Si vous êtes reconnaissants.

Mendekati Hari Qurban adalah ingatan paling berat. Ibrahim menanti orang yang dicintainya, puteranya, Ismail. Mendadak, Cinta yang melampaui cinta itu, menguji Ibrahim kembali dengan dihadapkan pada momen sulit:

Memilih cintanya, puteranya yang akan dititahkan untuk disembelih melalui mimpi, atau memilih CintaNya?

Adakalanya, akal yang bekerja, dalam hal apapun, tak pernah mampu menembus level di mana kebaikan Tuhan sedang bekerja. Di setiap kehilangan (atau pengorbanan/qurban) selalu memiliki negasinya, mendapatkan kembali apa yang hilang.

Banda Neira punya lirik seperti ini:

“Yang patah tumbuh, yang hilang berganti / Yang hancur lebur akan terobati / Yang sia-sia akan jadi makna / Yang terus berulang suatu saat henti / Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi / Yang patah tumbuh, yang hilang berganti / Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.

Tentang Ibrahim, tentang Ismail, tentang cinta, tentang Cinta, tentang pengorbanan, tak bisa dirumuskan hanya sehari-semalam, perlu waktu panjang dan momen berliku untuk benar-benar memahaminya, memahamiNya.

Dalam Quran, surah Ibrahim, ayat tujuh, terjemahan bahasa Prancis tertulis:

Si vous êtes reconnaissants, très certainement J’augmenterai [Mes bienfaits] pour vous.

Jika kamu bersyukur, Aku pasti akan menambah [KebaikanKu] untukmu.

“Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.”

Iklan

Kelinci Kecil Di Atas Bulan (Le Petit Lapin Sur La Lune) (1-4 Tahun/Bilingual Pra-Ind)

P1030941

Partie 1. Bagian 1.

Est-ce que tu connais le petit lapin ?

Apakah kau kenal si kelinci kecil?

Le petit lapin, il a un papa, le papa lapin, une maman, la maman lapin et une petite soeur, la petite soeur lapine.

Kelinci kecil punya seorang ayah, seorang ibu, dan seorang adik.

Le petit lapin, il aime manger des carottes. Mais il a un problème. Autour de chez lui, les carottes sont toutes petites et lui, il aimerait bien en trouver une très très grosse.

Kelinci kecil, suka makan wortel-wortelan. Tapi, ia punya masalah. Disekitar tempatnya, wortel-wortel itu semuanya kecil, kelinci kecil amat-sangat suka menemukan wortel yang sangat, sangat besar.

Un jour, il voit dans un livre de la bibliothèque de ses parents que des très très grosses carottes poussent sur la lune. Il va voir son papa et sa maman  :

Pada suatu hari, ia melihat di buku perpustakaan dari kedua orang tuanya bahwa wortel yang sangat, sangat besar tumbuh di atas bulan. Ia pergi mengunjungi ayah dan ibunya:

– Moi j’aimerais bien aller sur la lune parce que j’ai envie de trouver de très très grosses carottes.

Aku sangat senang pergi ke bulan karena aku ingin menemukan wortel yang sangat, sangat besar.”

– Écoute petit lapin, répond sa maman, nous allons en parler avec papa, ce n’est pas une mauvaise idée. De son coté papa lapin réfléchit à voix haute :

Dengarlah kelinci kecil,” jawab ibunya, “kita akan bicarakan dengan ayah, ini bukanlah ide yang buruk.” Di sampingnya, ayah kelinci memikirkan suara tinggi itu:

– Il y a bien longtemps que nous n’avons pas fait un tour avec la fusée qui est dans le jardin… Je suis d’accord.

Lama sekali kita tak melakukan perjalanan dengan roket yang ada di kebun. Aku setuju.”

P1030939

Partie 2. Bagian 2.

Maman lapin se tourne vers les enfants :

Ibu Kelinci berbalik mengarah ke anak-anak:

– Les enfants, demain matin on s’envole tous en fusée pour aller chercher de très très grosses carottes sur la lune. Pensez à préparer vos valises avant de vous coucher.

Anak-anak, besok pagi kita semua akan terbang dengan roket untuk mencari wortel yang sangat, sangat besar di atas bulan. Pikirkanlah untuk menyiapkan kopor kalian sebelum tidur.”

Petit lapin est tout excité. Il fonce préparer sa valise. Tu vas l’aider. Qu’est ce qu’il met dans sa valise ? Il met un pantalon, un t-shirt, des chaussettes, un pull, un caleçon. Il met des couches ou il ne met pas de couches ?

Kelinci kecil terkejut. Ia buru-buru menyiapkan kopornya. Apakah kau akan membantunya. Apa yang ia taruh ke dalam kopornya? Kelinci Kecil menaruh celana panjang, t-shirt, sepatu-sepatu, sweater, celana-celana pendek. Apakah ia akan menempatkan kasur atau tidak?

Bon, je crois que la valise est prête. Ah non, la brosse à dent ! On a failli oublier la brosse à dent. Voilà, il met la brosse à dent dans la valise, il ferme et tout est prêt pour demain.

Baiklah, kukira kopor telah siap. Ah tidak, sikat gigi! Kita hampir melupakan sikat gigi. Demikianlah, ia menaruh sikat gigi ke dalam kopor, ia menutup dan segalanya telah siap untuk besok.

P1030930

Partie 3. Bagian 3.

Le lendemain matin, après le petit déjeuner, Maman lapin prend les clés de la fusée et elle dit à toute la famille :

Keesokan paginya, setelah sarapan, ibu kelinci membawa kunci-kunci roket dan dia berkata pada seluruh keluarga:

– Allez, tout le monde dans la fusée ! Petit lapin et sa soeur lapine attendaient ce moment avec impatience.

Ayolah, semuanya ke dalam roket!” kelinci kecil dan adiknya menanti saat itu dengan tak sabar.

Tout le monde grimpe dans la fusée. Maman accroche les ceintures puis elle va s’assoir aux commandes :

Semuanya mendaki ke roket. Ibu Kelinci menggantungkan sabuk-sabuk kemudian dia akan duduk untuk memerintah:

Attention attention, dans cinq secondes… décollage ! Cinq, quatre, trois, deux, un… brrrRRRR. Une énorme fumée blanche sort des réacteurs. Et la fusée décolle, décolle, décolle et elle s’envole dans le ciel… BRRRRRRRRR

Perhatian, perhatian, dalam lima menit…berangkat! Lima, empat, tiga, dua, satu…brrrRRRR. Asap besar berwarna putih keluar dari reaktor-reaktor. Dan roket lepas landas, lepas landas dan roket terbang ke langit…BRRRRRRRRR.”

La fusée fonce, fonce, fonce. Le voyage se passe bien. Papa lapin bouquine, petit lapin s’amuse derrière avec sa petite soeur lapine. Et déjà la maman lapin dit :

Roket bertambah gelap, bertambah gelap, bertambah gelap. Perjalanan menyenangkan. Ayah Kelinci membaca, kelinci kecil menyenangkan dirinya dibelakang bersama adik kecilnya. Dan setelah itu ibu kelinci berkata:

– On va arriver sur la lune, cramponnez-vous bien.

Kita akan tiba di atas bulan, pegang erat-erat.”

P1030922

Partie 4. Bagian 4.

La fusée se pose en faisant plein de petits rebonds. Maman lapin attend que plus rien ne bouge pour ouvrir la porte. Petit lapin est le premier à sortir. Il pousse sur ses jambes très fort et là il saute en l’air. Il fait un gigantesque bond. Ca l’amuse beaucoup alors il recommence, il saute en disant :

Roket memberikan banyak pantulan-pantulan kecil. Ibu kelinci menanti dengan tak bergerak untuk membuka pintu. Kelinci kecil pertama kali keluar. Ia meletakkan kaki-kakinya dengan sangat kuat dan di sana ia melompat di udara. Ia melakukan lompatan-lompatan yang besar. Lompatan-lompatan itu menyenangkannya lalu ia memulai kembali, ia melompat dengan berkata:

– Regardez-moi, je sauuuuuuuuute, je sauuuuuuuute. Shboing shboing shboing shboing shboing.

Lihatlah aku, aku meelooommmpaaat, aku meelooommmpaaat. Shboing shboing shboing shboing shboing.”

Tout d’un coup, il s’arrête avec son petit museau bien en l’air, snif snif :

Mendadak, ia menghentikan dirinya dengan moncong kecilnya di udara, snif snif:

– Mais, ça sent la carotte ici !

Tapi, rasa-rasanya wortelnya di sini!”

  Il regarde devant lui, pas de carotte.

Ia melihat di depannya, tak ada wortel.

  Il regarde à droite, pas de carotte.

Ia melihat ke kanan, tak ada wortel.

  Il regarde à gauche, pas de carotte.

Ia melihat ke kiri, tak ada wortel.

  Il regarde derrière, pas de carotte.

Ia melihat ke belakang, tak ada wortel.

– Pourtant, snif snif, ça sent la carotte ici.

Bagaimanapun, snif snif, rasa-rasanya wortelnya di sini.”

P1030929

Partie 5. Bagian 5.

Il regarde au-dessus de lui, pas de carotte.

Ia melihat di atasnya, tak ada wortel.

Il regarde en dessous et là, qu’est ce qu’il voit ? Une énoooorme carotte. Elle est tellement grosse qu’il n’arrive pas à la sortir en tirant dessus. Alors il appelle toute sa famille, papa lapin, maman lapin et sa petite soeur lapine. Et tous les quatre ensemble ils tirent sur la carotte :

Ia melihat ke bawah dan di sana, apakah yang ia lihat? Sebuah wortel beesaaar. Wortel itu begitu besar yang mana kelinci kecil tak bisa menarik wortel itu keluar. Lalu, ia memanggil seluruh keluarganya, ayah kelinci, ibu kelinci dan adiknya. Dan keempat-empatnya secara bersama-sama, mereka menarik wortel itu:

– Ho hisse, ho hisse, ho hisse

Ho hisse, ho hisse, ho hisse.”

Tu veux les aider ?

Apakah kau bisa membantu mereka?

– Ho hisse, ho hisse, ho hisse

Ho hisse, ho hisse, ho hisse.”

Bravo, la carotte est sortie ! Petit lapin est très fier d’avoir trouver une grosse carotte, mais cette carotte est tellement grosse qu’elle ne rentre pas dans la fusée. La petite soeur lapine a une idée :

Bagus sekali, wortel itu keluar! Kelinci kecil sangat bangga menemukan wortel yang besar, tapi wortel itu terlalu besar yang mana wortel itu tak bisa dimasukkan ke dalam roket. Adik kecilnya punya satu ide:

Si chacun d’entre nous mange un peu de carotte, nous allons réduire sa taille et comme ça elle va rentrer dans la fusée.

Bagaimana jika masing-masing di antara kita memakan sedikit wortel itu, kita akan mengurangi ukurannya dan seperti itulah, jadi wortel akan masuk ke dalam roket.”

Ils mangent de la carotte, croc, croc, miam, miam, croc. Ils se régalent, elle est bonne. Quand ils n’ont plus faim, ils s’arrêtent. La carotte a maintenant la bonne taille pour rentrer dans la fusée. C’est super parce qu’ils vont pouvoir la ramener à la maison pour faire une excellente soupe… à la carotte !

Mereka memakan wortel, croc, croc, miam, miam, croc. Mereka berpesta, wortel itu enak. Ketika mereka tak lagi lapar, mereka berhenti. Sekarang wortel memiliki ukuran yang baik untuk dimasukkan ke roket. Itu mengagumkan karena mereka akan sanggup membawanya ke rumah untuk membuat sup yang sangat nikmat…sup wortel!

[] Post-script: Bagi siapapun yang tertarik belajar bahasa Prancis dasar secara otodidak, bisa mengunjungi, www.histoires-pour-enfants.blogspot.co.id, sebab dalam blog tersebut terdapat tingkatan/level yang berdasarkan kelompok umur anak-anak dan baik untuk menambah kosa kata serta membuat kalimat dalam bahasa Prancis.

Selamat mencoba, selamat belajar; Le français est facile, bahasa Prancis itu mudah.

Mature Love.

Barusch

– Untuk kawanku, Riski Kucing (Ex-Hail Of Fire & Ex-Children Of Terror) dan istrinya, Fifin; dan cerita cinta mereka yang mengagumkan, yang pernah diceritakan selama masa remaja dulu.

Setiap orang selalu menginginkan keutuhan cinta dengan bahagia. Namun, keadaan dan waktu kerapkali menjadi suatu problem tersendiri bagi suatu hubungan cinta. Sejak seorang perempuan yang kusebut dengan ‘Ibu’ melahirkanku ke dunia yang, adakalanya menyakitkan, dan adakalanya memberikan suatu kenangan manis tersendiri, hingga pada tahapan hidup sekarang ini, tahapan hidup yang mulai meninggalkan masa-masa remaja ke tahapan hidup yang siapapun ‘telah’ dan ‘akan’ mengalaminya dengan segala kepanikannya serta kebanggaanya, menjadi seorang ayah.

Pada tahapan remaja, ketika aku bertemu kawan-kawan bermusik, aku bertemu dengan banyak persona. Salah satunya kawanku ini, Riski, adalah kawan dalam mengorganisir acara underground dan bertemu di warung kopi kecil di salah satu pasar di Kota Malang. Di antara pertemuan-pertemuan itu, ada suatu kali ia bercerita tentang kisah cintanya, aku tak ingat dengan jelas, namun yang pasti, ia bercerita bahwa hubungannya dengan kekasihnya pada proses masa pacaran terjalin selama delapan tahun—dan sekarang kawanku itu telah resmi berkeluarga. Delapan tahun, sangat mengagumkan, khususnya untukku.

Dalam beragam kisah cinta yang telah kutemui, ada hubungan yang terjalin selama lebih dari enam tahun namun gagal menuju ke pelaminan; ada hubungan yang terjalin hanya tiga bulan namun sampai menuju ke pelaminan; dan ada pula kisah cinta yang seperti dialami kawanku itu, selama delapan tahun dan sampai menuju ke pelaminan.

Aku teringat pada cerita pendek dari Guy de Maupassant, salah satu sastrawan Prancis yang bisa dibilang raja cerita pendek, yang bertajuk ‘Kebahagiaan’. Di akhir bagian, Maupassant menulis melalui tokoh perempuan seperti ini:

““Seorang pria tua merasakan keheningan. // Seorang wanita berkata, “Meskipun begitu, dia memiliki suatu pemikiran yang terlalu mudah, kebutuhan yang terlalu primitif. Dan syarat-syarat yang terlalu sederhana. Suzzane adalah wanita yang bodoh.” // Orang lain berkata dengan pelan, “Apa masalahnya! Dia bahagia.” // Dan di sana, di tepi horizon yang paling jauh, Korsika menghilang di malam hari, terbenam kembali dengan pelan ke dalam lautan, dan bayang-bayang besar berangsur-angsur menghilang, yang mana bayang-bayang itu seakan-akan muncul untuk menceritakan sebuah kisah tentang dua orang pecinta yang bersahaja, yang bersembunyi di atas tepi pantai.”” [1]

Pernyataan tokoh perempuan milik Maupassant yang menyebut ‘Suzzane adalah wanita yang bodoh‘ akan segera dipatahkan bila kita menilik di lembaran lain milik penulis US, Amanda Barusch, Editor-in-Chief dalam Journal of Gerontological Social Work. Ada satu buku yang menarik dari Barusch, dengan judul: Love Stories of Later Life: A Narrative Approach to Understanding Romance (Oxford University Press, 2008). Dalam bagian ‘Love and Aging’, Barusch menuturkan seperti ini:

“Secara bersamaan, perubahan emosional dan kognitif itu tampaknya meningkatkan kualitas hubungan cinta. Responden dalam penelitian kami secara konsisten melaporkan bahwa cinta meningkat seiring bertambahnya usia. Contohnya, Wilhelmina yang berusia 92 tahun menjelaskan, “Aku berpikir seiring bertambahnya usia, ini lebih merupakan cinta yang matang, dan mungkin sedikit lebih tulus.” Candy, 83 tahun, setuju: “Cinta semakin kuat seiring bertambahnya usia.” Merefleksikan pada orang tuanya, Theresa yang berusia 80 tahun, teringat, “Orang tuaku lebih mencintai saat mereka lebih tua. Dia akan memberinya ciuman. Aku berharap bisa dicintai seperti dia mencintainya.” Demikian pula dengan Anna yang berusia 56 tahun, mengatakan, “Orang tua dan kakekku memiliki cinta sejati. Mereka menjadi lebih lembut dan lebih penyayang.”

Potensi cinta agape bisa meningkat seiring bertambahnya usia. Theresa terus merenungkan hubungan orang tuanya: “Ada yang memberi dan menerima. Tidak sembarang mengambil, mengambil, mengambil. Kamu harus memberi untuk menerima.” Demikian pula, William berkata, “Aku pikir saat Kamu bertambah tua, perasaan pribadiku adalah bahwa cinta menjadi lebih banyak daripada hal yang keluar, bukan hanya hal yang masuk. Jadi, saat kamu dewasa, cinta menjadi berkurang egoisnya. Artinya, jika kamu dewasa sekali [tertawa].” Anita, 83 tahun, dari Filipina, tercermin pada kegembiraan melayani kekasihnya: “Saat muda, aku tidak melayaninya. Kami memiliki ibu dan hanya saling bertemu di malam hari. Lebih tua lebih baik. Cinta memiliki dampak yang lebih kuat. Aku melayaninya. Cinta yang dewasa sangat sakral. Lebih banyak waktu bersama. Tidak ada gangguan. Semuanya untuknya. Cinta dewasa memiliki lebih banyak keterlibatan.”

Aku, kamu, atau siapa saja akan bertanya-tanya, apakah benar-benar ada kisah cinta yang setia, dewasa, dan sederhana itu?

Aku berani menjawab: “Ada.”

[1] Lihat Cerpen Kebahagiaan – Guy de Maupassant.

Daras Kecil dan Malam Minggu.

maxresdefault (2)

Cinta adalah waktu dan ruang di mana “aku” memberi diriku hak untuk menjadi luar biasa – Julia Kristeva, pemikir perempuan Prancis.

Setiap akhir pekan, pada malam minggu, keluarga kecilku memiliki acara tersendiri, memasak. Acara ini telah berlangsung sejak Daras, puteriku, berumur empat tahun. Ada banyak masakan yang bisa kami buat, dari oksidental hingga oriental. Meskipun, pada akhirnya, aku dan Ayu, istriku, harus mengakui bahwa kami harus banyak berlatih untuk memasak dengan cita rasa yang lebih baik. Dari semua masakan yang kami masak, gadis kecil berponi lebih suka masakan berkuah seperti bakso atau sup. Namun, lagi-lagi, aku harus mengakui bahwa sup buatan Ayu lebih gurih dan nikmat daripada buatanku.

Pada malam minggu kali ini, aku dan Ayu bekerja sama untuk membuatkan sup bagi Daras karena gadis kecil yang suka berpetualang ke alam itu telah melakukan suatu tindakan baik yang tak pernah aku dan Ayu pikirkan selama ini. Pada sehari sebelumnya, Ibu Rusli, ibunda dari Mimi, datang ke rumah kami dengan mengantarkan jajanan terang bulan sebagai tanda terima kasih kepada kami karena Daras telah berbuat baik kepada Mimi. Pada saat Ibu Rusli berkata seperti itu, aku seakan-akan tak percaya atas apa yang dilakukan gadis kecil berponi. Ada suatu emosi yang tak bisa dituangkan dalam kata-kata ketika dia berbuat baik kepada orang lain, kepada kawannya yang sedang sedih. Biasanya, pada subuh hari, sebelum berangkat ke kantor, istriku memang membuatkan bekal berupa sandwich atau nasi goreng atau makanan kering lain, dan selalu melebihkan porsinya; berjaga-jaga agar Daras tak jajan di luar.

Tik-tok jam menunjukkan pukul tujuh malam. Aku dan istriku berada di dapur. Daras melihat film The Boss Baby besutan sutradara Tom McGrath. Biasanya, ketika Daras menonton film ada banyak gelak tawanya yang terdengar, namun pada saat ini, hanya suara tokoh-tokoh film yang terdengar, dan tak ada suara Daras. Ketika aku mencuci piring, dan istriku mulai mengaduk kuah sup yang telah mengental dan tercium semerbak wewangian dari sup, istriku bertanya dengan suara keras, “Daraaas, ngapain sayang?”

Beberapa menit kemudian, gadis kecil itu menjawab, “Nonton film, Bu.”

Istriku menimpalinya, “Baiklah, sebentar lagi, sup favoritmu jadi.”

Daras tak menjawab.

Istriku merasa ada yang aneh, kemudian berkata kepadaku bahwa Daras berbeda sekali malam ini. Rengekan-rengekan dan teriakan-teriakan tak muncul dari mulut kecilnya. Lalu aku menjawab bahwa itu hanya kekhawatiran seorang ibu, dan mungkin saja, Daras sedang terhanyut dalam setiap frame-frame dari film The Boss Baby.

Lalu, aku menyiapkan tiga piring, tiga gelas, dan satu piring besar untuk sup, dan menciduk nasi dari magic jar ke piring besar yang lain. Semuanya kutata serapi mungkin. Lalu, aku membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sekotak besar jus jeruk dan beberapa buah-buahan. Setelah di rasa cukup, istriku mengecilkan api kompor, kemudian mengaduknya untuk terakhir kali, dan mengambil kain untuk mengangkat panci kaserol. Dengan penuh hati-hati, dia mengangkat panci kaserol dan menuangkannya ke piring besar yang telah kutata di meja makan. Setelahnya, dia mengambil sendok dan merasakan sup panas buatannya dan mengecapnya.

“Sayang, coba rasakan supnya?” titah istriku.

Aku bergerak menujunya. Ketika telah dekat, aku mengambil sendok dari tangannya, membungkukkan badan, dan menciduk sedikit kuah yang kemudian kusorongkan ke mulutku.

“Hm, pas!”

Setelah merasakan sup itu, aku meletakkan sendok, dan mengarah pada istriku. Aku berdiri dengan menatapnya, pun dengannya. Lalu, tangan kananku mengambil tisyu di meja makan, mengeluarkan selembar, dan kemudian menyeka dahi hingga pipi dan leher istriku yang berkeringat. Setelah itu aku berkata, “Terima kasih untuk segalanya.”

Kedua tangannya dinaikkan dan menyentuh kedua pipiku. Kepala kami telah berdekatan, desah nafas terdengar satu dengan yang lain. Letupan emosi bergejolak tinggi. Kedua bibir kami bertemu, sangat pelan dan sangat lembut. Setelahnya, dia berkata, “Terima kasih juga untuk segalanya.”

Aku bergegas untuk memanggil Daras yang sedang menonton film di ruang keluarga. Sekilas, kulihat istriku membenarkan kancing-kancing baju flanel birunya yang bermotif kotak-kotak. Setelah berada di ruang keluarga, ketika aku duduk bersebelahan dengan Daras di sofa, dan berkata:

“Wah, sepertinya bagus filmnya.”

“Iya, Yah. Petualangan-nya si Tim dengan adiknya.”

“Nah, pause dulu filmnya, nanti ceritakan sama ibu di meja makan, ya.”

Aku menggandeng tangan Daras menuju ke dapur yang sekaligus menjadi ruang makan di rumah kecil kami. Langkah-langkah kami memangkas jarak ruang keluarga dan dapur.

“Ah, sayang, sini, sini, dekat ibu.”

Aku melepaskan genggaman tangan Daras, dan membiarkannya untuk duduk di dekat ibunya, dan aku pun menggambil tempat bersebelahan. Dihadapan nasi, sup, tahu dan tempe, sambal, dan segala kesederhanaan suasana yang ada, kami segera menikmati acara makan malam ini. Istriku mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk kami berdua. Ya Tuhan, sungguh pun momen seperti ini tak akan pernah tergantikan ketika Daras dewasa nanti, pikirku.

Setelah berdoa yang kupimpin selesai, kami pun makan.

Istriku membuka obrolan tentang tindakan apa yang dilakukan Daras sehingga Ibunda Mimi datang memberikan jajanan terang bulan.

Ketika mulut kecil itu mengunyah dan tanpa rasa sungkan, Daras pun bercerita.

Mimi, kawan Daras sekelas itu, bercerita bahwa dia senang memiliki adik. Bagi Mimi, dia ingin membahagiakan adiknya dengan menabung untuk membelikan adiknya mainan. Pada awal minggu yang lalu, pada hari senin, pada jam istirahat, ketika kawan-kawannya semuanya ke kantin untuk membeli jajan, Daras melihat Mimi yang menahan perutnya ketika berada di dalam kelas dan Mimi tak ingin membuang uang jajannya, ingin menabungnya. Daras merasakan empati yang besar pada kawannya. Lalu, Daras membagi jajanannya di kotak makannya yang selalu dilebihkan oleh istriku. Ketika Daras memakan jajanannya bersama Mimi dan bercerita tentang adiknya yang mungil dan lucu itu, Daras berkata dengan keluguannya, “Apakah Adiknya Mimi boleh jadi adikku juga?”

Mimi, melalui Daras yang menyantap sup, berkata, “Iya, Raaas. Adik Mimi itu Adik Daras juga.”

Kedua gadis kecil itu memakan jajanannya. Seusai pulang sekolah, Mimi bercerita bahwa Daras telah memberikannya jajanan. Begitulah menurut penuturan Daras.

Ketika sup yang kami makan akan habis beberapa sendook lagi, Daras berkata kepada ibunya:

“Bu, kapan Daras punya adik seperti Mimi, seperti si Tim dengan adiknya.”

Aku pun membalas. “Sabar, ya. Nanti, Nak. Daras ingin punya adik?”

Daras mengangguk.

Istriku bertanya, “Daras kesepian?”

Daras mengangguk.

Istriku mendekatkan kursinya dan menjadi lebih dekat ke Daras. Kulihat dia memeluk puterinya seerat mungkin. Lalu, bibir lembutnya itu mencium kepala Daras dan mengusap-usapnya, sambil memandangku untuk memberikan jawaban yang tepat.

“Baiklah, Ras. Bila Daras ingin punya adik, mulai sekarang Daras harus baik terhadap siapa saja, seperti Daras memberikan jajanan ke Mimi. Dan, Tuhan akan memberikan adik yang Daras inginkan. Jadi, Daras harus belajar dulu jadi kakak yang baik, ya.”

Daras mengangguk dan memainkan sendok di atas piringnya. Mataku dan mata Ayu bertatapan untuk ke beberapa kalinya.

Daras Kecil, Festival Kesenian, dan Ekonomi Kecil.

1501940925581

Memulai itu mudah, bertahan adalah seni – pepatah Jerman.

Pada malam hari, pancaran sinar bulan menerangi kota. Sinar itu bergerak ke berbagai sudut-sudut aktivitas manusia kota, manusia urban. Sinar itu menerangi seorang penjual gudeg di trotoar jalan; sinar itu menerangi seorang mahasiswi kedokteran bersama pasangannya di rooftop di sebuah rumah makan untuk menikmati keintiman hubungan mereka; sinar itu menerangi seorang agamawan dengan kesalihannya yang bijak saat memberikan nasihat-nasihat pada mereka yang memerlukan di suatu acara agama; bahkan sinar menerangi seorang penyanyi muda yang sedang merintis karir dengan alat musiknya bagaikan kekasihnya dalam menelurkan karya-karyanya di suatu stage; dan sinar itu pun menerangiku ketika berdiri di lalu-lalang orang-orang yang sedang berjalan-jalan atau mencari hiburan di suatu festival kesenian.

Kedua mataku dari balik kacamata masih asyik memandang dengan khidmat sinar bulan itu, betapa mengagumkan maha karya sang pencipta. Seseorang menyenggolku dari belakang dan mengacaukan proses kenikmatan itu. Lalu, aku menatap lurus ke depan, ke kedua sinar yang terus-menerus menerangi sisi-sisi gelapku dan tak kalah mengagumkan; sinar pertama, Ayu, kawan hidup yang selalu menemaniku dalam pelbagai kondisi apapun meskipun kerapkali kami berseberangan cara pandang, dan justru perbedaan cara pandang itulah yang menumbuhkan kedewasaan kami dari satu masalah demi masalah serta mencari solusi, seperti pepatah Jerman yang pernah kubaca, bahwa memulai adalah mudah, namun bertahan adalah seni; sementara, sinar kedua, Daras kecil, puteriku serta pahlawan kecilku dan bidadari yang mengajariku banyak hal tentang bagaimana merasakan kehidupan kembali.

Di antara delapan stand yang berjejer di kanan dan di kiri yang terhampar di depan mataku, kulihat istriku berada di stand fashion untuk anak-anak, salah satu dunia yang disukainya. Dari kejauhan, kulihat dia mendandani Daras dengan selera fashionnya yang sederhana. Aku teringat, pada suatu malam, perdebatan dengannya tentang dunia mode, dan dia menjawab bahwa pemilihan warna juga merupakan faktor pendukung dari bagaimana citra yang ditampilkan, namun yang paling utama adalah kepercayaan diri. Istriku sedang mengobrol dengan pemilik brand itu di salah satu stand, sementara Daras asyik memainkan gadget milik ibunya. Pemilik brand itu mengambil dua bucket hat, berwarna hitam bermotif batik dan berwarna kuning dengan motif bunga. Daras kemudian memilih bucket hat berwarna kuning dengan motif bunga dan melihat ke cermin yang tersedia. Tangan kecilnya itu melambai-lambai kepadaku, dan aku bergerak menuju mereka.

“Yah, Daras punya topi.”

“Menurutmu, sayang?” tanya istriku, ingin mengetahui pikiranku.

“Pada dasarnya semua perempuan telah cantik, fashion hanya menaikkan ke satu tahapan lagi, perfek! Bukan begitu Daras.”

“Iya, Yah!” seru Daras meski dia belum tahu apa yang dimaksud.

Kami bertiga tertawa, dan kemudian istriku mengenalkanku pada pemilik brand itu, dan dia menyebutkan namanya, ‘Floris!’ Perempuan yang lebih muda tiga tahun dari istriku ini telah berjuang selama lima tahun lebih dan mulai bercerita tentang melakukan riset dan analisa brand, konsep, produksi, pemasaran atau promosi, lokasi, teknologi, bahan, dan lain-lainnya. Dengan spirit yang dimilikinya, perempuan itu menceritakan jatuh-bangun usahanya. Istriku meletakkan tangannya yang lembut ke tangan Floris ketika dia bercerita tentang kegagalan untuk kedua kalinya dalam menjalankan brand fashionnya.

“Tapi passionmu luar biasa, Floris,” ujar istiku dengan nada bersimpatik.

“Ah, mbak. Tentu mbak Ayu jauh lebih berpengalaman dariku,” balas Floris.

“Baiklah kalau begitu, bisa kuminta nomormu.”

Floris memberikan kartu nama. Setelah membayar kami pergi dan melanjutkan perjalanan. Selama berjalan-jalan dan melihat stand-stand yang menjual produk mereka dari dompet kulit, pakaian, mainan anak-anak, kuliner tradisional, dan segala produk-produk yang sedang berkembang atau ekonomi kecil itu.

Pada akhirnya kami kelelahan, dan memutuskan untuk makan. Karena yang menjadi primadona adalah Daras, gadis kecil berponi, maka dia yang memilih. Daras menunjuk ke stand yang bertuliskan ‘Batagor Bandung’. Ketika menikmati Batagor Bandung di sebuah stand makanan, istriku kemudian mengeluhkan bagaimana produk dari kawan-kawannya satu-persatu harus gulung tikar. Apa yang diceritakan oleh istriku telah kualami beberapa tahun yang lalu ketika kawan-kawanku dari penerbitan buku kecil sedang berjuang dan juga berakhir dengan gulung tikar. Sambil menusukkan garpu ke batagor di piring, makan dan mengunyah, aku menjelaskan bagaimana sistem yang bekerja secara sederhana agar istriku memahami meski sedikit, dan berkata:

“Aku ingat seorang pemikir tua, dan dia berkata bahwa kedaulatan ekonomi ini sesuai dengan cita-cita kita untuk tidak tergantung pada ekonomi atau kekuatan asing. Kedaulatan ekonomi berisikan kemampuan masyarakat dan bangsa untuk mengambil sikap dan keputusan dengan semangat berdikari, memiliki individualitas dan oto-aktivita, berkepribadian, memiliki harga diri dan mempunyai kepercayaan pada diri sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini perlu dilaksanakan di dalam pengembangan dan pembangunan pengusaha kecil. Paham nyonya manis?” [1]

Istriku menganggukkan kepalanya.

Sambil melepas bucket hat-nya, Daras menyela, “Yah, Daras minta punya ayah.”

“Jangan, pedas, Nak.”

“Ahhh! Daras minta Bu, ya.”

“Punya ibu aja, Ras. Sini, ibu suapin.”

“Ahhh! Daras minta punya ayah, Bu.”

Aku menggelengkan kepala sembari tersenyum melihat dua sinar yang menerangi dan menghidupkan hidupku itu terus bertengkar. Aku mendongakkan kepala, malam semakin larut, namun sinar bulan di langit memancar dan bergerak ke berbagai sudut-sudut aktivitas manusia kota, manusia urban.

[1] Lihat Pengembangan Pengusaha Kecil: Salah Satu Aspek Ekonomi Terpimpin – Mohammad Hatta

[2] Image taken from Hinggil DFF.

Festival Kesenian Yogyakarta 2017, Sewon, Bantul, Yogyakarta, 4 Agustus 2017.

Menyapa Dono Melalui Herzschmerz.

IMG_20170802_205656

Bila kamu punya uang lima ribu atau sepuluh ribu, hidup di era naik-turunnya angka dalam percaturan bursa saham, apa yang bisa di dapat? Kios buku bekas pun menjawab, Novel Dono (Warkop DKI).

Bertemu Dono adalah suatu keberuntungan tersendiri, namun juga suatu ketak-beruntungan sendiri. Keberuntungannya adalah aku mampu mempelajari teknik menulis yang sederhana, apa adanya, sebab bagiku, secara pribadi, dosen Sosiologi Universitas Indonesia ini adalah salah satu novelis realisme di tahun 1990-an yang tak populer untuk ukuran zaman sekarang, kecuali Dono sebagai pemain film. Ketak-beruntungannya adalah, permainan psikologi tokoh, atau tema pembenturan antara kasta, perkawinan, politik dan hal paling menyebalkan adalah upayanya untuk menarik pembacanya ke tahapan: Herzschmerz.

Herzschmerz adalah salah satu kosakata Jerman yang berarti sakit hati. Dalam wortbedeutung[dot]info, Herzschmerz, tertulis seperti ini, Begriffsursprung: Determinativkompositum, zusammengesetzt aus den Substantiven Herz und Schmerz. [Asal istilah: komposisi determinatif yang terdiri dari kata benda Herz (Hati) dan Schmerz (Sakit).]

Dono sangat sukses untuk membawaku menelusuri luka-luka yang dimainkan oleh tiap tokohnya, khususnya tokoh Kodi dan Arien, semisal dalam Novel ‘Cemara-Cemara Kampus’:

“Kodi jadi lemas melihat sahabatnya itu. Ketua organisasi angkatan muda di kotanya. Kini tersedu memelas di sudut. Apa ini yang disebut cinta itu buta. Cinta memang manusiawi sekali. Ia bisa datang kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. (Kayak Coca-Cola dong!) // Kodi mengintrospeksi dirinya sendiri. Ia mengukur apakah memang dirinya setia pada Wulan? Ia menyadari bahwa dirinya punya andil besar dalam peristiwa semacam ini. Dari sorot matanya, dari tingkah lakunya, kedua anak manusia ini, Darsono dan Wulan saling mencintai. // Dan bagi Kodi, perkawinanya memang telah cacat, dan itu tak mungkin bisa dipulihkan kembali. Kodi tak memiliki sesuatupun yang bisa mengikat tali perkawinannya. Ia tak memiliki apa-apa lagi. Di hadapannya seperti jalan panjang yang gersang, dan ia menitinya dengan layang-layang tanpa pegangan. // ”Kamu mencintainya, Dar?” tanya Kodi // Darsono mengangguk ragu. // “Kamu?” tanya Kodi kepada Wulan. Perempuan itu mengangguk pula, tangisnya masih saja berderai-derai. // “Ambillah…dan miliki” kata Kodi, airmatanya hampir saja tumpah, kalau tak ditahan karena gengsinya.

Atau,

“Dik Arien, perempuan itu kaum lemah, tetapi sebenarnya lelaki lebih lemah dari perempuan. Ia seperti layang-layang yang putus benangnya jika ditinggalkan perempuan. Itulah sebabnya, dik, kita harus menolongnya. Mungkin dik Arien memang benar tak punya perasaan apa-apa. Tetapi sebagai orang yang pernah menjadi kawannya, kalau dik Arien sudi menolong kan tak ada salahnya.” // Arien jadi teringat Anton, yang dulu juga merayunya seperti ini, untuk sekedar memikirkan Kodi. Hati Arien jadi sebel. // “Mbak, saya tak bisa penuhi permintaan mbak itu,” kata Arien mantap. // “Hanya untuk berbicara sedikit sekalipun?” // “Ya!” // “Antara manusia dengan manusia, juga tertutup kemungkinan itu?” desak Wulan.

Dono, dalam selimut realisme dan herzschmerz, menyodorkan satu fakta yang setiap orang tak menginginkannya, “menerima kenyataan dari luka/sakit itu.” Dan beranjak dari “menerima kenyataan dari luka/sakit itu,” aku dan kamu, yang dipertemukan oleh luka/sakit, dan sama-sama mempelajarinya melalui waktu, diharapkan memberikan warna lain bagi siapa saja yang masih belum mampu keluar dari sulitnya “menerima kenyataan dari luka/sakit itu.”

Siapkah kita?

Bacaan tambahan:

[1] Belajar Kritik dari Dono Warkop.