Belajar Pada ‘Kepintaran’ Merpati.

Izinkanlah aku / Menyingahi hatimu / Oh… Untuk berlabuh – Bunga (Album Terbang Tinggi), Naff (1).


Yogya habis hujan sore tadi, suasana yang nyaman untuk ngobrol yang lebih intim. Secara tak sengaja, ogut kesasar ke satu situs, id(dot)quora(dot)com. Dalam situs tersebut tertulis judul:

Benarkah pernyataan bahwa semakin pintar seorang wanita, maka semakin sulit ia mencari pasangan? Bagaimana menurutmu? (2)

Ogut merasa tak hanya wanita, bahkan pria, termasuk ogut, bila masuk kategori ‘pintar’—dan ogut sebenarnya bingung, yang dimaksud pintar itu seperti apa, sebab menurut ogut ada kepintaran yang dibentuk oleh bakat alam; dan ada kepintaran yang dibentuk oleh waktu, seperti ogut yang belajar otodidak bahasa Inggris selama empat tahun, belajar bahasa Prancis selama (hampir) tiga tahun dan belajar bahasa Jerman selama enam bulan, yang sebenarnya adalah pelarian dari kegagalan cinta sekitar enam/tujuh tahun lalu—akan sulit mencari pasangan.

Dalam konteks Islam, ogut selalu meyakini  An-Nisa ayat 1, bahwa Tuhan yang baik memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak dalam artian berpasangan seperti filosofi burung merpati, makhluk manis dari Tuhan yang setia dan tak pernah memiliki dendam di hati (2), seperti yang pernah disinggung oleh Prof. Quraish Shihab dalam karyanya, Dia Dimana-Mana, bahwa ada hal-hal yang mana hewan memiliki kelebihan yang menutupi kekurangan manusia; seperti Burung dijadikan manusia sebagai pesawat; atau kuda dijadikan manusia sebagai kendaraan bermotor.

Ogut adalah pengagum Ibnu Khaldun yang mana hadir dengan tesis, jangan berikan kesimpulan, melainkan berikanlah faktanya. Silakan baca sendiri dengan kesimpulan masing-masing namun ogut tertarik dengan satu pernyataan dalam situs tersebut:

“…anda hanya perlu menemukan satu orang sebagai pasangan hidup anda.”

Bila siapa pun telah menemukannya, perjuangkan relasi merpati itu hingga ajal menjemput. Semoga yang sedang bertengkar dengan pasangannya segera berdamai. Semoga yang belum dipertemukan segera bertemu. Semoga yang sedang mesra-mesraan tambah semakin mesra.

Salam sayang dan rindu dari Yogyakarta, kota syahdu, kota yang-yangan.

(1) https://www.youtube.com/watch?v=J4H3xx5Jpck

(2) https://id.quora.com/Benarkah-pernyataan-bahwa-semakin-pintar-seorang-wanita-maka-semakin-sulit-ia-mencari-pasangan-Bagaimana-menurutmu

(3) https://www.hipwee.com/narasi/belajar-dari-burung-merpati/

Iklan

Bicara dan Dengar: Interpreter dan Radio.

[German] Wie sind die Entwicklungen des Radios für Kinder, die in den 2000er Jahren geboren wurden? Ich, der 1989 geboren wurde, hatte die Chance, den Klang von Rundfunkveranstaltern zu spüren, die den Hörern in FM-Wellen wie ein Monolog zuhören.

Wie sind die Entwicklungen des Radios für Kinder, die in den 2000er Jahren geboren wurden? Ich, der 1989 geboren wurde, hatte die Chance, zufällige Songs von einem MD, einem Musikdirektor, zu spüren, und muss eine breite Auswahl an Referenzen und Songauswahl haben, wie ein Schriftsteller bei der Auswahl der Diktion.

Das Radio hat mir im Zusammenhang mit Dolmetschern sehr geholfen, vor allem wenn es um viele Themen im Sprachunterricht ging, wie beispielsweise Gespräche im Film Before Sunrise. Nichtformale Sprache von Jugendlichen im Radio von UGM, Swaragama, um mit Jugendlichen zu kommunizieren, die weit unter meinem Alter sind. Formale Sprachen im RRI-Radio zur Kommunikation mit Kollegen, die weit über meinem Alter liegen.

Und durch Streaming, den Prozess von Audioinhalten über das Internet, empfehle ich eine Reihe von Radios, die ich oft höre:

1. Swaragama, 101,7 FM, Radio von UGM.

2. Swara Koncotani Radio, Radio zum Lernen des Javanesisch (Mitte).

3. Radio Ardia, 104.1 FM, Radio speziell für Jazzmusik.

4) Radio Republik Indonesia, 91. 1 FM, Radio für indonesische Politik und Kultur.

*

[Indonesia] Apa kabar radio bagi anak-anak yang dilahirkan pada tahun 2000-an? Aku yang lahir pada tahun 1989, sempat merasakan bagaimana nikmatnya alunan suara penyiar yang bergerak ke telinga pendengar dalam gelombang FM, seperti suatu monolog.

Apa kabar radio bagi anak-anak yang dilahirkan pada tahun 2000-an? Aku yang lahir pada tahun 1989, sempat merasakan bagaimana nikmatnya lagu-lagu yang random atau acak dari seorang MD, music Director, yang diharuskan memiliki keluasan refrensi serta pemilihan lagu, seperti seorang penulis dalam pemilihan diksi.

Radio banyak membantuku dalam konteks Interpreter, khususnya speaking dalam bicara banyak tema dalam kelas bahasa, seperti percakapan dalam film Before Sunrise. Bahasa-bahasa non-formal di radio anak-anak UGM, Swaragama, untuk berkomunikasi dengan anak-anak yang berada jauh di bawah umurku. Bahasa-bahasa formal di radio RRI, untuk berkomunikasi dengan kolega-kolega yang berada jauh di atas umurku.

Dan melalui streaming, proses suatu konten dari audio melalui internet, kurekomedasikan beberapa radio yang sering kundengar:

1. Swaragama, 101.7 FM, radio anak UGM.

2. Radio Swara Koncotani, radio untuk belajar bahasa Jawa (tengah).

3. Radio Ardia, 104.1 FM, radio khusus musik Jazz.

4) Radio Republik Indonesia, 91. 1 FM, radio untuk politik dan kebudayaan Indonesia.

L’Agenda Quatorzième Jours (Catatan Harian Ke-14); 1 Januari 2019.

The Happy Ending Is You – Paint The Sky Red.

Au début de cette année, j’ai essayé de ne pas regarder en arrière, le temps passé. Au début de cette année, je donnerai une grande partie pour écrire sur l’avenir, le temps futur.

Pour moi, l’avenir est un foyer de possibilités pour tous, pour n’importe quoi. On ne peut que devine ça, et tout le monde a toujours peur des conséquences des résultats d’un échec pour l’avenir, qui ne fait pas. Cependant, depuis mon vingt-cinq ans, j’ai appris beaucoup de choses sur l’échec dans tous les aspects. Maintenant, en 2019, au présent, la maturité de la pensée et un apprentissage assez long, j’ai beaucoup réduit ma peur de l’échec, même s’il reste encore de cette peur; comme j’ai fait depuis deux ans.

Avec Le Dieu, je n’ai besoin d’avoir peur de n’importe quoi. Pendant ce temps, j’étais trop longtemps seul en termes de relations d’amour, de relations au sexe opposé, une femme. Je pense que la solitude que j’ai vécue jusqu’à présent suffit à donner beaucoup de leçons. Maintenant, j’ai une autre perspective, c’est qu’en aimant quelqu’un, alors c’est une bénédiction qui a été donnée par Dieu le Très-Grand.

Je crois que dans les jours à venir, Je rencontrerai de bons et merveilleux événements, l’un d’eux rencontre ma futur femme, elle m’aidera du trou noir tout ce temps.

Je crois, je crois encore, je dois croire et je croirai toujours en un avenir meilleur et ferai de son mieux pour lui – ma futur femme et mon futur enfant, pour Lui, Dieu.

*

Di awal tahun ini, aku mencoba untuk tak melihat ke belakang, masa lalu, past; Di awal tahun ini, aku akan memberikan porsi besar untuk menuliskan tentang masa depan, future.

Bagiku, masa depan adalah rumah kemungkinan bagi siapa saja, bagi apa saja. Kita hanya bisa menerkanya atau menduganya, dan setiap orang selalu ketakutan pada hasil berupa kegagalan tentang masa depan, yang belum dilaksanakan. Namun, sejak umur duapuluh lima, aku telah belajar banyak hal tentang kegagalan dalam aspek apa pun. Kini, di tahun 2019, di masa sekarang, dengan bertambahnya usia, dengan semakin matangnya pemikiran, dan melalui pembelajaran yang cukup panjang, aku telah banyak mereduksi ketakutan pada kegagalan, walaupun masih ada sisa-sisa ketakutan itu; dan aku telah mantap untuk melangkah ke depan, seperti yang telah aku lakukan selama dua tahun terakhir.

Bersama Tuhan Yang Maha Agung, aku tak perlu takut pada apa pun. Selama ini, aku terlalu lama sendiri dalam arti relasi tentang cinta, relasi pada lawan jenis, seorang perempuan. Aku berpikir bahwa kesendirian yang selama ini telah aku alami cukup memberikan banyak pelajaran. Kini, aku memiliki cara pandang lain, bahwa dengan mencintai seseorang, maka hal tersebut adalah suatu berkah yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Agung.

Aku percaya bahwa di hari-hari ke depan, aku akan menemui kejadian-kejadian baik dan mengagumkan, salah satunya adalah bertemu dengan pasangan sejatiku, yang akan menolongku dari lubang kegelapan selama ini.

Aku percaya, aku masih percaya, aku harus percaya dan aku akan selalu percaya, pada masa depan yang lebih baik, dan melakukan yang terbaik untuknya—calon istri dan calon anakku, untuk-Nya.

Surat untuk gadis kecilku dan para (keturunan) petani: Suatu pertentangan ilmu pengetahuan?

À cette époque, l’économie était submergée par des mathématiques très abstraites, explique Christian Gollier, directeur adjoint de TSE. Jean s’est inscrit à contre-courant, dans des problématiques très concrètes.

[Di masa lalu, ekonomi tenggelam oleh matematika yang sangat abstrak, jelas Christian Gollier, direktur TSE. Jean—Peraih nobel ekonomi 2014—melawan arus, dalam problem-problem yang sangat konkrit] – Matthieu Ravaud, tentang gagasan Jean Tirole, Aset, Ekonomi, Perusahaan, Pajak, Sistem Prancis. (1)

Hari ini, calon bapakmu masih menikmati kota tumbuh kembangnya dan melanjutkan untuk mengunjungi satu tempat yang telah lama tak dikunjungi, Villa Bukit Tidar, daerah Genting. Daerah ini, Nak, semasa es-em-pe, masih seperti hutan, hanya suara jengkerik yang terdengar; namun, kini, suara jengkerik menghilang berganti suara deru kendaraan penduduk setempat. Calon bapakmu hanya bisa mendesahkan nafas dalam-dalam, ketika berangkat dari rumah dan telah mencapai satu perumahan lama, tempat di mana masa kecil calon bapakmu dihabiskan di tempat tersebut bersama kawan-kawan masa kecil calon bapakmu, Perumahan Joyo Grand.

Tujuan calon bapakmu ada dua: 1) Dari Perum Joyo Grand ke Villa Bukit Tidar, terdapat jalan tanjakan yang cocok untuk berolahraga, khususnya untuk mendaki gunung, dan jika kamu ingin naik Gunung Elbrus, maka kamu harus menyiapkan kondisi tubuh, dalam istilah olahraga, khususnya mendaki gunung, seperti: Itenerary, perbedaan antara Hiking- Mountainering-Treking, Bonus. Nah yang calon bapakmu lakukan adalah olahraga Treking. Semoga, nanti, calon bapakmu dan calon ibumu—yang entah di mana—bisa mendaki Elbrus bersama-sama dan menceritakan pengalaman padamu; 2) Melihat sawah dari calon kakekmu bersama sayur-mayurnya. Sekalipun calon bapakmu telah ter-brainwash oleh pendidikan Barat, khususnya Eropa, namun calon bapakmu tak akan lupa pada akarnya sebagai seorang keturunan petani. Tokoh muda Nahdlatul Ulama yang calon bapakmu kagumi, pernah menulis seperti ini dalam blognya, yang sampai detik ini masih calon bapakmu simpan baik-baik: Sejauh-jauhnya aku belajar ke luar negeri, aku toh tetap santri. (2) Pun demikian dengan calon bapakmu, Sejauh-jauhnya aku belajar ke luar negeri, aku toh tetap petani.

Selangkah demi selangkah, calon bapakmu menapaki jalan aspal dari Perum Joyo Grand ke Villa Bukit Tidar. Mata calon bapakmu menangkap banyaknya perubahan yang terjadi: Perumahan, Cafe, Masjid, et cetera. Calon bapakmu, bukan Sherlock Holmes yang ingin menyelematkan dunia dari cara kotor ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Prof. Moriarty; calon bapakmu hanya seorang keturunan petani yang diberikan kenikmatan oleh Tuhan berupa merasakan pendidikan Barat, Eropa.

Pertanian kini bukan pertanian saat Hatta menuliskan bahwa sistem Sosialisme paling ideal untuk Indonesia adalah sistem yang ada di desa: kerja sama, tolong menolong. Kini, di era calon bapakmu yang sangat modern, kata ‘kerja sama, tolong menolong’ dapat disamakan dengan kolaborasi. Dari kolaborasi itulah, calon bapakmu menggunakannya sebagai tool dalam ilmu pengetahuan. Pertanian, tak bisa hidup tanpa ilmu-ilmu yang lain. Saat memotret yang entah ke berapa kalinya, saat berhenti memandang Gunung Arjuno dari kejauhan, calon bapakmu sempat berpikir: Jika pembangunan secara masif tak diatur, tak ada lahan untuk menanam secara alami dari tanah, maka pertanian akan masuk dalam laboratorium: rekayasa cabai, rekayasa petai, rekayasa padi, rekayasa lain-lain…

Tak hanya itu,

Didikan calon kakekmu yang keras, bukan kasar, dalam artian apa yang calon bapakmu inginkan, maka calon bapakmu harus memulai, berusaha-berjuang, pelajari kegagalan, temukan solusi. Dari hal-hal seperti, memulai, berusaha-berjuang, pelajari kegagalan, temukan solusi, plus cara pandang visioner, calon bapakmu tak tertarik untuk menjadikan sawah kakekmu sebagai bangunan, meskipun background pendidikan dari calon bapakmu adalah Teknik Sipil dan Bangunan. Calon bapakmu menduga bahwa di masa depan, perang ketahanan pangan akan sangat riuh, seriuh lalu lalang kendaraan yang melintas. Calon bapakmu lebih senang melihat sawah dari kakekmu menumbuhkan sayur-mayur, dan tentu saja tanpa rekayasa ilmu pengetahuan.

Semoga tahun ini, 2019, adalah tahun di mana calon bapakmu dipertemukan dengan calon ibumu yang manis itu, Nak. Dan satu hal, jangan malu punya calon bapak seorang (keturunan) petani yang mengenyam pendidikan Barat, Eropa.

Salam sayang dan rindu. Amin.

(1) https://lejournal.cnrs.fr/articles/jean-tirole-prix-nobel-deconomie

(2) https://fayyadl.wordpress.com/2012/12/19/des-feuilles-de-paris/

Bacaan lain tentang Jean Tirole di surat kabar Le Monde:

() https://www.lemonde.fr/economie/article/2014/10/13/le-prix-nobel-d-economie-distingue-le-francais-jean-tirole_4505250_3234.html

Untuk Setiap Pelarangan Buku Kiri: Andai M. Natsir, Sahabat Aidit, Masih Hidup.

Gerakan buruh Eropa, kaum revolusioner Bolshevik, gerakan-gerakan pembebasan Dunia Ketiga – semuanya bertumpu kepada Kapital karya Marx, yang bukan saja mengkaji cara kerja kapitalisme, melainkan juga seakan-akan meramalkan kehancurannya. – Mathias Greffrath, jurnalis surat kabar Süddeutsche Zeitung. (1)

Di Kediri, toko buku (kecil) yang menjual buku berbau Marxisme-Leninisme disidak Tentara (2), yang mana tokoh Islam yang penulis kagumi, M. Natsir, dan sahabat DN. Aidit, di luar konteks ideologi, dalam M. Natsir di Panggung Sejarah Republik—dan dilupakan oleh para pemuda Islam Indonesia—pernah berkata: [TNI] menimbulkan anggaran yang besar bagi Negara.

Pertanyaannya sekarang, apakah Tentara berani menyidak buku Kiri yang berada di Institusi (Sekolah Bahasa) milik Kedutaan Besar Jerman (atau Prancis) yang mana penulis sangat nyaman untuk membaca buku-buku Kiri yang tersedia? Jika berani, maka akan masuk ke dalam konflik wilayah yang berat, hubungan diplomatik. Dan seperti kata Hatta, wakil presiden, pengaruh terbesar penulis, yang membaca Kapitalisme-Sosialisme-Komunisme:

Indonesia hanya menang di wilayah kebudayaan, sangat, sangat kaya; akan tetapi tentang ekonomi, Negara yang dicintai Bung Hatta ini, masih masuk ke dalam kategori menengah-bawah.

Oleh sebab itu, tak perlu takut pada buku Kiri khususnya Marxisme-Leninisme (Komunisme) karena telah gagal menjalankan sistem. Tambahan lagi, konsep pembangunan ekonomi 5 tahunan itu juga berasal dari Marxisme-Leninisme yang dijalankan oleh Indonesia sekarang ini (3). Marx dengan embel-embel ‘isme’, hanya secuil dari pemikiran para Ilmuwan Islam, dari Ibnu Khaldun hingga Ibnu Sina, seorang dokter, yang menggratiskan ilmunya untuk siapapun, baik kelas bawah hingga kelas atas.

Salam dari calon menantu idaman para mertua yang (kadang-kadang) salih dan pengagum Sosialisme—lawan ideologi dari Komunisme—Indonesia, Prancis dan Jerman.

(1) MEMBACA ULANG “DAS KAPITAL” – Goethe Institut https://www.goethe.de/ins/id/id/kul/mag/21144973.html

(2) https://www.merdeka.com/peristiwa/tni-ad-sita-ratusan-buku-bertema-komunis-di-pare-tulisan-soe-hok-gie-ikut-diamankan.html ; https://swararakyat.com/beredar-buku-buku-propaganda-pki-dijual-bebas-di-kediri/ ; https://nasional.tempo.co/read/1159258/list-buku-berkata-pki-yang-disita-tni-ada-buatan-nu-soekarno ; https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39208090

(3) https://id.wikipedia.org/wiki/Rencana_lima_tahun_bagi_perekonomian_nasional_Uni_Soviet

Bacaan 2019 (Buka Buku):

sebagai suatu tanda petunjuk untuk sebuah harapan / sebagai suatu pemahaman dalam jalani kehidupan / melangkah lagi dengan sempurna – Perubahan, Saint Loco.

1) PURPOSE : Living in the Process (digital startup, pendidikan) – Alamanda Shantika, ex-wapres GoJek dan founder Binar Academy.

2) Critical Eleven (Roman, travelling, perantauan, pernikahan, komunikasi) – Ika Natassa.

3) Cita Rasa Indonesia Ekspresi Kuliner (Kuliner, fotografi) – William Wongso, alumnus Institut Francais, Le Cordon Bleu Paris.

4) Borobudur (Sejarah, arsitektur, Hindu-Buddha) – Daoed Joesoef

5) [Rereading] Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam (seni, Islam, kaligrafi, arsitektur) – Ismail Raji Al-Faruqi. Kajian dari Mahrus eL-Mawa.

6) Buku Panduan Wisata di Spanyol Jilid 1! (Travelling, perantauan, pendidikan) – Perhimpunan Pelajar Indonesia Spanyol.

7) Ekonomi Kelembagaan (Ekonomi makro)- Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, pengajar Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya.

8) Authentic Personal Branding  – Hubert K. Rampersad

9) Psikologi Revolusi (sosial, kerumunan, psikologi, tokoh Prancis) – Gustave Le Bon, Bapak Psikologi Massa.

10) Ilmu pengetahuan, teknologi & pembangunan bangsa: menuju dimensi baru pembangunan Indonesia (sains, teknik, pendidikan) – Prof. BJ. Habibie.

11) Pesona: Cahaya, Kecepatan, Waktu dan Ruang Angkasa (sains, teknologi, transportasi) – Prof. BJ. Habibie.

12) [Lanjutan] Du mariage considéré comme un des beaux-arts / Pernikahan Sebagai Seni Rupa—Bagi para pengagum kesetiaan dalam ikatan perkawinan, Koleksi Institut Francais) – Duet pasangan teromantis Prancis, Julia Kristeva & Philippe Sollers.

13) [Lanjutan] Les prolégomènes / Mukadimmah – Ibn Khaldoun.

14) Das kleine Ich bin ich (Bahasa jerman, cerita anak) – Mira Lobe (penulis), Susi Weigel (ilustrator).

15) Momo (Bahasa Jerman, cerita anak, Koleksi Goethe Institut) – Michael Ende. A) Review Aan Mansyur. B) Cerita dalam bahasa Arab.

16) The Manager: Inside the Minds of Football’s Leaders (Bahasa Inggris, olahraga, kepemimpinan, top-level football management) – Mike Carson.

17) Mystere sur le Vieux-Port (plus audiobook) (Bahasa Prancis, cerita remaja, lukisan, kriminalitas. Museum, Kota Marseille, Koleksi Institut Francais) – Pascale Poli.

[Dan beberapa tambahan lain…]

Bacaan 2018:

1) Seri Strategi Arsitektur 1: Pola Struktural dan Teknik Bangunan di Indonesia (Lingkungan, Arsitektur, Teknik) – Ir. Heinze Frick. [2 minggu].

2) Seri Menata Rumah: Menata Rumah Mungil (Arsitektur, Interior) – Imelda Akmal [1 minggu].

3) 100 tahun pascapemugaran Candi Borobudur, Trilogi I, menyelamatkan kembali candi borobudur, Balai Konservasi Borobudur (Arsitektur, Hindu-Buddha, Teknik Bangunan) – Prof. Dr. Daoed Joesoef; editor, Prof. Dr. Haryani Santiko. [1 Bulan].

4) Perkembangan Pemikiran Ekonomi: Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan – Sumitro Djojohadikusumo. [2 Minggu].

5) Manajemen Dan Struktur Industri Jepang (Perusahaan, Industri, Budaya Jepang) – Naoto Sasaki. [2 minggu].

6) Said Jamaluddin Al Afghany (Tokoh pemikir Islam yang diperebutkan kaum Sunni-Syiah, Cikal Bakal Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah, Travelling Paris-London-St. Petersburg, Budaya, Politik) – Prof Buya Hamka. [2 Minggu].

7) Si Kecil Filip Pergi Sekolah (Sastra Rusia, Cerita Anak, Pendidikan, Terjemahan) – Leo Tolstoy. [1 Minggu].

8) Dari Festival Ke Festival, film-film mancanegara dalam pembicaraan – Salim Said. [1 Minggu].

9) Penerjemahan Berdasar Makna: Pedoman Untuk Pemadaman Bahasa – Mildred. L. Larson. [2 Bab, 1 minggu, tak tuntas].

10) Cemara-Cemara Kampus (Roman, Politik, Mahasiswa, Erotis, Sosial—Penulis underrate dengan teknik menulis yang mengagumkan pada zamannya, meski ia penggemar Pram, namun ia mampu lepas dari teknik menulis Pram dengan gaya menulis dari gaya Dono sendiri, Salut, Cerdas, Bung!) – Dono Warkop DKI, Pengajar Sosiologi UI. [1 Minggu].

11) Bila Satpam Bercinta (Roman, Politik, Mahasiswa, Erotis, Sosial) – Dono Warkop DKI, Pengajar Sosiologi UI. [1 Minggu].

12) Dua Batang Ilalang – (Roman, Politik, Mahasiswa, Erotis, Sosial) – Dono Warkop DKI, Pengajar Sosiologi UI. [1 Minggu].

13) Senggol Kiri Senggol Kanan – (Roman, Politik, Mahasiswa, Erotis, Sosial) – Dono Warkop DKI, Pengajar Sosiologi UI. [1 Minggu, pinjam teman].

14) Syuga Derrida (Filsafat Prancis, seni, media massa, Koleksi Institut Francais—Jika Muhammad Al-Fayyadl menulis Derrida dengan sangat rapih dan terstruktur, Pak Em adalah kebalikannya, sangat chaos, jenaka dan tak tentu arah) – Emmanuel Subangun. [2 Minggu].

15) Du mariage considéré comme un des beaux-arts / Pernikahan Sebagai Seni Rupa (Bahasa Prancis, Filsafat, Pernikahan, Seni, Romantisisme—Bagi para pengagum kesetiaan dalam ikatan perkawinan, Koleksi Institut Francais) – Duet pasangan teromantis Prancis, Julia Kristeva & Philippe Sollers. [Target 2 bab, Tuntas, 1 Bulan].

16) Les prolégomènes / Mukadimmah (Bahasa Prancis, Sosial, Masyarakat, Koleksi Institut Francais—Zuckerberg menggunakan karya Ibnu Khaldun untuk memetakan masyarakat di dunia sosial media, dan saran bagi perintis amatir platform) – Ibn Khaldoun [Target 2 Bab, Tuntas, 1 Bulan].

17) Anatomy of a Winner (Olahraga, Chelsea, Filsafat, Strategi/Taktik, Motivasi) – Jose Mourinho [3 Bab, 1 bulan, tak tuntas, pinjam teman].

18) Soviet Literature Monthly (1961) (Bahasa Inggris, Sastra, Politik) – V. Azhayev & Nina Matveyeva. [3 essai, 2 minggu, tak tuntas].

19) German and the Germany (Bahasa Inggris, Ekonomi, Perang Dunia, Gaya Hidup, Seni, Pendidikan, Penelitian) – John Ardagh [2 Bulan].

20) The Red Pony (Bahasa Inggris, Roman, Cerita Anak, Sastra Amerika, Keluarga, Psikologi, Pertanian-Peternakan, Hubungan Anak Lelaki dan Ayahnya, Koleksi Pusat Pelatihan Bahasa UGM) – John Steinbeck [1 Bulan].

Tutup Buku.

Bacaan 2017:

1) Otobiografi Mohammad Hatta (Traveling, Politik, Ekonomi, Sejarah, Pendidikan) – Mohammad Hatta. (1 Bulan).

2) Teologi Negatif Ibnu Arabi (Filafat, Agama, Sejarah, Budaya) – Muhammad Al-Fayyadl. (1 Bulan).

3) Tulehu (Roman, Olahraga, Budaya) – Zen RS. (2 Minggu)

4) Tafsir Al-Misbah (Bahasa, Agama, Filsafat) – Prof. Quraish Shihab. (Hingga Sekarang)

5) Marseille, a sweet escape (Travelling, Perantauan, Bahasa, Budaya, Pendidikan) – Perhimpunan Pelajar Indonesia, Marseille-PACA, Marseille. (2 Minggu)

6) Cinta Adalah Kesunyian – trans. dan ed. Anton Kurnia. (2 Minggu).

7) Berbicara Agar Anak Mau Mendengar & Mendengar Agar Anak Mau Bicara / How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk (Parenting, Komunikasi, Pendidikan) – Adele Faber, Elaine Mazlish (1 bulan).

8) Seri Pemikiran Kristen: Kierkegaard – Peter Vardy. (2 Minggu).

9) Feu La Cendre (Bahasa Prancis, Filsafat Bahasa) – Jacques Derrida. (3 Bulan).

10) Father Sergius (Bahasa Inggris, Novella, Agama, Filsafat, Sastra) – Leo Tolstoy. (1 Bulan).

11) Town Musicians of Bremen (Bahasa Jerman, Cerita Anak, Musik, Seni) –  Hans Wilhelm (2 Bulan).

12) J’aime Lire: Kazue et Le Musicien (Bahasa Prancis, Cerita Anak, Musik, Seni) – Patricia Berreby. (1 Bulan.)

Tutup Buku.

The Rhyme of (Saint) Loco.

– Untuk budaya-budaya di Indonesia yang tak memiliki tradisi tulis dan terabaikan.

When the language formed… – Microphone Anthem, Rock Upon A Time (2004), Saint Loco. (1)

I’m desert desperate for fall of rai(n) / I’m a wound try to heal now can you cover this pai(n) / Just like a prodigal son running back to his fathe(r) / Like child that cry for the love of a mothe(r) – Fallin, Vision For Transition (2006), Saint Loco. (2)

Di atas adalah rima dari satu band nu metal/rapcore Indonesia yang pernah penulis dengar semasa era mengenakan seragam putih-abu. Ketertarikan pada Saint Loco hadir, setelah beberapa langkah mundur telah mencicipi sound dari Linkin park dan Limp Bizkit, dari turntables/keyboard/synthesizer/samples DJ Joe Hahn dan turntables/sampling/programming DJ Lethal, dan jauh sebelum mengenal sampling-sampling dari Beastie Boys, Public Enemy, Eminem, Homicide atau Thufail Al-Ghifari. Dalam rentang album pertama dan kedua pada 2004-6, akan ada masa yang cukup jauh bila dipijak dalam masa sekarang, 2018, puluhan tahun lebih.

Rima, dalam bahasa, adalah pengulangan bunyi yang berselang, dan mampu kita perpanjang dengan form-form dari rima yang lain seperti Rima Akhir Sempurna, Rima Akhir Tak Sempurna, Rima Akhir Ganda, Rima Akhir Ganda Tak Sempurna, Rima Awal, atau bahkan yang berhubungan dengan perkawinan antara matematika dan bahasa seperti Berdasar Algoritma Metaphone dan Berdasar Algoritma Soundex.

“Rima,” tutur kawan penulis di Prancis, yang melakukan penelitian digitalisasi naskah Lontar dari kebudayaan Bali, dan meminjam ungkapan Julia Kristeva, feminis keibuan, sebagai “revolusi dalam bahasa yang sangat puitik.” Seperti yang terlantun dalam lagu Fallin:

1) Sama seperti anak yang hilang dan berlari kembali ke ayahnya. 2) Seperti anak yang menangis untuk cinta seorang ibu.

Seperti bagaimana menghancurkan perspektif pertentang klaim ‘Para Ahli’ antara siapa yang lebih hebat antara dunia lisan ataupun dunia tulisan, dan membiarkan pengulangan-pengulangan bunyi (phone) mencari bentuknya sendiri, secara wajar, alamiah.

(1) Microphone Anthem – Saint Loco https://www.youtube.com/watch?v=Z7QwrwoKWQU

(2) Fallin – Saint Loco https://www.youtube.com/watch?v=ElwZWVdZZ5o

[] Tradisi Lisan https://www.ifi-id.com/id/event/undang-undang-otonomi-daerah-dan-penulisan-sejarah-di-indonesia-bagian-timur-oleh-genevieve-duggan

L’Agenda treizième jours. 21 Novembre 2018.

I grow up then, I come back home / It’s just me representin’ my microphone / When the language formed… – Microphone Anthem, Saint Loco [1].

Ce matin, j’ai lu sur la nouvelle de divorce d’un artiste en Indonésie. L’artiste et son partenaire affichent souvent une romance en devant de la société et en reseaux sociaux. Alors, la société a été choquée par le divorce du couple d’artistes. Ce que je peux apprendre de la nouvelle du divorce concerne la peau externe et la peau interne de la société des classes supérieures. Les artistes indonésiens, qui peuvent être classés dans la classe supérieure, ont toujours une peau extérieure éblouissante, mais qu’en est-il de la peau intérieure de la société des classes supérieures? Je pense que nous pourrions creuser à travers la romance d’Anna Karenina de Leo Tolstoï.

À l’âge de 20 ans, j’ai lu cette roman qui racontais la vie des nobles dans l’environnement de Tolstoï lui-même. Avec observation incisive, Tolstoï a utilisé le roman de la noblesse en Russie pour être affiché. En outre, Tolstoï avait également présenté des formes d’amour et j’étais plus heureux de l’amour idéal du prince Levin et de la princesse Kitty, qui préfèrent rester dans le village et devenir la paysan, ils avaient quitté leur noble caste et même s’ils restaient propriétaires. Comme mon traducteur préféré l’a écrit un jour, le frère de Pramoedya Ananta Toer, à savoir Koesalah S. Toer, c’est que le prince Levin est l’alter ego de Tolstoï lui-même. Avec ses compétences linguistiques, Tolstoï se mêle également à diverses cultures telles que la culture russe, la culture britannique, la culture française et la culture allemande.

Du divorce d’un artiste reconnu en Indonésie à l’affaire d’Anna Karenina, prince Vronsky et Prince Karenin, le mari d’Anna; et je pense qu’il a eu des relations qui ont eu lieu pendant la Première Guerre mondiale et qui ont été écrites par l’ambassadeur de France en Indonésie et l’ambassadeur d’Allemagne en Indonésie avec le titre «Honorer les morts, apprendre du passé et se réconcilier pour l’avenir (Honoring the dead, learning from the past and reconciling for the future)» dans le journal de The Jakarta Post [2]. Je souligne cette phrase:

Reconciliation is the precondition for stable relationships between nations; it is the only way to end the vicious circle of hate and revenge, resentment and extremism. Reconciliation is also crucial inside our societies, lest they breed aggressive ideologies. We should be aware of today’s dangers, like populism and nationalism, which are growing in many parts of the world.

Et,

An ancient and rather infamous proverb says “si vis pacem para bellum”–if you want peace, prepare for war. One hundred years after the end of World War I, we all should have learned our lesson, and know how deadly this notion can be.

Des deux phrases ci-dessus, J’ai essayé de prendre une position neutre dans laquelle je comprenais bien pour former des guerres dans le monde à partir du passé, J’ai dû être capable de comprendre la guerre en moi.

*

Pagi tadi, aku telah membaca tentang kabar perceraian dari seorang artis papan atas di Indonesia. Artis itu dan pasangannya sering menampilkan romantika di depan khalayak dan media sosial. Lalu, mereka digemparkan oleh perceraian dari pasangan artis itu. Apa yang bisa aku pelajari adalah tentang kulit luar dan kulit dalam dalam masyarakat kelas atas. Para artis Indonesia, yang bisa dikategorikan sebagai masyarakat kelas atas, selalu memiliki kulit luar yang mempesonakan, akan tetapi bagaimana dengan kulit dalam dari masyarakat kelas atas itu? Aku mengira bahwa kita bisa menggalinya melalui roman Anna Karenina dari Leo Tolstoy.

Pada umur 20 tahun, aku telah membaca roman itu, suatu roman yang menceritakan tentang bagaimana kehidupan bangsawan di lingkungan dari Tolstoy sendiri. Dengan observasi yang tajam, Tolstoy menggunakan roman kehidupan bangsawan di Rusia untuk ditampilkan. Selain itu, Tolstoy juga menghadirkan bentuk-bentuk cinta dan aku lebih senang dengan cinta ideal dari Pangeran Levin dan Puteri Kitty, yang memilih untuk tinggal di desa dan menjadi petani, meninggalkan kasta bangsawannya dan meskipun tetap sebagai tuan tanah. Seperti yang penah ditulis oleh penerjemah favoritku, adik dari Pramoedya Ananta Toer, yaitu Koesalah S. Toer, bahwa Pangeran Levin adalah alter ego dari Tolstoy itu sendiri. Bersama kemampuan bahasanya, Tolstoy juga meramu dengan berbagai kebudayaan seperti kebudayaan Rusia, kebudayaan Inggris, kebudayaan Prancis dan kebudayaan Jerman.

Dari perceraian seorang artis papan atas di Indonesia ke kasus relasi Anna Karenina, Pangeran Vronsky dan Pangeran Karenin, suami Anna; dan aku berpikir bahwa, itu memiliki suatu persamaan dengan relasi yang terjadi pada Perang Dunia I yang ditulis oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia dan Duta Besar Jerman untuk Indonesia yang berjudul ‘Honoring the dead, learning from the past and reconciling for the future’ di koran The Jakarta Post. Aku menggaris-bawahi frasa ini:

Reconciliation is the precondition for stable relationships between nations; it is the only way to end the vicious circle of hate and revenge, resentment and extremism. Reconciliation is also crucial inside our societies, lest they breed aggressive ideologies. We should be aware of today’s dangers, like populism and nationalism, which are growing in many parts of the world.

Dan,

An ancient and rather infamous proverb says “si vis pacem para bellum”–if you want peace, prepare for war. One hundred years after the end of World War I, we all should have learned our lesson, and know how deadly this notion can be.

Dari dua petikan di atas, aku mencoba untuk mengambil posisi netral yang mana aku berada dalam pemahaman untuk merumuskan perang-perang di dunia dari masa lalu, aku harus bisa memahami perang di dalam diriku sendiri.

[1] https://www.youtube.com/watch?v=jj4nT-MxcF4

[2] https://www.thejakartapost.com/academia/2018/11/12/honoring-the-dead-learning-from-the-past-and-reconciling-for-the-future.html