Barisan Paling Belakang.

Screenshot from 2018-08-30 00:55:58

Akhirnya aku menemukanmu / Saat ku bergelut dengan waktu – Hingga Ujung Waktu (album 07 Des), Sheila On 7, Band Legenda Yogyakarta.

Tami berdiri dan berada di barisan paling belakang di ruang pameran yang dipenuhi dengan fotografi beserta deskripsi foto tentang bangunan kuno, setelah dua menit lalu, gadis penggemar lagu The Cardigans itu, mendengar nama tunangannya Richie dipanggil oleh Prof. J, guru konstruksi bangunan dari tunangannya itu ke depan stage untuk memberikan pengalaman bagaimana usahanya menembus satu project untuk merasakan pengalaman bagaimana mempelajari konstruksi salah satu stadion di Luar Negeri, mengalahkan para tiga saingannya dari UK, dari Jepang, dan dari Malaysia. Dengan memegang mikrofon LD Systems D1011Condenser Vocal, ia sedikit menaikkan intonasi suaranya:

Apa yang telah saya capai sampai detik ini adalah berkat seorang perempuan yang berada di belakang, kata Richie, setelah menjelaskan bagaimana ia bisa menembus dan mengalahkan ketiga saingannya, dan kemudian menunjuk Tami, yang terkaget-kaget. Dan, bagaikan ratu sehari, semua mata tertuju pada Tami dalam ruang pameran itu. Tiga puluh detik kemudian, Richie menambahkan, awalnya saya tak tertarik mengikuti project ini, tapi perempuan yang di belakang anda sekalian itulah yang menyuruh saya untuk melakukan hal gila ini. Dan anda sekalian perlu tahu, bahwa saya sempat mengalami pressure yang tinggi untuk menyelesaikan planning saya tentang bagaimana stadion sepakbola memiliki satu tribun khusus untuk para penyandang cacat?

Tami tersenyum, mengingat kembali kejadian-kejadian gelap tunangannya itu, di ruang kerja Richie yang berantakan dipenuhi ratusan kertas milimeter. Tak hanya itu, bahkan selama dua minggu, Tami selalu melihat tunangannya dengan tatapan yang kosong. Perempuan itu terus berpikir bagaimana agar Richie-nya kembali merasakan gairah seperti saat kekasihnya itu membuatkan site plan untuk rumah kecil masa depan mereka. Dan pernah, pada satu hari dalam dua minggu itu, tangan lembut Tami menampar pipi Richie, hanya karena dia tak suka dengan rasa menyerah dari Richie saat itu. Mikrofon itu berpindah ke tangan kiri, dan melanjutkan intonasi suaranya:

Apa yang telah saya capai sampai detik ini adalah berkat ‘saudara jauh’ dari seorang perempuan yang berada di belakang itu, tambah Richie. Tepukan tangan pertama menggaungkan tepukan tangan yang lain sebagai penghormatan pada Tami, dan perempuan itu tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa tersenyum dengan wajah yang aneh untuk satu malam. Dan anda sekalian perlu tahu, kata Richie terdiam sejenak, dan melanjutkan, ide awal dari konsep project ini adalah ketika saya berkunjung ke rumah ‘saudara jauh’-nya dan melihat bagaimana kedua kakinya tak bisa bergerak dan harus duduk di kursi roda, dan ia begitu menyukai Ronny Pattinasarany (1), dan ada satu poster beserta tanda tangan dari pemain Indonesia era 70-an itu. Dan saya ingat kisah tentang Steven Gerrard yang hampir gagal jadi pemain sepakbola karena kaki cacatnya (2).

Tami tersenyum, mengingat kembali kejadian di mana Richie bersama saudara jauhnya yang berada di kursi roda, di taman belakang dan bercerita tentang sepakbola, dunia yang pernah diimpikan oleh Richie, namun jalan hidup tak mengijinkannya. Di balik jendela dapur, Tami menguping pembicaraan antara tunangannya dan saudara jauhnya. Dan yang membuat Tami bersyukur adalah memiliki Richie yang merupakan seorang dengan impian tinggi dan semangat meraih impian itu menular pada saudara jauhnya yang berada di kursi roda. Tami tak mampu lagi menahan air mata kebahagiaannya.

Dan yang terakhir kalinya, apa yang telah saya capai sampai detik ini adalah berkat kepercayaan pada apa yang disebut oleh potensi dan terus mengembangkannya sampai batas kelelahan paling maksimal, seperti ketika anda sekalian melihat di televisi di mana pada menit 90, dengan terengah-engah dan melihat papan skor, apapun hasil yang diperoleh, dan paling tidak, kita semua yang ada di ruang pameran ini, pernah merasakan bentuk-bentuk perjuangan, dari peluit pertama dibunyikan hingga peluit panjang berbunyi dan menyadarkan kita bahwa kita telah berjuang semaksimal mungkin. Terima kasih.

Tami melakukan tepuk tangan untuk pertama kalinya, dan seperti harapan yang baik, yang menghidupkan kehidupan, tepukan tangan itu berganda, berkali lipat, memenuhi ruangan.

(1) https://bola.kompas.com/read/2008/09/19/1958113/ronny.pattinasarany.kapten.yang.penuh.kasih

(2) https://lifebogger.com/steven-gerrard-childhood-story-plus-untold-biography-facts/

[] Teknik bercerita dan nama karakter Tami dan Richie dipinjam dari karakter utama film Adrift (2018) https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/sinopsis-film-adrift-drama-dari-kisah-nyata-tayang-1-agustus-2018/ ; https://en.wikipedia.org/wiki/Adrift_(2018_film)

Iklan

Johanna Rolland, Meneruskan Tradisi Perempuan di Tubuh Partai Sosialis Prancis?.

04Ijvh1X_400x400

Jika di Surabaya, ada sosok Tri Rismaharini, yang memadukan disiplin ilmu Arsitektur dan Manajemen Pembangunan Kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember; maka jika diizinkan untuk membuka peta dunia dan beralih ke salah satu kota di Prancis, tepatnya Nantes (baca: Nongs), hadir sosok pemimpin perempuan, Johanna Rolland (1), alumnus Sciences Po Lille dari Partai Sosialis. Rolland seakan menggenapkan tradisi perempuan dalam Partai Sosialis dari Najat Vallaud-Belkacem, alumnus Sciences Po (2), Aurélie Filippetti, alumnus École normale supérieure de lettres et sciences humaines (3), Fleur Pellerin, alumnus ESSEC Business School dan École nationale d’administration (4) hingga Ségolène Royal, alumnus Sciences Po (5) atau bahkan Anne Hidalgo, Jean Moulin University Lyon 3 (6). Dalam salah satu interviewnya, dia berujar:

Et Nantes est une des grandes villes françaises où s’inventent les transitions numérique, écologique, économique et démocratique. Je crois que le temps des maires uniquement bâtisseurs est derrière nous. […] Nous avons rassemblé chercheurs, start-up, associations, tiers-lieux, acteurs des quartiers populaires autour d’une question : comment mettre la transition numérique au service d’une société plus horizontale ? […] Nous appelons cela des « frictions créatives»]

[Dan Nantes adalah salah satu kota besar Prancis di mana transisi digital, ekologi, ekonomi dan demokrasi diciptakan. Aku percaya bahwa pada waktu para walikota membangun secara unik adalah dibelakang kita. […] Kami membawa bersama-sama para peneliti, start-up, asosiasi, ruang ketiga, para aktor dari wilayah populer mengitari satu pertanyaan: bagaimana membuat transisi digital melayani masyarakat yang lebih horisontal? […] Kami menyebut ini dengan ‘Friksi-Friksi yang Kreatif’] (7)

Penyataan Rolland mengingatkan pada, dalam sudut pandang yang lain, sosok Mona Nemmer, kepala gizi tim utama Liverpool, yang tak pernah terendus sorotan kamera, dibelakang Jurgen Klopp, seorang motivator ulung. (8)

Selamat menjalani kerja keras, para madame yang memukau.

[] Sepeda biclooPlus di Nantes di bawah Pimpinan Johanna Rolland, Walikota Nantes.

Guru Dalam Dunia Virtual.

Screenshot from 2018-08-26 02:57:30

– Untuk Berwin.

“Apa itu sebenarnya proses?”

Mungkin, kita tak pernah bertemu sebelumnya, namun dulu, tepatnya pada tahun 2012, ada seorang pemuda di usia 23 tahun, sedang mempertanyakan segala hal, termasuk eksistensi/ada-Nya. Kini, pemuda itu telah mendewasakan dirinya bersama pengalamannya dan pengalaman orang lain yang terus dipelajari untuk dijadikan perbaikan. Dan perjalanan itu, salah satunya, bersumber dari satu ‘Thread’ yang kau kelola dalam ‘Anda Bertanya Berwin Menjawab’ dalam situs forum komunitas maya yang bernama Kaskus.

Ada beberapa domain yang menarik dalam ‘Thread’ itu tentang sains, ekonomi, politik, agama, sejarah atau bahkan filsafat. Aku begitu mengagumi cara pandang rasionalmu tentang segalanya, dan terbersit dalam satu pikiran, “Apakah aku bisa sepintar dirimu?”

Dalam pertanyaan di atas, ada tanda berupa (?). Dalam ilmu linguistik, tanda (?) adalah suatu tanda yang mengacu pada ‘yes–no question’; sementara, dalam komunikasi atau jurnalistik, tanda (?) adalah suatu tanda yang mengacu pada ‘5W1H.’ Ini adalah dasar, dan dari tanda (?) segalanya bermula. Belajar tentang kosong, gelap, buruk, negative, bawah, dan lain halnya. Dari sekian banyak pertanyaan yang ditujukan padamu, ada yang menarik jika mengingat kembali tentang pertanyaan antara (tak) sempurna dan sempurna. Jika ditarik dari 2012 ke 2018, ada satu pertanyaan: “Apakah aku (telah) sempurna?”

“Apakah aku (telah) sempurna?” membawaku pada polemik lain. Tentang mencintai dan dicintai, tentu ini berbeda. Mencintai adalah memberikan cinta, sementara dicintai adalah menerima cinta. Ketika semua orang mencari yang-sempurna atau menginginkan-kesempurnaan, aku masih berkutat mempelajari tentang tanda (?) dalam ketak-sempurnaan yang pada suatu saat nanti, jika diperlukan oleh di luar diriku, akan menjadi sempurna, seperti yang kau katakan.

Apa kabar pemuda umur 23 tahun? Tanya lelaki umur 29 tahun dengan ketak-sempurnaannya.

Terima kasih, Berwin.

Le Week-End Avec Daoed Joesoef. (Akhir Pekan Bersama Daoed Joesoef.)

Screenshot from 2018-08-25 07:01:22

Akhir pekan, melanjutkan kembali pembacaan ulang (re-reading/re-lire) atas karya Emak dari Daoed Joesoef, untuk kali kedua. Bacaan yang sangat ringan namun memiliki bobot yang berat. Setiap kali hampir menyerah meraih impian, Emak dari Daoed Joesoef-lah yang memberikan spirit baru, warna terang. Membaca profil Daoed Joesoef seolah membaca jalur terjal yang berkelok-kelok. Di tengah gerbong arus Berkeley dari Prof. Widjojo Nitisastro, Ekonomi Universitas Indonesia/Universitas California, Berkeley, US, dan kawan-kawannya; Daoed Joesoef, Ekonomi Universitas Indonesia/Universite de Paris I, Pantheon-Sorbonne, Prancis, memilih jalur yang berbeda. Dan, sekali lagi, pelukis sketsa yang Islami namun mendapat pertentangan dari Muslim Indonesia (mungkin karena paham sekuler Prancis-nya) pada masanya itudan tentu saja mendapat pertentangan pula oleh yang tak menyukai CSIS (Centre for Strategic and International Studies) yang didirikannya pada masa Orde Barutetap kukuh di jalurnya. Dalam karyanya, “Emak” (Kompas, 2005) pada bab “Emak dan Cahaya,” Daoed Joesoef menulis:

Maka waktu bukanlah berupa sesuatu yang tak berdaya. Gerakannya pun tidak merupakan sekedar pengungkapan-pengungkapan kronologis tanpa maksud. Waktu adalah ritme internal dari sejarah yang muncul di antara dua kutub. Ia menunjukkan adanya permulaan. Yang esensial bukanlah apakah permulaan itu tetapi kenyataan bahwa permulaan itu ada. / Ia adalah ketika “dari mana” kita datang agar “terus melangkah ke depan”. Ia adalah ketika keyakinan membenarkan dan dan melahirkan harapan yang mengubah, baik saat-saat maupun semua peristiwa yang terjadi di dalamnya; mengubah semua itu menjadi ekspektasi yang sarat dengan makna. Maka itu saat-saat di sepanjang waktu adalah tahapan-tahapan dari suatu perjalanan ketika kita bereksodus dari kekinian menuju ke masa depan.

Sementara, dalam “Epilog” dari Emak:

Dia yang, di setiap langkah, tahap dan jenjang, membisikkanku pada harapan. […] Tiba-tiba pintu kamar studiku terbuka. Anakku masuk dengan muka berseri-seri, melompat-lompat menghampiri tempat dudukku sambil menyerahkan segenggam bunga rerumputan yang dipetiknya di hutan dekat taman bermain. “C’est pour toi papa chéri,” katanya dengan penuh kasih sambil mencium pipiku. […] “Maman a toujours raison,” begitu selalu bunyi komentar Yanti, anakku semata wayang, mengenai petunjuk yang diberikan oleh ibunya.

Tak hanya itu, pandai memainkan konteks adalah keahlian kawan dari pelukis Affandi ini. Ia lembut pada subjek di luar dirinya, namun sangat keras dalam dirinya seperti yang ditulis di Kompas, terlebih untuk perkara remeh, “menulis”:

Daoed sendiri merupakan seorang ekonom dan akademisi bidang ekonomi moneter. Ia pernah menjadi Kepala Departemen Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia. / Dengan latar belakangnya ini, pada tahun 1953, Daoed sempat ditawari untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia menggantikan Sjafruddin Prawiranegara. / Tawaran itu ditolaknya dengan alasan independensi. Menurut Daoed, dalam Harian Kompas, 8 Agustus 2016, ia tak akan lagi bebas dan menulis jika menjadi Gubernur BI. / “Saya menolak karena jika saya masuk BI, saya tidak lagi bebas menulis dan berpikir. Segala tulisan harus dikonsultasikan dengan atasan,” ujar Daoed saat itu. Ia lebih memilih tetap menjadi pendidik dan melanjutkan pendidikannya di Sorbonne, Paris. Pada 1964-1973, Daoed menempuh pendidikan di Sorbonne hingga meraih dua gelar doktor di Universite de Paris I, Pantheon-Sorbonne, Perancis. (1)

Ah, bon weekend, Monsieur. Tu me manques. Restez comme mon inspiration!

(1) https://nasional.kompas.com/read/2018/01/24/07182421/daoed-joesoef-dan-keteguhannya-berkontribusi-di-dunia-pendidikan; https://www.viva.co.id/cangkang/167480-daoed-joesoef-cerahkan-konteks-kebangsaan

Permainan 2 Kebenaran 1 Kebohongan Dalam Kelas Bahasa.

Screenshot from 2018-08-24 22:52:33

Menjadi seorang pengajar, khususnya bahasa, tidaklah mudah. Setiap murid/anak-anak memiliki karakter dan keunikannya masing-masing. Ada banyak cara untuk menebak/mengetahui karakter murid/anak-anak selain dari tulisan tangan, melalui mimik wajah, seperti ketika ia tertawa namun dalam lubuk hatinya ia sedih; atau, ketika ia menangis (bahagia atau terharu); atau bahkan dengan permainan seperti ‘2 Kebenaran 1 Kebohongan‘. Role model permainan ini cocok juga untuk seorang aktor/aktris atau dramawan/dramawati, bahkan murid/anak-anak yang tak mampu menyampaikan gagasannya atau memiliki rasa malu, untuk konteks bahasa asing.

Dalam satu kelas, saya diharuskan membuat 2 kalimat kebenaran dan 1 kebohongan secara mudah. Contoh:

1) Saya adalah orang Malang.
2) Saya pernah ambil A1 bahasa Jerman di UGM.
3) Saya pernah membaca karya Sastra Rusia Alexander Pushkin dalam bahasa Prancis.

Mana yang benar? Mana yang bohong?

Kawan-kawan saya harus memberikan clue, untuk menebak manakah di antara tiga kalimat itu yang terdapat 1 kebohongan. Semisal:

Si X: Kamu anak Sastra?
Saya: Enggak, saya anak dengan background teknik yang suka baca sastra.
Si X: ???

Si Y: Kalau kamu memang orang Malang, coba apa yang menarik dari Malang?
Saya: Arema. Bakso. Kopi. Bahasa Walikan.
Si Y: Kok benar, soalnya kakekku juga di Malang, lho?

Si Z: Sulit mana, bahasa Jerman, bahasa Prancis, atau bahasa Rusia?
Saya: Semua bahasa sulit karena punya sistemnya masing-masing, bahkan kalau mau jujur, bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling sulit.
Si Z: ???

Tak hanya clue, kita juga bisa terbantu dengan gestur tubuh, mimik wajah—cemas atau gelisah, tersenyum atau tertawa. Dalam kenyataannya:

1) Saya adalah orang Malang. (Benar)
2) Saya pernah ambil A1 bahasa Jerman di UGM. (Benar)
3) Saya pernah membaca karya Sastra Rusia Alexander Pushkin dalam bahasa Prancis. (Bohong)

Permainan ini cocok untuk mendalami karakter serta mengakrabkan hubungan antara ayah/ibu dan anak-anak. Selamat mencoba.

Negara Kejujuran.

Screenshot from 2018-08-24 09:56:06

Leiden is lijden (Memimpin adalah Menderita), Haji Agus Salim, Diplomat Indonesia dengan kemampuan tiga bahasa lebih.

Indonesia, Nak, sampai kapanpun adalah negara yang sangat calon bapakmu cintai. Namun, ada hal-hal yang menjijikkan dari Indonesia: Ketidak-jujuran para birokrat. Siapa yang akan mengenang kembali cerita sedih Hatta yang tak punya sepatu idaman dan tak bisa bayar listrik? Lupakan Indonesia hari ini, Nak.

O ya, calon bapakmu akan menceritakan tentang negara dengan tingkat kejujuran yang tinggi seperti Swiss (1). Sebelum kau tidur, ketika calon bapakmu dan beserta calon ibumu menemanimu untuk mengantarkanmu tidur dan ketika kau memegang sebuah atlas Eropa, maka calon bapakmu juga akan menceritakan tentang Swiss yang benci pada jam karet (2), patuh pada waktu. Satu hal yang calon bapakmu dan calon ibumu ajarkan nanti adalah: Kejujuran!

Dengan kejujuran, maka kita akan hidup nyaman. Bila tidak punya, ya tidak punya, dan bagaimana dicarikan cara (dan tentu saja yang jujur) agar kita berpunya dan itu dengan bekerja. Nanti bila sudah tahu apa itu benar dan salah, calon bapakmu akan mengajarkanmu juga cara memaki para koruptor: Jancok!

(1) https://travel.dream.co.id/destination/ini-negara-paling-jujur-di-dunia-barang-hilang-pasti-kembali-171211d.html

(2) https://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/08/160731_vert_tra_bangsa_swiss

[] Zumi Zola Jalani Sidang Kasus Korupsi, Diduga Terima Uang Rp 34,6 Miliar & 1 Unit Alphard.

Für eine Liebe (Untuk Suatu Cinta).

Abraham Kierkegaard

– Untuk masa muda saat membaca pertama kali buku Soren Kierkegaard, Fear and Trembling, namun tak tuntas.

– Reabsorbed on the peak of mountain / And reabsorb on the peak of mountain – Sinai (album Advaitic Songs, 2012), Om, American Heavy Metal/doom metal. (1, 2, 3, 4)

X, seorang lelaki, periset dari suatu universitas tentang arsitektur kuno, kembali menapaki jejaknya di gunung kecil (5) tak jauh dari kotanya yang dingin bersama dengan tunangannya, Y, seorang perempuan, seorang penulis tentang kuliner tradisional Nusantara. Dari sekian banyak gunung yang memiliki ketinggian di atas 1500 mdpl, namun justru gunung kecil dengan ketinggian 1604 mdpl itulah yang menyita perhatiannya. Meskipun hanya gunung kecil, namun memiliki track yang sangat sulit untuk dijejaki dan memiliki kemiringan yang luar biasa.

Pada pukul sebelas malam, disamping tenda The North Face Westwind 2 yang berkapasitas 2 orang (6), ketika Y sedang memasak sop dan membuatkan kopi, dia melihat kekasihnya terus-menerus menatap langit. Selang beberapa waktu, setelah segeranya siap, dia memanggil kekasihnya. X mengangguk dan berdiri. Desisan pohon-pohon pinus akibat persentuhan antara angin dan pohon dan menimbulkan bunyi mengiringi langkah lelaki 27 tahun itu. Dihadapan sop dan kopi, mereka lalu mengobrolkan banyak hal, hingga kemudian terjebak pada satu tema percakapan yang memiliki jawaban yang sulit untuk ditafsirkan.

“Sayang, dari tadi kau hanya melihat langit malam, apakah kau suka dengan bulan dan bintang?” tanya Y.

Sambil mengunyah makanannya, X membalas, “Aku lebih suka bulan, sebab ada satu hal yang selama ini tak pernah aku mengerti, pernah dengar cerita tentang Ibrahim dan Ismail di satu gunung?”

“Hm, ayah pernah menuturkannya padaku, memangnya kenapa?” tanya kembali pada X, sambil menatap mata tunangannya itu dalam-dalam.

“Ibrahim adalah persona yang luar biasa. Ia harus menanti puluhan tahun hanya untuk merindukan cinta (dengan c kecil) adanya seorang anak, Ismail. Tak hanya itu, setelah Ismail ada ujian yang lebih berat datang melalui perintah Langit, Cinta-Yang-Lain (dengan C Besar) untuk menyembelih Ismail dalam tradisi Islam. Aku membayangkan suatu saat nanti ketika aku kehilangan-kehilangan orang yang kukasihi, salah satunya adalah kau, yang memberikan warna pada hidupku setelah sekian tahun dalam kegelapan.”

“Kau berpikir sejauh itu, sayang?”

“Ya, sebelum bertemu denganmu, aku telah menyiapkan segalanya untuk menghadapi masa depan bersamamu dengan segala kemungkinan dan ketak-mungkinannya.”

Y tak bisa mengatakan apa-apa, hanya memandang tunangannya dengan kasih sayang, dan ada perasaan yang tak bisa dijelaskan, suatu metafisika yang hanya bisa dirasakan.

“Dan,” tambah X, “Ibrahim adalah seorang pencari, mencari Tuhannya melalui bulan, namun bukan; mencari Tuhannya melalui matahari, namun bukan; akhirnya ia, Ibrahim, menemukan cinta dan Cinta, melalui pencarian, penantian dan pengorbanan.”

Y tak bisa mengatakan apa-apa (lagi), hanya memandang tunangannya dengan kasih sayang (lagi), dan ada perasaan yang tak bisa dijelaskan (lagi), suatu metafisika yang hanya bisa dirasakan (lagi).

(1 https://genius.com/Om-band-sinai-lyrics, 2 https://en.wikipedia.org/wiki/Advaitic_Songs, 3 https://en.wikipedia.org/wiki/Om_(band), 4 https://www.youtube.com/watch?v=q93mV7gLecY)

(5 https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Panderman)

(6 http://camping-tent.ru/language/indonesian/index1768.html)

Pewaris Pemikiran.

20180820_142718a

思想とは我々の選ぶものを見せず、我々の好むものを見せる – te’, Japanese Math-Rock. (1, 2)

Bulan sabit di atas langit malam memancarkan cahayanya. Lalu lalang kendaraan tak seriuh pada siang hari. Sunyi, sangat sunyi. Namun, pada kesunyian itu, justru memberikan keriaan sendiri. Penulis tua itu duduk tekun, menatap satu akun dari media sosial milik penulis muda. Kedua bibirnya tersungging. Ketika kata demi kata milik penulis muda itu merangkai menjadi kalimat dalam tubuh-teks itu tentang pergolakan panjang sejarah, politik hingga budaya antara Jepang dan China yang tak berkesudahan dan baik Jepang dan China lupa bahwa ada satu kekuatan baru yang menjelma: Korea.

Penulis tua seakan terkejut melihat fakta itu. Bagaimana tanpa disadari oleh China dan Jepang, di era modern, Korea, menjelma sebagai satu rumpun yang tak bisa diremehkan. “Kita lihat apa jadinya kau di lima hingga sepuluh tahun mendatang, kawan muda,” gumamnya pada saat mata tuanya yang telah lelah itu membaca gerak-laju teks baik dari alinea, tanda baca, hingga nada yang tersimpan dalam kekuatan kata-kata, dan menariknya ia tak menganggap rival, melainkan kawan muda.

Deritan pintu kamar kerja berbunyi dan terbuka. Dalam balutan satin malam ber-V-Neck untuk tidur tanpa lengan dan berbahan katun, seorang perempuan, istrinya—yang telah setia untuk menemaninya sejak titik paling dasar nasibnya hingga kini saat ia berada di puncak setelah magnum opus-nya keluar di antara kritikus hingga pembacanya—membawakan segelas teh rosella, meletakkan di atas meja kerja, di samping sisa puntung rokok yang menggunung di tengah asbak berbahan kayu dengan ukiran Pa’salaqbi’ (3) di sisi luar asbak, setelahnya kedua tangan yang halus itu melingkar ke leher penulis tua dan bibir tebal istrinya mencium bagian belakang telinga sehingga menimbulkan gairah tersendiri. “Kau terlalu serius, sayang.”

“Serius untuk sesuatu yang menakjubkan, tak ada salahnya, kan?”

“Maksudmu? Aku tak paham?”

“Lihat ini,” penulis tua memiringkan laptopnya, perangkat keras yang telah menjadi kekasih ketiga di antara istri—dan kedua anaknya—dan buku, dan melihatkan satu akun media sosial dari penulis muda, “Aku selalu senang mengunjungi akun media sosialnya. Apakah kau tahu, aku melihat diriku yang muda dulu, sebelum bertemu denganmu.”

Bibir perempuan itu berpindah ke ubun-ubun penulis tua dan menciumnya dengan mesra, dan berkata: “Undanglah ia ke rumah jika kau tak sesibuk sekarang ini…”

“Semoga, ya semoga. Namun, tunggu dulu, kita lihat progresnya ke depan. Aku perlu mencari titik lemahnya untuk menguji mentalnya. Kau tahu, selama ini aku selalu ketakutan, ketakutan tak akan ada yang mewarisi segala apa yang telah aku mulai sejak aku mengalami masa-masa sulit. Namun, kini, dengannya, penulis muda ini, aku tak akan khawatir dan bisa hidup tenang bersamamu dan dua anak kita. Aku ingin memberikan tongkat estafet pemikiranku padanya suatu saat nanti.”

“Kau terlalu baik, sayang,” bisik istrinya—beserta desahan nafas yang mengundang hasrat lain—di telinga penulis tua, dan menambhakan, “Ingat tenagamu tak lagi sekuat penulis muda itu, jadi cepatlah istirahat. Aku menunggumu di bawah selimut kita, sayangku, cintaku.”

“Baiklah, aku segera menyusul.”

Pukul 02:30. Di bawah selimutnya dan dekapan istrinya ia masih terus memikirkan penulis muda itu, kawan mudanya yang mengingatkannya pada dirinya sewaktu muda dulu, sepuluh tahun yang lalu.

“Aku tak sabar bertemu denganmu, wahai pewaris pemikiranku.”

(1, 2) https://www.youtube.com/watch?v=y4T-_xE88bk; https://japanunderground.wordpress.com/tag/math-rock/

(3) https://www.kompasiana.com/heriyanto_rantelino/54f350857455139e2b6c70a4/mengenal-ragam-10-ukiran-toraja-dan-makna-filosofinya

Gerak.

continental-drift-theory-and-seafloor-spreading-16-638

– Wanshumî warzuqnî wa ‘âfinî minal-âfât(i) [Tolonglah aku dan berikan aku rezeki serta bebaskan aku dari bencana].

Setelah menikah selama tiga tahun, seorang kakak perempuan bagi adik lelakinya, seorang gadis kecil bagi ayah dan ibunya, yang telah menikah itu, selalu menyempatkan waktu dua kali selama setahun untuk mengunjungi pahlawannya, ayahnya yang semakin uzur. Subuh itu, kereta tiba di kota tercintanya. Untuk menghangatkan tubuhnya, dia pergi ke kedai dekat stasiun dan memesan secangkir kopi, sambil menanti adik lelakinya yang menjemput.

Lima belas menit, tujuh tegukan memangkas menit demi menit, hingga muncullah adik kesayangannya. “Kakak!” teriak adiknya sambil melambaikan tangan. Dia pun membalas lambaian sebagai tanda kasih sayang pada adiknya yang semakin dewasa. Kini, si adik lelaki telah berada di hadapan kakaknya. “Kamu aku pesankan juga ya?”

“Boleh, Kak.”

Tak lama pesanan datang. Dua bersaudara itu kini telah mengganti tema yang dulu sewaktu kecil hanya mengobrolkan tentang mainan kanak-kanak, namun, kini, mereka lebih meluaskan tema obrolan tentang apa saja.

“Dengar-dengar,” kata kakak perempuan pada adik lelakinya, dan melanjutkan, “kamu dekat lagi dengan Sintia, ya?”

“Kakak tahu dari siapa?”

“Kakak hanya menebak. Bisa dilihat dari bagaimana cara kamu ‘bergerak’ dengan menulis dalam postinganmu di media sosial. Lagiankan akukan kakakmu, jadi tahu apa yang kamu rasakan meski tak mengatakan. Dan tentu saja, aku ingat juga ingat kisah tentang daratan (atau gunung (1)) yang bergerak, yang ayah ceritakan saat kakak masih kecil.”

“Continental Drift (2), kan?”

“Lho, kok?”

“Ayah juga menceritakan padaku, ketika aku mulai berani bercerita tentang kisah ‘gerak-cinta’ku pada ayah dan ibu.”

“Kenapa ayah dan ibu nggak bilang? Ih, nyebelin deh!”

Kakak perempuan dan adik lelaki tertawa. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, alunan soundtrack ‘Waking Up’ dalam film ‘Lone Survivor’ dari Explosions In The Sky (3) terdengar dalam pemutar musik di mobil itu.

(1) Lihat karya Prof. Quraish Shihab yang menggali teks dalam Quran yang dikemas dalam kacamata ilmu pengetahuan tentang gunung yang bergerak beberapa sentimeter dalam karyanya Dia, Di mana-mana. https://www.goodreads.com/book/show/1929454.Dia_Di_Mana_Mana

(2) a) https://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/continental-drift/ ; b) https://id.wikipedia.org/wiki/Pergeseran_benua ; c) https://www.livescience.com/37529-continental-drift.html

(3) Lone Survivor – Explosions in the Sky – Waking Up https://www.youtube.com/watch?v=OVEvWju-9lw