Seri Kolase Cinta Alam-Nada: Ibrahim Maalouf (2)

Bekerja di daerah Thamrin, Jakarta Pusat, menjemput Nada pulang seusai bekerja ke daerah Kemang, Jakarta Selatan hingga ke tempat istirahatnya di daerah Setiabudi, Jakarta Selatan, adalah rute sehari-hari yang telah menjadi rutinitas umum bagi Alam, yang merantau dari Surabaya ke Jakarta, dua kota Kolonial Belanda terbesar di Pulau Jawa. Sebelum pindah ke ibukota, ia telah mempelajari bagaimana karakter penduduk dan budaya di ibukota meski Surabaya adalah Jakarta-nya Jawa Timur.

Di setiap perjalanan pergi dan pulang dari rutenya, Alam sering melihat wajah letihnya melalui kaca spion dalam di mobil bekas berwarna biru. Keletihan pada wajahnya juga tergambar di wajah manusia yang ia temui di jalanan ibukota, bersama suhu panas yang mempengaruhi psikologi bersama emosi. Untuk menyeimbangkan gejolak panas di dalam dirinya ia kerap memutar musik yang disukainya sebagai obat penawar untuk memberikan suatu pendinginan.

Dari beragam jenis musik yang telah Alam masukkan ke indera pendengarnya, hanya satu musik yang membuatnya luruh dalam kejiwaanya menghadapi situasi ibukota yang riuh yakni musik Ibrahim Maalouf, musisi Prancis-Libanon, dari keluarga Maalouf. Perkenalannya dengan musik dari keponakan sastrawan cum jurnalis, Amin Maalouf, hadir melalui perpanjangan tangan Nada yang begitu mengerti apa yang dibutuhkan kekasihnya untuk tetap bertahan di kota yang pernah dikuasai oleh Jan Pieterszoon Coen, Jayakarta ke Batavia.

Pada suatu sore, secara tak sengaja, Nada mendengar Maalouf melalui satu radio dan terdengar suara dari seorang penyiar yang berkata bahwa Ibrahim Maalouf adalah putera dari pasangan musisi Nassim Maalouf dan Nada Maalouf. Kesamaan nama antara Nada dengan Nada membuatnya menaruh perhatian yang intens. Satu track yang berjudul Red and Black Light terdengar. Perempuan muda lulusan Fakultas Ekonomi itu tersihir dengan komposisi musik naik dan turun, dari desibel ke desibel.

Beberapa hari setelah mendengarkan Jazz Kontemporer dari musisi yang menempuh studi di Conservatoire de Paris itu, dia pun pergi ke toko musik untuk memberikan suatu pemberian yang berguna bagi Alam, kekasihnya. Empat hari setelah Nada mendapatkan CD dari Maalouf, perempuan muda pengidola ekonom perempuan, Elinor Ostrom itu, menyuruh kekasihnya untuk mencoba jenis musik yang dia tawarkan mana kala berkunjung ke rumahnya.

Di rumah Nada di Kemang yang dipenuhi dengan bunga-bunga di kebun kecil, Alam mendengar alam nada dari komposisi Maalouf. Wajah damai yang dipancarkan lelaki pengidola arsitektur dari Ir. Soekarno itu memberikan rasa tenang bagi Nada. Upayanya untuk orang yang dia cintai tak sia-sia.

“Suka?” tanya Nada ke Alam.

Alam melepas headphone dan berkata, “Sempurna.”

“Semoga musik itu bikin kamu damai di kotaku ini, kamu kan, kangenan sama Surabaya,” ejek Nada.

“Iya, iya. Lalu, sebagai calon Menteri Ekonomi Indonesia kelak, apakah ada relasi antara musik dan ekonomi, menurutmu?”

Nada diam. Suasana hening dan disusul gersakan suara daun-daun dari pepohonan yang ada di teras rumah.

“Aku belum mengkajinya, sih, tapi aku pernah baca di satu artikel bahwa ada yang namanya Ekonomi musik dan nantinya mengalami pergolakan besar sejak awal 2000. Itu punya pengaruh ke penjualan CD yang terkikis tajam dan pendapatan konser jadi sumber pendapatan penting. Bahkan kita bisa ngomongin sumber daya yang diambil dari sistem lisensi legal, soal remunerasi yang adil atau penyalinan pribadi, serta meningkat ke model bisnis baru yang muncul di Internet seperti akses gratis dari katalog utama. Terus, cara untuk berlangganan, penyedia akses, serta keterlibatan konsumen dalam produksi. Nggak hanya itu, nanti nyambung ke transformasi musik dan telekomunikasi di era modern yang punya pengaruh ke ekonomi musik itu.”

Alam terkejut dengan menekuk muka seakan tak percaya dengan begitu luasnya pemahaman kekasihnya dan memberi applause sebagai rasa hormat pada perempuannya.

“Biasa aja, nggak perlu berlebihan gitu, deh,” kata Nada sambil memonyongkan bibir.

Sebelum mengenal musik Maalouf, suasana hati Alam bersama rutinitas yang menjenuhkan selalu membuat kesal dan lelah ketika ia pulang dari Thamrin-Kemang-Setiabudi. Namun, kini, ia merasakan suatu perbedaan serta gairah lain sejak Nada menghadiahi CD musik Jazz Kontemporer dan memberikan cara pandang lain bahwa orang-orang yang dilihatnya di jalanan ibukota dengan wajah letih akibat tekanan hidup memerlukan suatu bentuk perhatian dan bentuk pendekatan yang berbeda. Lelaki perantauan itu tak henti-hentinya memutar satu lagu dari Maalouf sebagai rasa syukur ketika Tuhan memberikan cahaya lain bernama Nada dalam hidupnya.

Pict: Maalouf.

Seri Kolase Cinta Alam-Nada: Kehidupan Baru. (1)

J’ai décidé d’être heureux parce que c’est bon pour la santé [Aku telah memutuskan untuk senang karena itu bagus untuk kesehatan] – Voltaire.

Sore itu, di satu butik, di Jakarta Selatan, Alam, 28 tahun, seorang desainer interior, sedang menemani tunangannya yang sedang memilih pakaian. Di sudut butik yang tertata rapi terdapat meja kecil dengan material kayu yang dipernis dengan mengkilat serta empat sofa kecil dengan material nilon warna abu.

Lelaki dari kalangan keluarga menengah-atas namun mendapat pendidikan keras dari ayahnya itu terus memandang dari jaraknya ke arah Nada, perempuan berusia 22 tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan S-1 Ekonomi itu, yang sangat enerjik serta ceria dan sangat berbeda dengannya yang sendu dan melankoli.

Untuk memunculkan satu ketenangan, lelaki itu duduk menyenderkan tubuhnya di atas sofa, menghirup udara dan menghembuskan perlahan-lahan sambil memejamkan kedua matanya. Ia mengingat kejadian sebelum bertemu dengan perempuan mudanya.

*

Bersama ketiga kawannya, Alam menjalankan bisnis firma arsitektur dan mendapatkan satu tender dari proyek pemerintah untuk mendekorasi perpustakaan. Sebelumnya dalam pemenangan tender, firma arsitektur mereka harus bersaing dengan tiga firma arsitektur lain yang merupakan kawan-kawan dari Alam di universitas dulu dan kini menjadi lawan di kehidupan di luar kampus.

Namun, kombinasi antara kecerdasan dari Alam, kejujuran dari Dani, keberanian dari Ali dan kelincahan dari Samuel, adalah senjata untuk meyakinkan pihak pemerintah dan sampailah firma arsitektur mereka memenangkan tender untuk mendekorasi ruang perpustakaan nasional.

Mereka berangkat bukan dari keadaan instan, setelah menjadi buruh dari satu firma ke satu firma, Alam dan kawan-kawannya pun berani mendirikan firma kecil dan baru dalam kompetisi yang buas di bidang konstruksi bangunan.

“Ingat,” tegas Dani, 33 tahun, sebagai owner firma dan melanjutkan, “Kita memulai segalanya dari awal dan ingin mengembangkan firma ini dengan bersih. Kita bangun reputasi yang berbeda dari firma-firma yang selama ini telah kita ikuti.”

“Ya, kita harus menciptakan iklim yang lain,” tambah Samuel, 30 tahun.

Alam melontarkan pertanyaan kecil namun menghantam, “Tapi? Mungkinkah?”

“Dasar, pesimistik! Gini, nih, kalau kelamaan sendiri, cari pasangan, gih, biar optimis,” sela Ali, 28 tahun, meledek Alam.

Samuel dan Dani hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala pada peseteruan kolega kerja mereka.

Satu bulan setelah pemenangan tender, firma dari Alam segera mencari dan mengumpulkan berbagai referensi tambahan untuk interior yang diinginkan oleh pemerintah. Masa pendidikan mereka di luar negeri sangat membantu: Alam menawarkan interior dari Bibliothèque nationale et universitaire di Strasbourg, Prancis ; Dani menawarkan interior dari Manchester Central Library di Manchester, Inggris; Ali menawarkan interior dari Auckland Research Central di Auckland, Selandia Baru; dan Samuel menawarkan interior dari International Library of Children’s Literature di Jepang.

Pada hari pelaksanaan, Perpustakaan Nasional milik pemerintah memiliki tiga bagian ruangan yang besar : Kiri-Tengah-Kanan. Secara bertahap, Alam dan kawan-kawannya mengerjakan ruang perpustakaan bagian kiri selama dua bulan dengan bantuan tujuh pekerja lapangan ; seusainya mengerjakan ruangan bagian kiri, dua bulan kemudian, mereka mengerjakan ruangan bagian kanan selama dua bulan kembali; empat bulan sudah bekerja di perpustakaan, pada akhirnya bagian utama yaitu bagian tengah adalah bagian terakhir.

Pada bulan pertama setelah mengerjakan bagian tengah, di siang hari, kedua mata Nada dibalik kacamata melihat sebuah papan bertuliskan : Maaf sedang ada renovasi dan mengganggu kenyamanan anda. Ketika memasuki pintu utama perpustakaan, perempuan yang mengenakan sweater rajutan bermotif bunga itu sedang mengisi paraf pada buku daftar pengunjung.

Seorang Grafolog handal bahkan bisa menerka kepribadian perempuan yang sedang menyelesaikan skripsinya dengan mudah melalui tanda goresan tangannya. Nada kebingungan melihat perubahan yang terjadi pada perpustakaan yang selalu dikunjunginya setiap akhir bulan. Dia bukan perempuan cerdas yang rajin ke perpustakaan setiap hari, akan tetapi dia adalah perempuan yang menuruti insting kebutuhan apa yang perlu dia baca untuk tujuannya.

Di ruang bagian kiri perpustakaan yang telah tertata rapi terdapat empat meja panjang. Alam duduk satu kursi kosong sekitar meja panjang bagian tiga sambil memainkan software perencanaan interior. Suara langkah terdengar dibelakangnya : berhenti, terdengar lagi, berhenti lagi dan terdengar lagi.

Alam menoleh ke sumber suara dan melihat seorang perempuan muda berkacamata dengan buku dan perangkat elektroniknya yang kebingungan mencari tempat duduk yang nyaman. Ia memberikan kode pada perempuan muda itu. “Pssst, pssst.”

Nada melihat Alam, terdiam sejenak, berpikir.

Gestur tangan Alam seakan bicara : duduklah di kursi sebelahku, karena inilah titik nyaman di perpustakaan ini, ketika kamu lelah dengan teks yang kamu baca maka kamu bisa melihat pemandangan melalui kaca jendela. Nada mengangguk dan berjalan ke arah Alam. Sambil bersuara pelan, Nada berkata ke Alam, “Terima kasih, Kak.”

Kondisi Alam dan Nada dipisahkan oleh satu kursi kosong.

“Tenang saja, aku menyuruhmu duduk di sini karena inilah titik nyaman di perpustakaan ini, ketika kamu lelah dengan teks yang kamu baca maka kamu bisa melihat pemandangan melalui kaca jendela,” kata Alam yang kini diterjemahkan dalam lisan.

“Oh, gitu ya, Kak. Aku biasanya duduk di ruang bagian kanan,” jelas Nada.

“Sering ke perpustakaan ya?” Tanya Alam.

“Nggak juga, Kak. Aku pergi ke perpustakaan kalau ada yang sedang aku butuhkan. Bukan cewek cerdas yang diidamkan banyak lelaki, sih.”

Alam tertawa pelan mendengar jawaban Nada dan mereka berdua pun terjebak dalam aktivitas masing-masing. Alam merancang dan Nada berusaha menyelesaikan tugasnya. Hari berganti. Alam menanti Nada tapi tak kunjung tiba. Pada bulan kedua setelah mengerjakan bagian tengah, di sore hari, Nada melihat Alam yang baru saja ke luar dari toilet dan masuk ke dalam perpustakaan untuk mengecek hasil kerja.

“Kakak…”

“Hai…”

“Sore begini, baru datang ?” tanya Nada.

“Nggak kok, malahan aku mau pulang ini. Kamu?”

“ Oh ya? Aku juga mau balik.”

“Mau bareng?”

“Nggak, Kak. Aku bisa pesan antar-jemput dari apps.”

“Yakin? Sebagai perkenalan?”

Nada diam begitu lama dan mengangguk tanda setuju.

Beranjak dari kejadian itu dan disertai intensitas komunikasi yang kerap membuat mereka berdua merasakan suasana baru yang aneh namun menggetarkan. Mereka berdua belum mampu masuk dalam batas cinta, hanya berusaha saling memahami untuk masuk ke tahapan awal yaitu suka. Alam dan Nada sadar bahwa butuh proses lama untuk mencapai tahapan dari suka ke cinta.

*

“Sayang, sayang,” sentuh Nada melihat tunangannya yang memejamkan mata, dan melanjutkan, “Kamu, ngantuk, ya?”

Alam membuka mata dan dilihatnya Nada yang sebagai tunangan, bukan Nada yang dikenalnya melalui perkenalan. Lelaki 28 tahun itu tersenyum.

“Kamu ditanya ngantuk atau nggak, kok, malah senyum, aneh,” sewot Nada.

“Aku ingat pertama kali kita ketemu.”

Pict: Auckland Research Central di Auckland, Selandia Baru.

Seri obituari: Adieu à Dieu, Pape Diouf.

Jika saya mengungkapkan bagaimana bangunan, penghuni, peninggalan sejarah, makanan, minuman, dan hal menarik lainnya, mungkin berpuluh-puluh halaman tidak akan bisa menyibak sudut Kota Marseille. Tergantung tujuan tiap individu yang menginjakkan kaki di sini: terpautkah, terbiasa atau terlupakan begitu saja – Alita Siswandi, Master Material Nanoscience dan Energi, Perhimpunan Pelajar Indonesia Marseille-Prancis dalam Marseille, A Sweet Escape.

Sepakbola Prancis, khususnya Marseille, kembali kehilangan tokohnya setelah Michel Hidalgo. Bagi yang tak mengikuti Ligue 1, Pape Diouf, begitu asing. Namun, la une, sampul depan, pada hari ini (01/04/2020) di L’Équipe tak bisa membohongi bagaimana ia begitu berpengaruh, tak hanya sebagai eks-Presiden Olympique Marseille namun juga sebagai agen pemain bahkan seorang jurnalis.

Perkenalan Diouf dengan Kota Marseille ketika berumur 17 tahun tatkala ayahnya mengirimnya ke sana seusai melompat dari negara Afrika seperti Chad dan Senegal. Ia tak mendengarkan perintah ayahnya yang menyuruhnya menjadi seorang tentara bagi Prancis pada Perang Dunia II dan ia lebih memilih melanjutkan studi politik. Ia bertemu dengan Tony Salvatori yang menjadikannya seorang jurnalis paruh waktu di surat kabar La Marseillaise untuk meliput klub OM.

Seusai menjadi seorang jurnalis di La Marseillaise, Diouf adalah jembatan antara pemain Afrika dengan negara Prancis sebagai agen pemain dari Marcel Desailly, Bernard Lama, Sylvain Armand, William Gallas, Grégory Coupet, Laurent Robert, Didier Drogba hingga Samir Nasri. Loyalitasnya pada Marseille membuatnya dipercaya mengisi manajer umum klub, presiden dewan manajemen bersama Vivian Corzani (administrasi) dan Philippe Meurice (keuangan). Puncak karirnya adalah ketika ia memegang jabatan presiden klub di bawah pemegang saham mayoritas, Robert Louis-Dreyfus (Adidas-Salomon).

Dibawah kendalinya, Marseille menjadi pesaing utama dari Paris-SG. Para pendukung Marseille mengagumi keberanian Diouf ketika menolak bermain di stadion Parc des Princes, Paris. Hal itu disebabkan layanan keamanan PSG tak memenuhi standart keamanan dan tak mengijinkan pendukung Marseille di Paris. Akibat kejadian itu, ia pun menjadi public enemy bagi pihak-pihak seperti pihak penyiaran yakni Canal+. Masa puncaknya harus berakhir ketika ia mengalami konflik dengan pemilik saham dan penyalahgunaan aset perusahaan.

Seusai memutuskan hengkang dari dunia sepakbola yang dianggapnya sama busuknya dengan dunia politik, dunia kesehatan dan dunia sinema, ia memilih kembali ke jalur pendidikan seperti kali pertama ia ke Marseille. Ia pun bergabung bersama Jean-Pierre Foucault, pemegang saham Sekolah Komunikasi Eropa dan Institut Jurnalisme Eropa di Marseille.

Ada suatu waktu di mana Partai Sosialis Prancis mendekatinya untuk posisi Walikota Marseille dan Presiden Prancis dari Partai Sosialis yaitu François Hollande memberikan lencana penghormatan baginya. Pada 1 April 2020, ketika berusia 68 tahun bersama virus corona (Covid-19) ditubuhnya, ia pun pergi selamanya untuk dikenang sebagai salah satu pemimpin klub sepakbola pertama dari kalangan kulit hitam di Prancis.

Selamat jalan pada Tuhan, Pape Diouf. Adieu à Dieu.

Seri Anniversaire: N’golo Kante, Impian Pemulung Sampah Bersama Keterbatasan Fisik.

Et rejoins le monde d’où tu viens (Dan bergabunglah kembali ke dunia di mana kamu berasal) – Alcest.

Sepakbola, kemiskinan dan perubahan hidup adalah segitiga yang kerap membumbui kisah-kisah inspiratif dalam lapangan hijau. Benua Amerika (latin), Afrika dan Asia adalah gudang di mana anak-anak kecil menjatuhkan pilihan pada olahraga ini untuk menaikkan tahapan hidupnya. Gelombang naik dan turun dalam menjaga semangat meraih impian mewarnai kaki-kaki kecil dengan kaki telanjang yang bermain di aspal jalanan.

Ketika semua anak kecil yang hidup dalam kemiskinan di benua Amerika (latin), Afrika dan Asia mengasah bakatnya dari satu umpan demi umpan bersama bola di kaki mereka dan mencetak gol, justru di benua Eropa, di sub-urban Kota Paris yang keras terdapat satu anak yang sedang memungut sampah dari sisa-sisa konsumsi masyarakat Parisian.

Mengapa orang tuaku memanggilku N’Golo? Itu nama seorang raja kuno di Mali. Seorang raja yang mulai dari bawah untuk menaklukkan kerajaan. Mali, aku pergi ke sana dan masih memiliki keluarga kecil di sana, katanya dalam Majalah L’Equipe.

Keterbatasan fisik dengan tinggi 1,69 meter untuk ukuran pesepakbola Eropa, berkulit hitam dan dilahirkan dari seorang ibu dengan pekerjaan cleaning service dan seorang ayah berprofesi sebagai pemungut sampah, yang dimiliki Kante hanya kepingan kenangan para keturunan imigran di Prancis dalam skuad Piala Dunia 1998 seperti Thierry Henry, Zinedine Zidane, Patrick Viera, Lilian Thuram, dan Marcel Desailly.

Melihat ketertarikan pada nama pemain bintang keturunan imigran Piala Dunia 1998 itulah, ayahnya berjuang dengan sekuat tenaga untuk memasukkan Kante kecil yang berusia 8 tahun ke salah satu klub amatir di Paris bagian barat, JS Suresnes. Ejekan dari kawan-kawannya sebab tinggi tubuhnya yang mungil dan apakah ia mampu bertahan selama 90 menit adalah sambutan pertamanya. Pada usianya yang kesebelas tahun, Tuhan memanggil ayahnya untuk selamanya.

Daya juang yang tinggi membuat Kante menghabiskan 11 tahun di klub dan akhirnya mendapat kepercayaan dari petinggi klub, Pierre Ville, untuk berlatih sebagai pemain sekaligus bekerja sebagai pelatih anak-anak untuk mendapatkan tambahan uang. Berbagai penolakan dari klub profesional menuju kepadanya dari Akademi Clairefontaine milik FFF, Marseille, Rennais, FC Lorient hingga Arsenal.

Mereka memberi tahu kami bahwa mereka sudah memiliki puluhan pemain sepertinya (Kante) di pusat mereka, kata Piotr Wojtyna, pelatih Kante di Suresnes. Tahapan baru berlanjut ketika ia bergabung dengan US Boulogne di tahun 2010 hingga 2013 di level youth dan senior.

Pada 2013 hingga 2015, petualangan Kante pun berlanjut di Caen yang berada Ligue 2 dengan status pemain gratisan dan berposisi sebagai gelandang. Tekad untuk mengubah nasib melalui sepakbola selama bertahun-tahun diimbanginya dengan meletakkan semua harapan dalam kesederhanaan dan nilai hidup. Ia tak mengeluh meski hanya memakai mobil Megane bekas ketika pemain lain membeli mobil mewah dan rumah.

Melihat Kante berkembang dengan pesat bersama Caen, Marseille yang sempat menolaknya mencoba untuk mendekatinya kembali. Nahas, Kante lebih memilih Leicester dan iklim sepakbola Inggris untuk berkembang. Di tanah Inggris, kedekatan sesama muslim bersama Riyad Mahrez di Leicester membuat Kante yang pemalu bisa beradaptasi dengan baik seperti yang dituturkan dalam Fearless: The Amazing Underdog Story of Leicester City, the Greatest Miracle in Sports History dari Jonathan Northcroft.

Kejelian Didi Deschamps yang lebih memilih tipe pemain pekerja membuat Kante terpilih menyisihkan Moussa Sissoko di Newcastle, Yohan Cabaye di Cristal Palace atau Morgan Schneiderlin di Manchester United. Pada 17 Maret 2016, delapan hari sebelum ulang tahunnya, di Amsterdam, ia memulai debutnya bagi Prancis mana kala melawan Belanda. N’Golo Kante, nomor 13.

Dari seorang pemulung di Paris dan menjadi bintang di Leicester dan Chelsea, Kante berhak memutar kenangan ketika François Lemoine, kawan lamanya berkata:

Kami berusia di bawah 18 tahun dan dia berusia di bawah 15 tahun dan bermain bersama kami. Ia lebih kecil dari semua orang tetapi tidak ada yang bisa melebihinya. Di akhir pertandingan, kami pergi ke ruang ganti, melihat ke salah satu rekan satu tim dan berkata bahwa Kante lebih kecil dari kita dan dalam sepuluh menit ia menunjukkan kepada kita bagaimana melakukannya. Itulah pelajaran nyata dalam kerendahan hati.

Joyeux Anniversaire, N’Golo Kante.

Pict: Radio Of France.

Seri obituari: Adieu à Dieu, Michel Hidalgo.

Dalam otobiografinya Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, Hatta muda mengisahkan bagaimana dirinya menjadi seorang guide bagi pasangan suami-istri Belanda di Marseille, Prancis bagian selatan. Di kota dengan imigran muslim terbesar pertama itulah bertaburan persona dari Zidane hingga Cantona yang begitu gemas pada lawan bebuyutan mereka dari Prancis bagian utara, Paris. Hatta, Zidane bahkan Cantona tak sendiri dalam mencatatkan jejaknya, masih ada satu persona yang kemarin (26/03/2020) menghembuskan nafas terakhir bagi persepakbolaan Prancis, sebutlah ia: Michel Hidalgo.

Di tengah-tengah sebaran virus corona di Eropa yang masif, kematian Hidalgo, 87 tahun, menjadi pertanyaan serius dan mengingat virus ini dengan sangat cepat menyerang para lansia. Dalam empat artikel yang dilansir oleh France Football tak ada satu diagnosis penyebab kematiannya, namun media lain yaitu Le Monde menyebutkan bahwa Hidalgo meninggal secara alami karena kelelahan. Penghormatan terakhir ditujukan padanya oleh figur sepakbola hingga jurnalis olahraga dan ingatan padanya menyeruak satu-satu.

Di masa remajaku, kata Didi Deschamps, pelatih yang membawa ayam jantan juara Piala Dunia 1998 dan 2018, dalam France Football dan melanjutkan, seperti halnya banyak orang Prancis di generasiku, ditandai oleh penampilan gemilang tim Prancis dari kualifikasi Piala Dunia 1978 yang ditunggu oleh sepak bola kami selama 12 tahun, hingga kemenangan gemilang di Euro 1984. Trofi internasional pertama ini membuka jalan bagi kesuksesan besar lainnya bagi sepakbola Prancis. Sementara Jean-Marie Lanoë, salah satu jurnalis olahraga, mengenang masa muda dari Direktur Klub dari Marseille itu. Pemain sayap kanan, ia adalah pion penting bagi Reims dan bahkan mencetak gol ketiga di final pertama, akan tetapi kalah melawan Real Madrid pada tahun 1956, 4-3. Kemudian, ia bermain bagi AS Monaco dari tahun 1957 hingga tahun 1966.

Persembahan Hidalgo bagi negara tricolore itu tak perlu diragukan ketika ia menjadi pelatih Les Blues dan ia mengikis masalah ras dari negeri anggur itu dengan formasi persegi/kuartet ajaib-nya (carré magique) dengan memunculkan bakat seperti: Michel Platini (keturunan imigran dari Italia), Jean Tigana (keturunan imigran dari Sudan), Luis Fernández (keturunan imigran dari Spanyol) dan pemain asli Prancis yaitu Alain Giresse. Persegi ajaib ini juga hasil dari trial and error dari Hidalgo dengan formulasi formasi dalam bongkar pasang Lacombe-Six, Soler-Lacombe, Rocheteau-Six. Kuartet Platini-Tigana-Fernandez-Giresse adalah jalan awal untuk kelahiran generasi berikutnya, Papin-Cantona.

Keberanian bongkar pasang formasi carré magique dan keyakinan yang tak kenal lelah dari Hidalgo-lah membuat satu ketertarikan sendiri ibarat membaca ulang pengalaman Hatta di Marseille untuk menempuh pendidikannya di Eropa. Itu pengalaman baru bagiku, kata Hatta muda yang belajar berorganisasi melalui sepakbola.

Selamat jalan, Monsieur Hidalgo, pencetus filosofi sepakbola Prancis, segalanya adalah menyerang.

Infografi formasi: Le Figaro.

Regulasi UEFA dan Tata Cahaya Stadion di Eropa – Fandom.id

[Indonesia] Tulisan kedua di Fandom.id, sekaligus persembahan untuk bapak arsitektur modern Indonesia, YB. Mangunwijaya dan sedikit menyinggung tentang tragedi, teknologi dan regulasi.

[French] Ma deuxième écriture est sur Fandom.id en l’indonesie, et l’hommage au père de l’architecture indonésienne moderne, YB. Mangunwijaya et une petite mention sur la tragédie, la technologie et la réglementation.

[German] Mein zweites Schreiben ist über Fandom.id in Indonesisch und die Hommage an den Vater der modernen indonesischen Architektur, YB. Mangunwijaya und eine kleine Erwähnung über Tragödie, Technologie und Regulierung.

Pict.

Metode Tematik: Lukisan Eugène Delacroix.

[Introduksi] Pada masa kecil, kita kerap melakukan satu aktivitas yang mengasyikkan yakni menggambar. Tangan mungil kita bergerak dengan luwesnya entah di buku gambar atau di dinding rumah bersama krayon-krayon kita yang berwarna dan terkadang patah atau tak lengkap entah ke mana. Berangkat dari keasyikan masa kecil itu, kita bisa mengembangkannya ke berbagai macam profesi seperti menjadi seorang artworker, desainer interior atau bahkan pelukis. Dalam konteks pelukis, kita bertemu dengan banyak aliran tergantung bagaimana kita menikmatinya. Prancis sebagai satu negara dengan kebudayaan serta seni yang kuat punya banyak pelukis, salah satunya Eugène Delacroix.

Salah satu lukisan Eugène Delacroix yang terkenal adalah La liberté guidant le peuple yang pernah dipakai band Inggris, Coldplay, sebagai cover album mereka. Rasa ketertarikan atas satu pertanyaan muncul: Dari sekian banyak pelukis mengapa Chris Martin dan Coldplay memilih lukisan dari Eugène Delacroix? Dan dalam situs resmi Coldplay mengatakan bahwa mereka bukan satu-satunya yang memakai kover lukisan Delacroix, masih ada band Jepang, Dragon Ash dalam album Viva Revolution. Penulis mencoba untuk mempresentasikan dengan pembagian dua poin yaitu poin pertama adalah sejarah dan gaya; poin kedua adalah permainan cat/warna dan teknik dari Delacroix.

[Poin 1] Sejarah dan gaya. Delacroix dilahirkan pada 26 April 1798 di Charenton-Saint-Maurice dari keluarga kelas atas dan meninggal pada 13 Agustus 1863 di Paris. Ia menempuh pendidikan seni di Ecole national superieure des beaux-arts dan ia ditempa oleh seorang ahli lukis bernama Pierre-Narcisse Guérin dan kemudian ia menjadi guru dari Pierre Andrieu bahkan Maurice Sand. Aliran romantisisme adalah pilihan gayanya dan pada usia 40 tahun gaya-gayanya menghiasi langit-langit gedung monumen seperti di Salon du Roi dan dekorasi perpustakaan senat di Palais du Luxembourg. Namun, sebelum mendapatkan pekerjaan kenegaraan itu ia mengalami masa sulit dan memulai dari mendekorasi ruang-ruang kecil seperti apartemen kemudian debut lukisannya adalah lukisan La Vierge des moissons di Gereja St. Eutrope d’Orcemont (lukisan ini dipengaruhi oleh lukisan les Madones florentines dari Rafael) dan lukisan La Vierge du Sacré-Cœur di Katedral Ajaccio.

[Poin 2] Cat/warna dan teknik. Delacroix, kata Max Imdahl dalam Couleur: les ecrits des peintres français de Poussin à Delauney, menggunakan perpaduan warna tradisional, kromatik dan Chiaroscuro yaitu gelap-terang dalam kontras antara cahaya dan bayangan di dalam suatu karya seni. Dalam lukisan La liberte guidant le peuple, Delacroix mengambil latar belakang Paris di mana menara katedral Notre-Dame berasap dan terdapat barikade, mayat prajurit yang terbagi dengan berpakaian dan tak berpakaian. Lalu tampak seorang petani dengan syal yang terikat di kepala, dua anak jalanan yang mana salah satunya memegang pistol, seorang perempuan pembebas bernama Marianne dengan topi frigia yang mengibarkan bendera tricolore dengan payudara terbuka dan membawa senapan, seorang lelaki borjuis yang berlutut di barikade. Permainan warna cat gelap pada bagian bawah dan cerah pada bagian atas dalam lukisan dan warna kuning, warna hitam, warna abu, warna cokelat dengan batubara bitumen, warna biru dan warna merah, dan kemudian dicampurkan ke bagian tengah palet dan glasir, tak lupa terdapat lem dan kapur.

[Konklusi] Lukisan yang menginspirasi Coldplay dan Dragon Ash tersebut menceritakan tentang kebebasan pada suatu masa revolusi, persoalan kelas sosial dan menampilkan situasi dalam kanvas yang ingin terus dipelajari meskipun harus bersanding dengan seni modern seperti lukisan digital.

Metode Dialektika/Konfrontasi Ide: Formasi Socialist-Communist Football Hungaria, Cikal Bakal Formasi Total Football Belanda.

[Introduksi] Penulis pernah dihadapkan pada suatu pertanyaan yang membingungkan, apakah itu karya orisinil atau asli? Hingga sampai saat ini pertanyaan tersebut tak bisa dijawab. Jika merujuk kamus bahasa Inggris, Merriam-Webster, maka berarti ‘contoh pertama atau sumber dari salinan, reproduksi, atau terjemahan yang dapat dibuat (1)’; Jika mengacu pada kamus bahasa Prancis, Larousse, maka berarti ‘yang langsung dari penulis atau sumber, yang bukan salinan, reproduksi, terjemahan, penyusunan kembali, dll.; autentik (2)’; atau jika melihat dalam kamus bahasa Jerman, Wortbedeutung, maka bermaksud ‘sesuatu yang dibuat oleh seorang seniman, tidak tersentuh oleh orang lain, tidak berubah dan tidak disalin (3)’.

Asli atau tidaknya suatu penciptaan juga membuat kebingungan penulis ketika mendapatkan satu informasi di majalah olahraga Prancis, Sport Et Vie, bahwa bentuk awal formasi Total Football yang selalu didengungkan dalam permainan Timnas Belanda ternyata telah terdapat pada Golden Team dari Timnas Hungaria di tahun 1950 sampai 1956 dan kemudian diterapkan bentuk yang lebih modern oleh Rinus Michels dan Timnas Belanda. Pada masa itu, Timnas Hungaria menjadi satu timnas terbaik didunia yang bisa ditransformasikan di masa sekarang seperti klub yang bertabur bintang seperti Real Madrid atau Barcelona. Hungaria beruntung memiliki József Bozsik hingga Zoltán Czibor, dari Gyula Grosics hingga Nándor Hidegkuti, dari Sándor Kocsis hingga Ferenc Puskás.

Ada tim-tim hebat pada waktu itu: Uni Soviet, Austria, Swedia, Yugoslavia, Italia…tetapi aku yakin bahwa kami memiliki tim yang mampu bersaing dengan siapa pun, kata Gusztáv Sebes, pelatih sekaligus peracik formasi Socialist-Communist Football bersama Béla Guttmann dan Márton Bukovi (4). Penulis kemudian bertanya-tanya, seberapa hebat, sih, formasi Sosialist Football dengan struktur 4-2-4 ini, sehingga Timnas Belanda tertarik untuk mengadopsinya dan mengembangkannya menjadi Total Football?

[Keuntungan/Thesis] Dalam sejarah perkembangan formasi, ternyata keaslian formasi 4-2-4 juga tak langsung muncul melainkan dikembangkan dari formasi 2-3-3-2, yang mana kemudian formasi 4-2-4 dikembangkan lagi menjadi 4-4-2. Ada hal yang menarik lagi ketika Puskas mengatakan bahwa formasi yang diilhami oleh ideologi politik sosialis/komunis inilah yang mengenalkan pada (re)formasi negara Hungaria hingga menyeret pada domain ekonomi atau perusahaan olahraga yang dinasionalisasi. Dalam laman lain, Britannica mengupas bahwa ketika sistem permainan sepakbola menjadi lebih dirasionalisasi, para pemain tidak lagi diharapkan untuk tetap pada posisi yang ditentukan tetapi untuk menjadi lebih mudah beradaptasi hingga Timnas Brazil yang terkenal dengan permainan individualistik meminjam formasi 4-2-4 yang didirikan di Uruguay untuk memenangkan Piala Dunia 1958, dan Gusztáv Sebes berhak tersenyum ketika Bill Shankly dan Liverpool menerapkan British Socialist-nya pada dekade 1960-1970.

[Kerugian/Anti-Thesis] Sayangnya, Timnas Brazil tak mampu menggunakan formasi 4-2-4 dengan baik, para pemain Brazil tak cocok menggunakan formasi dari Sebes. Dalam situs resmi FIFA dijelaskan bahwa para pemain Brazil tak mampu beradaptasi dengan menggunakan formasi sepakbola Eropa dan tak memenangkan Piala Dunia di Meksiko. Flavio Costa, pelatih Brazil yang menggunakan diagram skematik dan sistem diagonal seakan mengritisi strategi menyerang 4-2-4 a la Hungaria dan lebih memilih satu pepatah dari bahasa Prancis: reculer pour mieux sauter, mundur selangkah jika ingin melompat lebih tinggi, dalam arti bertahan dengan baik sehingga nantinya bisa menyerang dengan lebih baik.

[Sintesis] Formasi 4-2-4 yang sangat menyerang dari Gusztáv Sebes nyatanya mendapat pertentangan dari Flavio Costa yang merasakan bahwa para pemain Brazil seolah kehilangan karakter Amerika Latin meskipun Brazil memiliki para penyerang yang tangguh meskipun sangat individualistik dan kejayaan formasi 4-2-4 hanya berlangsung dalam sekejap sebelum digantikan dan dikembangkan oleh Rinus Michels dan Timnas Belanda dengan Total Football.

[Konklusi] Apa yang bisa penulis pelajari adalah penciptaan akan sesuatu yang berbau orisinil atau asli tak bisa lepas dari pengaruh dan dipengaruhi, sebelum (l’avant) dan setelah (l’apres), entah dalam karya seni atau formasi sepakbola sekalipun.

Bacaan Lanjut : Stratégie politique et tactique sportive : esquisse d’une analyse socio-historique du style de jeu de « l’équipe d’or» hongroise des années cinquante – Miklós Hadas

Metode Analitik/Progresif: Kota, Banjir dan Kompleksitasnya.

[Introduksi] Pagi kemarin di Jakarta terdapat satu peristiwa besar yaitu banjir. Kejadian alam ini telah menimpa ibukota Indonesia selama 6 kali dalam 2 bulan. Sebenarnya, Jakarta tak sendiri menyoal kejadian banjir, masih ada kota-kota besar lain di Indonesia yang juga mengalami masalah tentang banjir. Namun, Jakarta adalah Indonesia kecil di mana segala sesuatu terpusat dalam ekosistemnya. Banjir di Jakarta mewakili banjir-banjir di kota lain seperti Bandung, Surabaya bahkan Jember. Kompleksitas banjir di kota-kota tak hanya bisa digumamkan dengan kata ‘bimsalabim’ kemudian tuntas, hal itu perlu waktu panjang untuk menyelesaikan persoalan banjir.

[Masalah] Jika memakai pemahaman nobel ekonomi Prancis, Jean Tirole, dalam salah satu interviewnya mengatakan bahwa terdapat masalah ketimpangan di suatu negara dan terdapat masalah ketidaksetaraan di seluruh negara. Hal itu nampak pada satu video yang terunggah dalam satu kejadian paska banjir Jakarta (25/02/2020) di mana banjir menampilkan suatu permasalahan kelas sosial yang mana kesenjangan antara teritori space kelas menengah-atas dan teritori space kelas menengah-bawah berada dalam gap yang begitu lebar seperti peristiwa di AEON Mall Cakung, Jakarta.

Kemudian, tentang bagaimana banjir memainkan peranan atas realitas politik dan sentimen (atau ilogika) dalam iklim politik ibukota yang mana terjadi benturan hebat dari antitesa Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta) yang mengritisi kebijakannya akan banjir dan antitesa Presiden Jokowi (Presiden Indonesia) yang memprotes terhadap kebijakan investasi dan Omnibus lawnya yang tentu akan memperparah kondisi banjir.

Tak hanya itu, permasalahan lain menyeret tentang bagaimana banjir dalam sudut pandang sejarah tata ruang kota, khususnya Jakarta, yang mana Pauline K.M. van Roosmalen pernah membahas dalam ‘Awal Penataan Ruang Di Indonesia’, bahwa pada pra kemerdekaan, tepatnya pada 1938, ketika komite mengajukan rancangan Ordonansi Pembentukan Kota (Stadsvormingordonnantie) dan terdapat isi ordonansi tersebut dengan jelas menyatakan tujuannya seperti peraturan tata kota seyogyanya mengorganisir konstruksi dan bangunan, oleh pemerintah lokal maupun pihak lainnya, untuk menjamin pembangunan perkotaan sesuai sifat sosial dan geografinya serta pertumbuhan yang diperkirakan, adapun perencanaan kota harus memperjuangkan pembagian yang proporsional dari kebutuhan semua kelompok penduduk sesuai kebiasaan mereka, dan menciptakan fungsi harmonis dari perkotaan secara keseluruhan, dan dengan pertimbangan lingkungan dan posisi suatu kota dalam konteks lebih luas.

[Sebab] Sebab-sebab banjir bisa kita lihat dalam beragam faktor terlepas dari teritori space, kebijakan akan penanganan banjir secara politik, atau kondisi tata ruang, di antaranya adalah faktor alam tentang intensitas hujan yang lebat, ukuran lebar-sempit aliran sungai dari hulu-hilir yang tak mampu menampung debit air, perkara daya tahan bangunan air untuk menahan kekuatan air, penyumbatan drainase dalam wilayah-wilayah urban, atau deforestasi secara masif di hutan di mana kehilangan vegetasi yang mampu mereduksi aliran air dari hujan.

[Konsekuensi] Dalam situs floodmanagement dijelaskan adanya dampak-dampak yang disebabkan oleh banjir juga melebar dalam berbagai domain seperti dalam domain politik ketika menurunnya tingkat kepercayaan publik atau masyarakat bersama rasa ketidak-puasan atas kinerja otoritas yang berwenang dalam hal ini pemerintah; dalam domain ekonomi, banjir dapat menghambat laju ekonomi dan bahkan, paradoksnya, dapat menghambat investasi yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak swasta; dalam domain psikologi, banjir membawa trauma pada korban yang terkena banjir dengan kehilangan sanak-famili atau barang berharga sehingga dapat menyebabkan adanya stres yang akut; dalam domain yang lain, banjir juga mengakibatkan rusaknya infrastruktur, kurangnya air bersih, putusnya jaringan telekomunikasi bahkan menurunkan tingkat produktivitas dalam mata pencaharian.

[Solusi] Berbagai negara maju sebenarnya telah melakukan riset serta kajian mendalam dalam narasi besar akan banjir seperti upaya pemahaman terhadap resiko banjir di ruang-ruang seminar/konferensi, namun hal itu saja tak cukup jika tak dilakukan pembentukan satu komisi khusus yang merancang konsep serta program-program khususnya mitigasi bencana, lalu dipikirkan juga bagaimana perihal pendanaan untuk pengaplikasian tentang simulasi bencana, pengembangan teknologi tentang peringatan dini, shelter dan sukarelawan.

[Konklusi] Bencana banjir seperti halnya bencana-bencana lain seperti gempa bumi, erupsi gunung berapi, tsunami, kekeringan, kebakaran hutan, memerlukan satu upaya penanganan khusus sebagai bentuk memberikan rasa aman di tempat tinggal kita. Bagaimanapun, bencana alam tak bisa dihilangkan dalam kehidupan manusia akan tetapi manusia bisa meminimalisir agar bencana alam khususnya banjir tak memberikan dampak kerugian yang besar terlebih bagi Jakarta dan kota-kota lainnya yang berada di Indonesia, negeri kepulauan, archipelago, yang rentan terhadap bencana alam.