Rendez-vous avec Sapardi et Pramoedya.

proses kreatif

Untuk setiap orang serta setiap pengalaman yang telah menghangatkanku seperti Matahari.

Ada suatu kisah yang ingin kutulis, suatu kisah tentang ‘luka’ (atau, kehilangan) dalam satu dari beribu-ribu kisah asmara, yang pada akhirnya menyeret ke berbagai tema-tema kehidupan.

*

Ada seorang pria bernama Harrel yang menyukai seorang wanita bernama, Lovi. Harrel dan Lovi dipertemukan dari rasa sakit pada hubungan cintanya yang lalu. Mereka berkomunikasi dan menjadi kawan yang demikian dekat. Kedekatan alamiah itu, membawa Harrel untuk menjatuhkan perasaannya pada Lovi, sayang pria itu bukanlah seperti layaknya pria lain yang mampu dengan mudah menyatakan perasaannya. Harrel memiliki karakter pemalu. Di dalam hati Harrel, ia berjanji untuk menyatakan perasaannya pada kondisi dan waktu yang tepat.

Namun, keberuntungan tak memihak pada Harrel, saat hubungannya dengan Lovi telah terjalin satu tahun; wanita itu telah menemukan penawar luka yang diberikan oleh pria lain. Dan Lovi, memiliki karakter wanita yang setia pada pasangan yang dipilihnya. Pada akhirnya, Harrel, berjudi dengan pilihan hidupnya dan resiko yang ditawarkan, yang setiap orang tak menginginkannya: menanti Lovi untuk memberikan cinta serta membukakan hati bagi Harrel.

Sayang, Sang Waktu memiliki tujuan lain bagi kehidupan Harrel. Dan tepat di tahun kedelapan, Lovi telah mengikat janji suci bersama pria yang dipilihnya. Dan saat mendengar peristiwa itu, Harrel mengalami keputusasaan yang amat sangat. Namun, refleksi atas pengalaman-pengalaman lain, selama masa penantian itu, di luar konteks asmara, yang mengakibatkan pria sedih itu kemudian mendapatkan cinta (dalam konsep yang lain), cinta yang terbungkus dalam empati serta simpati pada keadaan sekelilingnya (kesadaran sosial). Harrel memang telah kehilangan cinta pada Lovi, namun di sisi sebaliknya, ia mendapatkan cinta yang lain.

Selama masa penantian itu, Harrel, yang bekerja di bidang konstruksi bangunan, banyak dipertemukan dengan orang-orang kelas bawah, seperti tukang dan kuli bangunan, dan ia belajar banyak dari mereka tentang ‘luka’ dan ‘sakit’ pada sistem yang bekerja, di lingkup pekerjaan dan kehidupan mereka. Kemudian roda hidup terus bergerak, Harrel, lalu bekerja di salah satu konsultan konstruksi bangunan milik salah satu Instansi Negeri; saat bekerja di konsultan tersebut, pria itu ditugaskan untuk menyurvey serta mendesainkan rumah-rumah yang layak huni bagi orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, namun suasana politik yang kotor dari kaum kelas menengah yang diberikan oleh satu-dua oknum Instansi Negeri itu, yang menunggangi project tersebut untuk kepentingannya sendiri, dan membuat pria sedih itu kesal serta jengah pada apa yang dilakukannya selama ini—juga sistem yang korup, yang telah menjalar di setiap pekerjaan, di setiap lini kehidupan, di negeri ini.

Rasa cinta sosialnya pun tumbuh. Rasa hausnya untuk memahami bentuk-bentuk cinta, menyeret langkahnya ke suatu tempat yang bernama perpustakaan. Di dalam perpustakaan tersebut, Harrel menyelam ke dalam samudera teks dari berbagai tema, menyusupkan berpuluh-puluh tokoh yang membuka kesadarannya tentang hidup. Harrel mengonstruksi ulang ‘ke-aku-annya’. Ia membalikkan cara pandang serta cara belajarnya perihal cinta dan kehidupan, dari wilayah ‘praktik’ menuju ke wilayah ‘teoritik’. Berangkat dari pengalaman hidupnya dalam wilayah praktik, serta menjerumuskan diri pada pengalaman hidup dalam wilayah teoritik; pada akhirnya, Harrel, mampu menerima kenyataan yang tak diinginkannya (kehilangan cinta Lovi) dan merumuskan kembali kenyataan serta kehidupan baru—menemukan cinta sosial dan Lovi (yang lain).

*

Dari wilayah ‘praktik’ seperti mendengar, atau melihat, atau merasakan, apa yang diberikan oleh apa yang disebut sesuatu, dan mengangkatnya ke dalam bentuk ‘teoritik’ seperti memahami-sesuatu, demikianlah yang kusebut secara subyektif, sebagai perumusan awal atas ‘Proses Kreatif.’ Serta, kisah di atas, tak akan pernah ada, tanpa sesuatu yang bernama ‘Proses Kreatif.’ Setiap penulis—pengarang atau penyair—punya metode sendiri yang berasal dari latar belakang hidup yang dibentuk dalam pengalaman hidup (pemahaman serta kecerdasan atas kesadaran nilai suatu peristiwa). Karakter Harrel, adalah karakter yang kuambil dari petualangan kehidupan pribadiku; pun dengan Lovi, orang kelas menengah-bawah, dan tokoh-tokoh yang memberikan ‘Idea’ dalam setiap teks di lembaran-lembaran buku mereka. Dan untuk menambah pemahaman baru, atau menilik kembali proses-proses kreatif yang lain, akan kuketikkan ulang untukmu, yang diambil dari proses kreatif dari Sapardi Djoko Damono dalam ‘Permainan Makna’ dan Pramoedya Ananta Toer dalam ‘Perburuan dan Keluarga Gerilya’ yang terangkum dalam Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang II:

***

Permainan Makna

Sapardi Djoko Damono

Sebermula adalah kata

baru diperjalanan dari kota ke kota

(“Dalam Bus”, dukaMu abadi)

1

Saya suka iri setiap kali membaca riwayat hidup penyair yang penuh dengan saat menegangkan, petualangan, kesengsaraan, dan ketabahan; penyair-penyair seperti Lord Byron, Chairil Anwar, dan Arthur Rimbaud memiliki riwayat hidup semacam itu. Kalau saja salah satu syarat kepenyairan seseorang adalah kehidupan semacam itu, rasanya saya tidak pantaslah saya menjadi penyair. Masa kecil saya rasanya biasa saja. Saya gemar main layang-layang, gobak sodor, gundu, adu cengkerik, benthik, cari belut, dan berbagai permainan lain yang juga digemari anak-anak sebaya saya. Pendidikan formal yang saya ikuti juga tidak istimewa: penampilan saya di antara teman-teman sekolah sama sekali tidak menonjol, bahkan mungkin saya sudah dilupakan sama sekali oleh mereka, sementara saya masih ingat jelas beberapa diantara mereka. Saya bukan anak bandel yang suka membantah guru, saya bukan pula jagoan; hanya saja, saya tidak bodoh.

Keluarga yang menurunkan saya bukan pecinta kesenian yang bersungguh-sungguh; kakek dari garis ayah memang dikenal suka menatah wayang kulit, tetapi beliau tidak begitu dekat dengan saya karena cucunya banyak dan beliau meninggal ketika saya masih kecil. Wayang kulit yang ditinggalkannya memang sempat membuat saya suka meniru dalang, tetapi saya tidak pernah bersungguh-sungguh dalam bidang itu. Pada waktu saya kecil, di Solo, menirukan dalang merupakan kegemaran hampir semua anak laki-laki—jadi bukan keistimewaan saya. Kebetulan di Sekolah Rakyat (sekarang SD) “Kasatriyan” saya sempat mendapat pelajaran menari dan menabuh gamelan; itu pun tidak istimewa karena semua murid sekolah tersebut wajib mengikutinya.

Konon keluarga dari garis ibu saya pernah mengalami hidup sangat berkecukupan dulu, waktu zaman penjajahan; tetapi waktu kecil saya hidup kami—seingat saya—berkekurangan. Kata ibu zaman Jepang merupakan tahun-tahun yang berat, “untung” saya masih kecil sehingga tidak “merasakannya”. Namun tahun-tahun sesudah Kemerdekaan memang terasa ganjil dalam kenangan: sehari makan dua piring bubur, pagi dan sore; ibu menjual buku-buku tebal untuk membeli minyak tanah; ayah di luar kota entah di mana untuk menghindarkan diri dari penangkapan Belanda; siang hari sering saya saksikan pesawat terbang Belanda menjatuhkan bom di beberapa kampung, malam hari terjadi pembakaran gedung-gedung dan rumah-rumah besar. Tetapi pengalaman itu pun bukan istimewa; puluhan ribu anak lain sebaya saya, juga mengalaminya. Dan, tahun-tahun yang ganjil itu rasanya berjalan cepat sekali, setidaknya dalam kenangan; sesudah itu datanglah masa kecil yang lebih wajar—main bola, hujan-hujanan, nonton wayang kulit, dhelikan, atau nonton film Tarzan.

Ternyata kemudian, masa kecil yang sama sekali tidak istimewa itu menjadi sumber bagi sebagian puisi saya; setidaknya bisa dikatakan bahwa beberapa sajak yang saya sukai mengingatkan saya pada masa kecil tersebut. Sudah sejak lama saya curiga: pasti ada sesuatu di bawah hal-hal yang sehari-harinya saya kenang tentang masa kecil saya itu. Kecurigaan itu mula-mula sekali tumbuh ketika masih menjadi murid SMP. Waktu itu untuk pertama kalinya saya mengirimkan sebuah karangan berupa cerita ke sebuah majalah anak-anak berbahasa Jawa. Dalam karangan itu saya mencoba bercerita tentang suatu peristiwa dalam masa kecil saya. Karangan itu ditolak, alasannya ialah karena cerita itu tidak masuk akal. Tentu saya kecewa, namun lebih penting lagi untuk pertama kalinya saya “diberi tahu”, dan selanjutnya menyadari bahwa ada peristiwa dalam hidup saya yang tidak masuk akal. Waktu itu, sama sekali tanpa bekal mengarang dalam umur sekitaran 13 tahun, saya benar-benar merasa telah menulis cerita tersebut tanpa melebih-lebihkan peristiwanya: saya dan adik saya dilepas ibu untuk ikut ayah menginap barang beberapa hari di rumah ibu ibu tiri kami. Ayah mengajak kami, ibu melepas kami, dan kami pun siap pergi—semuanya terjadi biasa saja. Tetapi cerita itu ternyata dinyatakan tidak masuk akal.

Bagi saya, cerita tersebut pernah benar-benar terjadi—tidak peduli apakah ia masuk akal atau tidak. Tentu saya tidak pernah menimbang-nimbang, apalagi waktu masih kecil, apakah peristiwa yang saya alami dalam hidup ini masuk akal atau tidak. Dan peristiwa yang terjadi, terjadi begitu saja; saya tidak berhak menolaknya dengan alasan tidak masuk akal. Tetapi ternyata redaksi berhak menolaknya dengan alasan serupa setelah peristiwa tersebut menjadi cerita. Saya sempat kecewa ketika membaca penolakan redaksi tersebut, tanpa tahu persis mengapa saya harus kecewa. Setelah lebih dewasa saya berpikir, barangkali saya waktu itu kecewa karena tidak mempunyai hak untuk menolak yang tak masuk akal.

Kemudian saya berpikir, barangkali duania nyata boleh tidak masuk akal, tetapi dunia rekaan harus masuk akal. Dunia nyata lebih tidak masuk akal dibanding dunia rekaan. Segala peristiwa dalam dunia nyata terjadi begitu saja tanpa rancangan pasti sebelumnya, tetapi rangkaian peristiwa dalam dunia rekaan harus diatur sedemikian rupa agar jelas sebab-akibatnya—agar tak masuk akal. Dengan demikian, dunia nyata harus diedit agar menjadi dunia rekaan: hidup ini harus melalui proses pengguntingan, pemolesan, penghapusan, pemilihan, dan penyusunan kembali agar bisa diterima sebagai cerita. Meskipun tentu saja saya belum berpikir sejauh itu, sudah sepantasnya kalau waktu itu saya sama sekali tidak berusaha lagi menulis cerita. Saya merasa lebih tenteram menjalani yang tak masuk akal sambil setiap hari bermain dengan teman-teman sebaya.

2

Tentu juga bukan suatu hal yang istimewa ketika pada umur 17 tahun saya kembali tertarik mengarang, kali ini mengarang puisi. Sejak SR saya senang membaca, mulai dari petualangan Old Shatterhand sampai kisah kasih Maria dan Jusuf. Saya pernah merasa sangat terharu membaca Andang Taruna karangan Sutomo Djauhar Arifin; pada waktu itu tentunya saya belum berpikiran bahwa cerita yang saya baca itu, seperti halnya kisah-kisah petualangan Karl May, adalah dunia rekaan—dan oleh karenanya masuk akal. Kesukaan membaca telah membawa saya ke pelbagai perpustakaan dan persewaan buku di Solo, dan memperkenalkan saya dengan puisi Indonesia Modern. Di sekolah, kami mengenal beberapa sajak Pujangga Baru dan Chairil Anwar; di majalah seperti Kisah, Konfrontasi, dan Mimbar Indonesia saya membaca sajak-sajak Rendra, Hartojo Andangdjaja, Armaya, Ajip Rosidi, dan sederet nama lain. Saya bisa terharu membaca novel, tetapi membaca beberapa sajak modern itu ternyata telah menyebabkan saya merasa seperti ada yang mengganjal di tenggorokan. Saya tidak pernah merasa iba menangkap makna sajak-sajak itu sepenuhnya, namun terasa bahwa apa yang pernah gagal saya tulis menjadi cerita dulu itu membayang dalam beberapa di antaranya.

Sedikit demi sedikit, keinginan saya untuk mengungkapkan yang tak masuk akal muncul kembali. Dan ketika mula-mula sekali menulis puisi, terasa bahwa sudut-sudut yang luput dari teriak dan siul masa kecil mulai hidup kembali dalam kata-kata. Pada umur belasan tahun itu saya menulis puisi seperti tak pernah berhenti; ternyata begitu banyak sudut yang bisa muncul kembali dalam kata. Ternyata sangat mengasyikkan menyusun dunia kata sedemikian rupa, hanya agar segi-segi yang tak masuk akal bisa terbaca lagi. Dan semakin banyak menulis semakin terasa bahwa yang teramat mengasyikkan penyusunan dunia kata itu sendiri. Barangkali bukan suatu kebetulan bahwa dalam dunia yang saya susun itu muncul masa kecil saya; barangkali memang ada hubungan yang sangat erat antara yang tak masuk akal dan dunia kata yang disebut puisi itu. Pada umur belasan tahun itu saya menulis sebuah sajak di bawah ini:

TANGAN WAKTU

selalu terulur ia lewat jendela

yang panjang dan menakutkan

selagi engkau bekerja, atau mimpi pun

tanpa berkata suatu apa

biar saja kautanya; mau apa

berarti terlalu jauh kau sudah terbawa

sebelum sungguh menjadi sadar

bahwa sudah terlanjur terlantar

belum pernah ia meminta izin

memutar jarum-jarum jam tua

yang segera tergesa-gesa saja berdetak

tanpa menoleh walau kauseru

selalu terulur ia lewat jendela

yang makin keras dalam pengalaman

mengarah padamu tambah tak tentu

memegang leher bajumu

Ada yang tak masuk akal dalam sajak tersebut, yang berasal dari kedalaman masa kecil saya: tangan waktu yang panjang dan menakutkan, yang tak pernah berkata apa pun sementara ia terulur lewat jendela. Tangan waktu yang mengarah kepada saya dan memegang leher baju saya. Tangan waktu yang bergerak dalam dunia nyata yang tak masuk akal, ternyata tetap terulur dalam dunia rekaan yang saya ciptakan. Seandainya pengalaman yang pernah saya dapatkan berkenaan dengan tangan waktu itu saya sampaikan dalam sebuah cerita, mungkin sekali redaksi (yang tentunya dalam beberapa hal juga mewakili pembaca) akan menganggapnya tak masuk akal. Dalam puisi, ternyata ia tetap bergerak dan (mungkin sekali) diterima sebagai masuk akal.

Ada beberapa perkara yang bisa dijadikan masalah dalam hal tersebut. Cerita tentang masa kecil yang saya susun beberapa tahun sebelumnya dulu itu tidak dilandasi kemampuan teknis penulisan yang tinggi, sehingga pengalaman yang ada di dalamnya tidak masuk akal; atau sajak, dalam hal ini lirik, yang saya susun itu memang bentuk sastra yang khusus menampung yang tak masuk akal. Sajak yang saya kutip itu tampak rapi: terbagi menajdi empat bait, masing-masing empat larik. Jumlah kata yang ada dalam sajak itu jauh lebih sedikit dibandingkan sebuah cerita pendek yang lazim, dan oleh karenanya dipergunakan pelbagai perbandingan agar kata-kata yang sedikit jumlahnya itu efektif. Kalau benar bahwa lirik yang ringkas merupakan bentuk khusus untuk yang tak masuk akal, dengan kata lain bisa dikatakan bahwa yang tak masuk akal—yang terluput dari kegiatan sehari-hari—yang hanya bisa muncul dalam rangakaian kata-kata yang dipilih dan disusun secara ketat.

Saya tidak pernah mengusut perbedaan antara cerita dan lirik dalam perjalanan penulisan saya; mungkin hal itu disebabkan karena saya tidak pernah secara sungguh-sungguh tertarik menulis cerita. Itu suatu keuntungan: saya bisa memusatkan perhatian pada lirik. Dalam perkembangan lebih lanjut, ada suatu masalah yang ternyata tetap terbuka sampai hari ini. Sudah saya nyatakan bahwa segi yang tak masuk akal dalam hidup saya ternyata bisa bisa masuk akal dalam puisi; lalu apakah kesenangan menulis puisi itu disebabkan oleh keinginan untuk menyatakan yang tak masuk akal, atau disebabkan oleh keasyikan menciptakan dunia kata? Pada saat-saat tertentu memang terasa sangat kuat dorongan untuk mengungkapkan sesuatu, namun pada saat-saat lain saya hanya merasa sangat asyik bermain-main dengan kata-kata sampai ada sesuatu yang terbentuk di dalamnya. Pada suatu saat saya ternyata seorang nabi, di saat lain seorang anak kecil.

3

Sesuatu, yang maknanya berhimpit dengan yang tak masuk akal, yang juga terpendam di bawah jerit dan sorak masa kecil, sangat sering hidup kembali dalam puisi saya. Dalam beberapa sajak yang saya tulis tahun 1971, keinginan saya untuk menyampaikan sesuatu itu tersirat dari judul sajak; namun sebenarnya saya benar-benar mendapatkan keasyikan yang luar biasa ketika menulis catatan-catatan tersebut.

CATATAN MASA KECIL 2

Ia mengambil jalan lintas dan jarum-jarum rumput berguguran oleh langkah-langkahnya. Langit belum berubah juga. Ia membayangkan rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga lalu berpikir berpikir apakah burung yang tersentak dari ranting lamtara itu pernah menyaksikan rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga terkam-menerkam. Langit belum berubah juga. Angin begitu ringan dan bisa meluncur ke mana pun dan bisa menggoda bunga tetapi ia bukan angin dan ia kesal lalu menyepak sebutir kerikil.

Ada yang terpekik di balik semak dan gemanya menyentuh sekuntum bunga lalu tersangkut pada angin dan terbawa sampai ke laut tetapi ia tidak mendengarnya dan ia membayangkan rahang-rahang langit kalau hari hampir hujan. Ia sampai di tanggul sungai tetapi mereka yang berjanji menemuinya di sini ternyata tak ada. Langit sudah berubah. Ia memperhatikan ekor srigunting yang senantiasa bergerak dan mereka yang menyaksikan butir-butir hujan mulai jatuh ke air dan ia memperhatikan lingkaran-lingkaran itu melebar dan ia membayangkan mereka tiba-tiba mengepungnya dan melemparkannya ke air.

Ada yang memperhatikannya dari seberang sungai tetapi ia tidak melihatnya. Ada.

Saya sungguh-sungguh asyik bermain kata-kata sehingga tercipta “rahang-rahang laut”, “rahang-rahang bunga”, dan “rahang-rahang langit”, dan kagum menyaksikan “rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga terkam-menerkam”. Dan saya menjadi terkejut ketika “ada yang terpekik di balik semak” ketika saya “menyepak kerikil”. Saya terlibat sepenuhnya dalam permainan kata itu, sampai pada ketika menyadari bahwa rasanya ada sesuatu yang muncul (kembali) dalam dunia rekaan saya itu. Pada saat semacam itulah saya biasanya berhenti menulis; proses penciptaan pun selesai.

Dalam sajak itu saya membayangkan diri saya berjalan sendiri lewat jalan setapak menuju sungai di bawah “rahang-rahang langit” untuk memenuhi janji dengan beberapa orang. Sesampai di tepi sungai, “mereka” ternyata tak ada; hari pun hujan, dan serasa ada yang memperhatikan dari seberang sungai, sementara terbayang “mereka” mengepung dan melemparkan saya ke sungai.

Rangkaian peristiwa itu seperti pernah saya alami di masa kecil, namun tidak pernah saya sadari sebelum sajak itu selesai ditulis. Oleh karenanya, pengalaman tersebut bukan merupakan sesuatu yang sudah ada atau sudah jadi sebelum sajak itu mulai ditulis; dengana kata lain, ia bukan merupakan tujuan penulisan sajak tersebut. Tetapi kenyataan itu tidak membuktikan bahwa penulisan sajak tersebut berawal tanpa maksud apa pun. Sajak itu merupakan salah satu dari serangkaian sajak yang berjudul “Catatan Masa Kecil”, dan tentunya ditulis dengan semacam niat untuk mengungkapkan pengalaman masa kecil—atau dengan istilah yang saya pakai sebelumnya: yang tak masuk akal.

Beberapa kata yang saya pilih untuk sajak itu seperti “laut”, “langit”, dan “bunga” tentu boleh diterima sebagai lambang; ini wajar saja, sebab saya, seperti halnya kebanyakan penyair, mempergunakan perbandingan untuk mengetatkan bahasa. Tetapi dari segi pengalaman yang ada dalam diri saya, kata-kata itu sekaligus juga bermakna sama dengan yang diacunya. Tentu saja pembaca boleh menafsirkan “langit” dan “sungai” dalam sajak tersebut sebagai lambang-lambang untuk akhirat dan kehidupan, tetapi bagi saya kata-kata itu sekaligus berarti langit dan sungai benar-benar. Kemungkinan besar segala hal dalam masa kecil saya diam-diam telah menjelma menjadi lambang-lambang; atau mungkin juga di masa kecil, lambang-lambang telah menjelma dalam kehidupan sehari-hari sebagai hal-hal yang nyata—dan oleh karena itu tidak masuk akal.

Kesulitan membedakan lambang dari yang dilambangkan itu tentunya hanya terjadi di masa kecil; setidaknya hanya terjadi pada orang yang memandang diri dan sekelilingnya dengan mata anak kecil. Orang bilang, mengenang masa kecil itu mengasyikkan. Saya kira masa kecil itu sendiri benar-benar mengasyikkan: kita tinggal dalam dunia yang tersusun dari lambang-lambang dan karenanya sangat kaya makna—meskipun sangat sering tidak tertangkap oleh orang dewasa, bahkan oleh kita sendiri setelah dewasa.

Sajak berikut ini bisa dipergunakan sebagai contoh untuk menjelaskan kenyataan tersebut:

CATATAN MASA KECIL 3

Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang diluar semesta dan apa gerangan yang di luar luar-semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya berkata “biar kututp jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya.”

Waktu menulis sajak tersebut, keasyikan memilih dan menyusun kata-kata mendadak harus saya hentikan karena dalam kata-kata itu dengan jelas muncul pengalaman di masa kecil, boleh dikatakan tepat seperti apa yang secara harfiah tergambar dalam sajak tersebut. Namun sekarang dalam dunianya yang baru, yang rekaan, segala hal yang rasanya pernah saya alami di masa kecil itu menjelma lambang-lambang. Sajak itu jelas tentang pengalaman seorang anak kecil yang suka meninggalkan tempat tidurnya untuk memandang ke langit bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang batas langit itu, dan oleh karenanya ditegur ibunya. Suatu hal yang sepele, suatu peristiwa kecil. Tetapi mengapa ia tiba-tiba muncul dalam kata-kata yang saya pilih dan saya susun? Mengapa ia menjelma menjadi himpunan lambang? Apakah karena bergeser kedudukannya dari dunia nyata ke dunia rekaan?

4

Dunia rekaan? Ada suatu sudut tertentu dalam otak saya yang bersikeras menyatakan bahwa dunia yang terdapat dalam sajak-sajak tersebut bukan rekaan saya tetapi pernah benar-benar ada. Saya akan mengambil contoh sebagai bandingan: dalam perjalanan saya ke Belgia pada tahun 1979, beberapa kali saya melewati tempat-tempat yang rasanya saya pernah saya kenal sebelumnya. Padahal sebelumnya, belum pernah saya mengunjungi negeri itu. Tetapi ada bagian dalam otak saya yang mencoba meyakinkan saya bahwa dulu pernah ke sana. Saya menjadi ragu apakah perasaan bahwa saya pernah ke tempat-tempat tersebut baru muncul setelah saya melewatinya, atau mungkin tempat-tempat (semacam) itu pernah saya kunjungi setidaknya dalam mimpi. Tetapi mungkin sekali saya pernah ke sana dulu, siapa tahu? Mungkin sekali makhluk yang saya sadari sebagai “saya” ini sesungguhnya merupakan kumpulan atau tumpukan “saya” yang hidupnya sudah dijalani jauh sebelum tanggal 20 Maret 1940. dan tampaknya hidup yang pernah “saya” jalani itu tidak hanya terbatas di Solo saja, tempat saya menghabiskan waktu kecil dan masa remaja.

Dengan demikian, sajak disebut dunia rekaan karena peristiwa penting yang dialami penyair tinggal berada dalam kata-kata, tidak lagi berada di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ia tidak bisa diukur dengan ukuran yang biasa dikenakan untuk kehidupan sehari-hari. Ia masuk akal karena berada di dunia kata, dan menjadi tak masuk akal kalau kita berusaha mengembalikannya ke dunia nyata. Kenyataan tersebut tampaknya menunjukkan bahwa yang biasa kita sebut sebagai dunia nyata itu tak lain adalah yang ada disekeliling kita ini. Yang sudah lampau telah menjelma menjadi lambang-lambang yang sekaligus berupa citra-citra: oleh sebab itu penuh dengan makna. Anehnya, makna yang kita anggap berarti sering disarankan oleh peristiwa, yang berwujud citra sekaligus lambang, yang tampaknya sepele. Berjalan lewat jalan setapak, menyepak sebutir kerikil, dan dihardik ibu karena terjaga sampai larut malam adalah peristiwa-peristiwa sepele yang cenderung dilupakan. Dengan mudah saya akan menceritakan kembali saat disunat, ketika lulus ujian SD, atau waktu mengalami kecelakaan naik becak, namun sangat sulit untuk mengisahkan pengalaman-pengalaman kecil dan sepele yang pernah saya jalani. Pengalaman semacam itulah yang ternyata tercipta kembali dalam sajak-sajak; dalam kata-kata, ia justru mendukung makna dan kembali saya jalani.

Dan pengalaman-pengalaman kecil semacam itu saya temukan juga tidak hanya dalam sajak-sajak beberapa penyair kita, tetapi juga dalam sajak-sajak penyair asing yang tak pernah saya baca. Sajak-sajak Eliot, Seferiz, Jimenez, Pasternak, Dickinson, misalnya, umumnya menawarkan serangkaian peristiwa kecil. Dan kalau kita membaca sajak-sajak klasik Cina dan Jepang, semakin jelas bahwa dunia rekaan ternyata penuh dengan peristiwa semacam itu. Komunikasi yang baik sulit dibayangkan seandainya peristiwa-peristiwa yang tercipta dalam sajak-sajak Li Po, misalnya, sama sekali “asing” bagi pembaca Indonesia yang hidup beberapa ratus tahun sesudah penyair Cina itu. Kenyataan inilah yang mungkin sekali menjadikan salah satu bagian otak saya untuk bersikeras pada pendapatnya bahwa peristiwa-peristiwa yang rasanya pernah saya alami itu mungkin memang pernah saya alami beratus-ratus tahun yang lalu entah di mana. Oleh karena itu, ada kecenderungan untuk menganggapnya sebagai pengalaman masa kecil, masa yang sudah jauh lampau.

Bagi saya, proses penulisan sebuah sajak berakhir apabila dalam kata-kata yang saya permainkan tersusun peristiwa yang rasanya pernah saya alami, yang kini ternyata mengadung makna. Makna itu sendiri sangat sulit saya sampaikan, atau saya capai, dengan cara lain. Oleh sebab itu, peristiwa dalam dunia kata itu sangat penting, setidaknya sama penting dengan makna yang dikandungnya. Sajak berikut ini mungkin bisa menjelaskan pengertian tersebut:

GERIMIS KECIL DI JALAN JAKARTA, MALANG

seperti engkau berbicara di ujung jalan

(waktu dingin, sepi gerimis tiba-tiba

seperti engkau memanggil-manggil di kelokan itu

untuk kembali berduka)

untuk kembali kepada rindu

panjang dan cemas

seperti engkau yang memberi tanda tanpa lampu-lampu

supaya menyahutmu, Mu.

Peristiwa dalam sajak itu disampaikan dengan serangkaian citra: engkau dijumpai aku (yang tersirat) di sebuah ujung jalan pada suatu malam (yang tersirat) waktu dingin dan “sepi gerimis”; aku merasa diberi isyarat untuk menjawab engkau. Nah, itulah citra yang tersusun: ketika menuliskannya saya merasa ada makna yang terkandung dalam peristiwa tersebut, terutama ketika saya menuliskan “Mu” dengan M kapital. Makna yang ada sulit diungkapkan dengan cara lain karena tidak bisa dipisahkan dari citra keseluruhan sajak itu. Ketakterpisahan antara makna dan peristiwa mungkin bisa lebih jelas diungkapkan dengan memaknai sajak berikut sebagai contoh:

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah

menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa

di antara kami yang harus berjalan di depan

Tidak ada yang sitimewa dalam peristiwa tentang seorang yang berjalan-jalan pada pagi hari; juga tidak ada yang istimewa dengan matahari dan bayang-bayang orang itu. Tidak istimewa: oleh karenanya tidak usah dipertengkarkan siapa yang menciptakan bayang-bayang atau siapa yang harus berjalan di depan. Namun, di tengah-tengah citra keseluruhan sajak itu, dua baris terakhirnya agak terasa sebagai semacam pernyataan atau komentar. Saya merasa sering terganggu oleh komentar yang terselip dalam sajak-sajak yang saya tulis, tetapi dua baris terakhir itu tidak bisa dipisahkan dari citra sajak itu secara keseluruhan. Dalam sajak itu, justru dua baris itulah yang telah menyebabkan saya merasa bahwa peristiwa yang muncul di dalamnya bermakna, di samping sangat akrab dengan saya.

Pada suatu saat nanti, saya adalah seorang anak kecil yang asyik bermain kata-kata, di saat lain seorang nabi yang berusaha menyampaikan pesan kepada dunia. Namun tidak jarang saya merasa diri saya benar-benar seorang penyair: asyik bermain-main kata sampai di dalamnya tersusun dunia yang bermakna. Pada saat semacam itu saya bukan anak kecil, karena anak kecil tidak menyadari bahwa permainan dan tempat bermain bermuatan makna; saya pun bukan nabi, karena nabi dianugerahi tugas mulia untuk menyiarkan kata-kata Tuhan bagi manusia. Sedangkan saya, si penyair, bermain-main dengan kata sementara menyadari bahwa bisa tercipta makna di dalamnya.

5

Rupanya perjuangan saya selama ini, sebagai penyair, adalah menghindarkan kecenderungan yang berlebihan untuk menjadi nabi atau menjadi anak kecil. Mungkin bukanlah merupakan aib bagi seorang penyair untuk menyampaikan ajaran-ajarannya bagi pembaca, selama ia tidak berpura-pura telah mendapat wahyu untuk berbuat itu. Kebanyakan kita pun tampaknya tidak begitu berkeberatan menerima ajaran para penyair; buktinya dalam masyarakat banyak beredar kata-kata mutiara yang bersumber pada puisi. Keinginan untuk mengajarkan semacam pandangan tertentu itu kadang-kadang sangat kuat pada diri saya: pada saat kata-kata semacam itu lahiriah sajak semacam ini:

SONET: HEI! JANGAN KAUPATAHKAN

Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu

ia sedang mengembang; bergoyang dahan-dahannya yang tua

yang telah mengenal baik, kau tahu,

segala perubahan cuaca.

Bayangkan: akar-akar yang sabar menyusup dan menjalar

hujan pun turun setiap bumi hampir hangus terbakar

dan mekarlah bunga itu perlahan-lahan

dengan gaib, dari rahim Alam.

Jangan; saksikan saja dengan teliti

membunuhnya dengan hati-hati sekali

dalam Kasihsayang, dalam rindu-dendam Alam;

lihat; ia pun terkulai perlahan-lahan

dengan indah sekali, tanpa satu keluhan.

Jelas sekali ajaran yang saya sampaikan lewat sajak itu, ajaran seorang penyair-nabi tentang kaitan erat antara kehidupan dan kematian sebab keduanya bersumber pada zat yang sama, Matahari—dengan M kapital. Si penyair-nabi ini mengajarkan, agar kita tidak bertindak jahat terhadap kehidupan yang sedang berkembang, tetapi sebaiknya menikmati dan mengagumi saja proses kehidupan dan kematian dengan penuh kasih. Dengan panjang lebar siapa pun bisa menjelaskan ajaran yang ada salam sajak saya tersebut, bahkan mungkin penyair lain bisa dengan tepat mengungkapkannya kembali dalam pilihan dan susunan kata yang sama sekali lain. Hal itu menunjukkan bahwa makna dalam sajak itu dengan agak mudah bisa dipisahkan dari kata-kata yang tersusun menjadi serangkaian citra; jadi boleh dikatakan bahwa makna tidak sepenuhnya diciptakan oleh citra yang merupakan peristiwa dalam sajak itu. Makna itu begitu terkesampingkan olehnya. Dan oleh karenanya, saya pun tidak begitu merasa akrab dengan peristiwa itu.

Pada saat-saat lain, si penyair tidak bisa mengelak dari kecenderungan menjadi anak kecil, dan lahirlah sajak seperti di bawah ini:

PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI

angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telepon itu, “aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”

kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas. “jangan berisik, menganggu hujan!”

hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam, hardiknya, “lepaskan daun itu!”

Seperti anak kecil, saya asyik bermain-main dengan kata; dan sewaktu di dalamnya tersusun suatu peristiwa, saya pun begitu terpesona oleh peristiwa itu, sehingga tidak peduli apakah di dalamnya terkandung makna atau tidak. Jelas saya tidak berkehendak mengajarkan apa pun; saya hanya merasa sangat akrab dengan dunia rekaan itu. Rangkaian citra yang tersusun menjadi peristiwa dalam sajak itu begitu menonjol, sehingga seolah-olah bisa mnejadi penting tanpa makna. Sejak itu merupakan sebuah dunia yang dilihat oleh penyair sebagai anak kecil; saya hanyut dalam permainan, sehingga tidak merasa sebagai anak kecil; saya hanyut dalam permainan, sehingga tidak merasa perlu mempertimbangkan lambang-lambang yang mungkin ada di dalamnya.

Perjuangan saya, dalam menulis puisi selama ini, adalah untuk menjadi penyair; saya tidak ingin menjadi nabi atau anak kecil karena keduanya tidak mungkin bisa saya jalani sepenuhnya. Namun kenyataannya, di antara sajak-sajak yang saya tulis banyak yang menunjukkan keinginan diam-diam untuk menjadi nabi: dalam sajak-sajak semacam itu saya mengajari, berkhotbah, atau mengajak berjuang. Saya sama sekali tidak sempat bermain-main. Saya merasa sekedar menjadi alat saja dari ajaran yang ingin saya sampaikan. Saya capek, tenaga saya habis tanpa mendapatkan kenikmatan sedikit pun. Saya yakin bahwa pembaca pun akan merasakan capek membaca beberapa sajak saya yang sama sekali tidak mengajaknya bermain, tetapi hanya menyodorkan ajaran dan khotbah.

Jumlah sajak saya yang menunjukkan kecenderungan saya menjadi anak kecil ternyata tidak banyak. Sejak semula rupanya saya tidak bisa sama sekali hanyut dalam permainan saya. Ada bagian dalam otak saya yang selalu mengingatkan bahwa permainan itu harus berakhir, apabila sudah tersusun peristiwa yang bermakna di dalamnya. Peristiwa itu erat kaitannya, dan sering identik, dengan citra atau lambang, yakni sesuatu yang menghidupkan dunia rekaan saya. Dan rupanya permainan itu sangat penting bagi proses kelahiran (kembali) sesuatu, yang tak masuk akal, ke dalam dunianya yang baru yang tersusun dari kata—agar bisa masuk akal. Seandainya permainan yang sering sangat mengasyikkan itu ditiadakan, tentunya sudah sejak lama saya tidak menulis puisi.

6

Kepada pembaca pun, pada dasarnya sajak-sajak saya menawarkan permainan yang mengasyikkan itu. Saya merasa yakin bahwa kebanyakan pembaca tidak akan mengalami kesulitan menyusun kata-kata dalam sajak-sajak saya menjadi citra-citra yang menggambarkan peristiwa tertentu. Yang mungkin bisa menyulitkan adalah keakraban dan makna peristiwa dalam sajak itu baginya.

Dari berbagai tulisan mengenai puisi saya, saya mendapatkan kesan bahwa sebagian besar citra di dalamnya, secara terpisah, bisa menarik perhatian. Perbedaan kadar makna yang didukungnyalah yang menyebabkan adanya keragaman dalam kritik atas puisi saya selama ini. Orang bisa menangkap citra yang mendukung suatu peristiwa dalam sebuah sajak, namun bermakna tidaknya peristiwa itu baginya tergantung pada pengalamannya, kecerdasannya, dan kemauan baik untuk membuka diri.

Goenawan Mohamad, Andre Hardjana, Harry Aveling, A. Teeuw, Mohammad Haji Saleh, Umar Junus, dan Subagio Sastrowardoyo—misalnya—memilih sajak-sajak yang berbeda-beda dalam pembicaraannya, dan tentu kesimpulan mereka pun berbeda. Tentang sajak-sajak yang sama pun, misalnya “Catatan Masa Kecil”, Goenawan Mohamad dan A. Teeuw memberikan komentar yang sama sekali berbeda. Goenawan berpendapat, “Kata-kata tidak lagi merekat menempel, tetapi bergerak hidup-bulat: menjadi tanda dan sekaligus mikrokosmos sendiri,” sedangkan Teeuw menganggapnya sebagai sajak yang bukan lagi sajak genre baru yang belum ada namanya dalam sastra. Sebenarnya kedua kritikus itu membicarakan hal yang sama, yakni segi formal sajak-sajak tersebut, tetapi kesimpulan mereka ternyata berbeda. Bagi saya keduanya merupakan pujian yang telah meyakinkan saya bahwa kepenyairan saya selama ini tidak sia-sia. Seperti juga kritikus dan pengamat lain yang pernah menulis tentang puisi saya, mereka pun ternyata bisa ikut asyik dalam permainan kata yang membentuk dunia rekaan yang bermakna.

Tentu pembaca puisi saya boleh dan berhak memilih: ikut dalam permainan, atau melemparkannya saja. Saya tidak mempunyai hak itu. Saya ternyata suka bermain dengan kata-kata. Bagi saya, peristiwa kecil yang tersusun dari kata-kata itu sama pentingnya dengan makna yang mungkin terkandung di dalamnya. Ternyata saya tetap bersikeras untuk menolak kecenderungan menjadi nabi, di samping memadamkan kehendak untuk tetap menjadi anak kecil. Saya harus tetap mempertahankan kesadaran kritis yang bisa dimiliki seorang penyair yang baik.

Depok, 1983.

***

Perburuan & Keluarga Gerilya

Pramoedya Ananta Toer

Ditanyakan padaku: bagaimana proses kreatifku sebagai pengarang.

Menjawabnya bukan gampang. Sudah terumuskan atau belum pengalaman itu, proses kreatif tetap pengalaman pribadi yang sangat pribadi sifatnya. Setiap pengarang akan mempunyai pengalamannya sendiri, sudah terumuskan atau belum.

Diminta padaku menceritakan proses kreatif terjadinya Perburuan (1950) dan Keluarga Gerilya (1950).

Baik, akan kujawab, walau sebenarnya dapur pribadi itu tak perlu benar diketahui orang lain. Kesediaan itu semata berdasarkan hak umum untuk mempunyai perbandingan agar mengurangi ke-satu-sisi-an.

Tahun 1948. Umurku 23 tahun—seorang pemuda yang menumpahkan sepenuhnya kepercayaan pada kemuliaan kerja—kerja apa saja—merasa dapat melakukan apa saja, impian mencakar langit menggaruk perut bumi, seorang pemuda yang baru saja memulai karirnya sebagai pengarang, publisis, dan wartawan. Nyatanya semua dibikin oleh dinding-dinding tembok penjara, hidup diatur menurut jadwal yang ditentukan oleh para penguasa bertunjangkan bedil dan bayonet. Empat hari dalam seminggu kerja paksa di luar penjara dengan upah 7 ½ sen untuk sehari penuh. Tak setitik sinar nampak kapan adu kekuatan mulut dan senjata antara RI dengan Belanda berakhir.

Putus asa.

Kubuka pesangon dari ibuku sebelum pergi ke alam baka: patiraga, yang hanya boleh dipergunakan di waktu krisis jiwa melanda tanpa dapat diatasi. Kembali menjadi javanis? Buku Jawa tulisan Pak Poeh itu sejak 1940 telah mengisarkan otakku dari metafisika, dan lebih banyak memperhatikan rasio sebagai penunggang dan daging sebagai kuda yang harus dikendalikan. Masa baru 8 tahun sudah terjerembab dalam atavisme? Apa itu tidak memalukan? Tapi jalan hidup yang telah ditentukan dan ditempuh itu buntu. Dengan patiraga itu si kawula datang pada sang Gusti: inilah diriku, kukembalikan semua kepada-Mu; ambillah semua, bunuhlah kawula ini sekarang juga kalau memang sudah tidak berguna bagi kehidupan. Ya, memang sengaja aku hendak bunuh diri dengan patiraga.

Sang Gusti tidak mengambil semua yang telah aku serahkan, dikembalikan semua itu kepadaku. Diberinya aku sebuah gunung, kuil Yunani berpilar empat penyangga segitiga di atasnya, memahkotai gunung, dan sepenuh matahari di atasnya lagi. Memang bukan soal rasio lagi, juga bukan soal daging. Yang jelas seperti matahari itu sendiri: aku masih boleh hidup, masih berguna bagi kehidupan. Aku merasa sangat, sangat berbahagia. Semua serdadu KNIL dan KL dengan bedil dan bayonetnya, dinding-dinding penjara dan jadwal yang mengatur hidupku tiba-tiba terasa berada di sesuatu jarak dari pulau kebahagiaan di mana aku berdiri. Pulau kebahagiaan ini—karena tidak pernah mempelajari psikologi aku tak tahu namanya—mengandung dalam dirinya kebebasan, kemerdekaan mutlak untuk survive sebagai diri sendiri, intensif, kalis dari segala kekuatan politik, militer, sosial, dan ekonomi dengan semua sistemnya yang mungkin, sebuah khalwat persemadian, suatu conditio sine qua non, yang bagiku memberi kemungkinan untuk kerja kreatif. Pulau itu adalah sebuah mistikum, pulau di mana kawula meleburkan diri pada Gustinya, pulau di mana sang waktu berhenti bekerja, dan kerja kreatif di dalamnya merupakan keimanan. Ya, kerja kreatif adalah suatu bentuk keimanan.

Di pulau itu kutulis sejumlah karangan, termasuk di dalamnya Perburuan dan Keluarga Gerilya. Mungkin buat orang lain merupakan lelucon. Apa boleh buat. Tentang itu aku sendiri tidak memerlukan kepercayaan orang. Di kemudian hari kuketahui juga bahwa melalui rasio pulau itu pun dapat dilahirkan.

Walhasil: aku telah, tetap, dan akan terus menjadi pengarang.

Jamhur, seorang tua bekas globe trotter, bangun dan tidur mengeloni The Story of Philosophy Will Durant dan hanya beberapa menit dalam sehari rela meminjamkannya padaku, membentangkan senyum pada wajah keriputnya. Ia mengangguk dalam, lambat, suaranya yang lemah dan sayu terdengar bagai halilintar: Aku juga pengarang, Pram, tadinya; dengan sadar kuhentikan. Tulisan itu, Pram, tulisanmu bakal mengutuki kau sendiri, dia akan jadi hakim dan jaksamu sekaligus, yang bakal memburu-buru kau seumur hidup; jangan, Pram; hiduplah dalam keamanan, dalam kedamaian, tanpa hakim, tanpa jaksa; jangan tambahi beban diri; hidup mudamu sudah terlalu banyak ditelan penjara; kau diperlukan oleh dirimu sendiri.

Aku berjanji akan mengingat-ingat petuahnya. Tidak membantah, tidak mengiakan. Aku jalan terus. Dan sepenuhnya nasihatnya dapat aku pahami: si pengarang berkembang terus, tulisannya tidak ikut berkembang, dia berada di luar waktu, atau dalam ungkapan wayang: di luar kekuasaan Bhatara Kala.

(Sebagai kenangan pada orang tua yang mengagumkan itu perlu kuceritakan di sini: beberapa bulan setelah bebas dari penjara Bukit Duri pada Desember 1949 tanpa kuduga-duga aku bertemu dengannya di Hotel Des Indes. Ia bekerja di sekretariatnya Sultan Hamid. Ia bercerita, majikannya merancang lambang negara. Juga dibisikannya padaku: bersama sopir Sultan ia dapat membongkar rencana coup Sultan Hamid. Seminggu kemudian, Sultan ditangkap. Sejak itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Ialah orang pertama yang memberi ucapan atas terbitnya karangan-karanganku yang kutulis dalam penjara, tetapi ia tidak mengingatkan pada petuahnya.)

Di pulau yang kunamai mistikum itu kerja kreatif adalah mengagungkan sang Gusti yang menghidupi, melahirkan kenyataan baru, yang kemudian hidup di luar waktu. Ia tetap dalam keadaannya sewaktu dilahirkan, tak peduli dua tiga atau empat generasi telah datang dan pergi. Ia kalis dari tanggapan suka atau tidak suka, generasi demi generasi. Ia tak tergoyahkan oleh kritik, analisa, makalah, apalagi pemberangusan.

Dalam konferensi kebudayaan BMKN awal tahun 50-an Romo Dr. P.J Zoetmulder SJ menyatakan: Sastra menciptakan dirinya sendiri. Aku pikir, beliau tidak keliru bila melihat proses kreatif semata-mata dari jurusan mistikum dan meninggalkan mekanisme kreativitas, yang tak terpisahkan dari prosesnya. Justru mekanisme itu yang menjamin bahwa kreasi selamanya manusiawi, mengandung kekurangan, kesalahan, dan kekeliruan. Poly-interpretasibilitas atasnya tak lain dari barometer kemanusiaan kreasi. Makin tidak poly-interpretasibilitas makin dia mendekati pernyataan romo Zoetmulder, dan sudah mulai memasuki ambang igama. Tentang kemanusiaan kreasi tak lain dari Hegel yang menyebutkan tentang ein notwendiger Anachronismus, sebagai salah satu dari sejumlah cercah dari kemanusiaan kreasi artistik.

Mekanisme kreativitaslah yang menggugah tanggapan senang atau tidak, benci atau tidak, sampai-sampai orang melarang, membakar, atau memujanya. Sedangkan tanggapan pada gilirannya semata-mata ditentukan pesangon seseorang atau jelasnya total-jenderal informasi dalam dirinya yang ditentukan oleh rasio atau dagingnya, atau kedua-duanya sekaligus. Sedang kreasi itu sendiri tetap dalam keadaanya selama peradaban mendukungnya.

Sastra adalah bentuk kreasi makna dan pengertian dengan bahasa—lisan atau tulisan—sebagai alat. Dalam sejarah seni terdapat pendapat bahwa sastra adalah induk seni yang menjabarkan aspirasi keagamaan. Dialah yang melahirkan cabang seni lain: tari, musik, rupa, lukis, dan terakhir adalah drama, yang mempersatukan kembali semua cabang pada induknya, maka juga merupakan seni yang mengalami perkembangan terakhir.

Bagaimana hubungannya Perburuan dan Keluarga Gerilya?

Belum, belum lagi dijelaskan, sebelum mendudukkan masalah pokok lain.

Proses kreatif adalah semata-mata bersifat individual, yang bisa terjadi hanya setelah bentuk mistikum sebagai conditio sine qua non. Mistikum, kebebasan pribadi yang padat (condensed), yang melepaskan pribadi dari dunia di luarnya, yang membikin pribadi tidak terjamah oleh kekuasaan waktu, suatu kondisi di mana yang ada hanya sang pribadi dari dunia luarnya, yang membikin pribadi tidak terjamah oleh kekuasaan sang waktu, suatu kondisi di mana yang ada hanya sang pribadi dalam hubungan antara kawula dengan Gusti dengan bukti kegustiannya, tertampillah sang kreator dengan Kreator melalui pernyataan-pernyataannya. Dan maaf saja, karena ini pengalaman yang sangat individual sifatnya, maka tak membutuhkan pembenaran orang lain. Dan setelah permintaan maaf, yang juga merupakan bagian tak terpisahkan atas keterangan yang sangat pribadi, baru dapat dipisahkan si kreator, si individu, si daif itu, sebagai matahari yang memungkinkan bekerjanya mekanisme kreatif. Dan hanya ada dua macam kreasi saja: pertama melalui pernyataan alami oleh Sang Kreator dan pernyataan manusiawi melalui si kreator.

Dalam kehidupan alam semesta, manusia sebagai individu hanya merupakan sebuah noktah, namun titik yang tiada bandingan di seluruh alam semesta itu sendiri. Dan titik ini—berbeda dari isi alam selebihnya—mengandung dalam dirinya sang waktu yang tiga matra. Matra pertama merangkup pesangon—seluruh data informasi yang dihimpunnya melalui pengalaman indrawi, nalar, dan perasaan, yang merupakan jutaan benang dan simpul yang berhubungan dengan pribadi-pribadi lain (nyata dan niskala), benda-benda (nyata dan niskala). Matra pertama dengan rangkuman pesangon itu membawa pribadi ke matra kedua—posisi kini. Dengan matra pertama dan kedua sebagai pesangon pribadi dapat memasuki matra ketiga—posisi yang akan datang.

Dengan kemajuan teknologi, proses kreatif lebih mudah dibikin jelas melalui cara kerja komputer, yang juga bisa melahirkan perpaduan baru dari data yang disimpannya. Bukankah kreasi tak lain dari wujud baru hasil perpaduan dari data yang disimpannya. Bukankah kreasi tak lain dari wujud baru hasil perpaduan dari data tertentu yang tersimpan dalam pesangon? Setiap pribadi kaya akan pesangon asal tidak mengalami kerusakan pada jaringan syaraf atau otak, maka toeretis setiap orang mempunyai peluang berkreasi. Walhasil kreatif bukan suatu yang muluk, justru wajar. Tinggallah kini faktor pribadi yang membedakannya dari komputer: keberanian, kemauan, disiplin, keyakinan, tanggungjawab, dan kesadaran yang membikinnya berprakarsa tanpa perintah. Dengan unsur-unsur mental itu, dengan dukungan jaringan syaraf yang waras dan tersedia otot-otot sehat yang diperlukan, kreasi justru suatu keharusan.

Tanggung jawab individual dan sosial serta kesadaran, yang tak ada pada komputer, membuat karya sastra antaranya berfaal menyentakkan kesadaran dan tanggungjawab, rasional dan emosional, terhadap hal-hal dengan kemajemukannya. Semakin tinggi nilai karya sastra, sebenarnya tak lain karena semakin tinggi nilai sentaknya pada kesadaran dan tanggungjawab. Maka yang dilahirkan tanpa dan menolak kesadaran dan tanggungjawab, dalam trance ataupun “kesetanan”, bukan saja bukan seni dan justru yang dinamakan antikultur.

Komponen dalam pesangon dengan intensitas—pengalaman indrawi, nalar, atau perasaan yang intensif—baik dari beberapa ataupun semua matra menjadi barang gubal yang merangsang bangunya kesadaran itu yang umum dinamai ilham. Kemudian lahir berbagai lelucon tentang cara orang “mencari” atau “mendapat” ilham. Seorang penyair, A.S. Dharta, mengatakan: Ilham adalah hasil kerja keras. Juga ada yang mengatakan tempatnya di kakus. Setidak-tidaknya pengalaman yang tidak intensif tidak cukup kuat untuk melahirkan ilham. Ada sangat banyak pelaut yang sekian belas kali mengelilingi bola dunia dan tidak pernah melahirkan kreasi. Ada juga terlalu banyak orang yang berpesangon sejumlah besar pengalaman intensif, tetapi tidak melakukan pemaduan dengan komponen dalam matra-matra lain, maka tetap tidak kreatif, atau telah kreatif dalam pikirannya tetapi tidak ada keberanian dalam menyatakannya.

Penganiayaan, perampasan harta-benda, perampasan kebebasan dan hak-hak sipil atas seseorang, merupakan pengalaman yang intensif pada si penderita. Namun intensitasnya lambat-laun menjadi berkurang karena kekuasaan sang waktu. Penghinaan yang dideritakan seseorang akan merupakan pengalaman intensif yang tidak akan berkurang sepanjang hidupnya, selama sistem syaraf dan otaknya tidak rusak. Tidak mengherankan bila pada zaman satria banyak dilahirkan cerita berangkai, yang lahir karena diilhami dua macam pengalaman intensif tersebut.

Namun bagiku masalahnya tetap: tanpa mistikum proses kreatif tidak bisa jalan. Mistikum alias kebebasan memadat (condensed freedom) yang memungkinkan terjadinya penjarakan si pribadi dari semua-semuanya, suatu pendistansian yang menyebabkan semua berada di luar dirinya. Si pribadi berdiri seorang diri, di luar dirinya data informasi semata, seperti lautan. Tanpa mistikum orang hanya bisa berproduksi atau memproduksi. Setidak-tidaknya demikian menurut pengalaman pribadi. Memang kreasi termasuk hasil produksi, tetapi produksi yang menambahkan benda rohani pada jumlah yang sudah ada. Produksi saja tidak menambah jumlah benda rohani yang ada, tetapi benar telah menambah jumlah informasi, sedang reproduksi menambah jumlah ulangan informasi yang telah ada.

Baik kreasi, produksi maupun reproduksi mempunyai kebajikan dan nilainya sendiri-sendiri atau jsutru sebaliknya. Dikatakan justru sebaliknya karena setiap apa pun mempunyai segi lain dalam dirinya. Selanjutnya tinggal dukungan teknis: alat dan cara berkomunikasi dengan dunia di luar diri serta ketrampilan menggunakannya. Di bidang sastra, alat itu tentu saja bahasa. Dengan alat sederhana dan ketrampilan tinggi atau sebaliknya dengan alat serba lengkap dengan ketrampilan rendah akan dinyatakan pada dunia kreasi yang berbeda-beda.

Demikianlah pengalaman kreatif sejauh aku alami. Karena merupakan pengalaman pribadi barang tentu subyektif. Sekiranya yang subyektif itu mewakili juga pengalaman sejumlah besar pengalaman lain, bukan mustahil ia menjadi obyektif. Namun penyimpulan atas pengalaman subyektif, hasilnya juga subyektif; kearifan yang lahir daripadanya adalah juga subyektif. Keobyektifanya tetap masih harus ditemukan dalam kesejajaran dan kesamaan dengan jumlah besar yang tersedia.

Dengan pertelaan panjang bertele tersebut, baru aku merasa mampu bercerita hal-ihwal yang khsus.

PERBURUAN.

Novel ini sepenuhnya didorong oleh semangat anti-Jepang, atau lebih tepatnya: anti militerisme Jepang. Segi lain atau sisi lain—karena tidak ada sesuatu pun yang hanya bersisi tunggal—adalah semangat patriotik. Apabila disebutkan tentang semangat patriotik boleh jadi untuk masa lain, mungkin masa sekarang, akan terasa kembung. Apa boleh buat, itulah memang semangat pribadi pada masanya.

Semangat anti-Jepang lahir karena data yang terkumpul melalui pengalaman indrawi. Pada tanggal 2 Maret 1942 dekat setelah matahari terbit, pasukan darat Jepang memasuki kota kelahiranku, Blora. Semua penduduk barang dua-tiga jam sebelumnya telah terjaga, dibangunkan oleh gelegar bombardemen tak henti-hentinya, yang terdengar dari kejauhan. Jepang dalam truk-truk memasuki kota kami dengan menyebarkan bendera-kertas Jepang, dan sang merah-putih di baliknya. Ada tercantum sebaris kata: “Nippon saudara tua.” Naluri politik penduduk menyatakan diri dalam bentuk sambutan terhadap kedatangan Nippon, sisi lainnya: selesainya kekuatan Hindia Belanda. Hanya beberapa hari setelah itu kegembiraan politik sama sekali lenyap: Jepang mulai gentayangan memperkosai wanita. Dua serdadu Jepang yang dihukum mati di alun-alun karena perkosaan tidak meredakan keresahan. Para wanita dari remaja sampai nenek pada berbedak jelaga.

Kemudian yang menimpa diriku pribadi. Tidak lebih dari tiga hari di bawah kekuasaan Jepang, pada suatu hari aku berkeliling kota untuk mencari berita. Di jalanan kuburan yang senyap, aku berpapasan dengan dua serdadu Jepang yang sedang berpatroli mengendarai sepeda kayu. Mereka hentikan aku, dan aku turun dari sepeda-baruku. Langsung milik kebanggaan itu dirampas. Kemudian menyusul milik kebanggaan kedua—jam tangan, pindah ke kantong salah seorang di antara mereka. Aku pulang, terondol, tercukur dari milik kebanggaan, membawa beban kebencian dalam hati, yang ternyata menjadi pengalaman intensif dari bangsa saudara tua. Tak lebih dari dua hari setelah itu, sepeda ayahku—yang belum lagi lunas cicilannya—juga dirampas. Perampasan perhiasan dari logam mulia kemudian menjadi berita sehari-hari. Dua bulan kekuasaan dan terror Jepang ditonggaki dengan meninggalnya ibu dan adik bungsu dalam jam yang sama, dan kepergianku meninggalkan rumah orang tua sebagai anak berumur 17 tahun yang telah dianggap dewasa. Ke Batavia (waktu itu Jepang melalui Osamu Seirei-nya belum mengubahnya menjadi Jakarta), membawa segerobak pesangon berisikan sejumlah pengalaman masa perang yang intensif untuk seorang remaja.

Di Jakarta, yang pada mulanya terasa tenang, aman, dan menyenangkan, makin lama makin meyakinkan bahwa tak ada lagi tempat aman dalam kekuasaan militerisme Jepang. Di sekolah, Taman Dewasa, segala macam keganasan Jepang menjadi berita setiap hari: larangan menggunakan bahasa musuh Jepang, pengibaran merah-putih, sekolah-sekolah nasional; siksaan Jepang dan tak jarang sampai mati hanya karena kejahatan-kejahatan kecil; pembunuhan besar-besaran terhadap penduduk berpendidikan di atas sekolah dasar di Kalimantan Barat untuk di-Korea-kan, di antaranya seorang ahli malaria yang katanya adik dr. Soetomo; penghajaran terhadap para siswa yang pingsan waktu taiso karena keluarga-keluarga semakin tak mampu menyediakan sarapan. Karena di sore hari aku bekerja di kantor berita Domei, yang hanya memberitakan kemenangan, kebenaran, dan kebajikan Jepang—barangkali orang Jepang sendiri pun sudah tidak percaya—menjadi sangat penting desas-desus yang semuanya serba menggelisahkan itu, dan ternyata jauh lebih tinggi kadar kebenarannya daripada segala yang aku ketik di kantor sebagai berita resmi.

Waktu liburan selalu kupergunakan mendekam di ruang baca perpustakaan Gedung gajah. Tepat di sebelah kanan ruang baca adalah gedung markas Kempei Tai. Mulai lembaran pertama buku dibaca sampai ruangan ditutup, silih-berganti raungan “ampun, tuan”. Dan bila terdengar rantai besi ditarik, aku kira semua orang sudah tahu apa yang sedang terjadi dalam kamar penganiayaan itu: seorang tahanan ditelentangkan, dipaksa minum seember air sabun. Dengan gerincing rantai besi berarti orang celaka itu diikat kakinya, dikerek ke atas dengan air sabun bermuntahan dari mulutnya. Hanya dengan raungan tanpa gerincing, berarti kuku tangan dan kaki dicabuti satu demi satu, perlahan-lahan. Dan bila yang terdengar hanya desah dan napas terengah kacau, perut yang melembung dengan air sabun sedang diinjak-injak dengan sepatu karet. Di kantor aku terus memperbanyak kemenangan, kebenaran, dan kebajikan Jepang. Memang terpikir: ini bangsa apa sebenarnya? Kelakuannya bukan saja menerbitkan kebencian, tapi juga menjijikkan. Dari korps pengarang Indonesia yang pernah jadi korban keganasan Kempei jepang adalah Chairil Anwar karena syairnya “Aku”.

Bukan maksudku bercerita tentang perbuatan militerisme Jepang, tetapi tentang masukan yang melahirkan semangat anti-Jepang dan sisi yang lainnya: semangat patriotik, atau menurut susunan sungsang daripadanya.

Dalam tahun kedua kekuasaan Jepang, keadaan semakin gawat. Para petani menderita lebih banyak daripada semasa kurun Cultuurstelsel. Ratusan ribu mati kelaparan sebagai romusha, pekerja paksa, jauh di luar kampung halamannya sendiri. Yang berhasil melarikan diri tak luput diterkam kelaparan, mati di jalan-jalan raya di bawah kaki orang lalu-lalang, yang tinggal menunggu giliran mengalami nasib sama. Sementara itu Jepang dengan janji hendak menyekolahkannya ke Tokyo telah menjaring ribuan remaja putri lulusan SD untuk umpan seks serdadu-serdadunya, terutama di pulau-pulau strategis, bahkan sampai di Thursday Island di Sl. Torres. Sampai di mana kebenaran desas-desus itu aku tak tahu. Kemudian Jepang melakukan drive menghimpun batu dan logam mulia, yang resminya diminta penyerahannya secara sukarela. Berpadu dengan penjaring gadis-gadis remaja, drive ini menambah jumlah para gadis yang jadi korban. Mereka terutama berasal dari keluarga para pejabat, dari punggawa desa sampai bupati.

Kekejian dan keganasan seperti itu baru pertama kali masuk sebagai data dalam diriku dan menggugah perasaan benci, muak, jijik, yang karena intensifnya setiap kali muncul kembali dalam kesadaran. Kekuasaan sang waktu tidak mampu menghapuskannya.

Bukan berarti tidak ada pribadi Jepang yang baik. Setidak-tidaknya Matano, pembesar Jepang pada kantor berita Domei telah memberikan padaku kesempatan belajar setahun penuh, dengan gaji penuh, untuk menjadi stenograf profesional. Selama kursus satu tahun mendapat pelajaran politik dari Ir. Soekarno, ekonomi dari Drs. M. Hatta, sosiologi dari Maroeto Nitimihardjo, kemudian juga dari Soekardjo Wirjopranoto sebagai pengganti Bung Karno, bahasa Indonesia dari Datoek Besar; stenografi dari Karoendeng; dan tentu saja bahasa Jepang dan baris-berbaris. Kebaikan Jepang itu memang telah ikut membukakan jalanku pada hari depan yang lebih mantap. Aku bangga telah pernah menjadi murid ternama dan pejuang sekaligus. Tonggak kebanggaan masa ini ialah buku Dipanegara sebagai hasil catatan stenografis dari ceramah Mr. Mh. Yamin pada tahun 1944, kemudian juga bagian-bagian pertama Gadjah Mada pada tahun 1945.

Tetapi kekuasaan Jepang itu juga yang menutup Taman Dewasa, sehingga aku tak bisa meneruskan ke kelas 3. Jepang itu juga yang menjatuhkan pedang samurainya di atas tengkuk para pelaku pemberontakan Blitar di lapangan kendo, di seberang Gedung Gajah. Di segi lain perlawanan PETA, yang membuktikan faktor subyektif Indonesia belum lagi patah, telah meluapkan simpati patriotik, dan orang membicarakannya dengan berbisik-bisik.

Dari masa Jepang ini sampai jauh kemudian masih terasai sakit hati karena suatu peristiwa yang sepele saja. Pasa suatu kali kembali aku mempunyai sepeda lagi, sebuah Fongers lengkap, walau tidak baru. Seseorang membutuhkan sarung dan aku punya simpanan sarung baru. Begitulah ia mendapatkan sarung baru dan aku mendapatkan Fongers bekas, lengkap, dan sesuai dengan “zaman”-nya dua-dua rodanya ber-ban mati. Dalam film tentu akan melahirkan pemandangan indah melihat sepeda dengan ban mati yang sudah tua dan motor berputar mendahului sepedanya. Ban-ku belum lagi tua walau sudah molor juga beberapa sentimeter.

Semua jalanan di Jakarta pada waktu itu berlubang-lubang. Lapisan atas semua jalanan telah gundul dan dalam lubang-lubangnya berkubang batu-batuan. Pada suatu siang aku berangkat ke kantor, meliuk-liuk menghindari lubang. Tiba-tiba dibelakangku meraung klakson truk militer. Saking kagetku, roda depan terperosok lubang dan sepedaku meliuk ke tengah jalan. Truk itu mengerem. Dari kabin truk meledak petir: Nan da kurah! Dan mata melotot. Tidak semudah itu mendorong sepeda dengan bannya yang lepas dan tergencet porok. Seorang serdadu melompat turun. Buru-buru aku pikul sepeda kebanggaan itu dan kulemparkan ke pinggir jalan. Lari. Di belakangku meraung-raung dia: Bagéro maé! Genjumin!

Hanya rangkaian caci-maki. Sakit hati itu ternyata tak pernah lenyap.

Di banyak tempat di Jakarta terdapat pensil dikurung pagar kajang bambu tinggi: tempat tawanan dan persundalan serdadu Jepang. Dan bila aku pergi ke Balai Pustaka untuk mencari buku, dapat dipastikan selalu terdengar tawa cekikikan wanita-wanita—di antaranya tetangga depan rumah sendiri—dari jendela-jendela bawah tanah kamar-bola Concordia (kemudian menjadi Gedung Parlemen RIS.)

Ternyata waktu telah lulus jadi setnograf kelas 2. Domei tidak memberikan perbaikan nasib. Adam Malik memberi pekerjaan menyusun kronik perang Jepang-Tiongkok padaku. Ia tidak puas dan aku diturunkan menjadi klapper. Juga tidak puas, kemudian disepak ke dokumentasi. Minta berhenti pada Adam Malik juga tidak digubris. Keadaan di luar dan di dalam diri sudah tidak tertahankan. Domei kutinggalkan. Takut pada balas dendam dengan tangan-tangan Kempei, akhirnya aku lari ke Jawa Timur, di sebuah desa yang damai, yang terbenam dalam kemiskinan. Berita Proklamasi membuat kutinggalkan Jawa timur. Di Blora sedang diadakan pertunjukan sandiwara “Indonesia Merdeka.” hanya seperempat jam aku kuat mengikuti. Pada waktu itu timbul tantangan dalam hati: aku akan tulis berita yang jauh lebih baik dari “Indonesia Merdeka” Blora ini, sebuah cerita yang bersemangat anti-Jepang, patriotik, ditutup dengan proklamasi kemerdekaan. Aku yakin dapat membuat cerita seperti itu. Bukankah guru-guruku di Taman Dewasa pernah memberikan pujian bahwa tulisanku adalah yang terbaik dalam dua edisi majalah sekolah tahun 1942-1943? Sekalipun, ya, sekalipun tulisan-tulisanku tidak pernah dimuat, sedang beberapa dari karya teman-temanku sesekolah, A.K. Hadi dan Asrul Sani, terus-menerus berkilauan dalam harian Pemandangan sebelum ditutup karena memasang gambar Tennoo Heika yang kena terjang Hinomaru?

Kembali ke Jakarta, ternyata peristiwa-peristiwa besar mendesak keinginan-keinginan pribadi. Kebencian pada Jepang membikin setiap orang Jepang, sakura (sipil) maupun serdadu, yang membolos dari konsinye akan menemui ajalnya oleh pembalasan dendam. Di kemudian hari kudengar dari tangan pertama bahwa korps pengarang Indonesia yang telah membunuh Jepang dengan tangannya sendiri adalah Gayus Siagian di Jalan Kwitang dekat jembatan. Seorang teman, yang pernah diikat Jepang dijemur selama dua hari dua malam karena mencuri tujuh batang paku untuk memperbaiki rumahnya, telah menangkap seorang, dan dengan dendamnya yang tak terkendalikan telah mengulitinya hidup-hidup.

Dengan dendam yang sama, bersama dengan para pemuda kampung kami ikut menyerbu sebuah hotel markas Jepang di Jalan Gunung Sahari. Penghuninya adalah orang-orang Kaigun (Angkatan Laut). Dalam pengepungan yang tinggal berjarak tiga meter itu, Jepang tak juga menembak. Dendam itu cair berantakan waktu kolonel Jepang itu mengeluarkan selembar kertas dari kantongnya, menyerahkannya pada pimpinan penyerbuan—kalau tidak salah Hasan Gayo—dan dengan bahasa Indonesia patah-patah mengatakan: Surat dari Bung Karno, kami boleh hidup. Boleh ambil semua, jangan jiwa kami.

Betapa dendam dan kebencian itu lumat, karena ketaatan pada proklamator juga bagian patriotisme pada masanya. Dan dalam kesenggangan di tengah-tengah riuh-rendah revolusi itu, cerita lain yang kutulis: Sepuluh Kepala Nica, sebuah cerita yang lebih banyak merupakan reportase. Tidak bisa lain.

Revolusi telah membawa aku mengembara ke berbagai tempat; cerita yang hendak kutulis semakin terlupakan. Yang dilahirkan justru cerita tentang petualangan seorang pengamen dan terjemahan karya Frits van Raalte yang sentimental itu. Setelah keluar dari dinas militer, ternyata yang dihasilkan juga lain: Di Tepi Kali Bekasi, karena dorongan keaktualan dan pengawetan kesan pengalaman yang baru ditinggalkan. Kemudian terjemahan karya Tolstoy, Lody Zielens, dan sedikit dari de St. Exupery, yang bukunya dipinjamkan H.B. Jassin padaku untuk dibaca. Tercemplungnya diri ke dalam penjara semakin menjauhkan kesempatan untuk menjawab tantangan.

Kemudian sampailah aku pada peristiwa percobaan bunuh diri melalui patiraga itu. Diberikan padaku gunung, kuil Yunani, dan matahari. Punah kerisauan, keputusasaan, dan tekanan batin. Gunung, kuil, dan matahari itu kiranya diagram mekanisme kreatif. Gunung itu tak lain dari pesangon dengan intensitas diwakili oleh puncak (-puncaknya)-nya; kuil adalah ilmu, pengetahuan, kearifan, kebijakan, yang dapat disarikan, dirumuskan dari sang gunung; matahari adalah sang pribadi dengan integritasnya. Yang belakangan ini yang membuat segala apa di bawahnya nampak atau tidak nampak, terang atau suram. Bila tiga-tiganya hadir dalam mistikum, proses kreatif terjadi. Gunung dan kuil adalah barang maujud, barang gubal, matahari yang membikinnya hidup dengan sinarnya. Kreasi tidak mungkin lahir tanpa desakan dalam si pribadi, bukan karena fasilitas, bukan kehendak si daging yang haus kemahsyuran dan kemudahan hidup. Matahari yang menentukan. Yang tak kena sinarnya akan gelap. Bukan karena malam maka matahari tak bersinar. Bukan karena ketiadaan waktu atau ketiadaan kesempatan kreasi tidak lahir, tapi karena tidak ada dorongan-dalam, tidak ada sinar keluar dari matahari, karena matahari tidak ada. Ketiadaan matahari berarti hanya dibuka kemungkinan untuk berproduksi, pemotretan atas gunung dan kuil.

Melalui diagram tersebut, maka juga kritik atas karya sastra dan karya seni pada umumnya dapat melakukan pelacakan terhadap gunung yang memungkinkan berdirinya sebuah kuil dan matahari yang menyinarinya.

Dalam kerja kreatif, matahari bisa timbul hanya dengan adanya mistikum, ada distansi antara matahari dengan kuil dan gunung.

Aku kuatir ceritaku ini cukup bertele. Apa boleh buat, begitulah memang ceritanya. Dalam mistikum, matahari itu menyinari kuil Yunani sebagai lambang semangat anti-Jepang dan semangat patriotik pada sisinya yang lain. Di bawahnya data dalam penyinaran bukan saja nampak, tapi juga hidup. Dengan dukungan teknis, apa yang berproses dalam mistikum dipindahkan ke atas kertas.

Karena tantangan untuk menulis Perburuan berasal dari tempat kelahiranku, Blora, maka setting-nya aku ambil dari tempat itu juga. Dan setting sangat diperlukan untuk memberikan ruang yang meyakinkan bagi cerita itu untuk dapat berlangsung dengan mantap.

Perpustakaan cukup memadai, sumbangan dari Panitia Korban Politik, yang diketuai oleh Nona Erna Djajadiningrat. Dari perpustakaan itu aku bisa belajar bahasa Inggris dengan buku Steinbeck Of Mice and Man, dan sekaligus dipesonai oleh teknik bercerita. Bagaimana teknik pemenang Hadiah Nobel ini? Tidak mencampuri urusan tokoh-tokohnya, dan menggambarkan gerak-gerik kalbu mereka hanya melalui keterangan yang dapat ditangkap oleh indra: penglihatan dan pendengaran. Dari tulisan-tulisan Idrus yang dikirmkan ke Jassin kepadaku, dapat kupelajari tentang penyusunan kalimat di mana tidak ada satu kata pun yang boleh menjadi beban kalimat itu sendiri. Semua kata yang tidak diperlukan harus dicoret. Dan seterusnya setiap kalimat yang merupakan beban alinea juga harus dibuang. Dengan demikian dapat diharapkan tulisan yang jernih, setiap kata berdenting nyaring bila diuji, yang dapat dibandingkan dengan orang melaras gamelan.

Terakhir adalah cerita bagaimana menulis cerita tersebut. Ya, dilakukan pada waktu tidak terkena kerja paksa, duduk berjongkok di atas kaleng margarin dengan alas sepotong kecil papan, bermeja tulis ambin beton tempat tidur. Bila terdengar langkah sepatu bot serdadu bagian atas pintu sel terdapat jendela sorong tempat pengawal mengintip, maka di malam hari hanya dapat menulis di bawah ambin beton sambil tengkurap dan menggunakan pelita. Minyak tanah dibeli dari teman-teman yang bekerja di dapur. Kertas didapat dari kiriman sang pacar.

Dalam satu minggu bekerja seperti itu, naskah Perburuan pun selesai. Tentang pertimbangan diri sastra daripadanya, jelas itu menjadi urusan para penimbang. Sedang bagiku sendiri: menulis merupakan terjemahan dari keadaan bahwa kehadiranku masih ada gunanya bagi kehidupan.

Proses kreatif terjadinya Keluarga Gerilya tak lain hanya runtunan kerja setelah Perburuan. Yang dapat diceritakan adalah tentang gunung dan kuilnya. Matahari tetap yang itu-itu juga. Dari Perburuan ke Keluarga Gerilya didapatkan pengalaman bahwa mistikum sebagai conditio sine qua non ternyata dapat dibuat ada melalui jalan yang rasional: pembebasan dirinya sepenuhnya dari kekuasaan sang daging atau kuda tunggangan menurut ajaran Pak Poeh, sehingga yang ada hanya si pribadi dengan dirinya sendiri dalam kebebasan yang padat. Jalan ini memang menuntut ilmu disiplin diri tanpa kompromi. Sama sekali tidak diperlukan jalan yang aneh-aneh. Berabad-abad orang menciptakan mistikum untuk dapat memberikan kesempatan pada sang pribadi buat bersemadi, bermeditasi, atau berkonsentrasi. Jadi setiap orang dapat melakukannya. Hanya dalam menggunakan berkreasi semakin orang meninggalkan umurnya yang ke-30 semakin lambat prosesnya justru karena meningkatnya kemampuan intelektual, membengkaknya pesangon, membikin terlalu banyak pilihan, memberikan terlalu banyak hiasan dan kemegahan pada kuil di atas gunung, sehingga proses kreatif menjadi timpang. Tidak mengherankan bila banyak terjadi orang di atas umur 30 merasa kehilangan kemampuan untuk bekerja kreatif. Ia dikalahkan oleh kuilnya sendiri, menjadi penyembah kuil.

Baiklah kututup cerita bertele yang melelahkan itu, juga untukku sendiri.

KELUARGA GERILYA.

Novel ini sepenuhnya didorong oleh semangat patriotik, dengan humanitas pada seginya yang lain, idealisme utopis yang jatuh bangun dalam pengingkarannya terhadap kenyataan.

Pesangonnya adalah pengalaman semasa revolusi. Waktu itu aku menjabat komandan seksi di bawah resimen. Pemuda-pemuda dari suku Jawa mendominasi kedudukan tinggi dalam kesatuan. Dengan masih dekatnya dengan masa kolonial, maka para perwira, rendahan maupun menengah, pada umumnya mengerti dan dapat menggunakan bahasa Belanda. Yang tidak, akan sulit menempatkan diri, juga akan sulit mengikuti pembicaraan, baik dalam briefing maupun dalam percakapan sehari-hari. Di bawah letnan sampai sersan, juga banyak yang tahu bahasa Belanda.

Pada awal pembentukan kesatuan, serombongan “anak Betawi” datang menggabungkan diri dalam jumlah lebih dari 40 pemuda. Pemimpinya, Wahab, nampaknya telah banyak pengalaman tempur di Jakarta. Dengan sendirinya rombongan diterima dan Wahab ditunjuk menjadi kepala seksi dalam sebuah batalyon tempur. Dalam waktu satu tahun ia tetap mengikuti perintah. Karena “anak Betawi” berjiwa lebih bebas, untuk para perwira yang berasal dari keluarga priyayi mereka meninggalkan kesan sebagai “gerombolan anak urakan”–kemampuan tempur dan keberanian mereka tidak lagi diperhitungkan bila yang bicara adalah suka atau tidak suka. Lagi pula, seksi “anak Betawi” tersebut dianggap dari kelas rendah karena tak ada yang tahu bahasa Belanda. Begitulah pada suatu hari oleh komandan batalyonnya ia diserahkan pada resimen, dan resimen menempatkannya dalam batalyon lain. Dalam tiga bulan seksi Wahab pindah ke empat-empat batalyon yang ada, sampai pada suatu waktu kuterima surat panggilan dari atasanku. Perintah lisan yang kuterima: menampung aksi Wahab. Menampung seluruh seksi aku tidak mampu. Komandanku mengalah, memberikan setengah seksi dengan Wahab tetap dengan pangkatnya, letnan-muda. Syarat diterima oleh komandanku: kalau tenaga baru itu tidak bisa kupergunakan dalam melaksanakan dinas yang dipercayakan padaku, mereka akan kukembalikan pada resimen. Ternyata kedudukanku menjadi sulit. Wakilku adalah seorang sersan-mayor. Dia letnan-muda. Organisasi kesatuanku menjadi terganggu.

Ternyata konduite Wahab dan anak buahnya tidak cocok dengan kenyataan. Mereka, terutama Wahab sendiri, cukup sopan. Juga ternyata bahwa dalam percobaan selama dua bulan tidak seorang pun di antara mereka dapat melakukan tugas baru. Aku terpaksa mengembalikan mereka pada resimen dengan berat hati. Sebelumnya aku minta maaf pada Wahab. Dia betul-betul menjadi down dan mendesis: Ya, memang cuma sampai sebegitu kemampuan kami, Pak.

Beberapa minggu kemudian, seluruh kesatuannya dilepas dari kemiliteran. Aku terasa tersiksa oleh kenyataan itu. Ia sering muncul dalam ingatan setelah dipecat: lusuh, penampilan dan tubuhnya yang jangkung semampai.

Dalam penjara Bukit Duri kembali ia datang padaku melalui berita koran: dihadapkan ke pengadilan militer karena serangan-serangannya di berbagai tempat di Jakarta yang diduduki Belanda. Wahab, tukang becak. Tertangkap dalam operasinya terakhir: menggranat gedung bioskop Capitol di Pintu Besi. Hukuman mati. Ia telah menghadapi peleton penembak di penjara Glodok tanpa organisasi gerilya kota Jakarta terbongkar. Ia yang diusir dari kesatuan yang satu ke kesatuan yang lainnya dalam kemiliteran. Ia yang dengan tulus tanpa pamrih menyerahkan hidup dan matinya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia mati karena pimpinan gerilya kota Jakarta kurang berpengalaman dan kurang tahu tentang taktik dan strategi. Kejadian itu mengingatkan aku pada seorang pemuda Tiongkok yang membawa granat memasuki sebuah pasar malam di Shanghai dan membubarkan pengunjung dengan mengumpat: sudah tahu bangsa dan tanah air diinjak-injak Jepang, kalian bersenang-senang di sini! (ini adalah data waktu ditugaskan menyusun kronik oleh Adam malik di Domei!)

Didorong oleh emosi tentangnya serta aktualitas peristiwa akhir hayatnya yang dramatis, dalam bulan Desember 1947 itu langsung kutulis karangan pendek “Kenang-Kenangan Pada Kawan” dengan tambahan keterangan “yang menjalani hukuman mati, yang harus mau ditembak mati” (Pertjikan Revolusi, Cetakan ke-2, 1957, halaman 147-154; sebelum itu diumumkan majalah Mimbar Indonesia, 1948; sedang sebagai kumpulan cerpen mula-mula diterbitkan oleh Gapura, 1951). Itu terjadi sebelum patiraga.

Walau kewajiban pada seorang teman telah kulakukan secara wajar dan patut, nuraniku masih juga digugat: tulisan pendek itu, “Kenang-Kenangan Pada Kawan” belum lagi cukup adil mendudukkannya sebagai manusia dengan kondisi, posisi, dan situasinya. Kau patut berlaku lebih adil terhadapnya. Tantangan itu memang aku terima. Akan kududukkan Wahab di timbangan yang lebih adil.

Tetapi aku praktis tak tahu tentang pribadinya kecuali dari beberapa kali pertemuan. Maka imajinasi diperlukan untuk merangkaikan satu dengan lain data dalam pesangon untuk dapat mendudukkannya dalam kondisi, situasi, dan posisi yang layak nalar.

Data-data yang cocok untuk itu melalui pencetan tombol dikeluarkan dari kantong pesangon. Pertama-tama adalah berita dari tangkapan-tangkapan baru, para prajurit Siliwangi, dalam long-march-nya dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Memang tidak banyak data daripadanya, sekalipun memang menggelora, dan semakin sering diulang semakin menjadi pudar.

Dalam tahun 1948 itu juga masuk data yang cukup menggoncangkan. Sebagaimana biasa para tahanan pada duduk atau berdiri di pelataran dekat pagar-dalam yang memisahkan pelataran kantor dengan pelataran tahanan, duduk berjajar di atas umpak pagar besi itu, atau berdiri sambil berpegangan palan besi-siku tiang jemuran. Di tengah-tengah lingkaran seorang membaca koran. Lingkaran yang biasanya ribut dengan komentar itu terdiam, terpukau: pemberontakan komunis di Madiun. Selesai pembacaan orang bubar. Tak ada yang bercericis memberi komentar. Lambat-lambat aku melangkah ke selku. Mataku basah. Seorang teman, Koerdi Satjapraja, mengikuti dari belakang, ikut masuk. Agak lama baru terdengar ia bertanya: bagaimana pendapatku. Sebentar lagi mereka akan tumpas. Mengapa? Dilihat dari totalitas perjuangan, mereka salah.

Pengalaman-pengalaman intensif selamanya merupakan puncak gunung yang akan lebih cepat tersentuh sinar matahari berbanding yang kurang intensif. Demikian juga data dari pelarian Nusa Kambangan yang tertangkap di Jakarta. Dari mereka dapat diketahui tentang para tawanan yang disalib sampai mati oelh Belanda dan para penjahat perang Jepang yang menjalani hukuman mati di penjara Glodok di bawah peleton penembak Belanda. Yang pertama sebagai data tersisih dari Keluarga Gerilya karena tidak punya relevansi. Tetapi yang belakangan merupakan unsur terpenting dalam novel tersebut. Tentang bagaimana Saaman bereaksi sewaktu menghadapi peleton penembak, semata-mata adalah hasil imajinasi: sekiranya diriku Saaman. Dan sungguh, protagonis dalam sebuah cerita tak lain dari pribadi si pengarangnya, sang matahari di tengah-tengah dan di atas segala yang disinarinya. Karena itu sampai kini aku tak mampu bayangkan bagaimana seorang pengarang menumpangkan dirinya pada kewibawaan protagonis yang telah ada seperti dan terutama dalam cerita-cerita wayang.

Dari pengalaman itu aku ketahui bahwa berpadunya pengarang dengan protagonis hanya dimungkinkan oleh pengertian, kecintaan, dan ikatan batin. Tetapi pengarang bukan hanya menampilkan tokoh utama, juga tokoh penunjang dan tokoh sampingan, baik yang muncul sekilas maupun berkali-kali. Juga pengarang telah berpadu dengan mereka, baik dia tampilkan sebagai lawan ataupun seiring. Soalnya adalah memahami manusia dengan suka dan dukanya, dengan impian dan batu-tarungnya, dengan sukses dan kegagalannya, dengan perlawanan dan penyerahannya pada situasi hidupnya. Dan memang masalah sastra adalah masalah manusia dalam kehidupannya. Memahami sastra adalah juga memahami manusia, dan juga bisa sebaliknya.

Dalam Keluarga Gerilya terdapat pertentangan antara anak dan ayah, yang diakhiri dengan tindakan fatal. Materi dalam pesangon ini banyak aku kutip dalam kehidupanku sendiri. Kebetulan—seperti halnya dengan orang-orang seumurku—mengalami masa-masa peralihan; dari kolonialisme ke militerisme, dan dari militerisme ke kemerdekaan nasional. Dalam suatu masa peralihan adalah suatu kewajaran bila ada dari angkatan tua yang sudah tidak mampu lagi menyesuaikan diri dengan progress. Pada awal revolusi bukan sesuatu yang mengherankan bila terjadi pertentangan fatal, yang pada mulanya memang terdengar mengagetkan. Data dari golongan orang tua semacam ayah Saaman bersaudara aku dapatkan dari seorang demobilisan marine yang pulang dari Australia, dan pernah menjadi tetanggaku di Kemayoran setelah masa dinasku dari kemiliteran. Deretan rumah di seberang tempatku, ditinggali oleh keluarga dari jajaran Belanda. Satu-dua demobilisan dari Sailan dan di ujung deretan seorang Menado KNIL. Sedang tingkah laku orang KNILtelah banyak kulihat sendiri di penjara dan dalam pengawalan waktu melakukan kerja paksa. Tentang kehidupan tukang becak? Sejak zaman Jepang telah banyak kulakukan pengamatan tentang kehidupan mereka. Malah sahabat dan teman sepermainanku sendiri memasuki kehidupan sebagai tukang becak di Semarang, dan setiap kali pulang ke kampung mencurahkan semua pengalamannya padaku.

Telah aku ceritakan hampir seluruh data dalam pesangon—gunung itu—yang menjadi bahan gubal novelku itu. Yang tertinggal sekarang adalah masalah dukungan teknis.

Teknik yang dihadiahkan oleh Steinbeck padaku nampaknya akan menjadi milik tetap. Ya, waktu itu aku masih sangat muda, di bawah 25 tahun. Sebelum itu aku reguk habis-habisan teknik Lode Zielens. Maklum saja: tong kosong akan menelan apa saja yang dituangkan dalam dirinya. Ia mengajarkan bahwa antara kenyataan obyektif dan kenyataan subyektif tidak ada jarak. Semua yang menentukan adalah gerak kedua-duanya. Dan gerak tidak selamanya berakhir dalam kebulatan. Banyak kala hanya sekali letupan tanpa ada hubungan. Demikian juga pantulannya dalam penyusunan kalimat. Kemudian menyusul Steinbeck yang membebaskan tindakan dari tafsiran. Dan dalam menulis Karangan Gerilya datang padaku William Saroyan dengan Human Comedy-nya. Steinbeck menderetkan kata-kata sederhana bermuatan padat, kalimat-kalimat api dan utuh. Saroyan lain lagi: ia mengajarkan bagaimana perasaan manusia yang paling elementer adalah jembatan yang tercepat untuk mencapai sesama, maka kalimat-kalimat digiring ke arah adegan-adegan di mana perasaan paling elementer ini dapat dielakkan.

Demikianlah, maka apa yang diberikan Lode Zielens, Steinbeck, dan Saroyan menjadi semacam cangkul, sekop, tang, atau martil; alat teknik untuk memungkinkan lahirnya novel tersebut. Alat tinggallah sarana, yang menentukan tetap si pribadi. Pribadi yang mengabdi pada alat tak lain dari pribadi yang telah sampai pada plafond, sudah sampai pada batas perkembangannya, kegiatan rutin semata. Dari pengalaman itu juga aku mengerti bahwa pengabdian pada alat jurusnya adalah ke arah kekacauan, melenyapkan unsur kesadaran dalam berkarya, kehilangan faal penyadaran, dan terjerembab dalam orgy berseakan (berpretensi) seni. Yang demikian terdapat dalam sepanjang sejarah seni, yang tidak lain dari sisi lain seni, keputusasaan dihadapan plafond sendiri.

Untuk kesekian kalinya kukatakan: pengalaman berkreasi adalah sangat pribadi, sangat subyektif, yang banyak kala tidak memerlukan logika. Buktinya adalah kreasinya itu sendiri, artinya setelah proses kreatif itu selesai. Tetapi kreasi itu belum lagi menjadi kreasi secara teoritis maupun praktis, sebelum ia menjadi “makhluk” atau benda sosial, sebelum ia didukung oleh masyarakatnya. Kreasi yang memfosil dalam lemari untuk selama-lamanya praktis berarti tidak ada. Atau bila diurut dari kebalikannya: kreasi yang didukung oleh masyarakatnya adalah pikiran dan terutama perasaan si kreator yang mewakili pikiran dan terutama perasaan si kreator yang mewakili pikiran dan terutama perasaan masyarakatnya—lokal, nasional, maupun internasional. Maka juga kesadaran akan adanya kaitan antara pribadi dan masyarakatnya menentukan.

Bertolak dari hal tersebut, hendak kuakhiri cerita bertele tentang proses kreatif—yang memang kurang menyenangkan untuk menuliskannya—ini.

PENUTUPAN.

Baik Perburuan maupun Keluarga Gerilya sebagai kreasi telah menjadi “makhluk” atau benda sosial yang menempuh jalannya sendiri. Sekalipun keduanya telah dilahirkan, bisa menjadi tidak ada sekiranya tidak sampai dan tidak didukung oleh masyarakat. Dikatakan “bisa menjadi tidak ada” karena kreasi bisa saja rusak atau dihancurkan dengan sengaja, hanya karena rendahnya hormat dan penghargaan orang pada hak-hak asasi, yang pada gilirannya tak lain dari masih rendahnya tingkat peradaban dan budaya perorangan yang melakukannya, bahkan juga sistem nilai masyarakat bersangkutan.

Sehubungan dengan itu, saya perlu menyatakan hormat dan terima kasih tak terhingga pada Prof. G.J. Resink, yang telah menyelamatkan naskah-naskahku—termasuk Perburuan dan Keluarga Gerilya—dari penjara Bukit Duri, melingkupi kurun 1948-1949. Tanpa jasanya, semua karya tersebut dapat dipastikan telah binasa sebagaimana terjadi atas berbagai naskahku sebelum 1947 dan sesudah 1965. Laku penyelamatan itu sendiri telah merupakan sebagian besar dari dukungan masyarakat. Tentu saja pada H.B. Jassin, yang dengan serta-merta mengumumkan sebagian terbesar tulisan pendek dalam kurun 1948-1949 itu juga, semasa aku masih berada dalam penjara. Lakunya adalah mengukuhkan penyalamatan tersebut.

Ada dua cerita penutup tentang dua karya tersebut.

Pertama. Begitu bebas dari penjara Bukit Duri sekitar 12 Desember 1949, aku tanyakan pada Prof. Rsink—atau biasa kupanggil Han—tentang nasib Perburuan. Jawabannya: Sudah diserahkan pada Jassin. Jawaban Jassin: Tidak tahu. Dalam kunjungan ke redaksi Merdeka, Darmawidjaja (redaktur dan bekas guru sejarahku di masa Jepang) tiba-tiba mengulurkan tangan padaku: Selamat!. Tanyaku: Selamat untuk apa? Jawab: Kan tulisanmu mendapat hadiah pertama dari Balai Pustaka? Tanya: Tulisan apa? Tak pernah aku mengikuti sayembara apa pun. Jawab: Kan aku anggota juri? Coba tanya pada Jassin. Dan berceritalah Jassin: Ya, memang tanpa sepengetahuan Bung, Perburuan telah diserahkan pada panitia sayembara Balai Pustaka; diserahkan setelah lewat batas waktu yang ditentukan; karena tulisan-tulisan yang masuk cukup mengecewakan; Idrus menyetujui. Begitulah waktu pengumuman keluar, benar aku mendapat hadiah pertama, menerima uang kontan f 1000 dan hampir tepat satu bulan setelah bebas, dengan uang itu aku kawin. Han (Resink) dan Hans (Jassin) juga hadir.

Kedua. Barang dua bulan setelah kawin, dalam suatu percakapan keluarga kuketahui bahwa Wahab tadinya tinggal di kampung tempat tinggalku yang baru, Tanah Abang. Ternyata ia dari keluarga tak berada. Setelah ia menjalani hukuman mati, ibunya berusaha mendapatkan jenazahnya untuk dirawat; ternyata ditolak oleh pihak yang berkuasa, kecuali kalau ditebus. Ibu yang malang itu kembali ke kampung. Setelah mendapatkan uang f 2,50 dari sana-sini, barulah mayat itu sampai ke rumahnya sendiri, berbungkus tikar dengan air darah membercaki pembungkusnya. Mendengar itu, aku menyesal setengah mati: mengapa tidak pernah mengetahuinya lebih dini sebelum naskah itu naik ke mesin. Aku rasai apa yang telah kuperbuat untuknya, menderita bolong yang tidak dapat ditutup lagi. Juga setelah cerita tentangnya kutulis ini, masih tetap aku rasai adanya bolongan ini. Wahab, korban patriotisme dan kekurangan pada pemimpin.

Jakarta, 1 Juni 1983.

Iklan

Paper Doll Tanda Maaf Untuk Gadis Kecilku.

Paper Doll Candy Lokal

I’m not going out tonight ‘cos I don’t want to go / I am staying at home tonight ‘cos I don’t want to know / You revealed a world to me and I would never be / Dwelling in such happiness, your gift of purity – You And Me, The Cranberries.

Malam ini, aku sedang duduk sendiri di depan notebook-ku. Tangan kiriku menyangga dagu, sementara tangan kananku menyamankan posisinya di atas mouse. Mata tajamku memandang tiga objek dalam dua software secara bergantian, photoshop serta coreldraw. Tiga objek itu berupa tiga kepala manusia dengan ukuran yang sedikit besar dari tubuh-tubuhnya. Kepala-kepala itu bergambar wajahku, wajah istriku, dan wajah Daras, puteriku. Aku ingin memberikan Daras hadiah yang sederhana, namun berkesan, sebagai tanda maaf. Dan ingatan melenggang jauh pada masa kecilku, saat kakak wanitaku memainkan paper doll-nya. Lalu, tercetuslah ide untuk mengganti kepala paper doll tersebut dengan kepala kami bertiga, yang kuambil dan dengan meng-cropping dari foto-foto kami. Aku berharap Daras akan menyukainya.

Sudah dua hari Daras, gadis kecil berponiku, enggan menyapaku. Alasannya demikian sederhana, sebab gadis kecil itu tak menuruti perintahku untuk tak bermain-main di bawah guyuran hujan deras. Alasannya lainnya adalah sebulan yang lalu, Daras jatuh sakit. dr. Septadi, suami dari rekan kerja istriku, seusai memeriksa mengatakan bahwa puteri kecilku mengalami radang amandel yang diakibatkan infeksi oleh coxsackie virus. Tubuh kecil Daras mengalami demam yang amat tinggi dan untunglah beberapa hari kemudian keadaannya mulai membaik. Sejak terserang penyakit itu, aku demikian memikirkan kesehatan buah hatiku. Jujur saja, aku tak sedemikian teliti dalam hal kebersihan serta kesehatan pada buah hatiku dibandingkan istriku. Akibat sakitnya Daras, konflik rumah tangga pun tak mampu dielakkan, menyeret satu tema ke tema lain, mulai pekerjaan hingga cara mendidik anak. Untunglah, berbagai kesulitan yang aku dan istriku alami sebelum Daras lahir telah sedikit demi sedikit mendewasakan kami.

*

Aku masih ingat jelas kejadian dua hari lalu, ketika di sore hari, cuaca benar-benar mengerikan. Entah percaya atau tidak, aku pernah mendengarkan seorang ekolog dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, menjabarkan keterangannya melalui salah satu program di National Geography, bahwa efek rumah kaca serta tata kota yang tak berpihak pada ruang-ruang terbuka, yang menyebabkan ketakstabilan cuaca di dunia modern yang kutinggali. Saat itu pula, satu-dua kali, petir menggelegar. Dan ketika aku baru saja menyelesaikan tulisan tentang sebuah review untuk novel baru seorang penulis ibukota, aku melangkahkan kaki untuk menuju ke kamarnya dan kukira gadis mungilku sedang tertidur. Sesampainya aku berada di depan kamarnya, ketika tanganku telah memegang handle pintu, membukannya pelan-pelan agar tak membangunkannya, namun kedua mataku tak melihat sosoknya sama sekali di dalam kamar.

Awas, Chiko, awas; Sini, Kala, sini,” kudengar suaranya di halaman belakang.

Chiko dan Kala adalah sepasang kelinci Lop yang berharga jutaan, yang dibelikan oleh ayah Ayu, mertuaku, yang pada saat Daras sakit, menjenguknya. Dan, istriku menasihati ayahnya untuk tak membelikan hewan-hewan berharga mahal, sebab Daras masih tak mampu merawatnya secara mandiri. Namun, bagaimanapun sayangnya seorang kakek kepada cucunya, apapun akan dilakukan, seperti halnya cintanya pada anaknya dahulu, bahkan mungkin bisa melebihinya.

Jangan ke situ Kala, ha-ha-ha,” tambahnya lagi dengan tertawa riang. Dan, aku segera menuju ke halaman belakang.

Hujan benar-benar deras. Tubuh kedua kelinci itu meloncat-loncat dengan gemetaran. Baju kodok berbahan jeans milik Daras benar-benar basah kuyub dan dia berlari kecil-kecil sambil memegang wortel Nantes yang diambilnya dari dalam lemari pendingin. Tangan mungilnya mematahkan ujung wortel itu, dan melemparkannya ke arah Chiko.

Daras, sudah cukup hujan-hujannya!” kataku, sedikit berteriak, karena suara bulir-bulir hujan yang berdentaman di genting membuat suara benar-benar gaduh.

Sebentar, Yah.”

Cepat, kemari,” teriakku lagi, sambil melambaikan tangan.

Ahh…sebentar, Yah.”

Cepat masukkan Chiko dan Kala ke kandangnya.”

Ayo Chiko,” kata gadis berponi itu, membopong tubuh kelinci berwarna kelabu itu menuju kandang. Sementara, Kala, kelinci yang memiliki corak warna putih hitam itu, mengikuti dari belakang.

Seusainya, memasukkan dua hewan itu, Daras mendekatiku, dan tubuh kecilnya kini yang gemetaran. Kelelahan yang menderaku belum juga menghilang dan mengakibatkan rasa khawatirku pada kesehatan gadis berponi itu memuncak, yang menyebabkan aku kemudian meninggikan suaraku:

Ayah, tak suka lihat Daras hujan-hujanan lagi!” Aku membentak.

Kedua bola mata kecil itu menatap wajahku dengan aneh. Kemudian, berganti kedua bola mataku menatap wajah puteriku, wajah itu seolah-olah mengatakan mengapa ayah demikian jahat padaku. Dan, dalam diam, bulir-bulir air mata tampak akan tumpah. Tanpa sepatah kata pun, dia kemudian pergi meninggalkanku. Saat aku menyuruhnya untuk melepaskan pakaiannya, dia tetap saja berjalan ke dalam rumah dan terus berjalan ke dalam kamarnya.

Beberapa menit kemudian, aku menuju ke depan kamarnya. Aku mengetuk berkali-kali dan menyuruhnya untuk membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya. Selama sepuluh menit aku terus merayunya, namun tetap saja tak ada jawaban. Perasaan bersalah kemudian menghadirkan dirinya dalam diriku. Mengapa aku membentak gadis kecil itu tadi? Mengapa aku tak mampu mengontrol rasa lelahku, yang menyebabkan kemarahan serta kekhawatiranku demikian menjadi-jadi?

Saat pertanyaan-pertanyaan itu mengedar dalam pikiranku, aku mendengar suara di belakangku.

Ada apa sayang?” tanya istriku, selepas pulang dari bekerja.

Aku mendesahkan nafas berat, dan memasang wajah muram. Dan, kemudian aku menceritakan segalanya yang telah kulakukan pada puteri kecil kami. Wajah manis istriku yang menentramkan itu berusaha untuk memahami segalanya, memahami posisiku dan rasa kekhawatiranku.

Sudahlah. Sekarang kau sebaiknya mandi, kau terlihat semakin tua dengan wajah seperti itu. Biarkan aku mencobanya,” tambahnya.

Lalu aku mencium bibirnya dengan penuh kelembutan dan setelahnya aku mengatakan kepada istriku akan meminta maaf pada Daras.

*

Malam hampir larut. Aku berdiri dari kursi kerjaku, dan mengambil buku sketch book A4-ku yang berada di antara buku-buku tentang seni kontemporer. Aku menyobek satu lembar dan kemudian kembali lagi ke kursi meja dan berhadapan dengan notebook kembali. Lalu aku memasukkan kertas itu ke sandaran kertas pada printer. Setelah beberapa kali mengalami editing pada desain-desain paper doll yang akan cetak, aku mengira hasil telah maksimal. Tak lama kemudian aku pun mencetaknya, dan hasilnya memang cukup memuaskan. Gambar-gambar paper doll yang termuat wajahku, wajah istriku, dan wajah Daras, beserta beberapa gambar pakaian-pakaian serta gambar perabot-perabot rumah tangga, tampak demikian jelas.

Tempat kado bermotif bunga bungur yang seukuran A4, yang tergolek di antara tumpukan buku, asbak, dan alat-alat tulis di atas meja kerja, segera kuambil. Dan memasukkan hasil cetakan paper doll tersebut ke dalam tempat kado tersebut. Degup jantung terus bergerak cepat. “Apakah Daras akan menyukainya?” pikiran kalutku terus bertanya-tanya. Setelah semuanya siap, aku segera bangkit dari kursiku, dan menuju ke ruang keluarga.

Di sana, di atas sofa santai minimalis berbahan kayu jati berwarna putih gading, duduklah dua wanita yang kucintai itu. Tangan-tangan mereka sibuk memegang snack-snack sembari menyaksikan film adaptasi dari buku anak-anak karya Rene Goscinny, Le Petit Nicolas, dalam subtitle Indonesia. Dengan berjalan lamat-lamat, aku segera mencolek pundak dari istriku. Saat dia menolehkan kepalanya, aku membuat tanda dengan jari telunjukku yang kutempelkan di mulutku, agar tak menganggu kekhusyukan Daras dalam menyaksikan film tersebut. Kemudian, aku menyerahkan tempat kado tersebut kepada istriku. Tanda ibu jari dari wanitaku itu seakan-akan mengatakan segalanya akan berjalan lancar. Lalu aku kembali ke ruang kerjaku dan mengintipnya.

Sayang,” kata istriku, sambil membenahi poni Daras, “ada hadiah untukmu?”

Mendengar kata ‘Hadiah’, Daras dengan cepat menoleh ke ibunya.

Hadiah apa bu?”

Entahlah.” kemudian dia mengambil tempat kado disebelahnya, dan meletakkannya di atas pangkuan gadis kecil berponi, “Nih, Ras. Buka cepat.”

Aku tak mampu melihat wajah Daras.

Ini Daras, Bu. Ini Ayah, Bu. Ini…Ibuuu!”

Kepala istriku menoleh ke belakang, dan dia tersenyum padaku yang disertai anggukan, sebagai tanda bahwa Daras menyukai hadiah sederhanaku.

Ayo main, Bu. Main, Bu.”

Filmnya, kasihan Nicolasnya, belum habis, kan?”

Ahh…Besok, Daras lihat dengan ayah. Ayo main, Bu.”

*

Ya Tuhan,” kataku dalam hati, “Betapa mudahnya anak kecil memaafkan kesalahan orang lain. Sementara, aku, orang dewasa…”

[] Image paper doll diambil dari sini.

Serofa dan Burung Kecil – Leo Tolstoy*

quote-when-the-woman-showed-her-love-for-the-children-that-were-not-her-own-and-wept-over-them-i-saw-in-leo-tolstoy-273246

Saat hari ulang tahun Serofa. Ia menerima bermacam-macam hadiah: kuda-kudaan, dan gambar-gambar. Sementara, Paman Serofa memberikan sebuah hadiah yang paling berharga dari seluruh hadiah. Dan hadiah itu berupa sebuah jebakan untuk menjerat burung.

Hadiah itu berbentuk semacam papan yang terpasang jebakan di dalamnya, dan memiliki penutup di atasnya. Jika biji di taburkan di atas papan dan jebakan itu digantungkan di halaman, maka burung kecil akan terbang merendah, dan hinggap di atas papan itu. Papan itu akan jebol dan jebakan akan menutup dengan berbunyi.

Serofa senang. Ia pun berlari ke dalam rumah untuk menunjukkan jebakan itu kepada ibunya.

Ini bukan mainan yang baik,” kata ibunya, “Apa yang ingin kau lakukan dengan burung-burung itu? Kenapa kau menyiksa mereka?”

Aku akan menaruh burung-burung itu di kandang,” kata Serofa. “Mereka akan berkicau, jika kuberi makan.”

Serofa mendapatkan sedikit biji-bijian, menaburkannya di atas papan, dan mengatur jebakan itu di taman. Setelah itu, Serofa menanti dan berharap burung-burung akan terbang merendah. Sementara, burung-burung itu takut kepadanya dan tak akan mendekat ke kandang. Serofa berlari ke dalam untuk makan dan meninggalkan kandang.

Seusai makan malam, Serofa pergi untuk melihat jebakan itu.

Kandang telah tertutup dan di dalamnya seekor burung kecil sedang mengepakkan sayapnya ke arah jeruji kandang.

Serofa mengambil burung itu dan membawanya ke dalam rumah.

Bu…aku menangkap burung itu!” teriaknya. “Ini burung bul-bul, kupikir. Betapa mendebarkan!”

Ibunya mengatakan itu seekor burung kenari.

Hati-hati! Jangan melukainya; lebih baik, kau membiarkannya pergi.”

Tidak,” balas Serofa. “Aku akan memberinya makan dan minum.”

Serofa pun menempatkan burung itu di kandang. Selama dua hari, ia memberi burung itu dengan biji-bijian dan minuman, dan membersihkan kandangnya. Namun, pada hari ketiga, Serofa melupakan tentang burung yang ditangkapnya dan tak mengganti air.

Lihatlah…kau melupakan burungmu. Lebih baik, kau biarkan dia pergi,” kata ibunya.

Serofa memasukkan tangannya ke dalam kandang dan mulai membersihkan kandang itu. Sementara, burung kecil itu ketakutan dan kebingungan. Seusai Serofa membersihkan kandang, ia pergi untuk mengambil sedikit air. Ibunya melihat bahwa ia lupa menutup pintu kandang dan memanggilnya.

Serofa…tutuplah kandangmu; kalau tidak, burungmu akan terbang ke luar dan melukai dirinya.”

Ibunya tak mengatakan apa-apa saat burung itu melihat pintu kandang. Burung kecil itu gembira, merentangkan sayapnya, terbang disekitar ruangan, dan mengarah ke jendela. Serofa pun datang dengan berlari.

Ia berhasil menangkapnya, dan mengembalikannya ke kandang. Burung kecil itu tetap hidup, namun dengan membaringkan dadanya, kedua sayapnya terlentang, dan bernafas berat. Serofa terus menatap dan menatap kepada burung itu dan mulai menjerit.

Bu…apa yang bisa kulakukan sekarang?” tanyanya.

Sekarang…” balas ibunya. “Kau tak bisa melakukan apa-apa.”

Serofa bertahan di kandang itu sepanjang hari. Ia tak melakukan apa-apa, kecuali melihat kepada burung itu. Dan sepanjang waktu, burung itu membaringkan dadanya dan bernafas berat dan cepat.

Ketika Serofa akan tidur, burung itu hampir mati. Serofa tak bisa tidur untuk waktu yang lama. Setiap waktu, ia menutup kedua matanya. Rupa-rupanya, ia melihat burung kecil itu tetap terbaring dan mendesah.

Di pagi harinya, saat Serofa pergi ke kandangnya, ia melihat burung kecil itu terlentang ke belakang, dengan kedua kaki menyilang, dan seluruh tubuhnya mengeras.

Sejak itu, Serofa tak pernah lagi menjerat burung-burung.

[*] Dialih-bahasakan dari cerita pendek, ‘The Bird’, yang terangkum dalam ‘The Complete Works of Leo Tolstoy: Novels, Short Stories, Plays, Memoirs, Letters & Essays on Art, Religion and Politics.’

5 Agustus 2016, Institut Francais Indonesia Yogyakarta.

Repetisi Masa Kecil Dalam Garis Gambar Tino Sidin.

 

Kemarin, pada pukul tiga sore, aku menerjang kemacetan serta awan mendung di Yogyakarta dan bergegas menuju suatu tempat yang awalnya tak pernah kurencanakan. Pengalaman itu, secara sporadis, di tengah jalan, menawarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan mencoba menerka seperti apakah tempat itu? Apa yang akan ditawarkan di tempat itu? Lalu ‘nilai’ apakah yang bisa kuambil setelah mengunjungi tempat itu? Namun, sayang, pertanyaan-pertanyaan tersebut tak mampu dijawab dalam alam ketak-mungkinan pikiran dewasa.

Dalam paragraf di atas, kata ‘Tempat itu’ menunjukkan satu tempat yang hampir seluruhnya memunculkan ingatan yang cukup asyik (Baca: Masa Kecil) ketika pertama kali di era tahun ’90an di salah satu stasiun televisi, TVRI, seorang pria yang mengenakan Flatcap, berkacamata, dan salah satu tangannya asyik memegang spidol dan membentuk garis-garis yang dipersatukannya sehingga menjadi sebuah objek gambar, yang membuat gairah berkreasi pada setiap anak-anak kecil muncul dan lalu setelahnya, merajuk kepada ibunya atau ayahnya, mungkin:

Aku juga ingin menggambar, Bu. Aku juga ingin menggambar, Yah.”

Nama pria yang mengenakan flatcap tersebut adalah Tino Sidin, masa lalu kecilku sering menyapanya dengan, Pak Tino Sidin, seorang pelukis serta guru gambar bagi anak-anak di era ’70an-’80an (’90an siaran ulang) dalam program acaranya, Gemar Menggembar. Dan kemarin, pada pukul tiga sore, aku berkesempatan mengunjungi Taman Tino Sidin.

Pak Tino Sidin dan anak-anak; Anak-anak dan menggambar; tak bisa dipisahkan. Tangan mungil anak-anak yang dilekatkan dengan pensil monokrom atau classic water colour pencil untuk warna-warna kering dan menghabiskan tenaga mereka di atas sketchbook A3 atau A4, seperti atmosfer romantika dalam cerita seorang pangeran tampan yang terpaku pada Cinderella. Dunia imajinatif yang terlalu mengagumkan.

Semangat dalam gambar-gambar Pak Tino Sidin–kawan dari para pelukis seperti Affandi dan S. Sudjojono–yang sederhana, yang menawarkan keceriaan pada dunia anak, setara dengan apa yang dibuat para pelukis Prancis dari Jean Clouet di alam Renaissance, Eugene Delacroix di alam Romantisme, bahkan Marchel Duchamp di alam Dadaisme.

Izinkan aku menyimpan semangat menggambar itu lagi melalui pengulangan masa kecil dalam sekotak layar te-ve, pensil warna, dan sketchbook, Pak Tino.

Ya…Baguus!!” atau “Jangan takut-takut!” katamu, pada anak-anak yang meyakini potensi yang dimilikinya masing-masing.

6 Agustus 2016, Taman Tino Sidin, Yogyakarta.

Post Scriptum Untuk Maha Cahaya*.

foto-bagaimana-tumbuhan-menggunakan-cahaya-matahari

Gortozet ‘m eus, gortozet pell

E skeud tenval an touriou gell

E skeud tenval an touriou glav

C’hwi am gwelo gortoz atav

*

J’attends, j’attends longtemps

Dans l’ombre sombre des tours brunes

Dans l’ombre sombre des tours de pluie

Vous me verrez attendre toujours

*

Aku menanti, aku menanti untuk waktu yang lama

Dalam bayangan gelap dari menara-menara kelabu

Dalam bayangan gelap menara-menara hujan

Kau akan melihatku menanti selamanya

*

[*] Empat baris lyric dari lagu Gortoz a Ran (J’ai attends) milik Denez Prigent feat. Lisa Gerrard, yang mana saat pertama kali mendengarkan lagu ini, pelbagai macam penafsiran mengendap dalam satu ruang kosong dan memenuhinya; dan secara sentimentil segalanya berkutat pada satu tema: tentang cinta. Tentang suatu cinta yang tak mampu didefinisikan oleh segala sesuatu apapun. Tentang suatu cinta yang hanya mampu dirasakan oleh segala bentuk yang berangkat dari kedaifan pada sisi dalam seorang manusia, dan kemudian menimbulkan suatu kelembutan yang menenangkan dan memberikan daya. Tentang suatu cinta yang terus-menerus dicari tiada henti, dan suatu ketika, jeda waktu menawarkan kelelahan demi kelelahan yang menyebabkan ‘penantian’ adalah sesuatu yang pasti dari ratusan bahkan ribuan ketak-pastian, hingga rasa kasih yang tak pernah diduga, kemudian datang dari satu arah penjuru angin yang tak mampu diterka.

Untuk suatu Cinta (dengan C besar) yang memancarkan cahaya (dengan C besar): Izinkan aku, manusia kecil dengan segala kedaifannya, untuk menanti-Mu. Sekali lagi, izinkan aku, manusia kecil dengan segala kedaifannya, yang menanti-Mu untuk waktu yang lama. Dalam bayangan gelap dari menara-menara berwarna kelabuku. Dalam bayangan gelap menara-menara hujanku. Kau akan melihatku, manusia kecil dengan segala kedaifannya, yang menanti-Mu selamanya, Maha Cahaya.

 

 

Prosa Cinta Untuk Jenny (Marx) dan Nur Nahar (M.Natsir)*

Benarkah, jika cinta adalah embun yang menyejukkan, yang mengatasi kegersangan alienasi-alienasi di tengah riuh-rendah warna-warna hitam yang tak pernah mengijinkannya untuk memudar dalam impresi kenyataan sehari-hari, Nyonya Jenny, Ibunda Nur Nahar? Lalu bagaimana, kalian mampu berjalan di sebuah jalan panjang bernama cinta dan perjuangan melewati persinggungan batas waktu antara ‘yang telah lalu’ dan ‘yang akan datang,’ bersama pasangan jiwa kalian di tengah jeritan-jeritan umat manusia? Bisakah aku mendengar lagi ketulusan di relung hati yang terdalam itu, Nyonya Jenny, yang mengalun layaknya gelombang ketika Karl-mu, yang kau cintai, bertarung melawan kesendirian atas nama suatu idea di samping meja kayu yang menahan bertumpuk-tumpuk buku dari satu perpustakaan bersama teks-teks yang memukaunya? Bisakah aku melihat lagi kesungguhan di relung jiwa yang terdalam itu, Ibunda Nur Nahar, yang berhembus layaknya angin ketika Natsir-mu, yang kau sayangi, berhadapan melawan kerinduan atas nama suatu cita-cita di antara lantunan nada-nada dari string biola yang mengedarkan komposisi musik Ludwig van Beethoven yang digemarinya? 

Senyuman yang mengembang di atas kesulitan itu, Nyonya Jenny; Tatapan indah yang membuka lebar di antara kepedihan itu, Ibunda Nur Nahar; Antoine de Saint-Exupéry punya jawaban agung dalam Le Petit Prince (The Little Prince) untuk kalian, Nyonya Jenny dan Ibunda Nur Nahar, dua wanita tangguh di belakang dua persona yang membuatku berdecak kagum:

‘The most beautiful things in the world cannot be seen or touched, they are felt with the heart.’

[*] Dibuat setelah membaca Puisi Karl Marx dan Kutipan Surat M. Natsir.