Kawan-Kawan Muda Hubungan Internasional, UGM.

-L’éducation, c’est la famille qui la donne ; l’instruction, c’est l’Etat qui la doit. [Pendidikan, adalah keluarga yang memberikannya; Instruksi, adalah Negara yang mengharuskannya] – Victor Hugo.

Senang rasanya melihat kawan-kawan muda seperjuangan dalam kelas bahasa Prancis meraih impiannya masing-masing, meskipun hanya dua tingkatan, sekitar enam bulan. Nadia (Cah Solo), Oka (Arek Surabaya) dan Mega (Anak Bekasi/Jakarta) adalah kawan-kawan muda dari Komahi FISIPOL UGM, mereka sangat aktif, daya serap bahasa mereka luar biasa. Saya yang lebih tua sekitar enam atau tujuh tahun benar-benar kepayahan meladeni semangat mereka. Mudahnya seperti ini, untuk proses pemahaman seperti menghafal rumus konjugasi bahasa, mereka hanya sekali, sementara saya harus dua kali.

Di dalam kelas itu, melalui sistem metode pedagogi, perbedaan terbungkus dalam persamaan, seperti kepala dengan isi keilmuan teknik sipil/arsitektur harus bertemu dengan kepala dengan isi keilmuan politik, kepala dengan isi keilmuan ekonomi, kepala dengan isi keilmuan sastra atau kepala dengan isi keilmuan seni. Rumus singkatnya: Teknik+Politik+Ekonomi+Sastra+Seni => Bahasa.

Semoga mereka masih menyimpan bara semangat untuk merantau ke Tanah Napoleon Bona dan Rong-Rong, yang memang unggul di ilmu-ilmu sosial; lain dengan Jerman yang unggul dalam Iptek.

Tangani Kasus Persekusi JAI Lombok Timur: bukan sekedar Menyapu Debu ke bawah Karpet – Oleh: Nadia Fausta Azhara (Peneliti Muda Setara Institute).

https://hakberagama.or.id/tangani-kasus-persekusi-jai-lombok-timur-bukan-sekedar-menyapu-debu-ke-bawah-karpet/?fbclid=IwAR2gfO1LL4C5R6QDgflclknKwxW3KQe-ac9RV0vWkARHZjobzUlp15snvac

Iklan

Memahami Watak Air.

“Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia yang berhasil bersama-sama denganku pada tanggal 25 mei 1926 (24 Tahun) aku mendapat gelar “INGENIEUR”. Ijazahku dalam jurusan Teknik Sipil bahwa aku adalah spesialis dalam pekerjaan Jalan Raya dan Pengairan […] Aku berkeinginan untuk meneruskan universitas di Belanda karena biasanya seorang yang ingin sekolah Teknik pergi ke negeri Belanda […] Janganlah membuat otakmu menjadi perpustakaan, tetapi pakailah pengetahuannmu secara aktif”- Soekarno Muda ( Teknik Sipil di Technische Hoogeschool teBandoeng/ITB).

Penulis melihat video itu (1,2), video beberapa hari lalu di mana Malang Kota Bunga berubah nama dengan Malang Kota Banjir. Pemimpin Kota Malang, yang sangat penulis kagumi menjelaskan bahwa ketika hujan turun kurang/lebih selama 1 jam, dan mengatakan melalui lansiran beberapa media massa bahwa DAM air di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Irigasi yang berada di wilayah Ringin Asri tersumbat oleh sampah bambu milik masyarakat.

Pernyataan Pemimpin Kota Malang mungkin benar, namun dalam memahami suatu ‘peristiwa,’ dalam konteks bahasa, selalu mengandung kejadian-yang-belum-terjadi (avant/before) atau kejadian-yang-telah-terjadi (après/after). Kita imajinasikan bahwa kejadian bencana alam yang penulis lihat dalam video itu termasuk dalam kategori kejadian-yang-belum-terjadi (avant/before).

Pada masa kejadian-yang-belum-terjadi (avant/before), katakanlah, orang awam, yang mengenal Malang dengan benar, dalam artian cetak-biru baik dari sejarah hingga konstruksi arsitektur yang ada semacam Gereja-Masjid Alun-Alun, Stasiun Kotabaru Malang, Bangunan Tua Sekolah Menengah Atas favorit di Komplek Tugu (SMA 1, SMA 3 dan SMA 4), atau bunker di Ijen (4), telah memahami bahwa andaikan hujan turun dengan debit air yang tinggi, maka ada kesinambungan struktur geografi dengan daerah yang lebih tinggi, Kota Batu. Dalam pemetaan yang lain, secara pragmatis, orang Jakartakerap menyebut banjir dengan ‘kiriman dari Bogor,’ tepatnya air kiriman dari Bendung Katulampa, Bogor.

Setali tiga uang dengan kasus banjir kiriman Bogor-Jakarta, posisi Kota Malang masih saja belum aman apabila hanya mengandalkan dinas yang terkait untuk merekonstruksi kembali drainase Kota Malang—serta penambahan ruang hijau yang luas seperti hutan Malabar, seperti yang dikatakan walikota Surabaya, untuk menekan banjir sekaligus meminimalisasi dampak gempa (5)—sebagai kota yang nyaman bagi siapa pun, baik warga lokal maupun pendatang, dan satu hal yang paling penting berharap dan bekerja sama dengan Kota Batu, sebab menilik karakter elemen alam ciptaan-Nya, air yang mengalir dari tempat tinggi ke rendah, dari Kota Batu ke Kota Malang.

Dan penulis berharap–dan berdoa–agar kita semua dihindarkan dari bencana-bencana, satu rasa syukur yang tak ternilai.

Bacaan lanjut:

-Waterbouwkundige Constructies – Ir.J. Honing. /http://pustaka.pusair-pu.go.id/akasia/index.php?p=show_detail&id=326

-Menteng “Kota Taman” Pertama di Indonesia – Romo Adolf Heuken.

– Mesjid-mesjid tua di Jakarta – Romo Adolf Heuken.

– Gereja-gereja di Jakarta – Romo Adolf Heuken.

*

(1) https://www.youtube.com/watch?v=ejF57j-dFIg

(2) https://www.youtube.com/watch?v=Vg4eE9rQ-u4

(3) http://suryamalang.tribunnews.com/2018/12/10/penjelasan-walikota-malang-sutiaji-soal-banjir-di-kota-malang-singgung-soal-dam-di-umm

(4) https://radarmalang.id/pemkot-malang-radar-malang-napak-tilas-bunker-di-tengah-kota/

(5) http://www.satuharapan.com/read-detail/read/risma-buat-hutan-kota-untuk-tekan-banjir

[] Image https://www.tokopedia.com/sejarah/buku-belanda-klasik-jadul-lama-1950-waterbouwkundige-constructies

Anak Buruh.

-Naskah drama untuk Pak Revrisond Baswir dan Istri, dan kisah cinta dalam balutan perjuangan.

[Blackout]

Di satu universitas tertua. Awan mendung. Beberapa nampak para pelajar. Daun-daun bergerak. Mobil Peugeot (baca: pusyo) 206 warna biru dari mahasiswi kedokteran gigi, anak dari satu jajaran direksi tambang batu bara di Kalimantan, memarkir. Tak jauh dari parkiran, seorang anak buruh (1) yang sedang mengenyam pendidikan Ekonomi Kolonial, di universitas tempat para pemikir itu, mendapatkan telefon—telepati modern (2)—dari kekasihnya di luar kota, long distance relationship:

Kekasih Anak Buruh: Lagi di mana?

Anak Buruh: Seperti biasanya, habis ada kelas, lalu olahraga.

Kekasih Anak Buruh: Gak lelah?

Anak Buruh: Untukmu, tak ada kata lelah?

Kekasih Anak Buruh: Masak?

Anak Buruh: Tentu saja, aku mengorbankan diriku untukmu. Katanya kamu ingin ke pegunungan Jura, di Utara Alpen, yang melingkungi Prancis, Jerman dan Swiss.

[Hening]

Anak Buruh: [Melanjutkan] Halo, halo?

Kekasih Anak Buruh: Iya, iya, aku terharu mendengarnya. Tahu dari mana kalau aku suka Jura?

Anak Buruh: Bukannya kamu suka putar Jura dari band PG. Lost (3)?

Kekasih Anak Buruh: Ah, kamu sedetil itu memerhatikanku?

Anak Buruh: Tentu dong.

Kekasih Anak Buruh: Kamu pintar merayu sekarang, tapi aku suka.

[Tertawa]

[Blackout]

(1)Nanti saya bisa kerja sambil kuliah […] Kenapa harus khawatir dengan masa depan? – Revrisond Baswir, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM https://www.kompasiana.com/els-love/55101f66813311c82cbc6a0f/jalan-idealis-revrisond-baswir/ https://id.wikipedia.org/wiki/Revrisond_Baswir

(2) Telepati – Telepon http://isnaindriati.gurusiana.id/article/telepati-telepon-0 / https://id.innerself.com/content/personal/intuition-awareness/intuitive-awareness/8801-telephone-telepathy-can-be-influenced.html?fbclid=IwAR3J9lgCwDkF3JYiKEW7zOH4fC0hEzTDipORrXS99nSlHpdJR4KOlGNBy0s

(3) PG. Lost – Jura https://www.youtube.com/watch?v=CA_w_tZijoU

[] Adaptasi dialog satu naskah drama Republik reptil dan drama-drama lainnya – Radhar Panca Dahana (Balesastra Pustaka, 2010)

Aufklärung Bagi Kota Kecil?

Jika representasi suatu ‘Negara’ (hanya) ditujukan pada setiap ibukota, kota besar,—dengan segala problematikanya—dan dianggap sebagai jelmaan sukses atau tidaknya suatu ‘Negara’, walhasil tak ada apa yang disebut oleh filsuf Jerman, Immanuel Kant: Sapere Aude! (Beranilah Berpikir Sendiri) dalam abad Aufklärung, pencerahan, pada abad 18, yang didahului oleh abad Renaissance, pada abad ke 14 hingga abad 17.

Seperti halnya dalam konteks periode Islam dalam hijrah Nabi Saw, yang tak melulu harus terpusat pada Mekah, kita representasikan kota besar, sebab masih ada Madinah, kita representasikan kota kecil, yang justru menciptakan suatu ide besar seperti Piagam Madinah, piagam demokrasi yang bila seluruh umat Islam melaksanakannya akan tercapai satu kejayaan Islam yang baru dan tak selalu mendengungkan kejayaan Islam yang lampau:

Dengan piagam itu Rasulullah SAW menjamin bagi orang Nasrani hak-hak istimewa yang penting, keselamatan jiwa dan hartanya, dan larangan yang keras dengan hukuman yang berat bagi orang Islam yang melanggar dan yang tak mengindahkan aturan-aturan dalam piagam itu. Dengan piagam itu Rasulullah SAW mewajibkan dirinya, dan diserukannya kepada para pengikutnya supaya melindungi kaum Nasrani, menjaga gereja-gereja mereka dan biara-biara mereka. Tidaklah akan diletakkan kepada mereka beban pajak yang tak adil; tidaklah boleh mengusir bishop mereka dari daerahnya, tidaklah boleh memaksa orang Nasrani meninggalkan agamanya; tidaklah boleh mencegah seorang musafir agama dari tujuan tirakatnya; tidak boleh diruntuhkan atau diganti gereja untuk membina rumah-rumah atau masjid-masjid orang Islam. Wanita-wanita Nasrani yang bersuamikan orang-orang Islam dapat terus memeluk agama mereka masing-masing dan tak boleh diadakan paksaan atas mereka atau diperlakukan hal yang menyakitkan hati mereka karena agamanya. Kalau kaum Nasrani memerlukan bahan dan bantuan untuk memperbaiki gereja atau gedung-gedung kerahiban mereka, atau apa saja yang mengenai agama mereka, haruslah orang-orang Islam itu menolong mereka.

Piagam di atas ini, disamping hal-hal yang lain, menunjukkan dengan nyata sekali bahwa kebajikan seorang Muslim yang sejati ialah ruh toleransi bukan menjelma dari sifat pengecut atau takut, tetapi toleransi yang lahir dari keyakinan akan kebenaran yang ada pada dirinya. – M. Natsir dalam Pidato Mengenang Muhammad Iqbal, pengagum cum pengritisi Friedrich Nietzsche.

Di masa transisi gaya pacaran dari Rangga dan Cinta telah tergantikan dengan Dilan dan Milea inilah; Di masa kemiripan logo tangan dan bunga dari Partai (yang katanya) Solidaritas (di) Indonesia bersama para perempuan syantik yang independen dengan Partai Sosialis Prancis dengan perempuan cerdas dari Fleur Pellerin hingga Audrey Azoulay (1), lawan dari Partai Macron, Partai En Marche, sudah sepatutnya kota-kota kecil dari Madiun hingga Ngawi, di Jawa Timur, Indonesia, atau Rouen, Le Havre, Caen, dan Cherbourg-Octeville, di Normandia, Prancis utara yang berbatasan dengan Selat Inggris, meneriakkan kembali pada abad post-Aufklärung:

Sapere Aude! (Beranilah Berpikir Sendiri).

Ingat ya media Amerika, Prancis tak hanyaFaariiiis!

(1) Audrey Azoulay.

: Terinspirasi dari lagu Aufklärung – Children of Terror (Band Hardcore Malang).

: Image Twitter.

Derby du Nord: Stade Pierre-Mauroy, Lille Olympique Sporting Club.

grand_stade_lille22

Apa yang tersaji di Prancis Utara ketika bulan Januari hingga April? Di bulan-bulan tersebut, tepatnya di kota Lille, siapa pun akan menemukan event semacam Mozart Festival atau Short Film Festival, seperti yang ditulis dalam Paris – Lille – Brussels: The Bradt Guide to Eurostar Destinations (Bradt Travel Guide), oleh Laurence Phillips, penulis traveling yang memenangkan penghargaan GuideBook dari the British Guild of Travel Writers.

Para Lillois dan Lilloises, sebutan penduduk Kota Lille, di event semacam Short Film Festival mampu bersua dengan karya-karya Harun Farocki, sineas dokumenter, seperti yang ditulis Elizabeth Papazian dan kawan-kawan, dalam The Essay Film: Dialogue, Politics, Utopia. Atau bahkan kita bisa mengeja nama tokoh yang telah hidup puluhan tahun lalu di Lille seperti Henri Matisse (Pelukis), Charles de Gaulle hingga Robespierre (tokoh Politik), bahkan Gustave Nadaud (komposer).

Dari event festival hingga kekayaan pesona pada para tokohnya membuat kota yang berbatasan dengan Belgia ini mengalami metamorfosanya dengan menjadi Kota Seni dan Sejarah dalam Ibukota Kebudayaan Eropa 2004, dan ramah lingkungan, setelah mengalami krisis pada tahun1970-an hingga 1980-an, seperti yang dijelaskan oleh lilletourisme.

Metamorfosa tak hanya dalam konteks kota, tapi juga pada sepakbola ketika pada tahun 1975, klub Lille OSC menempati stadion Stade Grimonprez-Jooris yang sangat kecil dengan kapasitas 21.000 penonton dan ketika bermain di level Eropa, stadion tersebut tak layak oleh UEFA. Mau tak mau, Lille harus memutar otak dan kesepakatan diambil untuk berpindah homeground di Stade Pierre-Mauroy dengan kapasitas 50.000 penonton.

Stade Pierre-Mauroy sangat menarik, stadion yang diambil dari nama bekas menteri dan walikota dari Kota Lille ini memiliki teknologi yang membuat decak kagum bagi yang merasakan atmosfirnya baik dari Retractable roof, atap terbuka dan tertutup; bahkan setengah lapangan dengan teknologi tinggi, dengan bergerak ke atas dan meluncur ke sisi setengah lapangan yang lain (1) (2); konsep setengah lapangan ini untuk menyelenggarakan kejuaraan tenis, basket bahkan konser musik (3). Konsep sports architecture ini digagas oleh tiga kepala arsitek seperti Pierre Ferret, Denis Valode & Jean Pistre.

Penulis pun hanya bisa berteriak seperti dialog dari film komedi Bienvenue chez les Ch’tis, yang ditulis oleh komedian Prancis, Dany Boon, tentang aksen lain bertemu dengan aksen daerah lain (4):

Philippe : Le Nord ? Non, à Lyon ?

(Utara? Bukan, di Lyon?)

Jean : Ah non, pas à Lyon ! Dans le Nord, Nord !

(Ah bukan, bukan di Lyon! Di utara, utara!)

Philippe : Ah non, pas à Paris. Ne me dis pas qu’ils m’envoient à Paris !

Philippe : (Ah tidak, bukan di Paris. Jangan katakan padaku bahwa mereka mengirimku ke Paris!)

Jean : Pas à Paris, plus au nord.

Jean: (Bukan di Paris lebih utara.)

Philippe : En Belgique.

Philippe : (Di Belgia.)

Jean : Ben non, non, avant la Belgique, le Nord-Pas-de-Calais ! Voilà, tu es muté du côté de Lille.

Jean : (Ah, tidak, tidak, sebelum Belgia, le Nord-Pas-de-Calais ! Begitulah, kau mengirimku ke sisi Lille.)

Philippe : L’Île ? L’Île de quoi ?

Philippe : (Pulau? Pulau apa?)

Jean : Pas sur une île. Lille, la ville de Lille !

Jean : (Bukan pulau. Kota Lille, Kota Lille!)

 

(1) http://stadiumdb.com/pictures/stadiums/fra/grand_stade_lille/grand_stade_lille24.jpg

(2) http://stadiumdb.com/pictures/stadiums/fra/grand_stade_lille/grand_stade_lille23.jpg

(3) http://stadiumdb.com/pictures/stadiums/fra/grand_stade_lille/grand_stade_lille25.jpg

(4) Welcome to the Land of Ch’tis / Bienvenue chez les Ch’tis (2008) – Trailer https://www.youtube.com/watch?v=fY5cWL4SUmw

[] Transformasi Aréna Grand-Stade Pierre Mauroy https://www.youtube.com/watch?v=lMvURIzQffA

[] Konstruksi Aréna Grand-Stade Pierre Mauroy https://www.youtube.com/watch?v=hty5QUzSfjo

 

Derby de l’Atlantique: Le Nouveau Grand Stade de Bordeaux, FC Girondins de Bordeaux.

stade_bordeaux_atlantique14

Or they simply savoured the new sensation of being no longer cooped up – John Ardagh, Jurnalis dan Peneliti Eropa Barat.

Penulis beruntung dipertemukan dengan kawan-kawan baru baik yang seumuran, yang lebih muda bahkan yang lebih tua. Dengan demikian, penulis mampu belajar menjadi pribadi yang luwes dalam pemikiran: belajar kepada yang lebih muda dan belajar kepada yang lebih tua.

Katakanlah, Si X, namanya, kenalan baru penulis yang paham akan dunia tourisme—dan juga—di Malang, khususnya. Perempuan itu menjelaskan:

“Malang (raya) punya potensi luar biasa dalam wisata, sayang hanya satu: SDM, guide! Banyak orang Spanyol, Rusia, Argentina, Brazil, yang ingin ke Malang, tapi mereka terkendala bahasa.”

Kemudian, pada satu kesempatan, penulis bercakap-cakap lebih dalam tentang kota yang akan dituju nantinya setelah mencari sponsor dari (Pemerintah) Prancis:

“Kamu aneh,” katanya, dan melanjutkan, “suka Jerman tapi belajar Prancis. Oh ya, jangan lupa, di kotamu [Malang raya] kan ada perkebunan kopi dan apel, cobalah nanti pergi ke Bordeaux, pelajari sistem mereka baik-baik.”

Beranjak dari sana, penulis mencari data-data tentang satu kota yang mengagumkan tentang satu kata: Anggur! Ya, dari buah kecil itu ternyata menyimpan satu kerumitan tersendiri. Adalah, CAFA Wine (1), sekolah internasional khusus wine dari material yang bernama anggur dan kemudian menjadi satu gastronomi yang unik. Satu kota yang dirasa cukup aneh, ketika wilayah-wilayah di Prancis merasakan butiran salju, Bordeaux, Prancis Barat Daya ini, dan para Bordelais, sebutan penduduk Bordeaux, justru menikmati musim hujan.

Hasil akhir dari proses yang ‘njelimet’ dari membuat wine bisa disajikan di tengah hawa dingin bersama kekasih atau kawan dekat sembari melihat satu klub bola, FC Girondins de Bordeaux, bertanding di Le Nouveau Grand Stade de Bordeaux, stadion modern yang dibangun pada 2012 dengan rumput hybrid stadion sebagai pemanis utama, laiknya sari dari wine itu.

Ke-njelimet-an juga akan dirasakan oleh penggemar stadion-stadion lama seperti penulis yang mana Herzog & de Meuron, firma arsitektur dari Swiss, kolaborasi Jacques Herzog dan Pierre de Meuron memenangkan tender kompetisi pada 2010-2011 untuk mendesain stadion dengan 183 juta euro dan direalisasikan di atas lahan seluas 16 hektar, selama rentang 2012 hingga 2015. Desain tribun seperti mangkuk (2) yang nyaman bagi para perempuan, para difabel (3) dan tentu saja, para awak media, dengan satu kelebihan yang tak terlihat: jarak pandang menonton yang dihitung dengan ketelitian, sehingga menonton dari sisi mana pun akan sangat nyaman…Luar biasa! Dalam eksterior bangunan stadion, hutan-hutan kolom tipis (4) menyangga beban tribun yang mengelilingi stadion dengan warna putih bak angsa dalam cerita anak-anak, plus jalur atau jalan pertemuan yang disebut dengan, Concourse, yang mempertemukan mereka yang terpisah-pisah.

Aku akan membawamu ke satu tempat, kata penulis nanti, pada kekasihnya.

Dan si kekasih nanti, mungkin, akan membalas pertanyaan, ke mana?

Le Nouveau Grand Stade de Bordeaux, stadion sepakbola di kota pelabuhan dan kota wine, Bordeaux, yang sangat manusiawi dengan sebaran cahaya putih. Mau?

(1) https://www.academiccourses.co.id/universitas/Perancis/cafa/

(2) http://stadiumdb.com/pic-buildings/fra/grand_stade_bordeaux/grand_stade_bordeaux234.jpg

(3) http://stadiumdb.com/pic-buildings/fra/grand_stade_bordeaux/grand_stade_bordeaux249.jpg

(4) a) https://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g187079-d8288592-i206390735-Matmut_ATLANTIQUE-Bordeaux_Gironde_Nouvelle_Aquitaine.html; b) https://www.bordeaux-tourisme.com/offre/fiche/visites-guidees-du-stade-matmut-atlantique/OP031AQU033V507QYA

() Image maket http://stadiumdb.com/pic-projects/stade_bordeaux_atlantique/stade_bordeaux_atlantique14.jpg

() eagle view https://www.youtube.com/watch?v=gEk4dKFC3P4

Tentang Tanah.

Lubang-jalan-yang-kembali-muncul-di-Jalan-Bendungan-Sigura-Gura-Kota-Malang-dan-membahayakan-pengguna-jalan.-Foto-Istimewa6015b58f995b426cb2c91b8734c3153d

Pada Selasa lalu, anak Malang yang tak pernah pulang itu, meski jarak Malang-Yogya, tak sampai dua jam bila ditempuh dengan pesawat, sekitar tujuh jam bila ditempuh dengan kereta api, menahan segala bentuk kerinduan pada kota dingin itu dan kemudian satu kabar muncul bahwa ada longsor kecil di sekitaran, Jl. Sigura-gura, satu jalan yang mana kerap kali dilintasi untuk jogging pagi oleh anak Malang yang tak pernah pulang itu, alternatif bila jenuh dengan spot rektorat Universitas Brawijaya, tak jauh dari rumahnya di Jl. Simpang Gajayana, belakang UIN Malang.

Berkat jogging itulah, sekaligus pernah diajak oleh sahabatnya dari Lamongan, yang telah bekerja di perusahaan Petrokimia, Gresik, untuk pembangunan pabrik, untuk magang di sana, mencatat produktivitas waktu pada alat berat, tepatnya analisis dalam produktivitas alat terkait kapasitas, waktu siklus alat, dan efisiensi alat dalam Dump Truck. Kemudian, mata anak Malang yang tak pernah pulang itu, melihat ada perbedaan tanah antara di sekitaran Lamongan-Gresik dengan Malang. Segera, setelahnya, anak Malang yang tak pernah pulang itu, mendapatkan data bahwa tanah di Gresik adalah tanah jenis Grumusol, tipe pesisir; sedangkan Malang adalah jenis tanah andosol, tipe pegunungan. Bila ditarik lebih jauh, tanah tipe pesisir dan tanah tipe pegunungan juga bisa menjadi alat pembacaan profesi dari warga lokal.

Dibawah langit Yogya yang muram dan terus-menerus disertai hujan yang tak kunjung henti, di satu kedai kopi dengan lantunan sound-dari-track, Taipei, dari 65daysofstatic dari album Wild Light, ia segera mengumpulkan kembali ingatan kolektif tentang tanah dari pengujian CBR (California Bearing Ratio), daya dukung tanah (bearing capacity), beban yang berlebihan yang diberikan dari kendaraan dan turun memaksa pondasi tanah, retakan kecil dan kemudian membesar pada bagian aspal dan tanah disebabkan curah hujan tinggi. Sebagai tambahan, bagi perusahaan yang ‘bermain nakal’, bisa merekayasa data pengujian CBR dan ilmu pengetahuan yang ditujukan untuk kebaikan setiap insan ciptaan-Nya menjadi tidak relevan kembali.

Dari kejauhan, di bawah langit Yogya yang muram, di kedai kopi itu, di antara kamus bahasanya, dengan membaca kabar tentang longsornya Jl. Sigura-gura, ia, anak Malang yang tak pernah pulang itu, hanya bisa mengulang ingatan, pada kota dingin yang memunculkan kerinduan pada setiap tarikan udaranya, sembari menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan ibunya:

“Kamu, kapan ke Malang, Nak? Ibadahnya di jaga ya.”

[] Taipei – 65daysofstatic https://www.youtube.com/watch?v=DmL5Cb7ljn8

[] Image https://www.malangtimes.com/baca/33567/20181126/193100/hatihati-lubang-besar-muncul-lagi-di-jalan-bendungan-siguragura/

Jacques Derrida & Filsafat Bahasa Prancis: «Là» (Di Sana).

a20181127_070258

– Sekaligus persembahan agung penulis pada Ajip Rosidi, Guru Besar di Universitas Jepang yang tak punya ijazah itu, yang masih menggunakan bentuk penulisan tanda aksen dalam bahasa Indonesia antara /é/ dan /e/ dalam satu karyanya.

(Tu)lisan.

Jika melihat waktu pengembalian pinjaman buku dari perpustakaan, bibliotheque, yang penulis pinjam, maka terhidang tanggal 10/08/2011 – 29/02/2016. Ada jeda dan jarak di sana: 5 Tahun.

Dalam waktu 5 tahun, apa yang bisa dilakukan oleh seseorang, atau katakanlah peristiwa apa saja yang terjadi pada waktu 5 tahun itu, di sana, «Là». Là, di sini, adalah perihal waktu dan juga jarak.

1) Là, juga bisa bisa diartikan tentang ‘pembacaan’—dalam beragam bentuk seperti artikel surat kabar atau foto—yang sangat jauh puluhan tahun silam dalam teritori masa lalu (passé) seperti sejarawan yang menafsirkan suatu periode, sebutlah Nusantara;

2) Là, juga bisa diartikan tentang ‘pembacaan’—dalam tanda-tanda alam dan tanda-tanda perubahan masyarakat—yang sangat jauh puluhan tahun ke depan, futuristik, dalam teritori masa depan (futur) seperti seorang anak Indigo yang diberikan keajaiban khusus oleh Sang-Pencipta-Yang-Maha-Segalanya untuk melihat kejadian di depan; lihat kembali cerita dalam tradisi Islam antara Nabi Musa as dan Nabi Khidir as.

3) Là, juga bisa tentang ‘pembacaan’ kerinduan—dalam intuisi, suatu kemampuan memahami sesuatu tanpa pikiran, irasional—yang terpisah jarak yang sangat jauh seperti penantian, katakanlah, seorang kekasih yang berada di benua Asia pada kekasihnya yang berada di benua Eropa, sehingga menimbulkan rasa kasih dalam bentuk kekhawatiran yang mendalam, “Di sana, kau sedang apa?”.

Lisan.

Bahasa adalah jambangan besar yang rapuh, kata Derrida, melalui tuturan sahabat perempuannya, filsuf Hélène Cixous.

Di dalam dunia tulisan «Là», akan dapat dipahami melalui aksen grave dengan tanda /à/, yang akan berbeda dengan /a/ dalam «La», artikel definitif untuk merujuk pada kata benda feminin. Dalam dunia lisan, dunia yang tak terlacak jejaknya: A là, di sana. À la (varian «ala»), terma untuk ‘dalam gaya atau cara.’ Namun, /à/ adalah /a/, melebur menjadi satu. «Là», dilafalkan sebagaimana, «La». Sehingga, dalam lisan, «Là» adalah «La».

Tulisan dan lisan, dalam «Là», seperti pengibaratan yang dipancarkan oleh Api pada Abu.

Teks Prancis Jacques Derrida: Jacques Derrida – Feu La Cendre.

Il y a plus 15 ans, une phrase m’est venue, comme malgré moi, revenue plutôt, singulière, singulièrement brève, presque muette. Je la croyais savamment calculee, maîtrisée, assujettie, comme si je me l’étais à tout jamais appropriée.

Or depuis, sans cesse je dois me rendre à l’évidence : la phrase s’était passé de toute autorisation, elle avait vécu sans moi.

Elle avait toujours vécu seule.

La première fois (était-ce la première fois?), ce fut donc il y a plus de 15 ans, à la fin d’un livre, La Dissémination. Dans un paragraphe de remerciements, au moment où un livre se dedicace, se donne ou se rend à ceux qui, connus ou inconnus, vous l’ont d’avance donné, ladite phrase vient s’imposer à moi avec l’autorité, si discrète et simple qu’elle fût, d’une sentence : il y a là cendre.

Là s’écrivait avec un accent grave : là, il y a cendre, il y a, là, cendre. Mais l’accent, s’il se lit à l’œil, ne s’entend pas : il y a là cendre. A l’écoute, l’article défini, la, risque d’effacer le lieu, la mention ou la memoire du lieu, l’adverbe là…Mais à la lecture muette, c’est l’inverse, là efface la, la s’efface : lui-même, elle-même, deux fois plutôt qu’une.

[…]

Qu’on me permette de souligner enfin deux difficultés parmi d’autres dans la scénographie sonore qui fut tentée d’autre part. Tout d’abord, il fallait à la fois marquer et effacer l’accent sur le à cle là dans «il y a là cendre» et ailleurs. Faire les deux à la fois était impossible et si le mot «accent» dit quelque chose du chant, c’est l’expérience de la cendre et du chant qui cherche ici son nom.

Puis si la version enregistrée donne à entendre deux voix, dont l’une paraît masculine, l’autre féminine, cela ne réduit pas le polylogue à un duo, voire à un duel. Et en effet la mention «une autre voix», qu’on entend parfois sans la lire, aura souvent la valeur d’une mise en garde. Elle signale que chacune des deux voix se prête à d’autres encore. Je le répète, elle sont en nombre indéterminé : celle du signataire des textes ne figure que l’une d’entre elles, et il n’est pas sûr qu’elle soit masculine. Ni l’autre femme.

Mais les mots «une autre voix» ne rappellent pas seulement la multiciplité des personnes, ils appellent, ils demandent une autre voix : «une autre voix, encore, encore une autre voix». C’est un désir, un ordre, une prière ou une promesse, comme on voudra: «une autre voix, que vienne à cette heure, encore, une autre voix…» un ordre ou une promesse, le désir d’une prière, je ne sais pas, pas encore.

Jacques Derrida.

Nabi Musa as dan Nabi Khidir as https://medium.com/@galihfajarr09/cerita-dibalik-3-sikap-nabi-khidir-as-yang-tidak-disukai-nabi-musa-as-a250656f1fbf

Feu La Cendre Jacques Derrida https://soundcloud.com/iqbal-iqbal-146880652/feu-la-cendre-jacques-derrida

Derby Rhône-Alpes: Stade de Gerland, Olympique Lyonnais.

stade_de_gerland06

Jika Paris adalah ibukota Prancis, maka Lyon adalah ibukota Provinsi (1), demikianlah yang ditulis oleh esais Prancis dan kritikus sastra, Albert Thibaudet, dalam franceculture[poing]fr. Ketertarikan pada Lyon, tak hanya dikemukakan oleh Thibaudet, namun juga pada Philip Stanhope, 4th Earl of Chesterfield also-known-as Lord Stanhope, negarawan Inggris, diplomat, sastrawan kelahiran 22 September 1694 itu: Lyon adalah ibukotanya; kota ini sangat besar dan indah; itu juga sangat kaya karena pembuatan kain sutra, emas dan perak, yang didirikan di sana, dan yang memasok hampir seluruh Eropa. Jaket perak Anda yang indah berasal dari sana. (2)

Andaikan Paris adalah perempuan yang elegan dan independen di kota besar, maka Lyon adalah perempuan desa berdikari dan pergi ke kota. Perpindahan perempuan desa berdikari ke kota itu juga dialami oleh klub sepakbolanya, Olympique Lyonnais, memindahkan homeground mereka dari Stade de Gerland, di Kota Lyon, ke Stade de Parc Olympique Lyonnais, sub-urban Lyon Metropolis. Dari dua stadion itulah, penulis tertarik pada stadion lama mereka, Stade de Gerland, yang dibangun pada 1914 dengan kapasitas 25,000.

Stade de Gerland, bersama dengan rumah sakit, musium botani dan sekolah seni adalah sebagian gagasan dari urban planner dan arsitek, Tony Garnier, dengan proyek «Une Cité Industrielle». Proyek itu tak asal-asalan dibentuk oleh Garnier. Perpaduan teori «Regionalisme», dan melalui sastrawan naturalisme, Emile Zola, dalam roman Le Travail (1901), Garnier seakan mendapatkan ilham dan tahu apa yang akan dilakukan pada kota kecilnya itu. Satu imajinasi yang kemudian diaplikasikan dalam kenyataan: Sastra untuk Arsitektur. (3)

Dari era Garnier, waktu merambat ke depan, era arsitek Rene Gagis, dengan merenovasi tribun dan memberi nama tribun dengan tribun Jean Bouin, pelari atletik yang meninggal pada Perang Dunia I; dan tribun Jean Jaurès, pendiri surat kabar L’Humanité (4). Dan penambahan atap lengkung bertingkat ganda, arched roof with two double-tiered, dibelakang gawang (5).

Di dalam stadion, tak hanya chant-chant fans yang memberikan satu spirit tersendiri mana kala terjadi derby Rhône-Alpes melawan AS Saint-Étienne; tapi kita juga bisa membubuhkan satu napak tilas tersendiri di mana David Bowie, Roger Waters (Pink Floyd), atau Mick Jagger (The Rolling Stones), pernah mengudarakan sound-sound di antara dua atap dengan bentuk yang berbeda.

(1) https://www.franceculture.fr/emissions/la-conclusion-daurelien-bellanger/les-villes-de-province

(2) Le Lyonnois. Lyon en est la capitale; c’est un très grand et belle ville; elle est aussi très riche à cause de la manufacture d’étoffes de soye, d’or et d’argent, qui y est établie, et qui en fournit presque toute l’Europe. Votre belle veste d’argent vient de là – Lord Stanhope, The Works Of Lord Chesterfield: Including His Letters To His Son

(3) a) http://architectureandurbanism.blogspot.com/2010/11/tony-garnier-une-cite-industrielle-1917.html; b) https://thisislyon.fr/things-to-do/sports-lyon/sporting-venues-lyon/stade-de-gerland/; c) Surga dunia olahraga https://www.lyon-gerland.com/gerland-qui-bouge/le-paradis-des-sportifs/

(4) http://www.goalzz.com/MAIN.ASPX?c=10561&cm=c|2025|p

(5) a) Architecture of Thailand: A Guide to Tradition and Contemporary Forms oleh Nithi Sthapitanond, Brian Mertens; b) Exhibiting Modernity and Indonesian Vernacular Architecture: Hybrid Architecture at Pasar Gambir of Batavia, the 1931 Paris International Colonial Exhibition and Taman Mini Indonesia Indah oleh Yulia Nurliani Lukito. c) https://structurae.info/ouvrages/stade-de-gerland/photos

(6) Image Stade de Gerland, Lyon http://stadiumdb.com/stadiums/fra/stade_de_gerland

Stade de la Meinau (Stadion Meinau).

702px-Stade_de_la_Meinau_fassade2_(cropped)

Tak jauh dari perbatasan sungai Rhine yang membatasi wilayah Prancis dan Jerman, terdapat satu kota di Prancis yang dipenuhi aksen-aksen aneh bernama Franko-Jerman. 22 Oktober 1949, seorang anak kecil bernama Arsene Wenger lahir di kota Strasbourg ini, satu kota yang dipenuhi material-material berbahan klasik seperti Katedral «Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg» (1), lalu jembatan «Ponts Couverts» (2) hingga stadion «Stade de la Meinau», rumah dari Klub Racing Club de Strasbourg Alsace, dengan kapasitas 29.000.

Dalam wikipedia Prancis, dijelaskan bahwa pada tahun 1906, anak-anak muda « strasbourgeois » membentuk satu klub sepakbola, dan melakukan pertandingan persahabatan untuk kali pertama dengan FC Germania. Pada tahun 1933, RC Strasbourg mengklaim menjadi klub profesional, perjalanan panjang selama 27 tahun untuk menjelma dari klub amatir ke klub profesional. Warna strip biru yang didominasi warna putih menjadi jersey pertama (3). Kini, klub di kota yang, sekarang ini, dipimpin oleh walikota Roland Ries (Partai Sosialis Prancis) ini, memiliki presiden klub yang juga dipercaya mengelola manajemen klub yakni Marc Keller (Strasbourg, 1991-1996) setelah menggantikan posisi presiden klub terdahulu, Philippe Proisy, ex-pemain tenis Prancis.

Dalam konteks bangunan stadion, Stade de la Meinau adalah perpaduan beton dan logam. Bagian bawah stadion dengan beton bertulang dan baja ; sementara pada tribun fasad-fasad yang tinggi menghiasi antara kolom dan portico, semacam  teras yang mengarah ke pintu masuk gedung pada budaya Yunani Kuno.

Stade de la Meinau, satu material berbahan klasik yang masih tegak berdiri sejak era PD I, tarikan antara Prancis dan Jerman.

(1) https://structurae.info/ouvrages/cathedrale-notre-dame-de-strasbourg/photos

(2) https://structurae.info/ouvrages/ponts-couverts/photos

(3) https://racingstub.com/club/20/history/shirts/shirt/359