Untuk Gerson Poyk: Puisi Cinta Penulis Tua Pada Istrinya

gerson1290

Dikarang setelah membaca kembali kisah hidup Gerson Poyk: ”Istri saya hilang kira-kira enam tahun silam,” kata Gerson. […] ”Istri saya menderita dementia senilis, seperti kehilangan ingatan. Tidak bisa mengingat apa pun. Jadi kalau pergi, pergi saja. Biasanya saya gantungkan nomor telepon, tetapi pas hari itu lupa. Dia pergi, kami sudah telusur daerah-daerah sekitar Depok, Bekasi, bahkan sampai jauh, tetapi sampai sekarang tidak ada kabarnya. Mungkin entah di mana sudah,” tutur Gerson. ”Coba lihat foto ibu waktu muda, cantik kan,” katanya.

Detik-detik jam menunjukkan pukul satu dini hari. Di luar rumah, suara jengkerik mengerik dengan keras, sesekali, deruman kendaraan terdengar melintas. Desiran angin malam berhembus melalui ventilasi-ventilasi rumah, dan sedikit menggoyangkan sebuah pigura kecil, yang terletak di pinggir jendela kamar pribadi, yang bergambar seorang wanita dengan pakaian kebaya dan disertai senyuman manis.

Dari pigura itu, dengan jarak sepuluh ubin berukuran tiga-puluh kali enam-puluh sentimeter, seorang penulis tua sedang duduk dihadapan meja kerjanya dengan konsentrasi penuh menamatkan buku bacaannya. Mata tuanya yang terbungkus dalam kacamatanya, bergerak pelan, ke kiri dan ke kanan, mengikut aliran-aliran teks sebuah buku filsafat, yang dua tahun sudah tak dibacanya: Religion within the limits of reason alone dari Immanuel Kant.

Sekali lagi, ia membenarkan posisi duduknya. Mengulangi paragraf yang tadi dibacanya. Di usia tuanya, ia menyadari bahwa kemampuan membacanya tak lagi sehebat saat ia muda. Ditengah-tengah proses membaca itu, pikirannya tak fokus terhadap teks buku. Pikiran itu, melayang-layang di dunia yang lain, dunia masa lalu saat ia masih muda, bagaimana dalam satu minggu, ia mampu melahap dua buku, dengan kategori ‘berat’ dan ‘ringan.’ Namun, kini, di usianya yang telah uzur, ia menyadari suatu batas tentang keterbatasan manusia sepertinya. Dan, ia tersenyum, suatu senyuman yang menandakan bagaimana saat ia melihat dirinya sendiri saat masih dipenuhi dengan tenaga yang menggelora.

Detik-detik jam bergulir pelan, kini menunjukkan pukul satu lebih sepuluh menit dini hari. Rasa lelah tak dapat ditahannya. Sebuah pembatas buku diselipkan di antara halaman empatpuluh-tujuh dan empat puluh-delapan. Dan buku tertutup. Angin kencang kembali hadir, menjejalkan diri mereka melalui ventilasi-ventilasi rumah, sekali lagi. Menerpa segala benda yang berbobot ringan, termasuk pigura kecil yang telah berdebu, yang terletak di pinggir jendela.

Mata tuanya melihat, pigura itu bergoyang. Ia bangkit dari kursinya, melangkah perlahan-lahan menuju benda yang dipenuhi dengan kenangan akan orang yang paling dicintainya. Sekejap, setelah berhadapan dengan benda itu, tangan kanannya meraihnya. Melepaskan pigura itu dari paku yang menancap di tembok kamar. Ia melihat benda yang dianggapnya suci itu, lalu dibersihkannya dengan kausnya yang berwarna hitam. Setelah membersihkannya, untuk meyakinkannya sekali lagi, ia meniup-niup pigura itu dengan penuh kemantaban dari mulutnya. Segurat senyuman mengembang.

Permainan waktu dihadirkan. Tujuh tahun lalu, ruangan ini masih demikian menawarkan keceriaan untuknya. Istrinya, dengan penuh kasih, seringkali membersihkan serta menata tumpukan-tumpukan bukunya yang berserakan. Tak hanya itu, dengan penuh kasih, tanpa ada permintaan darinya, istrinya mendadak datang dengan membawakan kopi dan beberapa pisang goreng di atas piring, saat ia sedang menyelesaikan cerita pendek untuk anak-anak, untuk sebuah majalah. Meski hanya ada satu anaknya yang masih tinggal bersamanya, sementara anak-anak lainya telah berkeluarga di berbagai kota, suasana keluarga kecil yang dibangunnya memberikan sebuah kenikmatan sederhana yang tiada bandingnya, yang tak dimiliki, bahkan tak dirasakan oleh orang-orang kaya, yang selalu disibukkan pusaran keinginan-keinginan yang tak mampu mereka kontrol. Dan, tepat lima tahun lalu, sang istri mengalami sakit yang tak lazim dan menghilang. Berhari-hari, ia dan anak-anaknya mencarinya, namun pencarian tak memberikan hasil yang menyenangkannya. Penulis tua itu tersenyum untuk kesekian kalinya, senyuman yang menandakan suatu keikhlasan yang tak akan pernah mampu dipahami oleh orang-orang lain, betapa memilukannya arti suatu kehilangan, pada keganjilan yang diberikan oleh hidup. Sementara, di luar itu, banyak orang-orang lain yang menyia-nyiakan cinta yang telah diberikan kepada mereka. Sekali lagi, ia ingat, bahwa, selama satu tahun setelah hilangnya sang istri, ia berjuang untuk menerima segala kenyataan, meskipun demikian berat.

Kau,” katanya dalam hati pada subjek dalam pigura itu, dan melanjutkan, “Akan terus bersemai dalam hatiku.”

Lalu ia berjalan kembali menuju ke kursi di dekat meja kerjanya. Pigura itu diletakkan di tepi pojok kanan meja. Tangannya yang telah berkeriput mengambil sebuah pena dari satu kotak pensil dan tangan yang lain mengambil sebuah buku catatan harian. Ia membaca tulisan terakhirnya yang ditulis dua hari lalu, dan setelah menamatkannya, di halaman berikutnya, mata tuanya memandang satu menit dengan penuh kerinduan pada sang istri. Dunia imajinasi yang telah bertumpuk kata-kata di dalam pikirannya itu, yang kemudian dipadukan dengan dunia emosinya, dan dituangkanlah segala kerinduan dalam bentuk puisi, untuk satu cinta, selama-lamanya:

sebuah batu yang keras itu, sayangku / pada akhirnya, harus terkikis sedikit demi sedikit, selama / bertahun-tahun karena bulir-bulir air hujan yang / menetesinya melalui ranting-ranting dari pohon cemara / yang menjulang tinggi, namun kini / hujan tak lagi ada, tak lagi datang, dan / setengah bagian dari batu yang keras itu telah menjadi debu…/ Ah, sayangku, lekaslah datang kembali, leburkan aku menjadi debu sepenuhnya / dengan airmu yang menyegarkan / dengan dinginmu yang menentramkanku / dari kekacauan dunia yang teramat gerah. / aku hanya sebuah batu yang hanya bisa menanti / yang hanya bisa mematung dan / yang tertunduk menanti kejadian alam menakjubkan / yang diturunkan oleh Sang Ilahi, / yang kusebut kau.

Iklan

Writer Block dan Mereka

Commençons par l’impossible: Marilah kita mulai dengan yang tak-mungkin” Jacques Derrida, dalam Derrida oleh Muhammad Al-Fayyadl (LkiS, 2005)

Dua jam sudah, ia hanya memandang warna putih dalam notebook-nya. Tak ada satu pun kalimat-kalimat dalam bentuk font Times New Roman, yang tertoreh. Ia terus-menerus jatuh dalam perenungan-perenungannya. Mengaitkan satu kejadian dengan kejadian yang lain. Tubuhnya yang bersandar pada meja badan berbahan kayu sengon itu mulai bangkit. Lalu, ia bergerak mondar-mandir tak jauh dari meja kerjanya, guna mencari inspirasi. Penulis muda itu menggerakkan naik-turun rahang-rahangnya, sehingga gigi-gigi bagian atas dan bagian bawah saling berbenturan dan menghasilkan suara. Kemudian ia berhenti sejenak, memandang langit melalui jendela dan seraya berkata:

“Bantu aku Tuhan, berikanlah ilham-Mu.”

Langkah-langkah kaki mulai bergerak mendekati meja kerjanya. Ia kembali duduk dan menghadap notebook-nya. Ia mulai mengetik untuk menyusun kerangka-kerangka untuk tulisannya. Namun, jari telunjuk, sekali lagi, menekan tombol backspace. “Bajingan!” katanya pada dirinya sendiri saat menghadapi writer block, suatu kebuntuan dalam hal menulis yang sering dialami oleh para penulis.

Kedua matanya melihat ke sebuah bufet lemari minimalisnya. Ia melihat dua karyanya yang telah dibukukan, karya pertama terjual sekitar lima ratus eksemplar, karya kedua terjual tujuh ratus eksemplar. Di saat-saat itulah, ia terjebak dalam romantisme masa lalu, bagaimana dengan mudahnya ide-idenya mengalir dan berhembus ke dalam alam pikirnya. Ia kemudian menutup kedua matanya, menghadirkan persona-persona yang mampu membangkitkan gairahnya untuk menulis.

Ia memunculkan Arinda, kekasihnya yang telah dibela-belanya dengan mati-matian, namun pada akhirnya meninggalkannya bersama pria lain.

Ia memunculkan Mita, wanita yang dikaguminya dan ia hanya mampu memendam perasaannya, sebab ia merasa bahwa Mita, wanita itu, terlalu suci baginya, bagi masa lalunya yang hitam-kelam.

Ia memunculkan seorang penulis tua, sang guru dalam menulis, yang kemudian waktu membelah hubungan mereka karena ketak-sesuaian dalam cara memandang suatu problema.

Ia memunculkan Pak Sarnawi, seseorang yang hidup di kaki gunung, yang sering ia jumpai bersama kawan-kawannya ketika akan menapaki jejak-jejak di antara tumbuhan dan hawa dingin, yang mana orang tua itu sering memberikan petuah-petuahnya dalam hal kebajikan tentang hidupnya yang serba kekurangan.

Ia memunculkan ibunya yang telah uzur, seseorang yang menjadi semangat utamanya serta yang mengajarinya mengeja setiap huruf di masa kecilnya, yang belum mampu ia bahagiakan.

Ia memunculkan wajah seorang gadis kecil dengan rambut berkepang, yang bermain di sebuah ayunan dengan wajah murung, di sebuah taman kanak-kanak, ketika ia menjemput keponakannya pulang sekolah.

Ia memunculkan Si X dan Si J, dua tokoh pergerakan yang disingkirkan dan dibuang oleh para penguasa karena mencoba mengkritik kebijakan-kebijakan mereka.

Ia memunculkan seorang ibu tua yang mengubur bangkai seekor kucing jalanan yang tergeletak di pinggir trotoar saat ia pulang dari perpustakaan, dan kemudian ia mengingat perkataan ibu tua itu: tak ada satu orang pun yang peduli pada bangkai itu.

Ia memunculkan wajah-wajah lelah para pekerja ibukota melalui suatu feature di surat kabar pagi.

Ia memunculkan wajah Damian, kawan bermusiknya yang selalu membantu di saat-saat sulit, dan kini, kawan tersebut telah memiliki kehidupannya sendiri bersama keluarga kecilnya.

Seusai menjelajahi labirin-labirin persona dalam jejak-jejak peristiwa masa lalunya, ia mendesahkan nafas dengan berat. Permainan suara psikologi dalam dirinya mulai menekannya dengan kuat:

Aku yakin kau mampu,” kata suara pertamanya.

Kau? Mampu? Kau tak akan sesukses dua karyamu sebelumnya. Dasar pemimpi!” balas suara keduanya.

Mampu atau tak mampu? Sukses atau tak sukses? Aku akan terus menulis, terus dan terus. Karena dengan menulis, aku ingin membuat setiap pembacaku menemukan kebahagiaan mereka masing-masing, meski aku tahu bahwa aku telah lama mengubur kebahagiaanku sendiri.” kata suara dalam hatinya yang paling murni, yang mendepak suara pertamanya dan keduanya.

Kedua jari telunjuk telah melekat ke tuts-tuts dalam notebook-nya. Ia menumpahkan segalanya dalam kata-kata, dalam kalimat, dalam paragraf, kawan-kawan yang menceriakan nuansa kesunyian yang sering ia alami, tepatnya, yang sering manusia pada umumnya, rasakan. Dan, ia mampu melepaskan diri dari writer block berkat mereka, para persona yang menginspirasinya.

Ijinkan aku menulis cerita tentang kalian, para personaku,” katanya pada dirinya sendiri, yang berhenti sejenak, pada paragraf ke lima belas.

Hal-Ihwal Radio: Suara Seorang Music Director dan Penyiar itu…

onair.jpg

Gadgetku bergetar di atas meja belajar. Perlahan-lahan, aku bangkit dari kasur, mengikat ke belakang rambut panjangku yang terurai. Lamat-lamat, aku telah mencapai meja belajar. Sebuah nomor tanpa nama tertera. Awalnya, aku tak ingin mengangkatnya. Namun lima panggilan tak terjawab membuatku dihantui rasa penasaran. Lalu, saat panggilan keenam, aku mencoba mengangkatnya:

Halo, Tam?”

Ya, ini aku, siapa ya?”

Ini aku, Mar…Maruli.”

Aku memejamkan mata, mengingat nama-nama Maruli yang pernah hinggap dalam kehidupanku. Aku hanya punya dua kawan yang bernama Maruli: pertama, Maruli kawan KKN-ku; dan yang kedua, adalah seorang penyiar radio.

Halo, Tam?”

Ini, Maruli, penyiar itu.”

Tepat, Tami.”

A…Ap…Apa kabarmu, Rul, eh Mar?”

Ha-ha, tak perlu gugup. Baik, aku sedang di Jakarta sekarang. Kau di Jakarta, kan?”

Aku memejamkan mata sekali lagi, dan bertanya-tanya, apakah sejak dulu, sejak pertemuan terakhir itu, ia masih menyimpan nomor ponselku? Tapi mengapa sejak ia meninggalkan pekerjaannya di satu stasiun radio, ia tak pernah menghubungiku lagi? Nama Maruli, seakan-akan tenggelam oleh dua pria lain yang selama enam tahun ini mengisi hidupku, Yanu (dua tahun) dan Geri (empat tahun hingga sekarang). Aku masih ingat saat-saat itu, Mar, ketika kau masih menjadi penyiar di program acaramu yang mengobrolkan tentang banyak hal pada kehidupan ketika pukul sepuluh malam itu. Kau tahu, Mar, aku selalu menanti suaramu di jam-jam siaranmu tersebut. Apakah kau tahu juga, Mar, betapa aku mengagumi kedewasaan pikiranmu saat itu, meski kau dan aku masih berumur dua-puluh tahunan. Ya, aku masih ingat, dan masih menyimpan kata-katamu itu hingga saat ini, bahwa kedewasaan tidaklah dilihat dari nominal umur, melainkan dari bagaimana kita mengolah pengalaman-pengalaman kita dan memberikannya dalam bentuk-bentuk apapun—dan kau lebih suka dengan pendekatan yang persuasif antar personal—di saat yang tepat, pada siapa yang sedang memerlukannya.

Tami, kau baik-baik saja, kan?”

Ah, ya, Mar…Ya tentu saja, ya aku di Jakarta. Kau tinggal di mana sekarang?”

Aku sekarang tinggal di Yogyakarta, dan aku ada acara di Kebayoran. Kemarin aku menghubungi Arina, dan dia memberikan nomormu. Kapan kau ada waktu?”

Aku masih mengingatmu, Mar. Aku masih memendam perasaan cintaku kepadamu. Aku juga menyimpan baik-baik lagu-lagu yang kau senangi di dalam rak pikiranku. Berkat keluasan wawasan musikmu, ketika kau menjadi seorang music director, suatu posisi yang mengharuskan dirimu juga layaknya seorang pendengar dan seorang penyusun playlist radio, kau mengatakan bahwa dari ratusan lagu yang pernah kau dengarkan hanya ada empat lagu yang membuat benar-benar menjadi seperti manusia seutuhnya: Apakah kau masih mendengar lagu Beautiful Boy (Darling Boy) dari John Lennon, sebuah lagu yang diciptakannya untuk putranya, Sean, ketika kau melihat seorang anak kecil. Apakah kau masih juga membicarakan lagu Aurora dari Hans Zimmer, sebuah lagu yang diciptakan untuk korban penembakan di Aurora, Colorado, ketika suatu peristiwa yang tak mampu diterka, yang kemudian terjadi begitu saja. Apakah kau juga masih memutar Very Sad Piano Music dari Roy Todd, sebuah lagu yang mengeksplanasikan tentang suatu emosi, ketika kau merasa senang bahkan sedih. Apakah kau masih mendengar lagu Damai Kami Sepanjang Hari dari Iwan Fals, sebuah soundtrack dari film Damai Kami Sepanjang Hari, yang pernah kau ceritakan tentang seorang anak yang telah kehilangan kedua orang tuanya dan harus membesarkan keempat adiknya dengan mengamen, ketika kau memahami bahwa kita tak mampu hidup sendiri dan memerlukan orang lain.

Tami…?”

Ah, ya Mar. Eng…bagaimana bila akhir pekan, sabtu?”

Baiklah, aku tunggu di Pasar Santa, oke.”

Baiklah.” Aku terdiam sesaat, pun dengan Maruli. “Mar, ada yang ingin aku…”

Dengan cepat, ia menutup teleponnya. Suara yang pernah kudengar beberapa tahun lalu itu muncul dan menghilang kembali, beriak-riak seperti gelombang air laut. Ah, Mar…

[] Image Radio via www.alexklim.com

Sarapan dan Obrolan Tentang Yang Kalah.

dce0a82b0d08c7bc4204313cb2902ff8

Pagi hari ini, aku melihat suamiku telah duduk tekun di meja makan. Sambil menanti putraku yang sedang berpakaian, aku menyiapkan tiga gelas susu dan mengolesi roti-roti dengan selai rasa blueberry. Sedangkan suamiku, ia membaca koran pagi, kegemarannya adalah mengikuti perkembangan politik terkini. Langkah-langkah dari anak tangga terdengar. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat putraku tertunduk lesu di pagi yang sebenarnya cerah sekali. Setelah sampai didekat kami, putraku meletakkan tasnya di kursi meja makan sebelahnya. Ia duduk dengan wajah yang murung. Lalu, aku menyodorkan segelas susu dan roti yang kuletakkan di piring. Aku mengamati wajah putraku terus-menerus.

Ada apa denganmu, Deki?”

Ia hanya menjawab dengan gelengan kepala, sambil memajukan kedua bibirnya. Suamiku melipat koran paginya. Lalu, aku menyodorkan gelas susu dan piring yang terletak roti yang telah kuolesi dengan selai itu. Setelah siap semuanya. Suamiku berkata:

Deki, mari sarapan. Kau yang pimpin doa kali ini, ya.”

Putraku tak menjawab.

Baiklah, biar ibu saja yang memimpin doa kali ini,” kataku.

Kedua tangan kami terangkat, dan kami mulai berdoa. Setelah selesai, aku dan suamiku langsung melahap roti itu, namun tidak dengan putraku. Ia hanya memainkan rotinya, memutar-mutarnya di atas piring. Aku mendesah. Jiwa keibuanku mampu menduga bahwa Deki, putraku, belum mampu melupakan kekalahan timnya di final pertandingan sepakbola kemarin sore. Dan, perlu diketahui, bahwa itu adalah pertandingan final pertama putraku. Timnya kalah 1-0.

Kau masih memikirkan pertandingan kemarin?” tanyaku padanya, sambil mengunyah roti.

Ia tak menjawab.

Deki, lihat ayah,” kata suamiku, kemudian putraku mengangkat kepalanya. Dan, suamiku melanjutkan, “Apakah kau masih ingat tentang cerita kura-kura yang menang dalam perlombaan lari melawan seekor kelinci?”

Putraku mengangguk.

Kau tahu mengapa kura-kura menang?”

Putraku menggeleng.

Dalam perlombaan yang dihelat selama tujuh kali itu, kura-kura tak pernah menang, ia selalu kalah…”

Lalu, Yah?” tanya Deki pada suamiku, dengan rasa terheran-heran.

Makanlah, dan dengarkan ayahmu bercerita,” kataku.

Dan Deki mulai memakan rotinya.

Baik, ayah lanjutkan. Begini Deki, pada saat akan dimulai perlombaan kedelapan kalinya, kura-kura merenung, dia terus menyesali keadaannya. Namun, saat merenung itulah, ia mendapatkan suatu gambaran lain tentang kekalahan. Lalu, ia segera berlatih berlari terus-menerus. Namun, berlatih saja tak cukup, kura-kura itu kemudian memikirkan taktik sebagai pelengkapnya. Meskipun dalam bakat alaminya, kelinci berlari lebih cepat dan berkali-kali menang, dan tanpa disadarinya, kesombongan si kelincilah yang pada akhirnya menumbangkannya sendiri. Dan si kura-kura, yang awalnya terus menerus kalah, pada akhirnya menang, karena terus berjuang dan berlatih.”

Tapi, Yah. Deki tak bisa membuat ayah dan ibu bangga?”

Saat itulah air mataku ingin menetes.

Deki,” kataku, sambil menatap wajahnya yang lugu, “Ayah dan ibu pernah mengalami seperti yang kau alami, kami berdua pernah mengalami kekalahan dalam perlombaan. Dan pelajaran pertama memahami kekalahan memang tak mudah. Kebanggaan itu, Nak, adalah melihatmu menyukai dunia yang kau senangi, sepakbola, dalam suka dan dukanya. Jadi, apakah Deki terus menerus ingin larut dalam kekalahan?”

Putraku menggeleng.

Nah, sekarang, marilah kita makan dan mari memulai semangat yang baru, Deki,” tutur suamiku.

*

Di depan pintu gerbang rumah, aku melihat suamiku dan putraku yang berada dalam mobil, kemudian menghilang dari pandanganku. Aku berkata dalam hati sambil memejamkan mata:

Ya Tuhan, terima kasih untuk berkahmu, dan semoga dari segala pengalaman yang pahit, yang terus-menerus kami pelajari; kami mampu mengajarkan kepada putra kami untuk menjadi seorang manusia yang memanusiakan manusia yang lainnya.”

Matahari bersinar semakin terang.

[] Terilhami dari cerita anak-anak Fabel Aesop, The Hare and The Tortoise.

[] Image The Hare and The Tortoise via Pinterest

26 September 2016, Gejayan-Affandi, Sleman-Yogyakarta.

Bukan Kisah Heidegger Pada Arendt, Bukan Pula Kisah Kierkegaard Pada Regine Olsen.

tumblr_odniwstxbg1qz4d4bo1_500

Kemana langkahku pergi
Slalu ada bayangmu
Ku yakin makna nurani
Kau takkan pernah terganti

– Untukku, Chrisye.

Pada suatu malam, di sebuah acara penghargaan literasi, setelah menjelaskan tentang struktur dari novel baruku, pengaruh, serta unsur-unsur teknis dan non-teknis, dan setelah melalui sesi tanya-jawab yang ketiga, seseorang di deret kursi dua dari belakang kemudian mengangkat tangannya.

Ya, silakan,” kata moderator.

Pria yang memakai kemeja yang tak dikancingkan sehingga tampak gambar font dari band alternative, Foo Fighters itu, yang berjalan semakin mendekat ke depan stage. Moderator memberikan mikrofonnya. Sesampainya di stage, dengan tubuh tegap, dan suara parau, kemudian ia bertanya:

Aku telah membaca novel ini selama dua kali. Dan harus kuakui kau termasuk seorang penulis muda yang mana jika tetap konsisten dengan langgam ini, serta tema-tema realisme seperti ini, aku yakin kau akan mampu sejajar dengan si X, si Z, bahkan novelis elite, seperti si K, dalam lima atau bahkan sepuluh tahun mendatang. Karena semua elemen-elemen dalam novel telah dibicarakan, dan aku selalu suka untuk bertanya ke setiap novelis, siapakah sumber inspirasi tokoh utamanya?”

Aku mendengarnya. Kemudian ia mengucapkan terima kasih, menyerahkan mikrofon, dan kembali ke tempat duduknya. Aku berdiri, dan semua mata tertuju padaku.

Aku menghela nafas.

Aku bingung harus memulai dari mana. Tapi sebelum novel ini dikerjakan, aku bertemu dengan seorang pramusaji di sebuah cafe. Di cafe itu, pada kunjunganku yang kedelapan kalinya selama sepuluh pekan; pada pertemuan ketujuh dengannya, setelah dia menyodorkan kopi tepat di depanku, tiba-tiba dia menggoncangkan dunia dalamku saat dia mengatakan bahwa: ‘Aku,’ kata pramusaji itu, ‘hanyalah dari keluarga biasa. Adakalanya aku iri dengan semua orang di sini serta dengan apa yang dipunyai oleh mereka. Tapi, ketika aku mendengar satu-dua pengunjung mengeluhkan hidup mereka, aku baru menyadari bahwa tenyata ada hal-hal yang tak mereka miliki, khususnya tentang semangat hidup, dan bukankah Tuhan maha adil…’

Kemudian aku tersenyum, memandang seluruh wajahnya yang menyejukkanku, dan mengagumi keberaniannya dalam mengutarakan apa yang dia rasakan. Dia hanyalah wanita sederhana, wanita biasa, dan wanita yang jujur dengan apa yang dimilikinya. Dia tak pernah mengenal teori-teori besar. Oh, tidak. Namun, karakter wanita utama di novel ini diambil dari semangat hidup seorang pramusaji yang kini hadir ditengah-tengah kita. Dia tepat berada di hadapanku.”

Setelah menjawab pertanyaan terakhir itu, aku tersenyum pada wanita yang ada dihadapanku itu, pun dengannya. Nuansa acara penghargaan literasi itu pun menjadi begitu haru.

Terima kasih telah mendampingiku sejauh ini,” kataku, dalam hati.

[] Image via teacoffeebooks.tumblr.com