Frame by Frame : Drama Korea Descendants of The Sun, episode 2 dan 3 (2016).

Setiap orang selalu kagum pada kisah orang lain, di luar dirinya, dan hal itu wajar. Namun, ada seseorang yang mengatakan kepada saya bahwa pengalaman sendiri juga perlu diberi ruang, di dalam dirinya. Porsinya: 50 persen pengalaman pribadi dan 50 persen pengalaman orang lain.

Bayangkan bila seluruh hidup anda disibukkan mengurusi diri sendiri tanpa melihat di sekeliling anda. Bayangkan bila seluruh hidup anda disibukkan mengurusi orang lain tanpa tahu apa yang sebenarnya anda butuhkan. Mencari keseimbangan tak bisa dibangun dalam semalam, bukan begitu, Kapten Yo Si Jin dan Dokter Kang Mo-yeon.

Begitu pun dengan pengalaman menonton drakor ini antara pengalaman menonton sendiri dan pengalaman menonton dari orang lain. Pengambilan sudut pandang terhadap drakor ini dari seorang ustad, tukang besi, pengacara, pekerja seks komersial, pemain golf, et cetera, akan sangat berbeda.

Pengalaman pribadi menonton pertama kali adalah tentang cinta yang dikonstruksi oleh seorang tentara dan seorang dokter, pengalaman pribadi menonton kedua kali adalah perihal dunia militer dan dunia kedokteran dan sekarang pengalaman pribadi menonton ketiga kali adalah tentang setting.

Tak mudah bagi saya untuk menyelesaikan drakor ini dalam waktu singkat karena banyaknya aktivitas dan menonton film/drakor bukan prioritas utama. Namun, saya bersyukur masih memiliki sedikit waktu luang untuk menonton lagi. Begitulah. 🙂

Always – Yoon Mi-Rae

Frame by Frame : Drama Korea Descendants of The Sun, episode 1 dan 2 (2016).

Saya menonton drama tentang percintaan dua dunia, dunia militer dan dunia kedokteran, untuk kali ketiga.

Yang membuat saya tertarik pertama kali adalah sebuah pertanyaan: apakah cinta harus selalu ditampilkan dalam wajah ‘kesamaan’ dalam profesi pekerjaan? Jika begitu, Kapten Yoo Si-jin, Seorang Tentara Khusus dari Angkatan Darat Korea Selatan, tak akan pernah bisa berjuang mendapatkan cinta Kang Mo-yeon, Seorang Dokter Bedah.

Yang membuat saya tertarik kedua kali adalah ingatan tentang suatu gempa, di wilayah konflik di luar Korea Selatan, yang merobohkan satu proyek konstruksi dan memendam beberapa pekerja dan Sersan Mayor Seo Dae-young, asisten dan sahabat Kapten Yoo Si-jin, mengatakan satu kata kunci: gaya berat. Dari sanalah saya ingat bahwa kemiliteran juga memiliki ilmu konstruksinya yang mungkin sedikit berbeda dengan Teknik Sipil di universitas: Teknik Sipil Pertahanan.

Ketika saya menonton drama tentang percintaan dua dunia, dunia militer dan dunia kedokteran, untuk kali ketiga ini, saya teringat petikan dari Jean Nouvel, “Architecture exists, like cinema, in the dimension of time and movement.”

Seri Kehidupan : Metro TV, 15 Minutes dan Slow Living dan Jam Kerja Urban.

Di penghujung Agustus 2021 ini dan akan menyambut awal September 2021 ini, hal-hal kecil yang membuat gairah pada produktivitas diri, khususnya di masa sulit seperti pandemi ini, tetap terjaga. Di usia 32, usia yang bisa disebut tak muda lagi dan tak terlalu tua juga, membuat saya harus belajar banyak dari apa yang saya dengar, apa yang saya rasakan dan apa yang saya lihat.

Untuk poin terakhir, apa yang saya lihat, pada pukul 3 dini hari tadi saya melihat program teve favorit saya di Metro TV, 15 Minutes. Program teve itu menampilkan antitesis dari kehidupan yang super duper cepat di kota besar dan bagaimana terbentuknya budaya 8 jam kerja.

Atas nama pengalaman pribadi, untuk 15 Minutes yang pertama bertemakan Slow Living, saya pernah membaca roman dari Tolstoy yaitu Anna Karenina yang mana tokoh utama Pangeran Levin dan Pangeran Puteri Kitty memilih untuk tinggal di desa setelah menikah dan merasakan hingar bingar kota besar seperti yang dilakukan oleh narasumber Slow Living, Ibu Ukke Kosasih yang meninggalkan keramaian Jakarta untuk hidup di Lembang.

Mungkin itu juga yang saya rasakan ketika saya kembali ke kota kecil yang dikelilingi oleh gunung yang sangat saya cintai, Kota Malang dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dari perantauan saat umur 25. Bila dibandingkan dengan gerak hidup yang cepat a la Surabaya dan Jakarta, Malang begitu sangat lambat. Dalam arti, orang kantoran di Malang tak harus berangkat subuh untuk menghindari kemacetan dan pulang larut malam. Begitu lambat.

Di Malang, tak ada orang yang tergopoh-gopoh di KRL di kejar waktu. Meskipun demikian, sesantainya Malang harus berkawan dengan minimnya upah bila dibandingkan Jakarta dan Surabaya. Jika diijinkan meloncat ke benua biru, khususnya Prancis, bagaimana Para Parisian atau orang Paris setiap hari dihajar mobilitas tinggi yang pada akhirnya melambat di suasana santai pegunungan di Kota Grenoble, dekat Kota Lyon. Lagi, lagi, kehidupan begitu lambat.

Untuk 15 Minutes yang kedua membahas tentang kerja 8 jam di dunia modern yang serba efektif dan cepat. Ingatan saya terus memutar apa yang dikatakan oleh narasumber pertama, Prof. Rhenald Kasali yang memegang smartphone dan, seingat saya dan bisa salah, mengatakan bahwa smartphone lebih fleksibel dibandingkan laptop untuk kerja hari ini. Kemudian, cerita bergulir bagaimana Revolusi Industri dan Ford-lah yang pertama kali menggunakan 8 jam kerja perusahaan untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dan kemudian diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain. Itulah yang mana nantinya menjadi beban stres.

Kini, dengan kecanggihan dan kecepatan teknologi, pekerjaan bisa dilakukan di mana saja, termasuk di rumah. Perkembangan teknologi juga menyeret pada transisi menghilangnya budaya kerja 8 jam. Beberapa data ditampilkan bahwa Korea Selatan, Indonesia bahkan Amerika Serikat masih menggunakan 8 jam kerja sementara negara seperti Kanada, Prancis, atau Jepang, hanya menerapkan 4 hari kerja untuk mendapatkan worklife balance.

Ada korelasi antara 15 Minutes yang pertama dengan 15 Minutes yang kedua yaitu tentang bagaimana sesuatu yang bergerak cepat pada akhirnya akan melambat dan memaknai bagaimana memakai suatu kecepatan yang sesuai dan terukur sehingga memunculkan keseimbangan takaran: Ada saatnya kita bergerak dengan cepat, ada saatnya kita harus melambat; kapan kita harus bergerak cepat dan kapan kita harus melambatkan diri; seperti membayangkan cepatnya kita berada di penghujung Agustus 2021 ini dan akan membayangkan betapa lambatnya di awal September 2021 ini.

Seri Musik: Menemukan (Kebaikan) alunan Altitude Music dari Bu Ningsih dan NET TV.

Beberapa menit lalu, saya melihat satu program teve tentang hal spiritual atau metafisika. Program itu dinamai Jalan Kesembuhan dengan sosok Bu Ningsih dari Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, di satu stasiun televisi swasta yaitu NET TV. Program acara tersebut adalah program tentang bagimana sosok Bu Ningsih menyembuhkan penyakit-penyakit hati yang dikirim oleh dukun dengan memainkan peran jin dan setan.

Pemahaman saya tentang soal ghaib atau metafisika hanya secuil. Meskipun demikian saya percaya pada hal-hal irasional, metafisika atau ghaib, seperti kyai saya di pondok saat saya telah dipondokkan pada umur 6 tahun tentang kepercayaan pada hal di luar nalar. Saya tak bisa menjadi seperti beberapa kawan saya yang atheis di Prancis yang tak percaya hantu saking rasionalnya namun saya menghargai pilihan mereka.

Beberapa menit lalu, saya melihat Bu Ningsih sedang mengobati seorang pasien yang diserang setan atau jin melalui dukun. Rupa-rupanya, ada seseorang yang tak senang dengan pasien tersebut kemudian pergi ke dukun dan membayarnya untuk melukai mental atau bagian interior pasien tersebut. Satu hal dari kebudayaan nusantara yang tak saya sukai, ilmu hitam dan perdukunan.

Bacalah lantunan kebaikan Ayat Kursi 7 kali, Al-Ikhlas 3 kali, An-Naas 3 kali, Al-Falaq 3 kali, Al-Fatihah, dan khususon illa ruhi wa jazati (nama lengkap yang terkena santet) bin/binti (nama ayah) dan kemudian ditiupkan ke air minum sebanyak 3 kali. Demikian seorang kyai tua mengajari saya cara menangkal sementara (bukan menghilangkan santet) bagi orang yang terkena ilmu hitam. Segalanya berasal dari penyakit hati: Dari persaingan bisnis, penolakan cinta, dendam, bahkan berurusan dengan pangkat jabatan birokrasi pemerintahan hingga pemilihan umum presiden. Wallahu a’lam.

Beberapa menit lalu, saya melihat Bu Ningsih sedang mengobati (lagi) seorang pasien yang diserang setan atau jin melalui dukun. Saat beliau sedang mengobati pasiennya, kemudian terdengar lantunan backsound yang merdu dan tenteram seperti lantunan kebaikan di semua kitab suci.

Saya, kemudian, merekam dalam video singkat dan saya membuka satu software/aplikasi untuk mengidentifikasi musik. Melalui software/aplikasi itu tertera nama: Glacial Setting dari Altitude Music. Saya, kemudian, mencari tahu tentang Altitude Music. Mereka adalah katalog produksi musik independen, rumah label anak perusahaan pemenang penghargaan Must Save Jane; ‘musik untuk iklan film’, dan scoring film. Saya mendengar satu kebaikan yang memberikan kedamaian ketika track Glacial Setting dari Altitude Music terdengar dan bertepatan ketika pasien Bu Ningsih dengan keadaan damai terbebas dari belenggu ilmu hitam yang digunakan untuk kejahatan.

Bila anda/kamu sedang marah atau jenuh, cobalah mendengarkan Glacial Setting, Better Days, I’ll be home dari Altitude Music. Rasakan! Menakjubkan.

Seri Arsitektur: Para Minimalis Penganut Cara Hidup Minimalisme.

Saya pernah mendapatkan satu informasi tentang Hoarding Disorder saat saya sedang mencari artikel tentang hunian. Pengertian Hoarding Disorder adalah kondisi di mana seseorang hobi menimbun benda-benda yang sebenarnya tidak diperlukan. Kata ‘menimbun’ pada Hoarding Disorder berbeda dengan kata ‘mengoleksi’ atau ‘menata rapi’ benda-benda yang ada disekeliling kita baik di rumah atau lingkungan yang lebih luas seperti tempat kerja. Cara bagaimana kita memperlakukan barang juga bisa memperlihatkan bagaimana pikiran kita.

Tumpukan baju, tumpukan koran atau bahkan tumpukan sampah yang tak dikelola dengan baik bisa memunculkan kondisi yang tak sedap dipandang mata. Visual timbunan itu pun bahkan bisa menyerang mood kita yang tadinya bergairah menjadi tak bergairah.

Subuh tadi, saya menonton satu program di Metro TV yang mengulas tentang pelaku gaya hidup minimalisme. Tak hanya bicara tentang gaya hunian tapi juga sampai gaya (dan cara) hidup. Menurut pengertian si narasumber, gaya hidup minimalisme adalah bagaimana meminimalisir benda-benda di sekitar kita sesuai dengan kebutuhan kita. Lalu, narasumber juga dipengaruhi oleh Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus (The Minimalists ). Dalam pengertian singkat yang saya dapatkan melalui situs The Minimalists, minimalisme adalah alat yang dapat membantu kita dalam menemukan kebebasan. Kebebasan dari rasa takut. Kebebasan dari kekhawatiran. Kebebasan dari keterpurukan. Kebebasan dari rasa bersalah. Kebebasan dari depresi. Kebebasan dari jebakan budaya konsumen yang telah kita bangun dalam kehidupan kita. Kebebasan nyata.

Kemudian saat saya menonton 2 narasumber tersebut, satu narasumber sedang memilah kemudian memilih pakaiannya dan kemudian mendonasikannya. Dalam penangkapan saya kepada si minimalis ini adalah dalam rutinitas kita hanya memakai, misal, 20 pakaian dari 50 pakaian yang kita punya, namun kita menyimpan dan tak menggunakan pakaian sisanya sehingga 30 pakaian itu memakan ruang yang seharusnya bisa digunakan kebutuhan lain. Lalu, contoh lain para minimalis adalah Steve Jobs, Mark Zuckerberg bahkan Raditya Dika.

Di luar gaya hidup minimalisme dan masuk ke desain minimalisme, itu sangat dipengaruhi dari kebudayaan Arsitektur Jepang yang kemudian tersebar dan diadopsi ke berbagai belahan dunia. Rushika H.P dalam Lessons From Traditional Japanese Architecture You Need To Learn mengatakan bahwa Arsitektur Jepang adalah lambang minimalis dan keanggunan dalam desain. Kecintaan mereka pada kesederhanaan dan alam tercermin dalam garis-garis yang bersih dan aura rumah tradisional Jepang yang ringan dan lapang. Ada wawasan berharga yang bisa didapat dari teknik dan konsep yang dimainkan di sini.

Kemudian dia melanjutkan bahwa dalam masyarakat konsumen saat ini, kita semua cenderung mengumpulkan banyak harta yang tidak perlu; beberapa memegang nilai emosional, yang lain kita lihat sebagai perwakilan dari status kita dalam masyarakat, sementara sebenarnya, sebagian besar tidak memiliki arti penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang Jepang menahan diri untuk tidak melengkapi rumah mereka dengan kemewahan dan lebih memilih yang sederhana – meja rendah, beberapa bantal lutut, dan futon. Mereka tidak membutuhkan kilauan ornamen emas untuk meningkatkan kualitas ruang, rumah mereka dihiasi dengan cahaya alami yang berlimpah, bahan-bahan alami yang menenangkan, dan hubungan yang tak terbantahkan dengan lingkungan alaminya.

Di kota-kota besar dengan pilihan benda yang semakin banyak yang berbanding terbalik dengan lahan sempit yang ada, gaya serta cara hidup minimalisme adalah suatu solusi tentang kesederhanaan yang begitu elegan. Mengurangi barang untuk menciptakan ruang seluas-luasnya, demikianlah sepintas narator program acara tersebut berkata.

Seri Sepakbola (Euro 2020): Pemikiran Reflektif, Penantian-Pembuktian Benzema, Deschamps dan Prancis.

Setelah gol-nya dianulir pada laga melawan Jerman di Grup F pada Piala Eropa 2020, Benzema membuktikan bahwa dirinya layak untuk menjadi mesin gol Prancis setelah menanti cukup lama. Pada laga terakhir fase grup F di helatan Piala Eropa 2020, dua gol-nya pada menit 45+2 di babak pertama melalui pinalti dan menit 47 di babak kedua setelah mendapatkan asis dari Pogba ke gawang Portugal adalah jawaban untuk Deschamps, pelatih Prancis, dan negara sekuler itu, bahwa ia telah berubah. Makin tua makin jadi, kata pepatah.

Penyerang keturunan Aljazair kelahiran 1987 yang pernah mendapatkan kasus kontroversial dan rasial yang tak bisa diterima Deschamps membuatnya harus kehilangan tempat di skuad Prancis dan momentum untuk merasakan dua helatan akbar Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018. Di masa-masa tak dipanggilnya ia di skuad ayam jantan, ia pun memperbaiki dirinya—dengan tempaan Zinedine Zidane—dalam penantian untuk mendapatkan perhatian Deschamps dengan catatan apik di level klub baik dari torehan gol maupun gelar juara bersama Real Madrid, seperti seorang anak nakal yang kemudian melakukan instropeksi diri.

Kami (Benzema dan Deschamps) berbicara, kata Benzema dalam FranceFootball, dan kemudian melanjutkan, berbicara tentang sepakbola dan berbicara untuk waktu yang lama, itu berjalan dengan sangat baik, kami memiliki diskusi yang baik antar pria. Yang paling penting adalah saya berada di tim, saya sangat senang berada di sini, itulah yang penting bagi saya. […] Kami membicarakan banyak hal, banyak hal. Saya di sini bukan untuk mengulang diskusi, itu diskusi pribadi. Yang paling penting adalah saya bisa bermain untuk tim Prancis lagi.

Pernyataan Benzema di atas seperti mengingatkan pada istilah berpikir reflektif. Itu adalah bagian dari proses berpikir kritis terhadap proses analisis dan pemahaman penilaian tentang suatu hal yang telah terjadi. Pemikiran reflektif menurut Dewey adalah suatu pemikiran dengan pertimbangan yang aktif, gigih, dan hati-hati. Tentang bagaimana menilai apa yang mereka ketahui, apa yang perlu mereka ketahui, dan bagaimana mereka menjembatani kesenjangan tersebut selama situasi pembelajaran.

Ada tekanan di sekitar saya, kata Benzema seusai laga melawan Portugal seperti yang dilansir sport.fr, dan melanjutkan, seperti yang saya katakan setiap kali, Anda tidak boleh menyerah, dan selalu memiliki tujuan dalam hidup. Inilah yang saya coba lakukan. Saya tersenyum hari ini, itu bagus. Tapi yang paling penting adalah kami memenuhi syarat. Saya tidak ragu, tetapi saya dapat merasakan harapan seperti itu setelah lima hingga enam tahun menanti. Saya berhasil mencetak gol dan saya akan menikmatinya bersama semua orang.

Benzema dan kesadaran akan pengetahuannya, asumsinya, dan pengalaman masa lalunya memberikan proses dinamis yang terus berkembang dan merespons pengalaman, situasi, peristiwa, atau informasi baru yang telah ia dapatkan. Ia pun menafsirkan dan mengevaluasi pengalamannya, menciptakan maknanya sendiri.

Di babak 16 besar Piala Eropa nanti, Prancis akan bertemu dengan Swiss, mampukah keturunan Aljazair yang dibesarkan di sub-urban, daerah pinggiran, Kota Lyon itu membuktikan bahwa pembelajaran selama penantiannya di tim akan membuahkan gol dan mengantarkan Prancis melenggangkan langkah sampai ke tahapan menjadi juara Piala Eropa 2020? Allez-y, Monsieur Karim Mostafa Benzema.

Pict: Actufoot.

FTV Dalimun Terjebak Cinta: Dali-Roro, Kasta Jawa, Jodoh hingga Kematian.

Kemarin dini hari, 21 Mei 2021, saya melihat tayangan ulang satu film di SCTV dan para penonton sering menyebut dengan FTV. Paska hari raya, saya mulai kegandrungan melihat film-film lama itu. Kemudian, saya mengambil satu kesimpulan awal bahwa FTV yang kerap dinilai rendah (baca: menye-menye) memiliki ending yang bahagia.

Sebahagia Dalimun/Dali (Ramon Y Tungka) ketika mengenalkan jodohnya, Roro (Agni Pratistha), yang baru dikenalnya selama seminggu paska ikatan janji pada Ibunda Roro dan Ibunda Dali yang sebenarnya memiliki satu calon bagi anak bungsunya. Dalam film FTV Dalimun Terjebak Cinta itu, karakter Dali digambarkan sebagai anak bungsu dari kalangan keluarga menengah-atas di Yogyakarta yang memiliki pabrik batik, slengean, sentimen meledak-ledak, apa adanya, dan pekerjaannya mencari barang antik; Karakter Roro, seorang mahasiswi di Yogyakarta yang akan wisuda, kalem dan dari kalangan keluarga menengah-bawah.

Cerita bermula ketika Dali bertemu Roro makan bakso di Malioboro. Kegagalan cintanya pada Kartini, membuat Dali memiliki tujuan merusak hubungan orang lain termasuk Roro dan calon tunangannya, Aji. Bak seorang pencopet handal, Dali mengambil ponsel Roro ketika membayar bakso dan membawanya pulang untuk membaca isi ponsel Roro. Konflik pertama yang dibangun dengan suasana kocak terjadi, ketika Aji menelpon Roro dan ternyata yang mengangkat Dali. Aji mengira Roro berselingkuh dan perempuan itu membantahnya.

Di satu scene selanjutnya, pada pagi hari, Ibunda Roro yang sedang sakit akibat leukimia dan akan meninggal menelpon Roro namun ponsel perempuan kalem itu ditangan Dali. Lelaki yang mengendarai mobil Volkswagen lawas itu kemudian mengangkat telpon dan mendengar bahwa Ibunda Roro sedang sakit dan ingin ketemu anak gadisnya. Lalu, Dali bertemu Roro untuk mengembalikan ponselnya dan mengabarkan bahwa Ibunda Roro sedang sekarat. Roro menyuruh Dali bertanggung-jawab untuk menemui Ibunda Roro karena ingin melihat calon suaminya. Sebagai seseorang yang dibesarkan oleh budaya jawa yang kental, Dali merasakan hal irasional seperti karma. Akhirnya, Roro dan Dali menemui Ibunda Roro yang sedang sekarat dan mereka terjebak pada janji bahwa Dali akan menikahi Roro, yang telah putus dengan Aji yang ternyata tukang selingkuh, yang baru saja dikenalnya.

Di satu scene yang lain, Ibunda Dali yang digambarkan sebagai perempuan aristokrat memiliki seorang kawan yang memiliki anak bernama Bella, seorang perempuan dari keluarga kelas menengah-atas di Jakarta yang pindah ke Yogyakarta dan akan dijodohkan dengan Dali. Ibunda Dali dan kawannya merencanakan perjodohan Dali-Bella meski Dali tak suka. Senakal-nakalnya Dali, ia begitu patuh terhadap perintah ibunya dan hal itu dimanfaatkan Bella untuk mendapatkan hati Dali. Sampai pada Dali mengajak Bella ke rumah Roro di kota lain di Jawa Tengah. Di sana, Bella mengklaim bahwa dia adalah tunangan Dali yang direstui Ibunda Dali dan itu membuat hati Roro tersakiti.

Masuk ke ending, di satu scene lain, Dali pergi kembali ke rumah Roro untuk membawa Roro dikenalkan ke ibunya dan pergi sejenak ke satu hamparan padang pasir. Sementara, Bella dan Ibunda Dali menyusul ke rumah Roro. Di scene itu, Bella akhirnya paham bahwa cinta tak bisa dipaksa dan ia melihat Dali-Roro sedang bermain dengan bahagia dan dia tak ingin merusak kebahagiaan mereka. Kemudian, Dali dan Roro kembali ke Yogya untuk menemui ibunda Dali dan akhirnya merestui hubungan mereka meski mereka hanya kenal dalam waktu seminggu.

Dari konflik-konflik Dali, ia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak mengenakkan namun harus dilakukan. Pertama, Dali yang percaya pada hal sakral, janji pada orang yang telah mati, menempatkan dirinya pada posisi sulit untuk menikahi Roro yang baru saja dikenalnya dengan waktu yang singkat. Yakin, hanya itu yang Dali punya. Kedua, Dali yang patuh pada ibunya, diharuskan mengikuti aturan atau etika Jawa yang sangat mengikat tentang kasta keluarga dan perjodohan pada Bella yang juga baru dikenalnya. Dali dihadapkan pada posisi atau situasi dengan tak mengenal istilah: pe-de-ka-te. Satu hal yang akan sangat aneh bagi ukuran anak muda di era sorak-sorai bitcoin ini. Dali terikat pada konsepsi atau siklus kehidupan Jawa yaitu Metu (Lahir), Manten (Menikah) dan Mati dan dalam catatan yang lain Metu-Manten-Mati juga terdapat pada Kitab Kuning.

Tokoh Kusno, kawan Dali mengatakan dengan cukup bijak. “Kamu harus menghadapi masalah seperti ini supaya jodoh kamu jelas.”

Seri Arsitektur: Masjid Nasir al-Mulk (Iran).

Ketertarikan saya terhadap Iran telah tumbuh saat mengenal ‘Persia’, satu wilayah Non-Arab, dalam sejarah Islam. Banyak ilmuwan Islam dari Persia yang menyita perhatian saya seperti Jabir Ibnu Hayyan (Kimia/Astronomi/Astrologi), Al-Khawarizimi (Matematika), dan legenda kedokteran, Ibnu Sina. Saya membatasi pengetahuan perdebatan doktrin mazhab Sunni-Syiah atau Politik Islam yang bukan bidang saya meski sedikit tahu. Mumet, rek. 😀

Iran atau Persia tak hanya jago soal ilmu alam tapi juga berkaitan dengan arsitekturnya. Cobalah meluangkan waktu sedikit untuk berselancar ke Google dan mengetik Arsitektur Iran dan kita akan terpana melihat bagaimana pola geometri tersusun rapi di dinding masjid lama khususnya Masjid Nasir al-Mulk, sebagaimana kita terpana melihat pola relief yang tersusun pada Candi Borobudur, misal.

Masjid Nasir al-Mulk atau Masjid Pink ini memiliki keindahan tentang keagungan yang nampak pada permainan material kaca, keramik yang dilukis dan ditempatkan di atap dan permainan permadani. Atlas Obscura mengandaikan kita seperti melihat bintang-bintang melalui kaleidoskop, satu alat optik. Catatan lain mengatakan bahwa Ali Nasir al-Molk, salah satu bangsawan Iran menyuruh desainer cum arsitek, Mohammad Hasan-e-Memār.

Permainan fasad, wajah bangunan, dari masjid yang dibangun oleh Dinasti Qajar pada 1876-1888 (12 tahun) ini punya gaya lengkungan arabesque dan menonjolkan permainan cahaya yang ditampilkan oleh material kaca patri. Dan banyak yang menyarankan bahwa waktu terbaik berkunjung untuk wisata adalah pagi hari saat matahari memantulkan pola kaca patri ke lantai. Sangat cantik.

Foto: Atlas Obscura.

Seri Arsitektur: Dari Romo Heuken Hingga Tiga Peneliti Prancis dan Impian pada Arsitektur Islam.

Secara personal, setiap rumah ibadah dari semua agama selalu menarik untuk diulas. Selain karena latar belakang saya di Teknik Sipil dan impian saya untuk menjadi seorang arsitek sejak kecil yang akhirnya telah keturutan dan masih kurangnya pengetahuan perihal agama membuat saya selalu tertarik dengan rumah yang nyaman dan tenang untuk berkeluh-kesah tentang segala kekhawatiran duniawi kepada Cinta-yang-melampaui-cinta (baca: Tuhan) dan salah satunya adalah masjid.

Satu impian yang belum saya tuntaskan adalah membuat literatur tentang Arsitektur Islam seperti yang pernah dikerjakan oleh Romo Adolf Heuken di bukunya Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta (Yayasan Cipta Loka Caraka, 2003). Di buku tersebut, Romo Heuken, Sejarawan Jerman yang mencintai Indonesia itu, memakai sudut pandang sejarah dan saya ingin mengkombinasikan kacamata sejarah-nya dengan bidang saya yaitu teknik.

Untuk teknik, tentang bagaimana material masjid saat dibangun, tentang bagaimana gaya yang dianut, bahkan hingga wilayah seperti pencahayaan, sirkulasi udara, atau bahkan akustik bangunan. Namun saya tahu bahwa itu perlu data–serta waktu–yang cukup banyak. Selain itu, tridente dari Prancis yaitu Denys Lombard, Pierre Labrousse, Christian Pelras dari Archipel Prancis-Indonesia, juga turut menjaga asa ketertarikan saya pada Arsitektur Islam.

Dari Masjid Agung Paris dan Strasbourg di Prancis, Masjid Ferhadija di Bosnia-Herzegovina, Masjid Dzhumaya di Bulgaria, Masjid Et’hem Bey di Albania, Masjid Ketchaoua di Aljazair, King Fahd Islamic Cultural Center di Argentina, Auburn Gallipoli di Australia, Vienna Islamic Centre di Austria, Bibi-Heybet di Azerbeijan, Masjid Sixty Dome di Bangladesh, Masjid Dongguan di Tiongkok, Masjid Muhammad Ali di Mesir, Masjid Khadija di Jerman, Masjid Mecca di India, Masjid Blue Mosque di Iran, Masjid Imam Ali di Iraq, Jezzar Pasha di Israel, Masjid Roma di Italia, Masjid Kobe di Jepang, Masjid Nasional di Malaysia, Masjid Sultan di Singapura, Bekas Masjid Cristo de la Luz di Spanyol, Hagia Sophia di Turki, Masjid London Central di Inggris, atau bahkan Masjid Katedral Moskow di Rusia.

Pada akhirnya, Arsitektur Islam melalui masjid-masjid di atas bisa menjadi kolom yang kuat bagi iman saya yang kerapkali naik-turun dan menikmati secara intim dan pribadi hubungan relijius antara Sang Pencipta dan seorang hamba yang daif—atau lemah—sebagai manusia yang terombang-ambing pada kenyataan hidup. Selamat datang Ramadhan 2021. 🙂

Adieu à Dieu, Daniel Dhakidae (Selamat Jalan pada Tuhan, Daniel Dhakidae).

Sebagai anak daerah dari satu kota kecil di Jawa Timur, ketika melangkahkan kaki ke jalanan ibukota dan menembus belantara-belantara intelektual di Kedutaan Besar Prancis; lalu, memegang buku di tangannya dengan ukiran nama Hatta dan Daniel Dhakidae sungguh menambah kepercayaan diri, Pak Daniel. Mencoba belajar mencerna perbedaan lingkungan lama ke lingkungan baru. Seperti yang anda tulis di pengantar Hatta dalam Menggurat Garis-Garis Batas:

“Hal lain adalah ketika Bung Hatta menempatkan dirinya sebagai saksi sejarah, di Eropa maupun Nusantara ini. Pribadi Hatta adalah seorang yang teliti, tidak menerima sesuatu ‘for granted’; semuanya dicerna, termasuk proses menuju suatu peristiwa.”

Selama meninggalkan kota kecilnya, anak daerah itu selalu mengamati peristiwa-peristiwa baru di lingkungan barunya, termasuk menerjemahkan teknik menulis dari seorang Daniel Dhakidae yang sangat terstruktur di pusat dokumentasi koran lama di Jogja.

Harapan besar ketika merasakan panasnya ibukota adalah bertemu dengan anda, Pak Daniel. Berbincang santai tentang dua background keilmuan yang berbeda dan disatukan dalam satu peristiwa. Bicara tentang kombinasi arsitektur dan sosiologi untuk mengurai perbedaan serta persamaan rumah adat nusantara di Indonesia yang berelasi dengan masyarakatnya. Sayangnya, peristiwa itu tak terjadi.

Akhirnya, tak ada yang lebih menyenangkan memposisikan diri sebagai anak daerah dari satu kota kecil di Jawa Timur yang memegang buku di tangannya dengan ukiran nama Hatta dan Daniel Dhakidae di jalanan ibukota. Selamat jalan pada Tuhan, Pak Daniel.

Malang, 6 April 2021.

Pict: https://www.instagram.com/p/CMhGeg7pzZb/