Seri Arsitektur: Para Minimalis Penganut Cara Hidup Minimalisme.

Saya pernah mendapatkan satu informasi tentang Hoarding Disorder saat saya sedang mencari artikel tentang hunian. Pengertian Hoarding Disorder adalah kondisi di mana seseorang hobi menimbun benda-benda yang sebenarnya tidak diperlukan. Kata ‘menimbun’ pada Hoarding Disorder berbeda dengan kata ‘mengoleksi’ atau ‘menata rapi’ benda-benda yang ada disekeliling kita baik di rumah atau lingkungan yang lebih luas seperti tempat kerja. Cara bagaimana kita memperlakukan barang juga bisa memperlihatkan bagaimana pikiran kita.

Tumpukan baju, tumpukan koran atau bahkan tumpukan sampah yang tak dikelola dengan baik bisa memunculkan kondisi yang tak sedap dipandang mata. Visual timbunan itu pun bahkan bisa menyerang mood kita yang tadinya bergairah menjadi tak bergairah.

Subuh tadi, saya menonton satu program di Metro TV yang mengulas tentang pelaku gaya hidup minimalisme. Tak hanya bicara tentang gaya hunian tapi juga sampai gaya (dan cara) hidup. Menurut pengertian si narasumber, gaya hidup minimalisme adalah bagaimana meminimalisir benda-benda di sekitar kita sesuai dengan kebutuhan kita. Lalu, narasumber juga dipengaruhi oleh Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus (The Minimalists ). Dalam pengertian singkat yang saya dapatkan melalui situs The Minimalists, minimalisme adalah alat yang dapat membantu kita dalam menemukan kebebasan. Kebebasan dari rasa takut. Kebebasan dari kekhawatiran. Kebebasan dari keterpurukan. Kebebasan dari rasa bersalah. Kebebasan dari depresi. Kebebasan dari jebakan budaya konsumen yang telah kita bangun dalam kehidupan kita. Kebebasan nyata.

Kemudian saat saya menonton 2 narasumber tersebut, satu narasumber sedang memilah kemudian memilih pakaiannya dan kemudian mendonasikannya. Dalam penangkapan saya kepada si minimalis ini adalah dalam rutinitas kita hanya memakai, misal, 20 pakaian dari 50 pakaian yang kita punya, namun kita menyimpan dan tak menggunakan pakaian sisanya sehingga 30 pakaian itu memakan ruang yang seharusnya bisa digunakan kebutuhan lain. Lalu, contoh lain para minimalis adalah Steve Jobs, Mark Zuckerberg bahkan Raditya Dika.

Di luar gaya hidup minimalisme dan masuk ke desain minimalisme, itu sangat dipengaruhi dari kebudayaan Arsitektur Jepang yang kemudian tersebar dan diadopsi ke berbagai belahan dunia. Rushika H.P dalam Lessons From Traditional Japanese Architecture You Need To Learn mengatakan bahwa Arsitektur Jepang adalah lambang minimalis dan keanggunan dalam desain. Kecintaan mereka pada kesederhanaan dan alam tercermin dalam garis-garis yang bersih dan aura rumah tradisional Jepang yang ringan dan lapang. Ada wawasan berharga yang bisa didapat dari teknik dan konsep yang dimainkan di sini.

Kemudian dia melanjutkan bahwa dalam masyarakat konsumen saat ini, kita semua cenderung mengumpulkan banyak harta yang tidak perlu; beberapa memegang nilai emosional, yang lain kita lihat sebagai perwakilan dari status kita dalam masyarakat, sementara sebenarnya, sebagian besar tidak memiliki arti penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang Jepang menahan diri untuk tidak melengkapi rumah mereka dengan kemewahan dan lebih memilih yang sederhana – meja rendah, beberapa bantal lutut, dan futon. Mereka tidak membutuhkan kilauan ornamen emas untuk meningkatkan kualitas ruang, rumah mereka dihiasi dengan cahaya alami yang berlimpah, bahan-bahan alami yang menenangkan, dan hubungan yang tak terbantahkan dengan lingkungan alaminya.

Di kota-kota besar dengan pilihan benda yang semakin banyak yang berbanding terbalik dengan lahan sempit yang ada, gaya serta cara hidup minimalisme adalah suatu solusi tentang kesederhanaan yang begitu elegan. Mengurangi barang untuk menciptakan ruang seluas-luasnya, demikianlah sepintas narator program acara tersebut berkata.

Seri Sepakbola (Euro 2020): Pemikiran Reflektif, Penantian-Pembuktian Benzema, Deschamps dan Prancis.

Setelah gol-nya dianulir pada laga melawan Jerman di Grup F pada Piala Eropa 2020, Benzema membuktikan bahwa dirinya layak untuk menjadi mesin gol Prancis setelah menanti cukup lama. Pada laga terakhir fase grup F di helatan Piala Eropa 2020, dua gol-nya pada menit 45+2 di babak pertama melalui pinalti dan menit 47 di babak kedua setelah mendapatkan asis dari Pogba ke gawang Portugal adalah jawaban untuk Deschamps, pelatih Prancis, dan negara sekuler itu, bahwa ia telah berubah. Makin tua makin jadi, kata pepatah.

Penyerang keturunan Aljazair kelahiran 1987 yang pernah mendapatkan kasus kontroversial dan rasial yang tak bisa diterima Deschamps membuatnya harus kehilangan tempat di skuad Prancis dan momentum untuk merasakan dua helatan akbar Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018. Di masa-masa tak dipanggilnya ia di skuad ayam jantan, ia pun memperbaiki dirinya—dengan tempaan Zinedine Zidane—dalam penantian untuk mendapatkan perhatian Deschamps dengan catatan apik di level klub baik dari torehan gol maupun gelar juara bersama Real Madrid, seperti seorang anak nakal yang kemudian melakukan instropeksi diri.

Kami (Benzema dan Deschamps) berbicara, kata Benzema dalam FranceFootball, dan kemudian melanjutkan, berbicara tentang sepakbola dan berbicara untuk waktu yang lama, itu berjalan dengan sangat baik, kami memiliki diskusi yang baik antar pria. Yang paling penting adalah saya berada di tim, saya sangat senang berada di sini, itulah yang penting bagi saya. […] Kami membicarakan banyak hal, banyak hal. Saya di sini bukan untuk mengulang diskusi, itu diskusi pribadi. Yang paling penting adalah saya bisa bermain untuk tim Prancis lagi.

Pernyataan Benzema di atas seperti mengingatkan pada istilah berpikir reflektif. Itu adalah bagian dari proses berpikir kritis terhadap proses analisis dan pemahaman penilaian tentang suatu hal yang telah terjadi. Pemikiran reflektif menurut Dewey adalah suatu pemikiran dengan pertimbangan yang aktif, gigih, dan hati-hati. Tentang bagaimana menilai apa yang mereka ketahui, apa yang perlu mereka ketahui, dan bagaimana mereka menjembatani kesenjangan tersebut selama situasi pembelajaran.

Ada tekanan di sekitar saya, kata Benzema seusai laga melawan Portugal seperti yang dilansir sport.fr, dan melanjutkan, seperti yang saya katakan setiap kali, Anda tidak boleh menyerah, dan selalu memiliki tujuan dalam hidup. Inilah yang saya coba lakukan. Saya tersenyum hari ini, itu bagus. Tapi yang paling penting adalah kami memenuhi syarat. Saya tidak ragu, tetapi saya dapat merasakan harapan seperti itu setelah lima hingga enam tahun menanti. Saya berhasil mencetak gol dan saya akan menikmatinya bersama semua orang.

Benzema dan kesadaran akan pengetahuannya, asumsinya, dan pengalaman masa lalunya memberikan proses dinamis yang terus berkembang dan merespons pengalaman, situasi, peristiwa, atau informasi baru yang telah ia dapatkan. Ia pun menafsirkan dan mengevaluasi pengalamannya, menciptakan maknanya sendiri.

Di babak 16 besar Piala Eropa nanti, Prancis akan bertemu dengan Swiss, mampukah keturunan Aljazair yang dibesarkan di sub-urban, daerah pinggiran, Kota Lyon itu membuktikan bahwa pembelajaran selama penantiannya di tim akan membuahkan gol dan mengantarkan Prancis melenggangkan langkah sampai ke tahapan menjadi juara Piala Eropa 2020? Allez-y, Monsieur Karim Mostafa Benzema.

Pict: Actufoot.

FTV Dalimun Terjebak Cinta: Dali-Roro, Kasta Jawa, Jodoh hingga Kematian.

Kemarin dini hari, 21 Mei 2021, saya melihat tayangan ulang satu film di SCTV dan para penonton sering menyebut dengan FTV. Paska hari raya, saya mulai kegandrungan melihat film-film lama itu. Kemudian, saya mengambil satu kesimpulan awal bahwa FTV yang kerap dinilai rendah (baca: menye-menye) memiliki ending yang bahagia.

Sebahagia Dalimun/Dali (Ramon Y Tungka) ketika mengenalkan jodohnya, Roro (Agni Pratistha), yang baru dikenalnya selama seminggu paska ikatan janji pada Ibunda Roro dan Ibunda Dali yang sebenarnya memiliki satu calon bagi anak bungsunya. Dalam film FTV Dalimun Terjebak Cinta itu, karakter Dali digambarkan sebagai anak bungsu dari kalangan keluarga menengah-atas di Yogyakarta yang memiliki pabrik batik, slengean, sentimen meledak-ledak, apa adanya, dan pekerjaannya mencari barang antik; Karakter Roro, seorang mahasiswi di Yogyakarta yang akan wisuda, kalem dan dari kalangan keluarga menengah-bawah.

Cerita bermula ketika Dali bertemu Roro makan bakso di Malioboro. Kegagalan cintanya pada Kartini, membuat Dali memiliki tujuan merusak hubungan orang lain termasuk Roro dan calon tunangannya, Aji. Bak seorang pencopet handal, Dali mengambil ponsel Roro ketika membayar bakso dan membawanya pulang untuk membaca isi ponsel Roro. Konflik pertama yang dibangun dengan suasana kocak terjadi, ketika Aji menelpon Roro dan ternyata yang mengangkat Dali. Aji mengira Roro berselingkuh dan perempuan itu membantahnya.

Di satu scene selanjutnya, pada pagi hari, Ibunda Roro yang sedang sakit akibat leukimia dan akan meninggal menelpon Roro namun ponsel perempuan kalem itu ditangan Dali. Lelaki yang mengendarai mobil Volkswagen lawas itu kemudian mengangkat telpon dan mendengar bahwa Ibunda Roro sedang sakit dan ingin ketemu anak gadisnya. Lalu, Dali bertemu Roro untuk mengembalikan ponselnya dan mengabarkan bahwa Ibunda Roro sedang sekarat. Roro menyuruh Dali bertanggung-jawab untuk menemui Ibunda Roro karena ingin melihat calon suaminya. Sebagai seseorang yang dibesarkan oleh budaya jawa yang kental, Dali merasakan hal irasional seperti karma. Akhirnya, Roro dan Dali menemui Ibunda Roro yang sedang sekarat dan mereka terjebak pada janji bahwa Dali akan menikahi Roro, yang telah putus dengan Aji yang ternyata tukang selingkuh, yang baru saja dikenalnya.

Di satu scene yang lain, Ibunda Dali yang digambarkan sebagai perempuan aristokrat memiliki seorang kawan yang memiliki anak bernama Bella, seorang perempuan dari keluarga kelas menengah-atas di Jakarta yang pindah ke Yogyakarta dan akan dijodohkan dengan Dali. Ibunda Dali dan kawannya merencanakan perjodohan Dali-Bella meski Dali tak suka. Senakal-nakalnya Dali, ia begitu patuh terhadap perintah ibunya dan hal itu dimanfaatkan Bella untuk mendapatkan hati Dali. Sampai pada Dali mengajak Bella ke rumah Roro di kota lain di Jawa Tengah. Di sana, Bella mengklaim bahwa dia adalah tunangan Dali yang direstui Ibunda Dali dan itu membuat hati Roro tersakiti.

Masuk ke ending, di satu scene lain, Dali pergi kembali ke rumah Roro untuk membawa Roro dikenalkan ke ibunya dan pergi sejenak ke satu hamparan padang pasir. Sementara, Bella dan Ibunda Dali menyusul ke rumah Roro. Di scene itu, Bella akhirnya paham bahwa cinta tak bisa dipaksa dan ia melihat Dali-Roro sedang bermain dengan bahagia dan dia tak ingin merusak kebahagiaan mereka. Kemudian, Dali dan Roro kembali ke Yogya untuk menemui ibunda Dali dan akhirnya merestui hubungan mereka meski mereka hanya kenal dalam waktu seminggu.

Dari konflik-konflik Dali, ia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak mengenakkan namun harus dilakukan. Pertama, Dali yang percaya pada hal sakral, janji pada orang yang telah mati, menempatkan dirinya pada posisi sulit untuk menikahi Roro yang baru saja dikenalnya dengan waktu yang singkat. Yakin, hanya itu yang Dali punya. Kedua, Dali yang patuh pada ibunya, diharuskan mengikuti aturan atau etika Jawa yang sangat mengikat tentang kasta keluarga dan perjodohan pada Bella yang juga baru dikenalnya. Dali dihadapkan pada posisi atau situasi dengan tak mengenal istilah: pe-de-ka-te. Satu hal yang akan sangat aneh bagi ukuran anak muda di era sorak-sorai bitcoin ini. Dali terikat pada konsepsi atau siklus kehidupan Jawa yaitu Metu (Lahir), Manten (Menikah) dan Mati dan dalam catatan yang lain Metu-Manten-Mati juga terdapat pada Kitab Kuning.

Tokoh Kusno, kawan Dali mengatakan dengan cukup bijak. “Kamu harus menghadapi masalah seperti ini supaya jodoh kamu jelas.”

Seri Arsitektur: Masjid Nasir al-Mulk (Iran).

Ketertarikan saya terhadap Iran telah tumbuh saat mengenal ‘Persia’, satu wilayah Non-Arab, dalam sejarah Islam. Banyak ilmuwan Islam dari Persia yang menyita perhatian saya seperti Jabir Ibnu Hayyan (Kimia/Astronomi/Astrologi), Al-Khawarizimi (Matematika), dan legenda kedokteran, Ibnu Sina. Saya membatasi pengetahuan perdebatan doktrin mazhab Sunni-Syiah atau Politik Islam yang bukan bidang saya meski sedikit tahu. Mumet, rek. 😀

Iran atau Persia tak hanya jago soal ilmu alam tapi juga berkaitan dengan arsitekturnya. Cobalah meluangkan waktu sedikit untuk berselancar ke Google dan mengetik Arsitektur Iran dan kita akan terpana melihat bagaimana pola geometri tersusun rapi di dinding masjid lama khususnya Masjid Nasir al-Mulk, sebagaimana kita terpana melihat pola relief yang tersusun pada Candi Borobudur, misal.

Masjid Nasir al-Mulk atau Masjid Pink ini memiliki keindahan tentang keagungan yang nampak pada permainan material kaca, keramik yang dilukis dan ditempatkan di atap dan permainan permadani. Atlas Obscura mengandaikan kita seperti melihat bintang-bintang melalui kaleidoskop, satu alat optik. Catatan lain mengatakan bahwa Ali Nasir al-Molk, salah satu bangsawan Iran menyuruh desainer cum arsitek, Mohammad Hasan-e-Memār.

Permainan fasad, wajah bangunan, dari masjid yang dibangun oleh Dinasti Qajar pada 1876-1888 (12 tahun) ini punya gaya lengkungan arabesque dan menonjolkan permainan cahaya yang ditampilkan oleh material kaca patri. Dan banyak yang menyarankan bahwa waktu terbaik berkunjung untuk wisata adalah pagi hari saat matahari memantulkan pola kaca patri ke lantai. Sangat cantik.

Foto: Atlas Obscura.

Seri Arsitektur: Dari Romo Heuken Hingga Tiga Peneliti Prancis dan Impian pada Arsitektur Islam.

Secara personal, setiap rumah ibadah dari semua agama selalu menarik untuk diulas. Selain karena latar belakang saya di Teknik Sipil dan impian saya untuk menjadi seorang arsitek sejak kecil yang akhirnya telah keturutan dan masih kurangnya pengetahuan perihal agama membuat saya selalu tertarik dengan rumah yang nyaman dan tenang untuk berkeluh-kesah tentang segala kekhawatiran duniawi kepada Cinta-yang-melampaui-cinta (baca: Tuhan) dan salah satunya adalah masjid.

Satu impian yang belum saya tuntaskan adalah membuat literatur tentang Arsitektur Islam seperti yang pernah dikerjakan oleh Romo Adolf Heuken di bukunya Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta (Yayasan Cipta Loka Caraka, 2003). Di buku tersebut, Romo Heuken, Sejarawan Jerman yang mencintai Indonesia itu, memakai sudut pandang sejarah dan saya ingin mengkombinasikan kacamata sejarah-nya dengan bidang saya yaitu teknik.

Untuk teknik, tentang bagaimana material masjid saat dibangun, tentang bagaimana gaya yang dianut, bahkan hingga wilayah seperti pencahayaan, sirkulasi udara, atau bahkan akustik bangunan. Namun saya tahu bahwa itu perlu data–serta waktu–yang cukup banyak. Selain itu, tridente dari Prancis yaitu Denys Lombard, Pierre Labrousse, Christian Pelras dari Archipel Prancis-Indonesia, juga turut menjaga asa ketertarikan saya pada Arsitektur Islam.

Dari Masjid Agung Paris dan Strasbourg di Prancis, Masjid Ferhadija di Bosnia-Herzegovina, Masjid Dzhumaya di Bulgaria, Masjid Et’hem Bey di Albania, Masjid Ketchaoua di Aljazair, King Fahd Islamic Cultural Center di Argentina, Auburn Gallipoli di Australia, Vienna Islamic Centre di Austria, Bibi-Heybet di Azerbeijan, Masjid Sixty Dome di Bangladesh, Masjid Dongguan di Tiongkok, Masjid Muhammad Ali di Mesir, Masjid Khadija di Jerman, Masjid Mecca di India, Masjid Blue Mosque di Iran, Masjid Imam Ali di Iraq, Jezzar Pasha di Israel, Masjid Roma di Italia, Masjid Kobe di Jepang, Masjid Nasional di Malaysia, Masjid Sultan di Singapura, Bekas Masjid Cristo de la Luz di Spanyol, Hagia Sophia di Turki, Masjid London Central di Inggris, atau bahkan Masjid Katedral Moskow di Rusia.

Pada akhirnya, Arsitektur Islam melalui masjid-masjid di atas bisa menjadi kolom yang kuat bagi iman saya yang kerapkali naik-turun dan menikmati secara intim dan pribadi hubungan relijius antara Sang Pencipta dan seorang hamba yang daif—atau lemah—sebagai manusia yang terombang-ambing pada kenyataan hidup. Selamat datang Ramadhan 2021. 🙂

Adieu à Dieu, Daniel Dhakidae (Selamat Jalan pada Tuhan, Daniel Dhakidae).

Sebagai anak daerah dari satu kota kecil di Jawa Timur, ketika melangkahkan kaki ke jalanan ibukota dan menembus belantara-belantara intelektual di Kedutaan Besar Prancis; lalu, memegang buku di tangannya dengan ukiran nama Hatta dan Daniel Dhakidae sungguh menambah kepercayaan diri, Pak Daniel. Mencoba belajar mencerna perbedaan lingkungan lama ke lingkungan baru. Seperti yang anda tulis di pengantar Hatta dalam Menggurat Garis-Garis Batas:

“Hal lain adalah ketika Bung Hatta menempatkan dirinya sebagai saksi sejarah, di Eropa maupun Nusantara ini. Pribadi Hatta adalah seorang yang teliti, tidak menerima sesuatu ‘for granted’; semuanya dicerna, termasuk proses menuju suatu peristiwa.”

Selama meninggalkan kota kecilnya, anak daerah itu selalu mengamati peristiwa-peristiwa baru di lingkungan barunya, termasuk menerjemahkan teknik menulis dari seorang Daniel Dhakidae yang sangat terstruktur di pusat dokumentasi koran lama di Jogja.

Harapan besar ketika merasakan panasnya ibukota adalah bertemu dengan anda, Pak Daniel. Berbincang santai tentang dua background keilmuan yang berbeda dan disatukan dalam satu peristiwa. Bicara tentang kombinasi arsitektur dan sosiologi untuk mengurai perbedaan serta persamaan rumah adat nusantara di Indonesia yang berelasi dengan masyarakatnya. Sayangnya, peristiwa itu tak terjadi.

Akhirnya, tak ada yang lebih menyenangkan memposisikan diri sebagai anak daerah dari satu kota kecil di Jawa Timur yang memegang buku di tangannya dengan ukiran nama Hatta dan Daniel Dhakidae di jalanan ibukota. Selamat jalan pada Tuhan, Pak Daniel.

Malang, 6 April 2021.

Pict: https://www.instagram.com/p/CMhGeg7pzZb/

Lal salam, Allahu alam, Ebes.

Seri Parenting: Hewan dan Tanggung-Jawab Pemilik.

(Introduksi) Dilahirkan dari seorang ayah yang jago beternak dan pernah memiliki peternakan sapi perah adalah satu dari kolase hidup yang mengisi tingkat sampai pada umur 32 tahun (tahun 2021) ini. Sebelum pindah ke Malang, ketika saya masih taman kanak-kanak dan melihat ayah memeras puting sapi di peternakan, di tanah kakek, seorang tuan tanah di Surabaya, yang luas.

Daerah Rungkut, tempat peternakan itu berada, yang tadinya berisi pohon-pohon asam atau hamparan rumput gajah yang liar itu lama-lama berubah wajah menjadi industri dan pakan hewan tinggal menunggu waktu habis tergantikan dengan pabrik.

Hal lucu yang pernah saya alami bersama anak sapi perah adalah ketika saya membawanya ke kamar tidur. Lalu, anak sapi perah itu merusakkan dipan tempat tidur. Secara spontan, sebagai anak kecil saat itu, saya hanya ingin anak sapi itu tak kedinginan. Betapa lugunya pikiran seorang bocah. Hewan bagi anak-anak adalah belajar tentang tanggung-jawab memelihara dan, tentu saja, afeksi, kasih sayang.

(Isi) Lalu, apa relasi dengan foto yang saya pampang? Di sekitar rumah saya, ada seorang gadis kecil yang mempunyai kucing berwarna abu-abu. Suatu hari kucing itu pergi dari rumah dan gadis kecil itu mencarinya. Lama-kelamaan, tak hanya sekali bahkan seringkali kucing itu pergi dari majikannya atau pemiliknya ke wilayah rumah saya. Lantas, saya berpikir, apakah kucing ini tak merasa bahagia diasuh oleh pemiliknya? Atau pemiliknya lalai dalam menjaga hewan yang disayanginya? Apakah si pemilik hanya sekadar beli dan beberapa tahun kemudian jenuh dan tak mengurusnya lagi?

Sampai pada suatu ketika, di dapur kos-kosan saya—ayah memutar bisnisnya dari peternakan sapi perah ke rumah kos—terjadi perebutan wilayah antara dua kucing rumahan, kucing warna abu dan kucing warna putih, yang bukan kucing milik saya, akan tetapi kucing milik tetangga yang tak betah di rumah pemiliknya. Ketika melihat mereka saling mengeong dalam perebutan wilayah di wilayah rumah saya dan saya hanya membiarkan mereka berkelahi sembari berpikir mengapa mereka justru nyaman berada di wilayah rumah saya? Tentu saja ada yang salah dengan cara memelihara dari si pemiliknya, pikir saya. Memelihara hewan tak semudah memposting kelucuan hewan—dari masalah makanan hingga masalah penyakit.

(Konklusi) Kelak ketika saya punya anak maka yang pertama kali yang akan saya ajarkan adalah tanggung-jawab terhadap hewan miliknya agar tak merepotkan orang lain, menjaganya penuh kasih sayang dan tak menelantarkan begitu saja setelah dilingkari rasa jenuh. Dari tanggung-jawab kepada hewan itulah diharapkan bahwa dia mampu tanggung-jawab terhadap hal-hal lainnya seperti pada studinya, pada pekerjaannya, pada impiannya, pada pasangan hidupnya nanti atau bahkan pada anaknya nanti.

Referensi: Film Petit Paysan (Bloody Milk) tentang industri peternakan sapi perah yang pernah diputar di IFI-LIP dengan narasumber Astri (Anak komunitas film Jogja yang pernah kuliah di Belanda, seingat saya) bersama Aude Vidal, guru kritik film saya.

Pict: https://www.instagram.com/p/CMW6gVCB7ro/

Seri Buku Foto: Malang, After The Rain.

– Untuk kawan sekaligus kakak yang mengajari banyak hal tentang fotografi, gunung (outdoor gear) dan perburuhan, Arjules Parasian Manurung, Anak Malang keturunan Batak yang tak bisa bahasa Batak :p

Side lighting, or placing the light source or the subject so that the light hits from the side, fights the boring look of front lighting by creating shadows and depth. Side lighting is still fairly simple to shoot — you just have to careful and watch how the shadows fall. Side lighting doesn’t have to be at a 90 degree angle and even minor adjustments can change the way the shadows fall. When shooting with lighting from the side, watch where the shadows fall — small adjustments in the subject’s position can create more interesting or flattering shadows. – creativelife

A skilled photographer can manipulate how a viewer is likely to react to the content of a photo by manipulating the lighting – Photographic lighting

This style of lighting is named after the way that Rembrandt used light in his portrait paintings. It is a type of side lighting – Rembrandt Lighting

Lokasi: Depan Persada Swalayan, Jl. MT. Haryono, Dinoyo, Malang, dekat Kampung Wisata Keramik Dinoyo. Difoto pada 22 November 2020, pukul 4 sore.

Seri Buku Foto: Sunrise Kota Malang Arah Bromo-Semeru.

Sunrise di langit Kota Malang arah Universitas Brawijaya dan Gunung Bromo-Semeru pada pukul 6 pagi, 17 November 2020. (Indonesian)

Un lever de soleil de la ville de Malang vers l’Université Brawijaya et le mont Bromo-Semeru à 6 du matin, le 17 novembre 2020. (French)

Ein Sonnenaufgang von die Stadt Malang in Richtung Brawijaya Universität und Bromo-Semeru Berg am 17. November 2020 um 6 Uhr morgens. (German)

: Point Pleasant (The End of The Beginning, 2004) – God Is An Astronaut.