Partnership Musik dan Sepakbola, Heaven Shall Burn dan FC Carl Zeiss Jena.

“Support your local team” – Heaven Shall Burn dan FC Carl Zeiss Jena.

Pada 18 Februari 2012, Heaven Shall Burn, salah satu band metalcore asal Jerman sedang menjejakkan kaki di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Liquid Cafe di Jl. Magelang, DIY, menjadi tempat tour mereka di Indonesia dan kemudian berbagi aksi panggung dengan band lokal yang cukup dikenal di skena musik underground yaitu Hands Upon Salvation dan Seringai.

Heaven Shall Burn sendiri berasal dari Saalfeld yang dibentuk pada tahun 1996 oleh Marcus Bischoff (Vokal), Maik Weichert (Gitar), Alexander Dietz (Gitar), Eric Bischoff (Basist) dan Christian Bass (Drum). Namun, selama 25 tahun perjalanan karir musik mereka hanya menyisakan  Marcus Bischoff dan  Maik Weichert. Dua pentolan band yang selalu memiliki pesan politik dalam lirik mereka seperti anti-rasisme, anti-fasisme, isu lingkungan, hal kemanusiaan bahkan vegan dan animal liberation itu harus jatuh dan bangun mempertahankan eksistensi mereka hingga mereka memiliki nama besar.

Nama besar dan pengaruh dari band metalcore itu pun digunakan hingga ke wilayah sepakbola. Mereka pun bersama Wacken Foundation, sebuah yayasan nirlaba yang mendedikasikan dirinya untuk mendukung serta mempromosikan musik hard rock dan metal di Jerman, untuk melakukan partnership dan mensponsori FC Carl Zeiss Jena, sebuah klub di Jena, Thuringia, yang pernah berjaya di Jerman Timur pada tahun 1960 hingga tahun 1980 yang kini terseok-seok akibat pendanaan di 3. Fußball-Liga atau divisi ketiga sepakbola Jerman. Pada pra reunifikasi Jerman, pada tahun 1981, FC Carl Zeiss Jena sendiri pernah mencicipi gelaran Final Piala Winners Eropa 1981 dengan melawan tim dari Uni Soviet, Dinamo Tbilisi. Nahas, Carl Zeiss Jena harus mengakui keunggulan lawannya dengan skor 2-1 di Rheinstadion, Düsseldorf.

Bentuk kontrak partnership antara Heaven Shall Burn, Wacken Foundation  dan  FC Carl Zeiss Jena adalah kesepakatan sponsor satu kali dan konsep yang bernama win-win situation. Dalam pengertian sederhana, nama besar sebuah band yang terkenal di wilayah musik yang tertera di bagian jersey tim sepakbola kasta bawah di wilayah olahraga akan menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak baik dari band maupun  tim sepakbola kasta bawah. 

Cerita relasi partnership antara musik dan sepakbola, antara Heaven Shall Burn dan FC Carl Zeiss Jena yang asyik juga terlontar dalam Spiegel. Cerita tentang bagaimana seorang fan kehabisan jersey saking larisnya dan harus menanti kembali jersey yang bertuliskan “Heaven Shall Burn – Support your local team” hingga cerita tentang memutar lagu “Atonement” dari album Heaven Shall Burn yang bertajuk “Iconoclast” sebelum pertandingan dimulai dihadapan 5700 penonton.

“Kemitraan dengan Heaven Shall Burn,” kata Direktur Pelaksana FC Carl Zeiss Jena di situs klub, Chris Förster, “adalah salah satu kebahagiaan dan akan memasang logo HSB di lengan baju kami di musim mendatang,  dan ini sesuatu yang unik dan sangat istimewa di sepakbola Jerman. Sangat masuk akal untuk melanjutkan cara ini yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya. Kami pasti memiliki proyek unik ini! Sekarang, secara nasional, mulai menarik perhatian pada proyek-proyek yang dekat dengan kami. Akhirnya kami kembali ke situasi di mana kami telah memegang merchandising klub dengan sangat sukses di tangan kami sendiri selama satu tahun sekarang, untuk melakukan sesuatu yang baik melalui kampanye seperti ini, klub dan institusi seperti Wacken Foundation”

“Bagi kami, kami adalah penggemar berat Zeiss dan sebagai pendukung sepakbola, proyek ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan,” kata gitaris Heaven Shall Burn, Mark Weichert, yang dilansir footyfair. Ia pun melanjutkan, “Setiap penggemar yang mendukung klub di depan pintunya pantas mendapatkan rasa hormat kami. Kami bukan tentang bagaimana menunjukkan jari tengah. Intinya, jangan sampai melupakan anak-anak kecil dan maknanya bagi kota, daerah dan masyarakatnya masing-masing. Kami adalah penggemar Jena dan sekarang kami memiliki kesempatan untuk kembali sebagai musisi yang, sampai batas tertentu, terkejut dengan kesuksesan kami sendiri. Kami melakukannya dengan senang hati dan meminta anda untuk melakukan hal yang sama: Dukungan, baik sebagai penggemar atau sponsor, klub di depan pintu anda. Ini penting.”

Ketika klub terombang-ambing di kasta bawah, sponsor tak ada dan fans sangat acuh pada klub, manajemen tak memiliki ide yang gila, di sanalah  popularitas band yang menggelar konser di seluruh dunia dan salah satu festival heavy metal paling terkenal di dunia dan membuat jersey tim sepakbola kasta bawah menjadi top seller.  Musik dan sepakbola seperti mengingatkan pada petuah filsuf Jerman, Johann Wolfgang von Goethe:  Kehidupan adalah milik mereka yang hidup dan mereka yang hidup harus selalu siap menghadapi perubahan.

Catatan: Naskah ini pernah saya kirimkan ke satu media online sepakbola dan, sayangnya, gagal lolos kurasi dan tak terbit pada tahun 2021. Maka dari itu saya publish ke blog pribadi. Lihat juga tulisan sepakbola saya di https://fandom.id/author/iqbal-iqbal/

Referensi: 1), 2). Pict: carlzeiss-jena.

Drama Korea Birdie Buddy (2011): Golf, Cinta, Perjuangan, Impian dan Kelas Sosial.

Dream on / Dream on – OST. Birdie Buddy, Joo Eun Ji (Pink Toniq).

Siapa saja berhak memiliki impian dan meraihnya. Sayangnya, ada yang berhasil dan ada yang tidak. Contohlah Sung Mi-soo (Uee), tokoh utama yang berasal dari keluarga miskin dan ingin menjadi pegolf profesional. Melalui kerja kerasnya dan support dari keluarga walau dari kalangan bawah dalam budaya Korsel, dia berhasil menjadi pegolf pro Korsel namun nahasnya, dia harus kehilangan cintanya.

Saya tak sengaja menonton drakor ini di satu stasiun teve surabaya, BBS TV. Awalnya, sebelum menonton, saya punya pandangan bahwa golf adalah olahraga milik kalangan atas. Itu benar di satu sisi dan tidak benar di satu sisi.

Ketidakbenaran bahwa golf hanya milik kalangan atas diperkuat ketika scene Sung Mi-soo yang bertemu dengan guru golfnya, Fabian (Robert Holley), mantan pegolf Prancis yang tinggal seorang diri di hutan, di Korsel. Fabian tidak menyuruh langsung Mi-Soo untuk berlatih golf dengan stick dan bola golf tetapi dengan cara kelas bawah untuk menguatkan mentalnya. Penguatan mental itu seperti naik turun gunung mengambil air, menebang pohon besar dengan kapak untuk menguatkan lengan serta melatih ayunan, memukul bola golf yang berat di sungai untuk menguatkan pergelangan tangan, mengeluarkan bola dari banyaknya pohon yang membuat bingung di hutan guna belajar mencari arah dan peluang.

Sebelum memiliki murid cantik Mi-Soo, Fabian punya murid lelaki yang pernah menjuarai kompetisi golf internasional yang juga nantinya menjadi pelatih Mi-Soo yaitu John Lee (Lee Yong-Woo). Nantinya, John Lee menjadi pelatih golf Mi-Soo dan mereka terjebak perasaan cinta antara pelatih-pemain. Tresno jalaran soko kulino, cinta ada karena terbiasa.

Sementara itu, sebelum menjadi pelatih Mi-Soo, John Lee adalah pelatih dari rival Mi-Soo, Min Hae-ryung (Lee Da-hee). Hae-ryung adalah pegolf pro yang berasal dari kalangan atas yang memiliki ibu konglomerat dan pemilik resort golf, Min Se-hwa. Segala fasilitas untuk menjadi pemain golf pro Hae-ryung punya kecuali cinta seorang ayah yang meninggalkan ibunya dan terjadi kehamilan diluar nikah bersama ibunya Hae-ryung. Bersama John Lee, Hae-ryung perempuan cantik yang kesepian akibat tekanan keluarga itu, tak hanya menganggap John Lee sebagai pelatih namun juga kekasih. Adegan panas dengan ciuman hangat selalu menyertai perjalanan pelatih- pemain antara John Lee dan Hae-ryung.

Drakor ini tak hanya menampilkan perjuangan kelas, keluarga, olahraga, teknik dalam golf, dan kisah cinta saja melainkan juga dikupas bagaimana praktik kotor dalam perjudian di ajang golf, juga diperlihatkan bagaimana industri pembuatan bola golf, tentang dunia caddie girl yang keras seperti halnya SPG Rokok. Sungguh suatu drama yang kompleks. Drakor terbaik kedua setelah favorit saya, Descendants of the Sun.

Drakor Birdie Buddy episode 1 – 24. Selamat menonton. 🙂

Inspirasi, Desain Interior dan Perkenalan Dengan Jakarta Hari Ini (For Revenge X Stereo Wall).

Yang datang dan pergi / ‘Kan membuatmu mengerti // Yang datang dan pergi / Semua yang harus dilalui – Jakarta Hari Ini (For Revenge X Stereo Wall).

Sejak merantau dari Malang, saya selalu belajar mentaati waktu dalam manajemen waktu yang saya temukan dalam buku Bung Hatta. Jika kita beribadah tepat waktu otomatis, tanpa sadar, kita akan disiplin pada waktu dan menghargai waktu orang lain seperti Swiss dengan budaya tepat waktunya. Namun membiasakan manajemen waktu bukan hal mudah dan dengan kejujuran, saya selalu gagal dan mencoba sampai berhasil.

Dalam 24 jam, saya selalu membagi waktu satu jam untuk mencari inspirasi tentang dunia saya, dunia konstruksi, baik Sipil atau Arsitektur. Inspirasi bagi saya seperti angin yang selalu datang kapan saja tanpa diminta dan pergi begitu saja.

Seperti mata angin, inspirasi bisa datang dari melihat kesuksesan dengan senyuman bahagia untuk kawan kuliah seperjuangan bermain software Tekla Structure untuk proyek bangunan tingkat tinggi ; inspirasi bisa datang saat berbincang dengan kawan lama yang ingin berangan-angan membuatkan gadis kecilnya satu kamar cantik; inspirasi bisa datang saat mengenang membuatkan desain rumah sederhana yang nyaman bagi mereka yang kurang mampu; inspirasi bisa juga datang dengan mengagumi setiap proses kerja dari para arsitek/desainer Indonesia dan dunia.

Tepat pukul 10 malam, saya mulai mencari inspirasi dengan mengamati desain dari Firma Nexus Design yang bertajuk True Blue Terrace. Saya mencoba menganalisis permainan warna interior dari firma tersebut. Coklat kayu pada tangga, rak kayu serta meja melebar berwarna biru, karpet yang keunguan, serta midnight blue pada sofa.

Bertepatan dengan saya menganalisis, saya mendengar salah satu anak kost dari ibunda saya–ibunda memiliki usaha kost yang cukup lumayan besar dan mengingatkan saya pada ibunda dari Pak Habibie yang juga memiliki usaha kost di Bandung (mohon koreksi jika tak tepat) yang mampu menyekolahkan Pak Habibie ke Jerman tanpa bantuan beasiswa dari Negara Indonesia–memutar lagu dengan lirik seperti ini :

Yang datang dan pergi / ‘Kan membuatmu mengerti // Yang datang dan pergi / Semua yang harus dilalui.

Setelah saya lacak, lagu itu berjudul, Jakarta Hari Ini dari For Revenge X Stereo Wall. Ngepop tapi bernuansa sangat gelap.

Saya memutar lagu tersebut sambil melihat fotografi arsitektur True Blue Terrace dari Firma Nexus Design. Dalam imajinasi liar saya, saya menambahkan aspek manusia di ruang itu. Satu lelaki dan satu perempuan duduk di sofa midnight blue sambil bercerita tentang seks/impian/masalah/hobby.

Dua tahun kemudian, satu manusia bertambah. Bayi mungil hadir dan beberapa tahun kemudian bayi itu menjadi balita merangkak di karpet yang keunguan. Tiga tahun kemudian, bayi yang lain hadir dan, kembali, bertumbuh menjadi balita yang merangkak di karpet yang keunguan. Satu momen kesedihan dan kebahagiaan dilewati di ruang interior itu. Sampai satu lelaki dan satu perempuan duduk di sofa midnight blue kini telah menua dan melihat anak-anak mereka telah memiliki keluarga sendiri seperti saat mereka masih muda dulu.

Yang datang dan pergi / ‘Kan membuatmu mengerti // Yang datang dan pergi / Semua yang harus dilalui.

Jurgen Klopp dan Istri, Meja Dapur, Obrolan, Keputusan dan Kontrak ‘Gairah’ Baru Bersama Liverpool.

Saya pernah membaca kisah tentang Mohammad Natsir, ketua Partai Masyumi dan kawan dan lawan ideologi DN. Aidit, tentang keluarga, meja makan dan percakapan. Saya bisa salah dengan ingatan yang tak tajam lagi karena usia, namun terdapat satu situs yang membahas bahwa Pak Natsir bersama istri dan anak-anaknya selalu mengobrol dan berdebat apa saja di meja makan. Penggemar alat musik biola itu memang dibesarkan dari ayah seorang pegawai pemerintah serta kakek yang menjadi ulama. Meskipun agama Islam-nya kuat namun pengetahuan budaya barat tentang cara makan di meja makan cukup piawai.

Sekilas kisah tentang Pak Natsir itu muncul tiba-tiba ketika saya melihat wawancara bahwa Jurgen Klopp, manajer Liverpool kelahiran Stuttgart, Jerman, itu berawal dari obrolan di meja kitchen bersama istrinya. “Aku tak bisa melihat kita pergi (dari Liverpool) di tahun 2024,” kata Ulla Klopp, seorang penulis anak dan istri manajer Liverpool, padanya.

Sebagai fan dari Liverpool dan Steven Gerrard, saya mengikuti jejak Klopp sebatas kulit sejak dari Borussia Dortmund yang pernah menjadi juara Liga Jerman yang mana superioritas Bayern Munchen sulit dihentikan. Saya tak menyangka bahwa ia bergabung dengan Liverpool di tahun 2015. Ekspektasi saya tak terlalu tinggi terhadapnya pada Liverpool akan juara di tahun pertama ia melatih dan apalagi Liverpool—bersama mentalnya—puasa gelar Liga Inggris selama 30 tahun, tepat di tahun di mana saya lahir, sejak 1989. Saya tak akan berbicara terlalu dalam soal Klopp tentang taktik, transfer atau hal-hal teknis yang telah banyak dibahas oleh para fan Liverpool dan para analis sepakbola di media sosial. Saya tak terlalu ahli dalam hal itu.

Yang menjadi ketertarikan saya adalah siapa yang memulai obrolan soal kontrak baru serta keputusan untuk menetap atau pergi yang dilakukan oleh Klopp atau istrinya, Ulla, sebagai perantau Jerman di Negara Inggris. Apapun itu, berbincang dengan orang yang terkasih saat makan di meja makan seperti Pak Natsir dan keluarganya atau bahkan Klopp dengan istrinya merupakan hal kecil yang memiliki dampak besar. Contohlah: 1) Makan bersama keluarga dapat menjadi kesempatan baik untuk kita mengenal tiap anggota keluarga. 2) Mengajak anak makan di meja makan sebagai komunikasi untuk membentuk karakter. 3) Menyuarakan obrolan hingga melahirkan solusi dan keputusan. 4) Menjaga kesehatan mental.

Dalam mimik wajah Klopp di Liverpool Televisi (LFCTV) setelah mengumumkan penandatanganan kontrak baru itu nampak semakin menua dan lelah. Tekanan dan ekpsektasi tinggi para fans Liverpool berada dipundak kanannya; kejenuhan yang selalu menjadi bayang-bayang setiap aktivitas manusia yang menekuni satu bidang selama bertahun-bertahun dan ingin rehat sejenak berada di pundak kirinya. Tapi Ulla, istri keduanya setelah perceraian dengan istri pertama, membuat manajer Liverpool yang semasa kanak-kanak bercita-cita menjadi seorang dokter dan semasa remaja bekerja sebagai pengangkut barang berat ke truk itu, bertahan sekali lagi hingga tahun 2026.

Sebagai fan Liverpool yang melihat Steven Gerrard gagal mengangkat trofi juara Liga Inggris di masanya dan berganti melihat Jordan Henderson berhasil mengangkat trofi juara Liga Inggris di masanya, segala harapan telah tercapai berkat kekalahan demi kekalahan yang dievaluasi oleh Jurgen Klopp selama ini beserta staff kepelatihannya. You’ll Never Walk Alone, Pak Klopp.

Somewhere To Fall (Amanda Wilson, Stephen Cornish), Perkenalan dengan Arsitektur Akustika, Bunyi dan Bangunan.

Salah satu iklan layanan masyarakat di Metro TV menampilkan tentang bagaimana cara kita mencegah Covid-19. Namun, gendang telinga saya memfokuskan suara musik yang melapisi iklan tersebut. Seperti halnya cahaya, suara musik itu memantul ke dinding dan mengisi seluruh ruang di mana saya berada.

Suara Amanda Wilson yang meneduhkan membuat saya teringat ketika pertama kali bertemu dengan istilah akustika dalam arsitektur. Salah satu bidang dari sekian banyak bidang di dunia konstruksi yang memelajari tentang tata suara di dalam itu saya temukan dalam buku milik Romo Mangunwijaya, Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan. Dalam akustika bangunan dipelajari semacam tingkat bunyi (desibel), kenyaringan, gangguan bunyi, isolasi bunyi, perjalanan bunyi, pantulan bunyi, membendung gelombang bunyi, transmisi dan resonansi, kelas bangunan segi akustik, bahkan kategori ruang akustika bangunan.

Hentakan drum dalam musik Somewhere To Fall dari Amanda Wilson dan Stephen Cornish membuat saya merefleksikan pikiran bagaimana rumitnya satu gedung pertunjukan dibangun setelah melalui serangkaian proses arsitektural dari perencanaan sampai pelaksanaan. Suara petikan gitar dalam musik mereka membuat saya berpikir tentang batas pendengaran yang dimiliki oleh manusia dari 40 hz (60 desibel sampai 120 desibel) sampai 8000 Hz (30 desibel sampai 80 desibel). Tingkatan bunyi itu juga bisa mencapai kondisi psikis semacam kita akan marah bila terjadi kebisingan di luar hunian kita dan mengganggu anak kita yang masih bayi, misalnya.

Salah satu lagu yang berada dalam album Millennial Whoops (2017) itu membuka ingatan tentang bagaimana energi bunyi diserap oleh dinding hunian sehingga menembus dinding dan disebut reverberation sound, pengaruh pori-pori dinding, material-material dinding yang memantulkan bunyi frekuensi tinggi sampai rendah, ingatan pada WC. Sabine, fisikawan spesialis akustika bangunan yang mengerjakan Hall Boston Simfoni, Amerika Serikat; hingga pemilihan lokasi bangunan dan pengaturan, dan izinkan mengutip Romo Mangunwijaya:

“Tidak sulit dimengerti, bahwa penempatan gedung serta pengaturan halaman sekelilingnya dapat mempengaruhi tingkat gangguan suara. Rumah sakit misalnya tidak baik diletakkan di tepi jalan raya padat lalu lintas dan gedung sekolah pun jangan diletakkan di samping suatu pabrik. Demikian pun ruangan tidur sebaiknya diletakkan di sisi yang tenang. Tetapi tidak selalu kita bisa memilih lokasi penempatan bangunan yang tepat dan bagus dari segi pengamanan terhadap gangguan suara dari jalan raya. Kita dapat cukup tertolong oleh tumbuh-tumbuhan, semak-semak serta pepohonan. Terutama terhadap suara bising berfrekuensi tinggi, dedaunan punya daya penyerap yang bagus. Setiap 1 meter semak atau dedaunan memperbaiki daya penyerapan suara sebesar 0, 1 fon.”

Dari kecil hingga usia yang akan menginjak 33 tahun ini, bisa menikmati suara yang memantul dalam bangunan dengan segala berkah kehidupan yang diberikan oleh Yang Maha Segalanya, ritme musik naik dan turun dalam Somewhere To Fall seperti susunan pigura-pigura yang bersuara: Suara kumandang adzan di Masjid Universitas Negeri Yogyakarta; suara teriakan supporter sepakbola di Stadion Gajayana; suara nasihat guru dari ruang kelas Sekolah Dasar Dharma Wanita Universitas Brawijaya; suara derap langkah para penumpang di Bandara Juanda, Surabaya; suara desahan kenikmatan pasangan yang bercinta di Hotel De Braga (Artotel), Bandung, sampai suara tangis bahagia karena seorang bayi lahir dan suara tangis sedih karena kematian seorang kerabat di Rumah Sakit Umum Fatmawati dan Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Perkenalan dengan AGST (Electro-Pop), Arsitektur Skandinavia, IKEA dan Swedia.

Archdaily

Sesaat sebelum acara bola Liga Indonesia di satu stasiun teve, Indosiar, selalu menampilkan semacam teaser tentang daerah. Kebetulan seri terakhir dihelat di Bali, Pulau Dewata. Ada satu teaser yang menggambarkan tentang keindahan Badung, Bali, disertai dengan sebuah backsound yang cukup membuat saya penasaran.

Untuk musik atau lagu yang tak pernah saya ketahui, saya selalu menggunakan metode: merekam dalam fitur video singkat, kemudian berseluncur ke satu situs identifikasi musik dan tertera siapa penyanyi atau band atau komposernya. Alhasil, saya berkenalan dengan AGST.

Saya memutar musik Breaths milik AGST dalam youtube sembari mencari rekam jejaknya. Saya kesulitan mencari sepak terjangnya di dunia musik. Namun, dalam satu situs, dalam epidemic sound dijelaskan bahwa AGST bermukim di Stockholm, Swedia, yang diproduseri oleh seorang musisi August Backman. August sendiri terinspirasi oleh kakeknya, seorang pianis jazz. August yang terampil pada usia dini dan bereksperimen dengan modulasi dan dengan pendekatan belajar sambil bekerja, ia mengembangkan ketrampilannya berbekal komputer dan memproduksi musiknya dan gayanya sendiri.

Saya tak cukup tahu tentang Swedia. Hal-hal yang saya tahu tentang Swedia hanya seputar: Zlatan Ibrahimovic, band punk hardcore Refused dan skena Umea Hardcore, brand outdoor Fjallraven, dan tentu saja inspirasi terbesar saya dalam desain dan arsitektur, Ingvar Kamprad dan IKEA.

Sedikit penjelasan soal August Backman tentang inpirasinya, tentang usia dini dan eksperimen dengan modulasi dan dengan pendekatan belajar sambil bekerja untuk menciptakan musiknya dan gayanya sendiri, serupa dengan yang dialami oleh Ingvar Kamprad, yang bekerja sejak umur 5 tahun—usia yang mana seharusnya anak kecil masih dalam dekapan hangat orang tuanya—dengan menjadi pedagang korek api dan menciptakan furnitur kecil yang cocok bagi ruang kecil seperti apartemen, dan sistem serta strategi bisnis yang Kamprad bikin untuk IKEA.

Musik Breaths dari AGST masih memenuhi kamar saya. Satu musik yang akan mengingatkan saya tentang fungsi konsep fungsionalisme yang diperkenalkan oleh dua arsitek di Stockholm, Swedia, pada pameran tahun 1930 beserta gaya skandinavia dan material kayu yang khas dengan alam atau memasukkan unsur alam ke dalam hunian. Dan, satu musik yang beberapa hari ke depan menjadi kawan baru untuk merefleksikan masa lalu, memperjuangkan masa sekarang dan mengharapkan hal-hal baik meski akan bertarung dengan kenyataan yang tak sesuai di masa depan.

SERI FTV RCTI: Kisah Orang Kaya yang Menyamar dan Ibnu Atha’illah as-Sakandari.

Tak pernah terlintas olehku / Meninggalkanmu, melihatmu sendiri – Terus Bersamamu, Fuse.

Sebagai generasi sandwich Indonesia, yang tak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga orang tua, calon istri, calon anak, dan bahkan sahabat atau kawan, dan akan menginjak usia 33 tahun, isi kepala saya yang dipenuhi dengan tarikan ketegangan duniawi (kehidupan) dan non-duniawi (kematian).

Untuk mengistirahatkan ketegangan tersebut, saya melakukan aktivitas baru yang selama di usia 20-an tak pernah saya lakukan salah satunya adalah menonton film televisi saat akan tidur. Saya tak terlalu memikirkan anggapan bahwa film televisi yang berisi percintaan hanyalah kumpulan kisah menye-menye. Happy ending di film televisi adalah tujuan utama saya menonton percintaan menye-menye untuk menjaga spirit atas kehidupan dan setelah satu-satu kenyataan pahit tentang pelbagai banyaknya kehilangan atas orang yang kita cintai.

Dua film televisi yang saya tonton menjelang tidur adalah ‘Tere Kapok Tebar Cinta‘ dan ‘Cinta Not For Sale‘. ‘Tere Kapok Tebar Cinta’ diperankan oleh Astrid Tiar dan Ryan Delon. Film ini bercerita tentang seorang playgirl yang gonta-ganti lelaki dan akhirnya disadarkan oleh seorang lelaki dari keluarga pengusaha yang bekerja menjadi seorang sopir taksi. Sementara itu, ftv ‘Cinta Not For Sale’ diperankan oleh Reza Rahadian dan Laura Basuki. Film ini bercerita tentang seorang cewek matre yang akhirnya jatuh ke pelukan cinta seorang lelaki dari keluarga pengusaha yang bekerja sebagai pelayan restoran. Garis besar dua ftv ini memiliki kesamaan dan entah kenapa saya teringat oleh salah satu tokoh muslim dalam satu cerita pendek yang dibuat oleh Gus Mus, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, yang pernah saya baca di usia 25 tahun.

Penulis Kitab Al-Hikam itu punya pemikiran unik. Pertama, tidak dianjurkan kepada para muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka. Dalam hal pandangannya mengenai pakaian, makanan, dan kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah dan mengenal rahmat Illahi. “Meninggalkan dunia yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur. Dan berlebih-lebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezaliman. Manusia sebaiknya menggunakan nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya,” kata Ibnu Atha’illah. Dan selanjutnya, tidak ada halangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimiliknya. Seorang salik boleh mencari harta kekayaan, namun jangan sampai melalaikan-Nya dan jangan sampai menjadi hamba dunia. Seorang salik, kata Atha’illah, tidak bersedih ketika kehilangan harta benda dan tidak dimabuk kesenangan ketika mendapatkan harta.

Seusai menonton dua film percintaan menye-menye tersebut, saya, seorang generasi sandwich Indonesia yang akan menginjak usia 33 tahun yang jauh dari kata relijius, tersenyum masih diberikan ingatan kuat tentang mengingat Ibnu Atha’illah as-Sakandari oleh Tuhan Yang Maha Segalanya. Saya pun berdoa, kemudian beristirahat dan bersiap me-rileks-kan isi kepala saya yang dipenuhi dengan tarikan ketegangan duniawi (kehidupan) dan non-duniawi (kematian).

Unstoppable: Sia, Iklan Samsung, Konstruksi Lirik dan Impian.

Beberapa menit setelah laga sepakbola Liga Indonesia antara Arema Malang versus Persiraja Banda Aceh yang berakhir dengan hasil imbang, dan sungguh mengecewakan melihat permainan Arema kali ini, saya memindahkan channel teve ke satu stasiun dan terhidang satu iklan yang menarik perhatian saya sejak beberapa hari lalu. Iklan itu dari Samsung, perusahaan elektronik multinasional dari Korea Selatan, dengan lagu yang memukau.

“…Unstoppable today // I’m so powerful // Unstoppable today…”

Kemudian saya merekam dalam fitur video singkat dalam ponsel saya tersebut dan saya menuju ke salah satu web untuk mengidentifikasi lagu atau musik yang tak kita tahu. Pada web identifikasi tersebut, kemudian terlacak bahwa lagu itu milik penyanyi Australia yang berusia 46 tahun, Sia, yang berjudul Unstoppable (Album This is Acting, 2016). Seusai mengetahui lagu tersebut, saya berselancar ke Google untuk mencari lirik lagunya sembari mendengarkan lagu tersebut dari Youtube.

Suara Sia berpadu dengan kedua mata saya saat melihat konstruksi lirik lagu tersebut. Lantas, saya terkejut. Dalam pikiran saya, konstruksi lirik yang terbangun memang sangat techno. Diksi atau pilihan kata dalam lagu tersebut yang saya pilih untuk menggambarkan ‘inilah teknologi’ adalah strong, unstoppable, Porsche, invincible, batteries, play, atau bahkan powerful. Pikiran saya pun terbang jauh dengan memikirkan sembari mencari satu pertanyaan, mengapa pihak Samsung tertarik dengan lagu komersial ini?

Saya masih belum ketemu jawabannya. Hanya saja saya pernah membaca sedikit pemikiran dari seorang international branding strategist dan seorang analis tentang Asia yaitu Martin Roll. Roll dalam pisau tajam analisanya yang bertajuk Asian Brand Strategy: HOW ASIA BUILDS STRONG BRANDS mengatakan:

“Brand yang kuat mampu membantu perusahaan membedakan dirinya dari para pesaingnya,
menonjol dari persaingan, mempengaruhi keputusan pembelian konsumen menguntungkan perusahaan, membangun loyalitas pelanggan dan meningkatkan kinerja keuangan. Strategi Brand Asia mengeksplorasi isu-isu ini dengan fokus pada pasar Asia lingkungan dan upaya untuk membangun Brand Asia…

…Branding di Asia sering keliru disebut sebagai latihan di mana logo perusahaan, gaya desain dan skema warna diubah. Ini sering disertai dengan slogan perusahaan baru, dan semua orang mengharapkan hasil segera. Secara alami, ini adalah elemen penting untuk dipertimbangkan dan berpotensi berubah setelah strategi diputuskan, tetapi pengembangan strategi harus datang dulu. Branding adalah usaha jangka panjang yang serius dan melibatkan lebih banyak keterampilan dan aktivitas daripada sekadar produksi glossy yang memperbarui fasad pemasaran dengan jargon yang tidak berarti…

Saya telah tertarik sejak saat yang menentukan di Jepang. Bekerja dengan branding selama bertahun-tahun, saya akrab dengan banyak brand orang Jepang. Tetapi saya merasa sulit untuk mengenali brand apa pun dari negara Asia lainnya. Pengamatan ini telah berlangsung, meskipun diakui lebih banyak brand Asia telah dikembangkan sepanjang tahun 1990-an. Namun Asia hanya mewakili sebagian kecil
dari semua brand kuat di dunia, dan hari ini masih ada yang besar ketidakseimbangan antara Timur dan Barat dalam hal branding. Ini akhirnya membawa saya untuk menulis Strategi Brand Asia.”

Karena saya begitu awam dengan dunia advertising, saya tak mampu melanjutkan pertanyaan saya tentang mengapa Samsung memilih Unstoppable dari Sia. Namun, pesan produk dari Samsung yang dibangun dalam bentuk video melalui lagu Sia begitu kuat dan mengena seperti halnya ketika saya melihat bagunan tinggi di Universitas Brawijaya, Malang, ketika masih Sekolah Dasar yang pada akhirnya menuntun saya untuk menulis motto untuk buku tahunan perpisahan sekolah yang diambil dari iklan baterai yang selalu saya simpan dan buka saat mengalami masa sulit atau sedang berada di keadaan paling bawah untuk tak pernah menyerah: You’ll never say die.

Seri Kehidupan: Natal, Cinta, Pengorbanan & Bahagia, Tuhan, Film Pendek dan Hammock.

15 menit menjelang 25 Desember 2021. Saya menonton teve, tepatnya RCTI, sembari memainkan beberapa media sosial saya. Mata saya melihat ada begitu banyak ledakan informasi di media sosial manapun mulai dari permasalahan hidup, politik kebangsaan hingga hal remeh-temeh. Sebagai generasi milenial kelahiran 1989, saya menikmati masa saya baik di dunia kenyataan ataupun virtual.

Mendadak televisi yang berada di kamar saya menayangkan satu program teve dari RCTI yaitu Konser Spesial Natal 2021 bersama MNC menyita perhatian dan bertepatan terdengar memutar chord lagu dari band Hammock, I Will Become the Ground You Walk On, dari perangkat elektronik yang lain. I Will Become the Ground You Walk On (Aku akan menjadi tanah di mana kamu berjalan di atasnya) adalah lagu yang menurut interpretasi saya sebagai suatu hal tentang pengorbanan.

Pengorbanan itu mendadak hadir dalam dua film pendek yang saya tonton di sela-sela program Konser Spesial Natal 2021 bersama MNC. Film pendek pertama, menceritakan tentang bagaimana Tuhan mengirimkan seorang anak kecil penjual tisyu yang mengorbankan sesuatu untuk menyadarkan seorang perempuan muda Jakarta yang berprofesi sebagai wanita karir arti tentang pengorbanan. Film pendek kedua, tentang seorang ayah yang berdagang sembako dan anak gadisnya yang selalu mengeluh tentang kehidupan yang ‘gini-gini aja’ dan melihat ayahnya selalu berkorban dengan memurahkan harga dagangannya.

*

Film pendek pertama. Seorang anak kecil bernama Bi, penjual tisyu, sedang menjual dagangannya di suatu kantor. Kemudian, keluarlah Ra, seorang perempuan muda Jakarta yang berprofesi sebagai wanita karir yang ke luar kantornya untuk mengangkat telepon. Ketika Ra telpon dengan bosnya, Bi menjual dagangan dan dengan wajah yang ketus, Ra memarahi Bi karena suara menawarkan dagangannya menggangu perempuan muda itu. Scene selanjutnya, Ra melihat Bi dari kejauhan ketika anak kecil itu menyeberangkan jalan seorang nenek.

Scene selanjutnya, Ra akhirnya membeli tisyu agar Bi hilang dihadapannya. Scene selanjutnya, Bi kembali menawarkan tisyu namun Ra bilang bahwa tisyu yang dibeli masih ada dan kemudian Ra pergi dari Bi dan akan menyeberang jalan sambil memainkan ponsel; di pinggir jalan saat akan menyeberangi jalan dengan memainkan ponsel, mendadak sebuah truk akan menabrak Ra, perempuan muda cantik itu; Bi, anak penjual tisyu itu melihat dan segera berlari menyelematkan Ra hingga ponsel Bi untuk belajar sekolah online hancur; saat Bi mengobati Ra dengan tisyu dagangnya, Ra tanya kenapa Bi selalu ada di depan kantornya; dan Bi menjawab bahwa ia tak memiliki kuota internet untuk belajar online makanya ia numpang internetan di depan kantor Ra; dan saat bersamaan itu pula Ra melihat ponsel Bi yang hancur. Lalu anak kecil penjual tisyu itu bernyanyi: Hati yang gembira, Tuhan senang…

Scene selanjutnya, Bi kebingungan karena ponselnya rusak dan tak bisa belajar online. Lalu, Ra muncul dengan satu box ponsel baru dan menyerahkan hadiah itu untuk Bi yang telah menyelamatkannya dari kecelakaan dan mengorbankan ponselnya yang hancur. Ra, perempuan muda itu, berkata bahwa ponsel itu harus untuk belajar sekolahnya Bi dan setiap bulan akan mengisikan kuota internet. Anak penjual tisyu itu pun senang dan Ra menyanyi: Hati yang gembira, Tuhan senang…

*

Film pendek kedua. Ada seorang ayah yang memiliki toko sembako dan didampingi oleh seorang puterinya yang cantik. Kemudian ada seorang pembeli, ayahnya mematok harga 25 ribu, pembelinya mengeluarkan uang 100 ribu, namun sang ayah tak punya kembalian karena baru buka, lalu pembeli itu bilang ada 20 ribu lain dan sang ayah tak mengapa dibayar 20 ribu meski kurang 5 ribu. Begitupun dengan pembeli yang lain. Dari yang dilakukan sang ayah itulah, si puteri kecilnya yang telah dewasa protes bahwa kalau caranya begini terus maka keluarganya tak akan kaya raya.

Scene selanjutnya, Sang Ayah memahami apa yang dipikiran anaknya dan memegang sebuah roti. Roti itu membuatnya flashback puluhan tahun yang lalu ketika ia juga berdagang sembako dan puterinya masih kecil. Ia ingat bahwa ada seorang anak perempuan kecil lain yang kelaparan dan mencuri roti dan ketahuan oleh puterinya. Sang ayah yang bijak kemudian menyuruh puterinya untuk memberikan roti dagangan mereka berserta air mineral kepada anak perempuan cilik yang mencuri karena kelaparan itu.

Scene selanjutnya, di masa sekarang, datanglah seorang perempuan cantik yang selalu membeli roti dan selalu membayar lebih dan tak ingin uang kembalian. “Kalau ada mbaknya yang setiap hari beli roti dengan uang lebih seperti ini, enak deh…” Dan ketika perempuan cantik pembeli roti telah pergi, sang ayah kemudian pingsan karena sakit dan puterinya teriak meminta tolong. Perempuan cantik pembeli roti mendengar teriakan itu dan menuju ke ayah dan puterinya dan segera membawa si ayah ke rumah sakit.

Scene selanjutnya, di rumah sakit, nyawa si ayah tertolong dan puterinya berterima kasih kepada perempuan cantik pembeli roti. Beberapa minggu kemudian, si ayah telah sehat kembali dan berjualan sembako bersama puterinya. Kemudian, datang kembali perempuan cantik pembeli roti untuk membeli roti. Si anak, puteri penjual sembako, kemudian berkata, “Kakak perempuan ini, lho, Yah, yang menyelamatkan ayah saat pingsan…” Dan si ayah menatap lama seakan pernah melihat perempuan cantik pembeli roti.

Scene selanjutnya, perempuan cantik pembeli roti berkata, “Tak perlu berterima kasih, justru saya yang berterima kasih kepada kalian dulu saat kalian memberikan dua roti dan dua air mineral kepada saya untuk ibu saya yang sedang kelaparan saat itu. Dua bungkus roti itu mengubah kehidupan saya dan ibu saya…” Si Ayah dan puterinya segera teringat kejadian puluhan tahun yang lalu tentang kebaikan kecilnya yang, pada akhirnya, membantu mereka di masa sekarang.

*

Waktu telah memasuki 25 Desember 2021 dini hari yang bertepatan dengan Hari Natal yang tak pernah saya rasakan sebab saya seorang muslim, setengah Muhammadiyah dan setengah Nahdlatul Ulama, walau ‘agak’ sedikit berpandangan liberal. Tuhan seakan berkata melalui I Will Become the Ground You Walk On (Aku akan menjadi tanah di mana kamu berjalan di atasnya) dari Hammock dan dua film pendek natal bahwa, “Akan AKU tunjukkan kepadamu wahai pemuda 32 tahun bagaimana pengorbanan, dalam hal ini kegagalan menikahi dua perempuan yang paling kamu cintai sehingga membuat hidupmu gelap dan berantakan di masa lalu atau bentuk-bentuk kehilangan yang lain, yang sedang bekerja akan memberikan cinta dan kebahagiaan di masa sekarang dan masa depan. Bekerjalah untuk dirimu, untuk keluargamu dan untuk orang lain, semampumu.”

Selamat Natal dan Tahun Baru 2021.

Seri Kehidupan: 1989.

Penulis Inggris yang terkenal, William Shakespeare, punya kutipan bagus yaitu ada bintang yang menari dan dibawahnya aku terlahir. Merefleksikan kelahiran sungguh ajaib ketika semakin dewasa kita terus dihantui tentang bayang-bayang kematian dari orang-orang yang kita cintai. Kelahiran, satu momen dari yang tiada menjadi ada. Menikmati fase balita, anak-anak, remaja bahkan dewasa adalah anugerah tersendiri. Penulis sendiri terlahir pada tahun 1989. Pada satu momen, penulis memikirkan peristiwa apa saja yang terjadi ketika anak-anak kelahiran 1989 dari seluruh dunia sedang memekikkan tangisan ke dunia. Dan kalender pun dibuka:

Pada 15 Januari 1989, tiga puluh lima negara Eropa, bertemu di Wina, setuju untuk memperkuat hak asasi manusia dan meningkatkan perdagangan Timur-Barat. Pada 15 Februari 1989, Uni Soviet mengumumkan bahwa semua pasukannya telah meninggalkan Afghanistan pada Perang Uni Soviet–Afghanistan. Pada 1 Maret 1989, sebuah perjanjian internasional yang bernama Konvensi Berne tentang hak cipta diratifikasi oleh Amerika Serikat. Pada 15 April 1989, salah satu tragedi terbesar di sepak bola Eropa, Tragedi Hillsborough, merenggut nyawa 94 pendukung Liverpool di Sheffield, Inggris. 17 Mei 1989, lebih dari 1.000.000 pengunjuk rasa Tiongkok berbaris menuntut demokrasi yang lebih besar pada peristiwa Tiananmen Square protests di Beijing. 3 Juni 1989, Pemimpin Iran Ayatollah Khomeini meninggal pada usia 89 tahun di Teheran, Iran.

Peristiwa dalam kalender 1989 pun diperpanjang. 19 Juli 1989, Taman nasional pertama di Belanda didirikan di Schiermonnikoog. 24 Agustus 1989, jaringan televisi swasta pertama di Indonesia dan stasiun televisi kedua nasional, RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) didirikan dan mulai mengudara secara nasional. 23 September 1989, Perusahaan Nintendo merayakan hari jadinya yang ke-100. 7 Oktober 1989, demonstrasi massal pertama menentang rezim Komunis dimulai di Plauen, Jerman Timur, awal dari serangkaian demonstrasi massa yang pada akhirnya mengarah pada reunifikasi Jerman pada tahun 1990. 16 November 1989, toko kosmetik Amerika Serikat pertama di Uni Soviet, outlet Estée Lauder, dibuka di Moskow. 17 Desember 1989, The Simpsons menayangkan episode pertamanya di jaringan FOX.

Bagi penulis sendiri, 1989 bukanlah angka spesial melainkan sebuah tanda mula serta refleksi akan rasa syukur kepada Tuhan ketika diberikan kehidupan. Seperti halnya orang kelahiran 1965 memikirkan tahun 1965, seperti orang kelahiran 1974 memikirkan tahun 1974, seperti orang kelahiran 1981 memikirkan tahun 1981, atau bahkan seperti orang kelahiran 1998 memikirkan tahun 1998. Jika penulis diizinkan meloncat ke wilayah lain seperti wilayah musik yang mana pada tahun 1989 ketika Beastie Boys mengeluarkan Paul Boutique dan ketika Stones Roses mengeluarkan album The Stones Roses, maka pada satu momen yang bersamaan di tahun itu terlahirlah seorang bayi cantik yang nantinya dikenal dengan nama Taylor Swift yang puluhan tahun kemudian mengeluarkan album yang bertajuk sesuai tahun kelahirannya, 1989, dan dipengaruhi musisi yang hits pada akhir dekade 80-an.

Generasi kelahiran 1989 kini ada yang telah menjadi ibu, menjadi ayah, menjadi seorang CEO, menjadi seorang juru parkir, menjadi pengurus partai politik, menjadi seorang narapidana, menjadi pemuka agama, dan lain sebagainya. Generasi kelahiran 1989 kini ada yang bahagia ketika buah kerja kerasnya tercapai, ada yang menangis karena perceraian rumah tangga, ada yang tertawa ketika bertemu kawan lama puluhan tahun lalu, ada yang tersenyum ketika ia telah menemukan satu langkah kepastian untuk masa depan, ada yang bermuka masam ketika ia dari yang berpunya kemudian takdir mengubahnya menjadi yang tak punya, dan segala macam ekspresi ihwal kehidupan.

Michael Elliott di Time punya paragraf menarik: Sejarawan, memilih apa yang telah terjadi sebelumnya, merevisi penilaian masa lalu, akan memberi tahu Anda bahwa pemahaman kita tentang masa lalu tidak pernah final. Apa yang dianggap sebagai peristiwa yang mengubah dunia redup menjadi topik Ph.D. tesis; apa yang tampaknya menjadi cerita kecil ternyata menjadi cerita yang membentuk masa depan. Semua adalah relatif.