Untuk Setiap Pelarangan Buku Kiri: Andai M. Natsir, Sahabat Aidit, Masih Hidup.

Gerakan buruh Eropa, kaum revolusioner Bolshevik, gerakan-gerakan pembebasan Dunia Ketiga – semuanya bertumpu kepada Kapital karya Marx, yang bukan saja mengkaji cara kerja kapitalisme, melainkan juga seakan-akan meramalkan kehancurannya. – Mathias Greffrath, jurnalis surat kabar Süddeutsche Zeitung. (1)

Di Kediri, toko buku (kecil) yang menjual buku berbau Marxisme-Leninisme disidak Tentara (2), yang mana tokoh Islam yang penulis kagumi, M. Natsir, dan sahabat DN. Aidit, di luar konteks ideologi, dalam M. Natsir di Panggung Sejarah Republik—dan dilupakan oleh para pemuda Islam Indonesia—pernah berkata: [TNI] menimbulkan anggaran yang besar bagi Negara.

Pertanyaannya sekarang, apakah Tentara berani menyidak buku Kiri yang berada di Institusi (Sekolah Bahasa) milik Kedutaan Besar Jerman (atau Prancis) yang mana penulis sangat nyaman untuk membaca buku-buku Kiri yang tersedia? Jika berani, maka akan masuk ke dalam konflik wilayah yang berat, hubungan diplomatik. Dan seperti kata Hatta, wakil presiden, pengaruh terbesar penulis, yang membaca Kapitalisme-Sosialisme-Komunisme:

Indonesia hanya menang di wilayah kebudayaan, sangat, sangat kaya; akan tetapi tentang ekonomi, Negara yang dicintai Bung Hatta ini, masih masuk ke dalam kategori menengah-bawah.

Oleh sebab itu, tak perlu takut pada buku Kiri khususnya Marxisme-Leninisme (Komunisme) karena telah gagal menjalankan sistem. Tambahan lagi, konsep pembangunan ekonomi 5 tahunan itu juga berasal dari Marxisme-Leninisme yang dijalankan oleh Indonesia sekarang ini (3). Marx dengan embel-embel ‘isme’, hanya secuil dari pemikiran para Ilmuwan Islam, dari Ibnu Khaldun hingga Ibnu Sina, seorang dokter, yang menggratiskan ilmunya untuk siapapun, baik kelas bawah hingga kelas atas.

Salam dari calon menantu idaman para mertua yang (kadang-kadang) salih dan pengagum Sosialisme—lawan ideologi dari Komunisme—Indonesia, Prancis dan Jerman.

(1) MEMBACA ULANG “DAS KAPITAL” – Goethe Institut https://www.goethe.de/ins/id/id/kul/mag/21144973.html

(2) https://www.merdeka.com/peristiwa/tni-ad-sita-ratusan-buku-bertema-komunis-di-pare-tulisan-soe-hok-gie-ikut-diamankan.html ; https://swararakyat.com/beredar-buku-buku-propaganda-pki-dijual-bebas-di-kediri/ ; https://nasional.tempo.co/read/1159258/list-buku-berkata-pki-yang-disita-tni-ada-buatan-nu-soekarno ; https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39208090

(3) https://id.wikipedia.org/wiki/Rencana_lima_tahun_bagi_perekonomian_nasional_Uni_Soviet

Iklan

Bacaan 2019 (Buka Buku):

sebagai suatu tanda petunjuk untuk sebuah harapan / sebagai suatu pemahaman dalam jalani kehidupan / melangkah lagi dengan sempurna – Perubahan, Saint Loco.

1) PURPOSE : Living in the Process (digital startup, pendidikan) – Alamanda Shantika, ex-wapres GoJek dan founder Binar Academy.

2) Critical Eleven (Roman, travelling, perantauan, pernikahan, komunikasi) – Ika Natassa.

3) Cita Rasa Indonesia Ekspresi Kuliner (Kuliner, fotografi) – William Wongso, alumnus Institut Francais, Le Cordon Bleu Paris.

4) Borobudur (Sejarah, arsitektur, Hindu-Buddha) – Daoed Joesoef

5) [Rereading] Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam (seni, Islam, kaligrafi, arsitektur) – Ismail Raji Al-Faruqi. Kajian dari Mahrus eL-Mawa.

6) Buku Panduan Wisata di Spanyol Jilid 1! (Travelling, perantauan, pendidikan) – Perhimpunan Pelajar Indonesia Spanyol.

7) Ekonomi Kelembagaan (Ekonomi makro)- Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, pengajar Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya.

8) Authentic Personal Branding  – Hubert K. Rampersad

9) Psikologi Revolusi (sosial, kerumunan, psikologi, tokoh Prancis) – Gustave Le Bon, Bapak Psikologi Massa.

10) Ilmu pengetahuan, teknologi & pembangunan bangsa: menuju dimensi baru pembangunan Indonesia (sains, teknik, pendidikan) – Prof. BJ. Habibie.

11) Pesona: Cahaya, Kecepatan, Waktu dan Ruang Angkasa (sains, teknologi, transportasi) – Prof. BJ. Habibie.

12) [Lanjutan] Du mariage considéré comme un des beaux-arts / Pernikahan Sebagai Seni Rupa—Bagi para pengagum kesetiaan dalam ikatan perkawinan, Koleksi Institut Francais) – Duet pasangan teromantis Prancis, Julia Kristeva & Philippe Sollers.

13) [Lanjutan] Les prolégomènes / Mukadimmah – Ibn Khaldoun.

14) Das kleine Ich bin ich (Bahasa jerman, cerita anak) – Mira Lobe (penulis), Susi Weigel (ilustrator).

15) Momo (Bahasa Jerman, cerita anak, Koleksi Goethe Institut) – Michael Ende. A) Review Aan Mansyur. B) Cerita dalam bahasa Arab.

16) The Manager: Inside the Minds of Football’s Leaders (Bahasa Inggris, olahraga, kepemimpinan, top-level football management) – Mike Carson.

17) Mystere sur le Vieux-Port (plus audiobook) (Bahasa Prancis, cerita remaja, lukisan, kriminalitas. Museum, Kota Marseille, Koleksi Institut Francais) – Pascale Poli.

[Dan beberapa tambahan lain…]

Bacaan 2018:

1) Seri Strategi Arsitektur 1: Pola Struktural dan Teknik Bangunan di Indonesia (Lingkungan, Arsitektur, Teknik) – Ir. Heinze Frick. [2 minggu].

2) Seri Menata Rumah: Menata Rumah Mungil (Arsitektur, Interior) – Imelda Akmal [1 minggu].

3) 100 tahun pascapemugaran Candi Borobudur, Trilogi I, menyelamatkan kembali candi borobudur, Balai Konservasi Borobudur (Arsitektur, Hindu-Buddha, Teknik Bangunan) – Prof. Dr. Daoed Joesoef; editor, Prof. Dr. Haryani Santiko. [1 Bulan].

4) Perkembangan Pemikiran Ekonomi: Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan – Sumitro Djojohadikusumo. [2 Minggu].

5) Manajemen Dan Struktur Industri Jepang (Perusahaan, Industri, Budaya Jepang) – Naoto Sasaki. [2 minggu].

6) Said Jamaluddin Al Afghany (Tokoh pemikir Islam yang diperebutkan kaum Sunni-Syiah, Cikal Bakal Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah, Travelling Paris-London-St. Petersburg, Budaya, Politik) – Prof Buya Hamka. [2 Minggu].

7) Si Kecil Filip Pergi Sekolah (Sastra Rusia, Cerita Anak, Pendidikan, Terjemahan) – Leo Tolstoy. [1 Minggu].

8) Dari Festival Ke Festival, film-film mancanegara dalam pembicaraan – Salim Said. [1 Minggu].

9) Penerjemahan Berdasar Makna: Pedoman Untuk Pemadaman Bahasa – Mildred. L. Larson. [2 Bab, 1 minggu, tak tuntas].

10) Cemara-Cemara Kampus (Roman, Politik, Mahasiswa, Erotis, Sosial—Penulis underrate dengan teknik menulis yang mengagumkan pada zamannya, meski ia penggemar Pram, namun ia mampu lepas dari teknik menulis Pram dengan gaya menulis dari gaya Dono sendiri, Salut, Cerdas, Bung!) – Dono Warkop DKI, Pengajar Sosiologi UI. [1 Minggu].

11) Bila Satpam Bercinta (Roman, Politik, Mahasiswa, Erotis, Sosial) – Dono Warkop DKI, Pengajar Sosiologi UI. [1 Minggu].

12) Dua Batang Ilalang – (Roman, Politik, Mahasiswa, Erotis, Sosial) – Dono Warkop DKI, Pengajar Sosiologi UI. [1 Minggu].

13) Senggol Kiri Senggol Kanan – (Roman, Politik, Mahasiswa, Erotis, Sosial) – Dono Warkop DKI, Pengajar Sosiologi UI. [1 Minggu, pinjam teman].

14) Syuga Derrida (Filsafat Prancis, seni, media massa, Koleksi Institut Francais—Jika Muhammad Al-Fayyadl menulis Derrida dengan sangat rapih dan terstruktur, Pak Em adalah kebalikannya, sangat chaos, jenaka dan tak tentu arah) – Emmanuel Subangun. [2 Minggu].

15) Du mariage considéré comme un des beaux-arts / Pernikahan Sebagai Seni Rupa (Bahasa Prancis, Filsafat, Pernikahan, Seni, Romantisisme—Bagi para pengagum kesetiaan dalam ikatan perkawinan, Koleksi Institut Francais) – Duet pasangan teromantis Prancis, Julia Kristeva & Philippe Sollers. [Target 2 bab, Tuntas, 1 Bulan].

16) Les prolégomènes / Mukadimmah (Bahasa Prancis, Sosial, Masyarakat, Koleksi Institut Francais—Zuckerberg menggunakan karya Ibnu Khaldun untuk memetakan masyarakat di dunia sosial media, dan saran bagi perintis amatir platform) – Ibn Khaldoun [Target 2 Bab, Tuntas, 1 Bulan].

17) Anatomy of a Winner (Olahraga, Chelsea, Filsafat, Strategi/Taktik, Motivasi) – Jose Mourinho [3 Bab, 1 bulan, tak tuntas, pinjam teman].

18) Soviet Literature Monthly (1961) (Bahasa Inggris, Sastra, Politik) – V. Azhayev & Nina Matveyeva. [3 essai, 2 minggu, tak tuntas].

19) German and the Germany (Bahasa Inggris, Ekonomi, Perang Dunia, Gaya Hidup, Seni, Pendidikan, Penelitian) – John Ardagh [2 Bulan].

20) The Red Pony (Bahasa Inggris, Roman, Cerita Anak, Sastra Amerika, Keluarga, Psikologi, Pertanian-Peternakan, Hubungan Anak Lelaki dan Ayahnya, Koleksi Pusat Pelatihan Bahasa UGM) – John Steinbeck [1 Bulan].

Tutup Buku.

Bacaan 2017:

1) Otobiografi Mohammad Hatta (Traveling, Politik, Ekonomi, Sejarah, Pendidikan) – Mohammad Hatta. (1 Bulan).

2) Teologi Negatif Ibnu Arabi (Filafat, Agama, Sejarah, Budaya) – Muhammad Al-Fayyadl. (1 Bulan).

3) Tulehu (Roman, Olahraga, Budaya) – Zen RS. (2 Minggu)

4) Tafsir Al-Misbah (Bahasa, Agama, Filsafat) – Prof. Quraish Shihab. (Hingga Sekarang)

5) Marseille, a sweet escape (Travelling, Perantauan, Bahasa, Budaya, Pendidikan) – Perhimpunan Pelajar Indonesia, Marseille-PACA, Marseille. (2 Minggu)

6) Cinta Adalah Kesunyian – trans. dan ed. Anton Kurnia. (2 Minggu).

7) Berbicara Agar Anak Mau Mendengar & Mendengar Agar Anak Mau Bicara / How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk (Parenting, Komunikasi, Pendidikan) – Adele Faber, Elaine Mazlish (1 bulan).

8) Seri Pemikiran Kristen: Kierkegaard – Peter Vardy. (2 Minggu).

9) Feu La Cendre (Bahasa Prancis, Filsafat Bahasa) – Jacques Derrida. (3 Bulan).

10) Father Sergius (Bahasa Inggris, Novella, Agama, Filsafat, Sastra) – Leo Tolstoy. (1 Bulan).

11) Town Musicians of Bremen (Bahasa Jerman, Cerita Anak, Musik, Seni) –  Hans Wilhelm (2 Bulan).

12) J’aime Lire: Kazue et Le Musicien (Bahasa Prancis, Cerita Anak, Musik, Seni) – Patricia Berreby. (1 Bulan.)

Tutup Buku.

The Rhyme of (Saint) Loco.

– Untuk budaya-budaya di Indonesia yang tak memiliki tradisi tulis dan terabaikan.

When the language formed… – Microphone Anthem, Rock Upon A Time (2004), Saint Loco. (1)

I’m desert desperate for fall of rai(n) / I’m a wound try to heal now can you cover this pai(n) / Just like a prodigal son running back to his fathe(r) / Like child that cry for the love of a mothe(r) – Fallin, Vision For Transition (2006), Saint Loco. (2)

Di atas adalah rima dari satu band nu metal/rapcore Indonesia yang pernah penulis dengar semasa era mengenakan seragam putih-abu. Ketertarikan pada Saint Loco hadir, setelah beberapa langkah mundur telah mencicipi sound dari Linkin park dan Limp Bizkit, dari turntables/keyboard/synthesizer/samples DJ Joe Hahn dan turntables/sampling/programming DJ Lethal, dan jauh sebelum mengenal sampling-sampling dari Beastie Boys, Public Enemy, Eminem, Homicide atau Thufail Al-Ghifari. Dalam rentang album pertama dan kedua pada 2004-6, akan ada masa yang cukup jauh bila dipijak dalam masa sekarang, 2018, puluhan tahun lebih.

Rima, dalam bahasa, adalah pengulangan bunyi yang berselang, dan mampu kita perpanjang dengan form-form dari rima yang lain seperti Rima Akhir Sempurna, Rima Akhir Tak Sempurna, Rima Akhir Ganda, Rima Akhir Ganda Tak Sempurna, Rima Awal, atau bahkan yang berhubungan dengan perkawinan antara matematika dan bahasa seperti Berdasar Algoritma Metaphone dan Berdasar Algoritma Soundex.

“Rima,” tutur kawan penulis di Prancis, yang melakukan penelitian digitalisasi naskah Lontar dari kebudayaan Bali, dan meminjam ungkapan Julia Kristeva, feminis keibuan, sebagai “revolusi dalam bahasa yang sangat puitik.” Seperti yang terlantun dalam lagu Fallin:

1) Sama seperti anak yang hilang dan berlari kembali ke ayahnya. 2) Seperti anak yang menangis untuk cinta seorang ibu.

Seperti bagaimana menghancurkan perspektif pertentang klaim ‘Para Ahli’ antara siapa yang lebih hebat antara dunia lisan ataupun dunia tulisan, dan membiarkan pengulangan-pengulangan bunyi (phone) mencari bentuknya sendiri, secara wajar, alamiah.

(1) Microphone Anthem – Saint Loco https://www.youtube.com/watch?v=Z7QwrwoKWQU

(2) Fallin – Saint Loco https://www.youtube.com/watch?v=ElwZWVdZZ5o

[] Tradisi Lisan https://www.ifi-id.com/id/event/undang-undang-otonomi-daerah-dan-penulisan-sejarah-di-indonesia-bagian-timur-oleh-genevieve-duggan

L’Agenda treizième jours. 21 Novembre 2018.

I grow up then, I come back home / It’s just me representin’ my microphone / When the language formed… – Microphone Anthem, Saint Loco [1].

Ce matin, j’ai lu sur la nouvelle de divorce d’un artiste en Indonésie. L’artiste et son partenaire affichent souvent une romance en devant de la société et en reseaux sociaux. Alors, la société a été choquée par le divorce du couple d’artistes. Ce que je peux apprendre de la nouvelle du divorce concerne la peau externe et la peau interne de la société des classes supérieures. Les artistes indonésiens, qui peuvent être classés dans la classe supérieure, ont toujours une peau extérieure éblouissante, mais qu’en est-il de la peau intérieure de la société des classes supérieures? Je pense que nous pourrions creuser à travers la romance d’Anna Karenina de Leo Tolstoï.

À l’âge de 20 ans, j’ai lu cette roman qui racontais la vie des nobles dans l’environnement de Tolstoï lui-même. Avec observation incisive, Tolstoï a utilisé le roman de la noblesse en Russie pour être affiché. En outre, Tolstoï avait également présenté des formes d’amour et j’étais plus heureux de l’amour idéal du prince Levin et de la princesse Kitty, qui préfèrent rester dans le village et devenir la paysan, ils avaient quitté leur noble caste et même s’ils restaient propriétaires. Comme mon traducteur préféré l’a écrit un jour, le frère de Pramoedya Ananta Toer, à savoir Koesalah S. Toer, c’est que le prince Levin est l’alter ego de Tolstoï lui-même. Avec ses compétences linguistiques, Tolstoï se mêle également à diverses cultures telles que la culture russe, la culture britannique, la culture française et la culture allemande.

Du divorce d’un artiste reconnu en Indonésie à l’affaire d’Anna Karenina, prince Vronsky et Prince Karenin, le mari d’Anna; et je pense qu’il a eu des relations qui ont eu lieu pendant la Première Guerre mondiale et qui ont été écrites par l’ambassadeur de France en Indonésie et l’ambassadeur d’Allemagne en Indonésie avec le titre «Honorer les morts, apprendre du passé et se réconcilier pour l’avenir (Honoring the dead, learning from the past and reconciling for the future)» dans le journal de The Jakarta Post [2]. Je souligne cette phrase:

Reconciliation is the precondition for stable relationships between nations; it is the only way to end the vicious circle of hate and revenge, resentment and extremism. Reconciliation is also crucial inside our societies, lest they breed aggressive ideologies. We should be aware of today’s dangers, like populism and nationalism, which are growing in many parts of the world.

Et,

An ancient and rather infamous proverb says “si vis pacem para bellum”–if you want peace, prepare for war. One hundred years after the end of World War I, we all should have learned our lesson, and know how deadly this notion can be.

Des deux phrases ci-dessus, J’ai essayé de prendre une position neutre dans laquelle je comprenais bien pour former des guerres dans le monde à partir du passé, J’ai dû être capable de comprendre la guerre en moi.

*

Pagi tadi, aku telah membaca tentang kabar perceraian dari seorang artis papan atas di Indonesia. Artis itu dan pasangannya sering menampilkan romantika di depan khalayak dan media sosial. Lalu, mereka digemparkan oleh perceraian dari pasangan artis itu. Apa yang bisa aku pelajari adalah tentang kulit luar dan kulit dalam dalam masyarakat kelas atas. Para artis Indonesia, yang bisa dikategorikan sebagai masyarakat kelas atas, selalu memiliki kulit luar yang mempesonakan, akan tetapi bagaimana dengan kulit dalam dari masyarakat kelas atas itu? Aku mengira bahwa kita bisa menggalinya melalui roman Anna Karenina dari Leo Tolstoy.

Pada umur 20 tahun, aku telah membaca roman itu, suatu roman yang menceritakan tentang bagaimana kehidupan bangsawan di lingkungan dari Tolstoy sendiri. Dengan observasi yang tajam, Tolstoy menggunakan roman kehidupan bangsawan di Rusia untuk ditampilkan. Selain itu, Tolstoy juga menghadirkan bentuk-bentuk cinta dan aku lebih senang dengan cinta ideal dari Pangeran Levin dan Puteri Kitty, yang memilih untuk tinggal di desa dan menjadi petani, meninggalkan kasta bangsawannya dan meskipun tetap sebagai tuan tanah. Seperti yang penah ditulis oleh penerjemah favoritku, adik dari Pramoedya Ananta Toer, yaitu Koesalah S. Toer, bahwa Pangeran Levin adalah alter ego dari Tolstoy itu sendiri. Bersama kemampuan bahasanya, Tolstoy juga meramu dengan berbagai kebudayaan seperti kebudayaan Rusia, kebudayaan Inggris, kebudayaan Prancis dan kebudayaan Jerman.

Dari perceraian seorang artis papan atas di Indonesia ke kasus relasi Anna Karenina, Pangeran Vronsky dan Pangeran Karenin, suami Anna; dan aku berpikir bahwa, itu memiliki suatu persamaan dengan relasi yang terjadi pada Perang Dunia I yang ditulis oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia dan Duta Besar Jerman untuk Indonesia yang berjudul ‘Honoring the dead, learning from the past and reconciling for the future’ di koran The Jakarta Post. Aku menggaris-bawahi frasa ini:

Reconciliation is the precondition for stable relationships between nations; it is the only way to end the vicious circle of hate and revenge, resentment and extremism. Reconciliation is also crucial inside our societies, lest they breed aggressive ideologies. We should be aware of today’s dangers, like populism and nationalism, which are growing in many parts of the world.

Dan,

An ancient and rather infamous proverb says “si vis pacem para bellum”–if you want peace, prepare for war. One hundred years after the end of World War I, we all should have learned our lesson, and know how deadly this notion can be.

Dari dua petikan di atas, aku mencoba untuk mengambil posisi netral yang mana aku berada dalam pemahaman untuk merumuskan perang-perang di dunia dari masa lalu, aku harus bisa memahami perang di dalam diriku sendiri.

[1] https://www.youtube.com/watch?v=jj4nT-MxcF4

[2] https://www.thejakartapost.com/academia/2018/11/12/honoring-the-dead-learning-from-the-past-and-reconciling-for-the-future.html

Kawan-Kawan Muda Hubungan Internasional, UGM.

-L’éducation, c’est la famille qui la donne ; l’instruction, c’est l’Etat qui la doit. [Pendidikan, adalah keluarga yang memberikannya; Instruksi, adalah Negara yang mengharuskannya] – Victor Hugo.

Senang rasanya melihat kawan-kawan muda seperjuangan dalam kelas bahasa Prancis meraih impiannya masing-masing, meskipun hanya dua tingkatan, sekitar enam bulan. Nadia (Cah Solo), Oka (Arek Surabaya) dan Mega (Anak Bekasi/Jakarta) adalah kawan-kawan muda dari Komahi FISIPOL UGM, mereka sangat aktif, daya serap bahasa mereka luar biasa. Saya yang lebih tua sekitar enam atau tujuh tahun benar-benar kepayahan meladeni semangat mereka. Mudahnya seperti ini, untuk proses pemahaman seperti menghafal rumus konjugasi bahasa, mereka hanya sekali, sementara saya harus dua kali.

Di dalam kelas itu, melalui sistem metode pedagogi, perbedaan terbungkus dalam persamaan, seperti kepala dengan isi keilmuan teknik sipil/arsitektur harus bertemu dengan kepala dengan isi keilmuan politik, kepala dengan isi keilmuan ekonomi, kepala dengan isi keilmuan sastra atau kepala dengan isi keilmuan seni. Rumus singkatnya: Teknik+Politik+Ekonomi+Sastra+Seni => Bahasa.

Semoga mereka masih menyimpan bara semangat untuk merantau ke Tanah Napoleon Bona dan Rong-Rong, yang memang unggul di ilmu-ilmu sosial; lain dengan Jerman yang unggul dalam Iptek.

Tangani Kasus Persekusi JAI Lombok Timur: bukan sekedar Menyapu Debu ke bawah Karpet – Oleh: Nadia Fausta Azhara (Peneliti Muda Setara Institute).

https://hakberagama.or.id/tangani-kasus-persekusi-jai-lombok-timur-bukan-sekedar-menyapu-debu-ke-bawah-karpet/?fbclid=IwAR2gfO1LL4C5R6QDgflclknKwxW3KQe-ac9RV0vWkARHZjobzUlp15snvac

Memahami Watak Air.

“Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia yang berhasil bersama-sama denganku pada tanggal 25 mei 1926 (24 Tahun) aku mendapat gelar “INGENIEUR”. Ijazahku dalam jurusan Teknik Sipil bahwa aku adalah spesialis dalam pekerjaan Jalan Raya dan Pengairan […] Aku berkeinginan untuk meneruskan universitas di Belanda karena biasanya seorang yang ingin sekolah Teknik pergi ke negeri Belanda […] Janganlah membuat otakmu menjadi perpustakaan, tetapi pakailah pengetahuannmu secara aktif”- Soekarno Muda ( Teknik Sipil di Technische Hoogeschool teBandoeng/ITB).

Penulis melihat video itu (1,2), video beberapa hari lalu di mana Malang Kota Bunga berubah nama dengan Malang Kota Banjir. Pemimpin Kota Malang, yang sangat penulis kagumi menjelaskan bahwa ketika hujan turun kurang/lebih selama 1 jam, dan mengatakan melalui lansiran beberapa media massa bahwa DAM air di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Irigasi yang berada di wilayah Ringin Asri tersumbat oleh sampah bambu milik masyarakat.

Pernyataan Pemimpin Kota Malang mungkin benar, namun dalam memahami suatu ‘peristiwa,’ dalam konteks bahasa, selalu mengandung kejadian-yang-belum-terjadi (avant/before) atau kejadian-yang-telah-terjadi (après/after). Kita imajinasikan bahwa kejadian bencana alam yang penulis lihat dalam video itu termasuk dalam kategori kejadian-yang-belum-terjadi (avant/before).

Pada masa kejadian-yang-belum-terjadi (avant/before), katakanlah, orang awam, yang mengenal Malang dengan benar, dalam artian cetak-biru baik dari sejarah hingga konstruksi arsitektur yang ada semacam Gereja-Masjid Alun-Alun, Stasiun Kotabaru Malang, Bangunan Tua Sekolah Menengah Atas favorit di Komplek Tugu (SMA 1, SMA 3 dan SMA 4), atau bunker di Ijen (4), telah memahami bahwa andaikan hujan turun dengan debit air yang tinggi, maka ada kesinambungan struktur geografi dengan daerah yang lebih tinggi, Kota Batu. Dalam pemetaan yang lain, secara pragmatis, orang Jakartakerap menyebut banjir dengan ‘kiriman dari Bogor,’ tepatnya air kiriman dari Bendung Katulampa, Bogor.

Setali tiga uang dengan kasus banjir kiriman Bogor-Jakarta, posisi Kota Malang masih saja belum aman apabila hanya mengandalkan dinas yang terkait untuk merekonstruksi kembali drainase Kota Malang—serta penambahan ruang hijau yang luas seperti hutan Malabar, seperti yang dikatakan walikota Surabaya, untuk menekan banjir sekaligus meminimalisasi dampak gempa (5)—sebagai kota yang nyaman bagi siapa pun, baik warga lokal maupun pendatang, dan satu hal yang paling penting berharap dan bekerja sama dengan Kota Batu, sebab menilik karakter elemen alam ciptaan-Nya, air yang mengalir dari tempat tinggi ke rendah, dari Kota Batu ke Kota Malang.

Dan penulis berharap–dan berdoa–agar kita semua dihindarkan dari bencana-bencana, satu rasa syukur yang tak ternilai.

Bacaan lanjut:

-Waterbouwkundige Constructies – Ir.J. Honing. /http://pustaka.pusair-pu.go.id/akasia/index.php?p=show_detail&id=326

-Menteng “Kota Taman” Pertama di Indonesia – Romo Adolf Heuken.

– Mesjid-mesjid tua di Jakarta – Romo Adolf Heuken.

– Gereja-gereja di Jakarta – Romo Adolf Heuken.

*

(1) https://www.youtube.com/watch?v=ejF57j-dFIg

(2) https://www.youtube.com/watch?v=Vg4eE9rQ-u4

(3) http://suryamalang.tribunnews.com/2018/12/10/penjelasan-walikota-malang-sutiaji-soal-banjir-di-kota-malang-singgung-soal-dam-di-umm

(4) https://radarmalang.id/pemkot-malang-radar-malang-napak-tilas-bunker-di-tengah-kota/

(5) http://www.satuharapan.com/read-detail/read/risma-buat-hutan-kota-untuk-tekan-banjir

[] Image https://www.tokopedia.com/sejarah/buku-belanda-klasik-jadul-lama-1950-waterbouwkundige-constructies

Anak Buruh.

-Naskah drama untuk Pak Revrisond Baswir dan Istri, dan kisah cinta dalam balutan perjuangan.

[Blackout]

Di satu universitas tertua. Awan mendung. Beberapa nampak para pelajar. Daun-daun bergerak. Mobil Peugeot (baca: pusyo) 206 warna biru dari mahasiswi kedokteran gigi, anak dari satu jajaran direksi tambang batu bara di Kalimantan, memarkir. Tak jauh dari parkiran, seorang anak buruh (1) yang sedang mengenyam pendidikan Ekonomi Kolonial, di universitas tempat para pemikir itu, mendapatkan telefon—telepati modern (2)—dari kekasihnya di luar kota, long distance relationship:

Kekasih Anak Buruh: Lagi di mana?

Anak Buruh: Seperti biasanya, habis ada kelas, lalu olahraga.

Kekasih Anak Buruh: Gak lelah?

Anak Buruh: Untukmu, tak ada kata lelah?

Kekasih Anak Buruh: Masak?

Anak Buruh: Tentu saja, aku mengorbankan diriku untukmu. Katanya kamu ingin ke pegunungan Jura, di Utara Alpen, yang melingkungi Prancis, Jerman dan Swiss.

[Hening]

Anak Buruh: [Melanjutkan] Halo, halo?

Kekasih Anak Buruh: Iya, iya, aku terharu mendengarnya. Tahu dari mana kalau aku suka Jura?

Anak Buruh: Bukannya kamu suka putar Jura dari band PG. Lost (3)?

Kekasih Anak Buruh: Ah, kamu sedetil itu memerhatikanku?

Anak Buruh: Tentu dong.

Kekasih Anak Buruh: Kamu pintar merayu sekarang, tapi aku suka.

[Tertawa]

[Blackout]

(1)Nanti saya bisa kerja sambil kuliah […] Kenapa harus khawatir dengan masa depan? – Revrisond Baswir, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM https://www.kompasiana.com/els-love/55101f66813311c82cbc6a0f/jalan-idealis-revrisond-baswir/ https://id.wikipedia.org/wiki/Revrisond_Baswir

(2) Telepati – Telepon http://isnaindriati.gurusiana.id/article/telepati-telepon-0 / https://id.innerself.com/content/personal/intuition-awareness/intuitive-awareness/8801-telephone-telepathy-can-be-influenced.html?fbclid=IwAR3J9lgCwDkF3JYiKEW7zOH4fC0hEzTDipORrXS99nSlHpdJR4KOlGNBy0s

(3) PG. Lost – Jura https://www.youtube.com/watch?v=CA_w_tZijoU

[] Adaptasi dialog satu naskah drama Republik reptil dan drama-drama lainnya – Radhar Panca Dahana (Balesastra Pustaka, 2010)

Aufklärung Bagi Kota Kecil?

Jika representasi suatu ‘Negara’ (hanya) ditujukan pada setiap ibukota, kota besar,—dengan segala problematikanya—dan dianggap sebagai jelmaan sukses atau tidaknya suatu ‘Negara’, walhasil tak ada apa yang disebut oleh filsuf Jerman, Immanuel Kant: Sapere Aude! (Beranilah Berpikir Sendiri) dalam abad Aufklärung, pencerahan, pada abad 18, yang didahului oleh abad Renaissance, pada abad ke 14 hingga abad 17.

Seperti halnya dalam konteks periode Islam dalam hijrah Nabi Saw, yang tak melulu harus terpusat pada Mekah, kita representasikan kota besar, sebab masih ada Madinah, kita representasikan kota kecil, yang justru menciptakan suatu ide besar seperti Piagam Madinah, piagam demokrasi yang bila seluruh umat Islam melaksanakannya akan tercapai satu kejayaan Islam yang baru dan tak selalu mendengungkan kejayaan Islam yang lampau:

Dengan piagam itu Rasulullah SAW menjamin bagi orang Nasrani hak-hak istimewa yang penting, keselamatan jiwa dan hartanya, dan larangan yang keras dengan hukuman yang berat bagi orang Islam yang melanggar dan yang tak mengindahkan aturan-aturan dalam piagam itu. Dengan piagam itu Rasulullah SAW mewajibkan dirinya, dan diserukannya kepada para pengikutnya supaya melindungi kaum Nasrani, menjaga gereja-gereja mereka dan biara-biara mereka. Tidaklah akan diletakkan kepada mereka beban pajak yang tak adil; tidaklah boleh mengusir bishop mereka dari daerahnya, tidaklah boleh memaksa orang Nasrani meninggalkan agamanya; tidaklah boleh mencegah seorang musafir agama dari tujuan tirakatnya; tidak boleh diruntuhkan atau diganti gereja untuk membina rumah-rumah atau masjid-masjid orang Islam. Wanita-wanita Nasrani yang bersuamikan orang-orang Islam dapat terus memeluk agama mereka masing-masing dan tak boleh diadakan paksaan atas mereka atau diperlakukan hal yang menyakitkan hati mereka karena agamanya. Kalau kaum Nasrani memerlukan bahan dan bantuan untuk memperbaiki gereja atau gedung-gedung kerahiban mereka, atau apa saja yang mengenai agama mereka, haruslah orang-orang Islam itu menolong mereka.

Piagam di atas ini, disamping hal-hal yang lain, menunjukkan dengan nyata sekali bahwa kebajikan seorang Muslim yang sejati ialah ruh toleransi bukan menjelma dari sifat pengecut atau takut, tetapi toleransi yang lahir dari keyakinan akan kebenaran yang ada pada dirinya. – M. Natsir dalam Pidato Mengenang Muhammad Iqbal, pengagum cum pengritisi Friedrich Nietzsche.

Di masa transisi gaya pacaran dari Rangga dan Cinta telah tergantikan dengan Dilan dan Milea inilah; Di masa kemiripan logo tangan dan bunga dari Partai (yang katanya) Solidaritas (di) Indonesia bersama para perempuan syantik yang independen dengan Partai Sosialis Prancis dengan perempuan cerdas dari Fleur Pellerin hingga Audrey Azoulay (1), lawan dari Partai Macron, Partai En Marche, sudah sepatutnya kota-kota kecil dari Madiun hingga Ngawi, di Jawa Timur, Indonesia, atau Rouen, Le Havre, Caen, dan Cherbourg-Octeville, di Normandia, Prancis utara yang berbatasan dengan Selat Inggris, meneriakkan kembali pada abad post-Aufklärung:

Sapere Aude! (Beranilah Berpikir Sendiri).

Ingat ya media Amerika, Prancis tak hanyaFaariiiis!

(1) Audrey Azoulay.

: Terinspirasi dari lagu Aufklärung – Children of Terror (Band Hardcore Malang).

: Image Twitter.