Hero.

20180530_143711 (copy)

We’re heroes of the day/We covered up these wounds with fairy tales//I won’t let you fallin’ broke and shattered to the ground/You put your faith in me, there’s so much more faith in me//This song is dedicated for the heroes all around the globe/We sing for you and we’re shout for them/And no more heroes will fall – Heroes, Snickers And The Chicken Fighter. (1)

Terima kasih telah menjadi kawan untuk beberapa tahun ini, Derrida. Belajar tentang ‘diri dan yang lain’, belajar tentang ‘batas dan tak-terbatas’, belajar tentang ‘mungkin dan tak-mungkin’, belajar tentang ‘final dan tanpa final’, yang hidup dalam waktunya masing-masing, masa lalu (past), masa sekarang (present), dan masa depan (future).

Maaf bila belum mampu menemukan definisi yang tepat untuk alat yang kau ciptakan, ‘dekonstruksi.’ Namun, aku lebih senang bila dekonstruksi-mu sebagai alat membaca (dan menafsir) subyek dan obyek apa pun, dari film, fotografi hingga musik; dari bahasa, arsitektur hingga ekonomi; dari manusia, bangunan, dan kota; seperti anak kecil yang hidup dalam dunianya melalui mainan kecilnya.

Kau tahu, Derrida, terlalu banyak pahlawan disekitarku, yang mengelilingiku, dari pelbagai bidang, dari orang tua dan saudara, kawan lama-kawan baru, hingga orang-orang yang menginspirasi baik yang dikenal atau pun tidak. Seperti ketika, kau mendekonstruksi dirimu sendiri, untuk membahagiakan orang-orang disekitarmu, dan kawan-kawanmu dari Julia Kristeva bahkan Maurice Blanchot. Oh, ya, apakah kau tahu, bahwa mungkin kita tak sepaham, dan menurutku Marseille atau Strasbourg lebih mengagumkan dari pada Paris.

Apakah kau tahu, kini aku telah menemukan seorang ‘hero’, dia tak cantik, namun amat manis, dan tentu saja, dia perempuan yang amat tangguh, oleh sebab itu aku amat bersemangat menatap masa depan, dengan segala kemungkinan dan ketak-mungkinannya.

Tak ada yang lebih menyenangkan, seperti judul yang ditulis oleh Michel Lisse di satu majalah (2), bahwa, setiap orang ibarat suatu pulau, dan aku masih ingat perkataanmu :

Marilah kita mulai dengan yang tak-mungkin.

Terima kasih, Derrida, Jacques.

Iklan

Pengorbanan Diri Seorang Sherpa.

33896725_1927472173943488_5147408365978124288_n

Sejarah mencatat bahwa Sir Edmund Hillary adalah orang pertama yang mencapai—dan menaklukkan—puncak everest. Benar, namun jauh sebelum Sir Edmund Hillary mencapai puncak, seorang sherpa berjalan di depan, menggali track salju-salju bersama sepatu-sepatu berpaku.

Sherpa yang bijak itu, Tenzing Norgay, bisa saja menjadi orang pertama, namun misi tersebut adalah misi dari Sir Edmund Hillary, dan ia hanya bertugas untuk mengantarkan tamunya tersebut, dan Tenzing menyilakan kawan baiknya, Sir Edmund Hillary, untuk menjadi orang pertama yang mencapai—dan menaklukkan—puncak everest.

Hiduplah orang-orang kedua, orang-orang yang tak ingin tampil di muka, orang-orang yang lebih senang membantu orang pertama mencapai impiannya.

Hormat, Paman Tenzing!

Tentang Tenzing Norgay :

1) https://www.kompasiana.com/dessywardhani/belajar-dari-tenzing-norgay_5511466ba333117732ba9c27

2) http://www.apakabardunia.com/2012/09/inspirasi-dari-seorang-pemandu-di.html

Image via ALPIN – Das Bergmagazin.

Ekspresi Dekorasi Dinding Kamar Anak.

20180528_125353

Seusai beraktivitas di luar rumah, anak-anak, tentu saja, memilih kamar sebagai ruang untuk beristirahat. Untuk menciptakan ruang istirahat yang nyaman bagi mereka, dan jauh sebelum itu, mereka harus membuat konsep kamar yang nyaman bagi mereka sendiri.

“Aku ingin gini-gini, lho, Yah?” atau “Aku ingin gini-gini lho, Bu?”

Kasih mereka satu view dinding berwarna putih, dan suruh buat pola yang mereka inginkan. Untuk konteks warna yang berelasi dengan psikologi, bisa juga dipelajari dari media sosial seperti facebook atau twitter, mengapa mereka memilih warna biru sebagai warna utama, sehingga menciptakan kenyamanan bagi pengguna. Dan khusus untuk lingkaran, pola irisan lingkaran yang berpotongan terlihat struktur garisnya mengambil dalam konsep ‘ekspose’ pada pada dinding batu bata ekspose, pada finishing interior.

Karena dari kamar dan dinding, bersama warna dan pola, adalah langkah kecil untuk menciptakan dunia ekspresi, selain ruang untuk beristirahat.

Contoh pola lingkaran yang lain :

A) https://bramardianto.com/makna-flower-of-life-atau-bunga-kehidupan.html

B) http://majalahasri.com/belajar-membuat-seni-geometrik-keislaman/

Dan meminjam judul album dari band ‘And So I Watch You From Afar’ untuk merangkum segala ekspresi : All Hail Bright Futures.

Membaca Sisifus, Camus, Dalam Diri Jindapol.

 

– Persembahan kecil untuk siapa pun yang terlalu lama terjebak dalam keruntuhan : Angstschreie verhallen im Nichts / Niemand bewußt genug vorhanden / Niemand / Die Augen geschlossen / und doch muss man sehen // und doch besteht die Chance – Chance, Aclys (Bremen Hardcore). (1)

Beberapa menit lalu, di sebuah layar datar tergelar satu turnamen, Piala Uber 2018. Thailand mampu mengimbangi Tiongkok dalam semi final Piala Uber itu. Pada pertandingan ketiga, untuk tunggal putri, Nitchaon Jindapol bertemu Gao Fangjie. Yang menarik adalah ketika Gao unggul dari Jindapol dengan poin 14-11. Berkali-kali Jindapol menyemangati diri hingga kemudian membalikkan keadaan menjadi 14-15. Kejar-kejaran poin terjadi dengan gap tipis, dan Gao memenangkan set 1 dengan 21-19.

Meskipun Jindapol kalah pada set 1, namun semangat Jindapol mengejar menipiskan angka dari 14-11 ke 14-15, cukup memukau. Dari layar datar itu, lelaki berkacamata melihat dan mencoba memahami (verstehen dalam bahasa Jerman) peristiwa tersebut. Membalikkan poin 4 angka dalam bulutangkis seperti membaca kembali tokoh mitologi Sisifus à la Albert Camus, yang dihukum dengan memanggul batu, tergelincir, memanggul batu kembali, tergelincir kembali, memanggul batu kembali.

Pada set 2, Jindapol, yang lemah dalam konsentrasi, dan sering kali melakukan pengembalian bola yang melebar serta tanggung menyebabkan jarak melebar 5-7. Jindapol menghirup udara dan menyemangati dirinya kembali. Ketertinggalan 2 poin dipangkasnya menjadi 7-7. Pada poin 11-13, Jindapol berjibaku dengan melakukan netting dengan terduduk dan dibalas netting yang gagal dari Gao, sehingga menipiskan poin 12-13. Kepalan tangan kiri dan teriakan semangat diri, membuat Jindapol harus memaksa Gao untuk bermain rubber set, set penentuan.

Apa yang bisa dipelajari dari Jindapol adalah ruh semangat yang mengikis beban berat dalam mengejar ketertinggalan poin dari Gao. 1 poin demi 1 poin, seperti membaca kembali Sisifus à la Albert Camus, dalam diri Jindapol.

Le Meilleur Espoir (Harapan Terbaik).

Ketika angin membawa abu Merapi ke Magelang, ada perasaan was-was yang lain. Ingatan memanggil pada satu bangunan kuno tercantik yang pernah/telah hadir dan masih menyimpan misteri untuk, meminjam alat dari Jacques Derrida, di dekonstruksi.

Dalam kata pengantar di buku trilogi I ini, Prof. Dr. Haryani Santiko, menulis tentang satu persona yang bermain-main dengan pengorbanan diri. Prof. Haryani menulis, “[…] Daoed Joesoef akan Candi Borobudur seakan terobati setelah berkunjung ke candi pada tahun 1953. Namun di samping kegembiraan terdapat kekecewaan yang mendalam melihat kondisi candi yang rusak dan kotor, sangat memprihatinkan. Dengan bekal bayangan candi yang menyedihkan tersebut, Daoed Joesoef yang ketika itu melanjutkan sekolah di Sorbonne, Perancis, dengan gigih mengusahakan bantuan finansial pada UNESCO untuk memugar candi yang dicintainya, dan usahanya berhasil […]”

Sementara itu di halaman yang lain, ekonom lulusan Sorbonne, Prancis, cum pelukis sketsa, mewartakan pada cucu (bangsa) pewarisnya ini, “[…] berbentuk persegi panjang yang berada di atas tanah itu menyangga tembok berukir yang panjangnya tidak kurang dari tiga kilometer dan terdiri dari 1.300 panel relief-dangkal (bas-relief) serta menopang 432 buah Arca Buddha. Pada teras bundar diatas setiap persegi panjang ini terdapat 72 buah stupa yang berhiaskan garis-garis lurus dan berisi sebuah Arca Buddha. Tanpa mengabaikan kehebatan teknik konstruksi yang telah diterapkan lebih dari 1100 tahun yang lalu, Borobudur berhak disebut sebagai peninggalan budaya universal bukan hanya karena besarnya. Cirinya yang sangat menonjol adalah keharmonisan antara bentuk dan maknanya yang luar biasa. Penampilan fisik Borobudur jelas menunjukkan bahwa ia adalah sebuah Candi Buddha.”

Dan, harapan baik, sekali lagi, diterbangkan ke langit, agar abu vulkanik gunung yang memiliki sifat asam yang tinggi tak memercepat pelapukan batu (1).

Salam hangat dari calon menantu idaman ayah-ibumu.

(1) https://nasional.tempo.co/read/1092236/abu-merapi-guyur-candi-borobudur-balai-konservasi-siapkan-mantel

() Selamat Jalan Daoed Joesoef – Sang Penyelamat Borobudur/Buddhazine http://buddhazine.com/selamat-jalan-daoed-joesoef-sang-penyelamat-borobudur/

Dasar Logika Berpikir Dalam (Skenario) Film.

20180516_200315

Sesama penggemar Hatta harus saling menginspirasi – Mohammad (Yang Bukan) Hatta.

Jika kita gabungkan Mohammad Hatta dengan klasifikasi jenis diagram UML, maka akan memiliki banyak cabang seperti sepakbola, sejarah, pendidikan, bahasa, ekonomi, politik, pengasingan sekaligus travelling (Banda Neira), musik, perpustakaan, pre-wedding & wedding (a, b), bahkan film. Untuk kategori terakhir itulah, ketika saya berada di satu rak buku, di satu toko buku, saya melihat—serta mengingat—nama itu : Salman Aristo.

Wawancaranya bersama Risa Herdahita Putri di historia[dot]id (c), begitu memberikan warna tersendiri bagi saya, yang memang di kelas bahasa yang sedang saya dalami, ada satu unite/bab yang membahas khusus tentang film, salah satunya penerjemahan dalam film. Dalam wawancara tersebut, Salman Aristo berkata :

“[…] Tapi, itu tadi, Hatta meletakkan dasar logika berpikir gue. Membuat gue meluruskan logika berpikir. Dalam menulis selalu begitu. Premisnya apa, duduk permasalahannya gimana. Gue harus punya logika berpikir yang beres dulu, bagaimana melihat suatu permasalahan dengan jelas, dan gue harus tahu dulu apa yang mau ditulis. Ini lagi mau apa, mau ke mana arahnya cerita.”

Melalui argumennya itu, tanpa harus banyak pertimbangan dan kemudian saya ambil untuk diletakkan bersama refrensi film literatur lain. Rasa penasaran antara Hatta, Salman Aristo, dasar logika berpikir dan (skenario) film, membuat saya selekas mungkin untuk membacanya.

Sebelum menuju pusat buku, Plotpoint Kreatif, suatu workshop seni kreatif, bersama Penerbit Esensi, menghadirkan testimoni dari beragam persona di dunia layar kaca Indonesia yang memiliki jam terbang tinggi. Kolaborasi antara Salman Aristo dan Arief Ash Shiddiq (pengajar kelas menulis novel dan storytelling Plotpoint Workshop), mengizinkan pada saya, si pembaca, untuk membalik halaman demi halamannya ke pusat buku yang dibagi menjadi lima gerbang seperti 1) gerbang pertama dengan salah satunya pembuatan karakter utama (dalam bahasa Prancis disebut dengan ‘Le personnage’); 2) Gerbang kedua dengan ‘setup’; 3) Gerbang ketiga dengan ‘konflik’; 4) Gerbang keempat dengan ‘resolusi’; 5) Gerbang kelima dengan ‘naskah film’; serta tambahan dengan ‘Catatan-Catatan.’

Menariknya dalam buku Kelas Skenario ini adalah pembaca seakan-akan diajak untuk berdialog tentang dasar logika berpikir itu sendiri. Ambil contoh pada gerbang pertama, terdapat satu form kosong. Dan kita diajak untuk membuat karakter kita sendiri:

“Nah, sekarang giliranmu. Karakter utama saya adalah :___Nama :___Hal yang menarik darinya :___Orang yang bisa tertarik pada karakter ini adalah :___.”

Bagi yang tertarik untuk menjadi penulis naskah film, semoga beruntung menemukan buku ini. Selamat mencoba dan pintu harapan di depanmu telah menanti jejak langkahmu. Salam sayang dan rindu, tentunya.

Di Batas Penjemputan, St. Tugu Yogya.

20180514_153929a

[Indonesia] Yes, i’m back to this town / Yes, today i’ve got a reason / Yes, meet my mom in heaven / My friend i’m comin’ home! – Finally, Home! The Milo.

Perempuan asing ini berdiri dan dia menghadap ke depan. Setelah pandangannya melewati segaris tanda ‘Passengers Only’, dia menolehkan kepalanya ke arah yang lain, gerak tubuhnya seakan mengatakan kepada orang-orang yang ke luar dari pintu stasiun, “Itukah kau, yang aku nanti, yang aku temui?” Di batas ini, perempuan asing ini berdiri.

[Jerman-Inggris] Yes, i’m back to this town / Yes, today i’ve got a reason / Yes, meet my mom in heaven / My friend i’m comin’ home! – Finally, Home! The Milo.

Die Ausländerin stand auf und sie blickte nach vorne. Nachdem ihr Blick durch eine Linie von „Passagieren Nur” geht, sie drehte ihren Kopf in der anderen Richtung, ihre Geste als ob, um den Leuten zu erzählen, die aus der Stationstür kamen „Is that you, the one I’m waiting, the one I’m meeting?” An dieser Grenze, die Ausländerin stand auf.

Episentrum Itu Bernama Keinginan dan Harapan.

20180514_163633a

Bermain di helatan akbar seperti Piala Dunia adalah impian dari siapapun, tak terkecuali bagi Alex Oxlade Chamberlain (Chambo), yang kurang bersinar di bawah polesan Arsene Wenger, namun Jurgen Klopp dengan satu sudut pandang, dengan menolehkan sedikit pandangan, mampu menjadikan Chambo sebagai harapan Inggris di Piala Dunia Rusia yang digelar Juni nanti. Nahas bagi Inggris dan Liverpool, lutut Chambo mengalami masalah kala menghadapi City. Dukungan terus mengalir bagi Chambo yang tak bisa mengikuti Piala Dunia dari rekan Liverpool. Pagi ini, di akun facebook Liverpool Indonesia, tertulis :

“Joe Jaggar sama sekali tidak beruntung dalam undian tiket bersama 26 ribu fans lainya untuk berangkat ke kota Kiev, untuk menyaksikan laga final antara Liverpool kontra Real Madrid, padahal dia sudah memesan jauh jauh hari tiket pesawat untuk pergi kesana. Sempat putus asa dan mulai pasrah untuk mendukung LFC dari kejauhan saja. […] Namun siapa sangka Alex Oxlade Chamberlain yang dulu menghampirinya beberapa pekan yang lalu seusai laga leg ke 2 perempat final kontra Manchester City di Etihad lalu memberikan satu buah jersey miliknya. Secara tiba-tiba kini menghubunginya kembali lalu memberinya tiket untuk dia dan sang putra untuk pergi ke Kiev nanti.” (1)

Penggalan kalimat yang tak utuh itu, ‘… dia dan sang putra untuk pergi ke Kiev nanti,’ mengingatkan pada film Will, satu film tentang seorang anak yang ingin sekali menonton pertandingan final Liga Champion 2005. Will, si kecil yang dititipkan di rumah yatim-piatu, karena ibunya meninggal kemudian, akhirnya bertemu dengan ayahnya yang bekerja keras untuk kehidupan Will. Ayah Will, berjanji untuk mengajak putranya, menonton final Liga Champion. Nahas, sebelum melakukan perjalanan bersama, Ayah Will, Gareth, tiba-tiba meninggal dunia. Tujuan dan keinginan yang telah pasti memberikan satu jalan bagi Will : Keluar dari asrama dan melakukan perjalanannya sendiri. Dengan langkah ringan secara perlahan-lahan yang menyeret untuk bertemu pada satu persona, satu cerita.

Keinginan, yang dalam detikSport, diresensi seperti ini : “Akan tetapi, dibandingkan dengan beberapa film sepakbola lainnya, memang film Will termasuk yang ringan dan mudah untuk dinikmati tanpa berpikir panjang. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul mengenai logis atau tidaknya jalan cerita yang ditampilkan pun baiknya ditinggalkan sejenak sebelum menonton. […] Sebagaimana kisah Liverpool di final Liga Champions 2005 yang juga “tidak masuk akal”, perjalanan Will seakan mencerminkan perjalanan klub kesayangannya tersebut. Bahwa film ini dinamai “Will”, yang juga berarti keinginan, juga seolah merefleksikan klub yang merebut secara paksa kemenangan melalui keinginan tidak mau menyerah dari kekalahan.  (2)

Alex Oxlade Chamberlain (Chambo), Joe Jaggar dan putranya, Si Will kecil dan ayahnya, telah memberikan satu episentrum, dalam ilmu geografi dimengerti sebagai membawa sisa gelombang dan menyebarkannya. Membawa dan menyebarkan apa? Keinginan (yang kuat) dan harapan (yang baik).

Rumah Dinas UGM.

20180511_165600

Siapapun tentu ingin memiliki jenis rumah idealnya masing-masing. Aku masih ingat wejangan Romo Mangunwijaya di karya beliau, Pasal-Pasal Penghantar Fisika Bangunan (Gramedia, 1980). Beliau menulis seperti ini dalam kata pengantar, yang sedikit aku kutipkan :

“Dalam suatu negara yang sangat luas seperti tanah air kita, dengan penduduk 130 juta dan yang semakin meningkatkan tempo pembangunannya, mustahil kita boleh hanya menunggu ahli-ahli berijasah yang cukup jumlah maupun mutu perencanaan, pelaksanaan serta pengawasan sektor pembangunan perumahan dan pergedungan pada umumnya. Suatu saat kita semua dan kita sendirilah, yang biar awam sekalipun dalam teknik bangunan, harus (terpaksa) memberanikan diri untuk memulai dan mengakhiri pembangunan, tanpa ahli yang berijasah. […] Pertama marilah kita mulai dari titik-tolak, yang biasanya ditanyakan pertama oleh setiap orang yang ingin membangun. Yaitu : kita ingin membangun murah. Itu wajar. Hanya, marilah kita menghindarkan diri dari pengertian pembangunan ‘murah’ yang semu. Sebenarnya, murah atau tidak murah itu relatip, tergantung dari banyak ukuran. Dalam kenyataan, rumah ‘murah’ bisa jadi mahal sekali. Dan rumah yang disebut ‘mahal’ sangat mungkin justru sebenarnya murah. Artinya yang penting bukan berapa jumlah uang yang dikeluarkan, melainkan PERBANDINGAN antara biaya yang dikeluarkan dan hasil yang dicapai (cost and benefit rate). Itulah yang harus menguntungkan. Murah dalam arti hijau adalah tadi : yang mengeluarkan sedikit, dihitung tanpa dibandingkan dengan sesuatu hasil yang SENYATAnya tercapai olehnya. Tetapi murah dalam arti dewasa adalah : YANG BERTANGGUNG-JAWAB, LAYAK DAN MEMADAI HASILNYA. Dan itu dihitung dengan memertimbangkan sebanyak mungkin unsur dan faktor yang berpautan. Sehingga : perbandingan antara yang dikorbankan dan hasil yang teraih (untuk maksud dan saat tertentu yang konkrit dan yang selalu berlainan) masih dapat dipertanggung-jawabkan.”

Siapapun yang tak pernah menekuni Teknik Sipil Bangunan/Arsitektur, pasti akan mengira bahwa rumah, untuk saat ini, demikian mahal. Itu benar. Akan tetapi ketika aku berdiri mematung di depan rumah dinas UGM itu saat akan berolahraga, dan pikiranku bertaut dengan apa yang pernah ditulis Romo Mangun itu. Paling tidak, bagi siapa yang ingin memiliki rumah, perlu mengira-ngira berapa taksiran harga sebenarnya rumah melalui rancangan anggaran biaya (RAB).

RAB ini adalah, menurutku, hal yang paling mudah untuk dilakukan oleh yang awam pada dunia Teknik Sipil Bangunan/Arsitektur, dari pada menggambar konstruksi melalui AutoCad atau Revit yang memerlukan ketekunan sendiri, atau membuat maket. Kamu bisa pergi ke toko buku bekas (atau online), ke toko buku yang lain atau ke perpustakaan, dan carilah RAB untuk rumah; sebab dalam RAB, tak hanya untuk rumah, namun juga ada untuk jalan raya, bendungan, jembatan atau bandara.

Di dalam RAB nanti, kamu bisa menggunakan Ms. Excel bersama rumusnya untuk menghitung uraian pekerjaan (dari pekerjaan persiapan hingga finishing seperti pengecatan), harga material, dan upah pekerja. Paling tidak, kita tahu rincian harga yang akan kita keluarkan untuk membuat rumah. Dan tambahan lagi, cari daftar harga material dan harga upah kerja yang terbaru, sebab setiap daerah harga material dan harga upah pekerja berbeda-beda.

Semoga curhatan di atas bisa sedikit membantu.

Salam bahagia untuk semuanya dari mantan kuli bangunan (yang high quality jomblo) dan siapapun berhak memiliki rumah idamannya masing-masing. Amin.

Damar dan Rara.

20180508_142316

Yesterday is over / It’s a different day – Eminem ft. Rihanna.

Damar dan Rara (1), mereka dipertemukan oleh kejutan persinggungan antara garis waktu dan garis cinta, seperti ledakan Big Bang. Damar, 29 tahun, analis Ekonomi Eropa Barat; sedangkan Rara, 29 tahun, ahli gastronomi (2) makanan tradisional Indonesia, telah bertemu sebelumnya di masa yang lampau, sebagai kawan. Keterpisahan mereka, mengisikan narasi-narasi kecil di halaman kosong kehidupan mereka, dan menjalin dengan cintanya masing-masing hingga kemudian gagal memertahankan cinta masing-masing.

Damar dan Rara, mereka dipertemukan oleh kejutan persinggungan antara garis waktu dan garis cinta. Di satu kota, mereka bertemu lagi setelah sekian lama terpisah. Seorang ulama pernah mengatakan bahwa jodoh telah dekat apabila hati kita bergetar (3). Dan benar, kedua hati itu pun bergetar, ada banyak cerita yang dituturkan selama keterpisahan mereka, entah karir, entah hobi masing-masing, dan segala hal yang membuat mereka semakin dekat.

Damar dan Rara, mereka dipertemukan oleh kejutan persinggungan antara garis waktu dan garis cinta. Tiga bulan setelah pertemuan mereka kembali, media sosial merekatkan mereka dengan ceritanya masing-masing. Rara sedang berjuang untuk menyelesaikan bukunya tentang gastronomi Indonesia dari petualangan-petualangannya di Indonesia; sedangkan Damar sedang asyik dengan analisis dan pencarian data tentang Depresi Ekonomi yang dialami oleh Jerman pada Perang Dunia I, dan Walter Rathenau (4), seorang insiyur Jerman yang memunculkan buah pikir ‘Ekonomi Berencana.’ (5)

Damar dan Rara, mereka dipertemukan oleh kejutan persinggungan antara garis waktu dan garis cinta. Pada bulan keempat hubungan mereka, secara tak sengaja, Rara membaca blog dari Damar, dan entah kenapa tulisan Damar menyadarkan Rara, perempuan yang menyukai kesempurnaan namun takut pada kegagalan akibat cinta masa lalunya itu, mulai memahami bahwa suatu hal yang bernama kesempurnaan hanya mengada/mewujud melalui, trial and error, coba-gagal, coba-gagal, coba-gagal, hingga sempurna (6). Setelah mendapatkan jawaban yang selama ini dia cari, Rara menjadi spiritualitas yang lain bagi Damar, lelaki yang rapuh, untuk menyelesaikan analisis Depresi Ekonomi Jerman pada Perang Dunia I.

Damar dan Rara, mereka dipertemukan oleh kejutan persinggungan antara garis waktu dan garis cinta. Kisah cinta Damar dan Rara bukanlah kisah cinta yang terlalu ‘WOW’ seperti para selebriti, akan tetapi kisah cinta Damar dan Rara adalah kisah cinta biasa dalam bentuk perjuangan yang dibalut dengan tangis, tawa, atau bahkan senyuman…dan tentu saja mereka bahagia.

(5) Ekonomi Berencana – Mohammad Hatta.

(6) Fred L. Polak, “De problematiek der welvaarsplanning en haar ontwikkeling in de buitenlandse literatuur”, dalam majalah De Economist, Belanda.