Alam: Budaya Layar.

 

Setelah seminggu tak berkunjung ke Lembaga Indonesia-Prancis, tempat yang terlalu nyaman dan tempat dari beberapa penulis Indonesia yang kini telah mewarnai dunia tulis menulis di Indonesia. Di tempat ini pula, generasi 60-an mengenalnya dengan Le Centre Culturel Français de Yogyakarta, generasi 80-an mengenalnya dengan Lembaga Indonesia-Prancis dan generasi sekarang dengan Institut Français.

Kantin baru hadir dan sempat bersua dengan food writer dan chef, Éric Kayser, menggantikan kantin lama yang pernah diisi oleh Mbak Sarah, istri Eros S07. Mengurus administrasi untuk tingkatan B2, tingkatan untuk anak-anak Ilmu Sosial dan Sastra/Bahasa dan untuk Anak Teknik cukup tingkatan B1, dan menjumpai buku foto beserta petikan dari Sylvain Leroy, ketika melangkahkan kaki di beberapa gunung di Jawa, sempat terkenang seseorang dan kawan-kawan di Jawa Timur saat mencicipi track gunung Jawa Tengah yang memiliki tingkat kemiringan yang mengerikan bagi yang telah mencicipi track gunung Jawa Timur yang sangat, sangat panjang dan menjenuhkan.

Setelah mengurus administrasi, melihat papan acara dan, wow, bulannya film dokumenter. Dulu di festival film dokumenter 2016, ketika diputar di Gedung Kesenian Societet Militair – Taman Budaya Yogyakarta, pernah menyaksikan satu film dokumenter, 1880 MDPL, sutradara Riyan Sigit Wiranto dan Miko Saleh (Aceh), tentang kehidupan para transmigran yang cukup pelik (1).

Kejadian kemarin menyuruh mengingat judul lagu dari band shoegaze Yogya, Lazy Room: Take Me Home (2). Salam sayang dan rindu dari Yogya, buat kamu.

(1) https://www.kompasiana.com/ammycheery/5b964afdab12ae7434611086/1880-mdpl-sebuah-film-dokumenter-tentang-himpitan-ekonomi-dan-pemenuhan-cinta?page=all / https://ffd.or.id/film/1880-mdpl/ / trailer: https://www.youtube.com/watch?v=zwHTdFMA5iw

(2) https://www.youtube.com/watch?v=QFKrcWHRWhI

Iklan

Klub Pandhita Jalanan (1).

Etre-et-avoir

– Cerita pendek dipersembahkan untuk pemikir kecil. Terinspirasi dari film pengajaran pedagogi, To Be and To Have (Être et Avoir). (2)

Persona dan Pesona:

MLG, perempuan 25 tahun, Chef Masakan Tradisional dan Novelis.

JKT, lelaki 34 tahun, Ekonom Muda, Analis Politik dan Filsuf.

BDG, perempuan 29 tahun, Arsitek dan Musisi.

YGY, lelaki 29 tahun, Pemerhati Budaya, Petani Muda dan Wirausahawan.

SBY, lelaki 30 tahun, Ilmuwan dan Olahragawan.

Di dua gazebo yang digabungkan terdapat satu perpustakaan mungil yang menyimpan koleksi beragam tema, rak kaset, CD dan DVD, tepatnya berada di halaman depan, di rumah yang besar dan nyaman dari BDG, perempuan 29 tahun, seorang arsitek kotemporer dan musisi, anak dari salah satu guru besar di satu universitas di Kota Kembang Bandung. Di rumah bergaya kolonial itulah, tahun kelima dari lingkaran kecilnya diadakan bersama keempat kawannya: MLG, perempuan 25 tahun, chef masakan tradisional dan novelis, dari Kota Bunga Malang; JKT, lelaki 34 tahun, ekonom muda, analis politik dan filsuf, dari ibukota; YGY, lelaki 29 tahun, pemerhati budaya, petani muda dan wirausahawan, dari Yogyakarta; dan SBY, lelaki 30 tahun, ilmuwan dan olahragawan dari kota pahlawan Surabaya.

Di tahun pertama, tepatnya di Ibukota, JKT mengumpulkan kawan-kawan seperjuangannya di satu Institut Bahasa. Tak jauh dari Pasar Santa Jakarta, terdapat satu tempat kopi. “Inilah saat kita membentuk sesuatu sesuai dengan kemampuan kita masing-masing setelah kita mendalami bidang kita masing-masing di Luar Negeri,” buka JKT dalam lingkaran kecil itu, penggemar kitab Al-Hikam dan Ibnu ‘Atha’illah. (3) Berbagai perdebatan dalam konsep, struktur organisasi dan cara pelaksanaan program yang berlangsung sengit. Dari empat angka dalam vote, JKT terpilih menjadi ketua yang demokratis. Dan JKT bertanya pada MLG:

“Sebagai novelis dan seorang chef, apa yang bisa kamu munculkan?”

“Aku ingin mengangkat makanan-makanan yang berada di daerah terpencil seperti gula merah di daerah pangandaran beserta jejak historisnya (4),” tegas MLG.

“Baiklah, aku catat. Lalu YGY, sebagai pemerhati budaya, petani muda dan wirausahawan, adakah yang kau munculkan atau malah ingin menanggapi ide dari MLG?”

“Oke,” jawab YGY dengan membenarkan lengan flanel-nya, dan melanjutkan, “Untuk ide dari MLG, kita bisa menggunakan platform atau start-up untuk mengangkat brand gula merah. Sementara, di Yogya, aku ingin membentuk ekonomi desa seperti para petani di Denmark atau Belanda (5).”

“Apakah ada kesamaan antara petani Indonesia dengan para petani di Denmark atau Belanda?” tanya SBY pada YGY.

Terdengar lagu W.T.P dari Eminem: Now, get up, dance! But everyone knows that no one likes to be alone / So get on the floor and grab somebody!

“Secara pragmatis, hanya berbeda material antara gandum dan padi. Akan tetapi aku hanya menitik beratkan pada sistem yang kupelajari di Belanda tentang fokus di desa induk, interaksi intragroup, terstruktur bersama pemerintahan komunal yang kuat, gereja aktif, endogami, dan kerjasama ekonomi tingkat tinggi. Bagaimana?” tanya YGY sambil menoleh ke perempuan idamannya, BDG, perempuan 29 tahun, arsitek dan musisi.

Silangan kaki berpindah dari kanan ke kiri, dan BDG dengan balutan long john dan anakara dobby blubirin shawl (6), membalas, “Kita bisa memakai konsep Desa Masa Depan untuk wisata edukasi dengan menggabungkan idea MLG dan YGY (7).”

“Oke, dari MLG, ke YGY, lalu ke BDG. Bagaimana denganmu SBY?”

Lagu Resist dari Motek di album Port Sunshine memenuhi ruangan itu. (8)

“Oke, untuk membentuk itu semua, aku akan gunakan jaringan akar rambat dalam teknologi. Namun kita semua tahu, tanpa dana, program tak akan berjalan, kan?”

JKT kemudian bicara, “Baiklah, aku akan mencari sponsor dan kuambil dari sebagian keuangan perusahaanku. Tapi kita tahu, dalam analisaku, empat tahun awal langkah kita tak akan mulus. Dan perlu ada koreksi dan evaluasi sistem. Dan kira-kira, apa nama yang tepat untuk lingkaran kecil kita ini?”

“Karena selama menempuh pendidikan di Luar, kita semua adalah Homeless, bagaimana dengan ‘Pandhita Jalanan’,’ sela MLG, perempuan berambut pendek itu. Empat angka dalam vote pemilihan nama itu.

*

Tahun kedua di gelar di tempat MLG dengan permasalahan pendanaan. Tahun ketiga di gelar di tempat SBY dengan permasalahan pemantapan program. Tahun keempat di gelar di tempat YGY dengan permasalahan pelaksanaan beserta penerimaan anggota muda. Dan kini, tahun kelima setelah mampu berdiri dengan kaki mereka sendiri, dan bersiap untuk membesarkan ‘Klub Pandhita Jalanan’ serta menjadi jembatan dengan menggandeng para generasi tua bersama pengalaman mereka, yang diadakan di dua gazebo yang digabungkan terdapat satu perpustakaan mungil yang menyimpan koleksi data beragam tema, rak kaset, CD dan DVD, tepatnya berada di halaman depan, di rumah yang besar dan nyaman dari BDG, perempuan 29 tahun, seorang arsitek kotemporer dan musisi, anak dari salah satu guru besar di satu universitas di Kota Kembang Bandung, di rumah bergaya kolonial itu.

(1) The five sciences are: science of language (śabdavidyā), science of logic (hetuvidyā), science of medicine (cikitsāvidyā), science of fine arts and crafts (śilakarmasthānavidyā), and science of spirituality (adhyātmavidyā) https://en.wikipedia.org/wiki/Pandita_(Buddhism)

(2) Movies that Will Inspire You: Learning to See the Child Who is Not Yet There Film 2 – To Be and To Havehttp://ageofmontessori.org/to-be-and-to-have/ | https://www.youtube.com/watch?v=4_pHFtObb4A

(3) https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Atha’illah_as-Sakandari

(4) http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/02/26/gula-semut-dari-pangandaran-menembus-eropa-394596

(5) In phase one of this social history, Dutch intragroup interaction was intense and well-structured, characterized by a strong communalistic government, an active church, endogamy, and a high degree of economic cooperation. The social life of the Dutch of the whole area focused upon the mother village. https://anthrosource.onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1525/aa.1958.60.4.02a00060

(6) https://www.fajarindonesia.my.id/rendahnya-harga-anakara-dobby-vinola-shawl-di-dalam-negeri/

(7) https://www.dw.com/id/konsep-desa-masa-depan/g-36246609

(8) https://www.discogs.com/artist/917173-Motek-2

L’Oral (Lisan).

a20181109_183355

– Buat bapak di Malang, dari puteranya yang amat pembangkang.

Para penggemar Eka Kurniawan, pasti kenal Prof. Etienne Naveau. Ya, Prof. Etienne Naveau adalah pengajar Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas INALCO Paris, sekolah bahasa untuk bahasa-bahasa di luar Frankofon, yang menerjemahkan ke dalam bahasa Prancis (1). Inalco, tak hanya mempelajari bahasa Indonesia (2), bisa juga bahasa Mandarin atau bahkan bahasa Arab. Di dalam site-nya, konteks Arab dan peradaban, tertulis seperti ini:

Les communautés linguistiques arabes pratiquent deux variétés d’arabe, l’une essentiellement à l’écrit, l’arabe dit littéraire ou littéral, l’autre essentiellement à l’oral, les arabes dialectaux, variant d’un pays à l’autre. Ce sont ces deux variétés de langue qui, indissociablement, font leur identité.

[Komunitas linguistik bahasa Arab mempraktekkan dua jenis bahasa Arab, tulisan, sastra atau sastra Arab, yang pada dasarnya dialek secara lisan, dialek Arab, bervariasi dari satu negara ke negara lain. Kedua jenis bahasa inilah yang, secara tak terpisahkan, membuat identitas mereka.] (3).

Dulu penulis, sebelum mengecap bahasa Prancis, sempat melakukan romantisme antara ayah dan anak lelaki dengan belajar bahasa Arab bersama, khususnya tajwid dalam Quran, dan kita pun tahu bahwa relasi anak lelaki dan ayah kerap kali berseberangan pikiran, dan waktu bersama pengalaman akan memberikan satu kesimpulan berupa pemakluman. Sayangnya, minat ketertarikan penulis terhadap Prancis, sejak 1998, jauh lebih besar daripada mempelajari kembali Arab secara intens seperti ketika penulis berada di pondok pesantrennya dulu. Quran yang penulis baca ini sedikit demi sedikit, lima hingga sepuluh ayat, namun dengan konsisten, seperti pengganti sosok ayah. Di dalam bahasa Jawa Tengah dan Yogya ada ekspresi, “Mak jegagik.” (4). Dan bila tajwidnya dilisankan dengan benar, maka akan tampak indah, seperti suara surga dari Isyana Sarasvati nyanyi di soundtrack film Critical Eleven (5) atau seperti suara surga kak Dina Adinda berlisan bahasa Prancis (6).

(1) https://www.amazon.co.uk/belles-Halimunda-Eka-Kurniawan/dp/2848052287

(2) http://islandsofimagination.id/web/articles/diskusi-di-inalco / http://nationalgeographic.grid.id/read/13304536/kemesraan-indonesia-dan-prancis?page=all

(3) http://www.inalco.fr/langue/arabe-litteral

(4) https://haryantoruz.wordpress.com/2008/05/26/kekayaan-bahasa-jawa/

(5) https://www.youtube.com/watch?v=y8JnipoOcU4

(6) https://www.youtube.com/watch?v=kR0X8GCSo3s

L’Agenda Onzième Jours. 7 Novembre 2018.

Aujourd’hui j’ai écrit sur l’existentialisme de Søren Kierkegaard, un philosophe en Danemark, par exemple, quand je recois l’emploi l’un des entreprises de la France bien que je gagne le grande salarie mais ce n’est pas ma passion! Je pense que je préfère au début éprouver des difficultés à apprendre beaucoup des choses des lecturers et researchers et je serai ensuite un enseignant ou un chercheur. Il y a deux sujet à la et je dois choisir entre eux, c’est le devoir! Enfin, les choix sont apparaitre un risque et je dois oser pour faire face la douleur. C’est sur la lutte, sur le choix qui vient un risque et un défi pour produire un amour éternel. J’ai étudié le français depuis 2015 et j’ai connu sur la douleur avec le silence. Je veux être une personne utile pour les gens que j’aime.

Vivre, Libre: Sistem Remisi Penjara Dengan Membaca Buku.

: Buat Mama, seorang pendidik tangguh di salah satu penjara perempuan di Malang.

Clairvaux, Lembaga Permasyarakatan oleh Jacques Drillon.

Di rumah pusat Clairvaux, para pembunuh dan para pencuri bank menuliskan teks yang tersusun dalam musik melalui para komposer besar. Suatu pengalaman unik.

Di Clairvaux, di Aube, para tahanan mereka saling mulai untuk menulis. Itu telah dilakukan selama tujuh tahun, di pusat itu di mana mereka terkurung dalam ‘kalimat yang sangat panjang,’ di mana mereka meluncurkan kenangan tentang Buffet dan Bontems, guilotin di bawah Pompidou, tentang teroris Carlos, dan juga Claude Gueux, Victor Hugo yang membuat sosok yang tak terlupakan, mereka mengetik di atas komputer mereka: puisi-puisi, cerita-cerita, solilokui-solilokui, dan bahkan tuduhan-tuduhan…Oh, tak semua, adakalanya ada dua belas orang, saat ini, tujuh orang. Ada juga yang telah mengalahkan obat-obatan, yang tak bicara apa-apa lagi atau menjadi gila, atau masih saja ada ‘yang tak meninggalkan sel mereka dan lebih senang membaca’, kata seorang penjaga. Salah satu dari mereka, Hadi, menulis dengan kegetiran: “ Clairvaux memiliki sejarah panjang dan besar.” Itulah kebenaran: sebuah biara Cistercian yang didirikan pada abad ke-12, berbalik menjadi penjara pada tahun 1804. Mereka beberapa ribu di Clairvaux. Kita menyusuri sel kolektif lama, 8 meter kali 6, dengan 30 jenis di sana (bayangkan dari kepanikan pengunjung). Kita juga melihat, bangunan-bangunan setelah diganti menjadi sel-sel individu, karena paling tidak jalan tahanan mudah, ‘kandang ayam’; sel besi dengan 2 meter kali 1.50 meter (bayangkan keheningan, terkejut dengan takjub), yang beroperasi hingga tahun 1970. Anda baca benar-benar: 1970.

Sejak, bagian-bagian dari gereja lelaki telah menyerahkan ke Kementrian Kebudayaan, dua bangunan tahanan telah dibangun. Demikianlah jejak-jejak dari peradaban yang paling tinggi, kelas persegi yang elegan dan bangsawan, ruang makan pendeta bersama kubah indah dari batu putih dan deretan pillar sempurna mereka, dan kemudian dinding-dinding penjara yang tinggi, ‘jalan-jalan setapak’ mengelupas, gerbang-gerbang, palang-palang, teriakan-teriakan, kawat-kawat berduri dan jaring-jaring, 140 kriminal besar yang memproduksi sepatu para penjaga tahanan Prancis, selama lima belas, dua puluh, tiga puluh tahun dari kehidupan mereka—ketika itu tak jelas.

Itulah di sana tentang Anne-Marie Sallé, seorang ‘perempuan kecil dengan suara yang jelas dan kurus, kedua mata tersenyum, senyuman yang berseri-seri,’ seperti yang ditulis oleh Francois, si tahanan, yang memulai menciptakan suatu festival (2004): beberapa konser di gereja lelaki. Pemain biola, Régis Pasqueir, telah diterima, dan juga si pianis François-René Duchable, ‘pada kondisi permainan juga di bagian dalam penjara,’ kisahnya. Dan selanjutnya dia mengundang seorang komponis ke residen. Dan menawarkan kepadanya untuk membekalinya teks-teks yang akan ditulis oleh para tahanan, dan bahwa ia menempatkan ke dalam musik untuk festival musim semi. ‘Dengan dukungan direktur, Gilbert Blanc, ceritanya, jadi kita mulai dengan menempatkan ke workshop penulisan, pada tahun 2007. Aku tak tahu di mana aku akan pergi, dan para tahanan bertanya padanya juga…Blanc telah membantuku untuk mengusulkan workshop pada para tahanan yang barangkali tertarik. Ia menunjukkan kebaikan dan efisiensi. Direktur selanjutnya banyak membantuku, khususnya telah mengijinkan eksposisi fotografi yang mana para tahanan telah ambil. Dan sekarang ini, Dominique Bruneau, adalah sangat menyenangkan pada seluruh aksi kebudayaan. Ia mengatakan bahwa aksi kebudayaan menyenangkan bagi tahanan.’ Komposer Thierry Machuel bekerja di Clairvaux selama empat tahun, selanjutnya Phillipe Hersant, pada tahun 2012. Anne-Marie Sallé, tak kenal lelah, enerjik dan menyenangkan, tak pernah dibodohi baik dari administrasi penjara atau pun tipu daya para tahanan, telah berjalan melewati berbulan-bulan dari jaring-jaring di Clairvaux yang tak terhitung, untuk mengumpulkan teks-teks mereka. ‘Kami adalah enam anak muda yang berada sedikit di depan perempuan itu,’ (Djamel, 23 tahun, yang mana tiga belas tahun diisolasi). Demikianlah kita menciptakan karya-karya mengagumkan dan mengerikan di depan publik di konser itu. Yang mana, film-film, telah disiarkan ke dalam ‘koridor kedatangan,’ di bagian dalam penjara, untuk tahanan. Itulah suatu tempat yang mengerikan, sound yang mengerikan, area bagian atas tangga yang besar yang berbatasan dengan sel dan kamar. Tapi itulah di sana bahwa adakalanya kita menampilkan film-film, itulah di sana memainkan para musisi. Dan itulah di sana, dalam ‘ruangan aktivitas’ didekorasi oleh para tahanan dari workshop melukis, langit-langit berwarna biru, bersama awan-awan putih, yang mana saling mempertemukan para penulis dan Anne-Marie Sallé.

Pada hari itu, mereka berenam: Djamel, Sébastien, Tonio, Manu, Hadi, Dumè. Para pembobol bank, para pembunuh, para teroris. Salah satunya mendapatkan [hukuman] 25 tahun, seorang pelaku. Waktu berlalu bagi mereka, hari-hari seakan sama. (Pasquier mengatakan bahwa konser tahunannya di bagian dalam penjara adalah ‘jam besar yang beritme bertahun-tahun’.) Mereka datang bersama kertas-kertas di tangan. Mereka membaca. ‘Dalam tabrakan dari kenangan-kenanganku’…’masa lalu tak dapat diubah, melainkan tak bisa diperbaiki.’ Tonio telah menulis tentang suatu potret diri, dia melihat dirinya dengan batu es: ‘aku mengunci caranya di mana/selanjutnya dalam satu sudut, aku mencair.’ Kita memiliki kerongkongan yang saling menegang. Seringkali anak-anak muda ini yang tak lagi anak-anak kecil altar bicara tentang burung, kupu-kupu, bunga-bunga kecil. Sangat, jejak-jejak kebebasan yang sangat tipis. Mereka membuka jendela: ‘burung-burungku, para tahananku suatu waktu’, tulis Dumè. Kenapa mereka menulis? ‘Awalnya, balas salah satu di antara mereka, itulah untuk Anne-Marie. Dan selanjutnya aku telah melihat bahwa itu membuatku baik, aku melanjutkan. Orang-orang lain adakalanya cemburu, mengesalkan.’ Sebastien menulis: ‘Pandangan-pandangan yang memiliki rasa buruk.’ Tak masalah, lanjutnya: ‘aku tak bebas, tapi paling tidak aku bicara.’ Penjara, dengan hiruk-pikuk yang permanen, adalah tempat yang tenang.

Itulah kenapa mereka membicarakan segalanya dalam waktu yang sama. Terdengar kembali, kita tak mendengarnya lagi. Mereka membawamu sebagian, ingin bercerita pada mereka tentang ‘tragedi kecil Yunani’ (Djamel). Selalu dalam hal yang sama: penghakiman, remisi, misi untuk keluar, membayar ganti rugi hak-hak sipil. Mereka bercerita tentang pandangan tak bersahabat dari seorang pengawas, suatu kesalahan dari administrasi, penolakan izin. Ketidak-adilan membuat mereka berontak, kesewenang-wenangan membuat mereka sakit. Mereka ingin sekali membayar kesalahan mereka, tapi tak punya satu sou—satu receh—lagi.

Tuhan, ruangan ini hangat sekali! Tak ada apa-apa lagi disebelah sel’, balas kami padamu. ‘Dalam kasus lain, di sini, inilah suatu ‘pourrissoir’: kita menempatkan anda di sana, kita meninggalkan anda di sana, anda tak hidup lagi.’ dan bagaimanapun, hari ini, editor kami ada di sana, karena teks mereka lebih dari selembar kertas A4, lebih dari nyanyian musik melalui chorus-chorus yang menyenangkan: mereka membuat suatu buku. Mereka menampilkan suatu project, para model. Para tahanan mendengarkan, dengan kebanggaan yang sederhana. Kita telah men-shoot suatu film yang indah tentang mereka…

Ketika muncul suatu festival, satu atau dua orang diijinkan untuk melintasi tembok, melakukannya dalam beberapa meter, sampai ke gereja lelaki, untuk mendengarkan ‘karya-karya mereka, dibingkai oleh seorang sutradara, yang bertanggung jawab pada SPIP (service pénitentiaire d’insersion et de probation), kapten penjara, polisi keamanan dengan pakaian biasa…’ Sebagian dari lelaki itu, aku adalah anonim di antara 4000 orang’, tulis salah satu dari mereka. Tiga jam setengah, ia menghitung….Temannya ada di sana: “Berdampingan, bergandengan tangan.”

Praktik menulis, sebagai jaminan ‘perilaku baik’, apakah itu memberikan hak untuk pengampunan hukuman? Vonis hukuman, pengrajin rambut, pemakluman djinne (komunitas Afrika-Amerika), sepatu runcing yang panjang, menjatuhkan jawabannya: ‘Sisa, lima hari?’

Remisi.

Satu buku, empat jam oleh Anne Bragance.

Di Brasil, remisi diberikan dengan merangkum buku. Seorang novelis ingin mengaplikasikan metode itu di Prancis.

Novelku dalam pelajaran menulis dinjak-injak, aku merasa sangat kosong dan sedih, di sore hari, di bulan Desember 2013 itu bahwa, begitu sedikit pemirsa yang aku kenal, aku menyalakan televisi. Arte mengusulkan satu dokumenter tentang penjara Catanduvas, di Brasil, dan bagiku ini merupakan kebangkitan rohani karena seseorang mengajukan kepada para tahanan “penebusan dengan bacaan” sejak tahun 2009. Sistem yang bekerja ini untuk kepentingan tahanan dan penjara secara keseluruhan karena ada perbaikan atmosfer yang jelas: Resesi kekerasan dan malam hari yang begitu tenang dan membawa kesadaran tentang kejahatan mereka bersama siapa yang menerima partisipasi dalam kehidupan. Metodenya adalah dengan memberikan buku pada awal bulan kepada mereka yang menginginkan: jika dia memberikan rangkuman setelah membaca, ia mendapat empat hari pengampunan. Setelah satu tahun dia akan memenangkan 48 hari dan untuk beberapa tahanan yang telah menerima hukuman yang panjang, sekitar tiga puluh tahun dan hampir empat tahun bebas! Aku senang karena penyelamatan melalui membaca ini adalah keyakinanku: sepanjang hidupku, buku-buku telah menghibur dan menyelamatkanku.

[] Brazil Prisoners Read Books to Cut Jail Sentences https://www.youtube.com/watch?v=8-JQ3sY2Vi4

[] Clairvaux, Lembaga Permasyarakatan oleh Jacques Drillon; dan, Satu buku, empat jam oleh Anne Bragance, dialih-bahasakan dari majalah Prancis, Le Nouvel Observateur, edisi Juli 2014.

Das Wunder der Umarmung (Keajaiban Pelukan)

20181103_102613

– Suatu cerita pendek—salah satu perangkat bahan ajar—untuk Mohammad Natsir, penyuka komponis musik klasik Jerman, Ludwig van Beethoven, dengan budaya makan di meja makan bersama anak-anaknya.

Pagi hari di akhir pekan ini, cerah sekali: langit biru terbentang luas, belasan keluarga kecil burung-burung melompat dan mengepakkan sayapnya dari satu pohon ke pohon yang lain, dan kulihat puluhan anak muda bergerak dengan sepatu lari di universitas tertua ini, termasuk dirinya, sahabat yang selalu menemaniku, yang menggantikan posisi keluarga ketika jauh, si X.

X, 28 tahun, adalah pengajar muda yang fokus pada ilmu Psikologi Parenting dan ia adalah pengagum dari Psikolog Jerman-Amerika, Erik Erikson. Dari kejauhan, dari bangku taman ini, aku melihatnya berlari dengan mengenakan sepatu lari Adidas-nya dan mengenakan sweater bertuliskan ‘Munich School of Philosophy’, almamater dari Romo Sindhunata, penulis Indonesia, kelahiran Kota Batu, Malang Raya itu. Aku masih ingat bagaimana ia berkata girang sekali mana kala bertemu dengan penulis favoritnya itu dan ia selalu menyimpan semangat yang tak pernah kumiliki lagi. Ia benar anak muda yang luar biasa.

Dari kejauhan itu pula, ia melambaikan tangan kepadaku dan aku membalasnya. Ia menunjukkan tanda tiga jarinya yang berarti tiga putaran lagi, aku mengangguk dan membalas dengan ibu jari, dan ia menghilang dari pandanganku.

Meskipun aku, 30 tahun, seorang dekorator (1), lebih tua darinya namun aku tak malu untuk belajar kepadanya yang lebih muda itu. Pada suatu momen, ketika keluar dari perpustakaan universitas ini, ia mengajakku untuk pergi ke ankringan terdekat. Sesampainya di angkringan, setelah pesanan datang, aku membuka percakapan tentang relasi arsitektur dan psikologi: warna, gambar, ruang, suhu, yang memiliki dampak emosi dan ekspresi. Seperti cahaya yang menyebar luas, obrolan ke mana-mana hingga sampai pada titik di mana aku sadar bahwa akan mengalami masa itu, menjadi seorang ayah.

Nanti, katanya saat itu, dan melanjutkan, mas akan mengalami sendiri bagaimana pelukan menjadi semacam arsenal dari rasa takut, gelisah atau hal-hal yang dikhawatirkan.

Sedahsyat itukah pelukan? Tanyaku.

Dengan menggerakkan gestur tangannya ia menceritakan pengalamannya: Aku hanya bisa memberikan gambaran, Mas. Namun pengalaman terbaik adalah bagaimana suatu subyek merasakan kejadian secara langsung, terlepas dari beruntung dan tak-beruntung, atau baik dan buruk. Ketika di Munich dulu, di satu tempat kopi, aku melihat seorang gadis kecil disamping ibunya yang menangis dan kemudian memeluknya, seperti suatu keajaiban tiba-tiba aku melihat kedamaian yang dipancarkan oleh tubuh besar dan tubuh kecil itu. (2)

Aku mengamati mimik wajahnya yang penuh semangat saat itu.

*

Ia kembali muncul dari satu putarannya dengan nafas yang terengah-engah dan berteriak: Maaas! Satu putaran lagi.

Santai, aku sedang tak terburu-buru. Lanjutkan!

Ia pun menghilang dari pandanganku bersama anak-anak muda di universitas ini yang terus bergerak, bergerak dan bergerak. Di balik pagar universitas ini, kulihat kendaraan juga bergerak. Di antara awan, kulihat pesawat juga bergerak. Sementara aku hanya duduk terdiam.

Ah, tidak, aku tidak duduk terdiam, aku masih bergerak meski dengan berpikir, kataku dalam hati.

Aku merasakan sengatan matahari pagi yang membenturkan kulitku dan masuk ke dalam pori-pori kulit dan terasa hangat (3). Aku melihat buku Erik-Erikson miliknya yang telah kupinjam; sembari memutar lagu Shine dari Slowdive dan aku membaca satu cerita kecil yang ditulisnya dibalik cover buku Erik Erikson, penulis Frankfurt, tentang hadiah dari Rasulullah Saw pada anak-anak kecil, berupa ciuman dan pelukan. (4)

*

Di bangku taman ini, sambil menantinya selesai berlari, aku menghirup udara dan menghembuskannya kembali, dan pagi hari di akhir pekan ini, cerah sekali.

(1) https://interiordesign.id/desainer-vs-dekorator-perbedaan-antara-kedua-istilah-dalam-dunia-desain-interior-yang-mesti-anda-ketahui/

(2) a) http://www.bernas.id/amp/54680-satu-pelukan-sejuta-manfaat-bagi-tumbuh-kembang-anak.html; b) https://bidanku.com/manfaat-pelukan-orangtua-bagi-perkembangan-psikologis-anak; c) https://psyline.id/rahasia-keajaiban-pelukan-orangtua-bagi-anak/; d) https://lifestyle.kompas.com/read/2015/05/15/161808223/Pelukan.Ayah.Buat.Anak.Lebih.Mandiri; e) http://www.parenting.co.id/balita/keajaiban+pelukan; f) https://www.brilio.net/orangtua/12-komik-strip-pengorbanan-ayah-ke-anaknya-jadi-kangen-pelukan-bapak-1708291.html; g) https://id.theasianparent.com/bahasa-cinta-untuk-anak/.

(3) a) https://lifestyle.kompas.com/read/2011/08/22/15325859/11.Keistimewaan.Berjemur.Pagi.Hari.; b) https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/sinar-matahari-pagi-turun-berat-badan/.

4) http://sahabatkecilpreschool.com/pelukan-untuk-anak-sunah-rasulullah-yang-berkhasiat-luar-biasa/

L’Agenda dixième Jour. 24 Octobre 2018.

A midi, j’ai recopié d’un article du magazine L’Obs sur le band Oasis qui est écrit par David Caviglioli. Ce que j’ai cité d’un paragraph pour raconter sur d’enfance de Liam et Noel qui est très triste. Avec sa mère, Liam, Noel dan Paul ont quitté la maison sans leur père dans la grand-rue et ont déménagé en banlieue. J’ai alors vérifié leur enfance sur Wikipedia et ils ont eu la violence physique de leur père. J’étais silencieux. Dans cette condition, Je suis souvenu d’Ariel Peter qui aimait d’Oasis. Dans le livre sur le voyage de son groupe, il a écrit: Il y a eu mener aux genres punk, metal et grunge. C’est comme chercher une identité et il préfère étudier les œuvres d’Oasis. J’ai pensé qu’il a donné une forme d’honnêteté qu’une personne n’a osé révéler. Dans une autre page, c’est toujours dans le contexte de l’honnêteté, j’ai rouvert le livre d’Ajip Rosidi, un écrivain que j’admire, parce qu’il a osé exprimer son honnêteté dès son enfance lorsqu’il a choisi de ne pas passer l’examen scolaire à cause d’un facteur de fraude système. Il a écrit sur l’étymologie du mot “bagarre”, sur la manière de créer un plaisir de lire qui concerne les bibliothèques, l’édition et la recherche; sur le plaisir d’écrire en ce qui concerne les honoraires de l’auteur et le climat d’écriture dans les pays développés. Ceci, quelque chose que je pourrais prendre des leçons aujourd’hui.

L’Agenda neuvième Jour. 19 Octobre 2018.

Commençant une poste que j’ai écrit dans mon réseaux sociaux, ce qu’il a été sur le nouvelle de Jacobin Magazine. Dans ce magazine a raconte sur le démocratie sociale en Norvège. Je pense qu’il a coopéré entre le capitalisme et le socialisme et c’est interessant pour moi. Je suis souvenu que Hatta a dit sur son voyager et le langue en Norvège dans son otobiographique. Alors, le soir dans ma classe francais j’ai re-appris sur «qui, que et dont» et dans l’anglais cela même avec «who, that, et which». Par exemple:

1). Qui:

– Il envoie la lettre.

La lettre est dans son bureau.

-Il envoie qui est dans son bureau.

2). Que:

-J’ecoute le nouvelle.

-Tu donne ce nouvelle.

-J’ecoute que tu donne.

3). Dont:

a) -C’est un argent.

-Il a payé beaucoup de l’argent.

-c’est un argent dont il a payé.

b) –Le vêtement est sur le lit.

-La marque du vêtement est H&M.

-Le vêtement dont la marque est H&M est sur le lit.

Avant j’ai déjà appris avec Mme. N. et maintenant ai appris avec Mme. D. J’ai senti que l’enseignement étant tous les deux très différent. Selon moi, Mme. D. a expliqué en détail.

L’Agenda Septième Jour. 15 Septembre 2018.

Hier, j’ai essayé sur le méthode de transcription qui existais dans le YouTube. Le transcription est le transfert d’énoncés ou de sons sous forme écrite. J’ai eu cette transcription quand j’étais dans le cours de français, lorsque ma prof, Mme Dewi, a réfléchi aux vidéos que mes amis et moi-même avions apprendre. Et puis, tout à coup, je me suis souvenu de mon ancien monde en utilisant le BMX Flatland à Malang, précisément à la Station, et je me suis souvenu d’un joueur de BMX français, Matthias Dandois. Ensuite, j’ai cherché sa vidéo sur Youtube et ai appris la transcription. A propos de Dandois, il était un joueur de BMX du même âge que moi, qui a eu un grand sponsor nommé Red Bull. Lorsque j’ai visité le site de Redbull, j’ai trouvé beaucoup des nouveaux choses, l’un d’eux sur le mot «en développement», car non seulement dans la discipline du BMX, mais aussi dans d’autres sports extrêmes tels que la planche à roulettes ou le ski. Il y a quelques heures, en regardant Liverpool jouer contre Tottenham Hotspur avec un score de 2-1, dans un café avec le café Gresik, qui a été occupé par de nombreux étudiants de Java Est, j’ai continué à lire sur le climat des entreprises et du travail en Allemagne qui a analysé par John Ardagh. Très intéressant! J’ai beaucoup de nouvelles choses que je ne connais pas. Ensuite, j’ai changé ma façon de lire. Après avoir lu les cinq pages, lentement, en soulignant le terme d’allemand dans le contexte du climat de l’entreprise et en soulignant les mots anglais que je ne sais pas pour ajouter à mon vocabulaire anglais. Ensuite, mes yeux ont été fixés sur la phrase sur la façon dont le chef du bureau d’une entreprise allemande accorderait une attention au travailleur malade pendant six semaines; Ensuite, j’ai noté d’autres domaines qui renforcent l’entreprise elle-même, tels que: le management, le droit, la planification financière, y compris les nouvelles installations et équipements, en dehors de la main-d’œuvre. Non seulement cela, il y a une autre histoire, à propos d’un entrepreneur qui a licencié une travailleuse, appelée Bunga, et le remplacer par une autre femme, appelée Bulan, puis l’entrepreneur doit donner de l’argent à Bunga pendant un an jusqu’à l’obtention du prochain emploi, mais à la condition que l’intérêt soit entré pour la première fois dans l’une des parties qui se battent pour les droits du travail. Personnellement, très systématique, et j’ai hâte de découvrir les systèmes d’entreprise tels que les vêtements de sport allemands, comme Adidas et Jack Wolfskin; ou des entreprises automobiles telles que Volkswagen à Wolfsburg ou Bayerische Motoren Werke à Munich.

L’Agenda Sixième Jour.

Hier, je suis allé à PKKH, UGM, un bâtiment qui créait en divers événements culturels. Alors, j’ai commencé chercher des vieux livres et ai vu les livres de Hatta, Natsir, Daoed Joesoef, mais je n’ai intéressé pas avec ces livres. Je ne sais pas, il semble que je sente déjà changer dans ma vie depuis j’ai appris la Français et l’Allemand. Alors, environ 15 minutes, dans un des vendeurs de vieux livres, je voyais un livre qui avait titre ‘Germany and the Germans’ de John Ardagh. Ce livre explique sur l’Allemagne à côté de l’économie, l’industriel, le politique, et cetera. Dans le domain de l’économie, j’ai trouvé un terme qui me fait interesser, s’appelle «Miracle-Economy»; quand je le cherchais dans le Goggle, je trouvais du fait que Les Pays-Bas est un état qui fait le premier Miracle-Economy moderne à des années 1600. Pour ceux qui ont suivi l’histoire indonésienne, 1600 était l’année de la colonisation de l’Indonésie par Les Pays-Bas. C’est intéressant!