Surat Kenangan Untuk Penemu Aspal.

– Untuk WH Hetzel Asbuton, Geolog Belanda.

Pak Buton, ada dua daerah di Indonesia yang ingin penulis kunjungi bersama anak dan istri, nanti: 1) Banda Neira, tempat pengasingan yang malah menjadi surga bagi Hatta-Sjahrir, dan 2) Pulau Buton, tempatmu menemukan sumber daya alam yaitu aspal.

Di Teknik Sipil, di lab aspalnya, sebelum memanaskan aspal, penulis bersama kawan-kawannya diharuskan untuk menyaring aggregat dari ayakan no. ½, ¾, 3/8, 4 (agregat kasar); 8, 30, 50, 100, 200 (agregat halus), dengan memakai standart US—mengapa harus US, mengapa tidak standart Jerman yang dipakai oleh perusahaan Shell? Pertanyaan yang belum mampu penulis jawab, Pak Buton. Dan, kemudian, masuk ke dalam pengujian-pengujian lain seperti pengujian daktalitas (kekenyalan aspal) dan pengujian Marshall.

Pak Buton, entah harus berterima kasih atau tidak, aspal yang kau temukan adalah aspal terbaik di dunia bersama dengan aspal di Pulau Trinidad. Akan tetapi, Pak, penulis membayangkan bagaimana jika seluruh daerah di Indonesia dilalui jalan yang beraspal, dan kita tahu, di sanalah titik masuknya segala investasi melalui sudut pandang mata burung dari para developper. Tentu saja ini bukan salahmu, Pak, kau hanya menemukan. Harusnya ada filter, mana daerah yang harus di aspal dan mana yang tidak melalui sudut pandang mata burung dari para planner. Jika tidak, eksistensi desa, komunitas adat dan para pelajar antropologi akan terancam.

Oh ya, apakah bapak kenal dengan Ir. John Loudon McAdam (Skotlandia), penemu jalan Makadam, yang cerita hidupnya pernah kubaca dalam satu buku tentang sejarah konstruksi jalan raya dari periode mesir kuno hingga periode romawi, dan Pak Telford memodernisasikan pada awal abad ke 18 dan kemudian dirimu, Pak Buton? Tata letak himpitan-himpitan batu-batu kecil yang telah dipadatkan dengan alat berat yang masih bertahan eksis sebelum dilapisi oleh aspalmu, dan serupa dengan lantai dasar di suatu gereja kecil di Prancis yang penulis baca di buku Romo Mangunwijaya. Yang terakhir, Pak Buton, doakan kawan-kawan lelaki penulis yang Nasrani untuk pergi ke gereja lagi, baik yang ditinggal belahan jiwanya atau yang karena beda agama. 😀

(1) Image http://hedvvich.nl/stamreeks-hetzel/wilhelm-heinrich-hetzel/asfalt-buton/

(2) Fisika Bangunan – Mangunwijaya.

Iklan

Linguistik (Pikiran) v Sastra (Perasaan).

Pada menit ke 3:00 di track 7:25, score film dokumenter ‘Zidane, un portrait du 21e siècle’, (1) dari band Mogwai, aku melepaskan headphone Sonyku, setelah berjalan dari halte X. Aku berada di pinggir jalan di daerah kota tua, tempat di mana aku akan bertemu dengan dua kawan perempuanku selama menempuh pendidikan di kota kecil, Nantes, yang dipimpin oleh seorang perempuan dari Partai Sosialis Prancis, Johana Rolland. Kedua perempuan, generasi muda Indonesia, bertemu kembali di satu kedai kopi, di daerah kota tua. Si Sastra, 29 tahun, berambut pendek, style sporty, lulusan dari Akademi Prancis; sementara Si Linguistik, 29 tahun, berambut panjang, style elegan, lulusan dari Institut Prancis. Dan, selama menanti tanda warna merah pada traffic light, aku mencoba mengingat kejadian:

Perdebatan pertama mereka terjadi di koran Le Lyon, mana kala mereka mendebatkan, mana yang lebih penting, pikiran atau perasaan? Si Linguistik membantah dengan mengajukan tesis dari pemikir perempuan Prancis, Julia Kristeva, feminis keibuan, tentang bagaimana pikiran mengontrol perasaan melalui lompatan-lompatan intertekstualitas sehingga menjadikan suatu karya begitu obyektif. Segera, Si Sastra, mengajukan anti-tesis bahwa linguistik terlalu kering apabila tak menyertakan perasaan dalam suatu karya. Sebab, membaca Coelho hanya bisa dirasakan, dihayati, bayangkan bagaimana jika kau bercinta dengan orang yang kau kasihi dan menyuruh, harus begini, harus begitu? Cukup pejamkan mata dan rasakan.

Perdebatan mereka tak hanya dalam area (tu)lisan, melainkan juga dalam area lisan. Dalam Radio France, mereka berdebat tentang aksen Prancis Utara dan Prancis Selatan yang berelasi dengan tingkat pendidikan serta kemiskinan. Si Linguistik, mengatakan bahwa gaya bicara seseorang dilihat dari pendidikan, dan pendidikan mampu mengangkat seseorang dari lubang kemiskinan, dan tak akan lagi ada intonasi-intonasi kasar. Sementara, Si Sastra, melawan dengan justru intonasi kasar diperlukan di wilayah urban yang berpendidikan rendah, agar orang-orang berpunya dari pendidikan tinggi sadar untuk membantu mereka.

Lampu merah berganti dengan lampu hijau, tanda para pejalan kaki bergerak dan kendaraan-kendaraan berhenti. Aku melintasi jalan dan menuju kedai itu. Setelah tiga tahun tak jumpa mereka, kedua perempuan itu, generasi muda Indonesia, bertemu kembali setelah pulang dari negeri anggur. Kedua mataku melihat mereka tertawa bersama dan sedang mengobrolkan sesuatu.

(1) https://en.wikipedia.org/wiki/Zidane:_A_21st_Century_Portrait_(soundtrack) / https://www.youtube.com/watch?v=IJNPDlzF4Wg

(2) Image https://savadaller.wordpress.com/category/bahasa-perancis/page/3/

(3) Image Google Books Cara Mudah Belajar Bahasa Prancis Oleh Ridwansyah

Tentang Waktu (Sur Le Temps).

f20181122_090909

Gunanya belajar kala/waktu dalam setiap bahasa di mana pun, dalam setiap sejarah kapan pun, dalam setiap peristiwa bersama siapa pun: Proses menuju ke satu kata, ‘memahami.’

1) Seorang suami muda yang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan istrinya yang ‘ngidam’ (aksi 1), akan tetapi satu kejadian membuatnya tak bisa memenuhi kebutuhan istrinya yang ‘ngidam’ (aksi 2).

2) Seorang fotografer berkali-kali gagal mendapatkan momen dalam Shutter Speed (a) dan kemudian memahami kejadian sebelum (avant) dan kejadian sesudah (après).

3) Seseorang memposting suatu berita di Kanada (aksi 1), seseorang yang lain memposting suatu berita yang lain di Nganjuk, Jawa Timur (aksi 1), secara bersamaan, dan sama-sama menjadi viral (aksi 2).

4) Seorang pemuda—akan—menggunakan uangnya di tempat prostitusi, seorang pemuda lain—akan—menggunakan uangnya di tempat peribadatan gereja untuk amal, dan kejadian yang belum terjadi sedang menanti.

(a) https://kelasfotografi.wordpress.com/2013/08/26/shutter-speed-dan-penerapannya-dalam-fotografi/?fbclid=IwAR1gdgIIeJkYy_ucU4d9GHKr-FrxyUQoAFevk8bwX72R3xbTTd8qGRzAAtA

L’Agenda douzième jours. 20 Novembre 2018. (trilingual/tiga bahasa).

[Prancis] J’ai commencé aujourd’hui pour continuer mon livre sur la culture d’Allemagne par John Ardagh, un chercheur. Sur le theme d’Allemagne de l’Ouest et d’Allemagne de l’Est en «the one-party State,» en l’anglais et ai souligné, qui est commencée par la page de 388, en fragments de phrases, par exemples:

1) […] those who in Western societies would be opinion-makers or social critics.

2) They had grown used to the system; and most of them had no direct experience of Western democracy (after all, the last free elections had been in 1933). Their concerns were more practical and material.

3) […] But they were careful not to flaunt their modest wealth as they might in the West, for this was still ideologically mal vu […]

4) The failure to report or explain the consumer shortages was just one aspect of a general suppression of information and ultra-selectivity of news in the State-controlled newspapers, radio and television. Any event at home or abroad that embarrassed the regime or went against its policy was passed over in silence or relegated to an inside paragraph.

5) News priorities were entirely different from those in the West, and this was not just a matter of expected political bias but of a different philosophy of the role of the media.

6) […] ‘We know the West will cover this story better than we can, so let’s not mention it.’ The only retort that GDR TV did make to Western competition was to run a programme called Der Schwarze Kanal (black channel) that sought to show up the week’s ‘lies’ and ‘distortions’ on West German TV.

7) This was about as far as ‘public opinion’ had any organised forum. The party rulers would also listen to the views of a kind of institutionalised counter-elite, made up of scientist, academics, managers and senior economic officials who could express their opinions on specialist matters, but must then dutifully execute Politbüro policies.

Après ça, dans le sous-chapitre «Brecht to Biermann: Dealing with Intellectual Dissidents», j’ai noté quelques les nommés des personnes, par exemple:

1) Anna Seghers (Une Romancière); 2) Stefan Heym (Un Romancier); 3) Stephan Hermlin (Un Poète); 4) Ernst Bloc (Un Philosophe); 5) Wolfgang Harich (Un Philosophe de Marxist); 6) Uwe Johnson (Un Romancier); 7) Christa Wolfs (Une Romancière); 8) Ulrich Plenzdorf (Un Dramaturge); 9) Wolf Biermann (Un Chanteur et Poète de Satiriste); 10) Rudolf Bahro (Un Économiste); 11) Günter Kunert (Un Poète); 12) Reiner Kunze (Un Poète); 13) Volker Braun (Un Écrivain Satiriste); 14) Roger Loewig (Un Artiste); 15) Heiner Müller (Un Dramaturge).

Après ça, j’ai appris encore des cours d’allemand sur le niveau A1 et ai lu deux textes dans le livre de cours que j’ai enregistré par un enregistreur sur mon téléphone, sur les pièces de la chambre et la correspondance sous forme d’informel. J’ai avoué que j’étudie de manière incohérente et c’est difficile.

Quelques mois quand j’ai appri l’allemand, je ne faisais plus concentré. A cette époque, je sentais que le programme d’étude de ma langue et ce n’était pas bien arrangé. Ensuite, je pensais que je devais oser admettre mon échec de ce que je faisais, et ce n’étais pas la faute des autres mais c’étais de ma faute.

De cette expérience, je prend les leçons sur le «temps», ce qui est très difficile. Si quelqu’un(e) est capable de maîtriser le temps à travers un très long processus dans la gestion du temps, c’est quelqu’un(e) qui valorise le «temps». Par exemple, s’il fait un accord avec quelqu’un(e) d’autre, alors il vient plus tôt qu’à partir du temps spécifié. Il/elle, qui garde ce temps, ne veut pas décevoir quelqu’un pour attendre, même si lui-même gardera ce temps, et sera piégé dans sa propre attente. Je l’appelle un jeu de temps paradoxal: passé (past), présent (present) et futur (future).

Pour ces cinq années, j’apprends toujours à comprendre sur le «temps». Certains d’entre moi ont réussi, d’autres ont échoué. Je pense que je présente alors quelque chose qui se dit souvent avec: la dualité. Selon Mustofa Bisri (Gus Mus), il n’y a rien de parfait chez l’homme, et la perfection n’appartient qu’au Créateur, Le Dieu.

J’ai la chance d’apprendre (un peu) sur la déconstruction de Jacques Derrida. Il est possible que je fasse la deconstruction sur mon échec dans l’exécution de la gestion du temps d’apprendre l’allemand. Au début, j’ai un plan pour étudier l’allemand par une heure, mais cela n’a fonctionné que quatre mois. Par la déconstruction, je veux le rénover l’interprétation du «temps» sur mon échec et, à venir, je voudrai le changer à quinze minutes, chaque jour, lentement, constamment.

Puis-je? Le temps va se répondre, se répondrai.

*

[Indonesia] Aku memulai hari ini dengan melanjutkan bacaan tentang Kultur Jerman karya John Ardagh, seorang peneliti. Pada tema tentang Jerman Barat dan Jerman Timur dalam ‘the one-party State,’ dalam bahasa Inggris dan aku menggaris-bawahi, yang dimulai pada halaman 388, pada penggalan frasa seperti:

1) […] those who in Western societies would be opinion-makers or social critics.

2) They had grown used to the system; and most of them had no direct experience of Western democracy (after all, the last free elections had been in 1933). Their concerns were more practical and material.

3) […] But they were careful not to flaunt their modest wealth as they might in the West, for this was still ideologically mal vu […]

4) The failure to report or explain the consumer shortages was just one aspect of a general suppression of information and ultra-selectivity of news in the State-controlled newspapers, radio and television. Any event at home or abroad that embarrassed the regime or went against its policy was passed over in silence or relegated to an inside paragraph.

5) News priorities were entirely different from those in the West, and this was not just a matter of expected political bias but of a different philosophy of the role of the media.

6) […] ‘We know the West will cover this story better than we can, so let’s not mention it.’ The only retort that GDR TV did make to Western competition was to run a programme called Der Schwarze Kanal (black channel) that sought to show up the week’s ‘lies’ and ‘distortions’ on West German TV.

7) This was about as far as ‘public opinion’ had any organised forum. The party rulers would also listen to the views of a kind of institutionalised counter-elite, made up of scientist, academics, managers and senior economic officials who could express their opinions on specialist matters, but must then dutifully execute Politbüro policies.

Kemudian dalam sub-bab ‘Brecht to Biermann: Dealing with Intellectual Dissidents’ aku mencatat beberapa nama dari beberapa persona, seperti:

1) Anna Seghers (Novelis); 2) Stefan Heym (Novelis); 3) Stephan Hermlin (Penyair); 4) Ernst Bloc (Filsuf); 5) Wolfgang Harich (Filsuf Marxist); 6) Uwe Johnson (Novelis); 7) Christa Wolfs (Novelis); 8) Ulrich Plenzdorf (Dramawan); 9) Wolf Biermann (Penyanyi dan Penyair Satiris); 10) Rudolf Bahro (Ekonom); 11) Günter Kunert (Penyair); 12) Reiner Kunze (Penyair); 13) Volker Braun (Satiris); 14) Roger Loewig (Seniman); 15) Heiner Müller (Dramawan).

Sesudahnya, aku mempelajari kembali pelajaran bahasa Jermanku di A1 dan membaca dua teks dalam buku kursus yang aku rekam melalui recorder di ponselku tentang bagian-bagian kamar dan surat-menyurat yang berbentuk informal. Aku mengakui bahwa aku belajar dengan tak-konsisten dan itu sungguh sulit.

Beberapa bulan ketika aku telah belajar bahasa Jerman, aku tak lagi fokus. Saat itu, aku merasa bahwa jadwal dari waktu belajar bahasaku yang telah aku susun dalam manajemen waktuku tak tersusun rapi. Lalu, aku berpikir bahwa aku harus berani mengakui kegagalan dari apa yang aku jalankan, dan itu bukanlah kesalahan dari orang lain melainkan adalah kesalahanku sendiri.

Dari pengalaman itulah, aku mengambil pelajaran tentang ‘waktu’ yang sangat sulit. Apabila seseorang telah mampu menguasai ‘waktu’ melalui proses yang sangat panjang dalam manajemen waktu, ia adalah seseorang yang menghargai ‘waktu.’ Contohnya, bila ia melakukan perjanjian dengan seseorang yang lain, maka ia datang lebih awal dari waktu yang ditentukan. Ia, orang yang menepati waktu itu, tak ingin mengecewakan seseorang dengan menanti, meskipun ia sendiri, orang yang (akan) menepati waktu itu, (akan) terjebak dalam penantiannya sendiri. Aku menyebutnya dengan permainan paradoks tentang waktu: Masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

Selama lima tahun ini, aku selalu belajar memahami ‘waktu.’ Sebagian aku berhasil, sebagian aku gagal. Aku berpikir bahwa aku kemudian menghadirkan sesuatu yang sering dikatakan dengan: dualitas. Tak ada yang sempurna dalam manusia, kata Mustofa Bisri (Gus Mus), dan kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta.

Aku beruntung belajar (sedikit) hal tentang dekonstruksi dari Jacques Derrida. Itu mungkin bahwa aku melakukan dekonstruksi pada kegagalanku dalam menjalankan manajemen waktu dari belajar bahasa Jerman. Awalnya, aku memiliki rencana belajar bahasa Jerman dalam kurun waktu satu jam dan hanya berhasil empat bulan. Melalui dekonstruksi, aku ingin merenovasi ulang tafsiran tentang ‘waktu’ pada kegagalanku dalam menjalankan manajemen waktu dari belajar bahasa Jerman dengan mengubahnya menjadi lima belas menit, setiap hari, secara pelan-pelan, dengan konsisten.

Bisakah aku? Waktu yang akan menjawab dirinya sendiri.

Tears Seven Times Salt.

20181117_103956

– Seni bertahan, tips dan trik untuk calon puteriku nanti.

Di Malang, calon bapakmu punya segalanya, bisnis keluarga, mobil dan orang tua yang mendukung. Tapi saat di posisi umur 25 tahun, calon bapakmu memang telah memutuskan langkah hidupnya. Ia, calon bapakmu, memutuskan untuk keluar rumah, belajar mandiri.

Tapi sebelum keluar rumah, calon bapakmu telah berpikir untuk membagi masa hidupnya dalam dua periode, dua planning, jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek dari umur 25 ke umur 30, dan jangka panjang dari umur 30 ke umur 35.

Sekarang ini, di tahapan umur 25 ke umur 30, calon bapakmu sedang menghadapi masa sulitnya, berkelahi dengan situasi, di Yogya. Studi, sekaligus bekerja, tak mudah dilaksanakan. Dari pengalaman itu, ada bea untuk pendidikan dan bea untuk hidup. Oya, jangan lupa, yang terpenting, atur manajemen waktu: kapan belajar, kapan bermain, atau malah belajar sambil bermain.

Omong-omong, hal paling gila yang dilakukan oleh calon bapakmu adalah makan abon, sambal dan nasi, selama empat hari hanya untuk membeli buku, makanan bagi pikiran. Andaikan calon nenekmu dan calon kakekmu tahu pasti marah besar.

Kerjakan apa yang bisa dikerjakan lebih dulu, jangan meminta tolong kepada orang lain sebelum kamu melakukannya, bila telah melakukan sesuatu dan kesulitan, barulah meminta bantuan orang lain, pelajari juga bagaimana orang lain itu memecahkan masalahnya. Semoga pengalaman singkat calon bapakmu ini, bisa kamu gunakan ketika mengambil studi di Jerman atau di Prancis, nanti.

Cukup sekian, Nak. Salam dan doakan, calon bapakmu dan calon ibumu yang manis itu, mampu menghadapi segalanya.

[] Judul diambil dari lagu instrumental band metal/hardcore Undying, Tears Seven Times Salt (1), yang serupa dengan karya Hamlet dari Shakespear (2).

(1) Tears Seven Times Salt – Undying https://www.shazam.com/track/61132358/tears-seven-times-salt

(2) O heat, dry up my brains! Tears seven times salt https://www.sparknotes.com/nofear/shakespeare/hamlet/page_248/

Alam: Budaya Layar.

 

Setelah seminggu tak berkunjung ke Lembaga Indonesia-Prancis, tempat yang terlalu nyaman dan tempat dari beberapa penulis Indonesia yang kini telah mewarnai dunia tulis menulis di Indonesia. Di tempat ini pula, generasi 60-an mengenalnya dengan Le Centre Culturel Français de Yogyakarta, generasi 80-an mengenalnya dengan Lembaga Indonesia-Prancis dan generasi sekarang dengan Institut Français.

Kantin baru hadir dan sempat bersua dengan food writer dan chef, Éric Kayser, menggantikan kantin lama yang pernah diisi oleh Mbak Sarah, istri Eros S07. Mengurus administrasi untuk tingkatan B2, tingkatan untuk anak-anak Ilmu Sosial dan Sastra/Bahasa dan untuk Anak Teknik cukup tingkatan B1, dan menjumpai buku foto beserta petikan dari Sylvain Leroy, ketika melangkahkan kaki di beberapa gunung di Jawa, sempat terkenang seseorang dan kawan-kawan di Jawa Timur saat mencicipi track gunung Jawa Tengah yang memiliki tingkat kemiringan yang mengerikan bagi yang telah mencicipi track gunung Jawa Timur yang sangat, sangat panjang dan menjenuhkan.

Setelah mengurus administrasi, melihat papan acara dan, wow, bulannya film dokumenter. Dulu di festival film dokumenter 2016, ketika diputar di Gedung Kesenian Societet Militair – Taman Budaya Yogyakarta, pernah menyaksikan satu film dokumenter, 1880 MDPL, sutradara Riyan Sigit Wiranto dan Miko Saleh (Aceh), tentang kehidupan para transmigran yang cukup pelik (1).

Kejadian kemarin menyuruh mengingat judul lagu dari band shoegaze Yogya, Lazy Room: Take Me Home (2). Salam sayang dan rindu dari Yogya, buat kamu.

(1) https://www.kompasiana.com/ammycheery/5b964afdab12ae7434611086/1880-mdpl-sebuah-film-dokumenter-tentang-himpitan-ekonomi-dan-pemenuhan-cinta?page=all / https://ffd.or.id/film/1880-mdpl/ / trailer: https://www.youtube.com/watch?v=zwHTdFMA5iw

(2) https://www.youtube.com/watch?v=QFKrcWHRWhI

Klub Pandhita Jalanan (1).

Etre-et-avoir

– Cerita pendek dipersembahkan untuk pemikir kecil. Terinspirasi dari film pengajaran pedagogi, To Be and To Have (Être et Avoir). (2)

Persona dan Pesona:

MLG, perempuan 25 tahun, Chef Masakan Tradisional dan Novelis.

JKT, lelaki 34 tahun, Ekonom Muda, Analis Politik dan Filsuf.

BDG, perempuan 29 tahun, Arsitek dan Musisi.

YGY, lelaki 29 tahun, Pemerhati Budaya, Petani Muda dan Wirausahawan.

SBY, lelaki 30 tahun, Ilmuwan dan Olahragawan.

Di dua gazebo yang digabungkan terdapat satu perpustakaan mungil yang menyimpan koleksi beragam tema, rak kaset, CD dan DVD, tepatnya berada di halaman depan, di rumah yang besar dan nyaman dari BDG, perempuan 29 tahun, seorang arsitek kotemporer dan musisi, anak dari salah satu guru besar di satu universitas di Kota Kembang Bandung. Di rumah bergaya kolonial itulah, tahun kelima dari lingkaran kecilnya diadakan bersama keempat kawannya: MLG, perempuan 25 tahun, chef masakan tradisional dan novelis, dari Kota Bunga Malang; JKT, lelaki 34 tahun, ekonom muda, analis politik dan filsuf, dari ibukota; YGY, lelaki 29 tahun, pemerhati budaya, petani muda dan wirausahawan, dari Yogyakarta; dan SBY, lelaki 30 tahun, ilmuwan dan olahragawan dari kota pahlawan Surabaya.

Di tahun pertama, tepatnya di Ibukota, JKT mengumpulkan kawan-kawan seperjuangannya di satu Institut Bahasa. Tak jauh dari Pasar Santa Jakarta, terdapat satu tempat kopi. “Inilah saat kita membentuk sesuatu sesuai dengan kemampuan kita masing-masing setelah kita mendalami bidang kita masing-masing di Luar Negeri,” buka JKT dalam lingkaran kecil itu, penggemar kitab Al-Hikam dan Ibnu ‘Atha’illah. (3) Berbagai perdebatan dalam konsep, struktur organisasi dan cara pelaksanaan program yang berlangsung sengit. Dari empat angka dalam vote, JKT terpilih menjadi ketua yang demokratis. Dan JKT bertanya pada MLG:

“Sebagai novelis dan seorang chef, apa yang bisa kamu munculkan?”

“Aku ingin mengangkat makanan-makanan yang berada di daerah terpencil seperti gula merah di daerah pangandaran beserta jejak historisnya (4),” tegas MLG.

“Baiklah, aku catat. Lalu YGY, sebagai pemerhati budaya, petani muda dan wirausahawan, adakah yang kau munculkan atau malah ingin menanggapi ide dari MLG?”

“Oke,” jawab YGY dengan membenarkan lengan flanel-nya, dan melanjutkan, “Untuk ide dari MLG, kita bisa menggunakan platform atau start-up untuk mengangkat brand gula merah. Sementara, di Yogya, aku ingin membentuk ekonomi desa seperti para petani di Denmark atau Belanda (5).”

“Apakah ada kesamaan antara petani Indonesia dengan para petani di Denmark atau Belanda?” tanya SBY pada YGY.

Terdengar lagu W.T.P dari Eminem: Now, get up, dance! But everyone knows that no one likes to be alone / So get on the floor and grab somebody!

“Secara pragmatis, hanya berbeda material antara gandum dan padi. Akan tetapi aku hanya menitik beratkan pada sistem yang kupelajari di Belanda tentang fokus di desa induk, interaksi intragroup, terstruktur bersama pemerintahan komunal yang kuat, gereja aktif, endogami, dan kerjasama ekonomi tingkat tinggi. Bagaimana?” tanya YGY sambil menoleh ke perempuan idamannya, BDG, perempuan 29 tahun, arsitek dan musisi.

Silangan kaki berpindah dari kanan ke kiri, dan BDG dengan balutan long john dan anakara dobby blubirin shawl (6), membalas, “Kita bisa memakai konsep Desa Masa Depan untuk wisata edukasi dengan menggabungkan idea MLG dan YGY (7).”

“Oke, dari MLG, ke YGY, lalu ke BDG. Bagaimana denganmu SBY?”

Lagu Resist dari Motek di album Port Sunshine memenuhi ruangan itu. (8)

“Oke, untuk membentuk itu semua, aku akan gunakan jaringan akar rambat dalam teknologi. Namun kita semua tahu, tanpa dana, program tak akan berjalan, kan?”

JKT kemudian bicara, “Baiklah, aku akan mencari sponsor dan kuambil dari sebagian keuangan perusahaanku. Tapi kita tahu, dalam analisaku, empat tahun awal langkah kita tak akan mulus. Dan perlu ada koreksi dan evaluasi sistem. Dan kira-kira, apa nama yang tepat untuk lingkaran kecil kita ini?”

“Karena selama menempuh pendidikan di Luar, kita semua adalah Homeless, bagaimana dengan ‘Pandhita Jalanan’,’ sela MLG, perempuan berambut pendek itu. Empat angka dalam vote pemilihan nama itu.

*

Tahun kedua di gelar di tempat MLG dengan permasalahan pendanaan. Tahun ketiga di gelar di tempat SBY dengan permasalahan pemantapan program. Tahun keempat di gelar di tempat YGY dengan permasalahan pelaksanaan beserta penerimaan anggota muda. Dan kini, tahun kelima setelah mampu berdiri dengan kaki mereka sendiri, dan bersiap untuk membesarkan ‘Klub Pandhita Jalanan’ serta menjadi jembatan dengan menggandeng para generasi tua bersama pengalaman mereka, yang diadakan di dua gazebo yang digabungkan terdapat satu perpustakaan mungil yang menyimpan koleksi data beragam tema, rak kaset, CD dan DVD, tepatnya berada di halaman depan, di rumah yang besar dan nyaman dari BDG, perempuan 29 tahun, seorang arsitek kotemporer dan musisi, anak dari salah satu guru besar di satu universitas di Kota Kembang Bandung, di rumah bergaya kolonial itu.

(1) The five sciences are: science of language (śabdavidyā), science of logic (hetuvidyā), science of medicine (cikitsāvidyā), science of fine arts and crafts (śilakarmasthānavidyā), and science of spirituality (adhyātmavidyā) https://en.wikipedia.org/wiki/Pandita_(Buddhism)

(2) Movies that Will Inspire You: Learning to See the Child Who is Not Yet There Film 2 – To Be and To Havehttp://ageofmontessori.org/to-be-and-to-have/ | https://www.youtube.com/watch?v=4_pHFtObb4A

(3) https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Atha’illah_as-Sakandari

(4) http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/02/26/gula-semut-dari-pangandaran-menembus-eropa-394596

(5) In phase one of this social history, Dutch intragroup interaction was intense and well-structured, characterized by a strong communalistic government, an active church, endogamy, and a high degree of economic cooperation. The social life of the Dutch of the whole area focused upon the mother village. https://anthrosource.onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1525/aa.1958.60.4.02a00060

(6) https://www.fajarindonesia.my.id/rendahnya-harga-anakara-dobby-vinola-shawl-di-dalam-negeri/

(7) https://www.dw.com/id/konsep-desa-masa-depan/g-36246609

(8) https://www.discogs.com/artist/917173-Motek-2

L’Oral (Lisan).

a20181109_183355

– Buat bapak di Malang, dari puteranya yang amat pembangkang.

Para penggemar Eka Kurniawan, pasti kenal Prof. Etienne Naveau. Ya, Prof. Etienne Naveau adalah pengajar Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas INALCO Paris, sekolah bahasa untuk bahasa-bahasa di luar Frankofon, yang menerjemahkan ke dalam bahasa Prancis (1). Inalco, tak hanya mempelajari bahasa Indonesia (2), bisa juga bahasa Mandarin atau bahkan bahasa Arab. Di dalam site-nya, konteks Arab dan peradaban, tertulis seperti ini:

Les communautés linguistiques arabes pratiquent deux variétés d’arabe, l’une essentiellement à l’écrit, l’arabe dit littéraire ou littéral, l’autre essentiellement à l’oral, les arabes dialectaux, variant d’un pays à l’autre. Ce sont ces deux variétés de langue qui, indissociablement, font leur identité.

[Komunitas linguistik bahasa Arab mempraktekkan dua jenis bahasa Arab, tulisan, sastra atau sastra Arab, yang pada dasarnya dialek secara lisan, dialek Arab, bervariasi dari satu negara ke negara lain. Kedua jenis bahasa inilah yang, secara tak terpisahkan, membuat identitas mereka.] (3).

Dulu penulis, sebelum mengecap bahasa Prancis, sempat melakukan romantisme antara ayah dan anak lelaki dengan belajar bahasa Arab bersama, khususnya tajwid dalam Quran, dan kita pun tahu bahwa relasi anak lelaki dan ayah kerap kali berseberangan pikiran, dan waktu bersama pengalaman akan memberikan satu kesimpulan berupa pemakluman. Sayangnya, minat ketertarikan penulis terhadap Prancis, sejak 1998, jauh lebih besar daripada mempelajari kembali Arab secara intens seperti ketika penulis berada di pondok pesantrennya dulu. Quran yang penulis baca ini sedikit demi sedikit, lima hingga sepuluh ayat, namun dengan konsisten, seperti pengganti sosok ayah. Di dalam bahasa Jawa Tengah dan Yogya ada ekspresi, “Mak jegagik.” (4). Dan bila tajwidnya dilisankan dengan benar, maka akan tampak indah, seperti suara surga dari Isyana Sarasvati nyanyi di soundtrack film Critical Eleven (5) atau seperti suara surga kak Dina Adinda berlisan bahasa Prancis (6).

(1) https://www.amazon.co.uk/belles-Halimunda-Eka-Kurniawan/dp/2848052287

(2) http://islandsofimagination.id/web/articles/diskusi-di-inalco / http://nationalgeographic.grid.id/read/13304536/kemesraan-indonesia-dan-prancis?page=all

(3) http://www.inalco.fr/langue/arabe-litteral

(4) https://haryantoruz.wordpress.com/2008/05/26/kekayaan-bahasa-jawa/

(5) https://www.youtube.com/watch?v=y8JnipoOcU4

(6) https://www.youtube.com/watch?v=kR0X8GCSo3s

L’Agenda Onzième Jours. 7 Novembre 2018.

Aujourd’hui j’ai écrit sur l’existentialisme de Søren Kierkegaard, un philosophe en Danemark, par exemple, quand je recois l’emploi l’un des entreprises de la France bien que je gagne le grande salarie mais ce n’est pas ma passion! Je pense que je préfère au début éprouver des difficultés à apprendre beaucoup des choses des lecturers et researchers et je serai ensuite un enseignant ou un chercheur. Il y a deux sujet à la et je dois choisir entre eux, c’est le devoir! Enfin, les choix sont apparaitre un risque et je dois oser pour faire face la douleur. C’est sur la lutte, sur le choix qui vient un risque et un défi pour produire un amour éternel. J’ai étudié le français depuis 2015 et j’ai connu sur la douleur avec le silence. Je veux être une personne utile pour les gens que j’aime.

Vivre, Libre: Sistem Remisi Penjara Dengan Membaca Buku.

: Buat Mama, seorang pendidik tangguh di salah satu penjara perempuan di Malang.

Clairvaux, Lembaga Permasyarakatan oleh Jacques Drillon.

Di rumah pusat Clairvaux, para pembunuh dan para pencuri bank menuliskan teks yang tersusun dalam musik melalui para komposer besar. Suatu pengalaman unik.

Di Clairvaux, di Aube, para tahanan mereka saling mulai untuk menulis. Itu telah dilakukan selama tujuh tahun, di pusat itu di mana mereka terkurung dalam ‘kalimat yang sangat panjang,’ di mana mereka meluncurkan kenangan tentang Buffet dan Bontems, guilotin di bawah Pompidou, tentang teroris Carlos, dan juga Claude Gueux, Victor Hugo yang membuat sosok yang tak terlupakan, mereka mengetik di atas komputer mereka: puisi-puisi, cerita-cerita, solilokui-solilokui, dan bahkan tuduhan-tuduhan…Oh, tak semua, adakalanya ada dua belas orang, saat ini, tujuh orang. Ada juga yang telah mengalahkan obat-obatan, yang tak bicara apa-apa lagi atau menjadi gila, atau masih saja ada ‘yang tak meninggalkan sel mereka dan lebih senang membaca’, kata seorang penjaga. Salah satu dari mereka, Hadi, menulis dengan kegetiran: “ Clairvaux memiliki sejarah panjang dan besar.” Itulah kebenaran: sebuah biara Cistercian yang didirikan pada abad ke-12, berbalik menjadi penjara pada tahun 1804. Mereka beberapa ribu di Clairvaux. Kita menyusuri sel kolektif lama, 8 meter kali 6, dengan 30 jenis di sana (bayangkan dari kepanikan pengunjung). Kita juga melihat, bangunan-bangunan setelah diganti menjadi sel-sel individu, karena paling tidak jalan tahanan mudah, ‘kandang ayam’; sel besi dengan 2 meter kali 1.50 meter (bayangkan keheningan, terkejut dengan takjub), yang beroperasi hingga tahun 1970. Anda baca benar-benar: 1970.

Sejak, bagian-bagian dari gereja lelaki telah menyerahkan ke Kementrian Kebudayaan, dua bangunan tahanan telah dibangun. Demikianlah jejak-jejak dari peradaban yang paling tinggi, kelas persegi yang elegan dan bangsawan, ruang makan pendeta bersama kubah indah dari batu putih dan deretan pillar sempurna mereka, dan kemudian dinding-dinding penjara yang tinggi, ‘jalan-jalan setapak’ mengelupas, gerbang-gerbang, palang-palang, teriakan-teriakan, kawat-kawat berduri dan jaring-jaring, 140 kriminal besar yang memproduksi sepatu para penjaga tahanan Prancis, selama lima belas, dua puluh, tiga puluh tahun dari kehidupan mereka—ketika itu tak jelas.

Itulah di sana tentang Anne-Marie Sallé, seorang ‘perempuan kecil dengan suara yang jelas dan kurus, kedua mata tersenyum, senyuman yang berseri-seri,’ seperti yang ditulis oleh Francois, si tahanan, yang memulai menciptakan suatu festival (2004): beberapa konser di gereja lelaki. Pemain biola, Régis Pasqueir, telah diterima, dan juga si pianis François-René Duchable, ‘pada kondisi permainan juga di bagian dalam penjara,’ kisahnya. Dan selanjutnya dia mengundang seorang komponis ke residen. Dan menawarkan kepadanya untuk membekalinya teks-teks yang akan ditulis oleh para tahanan, dan bahwa ia menempatkan ke dalam musik untuk festival musim semi. ‘Dengan dukungan direktur, Gilbert Blanc, ceritanya, jadi kita mulai dengan menempatkan ke workshop penulisan, pada tahun 2007. Aku tak tahu di mana aku akan pergi, dan para tahanan bertanya padanya juga…Blanc telah membantuku untuk mengusulkan workshop pada para tahanan yang barangkali tertarik. Ia menunjukkan kebaikan dan efisiensi. Direktur selanjutnya banyak membantuku, khususnya telah mengijinkan eksposisi fotografi yang mana para tahanan telah ambil. Dan sekarang ini, Dominique Bruneau, adalah sangat menyenangkan pada seluruh aksi kebudayaan. Ia mengatakan bahwa aksi kebudayaan menyenangkan bagi tahanan.’ Komposer Thierry Machuel bekerja di Clairvaux selama empat tahun, selanjutnya Phillipe Hersant, pada tahun 2012. Anne-Marie Sallé, tak kenal lelah, enerjik dan menyenangkan, tak pernah dibodohi baik dari administrasi penjara atau pun tipu daya para tahanan, telah berjalan melewati berbulan-bulan dari jaring-jaring di Clairvaux yang tak terhitung, untuk mengumpulkan teks-teks mereka. ‘Kami adalah enam anak muda yang berada sedikit di depan perempuan itu,’ (Djamel, 23 tahun, yang mana tiga belas tahun diisolasi). Demikianlah kita menciptakan karya-karya mengagumkan dan mengerikan di depan publik di konser itu. Yang mana, film-film, telah disiarkan ke dalam ‘koridor kedatangan,’ di bagian dalam penjara, untuk tahanan. Itulah suatu tempat yang mengerikan, sound yang mengerikan, area bagian atas tangga yang besar yang berbatasan dengan sel dan kamar. Tapi itulah di sana bahwa adakalanya kita menampilkan film-film, itulah di sana memainkan para musisi. Dan itulah di sana, dalam ‘ruangan aktivitas’ didekorasi oleh para tahanan dari workshop melukis, langit-langit berwarna biru, bersama awan-awan putih, yang mana saling mempertemukan para penulis dan Anne-Marie Sallé.

Pada hari itu, mereka berenam: Djamel, Sébastien, Tonio, Manu, Hadi, Dumè. Para pembobol bank, para pembunuh, para teroris. Salah satunya mendapatkan [hukuman] 25 tahun, seorang pelaku. Waktu berlalu bagi mereka, hari-hari seakan sama. (Pasquier mengatakan bahwa konser tahunannya di bagian dalam penjara adalah ‘jam besar yang beritme bertahun-tahun’.) Mereka datang bersama kertas-kertas di tangan. Mereka membaca. ‘Dalam tabrakan dari kenangan-kenanganku’…’masa lalu tak dapat diubah, melainkan tak bisa diperbaiki.’ Tonio telah menulis tentang suatu potret diri, dia melihat dirinya dengan batu es: ‘aku mengunci caranya di mana/selanjutnya dalam satu sudut, aku mencair.’ Kita memiliki kerongkongan yang saling menegang. Seringkali anak-anak muda ini yang tak lagi anak-anak kecil altar bicara tentang burung, kupu-kupu, bunga-bunga kecil. Sangat, jejak-jejak kebebasan yang sangat tipis. Mereka membuka jendela: ‘burung-burungku, para tahananku suatu waktu’, tulis Dumè. Kenapa mereka menulis? ‘Awalnya, balas salah satu di antara mereka, itulah untuk Anne-Marie. Dan selanjutnya aku telah melihat bahwa itu membuatku baik, aku melanjutkan. Orang-orang lain adakalanya cemburu, mengesalkan.’ Sebastien menulis: ‘Pandangan-pandangan yang memiliki rasa buruk.’ Tak masalah, lanjutnya: ‘aku tak bebas, tapi paling tidak aku bicara.’ Penjara, dengan hiruk-pikuk yang permanen, adalah tempat yang tenang.

Itulah kenapa mereka membicarakan segalanya dalam waktu yang sama. Terdengar kembali, kita tak mendengarnya lagi. Mereka membawamu sebagian, ingin bercerita pada mereka tentang ‘tragedi kecil Yunani’ (Djamel). Selalu dalam hal yang sama: penghakiman, remisi, misi untuk keluar, membayar ganti rugi hak-hak sipil. Mereka bercerita tentang pandangan tak bersahabat dari seorang pengawas, suatu kesalahan dari administrasi, penolakan izin. Ketidak-adilan membuat mereka berontak, kesewenang-wenangan membuat mereka sakit. Mereka ingin sekali membayar kesalahan mereka, tapi tak punya satu sou—satu receh—lagi.

Tuhan, ruangan ini hangat sekali! Tak ada apa-apa lagi disebelah sel’, balas kami padamu. ‘Dalam kasus lain, di sini, inilah suatu ‘pourrissoir’: kita menempatkan anda di sana, kita meninggalkan anda di sana, anda tak hidup lagi.’ dan bagaimanapun, hari ini, editor kami ada di sana, karena teks mereka lebih dari selembar kertas A4, lebih dari nyanyian musik melalui chorus-chorus yang menyenangkan: mereka membuat suatu buku. Mereka menampilkan suatu project, para model. Para tahanan mendengarkan, dengan kebanggaan yang sederhana. Kita telah men-shoot suatu film yang indah tentang mereka…

Ketika muncul suatu festival, satu atau dua orang diijinkan untuk melintasi tembok, melakukannya dalam beberapa meter, sampai ke gereja lelaki, untuk mendengarkan ‘karya-karya mereka, dibingkai oleh seorang sutradara, yang bertanggung jawab pada SPIP (service pénitentiaire d’insersion et de probation), kapten penjara, polisi keamanan dengan pakaian biasa…’ Sebagian dari lelaki itu, aku adalah anonim di antara 4000 orang’, tulis salah satu dari mereka. Tiga jam setengah, ia menghitung….Temannya ada di sana: “Berdampingan, bergandengan tangan.”

Praktik menulis, sebagai jaminan ‘perilaku baik’, apakah itu memberikan hak untuk pengampunan hukuman? Vonis hukuman, pengrajin rambut, pemakluman djinne (komunitas Afrika-Amerika), sepatu runcing yang panjang, menjatuhkan jawabannya: ‘Sisa, lima hari?’

Remisi.

Satu buku, empat jam oleh Anne Bragance.

Di Brasil, remisi diberikan dengan merangkum buku. Seorang novelis ingin mengaplikasikan metode itu di Prancis.

Novelku dalam pelajaran menulis dinjak-injak, aku merasa sangat kosong dan sedih, di sore hari, di bulan Desember 2013 itu bahwa, begitu sedikit pemirsa yang aku kenal, aku menyalakan televisi. Arte mengusulkan satu dokumenter tentang penjara Catanduvas, di Brasil, dan bagiku ini merupakan kebangkitan rohani karena seseorang mengajukan kepada para tahanan “penebusan dengan bacaan” sejak tahun 2009. Sistem yang bekerja ini untuk kepentingan tahanan dan penjara secara keseluruhan karena ada perbaikan atmosfer yang jelas: Resesi kekerasan dan malam hari yang begitu tenang dan membawa kesadaran tentang kejahatan mereka bersama siapa yang menerima partisipasi dalam kehidupan. Metodenya adalah dengan memberikan buku pada awal bulan kepada mereka yang menginginkan: jika dia memberikan rangkuman setelah membaca, ia mendapat empat hari pengampunan. Setelah satu tahun dia akan memenangkan 48 hari dan untuk beberapa tahanan yang telah menerima hukuman yang panjang, sekitar tiga puluh tahun dan hampir empat tahun bebas! Aku senang karena penyelamatan melalui membaca ini adalah keyakinanku: sepanjang hidupku, buku-buku telah menghibur dan menyelamatkanku.

[] Brazil Prisoners Read Books to Cut Jail Sentences https://www.youtube.com/watch?v=8-JQ3sY2Vi4

[] Clairvaux, Lembaga Permasyarakatan oleh Jacques Drillon; dan, Satu buku, empat jam oleh Anne Bragance, dialih-bahasakan dari majalah Prancis, Le Nouvel Observateur, edisi Juli 2014.