Antalogi Cerpen Keluarga: Daras Kecil

1) https://paroleparolesite.wordpress.com/2015/11/22/selamat-ulang-tahun-bu/

2) https://paroleparolesite.wordpress.com/2015/11/10/i-gave-you-all/

3) https://paroleparolesite.wordpress.com/2015/11/04/life-is-about-love-daras/

4) https://paroleparolesite.wordpress.com/2015/10/29/daras-dan-perspektifme/

5 ) https://paroleparolesite.wordpress.com/2015/10/29/daras-dan-ikan-lemon/

6) https://paroleparolesite.wordpress.com/2015/10/29/daras-dan-om-badut/

7) https://paroleparolesite.wordpress.com/2015/12/24/kuberikan-malam-playdough-kau-cipta-boneka-salju/

8) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/03/05/happy-weekend-daras/

9) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/04/10/daras-dan-bebek-kakek-andersen/

10) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/06/16/sauve-la-vie-moi-ma-chere/

11) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/06/04/daras-gazebo-saung-dan-the-smashing-pumpkins/

12) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/05/05/daras-dan-impian/

13) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/09/09/daras-hutan-pinus-dan-seorang-pria-yang-bertanya-tentang-bahagia/

14) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/09/04/sabtu-ceria-daras-dan-pameran-tunggal-lukisan/

15) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/08/23/paper-doll-tanda-maaf-untuk-gadis-kecilku/

16) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/12/17/daras-pendidikan-kamus-dan-rumah-bahasa/

17) https://paroleparolesite.wordpress.com/2016/12/11/senja-dan-matahari-dalam-potrait-camera/

18) https://paroleparolesite.wordpress.com/2017/08/12/daras-kecil-dan-malam-minggu/

19) https://paroleparolesite.wordpress.com/2017/08/05/daras-kecil-festival-kesenian-dan-ekonomi-kecil/

20) https://paroleparolesite.wordpress.com/2017/11/05/daras-dan-hujan/

21) https://paroleparolesite.wordpress.com/2017/07/18/daras-kecil-dan-belajar-mengayuh-sepeda-roda-dua/

22) https://paroleparolesite.wordpress.com/2017/07/22/daras-kecil-dan-gamelan/

23) https://paroleparolesite.wordpress.com/2017/07/30/daras-kecil-dan-kuliner/


Iklan

Linguistik (Pikiran) v Sastra (Perasaan).

Pada menit ke 3:00 di track 7:25, score film dokumenter ‘Zidane, un portrait du 21e siècle’, (1) dari band Mogwai, aku melepaskan headphone Sonyku, setelah berjalan dari halte X. Aku berada di pinggir jalan di daerah kota tua, tempat di mana aku akan bertemu dengan dua kawan perempuanku selama menempuh pendidikan di kota kecil, Nantes, yang dipimpin oleh seorang perempuan dari Partai Sosialis Prancis, Johana Rolland. Kedua perempuan, generasi muda Indonesia, bertemu kembali di satu kedai kopi, di daerah kota tua. Si Sastra, 29 tahun, berambut pendek, style sporty, lulusan dari Akademi Prancis; sementara Si Linguistik, 29 tahun, berambut panjang, style elegan, lulusan dari Institut Prancis. Dan, selama menanti tanda warna merah pada traffic light, aku mencoba mengingat kejadian:

Perdebatan pertama mereka terjadi di koran Le Lyon, mana kala mereka mendebatkan, mana yang lebih penting, pikiran atau perasaan? Si Linguistik membantah dengan mengajukan tesis dari pemikir perempuan Prancis, Julia Kristeva, feminis keibuan, tentang bagaimana pikiran mengontrol perasaan melalui lompatan-lompatan intertekstualitas sehingga menjadikan suatu karya begitu obyektif. Segera, Si Sastra, mengajukan anti-tesis bahwa linguistik terlalu kering apabila tak menyertakan perasaan dalam suatu karya. Sebab, membaca Coelho hanya bisa dirasakan, dihayati, bayangkan bagaimana jika kau bercinta dengan orang yang kau kasihi dan menyuruh, harus begini, harus begitu? Cukup pejamkan mata dan rasakan.

Perdebatan mereka tak hanya dalam area (tu)lisan, melainkan juga dalam area lisan. Dalam Radio France, mereka berdebat tentang aksen Prancis Utara dan Prancis Selatan yang berelasi dengan tingkat pendidikan serta kemiskinan. Si Linguistik, mengatakan bahwa gaya bicara seseorang dilihat dari pendidikan, dan pendidikan mampu mengangkat seseorang dari lubang kemiskinan, dan tak akan lagi ada intonasi-intonasi kasar. Sementara, Si Sastra, melawan dengan justru intonasi kasar diperlukan di wilayah urban yang berpendidikan rendah, agar orang-orang berpunya dari pendidikan tinggi sadar untuk membantu mereka.

Lampu merah berganti dengan lampu hijau, tanda para pejalan kaki bergerak dan kendaraan-kendaraan berhenti. Aku melintasi jalan dan menuju kedai itu. Setelah tiga tahun tak jumpa mereka, kedua perempuan itu, generasi muda Indonesia, bertemu kembali setelah pulang dari negeri anggur. Kedua mataku melihat mereka tertawa bersama dan sedang mengobrolkan sesuatu.

(1) https://en.wikipedia.org/wiki/Zidane:_A_21st_Century_Portrait_(soundtrack) / https://www.youtube.com/watch?v=IJNPDlzF4Wg

(2) Image https://savadaller.wordpress.com/category/bahasa-perancis/page/3/

(3) Image Google Books Cara Mudah Belajar Bahasa Prancis Oleh Ridwansyah

Klub Pandhita Jalanan (1).

Etre-et-avoir

– Cerita pendek dipersembahkan untuk pemikir kecil. Terinspirasi dari film pengajaran pedagogi, To Be and To Have (Être et Avoir). (2)

Persona dan Pesona:

MLG, perempuan 25 tahun, Chef Masakan Tradisional dan Novelis.

JKT, lelaki 34 tahun, Ekonom Muda, Analis Politik dan Filsuf.

BDG, perempuan 29 tahun, Arsitek dan Musisi.

YGY, lelaki 29 tahun, Pemerhati Budaya, Petani Muda dan Wirausahawan.

SBY, lelaki 30 tahun, Ilmuwan dan Olahragawan.

Di dua gazebo yang digabungkan terdapat satu perpustakaan mungil yang menyimpan koleksi beragam tema, rak kaset, CD dan DVD, tepatnya berada di halaman depan, di rumah yang besar dan nyaman dari BDG, perempuan 29 tahun, seorang arsitek kotemporer dan musisi, anak dari salah satu guru besar di satu universitas di Kota Kembang Bandung. Di rumah bergaya kolonial itulah, tahun kelima dari lingkaran kecilnya diadakan bersama keempat kawannya: MLG, perempuan 25 tahun, chef masakan tradisional dan novelis, dari Kota Bunga Malang; JKT, lelaki 34 tahun, ekonom muda, analis politik dan filsuf, dari ibukota; YGY, lelaki 29 tahun, pemerhati budaya, petani muda dan wirausahawan, dari Yogyakarta; dan SBY, lelaki 30 tahun, ilmuwan dan olahragawan dari kota pahlawan Surabaya.

Di tahun pertama, tepatnya di Ibukota, JKT mengumpulkan kawan-kawan seperjuangannya di satu Institut Bahasa. Tak jauh dari Pasar Santa Jakarta, terdapat satu tempat kopi. “Inilah saat kita membentuk sesuatu sesuai dengan kemampuan kita masing-masing setelah kita mendalami bidang kita masing-masing di Luar Negeri,” buka JKT dalam lingkaran kecil itu, penggemar kitab Al-Hikam dan Ibnu ‘Atha’illah. (3) Berbagai perdebatan dalam konsep, struktur organisasi dan cara pelaksanaan program yang berlangsung sengit. Dari empat angka dalam vote, JKT terpilih menjadi ketua yang demokratis. Dan JKT bertanya pada MLG:

“Sebagai novelis dan seorang chef, apa yang bisa kamu munculkan?”

“Aku ingin mengangkat makanan-makanan yang berada di daerah terpencil seperti gula merah di daerah pangandaran beserta jejak historisnya (4),” tegas MLG.

“Baiklah, aku catat. Lalu YGY, sebagai pemerhati budaya, petani muda dan wirausahawan, adakah yang kau munculkan atau malah ingin menanggapi ide dari MLG?”

“Oke,” jawab YGY dengan membenarkan lengan flanel-nya, dan melanjutkan, “Untuk ide dari MLG, kita bisa menggunakan platform atau start-up untuk mengangkat brand gula merah. Sementara, di Yogya, aku ingin membentuk ekonomi desa seperti para petani di Denmark atau Belanda (5).”

“Apakah ada kesamaan antara petani Indonesia dengan para petani di Denmark atau Belanda?” tanya SBY pada YGY.

Terdengar lagu W.T.P dari Eminem: Now, get up, dance! But everyone knows that no one likes to be alone / So get on the floor and grab somebody!

“Secara pragmatis, hanya berbeda material antara gandum dan padi. Akan tetapi aku hanya menitik beratkan pada sistem yang kupelajari di Belanda tentang fokus di desa induk, interaksi intragroup, terstruktur bersama pemerintahan komunal yang kuat, gereja aktif, endogami, dan kerjasama ekonomi tingkat tinggi. Bagaimana?” tanya YGY sambil menoleh ke perempuan idamannya, BDG, perempuan 29 tahun, arsitek dan musisi.

Silangan kaki berpindah dari kanan ke kiri, dan BDG dengan balutan long john dan anakara dobby blubirin shawl (6), membalas, “Kita bisa memakai konsep Desa Masa Depan untuk wisata edukasi dengan menggabungkan idea MLG dan YGY (7).”

“Oke, dari MLG, ke YGY, lalu ke BDG. Bagaimana denganmu SBY?”

Lagu Resist dari Motek di album Port Sunshine memenuhi ruangan itu. (8)

“Oke, untuk membentuk itu semua, aku akan gunakan jaringan akar rambat dalam teknologi. Namun kita semua tahu, tanpa dana, program tak akan berjalan, kan?”

JKT kemudian bicara, “Baiklah, aku akan mencari sponsor dan kuambil dari sebagian keuangan perusahaanku. Tapi kita tahu, dalam analisaku, empat tahun awal langkah kita tak akan mulus. Dan perlu ada koreksi dan evaluasi sistem. Dan kira-kira, apa nama yang tepat untuk lingkaran kecil kita ini?”

“Karena selama menempuh pendidikan di Luar, kita semua adalah Homeless, bagaimana dengan ‘Pandhita Jalanan’,’ sela MLG, perempuan berambut pendek itu. Empat angka dalam vote pemilihan nama itu.

*

Tahun kedua di gelar di tempat MLG dengan permasalahan pendanaan. Tahun ketiga di gelar di tempat SBY dengan permasalahan pemantapan program. Tahun keempat di gelar di tempat YGY dengan permasalahan pelaksanaan beserta penerimaan anggota muda. Dan kini, tahun kelima setelah mampu berdiri dengan kaki mereka sendiri, dan bersiap untuk membesarkan ‘Klub Pandhita Jalanan’ serta menjadi jembatan dengan menggandeng para generasi tua bersama pengalaman mereka, yang diadakan di dua gazebo yang digabungkan terdapat satu perpustakaan mungil yang menyimpan koleksi data beragam tema, rak kaset, CD dan DVD, tepatnya berada di halaman depan, di rumah yang besar dan nyaman dari BDG, perempuan 29 tahun, seorang arsitek kotemporer dan musisi, anak dari salah satu guru besar di satu universitas di Kota Kembang Bandung, di rumah bergaya kolonial itu.

(1) The five sciences are: science of language (śabdavidyā), science of logic (hetuvidyā), science of medicine (cikitsāvidyā), science of fine arts and crafts (śilakarmasthānavidyā), and science of spirituality (adhyātmavidyā) https://en.wikipedia.org/wiki/Pandita_(Buddhism)

(2) Movies that Will Inspire You: Learning to See the Child Who is Not Yet There Film 2 – To Be and To Havehttp://ageofmontessori.org/to-be-and-to-have/ | https://www.youtube.com/watch?v=4_pHFtObb4A

(3) https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Atha’illah_as-Sakandari

(4) http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/02/26/gula-semut-dari-pangandaran-menembus-eropa-394596

(5) In phase one of this social history, Dutch intragroup interaction was intense and well-structured, characterized by a strong communalistic government, an active church, endogamy, and a high degree of economic cooperation. The social life of the Dutch of the whole area focused upon the mother village. https://anthrosource.onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1525/aa.1958.60.4.02a00060

(6) https://www.fajarindonesia.my.id/rendahnya-harga-anakara-dobby-vinola-shawl-di-dalam-negeri/

(7) https://www.dw.com/id/konsep-desa-masa-depan/g-36246609

(8) https://www.discogs.com/artist/917173-Motek-2

Das Wunder der Umarmung (Keajaiban Pelukan)

20181103_102613

– Suatu cerita pendek—salah satu perangkat bahan ajar—untuk Mohammad Natsir, penyuka komponis musik klasik Jerman, Ludwig van Beethoven, dengan budaya makan di meja makan bersama anak-anaknya.

Pagi hari di akhir pekan ini, cerah sekali: langit biru terbentang luas, belasan keluarga kecil burung-burung melompat dan mengepakkan sayapnya dari satu pohon ke pohon yang lain, dan kulihat puluhan anak muda bergerak dengan sepatu lari di universitas tertua ini, termasuk dirinya, sahabat yang selalu menemaniku, yang menggantikan posisi keluarga ketika jauh, si X.

X, 28 tahun, adalah pengajar muda yang fokus pada ilmu Psikologi Parenting dan ia adalah pengagum dari Psikolog Jerman-Amerika, Erik Erikson. Dari kejauhan, dari bangku taman ini, aku melihatnya berlari dengan mengenakan sepatu lari Adidas-nya dan mengenakan sweater bertuliskan ‘Munich School of Philosophy’, almamater dari Romo Sindhunata, penulis Indonesia, kelahiran Kota Batu, Malang Raya itu. Aku masih ingat bagaimana ia berkata girang sekali mana kala bertemu dengan penulis favoritnya itu dan ia selalu menyimpan semangat yang tak pernah kumiliki lagi. Ia benar anak muda yang luar biasa.

Dari kejauhan itu pula, ia melambaikan tangan kepadaku dan aku membalasnya. Ia menunjukkan tanda tiga jarinya yang berarti tiga putaran lagi, aku mengangguk dan membalas dengan ibu jari, dan ia menghilang dari pandanganku.

Meskipun aku, 30 tahun, seorang dekorator (1), lebih tua darinya namun aku tak malu untuk belajar kepadanya yang lebih muda itu. Pada suatu momen, ketika keluar dari perpustakaan universitas ini, ia mengajakku untuk pergi ke ankringan terdekat. Sesampainya di angkringan, setelah pesanan datang, aku membuka percakapan tentang relasi arsitektur dan psikologi: warna, gambar, ruang, suhu, yang memiliki dampak emosi dan ekspresi. Seperti cahaya yang menyebar luas, obrolan ke mana-mana hingga sampai pada titik di mana aku sadar bahwa akan mengalami masa itu, menjadi seorang ayah.

Nanti, katanya saat itu, dan melanjutkan, mas akan mengalami sendiri bagaimana pelukan menjadi semacam arsenal dari rasa takut, gelisah atau hal-hal yang dikhawatirkan.

Sedahsyat itukah pelukan? Tanyaku.

Dengan menggerakkan gestur tangannya ia menceritakan pengalamannya: Aku hanya bisa memberikan gambaran, Mas. Namun pengalaman terbaik adalah bagaimana suatu subyek merasakan kejadian secara langsung, terlepas dari beruntung dan tak-beruntung, atau baik dan buruk. Ketika di Munich dulu, di satu tempat kopi, aku melihat seorang gadis kecil disamping ibunya yang menangis dan kemudian memeluknya, seperti suatu keajaiban tiba-tiba aku melihat kedamaian yang dipancarkan oleh tubuh besar dan tubuh kecil itu. (2)

Aku mengamati mimik wajahnya yang penuh semangat saat itu.

*

Ia kembali muncul dari satu putarannya dengan nafas yang terengah-engah dan berteriak: Maaas! Satu putaran lagi.

Santai, aku sedang tak terburu-buru. Lanjutkan!

Ia pun menghilang dari pandanganku bersama anak-anak muda di universitas ini yang terus bergerak, bergerak dan bergerak. Di balik pagar universitas ini, kulihat kendaraan juga bergerak. Di antara awan, kulihat pesawat juga bergerak. Sementara aku hanya duduk terdiam.

Ah, tidak, aku tidak duduk terdiam, aku masih bergerak meski dengan berpikir, kataku dalam hati.

Aku merasakan sengatan matahari pagi yang membenturkan kulitku dan masuk ke dalam pori-pori kulit dan terasa hangat (3). Aku melihat buku Erik-Erikson miliknya yang telah kupinjam; sembari memutar lagu Shine dari Slowdive dan aku membaca satu cerita kecil yang ditulisnya dibalik cover buku Erik Erikson, penulis Frankfurt, tentang hadiah dari Rasulullah Saw pada anak-anak kecil, berupa ciuman dan pelukan. (4)

*

Di bangku taman ini, sambil menantinya selesai berlari, aku menghirup udara dan menghembuskannya kembali, dan pagi hari di akhir pekan ini, cerah sekali.

(1) https://interiordesign.id/desainer-vs-dekorator-perbedaan-antara-kedua-istilah-dalam-dunia-desain-interior-yang-mesti-anda-ketahui/

(2) a) http://www.bernas.id/amp/54680-satu-pelukan-sejuta-manfaat-bagi-tumbuh-kembang-anak.html; b) https://bidanku.com/manfaat-pelukan-orangtua-bagi-perkembangan-psikologis-anak; c) https://psyline.id/rahasia-keajaiban-pelukan-orangtua-bagi-anak/; d) https://lifestyle.kompas.com/read/2015/05/15/161808223/Pelukan.Ayah.Buat.Anak.Lebih.Mandiri; e) http://www.parenting.co.id/balita/keajaiban+pelukan; f) https://www.brilio.net/orangtua/12-komik-strip-pengorbanan-ayah-ke-anaknya-jadi-kangen-pelukan-bapak-1708291.html; g) https://id.theasianparent.com/bahasa-cinta-untuk-anak/.

(3) a) https://lifestyle.kompas.com/read/2011/08/22/15325859/11.Keistimewaan.Berjemur.Pagi.Hari.; b) https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/sinar-matahari-pagi-turun-berat-badan/.

4) http://sahabatkecilpreschool.com/pelukan-untuk-anak-sunah-rasulullah-yang-berkhasiat-luar-biasa/

Yang diberikannya, Yang diberikan-Nya.

 

 

– Untuk dunia pendidikan, dunia anak-anak dan kisah cinta Ki dan Nyi Hajar Dewantara. “Tinah! jangan berkecil hati! Kau harus bangga bahwa satu di antara pahlawan-pahlawan kita itu adalah manusia pujaanmu.” (1)

*

Ia kemudian memajukan badannya, dan bibirnya menyentuh pipiku. Aku bersyukur dengan menikmati kasih sayang yang diberikannya, yang diberikan-Nya. Tak pernah terbayangkan dalam hidupku bahwa aku akan jatuh hati pada lelaki ini. Ya lelaki yang sangat luar biasa dalam memberikan warna pada hidupku, meskipun harus kuakui bahwa ia tak terlalu tampan. Aku memutar ingatan jauh ke belakang dengan lambat:

*

Aku sudah terlalu lelah untuk menjalin hubungan dengan tiga lelaki dalam hidupku sebelumnya. Pada masa aku menjalani momen tujuh-belas tahunku, aku bertemu dan menjalin kasih dengan Andra; pada masa kuliah aku bertemu dan kukira bahwa Randra adalah lelaki terakhirku, namun ternyata kehidupan tak begitu mudah untuk dilalui, hubungan kami berakhir ketika Randra kedapatan selingkuh; lalu aku terjebak cinta lokasi dengan rekan satu kantorku, Randi, namun juga hanya sebatas pelampiasan cintaku. Aku pun memutuskan untuk sendiri selama tiga tahun, menikmati kesendirian dan terus berdoa kepada bentangan langit luas.

Sepulang kerja, aku telah jenuh menanti busway yang tak kunjung datang dan aku ingin menelpon Rinda, kawan baikku, akan tetapi ketika aku akan menelponnya bahwa busway telah datang. Aku masuk dan memilih tempat duduk di kursi paling belakang. Aku mencoba memejamkan mata untuk mengistirahkan tubuhku sejenak, namun tak bisa sebab sayup-sayup terdengar suara adzan yang terdengar indah. Kulihat seorang lelaki duduk di kursi keempat dari sisi kananku, ia asyik membaca buku dan mendengarkan musik. Dan aku memandang ke jendela, melihat riuhnya kota yang kutinggali.

Tiga hari kemudian, saat pulang kerja, aku duduk di kursi kedua di sisi kiri busway, tak jauh dari pintu masuk. Aku melihat lelaki itu lagi. Ia masih tetap duduk di kursi keempat di sisi kanan busway. Aneh, sungguh aneh. Padahal, busway selalu padat dengan orang-orang tapi kenapa ia selalu tepat duduk di kursi itu. Ah, apa peduliku. Aku mencoba memejamkan mata sejenak untuk rehat sejenak.

Pada akhir pekan, aku akan pergi berjalan-jalan untuk mencari beberapa souvenir untuk keluargaku di kota asalku. Aku pergi ke halte G. Di dalam busway kulihat lelaki sore itu dan tetap duduk di kursi keempat di sisi kanan busway. Aku semakin penasaran dengannya dan mencoba untuk melirik buku apa yang ia baca. Astaga! Aku terkejut bukan main. Buku parenting? Tanyaku dalam hati. Apakah ia telah menikah atau akan menikah. Busway telah sampai ke Halte Y.

Di hari senin, hari yang paling malas, gerimis turun sejak siang. Aku adalah pluviophile, penyuka air tumpah dari langit yang membentur tanah dan menciptakan bau kesegaran. Bagiku, semua perempuan akan punya selera sepertiku. Busway datang, aku masuk dan sial, begitu padat. Aku harus berdiri berdesakan dengan orang-orang yang pulang kerja dan rata-rata lelaki. Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Aku tak berharap banyak untuk diberi tempat duduk sebab aku perempuan yang masih memiliki tenaga meskipun pekerjaan kantorku menguras tenagaku. Tangan kananku memegang pegangan atas busway dan kubiarkan tangan kiriku terkulai ke bawah. Satu sentuhan mengagetkanku. Ia tersenyum, lelaki sore itu, yang duduk di kursi keempat di sisi kanan busway. Terima kasih, tapi aku masih kuat berdiri, tolakku. Ia masih tersenyum dan berdiri. Duduklah, santai saja, suaranya lembut. Aku mengangguk, duduk di tempatnya, dan sedikit mencuri perhatiannya. Kemudian satu awak busway mengirimkan tanda bahwa telah sampai di Halte D. Busway mengerem mendadak dan orang-orang yang berdiri terdorong. Lelaki sore itu pergi ke luar, namun ada yang tertinggal: Bukunya! Aku mengambilnya dan kemudian membaca judul buku itu: Metode Montessori Untuk Anak-Anak.

Setelah sampai kos dan membersihkan diri, aku mulai tertarik dengan buku lelaki sore itu. Aku mulai membuka halaman setelah sampul dan terdapat satu kutipan: Dengan ilmu kita menuju kemuliaan […] Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu – Ki Hajar Dewantara. Di dalam kepalaku, kemudian, dipenuhi bepuluh-puluh pertanyaan yang tak bisa dijawab, salah satunya adalah, mengapa ia lekat sekali dengan dunia anak-anak, apakah ia telah menikah atau belum? Tanyaku berulang-ulang, namun beberapa detik kemudian kusingkirkan pikiran itu dan melihat ada coretan tanda dan beberapa catatan yang ia tulis di atas nomor halaman buku, di bagian tengah. Sebagai seorang lelaki, tulisan tangannya begitu rapi. Aku menduga bahwa ia adalah orang yang hidup dengan kedisiplinan yang ketat.

Empat hari sudah aku tak bertemu dengannya di busway. Kemana ia? Apakah ketidak-hadirannya gara-gara buku yang terjatuh itu? Apakah ia tak tahu bahwa bukunya selama ini selalu aku bawa? Lelaki sore kemanakah dirimu. Sehari kemudian, pada malam hari, aku pergi ke toko buku favoritku dan kulihat ada satu acara bedah buku. Rasa penasaranku memuncak dan melihat dari kejauhan siapakah pematerinya. Dan…tak mungkin! Ia…ia…adalah seorang penulis? Tanyaku dalam hati.

Saya pernah mengajar satu kelas dengan berisi lima orang anak dan anda sekalian tahu, saya gagal mengajar mereka, sebab saya memposisikan saya sebagai orang dewasa, bukan sebagai seorang dewasa yang mencoba masuk ke dalam alam manusia kecil yang begitu luas dengan imajinasi, tuturnya, dan aku tersenyum. Pada saat sesi tanya jawab, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Aku mengangkat tangan. Moderator, lelaki sore itu dan seluruh hadirin yang ada melihatku.

Saya ingin bertanya pada anda, wahai bapak penulis yang memberikan kursi di busway, kataku, dan melanjutkan, anda tadi menyebutkan nama tokoh yaitu Ki Hadjar Dewantara; dan di buku yang pernah saya temukan beliau memiliki petikan: Dengan ilmu kita menuju kemuliaan […] Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. Menurut anda apakah artinya? Setelah itu, ia tertawa kecil dengan menggelengkan kepalanya.

*

Setelah dari acara tersebut, hubunganku bersama lelaki sore yang duduk di kursi keempat di sisi kanan busway semakin akrab, bertambah akrab hingga sesuatu yang benar-benar mengejutkan datang. Perjuanganku tentang kesendirian selama tiga tahun dalam doa malam yang selalu kupanjatkan dalam tangis ketika semua manusia tertidur terjawab sudah. Hal yang paling kusenangi bersamanya adalah berdebat tentang ide-ide apapun, melihat videonya mengajar bahasa asing pada anak-anak dan menemaninya mengetik tulisannya yang telah menjadi pekerjaannya.

Pada satu hari di kafe favoritnya. Terdengar suara enerjik penyanyi Jerman, Lena Meyer-Landrut, dalam lagu Wild & Free: Let’s go oh oh, ooh oh / Go oh, ooh oh / We are more than powerful / It’s all possible (2).

Kenapa kamu suka Jerman?

Senyuman manisnya membuatku adalah perempuan paling bahagia di dunia, ia menghentikan ketikannya, memandang mataku, dan ia berucap:

Jerman, katanya, pernah mengalami masa-masa depresi ekonomi sebelum menjadi negara hebat seperti sekarang. Ada yang ingin ditanyakan lagi, Frau?

Lagu Lena Meyer-Landrut berganti duo pop Jerman, Rosenstolz, dengan lagu Ich Bin Ich (Wir Sind Wir): Ich bin Ich! / Das allein ist meine Schuld! (3)

Hmm, kira-kira inti dari lagu Jerman ini apa ya? Tanyaku padanya, yang juga seorang poliglot dengan empat bahasa yaitu Jerman, Spanyol, Inggris dan Mandarin.

Ia memegang tanganku dengan lembut. Dan menjawab: Aku adalah aku! Bahwa kesendirian ini adalah kesalahanku. Jadi, lagu ini tentang suatu refleksi seseorang tentang masa-masa bersama orang yang ia sayangi dan tak ingin menyakitinya lagi.

Oh gitu ya.

Lagu berganti dengan 80 Milionen dari Max Giesinger: Kau berkata Hai! dan aku kehilangan kata / segalanya menjadi berbeda dalam sejenak. (4)

Sekarang gantian aku yang bertanya? Tanyanya.

Boleh, tantangku.

Baiklah, katanya sambil mengubah posisi duduknya dan kini menghadap sejajar denganku, dan matanya menatap mataku, dan melanjutkan: Kau lebih suka anak lelaki atau anak perempuan?

Aku gugup. Aku terdiam. Aku kebingungan. Aku memejamkan mata, berpikir dan berasa. Aku membuka mata, dan tersenyum dengan memegang pipinya dengan lembut. Anak lelaki untuk seorang ibu dan anak perempuan untuk seorang ayah, jawabku.

Ia kemudian memajukan badannya, dan bibirnya menyentuh pipiku. Aku bersyukur dengan menikmati kasih sayang yang diberikannya, yang diberikan-Nya.

(1) https://historia.id/modern/articles/kisah-cinta-ki-dan-nyi-hajar-dewantara-PyJAN

(2) https://www.youtube.com/watch?v=34iFrlWVP7E

(3) https://www.youtube.com/watch?v=4M3YiNPirnA

(4) https://www.youtube.com/watch?v=uC08L4xxjNM

Rasya dan Jopi: Pernikahan dan Pertunangan.

a20181006_212202

Latihan: Prancis: Proposition Subordonée (Indonesia: Anak kalimat; Inggris: Subordinate Clause)

Sejak awal masa kuliah hingga lulus dan dua tahun bekerja, Jopi, lelaki 24 tahun, dan Roro, perempuan 24 tahun, menjalin cinta mereka. Di umur yang masih sangat muda, dalam benak Jopi, ia ingin melanjutkan studi dengan dorongan ayahnya, seorang pengajar Teknik, di satu Universitas Negeri. Nahas, hubungan mereka berakhir ketika Roro, berhasrat untuk menikah yang tak terbendung lagi. Di suatu kafe, dua anak manusia itu bertemu dan memperbincangkan masa depan mereka.

“Sekali lagi aku katakan, Pi,” Roro meninggi suara dan menahan sekuat tenaga agar air matanya tak tumpah, dan melanjutkan, “Kamu tak pernah serius dengan hubungan kita. Kamu egois!”

Jopi dengan memendam amarahnya kemudian membalas, “Tapi ayahku menginginkan bahwa aku harus melanjutkan pendidikanku!”

“Oh, begitu? Baiklah, keputusan sudah aku ambil. Aku nggak bisa nerusin hubungan kita selama enam tahun ini,” tambah Roro.

“Roro! Tolong, pikirkan sekali lagi! Aku berada di pilihan sulit. Tolong pahami aku.”

“Pahami aku? Apakah akhir-akhir ini kamu pernah memahami aku, Pi? Mana komitmenmu dulu? Udahlah, aku mau hubungan kita sampai di sini.”

“Tapi aku ke luar negeri hanya dua tahun, Ro.”

“Dua tahun ‘hanya’? Kamu tahu, satu detik, dua menit, tiga jam, empat bulan, bahkan lima tahun pun, segala yang tak-mungkin itu bisa mungkin. Bisa saja, kamu di luar negeri bercinta dengan perempuan lain? Udah, aku mau pulang.”

Dari kejauhan, lamat-lamat, kedua mata Jopi melihat tubuh kekasihnya masuk ke dalam mobil dan menghilang. Sejak saat itu, tak ada komunikasi lagi antara mereka berdua.

*

Setahun sudah Jopi berada di Frankfurt, Jerman, mengambil disiplin ilmu biofisika di Max Planck Institute (1). Lelaki yang suka dengan alam itu mendengar melalui kawannya dan kawan Roro, bahwa di negaranya, di kotanya, kekasihnya itu telah menikah dengan lelaki lain, seorang anak diplomat. Hari-hari gelap pun terasa panjang bagi Jopi dan ia pun terus menyemangati dirinya sendiri sampai akhirnya ia lulus.

Jopi kembali ke tanah air. Pada satu momen, ayahnya mengajak ke satu tempat, ke satu hutan pinus (2) di mana ayah Jopi bertemu dengan ibu Jopi. Selama perjalanan menuju ke hutan pinus itu, Ayah Jopi menyuruh puteranya untuk menceritakan ulang pengalamannya di Jerman. Satu jam kemudian, ketika Jopi telah bercerita, juga tentang kisahnya bersama Roro, kepada ayahnya; hadirlah teman dari Ayah Jopi bersama puterinya.

“Pasti sudah lama nunggu ya?”

“Ah, kawan lamaku, Randi—kawan Ayah Jopi yang datang bersama puterinya. Baru satu jam, silakan duduk, mari, mari.”

Kemudian kedua ayah itu bercerita mengenang masa muda mereka, akan tetapi kedua anak mereka hanya terdiam.

“Kok kalian diem-dieman? Ya kenalan dong. Jopi, kamu kan lelaki, mulailah,” sindir Ayah Jopi.

Pak Randi mencairkan suasana agar puterinya yang sejak tadi menekuk wajahnya kembali ceria.

“Ini Rasya, Jopi, puteri Om. Kalian pasti cocok. Dia pernah melakukan penelitian tentang perkawinan dan pertunangan di Suku Baduy, lho.”

“Rasya? Suku Baduy? Rasya Naturina?!” tanya dan seru Jopi pada Pak Randi.

“Kok kamu tahu nama panjangku?” pertanyaan keluar dari mulut kecil Rasya dengan rasa terkejut.

“Ah, aku baca tulisanmu di majalah ‘Alam’! Aku suka pengambilan cara pandangmu.”

“Kamu baca juga?”

Kedua ayah itu pun merencanakan untuk jalan-jalan sejenak, sementara kedua anak mereka dibiarkan untuk saling mengenal. Kini, Rasya dan Jopi hanya berdua dan mereka mulai terbawa keintiman untuk saling mengetahui satu dengan yang lain:

“Kamu tahu, Jop. Aku hampir stres mikirin penelitian itu. Aku suka esensi suku baduy dalam bertahan di dunia modernitas tentang pernikahan yang menolak poligami dan perceraian. Oh ya, kata papa kamu habis pulang dari Frankfurt ya? Cerita dong, aku penasaran, nih…” (3)

Jopi terkesiap, tersenyum dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Kedua matanya melihat ayahnya dari kejauhan yang menganggukkan kepala, suatu tanda (doa) keindahan sinyal dari Ilahi yang dikirimkan melalui Ayah Jopi kepada puteranya.

(1) https://www.mpg.de/151405/hirnforschung

(2) https://travelingyuk.com/wisata-cikole-bandung/78329/

(3) http://gebyarpernikahanindonesia.com/4268/sakralnya-pernikahan-suku-baduy-tak-kenal-cerai-tak-kenal-poligami/

Bahasa dan Sastra.

a20181002_181648

I close my eyes / and take a deep breath…feel out the energies / come to my emotions…closer and harder / put my dagger in my heart / god…forgive me…i’am a sinner // i’m here…ready for a wake – No haven in this world – Screaming Factor. (1)

Kau ingin tinggal bersama kedua orang tuamu, bersembahyang malam bersama mereka (Sembahyang, laku sederhana itu, telah lama rasanya tak kau lakukan). Namun malam ini banyak yang sedang terjadi, ada sesuatu yang sedang menjadi. Telah tiba saatnya pergi, melanjutkan perjalanan, menyudahi hadirmu bersama mereka. // Kau menatap dua wajah tua, membatinkan syukur tak kedengaranuntuk keduanya yang telah lahir ke dunia, untuk cinta kasih di antara mereka berdua dan untukmu, untuk melahirkanmu menatap dunia, menghidupimu—begitu banyak untuk, hanya dengan mengada dan menjadi diri-diri mereka. Di hidupmu, di sini, di malam ini. Dan berharap, jika ada dosa—yang telah dan kelak—semoga terikhlaskan oleh mereka, semoga tiap dosa bisa menjelma doa – Cala Ibi (roman metanarasi) – Nukila Amal. Sebelum daftar isi terdapat catatan seperti ini: Novel ini memuat beberapa kutipan QS. An-Nahl 68-69; QS Abasa 34-37 (Versi Fazlur Rahman); puisi Jalaludin Rumi, The New Rule.

Subuh itu, setelah melipat rukuhnya, alat untuk menyapa dan kehadiran-Nya; seusai menutup kitab suci dan melantunkannya dengan fonologi, ilmu bunyi dalam bahasa Arab, yang terdengar indah; kedua jenjang kaki yang ramping menuntunnya ke dapur. Sesampainya di sana, dia membuka lemari dapur buatan ayahnya (2) dari kayu mahoni, kedua tangannya menjulur bersamaan, bagian kanan mengambil teh kantong celup dan bagian kiri mengambil cangkir beserta sendok kecil, setelah menambahkan sedikit gula pasir, dia kemudian menuju ke heatwater, menekan tombol warna merah untuk air panas. Sembari mengaduk, dia berjalan pelan dan membuka pintu belakang, yang menghubungkan dapur dan taman belakang, tempat di mana ayahnya menanam sayur-mayur; lalu menuju ke satu meja dan bangku kecil di sudut rumah, spot favoritnya untuk menghabiskan waktu untuk belajar.

Di atas meja itu terdapat komputer portablenya, terdapat kamus bahasa (3), satu roman dan majalah fashion yang dieditorinya. Tangan kanannya yang memegang kuping cangkir, mempertemukan bibir cangkir dengan bibirnya yang tipis itu. Sejenak, dengan memejamkan mata, cuping hidungnya menghirup aroma dan meneguk perlahan demi perlahan. Hawa segar dunia pagi hari, membuatnya tak sabar untuk mengawali hari dengan membuka kamus itu, kamus dari seorang lelaki yang pernah hadir, seseorang yang mengenalkannya pada bahasa. Pada kamus itu, terdapat bubuhan nama, kota, tanda tangan dan pesan singkat dalam bahasa Prancis, bahasa Perempuan: “Maliki, Strasbourg, XXX dan ‘c’est pour toi, pour l’éternité.” (4) Sementara, dia membuka roman metanarasi yang diberikan pada salah satu orang lelaki yang mengenalkannya pada sastra, seorang lelaki penggemar cerita realisme Victor Hugo. Di halaman setelah cover dari roman metanarasi, terdapat satu petikan dari Hugo dan nama lelaki itu: “En vieillissant, elle avait gagné ce qu’on pourrait appeler la beauté de la bonté – Hugo. (5) Dari Ramadhan.”

Dia menutup kedua pemberian lelaki itu, mendesah dalam-dalam, memandang langit pagi dan melamun. Dia suka melamun, dan dari melamun itulah dia pernah menjelaskan pada ibunya, sahabat sejatinya dalam menuangkan perasaannya tentang cinta, bahwa di sana hadir suatu kepasrahan yang aktif. Dalam dunia lamunan itu, dia meninggalkan dunia realitas ke dunia sur-realitas, dunia di mana hanya Sang Penciptalah yang mampu memberikan jawaban atas teka-teki yang mengendap dalam pikiran dan hatinya. Bahasa adalah perkara pikiran, sementara sastra adalah perkara hati.

“Bulan…Bulan…Bulan…”

Bulan tersadar dan melihat sosok perempuan tua yang semakin menua namun memiliki kecantikan di dalam jiwanya.

“Mama!”

“Kamu melamun apalagi sih?”

Bulan menggeleng.

“Ma duduk disebelah Bulan dong, Ma.”

Ibu Bulan menuruti puterinya dan duduk disamping permata hatinya. Bulan menyenderkan kepala ke pundak ibunya. Dan dengan kasih sayangnya, Ibu Bulan mencium anak gadisnya yang sebentar lagi akan memiliki kehidupan sesungguhnya bersama orang yang akan menjadi belahan jiwanya di masa tuanya, dan Ibu Bulan terus menerus belajar tentang keikhlasan yang amat berat itu.

“Ma, Bulan ingin seperti ini terus, dekat Mama.”

“Mama juga ingin, Nak,” balas Ibu Bulan dalam dasar hatinya, dan melanjutkan, “Tapi kamu harus berani menghadapi segalanya. Mama dan Ayahmu selalu ada dibelakangmu. Percayalah, Nak, Percayalah.”

Sinar matahari pagi mulai menyinari seluruh kota.

(1) https://www.youtube.com/watch?v=KanMtGkGTlU

(2) https://www.homify.co.id/ideabooks/1649453/45-lemari-dapur-praktis-yang-bisa-anda-bangun-di-rumah

(3) https://www.goodreads.com/book/show/1745403.Tesaurus_Bahasa_Indonesia

(4) C’est pour toi, pour l’éternité: ini untukmu, untuk keabadian.

(5) En vieillissant, elle avait gagné ce qu’on pourrait appeler la beauté de la bonté – Roman Les Miserables, Victor Hugo: Dengan bertambah tua, dia telah memenangkan/meraih apa yang kita bisa sebut keindahan dari kebaikan – Les Miserables, Victor Hugo.

Momen Kesebelas: Sisi dan Kakeknya.

a20180925_164756

Show me, show me, show me how you do that trick / The one that makes me scream she said / The one that makes me laugh she said / Threw her arms around my neck / Show me how you do it and I’ll promise you / I’ll promise that I’ll run away with you, I’ll run away with you – Just Like Heaven, The Cure (1)

Setelah menonton berita politik di salah satu channel te-ve, Prof. R, 67 tahun, seorang pengajar Ekonomi, melangkah ke kamar kerjanya dan melihat dua rak kecil. Rak pertama adalah kumpulan pigura untuk puteranya yang tinggal bersamanya, dan yang kedua adalah pigura untuk puterinya yang kini tinggal bersama suaminya, seorang pengajar bahasa di suatu institut. Mata tua itu melihat sepuluh pigura beserta momen-momennya:

Pertama, momen kelahiran Daras; kedua, momen ketika merasakan taman kanak-kanak; ketiga, momen ketika mengenakan seragam putih-merah; keempat, momen ketika mengenakan seragam putih-biru; kelima, ketika merasakan seragam putih-abu; keenam, ketika puterinya meraih penghargaan debat dalam bahasa Jerman; ketujuh, momen ketika puterinya bekerja untuk kali pertama dan gaji pertamanya untuk menraktir ayah dan ibunya di suatu rumah makan; kedelapan, momen ketika seorang lelaki kiriman Ilahi yang datang dengan mengejutkan dan melamarnya; kesembilan, momen ketika puterinya menjadi ratu sehari dalam acara pernikahannya; dan yang terakhir, momen ketika puterinya menjadi seorang ibu dengan bayi ditangannya. Melihat itu semua, Prof. R, hanya bisa mendesah dalam-dalam menahan kerinduan. Suara cicit burung-burung gereja terdengar nyaring, terbang mengepakkan sayap dari pohon mangga ke kabel tiang listrik.

Di luar kamar kerjanya, Prof. R, mendengar suara mesin taksi yang menyala, yang terbawa angin pagi. Ia menyadari bahwa capaian angka 6 pada patokan umur bukanlah capaian angka 2 pada patokan umur. Di kepala 6, Prof. R, lebih banyak belajar untuk merefleksi diri, dan terus merefleksi diri; berbeda dengan masa mudanya di kepala 2, di mana segala ambisi serta impian adalah hal utama. Langkah kaki itu berjalan pelan dan membuka seluas mungkin salah satu jendela yang tertutup. Mata tuanya melihat satu sosok yang telah dikenalnya, intuisi seorang ayah pada anak perempuannya.

“Daras (2)?” gumamnya dalam hati. “Ah, mana mungkin? Bukankah jika dia pulang selalu mengabari aku lebih dahulu? Tapi, ya, itu Daras!”

Sesegera mungkin Prof. R mempercepat langkahnya ke teras rumah tua, hunian yang dihasilkan dari keringatnya selama bertahun-tahun. Suara taksi masih menyala dan dibarengi suara ucapan terima kasih. Setelah itu taksi pergi. Di bawah matahari pagi, perempuan 32 tahun itu membenarkan shwal (3) untuk menutupi payudara dan tubuh kecilnya dari atmosfer rumah yang selalu dirindukannya: dingin yang memberikan nuansa kesegaran yang bersahabat.

Empat meter jarak antara teras dan pagar kecil yang dirambati oleh bunga serta daun bugenvil (4), ketika dibalik kacamata tua, pupil matanya melihat gadis kecilnya yang kini telah menjadi seorang ibu muda. Pun demikian dengan Daras, kedua bibir itu mengembangkan senyumannya mana kala melihat sosok pahlawannya selama ini yang dengan kesabaran membesarkannya hingga menjadi seperti sekarang.

Dengan membenarkan kacamatanya, Prof. R bergumam kembali, “Tapi aneh, kenapa dia sendirian? Mana cucuku?”

Suara kersakan terdengar dari bunyi pagar kecil yang dirambati oleh bunga serta daun bugenvil.

“Psst, Sisi, sini, lihat siapa yang ada di teras rumah…”

“Siapa, Bu, Siapa, Bu?” tanya Sisi, gadis kecil 8 tahun, cucu Prof. R, yang sedang asyik memetik bunga bugenvil.

“Udah, bunganya nanti aja, lihat itu, Kakek.”

Mendengar suara ‘kakek’, gadis kecil itu segera membuang bunga yang dipetiknya dan berlari kecil menuju tempat di mana ibunya berdiri. Dan:

“Siiisiiii!”

“Kakeeek!”

Sisi membuka pagar kecil dan berlari menuju ke halaman rumah, pun demikian dengan Prof. R yang mempercepat langkahnya di usia kepala 6. Dua generasi yang sangat berbeda dunia itu bertemu dan akhirnya berpelukan. Suatu pelukan yang tak bisa tergantikan oleh angka-angka di pasar saham Eropa (5). Daras tersenyum, dia seperti melihat dirinya dulu sewaktu sekolah dasar persis seperti yang dilakukan Sisi pada kakeknya, ayah dari ibu Sisi, Daras, si pembelajar.

(1) “Just Like Heaven” is a song by British alternative rock band the Cure. […] Before Smith had completed the lyrics, an instrumental version of the song was used as the theme for the French television show Les Enfants du Rock (Anak-Anak Rock-pen). https://en.wikipedia.org/wiki/Just_Like_Heaven_(song)

(2) Daras: belajar (mempelajari, menyelidiki) dengan sungguh-sungguh https://kbbi.web.id/daras

(3) https://www.ravelry.com/patterns/library/everyday-shawl

(4) https://www.hipwee.com/tips/rumahmu-nggak-butuh-ac-lagi-kalau-sudah-ada-10-tanaman-rambat-yang-berbunga-terus-ini/

(5) https://id.investing.com/equities/europe

Variasi.

thumb

Gonna shine like a sunbeam // Another dimension, new galaxy – Intergalactic Robot Rock aka Daft Boys (Daft Punk vs Beastie Boys) (1)

Pada malam hari, di salah satu channel, setelah iklan, di acara penganugerahan musik itu, salah satu penyanyi folk legenda segera mengumumkan tentang score film terbaik. Kami—aku, puteri kecilku, dan ibunya—tak sabar untuk menanti bahwa ia akan mendapatkan sesuatu spesial dari buah usahanya selama ini. Ia, yang kumaksudkan di sini adalah kawan baikku, seorang peneliti musik dari Universitas X, yang mengajariku banyak hal tentang suatu perjuangan.

Puteri kecilku yang mengenakan kaus bergambar Charlie Brown dan Adiknya, dengan tulisan, ‘You’re a Big Brother, Charlie Brown!’ (2) berdiri di atas kursi palet bekas yang kubuat (3), dan berada di tengah diriku dan istriku, sambil menghadap layar flatron, dan dia bertanya-tanya dengan keingintahuan yang menyeruak:

“Mana, Yah, Om Zaky?”

“Sebentar, dong, sayang,” sela istriku dengan membenarkan rambut pendeknya bergaya ‘Bob’.

“Ahhh,” tambah puteriku dengan merengek bila permintaannya tak dipenuhi, “Ahh, mana, Bu? Mana, Bu?”

Sambil memegang mikrofon dan membuka sebuah kertas pengumuman, kemudian penyanyi folk legenda itu mengangkat mikrofon dan bersuara:

“Peraih score film terbaik pada penganugerahan kali ini adalah….”

Sambil berjoget kecil ke kanan dan ke kiri, gadis kecil kami terus bertanya pada hal-hal yang sebenarnya tak sanggup kami layani, namun dengan kesabaran yang utuh, aku menjawab:

“Habis ini, Om Zaky muncul, tapi kalau kamu mau duduk manis…”

“Beneran, Yah?”

“Tentu dong.”

“Yeeaayyy!” teriak puteri kecilku, dan duduk manis di tengah-tengah kami, sambil memangku toples berisi camilan favoritnya.

Delay, atau penundaan (4), untuk menyebutkan nama pemenang tentang score film terbaik dari penyanyi folk legenda, memberikan variasi yang membuatku teringat tentang penyataan Zaky, saat kami telah memiliki jalan hidup masing-masing bahwa pada suatu penundaan, kita bisa menghidupkan variasi-variasi pada apa yang tak bisa terpikirkan. Dan Zaky benar, setelah sekian lama, setelah mengalami penundaan-penundaan, toh pada akhirnya aku dipertemukan oleh variasi lain seperti istriku yang memberikan variasi yang lebih semarak, gadis kecil disampingku ini, suatu cahaya lain yang setiap hari mengisi kegelapanku meskipun energi tubuh kecilnya membuatku dan membuat istriku kewalahan.

Sambil memegang mikrofon dan membuka sebuah kertas pengumuman, kemudian penyanyi folk legenda itu mengangkat mikrofon dan bersuara:

“Peraih score film terbaik pada penganugerahan kali ini adalah….Zaky Sound!” Seluruh hadirin yang ada bertepuk tangan, pun dengan kami. Dan sorot mata kamera mengarah pada Zaky, yang memakai blazer dan kaus band favoritnya. Tak hanya itu, puteri kecilku berteriak-teriak ketika melihat Zaky di teve, yang telah dianggap sebagai om-nya sendiri. Beberapa menit kemudian, Zaky berada di podium, untuk memberikan pidato kemenangannya:

“Terima kasih, beribu-ribu terima kasih,” kata pembuka dari Zaky, dan terdiam, mengatur nafas, memejamkan mata, mengatur kata-kata yang berserakan di dalam kepalanya, membuka mata dan melihat bahwa ia berada dihadapan ratusan pasang mata, dan melanjutkan, “Singkat saja, saya berterima kasih kepada dunia anak-anak, dunia yang tak mampu orang dewasa seperti saya masuki. Saya berterima kasih untuk seorang gadis kecil, anak dari kawan saya, yang mengajarkan saya banyak hal tentang bagaimana memungkinkan ketak-mungkinan itu sendiri, seperti ketika mewarnai matahari dengan warna ungu; dan dari sanalah, ide memungkinkan ketak-mungkinan itu sendiri muncul, dan saya mampu membuat score film dari variasi antara kemungkinan dan ketak-mungkinan yang dibalut dalam waktu penundaan (dengan berpikir) yang amat panjang. Sekali lagi, terima kasih, beribu-ribu terima kasih kalian semua (wahai para inspirasi) di mana pun berada.”

Dan aku pun melihat kedua cahayaku, puteri kecilku, bersama istriku, pun ikut bertepuk tangan bersama.

(1) https://sowndhaus.audio/track/5526/intergalactic-robot-rock-aka-daft-boys-daft-punk-vs-beastie-boys

(2) http://www.simonandschuster.biz/books/Youre-a-Big-Brother-Charlie-Brown!/Charles-M-Schulz/Peanuts/9781534409613

(3) https://www.homify.co.id/ideabooks/1483772/43-ide-daur-ulang-palet-kayu-yang-wajib-anda-coba

(4) “[…] konsep mistik tradisi yang diperbarui sebagai pernyataan peristiwa yang tertunda.” – Diambil dalam Sufism and Deconstruction: A Comparative Study of Derrida and Ibn ‘Arabi oleh Ian Almond (Routledge, 2009) https://www.amazon.com/Sufism-Deconstruction-Comparative-Routledge-Religion/dp/0415578973

Kisah Cinta Empat Penjuru: Peyek, Tauge, Petis dan Trasi.

Asleep and awake / Happy and sad / Aware and subconcious / With you – Today and Forever, Homogenic. (1)

Di depan cermin dengan memandang wajah manisnya, Tauge, perempuan 30 tahun, penulis kuliner, penyuka lagu ‘Takkan Berhenti Di Sini’ dari Homogenic, serta menjadi orang pertama yang mengatur jadwal suaminya itu, Peyek, lelaki 30 tahun, seorang penulis muda yang sedang naik daun dan menjadi perbincangan khalayak ramai akhir-akhir ini, mengingat kejadian dua jam lalu, ketika di satu acara musik, dia bertemu dengan orang yang memiliki kesan di masa lalunya, Trasi, lelaki 31 tahun, yang baru saja pulang dari menempuh studinya di Rotterdam, spesialisasi Teknik Bangunan Air. (2)

Sementara, beberapa meter dibelakang Tauge yang mengenang ingatan pada Trasi, Peyek meringkukkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk guling dan memandang daun-daun pohon mangga yang bergoyang dihembuskan angin malam melalui jendela kecil yang terbuka sambil mengingat kejadian dua jam lalu, ketika di satu acara musik, ia bertemu dengan orang yang pernah hidup dan meninggalkan bekas di masa lalunya, Petis, seorang perempuan 29 tahun, yang sangat dinamis dalam berpikir dan pernah menjadi Music Director di satu radio.

Tauge dan Peyek mengingat satu kejadian yang (mungkin) akan menghempaskan biduk rumah tangga mereka, ketika mereka bertemu di akhir acara musik dan bersalaman dengan Trasi dan Petis. Setelah sejenak terdiam, seakan tak percaya pada apa yang ada dihadapan mereka masing-masing, Trasi, mencairkan suasana dengan memperkenalkan istrinya,

“Kenalkan, ini Petis,” kata Trasi pada Tauge.

“Hai, kenalkan juga ini, Peyek,” balas Tauge ke Trasi.

Tak sampai di situ. Kekacauan pun semakin meningkat ketika, Peyek dan Petis juga saling mengenalkan pasangan mereka masing-masing.

Di depan cermin dengan memandang wajah manisnya, Tauge, mencoba mengingat masa-masa sulitnya bersama Peyek, masa-masa yang saling menguatkan cinta mereka. Ketika Tauge sakit, Peyek selalu hadir untuk sekedar melakukan hal-hal remeh seperti mengambilkan air putih.

Pun dengan Peyek yang meringkukkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk guling dan memandang daun-daun pohon mangga yang bergoyang dihembuskan angin malam melalui jendela kecil, membalikkan ingatan ketika masa-masa sulit di mana pada setiap malam, ketika pihak penerbitan memberikan jadwal deadline untuk revisi karyanya, Tauge-lah yang menemani Peyek pada setiap malam dan membuatkan kopi favoritnya.

Secara bersamaan, Tauge dan Peyek, membalikkan tubuh mereka berdua, dan kedua mata itu saling berpandangan, dan mereka saling tersenyum untuk satu keabadian.

(1) https://www.youtube.com/watch?v=aXlunMvw1Hg

(2) a) https://regional.kompas.com/read/2016/04/12/06070091/Menara.Air.Peninggalan.Hindia-Belanda.Dibiarkan.Terbengkalai;

b) https://tulisannda.wordpress.com/2013/05/08/belanda-sang-juuara-penakluk-air/;

c) http://www.mongabay.co.id/2016/01/05/peninggalan-belanda-ini-masih-jadi-penyedia-air-bersih-bagi-warga/;

d) https://today.line.me/id/pc/article/Kokoh+Hingga+Kini+Inilah+Rahasia+Konstruksi+Belanda+Lebih+Kuat+Dari+Bangunan+Jaman+Now-OVGDLV;

e) https://www.dw.com/id/rumah-apung-cara-belanda-atasi-perubahan-iklim/a-17533962