Malang: 10 Tahun Sharkbite, Hugos café, 30 Juni 2019.

Chris Higgins, dalam mentalfloss(dot)com, pernah menuliskan bagaimana relasi antara arsitektur dan musik melalui artikelnya: David Byrne on How Architecture and Music Interact.

Hugos café, small space seperti CBGB Omfug, satu tempat kecil di satu plaza di Kota Malang, menjadi saksi bagaimana satu band terus hidup dalam menelurkan karyanya.

Adalah Sharkbite, salah satu band hardcore Malang, yang telah mencapai perjuangan dalam kurun waktu 10 tahun. Bersama Have Fun With Your Friend, satu EO, mencoba menawarkan konsep menarik bagaimana sebelum band beatdown itu main, terlengkapi dengan video dokumenter tentang perjalanan band itu.

Karena telah terlalu lama tak mengikuti perkembangan musik hardcore lokal dan skena di Malang, tak bisa bicara banyak.

Apapun itu kita patut mengapresiasi segala bentuk perjuangan, salah satunya bagaimana mengartikan angka 10 dalam karir musik dari Sharkbite.

Selamat dan perjalanan mengasyikkan terus menanti. Terima kasih Sharkbite, terima kasih Malang.

Iklan

Surabaya: Wonokromo.

[French] Ce matin, il y avait quelques heures, Surabaya était si différente de celle que j’avais déjà visitée. Cette ville de ma ville natale a été devenue si froide ou si fraîche parce qu’il y avait un temps extrême qui se passait à la mi 2019 sur Java, y compris Malang qui était à une température de 15 à 20 degrés; et Surabaya à 20 degrés à 25 degrés.

À travers les données de Mangunwijaya, dans le livre Pasal-Pasal Fisika Bangunan, Je suppose que le temps qu’il fait est causé par les mouvements des vents australiens. Encore une fois, j’ai deviné.

À 6 heures du matin, J’ai quitté la maison de ma grand-mère et me suis dirigé vers la gare de Wonokromo. Quand j’étais enfant, cette gare signifiait pour moi de me livrer de Malang à Surabaya. Je suis plus proche de la gare de Wonokromo que de la gare de Gubeng.

C’était autour de Wonokromo, Pramoedya Ananta Toer a écrit une romance sur Wonokromo: «Bumi Manusia». Je n’ai jamais su comment la vie m’a pris. Bientôt, je me suis dirigé vers un café et j’ai vu un petit cadre soigneusement rangé. Il y avait six cadres sur le passé Surabaya dans les années 1920. Honnêtement, je n’ai jamais connu ma ville natale, Surabaya, que ma belle ville, Malang.

Un cadre qui m’a attiré était le tram (train dans la ville) qui existait autrefois, étrangement, maintenant c’est parti, disparais. Pendant ce temps, les routes européennes conservent la tradition du tram. Je suis vraiment intéressé à apprendre le tram en Europe que je vais appliquer à Malang – et peut-être à Surabaya.

Surabaya, 24 Juin 2018, 6 du matin.

*

[Indonesia] Pagi ini, beberapa jam lalu, Surabaya begitu berbeda dengan Surabaya yang sebelumnya telah aku kunjungi. Kota kelahiranku ini menjadi begitu dingin atau sejuk karena ada cuaca ekstrem yang sedang terjadi dipertengahan 2019 ini di Pulau Jawa, termasuk Malang yang berada di suhu 15 derajat – 20 derajat; dan Surabaya yang berada di suhu 20 derajat – 25 derajat.

Melalui data Mangunwijaya dalam buku Pasal-Pasal Fisika Bangunan, aku menduga cuaca yang terjadi sekarang disebabkan oleh pergerakan angin Australia. Sekali lagi, aku hanya menduga.

Pada pukul 6 pagi, aku ke luar rumah dan menuju ke Stasiun Wonokromo. Semasa kecil, stasiun ini berarti bagiku untuk mengantarkanku dari Malang ke Surabaya. Aku lebih dekat dengan Stasiun Wonokromo daripada Stasiun Gubeng.

Di sekitaran Wonokromo inilah, Pramoedya Ananta Toer menuliskan satu roman tentang Wonokromo: Bumi Manusia. Aku tak pernah tahu bagaimana hidup membawaku. Tak lama, aku menuju ke satu kedai kopi dan aku melihat pigura kecil yang tersusun rapi. Ada enam pigura tentang Surabaya masa lalu di periode 1920-an. Sejujurnya, aku tak pernah kenal dengan kota kelahiranku daripada Malang kota yang kucintai.

Satu pigura yang membuatku tertarik adalah adanya tram (kereta di dalam kota) yang dulu pernah ada, anehnya sekarang tak ada, lenyap begitu saja. Sementara, jalanan Eropa masih mempertahankan tradisi tram. Aku benar-benar tertarik untuk belajar tentang tram di Eropa yang akan aku aplikasikan ke kota Malang—dan mungkin, Surabaya.

Surabaya, 24 Juni 2018, 6 pagi.

Ketika Surealis Mengasihi Realis.

(Kepala cerita) Namaku Surealis. Kawanku, yang kini menjadi suamiku, si Realis kagum pada bibirku yang tipis, katanya seperti melati putih sehabis gerimis, terdengar ritmis.

Antusiasme kisah cinta kami naik-turun seperti gelombang laut, yang kerap menemani para pelaut, untuk memburu ikan yang akan terhidang dalam perut, dan kemudian beringsut, dalam ranjang yang berkeriut.

(Tubuh cerita) Saat dalam keadaan naik, sebut masa suka, laksana gairah anak muda, tertawa bahagia dengan ledakan suasana yang menampik luka. Aku Surealis, perempuan yang akan berkata, aku akan selalu bersamamu, selamanya. Ia menjawab dengan senyum yang hadir dalam paras yang merah merona.

Saat dalam keadaan turun, sebut masa duka, tangis kesedihan menawarkan permasalahan yang membuat kami rikuh pada harapan untuk berbaikan. Realis, lelakiku jatuh pada keputus-asaan, aku kelelahan, katanya pelan, setelah lama mengunyah bubble gum yang dilemparkan, seperti impian.

(Kaki cerita) Tapi waktu adalah guru. Dari kami berdua yang tercerai-berai kemudian berkumpul menjadi satu. Selalu. Beradu kesetiaan di masa depan, sekarang, atau bahkan yang lalu. Swastyastu, dalam Hindu.

: Fiksi mini atas tafsiran lukisan Cyril Rolando (1, 2), psikolog Prancis dan digital art painter (pelukis digital), dengan memakai teknik menulis Nukila Amal dalam Cala Ibi.

(1) https://www.chambre237.com/peintures-surrealistes-de-cyril-rolando/

(2) https://www.instagram.com/cyril.rolando/?hl=id

(3) DW https://www.dw.com/id/gudrun-cinta-sastra-indonesia-jadi-penerjemah-buku/g-48561410

Setiap rumah menjadi sekolah – Ki Hajar Dewantara.

Berjalan 4 tahun meninggalkan rumah besar dan nyaman ke kota lain, dengan kesulitannya dan survive, ibarat seorang sufi meninggalkan keduniawian.

Di kamar ini dulu ada pamflet band hardcore dan zine cetak yang berserakan; di kamar ini dulu ada poster Michael Owen dari tabloid GO ; di kamar ini dulu ada kliping tentang Gerson Poyk dan Radhar Panca Dahana di Kompas ;

Di kamar ini dulu ada kawan kuliah dari luar pulau dan sakit, dan dirawat di kamar ini ; di kamar ini dulu ada kawan yang minggat dari rumahnya dan menetap beberapa hari sambil cerita tentang problem keluarganya ; Di kamar ini dulu ada kawan-kawan yang kehabisan uang saku seusai clubbing di Hugos Café dan makan nasi goreng pagi hari di kamar ini,

Di kamar ini dulu ada beberapa mahasiswa Teknik Sipil yang bergelut tugas merancang peta dan bangunan ; di kamar ini dulu ada beberapa kawan yang memplanning tentang suatu destinasi ; di kamar ini dulu ada perdebatan tentang komunisme, socialisme dan Islam–kelas menengah.

Setelah semua pergi, kamar ini menanti kedatangan yang lain. Waktu, secara tak terduga, merambat sangat cepat. Waktu pula yang mengajarkan tentang sedikit demi sedikit tentang pengubahan.

Ada yang tetap dan tak pernah berubah: hawa dingin angin malam dari gunung yang melingkungi kotanya yang menyusup ke ventilasi dan jendela kamar dan nuansa malam yang hening.

Melihat Potensi Gajayana: Salah Satu Stadion Tertua di Indonesia, Rumah Persema dan Arema.

Siapapun orang di luar kota Malang akan menganggap bahwa Malang hanyalah Arema, itu benar, bila dikaitkan iklim sepakbola saat ini. Tapi ketika penulis masih berseragam sekolah putih biru, es-em-pe, maka ada dua tim sepakbola, ibarat kakak-adik, Arema dan Persema, yang menghuni salah satu stadion tertua di Indonesia, Gajayana.

Setiap anak kecil yang berimpian menjadi pemain sepakbola di Malang, pasti akan melihat latihan kedua klub tersebut. Sekitaran tahun 2002, latihan klub ini dibagi, sehari untuk Persema, dan sehari untuk Arema.

Orang-orang tua dan Pemerintah Kota selalu mendapatkan jatah tontonan untuk Persema. Sedangkan anak-anak muda dan Non-Pemerintah Kota dibawah Ir. Lucky Acub Zaenal, akan memilih denyut nadi sebagai Arema.

Apabila terjadi derby Malang, warna biru lebih mendominasi warna merah, mengingatkan kita pada Kota Liverpool, Manchester bahkan London, yang memiliki dua identitas warna biru dan merah. Dalam lingkar pemain ada yang menarik, para pemain didikan Persema junior pada akhirnya menjadi legenda Arema.

Stadion warisan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1926 ini memiliki kapasitas yang sangat kecil, sekitar 35000, untuk ukuran stadion sepakbola modern, bisa menjadi peluang pariwisata agar tak kalah oleh tetangganya, Kota Batu.

Satu pertanyaan yang tersaji, bisakah Gajayana terbuka pada domain lain di luar sepakbola seperti Stadion Pierre-Mauroy di Kota Lille, Prancis, dengan memanfaatkan teknologi tinggi untuk kejuaraan tenis, basket bahkan konser musik (1,2)? Jawabannya bisa! Ketika cost yang mencukupi, sumber daya manusia yang memadai dan tak ada yang dikorupsi.

(1) Transformasi Stadion Pierre-Mauroy, Kota Lille, Prancis https://www.youtube.com/watch?v=lMvURIzQffA

(2) Pembangunan Stadion Pierre-Mauroy, Kota Lille, Prancis https://www.youtube.com/watch?v=hty5QUzSfjo

Foto: http://blog.beproudofindonesia.com/2015/09/this-is-the-oldest-stadium-in-indonesia-legacy-of-the-netherlands/

Foto: https://steemit.com/story/@fitrisary/history-of-the-first-time-the-construction-of-stadium-gajayana-gajayana-stadium-is-a-class-a-stadium-located-in-the-unfortunate

Dia dan Ibunya (*).

– Untuk cerita pendek paling pendek yang pernah dibuat oleh Seno Gumira Ajidarma dalam antalogi cerita pendek: Matinya Seorang Penari Telanjang.

(*) Adaptasi dari iklan Air Canada.

Dia telah menantiku selama tiga puluh menit di bawah pohon melaleuca leucadendra, atau kerap disebut dengan pohon minyak kayu putih, di taman, di depan perpustakaan kampus; bersama lalu lalang langkah mahasiswa/i, kayuhan-kayuhan kaki di pedal sepeda kampus, deru mesin mobil dan sepeda motor. Tampak dari kejauhan, dia menyilangkan kaki kanan ke atas kaki kiri dan selalu melihat gadgetnya.

Dari kejuahan, di depan pintu perpustakaan yang bergaya minimalis dengan seluruh bahan kaca dan baja, aku memandang wajah risau belahan jiwaku yang nampak elegan. Busana split neck shift dress (1) biru muda sebiru langit siang menghiasi tubuh kecilnya yang sedang mengandung calon bayiku yang berusia 3 bulan dan pinggang ke bawah dia memercayakan dengan jeans favoritnya, tak hanya itu, disampingnya terdapat tote bag dan sweater kesayangannya, babaton beekman sweater (2).

“Sayang…” teriakku dengan lantang.

Dia menoleh kecil, wajah yang menua itu terlihat muda mana kala disertai senyuman, dan membalas lambaianku. Selekas mungkin, aku buru-buru menujunya.

“Kamu ngapain aja, lama banget…”

“Sabar, dong. Kan, sekarang aku ada disampingmu. Oh ya, video editing-mu tentang keluargamu bagaimana? Jadi?”

Ketika dia sedang mengeluarkan macbook-nya dari tote bag itu, aku melihat Reno Valentino (3), seorang mahasiswa budaya yang sedang memersiapkan koreo untuk pementasan tarinya, sedang melangkah bersama tiga orang pelajar asing dari program pertukaran pelajar menuju ke gedung yang telah menetaskan para artisan bahkan ke mancanegara.

“Coba lihat sayang,” tuturnya, seusai menyalakan perangkat keras, yang kemudian berpindah dari pangkuannya ke pangkuanku.

Dalam video itu, kulihat bagaimana istriku bertemu dengan keluarga besarnya, ayah, ibu, kakak, adik, paman dan bibi bahkan keponakan kecilnya. Dia mengambil latar dua tempat yaitu dapur dan ruang keluarga. Ketika di detik 0:22, dia mencoba untuk mengutarakan niatnya untuk membawa ibunya yang terkasih ke suatu tempat yang telah lalu, satu sejarah diri yang dianggap penting olehnya untuk ibunya, mertuaku. Pada detik 0:56, kedua mataku melihat satu kota kecil yang dikelilingi oleh gunung, mengingatkanku pada suasana, iklim serta hawa dari kotaku. Dia dan ibunya menuju satu rumah tua yang memiliki makna bagi mertuaku, rumah dari neneknya. Waktu pun merambat bagai tanaman morning glory (4) yang pernah kubaca di majalah arsitekturku. Dia, ibunya dan neneknya pergi berjalan-jalan di kampung kecil di mana ibunya pernah mengalami fase bayi di kampung itu.

“Ini siapa? Itu siapa?” tanyaku di sela-sela aku menikmati videografinya; dia menjelaskan dengan sangat rinci. Sampai pada di lima rumah yang berderet, dia bercerita tentang bagaimana mereka diusir dari kampung karena perbedaan pandangan politik. Aku hanya mendesahkan nafas dalam-dalam. Frame terakhir yang aku suka adalah ketika dia memeluk ibunya sambil memandang hamparan perbukitan yang hijau. Seusainya, aku pun berkata sambil memindahkan kembali perangkat kerasnya:

“Aku seperti tak menemukan satu celah pun, sayang. Sempurna.”

Dia terdiam, memandangku dengan rasa kasihnya, dan membuka mulut kecil yang basah:

“Inilah yang selama ini kulakukan, sayang. Aku ingin membuatmu bangga.”

“Sayang, dengarlah, kau tak perlu membuktikan apa pun padaku,” memutar sedikit tubuhku, dan membenarkan sweaternya, ketika angin hadir memenuhi ruang-ruang kosong seperti air, dan aku melanjutkan, “Karena kau telah berusaha keras menjaga kesehatanmu serta kesehatan bayi kita. Dan diatas segala apapun, aku harus mengakui bahwa aku bangga padamu. Selamat hari ibu, sayangku.”

Dia tersenyum, dan berkata, “Kita pulang sekarang, sayang. Aku ingin istirahat.”

(1) https://www.today.com/style/these-are-5-hottest-fashion-trends-spring-2018-t124190

(2) https://www.peacockboutique.ca/products/babaton-beekman-sweater-sz-m

(3) Menurut sepenuturan para kakak (sekaligus guru informal di sekolah kehidupan), Reno Valentino adalah vokalis Band Hardcore Malang, Hindsight, yang berprofesi sebagai guru tari dan telah tenang di tempat nun jauh, semoga ingatan ini tak salah, dan maaf bila tak tepat.

(4) https://www.dekoruma.com/artikel/68579/jenis-tanaman-merambat

Fecundity London: Klub Sepakbola.

The power of life. To be free – Door Game, Senser (RATM dari London dan Paris) (1)

Pada 19 Juli 1898, Emile Zola, seorang penulis Prancis terkenal mengasingkan dirinya ke London, tanpa satu pengetahuan apapun tentang bahasa atau budaya Inggris, bahkan ia tak bisa bahasa Inggris. Mudahnya seperti ini, ada orang Jakarta yang kemudian nekat untuk pergi ke daerah kecil di Jawa Timur, seperti Blitar atau Kediri. Dari bahasa kasar ‘lo’ dan ‘gue’ yang justru berasal dari  bahasa Mandarin Hokkien, menuju ke bahasa kasar di daerah lain seperti ‘nyapo (ngapain)’ atau ‘bar (selesai).’ Tak hanya itu, perayaan perbedaan bahasa-budaya juga menyeret pada ranah lain seperti politik bahasa internasional; para ahli bahasa sudah mahfum, tentang mengapa harus Inggris yang menjadi bahasa internasional, dan mengapa Jerman atau Prancis melindungi bahasa asli mereka, dan bisa kita perpanjang dengan Spanyol.

Penulis Prancis pencipta kata ‘intelektual’ mengasingkan diri di London bukan tanpa alasan, ketika ia membela Dreyfus, tentara Prancis yang dianggap menjadi mata-mata Jerman, melalui koran/pamflet dan melakukan protes pada presiden yang kemudian menjadi satu sejarah sendiri bagi penikmat dunia negeri anggur itu: “J’accuse!” (2)

Dalam era pengasingannya, tak jauh dari stasiun Victoria, London, terdapat hotel yang menjadi kediaman dari penulis borjuis yang pro rakyat itu selama setahun untuk menulis karya Fecundity. Hannah Lynch mengomparasikan karya pengasingan Zola (3) dengan penulis raksasa Rusia dan juga seorang bangsawan-petani, Leo Tolstoy, dalam ‘The Kreutzer Sonata.’

‘Fecundity’ sendiri berarti dengan kesuburan atau keproduktifan. Seperti yang dikisahkan dalam catatan kaki Rachel Ginnis Fuchs, dalam Poor and Pregnant in Paris: Strategies for Survival in the Nineteenth Century:

“[] Matthieu dan Marianne sepasang kekasih yang memiliki banyak anak di daerah sub-urban dan kemudian berelasi pada faktor ekonomi dan aborsi.”

Kata ‘Fecundity’ bisa kita mainkan dalam ranah sepakbola di mana kita bisa melihat satu sejarah yang telah tercatat dengan All England Final baik dalam kompetisi Liga Champions dan Liga Eropa yang mana terdapat tiga dari empat klub diisi oleh klub London. Sangat menarik. Dalam data wikipedia, bisa kita lihat, dari Premier League sendiri, Kota London melahirkan enam klub yaitu Arsenal, Chelsea, Westham United, Fulham, Tottenham Hotspurs, Crystal Palace; Sementara EFL Championship melahirkan tiga klub yaitu Brentford, Millwall dan Queens Park Rangers; sementara EFL League One  melahirkan Wimbledon dan Charlton Athletic.

Namun Fecundity, kesuburan dengan hadirnya klub London, mampukah disamai dengan Fecundity, kesuburan, dalam meraih trofi di dua ajang yang bergengsi tersebut? Atau malah klub dari kota lain, Liverpool, yang akan merusak Fecundity dari Kota London?

(1) https://www.youtube.com/watch?v=CdLEsvXu7zQ

(2) https://id.wikipedia.org/wiki/J%27accuse…!

(3) M. Natsir, kawan DN. Aidit, dan tokoh Masyumi, dalam karya agungnya, Kapita Selekta, menenangkan polemik antara hukum Islam dan karya sastra barat, dan beliau menulis tak perlu khawatir bila anak-anak kita membaca karya dewasa seperti kebanyakan yang diimajinasikan dalam scene Zola melalui Naturalismenya antara alam dan perempuan telanjang, apabila sebelum membaca karya tersebut disertai oleh review dari pereview yang handal. Sehingga diizinkan membaca apabila anak-anak kita telah mengalami fasenya.

Lafuma.

Sebelum Perang Dunia II, ketika Prancis diduduki oleh Pasukan Nazi Jerman dengan Adolf Hitler dan Wehrmacht-nya, yaitu sebutan untuk pasukan Jerman, tepatnya pada tahun 1930, tiga bersaudara yaitu Victor Jean Joseph, Alfred Jean dan Gabriel di desa Anneyron, Prancis Tenggara, membuat karya pertama mereka berupa backpack dengan material metal-frame yang diberi nama Lafuma. Pada tahun 1950, dijelaskan dalam fundinguniverse[dot]com, bahwa backpack Lafuma diadopsi oleh Tentara Prancis dan mereka menjadi klien utama pada masa Perang Dunia. Kemudian Lafuma mengembangkan produknya berupa tenda dan peralatan camping. 

Sebagai satu industri outdoor, perjalanan Lafuma tak mulus, ia mengalami jatuh-bangunya. Meminjam konsep pewarisan genetika pada Hukum Mendel, pada tahun 1984, ketika Lafuma bangkrut cucu pendiri Lafuma, Philippe Joffard mengambil alih kepemilikan dan merekonstruksi manajemen dari brand berbentuk daun itu, kemudian bangkit dan melakukan ekspansi pasar ke Eropa, Amerika dan Asia. Joffard harus berjuang dalam kompetisi dengan brand lain dalam desain serta teknologi. Tak hanya itu, ia harus memutar otak untuk menyelamatkan perusahaan kakek-kakeknya dengan memangkas jumlah karyawan, dan para karyawan menduduki markas Lafuma hingga jadilah satu perjanjian inovatif yang mana para pekerja menerima 35 jam kerja seminggu rata-rata sepanjang tahun dan dengan demikian dapat beradaptasi dengan periode produksi puncak.

Pada tahun 2008, Joffard menulis catatan harian sebagai pemilik perusahaan Lafuma, ‘Journal de bord d’un patron : un entrepreneur dans la crise (Penerbit BOURIN EDITEUR, 2018)’ tentang bagaimana ia menggambarkan perjalanan seorang wirausahawan menghadapi krisis 2008, bercerita tentang pertemuannya dengan para bankir, perjalanannya di Asia untuk meyakinkan pelanggan dan mitranya , perasaan kesepiannya, relasinya dengan para kolaboratornya dan para karyawan. Ada satu sentilan yang ditujukan pada Bankir Prancis bahwa ketika sebuah perusahaan peminjam dalam kondisi lemah, bank melecehkannya; tetapi ketika bank dalam kesulitan, memastikan bahwa peminjam juga mengalami penderitaan akibat ketidakmampuannya.

Lafuma, seperti logo daunnya, ia tumbuh hijau, menguning, dan gugur dan tumbuh hijau kembali. 

Visitez l’usine de Lafuma Mobilier à Anneyron !https://www.youtube.com/watch?v=s7mUYqXTIpo

Salomon (1). 

Pada awal abad ke-20 adalah kebangkitan olahraga musim dingin yang dilahirkan di Pegunungan Alpen Prancis untuk cikal-bakal pembuatan sepatu ski atau sepatu bot, yang juga menyeret pada sektor ekonomi. (2)

Apa yang bisa kita telusuri apabila kita berada di tahun 1947? Di tahun tersebut, terdapat Pembentukan Federasi Pekerja Afrika di Kenya pada 13 Januari 1947; atau, deklarasi ‘economic independence’ di Argentina pada 9 Juli; atau, terbentuknya prinsip-prinsip Afrika-Asia « l’afro-asiatisme » pada 23 Maret di New Delhi; namun, tepat tahun itu pula, di Annecy, Haute-Savoie, Georges Salomon, Pemain ski dan pemilik bengkel kecil dari gergaji kayu melihat celah (baca: peluang) dengan membuat mesin otomatis untuk membuat mata pisau untuk papan ski (3. les carres de ski) dalam jumlah yang besar. Bersama sepuluh pekerjanya, ia mengembangkan produknya untuk mata pisau dalam olahraga skting (4). 

Dari 1947 sampai 1972 bersama ketekunannya, ia telah menjual produknya kurang-lebih 10 juta euro bahkan melakukan diversifikasi (5) pada Mavic3, produsen pelek sepeda, di Saint-Trivier-sur-Moignan. Nahas, seperti hukum alam pada eksistensi perusahaan, Salomon pun ikut dalam pusaran kebangkrutan sehingga Adidas membelinya. 

Kecantikan masa lalu dari produk ski dari Salomon, membuat Arc’teryx, sebuah perusahaan produk gunung Kanada mengakuisisinya dan bahkan juga membuat tertarik bagi Roger Talermo, Master Ilmu Ekonomi dan Dokter Ilmu Fisika dari Finlandia (6), pemilik Amer Sports yang menciptakan brand Wilson, Atomic, Suunto, Precor dan Mavic. Sampai pada Talermo melakukan restrukturisasi pertama yang menghapus 378 posisi dari 2.372 karyawan kelompok (termasuk 1.500 di Prancis) sehingga mengakibatkan adanya mobilisasi serikat pekerja dan karyawan terhadap rencana sosial Amer Sports (7).

Dari hanya mengandalkan sepuluh pekerja kemudian bergerak menjadi 2.372 karyawan, Salomon mengalun ibarat instrumen dari komposer Prancis, Eric Satie (8), yang begitu rumit namun menjadi satu keindahan sendiri dalam memainkan suatu peran sebagai pionir produk outdoor di awal abad-20. 

(1) https://www.salomon.com/fr-fr

(2) https://www.cairn.info/revue-entreprises-et-histoire-2014-1-p-88.htm

(3) http://www.neige-et-caillou.fr/content/8-ski-occasion-garantie-neige-caillou

(4) http://protechockey.com/wp-content/uploads/2018/05/instructor-speaking-with-young-skaters.jpg

(5) https://id.wikipedia.org/wiki/Diversifikasi_(ekonomi)

(6) https://www.newswire.ca/news-releases/roger-talermo-named-new-chairman-for-the-board-of-footbalance-system-ltd-545550112.html

(7) https://www.nouvelobs.com/economie/20080111.OBS4679/haute-savoie-fermeture-de-l-usine-de-skis-salomon.html

(8) https://www.youtube.com/watch?v=r7RepI8ef80

Vêtement trail Salomon S-Lab Modular : une idée des athlètes: https://www.youtube.com/watch?v=Nu5XgZqCGZU