Mature Love.

Barusch

– Untuk kawanku, Riski Kucing (Ex-Hail Of Fire & Ex-Children Of Terror) dan istrinya, Fifin; dan cerita cinta mereka yang mengagumkan, yang pernah diceritakan selama masa remaja dulu.

Setiap orang selalu menginginkan keutuhan cinta dengan bahagia. Namun, keadaan dan waktu kerapkali menjadi suatu problem tersendiri bagi suatu hubungan cinta. Sejak seorang perempuan yang kusebut dengan ‘Ibu’ melahirkanku ke dunia yang, adakalanya menyakitkan, dan adakalanya memberikan suatu kenangan manis tersendiri, hingga pada tahapan hidup sekarang ini, tahapan hidup yang mulai meninggalkan masa-masa remaja ke tahapan hidup yang siapapun ‘telah’ dan ‘akan’ mengalaminya dengan segala kepanikannya serta kebanggaanya, menjadi seorang ayah.

Pada tahapan remaja, ketika aku bertemu kawan-kawan bermusik, aku bertemu dengan banyak persona. Salah satunya kawanku ini, Riski, adalah kawan dalam mengorganisir acara underground dan bertemu di warung kopi kecil di salah satu pasar di Kota Malang. Di antara pertemuan-pertemuan itu, ada suatu kali ia bercerita tentang kisah cintanya, aku tak ingat dengan jelas, namun yang pasti, ia bercerita bahwa hubungannya dengan kekasihnya pada proses masa pacaran terjalin selama delapan tahun—dan sekarang kawanku itu telah resmi berkeluarga. Delapan tahun, sangat mengagumkan, khususnya untukku.

Dalam beragam kisah cinta yang telah kutemui, ada hubungan yang terjalin selama lebih dari enam tahun namun gagal menuju ke pelaminan; ada hubungan yang terjalin hanya tiga bulan namun sampai menuju ke pelaminan; dan ada pula kisah cinta yang seperti dialami kawanku itu, selama delapan tahun dan sampai menuju ke pelaminan.

Aku teringat pada cerita pendek dari Guy de Maupassant, salah satu sastrawan Prancis yang bisa dibilang raja cerita pendek, yang bertajuk ‘Kebahagiaan’. Di akhir bagian, Maupassant menulis melalui tokoh perempuan seperti ini:

““Seorang pria tua merasakan keheningan. // Seorang wanita berkata, “Meskipun begitu, dia memiliki suatu pemikiran yang terlalu mudah, kebutuhan yang terlalu primitif. Dan syarat-syarat yang terlalu sederhana. Suzzane adalah wanita yang bodoh.” // Orang lain berkata dengan pelan, “Apa masalahnya! Dia bahagia.” // Dan di sana, di tepi horizon yang paling jauh, Korsika menghilang di malam hari, terbenam kembali dengan pelan ke dalam lautan, dan bayang-bayang besar berangsur-angsur menghilang, yang mana bayang-bayang itu seakan-akan muncul untuk menceritakan sebuah kisah tentang dua orang pecinta yang bersahaja, yang bersembunyi di atas tepi pantai.”” [1]

Pernyataan tokoh perempuan milik Maupassant yang menyebut ‘Suzzane adalah wanita yang bodoh‘ akan segera dipatahkan bila kita menilik di lembaran lain milik penulis US, Amanda Barusch, Editor-in-Chief dalam Journal of Gerontological Social Work. Ada satu buku yang menarik dari Barusch, dengan judul: Love Stories of Later Life: A Narrative Approach to Understanding Romance (Oxford University Press, 2008). Dalam bagian ‘Love and Aging’, Barusch menuturkan seperti ini:

“Secara bersamaan, perubahan emosional dan kognitif itu tampaknya meningkatkan kualitas hubungan cinta. Responden dalam penelitian kami secara konsisten melaporkan bahwa cinta meningkat seiring bertambahnya usia. Contohnya, Wilhelmina yang berusia 92 tahun menjelaskan, “Aku berpikir seiring bertambahnya usia, ini lebih merupakan cinta yang matang, dan mungkin sedikit lebih tulus.” Candy, 83 tahun, setuju: “Cinta semakin kuat seiring bertambahnya usia.” Merefleksikan pada orang tuanya, Theresa yang berusia 80 tahun, teringat, “Orang tuaku lebih mencintai saat mereka lebih tua. Dia akan memberinya ciuman. Aku berharap bisa dicintai seperti dia mencintainya.” Demikian pula dengan Anna yang berusia 56 tahun, mengatakan, “Orang tua dan kakekku memiliki cinta sejati. Mereka menjadi lebih lembut dan lebih penyayang.”

Potensi cinta agape bisa meningkat seiring bertambahnya usia. Theresa terus merenungkan hubungan orang tuanya: “Ada yang memberi dan menerima. Tidak sembarang mengambil, mengambil, mengambil. Kamu harus memberi untuk menerima.” Demikian pula, William berkata, “Aku pikir saat Kamu bertambah tua, perasaan pribadiku adalah bahwa cinta menjadi lebih banyak daripada hal yang keluar, bukan hanya hal yang masuk. Jadi, saat kamu dewasa, cinta menjadi berkurang egoisnya. Artinya, jika kamu dewasa sekali [tertawa].” Anita, 83 tahun, dari Filipina, tercermin pada kegembiraan melayani kekasihnya: “Saat muda, aku tidak melayaninya. Kami memiliki ibu dan hanya saling bertemu di malam hari. Lebih tua lebih baik. Cinta memiliki dampak yang lebih kuat. Aku melayaninya. Cinta yang dewasa sangat sakral. Lebih banyak waktu bersama. Tidak ada gangguan. Semuanya untuknya. Cinta dewasa memiliki lebih banyak keterlibatan.”

Aku, kamu, atau siapa saja akan bertanya-tanya, apakah benar-benar ada kisah cinta yang setia, dewasa, dan sederhana itu?

Aku berani menjawab: “Ada.”

[1] Lihat Cerpen Kebahagiaan – Guy de Maupassant.

Daras Kecil dan Malam Minggu.

maxresdefault (2)

Cinta adalah waktu dan ruang di mana “aku” memberi diriku hak untuk menjadi luar biasa – Julia Kristeva, pemikir perempuan Prancis.

Setiap akhir pekan, pada malam minggu, keluarga kecilku memiliki acara tersendiri, memasak. Acara ini telah berlangsung sejak Daras, puteriku, berumur empat tahun. Ada banyak masakan yang bisa kami buat, dari oksidental hingga oriental. Meskipun, pada akhirnya, aku dan Ayu, istriku, harus mengakui bahwa kami harus banyak berlatih untuk memasak dengan cita rasa yang lebih baik. Dari semua masakan yang kami masak, gadis kecil berponi lebih suka masakan berkuah seperti bakso atau sup. Namun, lagi-lagi, aku harus mengakui bahwa sup buatan Ayu lebih gurih dan nikmat daripada buatanku.

Pada malam minggu kali ini, aku dan Ayu bekerja sama untuk membuatkan sup bagi Daras karena gadis kecil yang suka berpetualang ke alam itu telah melakukan suatu tindakan baik yang tak pernah aku dan Ayu pikirkan selama ini. Pada sehari sebelumnya, Ibu Rusli, ibunda dari Mimi, datang ke rumah kami dengan mengantarkan jajanan terang bulan sebagai tanda terima kasih kepada kami karena Daras telah berbuat baik kepada Mimi. Pada saat Ibu Rusli berkata seperti itu, aku seakan-akan tak percaya atas apa yang dilakukan gadis kecil berponi. Ada suatu emosi yang tak bisa dituangkan dalam kata-kata ketika dia berbuat baik kepada orang lain, kepada kawannya yang sedang sedih. Biasanya, pada subuh hari, sebelum berangkat ke kantor, istriku memang membuatkan bekal berupa sandwich atau nasi goreng atau makanan kering lain, dan selalu melebihkan porsinya; berjaga-jaga agar Daras tak jajan di luar.

Tik-tok jam menunjukkan pukul tujuh malam. Aku dan istriku berada di dapur. Daras melihat film The Boss Baby besutan sutradara Tom McGrath. Biasanya, ketika Daras menonton film ada banyak gelak tawanya yang terdengar, namun pada saat ini, hanya suara tokoh-tokoh film yang terdengar, dan tak ada suara Daras. Ketika aku mencuci piring, dan istriku mulai mengaduk kuah sup yang telah mengental dan tercium semerbak wewangian dari sup, istriku bertanya dengan suara keras, “Daraaas, ngapain sayang?”

Beberapa menit kemudian, gadis kecil itu menjawab, “Nonton film, Bu.”

Istriku menimpalinya, “Baiklah, sebentar lagi, sup favoritmu jadi.”

Daras tak menjawab.

Istriku merasa ada yang aneh, kemudian berkata kepadaku bahwa Daras berbeda sekali malam ini. Rengekan-rengekan dan teriakan-teriakan tak muncul dari mulut kecilnya. Lalu aku menjawab bahwa itu hanya kekhawatiran seorang ibu, dan mungkin saja, Daras sedang terhanyut dalam setiap frame-frame dari film The Boss Baby.

Lalu, aku menyiapkan tiga piring, tiga gelas, dan satu piring besar untuk sup, dan menciduk nasi dari magic jar ke piring besar yang lain. Semuanya kutata serapi mungkin. Lalu, aku membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sekotak besar jus jeruk dan beberapa buah-buahan. Setelah di rasa cukup, istriku mengecilkan api kompor, kemudian mengaduknya untuk terakhir kali, dan mengambil kain untuk mengangkat panci kaserol. Dengan penuh hati-hati, dia mengangkat panci kaserol dan menuangkannya ke piring besar yang telah kutata di meja makan. Setelahnya, dia mengambil sendok dan merasakan sup panas buatannya dan mengecapnya.

“Sayang, coba rasakan supnya?” titah istriku.

Aku bergerak menujunya. Ketika telah dekat, aku mengambil sendok dari tangannya, membungkukkan badan, dan menciduk sedikit kuah yang kemudian kusorongkan ke mulutku.

“Hm, pas!”

Setelah merasakan sup itu, aku meletakkan sendok, dan mengarah pada istriku. Aku berdiri dengan menatapnya, pun dengannya. Lalu, tangan kananku mengambil tisyu di meja makan, mengeluarkan selembar, dan kemudian menyeka dahi hingga pipi dan leher istriku yang berkeringat. Setelah itu aku berkata, “Terima kasih untuk segalanya.”

Kedua tangannya dinaikkan dan menyentuh kedua pipiku. Kepala kami telah berdekatan, desah nafas terdengar satu dengan yang lain. Letupan emosi bergejolak tinggi. Kedua bibir kami bertemu, sangat pelan dan sangat lembut. Setelahnya, dia berkata, “Terima kasih juga untuk segalanya.”

Aku bergegas untuk memanggil Daras yang sedang menonton film di ruang keluarga. Sekilas, kulihat istriku membenarkan kancing-kancing baju flanel birunya yang bermotif kotak-kotak. Setelah berada di ruang keluarga, ketika aku duduk bersebelahan dengan Daras di sofa, dan berkata:

“Wah, sepertinya bagus filmnya.”

“Iya, Yah. Petualangan-nya si Tim dengan adiknya.”

“Nah, pause dulu filmnya, nanti ceritakan sama ibu di meja makan, ya.”

Aku menggandeng tangan Daras menuju ke dapur yang sekaligus menjadi ruang makan di rumah kecil kami. Langkah-langkah kami memangkas jarak ruang keluarga dan dapur.

“Ah, sayang, sini, sini, dekat ibu.”

Aku melepaskan genggaman tangan Daras, dan membiarkannya untuk duduk di dekat ibunya, dan aku pun menggambil tempat bersebelahan. Dihadapan nasi, sup, tahu dan tempe, sambal, dan segala kesederhanaan suasana yang ada, kami segera menikmati acara makan malam ini. Istriku mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk kami berdua. Ya Tuhan, sungguh pun momen seperti ini tak akan pernah tergantikan ketika Daras dewasa nanti, pikirku.

Setelah berdoa yang kupimpin selesai, kami pun makan.

Istriku membuka obrolan tentang tindakan apa yang dilakukan Daras sehingga Ibunda Mimi datang memberikan jajanan terang bulan.

Ketika mulut kecil itu mengunyah dan tanpa rasa sungkan, Daras pun bercerita.

Mimi, kawan Daras sekelas itu, bercerita bahwa dia senang memiliki adik. Bagi Mimi, dia ingin membahagiakan adiknya dengan menabung untuk membelikan adiknya mainan. Pada awal minggu yang lalu, pada hari senin, pada jam istirahat, ketika kawan-kawannya semuanya ke kantin untuk membeli jajan, Daras melihat Mimi yang menahan perutnya ketika berada di dalam kelas dan Mimi tak ingin membuang uang jajannya, ingin menabungnya. Daras merasakan empati yang besar pada kawannya. Lalu, Daras membagi jajanannya di kotak makannya yang selalu dilebihkan oleh istriku. Ketika Daras memakan jajanannya bersama Mimi dan bercerita tentang adiknya yang mungil dan lucu itu, Daras berkata dengan keluguannya, “Apakah Adiknya Mimi boleh jadi adikku juga?”

Mimi, melalui Daras yang menyantap sup, berkata, “Iya, Raaas. Adik Mimi itu Adik Daras juga.”

Kedua gadis kecil itu memakan jajanannya. Seusai pulang sekolah, Mimi bercerita bahwa Daras telah memberikannya jajanan. Begitulah menurut penuturan Daras.

Ketika sup yang kami makan akan habis beberapa sendook lagi, Daras berkata kepada ibunya:

“Bu, kapan Daras punya adik seperti Mimi, seperti si Tim dengan adiknya.”

Aku pun membalas. “Sabar, ya. Nanti, Nak. Daras ingin punya adik?”

Daras mengangguk.

Istriku bertanya, “Daras kesepian?”

Daras mengangguk.

Istriku mendekatkan kursinya dan menjadi lebih dekat ke Daras. Kulihat dia memeluk puterinya seerat mungkin. Lalu, bibir lembutnya itu mencium kepala Daras dan mengusap-usapnya, sambil memandangku untuk memberikan jawaban yang tepat.

“Baiklah, Ras. Bila Daras ingin punya adik, mulai sekarang Daras harus baik terhadap siapa saja, seperti Daras memberikan jajanan ke Mimi. Dan, Tuhan akan memberikan adik yang Daras inginkan. Jadi, Daras harus belajar dulu jadi kakak yang baik, ya.”

Daras mengangguk dan memainkan sendok di atas piringnya. Mataku dan mata Ayu bertatapan untuk ke beberapa kalinya.

Daras Kecil, Festival Kesenian, dan Ekonomi Kecil.

1501940925581

Memulai itu mudah, bertahan adalah seni – pepatah Jerman.

Pada malam hari, pancaran sinar bulan menerangi kota. Sinar itu bergerak ke berbagai sudut-sudut aktivitas manusia kota, manusia urban. Sinar itu menerangi seorang penjual gudeg di trotoar jalan; sinar itu menerangi seorang mahasiswi kedokteran bersama pasangannya di rooftop di sebuah rumah makan untuk menikmati keintiman hubungan mereka; sinar itu menerangi seorang agamawan dengan kesalihannya yang bijak saat memberikan nasihat-nasihat pada mereka yang memerlukan di suatu acara agama; bahkan sinar menerangi seorang penyanyi muda yang sedang merintis karir dengan alat musiknya bagaikan kekasihnya dalam menelurkan karya-karyanya di suatu stage; dan sinar itu pun menerangiku ketika berdiri di lalu-lalang orang-orang yang sedang berjalan-jalan atau mencari hiburan di suatu festival kesenian.

Kedua mataku dari balik kacamata masih asyik memandang dengan khidmat sinar bulan itu, betapa mengagumkan maha karya sang pencipta. Seseorang menyenggolku dari belakang dan mengacaukan proses kenikmatan itu. Lalu, aku menatap lurus ke depan, ke kedua sinar yang terus-menerus menerangi sisi-sisi gelapku dan tak kalah mengagumkan; sinar pertama, Ayu, kawan hidup yang selalu menemaniku dalam pelbagai kondisi apapun meskipun kerapkali kami berseberangan cara pandang, dan justru perbedaan cara pandang itulah yang menumbuhkan kedewasaan kami dari satu masalah demi masalah serta mencari solusi, seperti pepatah Jerman yang pernah kubaca, bahwa memulai adalah mudah, namun bertahan adalah seni; sementara, sinar kedua, Daras kecil, puteriku serta pahlawan kecilku dan bidadari yang mengajariku banyak hal tentang bagaimana merasakan kehidupan kembali.

Di antara delapan stand yang berjejer di kanan dan di kiri yang terhampar di depan mataku, kulihat istriku berada di stand fashion untuk anak-anak, salah satu dunia yang disukainya. Dari kejauhan, kulihat dia mendandani Daras dengan selera fashionnya yang sederhana. Aku teringat, pada suatu malam, perdebatan dengannya tentang dunia mode, dan dia menjawab bahwa pemilihan warna juga merupakan faktor pendukung dari bagaimana citra yang ditampilkan, namun yang paling utama adalah kepercayaan diri. Istriku sedang mengobrol dengan pemilik brand itu di salah satu stand, sementara Daras asyik memainkan gadget milik ibunya. Pemilik brand itu mengambil dua bucket hat, berwarna hitam bermotif batik dan berwarna kuning dengan motif bunga. Daras kemudian memilih bucket hat berwarna kuning dengan motif bunga dan melihat ke cermin yang tersedia. Tangan kecilnya itu melambai-lambai kepadaku, dan aku bergerak menuju mereka.

“Yah, Daras punya topi.”

“Menurutmu, sayang?” tanya istriku, ingin mengetahui pikiranku.

“Pada dasarnya semua perempuan telah cantik, fashion hanya menaikkan ke satu tahapan lagi, perfek! Bukan begitu Daras.”

“Iya, Yah!” seru Daras meski dia belum tahu apa yang dimaksud.

Kami bertiga tertawa, dan kemudian istriku mengenalkanku pada pemilik brand itu, dan dia menyebutkan namanya, ‘Floris!’ Perempuan yang lebih muda tiga tahun dari istriku ini telah berjuang selama lima tahun lebih dan mulai bercerita tentang melakukan riset dan analisa brand, konsep, produksi, pemasaran atau promosi, lokasi, teknologi, bahan, dan lain-lainnya. Dengan spirit yang dimilikinya, perempuan itu menceritakan jatuh-bangun usahanya. Istriku meletakkan tangannya yang lembut ke tangan Floris ketika dia bercerita tentang kegagalan untuk kedua kalinya dalam menjalankan brand fashionnya.

“Tapi passionmu luar biasa, Floris,” ujar istiku dengan nada bersimpatik.

“Ah, mbak. Tentu mbak Ayu jauh lebih berpengalaman dariku,” balas Floris.

“Baiklah kalau begitu, bisa kuminta nomormu.”

Floris memberikan kartu nama. Setelah membayar kami pergi dan melanjutkan perjalanan. Selama berjalan-jalan dan melihat stand-stand yang menjual produk mereka dari dompet kulit, pakaian, mainan anak-anak, kuliner tradisional, dan segala produk-produk yang sedang berkembang atau ekonomi kecil itu.

Pada akhirnya kami kelelahan, dan memutuskan untuk makan. Karena yang menjadi primadona adalah Daras, gadis kecil berponi, maka dia yang memilih. Daras menunjuk ke stand yang bertuliskan ‘Batagor Bandung’. Ketika menikmati Batagor Bandung di sebuah stand makanan, istriku kemudian mengeluhkan bagaimana produk dari kawan-kawannya satu-persatu harus gulung tikar. Apa yang diceritakan oleh istriku telah kualami beberapa tahun yang lalu ketika kawan-kawanku dari penerbitan buku kecil sedang berjuang dan juga berakhir dengan gulung tikar. Sambil menusukkan garpu ke batagor di piring, makan dan mengunyah, aku menjelaskan bagaimana sistem yang bekerja secara sederhana agar istriku memahami meski sedikit, dan berkata:

“Aku ingat seorang pemikir tua, dan dia berkata bahwa kedaulatan ekonomi ini sesuai dengan cita-cita kita untuk tidak tergantung pada ekonomi atau kekuatan asing. Kedaulatan ekonomi berisikan kemampuan masyarakat dan bangsa untuk mengambil sikap dan keputusan dengan semangat berdikari, memiliki individualitas dan oto-aktivita, berkepribadian, memiliki harga diri dan mempunyai kepercayaan pada diri sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini perlu dilaksanakan di dalam pengembangan dan pembangunan pengusaha kecil. Paham nyonya manis?” [1]

Istriku menganggukkan kepalanya.

Sambil melepas bucket hat-nya, Daras menyela, “Yah, Daras minta punya ayah.”

“Jangan, pedas, Nak.”

“Ahhh! Daras minta Bu, ya.”

“Punya ibu aja, Ras. Sini, ibu suapin.”

“Ahhh! Daras minta punya ayah, Bu.”

Aku menggelengkan kepala sembari tersenyum melihat dua sinar yang menerangi dan menghidupkan hidupku itu terus bertengkar. Aku mendongakkan kepala, malam semakin larut, namun sinar bulan di langit memancar dan bergerak ke berbagai sudut-sudut aktivitas manusia kota, manusia urban.

[1] Lihat Pengembangan Pengusaha Kecil: Salah Satu Aspek Ekonomi Terpimpin – Mohammad Hatta

[2] Image taken from Hinggil DFF.

Festival Kesenian Yogyakarta 2017, Sewon, Bantul, Yogyakarta, 4 Agustus 2017.

Menyapa Dono Melalui Herzschmerz.

IMG_20170802_205656

Bila kamu punya uang lima ribu atau sepuluh ribu, hidup di era naik-turunnya angka dalam percaturan bursa saham, apa yang bisa di dapat? Kios buku bekas pun menjawab, Novel Dono (Warkop DKI).

Bertemu Dono adalah suatu keberuntungan tersendiri, namun juga suatu ketak-beruntungan sendiri. Keberuntungannya adalah aku mampu mempelajari teknik menulis yang sederhana, apa adanya, sebab bagiku, secara pribadi, dosen Sosiologi Universitas Indonesia ini adalah salah satu novelis realisme di tahun 1990-an yang tak populer untuk ukuran zaman sekarang, kecuali Dono sebagai pemain film. Ketak-beruntungannya adalah, permainan psikologi tokoh, atau tema pembenturan antara kasta, perkawinan, politik dan hal paling menyebalkan adalah upayanya untuk menarik pembacanya ke tahapan: Herzschmerz.

Herzschmerz adalah salah satu kosakata Jerman yang berarti sakit hati. Dalam wortbedeutung[dot]info, Herzschmerz, tertulis seperti ini, Begriffsursprung: Determinativkompositum, zusammengesetzt aus den Substantiven Herz und Schmerz. [Asal istilah: komposisi determinatif yang terdiri dari kata benda Herz (Hati) dan Schmerz (Sakit).]

Dono sangat sukses untuk membawaku menelusuri luka-luka yang dimainkan oleh tiap tokohnya, khususnya tokoh Kodi dan Arien, semisal dalam Novel ‘Cemara-Cemara Kampus’:

“Kodi jadi lemas melihat sahabatnya itu. Ketua organisasi angkatan muda di kotanya. Kini tersedu memelas di sudut. Apa ini yang disebut cinta itu buta. Cinta memang manusiawi sekali. Ia bisa datang kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. (Kayak Coca-Cola dong!) // Kodi mengintrospeksi dirinya sendiri. Ia mengukur apakah memang dirinya setia pada Wulan? Ia menyadari bahwa dirinya punya andil besar dalam peristiwa semacam ini. Dari sorot matanya, dari tingkah lakunya, kedua anak manusia ini, Darsono dan Wulan saling mencintai. // Dan bagi Kodi, perkawinanya memang telah cacat, dan itu tak mungkin bisa dipulihkan kembali. Kodi tak memiliki sesuatupun yang bisa mengikat tali perkawinannya. Ia tak memiliki apa-apa lagi. Di hadapannya seperti jalan panjang yang gersang, dan ia menitinya dengan layang-layang tanpa pegangan. // ”Kamu mencintainya, Dar?” tanya Kodi // Darsono mengangguk ragu. // “Kamu?” tanya Kodi kepada Wulan. Perempuan itu mengangguk pula, tangisnya masih saja berderai-derai. // “Ambillah…dan miliki” kata Kodi, airmatanya hampir saja tumpah, kalau tak ditahan karena gengsinya.

Atau,

“Dik Arien, perempuan itu kaum lemah, tetapi sebenarnya lelaki lebih lemah dari perempuan. Ia seperti layang-layang yang putus benangnya jika ditinggalkan perempuan. Itulah sebabnya, dik, kita harus menolongnya. Mungkin dik Arien memang benar tak punya perasaan apa-apa. Tetapi sebagai orang yang pernah menjadi kawannya, kalau dik Arien sudi menolong kan tak ada salahnya.” // Arien jadi teringat Anton, yang dulu juga merayunya seperti ini, untuk sekedar memikirkan Kodi. Hati Arien jadi sebel. // “Mbak, saya tak bisa penuhi permintaan mbak itu,” kata Arien mantap. // “Hanya untuk berbicara sedikit sekalipun?” // “Ya!” // “Antara manusia dengan manusia, juga tertutup kemungkinan itu?” desak Wulan.

Dono, dalam selimut realisme dan herzschmerz, menyodorkan satu fakta yang setiap orang tak menginginkannya, “menerima kenyataan dari luka/sakit itu.” Dan beranjak dari “menerima kenyataan dari luka/sakit itu,” aku dan kamu, yang dipertemukan oleh luka/sakit, dan sama-sama mempelajarinya melalui waktu, diharapkan memberikan warna lain bagi siapa saja yang masih belum mampu keluar dari sulitnya “menerima kenyataan dari luka/sakit itu.”

Siapkah kita?

Bacaan tambahan:

[1] Belajar Kritik dari Dono Warkop.

Daras Kecil dan Kuliner. [*]

rawon jogja dua

Dari kuliner kita bicara banyak hal – kawan lama, di Malang.

Pada minggu kali ini, setelah menanti dan menemani istriku untuk berbelanja ke pasar besar, selain berbelanja, aku juga ingin membiasakan puteri kecilku untuk bersosialisasi dengan orang-orang pasar, baik para pembeli atau para pedagang, dan kubiarkan saja sebebas mungkin ia memelajari kondisi masyarakat dengan keragaman di pasar itu. Setelah sejenak membeli beras serta bercengkrama dengan Koh Along, seorang keturunan Cina; lalu ke toko Bang Idrus, seorang keturunan Arab, untuk membeli beberapa meter kain pesanan kawan istriku di kantor; dan membeli beberapa kebutuhan pangan, di toko Yu Marti, di toko Teteh Lina, orang-orang dengan latar kebudayaan yang berbeda. Saat di toko Yu Marti, Daras mendapat sedikit jajanan, dan bertanyalah perempuan tua itu:

“Duh, Nduk, kowe kok ayu tenan. Persis koyo jenenge ibumu, Ayu. Iyo tho…?”

Istriku dengan pemahaman perempuannya, hanya tersenyum. Dan, membalas sanjungan Yu Marti:

“Ah, Yu Marti juga ayu kok, ya kan Daras.”

Daras memonyongkan bibir dan sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan situasi pasar besar dengan keanekaragaman corak kultur yang mengendap dalam setiap insan, dan membalas dengan suara yang lirih:

“Iyaaaa…”

Ledakan tawa Yu Marti, aku, istriku, dan dua orang lainnya pun mengudara di panasnya lorong pasar bagian pangan.

Dua jam sudah, lalu barang-barang belanja bulanan telah berada di mobil kecil kami, aku menutup pintu mobil, menghidupkan mesin, dan kemudian bergerak mengikuti aba-aba si tukang parkir dengan suara tiupan peluit yang begitu melengking, beradu dengan suara klakson mobil-mobil lain serta sepeda-sepeda motor lain yang mana sebagian pengemudinya tak sabar menanti, kami keluar dari parkiran.

Di dalam mobil kecil kami, Daras menikmati jajanan pasar serta pemberian Yu Marti; setelah istriku memberikan sedikit perintah untuk menggosok gigi pada gadis kecil berponi yang duduk di kursi belakang, lalu dengan mengikat rambut belakangnya, dan menyeka dahinya dengan tisyu, lalu bertanya, “Kita cari makan di mana?”

Anjuran empat tempat kuliner tak menemukan persetujuan, setelah melewati satu pertigaan, dua perempatan, dan pada akhirnya, aku teringat kawan lama serta seorang guru hidup, semasa aku es-em-a yang banyak memberikan narasi-narasi tentang lika-liku hidup, Pak Darman, seorang penjaja makanan tradisonal Jawa Timur.

“Ya, aku tahu. Aku akan mengenalkanmu dengan seseorang.”

“Siapa?”

“Kejutan…”

“Amanda? Penulis perempuan yang novel ketiganya meledak di pasaran itu, yang kemudian kamu diminta untuk mengulas karyanya itu?”

Aku hanya tersenyum melihat kecemburuan istriku. Bagiku, cemburunya seorang perempuan adalah tanda bagaimana mereka ingin suatu perhatian khusus.

“Mungkin?” balasku, dengan menggodanya.

“Mungkin?” balasnya dengan memalingkan wajah ke arah yang lain.

Tangan kiriku memasukkan ke gigi selanjutnya, dan setelahnya, tangan kiriku merambat dan menggenggam tangan istriku yang lembut.

“Kau cantik, jika cemburu.”

“Oh, ya, ya, ya,” tambahnya dengan wajah masam, namun segera membentuk nuansa mesra.

Daras pun menghancurkan sisi nuansa keintiman hubungan kami, dengan mengatakan bahwa perut kecilnya lapar dan berbunyi ‘krucuk-krucuk-krucuk’, dan aku menimpalinya, saat menurunkan gigi mobil ketika berada di tikungan:

“Laksanakan, tuan puteri kecilku.”

“Daras jadi seorang puteri, Yah?”

“Iya, dong!”

Daras kegirangan mengangkat tangannya sambil menggerakkan tubuh kecilnya, lalu istriku menyela:

“Tapi seorang puteri yang baik, kalau buang sampah harus di tempatnya, lho ya.”

“Sudah, Bu. Sudah.”

Lalu telunjuk tangan istriku menunjuk ke pembungkus jajanan ringan yang tercecer di karpet-karpet mobil. Dan, gadis kecil itu memunguti sampah-sampah sisa makanannya ke keranjang yang telah tersedia di dalam mobil kecil.

Sebuah papan berwarna hijau bertuliskan ‘Rawon’ sedikit demi sedikit mulai menampakkan dirinya. Perlahan-lahan, mobil kecil kami telah sampai di parkiran warung ‘Rawon.’

“Kita makan di sini, sayang?”

“Ya, kamu akan bertemu dengannya?”

“Siapa?”

“Seseorang yang mengajariku banyak hal, yang tak pernah kumengerti hingga sekarang.”

Istriku memandangku, sambil memegang tanganku dengan mesra. Dan berkata pelan:

“Duniamu terlalu luas, sayang. Aku hanya mengenal sebagian duniamu. Kamu banyak menyimpan cinta orang-orang yang masih tak kuketahui,” Setelah nafas beratnya dihembuskan, lalu dia berpaling ke Daras, “Ras, yuk, turun, makan?”

“Yeeey!”

Setelah menutup pintu dan mengunci pintu mobil di parkiran warung itu, hadirlah orang yang datang dan keluar dari warung ‘Rawon’ itu, lalu mataku sedikit dibasahi oleh air mata, dan cepat-cepat kuseka dengan tangan. Setelah dua belas tahun tak pernah kemari, ya, dua belas tahun. Lalu aku melihat ke sisi kiriku, trotoar jalan yang membangkitkan masa lalu, ketika aku masih berseragam es-em-a, ketika aku dikejar-kejar oleh anak es-em-a lain karena melindungi kawanku yang dipalak uangnya, dengan menghajar salah seorang dari mereka dengan batu yang ada di jalanan. Sungguh, begitu mengerikan dunia kemiskinan! Dan, tempat inilah, warung inilah yang menyelamatkanku, ketika aku melarikan diri dari gerombolan anak-anak es-em-a lain yang beberapa diantaranya membawa balok kayu. Pak Darman, pemilik warung ‘Rawon’, dari lantai dua rumahnya, kemudian memberikan kode ‘ssst-ssst’ ketika pandangannya yang jauh telah melihatku sedang kesulitan, dan aku menoleh ke asal suara, Pak Darman menyuruh untuk masuk ke warungnya, sekan-akan mengatakan bersembunyilah di sini, di sini. Warung ‘Rawon’ dua belas tahun inilah yang menyelamatkan hidupku. Sejak kejadian pengejaran anak-anak es-em-a lain itulah aku terus-menerus ke warung ‘Rawon’ Pak Darman untuk bekerja membantunya selama dua jam, dan memberiku sedikit upah, meski aku berasal dari keluarga kelas menengah. Dan, dari Pak Darmanlah, dari caranya sendiri yang mengelaborasi akan kehidupan anak muda itulah, yaitu aku, dan kumengerti bagaimana memainkan metode pendekatan personal yang lebih manusiawi kepada mereka yang perlu ditemani, merasakan dunia mereka, hati ke hati.

“Yah, ayo masuk!” Daras menarik tanganku, dan lamunanku segera buyar.

Aku berjalan dengan menggandeng Daras. Langkah-langkah kami melalui orang-orang yang sedang menyantap rawon. Kedua bola mataku melihat bahwa sudah banyak yang berubah. Dari tata ruang hingga perabotannya lebih modern. Kulihat seorang lelaki yang sedang mengaduk-aduk nasi, seorang lelaki muda. Lalu kusuruh Daras dan istriku duduk di meja panjang yang kosong, dan aku memesan rawon. Selama memesan itulah, aku bertanya kepadanya, ke mana Pak Darman. Lelaki itu adalah anak pertama Pak Darman yang dulunya tinggal bersama kakek-neneknya di ibukota, dan pernah diceritakan oleh orang tua yang menolongku itu.

“Bapak, telah pergi, dua tahun lalu, Mas.”

Aku hanya terdiam. Aku hanya bergeming.

*

Tiga porsi rawon telah terhidang di depan kami. Asap-asap mengepul dari kuahnya yang kental serta dagingnya yang lunak.

“Daras yang pimpin doa kali ini ya?” tawar istriku.

“Iya, Bu.” Lalu tangan kami bertiga terangkat. Daras dan istriku berdoa menikmati keberkahan makanan kuliner itu karena serangkaian proses panjang hingga menjadi santapan yang melezatkan; sementara aku, berdoa untuk kepergiannya, kepergian oleh orang yang mengajarkanku untuk hidup cukup; dan Daras melanjutkan, “Bismillah…”

*

Sesampainya di rumah, di dalam kamar pribadi, aku hanya membaringkan tubuhku ke samping, menindih kedua tangan dengan kepalaku, sambil mengulang pengalaman itu. Dari arah belakangku, istriku melekatkan tubuhnya yang sintal, kurasakan sentuhan lekuk tubuhnya, memelukku dari belakang, dan mencium pipiku dengan kasihnya, sungguh suatu keajaiban yang mengagumkan, lalu sambil memandang wajah muramku, ditengah kehangatan pelukannya, aku bercerita tentang sejarah Pak Darman dan warung kuliner rawonnya.

“Ia orang baik, meski aku tak mengenalnya, yang membuat suamiku dan ayah dari anakku menjadi manusia pembelajar,” tutur suaranya yang pelan, dan mencium pundakku dengan kesederhanaan cintanya.

[*] Diadopsi dari esai Radhar Panca Dahana, ‘Hidup Cukup’, dalam Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia (Resist Book, Maret 2007), “’Bang Uki, telah lebih dua puluh tahun berdagang nasi uduk, di pinggir pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Uduk yang sungguh enak. Tiap pagi, puluhan orang antre, untuk makan di tempat atau dibawa pulang. Paling lama dua jam saja, seluruh dagangan Bang Uki—ada empal, “tusukan”, telor, semur daging, tempe goreng, dan sebagainya—ludes habis. Begitu setiap hari. Dua puluh tahun lebih. […] Pertengahan 80-an, ekonomi Orde Baru tengah menanjak ke puncak ketinggiannya. Bang Uki, dengan ritme stabil batang pohon cabai terus berproduksi, belanja pukul satu dini hari, masak mulai pukul dua, berangkat pukul empat, dan usai Subuh telah menggelar barang dagangnya. Tepat jam tujuh pagi, semua tuntas. Pukul sepuluh, ia sudah nongkrong di teras rumah, lengkap dengan kretek, gelas kopi, dan perkutut. “Tinggal nunggu lohor,” tukasnya pendek. […] Berulangkali pertanyaan bahkan desakan untuk membuka kios terbukanya hingga lebih siang sedikit, ditolak Bang Uki. “Buat apa?” ketusnya sedikit kesal. “gua udah cukup. Anak udah lulus es-te-em, berdua nyak gua udah naik haji. Apalagi?” Dan rutin 20 tahun itu pun berlangsung terus. Pernah sekali penulis jumpai ia sedang memasak di rumahnya. Langit di luar masih gelap. Kedua mata Bang Uki terpejam. Tangannya lincah mengiris bawang merah. Saya menegur. Tak ada reaksi. “Abah masih tidur,” istrinya balas menegur. […] Lima belas tahun kemudian, sekali lagi saya datang. Bang Uki sudah pensiun. Wajahnya penuh senyum. Hidupnya penuh, tak ada kehilangan. Kami yang kehilangan, masakan sedap khas betawi. Kami sedikit tak rela. Bang Uki terlihat begitu ikhlasnya. Wajahnya tenang saat ia dimandikan untuk kali terakhirnya. Dua jam berdagang, enam jam bekerja, telah mencukupkan hidupnya. […] Dan Bang Uki tidak sendiri. Nyi Omah di Pasar Jum’at, pak Haji Edeng tukang soto Pondok Pinang, pun begitu. Tukang Pecel di solo, gudeg di Yogya, nasi jamblang di Cirebon, atau bubur kacang hijau di Bandung, juga demikian. Mungkin Anda bisa temukan pula di Padang, Banjar, Ujung Pandang, Ubud, atau kota-kota lainnya. Mereka yang bekerja dan berdagang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika telah cukup, untuk apa bekerja lebih. Untuk apa hasil, harta, atau uang berlebih? “Banyak mudharatnya,” kilah pak Haji Edeng. Mungkin.’”

[**] Image di atas adalah salah satu warung kuliner Jawa Timur favorit saya, di sepanjang jalan Gejayan, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Daras Kecil dan Gamelan.

DSC_0001

Seni terwujud di dalam kemampuannya untuk mempesonakan: seni memberikan ilusi tercapainya dunia maya justru pada saat menguasai unsur-unsur dunia material – Lèbur: Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura (La matière des émotions. Les arts du temps et du spectacle dans la société madouraise), Hélène Bouvier, École Française d’Extrême-Orient. 1994.

*

Malam itu aku mengajak Daras dan istriku ke suatu pertunjukan musik gamelan. Suatu pertunjukan dengan konsep mempertemukan beberapa grup gamelan. Di halaman gedung, aku berdiri dan menatap gedung itu. Entah telah berapa lama aku tak mengunjungi gedung itu. Meskipun, aku termasuk golongan akademisi, namun aku tak membatasi ruang gerak pertemananku. Di gedung itulah, aku banyak bertemu dengan para penyair, para novelis, para cerpenis, para kritikus, para komposer, para dramawan, atau para musisi. Gedung itulah yang dibuat untuk menampilkan imajinasi-imajinasi manusia dalam beragam bentuk, siapapun kerapkali menyebutnya dengan ‘karya.’ Di gedung itulah yang kelak nanti akan memunculkan benih-benih muda kebudayaannya. Dan di gedung itulah aku bertemu dengan beberapa kawan musisi dan sastrawan, seperti Si Rolis, penyair yang terlalu mengarah pada Marcel Proust; ada Bastian, seorang novelis realisme cum sejarawan; ada Binar, seorang perempuan dengan alat musik flute-nya; dan sahabatku, Mischa, seorang komposer yang kini telah melalang-buana ke berbagai belahan dunia, dan dari gedung itulah ia menanam bibit-bibit mimpi untuk menjadi seorang komposer dunia.

Aku masih berdiri dan menatap gedung itu. Kulihat seorang fotografer sedang membidikkan kameranya ke audiens yang telah datang, seperti seorang penembak jitu yang begitu fokus pada objek yang dituju; kudengar seorang muda-mudi sedang membicarakan tentang transformasi-transformasi suatu genre musik, percakapan yang telalu hangat bagi mereka; atau dua jurnalis musik sedang tertawa terbahak-bahak menikmati kisah pertemanan mereka. Langit malam begitu cerah dan semilir angin menyusup ke tempat yang ingin mereka isi.

Kurasakan telapak tangan kecil itu menggenggam jari telunjukku dan menarik-nariku sehingga aku tersadar bahwa aku terlalu lama terjerumus dalam suasana gedung.

Yah, yah!”

Aku menolehkan kepalaku ke sisi kanan, sedikit ke bawah.

Oh, sudah? Mana ibu?”

Daras membalikkan tubuh kecilnya, lalu menjulurkan tangannya, dan berkata, “Itu, Yah!”

Lalu aku mengikuti arah tangan bidadari mungil itu. Tampak kejauhan istriku berjalan pelan-pelan dengan membenarkan rok panjang batik bermotif. Dari kejauhan itu pula, aku melihat keeleganannya dibalik kesederhanaannya, sambil memutar ingatan tentang doktrin fashionnya, bahwa fashion terletak pada kepercayaan diri.

Lama sekali, puteri cantik?” sindirku, ketika dia mendekat.

Jaket Daras tertinggal di mobil,” tegasnya, lalu mengarah ke Daras, “Daras pakai jaketnya, dingin.”

Nggak, Bu. Nggak mau.”

Nanti kamu sakit lagi.”

Nggak, Bu. Nggak mau.”

Perdebatan kecil antara ibu dan anak gadisnya memulai kembali.

Ya sudah, nanti kalau Daras kedinginan, bilang ya,” tambah istriku.

Hm, hm.”

Kami bertiga mulai berjalan untuk memasuki hall gedung. Ketika menuju hall itulah, aku teringat bagaimana Kyai Makrus berkata padaku saat aku belajar mengeja kalam-kalam Ilahi dalam bahasa Arab ketika di pondok pesantren dulu, suara tuanya pun masih membekas, “jika kamu membacanya dengan benar, maka alunan merdu akan muncul, sehingga menarik bagi siapa yang mendengar, seperti musik, seperti seni.” Pun dengan dengan Romo Suryadi, guru dan kawan dekat saat membicarakan filsafat dengan pemahaman relijiusnya yang sangat luas sehingga nampak dinamis, “kehidupan adalah kesenian bermusik yang adakalanya menawarkan kebahagiaan dan kesedihan, dan kita hanya bisa menikmatinya.” Berangkat dari kedua pemahaman itulah, aku senang mengajak keluarga kecilku ke suatu pertunjukan musik, dan mengajarkan pada Daras tentang emosi, tentang perasaan, agar mampu mencapai tahapan memanusiakan manusia, di kemudian hari.

Lalu kami memasuki sebuah lorong dengan beberapa panitia yang menunjukkan tempat di mana harus dilewati, lalu di ujung lorong terbagi dua arah, arah kiri untuk penonton, dan arah kanan untuk para fotografer dan media partner. Kami mengarah ke arah kiri. Kaki-kaki kami bersama puluhan audiens lain bergerak hingga mencapai suatu tempat di mana kursi-kursi telah tertata rapi, berderet memanjang. Istriku memilih untuk duduk di deretan kedua. Sesampainya, kami pun duduk. Mata kecil Daras terkagum-kagum melihat tatanan panggung di mana backdrop dihias dengan anyaman bambu-bambu, lighting yang memancar di antara gelapnya ruangan, dan terdapat dua layar besar di kanan-kiri panggung. Di atas panggung, terdapat instrumen-instrumen musik yang memiliki falsafahnya masing-masing: Kendang, Saron, Gong, Bonang, Slenthem, Kenong, Gender, dan Siter.

Seketika itu juga, Daras, puteri kecilku, yang selalu ingin tahu pada hal-hal baru terus saja bertanya sambil menatap dengan tajam. Istriku, yang mana keluarga besarnya masih terasa adat Jawa yang kental, kemudian menjawab, yang mana Kendang, yang mana Saron, yang mana Gong, yang mana Bonang, yang mana Slenthem, yang mana Kenong, yang mana Gender, dan yang mana Siter.

Bu, Daras coba, ya Bu?”

Nggak boleh, itu khusus pemain.”

Ahhh! Bu, Daras coba, ya Bu?”

Daras, nanti setelah pertunjukan Daras bisa coba,” tambahku.

Sekarang, Yah. Sekarang.”

Di saat gadis berponi itu terus merengek, dari arah yang tak terduga, mendadak muncullah suatu suara:

Selamat malam, ibu muda.”

Aku dan istriku menuju ke sumber suara.

Wiiildaaa!” teriak istriku.

Daras berhenti merengek, dan gestur wajahnya memandang aneh pada ibunya.

Apa kabar kamu?” tanya Wilda kepada istriku.

Mereka bersalaman lalu berpelukan. Lalu aku diperkenalkan pada Wilda oleh istriku. Wilda adalah seorang dosen di Belanda yang mengajar etnomusikologi, studi tentang bentuk seni pertunjukan yang berkaitan dengan teknik garapan dan dokumentasi musik-musik etnis. Wilda adalah kawan lama istriku semasa es-em-a. Setelah aku diperkenalkannya, lalu Wilda berkata bahwa dia adalah ketua pelaksana dari acara gamelan itu, kemudian Wilda berkata:

Maaf, tadi aku mendengar anakmu ingin menyoba alat musik itu, benar?”

Ah, Wilda.”

Kamu, mau coba, sayang?”

Daras tak menjawab, rasa malu menguasai dirinya.

Kalau mukul alat musiknya sama ibu, mau?” tambah istriku, dan Daras mengangguk.

Sayang, aku ajak Daras ke atas panggung dulu.”

Oh, tentu saja, tentu saja.”

Wilda, yang wajahnya nampak lebih tua dari istriku, hanya tersenyum kepadaku dan menganggukkan kepala, dan aku pun membalasnya. Lalu, istriku berdiri, menggeser tubuhnya di sela-sela kursi penonton, dan menggandeng tangan Daras, untuk menuju ke panggung sebelum pertunjukan di mulai. Daras berjalan ditengah dua perempuan dewasa itu. Pelan-pelan, mereka menaiki tangga panggung, dan tangan mungil Daras mulai mencoba alat-alat musik tradisional seperti Kendang, Saron, Gong, Bonang, Slenthem, dan Kenong. Seluruh audiens menyaksikan apa yang sedang dilakukan Daras, istriku, dan Wilda. Selang beberapa menit, istriku dan Daras, gadis kecil yang telah terpuaskan keinginan pengetahuannya akan alat-alat musik tradisional, kembali duduk disampingku.

Sembari duduk dipangkuanku, lalu mencium ubun-ubunya dan aku bertanya pada gadis berponi itu, “Bagaimana, Daras senang?”

Senang, Yah.”

Beberapa saat kemudian, pertunjukan gamelan segera dimulai.

Yogyakarta Gamelan Festival, PKKH UGM, 21 Juli 2017.

Daras Kecil dan Belajar Mengayuh Sepeda Roda Dua.

Kazam-Learn-How-To-Ride-1

Take my hand / I’ll teach you to Dance / I’ll spin you around / Won’t let you fall down – All About Us, Owl City, feat He Is We.

Pada kenaikan kelas yang lalu, aku menjanjikan puteri kecilku, Daras berponi, sepeda roda dua. Satu bulan setelah penerimaan raport, setelah aku selesai membantu mengumpulkan data-data untuk Prof. Anara, untuk bahan buku terbarunya tentang sejarah film Prancis, dan menerima sedikit upah. Upah itu kubelikan sepeda KaZAM bicycle.

Siang itu aku menjemput Daras pulang sekolah, dan kemudian mampir sejenak ke tempat kerja istriku, di Pusat Kajian Budaya dan Bahasa Inggris. Selama di perjalanan menuju tempat kerja istriku, Daras banyak bercerita tentang hari-harinya, terlebih tentang sulitnya dia menghafal perkalian dalam bilangan puluhan. Dari sanalah aku bisa sedikit menerka bahwa Daras memang lemah dalam angka. Belasan menit kemudian, ketika telah berada di depan Pusat Kajian Budaya dan Bahasa Inggris, aku memarkir mobil, dan mengantarkan Daras dengan menggandeng tangan mungilnya yang lembut ke ruang informasi itu, dan di sana, Daras menjadi primadona. Kawan-kawan kerja istriku seperti Tante Nana atau Bu Rista, dan beberapa murid yang belajar di sana mengerubunginya.

Ah, kau manis sekali, sayang, seperti ibumu,” kata Tante Nana.

Aduh, aduh, Juliet kecilku,” kata Bu Rista sambil mencubit pipi, dan melanjutkan, “Bagaimana nilai raportmu, pasti bagus!”

Daras memang pemalu, hanya menganggukkan kepala berkali-kali, sehingga poninya bergerak ke sana- kemari. Setelah Istriku mengajak Daras makan siang, aku pergi ke luar ruangan untuk merokok.

Ketika duduk di sebuah bangku kayu dengan pinggiran besi, aku mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulut salah satu rokok. Pada hembusan ke tiga, sambil memandang pohon beringin tua yang meneduhkan, di mana aku melihat seekor induk burung gereja sedang dilingkari anak-anaknya untuk memberi makan; dan aku melihat burung gereja paling kecil terdorong oleh dua burung gereja yang lebih besar darinya dan mencoba mendesak kembali. Sungguh, kejadian itu mengagumkan untukku. Betapa indahnya karya Sang Pencipta membuat makhluk-makhluk yang manis itu.

Pada hembusan keenam, dari sisi kananku, dari beberapa meter, hadirlah Andra, mahasiswa ekonomi, yang telah kukenal sejak ia menulis kajian Marxisme di blognya. Tentang pemuda itu, ada satu yang menarik hatiku, tentang bagaimana ia memetakan kembali gagasan sosialisme Indonesia yang telah di analisa oleh Mohammad Hatta.

Mas…!” sapanya, sepuluh langkah kaki dariku.

Hai, Ndra!” balasku kembali.

Andra duduk tepat di sebelahku dan aku membuka obrolan dengan menawarinya rokok. Ia menolak, aku tak merokok, katanya. Lalu, sedikit-demi sedikit, perbincangan menjadi cair, aku lebih banyak menyodorkan pertanyaan tentang dunia Andra, karena aku lebih senang mendengarkan seseorang bercerita. Dan kami terhisap dalam perbincangan politik dan ekonomi. Tanpa disadari, pintu ruang informasi terbuka, dan tampak dua perempuan, dari dua zaman yang berbeda itu. Daras dan istriku mendekat saat aku sedang mendengar bagaimana sejarah Revolusi Industri di Inggris, di mana tenaga manusia akan terganti dengan tenaga mesin.

Wah, kalau dua pemikir sudah bertemu, seru ya,” kata istriku.

Ah, Mbak,” kata Andra.

Lalu Daras berada di pangkuanku.

Andra berdiri, dan berkata, “Baiklah, kalau begitu, Mas. Kapan-kapan kita sambung. Aku selesaikan urusanku dulu.”

Aku mengangguk dan menjabat tangannya dengan erat. Ia berpamitan kepada kami.

Sambil melihat Andra melangkah pergi, aku berkata kepada istriku, “Kau tahu, sayang, aku melihat diriku sepuluh tahun yang lalu dalam tubuh dan pikiran mudanya. Semangatnya luar biasa.”

Ya, ia memang pintar. Teknik menulis dalam bahasa Indonesia ke bahasa Inggris pun juga lumayan. Oh ya, sudah beli sepedanya?”

Mendengar kata ‘sepeda’, Daras lalu menyela, “Sepeda apa, Bu? Sepeda apa, Bu?”

Katanya ingin sepeda?” tambah istriku.

Mana, Yah. Mana, Yah?”

Nanti, dong.”

Yey…!” gadis kecil penyuka Charlie Brown itu melompat-lompat kegirangan.

Setelah itu aku berpamitan pulang dengan istriku. Bibir tipis istriku mengecup pipi Daras. Setelah itu berkata, “Sampai ketemu nanti di rumah, ya, Ras. Jangan nakal, dengarkan perintah ayah.”

Hm, hm.”

Sebelum melangkah ke parkiran, aku mendekat dengan lebih dekat ke istriku, dan membisikinya di telinga kanannya: “Kau tahu, kau tampak semakin manis dari Julietnya Shakespeare.”

Istriku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar rayuanku.

*

Sesampainya di rumah, setelah Daras berganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai, aku mengeluarkan KaZAM bicycle dari pintu belakang mobil, dan membawanya ke halaman belakang rumah. Aku memilihkan sepeda KaZAM bicycle bukan karena tanpa alasan, aku merasa sepeda itu tepat untuk melatih keseimbangannya meski tanpa pedal dan melatih kedua kakinya.

Woh,” kata Daras ketika kedua mata bundarnya melotot melihat bungkusan yang kubawa. “Aku yang buka, Yah. Aku yang buka.”

Tangan kecil Daras membuka kotak itu dan sedikit kesulitan menariknya.

Berat, Yah. Berat.”

Aku tertawa melihat tindak-tanduknya dan aku mengeluarkan sepeda itu, sepeda KaZAM bicycle berwarna biru laut. Setelah sepeda dikeluarkan, Daras berjingkat-jingkat tak sabar ingin mencobanya. Lalu, aku menyuruhnya untuk duduk di seat. Aku memeganginya di bagian bawah seat dan di bagian handle grip dan berjalan ke depan, setelah itu memutar ke sisi kanan dan terus beberapa langkah, memutar ke sisi kanan lagi dan terus beberapa langkah, sehingga membentuk satu putaran persegi panjang. Awalnya, Daras sangat kikuk karena masih belum terbiasa. Lalu kuulangi tiga putaran lagi. Selama, empat putaran itulah aku memberikan instruksi bagaimana cara memainkannya.

Saat akan menuju ke putaran kelima, aku berhenti di depan Daras, dan berkata:

Baiklah, Daras lihat dan dengarkan ayah,” kataku, dan gadis kecil itu menatap dengan penuh keyakinan dan aku pun melanjutkan, “Daras harus berani bermain sepeda sendiri setelah dengan bantuan ayah dan Daras jangan takut jatuh? Masih ingat apa yang ayah katakan tadi?”

Hm, hm.”

Sekarang, ayah berdiri di sini untuk melihatmu. Kamu coba bergerak ke arah sana, seperti tadi, Daras mengerti.”

Hm, hm.”

Daras mulai memasang kuda-kuda yang kuat di kaki-kakinya. Satu kayuhan, dua kayuhan, dan pada kayuhan ketiga, Daras gagal menyeimbangkan tubuhnya, dan sedikit condong ke kiri, dan, “Braaak!” Daras jatuh dengan tertindih sepeda mungil itu.

Aku tetap berdiri di posisiku. “Daras, bangun, Ras. Coba sekali lagi, jangan takut jatuh.”

Daras mengusap-usap bagian lututnya. Gadis kecil itu berdiri kembali dan duduk di posisi semula.

Ayah yakin, Daras bisa,” kataku.

Hm, hm.”

Dengan penuh keyakinan, Daras mencoba lagi. Satu kayuhan, dua kayuhan, tiga kayuhan, empat kayuhan, lima kayuhan dan, “Braaak!”

Daras, nggak apa-apa?”

Nggak apa-apa, Yah.”

Mau berhenti?”

Nggak, Yah. Daras bisa.”

Ya Tuhan, betapa kuat dan hebatnya puteriku. Nanti, jika kau sudah dewasa, kau akan jatuh berkali-kali, Nak. Namun, ingatlah pengalaman pertama jatuh dari sepeda ini.” kataku dalam hati, dan tersenyum ketika melihat Daras telah menyesuaikan keseimbangannya. Dan gadis kecil berponi itu terus mengayuh, terus mengayuh, tanpa henti…

[] image by kazambikes

Keterpurukan dan Kebangkitan Sepakbola Jerman. [*]

9783843712972_cover

Buku sepakbola adalah alusi pada Star trek, Game of Thrones, dan permainan Nintendo di tahun 1980—lebih baik itu tak benar-benar muncul. Meskipun demikian, aku bertemu dengan Raphael Honigsteins, ”Bintang Empat” (Der Vierte Stern) tak sepenuhnya bahagia.

Honigstein, telah menjadi seorang jurnalis di London selama lebih dari 20 tahun, membawa para pembaca dalam pembaruan tentang timnas sepakbola Jerman sejak diambil alih oleh Jürgen Klinsmann.

Sebagai kerangka naratif, ia memilih Piala Dunia 2014, yang mana diakhiri dengan bertambahnya ‘title’. Setiap pertandingan memberikan bagiannya sendiri, dan setiap bagiannya juga mendalami beberapa aspek reformasi di sepakbola Jerman. Sebagai tambahan, dimulai dengan mempertemukan para pemain kunci di tim 2014 yang dihadirkan dalam gambaran singkat, dalam pertandingan pembuka melawan Portugal, tiga gol oleh Thomas Mueller atau Manuel Neuer sebagai prototipe penjaga gawang baru di babak enam belas besar melawan Aljazair.

Dalam pandanganku tentang bagian terkuat meninggalkan sesuatu tentang timnas dan pembagian secara intensif, misalnya, dengan promosi pemain muda melalui DFB dan Bundesliga, dengan peranan sekolah sepakbola Swabian dengan memperkenalkan ‘formasi empat defender’ [1]. Dan zona marking yang berorientasi terhadap bola [2] atau perubahan-perubahan dalam analisa pertandingan.

Untuk promosi para pemain muda Honigstein telah bertemu dengan Dietrich Weise, pengusul dari pendiri NLZ (Nachwuchsleistungszentren) dan pemberi pokok-pokok pada awal 1996. Honigstein menjelaskan pada mitos tentang penampilan buruk di Piala Dunia 1998 atau bahkan Euro 2000 dan Euro 2004 adalah dorongan awal tentang komitmen pada perkembangan pembentukan pemain muda. Kejadian-kejadian itulah yang menjadi katalisator untuk memulai percepatan pembinaan.

Hasilnya telah terlihat disetiap pekan. Sepuluh tahun setelah pendahuluan dari NLZ adalah menghasilkan separuh lebih pemain Bundesliga. Seperti perbandingan angka mencapai 5800 di NLZ atau berdasarkan pada pemain terlatih pada umur 21 tahun di Bundesliga adalah 0,3%. Aspek lain yang lebih baik tentang promosi talenta muda adalah kerja sama dengan sekolah elit sepakbola. Hasil kualifikasi lebih tinggi diantara pemain sepakbola, disebut oleh Honigstein: “Gentrifikasi-Ruang Ganti.” (Umkleidekabinen-Gentrifizierung). Inilah sorotan pribadiku pada saat membaca.

[1] Dalam teks asli tertulis ‘Viererkette’ untuk ‘formasi empat defender’; dalam pons[dot]com, ‘Viererkette’ adalah kata benda untuk istilah olahraga yang merujuk pada ‘defense’ (Abwehr) yang berarti ‘formasi empat defender’.

[2] Dalam teks asli tertulis ‘ballorientierter Raumdeckung’; dalam istilah sepakbola, kata ‘ballorientierter’ atau dalam bahasa Inggris, ‘ball-oriented’ tersebut bisa dirujuk dalam, spielverlagerung.com/2014/06/01/zonal-marking-zonal-coverage/

[] Sebagian teks dialih-bahasakan dalam Der Vierte Stern dari http://www.buchsport.de/2016/04/20/der-vierte-stern/

[] Image dari http://www.ullsteinbuchverlage.de/nc/buch/details/der-vierte-stern-9783843712972.html

 

Arsitektur Tomomi Kito dan Rumah Kayu Jepang Empat Generasi.

img_2_1497367012_73f7634ab3f381fb40995f93740b3f8a

Pada tahun 1970, Tomomi Kito merombak Rumah Jepang untuk mengakomodasi empat generasi dari suatu keluarga.

Asosiasi dan Arsitek tomomi kito telah menyelesaikan renovasi interior pada rumah kayu dua lantai yang ada di Tokyo, yang dibangun sekitar 40 tahun yang lalu. Seorang klien adalah pasangan muda yang memutuskan untuk tinggal bersama dengan istri dari orang tua di rumah yang sama. Segera setelah itu, nenek dari si istri juga diundang untuk tinggal bersama mereka. Dengan demikian, mereka meminta desain yang tepat untuk menampung empat generasi yang berbeda—nenek (generasi pertama), kedua orang tua (generasi kedua), pasangan (generasi ketiga) dan anak mereka (generasi keempat).

Sedangkan pola perilaku sehari-hari pada setiap anggota keluarga berbeda, menciptakan ruang untuk mengembangkan hubungan-hubungan di antara seluruh generasi menjadi fokus utama pada tomomi kito dan timnya. Lagi pula, keadaan kamar-kamar yang terbagi menjadi fungsi yang lebih kecil dan dengan demikian, mereka tak membuka pada ruang0ruang terbuka atau bahkan pada masing-masing yang lain, memberikan pencahayaan yang buruk dan tak ada ventilasi alami. Dengan masalah-masalah di pikiran itu, maka diputuskan untuk mengubah kualitas ruangan, seperti pencahayaan dan ventilasi.

Pertama, mengatur kamar-kamar privat dengan mempelajari hati-hati untuk memanfaatkan keadaan jendela-jendela yang ada sepenuhnya—demikianlah memaksimalkan pencahayaan dan ventilasi. Ruang-ruang yang tersisa didesain sebagai ‘kebersamaan’ sesuatu yang terbuka untuk seluruh anggota keluarga dan merencanakan setiap lantai dengan utilitas-utilitasnya. Kamar-kamar privat juga dapat ditukar agar menambah komunikasi di antara generasi—serupa dengan gaya hidup rumah bersama. Sifat ruang-ruang bersama secara sadar menambah hubungan mereka pada bagian luar rumah dan ruang pintu masuk.

Pada saat yang sama, tim juga menilai keadaan struktur. Meskipun kolom-kolom yang sangat menyesakkan diatur sesuai dengan keadaan partisi, keadaan rumah secara struktural tak seimbang dan keperluan terhadap daya tahan fisik. Semacam, penguatan-penguatan dengan menambah dukungan balok-balok dan plywood sembari mengoptimalkan penggunaan keadaan komponen-komponen struktural. Berkat studi tersebut, beberapa kolom yang dianggap berlebihan dan dapat dipindahkan, memberikan kesempatan untuk menciptakan ruang-ruang terbuka yang lebih besar.

Atap-atap dari ruang bersama di lantai dua adalah bentuk rangkaian-rangkaian—untuk menambah hubungan-hubungan di bagian luar rumah dan memaksimalkan penyebaran pencahayaan-pencahayaan alami. “Corak arsitektural ini dengan hati-hati menyampuli empat generasi keluarga yang menikmati hidup dalam suatu ruang yang sejuk dan terang secara melimpah.”

[] Teks dan Gambar dari www.designboom.com

Interview Polandia Metal/Hardcore, Marcin- Faust Again dengan Robert Fröwein.

Album baru ini merupakan eksperimen total, suatu perjalanan tanpa batas, namun selalu meninggalkan tempat untuk bernafas lebih dalam, sehingga perjalanan baru bisa dilanjutkan kembali.

Band Polandia, Faust Again, telah merilis album ketiga. Bagaimana salah satunya adalah album terkenal, “Make it or Break it” dan apa lagi memberikan informasi tentang anekdot menarik, dan Marcin akan memberikan penjelasan secara rinci.

Halo untuk Polandia dan terima kasih banyak untuk interviewnya!

Hi, terima kasih juga untuk interviewmu!

Awalnya aku harus mengatakan padamu, bahwa aku tak senang dengan hasil barumu. Tentu saja, hasil itu sudah cukup bagus, tapi lagu-lagu itu tak membuatku menangis. Album EP dari ‘The Trial’ terbukti lebih hebat dan lebih baik. Album “Hope Against Hope” menjadi lebih “straight in your face” dan utamanya memiliki pengaruh metalcore tradisional. Menurut pendapatku kamu menggabungkan banyak pengaruh Death/Progressive pada album “The Trial”. Lagu-lagu baru nampaknya lebih dewasa. Apa yang kamu pikirkan tentang itu dan bagaimana kamu melihat album ketigamu?

Baiklah, pada dasarnya aku setuju denganmu. Kami tak ingin terlihat murni menjadi band Metalcore atau Progressive Metal dan tentu saja bisa mengejutkan penggemar kami dengan album baru. Aku juga ingin menekankan bahwa kami tak ingin dicap sebagai band Metalcore—kami selalu memiliki selera musik sendiri dan penggabungan style-style. Itu memerlukan beberapa tahun untuk tiba pada poin sekarang ini, di mana kami cukup baik untuk menciptakan sound kami sendiri. Kupikir album “The Trial” lebih hebat, lebih masif dan lebih baik dari keluaran-keluaran sebelumnya.

Tolong ceritakan tentang sejarah bandmu. Apakah yang memotivasimu untuk mengawali bersama Faust Again dan siapa influence-influence yang menentukanmu?

Faktor utama memulai band Faust Again, adalah persahabatan kami dan kecintaan kami pada musik. Kami berempat tumbuh di kota yang sama dan kami selalu melihat show-show yang sama. Olek dan Wotjek telah bermain untuk Faust Again sebelumnya dan ketika Adrian memintaku untuk bergabung dengan bandnya, aku masuk. Ada banyak band yang menginspirasi kami di masa muda, namun yang paling penting dan mungkin Death, Sepultura, Slayer, dan Metallica.

Apa alasanmu beralih dari Circulation Records ke Bastardized Records? Apakah kontrakmu bersama Circulation telah habis? Bagaimana bekerja dengan Bastardized? 

Circulation Records telah bubar setelah album kedua kami, jadi kami berjuang menemukan label baru. Tak ada masalah yang terjadi dengan Circulation—mereka sama sekali tak memiliki waktu untuk membawa label itu secara profesional dan kami menghargai keputusan itu. Bastardized recordings keren dan mereka menginginkan kami, sejak mereka mendengarkan demo dari kami dan tanggapan mereka antusias kepada kami membuat keputusan itu menjadi mudah. Sejauh itu menyenangkan!

Bisakah kamu memberikan kepada kami secara detail tentang “The Trial”? Apakah ada pesan-pesan dalam album itu? Album itu memuat delapan lagu, yang mana selalu disela dengan sample-sample dan bagian-bagian yang senyap. Karena tak ada lirik yang dihadirkan olehku, jadi aku dengan senang memahami seluruh konsep dari album “The Trial.”

Pada dasarnya, seluruh teks ada dalam hal-hal dan kehidupan, yang terjalin dalam kehidupan. Aku selalu terpesona oleh berbagai hal, yang tak bisa dijelaskan, dari sekian banyak kelemahan dan seringkali tak penting dan sedikitnya keputusan-keputusan, yang memengaruhi kehidupan. Itulah yang menyiksaku, bagaimana orang-orang ingin mengubah dunia, tapi seringkali justru menjadi lawan sebaliknya. Lirik-lirik menceritakan tentang pencarian keyakinan di dunia teknokratis, yang selalu membatasi dan menggoncangkan kita. Album baru itu diharapkan menjadi eksperimen total, suatu perjalanan tanpa batas, yang selalu menyisakan ruang untuk bernafas, sehingga perjalanan baru bisa dilanjutkan kembali. Kami telah meminta kepada kawan baik kami band Blindead, apakah bisa memasukkan bagian-bagiannya dan melakukan suatu pekerjaan yang mengagumkan.

Di bulan Juni kamu akan bermain di Polandia dan Jerman. Apakah kamu merencanakan tour selama rilis album? Apakah kamu berencana mengunjungi Austria beberapa bulan mendatang? Ada banyak penggemarmu dan suatu gig akan menjadi hal besar.

Album itu pada tanggal 22 Mei akan menerangi dunia, jadi kami akan melakukan tour promosi di bulan Juni. Pada bulan-bulan musim panas, kami akan tampil secara ekslusif di berbagai festival. Suck N ‘Summer dipastikan di Jerman, itu sungguh line-up yang mengesankan. Kami sekarang bekerja dengan Go Down Believing untuk membuat tour di bulan september. Aku berharap kami juga akan main bersamamu di Austria. Lagipula, 4 tahun lalu kami berada di negaramu.

Bisakah kamu menceritakan tentang pengalaman tourmu yang menarik? Ceritakan tentang hal-hal yang lucu dan gila pada perjalanan tour hidupmu? Apakah band terbesar sejauh ini, dan dengan siapakah kamu akan melakukan tour dan siapa yang akan menjadi grup favoritmu di masa depan?

Setelah meninggalkan kota kelahiran kami, beberapa kelucuan dan kegilaan telah terjadi, namun perjalanan ke Rusia dan Belarusia adalah hal yang paling gila, bahkan sungguh-sungguh terjadi pada kami. Ditengah malam kami menjejal ke dalam kereta api, yang mana ramai dengan orang-orang dan beberapa dari orang-orang itu telah lama di dalamnya, satu-satunya opsi pergi tidur atau mabuk dengan cepat, dan hanya ada satu-satunya vodka! Seluruh urusan berakhir dengan minuman keras yang tak ada habisnya dari para pekerja Rusia yang bersenang-senang, meskipun kami tak tahu sepatah katapun dari bahasa mereka. Seluruh perjalanan ke Timur adalah hal gila. Aku tak pernah memikirkan tentang diriku bahwa sanggup minum sebanyak mungkin dan masih hidup, haha. Kami masih belum bermain dengan legenda besar lainnya, sementara band-band besar seperti Biohazard, Hatebreed, Zao atau Darkest Hour telah mendukung kami. Tour yang sangat menyenangkan bersama Deadlock, aku akan melemparkan pasukan ini segera ke klub-klub! Band impian kami sepenuhnya sekarang adalah Gojira! 

Bisakah kamu ceritakan sedikit tentang scene Hardcore dan Metal Polandia? Jenis Underground apakah yang sedang mengaum di Polandia? Berikan kami beberapa tips dari scene lokalmu.

Scene kami sekarang terbagi ke sebagian Hardcore underground dan Metalcore yang berorientasi pada arus utama. Ketika kita membicarakan band metal, aku pasti akan menunjuk Blindead, terutama semua penggemar akan menerima Neurosis atau Cult Of Luna. Dan untuk menyebut scene Hardcore adalah Stone Heart dan Daymares—kedua-duanya hebat dan hidup dengan power.

Playlist apa yang kamu dengarkan sekarang? Apakah ke-5 itu favorit sekarang? Jenis musik apa yang kamu senangi di luar Faust Again? Berikan kami sedikit kata terakhir.

Favoritku sekarang ini adalah Mastodon “Crack The Sky”, Down “Over The Under”, Blindead “Impulse”, Kylesa “Static Tensions” dan Devin Townsend “Ki”. Aku berharap bertemu denganmu di bulan September di Austria. Terima kasih untuk interviewnya dan selalu terbaik untuk majalahmu! Dan jangan lupa: Check album terbaru kami.

[] Dialih-bahasakan dari  www.stormbringer.at

[] Faust Again – To Dwell On Thoughts of You