Abstraksi Hitam. Enigma Putih.

Aku mencoba untuk menggambar kembali setelah sekian lama tak merasakan kenikmatan memegang pensil di A4 sketch book yang kumiliki. Jeda yang panjang itu memberikan nuansa aneh saat mata menerjemahkan suatu objek dan kemudian mengaplikasikannya ke dalam dua warna, hitam dan putih, dua warna yang akan terus menerus bertentangan sepanjang hayat manusia. Dan sketsa bebas menjadi ‘Tool’ untuk mengekspresikannya, sebab sketsa bebas, memberikanku ruang gerak tanpa pretensi.

 

Iklan

We Believe In Music, August.

august-rush-movie-stills-22

The Music…is all around us – August Rush

(Indonesia) Satu bulan lalu, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya, menerjemahkan dan membaca buku. Pada sore harinya, aku pergi ke toko komputer untuk membeli headphones favoritku, sony stereo headphones MDR-ZX310AP. Meskipun sangat mahal untukku, namun sangat nyaman bagi telingaku. Adakalanya, aku ingin menghilangkan rasa candu pada musik, bagaimanapun juga, aku tak mampu. Musiklah yang menjadi kawan akrabku dalam kesendirian selama ini. Mereka yang dekat denganku di masa lalu dan bahkan masa yang akan datang, seakan-akan semua berkumpul menjadi satu dalam setiap nada. Musik, siapakah kau sebenarnya?

(English) One month ago, as usually, I did some activities such as translated and read book. In the late afternoon, I went to a computer store to bought my favorite headphones, sony stereo headphones MDR-ZX310AP. Although it’s very expensive for me, but it’s very comfortable for my ears. Sometimes, I feel that I want to eliminate from the opium of taste in music, however I couldn’t. The music that became my close friend in solitude for all this time. Those who are close to me, either in the past or in the future, as if all gathered into one in every tone. Music, who are you?

(French) Il y a un mois, d’habitude, j’ai reussi quelques activités comme la traduit et lu du livre. En fin d’après-midi, je suis allée à une boutique d’informatique pour acheter mes écouteurs préféré, «sony stereo headphones MDR-ZX310AP.» Bien quil est très cher pour moi, mais il est confortable pour mes oreilles. Parfois, je me sens que veux éliminer du opium de goût dans la musique. Cependant, je ne pouvais! La musique qui est devenu un ami dans la solitude pendant tout ce temps. Ceux qui ont été proches de moi, soit par le passé soit par l’avenir, comme si ont réuni tous en une seule sur tous les tons. La musique, qui êtes-vous ?

(German) einem Monat, Wie immer, Ich habe einige Aktivitäten wie übersetzt und liest das Buch. Am späten Nachmittag, Ich ging in einen Computer Laden die gekauft Meine Lieblingsfarbe Kopfhörer, sony stereo headphones MDR-ZX310AP. Obwohl es ist sehr teuer für mich, aber es ist sehr komfortabel für meine Ohren. Gelegentlich, Meiner Meinung nach Ich möchte zur Beseitigung aus dem Opium des Geschmacks in Musik. Jedoch ich konnte nicht. Die Musik, die geworden war dieser gute Freund in der Einsamkeit von die ganze Zeit. Diejenigen, die mir nahe sind, entweder in der Vergangenheit oder in der Zukunft, als ob Alle versammelten sich in die einer in jedem Ton. Die Musik, wer bist du?

Le Poème d’Emha Ainun Nadjib

foto-konser-panggung-novia-kolopaking-cak-nun-emha

La Peur À Tes Yeux, Ma Belle

Mon admiration pour Dieu

Cela me fait de la peur à tes yeux

Tu comprends, ma belle?

Qu’est-ce qui émane à tes yeux?

Des années…nous avons vu

T’es silencieux

Et je suis sourd

Parce qu’on ne comprend pas

Tes yeux est clair.

C’est les espaces infinis

Mais, si tu veux bien être ma femme

Qu’est-ce que je peux entrer dans ces espaces?

*

TAKUT PADA MATAMU

Oleh: Emha Ainun Najib

Kekagumanku kepada Tuhan

Membuat aku takut pada matamu

Apakah engkau sendiri mengerti, kekasihku

Apa gerangan yang memancar dari matamu itu?

Bertahun-tahun kita hanya berpandangan saja

Engkau bisu

Dan aku tuli

Karena sangat tidak mengerti

Bola matamu yang bening

Adalah ruang yang tiada terbatas

Tetapi jika pun engkau kelak menjadi wanitaku

Akan bisakah kumasuki ruang itu?

*

Gambar diambil dari sini. Puisi diambil dari sini.

Shai Hulud, Autocorrect, Mis-translate, Dyslexia, dan Kesalahan.

Am I not a better man? – Willing Oneself To Forget What Cannot Otherwise Be Forgiven; Shai Hulud.

Aku selalu tertarik dengan sebaris lirik di atas. Melalui ‘suatu pertanyaan,’ paling tidak, yang membuat aku ingin terus-menerus belajar ke mana pun gerak hidup serta langkah kaki membawaku, mengasah dunia dalamku (ego) tanpa pernah final. Dan salah satu jalan adalah dengan belajar tentang bagaimana menganggap ‘kesalahan’ sebagai kawan. Dalam artian, seorang kawan yang mengajarkan untuk terus-menerus memahami serta mempelajari diri.

Am I not a better man?‘ membawaku pada petualangan waktu yang telah terjadi ketika guru bahasaku, mengingatkanku kembali pada sebuah istilah: Autocorrect. Dalam aplikasi Microsoft Word, system Autocorrect berfungsi untuk mengoreksi kata yang salah saat kita telah mengetik dan membenarkan dengan kata yang benar.

Autocorrect, menyegarkan ingatanku kembali, pada saat aku mulai mempelajari dunia translasi (Penerjemahan). Pada suatu kesempatan, aku menemukan sebuah cerita pendek berbahasa Inggris. Kemudian aku menerjemahkannya dan seusainya kubaca berulang kali. Baru kuketahui bahwa ada beberapa beberapa paragraf yang mengalami mis-translate.’ Lalu, aku mencoba untuk mereproduksi kembali teks cerita pendek itu untuk kedua kalinya, dan setelah selesai, aku membacanya kembali. Namun, pada beberapa paragraf masih terdapat kesalahan pada istilah, sehingga mis-translateharus terulang kembali. Pada usaha yang ketiga kalinya, aku baru merasakan bahwa cerita pendek yang kuterjemahkan benar-benar sempurna, meski akan ada terjemahan yang lebih tepat, yang dikerjakan oleh penerjemah lain, sehingga menciptakan kondisi yang biasa terjadi dalam dunia translasi: Translation war, perang terjemahan. Jika diperluas maknanya, adalah perbedaan penafsiran. Untuk meminjam contoh karya War and Peace dari Leo Tolstoy yang dikerjakan oleh Louise dan Ayler Maude pada tahun 1922 dengan bahasa saat itu, yang kemudian direproduksi dengan bahasa yang baru oleh pasangan penerjemah seperti, Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky pada tahun 2011.

Autocorrect, juga membawaku pada suatu kondisi, ketika aku sedang mencoba menjelaskan sesuatu dan mengalami kesulitan dalam berbahasa, seperti suatu istilah Dyslexia, suatu kekacauan memahami serta membaca bahasa yang akan ditemui oleh siapa pun yang belajar bahasa baru. Ada berbagai permasalahan yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam berbahasa secara umum, seperti kesulitan-kesulitan dalam pengucapan kata-kata, membaca dengan cepat, menulis kata-kata, ‘memeriksa pendapat’ kata-kata yang berada di dalam kepala, mengucapkan kata-kata saat membaca dengan keras, atau bahkan memahami apa yang seseorang baca atau yang dikatakan.

Dari sebaris lirik Shai Hulud, Autocorrect, Mis-translate, dan Dyslexia, membawaku pada suatu konklusi awal bahwa, kebenaran adalah kesalahan dalam bagian kebenaran itu sendiri. Ketika setiap orang menginginkan kebenaran, tanpa mencerap kesalahan; aku senang dengan mencoba menegasikan pandanganku sebagai jalan lain bahwa, dengan merasakan kesalahan, yang mana terus-menerus kupelajari, hingga pada suatu titik puncak keletihan, di sanalah aku akan bertemu dengan kebenaran.

Nb: Terima kasih untuk Madame. D, yang telah memberikan anjuran serta mengingatkan kembali tentang Autocorrect.

Tentang Masa.

 

Kutulis prosa ini untukmu. Anggaplah apa yang kulakukan ini seperti halnya segala aktifitas manusia yang lazimnya, aku, kau, atau bahkan siapapun melakukannya, entah seperti:

Ketika kau mendengarkan lantunan suara emas dari Dolores O’riordan atau bahkan Vina Panduwinata dari lagu mereka yang kau sukai di saat kejenuhan melandamu; Atau, ketika kau membaca puisi paling muram dari Emily Dickinson hingga novel NH. Dini yang mampu membuatmu berdecak kagum dan terus-menerus kau perbincangkan; Atau, ketika satu dialog dari Julia Roberts dalam film Pretty Woman sampai Tuti Indra Malaon dalam film Ibunda yang kau lihat dan melarutkanmu dalam emosi-emosi tertentu; Atau, ketika bagian-bagian indera perasamu mencicipi perpaduan bumbu rempah-rempah dari satu masakan dan kau menyimpulkan suatu hasil cita rasa; Atau, saat kau mulai menitikkan air mata yang tak mampu kau tahan tatkala menghadapi suatu problema, namun justeru itu membuatmu lega; Atau, ketika kau menyodorkan rasa empatimu dalam ruang diskursus saat orang-orang yang kau sayangi perlu kawan untuk bicara; Atau, ketika kau mendesahkan nafas dengan berat disertai usapan peluh dikeningmu kala kau bekerja, yang mana semua itu akan dikonversikan dalam nilai-nilai rupiah, lalu nilai itu kau jadikan barang untuk kau berikan pada salah satu kawanmu, atau untuk setiap tangan yang menengadah dari orang yang papa; Atau, ketika kedua kakimu menjejak di antara butiran-butiran pasir di suatu pantai yang bersinggungan dengan asinnya air laut, dan tak hanya itu, mungkin saja, setelah itu kau akan menjejakkan kaki di atas tanah serta padang savana di satu bukit di salah satu gunung; Atau, pada suatu pagi yang tak pernah kau kira, di mana kedua bola matamu yang bundar dan baru saja terbuka dari rasa kantukmu, menyaksikan satu peristiwa dalam layar flatron tentang seorang ibu yang menggendong anaknya, meraung-raung histeris, sebab lapaknya digusur atas nama keindahan kota; Atau, ketika kau menggigil amat sangat dan menakutkan kesendirian akibat suatu penyakit dan kekebalan tubuhmu mengikis, dan waktu terasa demikian lambat; Atau, ketika kita saling bertukar gagasan tentang cara memandang hidup di suatu kesempatan sembari menangkupkan tangan kita masing-masing ke cangkir-cangkir teh, serta menceritakan detil-detil sejarah diri; Atau, ketika aku melontarkan lelucon-lelucon di bawah sorot lampu taman dan kemudian membuatmu tertawa lepas untuk melupakan dunia sementara waktu. Dan inikah yang disebut dengan ‘Masa’: Suatu jangka waktu yang memiliki permulaan serta akhir dan sebuah batas itu? Dari peradaban paling purba hingga peradaban modern saat ini? Tentang masa, aku, dan kau.

Daras dan Impian.

Dua angka dengan warna merah yang disertai tanda bundar di kalender, mengingatkan aku pada rencana yang telah tersusun dengan matang. Pada hari libur ini, aku ingin mengajak gadis kecil berponi dan istriku untuk berkunjung ke rumah orang tuaku. Sayangnya, rencana itu gagal, sebab kedua orang tuaku tiba-tiba mengabarkan bahwa merekalah yang ingin berkunjung ke rumah kecil kami.

“Tapi, Bu,” kataku melalui telepon.

“Sudahlah…Kami ingin merasakan suasana rumahmu. Jemput kami di stasiun.”

Percakapan terhenti.

Hari ini aku tak menyentuh pekerjaan-pekerjaan sama sekali. Sejak sinar matahari menyingsing, ditemani dengan senandung cicit-cicit burung yang datang dan pergi di pohon mangga depan rumah, aku masih saja duduk tekun di depan televisi, setelah membersihkan beberapa ruangan di rumah ini, untuk menanti kabar ayah dan ibu. Ketika membersihkan beberapa ruangan rumah itulah, aku dan istriku membagi tugas. Aku membersihkan wilayah ruang tengah, tepatnya ruang keluarga, hingga ke arah depan, wilayah teras. Sementara istriku, membersihkan wilayah dari ruang tengah hingga ke belakang, sekitar dapur dan sepetak halaman kecil.

“Lalu, aku bu?” tanya Daras, yang juga ingin melakukan perannya.

Istriku menjawab, “Kau bersihkan kamarmu saja ya.”

“Ahh,” Daras merengek, sambil menghentakkan kedua kaki kecilnya, dan kemudian melanjutkan, “Aku ingin seperti ibu dan ayah.”

“Eh, dengar gadis kecilku—panggilan akrab istriku pada Daras—nanti kalau kakek dan nenek ingin tidur di kamarmu, sementara kamarmu berantakan, bagaimana?”

“Kakek dan nenek ingin tidur bersamaku, Bu?”

“Tentu, dong. Mereka rindu sekali denganmu, Ras. Cepatlah, bersihkan kamarmu,” aku menyela saat memindahkan dan mengatur posisi satu pigura yang bertuliskan puisi Kahlil Gibran:

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tak mengambil apa-apa kecuali dari dirinya sendiri. / Cinta tak memiliki, pun tak ingin dimiliki; / Karena cinta telah cukup bagi cinta. // Apabila kau mencintai, kau tak akan berkata, ‘Tuhan ada di dalam hatiku,’ tapi sebaliknya, ‘Aku berada di dalam hati Tuhan.1

“Hmm, hmm,” kata Daras dan meraih kemoceng berwarna merah-kuning-hijau-biru dan segera berlari cepat ke kamarnya.

“Psst…psst, sayang! Lihatlah, gadismu,” seloroh istriku namun dengan intonasi rendah.

Aku menoleh ke istriku, kemudian berlanjut mengarahkan pandangan ke Daras dengan alat perangnya seperti kemocengnya untuk membersihkan kedua boneka kesayangannya, Snoopy dan Charlie Brown.

Demikianlah kejadian beberapa jam lalu. Saat ini, aku sedang duduk di depan televisi dan terus memindahkan satu channel ke channel yang lain melalui remote yang aku pegang, dan menanti kedatangan kedua orang tuaku yang baru saja dijemput oleh istriku dan Daras. Sesekali, aku membangkitkan tubuhku, mengambil secangkir kopi untuk menghirupnya dan melahap pisang goreng yang telah dingin.

Satu jam setengah kemudian, dua kali suara klakson mobil, terdengar dari luar. Aku terbangun dari rasa lelapku karena kelelahan yang menderaku. Aku segera bangkit dari chaise longue bekas merk Soderhamn, yang sempat aku beli dari rekanku dulu. Sesegera mungkin, aku bergerak ke depan untuk membuka pagar. Saat pagar terbuka, keluarlah dua orang tua berumur enam-puluhan itu melalui pintu mobil. Aku berdiri dan memandang mereka. Ah, betapa bahagianya melihat mereka tetap sehat.

Lalu, aku mendekati mereka dan mencium tangan serta memeluk mesra mereka seperti ketika aku kecil, namun kini aku merasakan nuansa yang berbeda, dan kerinduan menghadirkan dirinya. Perbincang tentang perjalanan mereka di kereta api dan keadaan rumah di kota asalku membuat kami kehilangan kesadaran. Seusai istriku memarkir mobil di carport, dia turun dan menutup pintu dan menuju kami.

“Ayah, ibu, mari masuk,” kata istriku.

Dengan riang, Daras menirukan ibunya, “Kakek, nenek, ayo masuk.”

“Ah, kami sampai lupa di mana kami berada,” kata ayahku, tertawa kecil, “Lihatlah betapa asrinya rumah kecil ini, Bu. Baiklah, ayo, Ras.”

“Dengan senang hati, cucuku.”

Aku melihat gadis kecil berponi berjalan dengan riang ditengah-tengah kakek dan neneknya. Saat mereka masuk, aku mengangkat beberapa barang bawaan.

*

Sore harinya, aku berada di ruang kerjaku, merapikan buku-buku, kamus-kamus, majalah, serta surat kabar yang tercecer di mana-mana. Dari beberapa ruangan rumah, aku lupa untuk membersihkan ruang kerjaku sendiri. Aku pun meletakkan buku-buku di dua rak buku bertingkat.

“Oh, jadi seperti ini ruang seorang penulis.”

Aku menoleh ke asal suara.

“Aku tak sempat merapikannya, Yah.”

Ayah berjalan-jalan disekitar ruangan, mengamati setiap sudut ruangan melalui mata tuanya yang tajam. Setapak demi setapak, ia mengeser dirinya ke salah satu kolom dinding yang memisahkan dua jendela, di sanalah tempat favoritku. Di kolom dinding itu, terdapat empat pigura kecil yang menempel: pigura paling atas bergambar foto saat Daras dan ibunya sedang bermain air di pantai, ketika gadis kecil itu berumur enam tahun; Di bawahnya, di pigura kedua, bergambar fotoku bersama ayah dan kakekku; Di bawahnya lagi, di pigura ketiga, bergambar foto istriku bersama ayah dan ibunya, kedua mertuaku; dan pigura yang paling bawah, dan terakhir, terpampang fotoku bersama Mbah Kirjo—salah seorang penduduk tetua di salah satu desa di sebuah kaki gunung di mana rumahnya sering aku kunjungi bersama kawan-kawan mendakiku saat belum berkeluarga dan aku belajar banyak dari petuah-petuahnya tentang hidup.

“Setelah sekian lama berpisah, aku ingin sekali memanfaatkan waktu ini untuk berbincang empat mata padamu tentang apapun,” kata ayah dengan tiba-tiba.

Ada suatu gejolak dalam hatiku yang tak mampu terumuskan. Aku memegang satu buku, membalikkan badan dan memandang sosok pria tua dihadapanku ini.

“Aku juga, Yah. Terlepas dari perbedaan prinsip kita selama ini dalam memandang segalanya setelah bertahun-tahun hidup bersama dan kemudian berpisah.”

Ayah membalikkan badannya, berkata dan tersenyum:

“Perbedaan prinsip? Ya, kamu benar.”

“Maafkan aku, Yah, tentang pilihan hidup yang aku ambil dan tak sesuai dengan impian-impianmu.”

Ayah berjalan lebih dekat kepadaku dan duduk di pinggiran meja disampingku.

“Aku ingin bertanya padamu, apakah ruangan ini dan buku-buku ini adalah profesi yang kamu pilih, puteri kecilmu bersama istrimu, Ayu, adalah impian-impianmu?”

Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Beberapa detik tak bergeming, mendesah dengan nafas yang berat.

“Awalnya, aku mengira itu semua adalah impianku, Yah. Namun, hari-hari ini, saat Daras mulai tumbuh dan segala kesulitan yang terus menghampiri keluarga kecil ini, aku merasakan bahwa impian Daras telah menjadi impianku juga.”

Ayah merangkul pundakku dengan tangan kanannya.

“Kamu masih ingat tentang impian masa kecilmu, saat kamu ingin sekali menjadi pemain sepak bola?”

Aku tersenyum geli saat mengingat impian masa kecilku itu.

“Aku,” kata ayah kembali, “Tak ingin kamu gagal sepertiku dulu.”

“Jangan sebut kegagalan, Yah. Kamu pernah berkata bahwa di dalam suatu ikatan antara proses dan waktu tak ada yang disebut gagal atau berhasil.”

Ayah tersenyum untuk beberapa kalinya. “Ingatanmu benar-benar tajam, Nak. Pesanku satu untukmu, jangan biarkan impian kecil Daras pudar seperti saat aku mematikan impianmu…”

“Yah…”

“Aku tahu, dulu aku memaksamu untuk menjadi seperti apa yang aku inginkan dan belum tentu keinginanku adalah keinginanmu. Dan…”

“Ayolah, Yah. Kita jarang bertemu dan tak bisakah kita menceritakan tentang hal lain yang lebih hidup dan menggembirakan.”

Lalu, kedua mata kami yang berkaca-kaca itu saling menatap.

Pintu kamar yang sedikit terbuka, kemudian menjadi terbuka sepenuhnya. Sosok tubuh yang ramping mendadak muncul.

“Ayah di sini rupanya,” kata istriku, kepada mertuanya.

Lalu dia menjelaskan kepadaku bahwa sejak kedatangannya tadi, ayah belum beristirahat sama sekali.

“Ya, aku terlalu sibuk mengelilingi rumah kecil ini.”

Selang beberapa menit setelah kedatangan istriku, percakapan empat mataku dengan ayah terhenti. Muncullah gadis berponi. Kedua tangan mungilnya membawa satu buku gambar dan guratan-guratan ekspresi wajahnya secerah antusiasnya untuk menunjukkan karyanya pada setiap orang yang belum mengetahuinya.

“Kakeeek!”

“Hei, gadis manis. Apa yang kamu bawa, tunjukkan padaku?”

Daras mendekat ke kakeknya. Lelaki tuaku ini mendekati cucunya dan membungkuk. Daras tertawa, menunjukkan gigi-gigi kecilnya yang rapih dan putih, kemudian ekspresi wajah ayahku tampak seakan-akan terkejut.

“Wah, semua gambar ikan. Daras suka ikan?”

“Iya, Kek. Ibu juga suka ikan, suka berenang seperti ikan.”

Aku dan istriku menahan tawa mendengar kata-kata yang dilontarkan dari mulut kecilnya. Lalu, kini, istriku duduk disampingku. Melihat interaksi dari lelaki tua berumur 60 tahun dengan gadis kecil berumur 7 tahun.

“Ada banyak gambar ikan di kamarku, Kek. Ayo, ke kamar, Kek. Ayo…!”

“Daras! Kakek belum tidur sejak tadi,” ujar istriku, sedikit memarahinya.

“Ahh…”

“Daras,” tambahku.

“Ahh…Ayo, Kek. Ayo!”

Ayahku hanya tersenyum dan menuruti ajakan gadis kecil berponi. Lelaki tua itu pun membungkuk serendah mungkin, menyuruh gadis kecil berponi melompat kecil dan menggendong ke punggungnya; mereka larut dalam perbincangan dan saling melengkapi dalam bahasa-bahasa sederhana meski mereka hidup dengan pengetahuan dari masa serta peradaban yang berbeda. Mereka pun menghilang dari pintu kamar kerjaku.

Lalu aku bertanya pada istriku dengan tatapan paling mesra:

“Apa impianmu saat ini?”

*

Beberapa baris dari puisi ‘Aku Bicara Perihal Cinta’ karya Kahlil Gibran. 1

Surat Untuk Simbok Di Kampung.

Salut, maman, ça va? Probable, environ huit mois, je n’ai pas rencontré avec-toi, et retourné à Malang, une petite ville très impression. Eh bien, tu me manques. Je te souhaite bonne chance.

Maman, aujourd’hui, 21 Avril 2016, nous celebrons jour la Kartini. Elle a été l’un personnage du mouvement des femmes en Indonésie. Si je me souviens sur Kartini, je me souviens aussi sur-toi.

Tu sais, maman, maintenant dans ma nouveau cercle, j’ai des nouveaux amis qui sont incroyables. Ils se battent pour des grandes rêves. Alors, maman, j’ai des nouveaux enseignants aussi. Elles sont intellegents et tous d’excellentes personnes. Et, j’ai pensé sur-toi, il y a vingt-trois ans, quand tu as été proffeseur pour les enfants. Mes nouveaux amis et mes nouveaux enseignants sont donner-moi un esprit.

D’accord, maman. C’est tout, tu me manques.

Ton fils à Yogyakarta.

*

Apa kabar, bu? Mungkin, sekitar delapan bulan, aku tak bertemu dengamu, dan kembali ke kota Malang, kota kecil yang mengesankan. Ah, betapa aku merindukanmu. Kuharap kau selalu baik.

Ibu, hari ini, 21 April 2016, kita merayakan hari kartini. Dia adalah salah satu tokoh pergerakan wanita di Indonesia. Ketika aku ingat tentang Kartini, aku juga ingat tentangmu.

Kau tahu, bu. Sekarang ini, di lingkungan baruku, aku memiliki kawan-kawan baru yang luar biasa. Mereka berjuang untuk impian-impian yang tinggi. Lalu, bu, aku juga memiliki guru-guru baru. Mereka pandai dan mereka orang-orang hebat. Aku teringat padamu, duapuluh-tiga tahun lalu, saat kau menjadi guru untuk anak-anak. Kawan-kawan baruku dan guru-guru baruku yang memberiku suatu semangat.

Baiklah, bu. Cukup sekian, aku merindukanmu.

Puteramu di Yogyakarta.

*

Nota Bene: Surat ini dibuat pada 21 April 2016, pada Hari Kartini, untuk pelajaran mengarang (composition) di salah satu tempat studi bahasa asing.