Membebaskan Teks Ekonomi Hatta Dari Kungkungan Eksemplar Menuju Arena Alam Liar (Virtual).

rahmi-hatta-and-bung-hatta-22

 

Untuk wanita yang kucintai nanti:

Adakalanya, aku sering berpikir bahwa pertemuan dengan Mohammad Hatta melalui karyanya menjadi suatu penyesalan. Mengapa? Kejujuran yang dibalut idealisme serta kegigihan dalam memperjuangkan apa yang harus diperjuangkannya—harus diakui, tak dimiliki lagi oleh sebagian wakil rakyat di ibukota saat ini—terasa membebaniku. Namun ada hal-hal lain yang perlu kau tahu bahwa, hidup di alam Hatta, amatlah menyenangkan, aku seakan-akan dihanyutkan dalam perjuangannya, passionnya dan cintanya. Apakah kau pernah membaca kisah romantik tentang bagaimana Hatta menjadikan buku filsafatnya yang menguras tenaganya, pikirannya, serta waktunya, ‘Alam Pikiran Yunani’ dijadikan mas kawin bagi orang yang dicintainya, Rahmi Hatta? Menurut cara pandang orang saat ini, Hatta adalah orang yang aneh, mungkin.

Beberapa hari yang lalu, aku menambahkan satu karyanya kembali ke samping karya-karyanya yang lain, Karya Lengkap Bung Hatta: Buku 4 Keadilan dan Kemakmuran. Aku belum sepenuhnya menuntaskan karya itu, dan hari-hari ini membaca bagiku amat berharga, sebab seluruh tenaga kufokuskan untuk belajar translasi bahasa asing. Berangkat dari hal tersebut, pisau analitik-ku menjadi tumpul, yang mana aku ingin mencari lorong-lorong kosong yang mampu dimasuki sehingga mampu menciptakan suatu antitesa bagi pemikiran Hatta, agar tak terlalu kentara demikian Hatta-Sentris.

Ada satu tulisannya yang menarik, bertajuk ‘Ekonomi dan Kemakmuran’ yang ingin kututurkan melalui lisanku padamu suatu saat nanti, sebab aku tahu, kau kurang tertarik dengan tulisan yang amat panjang itu. Namun, kali ini, ijinkanlah aku mengetikkan ulang teks ekonomi milik Hatta itu padamu. Kau tahu, idea ekonomi yang dianalisa oleh Hatta, suatu saat nanti akan menjadi satu pilar penyangga di antara pilar-pilar lainnya bagi kondisi internal bagi hubungan kita dalam menghadapi problema-problema yang selalu ada dalam siklikal waktu.

Aku tak memaksamu untuk membacanya. Namun, andaikan kau tahu, saat aku mengetik-ulang teks ekonomi tersebut kucurahkan segala rasa kasih sayangku padamu selama sekitar dua hingga tiga jam. Apa yang kulakukan ini, seraya mengutip Hatta dalam satu penggalan frasanya: ‘…dapat menunjukkan jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai suatu tujuan, apabila tujuan itu sudah tetap.’

Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.

*

Ekonomi dan Kemakmuran – Mohammad Hatta [*]

Since he came down from the trees, man has faced the problem of survival, not as individual, but as a member of social group. His continued existence is testimony to the fact that he has succeeded in solving the problems; but the continued existence of want and misery, even in the richest of nations, is evidence that his solutions has been, at best, a partial one – Robert L. Heilbroner (The Wordly Philosophers)

Manusia berjuang buat hidup dan untuk mencapai penghidupan yang lebih sempurna. Perjuangan buat hidup itu adalah desakan alam. Manusia tak hidup kalau tidak makan, tak makan kalau tidak berusaha. Untuk memperoleh keperluan hidupnya manusia berjuang dengan alam, yang memagar langkahnya pada tiap-tiap penjuru. Kemudian, setelah akalnya bertambah dan kecerdasannya berkembang, ia coba menguasai alam itu untuk mempermudah jalan hidupnya.

Perjuangan untuk mencapai penghidupan yang lebih sempurna disebut juga tujuan kemakmuran. Sekitar tujuan manusia untuk mencapai kemakmuran itu terdapat berbagai masalah yang sama sifatnya dan serupa tabiatnya sehingga masalah-masalah itu menjadi obyek penyelidikan suatu ilmu yang tertentu. Ilmu itu ialah ilmu ekonomi.

Masalah ialah suatu kenyataan yang menimbulkan pertanyaan dalam hati kita. Kita tidak puas dengan melihat adanya, kita ingin tahu tentang “bagaimana duduknya” dan “apa sebabnya.” Suatu masalah saja belum lagi menimbulkan suatu ilmu. Fajar ilmu baru menyingsing, apabila kita berhadapan dengan suatu golongan atau rangkaian masalah yang sama sifatnya dan serupa tabiatnya. Pengetahuan tentang jenis masalah itu disusun di dalam suatu sistem yang teratur, dalam suatu disiplin pengetahuan. Di sini tidak saja timbul pertanyaan tentang bagaimana duduknya dan apa sebabnya, tetapi juga orang mencari keterangan yang logis dalam perhubungan sebab dan akibat. Dengan ini nyatalah, bahwa tugas sesuatu ilmu ialah memperoleh suatu pengetahuan yang teratur tentang hubungan sebab dan akibat di dalam suatu kumpulan masalah yang merupakan suatu kesatuan.

Dibawakan kepada ilmu ekonomi dapat dikatakan, bahwa ekonomi adalah ilmu yang menyatakan suatu pengetahuan yang teratur tentang hubungan sebab dan akibat pada berbagai masalah yang kelihatan sekitar tujuan manusia untuk mencapai kemakmuran nya. Masalah-masalah itu disebut masalah ekonomi.

Ekonomi asalnya dari kata-kata Grik: oikos (rumah) dan nomos (ilmu). Maksudnya ilmu mengatur rumah tangga. Rumah tangga barulah teratur baik, apabila uang belanja yang ada diatur sedemikian rupa membelanjakannya, sehingga tercapai dengan itu kepuasan yang sebesar-besarnya. Tidak saja orang harus berhemat, mengatur belanja itu sebaik-baiknya antara hari sekarang dan hari kemudian, akan tetapi juga belanja yang dikeluarkan itu jangan hendaknya diboroskan untuk mempeoroleh sesuatu macam barang saja, sehingga keperluan akan berbagai barang lain tidak dapat dipenuhi. Uang belanja yang ada itu harus diatur mengeluarkannya sedemikian rupa, sehingga keperluan sekarang dan kemudian kira-kira sama rata dipuaskan. Keperluan akan berjenis barang pun dipuaskan kira-kira sama rasa puasnya. Yang terpenting didahulukan memuaskannya dari yang kurang penting. Kepentingan akan sesuatu barang tidak pula ditentukan oleh jenis barangnya, melainkan oleh jumlah tiap-tiap barang yang sudah ada atau belum ada pada kita pada suatu ketika. Penghidupan sehari-hari menyatakan, bahwa guna sesuatu barang bagi seseorang semakin berkurang, apabila jumlah barang itu semakin bertambah padanya. Orang yang lapar, ingin sekali akan makan selekas-lekasnya. Nasi seperiuk serasa akan habis olehnya. Akan tetapi apabila ia sudah makan sepiring nasi, keinginannya akan sepiring nasi tidak lagi sebesar keinginannya akan sepiring nasi yang pertama. Ia akan bertambah juga, karena hatinya masih mau makan. Tetapi untuk kedua kalinya ia tidak mau bertambah lagi. Barangkali ia sudah jemu melihat nasi pada waktu itu. Demikianlah laku keperluan manusia dan kepuasannya akan tiap-tiap barang. Semakin banyak jumlah barang itu padanya, semakin kurang terasa gunanya. Kenyataan inilah yang disebut kemudian di dalam ekonomi: hukum guna yang semakin kurang. Disebut juga Hukum Gossen yang pertama, sebab Gossen-lah yang pertama kali memperingatkan akan kenyataan itu. Setiap kali sejumlah barang ditambahkan kepada persediaan yang sudah ada pada seseorang, setiap kali berkurang gunanya baginya. Dan tambahan yang penghabisan itu setiap kali menentukan besar guna yang diperolehnya daripada tiap-tiap kesatuan jumlah barang itu. Demikian juga nilai yang diberikan orang kepada sejenis barang yang sudah ada padanya ditentukan oleh nilai yang diberikannya kepada tambahan sejumlah yang penghabisan pada barang itu. Tiap-tiap sebuah dari pada barang itu yang sudah ada padanya—mana saja di antara yang sebanyak itu, yang terdahulu atau kemudian diperolehnya—dihargainya menurut nilai yang diberikannya kepada tambahan yang penghabisan itu tadi. Kenyataan inilah yang disebut kemudian di dalam ekonomi: hukum nilai terakhir (penghabisan). Tambahan yang terakhir itulah dari segala tambahan yang berturut-turut yang menentukan nilai yang diberikan seseorang akan sejumlah barang yang ada padanya.

Oleh karena tiap-tiap jenis barang bagi seseorang semakin kurang dengan tambahan jumlahnya, maka menjadi tabiat bagi manusia bahwa ia memuaskan keperluannya akan tiap jenis barang dengan berhingga. Barang yang terpenting sekalipun dalam hidupnya, setelah dipuaskannya keinginannya beberapa kali berturt-turut, gunanya yang terakhir mungkin sudah lebih kurang daripada guna yang dirasainya terhadap barang yang kedua, yang keinginannya akan itu belum lagi dimulai memuaskan. Suatu waktu, kepuasan akan barang pertama dan kedua telah begitu besarnya dan gunanya terakhir masing-masing sudah sekian kurangnya, sehingga sekarang barang yang ketiga mulai dikehendaki.

Jalan tindakan manusia dalam memuaskan keperluannya akan berbagai jenis barang, di bawah pengaruh hukum guna yang mungkin kurang, dapat dijelaskan dengan tabel seperti di bawah ini. Umpamakan seorang mempunyai Rp. 10,-. Dengan uang itu ia ingin memperoleh berbagai jenis barang yang kita sebut saja A, B, C, D, E dan F. Barang-barang ini disusun menurut urutan kepentingannya sebagai jenis barang bagi orang itu. Angka yang berleret di bawah tiap-tiap jenis barang itu ialah nilai yang diberikan orang kita itu kepada tiap-tiap sebuah tambahan kepada barang tersebut. Bagi sebuah barang A yang pertama nilai yang diberikannya sama dengan 10. Untuk tambahan yang berturut-turut daripada barang itu, penghargaannya semakin lama semakin kurang, yaitu dari 9 turun sampai 1. Demikian juga dengan barang B, C, D, E dan F, yang penghargaannya kepada sebuah yang pertama sama dengan 8, 7, 5, 4 dan 3. Tiap-tiap kesatuan barang itu dapat diperoleh dengan serupiah.

A

B

C

D

E

F

10

9

8

8

7

7

7

6

6

6

5

5

5

5

4

4

4

4

4

3

3

3

3

3

2

2

2

2

2

1

1

1

1

1

0

Pada tabel di atas terlihat, bahwa penghargaan orang kita itu terhadap jenis barang A, B, C, dan D, rata turunnya, melompat dengan satu. Pada barang E penghargaannya sudah melompat dengan dua turunnya. Dan pada barang F, apabila ia sudah memperoleh sebuah, ia tak ingin lagi memperolehnya. Dalam penghidupan sehari-hari jalan penghargaan akan tiap-tiap jenis barang itu berlain-lain dari orang ke orang, menurut pandangan hidup, kecerdasaan dan keperluan masing-masing. Barang-barang pemuaskan keperluan hidup itu ada yang bersifat elastik, ada yang tidak bersifat elastik. Keperluan elastik adalah keperluan yang orang lambat puas. Keperluan tidak elastik ialah keperluan yang orang lekas puas.

Apabila orang kita tadi mulai membelanjakan uangnya yang Rp. 10,- itu, maka serupiah yang pertama dibelikannya akan sebuah daripada barang yang terpenting rasanya baginya; yaitu sebuah daripada barang A, yang penghargaannya akan itu sama dengan 10. serupiah yang kedua dibelikannya juga akan sebuah barang A, yang penghargaannya akan itu sama dengan 9. sungguhpun penghargaannya akan sebuah barang A sudah kurang, setelah diperolehnya sebuah, masih saja sebuah barang A yang kedua baginya mempunyai nilai yang terbesar daripada segala buah barang yang belum diperolehnya. Untuk membelanjakan serupiah yang ketiga, ia akan memilih antara sebuah barang A dan barang B, sebab pada kedua-duanya sama penghargaannya, yaitu sama dengan 8. Sebab uangnya masih ada, kedua-duannya akan dibelinya. Sesudah itu, serupiah yang berturut-turut sampai tiga kali akan dibelikannya kepada sebuah yang keempat daripada barang A, sebuah yang kedua daripada barang B dan sebuah yang pertama daripada barang C. Ketiga-tiganya sama nilainya baginya, yaitu sama dengan 7. Mungkin pula sebuah barang C dibelinya dahulu, sebab barang ini belum ada padanya, sesudah itu baru yang dua lainnya. Dalam membelanjakan serupiah yang kedelapan ia boleh memilih mana yang akan dibelinya dahulu, antara sebuah barang A lagi, sebuah barang B lagi dan sebuah barang C lagi. Nilai yang diberikannya akan tambahan barang-barang itu sebuah sama, yaitu 6. Akhirnya ketiga-tiganya dibeli, sebab uang masih cukup uangnya.

Sesudah itu orang kita itu tidak dapat berbelanja lagi. Keinginannya akan memperoleh barang yang sudah ada dan yang belum ada padanya masih besar, tetapi alat pembelinya tidak ada lagi. Sejak saat itu orang kita tadi merasa kekurangan kemakmuran. Tidak saja ia ingin memperoleh barang-barang D, E dan F, tetapi juga berbagai buah lagi daripada jenis barang-barang A, B dan C. Keperluan akan semuanya itu terpaksa tidak dapat dipuaskan oleh karena alat pemuaskannya tidak mencukupi. Pertentangan antara keperluan yang begitu banyak terasa dan alat pemuaskannya yang tidak mencukupi menimbulkan sikap tertentu dalam tindakan manusia dalam mencapai kemakmuran. Sikap itu disebut motif ekonomi, yang mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan alat yang ada. Sebab itu pula, dalam memuaskan keperluan hidupnya seseorang mempergunakan alat pemuaskannya sedemikian rupa, sehingga pada tiap-tiap keperluan yang masih dapat dipuaskan dengan alat yang ada padanya itu ia memperoleh rasa puas yang kira-kira sama. Dalam perumpamaan di atas, dengan orang kita yang berbelanja dengan Rp. 10.-, dapat dilihat bahwa pada tiap-tiap barang A, B dan C yang masih dapat dipuaskan dengan itu tercapai guna penghabisan (terakhir) yang sama, yaitu 6. Motif ekonomi atas dorongan perasaan kekurangan kemakmuran, memaksa ia bertindak begitu. Kenyataan itu, yang dialami dalam penghidupan, ditegaskan dalam ekonomi sebagai suatu hukum, yang mengatakan bahwa manusia itu dalam memuaskan keperluan hidupnya berusaha mencapai guna terakhir yang sama pada segala keperluan yang masih dapat dipuaskan. Ringkasnya hukum itu disebut hukum meratakan guna terakhir, atau juga hukum Hukum Gossen yang kedua, sebab Gossen pulalah yang pertama menghidupkan kenyataan itu dalam keinsafan.

Jadinya, kekurangan kemakmuran yang dirasakan menyuruh orang berhemat dengan alat yang ada padanya untuk pemuaskan keperluan. Apa yang dialami pada rumah tangga, didapati pula dalam masyarakat umumnya, pada segala macam perekonomian. Pada umumnya orang bertindak, sengaja atau tidak disengaja, menurut motif ekonomi. Yang sengaja bertindak seperti itu, dengan memakai perhitungan yang rapi, ialah orang yang menjalankan perusahaan. Dengan ongkos yang sekecil-kecilnya ia akan berusaha mencapai hasil yang sebesar-besarnya. Tidak disengaja bertindak motif ekonomi ialah orang yang biasa di luar perusahaan, karena terdesak oleh hidupnya dalam kekurangan. Bertindak, umumnya, menurut motif ekonomi menjadi kebiasaan baginya, tidak diinsafinya lagi. Ia berbuat begitu, karena alam yang kikir tidak memberikan begitu saja kepadanya apa yang dikehendakinya. Apabila segala yang dikehendaki oleh manusia dapat diperoleh begitu saja sebagai pemberian alam, maka tak ada masalah ekonomi dan tak ada pula ilmu ekonomi.

Terhadap beberapa barang keperluan hidup memang ada yang dapat diperoleh dengan begitu saja. Misalnya udara, yang begitu besar gunanya buat hidup. Sungguhpun besar sekali gunanya, udara itu bukan barang ekonomi. Ia disebut barang merdeka, sebab tiap-tiap orang dapat menghirupnya di mana saja dan seberapa sukanya. Ia diperoleh dengan tidak perlu berusaha. Demikian juga air bagi orang yang tinggal di tepi danau. Ia dapat mengambilnya seberapa sukanya. Sebab itu air tidak bernilai baginya. Ia pun tidak perlu berhemat dengan air itu, boleh dibuang sesuka-sukanya. Di sana ia tidak perlu berekonomi dengan air. Akan tetapi lain keadaannya dengan air dalam kota-kota besar. Di sana air sudah terbatas jumlahnya, sudah menjadi barang ekonomi, tidak dapat diperoleh dengan begitu saja. Air mulai berharga, harus dibayar untuk memperolehnya. Bagi kaya dan miskin air itu sama berguna. Akan tetapi nilai yang diberikan oleh seseorang yang miskin akan seember air jauh lebih besar daripada nilai yang diberikan oleh seorang-orang kaya. Harga serupiah seember sangat mahal rasanya bagi seorang yang miskin, akan tetapi tidak berarti bagi orang kaya.

Dengan lukisan ini nyatalah, bahwa ekonomi senantiasa bersangkut dan bergelut dengan hubungan jumlah. Di mana hubungan jumlah tidak masuk hitungan lagi, di sana tidak ada ekonomi. Tetapi dalam penghidupan sehari-hari, manusia senantiasa berhadapan dengan perhubungan jumlah itu. Terhadap keperluan hidupnya yang begitu banyak terasa, alat pemuaskannya terbatas jumlahnya. Semakin besar terasa ketegangan antara keperluan yang banyak itu dan alat pemuaskannya yang terbatas, semakin besar motif ekonomi.

Sekarang timbul pertanyaan: sampai ke mana lingkungan tujuan kemakmuran itu? Apakah diliputinya hanya keperluan akan barang-barang yang bertubuh saja ataukah juga barang-barang yang tidak bertubuh? Dengan perkataan lain: apakah ekonomi hanya mengenai kemakmuran jasmani saja, ataukah ada pula kemakmuran rohani bagi ekonomi?

Dahulu banyak sekali ahli ekonomi yang membatasi tujuan ekonomi kepada mencapai barang-barang yang bertubuh saja. Pengertian kemakmuran bagi mereka semata-mata kemakmuran jasmani. Akan tetapi sekarang hampir rata-rata ahli ekonomi berpendapat, bahwa tujuan kemakmuran itu meliputi segala yang diingini manusia untuk memperoleh penghidupannya yang lebih sempurna. Selagi manusia hidup bersahaja dan kecerdasannya masih sederhana, memang keinginannya tidak lebih banyak daripada keperluan hidup yang terpenting, yaitu makanan, pakaian dan rumah, semuanya dalam keadaan yang sederhana sekali. Tetapi, semakin maju kebudayaan, tinggi peradaban dan besar kecerdasan, semakin banyak orang berkehendak akan barang-barang pemangku kultur dan barang-barang perhiasan hidup, akan ilmu, seni, sport dan lain-lainnya. Sebagian besar dari pada alat yang ada padanya untuk pemuaskan keperluan hidupnya dipergunakannya untuk memperoleh sebanyak-banyaknya kemakmuran rohani. Juga pengajaran dan kesehatan termasuk ke dalam lingkungan tujuan kemakmuran. Sering pula pemeliharaan kesehatan dan persediaan ongkos sekolah anak lebih diutamakan daripada berbagai keperluan akan barang-barang pakaian dan perhiasan.

Segala macam keperluan hidup itu, yang termasuk ke dalam lingkungan kemakmuran jasmani maupun ke dalam lingkungan kemakmuran rohani, dipuaskan dengan alat yang sama, yang terbatas jumlahnya. Pada umumnya, dalam masyarakat sekarang, alat pemuaskan keperluan itu berupa uang atau harta, yang dapat ditukarkan akan barang-barang yang dikehendaki. Juga alat pemuaskan yang asli, kerja manusia, tidak langsung membuat barang-barang keperluan hidup yang dikehendaki. Pada galibnya kerja manusia itu ditukar dahulu dengan uang, yang diterima sebagai gaji atau upah. Dalam keadaannya berupa uang, barulah alat pemuaskan keperluan itu ditukarkan dengan barang-barang yang diingini.

Oleh karena alat pemuaskan keperluan itu terbatas sekali jumlahnya terhadap keinginan yang sebanyak itu, maka tindakan ekonomi selalu memilih. Memilih, mana di antara keperluan yang sebanyak itu masih dapat dipuaskan dengan alat yang ada tadi. Apabila seseorang mempunyai uang Rp. 15,- ia dapat memilih ke jurusan mana dipuaskannya keperluannya, yang pada waktu itu dirasai sama kuatnya. Misalnya, ia boleh memilih makan di restoran atau pergi menonton pertandingan sepakbola atau pergi mendengarkan konser atau pergi berdarmawisata ke gunung atau ke pantai untuk menyehatkan badannya. Tiap-tipa pilihan itu bersifat alternatif. Salah satu , ini atau itu, tak dapat semuanya. Alat pemuaskan yang telah dipakai untuk suatu keperluan, sudah hilang bagi keperluan lain. Apabila kemudian ternyata orang salah pilih, maka alat yang telah terpakai sia-sia tadi tak dapat lagi diulang mempergunakannya untuk pemuaskan keperluan lain yang kemudian ternyata lebih penting. Sekali terbuang, tetap hilang. Arang habis, besi binasa.

Oleh karena pemakaian alat pemuaskan itu bersifat alternatif, maka orang harus berhati-hati benar melakukan pilihannya dalam mempergunakan alat pemuaskan yang kurang tadi. Terutama terhadap pemakaian alat untuk produksi, yang lama masa terikatnya, orang harus menimbang dengan perhitungan ekonomi yang rapi. Apabila salah pilh, bangunan alat-alat produksi itu sukar membongkarnya kembali. Jadinya, berekonomi artinya memilih dengan pilihan yang tepat. Oleh karena keperluan hidup manusia yang berbagai jenis itu dipuaskan dengan alat yang sama (kerja manusia, uang, bahan pemberian alam dan lain-lainnya), maka terdapatlah di dalam masyarakat persamaan dasar segala penghasilan sehingga satu sama lain dapat diperbandingkan dan diperhubungkan.

*

Dalam pada itu jangan dilupakan, bahwa manusia tidak pernah seorang diri. Kecuali dalam keadaan yang memaksa, seperti Robinson Crusoe di atas pulaunya. Juga Robinson yang terpencil dan hidup dengan seorang dirinya itu berasal dari suatu masyarakat yang ramai. Manusia adalah makhluk sosial. Sejak dunia terkembang didapati hidup berkampung-kampung. Betapa juga kecilnya kumpulan kaum yang pertama itu, ia adalah masyarakat yang menghidupkan pertalian rohani, dan rasa perlu-memerlukan antara anggota-anggotanya. Sebab itu dalam tindakannya menuju kemakmuran, manusia terpengaruh oleh lingkungannya dan oleh bangun masyarakat tempat ia dilahirkan. Memang, tujuan kemakmuran itu tetap ada pada seseorang yang hidup seorang diri, terpisah sama sekali dari masyarakat. Dalam hidupnya yang terpencil itu ia tetap berhadapan dengan berbagai masalah ekonomi. Lapar dan dahaga dan kenyang mempengaruhi sikapnya dalam menyelenggarakan dasar hidupnya. Ia berhadapan dengan kelebihan dan kekurangan sewaktu-waktu. Beberapa hukum ekonomi seperti hukum Gossen yang pertama dan kedua dan beberapa lainnya, tetap berlaku padanya. Tetapi pada umumnya manusia bertindak dalam masyarakat, dipengaruhi oleh berbagai paham, keadaan dan susunan hidup yang didapatinya dalam masyarakat itu. Sungguhpun hukum ekonomi, yang menguasai kelakuan manusia dalam melaksanakan tujuan kemakmurannya, bersifat tetap dan kekal, tidak bergantung kepada waktu, penjelmaannya dalam alam yang lahir ditentukan oleh bangun masyarakat. Oleh karena itu penyelidikan ekonomi tidak terbatas pada penyelidikan hukum-hukum yang bersifat tetap saja, tetapi menyelidiki juga dasar dan bentuk perekonomian masyarakat yang bersifat historis-relatif, senantiasa dalam perkembangan dan perubahan. Suatu soal yang maha penting bagi ekonomi ialah memperhatikan konkretisasi, pernyataan, dari pada hukum-hukum ekonomi yang bersifat tetap dan kekal itu dalam masyarakat yang lahir, terpengaruh oleh berbagai keadaan dan paham yang ada, seperti adat dan kebiasaan, pendapat sosial, yuridis, politik, agama dan lain-lain. Yang kemudian ini berlain-lain coraknya menurut tempat dan waktu.

Dalam masyarakat yang semangat hidupnya, banyak sedikit, berdasarkan cita-cita kolektivisme, sikap seseorang menuju kemakmuran berlainan coraknya daripada di dalam masyarakat yang berdasarkan individualisme. Dalam masyarakat kolektivis, tiap-tiap orang-seorang, individu, merasai dalam segala tindakannya ke luar, bahwa ia bagian daripada suatu golongan yang besar. Hanya sebagai anggota daripada golongan itu dirinya ada berkedudukan. Di luar itu ia tidak berarti apa-apa. Sebab itu dalam segala perbuatannya, dalam mempergunakan tenaga ekonominya, ia merasa perlu mendapat persetujuan daripada kaumnya. Motif ekonomi tetap ada mendorongnya, tetapi konkretisasinya dalam penghidupan yang lahir terpengaruh oleh paham umum. Dalam masyarakat individualis, di mana seseorang bertanggung jawab sendiri atas buruk dan baik nasibnya, orang seorang bebas bertindak. Karena itu motif ekonomi yang mendorong tajam coraknya. Sikap hidup merupakan, seolah-olah orang hidup sebatang kara ditengah-tengah masyarakat. Perhubungan satu sama lain tampaknya sebagai terpaksa saja, karena keperluan, bukan karena dirasai sebagai hubungan batin. Dalam masyarakat seperti itu, orang seorang terletak di muka, masyarakat di belakang. Sebab itu pula, tindakan orang seorang dalam menuju kemakmuran hidupnya sangat dikuasai oleh timbangannya sendiri, dan karena itu menimbulkan berbagai pertentangan dalam masyarakat.

Dari uraian di atas ternyata, bahwa tujuan kemakmuran tidak saja menimbulkan relasi, hubungan, antara manusia dengan barang-barang pemuaskan keperluan hidupnya, tetapi juga antara manusia dengan manusia. Relasi antara manusia dengan manusia dapat terjadi dalam tiga macam kedudukan.

Pertama, seseorang mencari perhubungan dengan orang lain untuk bekerja sama-sama atau berusaha sama-sama menghasilkan barang-barang keperluan hidup, yang akan langsung dipergunakan atau bakal ditukarkan kepada orang lain. Bentuk kerja sama itu berbagai-bagai, menurut motif atau alasan yang mendorong pada waktu pada waktu akan mengadakan perhubungan itu. Ada yang merupakan perjanjian kerjasama saja, ada yang berbentuk perkumpulan Firma, Perseroan Terbatas, dan ada pula yang berbentuk Koperasi. Ada pula kerjasama yang aneh antara majikan dan buruh, suatu persatuan dalam pertentangan. Kerjasama ini lahir karena kemestian, karena yang satu memerlukan yang lain untuk menghasilkan. Dalam sejarahnya, perhubungan majikan-buruh ini beralih berangsur-angsur, dari pertentangan majikan dan buruh semata-mata, di bawah pengaruh perjuangan kelas, menjadi soal ikut sertanya kaum buruh bersuara dalam berbagai hal yang mengenai perburuhan dan perusahaan.

Kedua, seseorang berhubungan dengan orang lain sebagai lawannya berlomba-lomba untuk memperoleh lebih dulu barang yang diperlukannya. Perhubungan kedua ini berdasarkan kepada konkurensi. Selain dari berlomba-lomba memperoleh barang, didapati juga perlombaan tentang siapa yang lebih murah menghasilkan dan siapa yang sanggup membayar lebih mahal. Persaingan yang bermula berlaku dengan bebas menimbulkan pada pihak yang merasa lemah niat berserikat dengan orang lain, supaya lebih kuat daripada lawannya. Perlombaan persaingan bebas menimbulkan berangsur-angsur perlombaan mengadakan gabungan berbagai rupa, sehingga lambat-laun timbullah badan-badan raksasa, seperti kartel, trust, konsern dan lain-lainnya. Semuanya tujuan-tujuan untuk memperoleh kehidupan monopoli, untuk berkuasa sendiri. Konkurensi merdeka melahirkan lambat-laun konkurensi-monopoli.

Ketiga, seseorang berhubungan dengan orang lain dengan jalan tukar-menukar untuk memperoleh barang-barang yang diperlukannya. Tukar-menukar itu boleh jadi berlaku dengan langsung, barang ditukarkan dengan barang, atau seperti yang lebih banyak terjadi berlaku dengan tak langsung, dengan perantaraan uang atau kredit. Ini menimbulkan masalah lagi, yaitu soal ketetapan nilai uang. Uang sebagai alat penukar dan sebagai kesatuan hitungan mula-mula dianggap mempunyai fungsi yang semata-mata mengabdi. Orang harus dapat mempercayai uang itu, bahwa ia tidak akan mengacaukan berbagai perhubungan ekonomi, sebagai kontrak jual-beli dan perjanjian pembayaran dan lain-lain yang tidak selesai sebentar itu saja, tetapi berjalan memakai waktu. Antara membeli atas harga yang dimufakati, dan membayar harganya lewat waktu sampai berbulan-bulan. Apabila sementara itu nilai uang berubah, maka timbullah keadaan yang yang tidak adil. Salah satu daripada kedua belah pihak beruntung begitu saja, dengan tiada berjasa apa-apa. Karena itu masalah berputar mula-mula sekitar cita-cita “Uang Netral”. Tetapi kemudian ternyata, karena pengalaman yang bertambah dan ilmu yang mendalam, bahwa uang netral tidak sama dengan ketetapan nilai uang. Dengan keinsafan itu soal uang tidak lagi ditinjau dari jurusan ketetapan nilainya, tetapi dari jurusan fungsinya dalam pengendalian politik perekonomian.

Demikianlah gerakan tujuan kemakmurannya, menimbulkan berbagai masalah, yang satu sama lain bersangkut-paut. Apabila perhubungan manusia dengan barang-barang pemuaskan keperluan hdiupnya menimbulkan masalah penghargaan dan nilai, yang subyektif dan yang obyektif, hubungan antara manusia dan manusia dalam kedudukan kerjasama, berkonkurensi dan tukar-menukar menimbulkan masalah nilai dan harga dalam masyarakat. Masalah nilai dan harga itulah, terutama harga yang menjadi tujuan keterangan ekonomi teoritika.

Ketiga macam perhubungan manusia itu menimbulkan dalam masyarakat berbagai masalah, yang masyarakatnya sendiri mencari mencari penyelesaiannya atas dorongan motif ekonomi, di bawah pengaruh berbagai keadaan dan paham serta pemandangan hidup. Tinggal bagi ilmu ekonomi mencari keterangan tentang bagaimana duduknya dan apa sebabnya. Kadang-kadang orang meninjau lebih lanjut, apakah penyelesaian dalam praktik itu, sebagaimana terjadi, tepat menurut tujuan? Di sini timbul perbedaan paham yang hebat, apakah ilmu ikut serta membanding ataukah hanya memberi keterangan saja? Kalau ilmu ikut serta membanding, apakah dasarnya untuk membanding? Mungkin terdapat suatu dasar yang obyektif untuk membanding suatu keadaan yang nyata? Dalam suatu hal ada persetujuan pendapat, yaitu bahwa ilmu, di atas dasar keadaan yang nyata, dapat menunjukkan jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai suatu tujuan, apabila tujuan itu sudah tetap. Tetapi tentang menetapkan tujuan itu, pihak yang satu mengatakan bahwa itu bukan tugas ilmu. Ilmu memberi keterangan tentang bagaimana adanya, tidak mengemukakan sebagaimana mestinya. Pihak yang lain mengatakan, bahwa ilmu tidak saja bersifat logis, tetapi juga normatif, menunjukkan sebagaimana mestinya.

Sungguhpun tajam pertentangan paham ini dalam teori, dalam praktik tidak begitu besar perbedaan sikap. Sekalipun dalam perbedaan paham itu orang berpendapat, bahwa ilmu sifatnya semata-mata memberikan keterangan tentang bagaimana adanya, tidak mengemukakan sebagaimana mestinya, yang dipandang sebagai soal dan tujuan politik, ahli ekonomi tidak dapat membatasi tugasnya hingga perbatasan ilmu saja. Apabila ia berhenti pada batas pengetahuan itu, ia menjadi orang yang steril, orang yang tidak mempergunakan pengetahuannya untuk perbaikan masyarakat. Di atas dasar pengetahuan tentang bagaimana adanya atau bagaimana duduknya dan apa sebabnya itu, yang diperoleh dengan penyelidikan ilmu, ia harus mencari jalan—juga dengan bantuan ilmu—cara bagaimana mengatur politik perekonomian supaya tercapai kemakmuran masyarakat yang sebesar-besarnya. Tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang obyektif tentang dunia adalah baik dan murni, tetapi ilmu gunanya untuk mencapai keselamatan hidup.

Penyelidikan ilmu yang obyektif perlu untuk memperoleh pengetahuan yang jernih tentang keadaan yang sebenarnya, barulah dapat disusun siasat yang tepat untuk mengubahnya menjadi sebagaimana semestinya, yang dikandung dalam cita-cita. Keadaan yang sebenarnya itu adalah data, tanggal-tanggal untuk bertolak bagi berbagai muslihat yang akan di jalankan.

Siapa yang menyusun politik kemakmuran bagi masyarakat dan negara, harus mempunyai rencana yang teratur dan paham benar akan sifat-sifat keekonomian yang dihadapinya dan alat-alat serta tenaga yang dapat dipergunakan. Ia harus tahu memilih mana di antara cita-cita yang sebanyak itu dan yang terpenting bagi masyarakat dapat diselenggarakan dengan alat dan tenaga yang terbatas adanya sekarang dan kemudian. Data yang harus diketahuinya antara lain ialah besar dan ragam keperluan, kekayaan alam yang dapat dipergunakan, tenaga bekerja dan kapital, tingkat pengetahuan teknik dan kemampuan menyelenggarakan organisasi. Dari semuanya itu bergantung hasil daripada tindakan ekonomi. Selain daripada pengetahuan ekonomi, perlu juga perasaan sosial yang besar. Sebab kemakmuran rakyat menghendaki lenyapnya kemiskinan. Politik perekonomian yang mau mencapai kemakmuran itu haruslah dapat menghilangkan kemiskinan itu berangsur-angsur.

Inti daripada masalah yang harus dipecah ialah memakai alat-alat yang terbatas banyaknya terhadap berbagai tujuan yang bersaingan. Pilihan tentang tujuan dan alat harus tepat, karena pemakaian alat-alat sifatnya alternatif. Salah tempa berarti arang habis, besi binasa!

*

Kalau kita sekarang mengambil kesimpulan tentang apa yang menjadi problematik (Pokok Masalah) ekonomi , dapatlah masalah itu kita susun dalam lima fasal [1]

1. Manusia mempunyai keperluan hidup yang minta dipuaskan terus-menerus dan sewaktu-waktu. Dengan bertambahnya kemajuan masyarakat dan kecerdasan, keperluan hidup itu semakin besar pula dan boleh dikatakan tidak berhingga. Tepat benar apa yang dikatakan Charles Gide, bahwa keperluan manusia terbatas dalam besarnya, tapi tidak terbatas dalam jumlahnya.

2. Alat pemuaskan keperluan itu tidak mencukupi untuk memuaskan segala keperluan yang terasa. Oleh karena itu manusia merasa kekurangan kemakmuran.

3. Oleh karena keperluan hidup tidak berhingga banyaknya dan alat pemuaskan terbatas jumlahnya, manusia memilih setiap waktu, mana keperluan yang sebanyak itu dapat dipuaskan dengan alat yang ada padanya. Sebab itu tindakan ekonomi ialah tindakan-memilih. Senantiasa diperbandingkan alat dengan tujuan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Keperluan dan alat pemuaskan kita susun menurut kepentingannya yang terasa waktu itu. Semakin besar kepuasan, semakin kurang intensite, desakan, keperluan itu rasanya (Hukum Gossen I). Sebaliknya, penghargaan kepada alat pemuaskan tadi semakin besar menurut berkurangnya karena dipakai. Sebab itu manusia yang berekonomi menyusun keperluan dan alat pemuaskan demikian rupa, sehingga dengan pemakaian yang kemudian ini diperoleh kepuasan yang kira-kira sama di antara keperluan yang masih dapat dipuaskan dengan alat yang ada padanya (Hukum Gossen II). Dalam menyusun alat pemuaskan keperluan ada pengaruh daripada teknik. Segala tujuan dapat menjadi pilihan ekonomi, asal saja mempengaruhi pemakaian alat pemuaskan itu yang terbatas keadaannya.

4. Oleh karena memuaskan keperluan itu dicapai semuanya dengan alat yang sama (kerja manusia, uang, bahan-bahan pemberian alam dan lain-lainnya), maka terdapatlah persamaan dasar penghasilan. Karena itu satu sama lain dapat diperbandingkan dan diperhubungkan memakainya. Faktor-faktor produksi dapat dikerahkan pemakaiannya dari cabang produksi yang satu ke cabang produksi yang lain. Manusia senantiasa berhadapan dengan soal, mana di antara tujuan ekonomi yang sebanyak itu dapat dilaksanakan lebih dulu dengan alat-alat yang ada.

Atas pengaruh bukti-bukti yang empat ini, yang boleh dikatakan fundamental buat ekonomi, manusia dalam melaksanakan tujuan ekonominya senantiasa berhadapan dengan soal memilih pemakaian alat pemuaskan keperluan yang bersifat alternatif.

5. Penghidupan ekonomi berlaku di dalam masyarakat yang tertentu bentuknya. Lingkungan orang hidup dan bergaul, keadaan masyarakat, kebudayaan bangsa tempat kita dilahirkan dan hidup sebagai anggota masyarakat, undang-undang negeri, organisasi yuridis dan sosial, cita-cita kemasyarakatan dan agama, kekuatan moril dan moral bangsa, semuanya itu berpengaruh atas tujuan kemakmuran. Di sebelah itu didapati pemberian alam yang memberi kesempatan untuk berekenomi. Akan tetapi ekonomi itu sendiri bergantung kepada kesanggupan manusia mengerjakannya.

Kelima fasal ini, oleh karena jadi syarat yang terpenting untuk berekonomi, disebut juga kategori ekonomi. Dalam tindakan manusia menuju kemakmuran, alam dan masyarakat menentukan batas-batasnya. Tetapi dalam lingkungan pembatasan itu manusia dapat menyelenggarakan, dengan mengorganisasinya yang baik dan rencana yang teratur, tingkat kemakmuran yang sebesar-besarnya di antara yang masih dapat dicapai dengan alat yang ada.

Politik kemakmuran yang sehat harus berdasarkan kepada pengetahuan tentang kategori ekonomi dan tentang data ekonomi yang ada.

[*] Ditulis di Digul dan Neira antara tahun 1935-1941 dan terbit di dalam majalah/surat kabar Indonesia. Dimuat kembali dalam buku Beberapa Fasal Ekonomi, I, Penerbit Perpustakaan Keguruan Kementerian PP dan K, Jakarta, cetakan pertama, 1942, dan Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta, cetakan keenam, 1960.

[1] Lihat terutama tentang ini F. de Vries, “Economie”, di dalam Winkler Prins Encyclopedie, jilid 7, dan karangannya “Economie en Ethiek” dalam majalah De Economist, 1926. Perhatikan juga pidato-pidato inaugural Prof. Van der kooy, “Het object der economische Geschiedenis”, 1948, dan “De zin van het Economische”, 1950.

Kawan mengetik teks ekonomi Hatta:

1. Grey – Pure Saturday.

2. Ost. Zidane: A 21st Century Portrait – Mogwai.

3. Hello Nasty – Beastie Boys.

4. Home – The Gathering.

5. Kamar Gelap – Efek Rumah Kaca.

6. Heart Once Nourished With Hope And Compassion (Reissue) – Shai Hulud.

7. Second Coming – The Stone Roses.

8. Halmahera – Alam dan Seniku – Tohpati.

9. Piano Works – Erik Satie.

10. La Maison Où J’ai Grandi – Francoise Hardy

Iklan

Buah Tangan Pasar Kangen Yogyakarta 2016 di Taman Budaya Yogyakarta.

 

Pada suatu ketika, ada suatu momen yang tak pernah kau rencanakan sama sekali dan kemudian terjadi. Ambillah contoh, misalkan kau di saat mengalami kejenuhan yang paling akut dan tanpa sadar kau berkata pada kekasih, mengapa kita tak menonton film di 21 Cineplex; atau mengapa kita tak pergi ke sebuah cafe untuk menonton seorang penyanyi muda yang tengah naik daun memainkan pianonya; atau bahkan kau bisa saja mengajak kawanmu makan di tempat yang biasanya tak kau sukai dan dia dengan mengernyitkan wajahnya.

Demikianlah yang kualami sore tadi. Ketika sore tadi, salah seorang kawanku—yang juga sedang mengenyam studi bahasa dan dipertemukan di Yogyakarta—datang di tempat kediamanku, namun secara mendadak, aku menyodorkan tawaran untuk mengajaknya ke Pasar Kangen Yogyakarta 2016 yang diadakan dari tanggal 20 juli 2016 sampai 24 juli 2016 di Taman Budaya Yogyakarta. Perasaan untuk menuju ke TBY demikian kuat. Pada akhirnya, tepat tanggal 24 Juli, di hari terakhir, aku bersama kawanku menjejakkan langkah kaki di tempat tersebut.

Di Pasar Kangen tersebut kau bisa menemukan hal-hal lama (atau Dunia Lama) mulai dari makanan, permainan, busana, dan berbagai hal saat kau, atau ibumu, bahkan kakek-nenekmu, menyelami masa-masa lalunya. Secara sporadis, aku pun terhanyut ke bagian-bagian yang kusuka: Kaset dan Buku. Meski aku bukan seorang penggemar kuliner, namun ketika melintasi salah satu dari beberapa stand yang menjajakan jajanan membuatku menelan ludah.

Saat aku melihat kaset lama dan buku lama, aku pun terasa menyesal mengapa aku baru pergi ke acara tersebut saat hari-hari terakhir, saat jam-jam terakhir, dan saat beberapa barang yang sebenarnya kuinginkan muncul mendadak dan tak dapat kutahan. Namun, mau tak mau, aku hanya mampu membeli beberapa kaset dan beberapa buku. Ugh, sungguh sangat sayang.

*

1. Dua Kaset Iwan Fals. Siapa yang tak tahu akan Iwan Fals? Dan aku tak akan menjabarkan kembali siapakah ia. Ada dua kaset yang kubeli. Pertama adalah Potret, dan ada satu lagu kegemaranku yakni ‘Mereka Ada Di Jalan,’ dan lagu tersebut mengingatkanku pada masa kecil dan permainan bola. Dan cobalah baca liriknya, seakan-akan bercerita. Aku mengagumi benar, pilihan kata dalam lagu tersebut. Sementara, dalam kaset Mata Dewa, aku menyukai dua baris terakhir dalam lagu ‘Yang Terlupakan’: Pernah ‘ku mencoba ‘tuk sembunyi / Namun senyummu tetap mengikuti.

2. Dua Kaset Basiyo. Basiyo, salah satu tokoh komedi bersama Dagelan Mataramnya, dan mengingatkanku dengan pada tokoh serta grup seperti Kartolo Cs di Jawa Timur. Dan adakalanya, di setiap malam hari aku sering memutarnya melalui format mp3 untuk mengusir kepenatan dengan slaptick-slapticknya yang mengagumkan, meski dengan bahasa Jawa Tengah. Dan aku berjodoh dengan judul-judul semacam ‘Nyokot Kebrakot’ dan ‘Maling Kontrang-Kantring.’

3. Buku berbahasa belanda, Mijn Vriendje En Ik, yang nantinya akan kugunakan untuk melatih bahasa belanda suatu saat nanti.

4. Wiro Sableng dan Bastian Tito. Ketika saat masih berada di sekolah menengah pertama, aku selalu mendatangi tempat peminjaman buku yang tak jauh dari rumah. Dan dari tempat tersebutlah aku bertemu kembali dengan Wiro Sableng, setelah semasa kecil hanya bisa kusaksikan melalui layar kaca. Dan dari membaca karya Bastian Tito-lah minat bacaku kemudian perlahan-lahan tumbuh, meski tak rutin. Hingga kemudian Lupus karya Hilman, mulai menggeser posisi Bastian Tito dan Wiro Sableng-nya. Waktu merangkak perlahan, sampai aku mengenal Zen RS, melalui essai-essainya. Dan Zen menulis dalam blognya: bahwa angka 212 mempunyai makna filosofis seperti dunia ini dibangun di atas hamparan dualisme (baik-buruk, panas-dingin, air-api, bumi-langit, laki-perempuan, dll) yang kesemuanya tetap berasal dan akan kembali pada satu sumber: Tuhan Yang Maha Esa. Serta, karya Bastian Tito ini yang membuatku seperti melakukan suatu refresh serta memberikan keasyikan, melatih emosi dari setiap karakter tokoh dan mampu membuatku terkekeh-kekeh seperti kelakukan Wiro, di saat mengalami kejenuhan pada buku-buku, yang dalam tanda kutip sering disebut ‘Berat.’

5. Bertemu Mark Twain kembali dalam novelnya, Petualangan Huckleberry Finn. Dan, novel ini pula yang membuka sudut pandangku tentang ras dan perbudakan, ketika aku mulai belajar berjalan pelahan-lahan menembus lorong rak-rak buku perpustakaan kota di kotaku, Malang.

6. Pada akhirnya, aku merasakan beruntung dilahirkan dari keluarga yang kental akan rasa Islami dalam pandangan serta gagasan Kyai Haji Ahmad Dahlan, yang kemudian membentuk organisasi Islam, Muhammadiyah. Dari Muhammadiyah-lah, aku seakan-akan dituntun oleh Sang Khalik untuk menyelami pemikiran-pemikiran salah satu tokohnya, ulama yang bersastra, Buya Hamka. Perjodohan tak mampu ditampik, dan aku bertemu dengan Hamka Berkisah tentang Nabi Muhammad SAW karyayang diceritakan ulang oleh M. Saribi Afn. Beliau menulis dalam kata pengantarnya: ‘Seperti halnya jilid sebelumnya, maka Kisah Nabi Muhammad SAW ini dikisahkan Buya Hamka (meninggal 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun) kepada saya di sela-sela kesibukan beliau // Di dalamnya diceritakan mengenai keluhuran budi Rasulullah, kebesarannya, kewibawaannya, kejujurannya, kesediannya berkorban untuk agama, cita-cita, orang-orang yang lemah dan teguh memegang janji. // Orang-orang yang lemah dan papa yang waktu itu tidak memperoleh tempat yang wajar. Kaum wanita yang lemah dan direndahkan derajatnya, oleh Rasulullah diangkat ke tingkat sewajarnya. Bahkan dihormati di dalam islam. // Ajarannya yang utama ialah agar kita mencari ilmu. Membaca dan belajar menambah ilmu merupakan halaman utama di dalam ajarannya. Sebab banyak membaca orang memperoleh banyak pengetahuan. // Mencari ilmu disamakannya dengan ibadat.

7. Mohammad Hatta, memberikan pengaruh besar bagiku untuk saat ini, bahkan bisa dibilang aku menjadi epigonnya. Aku mengagumi cara pandang Hatta dalam hidup, agama, politik, hukum, filsafat, ekonomi, dan lain sebagainya. Dan dalam Membela Mahasiswa Indonesia Didepan Pengadilan Belanda karya Mr. J.E.W Duijs, Hatta menulis seperti yang tertera dalam Otobiografinya:

Dalam Indonesia Merdeka tahun 1924, halaman 1, ditulis demikian: Cepat atau lambat setiap bangsa yang ditindas pasti memperoleh kemerdekaannya kembali; itulah hukum sejarah yang tak dapat dimungkiri. Hanya soal proses dan cara bagaimana mereka memperoleh kembali kemerdekaan itu yang tergantung pada mereka yang pada saat itu memegang kekuasaan. Malah merekalah sebenarnya menjadi faktor yang menentukan, apakah perjuangan kemerdekaan itu harus berlangsung dengan tangis dan darah atau dilaksanakan secara tertib dalam keadaan damai.”

Serta mengutip Rene de Clerq:

Tuan-tuan hakim yang terhormat. Jikalau saya sekarang menyatakan siap menanti keputusan tuan-tuan, kata-kata Rene de Clerq yang telah menjadikan ‘Indonesia Muda’ sebagai latar belakang ucapannya, terletak pada bibir saya: Hanya satu tanah yang dapat menjadi tanah airku, dia tumbuh sesuai upaya dan upaya itulah dayaku.”

8. Seusai menyelami sastra Rusia dari era Pushkin, Gogol, bahkan Tolstoy; pada akhirnya, Dostoevsky adalah salah satu pengarang Rusia yang mampu menyuruhku untuk menempatkannyadisamping Tolstoyyang menjadi acuanku saat aku belajar kembali memunguti kolase-kolase hidup yang retak, melalui tokoh Raskolnikov dalam novelnya, Hukuman dan Kejahatan. Dan, setelah sekian lama aku mencari buku ini, Dostoevsky: Menggugat Manusia Modern karya Henry S. Sabari, di Pasar Kangen Yogyakarta, aku dipertemukan, seperti halnya pertemuan kasih Raskolnikov dan Sonia, yang dijabarkan menurut cara pandang Henry S. Sabari pada Dostoevsky dalam buku ini, bahwa, Cinta Kasih merupakan jawaban Dostoevsky untuk masalah manusia. // Kenyataan hidup yang pahit dan dipenuhi ketidakadilan tidak harus diselesaikan dengan memanipulasi orang-orang yang dianggap sebagai ‘manusia bawah’, melainkan dengan cinta kasih. // Ia mengatakan bahwa dengan cinta kasih ‘manusia akan menjadi suci dan [lebih] saling mencintai satu sama lain, tidak akan ada yang menjadi kaya atau miskin, tidak ada yang kuat atau lemah, semua akan menjadi anak-anak Allah.

9. Katrin Bandel adalah salah satu kritikus sastra yang kuhormati sejak aku belajar darinya tentang suatu essai melalui essainya, Sang Mualaf: Biografi Maryam Jameelah karya Deborah Baker. Yang mana essai tersebut juga terangkum dalam buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas.

10. Topaz, Sang Guru, yang disadur oleh Parakitri ini, adalah saduran dari drama milik Marcel Pagnol yang berjudul ‘Topaze.’ Pengarang, dramawan, dan sutradara film kelahiran Aubagne, Prancis ini, banyak menetaskan karya dalam form Satire yang seringkali menyindir para politisi dan pejabat yang korup. Dan, anggota Academie Francaise ini menciptakan karya Topaze di tahun 1928.

11. Adakalanya, aku berpikir bahwa terjebak dalam romantika penulis pra-soviet dari Pushkin hingga Gogol seperti berhadapan dengan sebuah jalan yang buntu. Pengembangan refrensi akan serba-serbi Rusia dan sastra menjadi stagnan. Dan, aku beruntung bisa menemukan Soviet Literature Monthly yang dieditori dalam versi English oleh Nina Matyveyeva. Serta, aku mulai memasukkan banyak list persona-persona, dari puisi Alexei Surkov hingga Yaroslav Smelyakov; dari essai seni Semyon Chertok sampai Dmitri Shostakovich; dan dari kritik sastranya Alexander Krivitsky hingga Alexander Makarov.

*

Dan, sungguh pun ketaksabaran untuk menikmati berbagai macam bentuk karya ini semakin menguat. Semoga ada celah-celah yang mampu untuk dimanfaat kan ditengah hantaman aktivitas-aktivitas yang tak pernah mengijinkan untuk menikmati hidup dalam suatu keterbatasan melalui proses perjuangan yang panjang.

 Jan kesel tenan iki! :p

Puisi Air Mata.*

0

Air mata. Siapakah engkau sebenarnya? Mengapa kau muncul di kala yang tak terkira. Air mata. Mengapa kau harus ada? Makna simbolik apa yang kau kandung dan kau tawarkan.

Air mata. Di manakah kau berada? Benarkah kau di antara pertemuan setiap toast denting gelas dua kawan yang lama tak pernah berjumpa; Ataukah, kau justeru berada di setiap kecupan bibir yang intim dari sepasang pengantin seusai melangsungkan janji suci; Ataukah kau menjalar di antara batas kerinduan antara seorang anak yang menjejakkan kaki di bumi seraya menengadahkan kepala ke langit dengan mengucap cinta pada Ibu/Ayah yang menyaksikannya di alam yang lain.

Air mata. Di manakah kau menjelmakan diri? Mungkinkah kau ada di antara haru selebrasi serta euforia setiap partisan partai yang merayakan kemenangan seusai pemilihan kandidat pemimpin negara di suatu ruang yang berkilauan; Ataukah kau justru ada dalam satu historis tentang para sahabat Nabi yang enggan menerima jabatan Khalifah sepeninggal Rasulullah dan menangis, sebab jabatan adalah perihal tanggung jawab, pengorbanan, dan beban berat yang, diberikan Tuhan untuk melakukan perubahan tentang nasib, tentang kesejahteraan, tentang impian, kepada mereka yang disebut ‘Rakyat, atau Ummat.’

Air mata. Di manakah kau bersembunyi? Adakah kau dibalik diksi Iwan Fals: Menjeritlah / Menjeritlah selagi bisa / Menangislah / Jika itu dianggap penyelesaian; Ataukah kau terbungkus dalam petikan metafor Simone de Beauvoir: Dans toutes les larmes s’attarde un espoir [Dalam seluruh air mata masih meninggalkan harapan]

Air mata. Di manakah kau menyapa diri? Adakah di sebuah ruang persalinan tatkala seorang suami dengan asa serta doa serta kecemasan ketika sang istri berjuang dalam proses kelahiran sang buah hati yang mereka nanti selama bertahun-tahun; Ataukah kau ada dibalik sesenggukkan seorang gadis kecil yang memandang dengan tatapan sendu pada makam hewan kesayangannya dan berkata, ‘Tidurlah, Chiko, tidurlah.’

Air mata. Siapakah kau sebenarnya? Air mata. Mengapa kau harus ada?

[*] Diilhami dari musik instrumental ‘Last Dream’ milik Endless Melancholy dari album ‘Dream.’

Institut Francais Indonesia Surabaya, Surabaya, 29 Juni 2016.

Si Kakek dan Cucu Kecilnya – Leo Tolstoy*

Seorang kakek telah menjadi sangat tua. Kedua kakinya tak bisa membawanya, kedua matanya tak bisa melihat, kedua telinganya tak bisa mendengar, dan ia tak memiliki gigi. Saat ia makan, adakalanya sedikit makanan itu keluar dari mulutnya. Anaknya dan menantunya hampir tak mengijinkannya untuk makan bersama mereka di meja. Si Kakek harus memakan makanannya di ruang dekat tungku.

Suatu hari, mereka memberikannya makanan di sebuah mangkuk. Si kakek mencoba menggerakkan mangkuk lebih dekat, dan mangkuk itu jatuh ke lantai dan pecah. Menantunya mengomelinya. Dia berkata kepadanya bahwa si kakek merusak segalanya di rumah dan menghancurkan piring-piring mereka, dan dia mengatakan bahwa mulai sekarang, si kakek akan mendapatkan makanannya dalam piring berbahan kayu. Kakek tua mendesah dan tak mengatakan apa-apa.

Beberapa hari kemudian, putera kakek tua itu dan istrinya sedang duduk di pondok mereka, beristirahat dan melihat anak lelaki kecil mereka bermain di atas lantai. Mereka melihatnya meletakkan sesuatu secara bersamaan dari potongan-potongan kayu kecil. Ayahnya bertanya kepada anak lelakinya, “Apa yang kau buat, Mishka?”

Si Anak lelaki kecil itu berkata, “Aku membuat timba berbahan kayu. Ketika Ayah dan Ibu menjadi tua nanti, aku akan memberi makan kalian dalam piring-piring berbahan kayu ini.”

Petani muda dan istrinya saling memandang satu dengan yang lain dan air mata memenuhi kedua mata mereka. Mereka menjadi malu, oleh karena itu, lalu mereka memperlakukan si kakek dengan begitu sungguh-sungguh, dan sejak hari itu, mereka membiarkan kembali si kakek makan bersama mereka di meja dan mengurusnya dengan lebih baik.

Braga, Bandung, 27 Juni 2016.

[*] Cerita pendek dialih-bahasakan dari cerita tradisional eropa bertajuk ‘The Old Grandfather and His Little Grandson‘ yang di ceritakan ulang oleh Leo Tolstoy.

Rendez-Vous avec Daoed Joesoef

guru

Jatuh dan tersungkur di tanah aku / Berselimut debu sekujur tubuhku / Panas dan menyengat / Rebah dan berkarat // Yang patah tumbuh, yang hilang berganti // Yang hancur lebur akan terobati / Yang sia-sia akan jadi makna / Yang terus berulang suatu saat henti / Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi // Yang patah tumbuh, yang hilang berganti /…/ – Yang patah tumbuh, Yang hilang berganti, Banda Neira.

Beberapa jam yang lalu, aku memutar kembali lagu ‘Yang patah tumbuh, Yang hilang berganti’ milik Banda Neira. Aku mencoba menggali berbagai sudut pandang perihal penafsiran lirik tersebut ditengah-tengah nuansa Hari Kemenangan (baca: Idul Fitri). Aku terlampau menyesapi aransemen musik serta diksi-diksi yang ditawarkan dalam lagu itu, sehingga memunculkan perasaan yang melankoli, namun juga reflektif. Berulang-ulang aku memutarnya, sembari memandangi buku-buku yang masih tersisa di rak-rak buku. Satu-satu judul buku di punggung buku kubaca dengan seksama. Hingga aku menancapkan pandangan pada sebuah judul ‘Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,’ yang dicetak pada tahun 1983 dan 1984. ‘Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,’ adalah antalogi cerita pendek, puisi, serta essai yang, diterbitkan oleh Himpunan Pengarang Indonesia AKSARA, dan di dalamnya banyak ditemui nama-nama dari penulis lama seperti Mursal Esten, Daoed Joesoef, Gerson Poyk, Hamsad Rangkuti, Leon Agusta, Rachmat Ali, Titie Said, Titiek W.S, dan lain-lain.

Namun, diksi-diksi dari lirik Banda Neira, membawaku pada satu cerita pendek dalam antalogi tersebut yang ditulis oleh Daoed Joesoef, yang bertajuk Patung Guru—cerita pendek ini diilhami dari karya Oscar Wilde, ‘The Happy Prince’ dalam The Happy Prince and Other Tales (1888). Mungkin, saat ini, adalah pembacaan-ulangku atas cerita pendek tersebut untuk yang ketiga kalinya. Sayang ada satu-dua kalimat dari empat paragraf cerita yang tintanya mulai memudar karena kertas telah cukup usang, sehingga ada beberapa kata yang kuhilangkan, namun tak mengurangi esensi dari kalimat tersebut. Menarik garis besar dari cerita pendek tersebut, adalah bagaimana suatu kisah yang mempertemukan dua objek, seekor burung gelatik dan patung emas seorang guru, ditengah-tengah situasi perubahan akan pekembangan suatu peradaban dan suatu masa. Pertemuan antara burung gelatik dan patung emas guru itu pula, secara subjektif, dapat digambarkan dalam lirik ini:

Yang hancur lebur akan terobati / Yang sia-sia akan jadi makna / Yang terus berulang suatu saat henti / Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi // Yang patah tumbuh, yang hilang berganti /…/

Dan, ijinkanlah aku mengetik-ulang untukmu, sebagai tanda kasihku kepadamu, yang mana suatu saat nanti, mungkin saja, teks ini akan berguna untukmu:

**

Patung Guru – Daoed Joesoef

Di pusat kota terdapat sebuah alun-alun. Di sudut pinggir alun-alun, agak tinggi menjulang ke atas, berdiri dengan megahnya sebuah patung. Warga kota menamakannya Patung Guru. Namun tidak setiap siswa masa kini mengetahui atau merasa perlu untuk mengetahui patung ini penampilan guru siapa dan mengapa dia sampai dipatungkan. Baik dalam buku sejarah nasional maupun sejarah daerah memang keberadaan patung ini tidak pernah disinggung-singgung walaupun hanya sekalimat.

Seperti lazimnya pada setiap patung, pada pondasi tempat ia berdiri sebenarnya terdapat sebuah prasasti yang menyebut nama orang yang dipatungkan itu serta sedikit uraian jasa-jasanya sebagai pendidik. Dari tulisan di prasasti itu dapat diketahui bahwa patung ini didirikan oleh para kakek dan nenek dari generasi siswa yang kini masih berada di bangku sekolah. Di antara pemrakarsa pendirian patung tersebut dengan sendirinya kini sudah tiada lagi. Tidak terlalu mengherankan kalau banyak siswa masa kini yang tidak mengetahui asal-usul patung. Tambahan lagi sebagaian besar, kalaupun tidak terbesar, dari mereka ini merupakan anak-anak pendatang dari daerah lain.

Pada waktu patung didirikan dua generasi yang lalu, kota ini tidaklah seramai seperti sekarang. Tanggal didirikannya sama dengan tanggal peresmian penggunaan alun-alun, jadi usia patung ini sama dengan usia alun-alun di mana ia berdiri. Baik patung maupun alun-alun tadinya memang tidak ada di kota ini. Keduanya khusus dibuat sebagai tanda syukur dan kebanggaan warga kota berhubung tempat pemukiman mereka ini dinaikkan status formalnya menjadi Ibu Kota Kabupaten. Semenjak itu kota ini cepat sekali perkembangannya, menarik penduduk dari kota-kota dan daerah lain. Dewasa ini keramaian dan kepadatan penduduknya sudah menyamai keramaian dan kepadatan Ibu Kota Propinsi. Hal ini karena kesempatan untuk hidup dan mencari nafkah sangat luas di daerah sekitarnya. Hutannya masih lebat, buminya kaya dengan bahan-bahan galian. Beberapa industri barang siap-pakai dan setengah jadi serta perusahaan jasa telah berdiri, demikian pula pertambangan, di antaranya tambang emas.

Jauh sebelum kemerdekaan nasional, kekayaan potensial daerah ini sudah diungkapkan oleh orang yang kini dipatungkan itu. Pada waktu itu dia menjadi guru sekolah dasar di pemukiman ini yang ketika itu status formalnya masih kampung, sebuah kampung di antara kampung-kampung kecil lainnya yang bertebaran di daerah ini. Tidak di setiap kampung terdapat sekolah dasar, bukan hanya karena penduduknya jarang tetapi juga berhubung mereka ini pada umumnya merasa sekolah bukanlah sebagai suatu kebutuhan penting. Kebanyakan dari mereka dapat hidup, bertanah luas, berumah tangga dan merasa bahagia tanpa mengalami pendidikan sekolah.

Bila kesempatan memungkinkan guru yang satu ini menjalani setiap kampung dan di situ menjelaskan kepada semua orang betapa pentingnya sekolah sebagai tempat menggali ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan pada gilirannya diperlukan untuk menggali kekayaan yang terpendam di perut bumi. Pada waktu itu secara samar-samar dibayangkannya usaha memerdekakan bangsa walaupun kalau ditanya dia sendiri juga tidak begitu mengetahui bagaimana bentuk negara merdeka itu kelak. Berkat keuletannya itu dia berhasil mendirikan sebuah sekolah guru swasta dan para lulusan sekolah inilah yang kemudian mendirikan sekolah dasarnya sendiri di kampungnya masing-masing.

Pada waktu kemerdekaan nasional terwujud, atas prakarsanya pemerintah daerah mendirikan sekolah menengah pertama dan dialah yang ditunjuk menjadi direktur. Menyadari dia sendiri secara formal tidak pernah mengalami pendidikan yang sesuai untuk jabatan direktur itu, dia terus belajar sendiri. Sementara itu murid-murid yang dihasilkannya melalui sekolah dasar kolonial dahulu, yaitu para kakek dan nenek siswa yang sekarang ini, kini praktis semuanya memegang kendali pemerintahan dan kepolitikan di daerah ini. Anak-anak mereka, yaitu para bapak dan ibu siswa yang sekarang ini, dikirim ke daerah-daerah yang lebih maju untuk mendapatkan pendidikan lanjutan, bahkan di antaranya ada yang dikirim ke luar negeri.

Ketika daerah ini dikembangkan statusnya menjadi propinsi, seluruh pemimpin masyarakat sepakat untuk mencalonkan guru yang satu ini menjadi gubernur. Dengan lembut tetapi pasti dia menolak. Sebagai gantinya dia mengharapkan dukungan masyarakat untuk mendirikan sebuah sekolah menegah kejuruan teknik yang pertama di pemukiman ini. Usul ini disambut baik dan dia ditetapkan dengan suara bulat sebagai direkturnya.

Demikianlah guru yang satu ini bekerja keras dan belajar keras untuk memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Akhirnya hukum alam tidak dapat dielakkan. Pada usia yang agak lanjut dia meninggal dengan tenang memenuhi panggilan Tuhan yang menciptakannya. Tidak hanya di pemukiman di mana dia hidup dan mendidik, tetapi juga di seluruh wilayah propinsi, penduduk berkabung. Hampir setiap putera daerah yang kini menduduki jabatan kepemimpinan, baik di pemerintahan maupun di swasta, banyak sedikitnya melalui satu atau lain jalan, pernah mendapat asuhan kependidikannya.

Maka ketika ada keputusan bahwa pemukiman ini ditingkatkan statusnya menjadi Ibu Kota Kabupaten, semua bekas muridnya yang pada waktu itu berkedudukan memimpin bersepakat untuk membuatkan patungnya. Patung terbuat dari tembaga dan diberikan lapisan emas sehingga cemerlang. Emasnya berasal dari tambang yang dipimpin oleh teknisi lulusan sekolah menengah kejuruan teknik yang pendiriannya dahulu diprakarsai oleh guru yang satu ini.

Pada waktu itu Patung Guru ini benar-benar menjadi kebanggaan Kota dan penduduknya. Pada waktu peresmian patung yang sekaligus juga berupa peresmian alun-alun, seluruh penduduk datang berduyun-duyun dengan pakaian lebaran. Semua siswa dengan pakaian seragam yang rapi tegak berdiri di sekitar patung dan menyanyikan dengan khidmat lagu Himne Guru.

Setiap Hari Pendidikan Nasional para siswa berbaris menuju ke Patung Guru, meletakkan karangan bunga dan kemudian menyanyikan lagu Himne Guru di bayangannya. Pada mulanya, tidak hanya guru dan murid, tetapi juga semua pembesar dan penduduk turut serta menghadiri upacara penghormatan yang khidmat itu.

Satu per satu anggota generasi yang langsung menerima pendidikan dari guru yang satu ini mengundurkan diri dari kepemimpinan dan berangsur-angsur meninggal dunia. Bersamaan dengan kejadian yang alamiah ini, secara berangsur-angsur pula, lambat tetapi pasti, para peserta upacara Hari Pendidikan Nasional di sekitar Patung Guru menjadi semakin berkurang. Jumlah sekolah yang turut serta pun semakin sedikit sedangkan jumlah keseluruhan sekolah di kota ini semakin hari sebenarnya semakin meningkat.

Setelah selama tiga generasi patung ini berdiri orang tidak memperdulikannya lagi. Anehnya, tidak seorang pun yang mempersoalkan ketidakperdulian itu. Patung yang dahulu menjadi kebanggaan kota kini dianggap biasa-biasa saja. Bahkan sudah ada suara-suara yang ingin menurunkan patung itu dan menggantikannya dengan sebuah patung ‘Modern’ yang dianggap lebih sesuai dengan abad XXI. Dari disain tersebut orang tidak mudah mengatakan bagaimana bentuk yang pasti dari patung pengganti yang diusulkan ini, tetapi yang pasti bahannya adalah berbagai benda logam bekas pakai seperti potongan satu konstruksi. Usul ini belum diterima tetapi pada waktu Hari Pendidikan Nasional baru-baru ini para siswa sudah tidak berkumpul lagi di kaki Patung Guru untuk menyanyikan Himne Guru. Orang sudah tidak memperdulikannya lagi.

Pada suatu hari yang panas terik seekor Gelatik berteduh di bayangan patung. Kelihatannya lelah setelah terbang jauh.

Uh, alangkah panasnya!” keluhnya sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Di tengah alun-alun sungguh sepi ketika itu. Tidak ada orang jajan memintas, tidak ada anak main-main berkejaran. Manusia kelihatan mengelompok santai di sepanjang tepi lapangan, mengelilingi penjual jajan-pasar, di bawah naungan pohon-pohon beringin.

Tiba-tiba Gelatik merasa kepalanya kejatuhan setitik air. Tak lama kemudian titik pertama ini disusul oleh titik kedua…titik ketiga…titik keempat…

Sungguh aneh,” kata burung itu, “hari sepanas ini, langit tak berawan, kok mulai hujan!”

Karena kepala dan badannya terus-menerus dibasahi oleh titikan air, sambil melompat ke kiri, Gelatik menengadah ke atas. Keheranannya menjadi bertambah besar serentak melihat bahwa titik air bukannya jatuh dari langit tetapi dari mata Patung Guru.

Melihat hal ini Gelatik terbang dan hinggap di bahu patung.

Kau menangis, patung?” bisiknya penuh iba.

Ya, seperti kau lihat. Aku menangis…!”

?”

Sudah beberapa hari ini, tetapi tidak terus-menerus…”

Mengapa kau menangis?” tanya Gelatik. “Apakah karena murid-murid sekolah sudah tidak datang lagi menyanyikan Himne Guru di hadapanmu?”

Bukan, bukan karena itu. Bukan sekali-kali karena itu!”

Lalu…Karena apa?” tanya Gelatik ingin tahu.

Karena tekanan batin!”

Ah, kau mengada-ada,” potong Gelatik. “Selama ini kukira kau yang paling berbahagia di kota ini. Setiap orang menengadah melihat rupamu. Pada waktu-waktu tertentu orang meletakkan karangan bunga di kakimu. Anak-anak datang menyanyikan lagu pujian mereka kepadamu…Memang…harus diakui…Akhir-akhir ini hal tersebut tidak lagi mereka lakukan…!”

Sudah kukatakan tadi,” bantah patung, “tangisku bukan karena kejadian yang kau sebut terakhir itu. Aku tidak sepicik itu!”

Habis apa pula yang menekan batinmu?”

Kekurangan, keterbatasan, kepicikan, kedangkalan, keputusasaan…kesedihan dan kebingungan yang semakin banyak, di sela-sela keramaian dan kesejahteraan yang semakin meningkat.”

Ah, aku tidak ada melihat itu…Kalau pun ada, aku tidak perduli!”

Aku perduli! Kau tidak melihatnya, tetapi aku melihatnya. Dari ketinggian kedudukanku ini hal-hal yang menyedihkan itu kuketahui semakin banyak, semakin bertumpuk dari hari ke hari. Mataku tak dapat kupejamkan untuk tidak melihatnya. Hati nuraniku tidak dapat membantahnya. Batinku tidak dapat mengatakan bahwa semua itu tidak ada…Kau tahu…Semua itu menekan…Semakin hari semakin menekan…Akhirnya aku menangis. Ketahuilah, selama ini aku tidak pernah menangis!”

Lalu apa? Semua yang kau sedihkan itu kan tidak dapat dilenyapkan hanya dengan mengeluarkan air mata? Kau menyusahkan dirimu sendiri!”

Sebenarnya yang membuatku sedih bukanlah karena melihat hal-hal yang menyedihkan itu. Aku sebenarnya mempunyai sesuatu yang dapat membantu mereka mengatasi kekurangan dan keterbatasan yang dialaminya.”

Jadi…?!”

Inilah yang menekan batin: Aku bersedia dan mampu membantu tetapi tidak mungkin melakukannya. Kau lihat sendiri…Aku terpaku!”

Burung terdiam. Patung terdiam. Lama keduanya termangu-mangu. Masing-masing melihat ke jauhan—menatap di kejauhan. Dalam hatinya Gelatik menyesal telah berhenti terbang di kaki patung. Andaikata ia tadi tidak beristirahat di situ, tetapi memilih salah satu dahan beringin sebagai tempat bertengger, tentunya…

Wahai Gelatik,” kata patung memecahkan kesunyian, “kau sebenarnya dapat membantuku.”

Aduh, maaf,” jawab Gelatik, “lain kali sajalah! Perjalananku masih jauh. Untuk menempuh jarak itu aku memerlukan waktu dan kekuatan yang tidak sedikit. Aku tadinya berhenti di kakimu hanya untuk istirahat sejenak!”

Kau akan ke mana?”

Aku menuju persawahan di Selatan. Di sana padi sedang menguning. Sudah lama aku terbang dari Utara. Teman-temanku sudah berpergian semua. Tinggal aku sendiri. Aku harus bergegas. Sebentar lagi padi akan habis dituai.”

Aku mengerti. Tapi tundalah sebentar perjalananmu itu. Bantulah aku. Aku betul-betul tidak berdaya…sedangkan aku mempunyai sesuatu untuk membantu orang-orang yang menderita itu.”

Burung Gelatik tidak segera menjawab. Di matanya telah membayang padi yang menguning…teman-temannya mencicit berpesta-pora melalap padi yang telah masak…betina muda calon jodohnya. Akhirnya…

Baiklah, katakanlah, bantuan apa yang kau harapkan dariku!”

Terima kasih wahai Gelatik. Kau lihat emas yang melapisi tubuhku ini?”

Ya, lantas mesti kuapakan?”

Kau kupas dengan paruhmu sedikit, kemudian kau antarkan kepada orang-orang yang memerlukannya…nun jauh di sana…bertebaran di berbagai tempat!”

Bah, gila kau! Paruhku tidak sekuat paruh burung Pelatuk. Lagi pula aku memerlukan sendiri kekuatanku untuk terbang lama. Kau kan tahu, perjalananku masih jauh…Jauh sekali!”

Kekuatan yang kita pakai untuk melayani kepentingan orang lain akan segera pulih kembali. Percayalah! Lebih-lebih kalau kau gembira dan ikhlas dalam melakukan itu.”

Baiklah, akan kucoba melakukan apa yang kau kehendaki…Demi persahabatan kita.”

Kau ikhlas melakukannya, kan?”

Sudahlah, jangan dipersoalkan dahulu keikhlasan itu. Sekarang katakan kepada siapa-siapa saja harus kuserahkan emas yang nanti berhasil kusobek dari tubuhmu itu?!”

Kau mulai dari orang yang sekarang sedang duduk termenung di depan jendela rumah kecil di lorong becek itu…!”

Ada apa dengan dia rupanya?”

Dia seorang gadis yang dipindahkan dari daerah lain ke kampung terpencil di tepi sungai daerah kita ini untuk mengajar di sebuah sekolah dasar kecil. Kemarin dia menerima telegram, ibunya sakit keras…sudah tua…kemungkinan sekali akan meninggal. Dia bergegas datang ke kantor dinas di kota ini untuk meminjam uang pembeli tiket kapal terbang. Kepala dinas enggan memberikannya karena khawatir gadis ini tidak akan kembali lagi. Aku yakin dia akan kembali ke sekolahnya karena dia cinta pada pekerjaannya, cinta pada anak didiknya. Karena ditolak itu, dia lalu singgah di rumah teman yang sedaerah dengan dia, sama-sama guru sekolah dasar. Temannya itu juga tidak mempunyai apa-apa untuk membantu. Gadis itu sekarang sedih sekali. Dia mencintai ibunya dan dia juga mencintai murid-muridnya. Nah, kepadanyalah sobekan emas kulitku kau berikan. Sore ini masih ada pesawat terakhir ke daerah asalnya.”

Lalu kepada siapa lagi?”

Di lorong lainnya, kau lihat itu, ada seorang wanita yang sedih meratap karena suaminya harus dioperasi. Aku yakin operasi akan berhasil…anaknya empat masih kecil-kecil…tetapi dia tidak mempunyai uang untuk biaya operasi…”

Siapa lagi,” potong Gelatik dengan cepat. Mulai jemu ia mendengar cerita-cerita sedih seperti ini. Mengapa ia pula harus perduli pada nasib makhluk manusia yang selama ini tidak terlalu manis terhadap kaumnya.

Kau lihat itu!” sambung patung, “seorang anak berbakat musik dengan bersusah payah telah menabung uang untuk membeli biola. Uang sudah terkumpul, biola sudah tersedia untuk dibeli, tiba-tiba uang itu diperlukan untuk mendirikan rumah orang tuanya di kampung yang turut terbakar. Dia sedih sekali dan sedang perang batin antara membeli biola atau mengirim uang itu…”

Siapa lagi sesudah ini?”

Seorang anak dari keluarga miskin yang tekun belajar menghadapi ujian guna memenangkan beasiswa. Orang tuanya di kampung, dia di sini hanya menumpang tidur pada pamannya kuli pabrik. Dia sudah mengurangi makannya karena tidak punya uang, tetapi juga memerlukan buku. Aku yakin dia pasti lulus kalau saja buku itu dibacanya…”

Beginilah, patung! Ingatanku tidak cukup kuat untuk mengingat semua orang yang harus menerima bantuanmu. Kau ulangi nanti satu per satu begitu aku selesai mengupas kulit emas itu dari tubuhmu…”

Baiklah…mulailah!”

Dari mana aku mulai?”

Sebaiknya dari sebelah kaki…terus ke atas…!”

Brrr…berat juga nih!”

Demikianlah, burung Gelatik mulai bekerja menguliti patung, kemudian menerbangkannya ke orang yang harus menerimanya, terbang kembali ke patung, menyobek lapisan emas dengan paruhnya, menerbangkannya…kembali lagi…mondar-mandir…dengan hanya sedikit istirahat…selama beberapa hari…siang dan malam.

Akhirnya seluruh lapisan emas Patung Guru telah habis terkelupas kecuali yang melapisi bagian mata. Burung Gelatik pun sudah terengah-engah kepayahan, litak letai. Paruhnya agak menumpul dengan cacat di sana-sini, sayapnya lunglai tergantung ke bawah. Napasnya tersenggal-senggal…

Wahai patung, sahabatku…aku tak sanggup lagi…”

Teruskan, teruskanlah wahai Gelatik! Masih ada beberapa orang lagi yang memerlukan sekali kulit emasku ini. Mereka masih dapat di tolong asal saja lapisan emas mataku kau ambil juga.”

Itu benarlah yang tak bisa kulakukan! Mungkin aku masih mempunyai sisa kekuatan fisik untuk mengupas lapisan emas itu dari matamu dan kemudian menerbangkannya kepada orang yang memerlukan…sesuai dengan pentunjukmu. Tetapi pasti aku tidak mempunyai kekuatan batin untuk mematuk matamu itu…Pasti kau menjadi buta…Tidak, aku tak sanggup…tak sampai hati!”

Beranikanlah hatimu. Tekan perasaanmu! Aku ikhlaskan lapisan mataku ini. Lagipula buat apa aku dapat melihat semua kesusahan dan kesedihan orang lain kalau aku tidak mempunyai apa-apa lagi untuk membantunya?”

Mestikah seseorang memberikan semua dan segala yang dimilikinya demi kebajikan?” tanya Gelatik dengan kesal.

Mengapa tidak…kalau hal itu diberikan dengan penuh keikhlasan dan ada kepastian bahwa di tangan yang menerima ia menjadi lebih bermanfaat!”

Ah, aku tidak setuju…Pokoknya, tidak setuju…” debat Gelatik.

Sementara patung dan burung asyik berdebat, seorang anak yang sedang melintas di dekat situ menengadah ke arah patung. Alangkah terkejutnya anak ini melihat Patung Guru tidak lagi kuning berkilauan karena lapisan emasnya, tetapi sudah berwarna hitam kehijauan, tak sedap dipandang mata. Dia kemudian lari berteriak sepanjang jalan, “…Kulit emas Patung Guru sudah terkelupas…lapisan emas Patung Guru sudah terkikis habis…Patung Guru hitam pekat seperti hantu…!”

Semua orang mendengar teriakan itu. Teriakan ini diulang dari mulut ke mulut dan diteruskan dari rumah ke rumah. Radio kota turut pula menyiarkan berita itu. Seluruh kota menjadi gempar. Maka tidak seperti biasanya, seluruh penduduk petang ini membanjiri alun-alun untuk melihat Patung Guru. Idih, sungguh menjijikkan rupa Patung Guru sekarang. Mana lapisan emasnya? Kini hitam pekat, pedih mata melihatnya, mual perut karenanya.

Semua pembesar memerlukan pula datang melihat, termasuk Bapak Walikota, semua menggelengkan kepala, semua sepakat Patung Guru tidak dapat lagi dijadikan perhiasaan yang membanggakan kota. Kalau dibiarkan terus-menerus berdiri di situ bahkan ia pasti akan mengotori keasrian wajah kota. Maka tampillah seorang pria ganteng di muka Bapak Walikota sambil berkata dengan nada keras agar terdengar oleh seluruh hadirin.

Bagaimana, Pak Wali, kalau kita ganti saja patung ini dengan patung modern seperti yang saya usulkan tempo hari?”

Ya, aku ingat usul itu. Aku kini setuju!” jawab Bapak Walikota tanpa menunggu kalimat pria ganteng berakhir.

Robohkan Patung Guru ini!” perintahnya tegas.

Kapan Pak Wali?” Tanya orang banyak serempak.

Besok saja! Sekarang hari sudah larut senja. Pulanglah ke rumah masing-masing!”

Semua yang hadir bersorak. Mereka puas karena merasa turut mengambil keputusan yang begitu penting. Tidak ada seorang pun yang tidak setuju Patung Guru dirobohkan untuk selanjutnya diganti dengan Patung Modern. Kemudian satu per satu mereka mengosongkan alun-alun.

Tinggallah Patung Guru sepi sendiri diliputi hari yang semakin kelam. Semua kejadian yang serba cepat itu disaksikan oleh Gelatik dengan berbagai rasa: heran, geram, sedih, gulana…

Gila…Edan…!” gerutunya. “Justeru sekarang ini seharusnya mereka bangga kepadamu…memujamu…lebih dari kakek-nenek mereka yang dahulu memujimu…Tak tahu diri! Ini semua akibat kesalahanku…mengapa aku menuruti saja kehendakmu menguliti lapisan emasmu. Seharusnya kutolak itu dahulu…!”

Sudahlah Gelatik, kau tidak bersalah. Mereka itu tidak mengetahui arti yang sebenarnya dari apa-apa yang kau kerjakan.”

Mereka tidak perlu tahu apa-apa yang telah kukerjakan. Tetapi mereka seharusnya menyadari apa-apa yang telah kau lakukan dengan mengikhlaskan lapisan emasmu…Dasar pemuja emas, pemuja kulit luar…!”

Hentikan omelanmu itu Gelatik! Sekarang teruskan pekerjaanmu!”

Supaya matamu menjadi buta?”

Ya! Bukankah kau sendiri sudah mendengarnya?! Besok aku akan mereka robohkan. Waktu yang tersedia hanya malam ini untuk menolong beberapa orang lagi. Ayolah, cepat, kita berlomba dengan waktu. Kerahkan kekuatanmu untuk kali yang terakhir. Dan aku akan sangat berterima kasih.”

Gelatik pun melakukan kerjanya, tetapi kali ini benar-benar dengan mendua hati. Mengambil emas yang melapisi mata patung dan mondar-mandir terbang di malam yang dingin. Menjelang fajar seluruh lapisan emas di mata Patung Guru sudah terkelupas habis. Bersamaan dengan itu turut pula terkuras habis seluruh kekuatan lahir dan batin burung Gelatik.

Sekembalinya dari penerbangannya yang terakhir dengan terengah-engah, sayap terkulai, ia hinggap di bahu Patung Guru, dekat sekali dengan telinga.

Wahai patung, sahabatku…emasmu sudah habis…kerjaku telah selesai,” katanya lemah. “Kini selamat tinggal,” bisiknya.

Jangan, Gelatik…Jangan pergi dulu!”

Ada apa lagi…Aku benar-benar letih…sudah tiba di ujung kekuatanku…”

Sambil istirahat, dengarkan uraianku. Dekat sekali dari sini…lihat cahaya itu…ia datang dari kamar seorang gadis kecil. Dia biasa membaca, dengan uang sakunya mengumpulkan buku. Semua bukunya tersedia untuk dipinjam oleh teman-temannya. Sore tadi kulihat dia membeli lagi setumpuk buku. Pagi ini dia bangun lebih cepat dari biasa untuk mulai menyampul buku-buku baru itu guna memperkaya perpustakaannya. Aku sudah buta tetapi tadi masih sempat kulihat betapa cekatan tangannya menyampul buku-buku itu. Teman-temannya pasti senang dapat meminjam buku-buku baru. Gadis itu mempunyai ideal yang tinggi: membagi pengetahuan miliknya dengan orang lain…secara cuma-cuma.”

Ah, ya…lalu apa…semua kau perhatikan?!”

Tidak semua…yang penting dan menentukan saja untuk perkembangan peradaban manusia. Biasanya justeru hal-hal seperti ini yang kurang mendapat perhatian masyarakat.”

Ah, sudahlah…”

Dekat pondasi tempat aku berdiri ini ada ditanam serumpun melati. Kau petik sebuah kembang yang masih segar dan serahkanlah itu pada gadis cilik tersebut!”

Buat apa membuang-buang tenaga. Gadis itu tidak memerlukan kembang melati. Dia bukannya berkekurangan, tidak sengsara seperti semua orang yang kau berikan emasmu. Kalau dia tidak kuberikan melati, dia juga tidak akan sedih.”

Dia tidak akan sedih memang. Dia pun tidak pernah mengimpikan menerima kembang. Namun aku yakin melatimu pasti laksana siraman sejuk bagi pertumbuhan dan perkembangan idealnya yang baik itu. Tidak banyak anak di kota ini yang sekecil itu sudah berideal seperti dia. Hanya dia seorang…langka bukan? Di sinilah masalahnya: peradaban tumbuh tersendat-sendat justeru karena kelangkaan bibit yang mampu membuahkan peradaban itu.”

Baiklah, aku mengerti sudah. Akan kukerjakan, kali ini bukan atas desakanmu, keputusan ini kuambil, tetapi atas pertimbanganku sendiri. Aku menyadari kegunaan yang akan kukerjakan itu. Sesekali setiap makhluk harus mampu mengambil keputusannya sendiri dengan penuh kesadaran. Siapa tahu ini menjadi keputusan yang terbaik yang pernah kuambil dalam hidupku. Yang pasti memetik melati dan menyerahkannya merupakan pekerjaan yang ringan sekali ketimbang…”

Bagimu pasti ringan, tetapi bagi gadis yang menerimanya akan mempunyai arti yang sangat besar dengan bobot yang sangat menentukan…”

Lagipula melati itu tentunya harum. Mungkin harumnya kembang ini dapat menyegarkan tubuhku yang telah keletihan.”

Yakinlah Gelatik, walaupun melati itu nanti telah kau serahkan kepada si gadis cilik, harumnya akan tetap melekat pada paruhmu yang menyerahkannya.”

Beberapa menit kemudian Gelatik telah kembali. Paruhnya wangi tetapi tubuhnya betul-betul payah.

Wahai patung, sahabatku,” bisiknya dengan suara yang lemah, lemah sekali, selemah jasad, “kini betul-betul selamat tinggal!”

Karena patung tidak segera menjawab,

Selamat tinggal!” ulangnya lagi.

Kemudian ia melayang…

Selamat jalan Gelatik!” jawab Patung Guru. “selamat jalan dan terima kasih. Semoga kau segera bertemu dengan teman-temanmu…sawahmu dengan padi yang menguning…kebahagiaanmu. Jasamu akan kukenang selama-lamanya!”

Patung Guru mengira burung Gelatik melayang terbang ke angkasa, ke arah tujuannya semula. Ia tidak dapat lagi melihat betapa sahabatnya itu melayang…ke bawah dan jauh terdampar di tanah, persis di kaki patung, terjerembab tidak bernyawa. Gelatik mati kehabisan tenaga, habis disumbangkannya untuk membantu seorang sahabat mengatasi kesedihan yang menekan batin dan melalui itu membahagiakan orang-orang lain yang selama ini tidak dikenalnya.

Begitu matahari terbit di ufuk timur, serombongan pekerja datang beramai-ramai membongkar Patung Guru dari pondasinya. Ketika akan mulai dengan kerja pembongkaran itu, tiba-tiba seorang di antara mereka berteriak sambil menuding ke pondasi di kaki patung.

Lihat, awas, ada bangkai Gelatik!”

Iiih, alangkah jijiknya!” jawab temannya sambil meludah.

Sama jijiknya dengan warna yang sekarang dari patung ini,” reaksi teman lainnya lagi.

Mulailah mereka merobohkan Patung Guru. Hari itu juga patung dibawa ke pabrik peleburan logam. Setelah dilebur menjadi sebingkah tembaga, ia ditumpuk di gudang bersama-sama bingkahan logam-logam lainnya.

Berkata Malaikat Jibril,

Ya Tuhanku, telah tiba di sini seekor Gelatik bersama segumpal tembaga.”

Tuhan Yang Maha Esa menjawab:

Mereka memang kupanggil. Jangan biarkan mereka menunggu lama. Bawa mereka cepat kepadaku! Telah kusediakan untuk mereka tempat yang layak di sisiku.”

[1] Sebelum membaca cerita pendek ini, aku telah bertemu dengan Daoed Joesoef dalam memoarnya, ‘Emak,’ yang mana dalam prolog-nya di dua paragraf terakhir, lulusan Universite Pluridisciplinaire de Paris I Pantheon-Sorbonne itu menulis: “Perempuan tersebut adalah ibuku, yang menurut kebiasaan di daerah kelahiranku, biasa kusebut ‘Emak.’ Memang emaklah, emakku, yang pada awal hidupku selalu mendorong aku untuk belajar.”

[2] Cerpen Patung Guru ini juga kudedikasikan untuk seluruh guru baik, dalam ranah formal atau informal, yang mana disadari ataupun tidak, telah membentuk karakterku seperti sekarang ini.

Malang, 6 Juli 2016.