Menantu dan Mertua.

Setelah gedung kecil itu terisi penuh, lampu padam dan teater segera dimulai. Narator pun bicara dengan suara renyah:

[Blackout]

[Lighting menyala] Suatu pagi, di teras depan. Di antara satu meja kaca kecil dan empat kursi. Terdengar cicit burung. Seorang lelaki yang baru menikah sedang duduk tekun merancang kerangka pikirnya untuk membuat satu esai tentang salah satu persona dari sekian banyak persona di era Islam Golden Age. Setelah meneliti Ibnu Khaldun, yang terkenal di Prancis; Ibnu Rusyd, yang terkenal di Spanyol; sekarang si menantu menjejakkan alam pikirnya ke Asia, tepatnya India melalui Al-Biruni, sejarawan, astronom, matematikawan, lan sak piturute! Perlahan-lahan derap kaki terdengar, dan terdengarlah suara dehaman:

Mertua: Ehm, ehm.

Menantu: [menoleh ke asal suara] Eh, Om.

Mertua: Kok, Om, sih. Papa dong, kan kamu barusan nikah dengan Mona.

Menantu: [Tertawa dan meminta maaf].

Mertua: [Berjalan menuju kursi dan duduk] Sebenarnya, kerja kamu ini apa sih?

Menantu: Peneliti, Pa.

Mertua: Peneliti? Ada-ada saja pekerjaan sekarang ini. Dunia semakin berkembang, semakin aneh saja. Yang papa takutkan, kalau anak-anak muda sekarang udah ndak tertarik lagi dengan dunia PNS. Lihat itu istrimu, malah kerjanya food bloging dan penulis resep masakan. Duh, Gusti…

Menantu: [Tersenyum dan membenarkan posisinya yang salah tingkah]

Menantu: Gini pa. Ketika saya suka Mona, ndak mungkin saya langsung bilang suka, saya harus membuat Mona tertarik dengan saya. Nah, saya meneliti apa yang disukai Mona, yaitu makanan. Nah, saya pun meneliti tentang makanan, ternyata cakupannya luas juga, Pa. Dari yang berkuah dan ndak, dari yang pedas dan ndak, dari bagaimana cara penyajian. Berkat meneliti kegemaran Monalah, maka saya bisa jadi menantu, Papa.

Mertua: [Tertawa dan geleng-geleng kepala] Bisa aja kamu ini.

[Mona datang membawakan dua kopi dan pisang goreng buat suaminya dan papanya, menyaksikan dua lelaki yang membahagiakannya itu, dan memotretnya untuk diunggah di salah satu akun media sosialnya]

Mertua: [Minum kopi dan menyantap pisang goreng] Nah, sekarang apa yang kamu teliti?

Menantu: Tentang pemikir Islam di era keemasan Islam, Pa, salah satunya Al-Biruni.

Mertua: [Menekuk Wajah] Al-Biruni? Pemikir Islam? Era keemasan Islam? Papa itu sering ikut pengajian, tapi kok ndak pernah dengar tentang nama beliau, ya?

Menantu: Al-Biruni ini sama seperti pemikir Islam lainnya, Pa. Belajar banyak hal pada hal-hal yang tak banyak dipelajari. Astronomi tentang eklips bulan dan bahkan nyambung ke musik (1, 1a), Indology tentang dunia India (2), bahkan seorang traveller (3, 3a), Pa.

Mertua: [Tepuk tangan kecil] Luar biasa!

Mona: Gimana, Pa? Mona gak salah pilih (lagi), kan?

Mertua: Ini baru andalan, Papa.

Menantu: Makasih, Om.

Mertua: Om? Papa!

[Mona tertawa terkekeh-kekeh]

[Blackout]

Iklan

Ide Membuat Soundcloud.

– Penghormatan untuk Cak Tolo, Cak Basman, Cak Sapari, Yu Kastini, dan yang lainnya.

Ketika ada banyak nada sumbang, salah satunya seperti ini: “Ketika kamu belajar budaya asing, maka identitas ke-Indonesia-an dan ke-daerahan-mu hilang,” saya hanya bisa memberikan jawaban berupa senyuman di usia yang semakin merangkak tua dan sangat lelah. Setiap orang boleh saja mendakwa untuk menjadi diri sendiri, namun tidak dengan saya yang masih percaya akan, dipengaruhi dan memengaruhi, seperti ketika kita membaca biografi singkat para persona di wikipedia.

Beberapa hari ini saya mencoba untuk menggali kembali budaya lisan melalui soundcloud, sebuah platform distribusi suara secara online yang memungkinkan kolaborasi, promosi, dan distribusi dari rekaman suara. Budaya lisan ini sudah saya alami sejak saya kongkow saat es-em-a hingga kuliah dengan kawan-kawan lama sembari menyeruput kopi Gresik dan terbahak-bahak bila mendengarkan slapstick Kartolo Cs. Ya, Kartolo Cs—karena lingkungan yang saya tinggali kini berada di Jawa Tengah dan Yogya, maka saya mencoba Kartolo Cs versi Jawa Tengah dan Yogya: Basiyo dan Dagelan Mataram.

Kartolo, yang cerdas itu, adalah tokoh yang memengaruhi saya untuk membuat soundcloud. Setiap orang boleh saja mendakwa untuk menjadi diri sendiri, namun tidak dengan saya yang dipengaruhi Kartolo. Siapapun yang menggemari Kartolo, entah di radio RRI atau format mp3, pasti paham bahwa dialog-dialog yang diciptakan adalah tanpa naskah—tanpa tulisan, spontan, mengalir begitu saja. Seperti halnya pasangan suami-istri, lisan tak bisa hidup tanpa tulisan. Maka hadirlah karya dari Romo Sindhunata: Ilmu Ngglethek Prabu Minohek (Boekoe Tjap Petroek Jogjakarta, 2004), yang menuliskan lisan dari dialog Kartolo Cs.

Apa yang dilakukan oleh Romo Sindhu (tulisan) pada Kartolo (lisan), seperti halnya yang dilakukan oleh Jacques Derrida (tulisan) pada penghormatan dalam salah satu prolog untuk Antoinette Fouque (lisan), feminis Prancis, yang juga mendirikan penerbit ‘Éditions des femmes‘ dengan konsep audiobooks (les livres audio) pada Perpustakan Suara (la Bibliothèque des Voix). [1] [2] [3] [4].

Dalam desfemmes[point]fr tertulis: “Antoinette Fouque dédie ces premiers livres parlants à sa mère, qui n’a pu apprendre à lire et à écrire, et à sa fille qui, comme de nombreuses femmes, ne trouve ni le temps ni la liberté de prendre un livre.[Antoinette Fouque mendedikasikan ‘buku bicara’ pada ibunya, yang tak bisa belajar untuk membaca dan untuk menulis, dan pada puterinya yang, seperti kebanyakan perempuan, tak mendapati baik waktu atau pun kebebasannya untuk membawa sebuah buku.] [1]

Apa yang telah dilakukan oleh Kartolo Cs, juga Antoinette Fouque, tak hanya melulu perkara oksidental-oriental, barat-timur, namun ada yang jauh lebih penting, yaitu membuatnya abadi bersama (rekaman) suara-suara dalam lisan ataupun tulisan, dan tak hanya menjangkau kelas atas atau menengah, namun juga kelas bawah.

Suwun yo, Cak.

Encore une fois, Monsieur Joesoef, Daoed. (Sekali Lagi, Pak Daoed Joesoef)

daoed-aku-e1516844590333

Dark, all my dark for light / I live, but I love this life – Things I Don’t Understand (album X&Y Special Dutch), Coldplay.

Ketika di toko buku itu, Pak Daoed, seorang anak Indonesia yang dilahirkan 29 tahun lalu itu, melihat satu karyamu yang belum dibacanya: Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran. Membaca karyamu, Pak Daoed, adalah membaca satu dunia dalam dua jalan: Keras pada diri sendiri dan lembut pada orang lain.

Mungkin kau adalah pengagum Hatta paling idealis, mungkin, kata anak Indonesia yang dilahirkan 29 tahun lalu itu dalam pikirannya, dan melanjutkan, apa sebab kau berani menjadi oposisi dari Gerakan Berkeley dari Prof Widjojo Nitisastro Cs, dalam Fakultas Ekonomi UI, jika tak salah menafsirkan gerak arus FE-UI. Tak hanya itu, kau pun tetap tegak melawan arus, meski mendapat banyak lawan dari kalangan Islam Indonesia dan banyak lawan karena masuk ke kabinet Rezim Soeharto dengan menjadi Menteri P & K, hanya untuk satu dari sekian banyak pertimbangan: memugar Candi Borobudur.

Seorang anak Indonesia yang dilahirkan 29 tahun lalu itu, yang pesimis pada masa depannya, namun masih memercayai impian dan betapa pun sulitnya untuk digapai, melihat memoar itu, memoar dari penulis ‘Borobudur, Warisan Umat Manusia’; tanpa disadari, dirimu telah seperti kakek yang selalu mengawasi satu anak Indonesia itu, dan serpihan-serpihanmu yang pernah direkam jejaknya di dunia virtual, mengalun di udara:

Dari sini kita bisa melihat, betapa keras memang watak seorang Daoed Joesoef dalam mengerjakan apa yang diyakininya. Ia bahkan tak goyah meski menerima ancaman terhadap keselamatan keluarganya, termasuk ancaman penculikan terhadap anak semata wayangnya: Yanti. (1)

Dan,

Jadi, ketika saya diangkat menjadi Menteri P&K pada tahun 1978, saya sudah punya rumah, tanah dan mobil. Ingat, sebelum jadi menteri lho, ya? ujar Daoed. […] Daoed mulai memaparkan. Menulis bukan bertujuan agar orang mempercayai kita. Tetapi supaya orang mengetahui apa yang ada dalam pikiran kita, karena pengetahuan tak ada gunanya jika hanya dibawa mati. (2)

Dark, all my dark for light / I live, but I love this life, lantun Cris Martin dalam earphone anak Indonesia yang dilahirkan 29 tahun lalu itu, yang pesimis pada masa depannya, namun masih memercayai impian dan betapa pun sulitnya untuk digapai, yang mencoba memahami gerak laju perjuangan dan pengorbananmu.

Encore une fois, je me souviens de vous, Monsieur Joesoef, Daoed.

[] Image Daoed Joesoef.

Tentang Kejujuran Itu, Nak.

c4988bdbc3f00ede7b51508aea033227

: Untuk kejujuran dan kasus korupsi di Indonesia.

Calon bapakmu ingin menceritakan secuil kisah masa muda calon bapakmu ini. Nak, calon bapakmu ini memang dari kelas menengah dan harus diakui itu. Namun, calon nenekmu—ibuku—selalu mengajarkan calon bapakmu ini untuk mendapatkan sesuatu dari hasil kerja keras yang baik—dan tentu saja: doa.

Calon bapakmu, sekali lagi, bukanlah orang yang jujur dulunya. Dulu, calon bapakmu pernah bekerja di konsultan konstruksi bangunan. Siapapun akan paham bagaimana hitam-putihnya dunia konstruksi bangunan beserta nuansa hitam-putihnya dalam tender dan ‘entertainmen-nya’. Singkat cerita, setelah proyek selesai dan mendapatkan upah dan tak tahunya upah itu adalah hasil yang tak baik. Calon bapakmu tahu bahwa upah itu bukan dari hasil yang tak-baik; dan calon bapakmu mengalami keadaan sulit, ketika ingin membahagiakan calon nenekmu; padahal, Nak, calon nenekmulah yang mengajarkan tentang kejujuran, meskipun calon bapakmu tahu bahwa di dunia kerja, kejujuran adalah surga, utopia.

Setelah memberikan hasil upah yang tak-baik ke calon nenekmu, dan tentu saja, calon nenekmu tak tahu jika itu hasil dari yang tak-baik; calon bapakmu menenangkan dirinya dengan pergi ke perpustakaan dan membaca karya sastra dengan memendam perasaan bersalah pada calon nenekmu, yang mengajarkan calon bapakmu ini untuk jujur meski dalam keadaan sulit. Pada akhirnya, kasih Tuhan, memertemukan dengan karya sastra Rusia dan pengarangnya menjadi idola calon bapakmu: Fyodor Dostoevsky (1).

Karya sastra Rusia dalam bentuk terjemahan itulah yang menyadarkan calon bapakmu ini, Nak, untuk tak mengulangi kesalahan-kesalahan masa lalu. Namun, untuk menegasikan dari yang tak-baik ke kebaikan, memerlukan waktu panjang, dan sekarang calon bapakmu sedang menjalani penebusan dosanya, belajar membahagiakan calon nenekmu dengan cara yang baik, meskipun upahnya tak seberapa. Seusai membaca karya sastra itu, calon bapakmu dipertemukan kembali dengan karya seni lain, dari legenda Yogyakarta: Basiyo (2)—jika di Jawa Timur, ada Kartolo Cs.

Apakah Basiyo adalah pembaca Dostoevsky, ataukah Dostoevsky pernah pergi ke Yogya, calon bapakmu tak tahu, namun dari segi cerita hampirlah sama. Ada banyak suara yang menyebutkan bahwa calon bapakmu ini munafik, karena sok jujur, atau apalah. Namun, calon bapakmu tak perduli. Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan, kata Soe Hok Gie.

Alhamdulillah, pelan-pelan, meskipun berat, melalui riset sejarah arsitektur Prancis dan belajar di sekolah bahasa dari satu Kedutaan Besar, calon bapakmu mulai menikmati hasil jerih payah dengan cara yang baik itu, Nak. Mungkin bukan saat ini, mungkin lima atau sepuluh tahun lagi, hasil jerih payah ini, akan kuceritakan padamu, bersama calon ibumu dan calon nenekmu.

Ttd.

Calon bapakmu yang sedang berjuang untuk membahagiakanmu dan membahagiakan calon ibumu dan calon nenekmu.

Tulis Tangan. The Handwriting. Le Graphisme. Die Handschrift.

Menurut dia, tulisan tangan merupakan satu-satunya alat untuk membaca karakter seseorang yang tidak lekang waktu. ”Tulisan tangan merupakan proyeksi otak kita yang tidak bisa direkayasa. Tidak ada instrumen yang lebih kuat daripada itu,” ujar pria asli Madura itu. Tangan, kata Sapta, hanyalah media untuk membaca karakter tulisan seseorang. ”Orang yang menulis dengan mulut, bahkan kaki, tidak menjadi persoalan. Itu hanya medium. Yang penting tulisan tangannya,” jelasnya. – Pak Sapta Dwikardana, Bapaknya Mbak Isyana Sarasvati.

Allez-y!

PETA_CETAK_A4

Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia – Jatuh Hati, Raisa. (1)

Beberapa hari ini, kawan baik saya datang ke Jogja untuk satu agenda demi masa depannya. Karena saya punya agenda yang berbeda dengan agendanya, maka diputuskan bahwa saya akan meminjamkan sepeda motor (sekaligus sahabat) yang menemani petualangan selama di Jogja, Honda Beat Pop, dengan high seat 735 mm itu; dan saya akan berpergian dengan menggunakan Trans Jogja. Kenapa tidak menggunakan go-car atau go-jek? Jawaban yang sangat pragmatisnya adalah napak tilas.

Jauh sebelum saya mengirimkan kendaraan pribadi ke Jogja, saya memang berniat untuk mencoba, paling tidak, selama tiga atau enam bulan menggunakan transportasi publik seperti Trans Jogja. Pengalaman yang lalu, jauh sebelum menginjakkan kaki di Jogja, ketika menikmati Trans Jakarta selama dua minggu di Jakarta, dari Jakarta Utara ke Jakarta Selatan dan kembali ke Jakarta Utara, dan lima jam terjebak kemacetan, saat akan mendaftar kelas menulis di Salihara, sayang gagal, karena pendaftaran telah tertutup justru memberikan berkah tersendiri. Di Jakarta, ketika akan tiba di Halte Harmoni, saya melihat seorang perempuan karir tertidur berdiri dengan memegang pegangan. Saya hanya terdiam, sambil memandang wajah letihnya. Beranjak dari hal itu, saya belajar humanisme (cara jalanan) yang saya ramu dengan psikologi Jawa à la Suryomentaram. Hal itu pula saya temukan di rute-rute Trans Jogja kala pulang kerja, kala kumandang adzan maghrib terdengar, dari Halte Cik DI Tiro ke Halte Sanata Dharma, tempat di mana saya membelalakkan mata dan seakan tak percaya melihat seorang Doktor dari Jerman berjalan kaki: Katrin Bandel.

Trans Jogja—juga Trans Jakarta—tak hanya mengajarkan saya tentang humanisme manusia-manusia urban, melainkan juga hal yang tak kalah fundamental, sistem transportasi publik untuk bus. Ingatan memanggil pada satu paper dari Jose Rui Ferrerira dan kawan-kawan, mengatakan bahwa Sistem Transportasi Cerdas (ITS) adalah fenomena global, menarik minat dunia dari para profesional transportasi, industri otomotif dan pembuat keputusan politik. ITS menerapkan teknologi komunikasi, informasi dan elektronik canggih untuk memecahkan masalah transportasi seperti, kemacetan lalu lintas, keselamatan, efisiensi transportasi dan pelestarian lingkungan (2). Sangat mengagumkan.

Dari modus indikatif di atas itulah, hari ini saya kembali mencerap romantika bersama Trans Jogja: berjalan dari tempat kediaman yang tak jauh dari kediaman Romo Mangun dan berjalan kaki menuju ke Halte Sanata Dharma, tempat di mana saya membelalakkan mata dan seakan tak percaya melihat seorang Doktor dari Jerman berjalan kaki, menuju ke tempat di mana kebudayaan-kebudayaan secara oksidental tersaji.

Allez-y!

Membagi Waktu Melalui Monolog Wiro Sableng.

20180708_232911a

Belajar waktu bisa dari mana saja. Dalam cerita silat Wiro Sableng, waktu hadir dalam monolog Peri Angsa Putih, dalam Batu Pembalik Waktu, dalam episode Petualangan Wiro Di Latanahsilam:

Wiro, aku terlalu cinta padamu. Tubuh dan cintaku saat ini seolah terbelah dua. Belahan pertama ingin memberikan batu ini padamu. Agar kau bisa kembali ke negeri seribu dua ratus tahun mendatang, Tanah Jawa tanah kelahiranmu. Tetapi belahan kedua tidak menginginkan aku kehilangan dirimu. Wiro, maafkan diriku kalau Batu Pembalik Waktu ini tidak akan kuberikan padamu. Apapun yang akan terjadi. Aku terlalu takut kehilanganmu.

Dari salah satu monolog—yaitu perbincangan satu orang pada dirinya sendiri—itu; sebagai tambahan monolog ini diperkenalkan oleh Charlie Chaplin, dan monolog juga berguna untuk teater atau sketsa, serta berguna untuk membantu bahasa jika lingkungan tak menunjang, semisal si A belajar bahasa Prancis di lingkungan bahasa Inggris, atau si B belajar bahasa Jerman di lingkungan bahasa Indonesia; kemudian diaplikasikan ke dalam waktu personal dalam konteks bahasa, yang mana setiap bahasa memiliki sistem dan keunikannya masing-masing. Fokus penulis ada di empat bahasa, Indonesia, Inggris, Prancis dan Jerman. Oleh sebab itu, membagi waktu seperti halnya membagi diri:

20:00 untuk bahasa Indonesia. 21:00 untuk bahasa Inggris. 22:00 untuk bahasa Prancis. 23:00 untuk bahasa Jerman. 4 Kompetensi dasar: 15 menit untuk tulis. 15 menit untuk baca. 15 menit untuk dengar. 15 menit untuk bicara. [20:00 für Indonesisch. 21:00 für Englisch. 22:00 für Französisch. 23:00 für Deutsch. 4 Grundkompetenz: 15 Minuten zu schreiben. 15 Minuten zu lesen. 15 Minuten zu hören. 15 Minuten zu sprechen.]

Ada yang rindu dengan kisah cinta Peri Angsa Putih dan Wiro Sableng?

Memahami Waktu adalah Memahami Ibadah.

 

– Untuk kawan-kawan muda (alumnus) Hubungan Internasional UGM di Institut Francais.

Tiga gol Belgia yang bersarang di gawang Jepang menandakan bahwa waktu amatlah berharga. Tertinggal 0-2, putus asa; kemudian membalikkan keadaan menjadi 3-2. Pemahaman tersebut tak akan saya giring ke dalam siapa yang kalah atau siapa yang menang. Namun bagaimana Jepang atau Belgia memanfaatkan waktunya masing-masing sesuai kemampuan mereka.

Ingatan memundur beberapa hari yang lalu, ketika saya berada di dalam kereta Malioboro Ekspress. Dalam tujuh jam, apa yang bisa dilakukan. Saya bermain-main dengan kala/waktu lalu (past)—dari past simple, continous, perfect, atau perfect continous dalam grammar—yang kemudian akan saya konversi/terjemahkan ke kala/waktu datang (future)—dari future simple, continous, perfect, atau perfect continous dalam grammar. Saya melakukan re-reading otobiografi Hatta untuk kali ketiga. Pelajaran yang saya ambil, pembacaan pertama akan berbeda dengan pembacaan kedua, pembacaan kedua akan sangat berbeda dengan pembacaan ketiga. Saya yang membaca Hatta untuk kali pertama, pada umur 27 tahun, bukanlah saya yang membaca Hatta untuk kali kedua dan ketiga, pada umur 28 dan umur 29. Ruang dan waktu, akan sangat berpengaruh, kata Hatta dalam konteks ekonomi.

Kini, melihat dari jauh, kawan-kawan muda saya, yang terpaut lima tahun lebih muda dari saya, dari Hubungan Internasional UGM di Institut Francais, telah berjalan tegak di jalannya masing-masing, di impiannya masing-masing. Ada yang melanjutkan studi di luar, ada yang telah berada di Setara Institut. Dari kawan-kawan mudalah saya mempraktikkan waktu dalam cangkang pemikiran Hatta. Dan tentu saja ada penyesalan yang menjadikan pelajaran.

Penyesalan yang menjadikan pelajaran itu, saya terapkan pada ibadah sunnah seperti dhuha dan tahajud. Di umur 27 tahun, saya lakukan dua rakaat untuk dhuha dan untuk tahajud, meskipun tak konsisten; ketak-konsistenan itu tercipta karena beberapa momen-momen ‘gelap’. Di umur 28, saya mencoba untuk meningkatkan menjadi empat rakaat untuk dhuha dan untuk tahajud, hanya berhasil enam bulan awal, setelah itu datang kembali momen-momen ‘gelap’. Di umur 29 tahun ini, tentu ada harapan baik untuk bisa full satu tahun. Beranjak dari sana, saya belajar tentang konsistensi/konstan dalam setiap perubahan dan perbedaan (atau kedisiplinan kata Hatta) dan meraih impian. Oh, jadi gini caranya meraih impian itu, jatuh, gagal, terpuruk dan kemudian bangkit, jatuh (lagi), gagal (lagi), terpuruk (lagi) dan kemudian bangkit (lagi), kata saya di pertengahan umur 28.

Dalam momen dhuha dan tahajud, mengingatkan saya pada fotografi, di mana memahami ‘waktu’ tentang konsistensi/konstan dalam setiap perubahan dan perbedaan (atau kedisiplinan kata Hatta) dan meraih impian, pun juga hadir dalam ‘time lapse‘ yaitu menurut Harja Saputra, adalah  teknik fotografi untuk mengabadikan proses yang panjang berhari-hari dalam video singkat durasi puluhan detik dengan melakukan shoot objek dengan ‘interval waktu yang konstan.’ (1)—tanda petik dari saya.

Jadi mas Iqbal gak tertarik hijrah nih? Tanya seorang kawan muda pada suatu waktu. Pada kelas/setara satu es-de, jawab saya, ketika anak-anak seumuran saya sedang asyik dibuai kasih orang tua mereka, saya malah jauh dari buaian kasih orang tua yang dibesarkan dari kultur Muhammadiyah, dengan memondokkan saya bersama guru yang dibesarkan dari kultur NU, yang diganti kasih Tuhan. Jangan tanya lagi tentang hijrah atau tidak, ya, saya gak paham, yang terpenting bagaimana berjuang bersama-sama meraih impian dalam bentuk material dan (im)material.

Dari kejadian tentang waktu dari pertandingan Belgia v Jepang, dari Hatta tentang permainan ibadah dan kedisiplinan, dari momen dhuha dan tahajud, dari time lapse pada fotografi à la Harja Saputra, memahami waktu adalah memahami ibadah.