Rendez-Vous avec NH. Dini.

img_20160928_234117

Sebelum menentukan baik buruknya orang, aku harus belajar mencari sebab dan alasannya serta berusaha untuk memahaminya – NH. Dini.

Bagaimana kriteria wanita yang ideal menurutmu? Kata seorang kawan. Aku terdiam, kemudian dengan pelan menjawab: Cantik. Demikianlah satu kata yang merangkum segala hal yang berkaitan dengan suatu keindahan yang lain, yang seringkali disebut dengan wanita, saat aku masih berseragam putih-abu atau memasuki masa-masa awal di salah satu perguruan tinggi di Malang. Namun, semakin lama berjalan ke depan, kata ‘Cantik’ menjadi semakin membiaskan artinya sendiri dalam kerangka pikir maskulinku. Kata ‘Cantik’ semakin memudar tatkala aku dihadapakan fakta bagaimana kata ‘Juang’ justru lebih cantik ketimbang kata ‘Cantik’ itu sendiri.

Kata ‘Juang’ dan ‘Wanita’ kudapatkan pada satu karakter di novel karya Fyodor Dostoevsky, seorang novelis Kristen Rusia yang ortodok, yang kukagumi, dalam ‘Hukuman dan Kejahatan’ melalui karakter bernama Sonia, seorang wanita yang dihadapkan pada posisi sulit dan harus melacurkan dirinya untuk menghidupi keluarganya. Sonia, wanita pelacur itulah, yang kemudian menyadarkan tokoh utama, Raskolnikov, yang telah membunuh seorang wanita lintah darat, untuk mengakui kesalahannya dan bersedia menanggung hukuman apa saja atas apa yang telah dilakukannya. Raskolnikov, pada akhirnya, menemukan suatu cahaya melalui cinta-kasih Sonia, meskipun wanita itu tenggelam dalam lumpur hidup yang kotor. Adalah bagaimana Sonia, yang kemudian membacakan suatu kisah tentang kebangkitan Lazarus dalam Injil dan kemudian menyadarkan pria yang mencintainya itu. Bagiku, Sonia memang tak meiliki kecantikan fisik, namun dia memiliki kecantikan lain di dalam hatinya, ketika dia harus mengorbankan dirinya untuk melacurkan diri demi keluarga, meskipun dalam hati kecilnya, tentu saja, dia menolak. Kecantikan lain dari Sonia, adalah ketika dia menyadarkan dan membuka pintu di ruang gelap dari Raskolnikov. Berangkat dari Sonia-lah kemudian aku mencoba untuk memahami figur-figur wanita lain seperti dalam dunia Islam ada nama Fatimah al-Fihri, seorang wanita yang mendirikan universitas pertama kali di Maroko, Universitas Al Karaouine (Al-Qarawiyyin), lalu Bunda Teresa, atau Raden Ajeng Kartini, bahkan figur lain dalam karakter Yu Saijem—yang punya kemiripan problematika dengan Sonia dalam dunia Dostoevsky—yang diciptakan oleh penulis NH. Dini, dalam satu cerita pendek dari antalogi cerita pendek bilingual Prancis-Indonesia yang dialih-bahasakan oleh Jacqueline Camus (Impertinentes Nouvelles, Collection du Banian).

Dan wanita memang dilahirkan untuk berdampingan dengan kata’ Cantik’ pada diri mereka, setiap pria harus mengakui itu. Namun, ke-cantik-an yang berada dalam sanubari dan berkat ke-cantik-an itu pula, seorang wanita kemudian menumpahkan air mata untuk setiap penderitaan orang lain yang dilihatnya, adalah kecantikan yang melampaui kecantikan itu sendiri.

*

Langit dan Bumi Sahabat Kami – NH. Dini.

Kami hanya makan nasi sekali sehari. Kadang-kadang bahkan tidak sama sekali. Dengan demikian Yu Kin dan Yu Saijem dapat mengirim makanan ke penjara secara teratur. Yu Kin bekerja. Meskipun gajinya tidak besar, dia mempunyai penghasilan yang bisa diharapkan setiap akhir bulan. Demikian pula ia mendapat pembagian beras.

Lain halnya dengan Yu Saijem. Lebih dari sekali, waktu pulang dari sekolah atau latihan tari, aku bertemu dengan dia bersama seorang laki-laki. Setiap kali bukan lelaki yang yang sama. Kadang-kadang keduanya duduk di pagar tembok di pinggir sungai, berbicara dengan asyiknya. Kadang-kadang pula keduanya baru turun dari becak. Atau kali lain, baru berangkat, keluar dari kampung. Kali lain lagi Yu Saijem berboncengan sepeda motor dengan laki-laki Cina yang memiliki toko di muka kampung. Semakin lama semakin seiring aku melihatnya bersama laki-laki berpakaian mentereng, yang sama sekali tidak kukenal sebagai penghuni daerah kami.

Pada suatu petang, aku keluar dari gedung latihan, berjalan hendak pulang melalui Pendrikan Selatan terus ke Bojong. Tiba-tiba ada mobil hitam berhenti di sampingku. Yu Saijem tertawa memanggilku sambil membuka pintu mobil. “Ayo, turut pulang.”

Tanpa menjawab atau berkata sesuatu pun, aku naik. Di depan aku duduk berdampingan dengan dia. Ragu-ragu, kulirik laki-laki yang sedang menyetir.

Jangan takut! Dia tidak akan menelanmu!” kata istri Kang Marjo sambil tertawa.

Aku sama sekali tidak takut. Aku bahkan tidak tahu mengapa dia mempunyai pikiran demikian. Kudengar Yu Saijem menerangkan kepada lelaki itu bahwa aku kemenakannya.

Kami turun di muka kampung. Aku berdiri agak menjauh di bawah pohon asam selagi Yu Saijem berbicara kepada kawannya. Lalu dia menggandengku untuk menyeberang dan menuju ke kampung kami.

Itu kawanmu?” tanyaku, sekaligus menyadari bahwa pertanyaan itu amat bodoh. Tentu saja itu kawannya. Kalau tidak, tentulah kami tidak akan bersamanya.

Ya. Cakap, bukan?”

Cakap sekali.”

Memang betul demikian. Aku tidak melihatnya ketika ia sedang berdiri. Tetapi wajahnya manis.

Sekarang banyak sekali kawan laki-lakimu,” kataku lagi.

Yu Saijem tertawa sambil menatapku.

Bagaimana kau mengetahuinya?”

Aku sering melihatmu naik becak dengan laki-laki. Atau goncengan dengan Cina di toko itu,” tanganku menunjuk ke seberang jalan yang baru kami lewati.

Ah, kau melihatku? Berapa kali?”

Sering kali.”

Setelah diam sebentar, dia berkata, “Memang itu semua kawanku,” Dia terdiam lagi tapi segera melanjutkan. “Aku tinggal bersama mereka selama satu atau dua jam, dibayar dan diantar pulang, atau diberi uang becak.”

Aku tidak mengerti maksudnya.

Kalian ke mana saja?” tanyaku.

Ke hotel atau ke rumahnya. Kau ingat keteranganku dulu kepadamu mengenai hubungan suami-istri? Nah, itulah kerjaku dengan laki-laki lain.”

Tapi mereka bukan suamimu. Suamimu ‘kan Kang Marjo!”

Suamiku Kang Marjo, betul. Tapi dia dipenjara! Dan aku perlu uang buat makan, buat mengirim makanan kepada dia di penjara. Aku tidak mempunyai kepandaian sesuatu pun. Tidak bisa bekerja apa-apa. Daripada mencuri, lebih baik tidur dengan laki-laki lain yang mau membayar.”

Waktu itu aku belum mengenal perkataan pelacuran. Aku juga tidak mengetahui larangan sesuatu agama yang menghukum laki-laki maupun perempuan yang melakukan hubungan akrab tanpa perkawinan. Tetapi hatiku yang hijau membetulkan dan menerima perbuatan Yu Saijem. Dia beralasan: daripada mencuri. Bagiku itu telah lebih dari cukup. Mengambil milik orang lain merupakan perbuatan yang amat hina di mataku. Lebih hina dari pada menjual diri. Pada umur yang masih sangat muda kala itu aku mengerti bahwa kehidupan tidak selalu penuh cahaya terang buat semua orang. Jika ada yang berbuat di luar kebiasaan tentulah dia mempunyai alasan. Sebelum menentukan baik buruknya orang, aku harus belajar mencari sebab dan alasannya serta berusaha untuk memahaminya.

Hari itu aku juga mengetahui dari Yu Saijem, bahwa kakakku Nugroho sedang belajar mencumbu perempuan. Apakah yang kurasakan di dalam hati ketika mendengar berita itu? Biasa saja. Tidak ada. Tidak ada rasa heran maupun terkejut. Aku menerimanya sebagaimana menerima kabar lain yang menjadi bagian dari kehidupan kami sehari-hari. Dan tanpa dipesan maupun dilarang, aku menyimpannya buat diri sendiri. Ataukah itu disebabkan karena aku tidak suka berbicara? Seandainya Maryam ada di dekatku, barangkali pengetahuan itu akan kubagi dengannya? Kukatakan itu sebagai pengetahuan, karena waktu itu aku memang betul-betul tidak menganggapnya sebagai rahasia.

Untuk selanjutnya, aku menjadi tempat penimbunan aduan maupun cerita hampir semua kejadian yang dialami Yu Saijem waktu bersama-sama dengan lelaki lain? Melalui pembicaraannya aku mulai melihat dunia pergaulan akrab antara laki-laki dan perempuan, dunia kehidupan yang barangkali kelak menungguku setelah dewasa. Karena sebagai anak wanita dari keluarga yang berpendidikan, kepalaku juga telah dipenuhi dengan ajaran: jika kelak kau kawin, jika kelak kau punya anak dan sebagainya lagi dan sebagainya lagi. Pada waktu itulah aku selalu menerima cerita-cerita Yu Saijem dengan penuh perhatian. Kuanggap sebagai serangkaian cerita yang sebenarnya, tidak berisi maksud maupun kehendak lain. Dan aku percaya, Yu Saijem memang tidak mempunyai kehendak tertentu selain memuaskan diri mengurangi beban hatinya.

Dengan gembira aku menjadi orang kepercayaan yang selalu siap sedia menampung luapan dadanya.

Gramedia 1988

Kawan mengetik teks NH. Dini:

1. Clouds are Gone now I can See the Sky, Clearly… – L’alphalpha (When We Awake, All Dreams Are Gone)

2. Septembre Et Ses Dernieres Pensees – Les Discrets (Septembre Et Ses Dernieres Pensees)

3. Heartbreak Warfare – John Mayer (Battle Studies)

4. Memory Of The Storm – Jan A.P. Kaczmarek (OST Hachiko)

Iklan

Fragmen-Fragmen Cinta Asmara dan Kasih.

nganeng-nganengi turang ateku ngena (untuk mempertahankan kasih sayangku) / ngayak-ngayak perik sipulah (seperti mengejar burung yang terbang bebas) / gia tading risona lanai ateku morah bayu (walaupun hanya tinggal kepedihan, aku sudah merelakanmu) – Ngarep gestung api bas lau; Indonesian Beauty; Viky Sianipar.

Mobil Daihatsu Taft-ku telah memasuki gapura megah dari sebuah perumahan. Ban mobilku melindas satu-satu jalan paving yang dulu tak pernah kulihat. Dengan kecepatan pelan, aku menikmati segala perubahan lingkungan di perumahan ini. Tujuanku adalah sebuah rumah di blok D. Kemudian aku melewati gundukan polisi tidur di depan blok A. Selang beberapa waktu gundukan Blok B dan Blok C telah kulewati. Semakin mendekati blok D, semakin degup jantungku bergetar dengan cepat. Sungguh aku tak pernah mengerti, mengapa aku menjadi gugup seperti ini. Bukankah kejadian itu telah lama sekali?, pikirku. Pelan-pelan aku memutar setir mobil ke arah kanan, dan masuk ke dalam blok D. dua rumah megah berwarna cokelat muda dan putih telah menyambutku, seperti sambutan kawan lama yang tak pernah bertemu. Semakin dekat dengan rumah yang kutuju, semakin aku terus bertanya-tanya: Akankah dia masih mengingatku? Akankah dia masih mengingat namaku: Mara.

Setelah semalam aku sampai di rumah pukul dua belas di rumah, dan pada pukul lima pagi aku terbangun, ketika si buah hati kecilku terus meronta-ronta untuk dibuatkan susu. Kini, waktu menunjukkan pukul tiga sore. Aku berada di rumah bersama ibu. Ayah dan suamiku sedang pergi ke luar untuk menyenangkan cucu dan anaknya. Sementara, aku di rumah bersama ibu, menyiapkan bahan masak untuk makan malam. Ibu bertanya kepadaku, bahwa selama di hidup di ibukota, apa saja yang aku masak untuk suami dan anakku. Aku menjawab dengan senyuman. Aduh Kasih, timpal ibu, pasti kau malas untuk memasak, ya, kan, lanjutnya.

Setelah melewati tiga rumah kanan-kiri, pada akhirnya aku sampai di depan rumah berwarna biru langit yang memiliki pagar berkayu dengan pernisan yang telah luntur, serta dinding-dinding bata yang diekspose agar terlihat artistik. Aku masih duduk di bangku mobil. Menghela nafas panjang, mengatur ketenangan. Dan, suara lain terdengar, bahwa aku datang untuk menemui seseorang yang telah kuanggap penting, Profesor. Amuri, seorang guru yang memberikanku semangat saat aku menempuh pendidikan sarjana dan magister, hingga akhirnya aku meneruskan program doktor di Belanda. Akan tetapi, selain Profesor Amuri, ada satu figur yang dulu pernah mewarnai hidupku, yang mana awalnya memberikan warna terang dan gelap. Sekali lagi, aku bernafas berat. Menguatkan mentalku untuk setidaknya bila bertemu dengannya. Lalu, aku mematikan mesin mobil, dan kemudian membuka pintu, dan setelah berdiri jejak, aku pun menutup pintu, dan berdiam diri.

Saat di dapur, ketka aku sedang mencari-cari bahan untuk memasak di lemari pendingin, di mana ibu meletakkan keju batangan dan bawang-bawang bombaynya, aku mendengar suara mobil di depan rumah. Kukira, suamiku, ayahku, serta anakku telah kembali. Namun, anehnya, aku tak mendengar pintu pagar terbuka. Tentu saja yang membuat keanehan bertambah adalah tak ada suara teriakan dari buah hatiku. Aneh, apa yang sedang terjadi. Lalu, aku segera menutup lemari pendingin sebelum aku benar-benar dapat menemukan di mana keju dan bawang bombay itu. Langkah-langkah kakiku, kupaksa untuk menuju ke depan rumah, guna melegakan rasa penasaranku. Saat aku berjalan meninggalkan dapur, melewati tangga, kemudian ibu muncul dari kamarnya, dan bertanya: Ada apa, Kasih? Sudah kau iris bawang bombaynya? Sambil berjalan, aku menjawab belum dan tak tahu di mana ibu meletakkan keju dan bawang bombaynya. Lalu, aku memberitahu ibu, bahwa aku mendengar suara mobil. Wajah ibu tertekuk ke dalam, seakan-akan ingin bertanya pada dirinya sendiri, benarkah ada suara mobil? Mengapa aku tak mendengar?

Selangkah memangkas selangkah, sedepa mengikis sedepa, hingga kini aku benar-benar di depan pintu pagar kayu yang memiliki aksen unik itu, sebuah pintu pagar yang empat…ah, tidak, enam tahun lalu telah kusinggahi berkali-kali. Rumah ini memang tak pernah berubah. Hanya ada tambahan sebuah kolam kecil dengan air yang mengucur dari belahan bambu yang memberikan suara ketenangan bagi penghuninya. Ah, ada lagi, terdapat suatu mezzanin di lantai dua yang diletakkan di luar ruangan, dan sungguh aneh menurutku. Profesor Amuri memang selalu punya konsep-konsep yang inkonvensional dalam selera design rumah. Kulihat pintu utama rumah terbuka. Dan kuharap yang muncul bukanlah dia, melainkan ayahnya, Profesor Amuri.

Coba lihat, Kasih, suruh ibu. Aku mengangguk dengan membenarkan helaian rambut depanku ke sela-sela telinga kanan dan membenarkan ikatan rambut belakangku. Ketika aku aku telah berada di tengah pintu yang terbuka, yang kulihat adalah adalah sebuah mobil Daihatsu Taft. Dan, perasaan anehku terus saja membara. Kufokuskan pandangan melalui kaca mobil, akan tetapi tak ada orang di dalam mobil itu. Pandangan mataku kemudian kuluaskan, dan saat aku menoleh ke sisi kiri, kulihat seorang pria berkacamata dengan memakai hem berkotak warna merah tua. Pria berkacamata itu bercambang tipis dengan potongan rambut bagian atas lebih panjang dari bagian sisi, dan di sisir ke bagian pinggir dengan akhir semi-matte. Setelah kuamati lebih dalam, seakan-akan aku mengenal wajah itu. Tapi siapa dia? Tanyaku pada diri sendiri. Aku tak segera menuju ke pagar untuk membuka, sebab aku terhanyut dalam pertanyaan yang aneh. Aku seperti kenal, tapi siapa? Tanyaku sekali lagi.

Saat aku ingin memencet bel yang berada di bawah nomor rumah, kemudian seorang wanita yang menggunakan celemek cokelat muncul. Rambut sebahu yang diikat kebelakang mengingatkanku kepadanya. Aku berdiri dalam diam. Pertanyaan muncul: Apakah itu Kasih? Jika ya, betapa manisnya dia sekarang. Tapi kenapa dia hanya tertegun tak bergerak? Lalu aku memberanikan diri untuk memencet bel, dan kuanggap tak ada siapapun, meski jelas wanita yang berdiri di pintu terbuka itu telah melihatku.

Saat bel yang berdering itu terdengar dan menggugah kesadaranku. Akhirnya aku bergerak perlahan-lahan menuju ke pria itu. Sesampainya di pagar rumah, dan kemudian tangan kananku membuka slot pengunci yang berada di bawah handle pagar. Dan pagar terbuka.

Wanita itu pun bergerak ke arahku. Dan kemudian buru-buru membuka pintu pagar. Dan pagar terbuka.

Mara! Seruku pada pria itu, tak pasti.

Kasih? Tanyaku pada wanita itu, tak tentu.

Aku membiarkan luapan kata-kata di dalam hatiku menyusun bentuknya sendiri: Ayah pernah berkata kepadaku, Mara, bahwa suatu ketika, di suatu hari, ada satu kesempatan yang membuat kita tak mampu menjelaskan apa yang terjadi. Seperti saat ini, saat di mana kemudian kau muncul kembali dihadapanku. Saat di mana masa yang panjang, yang telah berlalu, yang begitu memuakkanku, kemudian menjadi satu batas rindu. Mengapa, Mara, kau harus hadir di saat ketika aku telah berbahagia bersama yang lain. Mengapa kau harus ada untuk memunculkan kerinduan masa itu, kerinduan yang telah bertahun-tahun kutanggung sendiri, bahkan suamiku, orang yang kini telah melengkapi sebagian hidupku pun tak pernah tahu. Ketika setiap pasangan membangun cinta berdasarkan perbedaan, namun kenapa hanya kita yang menghancurkan cinta karena perbedaan. Kenapa cinta kita harus kalah pada tingkatan bibit, bobot, dan bebet.

Aku mencoba merangkai suatu ketak-pastian dalam diri: Aku memandang wajahmu, Kasih. Aku mengamati kedua bola matamu yang menatap bola mataku. Aku melihat gerak bibirmu yang padat dan manis itu. Aku tak mampu menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun kini kau telah tampak dewasa, tampak figur keibuan yang kau tampilkan dari kerutan-kerutan di bawah alis mata bagian bawah, namun entah kenapa kenangan mengajakku untuk membenarkan bahwa kaulah, Kasihku, enam tahun lalu. Anak dari seorang pendidik yang kuhormati dan mengajarkanku banyak hal. Namun aku tahu batas, Kasih, namun aku tahu kelas sosialku. Aku tak layak untuk menjadi pendampingmu. Aku tak tahu apa yang terjadi, apakah aku bisa bersamamu atau tidak, jika pada enam tahun lalu, saat aku mencoba memberitahu ibuku di desa tentang wanita pilihanku, bahwa kaulah seorang anak dari profesor yang membimbingku. Jangan macam-macam, kata ibu saat itu, kau harus tahu mengukur diri, kau adalah anak desa dari kota kecil yang mencoba merubah nasib di kota besar, sedang wanita pilihanmu adalah anak dari pembimbingmu, anak dari keluarga berpunya.

Sekali lagi, aku membiarkan luapan kata-kata di dalam hatiku menyusun bentuknya sendiri: Kulihat kedua matamu berkaca-kaca, Mara. Akuilah bahwa kau merindukanku selama ini. Aku masih ingat bagaimana kau datang pertama kali ke rumah ini, Mara. Aku tetap akan ingat bagaimana saat kau menjadi salah satu murid kesayangan ayah berkat ketekunanmu, kegigihanmu, dan perjuanganmu untuk menemaninya menuntaskan beberapa projectnya. Setiap hari kau berkunjung kemari. Dan intensitas, Mara, seperti sebuah benih yang kemudian menyuburkan tanaman yang bernama cinta itu. Aku mencintaimu karena ketekunanmu, kegigihanmu, dan perjuanganmu, dalam menghadapi keadaan-keadaan tersulit. Tapi, Mara, mengapa kau justru kalah pada keadaan dalam perbedaan dan cinta…

Aku mencoba merangkai suatu ketak-pastian yang lain, dalam diri: Kau tahu, Kasih, kau adalah semangatku saat itu. Kau seperti satu cekungan air yang dingin di tengah-tengah gurun pasir yang gersang. Kau tentu tahu bagaimana jika seorang merpati jantan harus berpisah dengan si betina; ia akan terbang tak tentu arah, tak memiliki tujuan, Kasih. Demikianlah aku selama beberapa tahun ketika aku mencoba untuk memahami semuanya; memahami bagaimana cinta suci kita yang tertindas dalam paradigma masyarakat bahwa seorang budak belian tak akan pernah mampu mendapatkan kasih seorang putri raja. Sungguh, andaikan kau tahu, bahwa, aku dihadapkan posisi yang sulit. Pada akhirnya, aku harus memilih dan resiko yang kutanggung sendiri, yang siapapun tak pernah mungkin mengerti.

Ah, maaf, Mara, aku…aku…

Kasih, aku pun…hanya…

Lalu aku menyuruh Mara untuk masuk, untuk menanti ayahku bersama menantu dan cucunya.

Ketika Kasih menyuruhku untuk masuk, aku menolak dengan santun, bahwa aku hanya mengantarkan buku karyaku, untuk ayahnya, Profesor Amuri.

Dan aku mencoba untuk menerima segalanya, menerima apa yang diberikan sang waktu. Dengan sedikit senyuman yang sejujurnya tampak dipaksakaan, aku menerima buku itu.

Setelah memberikan buku itu kepada Kasih, aku telah berada di dalam mobil Daihatsu Taft-ku. Aku duduk sejenak memandangnya dari dalam. Sungguh pun, aku ingin terus memandangnya seperti ini. Memandangnya dari sebuah jarak, seperti ini. Bersamaan dengan bergulirnya roda-roda ban mobilku, aku pun pergi meninggalkannya.

Ketika Mara telah pergi. Aku melihat buku karyanya. Namun, ada sesuatu ditengah-tengah buku itu. Kedua tanganku kemudian membelah bagian buku yang memiliki sedikit celah itu. Dan, aku melihat sebuah undangan pernikahan yang tertulis: Untuk Profesor. Amuri dan sekeluarga.

The New Noise

dsc_0316-1

But I play as a licensed football player / I’m a striker, or sometimes a right wing – Dennis Lyxzen

Image di atas adalah image dari sebuah kaos yang entah bagaimana aku mergartikannya. Kaos yang telah menemaniku selama tiga tahun (atau empat tahun?) itu adalah salah satu kaos import yang pertama kali kubeli dan satu dari dua kaos import yang masih bertahan hingga saat ini. Siapapun yang menyelam ke dunia skena underground, khususnya, Hardcore/Punk, Refused bukanlah nama yang asing. Band dari skena Umea Hardcore Swedia ini memberikan pengaruh yang tak sedikit, khususnya tentang kisah cinta antara literasi dan musikalitas. Memakai kaos usang dan warnanya pun telah pudar ini di antara dalam skena dari kawan-kawan musik dan di luar skena kawan-kawan musik, tentu saja punya value yang berbeda:

How can we expect anyone to listen,
If we using the same old voice.
We need New Noise.

New art for real people!

–New Noise, The New Noise Theology E.P. (1998)

Demikianlah lirikalitas yang termahsyur dari band yang, memakai istilah Jacques Derrida, ‘Mendekonstruksi pemahaman serta cara-pandang tentang musik, khususnya Hardcore/Punk itu.’

Tak hanya Refused yang mampu menggemakan ‘New Noise’-nya. Kemarin, aku mendatangi sebuah bedah buku bertemakan Sepakbola dari karya Zen RS, yang bertajuk, Simulakra Sepakbola. Kemudian aku membelinya. Pada pagi tadi, aku menyempatkan membaca tiga essainya. Kukira, seperti halnya ‘New Noise’ a la Refused, Zen pun punya ‘New Noise’-nya sendiri. ‘New Noise’ itu terlihat ketika penulis yang memberiku pengaruh besar dalam kegairahan untuk membaca literatur dalam segala tema itu, pada essai ‘Piala Dunia di Antara Musuh dan Lawan dalam Politik Indonesia’ (Simulakra Sepakbola, Indie Book Corner, 2016) mengurai pemikiran filsuf Prancis, Jean-Paul Sartre, yang pernah berkata bahwa di dalam sepakbola, segalanya menjadi lebih rumit dengan hadirnya kesebelasan lawan. Dalam penelaahan lebih dalam, Zen mengomparasikan antara politik di sistem demokrasi dengan tautan antara sepakbola dan kompetisi. Sepakbola, tulisnya, bisa dimainkan jika terdapat kedua kesebelasan yang bertanding. Bahkan, lawan adalah prasayarat mutlak untuk memainkan sepakbola, tak ada lawan tak ada pertandingan. Lawan, tambahnya lagi, bukanlah musuh yang mesti dimusnahkan dan lawan adalah syarat mutlak dalam kehidupan demokrasi. Apabila lawan politik dimusnahkan, maka demokrasi akan lenyap, dan hiduplah sistem totalitarian yang menginginkan kemusnahan lawan politik. Pada akhirnya, musuhlah yang layak dimusnahkan, dan lawan adalah kita.

Lain halnya di essai yang lain, ‘Kebahagiaan Sepakbola Agustusan’ (Simulakra Sepakbola, Indie Book Corner, 2016), di mana aku lebih terfokus pada tulisan dari ayah yang memiliki gadis kecil lucu yang kerapkali dipanggil, Dhaya itu, yang membedah konsep rite de passage dari Arnold van Gennep, ahli folklor dari Prancis, yang mana rite de passage, dalam penjabaran Zen, bahwa nomenklatur ilmu sosial perihal studi tentang kebudayaan pramodern adalah suatu tanda peralihan dari satu fase ke fase berikutnya dalam busur perjalanan manusia. Ahli foklor itu punya pernyataan menarik di sini, bahwa dalam pertumbuhannya sebagai individu, setiap manusia mengalami perubahan biologis dan lingkungan budayanya yang bisa mempengaruhi jiwa dan menimbulkan krisis mental untuk menghadapi tahap pertumbuhannya yang baru, maka setiap orang memerlukan semacam ‘Regenerasi’ semangat kehidupannya sendiri.

Desiran arah angin pemikiran segar dari Zen melalui Jean-Paul Sartre dan Arnold van Gennep, kemudian menggerakkan atau menggoyahkan daun-daun kata yang tersemat pohon pemikiranku yang terimajinasikan melalui lagu Oldfriend/New War milik Refused di Album terbarunya, Freedom. Daun-daun kata itu berupa ‘My’; ‘I’; ‘Our’; ‘Birth’; ‘Born’; ‘Head’; ‘Feed’; ‘Commit’; ‘Memory’; ‘Failures’; ‘Past’; ‘Crime’; ‘Time’; ‘Names’; ‘Identity’; ‘Soul’; ‘Free’; ‘Apologetic’; ‘Word’; ‘Constant’; ‘War’; dan ‘Inside.’

Oldfriend/New War dari Refused mengingatkan kembali pada suatu istilah yang sering kudengungkan dengan ‘Sejarah Diri,’ Sebuah rumah abstraksi yang terkadang memberikan nuansa menyenangkan, namun terkadang memberikan nuansa memilukan, tergantung bagaimana aku, yang memang dilahirkan dari kalangan kelas menengah, memilah dan memilih peristiwa-peristiwa—Peristiwa kecil atau besar yang sering hilir mudik seperti orang-orang yang hadir di depan pandanganku. Baru-baru ini, aku mulai membuka ruang sejarah diri itu lagi melalui frontman Refused, Dennis Lyxzen, lelaki tua yang selalu memegang mikrofon dengan enerjik itu, pernah melekat pada saat aku berumur dua-puluh-satu, saat-saat di mana mengajarkanku hal-ihwal mempelajari lingkungan di mana aku berdiri dengan pandangan mata disertai frame-frame tentang kehidupan sosial melalui penerjemahan disiplin ilmu sosiologi, ekonomi, bahkan psikologi, di kota kecil bernama Malang, di satu tongkrongan musik, di sebuah warung kopi, di satu pasar tradisional atau di sebuah tongkrongan yang lain, di sebuah perkampungan—Kotalama dan Lowokwaru. Yang mana kini aku merindukan suasana intim bersama orang-orang pasar dan orang-orang kampung yang punya semangat juang tinggi, yang mana semangat mereka kugunakan di tempat baruku, Yogyakarta, yang dikitari oleh kawan-kawan dan lingkungan yang memiliki pendidikan (serta kelas) yang berbeda.

Pada 8 Juli 2015, dalam situs Drowned In Sound [dot] com, melalui sebuah interview bersama Benjamin Blend, Dennis Lyxzen, eks-pemain bola yang menyukai posisi penyerang itu berkata: “Segala hal telah berubah dalam tujuh belas tahun bahwa kami jadi menjauh, namun kemiskinan dan orang-orang miskin tetap saja di bawah dalam kubangan lumpur. Ya, kau punya internet dan ekonomi global dan post-kapitalisme namun tak ada solusi bagi masalah-masalah itu […] Tentu saja, bersama Refused itu adalah hal aneh, karena sebelum kami menulis untuk crowd yang lebih kecil. Kami adalah ikan yang sedikit besar di kolam yang kecil, namun karena segala hal yang telah terjadi sejak kami menjadi seperti band rock besar yang aneh ini. Namun, itu tak mengubah kenyataan bahwa perlu untuk menulis dan menciptakan selalu faktor pengaruh (dominating). Kami adalah tipe orang-orang yang akan selalu menggunakan lirik dan ide-ide dibalik lagu-lagu yang sangat serius, dan berusaha membuat lirik dan ide-ide dibalik lagu-lagu yang sangat serius secerdas dan berlapis-lapis yang kemungkinan untuk kami buat.”

Dari Jean-Paul Sartre dan Arnold van Gennep, melalui Zen Rs, hal-ihwal lawan-musuh dan fase hidup. Dari Dennis Lyxzen, melalui Benjamin Blend, hal-ihwal perubahan, kemiskinan, faktor pengaruh, hingga lirik serta ide dalam lagu. Dari Malang dan Yogyakarta, melalui sejarah diriku, hal-ihwal mencerap semangat juang orang-orang pasar dan orang kampung yang selalu jatuh bangun dalam kungkungan sistem yang diciptakan oleh sebagian orang yang tak pernah memiliki empati-sosial (yang korup), hingga semangat juang untuk menemukan idea-idea baru di lingkungan akademik untuk mewujudkan mimpi (membuat sistem melalui imajinasi-teks) untuk menjadi lawan (bukan musuh) bagi sebagian orang yang tak pernah memiliki empati-sosial (yang korup).

Dan, menciptakan pemaknaan-pemaknaan ulang di antara prinsip kejujuran yang selalu didengungkan oleh seorang ibunda pada anak-anaknya; di antara sanak-saudara bagaimana menyiasati hidup dalam sirkular kebutuhan primer dan sekunder; di antara kawan-kawan yang menunduk lemas dihadapan sistem outsourcing; di antara bocah kecil bersama kawan-kawannya yang tak memiliki ruang hijau terbuka untuk menggelindingkan bola; di antara setiap tetes keringat dan kelelahan yang ditujukan untuk domain-domain seperti pendidikan dan kesehatan. Dan pemahaman tentang manusia bersama dengan apa yang dilakukannya telah menjadi satu mata pelajaran yang terpusat dalam pohon pemikiran.

Where We Begin (Dengan Sebuah Tanda Tanya)

where-we-begin

I’m just a tree who would seek all the possibilities to grow up in this bad condition.”- RPD

Pada pukul sebelas pagi tadi, aku menemukan sebuah kutipan dari Henri Mattise, salah satu pelukis Prancis. Kutipan itu tertulis seperti ini: “Il y a des fleurs partout pour qui veut bien les voir (Terdapat bunga-bunga (keindahan) di mana-mana untuk siapa yang ingin melihatnya.” Lalu aku memposting di salah satu media sosial yang lain. Bagiku, kutipan itu punya arti yang terlalu abstrak. Kata ‘des fleurs’ bisa berarti dengan ‘bunga-bunga’ atau lebih spesifiknya adalah ‘keindahan.’ Keindahan memiliki berbagai arah mata angin definisi untuk diterjemahkan ke dalam kepala siapa pun, dengan cara apa pun. Dalam tafsiranku, petikan itu mengatakan bahwa dari setiap hal yang kita anggap buruk, selalu menyimpan suatu bentuk keindahan—entah itu keindahan baik di dalam diri kita, atau di luar dari diri kita. Namun, dengan satu catatan, bahwa keindahan yang selalu mendapat impresi dari keburukan, tentu saja, tak mudah kita dapatkan. Kata ‘melihatnya’ harus aku samakan dengan kata lain, ‘mencarinya’, melalui suatu cara pandang ke suatu cara pandang yang lain.

Keindahan. Kemudian, setelah aku merumuskan kembali kata itu, aku membaca sebuah kejadian yang membuatku gemetar, suatu bencana alam yang terjadi di daerah Garut, di Jawa Barat. Bencana alam berupa banjir bandang menelan korban sekitar belasan hingga puluhan orang, bahkan dalam sebuah gambar lain, kulihat rumah-rumah yang ambruk. Garut hanyalah secuil dari berpuluh kejadian yang sebenarnya, jika ditelisik lebih mendalam adalah suatu kejadian yang diakibatkan oleh kita sendiri, manusia sendiri—aku, kau, dan tentu saja, kita. Lalu, pertanyaan-pertanyaan muncul:

(1) ‘Bagaimana aku memahami koridor keindahan ketika kedua bola mataku melihat kejadian yang tak aku inginkan, seperti rumah-rumah yang ambruk, mungkin?’

(2) ‘Haruskah aku menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi melalui kaca mata idea rasional yang telah kubangun?’

(3) ‘Tidak, aku tak berhak menyalahkan Tuhan. Akulah yang seharusnya menyalahkan diri sendiri, dengan alasan bahwa, mengapa aku terlambat melalui suatu batas kesadaran, bahwa alam, juga punya hukumnya sendiri. Dan, apa yang akan kulakukan setelah membaca—disertai kegelisahan—kejadian itu; membiasakannya laiknya aktivitas-aktivitas manusia lainnya seperti membaca novel berjam-jam, seperti bercinta di atas ranjang empuk selama tiga puluh menit, seperti memakan pop corn dengan menawarkan senyum kecut pada sebuah berita seorang tokoh politik tanpa idealisme (mengambil contoh, seperti idealisme kejujuran dari Mohammad Hatta) yang sedang berorasi atau kasus korupsi, atau seperti mengeluarkan uang beratus ribu untuk membeli sepatu gunung Adidas Goretex?

(4) ‘Atau justru melupakannya. Kemudian, kejadian tersebut terulang kembali di tahun-tahun yang akan datang, dan kemudian melupakannya sekali lagi, dan terjadi kembali, dan seterusnya?’

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan berbenturan dengan sangat cepat itu, kemudian membentuk suatu sintesa awal, suatu penyatuan awal dari hal-hal yang berbeda ke dalam bentuk satu keseluruhan, melalui serentet kata yang disusun secara reflektif dalam suatu akun—yang entah akun resmi atau tidakmilik Radhar Panca Dahana:

I’m just a tree who would seek all the possibilities to grow up in this bad condition.”

Dan dalam bahasa yang lebih universal, bahasa musik, Band Post-Rock Jepang, Mono, yang menuntunku pada satu lorong untuk memahami segala kejadian yang telah terjadi, melalui satu lagu mereka di album The Last Dawn: ‘Where We Begin.”dengan sebuah tanda tanya.

[1] Berita tentang Garut hari ini yang dilansir dari Kompas dan BBC Indonesia.

Rendez-Vous avec Leo Tolstoy et Le Petit Philip

Tak banyak yang tahu bahwa Leo Tolstoy adalah seorang humanis yang sangat dekat dengan dunia anak-anak juga. Tak banyak yang tahu bahwa di balik keseriusannya menganalisa kehidupan konflik batin tokoh-tokoh ciptaannya, Tolstoy juga menekuni kesederhanaan dan keluguan anak-anak […] Kecintaannya kepada dunia anak didorong oleh pemahamannya bahwa kebebasan, termasuk di dalamnya kebebasan berimajinasi dan berekspresi adalah hak setiap manusia, termasuk anak-anak. Institusi sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam keadaan tertentu seringkali menghilangkan kebebasan anak dan membelenggu keluasan imajinasi mereka. Ini yang ditentang oleh Tolstoy. Inilah yang kemudian mendorongnya menciptakan sebuah sekolah di mana anak-anak bisa bebas mengekspresikan masa kanak-kanaknya sesuai dengan jiwa mereka. […] Satu tempat yang tak bisa dilepaskan dari sosok Tolstoy dan dunia anak adalah Yasnaya Polyana—sebuah kota kecil di selatan Moskow, di situ terdapat rumah tinggal keluarga Tolstoy—yang menyimpan banyak cerita dan kenangan pengarang akan kecintaannya pada anak-anak. Betapa tidak, di kawasan yang rimbun dan teduh milik bangsawan ternama itu, anak-anak dari golongan budak diperbolehkan dengan leluasa bermain dan belajar di sekolah yang didirikan khusus untuk mereka. Sekolah ini didirikan pada tahun 1859 tepat dua tahun sebelum Pemerintahan Tsar Aleksandr II secara resmi menghapus sistem perbudakan (Krepostnoye Pravo) di Rusia pada tahun 1861. Kecintaan pada anak, diungkapkan dengan memberikan kebebasan mereka bermain dan menikmati dunia mereka sambil mendapatkan pelajaran yang berguna bagi mereka di masa depan. – Dunia Anak Dalam Pencarian Leo Tolstoy, A. Fahrurodji [1]

***

Si Kecil Filip Pergi Sekolah – Leo Tolstoy [2]

Ada seorang anak kecil, namanya Filip. Suatu kali, semua anak pergi ke sekolah. Filip mengambil topi dan ingin pergi juga. Tapi ibunya berkata:

Kamu mau ke mana, Filip?”

Ke sekolah.”

Kamu ‘kan masih kecil, Nak. Jangan dulu. Waktumu belum tiba. Nanti kalau umurmu sudah cukup, baru kamu sekolah,” demikian kata ibunya dan meninggalkannya di rumah.

Kakak-kakaknya dan anak-anak lain pergi ke sekolah. Ayah Filip sejak pagi sudah pergi ke hutan, dan ibunya juga pergi bekerja. Tinggallah Filip di rumah bersama nenek di dapur. Karena merasa bosan sendirian, sementara neneknya tertidur, Filip pun mencari-cari topinya. Karena tidak menemukan topinya, dia mengambil topi yang lain, yang sudah usang, milik ayahnya dan pergi ke sekolah.

Sekolah itu letaknya di belakang desa dekat gereja. Ketika Filip berjalan menyusuri pekarangan milik rumahnya, anjing-anjing tidak mengganggunya karena mereka sudah mengenali Filip. Tetapi ketika dia keluar melewati pekarangan rumah orang lain, meloncatlah anjing tetangga yang galak, bernama Zhucka dan mulai menyalak, sedang di belakang Zhucka seekor anjing yang lebih besar lagi bernama Volchok. Filip lari ketakutan dan anjing-anjing itu kian kencang mengejar. Lalu Filip berteriak, tersandung dan jatuh. Untunglah keluar seorang petani dari rumahnya, mengusir anjing-anjing itu dan berkata: “Kamu mau ke mana, Nak, berlari-lari sendirian?”

Filip tidak berkata apa-apa, segera bangkit berdiri lalu terus berlari dengan sepenuh hati menuju sekolah. Di pelataran sekolah tidak ada siapa-siapa, di dalam kelas bergemuruh suara anak-anak. Filip mulai takut: bagaimana jika guru mengusirnya? Lalu ia mulai berpikir, mencari akal apa yang bisa dilakukannya. Kalau ia kembali pulang, anjing-anjing tadi itu sudah menunggu dan akan menerkamnya. Tetapi kalau ia nekat masuk ruang kelas, dia takut pada guru sekolah. Jangan-jangan galak juga.

Di depan sekolah lewat seorang nenek membawa ember. Melihat Filip berdiri kebingungan, ia menyapanya dengan berkata:

Semua anak sedang belajar, kamu sedang apa berdiri di situ?”

Filip pun malu, maka segera saja ia masuk ke ruangan kelas. Ia membuka topinya dan membuka pintu. Kelas sudah penuh dengan anak-anak. Semuanya berteriak-teriak. Gurunya dengan syal berwarna merah mondar-mandir di tengah-tengah.

Kamu kenapa?” sapa Bu Guru kepada Filip. Filip memegangi topinya dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Kamu siapa?,” sapa Bu Guru ramah mengulangi sekali lagi. Tapi Filip tetap diam.

Atau kamu bisu?” Si kecil Filip begitu ketakutan, sehingga tidak dapat berkata-kata.

Ya sudah, Nak, pulanglah kalau kamu tidak mau bicara.”

Filip sebenarnya senang jika bisa mengatakan, bahwa tenggorokannya kering karena ketakutan. Dia memandang Bu Guru dan mulai menangis. Bu Guru itu lalu merasa kasihan kepadanya. Dia mengusap-usap kepala Filip dan bertanya kepada anak-anak: “Siapa yang kenal anak kecil ini?”

Itu Filip, adiknya Kostyushka, dia sudah lama ingin masuk ke sekolah, tapi ibunya tidak mengijinkan, lalu ia pergi diam-diam ke sekolah.”

Kalau begitu, duduklah di meja di belakang kakakmu, ya Nak ya, nanti Bu Guru akan minta ijin pada ibumu, agar membolehkan kamu sekolah.”

Bu Guru mulai menunjukkan kepada Filip huruf-huruf, dan Filip sedikit-sedikit sudah mengetahuinya dan belajar membaca.

Coba kamu eja nama kamu.”

Ef-i-fi-el-i-ep-lip,” Filip mengeja dan yang lainnya mulai tertawa.

Hebat,” kata Bu Guru. “Siapa yang mengajarimu membaca?”

Filip dengan berani berkata: “Kostyushka. Saya anak pemberani, saya bisa mengerti semuanya dengan cepat. Saya begitu tangkas!”

Guru tersenyum dan berkata: “Kalau berdoa, kamu bisa?”

Bisa,” jawab Filip dan mulai memohon kepada Tuhan, tapi setiap kata sebenarnya tidak seperti itu. Guru menghentikannya dan berkata: “Kamu jangan memuji diri dulu, tapi belajarlah.”

Sejak saat itu Filip mulai pergi ke sekolah dengan anak-anak yang lain.

***

[1] A. Fahrurodji adalah alumnus Jurusan Sejarah Kesusasteraan Rusia Abad XX Fakultas Filologi, Lomonosov Moscow State University, Rusia. Saat ini bekerja di Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, menggeluti bidang penerjemahan Rusia, sastra dan kajian ke-Rusia-an.

[2] Dialih-bahasakan oleh Fitri Nuryati dari Rusia-Indonesia (Penerbit Granit, 2004).

Cover Buku Anak dan Ketak-Mungkinan Yang Menjadi Kemungkinan Itu Sendiri.

– Untukmu dan anak-anak Indonesia beserta impian mereka.

Menyelam ke dunia anak-anak memang tak pernah mudah. Matahari yang jelas berwarna kuning-orange bagi orang dewasa, bisa dibalikkan menjadi biru, atau ungu, bahkan hijau, pada dunia khayalan anak-anak. Suatu simbolisasi ketak-mungkinan yang, pada akhirnya, menjadi kemungkinan itu sendiri. Dan, dunia anak-anak, khayalannya khususnya, sekali lagi, mengajarkan bagaimana menghidupkan yang tak-mungkin menjadi mungkin, pada impian atau cita yang dulu pernah dirancang oleh orang dewasa, namun kemudian meredup, semakin buram, bahkan hampir lenyap.

Ada yang menarik saat terserap oleh cover buku anak karya penulis Jerman, Hans Wilhelm, dalam bahasa Prancis dan bahasa ibu si penulis, bahasa Jerman. Kemudian, pikiran melanglang jauh kebelakang, mencubit kesadaran dari arkeologi diri ketika simbok (baca: Ibunda), yang saat itu menjadi ibu muda cum guru bahasa asing di satu Taman Kanak-Kanak, membelikan buku bahasa asing pertama, Ensiklopedia Charlie Brown, pada bocah lanangnya (baca: Aku) yang bandelnya bukan main.

Cover buku anak-anak dari Hans Wilhelm yang kini ditatap bocah lanang ini, seperti ingin bertutur: “Dan (I)buku yang mengajarkan pada ia yang membentuk bakatnya sendiri, membentuk potensinya sendiri, tanpa silau pada mereka yang diberikan bakat alam namun enggan mengasah; seperti perwujudan yang menawan dari ibu(ku) yang muda, yang terus-menerus membuka lembaran ketulusan, tak henti-hentinya mendaraskan lembaran kesabaran, dan belajar tentang makna kasih sayang pada si buah hatinya. Dan proses, dalam naungan segurat senyuman dan tumpahan air mata adalah semangat-semangat yang menari dalam zona pertumbuhan bakat, dalam area perkembangan potensi: dalam tatanan bentuk dunia yang sering dilafalkan dengan nama, Cinta.”

Rendez-Vous avec Sitor Situmorang.

img_20160915_190559

Seorang profesor berumur sekitar enam-puluh tahunan berdiri di dalam kelas di sekitar tahun 2007, ketika di semester awal, saat aku masuk ke dalam kelas mata kuliah Technical English untuk disiplin ilmu Civil Engineering. Masih kuingat benar bagaimana ia kemudian bertanya kepadaku dan kawan-kawanku saat itu, “Siapakah di antara kalian yang tahu, siapa yang mendesain monumen tugu kota Malang?” Semua mahasiswa terdiam, termasuk aku. Namun, beberapa saat kemudian, pria enam-puluh tahunan tersebut berkata ditengah-tengah ruang kelas, “Bung Karno!” Sejak itulah aku mengetahui bahwa Soekarno, adalah seorang arsitek dari Civil Engineering di Technische Hoogeshool te Bandoeng (ITB). Berangkat dari persona Soekarno, beberapa tahun kemudian bertaut dengan domain-domain lain antara wacana Islam, Politik, Marxisme, hingga Tjokroaminoto dan tentu saja, Sitor Situmorang.

Untuk nama dalam deret terakhir itu, seperti diketahui bagi yang akrab dengan kesusasteraan Indonesia; Sitor situmorang adalah sastrawan kelahiran Sumatera Utara yang mengisi warna pengarang generasi 45, sezaman dengan Chairil Anwar, Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer, Utuy T. Sontani, M. Balfas, Mochtar Lubis, dan pengarang wanita seperti Ida Nasution dan S. Rukiah. Tentu saja ada banyak pengarang yang tak terdokumentasikan di zaman tersebut. Siapapun yang mengenal Sitor dengan baik, maka telah mengetahui dengan pasti bahwa di akhir tahun lima puluhan, ia berada di samping Soekarno sebagai juru bicara—jika tepat.

Gelora masa muda yang terlalu terpukau dengan para pengarang Eropa, membuat nama sastrawan keturunan Batak itu pun lenyap. Namun, ia menyentak kembali, tatkala beberapa penulis saat ini dalam akun media sosial mereka mengucapkan bela sungkawa untuk kepergiannya pada 20 Desember 2014 di usianya yang ke sembilan-puluh-satu. Pasca meninggalnya sang sastrawan yang lebih akrab disebut penyair itu, kemudian membawaku untuk membuka satu tempat bersanding dengan para persona yang lain. Penyair yang melekat dan tak bisa dipisahkan dari Albert Camus dan Paris ini, menghantam kerendah-dirianku, dan seakan menyuruhku untuk menemukan keberanianku sendiri yang kupelajari dari tulisannya dan kuberi tanda dengan garis berwarna merah:

Rasa, pikiran, dan bentuk menyatu lewat tindak menulis.”

Atau,

Saya menulis! Mungkin menghadapi sebuah meja, atau hanya menghadapi secarik kertas, yang tertumpang di atas sebuah map di pangkuan. Semuanya sekedar persyaratan fisik yang minimal sifatnya. Tapi yang terpenting: keadaan yang memungkinkan konsentrasi optimal, tanpa diganggu apa dan siapa pun, tanpa diusik oleh kesan dan pikiran yang menyimpang, berada dalam splendid-isolation […] Sekali konsentrasi telah tercapai dan terhujam kepada hakikat ide, proses bertumbuh di bawah sadar, tangan mulai menulis.”

Bahkan,

Saya mendapat ilham untuk menerjemahkan sajak ‘Saijah dan Adinda’ dari Max Havelaar dan tentu saja ke dalam…bahasa Batak. Ada dorongan batin; sajak terjemahan selesai. Membacanya saya merasakan tindakan mengalihbahasakan itu sebagai sesuatu yang menggembirakan; disertai timbulnya kesadaran pada diri saya akan sesuatu kecenderungan, sesuatu bakat barangkali, disertai perasaan kaharuan mencipta (ulang) sesuatu […] Apa yang kemudian terjadi dengan terjemahan itu, saya tidak tahu lagi.”

Dan baru-baru ini aku bertemu dengannya kembali melalui antalogi cerita pendek. Salju Di Paris (Grasindo, 1994), yang dieditori oleh Pamusuk Erneste. Dalam antalogi tersebut di bagi menjadi dua bagian, bagian pertama dengan setting luar negeri; sementara di bagian dua, dengan setting ke-Indonesia-an. Awalnya aku ingin sekali mengetikkan cerita utama, Salju Di Paris. Seberapa pun ia dekat dengan iklim intelektual di Paris, namun tetap saja Sitor adalah Indonesia yang mengagumkan. Dengan alasan itulah, aku berpaling ke cerita pendek yang lain, suatu cerita penutup yang berjudul, Pangeran, dengan setting Yogyakarta, tempat di mana mematangkan potensiku saat ini. Bagi yang tak terbiasa dengan gaya bahasa pengarang 45, tentu akan sangat sulit untuk menikmati segi alur cerita dalam cerita pendek, Pangeran, yang dalam drama bisa dikategorikan dalam ‘alur terbuka’, yang tak memiliki kejelasan atau kepastian dalam ending cerita. Dan, menikmati karya Sitor adalah bagaimana memahami serta mempelajari untuk membuat suatu karya yang tanpa pretensi, tanpa tekanan. Mengalir, dan mengalir.

Terbersitlah keinginan untuk mengunjungi tanah kelahiranmu di Sumatera, menikmati panoramanya, sambil membaca cerita-cerita pendekmu, yang mungkin telah dilupakan oleh generasi muda dari bangsamu ini. Senantiasa bahagia di surga, Opa Sitor.

*

Pangeran – Sitor Situmorang [*]

Menjelang pukul 6 sore, ketika senja, suatu waktu yang baik untuk bertamu di tempat itu. Sebuah rumah dengan pekarangan luas yang letaknya tinggi dari jalan besar, jalan paling luas yang mengitari kota Yogya menghadap timur. Di seberang jalan terbentang sawah menghijau dan samar tepi langit. Dapat diduga puncak gunung berapi dalam keluasan.

Pangeran, tuan rumah, telah menanti di pekarangan bersama istrinya duduk di atas kursi rotan. Ia kusebut Pangeran atas kehendak sendiri.

Pangeran berdiri dan menjemput saya dengan tangan diulurkan. Setentang gerbang semak berbunga, istrinya menyongsong pula.

Suasana senja memperkuat kekhususan kesan yang kuperoleh dari keseluruhannya. Cara orang menyambut saya, bentuk rumah dan pekarangan. Pekarangan dengan rumput yang terpelihara ditumbuhi tanam-tanaman yang biasa, seakan-akan tidak sengaja: pohon kelapa, jeruk, mangga berantara jarak yang membiarkan kelapangan seperti dalam kebun bunga, tapi tanpa bunga-bunga.

Kami ada kebun sayur di sudut sana,” kata Pangeran, “dikerjakan oleh orang numpang.”

Rumah serta pekarangannya yang luas adalah warisan.

Di sudut dekat gerbang pekarangan ada menara sembahyang, tempat bersamadi, yang menghadap ke barat laut. Mungkin arah ke Mekah, mungkin arah ke puncak Gunung Merapi.”

Kami berbicara tentang kebangsawanan.

Hanya dapat dikenang sekilas,” kataku, “lebih dari sekilas, mengganggu. Zaman ini zaman lain.”

Pangeran mempertahankan diri terhadap keduanya. Terhadap kebangsawanannya dan terhadap zaman sekarang melalui titik sempit dari kesadaran akan kenisbian.

Saya mengerti tarikan mistik. Saya hanya suka mistikus yang juga manusia berbuat,” kataku.

Saya bersandar kepada suasana dan seperti raja istirahat mempermainkan keinginan hati.

Pangeran tersenyum.

Kataku, “Kalau bukan manusia berbuat, ia bukan mistikus.”

Kami makan berdua. Dilayani oleh anaknya yang laki-laki dan satu-satunya.

Pangeran di antara pangeran, kata sahibulhikayat dan waktu malam meningkat ada yang pukul gender di pendopo.

Kamar kami duduk dan makan berisi perabot dan barang-barang tembikar Tiongkok yang indah. Warna terutama hitam, emas, dan merah. Semua terisi sedang perabotnya jarang, lanjutan dari kelapangan alam liar di luar.

Istrinya entah ke mana.

Tinggal lelaki antara lelaki.

[*] Dalam catatan lain dari B. Rahmanto bahwa cerita pendek Pangeran ini diterbitkan pada periode antara tahun 50-an dan 60-an, yang kini sangat sukar ditemukan lagi.

14 September 2016, Gejayan-Affandi, Yogyakarta.

Daras, Hutan Pinus, dan Seorang Pria Yang Bertanya Tentang Bahagia.

 

– Untuk pria tua yang kutemui dan telah menceritakan serta memberikan pengalaman hidupnya kepadaku di Stasiun Tugu Yogyakarta, beberapa minggu menjelang Hari Raya Idul Fitri, yang lalu.

Seminggu yang lalu, selama empat hari, aku pergi ke ibukota untuk mengisi program tentang penerjemahan dan linguistik bahasa di sebuah institut di Jakarta Selatan, bersama para penulis serta pelaku literasi yang lain dari berbagai daerah. Selama itu pula, aku meninggalkan kedua bidadariku, Daras dan istriku, di rumah kecil yang merindukan itu, beserta isinya seperti dua kelinci milik gadis berponi Chiko dan Kala, atau kaset-kaset dari penyanyi dan band tahun ’90-an. Namun untunglah, rindu yang muncul segera teratasi berkat teknologi melalui video call. Pada saat telekomunikasi itu berlangsung, Daras, yang berada di kantor istriku, seringkali menggodaku dengan mengatakan: ‘Ayah, aku lupa memberikan makan Chiko dan Kala’; atau, ‘Ayah, aku malas mengerjakan pekerjaan rumah.’ Namun, setelah aku tanyakan kepada istriku, ternyata hanya ulah usil dari dua bidadari itu agar aku selalu rindu rumah. Dan pada saat telekomunikasi yang ketiga, gadis kecil itu menangis dan segera memintaku untuk pulang. Ya, kataku saat itu, lalu kuberi iming-iming hadiah. Akan tetapi, yang membuatku terkejut, dia menolak hadiah pemberianku. Lalu, aku mencoba sesuatu yang belum pernah Daras lakukan. Hutan Pinus, sodorku kemudian. Lalu, ketertarikan gadis kecil berponi itu memuncak. Dia banyak bertanya tentang apa saja yang ada di hutan pinus itu. Aku hanya menjawab secara umum, dan kutawarkan bagaimana bila kita berdua pergi ke hutan tersebut.

Benar, Yah. Asyiiik! Cepat pulang, Yah. Main ke hutan.”

Demikianlah, dan hari ini, aku melihat si gadis kecil berponi menari-nari ditengah-tengah pohon-pohon yang menjulang tinggi. Suara-suara muncul dari gesekan antara satu pinus dengan pinus yang lain karena terpaan angin telah menemaninya, seperti sahabat. Gadis kecil berponi itu terus menari tanpa henti dan kemudian berlari mengitari pinus-pinus yang menjulang tinggi. Kaki-kaki kecilnya yang terbungkus dalam flat shoes kuning kemudian berhenti. Angin menggoyangkan poni rambutnya, saat dia memandang kagum pada tempat di mana dia sekarang berdiri. Kedua bola mata kecil menangkap hal-hal baru. Dia, Daras, puteri kecilku, seakan tak mampu mengungkapkan apa yang telah dirasakannya.

Sebagai anak perkotaan, anak dari kaum urban yang meninggalkan kota kecilnya menuju ke salah satu kota besar untuk mengais rezeki, Daras selalu ditampakkan oleh situasional-situasional yang telah tercipta diantara keluh-kesah, umpatan, tawa, tangis, dari orang-orang urban yang selalu berjuang untuk tetap bertahan hidup dari kelas sosial manapun, di tengah tempat yang sebenarnya bukanlah tempat ideal bagi mereka.

Inilah hari di mana, untuk kali pertamanya, aku mengajak gadis kecilku menikmati panorama alam, suatu tempat yang tujuh tahun tak pernah kurasakan lagi. Semenjak Daras memekikkan teriakan tangisnya pertama ke dunia, semenjak beban menjadi seorang suami serta ayah diemban, semenjak peristiwa-peristiwa ganjil selalu mengintai tanpa pernah mampu diterka, semenjak aku tak mampu mencari sedikit celah-celah untuk merasakan dinginnya angin yang menyapu kulitku hingga seluruh badanku gemetaran; hal-hal temporer itulah yang tak mengijinkanku untuk merasakan lagi menikmati secangkir kopi bersama beberapa kawan dengan membicarakan musik, atau kehidupan, atau melontarkan lelucon-lelucon ringan.

Sungguhpun, aku bersyukur kepada si pemilik hidup, karena telah diberikan satu momen yang mungkin akan membekas selama bertahun-tahun diingatanku dan diingatan gadis kecil berponi yang tengah merasakan atmosfer ke-antusias-an untuk pengalaman barunya.

Aku membiarkan gadis kecilku untuk bergerak bebas ke mana pun yang dia inginkan: dia pergi ke beberapa orang yang memasang Hammock berwarna ungu, orange, biru langit dan kuning, yang disusun secara vertikal ke atas ditengah-tengah dua pinus, di tengah-tengah hutan pinus ini. Kemudian, setelah kejenuhan dirasakannya, gerak langkah mungil kemudian menuju ke sebuah tenda-tenda yang didirikan oleh beberapa orang; saat itu, aku tak pernah tahu apa yang ada dalam alam pikirannya, tenda-tenda itu hanya mampu dia rasakan melalui salah satu buku ceritanya, dan kini, dia benar-benar melihat dengan mata-kepalanya sendiri. Kulihat dia berputar-putar mengelilingi tenda-tenda itu; sekali lagi, aku tak tahu pasti apa yang ada dalam alam pikiran kecilnya, mungkinkah dia terus bertanya, mengapa ada rumah yang sekecil ini? Mengapa rumah kecil ini tak ada toilet, kamar, ruang tamu, dan tempat-tempat di mana sering ditempati di rumah? Pintu tenda yang terbuka dan tak berpenghuni itu menambah ketertarikannya. Perlahan-lahan dia mendekati pintu tenda, berjongkok, dan melongok ke dalam; mengamati barang-barang yang ada di dalam tenda itu.

Selang beberapa waktu kemudian, datang si pemilik tenda, seorang pria dan seorang wanita. Pria itu mengenakan jaket berwarna biru langit dan topi jaring, sementara si wanita mengenakan jaket biru gelap dengan rambut terikat ke belakang. Mereka berdiri di belakang Daras yang berjongkok, dan tersenyum melihat tingkah lucu dari puteriku tersebut.

Dari jarak tiga meter, aku mampu menangkap kejadian serta percakapan yang dilakukan dua orang dewasa itu bersama puteriku.

Kau suka dengan tenda kami, gadis kecil,” kata si wanita.

Daras terkejut mendengar suara itu. Awalnya, dia akan cepat-cepat pergi karena kedapatan sedang melihat tenda itu. Namun berkat aktivitas-aktivitas di luar sekolah seperti belajar menari tarian tradisional di minggu sore; kuajak pergi melihat konser-konser musik di venue yang kecil seperti auditorium; diajak ibunya yang sedang bermain snorkling di laut dan bertemu dengan anak-anak nelayan dan bermain bersama; diajak oleh Kakek Poh–salah satu tetua di perumahan tempatku berdiam, salah satu kawanku dalam memperdebatkan sekaligus membicarakan hal-hal spiritual, serta menjadi guru mengaji Daras—pergi ke pasar tradisional; membuat rasa rendah-diri gadis kecilku itu mulai terkikis sedikit demi sedikit, dan bertumbuhlah rasa keberanian, meskipun ada situasi-situasi yang masih saja rasa rendah diri itu tak mampu dia hilangkan.

Daras terdiam sejenak, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu namun tak mampu.

Kau ingin masuk ke dalam dan merasakannya?” lanjut si wanita.

Ini rumah tante?” tanya Daras.

Mendengar kata ‘rumah’ si pria tertawa, dan berkata kepada si wanita: “Kau tahu, Jen, dia lucu sekali.”

Wanita yang dipanggil ‘Jen’ itu mengangguk dan tertawa.

Apakah kau ingin masuk ke dalam rumah milik tante dan memakan sedikit cokelat?” tanya kembali wanita itu.

Mendengar kata cokelat, Daras segera melihat ke arahku. Aku hanya mengangguk dari kejauhan. Kemudian, si pria memandang ke arahku.

Saat gadis kecil masuk ke dalam tenda bersama si wanita jaket biru gelap, pria jaket biru langit segera mendekatiku, ia berjalan dengan tubuh yang kokoh serta memegang rokok di tangan kirinya.

Dua langkah tepat dihadapanku, ia menyodorkan tangannya, dan mengucapkan salam persahabatan kepadaku. Aku, tak ragu lagi untuk menerima perkenalan hangatnya. Dan kemudian saat aku duduk di sebuah kayu—benda itu dipotong menjadi setengah bagian dan ditempatkan di sela dua pohon pinus tinggi, guna dijadikan tempat duduk—maka kugeser tubuhku ke samping kiri, untuk memberikannya tempat. “Silakan,” kataku.

Ia duduk dan terus menerus menghirup batang rokoknya. Tak lama, ia mengeluarkan satu pack rokok dan menawariku. Aku menolak dengan halus, karena aku juga mengatongi satu pack rokok. Awalnya, tak ada yang berani untuk memulai pembicaraan. Kedua mata kami melihat Daras dan wanita berjaket biru gelap sedang bercanda di dalam tenda dan memakan cokelat.

Tentu dia wanita yang berarti bagimu, kan?” tanyaku, tanpa basa-basi.

Mendengar pertanyaan yang kusodorkan kepadanya, ia terhenyak, dan diam adalah jawaban yang diberikan kepadaku. Namun, setelah hirupan batang rokok yang terakhir kali, dan kemudian batang rokok itu ia buang ke tanah, dan diinjaknya dengan sepatu gunung itu, ia lalu berkata:

Aku tak tahu mengapa kau menyodorkan pertanyaan itu kepadaku, namun akan kujawab: tentu saja, ia sangat berarti bagiku. Sebab dua bulan lagi adalah pernikahan kami.”

Oya!” aku terkejut, kukira awalnya mereka telah mengikat sumpah suci, dan aku meneruskan, “selamat, kawan. Selamat!”

Tapi?”

Aku mendesaknya dengan mengernyitkan dahi. “Tapi!?”

Tapi aku takut bila tak mampu membahagiakannya. Apakah kau juga bahagia?”

Kulihat nuansa kesedihan menggelayutinya. Dan aku tersenyum.

Kau…Tersenyum?”

Aku menjawab dengan memandang pecahan-pecahan langit yang terhalang oleh pinus-pinus tinggi yang menjulang, gumpalan awan-awan bergerak lambat. “Kau mengingatkan saat aku masih muda, kawan?”

Benarkah?” tanyanya, dan ia tampak antusias mendengarkan pernyataanku. “Cobalah, kawan. Cobalah ceritakan tentang pengalamanmu kepadaku jika diperbolehkan. Aku benar-benar senang mempelajari pengalaman orang lain.”

Lalu, jika aku telah menceritakan pengalamanku. Apa kau juga akan menceritakan tentang pengalamanmu?” tantangku. Ia terdiam untuk kesekian kalinya. Roman wajahnya menyimpan satu sejarah diri yang benar-benar tertutup rapat. “Baiklah,” kataku selanjutnya, “Kau tak perlu bercerita tentang apapun. Kau mau menjadi pendengarku, itu sudah seperti kau memberikan kepadaku sesuatu yang bernilai, sebab di era modern ini, orang-orang terlalu takut untuk menceritakan apa yang telah ia alami kepada orang asing, namun aku tidak. Kawan, dua tahun sebelum aku melangsungkan sumpah suciku dengan ibunya—aku menunjuk ke Daras. Aku dihadapakan posisi yang sulit sebagai seorang suami. Karena aku seorang penerjemah, dan jalan hidupku yang telah kupilih adalah bersama buku, serta aku hidup di masyarakat yang memiliki budaya peminat baca yang rendah. Dan hantu-hantu pertanyaan mucul, seperti, lalu bagaimana aku mampu menghidupi istriku? Bagaimana aku mampu menyekolahkan anakku nanti? Bagaimana bila aku tak mampu membahagiakan istri dan anakku, apabila budaya membaca masyarakat ini rendah? Salahkah aku memilih impianku menjadi seorang penerjemah? Semua pertanyaan itu kurangkum di dalam kepalaku sendirian. Dan kau tahu, kawan, aku hampir menjadi gila. Untunglah, aku memiliki istri yang mendukung total dengan apa yang menjadi pilihanku. Pada saat hampir mendekati pernikahan, pertanyaan-pertanyaan itu, khususnya hal-ihwal bahagia, terus menjadi hantu-hantu bagiku. Setelah menikah, dan di tahun pertama pernikahan, hal-ihwal bahagia masih menjadi hantu-hantu bagiku. Dan sedikit demi sedikit, dalam dua tahun di pernikahan kami, buku terjemahanku laku di pasaran. Namun, sekali lagi, hal-ihwal bahagia masih menjadi hantu-hantu bagiku. Pada suatu ketika, di suatu tempat yang mendukung untuk membicarakan segala hal, aku bertanya pada istriku, apakah dia akan bahagia bila bersamaku. Kau tahu apa yang dijawabnya?”

Pria berjaket biru langit hanya menggeleng mendengar ceritaku. Sambil memandangku dengan intens, ia mengeluarkan sebatang rokok dan ditempatkan di sudut bibirnya. Tangan kanannya meraih pemantik api dan menyalakannya. Angin-angin menerbangkan asap yang berbaur dengan debu dan menghambur ke segala arah.

Kau, kata istriku, terlalu memikirkan kebahagiaan. Pada saat itu, kawan, aku tersentak. Aku tak tahu apa yang dimaksudnya. Namun, dia dengan caranya mencoba meredam segala ketakutanku, dan dia berkata, jika aku terlalu fokus memikirkan kebahagiaan, maka aku akan terjebak ke sebuah dunia yang tak akan tercapai. Maksudnya, istriku mengatakan bahwa jika aku ingin membahagiakannya adalah aku harus mencari cara, atau metode, atau suatu jalan untuk mencapai kebahagiaan itu. Dan cara, metode, jalan, bisa dimiliki oleh siapapun, baik orang pasar atau bahkan konglomerat sekalipun. Coba, lihatlah sekelilingmu, lihat pinus-pinus ini, mereka adalah kebahagiaan-kebahagiaan bagi orang kota sepertiku, mungkin juga sepertimu, yang berhari-hari dihajar polusi, aktivitas, gedung, dan lain sebagainya. Pinus-pinus ini adalah kebahagiaan sederhana di mana aku, kau, puteriku, atau bahkan calon istrimu, dapat menikmatinya. Dan, pada suatu ketika, akan ada sesuatu hal atau seseorang yang akan menghancurkan kebahagiaanmu ini, pinus-pinus ini, dengan keinginan personalnya. Oleh sebab itu, kita harus memiliki cara, atau metode, bahkan jalan, untuk menjaga kebahagiaan ini, pinus-pinus ini. Dan caraku adalah mengajak puteriku untuk mencintai, menjaga, merawat, apa yang telah disediakan oleh Sang Pencipta. Karena generasi dari puteriku akan punya persoalannya sendiri di zamannya.”

Kau? Kau…Berpikir sejauh itu?”

Demi kebahagiaan puteriku, sejauh apapun pandangan seseorang tanpa melakukannya, toh, juga percuma.”

Si wanita berjaket biru gelap kemudian ke luar dari tenda, dan berteriak: “Sayang! Kemarilah, ajak dia menikmati kopi.”

Yah, sini!” kata Daras melambaikan tangannya.

Baiklah!” kata pria didepanku, kepada calon istrinya, dan menghadapku, dan berkata. “Kawan, aku tak tahu apakah ini yang disebut hal kebetulan atau hal yang telah ditentukan. Namun, saat ini, setelah mendengarkan pengalamanmu, aku seakan memiliki suatu kepercayaan diri. Sebagai balasannya, bolehkah kubuatkan secangkir kopi untukmu.”

Aku tersenyum. “Dengan senang hati.”

Kami berdua kemudian berdiri, dan bergerak perlahan-lahan menuju tenda.

betapa bersyukurnya berada dibawah mentari sore, hutan pinus, angin, awan, tanah, kesegaran, kesejukan, dan bersama orang-orang baru yang menjadi sahabat untuk keluarga kecilku.

*

Kutunggu kehadiranmu dan Daras, di pernikahan kami,” kata Jenny kepadaku, yang merangkul calon suaminya, dan melihat kami pergi meninggalkan hutan pinus, hutan pertama untuk Daras, si gadis kecil berponi.

 

8 September 2016, Hutan Pinus Imogiri

Sabtu Ceria: Daras dan Pameran Tunggal Lukisan

www.philamuseum.org,Mother and child, 1984–85, by Richard Hamilton.

He richest and fullest lives attempt to achieve an inner balance between three realms: work, love and play – Erik Erikson, Developmental Psychologist

Pukul tiga lebih di sore itu. Ketika kopi yang kubuat menyisakan tiga tegukan lagi. Di ruang keluarga, aku menonton kembali sebuah hasil liputan yang diputar ulang dua hari lalu, tentang pameran tunggal seni lukis yang diadakan di Gedung Taman Kebudayaan Kota. Setiap penikmat seni menyebutnya dengan Te-Ka-Ka. Saat itu pula, adalah dua kalinya aku menonton wawancaranya dengan seorang reporter di salah satu teve lokal:

Sampai kapan pameran tunggal Anda ini diadakan?” tanya reporter tersebut.

Awalnya, aku akan mengadakannya selama satu minggu penuh. Namun, ada hal-hal non-teknis yang membuat digelarnya pameran tunggal ini hanya berlangsung empat hari.

Saya melihat dari delapan lukisan, Anda masih banyak bermain serta satu-satunya pelukis yang konsisten dengan gaya Human Interest, benar? Bisa anda jelaskan?”

Aku tak pernah mau melabeli diriku dengan pelabelan apapun. Apakah aku seniman yang bercorak Human Interest, kemungkinan besar itu tugas para kritikus, dan aku tak menolak, juga tak mengiyakan. Ada latar belakang yang mendasari mengapa aku suka dengan objek manusia antar manusia. Pada suatu ketika, ketika berumur dua puluh tahun, aku bersama salah satu kawan terbaikku—Ia lebih menyukai sketsa, sedang aku menyukai lukisan—pulang dari kampus untuk menuju ke sebuah toko buku. Dan di depan toko buku itulah, kawanku terdiam sejenak, memandang ke seberang. Dan kemudian, aku bertanya kepadanya, apa yang kau lihat? Ia hanya diam bergeming sambil mengangkat telunjuk tangannya ke arah seberang. Lalu, aku mengikuti telunjuk tersebut, dan kedua mataku menangkap frame yang menggiriskan, sekaligus mengagumkan: seorang gadis kecil memberikan sepotong roti kepada seorang tuna wisma. Sejak itulah aku menyukai hal-hal yang berkenaan manusia, lingkungan, dan problematikanya, yang kuterjemahkan melalui cat minyak dan kanvas.”

Aldian namanya. Salah seorang kawan yang begitu berarti bagiku. Pertemuanku dengannya saat kampusku mengadakan sebuah acara seni. Saat itu, di sebuah pameran yang diadakan di hall gedung Fakultas Sastra, tempat tumbuh kembang dalam belajar mengembangkan nalar serta perasaku, aku melihat sebuah lukisan sederhana. Lukisan itu memiliki dua buah objek bergambar walkman dan kaset. Lukisan itu pula bercorak siluet hitam-putih. Mungkin, bagi para penikmat, lukisan tersebut tak mampu memberikan daya tarik. Ya, dari sepuluh lukisan yang ditampilkan, hanya lukisan dari Aldian-lah tak pernah dipandang dalam waktu lama, dan tak pernah diperbincangkan. Namun, tidak untukku. Aku masih ingat, bagaimana aku terus memerhatikan lukisannya dengan penuh ketelitian. Teknik Aldian dalam memainkan warna gelap itulah yang membuatku terpukau. Saat aku mendekati lukisan berobjek walkman dan kaset, dengan jarak pandang lima sentimeter, kemudian aku mendengar suara seseorang: Itu eksperimentasi dari warna lamp blackbistre hueivory blackburnt siennacassel earth, katanya. Berangkat dari percakapan tentang eksperimentasi warna itulah kami kemudian menjadi kawab karib. Dua tahun kami selalu bersama, pergi ke satu tempat, hanya untuk menggambar apa yang kami lihat. Ah, betapa menyenangkannya masa itu. Sayang, aku tak lagi fokus pada menggambar namun lebih senang dengan menerjemahkan dan menulis buku.

Aku memerhatikannya sekali lagi di layar teve itu, memandangnya dengan intens pada sorot matanya yang tajam, wajahnya, serta senyumannya dan berkata dalam hati, aku merasakan suatu letupan yang luar biasa di dalam diriku, saat ia masih mengingat apa yang telah aku bersama pria yang diwawancarai itu lakukan. Bagaimana mungkin ia masih mengingatku. Bukankah selama ini pekerjaan-pekerjaan yang padat dan tak mampu kuatur dan manusia sezamanku ini menyebabkan banyak meninggalkan kawan-kawan lama yang justru telah membentuk kepribadian. Namun, ia, dengan kesibukannya, masih saja mengingatku. Ya, Tuhan. Lalu berlanjut pada dua pertanyaan akhir:

Anda termasuk seniman muda yang telah berani mengadakan pameran tunggal. Tentu ada proses yang tak sebentar, dan dalam hal teknis, pelukis siapakah yang menjadi pengaruh anda?”

Awalnya aku terpengaruh oleh Affandi untuk pelukis lokal, dan aku terus menerus mencari refrensi tokoh yang aku anggap tepat, hingga aku menemukan jawaban pada realisme art dari Jean-Francois Millet dan melalui objek-objeknya serta scene-scene kehidupan petaninya, serupa dengan daerah yang mana aku dibesarkan di salah satu kota kecil di Jawa Timur.”

Aku hanya mampu menggelengkan kepala setelah melihat wawancara tersebut. Ia, kataku dalam hati, tidak berubah sama sekali. Ia masih ingat kepadaku, meskipun ia telah mencapai apa yang didapatnya melalui perjuangannya. Ah, bagaimana kabarmu, kawan?

Dengan mengenang enam tahun lalu di masa muda kami yang dihabiskan dalam coretan-coretan yang mungkin dianggap orang-orang tak penting, namun tidak untukku, dan tidak untuk Aldian. Setelah berita pameran tunggal Aldian telah berganti dengan berita lain, istriku mendadak muncul dan berdiri di depanku. Suaranya yang hangat dan dengan pelafalan yang lambat, meminta kepadaku untuk mengeluarkan mobil, dan segera bergegas menuju ke Te-Ka-Ka. Ketika mobil telah di luar rumah. Sembari menanti Daras dan istriku ke luar, aku memutar musik dari Guruh Gipsy yang bertajuk, Chopin Larung. Delapan menit kemudian, saat berakhirnya musik itu, aku mendengar pintu sisi depan mobil akan terbuka, dan kulihat dua tangan mungil itu dengan berat membuka pintu:

Ayaaah…lihat, lihat!” kata Daras, sambil menunjukkan bandana pink-nya yang menutupi kedua telinganya dan poni gadis kecil ini memberikan kecantikan padannya.

Wah…kamu cantik sekali sore ini, Ras,” rayuku.

Bersama kemanjaannya dan rasa ingin menunjukkan pada orang lain, dia berujar, “Hmm…Iya, Yah.” kemudian dia masuk mobil dan duduk di sebelahku, dan berkata lagi, “Kita ke mana, Yah?”

Kita akan melihat gambar-gambar bagus, Ras

Hoorreee! Seperti gambar ikan di kamar Daras ya, Yah.”

Hm, mungkin.”

Daras ambil buku gambar dulu ya, Yah.”

Hah. Tak perlu, Ras. Di sana nanti ada buku gambar yang besar,” kataku, sedikit berbohong kepadanya.

Asyiik! Asyiik!”

Sementara, kaos bergambar grafis wajah Daras dengan bawahan berupa coralie flying skirt berbahan katun, adalah fashion sederhana yang memang taste dari istriku dan khusus diciptakan untuk gadis berponi itu. Lalu aku menyuruhnya untuk mengunci pintu mobil rapat-rapat. Dan setelah itu, menyusullah istriku yang kemudian menutup pintu belakang. Pukul tiga lebih tiga-puluh menit, kami berangkat menuju Te-Ka-Ka.

Perjalanan dari rumah menuju ke Te-Ka-Ka memerlukan waktu tiga-puluh menit dalam kondisi normal, dan satu jam dalam kondisi macet. Dua pusat perbelanjaan, satu pasar tradisional, dan berpuluh bistro, harus kami lalui selama perjalanan. Pada akhirnya, pukul empat lebih lima menit, kami sampai di Te-Ka-Ka. Hari sabtu sore yang indah dengan matahari yang tak terlalu terik membuat suasana di tempat tersebut meriangkan hati.

Langkah-langkah kecil kami pun menyusuri halaman sampai menapaki tiga undakan untuk mencapai ke depan gedung tersebut. Salah satu dari dua orang yang duduk di meja kecil berbahan bambu yang cantik, kemudian berdiri. “Silahkan, isi daftar pengunjung, ini pak.

Kemudian aku mengisinya. Aku segera menggenggam tangan kiri mungil gadis berponi, sementara istriku di tangan kanannya. Kulihat wajahnya amat ceria dan tak sabar untuk melihat gambar-gambar, meskipun dia masih belum mampu memahami apakah itu seni. Kami segera menuju ke pintu masuk, dan sempat kulihat tiga orang ke luar dari pintu keluar. Sesampainya di dalam, ada sekitar lima belas orang. Aku terdiam sejenak mengamati desain ruangan untuk pameran itu. Lantai kayu lamparquet seakan-akan membuat flat shoes milik Daras ingin bergoyang. Sementara kulihat ada enam lukisan di sisi dinding kanan, dan enam lukisan di sisi kiri, dan di tengah-tengah terdapat lukisan tiga utama. Seluruh kanvas berukuran seratus lima puluh sentimeter untuk panjang dan lebarnya.

Namun, aku tak melihat sosok dari Aldian. Aku segera berjalan ke sisi kiri dengan menggendong Daras, sedangkan istriku memilih untuk menikmati lukisan dengan tema ‘Personal’, di sisi kanan.

Saat berhadapan dengan lukisan pertama, yang berjudul “Kolektif Satu”, di dalam lukisan tersebut, Aldian ingin menunjukkan tentang sekumpulan orang dengan tangan yang semuanya dinaikkan ke atas, seperti lautan orang-orang yang meminta doa kepada pemilik hidup. Lukisan kedua, “Kolektif Dua”, bergambar sebuah banjir besar dengan ratusan kendaraan yang mengambang. Lukisan ketiga, “Kolektif Ketiga”, gambar bibir-bibir yang tersenyum dari anak-anak hingga orang-orang lansia. Lukisan Empat, “Kolektif Empat”, bergambar kuas-kuas yang membentuk dua kata, Happy?, dan Sad?. Ketika akan melangkah ke lukisan ke lima, Daras meminta untuk turun, dan aku kembali mengamati lukisan. Ada banyak perubahan yang terjadi dengan teknik arsiran dari Aldian, yang bertekstur lebih lembut, dan hampir sepuluh menit aku terhanyut ke dalam gambar kanvas kelima. Kemudian suara parau seorang lelaki membuyarkan imajinasiku:

Kau suka dengan lukisan itu, gadis kecil?”

Aku menoleh ke sumber suara yang terletak di sebelah kananku, di tiga lukisan utama, di dinding bagian tengah. “Benarkah ini, Aldian?” rasa penasaranku meningkat, dan aku hanya mampu melihat punggungnya, sedang bicara bersama Daras.

Siapa nama adik kecil itu, Om?” tanya Daras.

Menurutmu, siapa?”

Daras menggeleng.

Kau suka menggambar?”

Daras mengangguk.

Apa yang sering kau gambar?”

Ikan dan laut. Ibu suka laut, Om.”

Oya,” kata Aldian seakan-akan terpesona, lalu melanjutkan, “Di mana orang tuamu sekarang?”

Daras memutar badannya, dan memanggil, “Yah, sini!”

Bersamaan dengan itu, Aldian pun memutar badannya. Kedua mata kami kemudian saling memandang. Pandangan dua kawan lama yang telah terpisah. Dua kawan yang kini memiliki dunianya yang berbeda dan melangkah di masing-masing jalan. Lalu, aku hanya bisa tersenyum, memandangnya. Pun dengan Aldian. Cambang tipis menghiasi kedua pipinya. Tetap saja ia mengenakan flanel, pakaian kegemarannya.

Mother and Child dari Richard Hamilton,” kataku, seraya menunjuk lukisan di depan Daras dan Aldian.

Ia tersenyum dan seakan-akan tak percaya bahwa aku masih mampu mengingat satu dari beberapa lukisan dunia yang digemarinya.

Ayahmu jauh tampak lebih tua, gadis kecil,” ejeknya kepadaku, dengan masih tetap memandangku.

Lalu kami berdua mendekat, berpelukan dengan sangat erat. Suatu pelukan persahabatan itu mampu meringkas jeda enam tahun, tanpa pernah saling komunikasi.

Kemudian kami merenggangkan pelukan tersebut.

Kau, sudah mencapai tahapan hidup yang kau inginkan, kawan?”

Ia tersenyum, menggeleng, tanda menolak. Kedua bola mata itu menyiratkan suatu bahasa bahwa meskipun aku mencapai tahapan tertinggi dalam hidup, namun ada banyak pengorbanan serta berbagai kehilangan-kehilangan.

Kau, yang justru sudah mencapai tahapan hidup yang kau inginkan. Kau, lihat gadis kecil ini—Aldian menunjuk Daras kecil yang terperangah dan tak pernah memahami apa yang dilakukan dua pria tua ini—dialah anugerah, dialah lukisan terindah yang kau miliki. Dan, kau tahu, segala lukisan yang ada di dalam ruang pameran ini tak berarti. Kecuali, lihatlah, kesederhanaan lukisan yang ditampilkan oleh Hamilton ini.”

Kau selalu merendah.” Dan aku membalikkan badan ke dinding kanan, di mana istriku yang baru saja menikmati lukisan-lukisan dengan tema ‘Personal’ hanya tersenyum, senyuman yang melisankan, nikmatilah persahabatanmu, suamiku.

Setelah sedikit berbincang, kemudian asisten Aldian datang.

Mas, salah satu media cetak ingin mewawancaraimu sekarang juga. Kita sudah punya janji.”

Tapi, tak bisakah di tunda setengah jam lagi?”

Tidak bisa, Mas. Cepatlah mereka sudah menunggu.”

Tapi…”

Sudahlah, Dian—panggilan akrabku kepadanya—kita masih punya banyak waktu. Temuilah mereka.”

Baiklah, tapi ingat, tungguh aku dua puluh menit lagi. Okay.”

Aku mengangguk.

Seusai Aldian pergi. Istriku perlahan-lahan menuju tempat di mana aku dan daras berdiri. Pada akhirnya, kami bertiga menikmati karya Mother and Child dari Richard Hamilton.

*

Di dalam mobil, ketika beberapa kilometer lagi akan mencapai rumah kecil kami, Daras berkata, “Yah, siapa nama adik kecil di gambar tadi?”

Kami pun tertawa.