Keterpurukan dan Kebangkitan Sepakbola Jerman. [*]

9783843712972_cover

Buku sepakbola adalah alusi pada Star trek, Game of Thrones, dan permainan Nintendo di tahun 1980—lebih baik itu tak benar-benar muncul. Meskipun demikian, aku bertemu dengan Raphael Honigsteins, ”Bintang Empat” (Der Vierte Stern) tak sepenuhnya bahagia.

Honigstein, telah menjadi seorang jurnalis di London selama lebih dari 20 tahun, membawa para pembaca dalam pembaruan tentang timnas sepakbola Jerman sejak diambil alih oleh Jürgen Klinsmann.

Sebagai kerangka naratif, ia memilih Piala Dunia 2014, yang mana diakhiri dengan bertambahnya ‘title’. Setiap pertandingan memberikan bagiannya sendiri, dan setiap bagiannya juga mendalami beberapa aspek reformasi di sepakbola Jerman. Sebagai tambahan, dimulai dengan mempertemukan para pemain kunci di tim 2014 yang dihadirkan dalam gambaran singkat, dalam pertandingan pembuka melawan Portugal, tiga gol oleh Thomas Mueller atau Manuel Neuer sebagai prototipe penjaga gawang baru di babak enam belas besar melawan Aljazair.

Dalam pandanganku tentang bagian terkuat meninggalkan sesuatu tentang timnas dan pembagian secara intensif, misalnya, dengan promosi pemain muda melalui DFB dan Bundesliga, dengan peranan sekolah sepakbola Swabian dengan memperkenalkan ‘formasi empat defender’ [1]. Dan zona marking yang berorientasi terhadap bola [2] atau perubahan-perubahan dalam analisa pertandingan.

Untuk promosi para pemain muda Honigstein telah bertemu dengan Dietrich Weise, pengusul dari pendiri NLZ (Nachwuchsleistungszentren) dan pemberi pokok-pokok pada awal 1996. Honigstein menjelaskan pada mitos tentang penampilan buruk di Piala Dunia 1998 atau bahkan Euro 2000 dan Euro 2004 adalah dorongan awal tentang komitmen pada perkembangan pembentukan pemain muda. Kejadian-kejadian itulah yang menjadi katalisator untuk memulai percepatan pembinaan.

Hasilnya telah terlihat disetiap pekan. Sepuluh tahun setelah pendahuluan dari NLZ adalah menghasilkan separuh lebih pemain Bundesliga. Seperti perbandingan angka mencapai 5800 di NLZ atau berdasarkan pada pemain terlatih pada umur 21 tahun di Bundesliga adalah 0,3%. Aspek lain yang lebih baik tentang promosi talenta muda adalah kerja sama dengan sekolah elit sepakbola. Hasil kualifikasi lebih tinggi diantara pemain sepakbola, disebut oleh Honigstein: “Gentrifikasi-Ruang Ganti.” (Umkleidekabinen-Gentrifizierung). Inilah sorotan pribadiku pada saat membaca.

[1] Dalam teks asli tertulis ‘Viererkette’ untuk ‘formasi empat defender’; dalam pons[dot]com, ‘Viererkette’ adalah kata benda untuk istilah olahraga yang merujuk pada ‘defense’ (Abwehr) yang berarti ‘formasi empat defender’.

[2] Dalam teks asli tertulis ‘ballorientierter Raumdeckung’; dalam istilah sepakbola, kata ‘ballorientierter’ atau dalam bahasa Inggris, ‘ball-oriented’ tersebut bisa dirujuk dalam, spielverlagerung.com/2014/06/01/zonal-marking-zonal-coverage/

[] Sebagian teks dialih-bahasakan dalam Der Vierte Stern dari http://www.buchsport.de/2016/04/20/der-vierte-stern/

[] Image dari http://www.ullsteinbuchverlage.de/nc/buch/details/der-vierte-stern-9783843712972.html

 

Iklan

Arsitektur Tomomi Kito dan Rumah Kayu Jepang Empat Generasi.

img_2_1497367012_73f7634ab3f381fb40995f93740b3f8a

Pada tahun 1970, Tomomi Kito merombak Rumah Jepang untuk mengakomodasi empat generasi dari suatu keluarga.

Asosiasi dan Arsitek tomomi kito telah menyelesaikan renovasi interior pada rumah kayu dua lantai yang ada di Tokyo, yang dibangun sekitar 40 tahun yang lalu. Seorang klien adalah pasangan muda yang memutuskan untuk tinggal bersama dengan istri dari orang tua di rumah yang sama. Segera setelah itu, nenek dari si istri juga diundang untuk tinggal bersama mereka. Dengan demikian, mereka meminta desain yang tepat untuk menampung empat generasi yang berbeda—nenek (generasi pertama), kedua orang tua (generasi kedua), pasangan (generasi ketiga) dan anak mereka (generasi keempat).

Sedangkan pola perilaku sehari-hari pada setiap anggota keluarga berbeda, menciptakan ruang untuk mengembangkan hubungan-hubungan di antara seluruh generasi menjadi fokus utama pada tomomi kito dan timnya. Lagi pula, keadaan kamar-kamar yang terbagi menjadi fungsi yang lebih kecil dan dengan demikian, mereka tak membuka pada ruang0ruang terbuka atau bahkan pada masing-masing yang lain, memberikan pencahayaan yang buruk dan tak ada ventilasi alami. Dengan masalah-masalah di pikiran itu, maka diputuskan untuk mengubah kualitas ruangan, seperti pencahayaan dan ventilasi.

Pertama, mengatur kamar-kamar privat dengan mempelajari hati-hati untuk memanfaatkan keadaan jendela-jendela yang ada sepenuhnya—demikianlah memaksimalkan pencahayaan dan ventilasi. Ruang-ruang yang tersisa didesain sebagai ‘kebersamaan’ sesuatu yang terbuka untuk seluruh anggota keluarga dan merencanakan setiap lantai dengan utilitas-utilitasnya. Kamar-kamar privat juga dapat ditukar agar menambah komunikasi di antara generasi—serupa dengan gaya hidup rumah bersama. Sifat ruang-ruang bersama secara sadar menambah hubungan mereka pada bagian luar rumah dan ruang pintu masuk.

Pada saat yang sama, tim juga menilai keadaan struktur. Meskipun kolom-kolom yang sangat menyesakkan diatur sesuai dengan keadaan partisi, keadaan rumah secara struktural tak seimbang dan keperluan terhadap daya tahan fisik. Semacam, penguatan-penguatan dengan menambah dukungan balok-balok dan plywood sembari mengoptimalkan penggunaan keadaan komponen-komponen struktural. Berkat studi tersebut, beberapa kolom yang dianggap berlebihan dan dapat dipindahkan, memberikan kesempatan untuk menciptakan ruang-ruang terbuka yang lebih besar.

Atap-atap dari ruang bersama di lantai dua adalah bentuk rangkaian-rangkaian—untuk menambah hubungan-hubungan di bagian luar rumah dan memaksimalkan penyebaran pencahayaan-pencahayaan alami. “Corak arsitektural ini dengan hati-hati menyampuli empat generasi keluarga yang menikmati hidup dalam suatu ruang yang sejuk dan terang secara melimpah.”

[] Teks dan Gambar dari www.designboom.com

Interview Polandia Metal/Hardcore, Marcin- Faust Again dengan Robert Fröwein.

Album baru ini merupakan eksperimen total, suatu perjalanan tanpa batas, namun selalu meninggalkan tempat untuk bernafas lebih dalam, sehingga perjalanan baru bisa dilanjutkan kembali.

Band Polandia, Faust Again, telah merilis album ketiga. Bagaimana salah satunya adalah album terkenal, “Make it or Break it” dan apa lagi memberikan informasi tentang anekdot menarik, dan Marcin akan memberikan penjelasan secara rinci.

Halo untuk Polandia dan terima kasih banyak untuk interviewnya!

Hi, terima kasih juga untuk interviewmu!

Awalnya aku harus mengatakan padamu, bahwa aku tak senang dengan hasil barumu. Tentu saja, hasil itu sudah cukup bagus, tapi lagu-lagu itu tak membuatku menangis. Album EP dari ‘The Trial’ terbukti lebih hebat dan lebih baik. Album “Hope Against Hope” menjadi lebih “straight in your face” dan utamanya memiliki pengaruh metalcore tradisional. Menurut pendapatku kamu menggabungkan banyak pengaruh Death/Progressive pada album “The Trial”. Lagu-lagu baru nampaknya lebih dewasa. Apa yang kamu pikirkan tentang itu dan bagaimana kamu melihat album ketigamu?

Baiklah, pada dasarnya aku setuju denganmu. Kami tak ingin terlihat murni menjadi band Metalcore atau Progressive Metal dan tentu saja bisa mengejutkan penggemar kami dengan album baru. Aku juga ingin menekankan bahwa kami tak ingin dicap sebagai band Metalcore—kami selalu memiliki selera musik sendiri dan penggabungan style-style. Itu memerlukan beberapa tahun untuk tiba pada poin sekarang ini, di mana kami cukup baik untuk menciptakan sound kami sendiri. Kupikir album “The Trial” lebih hebat, lebih masif dan lebih baik dari keluaran-keluaran sebelumnya.

Tolong ceritakan tentang sejarah bandmu. Apakah yang memotivasimu untuk mengawali bersama Faust Again dan siapa influence-influence yang menentukanmu?

Faktor utama memulai band Faust Again, adalah persahabatan kami dan kecintaan kami pada musik. Kami berempat tumbuh di kota yang sama dan kami selalu melihat show-show yang sama. Olek dan Wotjek telah bermain untuk Faust Again sebelumnya dan ketika Adrian memintaku untuk bergabung dengan bandnya, aku masuk. Ada banyak band yang menginspirasi kami di masa muda, namun yang paling penting dan mungkin Death, Sepultura, Slayer, dan Metallica.

Apa alasanmu beralih dari Circulation Records ke Bastardized Records? Apakah kontrakmu bersama Circulation telah habis? Bagaimana bekerja dengan Bastardized? 

Circulation Records telah bubar setelah album kedua kami, jadi kami berjuang menemukan label baru. Tak ada masalah yang terjadi dengan Circulation—mereka sama sekali tak memiliki waktu untuk membawa label itu secara profesional dan kami menghargai keputusan itu. Bastardized recordings keren dan mereka menginginkan kami, sejak mereka mendengarkan demo dari kami dan tanggapan mereka antusias kepada kami membuat keputusan itu menjadi mudah. Sejauh itu menyenangkan!

Bisakah kamu memberikan kepada kami secara detail tentang “The Trial”? Apakah ada pesan-pesan dalam album itu? Album itu memuat delapan lagu, yang mana selalu disela dengan sample-sample dan bagian-bagian yang senyap. Karena tak ada lirik yang dihadirkan olehku, jadi aku dengan senang memahami seluruh konsep dari album “The Trial.”

Pada dasarnya, seluruh teks ada dalam hal-hal dan kehidupan, yang terjalin dalam kehidupan. Aku selalu terpesona oleh berbagai hal, yang tak bisa dijelaskan, dari sekian banyak kelemahan dan seringkali tak penting dan sedikitnya keputusan-keputusan, yang memengaruhi kehidupan. Itulah yang menyiksaku, bagaimana orang-orang ingin mengubah dunia, tapi seringkali justru menjadi lawan sebaliknya. Lirik-lirik menceritakan tentang pencarian keyakinan di dunia teknokratis, yang selalu membatasi dan menggoncangkan kita. Album baru itu diharapkan menjadi eksperimen total, suatu perjalanan tanpa batas, yang selalu menyisakan ruang untuk bernafas, sehingga perjalanan baru bisa dilanjutkan kembali. Kami telah meminta kepada kawan baik kami band Blindead, apakah bisa memasukkan bagian-bagiannya dan melakukan suatu pekerjaan yang mengagumkan.

Di bulan Juni kamu akan bermain di Polandia dan Jerman. Apakah kamu merencanakan tour selama rilis album? Apakah kamu berencana mengunjungi Austria beberapa bulan mendatang? Ada banyak penggemarmu dan suatu gig akan menjadi hal besar.

Album itu pada tanggal 22 Mei akan menerangi dunia, jadi kami akan melakukan tour promosi di bulan Juni. Pada bulan-bulan musim panas, kami akan tampil secara ekslusif di berbagai festival. Suck N ‘Summer dipastikan di Jerman, itu sungguh line-up yang mengesankan. Kami sekarang bekerja dengan Go Down Believing untuk membuat tour di bulan september. Aku berharap kami juga akan main bersamamu di Austria. Lagipula, 4 tahun lalu kami berada di negaramu.

Bisakah kamu menceritakan tentang pengalaman tourmu yang menarik? Ceritakan tentang hal-hal yang lucu dan gila pada perjalanan tour hidupmu? Apakah band terbesar sejauh ini, dan dengan siapakah kamu akan melakukan tour dan siapa yang akan menjadi grup favoritmu di masa depan?

Setelah meninggalkan kota kelahiran kami, beberapa kelucuan dan kegilaan telah terjadi, namun perjalanan ke Rusia dan Belarusia adalah hal yang paling gila, bahkan sungguh-sungguh terjadi pada kami. Ditengah malam kami menjejal ke dalam kereta api, yang mana ramai dengan orang-orang dan beberapa dari orang-orang itu telah lama di dalamnya, satu-satunya opsi pergi tidur atau mabuk dengan cepat, dan hanya ada satu-satunya vodka! Seluruh urusan berakhir dengan minuman keras yang tak ada habisnya dari para pekerja Rusia yang bersenang-senang, meskipun kami tak tahu sepatah katapun dari bahasa mereka. Seluruh perjalanan ke Timur adalah hal gila. Aku tak pernah memikirkan tentang diriku bahwa sanggup minum sebanyak mungkin dan masih hidup, haha. Kami masih belum bermain dengan legenda besar lainnya, sementara band-band besar seperti Biohazard, Hatebreed, Zao atau Darkest Hour telah mendukung kami. Tour yang sangat menyenangkan bersama Deadlock, aku akan melemparkan pasukan ini segera ke klub-klub! Band impian kami sepenuhnya sekarang adalah Gojira! 

Bisakah kamu ceritakan sedikit tentang scene Hardcore dan Metal Polandia? Jenis Underground apakah yang sedang mengaum di Polandia? Berikan kami beberapa tips dari scene lokalmu.

Scene kami sekarang terbagi ke sebagian Hardcore underground dan Metalcore yang berorientasi pada arus utama. Ketika kita membicarakan band metal, aku pasti akan menunjuk Blindead, terutama semua penggemar akan menerima Neurosis atau Cult Of Luna. Dan untuk menyebut scene Hardcore adalah Stone Heart dan Daymares—kedua-duanya hebat dan hidup dengan power.

Playlist apa yang kamu dengarkan sekarang? Apakah ke-5 itu favorit sekarang? Jenis musik apa yang kamu senangi di luar Faust Again? Berikan kami sedikit kata terakhir.

Favoritku sekarang ini adalah Mastodon “Crack The Sky”, Down “Over The Under”, Blindead “Impulse”, Kylesa “Static Tensions” dan Devin Townsend “Ki”. Aku berharap bertemu denganmu di bulan September di Austria. Terima kasih untuk interviewnya dan selalu terbaik untuk majalahmu! Dan jangan lupa: Check album terbaru kami.

[] Dialih-bahasakan dari  www.stormbringer.at

[] Faust Again – To Dwell On Thoughts of You

Nabi Zakaria: Penantian dan Isyarat.

Im Namen Allahs, des Gnädigen, des Barmherzigen. 1) Káf Há Yá Ain Sád. / 2) Ein lehrreicher Bericht über die Barmherzigkeit deines Herrn gegen Seinen Diener Zacharias. / 3) Als dieser seinen Herrn mit leisem Ruf anrief, / 4) Sprach er: «Mein Herr, das Gebein in mir ist nun schwach geworden, und mein Haupt schimmert in Grauhaarigkeit, doch niemals, mein Herr, bin ich enttäuscht worden in meinem Gebet zu Dir. / 5) Nun aber fürchte ich meine Verwandten nach mir, und mein Weib ist unfruchtbar. Gewähre Du mir darum einen Nachfolger, / 6) Auf daß er mein Erbe sei und Erbe von Jakobs Haus. Und mache ihn, mein Herr, (Dir) wohlgefällig.» / 7) «O Zacharias, Wir geben dir frohe Botschaft von einem Sohn, dessen Name Yahya (Johannes) sein soll. Wir haben zuvor noch keinen dieses Namens geschaffen.» / 8) Er sprach: «Mein Herr, wie soll mir ein Sohn werden, wo mein Weib unfruchtbar ist, und ich habe schon die Grenze des Greisenalters erreicht?» / 9) Er sprach: «So ist’s; dein Herr aber spricht: “Es ist Mir ein leichtes, und Ich habe dich zuvor geschaffen, wo du ein Nichts warst.”» / 10) Er sprach: «Mein Herr, bestimme mir ein Zeichen.» Er sprach: «Dein Zeichen sei, daß du drei (Tage und) Nächte nacheinander nicht zu den Menschen reden sollst.» – Maria (Maryam) Verse 1- Verse 10.

*

Seseorang di sebuah halte bus sedang menanti dengan gelisah bus yang datang untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Berkali-kali orang tersebut melihat jam di tangannya dengan wajah yang tak tenang. Ia terus berdoa sebisanya agar apa yang dinantinya cepat tiba. Lalu, kemudian, ia berusaha untuk bertanya kepada petugas halte bus: “Berapa menit lagi bus sampai, Pak?” Dan, si petugas menjawab 5 menit lagi. Setelah bertanya itulah, pikirannya tak lagi berada di mana ia berada, namun pikirannya jauh ke depan, ke masa depan, ada hal yang penting telah menanti. Namun, anehnya, pada menit ke 3 paska bertanya, isyaratnya mengatakan dengan begitu kuat: pasti ini, demikian dalam hati, dan bus yang dinanti pun muncul.

*

Narasi di atas, dalam konteks Islam, mengingatkan penulis pada kisah yang ada dalam surah Maryam ayat 1 hingga ayat 1o, tentang suatu penantian yang tak mungkin terjadi dalam alam pikir manusia. Cerita tersebut adalah cerita yang penulis sukai tentang penantian Nabi Zakaria dalam menanti keturunannya, menanti puteranya, Yahya, atau Yohanes, atau Yohana, atau John.

Dalam Tafsir Al-Azhar dari Buya Hamka, dikatakan bahwa Zakaria telah berumur 90 tahun, begitu pun istrinya. Jika mengikuti alur dari cara pandang rasional penulis, yang dibesarkan dalam peradaban modern, hal tersebut sangatlah tidak mungkin. Sebab, lelaki berumur 90 tahun tak bisa membuahi lagi, sementara perempuan berumur 90 tahun tak bisa melahirkan. Meskipun, secara sisi manusia, Zakaria pun mengalami keputus-asaan. Namun, Zakaria terus berdoa, menyeru pada Tuhannya.

3) Als dieser seinen Herrn mit leisem Ruf anrief; “Ketika ia menyeru Tuhannya dengan seruan yang tenang.

Dan isyarat pun datang. Dalam konteks Islam, Tuhan memberikan isyarat dengan membuat Zakaria tak bisa bicara—dalam Tafsir Al-Azhar dikatakan: lidahnya berkelu—selama 3 hari.

10) Er sprach: «Mein Herr, bestimme mir ein Zeichen.»; Zakaria berkata: “Ya Tuhan, berikan aku isyarat.”

10) Er sprach: «Dein Zeichen sei, daß du drei (Tage und) Nächte nacheinander nicht zu den Menschen reden sollst.» ; Tuhan berkata: “Isyaratmu adalah bahwa kamu tidak akan berbicara kepada tiga orang (hari dan malam) berturut-turut.”

Pada akhirnya, Tuhan, dengan kemurahanNya, memberikan ‘sesuatu’ pada apa yang Zakaria nantikan selama itu. Dan perjuangan Zakaria adalah perjuangan terhadap proses panjang untuk mempertahankan apa yang di (C)intainya, yang bergelut dalam wilayah-wilayah ketakmungkinan, ketakpastian, kegelisahan, kekecewaan, keraguan—suatu (C)inta yang masih terus dipelajari oleh penulis.

*

Berkaca dari kisah Zakaria, dalam sedikit pemahaman penulis, yang menarik adalah bagaimana suatu subjek pada ‘pemahaman-terhadap-seruan (doa)’ dalam menghadapi hal-hal yang tak diinginkan oleh siapapun seperti ketakmungkinan, ketakpastian, kegelisahan, kekecewaan, keraguan, yang terbungkus dalam spasi-spasi momen yang panjang dalam menantikan ‘sesuatu’; dan momen menantikan ‘sesuatu’ ini bisa diluaskan dalam berbagai tematik kehidupan; Dan filsuf Nasrani Denmark, Soren Kierkegaard, punya satu isyarat:

The function of prayer is not to influence God, but rather to change the nature of the one who prays.”

*

Allahu a’alamu bi murâdihi”; Allah (Tuhan) yang lebih tahu apa maksudnya.

Blessed The Punk, Romo Mangun.

romo-merak

Pendidikan à la Romo Mangunwijaya adalah pendidikan yang eksploratif dan kreatif. Hal tersebut diterjemahkan oleh Yosef Dedy Pradipto dalam Belajar sejati vskurikulum nasionalkontestasi kekuasaan dalam pendidikan dasar (Kanisius, 2007):

‘Untuk memiliki ‘ketrampilan hidup’, seseorang memerlukan sebuah proses belajar yang berlangsung seumur hidupnya. Romo Mangun menyebutnya sebagai ‘belajar sejati’–belajar sebagai bentuk kesadaran yang tidak akan berhenti meskipun sekolah telah usai. Untuk bisa mengantar anak pada ‘belajar sejati’ diperlukan ‘suasana hati yang merdeka’ di mana mereka bisa belajar tanpa paksaan dan tekanan. Sekolah yang ‘memerdekakan’ adalah sekolah yang memperlakukan anak sebagai anak, bukan orang dewasa mini. Anak-anak yang bisa belajar sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing akan sampai pada ‘belajar sejati.’”

Blessed The Punk, Romo Mangun.

Anekdot Fulan dan Arina: Kode…

20170103-mac-and-cheese-recipes-roundup-collage

Setelah pergi melakukan riset untuk arsitektur tentang rumah-rumah adat selama tiga bulan, Fulan menjanjikan istrinya, Arina untuk menonton sebuah konser musik folk. Sayang, deadline mengharuskan Fulan untuk membatalkan janjinya pada Arina. Dan perempuan manis yang senang menguncir rambutnya itu menjadi marah dan ngambek dalam diam yang tak berkesudahan.

Berbagai cara telah dilakukan Fulan dengan menyodorkan rayuan-rayuan maut, sayang gagal juga. Dan pada akhirnya, kuliner, salah satu hobi dari Arina, menjadi satu-satunya jalan untuk meredam agresi militer Arina terhadap Fulan melalui marah dan ngambek dalam diam yang tak berkesudahan.

Melalui akun instagram Fulan, memosting gambar makanan untuk ditujukan ke Arina:

Di jaman Majapahit, telik sandi atau kode telah digunakan untuk menggelabui musuh. Di era teknologi, khususnya di bulan ramadhan, ketika semerbak wangi bubuk kopi berpadu bumbu masak menyapa, kode pun juga digunakan untuk menggelabui keadaan kita.”

Anekdot Fulan dan Arina: Dan Cinta, Dan Listrik…

18951192_10155544833618606_2400609491605479450_n

Satu bulan seusai menikah, di akhir pekan, Fulan dan Arina, berkencan ke taman kota. Fulan seorang periset yang menyukai arsitektur, sedangkan Arina suka fotografi.

Di sebuah pohon beringin taman kota, Fulan meletakkan peralatan gambar untuk menggambar gedung tua, Arina berkata:

Aku jalan ke sana dulu sambil, cari objek, Lan.”

Fulan tersenyum dan mengangguk. Mata Fulan melihat kekasihnya pergi menjauh, dan ia begitu senang dan bersyukur karena telah dipertemukan dengan seorang perempuan yang mengerti kehidupan Fulan.

Satu jam berlalu, gambar gedung tua Fulan hampir selesai, dan Arina kembali, ke sisi lelakinya:

Udah jadi? Coba lihat?”

Fulan memberikan sketsanya.

Bagus,” puji Arina.

Mana fotomu, lihat?” tanya Fulan.

Arina menyerahkan camera digitalnya.

Bagus,” puji Fulan, lalu menambahkan, “Mana foto favoritmu?”

Arina mengambil camera digitalnya, dan memilih foto yang disukainya.

Ini…”

Lalu Fulan memiringkan kepala dan melihat sebuah foto:

Foto spanduk bertuliskan: Rumah Tangga dengan daya 900 VA akan dibagi menjadi golongan tarif #ListrikUntukSemua.

Yang kuat ya, Sayang,” balas Arina dalam hati.

Anekdot Fulan dan Arina: Ibnu Khaldun…

DBUbbqNVoAAHkLH

Pada suatu hari, Fulan dan kekasihnya, Arina makan malam. Saat makan, Arina banyak bercerita tentang ayahnya:

Ayah juga suka buku, lho.”

Seusai makan malam, Fulan mengajak Arina ke toko buku. Saat itu, Arina membeli sebuah novel, dan Fulan mengambil buku Muqadimmah dari Ibnu Khaldun. Lalu mereka pulang. Setelahnya sampai di depan rumah Arina, sebenarnya mereka tak ingin berpisah, ingin terus bertemu, namun apa daya.

Lalu si Fulan menyodorkan bingkisannya, buku yang dibeli tadi.

Ini buat ayahmu…” kata Fulan.

Apa ini…” balas Arina.

Buku Sosiologi terhebat dari Ibnu Khaldun. Kan, ayahmu suka buku?” tambah Fulan.

Ayah memang suka buku, tapi kebanyakan buku botani dan gardening, Lan.” ujar Arina.

Oh…Ya,” kata Fulan, dengan perasaan kacau. Dan Fulan tak tahu bahwa ayah Arina adalah pengajar ilmu alam, bukan ilmu sosial.

Antara Jerman, Psikologi, Progressive Metal dan Laut: Interview CVLT NATION bersama ROBIN STAPS dari THE OCEAN.

cover

Ketika kau bermain dengan band The Ocean, benar-benar tak banyak kejutan ketika kau memutuskan untuk membuat konsep album tentang perairan di planet ini. Itulah suatu ide yang telah menjadi racun di dalam pikiran gitaris, Robin Staps, untuk beberapa tahun sekarang ini saat ia merasakan band yang ia bentuk dan berlanjut untuk mengubah bermacam-macam line-up dan meskipun demikian bergejolak; pada akhirnya ia telah menyusun album Pelegial.

Pada umumnya, memulai album dengan menjelajahi permukaan laut dan menuruni lebih jauh ke dalam zona-zona pelagis [1] laut yang berbeda, terdapat sejumlah area yang berbeda memulai di puncak dan berjalan turun perlahan-lahan dalam cara kita—Epipelagis, Mesopelagis, Bathyalpelagis, Abyssopelagis, Hadopelagis, Demersal dan Benthis, bagian bawah yang gelap dan suram.

“Aku telah lama memiliki ide ini, sejak 2008 terakhir. Itu terlihat seperti tantangan besar yang harus diselesaikan, menggarap sebuah album progression dari permukaan hingga ke bagian yang dalam dari laut lepas dan album itulah yang membawa ke cara bermusik,” kata gitaris dan leader dari The Ocean. “Dan album itu tak bisa lepas dari beberapa konsep, kau sesungguhnya bisa merasakan sejenak untuk mendengarkan musik, bahwa kau akan turun, pada dasarnya kau sedang mengarah maju ke zona Hadopelagis di mana tekanan lebih tinggi daripada tingkatan permukaan, di mana segalanya menjadi benar-benar gelap, terdapat sedikit kehidupan.”

“Aku benar-benar menginginkan album di mana kau bisa merasakan itu, di mana kau bukan banyak mengetahui tentang zona-zona kedalaman pelegial dari sudut pandang sains melainkan di mana kau bisa merasakan dari musik yang sedang berlangsung,” kata Robin. “Aku mempelajari geografi dan aku selalu memiliki ketertarikan yang kuat dalam ilmu-ilmu kelautan dan biologi kelautan,” lanjutnya, menjelaskan akar-akar konsep dan riset yang berbelit-belit.

“Aku tak menginginkannya menjadi album yang saintifik atau tak ingin hanya orang-orang seperti seorang kutu buku di lapangan untuk memahami apa yang sedang kami lakukan dengan begitu, secara khusus, aku memutuskan untuk tidak mengumpulkan terlalu banyak pengetahuan sebelumnya agar tak membuatnya terlalu membingungkan bagi orang-orang. Band The Ocean telah memainkan suatu bagian penting dalam kehidupanku sejak masa kanak-kanakku, secara alamiah aku telah membaca tentang perkara-perkara laut dan mengetahui perbedaan tentang kolom-kolom air ke dalam lima zona kedalaman yang berbeda untuk waktu yang lama. Aku hanya merasa bahwa itu akan menjadi tantangan hebat untuk mencoba dan menerjemahkan ke dalam musik,” urai Robin dalam penyusunan album yang sekilas sedikit akademik namun sepenuhnya pribadi dan instropektif.

“Aku selalu menjadi sedikit malu dengan pencapaian album itu karena rasa-rasanya benar-benar sulit untuk dituliskan dalam musik yang pada dasarnya seperti penggalan musik berkelanjutan yang lamanya 60 menit, jadi demikianlah kenapa aku merekam album Heliocentric dan Anthropocentric, sebelumnya aku benar-benar memutuskan mencurahkan diriku sendiri ke project yang telah dimasak di balik pikiranku beberapa tahun.”

Dalam beberapa cara dari salah satu ciri album Pelagial adalah suatu perubahan bagi Staps dan desain-desain konseptualnya. Pada tahun 2010, The Ocean merilis duo konsep rekaman, Heliocentric dan Anthropocentric, kedua-duanya berbentuk suatu kritik tentang akar-akar agama modern dan permasalahannya. Tak perlu dikatakan, sebab itu perbuatan agung yang memerlukan banyak riset dan komitmen waktu. Bersama album Pelagial, tak ada tekanan yang sama, kata Robin, menjelaskan bahwa “Album itu hanyalah tantangan yang berbeda.”

Ia menjelaskan pada kurangnya kritik: “Aku telah melakukan bersama album Centrics, album ini berbeda karena sangat personal. Bagaimanapun, album ini sangat introvert dan langsung berhubungan ke pengalaman-pengalaman yang telah aku miliki di beberapa bulan dalam kehidupanku. Tentu saja, secara lirik, terdapat tema yang luas dibaliknya. Seperti yang aku katakan, ini suatu psikologi, perjalanan batin yang seperti memulai dari permukaan dan melangkah maju ke arah bagian dalam pikiran manusia dan banyak yang bisa ditemukan di sana, banyak psikologi modern yang bisa kau temukan kecuali garis bagian paling bawah adalah bahwa itulah album yang sangat personal dan tak ada pesan kritis di dalam lirik album ini.”

Dengan mengatakan bahwa album itu adalah perjalanan personal menimbulkan pertanyaan tentang apa yang menginspirasi kehidupan Robin untuk menuliskannya ke dalam album ini. Bagaimanapun, ia tak terlalu ingin membocorkan. “Lirik-lirik begitu kuat ketika mereka memerlukan beberapa perasaan abstraksi untuk mendapatkan mereka. Andaikan aku menjelaskan setiap lagu secara detail dan menjelaskan relevansi pada kehidupanku sendiri untuk setiap orang yang kemudian ingin menghancurkannya karena orang-orang mendengarkannya dan mencoba menemukan relevansi untuk kehidupan milik mereka sendiri,” jelasnya, “kupikir kebanyakan lirik membicarakan tentang diri mereka sendiri. Mereka membicarakan tentang pengalaman-pengalaman bahwa aku telah melewatinya, mereka membicarakan tentang itu, pada dasarnya…semuanya tentang asal-usul keinginan dan hasrat kita dan bagaimana banyak berpengaruh dan dampak yang telah kita miliki dalam mengubah lirik-lirik itu dan pertanyaan sentralnya bahwa album ini adalah mengorbit disekitarnya. Namun yang personal, secara khusus, secara mendetail adalah sesuatu yang kusukai untuk kupegang dalam diriku.”

Jadi disamping urusan personal, ketika berdiskusi tentang planet air kita yang luas atau setiap bagian dari bumi, salah satunya adalah menyisakan kejutan dari serangkaian pertanyaan tentang keadaan lingkungan kita dan kerusakan yang terus-menerus dilakukan manusia setiap hari pada alam sekitar kita, khususnya kesehatan lautan kita. Jadi Pelegial bukanlah album rekaman tentang suatu kritik, apakah gagasan tentang environmentalisme ini meresap ke dalam?

“Tidak, sesungguhnya tidak. Secara khusus aku tetap melakukannya, bukan karena aku tak memikirkan itu penting atau karena aku tak tertarik di dalamnya hanya saja aku benar-benar ingin membuat album yang berbeda saat ini. Aku benar-benar tak ingin membuat album saintifik atau filososi lain yang pada dasarnya suatu kritik.”

Apa yang penting untuk menunjukkan tentang album Pelegia yang terdapat dua versi—instrumental dan dengan vokal. Bagaimana pun, persoalan yang berlangsung ini agak disayangkan. Loïc Rossetti, vokalis, The Ocean, setelah menghabiskan ketekunan selama dua tahun tour bersama band ini dan meninggalkan paduan nada secara fisik pada vokalnya dan yang menghancurkan sisi emosional di atas stage setiap malam mendapati dirinya berujung pada berita mengerikan dari seorang dokter—berhentilah berteriak dan bernyanyi atau kau kehilangan suara. Bagi seseorang yang memadukan keahlian mereka bersama suara mereka dan mikrofon di tangan, pasti rasa-rasanya dunia akan berakhir.

“Kita tak ingin merekam sebuah album dengan vokal yang hebat dan kemudian tak sanggup melakukannya secara langsung. Itulah sebagian motivasi untuk merilis album instrumental,” jelas Robin. “hal yang lain adalah bahwa album ini telah terbentuk sangat orkestra dan sangat padat dan tak banyak ruang untuk vokal.”

Merasakan bahwa musik itu bekerja dengan baik pada dirinya, dengan desain yang luas, Robin melanjutkan untuk membuat album instrumentalnya. Bagaimana pun, setelah beristirahat dari tour, Loïc kembali ke lipatan perasaan kepercayaan diri dan kesehatan suaranya sekali lagi dan band ini dengan bahagia menyambutnya kembali–”suaranya sangat istimewa, sangat spesial dan benar-benar membentuk kesan dari band ini melalui jalannya tiga album yang lalu,” kata Robin. “Jadi aku benar-benar menginginkannya pada album ini dan ia datang dengan kesimpulan yang sama. Suaranya menjadi lebih baik dan mengatakan bahwa aku benar-benar ingin tetap melakukan ini, jadi kami mulai merekam vokal.”

Awalnya memutuskan untuk merekam vokal dua lagu di album Pelegial, proses rekaman vokal segera menemukan perkembangan di mana setiap lagu di akhiri dengan vokal. Namun, andaikan album itu disusun sebagai rekaman instrumental, di mana lirik-lirik itu berasal dan bagaimana mereka menyokong subjek persoalan?

Salah satunya menelusuri melalui liner notes album yang mengungkapkan beberapa puisi yang indah dan ide-ide abstrak dalam setiap stanza. Yang paling pedih adalah pada ‘Abyssopelagic II: Signals of Anxiety’, yang menunjuk seorang perempuan yang berdiri di tepi lautan dan mengomunikasikan pesan “kau akan memahami kemudian” pada para pendengar. Ketenangan citra ini memberikan permulaan tentang beberapa pengertian dalam kinerja lirik dari album Pelagial.

“Lirik-lirik pada album ini seluruhnya menunjuk ke film “Stalker” dari Andrei Tarkovsky,” ungkap Robin. “Seperti kenyataannya, awalnya aku ingin menggunakan teks bahasa Inggris dari Film Rusia itu [sebagai] lirik ke keseluruhan album, itulah kenapa kami mulai mendatanginya. Kemudian kami merealisasikan yang tak bisa kami lakukan pada alasan-alasan legal dan harus menyingkir dari situ namun tetap banyak yang tersembunyi, atau tak begitu tersembunyi, menunjuk pada film itu dan bagian sesungguhnya yang menunjuk pada film itu.”

Ia melanjutkan: “[Film Stalker] pada dasarnya adalah suatu perjalanan melawati zona-zona juga, dengan tiga perjalanan protagonis melewati suatu zona yang mengarah pada keinginan-keinginan protagonis yang diharapkan menjadi kenyataan segara ketika mereka memasuki ruangan.”

Persamaan di antara plot film tahun 1979 dan zona pelagis adalah kejelasan segera dan konsep keinginan dan hasrat yang menyambungkan lapisan seluruh manusia baru dan emosional ke album Pelegial. “Semakin dekat mereka semakin mendapatkan dan lebih banyak mereka mendiskusikan tentang diri mereka apa yang mereka seharusnya inginkan, semakin sedikit yang sebenarnya mereka temukan untuk mengetahui apa yang mereka inginkan,” kata Robin, “dan mereka mulai lebih tidak aman, mereka menyadari hal itu bahwa keinginan satu-satunya bukanlah keinginan kesadaran mereka terwujud melainkan juga keinginan alam bawah sadar, yang tak mereka inginkan.”

Inilah garis pengaruh tentang “kau akan memahaminya kemudian” mulai berjalan ke dalam konsep, memercayai apa yang kita ketahui pada apa yang satu-satunya kita inginkan pada pepatah zaman dulu “berhati-hatilah pada apa yang kau inginkan” mulai membunyikan kebenaran, dan sangat mengerikan.

Mungkin kau bisa memanggilnya keberuntungan namun bintang-bintang berselaras pada Pelegial untuk datang bersama-sama, membentuk kemuliaan agung ini berlipat ganda di tepian hubungan, hanya saja sesuatu yang mesti ditanyakan, apakah kesehatan vokal Loïc telah bertahan sekarang?

“Ia telah baikan. Kami telah menyelesaikan tour dengan Cult of Luna di Eropa dan ia menyanyi di setiap show, mekipun adakalanya beristirahat di tengah-tengah untuk mengatur nada-nada vokalnya,” katanya. Barangkali ini tampak tak menguntungkan bagi pertunjukan live untuk band ini namun The Oceans mengekspresikan banyak dinamisme mereka tentang eksplorasi karya instrumental mereka di panggung.

“Hal baiknya sekarang adalah kami berada di posisi di mana kami bisa melakukan segalanya. Kami bisa memainkan album instrumental sepenuhnya atau dengan vokal atau apa saja di antaranya. Kami bisa memutuskan untuk memainkan beberapa track seperti instrumental atau track-track lain dengan vokal sehingga mengijinkan kami untuk melakukan segalanya.”

“Album-album Centris sangat berorientasi pada vokal, jika kau meniadakan vokal banyak kehilangannya. Kupikir berbeda dari album ini karena ini tak ditulis untuk setiap vokal di tempat awalnya, meskipun kupikir melakukan dengan vokal sangat penting sekarang dan menambahkan kualitas padanya atau di tingkat yang entah bagaimana namun lagu-lagu ini bekerja juga tanpa vokal. Itulah kenapa kami dalam posisi nyaman di mana kami melakukan apa saja.”

Band ini tak asing dengan pergantian line-up walaupun dan mungkin itulah kenapa Robin bisa beradaptasi dengan cepat. Ia telah menyaksikan banyak musisi keluar dan masuk di pintu band The Ocean, baru-baru ini bassist Louis Jucker keluar, tanpa insiden, untuk melanjutkan studi arsitekturnya dan memperkenalkan Chris Breuer, yang sekarang mengawaki four string. Terlepas dari perubahan ini, The Ocean telah menikmati beberapa stabilitas dalan tahun-tahun ini.

“Aku sangat senang dengan line-up ini, anggota band telah menjadi orang yang kucari, selama bertahun-tahun, dan itu menyenangkan sanggup bermain dengan orang-orang ini,” kata Robin sebelum berhenti. “Aku tak akan berkomitmen untuk mengatakan bahwa inilah yang akan menjadi satu-satunya line-up. Aku memahami prioritas perubahan dalam kehidupan orang-orang, orang-orang menginginkan karir, pekerjaan dan keluarga dan mundur dari tour dan barangkali terjadi lagi setiap waktu pada kami.” katanya dengan mengalihkan pikiran ke bassis mereka.

Melihat kembali rekaman Precambrian mereka di tahun 2007 untuk penunjuk-penunjuk bahwa The Ocean selalu mencari kebaruan, darah segar untuk menambah proses kreatif. Penghargaan album mereka termasuk kebanyakan musisi akan menuju ke figur ganda dan seharusnya tak mengherankan menyerupai sesuatu yang menjadi kartu di masa depan. Pada momen sekarang ini, pembentuk band ini telah puas—”aku sangat senang dengan line-up sekarang ini, inilah line-up terbaik yang band ini pernah miliki.”

Line-up ini sekarang sedang melintasi Amerika Utara pada musim panas tahun ini dan dari sana band ini akan menyelam ke dalam daratan yang jarang, kembali ke China, Taiwan, dan Siberia sebelum merencanakan tour Eropa.

“Ketika aku memulai band ini, aku benar-benar ingin melakukan perjalanan dan membawa band ini berkeliling dunia, terlepas dari uang, show-show bermain yang rasa-rasanya selalu menjadi lebih atraktif bagiku, seperti bermain di squat show Amerika Selatan bukan suatu open air show, sejujurnya,” kesimpulan Robin. “Jadi aku sangat senang bahwa aku bisa melihat tempat-tempat itu, bukan karena perspektif tourisme melainkan karena pandangan seorang musisi.”

[1] Dalam teks asli tertulis ‘pelagic zones of the ocean’; dalam wikipedia ‘pelagic’ adalah kata pelagis berasal dari bahasa Yunani πέλαγος (pélagos), yang berarti laut terbuka.

[] Dialih-bahasakan dari www.cvltnation.com

[Catatan] Mencari Celah Baru: Pasar Tradisional Sebagai Potensi Wisata

Di era modern ini, pasar tradisional harus bersaing dengan jenis pasar lain yang kemunculannya tak mampu dibendung, seperti pasar modern berupa plaza, mall, atau mini market. Eksistensi pasar tradisional untuk menjaga peran dalam fungsinya yang tak hanya sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, atau proses tawar-menawar komoditas barang bagi pelaku-pelaku dalam kelompok sosial menengah-bawah, melainkan juga tempat pembelajaran baik dalam disiplin ilmu sosial-budaya, disiplin ilmu ekonomi, disiplin ilmu arsitektur, dan bahkan mampu menjadi suatu ruang publik yang bisa dimanfaatkan menjadi potensi wisata.

http://travel.radarmalang.id/catatan-mencari-celah-baru-pasar-tradisional-sebagai-potensi-wisata/