Kompas dan Kakek.

20180628_162943a

Andai kakek masih ada, tentu hari ini akan menjadi sangat spesial; kakek, poliglot tua yang fasih bicara empat bahasa itu dan senang membakar tembakaunya di pagi hari bersama teh pahit dengan koran pagi yang kerap disebut: Kompas. Tradisi menulis dari kebudayaan (Pers) Prancis mengingatkan pada kakek. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa, membuat sebuah berita tak semudah yang dibayangkan. Saya jatuh di bab/unite ini: media massa Prancis. Tanpa Kompas, saya tak mungkin akan mencapai titik saat ini, membaca Le Parisien atau membaca La Marseillaise. Namun, perlahan-lahan, kini saya mencoba bangkit kembali.

Hari ini, 28 Juni, Kompas, surat kabar pertama yang diperkenalkan oleh Kakek berusia 53 tahun.

Iklan

Paska Pesta Demokrasi (1).

 

This is survived by a love // This is survived by a wish – Is Survived By, Touché Amoré.

Seusai memilih pilihan dan aku menjatuhkan pilihan pada paslon tiga untuk Sutiaji. Pemilihan itu tentu punya alasan. Ada suatu waktu, ketika berlangsung bedah buku tentang Tjokroaminoto, setelah pemutaran filmnya (lagi-lagi) memunculkan pelbagai perdebatan. Film Tjokroaminoto sendiri disutradarai oleh Garin Nugroho, dan diproduseri oleh, salah satunya, Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto). Dalam bedah buku itu, dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana Sutiaji memberikan pengalamannya semasa di Yogya ketika ia mencicipi iklim akademik seperti yang kurasakan saat ini. Namun, bagaimanapun, fase perubahan baik fisik dan cara berpikir manusia, membuatku berpikir ulang, apakah Sutiaji saat muda di Yogya sebagai pembaca buku yang tekun akan sama dengan Sutiaji yang kulihat dulu ketika bedah buku ataukah akan (masih) sama dengan Sutiaji setelah menjabat Wakil Walikota Malang dan beberapa jam lalu wajahnya tergambar dalam surat suara? Aku tak ingin melampaui kehendak Tuhan, semoga ia terpilih dan memberikan sumbangsih terbaik bagi warga Malang.

Seusai memilih, aku pergi ke pangsit mie Dempo abadi yang murah dan enak itu. Di dalam warung kecil itu, kulihat anak-anak Dempo (SMA Katolik Santo Albertus Malang) keturunan tionghoa makan dengan santainya. SMA Katolik Santo Albertus Malang ini juga memiliki alumnus seperti sastrawan-arsitek Romo Mangunwijaya, ekonom UI Widjojo Nitisastro dan penulis Eka Budianta. Seusainya makan di pangsit mie Dempo abadi, aku melanjutkan avonturir ke Wilis untuk mencari buku bekas.

Sesampainya di Wilis, aku dijodohkan oleh buku yang selama ini kucari di Yogya dan ternyata kutemukan di Malang, buku tentang Che Guevarra dari Carlos ‘Calica’ Ferrer terjemahan dari Ibnu Raharjo, pemilik Toko Buku Kafka. Setelah itu, aku juga bertemu buku ekonomi dari Faisal Basri (FE UI). Aku berani mengambil buku dari Faisal Basri karena aku sedang ingin membandingkan antara ekonom UI dengan ekonom UGM, dua kutub yang mewarnai dunia akademik ekonomi Indonesia. Satu buku kutawar dengan harga yang cukup murah.

Lalu, aku membeli majalah arsitektur Asri dan Laras. Majalah arsitektur ini nantinya akan kugunakan sebagai refrensi dalam membangun sekolah anak-anak, perlu diketahui bahwa warna dan iklim punya pengaruh besar dalam suasana belajar, yang telah kupelajari di dua institut bahasa, Jerman dan Prancis. Setelah itu aku pulang dan mem-pack-ing keperluanku untuk menyelesaikan pendidikan bahasaku, dan tentu saja bersiap untuk melanjutkan hidup ke tahapan selanjutnya sebagai calon bapak dan calon suami, tentunya; seperti demokrasi Indonesia yang tengah melanjutkan tahapannya paska pesta demokrasi di hari ini.

27 Juni 2018, Rumah Kost Tua Simp. Gajayana, Malang.

Kopi Dampit.

 

(Indonesia) Jika kamu sedang melakukan perjalanan ke Indonesia, ke Jawa Timur, khususnya Malang Raya, cobalah mencari tahu tentang satu produk yang bernama kopi dampit. Kopi ini memiliki karakteristik lain dari kopi-kopi Jawa Timur lainnya seperti Kopi Gresik atau Kopi Tulungagung. Ketika telah menjadi bubuk kopi dan menuangkan air panas ke dalam gelas, ampas kopi akan naik ke permukaan air, setelah hangat ampas kopi akan turun dengan sendirinya. Dalam koran Kompas mengatakan bahwa Kopi Dampit memiliki aroma dan cita rasa khas yang terkandung di dalam biji kopi disebabkan oleh kondisi geografis dan kontur tanah dan kopi ini ada di Lereng Gunung Semeru dan di pesisir pantai selatan Jawa. [1] Sementara dalam Liputan6[dot]com, Kopi Dampit di luar negeri, terutama di Eropa, kopi Dampit sangat terkenal, terutama jenis kopi Robusta. Kopi jenis Robusta asal Dampit dianggap punya special taste karena ditanam di ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan air laut dan memiliki struktur tanah yang baik. [2] Jika kamu ingin mencicipi cita rasa kopi dampit? Silakan datang ke kota kami.

(French) Si vous voyagez en Indonésie, à Java-Est, en particulier Malang Raya, essayez de découvrir un produit appelé le café du dampit. Ce café a d’autres caractéristiques que l’autre des cafés Java-Est tels que le café du Gresik ou le café du Tulungagung. Quand il est devenu une poudre de café et versé de l’eau chaude dans un verre, le marc de café va s’élever à la surface de l’eau, après le chaud, les marcs de café tomberont d’eux-mêmes. Dans le journal du Kompas, a déclaré que le café Dampit a l’arôme et le goût distinctif contenu dans les grains de café causé les conditions géographiques et les contours de la terre et il est sur les collines du mont Semeru et sur la côte sud de Java. [1] Dans le Liputan6[point]com a dit que le café du Dampit à l’étranger, surtout en Europe, il est très célèbre, surtout le café Robusta et il est considéré comme ayant un goût particulier car il est planté à plus de 800 mètres d’altitude et a une bonne structure de sol. [2] Si vous voulez goûter le café du dampit? S’il vous plaît venez dans notre ville.

(English) If you are traveling to Indonesia, to East Java, especially Malang Raya, try to find out about a product called Dampit Coffee. This coffee has other characteristics than the other of East Java coffees such as Gresik Coffee or Tulungagung Coffee. When it has become a coffee powder and poured hot water into a glass, the coffee grounds will rise to the surface of the water, after the warm coffee grounds will drop by itself. In Kompas, said that Dampit Coffee has the aroma and distinctive taste contained in the coffee beans caused the geographical conditions and the contours of land and it is on the hillsides of Mount Semeru and on the southern coast of Java. [1] In Liputan6[dot]com said that the Dampit Coffee abroad, especially in Europe, it is very famous, especially Robusta Coffee and it is considered to have special taste because it is planted at an altitude of more than 800 meters above sea level and has a good soil structure. [2] If you want to taste Dampit Coffee? Please come to our city.

Un Jour Sur Terre (Suatu Hari Di Atas Bumi) (1)

20180623_090112

Jika sudah senang, apa pun yang sulit akan menjadi mudah, kata budhe, pendiri taman kanak-kanak—dan saya dan kawan-kawan kecil, yang kini entah di mana, adalah generasi pertama di tahun 1993—di Surabaya. Ketekunannya dalam mengelola taman kanak-kanaknya dengan dua kelas dengan manajemen waktu yaitu untuk nol kecil di pagi hari dan nol besar agak siang, benar-benar membuat keponakannya ini takjub. Tak hanya itu, Kesabaran serta totalitasnya untuk pendidikan anak-anak di daerah Surabaya Timur, baru benar-benar dipahami oleh keponakannya ini seusai terpengaruh oleh Mangunwijaya, Ki Hadjar Dewantara, Metode Montessori, Cerpen anak-anak Leo Tolstoy, Brahmacharya à la Rabindranath Tagore konteks pendidikan serta sistem Pedagogi yang diajarkan di Institut Francais.

Untuk siapa yang berani menyalakan (cahaya) mimpi itu kembali, pada suatu hari, di atas bumi. Marilah kita mulai!

Pour ceux qui osent retourner le rêve (de la lumière), un jour sur terre. Commençons!

(1) Un Jour Sur Terre Movie Opening / Anggun C. Sasmi

Tentang Cita-Cita yang Melahirkan Risiko Bernama Rindu.

Screenshot from 2018-06-25 00:31:04

Beberapa jam lalu bercengkrama dengan kawan-kawan lama, berbicara banyak hal tentang banyak hal. Dua hari lalu bertemu seseorang yang mengagumkan meski hanya sejenak. Beberapa jam di dua hari yang lalu, mencium tangan nenek yang terus bertanya pada cucunya yang tersayang ini tentang kapan menikah—hmm, sabar ya, Nek; mencium tangan budhe yang menginspirasi tentang taman kanak-kanak yang dibentuknya; melihat tingkah polah keponakan kecil yang sedang lucu-lucunya. Sepuluh hari yang lalu, bertemu kawan-kawan lama dalam bidang yang lain. Tiga belas hari yang lalu, membuka pagar rumah sambil menatapnya dalam-dalam, berjalan pelan-pelan menuju pintu rumah dan ayah membuka pintu, jarak yang menimbulkan kerinduan melalui air mata yang akan tumpah menyebabkan segala problem anak lelaki dan ayahnya kemudian sirna. Keterbatasan waktu mengharuskan mengansel beberapa pertemuan dari kawan-kawan baik dunia musik, kawan-kawan baik dunia buku, kawan-kawan baik dunia pendidikan sejak te-ka, es-de, es-em-pe, es-em-a hingga kuliah, kawan-kawan baik—sekaligus guru—dunia non formal dari penjual bakso hingga penjual tahu telor; serta melihat banyak sekali perubahan di kampung halaman.

Dan Waktu kan menjawab / Pertemuan ku dan dirimu, begitu yang tertulis dalam lirik Tentang Rindu dari Virzha.

Segalanya untuk cita-cita yang melahirkan risiko bernama rindu.

23 Juni.

35949122_10156977070238274_5775132396227657728_n

Sampai kapan pun, Vieira akan memendam sejarah kelamnya tentang ayahnya. Tapi luka itu, terobati dengan membantu mendirikan sekolah sepakbola bagi anak-anak di tanah kelahirannya: Senegal. Sampai kapan pun, Zizou akan mengingat luka yang lain tentang kemiskinannya ketika ia tak memiliki sepatu untuk bermain bola di sub-urban Marseille. Tapi luka itu terobati dengan menjadi legenda kaum imigran dan menginspirasi anak-anak Aljazair bahwa mereka mampu menjadi sepertinya.

Kasih Tuhan membawa mereka, dua luka itu, Vieira dan Zizou, ke dalam tim kesebelasan negara yang pernah menjajah tanah asal mereka dulu: Prancis. Pada tahun 1998, seorang anak kecil kelahiran Surabaya, yang dibesarkan di Malang dan meraih impiannya di Yogyakarta dan Bandung, melihat spirit mereka dan terus menginspirasinya. Selamat ulang tahun Bung Vieira dan Bung Zizou.

Kini, tongkat estafet inspirasi itu kamulah yang berhak meneruskan, dengan caramu sendiri, dari lingkungan terkecil dan kemudian meluas. Mari berjuang dan membahagiakan siapa pun.

Jujur.

20180622_093922 (copy)

Masih, masih ada ketika kedua tangan bertemu namun di dalamnya terdapat nominal rupiah di sebuah instansi/birokrasi di negara yang paling dicintai Bung Karno dan Bung Hatta, dan yang mengerikan, bisa menimpa siapa saja, termasuk suami, atau istri, atau ayah, atau ibu, atau om, atau tante, atau kakek kita.

Ayah, jangan!

Ibu, jangan!

Setelah membayar pajak tahunan, saya tersenyum dan memandang langit kota Pahlawan. Saya ingat perjuangan hampir tiga tahun ini di instansi/birokrasi milik pemerintah asing. Hampir mengalami depresi dan kesunyian. Pada level B, saya gagal ujian, dan saya diharuskan mengulang level, sampai benar-benar menguasai level tersebut, dan tak boleh lanjut level jika belum benar-benar menguasai level tersebut, tak ada sogok-menyogok, dengan memakai sistem milik pemerintah asing. Akhirnya saya berhasil dan sekarang melanjutkan ke level yang lebih tinggi.

Setelah membayar pajak tahunan, saya tersenyum dan memandang langit kota Pahlawan. Saya ingat perjuangan hampir tiga tahun ini di instansi/birokrasi milik pemerintah asing. Tak hanya itu, saya ingat tentang seorang kawan—yang berjuang merampungkan pendidikan S1-nya—yang lolos ujian tes tulis di suatu jawatan di negara ini, ia pintar, sayangnya ia kalah uang ketika kedua tangan bertemu namun di dalamnya terdapat nominal rupiah di sebuah instansi/birokrasi di negara yang paling dicintai Bung Karno dan Bung Hatta, dan yang mengerikan, bisa menimpa siapa saja, termasuk suami, atau istri, atau ayah, atau ibu, atau om, atau tante, atau kakek kita.

Aku bangga pada kejujuranmu, sayang, meskipun keadaan kita sulit, katamu, kelak nanti, wahai cahayaku.

Catatan Harian 12 (21/06/2018)

– But in you I found a rhyme – Song For Someone, U2.

Aujourd’hui, j’ai revisité IFI Surabaya. Là-bas, J’ai regardé cette pièce. Toujours comme avant, rien n’a changé. Un jour, Je voudrai inviter ma futur femme et mon futur fils à visiter cet endroit. J’irai leur montrer une photo ce que j’aime sur une mère qui enseigne à son enfant à nager, sur un enfant qui enseigne à sa mère comment éduquer dans le monde des enfants. Personnellement, la photo de ce livre dépasse la couverture d’un album de Nirvana avec un bébé qui nage. Je remercie vraiment à Dieu pour ce que j’ai vécu pendant quatre ans: Sentez l’amour!

Hari ini aku mengunjungi kembali IFI Surabaya. Sesampainya di sana, aku memandang ruangan itu. Masih seperti dahulu, tak ada yang berubah. Suatu saat nanti, aku ingin mengajak calon istriku dan calon anakku mengunjungi tempat itu. Aku akan menunjukkan kepada mereka satu foto yang aku suka tentang seorang ibu yang mengajarkan anaknya berenang, tentang seorang anak yang mengajarkan ibunya bagaimana mendidik sesuai dengan dunia anak-anak. Secara personal, foto yang berada dalam satu buku itu melampaui cover album Nirvana yang bergambar seorang bayi berenang. Aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan untuk apa yang telah aku alami selama empat tahun ini: Merasakan cinta!

Surabaya, Institut Français Indonesie à Surabaya.

Bung Hatta Sebagai Penulis Travelling.

20180618_094658a (copy)

“Keesokan harinya kami tinggal dalam kota untuk melihat-lihat gedung-gedung yang bersejarah sebagai musea, parlemen dan universitas. Hari keempat kami bertolak dengan kereta api menuju Oslo, ibukota Norwegia. Di Oslo kami hanya tinggal semalam. Apa yang kami alami di Oslo ialah bahwa bahasa Denmark dan bahasa Norwegia sama saja. Tulisannya serupa, hanya cara menyebutnya berlainan. Bahasa Denmark diucapkan terputus-putus, berhenti tiap akhir kata. Bahasa Norwegia serupa berlagu, terpengaruh rupanya oleh ucapan bahasa Swedia.” – Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi; hlm. 235.

“Sekali seminggu, biasanya pada Jumat sore, aku pergi menonton bioskop. Aku pergi sore, sebab pada sore hari tidak banyak orang menonton. Di masa itu di Den Haag ada Operet Hirsch, yang mengadakan pertunjukan beberapa malam tiap-tiap bulan Desember. Pertunjukan operet itu selalu aku lihat. Melihat pertunjukan operet selalu kuperlukan. Itu terjadi dalam musim dingin. Kalau ada pertandingan ‘Football’ sedapat-dapatnya aku pergi. Itu biasanya terjadi pada hari minggu di Amsterdam atau Rotterdam pada musim dingin ‘winles.’ – Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi; hlm. 243.

“Pada malam hari jam 8 aku pergi makan malam ke restoran tempat aku ‘lunch’ tengah hari. Oleh karena aku memesan ‘gulasch’ lagi, pelayan yang meladeni aku berkata, “Tuan senang sekali dengan ‘gulasch’.” Aku jawab, “Memang begitu, karena ‘gulasch itu hampir sama dengan ‘gulai’, makanan kami di Indonesia.”” – Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi; hlm. 311.

“Aku ceritakan kepada mereka bahwa aku sangat gembira bersama mereka naik ke Ungarische Alpen. Selama aku di Eropa, itu adalah kedua kalinya aku menaiki gunung. Pertama kali dalam tahun 1924, waktu aku mengikuti ‘course de vacance’ di Grenoble, yang tiap-tiap week-end dipergunakan untuk meninjau berbagai daerah. Pada waktu itu aku dengan beberapa kawan pergi ke Chamonix dan dari sana mendaki pegunungan Alpen sebelah barat. Kedua-dua ekskursi itu menggembirakan.” – Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi; hlm. 313.

Sambal Bawang Mbok Jayus.

IMG-20180617-WA0000a

La nuit, la pluie / Un ciel blafard que déchiquette / De flèches et de tours à jour la silhouette / D’une ville gothique éteinte au lointain gris – Effet de Nuit, album Septembre Et Ses Dernieres Pensees, Les Discrets, post-rock Prancis.

10 tahun lalu, tepatnya 2008, perempuan terdekat saya saat itu, yang kini telah menjadi ibu serta istri yang baik bagi keluarga kecilnya, seorang lulusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, mengajak saya ke tempat kuliner yang terletak tak jauh di sekitaran Kampus ABM, tempat Radio MFM bernaung. Tempat kuliner itu bernama Sambal Bawang Mbok Jayus (1).

Kini, di saat Idul Fitri, ketika sulit mencari makanan, Sambal Bawang Mbok Jayus, menjadi penyelemat ketika rasa lapar tak bisa dibendung kembali. Apalagi Kota Malang sangat dingin, berada di 24 derajat celcius, untuk ukuran tubuh saya yang telah terlalu lama merasakan iklim Yogya yang panas menurut personal.

Ketika saya bersama sahabat saya, dan sahabat saya melakukan penelusuran search engine google tentang ayam geprek, namun nahasnya tak ada tempat yang buka. Tak lama kami pun menelusuri jalanan Malang mulai dari jalan Sigura-Gura sampai jalan Bogor, kemudian memutar ke arah jalan Soekarno-Hatta, SMA 9 Malang, sampai kemudian kami melihat satu warung makanan di jalan Candi Sewu, yang masih buka di pukul sebelas malam. Saya kembali lagi ke tempat itu, ke tempat 10 tahun yang lalu.

Saya memesan satu ayam dan satu menjes dengan lima cabai; sementara sahabat saya memesan satu ayam, satu menjes dan satu ampela dengan sepuluh cabai. Rasa pedas itu (ternyata) masih membekas. Ada yang berani mencoba lebih dari 10 cabai?