After Play Daughter: Percumbuan Arsitektur (Lighting) dan (Video) Musik.

Terlalu banyak refrensi (dalam hal apa saja) bisa membuat kita memaknai keluasan cara pandang dengan sangat luwes; sekaligus secara paradoks, akan membuat kita kebingungan sebab terlalu banyak refrensi dan menegasikan, dalam artian mencoba mempersempit refrensi, keluasan cara pandang. Jadi, sekali lagi, bila dihadapkan pilihan, lebih baik terlalu banyak refrensi atau malah mempersempit refrensi di era ledakan data, ledakan informasi?

Seperti halnya sebaran (spread) informasi, pun demikian cahaya yang terlalu luas, yang disertai volume cahaya yang tinggi sehingga menyilaukan penglihatan. Keseimbangan, atau katakanlah porsi yang tepat, adalah kunci utama.

Mangunwijaya, arsitek alumni ITB dan RWTH Aachen, Jerman, telah menjelaskan dalam bukunya, Pengantar Fisika Bangunan, bab pendefinisian cahaya dalam arsitektur begitu penting bagi seorang arsitek yang merupakan elemen terpenting dan sepenuturan arsitek Prancis, Le Corbusier, cahaya adalah permainan arif, benar dan agung.

Permainan arif, benar dan agung dari cahaya bisa kita dapati, sekaligus nikmati, dalam aktivitas kehidupan sehari-hari mulai nyala api unggun di pegunungan untuk menghangatkan tubuh, nyala lilin dalam ritus keagamaan di gereja, bahkan blitz kamera untuk mendapatkan luminasi (kecerlangan/kepadatan cahaya) akan frame dihadapan kondisi ruang yang teramat gelap, dan bisa kita perpanjang seperti juga para aktor/aktris di panggung teater atau bahkan proyektor bioskop untuk memutar film.

Proyektor bioskop untuk memutar film, bisa kita lacak dengan menolehkan pandangan pada perkembangan teknologi dalam produksi film yang dijelaskan oleh Fajar Junaedi dan Budi Dwi Arifianto (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), dalam “Dari Analog Menuju Digital: Produksi Film Indie di Yogyakarta Pasca 1998.” Menurut mereka, terdapat dua format yang melahirkan dua kelompok yaitu format film yang merujuk film seluloid hingga hirarki durasi film dari spot film, pocket film, film pendek, film medium length dan film length; sementara itu, format video memberikan pengetahuan baru dari pita kaset analog hingga hadirnya instrumen bernama komputer dan melahirkan satu zaman berupa digital. Video, seperti halnya seekor kupu-kupu, juga melakukan metamorfosisnya sendiri.

Beberapa hari yang lalu, penulis mendapati kembali file lama dalam folder musik. Daughter, campuran para pemuda England/Swiss/France mengemas video musik mereka dengan keseimbangan. Tata cahaya itu benar-benar hidup. Frame awal, fronted female, Elena Tonra, memegang gitar dengan sebaran cahaya dengan sebutan, cahaya katup, dalam perkembangan sejarah proyektor. Kemudian, pada 0:57 cahaya dipancarkan dari ‘down’ ke ‘up’ menerjang tubuh Igor Haefeli. Namun frame yang tampak sempurna adalah ketika mata penulis melihat bagaimana letak Remi Aguilella, drums/percussion, yang disorot oleh katup cahaya dalam latar yang sangat gelap dan pekat.

Video Daughter mengingatkan bagaimana permainan arif, benar dan agung, dari cahaya, dari arsitek Prancis, Le Corbusier, melalui Mangunwijaya.

Youth – Daughter https://www.youtube.com/watch?v=2QT5eGHCJdE

Iklan

Screaming Factor, Budaya Layar, Umpan Balik: END OF JUDGEMENT RELEASE PARTY (Part I).

Di dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi adalah satu hal penting yang berada dalam aktivitas manusia sebagai proses menghubungkan sesuatu dengan yang lain. Tak hanya melalui percakapan dua arah, semisal, yang dilakukan oleh seseorang di daerah A, agar nampak dekat dengan seseorang yang lain di daerah B, melalui alat telekomunikasi seperti gadget; namun komunikasi juga bisa hadir dalam ruang lain seperti band dan penggemar, sebab sebuah band tak akan hidup tanpa penggemar dan sebaliknya.

Pada 27 Januari 2019 yang lalu, tepatnya di gedung KNPI, Kota Malang, Screaming Factor (SF) merilis album mereka yang berjudul, “End of Judgement.” Pada saat itu, bagi para scenester Malang yang lekat pada tahun1990-2000, yang tepat berada di venue itu, akan merasakan atmosfer yang membuat gairah pada masa lalu kembali menyeruak, memunculkan ingatan kolektif mereka. Empat bulan kemudian, tepatnya, 19 April 2019, Screaming Factor (SF) memberikan umpan balik dalam budaya layar berupa rekaman audio-visual via live yang tak bisa dinikmati oleh siapa saja yang berhalangan hadir pada saat itu, atau bahkan para scenester lain yang telah tersebar ke kota-kota lain, di luar Malang.

Dalam Teori-Teori Komunikasi (1), Aubrey Fisher menjelaskan umpan balik sebagai respon. Dalam artian, SF sebagai band mencoba untuk mengirimkan pesan pada penggemar yang berhalangan hadir tentang bagaimana emosi yang tercipta pada track mereka seperti The Fire That Burns in My Heart, I’m Still Broken While You Became A Mirror, dan The Hell and Paradise Within Her (2), setelah sekian lama vakum; lalu video diunggah dan muncul respon seperti:

“Suwon, sudah membawa saya ke KNPI walaupun hanya lewat visual ini.” (3)

Atau,

“rekavisual dari Screaming Factor asik banget … mboiss poll … jamputtt dadi eleng jaman mbiyen gedung KNPI ga koyok ngono, luwih mirip lapangan indoor badminton kecamatan, saiki dadi suaangarrr nemen rek” (4)

Sementara dalam bahasa yang lain, SF juga melakukan suatu upaya apa yang dijelaskan oleh Triyono Lukmantoro (Universitas Diponegoro, Semarang) dalam Teori-Teori Film: Sekadar Pengantar Awal, yaitu “[…] Presentasi (bagaimana realitas ditampilkan dalam sebuah film), dan resepsi (bagaimana khalayak memberikan penafsiran terhadap sebuah film yang telah disaksikannya) (5).

Bila ada waktu luang, sempatkanlah untuk merasakan End Of Judgement Release Party (Part I) dengan tiga track: Stronghold My Hand Skinning Your Heart mix The Fire That Burn In My Heart; I am Still Broken While You Became a Mirror; The Hell And Paradise Within Her; sembari menanti kejutan lain yang membuat kita gemas. Sekali lagi, persembahan SF untuk kita semua. Selamat menikmati.

END OF JUDGEMENT RELEASE PARTY (Part I) – Screaming Factor (https://www.youtube.com/watch?v=oat5qfOR7a8&feature=youtu.be)

(1) Teori-Teori Komunikasi; penyunting Jalaludin Rahmat; penerjemah Soejono Trimo; (1978)

(2) https://medium.com/@pranaokta/reportase-gigs-49b1ead3591e

(3) https://twitter.com/nmmaulana/status/1119229255915716608

(4) https://twitter.com/andreij_eijkov/status/1119221609397571584

(5) Menikmati Budaya Layar, Membaca Film; Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Buku Litera Yogyakarta. (2016)

Olahraga, Kesehatan dan Perantauan.

– Untuk gadis kecil nanti dan calon ibumu nanti.

Beberapa jam lalu, ada pesan masuk yang dikirimkan oleh kawan ayahmu: Mas, saya gak enak badan, bisa minta tolong belikan ini-itu.

Tanpa banyak pikir, ayahmu menyetujuinya; sebab, aku dan ia, kawan ayah, adalah para perantau, yang jauh dari rumah. Ada ikatan yang kuat untuk saling membantu.

Singkat cerita, ketika ayah telah membeli yang diinginkan, dan akan menyerahkan padanya, diperjalanan menuju kediaman kawan ayah; ayahmu terpikirkan tentang menjadi orang pertama bila calon ibumu sedang mengalami rasa sakit dan itulah kewajiban seorang suami untuk ibumu dan ayah bagimu.

Sesampainya di kediamannya, menyerahkan barang dan menanyakan kondisinya, semacam diagnosa kecil, tentang apa yang dirasakan. Ayahmu hanya berpesan pada kawan ayah bahwa jangan terlalu berpikir berat dan atur time manajemen.

Diperantauan, Nak, adalah belajar tentang bagaimana kita survive. Bisa mudah, dan bisa sulit. Siapa pun itu, pun juga kamu nanti bila merantau ke Bremen (Jerman), atau Nantes (Prancis) atau Porsmouth (UK), akan mengalami hal-hal semacam kesepian, kerinduan, dan hal-hal yang terlalu mengarah ke mental. Dari pengalaman ayahmu, secara akademik atau intelektual, siapa pun jika rajin akan mampu mengatasi hal ini. Namun mental—khususnya emotional intelligence/emotional quotient (EQ)? Nah, untuk mendapatkan mental—khususnya emotional intelligence/emotional quotient (EQ)?, ayah menyarankan untuk melakukan olahraga yang seperti ayahmu lakukan minimal 30 menit setiap hari di UGM, suatu aktivitas yang sama pentingnya seperti kebutuhan lain membaca, menulis, menerjemah atau bahkan beribadah—meskipun ayahmu juga kerap tak lengkap lima waktunya, maaf ya, Nak.

Dalam olahraga, ada suatu pacuan andrenalin yang membuatmu harus belajar untuk mengontrol segala hal: kapan saat tepat untuk melontarkan amarah/up, dan kapan saat tepat untuk meredam amarah/down. Itulah gunanya olahraga. Bila kamu mampu mengatasi ini, maka kamu akan mencapai suatu kesehatan baik secara EQ dan SQ. Kerapkali, ayahmu gagal di EQ karena begitu merindukan kehadiran calon ibumu. Namun, hal ini dilakukan dengan konsistensi dan proses yang panjang.

Ayahmu hanya bisa memberikan pengalaman yang ayahmu alami sendiri. Kamu bisa menyaringnya dan ayahmu tak akan memaksa untuk melakukan apa yang telah ayahmu alami, sebab pengalaman terbaik bagi ayah adalah pengalaman tentang merasakan jatuh dan bangun yang disebabkan oleh diri sendiri, dan bukan orang lain.

Doakan agar kawan ayah cepat sembuh agar bisa menemani ayah berpetualang sambil menanti ibumu datang dan memberikan kasih sayang pada ayahmu ya. Alhamdulillah, ayahmu masih diberikan kesempatan untuk sehat dan sedikit membantu kawan ayah yang sakit.

Peluk mesra untukmu dan ibumu.

[Image-text] Paragraf Bung Hatta.

Ada Apa Dengan Sintia? (2)

Tetapi, disini saya melihat cerita yang lebih dari pada itu. Para suami yang menemani istri-istrinya meraih impian untuk menuliskan gelar Doktor secara sah di samping namanya. (1)

Di suatu tempat ngopi dengan latar pegunungan, Angga memberikan kejutan kepada belahan jiwanya atas usaha yang Angga lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Sintia. Meja kotak memisahkan dua tubuh itu.

Angga: Aku ada kejutan buat kamu?

Sintia: Kejutan apa, Ngga? Cincin? Mobil?

Angga: (Tersenyum. Menggeleng)

Sintia: (Dengan penasaran dan manja) Apa?

Angga: Beasiswa full untuk S2 dan S3 di sekolah fashion favoritmu.

Sintia: (Hening. Terdiam. Menangis bahagia) Jadi ini yang selalu kamu sembunyikan ke aku, Ngga? Kamu jahat! Aku gak tau lagi harus bilang apa ke kamu. Kamu pasti lelah banget ya.

Angga: Gak ada kata lelah buat impianmu.

Sintia: Ngga…

(1) https://cakshon.com/2015/06/22/para-suami-berhati-emas/

() Image https://phdmamaindonesia.com/2016/09/17/phd-mama-ima-menyiasati-studi-dengan-balita-dan-menjalani-ldr/

Ada Apa Dengan Sintia ? (1)

– Buat anak-anak PPI Kota Malang yang memberikan tips n tricks mengatur keuangan/beasiswa di sono, antah berantah, untuk menyiasati hidup.

Angga menemani soulmatenya, Sintia, yang suka olahraga ke toko sepatu. Sesampainya di sana, Sintia kebingungan dan minta saran pada belahan jiwanya:

Sintia: Ngga aku tuh bingung banget pilih mana Reebok (UK), Adidas (Jerman) atau Fila (Italia/Korea Selatan ).

Angga: Gini, Sin. Secara brand, desain dan teknologi Reebok dan Adidas jauh lebih unggul dari pada Fila. Tapi ada satu kata kunci.

Sintia: Apa Ngga ?

Angga: Material/bahan tiga sepatu itu. Jadi, gak perlu ragu ambil Fila yang murah seharga 280k itu, namun bahannya sama seperti Reebok dan Adidas.

Sintia: Ngga emoticon buat kamu: 🙂

Seusai dari toko sepatu, Angga dan Sintia ke toko buku bekas. Sintia tahu bahwa Angga sedang kebingungan memilih bacaan karena sedang jenuh dengan bacaan berat dan bertanya pada belahan jiwanya.

Angga: Sin, aku bingung mau ambil buku tema filsafat, sastra, ekonomi, politik, agama atau budaya ?

Sintia: Ikut aku, Ngga. (Sintia menuntun tangan Angga ke satu lapak buku bekas) Ini, Ngga, buku ensiklopedia anak-anak.

Angga: Buku ensiklopedia anak-anak ?

Sintia: Kita nabung buku bekas bacaan anak-anak mulai dari sekarang Ngga, buat anak kita nanti. Biar ketika kita udah punya anak, gak perlu mikir tentang pendidikan melalui bacaan, dan fokus kita untuk hal yang lain. Dan buku bekas bacaan anak-anak ini hanya 25k, Ngga.

Angga: Bener juga ya, Sin. Ada emoticon buat kamu juga Sin: 🙂

Liberté De La Presse

Kebebasan pers adalah DASAR dari seluruh kebebasan yang lain – Voltaire.

Dahlan Iskan, menyeberang ke Prabowo, agar Jawa Pos, koran besar di Jawa Timur tetap survive ? Demikianlah pertanyaan saya seusai membaca tulisan Ajar Edi di ngopibareng[dot/Inggris ;point/Prancis]id. (1)

Adalah suatu kewajaran dalam dunia politik apabila kubu Petahana dan kubu Oposisi memiliki senjata berupa media–dari cetak hingga elektronik. Bahkan di kultur media Prancis juga terjadi hal seperti itu. Koran Partai Kanan harus menjatuhkan (gagasan/idea) Partai Kiri, pun sebaliknya.

Orang Jatim selalu menjadi pembaca Jawa Pos di warung pecel setiap pagi, baca di teras rumah kala sore hari saat ‘leyeh-leyeh’. Ada kerinduan bila mengenang momen itu. Terlebih ketika belajar menulis dengan emosi/sense jenaka–dan ini sangat sulit–serta mempelajari gaya tulisan AS. Laksana dalam Ruang Putih di Jawa Pos.

[…] para bos besar meragukan masa depan Jawa Pos. Juga keraguan mereka akan performa generasi kedua membawa Jawa Pos dalam kondisi bisnis media cetak yang gonjang-ganjing. […] “Saya sudah tidak punya koran lagi. Mau menulis di mana,” ungkap seorang teman, menirukan perkataan Pak Dahlan. Kini, selepas setahun, luka itu telah mengering. Bahkan diubahnya jadi pendorong untuk melanjutkan pertempuran. Masuk ke dunia politik lagi (2)

Pada penggalan paragraf ini, saya mencoba bermain dengan masa depan (gramatika bahasa/linguistik menyebutnya dengan future tenses), dan memunculkan dua pertanyaan:

1) Apakah nantinya para penulis di Jawa Pos, yang berseberangan cara pandang dengan Prabowo, akan mampu menjaga idealisme berpikir mereka ?

2) Dan apakah nantinya para pembesar dan para editor Jawa Pos memberikan ruang kebebasan pada para penulis untuk tidak menggiring gagasan/idea para penulis ?

Dari orde lama, melangkah ke orde baru, mencapai reformasi hingga kini menjejakkan langkah pada era digital, ‘kebebasan pers’ semacam utopia yang diibaratkan lelaki tampan, kaya, sederhana, baik, salih, humoris dengan kesempurnaannya bagi seorang perempuan, pun sebaliknya.

Sangat menarik !

(1, 2)

https://www.ngopibareng.id/timeline/antara-dahlan-dan-goenawan-661232/amp

Hal yang kebetulan atau hal yang telah ditetapkan ?

Seakan-akan seperti dituntun oleh tangan yang tak terlihat. Awalnya tak ada ketertarikan sama sekali dengan Candi Badhut, salah satu tempat main saat kecil, hanya bongkahan batu. Tapi dalam Arsitektur Prancis dan para penelitinya yang fanatik pada kebudayaan sejak era Mesir kuno begitu penting, bagi siapapun yang lekat, untuk paham akan bangunan tradisional yang berdiri puluhan tahun seperti château (benteng) yang melipir di pinggir sungai-sungai di Prancis.

Kejutan pertama diberikan oleh kawan ogut di Malang, Adon Saputra (Screaming Factor), ketika mempost foto Candi Badhut di sosmednya, dan kemudian tak sengaja bertemu di salah satu perpustakaan Institut Français dengan penelitian tentang Candi yang kecil dan terasing itu melalui penulis-peneliti Prancis, The Palaces of Southeast Asia, Architecture and Customs, yaitu Monsieur (Pak) Jacques Dumarcay.

Tak menyangka, benar-benar tak menyangka, bahwa Candi itu menyimpan satu kemisteriusan, seperti misteriusnya tentang hal yang kebetulan atau hal yang telah ditetapkan ? Inikah arti kerja keras ?

Salam bahagia untuk semuanya.

Terima kasih Pak Jacques Dumarçay tentang Candi Badhutnya.

– Untuk Indonesia, PPI Lyon v Kompas TV https://www.youtube.com/watch?v=46eW7Wh3uZ8

Wilayah Elitnya Malang.

Paling seneng main ke perum ini buat cari refrensi arsitektur. Pengembangnya pinter, doi main apa yang konsumen inginkan, lebih art. Bandingkan dengan perum Ara*a, lak mboseni. Dari letak lokasi, perum Ara*a pilih dekat dengan kota dengan mall-nya. Tapi perum ini milih main view alam jauh dari kota dan dibangunkan mall-nya sendiri.

Paradoksnya, sebagian rumah besar di sini bukan milik orang Malang, tapi orang-orang yang punya kuasa dari luar kota kemudian investasi rumah di sini, ingat sebagian.

Secara kultural, perum ini banyak dihuni Tionghoa. Tapi ada satu catatan, Tionghoa di sini berbeda dengan Tionghoa di daerah Pasar Besar yang sama-sama mengeluhnya tentang hidup. Jadi gak semua Tionghoa itu swugih, rek.

Secara pendidikan, di sini ada juga Universitas Ma Chung yang punya bahasa Inggris keren. Kalau kampus ogut yang terkenal dengan bahasa Inggrisnya, Universitas Negeri Malang (UM/IKIP Malang), gak berbenah dalam strategi mengajar, bisa-bisa disalip Univ. Ma Chung.

Yang belum ogut kunjungi stadion bola di mana coach Timo Scheunemann melatih SSB-nya, lawan dari klub kecil ogut SSB Universitas Brawijaya ’82, yang memunculkan bibit seperti Bustomi dan Dendi Santoso, yang lapangannya sekarang jadi gedung Fisipol UB.

Wes rek yo uklam-uklam e, seger waras lan akeh rezeki.

Au revoir.

Tentang pilihan itu (Pernikahan adik perempuan v impian Prancis).

– Untuk filsuf Nasrani Soren Kierkegaard dan the choice ; pengorbanan dalam cerita Ismail-Ibrahim.

Level B2 dan C1-2, level paling tinggi di sekolah bahasa non-formal milik kedutaan besar, begitu banyak tantangan dan ujian dari langit tentang hal-hal yang tak terduga.

Setelah membayar administrasi diatas 5000k–sepadan dengan fasilitas yang didapat dan durasi «course» ini cepat selama -/+ 2 bulan, jadi jika satu hari tak masuk akan ketinggalan banyak hal ; ibu penulis mendadak memberitahu bahwa adik perempuan penulis akan menikah, senang sekaligus terkejut.

Sejenak penulis berpikir, ada pengorbanan yang harus diambil dalam suatu pilihan di sana. Lalu berjalannya waktu, penulis menyelesaikan 4 bab dari 10 bab sampai hari H pernikahan adik penulis.

Impian diri sendiri atau impian orang lain ?

Penulis beruntung pernah membaca kisah pengorbanan ayah-anak dalam kisah Ibrahim dan Ismail serta filsafat The Choice dari bapak eksistensialisme, Soren Kierkegaard.

Jauh sebelum menghadapi hal sekarang, sebelum merantau, penulis dihadapkan pilihan bersama resikonya. Belajar Rusia/Jerman/Prancis di Jakarta, Bandung atau Jogja. Penulis kemudian memilih Jogja sebagai rumah dan harus menerima resiko bahwa penulis tak bisa belajar Rusia, bahasa Aksara Sirilik, di Jakarta.

Jatuh-bangun dalam mencapai impian benar-benar menguras tenaga. Akan tetapi dalam pikiran penulis pernikahan adik penulis hanya sekali sementara «course» bahasa bisa diulang. Dari Kierkegaard hingga Ismail-Ibrahim, penulis lebih senang melihat orang lain senang dari pada kesenangan penulis, yang justru bisa menjadi kesenangan bagi diri sendiri.

1) Semakin tinggi tingkatan, semakin tinggi ujian dan mental. 2) Hidup adalah pilihan. 3) Tak pernah ada yang sia-sia dalam setiap pembelajaran tentang proses.

Jangan takut untuk memilih dan menanggung resikonya.

Selamat hari Jumat, hari yang agung.

Atas nama kemakmuran. Au nom de la prospérité.

[Indonesia]

Aku membaca kembali tulisan Hatta tentang ekonomi. Dari keseluruhan tema yang dibahasnya seperti politik atau kebangsaan, aku lebih senang membaca Hatta dalam bungkus ekonomi. Saat ini, kedua mataku menatap tulisan yang pernah aku baca tiga tahun lalu di area perpustakaan UGM, tepatnya Hatta Corner. Singkatnya, dari apa yang dijelaskan oleh Taussig melalui Hatta adalah bahwa kepadatan penduduk berelasi pada ekonomi. Contoh kecil adalah perbandingan antara struktur keluarga seperti Ayah+Ibu+satu anak; Ayah+Ibu+dua anak; Ayah+Ibu+tiga anak; Ayah+Ibu+empat anak; Ayah+Ibu+lima anak dan lain-lain; akan memengaruhi ekonomi itu sendiri. Struktur keluarga ideal bagiku adalah Ayah+Ibu+dua anak (laki dan perempuan). Oleh sebab itu aku tertarik dengan sistem 44tunjangan anak yang dibentuk oleh salah satu negara sosialis yang aku suka, Jerman (1, 2, 3, 4), sa4yangnya faktor bahasa adalah pintu untuk memahami sistem tunjangan anak tersebut. Aku benar-benar kewalahan menjaga ritme tiga bahasa asingku.

[Prancis]

Je re-lis l’écriture de Hatta sur l’économie. De tous les thèmes qu’il discute tels que le politique, l’histoire ou la nationalité, je préfère de lire de Hatta sur l’économie. En ce moment, mes yeux regardent l’écriture que j’avais lue il y a trois ans dans la bibliothèque de l’UGM, Hatta Corner, exactement. En bref, d’après ce que Taussig a expliqué par Hatta, la densité de population était liée à l’économie. Un petit exemple est une comparaison entre des structures familiales telles que un père + une mère + un enfant; un père + une mère + deux enfants; un père + une mère + trois enfants; un père + une mère + quatre enfants; un père + une mère + cinq enfants et autres; aura une incidence sur l’économie elle-même. La structure familiale idéale pour moi est un père + une mère + deux enfants (un garçon et une fille). Je suis donc intéressé par le système de pensions alimentaires pour enfants formé par l’un des pays socialistes que j’aime bien, l’Allemagne (1, 2, 3, 4). Malheureusement, le facteur de langue est la porte pour la compréhension du cet système. Je suis vraiment dépassé par le rythme de mes trois langues étrangères.

1. https://ferizalramli.wordpress.com/2018/01/10/standard-miskin-dan-kaya-orang-jerman/

2. https://denkspa.com/2016/11/13/5-tunjangan-untuk-ortu-dan-anak-di-jerman/

3. http://tinggal-di-jerman.com/2016/08/16/bantuan-atau-tunjangan-dari-negara/

4. https://www.dw.com/id/orang-jerman-tidak-lagi-percaya-sistem-negara-kesejahteraan/a-44994728