Allez-y!

PETA_CETAK_A4

Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia – Jatuh Hati, Raisa. (1)

Beberapa hari ini, kawan baik saya datang ke Jogja untuk satu agenda demi masa depannya. Karena saya punya agenda yang berbeda dengan agendanya, maka diputuskan bahwa saya akan meminjamkan sepeda motor (sekaligus sahabat) yang menemani petualangan selama di Jogja, Honda Beat Pop, dengan high seat 735 mm itu; dan saya akan berpergian dengan menggunakan Trans Jogja. Kenapa tidak menggunakan go-car atau go-jek? Jawaban yang sangat pragmatisnya adalah napak tilas.

Jauh sebelum saya mengirimkan kendaraan pribadi ke Jogja, saya memang berniat untuk mencoba, paling tidak, selama tiga atau enam bulan menggunakan transportasi publik seperti Trans Jogja. Pengalaman yang lalu, jauh sebelum menginjakkan kaki di Jogja, ketika menikmati Trans Jakarta selama dua minggu di Jakarta, dari Jakarta Utara ke Jakarta Selatan dan kembali ke Jakarta Utara, dan lima jam terjebak kemacetan, saat akan mendaftar kelas menulis di Salihara, sayang gagal, karena pendaftaran telah tertutup justru memberikan berkah tersendiri. Di Jakarta, ketika akan tiba di Halte Harmoni, saya melihat seorang perempuan karir tertidur berdiri dengan memegang pegangan. Saya hanya terdiam, sambil memandang wajah letihnya. Beranjak dari hal itu, saya belajar humanisme (cara jalanan) yang saya ramu dengan psikologi Jawa à la Suryomentaram. Hal itu pula saya temukan di rute-rute Trans Jogja kala pulang kerja, kala kumandang adzan maghrib terdengar, dari Halte Cik DI Tiro ke Halte Sanata Dharma, tempat di mana saya membelalakkan mata dan seakan tak percaya melihat seorang Doktor dari Jerman berjalan kaki: Katrin Bandel.

Trans Jogja—juga Trans Jakarta—tak hanya mengajarkan saya tentang humanisme manusia-manusia urban, melainkan juga hal yang tak kalah fundamental, sistem transportasi publik untuk bus. Ingatan memanggil pada satu paper dari Jose Rui Ferrerira dan kawan-kawan, mengatakan bahwa Sistem Transportasi Cerdas (ITS) adalah fenomena global, menarik minat dunia dari para profesional transportasi, industri otomotif dan pembuat keputusan politik. ITS menerapkan teknologi komunikasi, informasi dan elektronik canggih untuk memecahkan masalah transportasi seperti, kemacetan lalu lintas, keselamatan, efisiensi transportasi dan pelestarian lingkungan (2). Sangat mengagumkan.

Dari modus indikatif di atas itulah, hari ini saya kembali mencerap romantika bersama Trans Jogja: berjalan dari tempat kediaman yang tak jauh dari kediaman Romo Mangun dan berjalan kaki menuju ke Halte Sanata Dharma, tempat di mana saya membelalakkan mata dan seakan tak percaya melihat seorang Doktor dari Jerman berjalan kaki, menuju ke tempat di mana kebudayaan-kebudayaan secara oksidental tersaji.

Allez-y!

Iklan

Membagi Waktu Melalui Monolog Wiro Sableng.

20180708_232911a

Belajar waktu bisa dari mana saja. Dalam cerita silat Wiro Sableng, waktu hadir dalam monolog Peri Angsa Putih, dalam Batu Pembalik Waktu, dalam episode Petualangan Wiro Di Latanahsilam:

Wiro, aku terlalu cinta padamu. Tubuh dan cintaku saat ini seolah terbelah dua. Belahan pertama ingin memberikan batu ini padamu. Agar kau bisa kembali ke negeri seribu dua ratus tahun mendatang, Tanah Jawa tanah kelahiranmu. Tetapi belahan kedua tidak menginginkan aku kehilangan dirimu. Wiro, maafkan diriku kalau Batu Pembalik Waktu ini tidak akan kuberikan padamu. Apapun yang akan terjadi. Aku terlalu takut kehilanganmu.

Dari salah satu monolog—yaitu perbincangan satu orang pada dirinya sendiri—itu; sebagai tambahan monolog ini diperkenalkan oleh Charlie Chaplin, dan monolog juga berguna untuk teater atau sketsa, serta berguna untuk membantu bahasa jika lingkungan tak menunjang, semisal si A belajar bahasa Prancis di lingkungan bahasa Inggris, atau si B belajar bahasa Jerman di lingkungan bahasa Indonesia; kemudian diaplikasikan ke dalam waktu personal dalam konteks bahasa, yang mana setiap bahasa memiliki sistem dan keunikannya masing-masing. Fokus penulis ada di empat bahasa, Indonesia, Inggris, Prancis dan Jerman. Oleh sebab itu, membagi waktu seperti halnya membagi diri:

20:00 untuk bahasa Indonesia. 21:00 untuk bahasa Inggris. 22:00 untuk bahasa Prancis. 23:00 untuk bahasa Jerman. 4 Kompetensi dasar: 15 menit untuk tulis. 15 menit untuk baca. 15 menit untuk dengar. 15 menit untuk bicara. [20:00 für Indonesisch. 21:00 für Englisch. 22:00 für Französisch. 23:00 für Deutsch. 4 Grundkompetenz: 15 Minuten zu schreiben. 15 Minuten zu lesen. 15 Minuten zu hören. 15 Minuten zu sprechen.]

Ada yang rindu dengan kisah cinta Peri Angsa Putih dan Wiro Sableng?

Memahami Waktu adalah Memahami Ibadah.

 

– Untuk kawan-kawan muda (alumnus) Hubungan Internasional UGM di Institut Francais.

Tiga gol Belgia yang bersarang di gawang Jepang menandakan bahwa waktu amatlah berharga. Tertinggal 0-2, putus asa; kemudian membalikkan keadaan menjadi 3-2. Pemahaman tersebut tak akan saya giring ke dalam siapa yang kalah atau siapa yang menang. Namun bagaimana Jepang atau Belgia memanfaatkan waktunya masing-masing sesuai kemampuan mereka.

Ingatan memundur beberapa hari yang lalu, ketika saya berada di dalam kereta Malioboro Ekspress. Dalam tujuh jam, apa yang bisa dilakukan. Saya bermain-main dengan kala/waktu lalu (past)—dari past simple, continous, perfect, atau perfect continous dalam grammar—yang kemudian akan saya konversi/terjemahkan ke kala/waktu datang (future)—dari future simple, continous, perfect, atau perfect continous dalam grammar. Saya melakukan re-reading otobiografi Hatta untuk kali ketiga. Pelajaran yang saya ambil, pembacaan pertama akan berbeda dengan pembacaan kedua, pembacaan kedua akan sangat berbeda dengan pembacaan ketiga. Saya yang membaca Hatta untuk kali pertama, pada umur 27 tahun, bukanlah saya yang membaca Hatta untuk kali kedua dan ketiga, pada umur 28 dan umur 29. Ruang dan waktu, akan sangat berpengaruh, kata Hatta dalam konteks ekonomi.

Kini, melihat dari jauh, kawan-kawan muda saya, yang terpaut lima tahun lebih muda dari saya, dari Hubungan Internasional UGM di Institut Francais, telah berjalan tegak di jalannya masing-masing, di impiannya masing-masing. Ada yang melanjutkan studi di luar, ada yang telah berada di Setara Institut. Dari kawan-kawan mudalah saya mempraktikkan waktu dalam cangkang pemikiran Hatta. Dan tentu saja ada penyesalan yang menjadikan pelajaran.

Penyesalan yang menjadikan pelajaran itu, saya terapkan pada ibadah sunnah seperti dhuha dan tahajud. Di umur 27 tahun, saya lakukan dua rakaat untuk dhuha dan untuk tahajud, meskipun tak konsisten; ketak-konsistenan itu tercipta karena beberapa momen-momen ‘gelap’. Di umur 28, saya mencoba untuk meningkatkan menjadi empat rakaat untuk dhuha dan untuk tahajud, hanya berhasil enam bulan awal, setelah itu datang kembali momen-momen ‘gelap’. Di umur 29 tahun ini, tentu ada harapan baik untuk bisa full satu tahun. Beranjak dari sana, saya belajar tentang konsistensi/konstan dalam setiap perubahan dan perbedaan (atau kedisiplinan kata Hatta) dan meraih impian. Oh, jadi gini caranya meraih impian itu, jatuh, gagal, terpuruk dan kemudian bangkit, jatuh (lagi), gagal (lagi), terpuruk (lagi) dan kemudian bangkit (lagi), kata saya di pertengahan umur 28.

Dalam momen dhuha dan tahajud, mengingatkan saya pada fotografi, di mana memahami ‘waktu’ tentang konsistensi/konstan dalam setiap perubahan dan perbedaan (atau kedisiplinan kata Hatta) dan meraih impian, pun juga hadir dalam ‘time lapse‘ yaitu menurut Harja Saputra, adalah  teknik fotografi untuk mengabadikan proses yang panjang berhari-hari dalam video singkat durasi puluhan detik dengan melakukan shoot objek dengan ‘interval waktu yang konstan.’ (1)—tanda petik dari saya.

Jadi mas Iqbal gak tertarik hijrah nih? Tanya seorang kawan muda pada suatu waktu. Pada kelas/setara satu es-de, jawab saya, ketika anak-anak seumuran saya sedang asyik dibuai kasih orang tua mereka, saya malah jauh dari buaian kasih orang tua yang dibesarkan dari kultur Muhammadiyah, dengan memondokkan saya bersama guru yang dibesarkan dari kultur NU, yang diganti kasih Tuhan. Jangan tanya lagi tentang hijrah atau tidak, ya, saya gak paham, yang terpenting bagaimana berjuang bersama-sama meraih impian dalam bentuk material dan (im)material.

Dari kejadian tentang waktu dari pertandingan Belgia v Jepang, dari Hatta tentang permainan ibadah dan kedisiplinan, dari momen dhuha dan tahajud, dari time lapse pada fotografi à la Harja Saputra, memahami waktu adalah memahami ibadah.

Kompas dan Kakek.

20180628_162943a

Andai kakek masih ada, tentu hari ini akan menjadi sangat spesial; kakek, poliglot tua yang fasih bicara empat bahasa itu dan senang membakar tembakaunya di pagi hari bersama teh pahit dengan koran pagi yang kerap disebut: Kompas. Tradisi menulis dari kebudayaan (Pers) Prancis mengingatkan pada kakek. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa, membuat sebuah berita tak semudah yang dibayangkan. Saya jatuh di bab/unite ini: media massa Prancis. Tanpa Kompas, saya tak mungkin akan mencapai titik saat ini, membaca Le Parisien atau membaca La Marseillaise. Namun, perlahan-lahan, kini saya mencoba bangkit kembali.

Hari ini, 28 Juni, Kompas, surat kabar pertama yang diperkenalkan oleh Kakek berusia 53 tahun.

Paska Pesta Demokrasi (1).

 

This is survived by a love // This is survived by a wish – Is Survived By, Touché Amoré.

Seusai memilih pilihan dan aku menjatuhkan pilihan pada paslon tiga untuk Sutiaji. Pemilihan itu tentu punya alasan. Ada suatu waktu, ketika berlangsung bedah buku tentang Tjokroaminoto, setelah pemutaran filmnya (lagi-lagi) memunculkan pelbagai perdebatan. Film Tjokroaminoto sendiri disutradarai oleh Garin Nugroho, dan diproduseri oleh, salah satunya, Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto). Dalam bedah buku itu, dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana Sutiaji memberikan pengalamannya semasa di Yogya ketika ia mencicipi iklim akademik seperti yang kurasakan saat ini. Namun, bagaimanapun, fase perubahan baik fisik dan cara berpikir manusia, membuatku berpikir ulang, apakah Sutiaji saat muda di Yogya sebagai pembaca buku yang tekun akan sama dengan Sutiaji yang kulihat dulu ketika bedah buku ataukah akan (masih) sama dengan Sutiaji setelah menjabat Wakil Walikota Malang dan beberapa jam lalu wajahnya tergambar dalam surat suara? Aku tak ingin melampaui kehendak Tuhan, semoga ia terpilih dan memberikan sumbangsih terbaik bagi warga Malang.

Seusai memilih, aku pergi ke pangsit mie Dempo abadi yang murah dan enak itu. Di dalam warung kecil itu, kulihat anak-anak Dempo (SMA Katolik Santo Albertus Malang) keturunan tionghoa makan dengan santainya. SMA Katolik Santo Albertus Malang ini juga memiliki alumnus seperti sastrawan-arsitek Romo Mangunwijaya, ekonom UI Widjojo Nitisastro dan penulis Eka Budianta. Seusainya makan di pangsit mie Dempo abadi, aku melanjutkan avonturir ke Wilis untuk mencari buku bekas.

Sesampainya di Wilis, aku dijodohkan oleh buku yang selama ini kucari di Yogya dan ternyata kutemukan di Malang, buku tentang Che Guevarra dari Carlos ‘Calica’ Ferrer terjemahan dari Ibnu Raharjo, pemilik Toko Buku Kafka. Setelah itu, aku juga bertemu buku ekonomi dari Faisal Basri (FE UI). Aku berani mengambil buku dari Faisal Basri karena aku sedang ingin membandingkan antara ekonom UI dengan ekonom UGM, dua kutub yang mewarnai dunia akademik ekonomi Indonesia. Satu buku kutawar dengan harga yang cukup murah.

Lalu, aku membeli majalah arsitektur Asri dan Laras. Majalah arsitektur ini nantinya akan kugunakan sebagai refrensi dalam membangun sekolah anak-anak, perlu diketahui bahwa warna dan iklim punya pengaruh besar dalam suasana belajar, yang telah kupelajari di dua institut bahasa, Jerman dan Prancis. Setelah itu aku pulang dan mem-pack-ing keperluanku untuk menyelesaikan pendidikan bahasaku, dan tentu saja bersiap untuk melanjutkan hidup ke tahapan selanjutnya sebagai calon bapak dan calon suami, tentunya; seperti demokrasi Indonesia yang tengah melanjutkan tahapannya paska pesta demokrasi di hari ini.

27 Juni 2018, Rumah Kost Tua Simp. Gajayana, Malang.

Kopi Dampit.

 

(Indonesia) Jika kamu sedang melakukan perjalanan ke Indonesia, ke Jawa Timur, khususnya Malang Raya, cobalah mencari tahu tentang satu produk yang bernama kopi dampit. Kopi ini memiliki karakteristik lain dari kopi-kopi Jawa Timur lainnya seperti Kopi Gresik atau Kopi Tulungagung. Ketika telah menjadi bubuk kopi dan menuangkan air panas ke dalam gelas, ampas kopi akan naik ke permukaan air, setelah hangat ampas kopi akan turun dengan sendirinya. Dalam koran Kompas mengatakan bahwa Kopi Dampit memiliki aroma dan cita rasa khas yang terkandung di dalam biji kopi disebabkan oleh kondisi geografis dan kontur tanah dan kopi ini ada di Lereng Gunung Semeru dan di pesisir pantai selatan Jawa. [1] Sementara dalam Liputan6[dot]com, Kopi Dampit di luar negeri, terutama di Eropa, kopi Dampit sangat terkenal, terutama jenis kopi Robusta. Kopi jenis Robusta asal Dampit dianggap punya special taste karena ditanam di ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan air laut dan memiliki struktur tanah yang baik. [2] Jika kamu ingin mencicipi cita rasa kopi dampit? Silakan datang ke kota kami.

(French) Si vous voyagez en Indonésie, à Java-Est, en particulier Malang Raya, essayez de découvrir un produit appelé le café du dampit. Ce café a d’autres caractéristiques que l’autre des cafés Java-Est tels que le café du Gresik ou le café du Tulungagung. Quand il est devenu une poudre de café et versé de l’eau chaude dans un verre, le marc de café va s’élever à la surface de l’eau, après le chaud, les marcs de café tomberont d’eux-mêmes. Dans le journal du Kompas, a déclaré que le café Dampit a l’arôme et le goût distinctif contenu dans les grains de café causé les conditions géographiques et les contours de la terre et il est sur les collines du mont Semeru et sur la côte sud de Java. [1] Dans le Liputan6[point]com a dit que le café du Dampit à l’étranger, surtout en Europe, il est très célèbre, surtout le café Robusta et il est considéré comme ayant un goût particulier car il est planté à plus de 800 mètres d’altitude et a une bonne structure de sol. [2] Si vous voulez goûter le café du dampit? S’il vous plaît venez dans notre ville.

(English) If you are traveling to Indonesia, to East Java, especially Malang Raya, try to find out about a product called Dampit Coffee. This coffee has other characteristics than the other of East Java coffees such as Gresik Coffee or Tulungagung Coffee. When it has become a coffee powder and poured hot water into a glass, the coffee grounds will rise to the surface of the water, after the warm coffee grounds will drop by itself. In Kompas, said that Dampit Coffee has the aroma and distinctive taste contained in the coffee beans caused the geographical conditions and the contours of land and it is on the hillsides of Mount Semeru and on the southern coast of Java. [1] In Liputan6[dot]com said that the Dampit Coffee abroad, especially in Europe, it is very famous, especially Robusta Coffee and it is considered to have special taste because it is planted at an altitude of more than 800 meters above sea level and has a good soil structure. [2] If you want to taste Dampit Coffee? Please come to our city.

Un Jour Sur Terre (Suatu Hari Di Atas Bumi) (1)

20180623_090112

Jika sudah senang, apa pun yang sulit akan menjadi mudah, kata budhe, pendiri taman kanak-kanak—dan saya dan kawan-kawan kecil, yang kini entah di mana, adalah generasi pertama di tahun 1993—di Surabaya. Ketekunannya dalam mengelola taman kanak-kanaknya dengan dua kelas dengan manajemen waktu yaitu untuk nol kecil di pagi hari dan nol besar agak siang, benar-benar membuat keponakannya ini takjub. Tak hanya itu, Kesabaran serta totalitasnya untuk pendidikan anak-anak di daerah Surabaya Timur, baru benar-benar dipahami oleh keponakannya ini seusai terpengaruh oleh Mangunwijaya, Ki Hadjar Dewantara, Metode Montessori, Cerpen anak-anak Leo Tolstoy, Brahmacharya à la Rabindranath Tagore konteks pendidikan serta sistem Pedagogi yang diajarkan di Institut Francais.

Untuk siapa yang berani menyalakan (cahaya) mimpi itu kembali, pada suatu hari, di atas bumi. Marilah kita mulai!

Pour ceux qui osent retourner le rêve (de la lumière), un jour sur terre. Commençons!

(1) Un Jour Sur Terre Movie Opening / Anggun C. Sasmi

Tentang Cita-Cita yang Melahirkan Risiko Bernama Rindu.

Screenshot from 2018-06-25 00:31:04

Beberapa jam lalu bercengkrama dengan kawan-kawan lama, berbicara banyak hal tentang banyak hal. Dua hari lalu bertemu seseorang yang mengagumkan meski hanya sejenak. Beberapa jam di dua hari yang lalu, mencium tangan nenek yang terus bertanya pada cucunya yang tersayang ini tentang kapan menikah—hmm, sabar ya, Nek; mencium tangan budhe yang menginspirasi tentang taman kanak-kanak yang dibentuknya; melihat tingkah polah keponakan kecil yang sedang lucu-lucunya. Sepuluh hari yang lalu, bertemu kawan-kawan lama dalam bidang yang lain. Tiga belas hari yang lalu, membuka pagar rumah sambil menatapnya dalam-dalam, berjalan pelan-pelan menuju pintu rumah dan ayah membuka pintu, jarak yang menimbulkan kerinduan melalui air mata yang akan tumpah menyebabkan segala problem anak lelaki dan ayahnya kemudian sirna. Keterbatasan waktu mengharuskan mengansel beberapa pertemuan dari kawan-kawan baik dunia musik, kawan-kawan baik dunia buku, kawan-kawan baik dunia pendidikan sejak te-ka, es-de, es-em-pe, es-em-a hingga kuliah, kawan-kawan baik—sekaligus guru—dunia non formal dari penjual bakso hingga penjual tahu telor; serta melihat banyak sekali perubahan di kampung halaman.

Dan Waktu kan menjawab / Pertemuan ku dan dirimu, begitu yang tertulis dalam lirik Tentang Rindu dari Virzha.

Segalanya untuk cita-cita yang melahirkan risiko bernama rindu.

23 Juni.

35949122_10156977070238274_5775132396227657728_n

Sampai kapan pun, Vieira akan memendam sejarah kelamnya tentang ayahnya. Tapi luka itu, terobati dengan membantu mendirikan sekolah sepakbola bagi anak-anak di tanah kelahirannya: Senegal. Sampai kapan pun, Zizou akan mengingat luka yang lain tentang kemiskinannya ketika ia tak memiliki sepatu untuk bermain bola di sub-urban Marseille. Tapi luka itu terobati dengan menjadi legenda kaum imigran dan menginspirasi anak-anak Aljazair bahwa mereka mampu menjadi sepertinya.

Kasih Tuhan membawa mereka, dua luka itu, Vieira dan Zizou, ke dalam tim kesebelasan negara yang pernah menjajah tanah asal mereka dulu: Prancis. Pada tahun 1998, seorang anak kecil kelahiran Surabaya, yang dibesarkan di Malang dan meraih impiannya di Yogyakarta dan Bandung, melihat spirit mereka dan terus menginspirasinya. Selamat ulang tahun Bung Vieira dan Bung Zizou.

Kini, tongkat estafet inspirasi itu kamulah yang berhak meneruskan, dengan caramu sendiri, dari lingkungan terkecil dan kemudian meluas. Mari berjuang dan membahagiakan siapa pun.

Jujur.

20180622_093922 (copy)

Masih, masih ada ketika kedua tangan bertemu namun di dalamnya terdapat nominal rupiah di sebuah instansi/birokrasi di negara yang paling dicintai Bung Karno dan Bung Hatta, dan yang mengerikan, bisa menimpa siapa saja, termasuk suami, atau istri, atau ayah, atau ibu, atau om, atau tante, atau kakek kita.

Ayah, jangan!

Ibu, jangan!

Setelah membayar pajak tahunan, saya tersenyum dan memandang langit kota Pahlawan. Saya ingat perjuangan hampir tiga tahun ini di instansi/birokrasi milik pemerintah asing. Hampir mengalami depresi dan kesunyian. Pada level B, saya gagal ujian, dan saya diharuskan mengulang level, sampai benar-benar menguasai level tersebut, dan tak boleh lanjut level jika belum benar-benar menguasai level tersebut, tak ada sogok-menyogok, dengan memakai sistem milik pemerintah asing. Akhirnya saya berhasil dan sekarang melanjutkan ke level yang lebih tinggi.

Setelah membayar pajak tahunan, saya tersenyum dan memandang langit kota Pahlawan. Saya ingat perjuangan hampir tiga tahun ini di instansi/birokrasi milik pemerintah asing. Tak hanya itu, saya ingat tentang seorang kawan—yang berjuang merampungkan pendidikan S1-nya—yang lolos ujian tes tulis di suatu jawatan di negara ini, ia pintar, sayangnya ia kalah uang ketika kedua tangan bertemu namun di dalamnya terdapat nominal rupiah di sebuah instansi/birokrasi di negara yang paling dicintai Bung Karno dan Bung Hatta, dan yang mengerikan, bisa menimpa siapa saja, termasuk suami, atau istri, atau ayah, atau ibu, atau om, atau tante, atau kakek kita.

Aku bangga pada kejujuranmu, sayang, meskipun keadaan kita sulit, katamu, kelak nanti, wahai cahayaku.