Panas Matahari – Leo Tolstoy

vladimir-grigorievich-chertkov-the-author-leon-tolstoy-with-his-granddaughter-tatiana-in-yasnaya-polyana-1910.jpg

Keluarlah pada musim dingin dengan tenang, saat hari yang sangat dingin di ladang atau di hutan-hutan, dan lihatlah disekitarmu dan dengarlah. Semua disekelilingmu adalah salju, sungai-sungai membeku, helaian rumput kering menonjol, pohon-pohon menjadi gundul, tak ada yang bergerak.

Lihatlah pada musim panas. Sungai-sungai mengalir dan beriak. Di setiap kubangan,  katak-katak berkuak dan melompat ke dalam. Burung-burung terbang dari tempat ke tempat, bersiul dan bernyanyi. Lalat-lalat dan nyamuk-nyamuk kecil berputar disekitar dan mendengung. Pohon-pohon dan rerumputan tumbuh dan melambai-lambai kian-kemari.

Sebuah periuk membeku bersama air, dan periuk itu akan menjadi sekeras batu. Letakkan periuk yang beku itu ke api: es akan mulai retak, mencair, dan bergerak. Air akan mulai teraduk dan gelembung-gelembung akan muncul. Kemudian, saat air mulai mendidih dan bersiul disekitarnya dan membuat sebuah suara. Kejadian yang sama di dunia karena panas. Tanpa panas segalanya mati, dengan panas segalanya bergerak dan hidup. jika terdapat sedikit panas, terdapatlah sedikit gerakan. Dengan lebih banyak panas, terdapatlah lebih banyak gerakan. Dengan banyak panas, terdapatlah banyak gerakan. Dengan sangat banyak panas, terdapatlah juga sangat banyak gerakan.

Dari manakah panas di dunia berasal? Panas datang dari matahari.

Pada musim dingin, matahari berjalan pelan ke satu sisi, dan sorotan cahaya matahari tak jatuh lurus di atas bumi, dan tak bergerak. Matahari mulai melintas lebih tinggi di atas kepala kita, dan mulai bersinar lurus ke bawah sampai ke bumi. Segalanya mulai memanaskan bumi dan mulai bergerak.

Salju turun ke bawah. Es mulai mencair ke sungai-sungai. Air turun dari gunung. Uap muncul dari air menju awan-awan dan hujan mulai jatuh. Siapa yang melakukan itu semua? Matahari. Biji-bijian tumbuh dan membiarkan akar-akar ke luar, akar-akar tertahan di tanah, akar tua meluncurkan tunas baru, pohon-pohon dan rerumputan mulai tumbuh. Siapa yang melakukan itu? Matahari.

Beruang-beruang dan tikus-tikus mondok terbangun, lalat-lalat dan lebah-lebah terjaga, jentik-jentik nyamuk kecil menetas, dan ikan keluar dari telur-telur mereka, saat hangat. Siapa yang melakukan semua itu? Matahari.

Udara menjadi hangat di suatu tempat, dan di tempat udara yang lebih dingin muncullah angin. Siapa yang melakukan itu? Matahari.

Awan-awan muncul, mulai berkumpul dan terpencar-pencar—ada kilatan cahaya. Siapa yang membuat itu? Matahari.

Rumput-rumput, biji-bijian, buah-buahan, pohon-pohon yang tumbuh, hewan-hewan menemukan makanan mereka. Manusia membuat makan mereka, mengumpulkan makanan, dan mengisinya untuk musim dingin. Manusia membangun rumah-rumah mereka, jalan kereta api, kota-kota. Siapa yang menyiapkan itu semua? Matahari.

Seseorang membangun rumahnya sendiri. Dari apakah ia membuatnya? Kayu-kayuan. Kayu-kayu dipotong dari pohon-pohon, sementara pohon-pohon ditumbuhkan karena matahari.

Sebuah tungku dipanaskan dengan kayu. Siapa yang menumbuhkan kayu? Matahari.

Manusia memakan roti atau kentang. Siapa yang menumbuhkan mereka? Matahari. Manusia memakan daging. Siapa yang membuat berkembang hewan-hewan dan burung-burung? Rumput-rumputan. Sementara rumput-rumputan ditumbuhkan oleh matahari.

Manusia membangun rumahnya sendiri dari bata dan kayu limau. Bata-bata dan kayu limau di bakar oleh kayu. Kayu telah disiapkan oleh matahari.

Segalanya yang manusia butuhkan, itulah yang mereka gunakan. Semua itu disiapkan oleh matahari dan semua itu kebanyakan dari panas matahari. Dengan alasan itu, manusia membutuhkan makanan karena matahari telah memproduksinya dan karena terdapat banyak panas matahari di dalam makanan itu. Makanan menghangatkan manusia yang memakannya.

Alasan itulah, kayu dan batang-batang kayu dibutuhkan karena terdapat lebih banyak panas di dalamnya. Dia yang membeli kayu untuk musim dingin, membeli panas dari matahari. Dan pada musim dingin, kayu-kayu itu sewaktu-waktu diinginkannya dan membiarkan panas matahari di dalam ruangannya.

Saat terdapat panas, terdapatlah gerakan. Tak masalah apa yang akan digerakan. Semua itu datang dari panas, salah satunya langsung dari panas matahari. Atau dari panas yang matahari telah siapkan pada batu bara, kayu-kayuan, makanan, dan rerumputan.

Kuda-kuda dan lembu jantan ditarik, manusia bekerja. Siapa yang menggerakkan mereka? Panas. Di mana asal dari panas? Dari makanan. Dan makanan telah dipersiapkan oleh matahari.

Kincir air dan Kincir angin berbalik dan berputar. Siapa yang menggerakkan mereka? Angin dan air. Siapa yang menggerakkan angin? Panas. Siapa yang menggerakkan air? Panas lagi. Air menimbulkan panas dalam bentuk uap dan tanpa kejadian ini, air tak akan jatuh ke bawah. Sebuah mesin bekerja, digerakkan dengan uap. Dan siapa yang membuat uap? Kayu. Dan di dalam kayu adalah panas matahari.

Panas membuat gerakan dan gerakan membuat panas. Dan keduanya, panas dan gerak dari matahari.

 ***

:: Dialih-bahasakan dari Science Stories For Children: The Sun’s Heat karya Leo Tolstoy dalam The Complete Works of Count Tolstoy (1904). Tr. Rusia-Inggris oleh Leo Wiener.

Iklan

Perihal Kau Dan Balon Impian Dengan Narasi Besarku.

 

Aku memiliki balon-balon dengan warna terang yang banyak. Merah, hijau, kuning, jingga, apapun itu, seperti warna pelangi. Balon-balon itu kusebut dengan balon-balon impian dengan narasi-narasi besar tentang persoalan dunia yang, kuharap mampu bergerak cepat dan melayang tinggi ke langit, dan sampai pada Dia-Yang-Maha-Mengagumkan.

Akan tetapi, akibat kedunguankulah, saat balon-balon impian itu kuisi dengan percampuran unsur hydrogen, oksigen, dan nitrogen, hingga mengembang dan terus mengembang, yang mana ruang di balon-balon itu tak mampu menahan kapasitas dari unsur-unsur itu, akhirnya meletus. Lalu aku mencobanya kembali, entah untuk yang ke berapa kalinya, dengan balon-balon dan unsur-unsur yang sama, dengan kinerja yang sama pula. Dan, masih juga tak satu pun dari balon-balon impian dengan narasi-narasi besar tentang persoalan dunia yang dapat kuterbangkan.

Hingga, diam-diam kau, seorang wanita dengan senyum yang riang, datang mendekatiku dan serta-merta mengagetkanku—seorang pria yang mengira dirinya paling sedih di dunia. Tak lama, kita pun terjebak dalam berbagai dialog, termasuk berdialog tentang ruang ‘-isme,’ suatu ruang yang mengajarkanku banyak hal. Lalu aku mulai menceritakan segalanya tentang diriku kepadamu.

Kau pun berkata kepadaku, “Kau punya banyak balon-balon impian dengan banyak warna. Tapi kau membuatnya terlalu besar dan tak mampu membebaskan dirimu dari kinerja lamamu, apakah kau tak ingin mencoba cara lain?”

“Cara lain?” tanyaku.

Lalu, kau coba mengajarkanku, mengambil satu balon impian, dan meniupnya dengan dengan mulutmu. Satu, dua, tiga, tiupan udara kau jejalkan di balon impian berwarna terang, dan kau berhenti sejenak. Mengumpulkan udara kembali di parumu. Kau pun melanjutkan kembali tiupanmu. Aku terperanjat saat melihatmu melakukan hal itu. Sedikit demi sedikit, satu balon impian mengembang, meski dengan upaya yang susah. Pada akhirnya, balon impian itu mengembang dengan ukuran yang agak lebih kecil dari ukuranku.

“Peganglah,” suruhmu, setelah satu balon impian usai ditiup. Dan, kau meniup tiga balon impian yang lain.

Setelah kau menuntaskannya, kau mengajakku pergi ke sebuah tanah lapang yang hijau dan luas, yang mana tak jauh dari lapangan itu terdapat sebuah bukit. Kemudian, langkah-langkahmu, juga langkah-langkahku, membawa ke puncak bukit itu. Di atas bukit, aku dan kau memegang masing-masing dua balon impian.

“Sekarang merenunglah, pejamkan mata, dan kumpulkan serta tata kembali impian-impian itu, meskipun kecil.”

Aku menurut.

“Saat ada hembusan angin kencang, kuberi aba-aba dalam hitungan ketiga, dan kita lepaskan bersama-sama,”

Aku mengangguk. Dan menanti datangnya angin kencang itu.

“Nah, apakah kau merasakan angin kencang akan tiba?”

“Ya…”

“Siap-siap! Satu…dua…tiga!”

Secara bersamaan, saat hembusan angin kencang tiba, disertai suara-suara persentuhannya dengan daun-daun di pohon-pohon besar berumur puluhan tahun; tanganmu, juga tanganku, kemudian melepaskan balon-balon impian itu.

“Sekarang buka mata!”

Aku membuka mataku.

Lalu kulihat empat balon impian itu terbang. Awalnya melayang tinggi dan aku cukup senang, namun sesuai gerak angin, pada akhirnya balon-balon impian turun perlahan-lahan.

“Mereka tak menuju langit,” kataku.

“Setidaknya, kita telah mencoba menerbangkan mereka,” katamu, disertai senyuman.

Saat melihat senyumanmu, sempat aku berpikir, dan berkata dalam hati, “Apakah kau juga mampu meniup kesedihan yang mengendap di dalam diriku? Jika ya, ajarkan aku cara itu.”

***

:: Dikarang setelah mendengarkan The Morning Hills dari Layur.

 

HARAPAN

Find a way and make me stay so near / I’m here / So Near  – Sophia, The Butterfly Explosion.

Sore hari, di akhir pekan. Seorang ibu muda bernama Sophia, sedang memangku bocah lelakinya, di sebuah bangku taman, di bawah pohon beringin tua yang kokoh. Ibu muda itu terdiam cukup lama, saat bocah lelaki yang dipangkunya, bertanya tentang kata ‘Harapan.’

Kata ‘Harapan’ yang sehari sebelumnya didapat dari secarik kertas milik kakak bocah lelaki itu, yang tertempel di dinding kamar.

“Harapan,” kata Sophia, kemudian melanjutkan, “adalah kawan ibu dan ayah, juga kawan kakakmu, juga kawanmu, dan kawan semua makhluk Tuhan.”

“Ia seperti apa, bu?”

Sophia terdiam. Kedua matanya yang bulat memandang seekor kupu-kupu yang terbang sendirian di sekitar sekuntum bunga.

“Apa kau masih ingat cerita metamorfosa kupu-kupu di buku ceritamu?”

Bocah lelaki terdiam, mengingat.

“Hm, hm.”

Sophia tersenyum. Lalu kedua bibirnya yang basah, mencium ubun-ubun kepala bocah lelakinya dengan penuh kasih, dan cukup lama. Lalu, Sophia berkata pada bocah lelakinya:

“Harapan, anakku, ia menjelma bagai seekor larva yang jelek, yang mana proses waktu menuntunnya untuk menjadi seekor pupa, dan dengan kesabaran, ia menjadi seekor kupu-kupu, sebuah harapan dengan warna-warni yang terang.”

Angin berhembus.

“Aku juga ingin punya harapan seperti kakak, bu.”

Sophia tersenyum kembali, entah yang ke berapa kalinya.