Seri Arsitektur: Masjid Nasir al-Mulk (Iran).

Ketertarikan saya terhadap Iran telah tumbuh saat mengenal ‘Persia’, satu wilayah Non-Arab, dalam sejarah Islam. Banyak ilmuwan Islam dari Persia yang menyita perhatian saya seperti Jabir Ibnu Hayyan (Kimia/Astronomi/Astrologi), Al-Khawarizimi (Matematika), dan legenda kedokteran, Ibnu Sina. Saya membatasi pengetahuan perdebatan doktrin mazhab Sunni-Syiah atau Politik Islam yang bukan bidang saya meski sedikit tahu. Mumet, rek. 😀

Iran atau Persia tak hanya jago soal ilmu alam tapi juga berkaitan dengan arsitekturnya. Cobalah meluangkan waktu sedikit untuk berselancar ke Google dan mengetik Arsitektur Iran dan kita akan terpana melihat bagaimana pola geometri tersusun rapi di dinding masjid lama khususnya Masjid Nasir al-Mulk, sebagaimana kita terpana melihat pola relief yang tersusun pada Candi Borobudur, misal.

Masjid Nasir al-Mulk atau Masjid Pink ini memiliki keindahan tentang keagungan yang nampak pada permainan material kaca, keramik yang dilukis dan ditempatkan di atap dan permainan permadani. Atlas Obscura mengandaikan kita seperti melihat bintang-bintang melalui kaleidoskop, satu alat optik. Catatan lain mengatakan bahwa Ali Nasir al-Molk, salah satu bangsawan Iran menyuruh desainer cum arsitek, Mohammad Hasan-e-Memār.

Permainan fasad, wajah bangunan, dari masjid yang dibangun oleh Dinasti Qajar pada 1876-1888 (12 tahun) ini punya gaya lengkungan arabesque dan menonjolkan permainan cahaya yang ditampilkan oleh material kaca patri. Dan banyak yang menyarankan bahwa waktu terbaik berkunjung untuk wisata adalah pagi hari saat matahari memantulkan pola kaca patri ke lantai. Sangat cantik.

Foto: Atlas Obscura.

Seri Arsitektur: Dari Romo Heuken Hingga Tiga Peneliti Prancis dan Impian pada Arsitektur Islam.

Secara personal, setiap rumah ibadah dari semua agama selalu menarik untuk diulas. Selain karena latar belakang saya di Teknik Sipil dan impian saya untuk menjadi seorang arsitek sejak kecil yang akhirnya telah keturutan dan masih kurangnya pengetahuan perihal agama membuat saya selalu tertarik dengan rumah yang nyaman dan tenang untuk berkeluh-kesah tentang segala kekhawatiran duniawi kepada Cinta-yang-melampaui-cinta (baca: Tuhan) dan salah satunya adalah masjid.

Satu impian yang belum saya tuntaskan adalah membuat literatur tentang Arsitektur Islam seperti yang pernah dikerjakan oleh Romo Adolf Heuken di bukunya Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta (Yayasan Cipta Loka Caraka, 2003). Di buku tersebut, Romo Heuken, Sejarawan Jerman yang mencintai Indonesia itu, memakai sudut pandang sejarah dan saya ingin mengkombinasikan kacamata sejarah-nya dengan bidang saya yaitu teknik.

Untuk teknik, tentang bagaimana material masjid saat dibangun, tentang bagaimana gaya yang dianut, bahkan hingga wilayah seperti pencahayaan, sirkulasi udara, atau bahkan akustik bangunan. Namun saya tahu bahwa itu perlu data–serta waktu–yang cukup banyak. Selain itu, tridente dari Prancis yaitu Denys Lombard, Pierre Labrousse, Christian Pelras dari Archipel Prancis-Indonesia, juga turut menjaga asa ketertarikan saya pada Arsitektur Islam.

Dari Masjid Agung Paris dan Strasbourg di Prancis, Masjid Ferhadija di Bosnia-Herzegovina, Masjid Dzhumaya di Bulgaria, Masjid Et’hem Bey di Albania, Masjid Ketchaoua di Aljazair, King Fahd Islamic Cultural Center di Argentina, Auburn Gallipoli di Australia, Vienna Islamic Centre di Austria, Bibi-Heybet di Azerbeijan, Masjid Sixty Dome di Bangladesh, Masjid Dongguan di Tiongkok, Masjid Muhammad Ali di Mesir, Masjid Khadija di Jerman, Masjid Mecca di India, Masjid Blue Mosque di Iran, Masjid Imam Ali di Iraq, Jezzar Pasha di Israel, Masjid Roma di Italia, Masjid Kobe di Jepang, Masjid Nasional di Malaysia, Masjid Sultan di Singapura, Bekas Masjid Cristo de la Luz di Spanyol, Hagia Sophia di Turki, Masjid London Central di Inggris, atau bahkan Masjid Katedral Moskow di Rusia.

Pada akhirnya, Arsitektur Islam melalui masjid-masjid di atas bisa menjadi kolom yang kuat bagi iman saya yang kerapkali naik-turun dan menikmati secara intim dan pribadi hubungan relijius antara Sang Pencipta dan seorang hamba yang daif—atau lemah—sebagai manusia yang terombang-ambing pada kenyataan hidup. Selamat datang Ramadhan 2021. 🙂

Adieu à Dieu, Daniel Dhakidae (Selamat Jalan pada Tuhan, Daniel Dhakidae).

Sebagai anak daerah dari satu kota kecil di Jawa Timur, ketika melangkahkan kaki ke jalanan ibukota dan menembus belantara-belantara intelektual di Kedutaan Besar Prancis; lalu, memegang buku di tangannya dengan ukiran nama Hatta dan Daniel Dhakidae sungguh menambah kepercayaan diri, Pak Daniel. Mencoba belajar mencerna perbedaan lingkungan lama ke lingkungan baru. Seperti yang anda tulis di pengantar Hatta dalam Menggurat Garis-Garis Batas:

“Hal lain adalah ketika Bung Hatta menempatkan dirinya sebagai saksi sejarah, di Eropa maupun Nusantara ini. Pribadi Hatta adalah seorang yang teliti, tidak menerima sesuatu ‘for granted’; semuanya dicerna, termasuk proses menuju suatu peristiwa.”

Selama meninggalkan kota kecilnya, anak daerah itu selalu mengamati peristiwa-peristiwa baru di lingkungan barunya, termasuk menerjemahkan teknik menulis dari seorang Daniel Dhakidae yang sangat terstruktur di pusat dokumentasi koran lama di Jogja.

Harapan besar ketika merasakan panasnya ibukota adalah bertemu dengan anda, Pak Daniel. Berbincang santai tentang dua background keilmuan yang berbeda dan disatukan dalam satu peristiwa. Bicara tentang kombinasi arsitektur dan sosiologi untuk mengurai perbedaan serta persamaan rumah adat nusantara di Indonesia yang berelasi dengan masyarakatnya. Sayangnya, peristiwa itu tak terjadi.

Akhirnya, tak ada yang lebih menyenangkan memposisikan diri sebagai anak daerah dari satu kota kecil di Jawa Timur yang memegang buku di tangannya dengan ukiran nama Hatta dan Daniel Dhakidae di jalanan ibukota. Selamat jalan pada Tuhan, Pak Daniel.

Malang, 6 April 2021.

Pict: https://www.instagram.com/p/CMhGeg7pzZb/

Lal salam, Allahu alam, Ebes.

Seri Parenting: Hewan dan Tanggung-Jawab Pemilik.

(Introduksi) Dilahirkan dari seorang ayah yang jago beternak dan pernah memiliki peternakan sapi perah adalah satu dari kolase hidup yang mengisi tingkat sampai pada umur 32 tahun (tahun 2021) ini. Sebelum pindah ke Malang, ketika saya masih taman kanak-kanak dan melihat ayah memeras puting sapi di peternakan, di tanah kakek, seorang tuan tanah di Surabaya, yang luas.

Daerah Rungkut, tempat peternakan itu berada, yang tadinya berisi pohon-pohon asam atau hamparan rumput gajah yang liar itu lama-lama berubah wajah menjadi industri dan pakan hewan tinggal menunggu waktu habis tergantikan dengan pabrik.

Hal lucu yang pernah saya alami bersama anak sapi perah adalah ketika saya membawanya ke kamar tidur. Lalu, anak sapi perah itu merusakkan dipan tempat tidur. Secara spontan, sebagai anak kecil saat itu, saya hanya ingin anak sapi itu tak kedinginan. Betapa lugunya pikiran seorang bocah. Hewan bagi anak-anak adalah belajar tentang tanggung-jawab memelihara dan, tentu saja, afeksi, kasih sayang.

(Isi) Lalu, apa relasi dengan foto yang saya pampang? Di sekitar rumah saya, ada seorang gadis kecil yang mempunyai kucing berwarna abu-abu. Suatu hari kucing itu pergi dari rumah dan gadis kecil itu mencarinya. Lama-kelamaan, tak hanya sekali bahkan seringkali kucing itu pergi dari majikannya atau pemiliknya ke wilayah rumah saya. Lantas, saya berpikir, apakah kucing ini tak merasa bahagia diasuh oleh pemiliknya? Atau pemiliknya lalai dalam menjaga hewan yang disayanginya? Apakah si pemilik hanya sekadar beli dan beberapa tahun kemudian jenuh dan tak mengurusnya lagi?

Sampai pada suatu ketika, di dapur kos-kosan saya—ayah memutar bisnisnya dari peternakan sapi perah ke rumah kos—terjadi perebutan wilayah antara dua kucing rumahan, kucing warna abu dan kucing warna putih, yang bukan kucing milik saya, akan tetapi kucing milik tetangga yang tak betah di rumah pemiliknya. Ketika melihat mereka saling mengeong dalam perebutan wilayah di wilayah rumah saya dan saya hanya membiarkan mereka berkelahi sembari berpikir mengapa mereka justru nyaman berada di wilayah rumah saya? Tentu saja ada yang salah dengan cara memelihara dari si pemiliknya, pikir saya. Memelihara hewan tak semudah memposting kelucuan hewan—dari masalah makanan hingga masalah penyakit.

(Konklusi) Kelak ketika saya punya anak maka yang pertama kali yang akan saya ajarkan adalah tanggung-jawab terhadap hewan miliknya agar tak merepotkan orang lain, menjaganya penuh kasih sayang dan tak menelantarkan begitu saja setelah dilingkari rasa jenuh. Dari tanggung-jawab kepada hewan itulah diharapkan bahwa dia mampu tanggung-jawab terhadap hal-hal lainnya seperti pada studinya, pada pekerjaannya, pada impiannya, pada pasangan hidupnya nanti atau bahkan pada anaknya nanti.

Referensi: Film Petit Paysan (Bloody Milk) tentang industri peternakan sapi perah yang pernah diputar di IFI-LIP dengan narasumber Astri (Anak komunitas film Jogja yang pernah kuliah di Belanda, seingat saya) bersama Aude Vidal, guru kritik film saya.

Pict: https://www.instagram.com/p/CMW6gVCB7ro/

Seri Buku Foto: Malang, After The Rain.

– Untuk kawan sekaligus kakak yang mengajari banyak hal tentang fotografi, gunung (outdoor gear) dan perburuhan, Arjules Parasian Manurung, Anak Malang keturunan Batak yang tak bisa bahasa Batak :p

Side lighting, or placing the light source or the subject so that the light hits from the side, fights the boring look of front lighting by creating shadows and depth. Side lighting is still fairly simple to shoot — you just have to careful and watch how the shadows fall. Side lighting doesn’t have to be at a 90 degree angle and even minor adjustments can change the way the shadows fall. When shooting with lighting from the side, watch where the shadows fall — small adjustments in the subject’s position can create more interesting or flattering shadows. – creativelife

A skilled photographer can manipulate how a viewer is likely to react to the content of a photo by manipulating the lighting – Photographic lighting

This style of lighting is named after the way that Rembrandt used light in his portrait paintings. It is a type of side lighting – Rembrandt Lighting

Lokasi: Depan Persada Swalayan, Jl. MT. Haryono, Dinoyo, Malang, dekat Kampung Wisata Keramik Dinoyo. Difoto pada 22 November 2020, pukul 4 sore.

Seri Buku Foto: Sunrise Kota Malang Arah Bromo-Semeru.

Sunrise di langit Kota Malang arah Universitas Brawijaya dan Gunung Bromo-Semeru pada pukul 6 pagi, 17 November 2020. (Indonesian)

Un lever de soleil de la ville de Malang vers l’Université Brawijaya et le mont Bromo-Semeru à 6 du matin, le 17 novembre 2020. (French)

Ein Sonnenaufgang von die Stadt Malang in Richtung Brawijaya Universität und Bromo-Semeru Berg am 17. November 2020 um 6 Uhr morgens. (German)

: Point Pleasant (The End of The Beginning, 2004) – God Is An Astronaut.

5 tahun perjalanan nge-blog: Merayakan hubungan intim bersama WordPress.

– Persembahan untuk kawan muda, Rovi Ivor.

(Introduksi) Oktober 2020 adalah bulan di mana suatu tanda hadir. Melalui suatu notifikasi dari blog tertera, “Selamat Merayakan bersama WordPress.com! Anda mendaftar di WordPress.com 5 tahun yang lalu. Terima kasih telah menjelajah bersama kami. Pertahankan kesuksesan blogging Anda!”

Bertahan dalam ruang bernama blog selama 5 tahun bukanlah perkara hebat atau tidak. Hal yang terpenting adalah membebaskan suatu idea atau gagasan untuk ditampilkan kepada khalayak, baik dengan apresiasi maupun tidak. Prof. BJ. Habibie memanfaatkan aktivitas menulis untuk mengobati depresi atas kehilangan belahan jiwanya, dokter. Ainun Habibie. Itu satu faktor dari sekian banyak faktor.

(Isi/konten) Dari semua bentuk tulisan, yang saya sukai sebenarnya adalah catatan harian dan pengaruh terbesar diberikan oleh Hatta Muda dalam otobiografinya di jilid 1, Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi. Di dalam catatan harian itu, kita memerlukan daya ingat yang tinggi tentang apa saja yang berkesan selama satu hari penuh. Misal, pertama, kita bertemu dengan orang baru; kedua, kita mendapatkan kesulitan dan mampu mengatasinya; ketiga, kita mengetahui satu ilmu yang selama bertahun-tahun kita cari dan tak disangka oleh orang terdekat kita menemukan jawaban atas ilmu itu.

Dari catatan harian, bersama ketekunan maka kita akan menemukan satu konsistensi bahkan yang mengejutkan kita akan menemukan gaya menulis kita sendiri setelah kita mengadopsi dari pelbagai gaya-gaya baik dari penulis Indonesia atau pun dunia. Bak suatu formasi dalam tim sepakbola, sebut saja, Gegenpressing dari Jurgen Klopp, maka kita tinggal meramu siapa saja pemainnya, dalam hal ini, idea atau gagasan dari persona di luar diri kita. Bila ingin menulis dengan sentimen yang sedih tirulah Dostoevsky, bila ingin menulis dengan sentimen yang jenaka tirulah Hilman (Lupus), bila ingin menulis dengan sentimen yang patah hati tirulah Dono (Novel) yang sangat beda dengan Dono (Film). Namun, satu hal paling penting dari semua hal yang penting: Teknik menulis.

(Konklusi) Dari Oktober 2015 menuju ke Oktober 2020, terdapat semacam garis naik dan turun yang bisa menggambarkan betapa mengagumkan suatu proses melalui blog ini tentang suatu senyuman ketika mampu mengikhlaskan orang yang kita cintai berbahagia dengan orang lain dan mendapatkan ganti yang setimpal; tentang suatu proses dari tangisan air mata saat kita merasakan kehilangan demi kehilangan dalam bentuk lain; tentang suatu proses dari ekspresi senang ketika kita mulai berani bermimpi kembali di saat-saat yang sulit.

Start The Machine, kata Angel & Airwaves. 🙂

Seri Musik : Tak ada ‘Teachers, leave them kids alone’ dari Pink Floyd di Sistem Edukasi Musik di Prancis. (Metode Tematik) 2.

Sebagai salah satu negara yang menjunjung tinggi seni dan budaya, Prancis menjadi negara yang memiliki banyak sekali sekolah-sekolah seni, salah satunya adalah sekolah seni musik. Sekolah musik itu sendiri tak hanya berpusat di Paris, ibukota, seperti Académie Musicale Villecroze akan tetapi juga terdapat di kota-kota lain seperti Sekolah musik untuk liturgi gereja di Aubegne atau Pusat studi musik dan pertunjukan di Versailles, Strasbourg, Lyon bahkan Lille. Sebagaimana film, musik menjadi satu alat untuk mengembangkan bahasa Prancis. Bahkan ada undang-undang yang berkaitan dengan musik pada Pasal L216-1 dari Kode Pendidikan yang tertulis bahwa:

“Lembaga pendidikan publik untuk musik, tari dan drama menyediakan pendidikan awal, didukung oleh sertifikasi yang menjamin inisiasi dan memperoleh pengetahuan dasar yang diperlukan. Bagi praktik artistik otonom, profesional atau amatir, mereka juga berpartisipasi dalam pendidikan kesenian anak-anak usia sekolah. Mereka dapat menawarkan persiapan pendidikan untuk masuk ke lembaga pendidikan tinggi kreasi artistik di bidang pertunjukan. Mereka bisa mengeluarkan ijazah nasional. Misi mereka juga melatih para amatir dan melakukan pengembangan praktik; Dengan demikian, lembaga-lembaga ini bersama para guru mendukung aksi yang dilakukan dalam pendidikan seni dan budaya.”

Maka tak perlu terkejut bila Prancis memiliki industri seni yang begitu superior dalam melindungi para aktor yang berkecimpung di dunia seni khususnya musik. Yang menarik adalah akulturasi anatara seni dan pendidikan. Seperti yang tertulis di wikipedia Prancis terkait pendidikan seni, terdapat jaringan-jaringan semacam:

1) Sekolah musik asosiatif yang disubsidi oleh Pemerintah Kota dan terdapat beberapa sekolah pelatihan musik dengan memberikan pelatihan dua tahun dengan dua kursus dari kursus instrumental mulai piano, gitar, bass, drum, hingga vokal dan menjadi sebuah jaringan penting bagi musisi amatir;

2) Sekolah musik swasta/privat seperti Yamaha atau beberapa toko instrumen yang menawarkan pelajaran musik;

3) Akademi musik yang bersifat permanen atau temporer/musiman dengan menawarkan pendidikan berkelanjutan untuk para profesional seperti kursus persiapan untuk masuk ke konservatori nasional atau sekolah musik internasional utama dan kursus untuk amatir atau anak-anak; atau

4) Kursus pribadi yang tak memiliki aturan kualitatif yang mengatur pendidikan dan siapapun dapat menawarkan pelajaran privat, dengan mematuhi peraturan ketenagakerjaan dan perpajakan. Kelas master adalah kursus yang diberikan oleh musisi tingkat tinggi untuk para profesional dalam kerangka spesialisasi yang mendalam.

Sementara itu terkait musik dan pendidikan, Prof. Emmanuel Bigand, maha guru psikologi kognitif dari Universitas Burgundy, Institut universitaire de France, mengatakan bahwa musik adalah kegiatan yang dapat ditemukan di semua peradaban manusia dan bagaimana musik membantu memfasilitasi pendidikan dan bagaimana hal itu sesuai dengan kebijakan pendidikan dalam studi ilmu saraf kognitif yang menunjukkan bahwa musik memiliki kekuatan transformasional atas pembentukan pikiran, yang mengubah keterampilan kognitif, perilaku, dan sosial sepanjang hidup manusia. Lalu, ia memberikan suatu kejutan tentang studi yang diajukan oleh para peneliti di bidang ilmu saraf dan ahli musik, etnolog, pelaku pendidikan, serta siswa dan orang tua mereka, berkenaan suatu refleksi tentang efek musik pada perkembangan otak bahkan hubungan antara musik dan masyarakat dan implikasinya bagi pendidikan.

Iklim seni musik di Prancis juga diwarnai sebaran-sebaran praktik serta intrik yang meluas seperti juga wilayah perdebatan sosiologis tentang perbedaan konsumsi tentang musik dan budaya. Stéphane Bonnéry, seorang musik edukator dari Universitas Paris 8-Vincennes-Saint-Denis, mengatakan bahwa musik “ilmiah” (seperti opera) yang dihargai oleh kelas penguasa dan kelas menengah yang terpelajar, dibandingkan dengan musik “populer”, melewati gaya “dalam proses melegitimasi”. Jazz, diapresiasi oleh kelas menengah yang sedang naik daun atau bahkan repertoar yang ditinggalkan oleh kelas atas ketika kelas menengah dan pekerja menguasai (Le Beau Danube bleu…) (3)

Dan tentu saja, tak ada Teachers, leave them kids alone / Hey, teachers, leave those kids alone à la Pink Floyd di sistem edukasi musik di Prancis. Siapa pun berhak menjadi seorang guru dan mendirikan sekolah musik yang membebaskan, tentu saja.