Tentang Mata : Barthes dan Hepburn.

AudreyHepburn1

– Untuk seseorang yang mengagumi Hepburn, Duta Unicef untuk anak-anak di Afrika.

Tadi ngopi dengan kawan baik saya, seorang pengajar musik di salah satu sekolah musik Yogyakarta. Ia sedang membaca buku tentang Roland Barthes terbitan Jalasutra—siapapun tentu telah membaca karya terjemahan itu, tentunya yang berhubungan dengan musik. Secara jujur, saya bukan pembaca Roland Barthes, lalu mendadak saya tertarik mencari tahu tentangnya, dan lagi-lagi, hal-hal mengejutkan menjumpai saya. Saya menemukan karya Barthes, ‘Essais critiques’ ( Paris: Seuil, 1991. 288 p.);* kemudian saya terpaku dengan satu bab ‘La métaphore de l’Œil’, Metafora Tentang Mata. Sayang, saya tak membawa kamus (cetak) besar dan hanya bisa membaca sekenanya dengan bantuan kamus online favorit saya, reverso[dot]net. Barthes menulis seperti ini:

“…Meskipun Sejarah Tentang Bawah Putih (l’Histoire de l’ail) terdiri dari beberapa penyebutan karakter dan cerita dari permainan erotik mereka, Bataille tak bermaksud menuliskan di sana sejarah tentang Simone, tentang Marcelle atau tentang narator (seperti Sade yang sanggup menulis sejarah tentang Justine atau Juliette). Sejarah Tentang Mata, sesungguhnya sejarah tentang suatu benda. Bagaimanakah suatu benda bisa memiliki suatu sejarah? Tak diragukan bahwa ia bisa melalui dari tangan ke tangan (memberikan kejadian lalu pada fiksi-fiksi yang menjemukkan dari genre Sejarah Tentang Pipaku [Histoire de ma pipe] atau Kenangan Tentang Kursi Berlengan [Mémoires d’un fauteuil]), itu bisa juga menghentikan tentang gambaran ke gambaran; Kemudian sejarahnya itulah salah satu tentang suatu migrasi, putaran dari avatar-avatar (secara harfiah) bahwa ia menjelajah jauh dari ada-nya yang asli, bagaimanapun menurut penurunan dari imajinasi tertentu yang merusak bentuknya tanpa membuangnya : itulah masalah dari buku Bataille.

1. Dengan rasa hormat pada Georges Bataille (Critique, n0(8) 195-196, Agustus. 1963).

Apa yang terjadi pada Mata [l’Œil] (dan bukan lagi untuk Marcelle, untuk Simone atau untuk seorang narator) tak bisa diasimilasikan pada suatu fiksi yang umum; ‘Petualangan-Petualangan’ dari suatu benda yang secara mudah mengubah pemiliknya, jatuh ke dalam imajinasi romantik yang memuaskan dirinya untuk mengatur kenyataan; disamping itu, ‘avatar-avatar’-nya, men-gada melalui kekuatan imajiner yang sesungguhnya (dan bukan lagi secara mudah ‘diciptakan’), tak hanya sanggup meng-ada-kan imajinasi yang sama: mereka bukanlah produksi melainkan substansi; dengan menjelaskan migrasi dari l’ŒÛ [1] terhadap benda-benda yang lain (dan karena itu penggunaan-penggunaan lain dari ‘Melihat’), Bataille tak berkompromi dengan dirinya lagi dalam roman, yang saling berakomodasi melalui definisi dari imajinasi parsial, diturunkan dan tak murni (segalanya bercampur dengan kenyataan); sebaliknya, itu tak menggerakannya di dalam suatu esensi dari imajiner. Haruskah itu memberikan pada genre dari komposisi nama tentang ‘puisi’ itu? Kita tak melihat yang lain untuk melawan roman, dan oposisi itu perlu: imajinasi romantik adalah ‘mungkin’: roman, adalah apa yang, secara keseluruhan, bisa terjadi : imajinasi memalukan (bahkan dalam kreasi yang paling mewah), sebab itu tak berani menjelaskan dirinya di bawah jaminan kenyataan; sebaliknya, imajinasi puitik adalah ketak-mungkinan: puisi, dalam situasi apapun, tak bisa terjadi, kecuali secara tepat dalam bagian yang gelap atau fantasi-fantasi yang membakar, dengan demikian, ia sendiri sanggup untuk menandai; roman dilanjutkan melalui kombinasi-kombinasi acak dari elemen-elemen kenyataan; puisi melalui ekplorasi yang tepat dan elemen-elemen virtual yang komplit. Kita akan mengenali dalam oposisi itu—jika itu didasarkan—dua kategori besar (operasi-operasi, benda-benda atau figur-figur) bahwa linguistik telah mengajarkan kita sekarang ini untuk membedakan dan menyebutkan: rancangan dan seleksi, sintagma dan paradigma, metonimi dan metafor. Jadi, Sejarah dari Œ, secara esensi, suatu komposisi metaforik (bagaimanapun kita akan melihat metonimi di sana menjadi penegah sesudahnya): Mata [l’Œil], suatu istilah di sana itu adalah varian yang mengarah pada sejumlah benda tertentu yang tersubstitusi, yang bersamanya dalam pertalian seksama dari benda-benda yang tertarik (sebab kedua mata seluruhnya berbentuk bulat) dan bagaimanapun tak sama (sebab kedua mata secara beragam memberi nama);…”

Dan tentang mata, benda ciptaan Yang-Maha-Agung, saya teringat pada si manis yang sendu, Audrey Hepburn dengan petikannya:

“The beauty of a woman must be seen from in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides.”


[1] Catatan: Tak terjemahkan, namun ada kemungkinan yang dimaksud, l’ŒÛ, dalam teks tersebut adalah huruf, yang dimungkinkan, dalam konteks bahasa Prancis, ‘Œ’ adalah alfabet latin, ligatur o dan e (lih. https://en.wikipedia.org/wiki/%C5%92); dan ‘Û’ adalah huruf dari alfabet bahasa Turki, bahasa Kurdi, bahasa Prancis, bahasa Friulian (lih. https://en.wikipedia.org/wiki/%C3%9B). Sementara, ‘Œ’, juga ditemukan dalam bahasa pemrograman Macintosh (lih. http://www.columbia.edu/itc/french/matheis/1102fa01/edit/accents.html) dan untuk pelafalan ‘Œ’ bisa merujuk ke https://www.thoughtco.com/french-pronunciation-of-oe-1369577.

(*) Beberapa teks dari La métaphore de l’Œil dalam Essais critiques’ ( Paris: Seuil, 1991. 288 p.) dari Roland Barthes http://www.ae-lib.org.ua/texts/barthes__essais_critiques__fr.htm#30

Iklan

Kakek.

20180210_163138 (copy)

“Terima kasih,” kata Siddharta. “terima kasih dan saya terima. Saya juga terima kasih pada anda. Vasudeva, karena mendengarkan demikian baik. Sedikit orang yang tahu cara mendengarkan dan aku tidak menemukan orang yang dapat berbuat seperti anda. Dalam hal ini pun saya akan belajar dari anda.” – Siddharta, Hermann Hesse. tr. Hilda Rosner dan Asbari Nurpatria Krisna (Pustaka Utama Grafiti, 1987)

Di kelas bahasa Prancis dan kelas bahasa Jerman, aku menemukan banyak hal-hal menarik. Yang paling menarik adalah menjadi pencerita dan menjadi pendengar, namun, agaknya aku lebih senang dengan menjadi pendengar, tapi madame atau frau berkata bahwa kekuranganku ada di ‘speaking’ terlalu banyak ke ‘writing’ dan ‘translating.’

Pada suatu waktu, di salah satu kelas bahasa, aku diharuskan menjadi pencerita tentang siapa anggota keluarga yang paling dirindukan. Dari kelima anak—rata-rata anak Hubungan Internasional; empat anak rata-rata empat tahun lebih muda dariku dan aku mendapat bagian keempat. Satu, dua, tiga, usai menceritakan anggota keluarga yang paling dirindukan dan aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Lalu aku menjadi pencerita, dan kemudian mulut terbuka dengan melafalkan satu nama: Kakek. Agar mendapatkan feel yang menyentuh, jika menganut bahasa Prancis, ada bentuk sapaan Saya-Anda (Je-Vous), tapi karena konteksnya bercerita pada teman-teman jadi menggunakan aku-kamu (Moi/Je-Toi/Tu).

“Pada suatu saat,” mulaiku pada kawan-kawan muda, dan melanjutkan, “aku dan ibu pergi dari Malang ke Surabaya dengan naik kereta, tempat kelahiran yang tak pernah kurasakan. Di tengah perjalanan, ibu banyak bercerita tentang kakek. Mulai dari pengagum organisasi Masyumi hingga menguasai empat bahasa asing, Inggris, Arab, Jerman, Belanda, dan pembaca Hamka, juga Chairil Anwar…Seusai keluar dari pondok saat kelas satu es-de, kakek mengajakku bermain keliling kota Malang naik angkot, meski punya mobil. Kakek tak pernah lepas dari tembakau, papirnya, dan topi koboinya. Di pasar comboran, kakek membeli beberapa alat pertanian untuk kebunnya sembari bercakap-cakap dengan pedagang, sebelum pulang kembali ke Surabaya. Dari kakekklah aku menyadari bahwa bahasa dan komunikasi begitu penting. Pemahaman kakek tentang relijiusitas tak perlu ditanyakan lagi dan beberapa puluh tahun kulihat buku-bukunya tak ada yang merawat. Jadi tanpa sepengetahuan keluargaku, aku merawatnya baik-baik. Jika ditanya siapa anggota keluarga yang paling dirindukan, tentu saja, kakek. Terima kasih untuk kalian semua.”

Untuk itulah aku mengambil resiko untuk belajar bahasa (untuk teknik?) dari dasar. Atau bisa jadi, setiap kata yang tertulis dan dilisankan, seakan-akan kakek hadir dan menyapa cucunya, langit menyapa bumi dan bumi tersenyum pada langit: Resiprokal.

Selamat merayakan akhir pekan bersama orang-orang terkasih.

Hari Pers!

27857844_1838622399503039_5198309094616770187_n

Meski bukan orang pers, namun sejak kecil telah melihat kakek memegang dan membaca media cetak berupa koran, Kompas dan Jawa Pos, di setiap pagi, bersama teh pahit dan rokok tembakau lintingannya sendiri itu. Kebiasaan membaca kakek menjerumuskan ke kolom olahraga dan menjadi kolom favorit saat itu, di mana Zidane bermain laiknya musik klasik Erik Satie, di Piala Dunia 1998. Pelajaran pertama adalah memahami skor pertandingan, misalnya, Brasil 0 (0)–(2) 3 Prancis. “Apa maksud dari tanda kurung (0)–(2)?” bertanya-tanya pada saat itu. Tak lama kemudian, ketika di sekolah dasar, seorang kawan memberitahu bahwa tanda kurung itu hasil dari pertandingan babak pertama.

Selepas sekolah dasar, kemudian mulai membaca Soccer dan Bola. Di Soccer, setiap di bagian tengah halaman selalu ada profil pemain dengan gambar kartunnya, sementara Bola, selalu kecanduan dengan gaya menulis Weshley Hutagalung saat itu. Lalu vakum, membaca koran beberapa tahun, beralih membaca buku cerita silat. Saat kuliah tertarik media cetak lain berupa zine saat pemikiran masih unyu-unyu, namun di satu sisi juga terjebak belantara koran minggu, karena ada kolom sastra atau kolom arsitektur.

Kini, belajar menaiki satu langkah anak tangga sebagai pembaca bersama koran-koran Prancis seperti Le Monde, Le Parisien, Libération (koran yang didirikan oleh Jean-Paul Sartre), La Marseillaise, L’Humanité, La Dépêche Du Midi, Le Courrier De L’ouest. Untuk Koran Jerman masih belum memetakan, namun sedang senang membaca Frankfurter Rundschau.

Secara pribadi, koran atau media cetak, telah seperti suatu sekolah. Dan mungkin benar seperti yang dikatakan sastrawan Prancis, Bapak Uni Eropa, Victor Hugo, melalui Pak Bos Macron di akun twitternya:

“Victor Hugo disait qu’ouvrir une école, c’est fermer une prison. Nous voulons fermer beaucoup de prisons. [Victor Hugo pernah mengatakan bahwa, membuka satu sekolah sama dengan menutup satu penjara. Kita ingin menutup banyak penjara.]”

Selamat Hari Pers! Terima kasih warisan membaca korannya, Kek!

Dibalik Cita dan Rasa: Dari Masakan Padang Hingga Lalapan Lamongan.

 

 

I am not giving up what I most love doing – Sri Owen (1), penulis Indonesian Regional Cooking (1995).

Sore tadi berkunjung ke masakan padang ‘Lima Sekawan’, ketika telah mengambil lauk dan menuangkan sambal hijau pada nasi di atas piring, kemudian duduk, dan menyantap masakan padang yang tak jauh dari tempat Jokowi menimba ilmu. Perpaduan cabe rawit hijau dan tomat hijau kemudian meledak di lidah Jawa Timurku. Ya, masakan padang ini tak hanya mengingatkanku pada Agus Salim, satu tokoh bangsa yang kocak dan cerdas dengan kemampuan bahasa (poliglot) yang mengagumkan dan, tentu saja, kesederhanaanya; akan tetapi juga kenangan tentang seorang perempuan tangguh yang mengubah cara pandangku, seorang pengagum akting Anne Hathaway dan penggemar Coldplay, yang kini telah menjadi seorang istri dan seorang ibu bagi keluarga kecilnya. Setiap kali datang untuk menikmati kuliner Indonesia ini, aku ingat tentang bagaimana dia dulu mengenalkanku pada masakan padang yang terletak di sekitar Fakultas Teknik/Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Karena aku tak ahli dalam menganalisis ‘cita-rasa’ masakan, aku pun hanya bisa menikmatinya. Rasa pedas masakan padang ini, masih sama dengan rasa pedas masakan padang yang pernah dia kenalkan.

Setelah sore hari menikmati masakan padang, pada malam harinya, sekitar pukul sepuluh malam, aku menikmati lalapan Jawa Timur di samping kanan Pasar Demangan Yogyakarta, untuk kali pertama, yang diajak oleh satu kawan baru laki-laki mudaku dari Kalimantan, yang beberapa waktu lalu menyelesaikan tesis Psikologinya. Aku senang ia telah melewati proses akademiknya. Ia berumur tiga tahun lebih muda dariku dan setiap menghadapi orang-orang yang umurnya dibawahku, aku selalu ingat istilah ‘Gerontologi’ yang pernah ditulis Gus Dur di Kompas tahun 1980: “Hal ini sudah tentu sesuai dengan watak psikologis dari kehidupan perorangan pada usia sangat tinggi: sulit merubah pendirian lagi, sukar menerima pendapat orang lain, dan sibuk dengan mempertahankan apa yang telah dicapai belaka.” Jadi, ketika kami telah memesan makanan dan kemudian aku menikmati lele yang kupesan dengan menutulkan ke sambal khas Jawa Timur yang pedas, dan aku terus bertanya-tanya tentang dunianya. Lalu ia bercerita tentang tempat kuliner di Jogja yang telah dikunjunginya dan belum sempat kucoba. Meskipun perkawananku bersamanya sejenak—tidak, semoga selamanya, namun aku bersyukur kepadaNya, telah dipertemukan dengan kawan-kawan muda yang hebat sepertinya. Dan kemudian, seusai makan, kami berpisah untuk melanjutkan esok hari, melanjutkan mimpi masing-masing.

(1) http://sriowen.squarespace.com/

A Desert of Human.*

Hari ini membuka file lama tentang sejarah jalan raya, khususnya Mac Adam (Di Indonesia sering disebut dengan ‘makadam’), yang nantinya berkesinambungan dengan perkerasan jalan raya seperti flexible pavement (perkerasan lentur) dan rigid pavement (perkerasan kaku). Tak hanya bangunan, jalan raya pun punya lapisan-lapisannya sendiri seperti tanah dasar (sub grade), pondasi bawah (subbase course), pondasi atas (base course), permukaan / penutup / aspal (surface course). Tentang aspal sendiri, juga ada perhitungannya di dalam laboratorium, seperti dari daktilitas aspal hingga viskositas aspal, dari analisa agregat halus dan kasar hingga sand equivalen test, atau dari marshall test hingga kadar aspal (ekstraksi). Tak mudah memang.

Namun, sayangnya, dulu tak pernah diajarkan tentang lima elemen alam yang pernah kubaca di perpustakaan kota Malang bahwa berasal dari filsafat Cina seperti kayu, api, tanah, baja dan air. Dengan nada yang sedikit pesimis, perlu diketahui bahwa sekeras apapun aspal dengan uji laboratoriumnya, air tetap saja terus mengikis. Apabila melihat suatu jalan yang berlubang kecil, jika tak segera ditutup, maka air dengan sangat senang akan bergerak ke lubang kecil itu dan meresap ke tanah, sekali, dua kali, tiga kali, lima kali, hingga lubang jalan membesar. Dan menurutku, ini masih perlu jawaban yang panjang—beserta praktik-praktik nakalnya dan bumbu politiknya.

Setelah merefleksi kembali ingatan tentang jalan raya dan uji aspal di laboratorium kampus dulu, aku juga teringat kembali satu cerpen Radhar Panca Dahana, tentang jalan jika meminjam konsep intertekstualitas dari feminis yang keibuan, Julia Kristeva, di blog lamanya (1). Tak hanya itu, dari beberapa karya RPD, aku masih belum berjodoh dengan karya-karya lamanya seperti Le Monde est Temps (1999) atau novel Ganjar dan Si Leungli (1995).

Ah, Leungli, apa kabar dia?

Meskipun aku belum membaca novel RPD itu, dari satu kata kunci ‘Leungli,’ kemudian aku dituntun hingga membaca dongeng anak-anak tradisional Sunda itu, yang serupa dengan kisah lama pada masa Hindu-Budha. Perlu diketahui, bahwa kisah—atau cerita rakyat—Leungli itu, tentang menghormati saudara, bisa adik ke kakak, bisa kakak ke adik, bagus untuk diceritakan pada anak-anak saat menjelang tidur, seperti cerita bebek dari HC. Andersen atau cerita sufi Nasrudin Hoja. Dan akhirnya, si bungsu, kawan si Leungli, bertemu seorang pangeran, menikah dan mereka hidup bahagia.

[*] Judul diambil dari salah satu lagu band Math-Rock Jepang, toe, dalam album Hear You (2015).

(1) http://radhar-radhar.blogspot.co.id/search/label/Cerpen%20cerpen

Untuk Simbok di Kampung dan Untuk Kartiniku (Nanti).

DONHOm2WsAEopYb (1)

– Und setzet ihr nicht das Leben ein, Nie wird euch das Leben gewonnen sein.’ [Dan jika kamu tak mempertaruhkan hidupmu, kamu tak akan pernah memenangkan hidupmu.] – Petikan Wallenstein, Friedrich Schiller.

*

Di musim panas pada tahun 1967, ibunya meninggalkan keluarga di rumah selama sebulan. Elisabeth [Ibu Jurgen Klopp] mengandung berat, dan resiko dari komplikasi membuatnya memerlukan untuk memeriksa ke klinik di Stuttgart, 80 menit jauhnya ke barat-laut. Rumah sakit lokal hanya 8,5 km ke jalan, tidak dilengkapi dengan melakukan bedah sesar. Itu sangat sulit bagi Stefanie dan Isolde [Kakak-kakak perempuan Jurgen Klopp] tanpa ibu mereka untuk waktu yang lama. “Kami berjanji: “Ibu akan membawakan sesuatu yang mengagumkan untuk kalian ketika kembali.”

Ketika Norbert dan Elisabeth [Ayah dan Ibu Jurgen Klopp] tiba di rumah, mereka punya bayi kecil di lengan mereka, menahan jeritannya. Setelah sekitar satu jam, kakak-kakak perempuan bertanya-tanya apakah bayi itu tidak bisa dibawa kembali dan ditukar dengan sesuatu yang berbeda. Adik kecil itu menjerit—alangkah terkejutnya! Tapi Isolde segera menyadari bahwa dia telah diberi waktu lebih dari satu detik, mengganggu saudara kembarnya pada hari itu. ‘Semua fokus olahraga ayahku segera beralih ke anak laki-laki itu. Aku lega karena berlatih dengan kepala pendulum, diijinkan untuk mengambil balet dan olahraga atletik sebagai gantinya. Kelahiran Jurgen adalah nasib baik bagiku. Ia membebaskanku.’

*

Biografi Bring the Noise: The Jürgen Klopp Story karangan  Raphael Honigstein (Penerbit Jonathan Cape, 2017)

Ketika Buku Bertemu CD Melalui Audiobook: Bahasa (Lisan) dan Bahasa (Tulisan.)

20180202_213116

– Untuk Milea dan Cinta.

Untuk menjadi seorang yang berbahasa aktif, dalam artian menguasai baik pendengaran, pengucapan atau pun penulisan, mau tak mau harus menggembleng dirinya. Seorang translator (tulisan), mungkin, akan berpendapat bahwa bahasa (tulisan) akan lebih penting dari bahasa (lisan) atau seorang interpreter (lisan), mungkin, akan berpendapat bahwa bahasa (lisan) akan lebih penting dari bahasa (tulisan). Namun, bagi yang telah jatuh cinta pada bahasa tertentu, entah bahasa (tulisan) atau bahasa (lisan) memang harus dilampaui, dengan metode pembalajaran yang dirasa nyaman.

Untuk mengambil satu contoh, seorang yang tertarik dengan bahasa X, misalnya, maka ia harus berada di lingkungan yang juga berbahasa X. Mudahnya seperti ini, si Fulan mengambil kelas bahasa X, maka ia harus memraktikkan kemampuan bahasa X-nya, baik bahasa (tulisan) atau bahasa (lisan), namun sayangnya, di luar kelas bahasa X, si Fulan sedang berhadapan dengan lingkungan/masyarakat yang mayoritas berbahasa lain dengan bahasa yang dipelajarinya seperti bahasa Y atau bahasa Z, misalnya. Atas nama pengalaman, maka bisa dipastikan si Fulan akan mengalami kesulitan yang terbungkus dalam perubahan psikologi yang dihasilkan oleh perbedaan dunia bahasa (tulisan) atau bahasa (lisan). Namun, ada banyak cara/jalan agar si Fulan mampu menguasai bahasa (tulisan) atau bahasa (lisan) dengan baik.

Untuk menipiskan kesulitan bahasa itulah, selain menggunakan tool seperti lagu atau film dalam bahasa X, atau berkumpul bersama kelompok kecilnya yang juga dalam bahasa X, si Fulan bisa juga menggunakan audiobook (dalam bahasa X) yang dibubuhi oleh kisah cinta yang tak terpisahkan antara bahasa (tulisan) dan bahasa (lisan) seperti image yang tertera.

Hm, andaikan ada yang mau bersusah payah untuk menransformasikan karya sastra besar ke dalam konsep (re)told-story, penceritaan ulang, yang mempertemukan buku dengan CD, yang mempertemukan dunia bahasa (tulisan) dengan bahasa (lisan) untuk remaja atau anak-anak.

Die Neue Wirtschaft*.

39500006_303

Satu satu daun jatuh kebumi / Satu satu tunas muda bersemi – Satu Satu (Orang Gila, 1994) – Iwan Fals.

Dalam Piala Dunia 2014 yang dihelat di Brasil, Jerman memenangkan trofi tersebut seusai mengalahkan Argentina melalui Mario Gotze pada menit 113. Jika diijinkan untuk menolehkan kepala ke belakang, pada Piala Dunia 1990 yang dihelat di Italia, Jerman memenangkan trofi tersebut seusai mengalahkan Argentina melalui Andreas Brehme pada menit 85 melalui pinalti. Dari tahun 1990 dan kemudian terulang pada 2014, Jerman menagalami kegagalan pada Piala Dunia 2006 yang dihelat di Jerman, satu cambuk bagi persepakbolaan Jerman untuk mencari serta melakukan pemetaan atas kegagalan di tahun 2006, dan mereka mengubah cara pandang. Dan ada yang menarik bila memanjangkan leher sejenak pada ranah pemain dalam perkembangan sepakbola Jerman:

Kami memberi kesempatan terbaik untuk menjadi pesepakbola tapi kami memberikan dua pendidikan di sini. Jika 80 persen tidak bisa bermain di tim profesional, kami harus mengawasi mereka. Para pemain yang bermain di sini, sebagian besar dari mereka melanjutkan ke pendidikan tinggi. Dan kami butuh pemain cerdas di lapangan.” (1)

Lalu kita memanjangkan leher sejenak pada ranah klub/tim dalam perkembangan sepakbola Jerman:

“Bukan hanya klub-klub besar yang mengambil bagian dalam perombakan struktur pemuda. Ada lebih dari 31.000 klub tersebar di Jerman yang dibuat lebih dari 2.200 divisi. Ada begitu banyak anak-anak yang bisa bergabung dengan akademi-akademi muda di klub profesional dan semi-profesional yang dibentuk kurang dari 0,01% klub nasional. Jika klub-klub kecil ini bisa menyediakan suatu tingkatan yang dapat diterima tentang pelatihan dan pengembangan kepada pemain mudanya, mereka [pemain muda] berada pada suatu kesempatan nyata pada suatu hari untuk bergerak ke tim yang lebih besar dan, andaikan mereka sangat baik, dan timnas Jerman itu sendiri. Inilah yang terjadi pada seorang anak kecil Jerman dari kota kecil di Bavaria yang disebut, Pähl.” (2)

Perpanjangan leher pada ranah pemain serta ranah klub/tim pada perkembangan sepakbola Jerman, juga bisa dilacak pada konteks ekonomi ketika Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia yang menyukai kucing dan sepakbola itu, bicara—serta menganalisis—tentang ‘Ekonomi Berencana’ (Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977), Kompas, 2015).

“Tujuan ekonomi berencana,” kata Hatta dan melanjutkan, “ialah supaya tindakan kesatuan-kesatuan ekonomi itu banyak sedikitnya diusahakan merangkaikan dan dikuasai menurut tujuan yang tertentu. […] ideal dari suatu rencana ditentukan oleh dua anasir. Pertama, ada suatu proyek, yaitu suatu tujuan yang diputuskan untuk dicapai. Kedua, ada susunan peraturan yang diputuskan untuk mencapai tujuan itu, yaitu menetapkan cara pelaksanaannya. […] Ekonomi berencana menghadapi perekonomian nasional keseluruhannya, yang berkembang terus. Jumlah penduduk umumnya tidak statis, melainkan bertambah selalu. Demikian juga selera, berubah dari waktu ke waktu. Semuanya itu harus diperhatikan. Sebab itu ekonomi berencana disusun sewaktu-waktu dengan pikiran yang memandang ke muka. […] Berdasarkan berbagai macam perhitungan yang rasional yang sesuai dengan keadaan dalam negeri orang dapat memikirkan lebih dari suatu corak ekonomi berencana. Dalam hal ini orang mesti pula belajar dalam pengalaman. Tidak sekaligus orang mendapat patokan yang terbaik untuk dijalankan. Seperti yang dikatakan oleh Fred Polak, rencana yang realis adalah suatu tujuan yang tidak habis-habisnya ke arah kesempurnaan, berdasarkan metode trial and error, disesuaikan dengan keadaan waktu dan ruang yang senantiasa dalam perubahan.”

Pada Piala Dunia 2018 di Rusia nanti, dalam fase grup, Jerman berada dalam grup F bersama Korea Selatan, Meksiko, dan Swedia, dan menarik untuk melihat penantian bibit yang berbuah dalam perkembangan sepakbola Jerman melalui Goethe-Goethe muda dalam lapangan hijau.

Hab einen schönen Tag!

Yogyakarta, perpustakaan Kolese St. Ignatius.

(1) https://www.bundesliga.com/en/news/Bundesliga/confederations-cup-and-under-21-euro-wins-part-of-germanys-strategy-to-return-to-world-footballs-summit-454171.jsp

(2) http://www.eifsoccer.com/articles/youth-development-germany/

() Image http://www.dw.com/en/champions-germany-beat-spain-to-win-under-21-european-championship/a-39495090

(*) Judul terambil dari satu catatan kaki di satu analisis Mohammad Hatta tentang ‘Ekonomi Berencana.’ Beliau mengambil satu karya dari Walter Rathenau, Die neue wirtschaft (The new economy), yang mana kemudian berkata bahwa buku kecil itu menarik perhatian dan diterbitkan kembali dalam kumpulan karangan, ‘Wirtschaft, Staat und Gesselschaft,’ dan memberikan pendapat bahwa siapa yang memiliki impian membangun, buku tersebut dapat menebalkan semangat dan menajamkan pikiran, lalu pelajari bagian ketiga, ‘Von Kommenden Dingen’ untuk dasar filosofi, tujuan dan jalan.

Kierkegaard dan tiga pria setia yang kerap terluka karena cinta.

kie

Malam hari, tiga pria yang berteman lebih dari tiga tahun yang telah terpisah karena kesibukan masing-masing dan akhirnya bertemu. Satu pria 28 tahun, pria 27 tahun dan pria 26 tahun. Kopi menghangatkan suasana bersama cerita-cerita masa silam tentang cinta yang pupus dan entah kapan akan mampu mengikhlaskan segalanya. Pada saat segalanya telah bercerita, salah satu dari ketiga pria memandang langit malam yang teramat gelap dan melihat satu titik cahaya dari bintang yang bersinar. Kemudian bintang yang bersinar berkata melalui semesta alam kepada pria yang memandang langit:

“Salah seorang seniman tersebut mengelilingi dunia sambil mencari seseorang yang cantik untuk dilukis, namun tidak pernah menemukan seorang pun yang cocok dengan kemampuan melukisnya. Seniman yang satunya tetap tinggal di rumah dan menemukan sesuatu yang indah untuk dilukis dari setiap orang yang dijumpainya.” [*]

Pria yang memandang langit itu pun kemudian tersenyum dan melanjutkan perbincangan dengan kawan-kawannya.

[*] Dipetik dari Kierkegaard oleh Peter Vardy, tr. P. Hardono Hadi (Kanisius, 2005)

Das Geheimnis des Könnens liegt im Wollen.

yuk

Siapapun yang menjadi pembaca Hatta, tentu tak asing dengan nama satu persona Giuseppe Mazinni (1805 – 1872), yang bertualang ke seluruh Italia untuk memersatukan tanah berbentuk kaki manusia yang memakai sepatu itu. Dan judul di atas adalah petikan dalam bahasa Jerman dari pengacaranya orang-orang miskin, dalam terjemahan bebasnya, “Rahasia dari kemampuan terletak pada keinginan.”

Beberapa hari ini kepenatan-kepenatan terus memerkecil ruang dari ‘keinginan’ itu salah satunya tekanan untuk berhasil dalam ujian Internasional bahasa dari salah satu negara tricolore nanti. Meninggalkan sejenak bacaan tentang teknik dan bacaan tentang ekonomi. Untuk mengurangi tekanan itu—dan menjaga gairah membacaku, aku selalu menyempatkan untuk membaca buku anak-anak atau buku travelling. Kemudian, aku teringat bahwa aku belum sempat menyelesaikan buku travelling milik Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia; Kumpulan Catatan Perjalanan (Insist, 2012).

Seusai memungut buku travelling Sigit Susanto, bersama dengan sentuhan ajaib grup musik Depapepe melalui Miura Takuya dan Tokuoka Yoshinari melalui komposisi musik mereka dalam album ‘Let’s Go!’ dan ‘Do!.’ Secara acak, ketika aku membuka bagian ‘Goethe dan Strasbourg’ dan mencoba meleburkan diri dalam teks-teksnya yang ia ceritakan. Dalam catatan itu, Sigit menceritakan alam persahabatan antara Heinrich Heine dan Karl Marx, lalu Goethe dengan Herder. Not-not balok dalam perasaan reflektif pada track Saigo No Bansan dari Takuya dan Yoshinari yang dituangkan dalam petikan gitar mereka membawa atmosfer lain ketika kedua mataku tertumbuk pada beberapa kalimat yang berhubungan dengan teknik sipil, Sigit menulis:

“[…] kami sudah di stasiun kota Strasbourg […] Kaki-kaki kami siap menapaki kota lama yang pernah dijuluki ibu kota Eropa. Toko-toko berjejer dengan aneka ragam model bangunan kuno. Jalan pun tertata dengan batu kali bundar hitam rapi. Aspal belum masuk, saat kota itu mulai dibenahi. Jembatan menyambung perjalanan kami.”

Tak hanya itu, seusai mengisahkan percakapannya bersama sang istri, Sigit menulis kembali:

“[…] Tampak di depan mata, dua benteng kembar berdiri sama tinggi dan sama gemuk. Bahan dua benteng tersebut dari batu padas besar. […] Sesekali berhenti dan mengamati bangunan-bangunan yang agak miring ke kanan atau ke kiri, bangunan-bangunan tembok dengan ruas-ruas dari bahan kayu cokelat atau hitam.”

Lalu aku merenung sejenak, jika Sigit melukiskan bangunan Eropa lalu mengapa aku juga tak mencoba untuk melukiskan bangunan Indonesia, seperti yang penah ditulis oleh sejarawan dan pembuat kamus (leksikograf) Romo Adolf J. Heuken, S.J dalam bukunya, Mesjid-Mesjid Tua Di Jakarta, batinku. Kemudian aku melanjutkan, mungkin, nanti. Dan aku terhanyut dalam imajinasi ganjil yang mana Hatta dan Romo Mangunwijaya, seolah-olah di samping kananku dan kiriku, dan mengusap-usap rambutku, tanda sayang dari seorang kakek kepada cucu, atau bisa menjadi Analgetik, dalam dunia kedokteran, sebagai senyawa atau obat penahan rasa sakit bernama ‘kepenatan,’ mungkin.

Aku pun semakin tenggelam dalam gaya menulis Sigit Susanto dan sedikit berpikiran nakal untuk meniru teknik menulisnya. Menghanyutkan diri dalam sungai-sungai catatan perjalanannya.