun, sepertinya, si gadis kecil masih ketakutan. Kemudian ia mencoba untuk lebih mendekat ke gadis kecil itu.

“Cobalah tekan hidungku yang bulat ini,” kata si badut.

“Cobalah, cobalah,” kata si ibu.

Perlahan, telunjuk gadis kecil diangkat dan didorong ke hidung bulat si badut.

Setelah menempel, mulut si badut berbunyi, “Ting!”

Si badut segera berlari dan berputar-putar di hadapan gadis kecil. Satu-dua gerakan konyol ia ciptakan. Pada akhirnya, bibir gadis kecil mengembang. dan kedua tangannya bertepuk sorai.

“Lagi, lagi.”

Si badut mendekat. Gadis kecil itu menempelkan ujung telunjuknya ke si badut. Dan sekali lagi, ia berlari, berputar-putar, dan melakukan gerakan konyol. Bersamaan dengan itu, di dalam hatinya berkata, “Aku seorang badut, dan tugasku menghibur orang,” katanya kesekian kalinya, “meskipun hidupku…”

*

Suara-suara gaduh yang terdengar dari ruang keluarga membuyarkan khayalanku akan si badut. Suara teriakan istriku, beserta suara teriakan gadis kecilku, saling berbalas.

“Matikan tv-nya, Ras!”

“Nanti, nanti, nanti!”

Aku tersenyum dan menggeleng melihat ulah kedua pelita jiwaku yang tak henti-hentinya memberikan daya hidup padaku. Segera, aku menyimpan foto itu di laci meja. Dan mulai bekerja hingga tengah malam.

ANTOINE WATTEAU – MARCEL PROUST, 1896.

Senjakala tengah bersiap di rerumputan dan wajah-wajah

Bersama mantel birunya, dibalik topenganya yang tak jelas

Tersapu oleh ciuman-ciuman disekeliling mulut-mulut yang jenuh…

Kabut menyimpang lembut, dan mendekat, menjauhi

Balmaski, kesedihan lain menjauh dan

Membuat isyarat cinta yang memalsukan kesenduan dan memesona

Seorang Penyair aneh-atau seorang kekasih yang bersikap hati-hati

Dan cinta memerlukan hiasan pengetahuan

Dan itu ialah kapal-kapal kecil, perasaan, keheningan, dan musik.

 Dialih-bahasakan dari karya Marcel Proust : Les Plaisirs et Les Jours, Portraits de peintres et de musiciens 1896