Surat Untuk Mama (4): Belajar Mendengar.

All you have to do is listen – August Rush Trailer (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7)

Di zaman ini, Ma, ketika semua orang memiliki hak untuk bersuara, namun sedikit orang yang memiliki kewajiban untuk mendengar. Dalam tataran yang lain, tugas seorang Interpeter (Penerjemah Lisan) tak hanya bicara sebagai jembatan antara bahasa asli ke bahasa tujuan, melainkan juga mendengar.

All you have to do is listen, kata August Rush. Dan dalam scene terakhir film itu, si ayah yang mendengar anaknya memainkan musik dan si ibu mendengarkan anaknya memainkan musik, dan si ayah dan si ibu telah terpisah beberapa tahun: Akhirnya mereka bertemu.

Menjadi seorang pendengar yang baik tak hanya dilakukan dalam semalam, perlu waktu panjang, hingga batas kelelahan, yang mengajarkan kita untuk mendengarkan:

“Berhentilah, ambil nafas dan lanjutkan.”

(1) https://www.youtube.com/watch?v=nRGYeyS1jzw

(2) https://www.youtube.com/watch?v=1j7eCwstWlw

(3) https://www.youtube.com/watch?v=r2K5IcpZEU4

(4) https://www.youtube.com/watch?v=RG-PXr7sces

(5) https://www.youtube.com/watch?v=hY-nr6q0gnQ&t=6s

(6) https://www.youtube.com/watch?v=VcrXhnIet6o

(7) https://id.wikipedia.org/wiki/August_Rush

Iklan

Surat Untuk Mama (3): Dari Zola, Ke Distribusi Pangan, Hingga Resep Mudah.

– Sekaligus persembahan atas pengalaman hidup yang tak ternilai untuk kawan-kawan Pasar Kotalama (Malang), Pasar Merjosari (Malang) dan Pasar Demangan (Yogyakarta).

Hari ini aku meminjam roman dari Zola yang berjudul, La Ventre de Paris (Perut Kota Paris). Judul ini punya makna implisit bahwa pada zaman ketika Zola, pencetus kata ‘Intelektual’, menulis tentang seluruh bahan pangan untuk warga Paris (sebut: Parisian) berada di pasar tradisional Les Halles dan kemudian disebarkan ke restoran atau kafe sebelum diolah untuk mencapai perut orang-orang Paris. Aku menduga, dan bisa salah, bahwa dari roman ini juga terlahir istilah: Gastronomi.

Untuk melihat secara sekilas apa yang hadir dalam roman/novel La Ventre de Paris (Perut Kota Paris), kita bisa membayangkan formasi yang rumit dan terstruktur dari hulu ke hilir. Ijinkan aku memunculkan skema distribusi pangan seperti ini, Ma :

1) Petani-Pengecer Lokal-Konsumen;

2) Petani-Pedagang Pengumpul-Pengecer lokal-Konsumen; atau

3) Petani-Pedagang Pengumpul-Pedagang.

Dari distribusi pangan kita bisa perpanjang ke makanan dan masakannya, Ma. Dalam satu kelas, aku bersama kawan-kawanku dihadirkan satu tema bahasan tentang recette facile, resep mudah. Nah, resep mudah ini berguna bagi para pelajar Indonesia yang sedang merantau. Oleh sebab itu, keahlian memasak adalah kunci. Prancis adalah salah satu negara dengan budaya yang fanatik pada makanan, dari makanan yang berat hingga yang ringan seperti cake atau bakery. Dan yang membuatku menggelengkan kepala adalah ada satu sekolah yang khusus didedikasikan untuk makanan seperti Le Cordon Bleu.

Dari resep mudah itu pula, aku memiliki suatu pandangan nantinya bahwa aku harus bisa memasak seperti katamu beberapa tahun lalu bahwa bagimanapun seorang lelaki juga harus bisa memasak apabila dihadapkan pada situasi ketika memiliki seorang calon istri yang tak bisa memasak, dan itu normal untuk era post-emansipasi, era setelah emansipasi, sebab pilihannya untuk menjadi wanita karir; lalu kumunculkan lagi pandangan yang lain ketika memiliki seorang calon istri yang bisa memasak yaitu dengan membuat satu rumah makan dengan menu oriental (ketimuran) dan oksidental (kebaratan), atau bahkan campuran antara oriental dan oksidental. Seorang chef, dalam video di YouTube, pernah berkata bahwa memasak adalah keintiman dalam bentuk lain dari relasi antara lelaki dan perempuan. Aku menangkap pesan itu dan menerjemahkannya menjadi seperti ini, Ma, bahwa yang tadinya memiliki satu masalah, dan itu wajar dalam setiap rumah tangga, bisa diminimalisir dengan memasak.

Ada banyak hal yang ingin kutulis tentang masakan dan makanan, seperti politik bahan pangan (1) atau arsitektural yang berkaitan dengan masakan dan makanan seperti restoran, kafe, warung yang pernah kutulis di Radar Malang, dan senang rasanya melihat usaha keras untuk menuliskan sesuatu selama bertahun-tahun dan menembus media di Indonesia yang ternyata sukarnya bukan main; dan hal terakhir, aku beruntung dilahirkan dari seorang ibu yang pandai memasak sepertimu, Ma. Aku masih ingat benar buku-buku resep masakan yang tertata di rak buku rumah.

Jangan lelah untuk membuatkan sambal khas dari terasi Sidoarjo yang terkenal itu ya, Ma. Peluk dan cium dari putramu.

(1) http://travel.radarmalang.id/catatan-mencari-celah-baru-pasar-tradisional-sebagai-potensi-wisata/

Surat Untuk Mama (2): Université Savoie Mont Blanc, Universitas Tentang Gunung dan Ekologi.

– Untuk alam, untuk kita dan untuk cinta.

Sam Miller pernah menyutradarai film tentang bencana alam, Ma, yang bertajuk tentang Krakatoa: The Last Days. Yap, Gunung Krakatau yang berada di antara Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra pernah membuat langit Eropa gelap gulita, dan tentu saja berdampak pada perekonomian, karena angin membawa kumpulan abu ke Benua Biru itu pada tahun 1883. Dalam film dokumenter itu, putramu menyaksikan satu keajaiban Tuhan yaitu bagaimana hewan-hewan memiliki insting yang lebih peka terhadap bencana dari pada insting yang dimiliki manusia. Betapa adilnya, Tuhan.

Gunung tak hanya bercerita tentang kejadian alam, namun juga peperangan hingga ditransformasikan pada produk/alat gunung. Perang Dunia ke 2, memunculkan produk-produk gunung, yang kemudian dipakai oleh pihak militer, khususnya Prancis, seperti Salomon atau Lafuma, yang sering kulihat bersama kawan-kawanku di Gunung Semeru, yang telah tiga kali kudaki, dan sekali nyaris mencapai puncak—dan tak mudah mencapai puncak, Ma, kita diharuskan berangkat pukul 1 dinihari dari Kalimati hingga mencapai puncak sekitar pukul 5, dan pada pukul 7 (pukul 9?) pagi terdapat gas beracun dan pendaki harus turun, dan itu tergantung dari bagaimana kita berjalan, sebab setiap orang memiliki tenaga yang berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat.

Dari film, sejarah perang, produk gunung bahkan menikmati alam, ternyata gunung juga perlu suatu edukasi dan penelitian. Orang Indonesia yang berhasil mencatatkan namanya dalam alam penelitian di Prancis adalah Pak Surono (ITB, Mechanique Mileux Geophysique et Environment, Universitas Grenoble, Universitas Savoei, Chambery), mantan Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM (1, 2). Ya, Universitas Savoei adalah universitas yang mengkaji pada tematik interdisipliner: studi pegunungan, energi matahari, fisika, dan teknik mekatronik. Universitas ini pula menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga besar yang memiliki laboratorium mengagumkan seperti CNRS, INRA, CEA, IRSTEA, dan bahkan  CERN di Jenewa, Swiss, suatu lembaga yang pernah kulihat dalam film tentang superhero yang patah hati: Smallville dalam pertarungan kisah cinta segitiga antara Clark Kent (Anak Petani) dan Lex Luthor (Seorang Konglomerat) dalam memenangkan hati si manis Lana Lang; dan akhirnya Lex Luthor menikah dengan Lana Lang.

Universitas Savoei, di Chambery, di Prancis bagian timur, tak bisa dibandingkan dengan Universitas setara Sorbonne, di Paris. Chambery hanyalah kota komun kecil dengan perkiraan jarak tempuh 520 kilometer Paris, ibukota, Prancis bagian Utara; 330 kilometer dari Marseille, kota besar kedua, Prancis bagian Selatan; dan bahkan 100 kilometer dari Lyon, kota besar keempat, Prancis bagian Timur. Hidup dan tinggal di Chambery, mungkin seperti hidup di Kota Batu, Malang Raya, Swiss-nya Jawa Timur bagi orang-orang Eropa. Mungkin nanti akan kuceritakan lebih banyak tentang universitas-universitas kecil dan tak banyak dikenal yang justru memiliki keunikan.

Sekian dulu, Ma, kebahagiaan dan kesehatan selalu menyertaimu.

(1) https://id.wikipedia.org/wiki/Surono_(geolog)

(2) http://geomagz.geologi.esdm.go.id/surono-berdiri-di-cincin-api/

() 1979-2019 : l’Université Savoie Mont Blanc fête ses 40 ans (1979-2019 : Perayaan 40 tahun Universitas Savoie Mont Blanc) https://www.youtube.com/watch?v=GJvQ-wiAkzI

Surat Untuk Mama (1): Toko Buku Bekas di Tempat Bertemunya Phallus (Penis/Lingga) dan Vagina (Vagina/Yoni).

Di bawah bayang-bayang pendidikan Keluarga Islam à la Muhammadiyah yang rigor, ketat; serta anak lelaki satu-satunya yang berada di lingkungan keluarga yang mayoritas perempuan, dan telah feminis secara natural tanpa telaah panjang dari de Beauvoir atau lawannya Antoinette Fouque; memilih untuk menggelandang dari rumah yang nyaman sejak es-em-pe di luar rumah untuk mencari pelampiasan kehangatan kasih kakak lelaki atau adik lelaki, seperti ciuman pipi ibunda pada anak lelakinya, seperti genggaman tangan yang lembut seorang ayah pada anak perempuan—dan kini benar-benar merasakan rindu pada rumah, dan menemukan satu definisi.

Dalam salah satu sandek (pesan pendek) dalam aplikasi modern, engkau selalu bertanya dengan penuh kepeduliaan sebagai ibu: “Sudah sampai di mana bahasa Prancisnya?” Kini, putramu, anak lelaki, telah sampai pada tahapan untuk mencari bea dari Pemerintah Prancis, menentukan kota dan universitas, dan tentu saja ada kejutan kecil yaitu berjuang untuk mencarikan juga beasiswa untuk calon menantumu yang ayu itu nanti; sebab putramu tak bisa hidup sendiri, dan alangkah menyenangkan belajar bersama tentang kehidupan di bawah satu garis nasib penderitaan bersama belahan jiwanya di benua Biru.

Akan tetapi, untuk memenuhi segala prasyarat di atas, putramu harus memiliki alat yaitu berupa kamus bahasa, meskipun kini dunia teknologi telah mengubah format kamus bahasa dalam bentuk yang lebih simpel dan cepat. Nah, untuk kamus, putramu lebih senang mencarinya di satu toko buku bekas di satu tempat yang kerap mendapatkan sorotan negatif: Tempat berkonotasi negatif. Di tempat berkonotasi negatif itulah, putramu kerapkali membeli buku-buku luar dengan fokusnya seperti Inggris, Jerman dan Prancis. Namun, pada kunjungan yang keempat ini, puteramu melirik pada rak negara Skandinavia seperti Denmark, negara paling nyaman untuk anak-anak kecil dan paling bahagia di dunia, khususnya Kopenhagen (dan maaf US & Israel).

Orang-orang relijius dalam pemahaman yang rigor tak akan pernah mau untuk membuka ruang, membuka teritorinya, langkah kakinya ke tempat seperti tempat berkonotasi negatif yang kerap disebut Pasar Kembang ini, yang justru di antara losmen-losmen hadir satu cahaya dalam format buku dan sajian bahasa-budaya. Putramu tak ingin terjebak terlalu jauh dalam wilayah moral, akan tetapi dari kunjungan ke tempat berkonotasi negatif ini, mendapat satu pemahaman berkonotasi positif. Seperti metafora malam hari, yang mana bulan menerangi dunia dengan cahayanya.

Dan hal terakhir, putramu mendapatkan roman Emile Zola, sastrawan Prancis yang disukai Mohamad Natsir dari Masyumi, dalam bahasa Hungaria. Dalam halaman lain akan kuceritakan tentang istilah yang kubuat sendiri, resiprok bahasa, yang mana bahasa yang telah dikuasai dengan baik MEMBANTU bahasa yang belum dikuasai dengan baik.

Salam sayang dan rindu, Ma.

Pasar Kembang, Yogyakarta.

[English]

Under the shadow of Islamic family education of the Muhammadiyah which was rigorous, and become the only boy who was in a family that was mostly female, then he was a feminist naturally without a long review from de Beauvoir or his opponent Antoinette Fouque; He chose to wander in the outside of the house in search of an outlet for the warmth of the love of a big brother or a little brother, like the kiss of the mother to his son on the cheek, like the grasp of hand of a father to a daughter; then he now really feel homesick and find a definition.

In one short message of the modern application, you always ask with care as a mother: “How about your French?” Now, your son was at the stage of seeking a scholarship from the French Government, and will decide about the city and university, and of course there is a small surprise that is struggling to find a scholarship for your prospective daughter-in-law; because your son cannot live alone, and it will be nice to learn together about life of suffering with his soulmate on Europe.

But, to fulfill all the preconditions, Your son must have a tool that was in the form of a language dictionary, although now the world of technology has change on the format of language dictionaries. Well, for a dictionary, your son has looking for it in one of the bookstore in a place that often gots a negative perspective: The place had a negative connotation. In that place, your son often buys some books with his focus such as English, German and French. However, on this fourth visit, he glanced at the shelves of a Scandinavian country like Denmark, the most comfortable country for the children in the world, especially Copenhagen (and sorry for US & Israel).

Religious people in a rigorous perspective would never want to open space, open his territory, his footsteps on that place that was often called the Pasar Kembang, which was precisely among an inn to an inn to presenting one place with book format and language-cultural offerings. He does not want to be trapped too far in the moral perspective, but in that case with this negative connotation, he gots a positive connotation of perspective. Like the metaphor of night, which moon illuminates the world with its light.

And the last thing, he gots the romance of Emile Zola, the French writer who liked Mohamad Natsir from Masyumi, in Hungarian. In another page I will tell about the term that I made myself, reciprocal language, which is a well-learned language HELP that has not-been-well leraned language.

Dear and longing, Mom.

[Terjemahan Prancis dan Jerman, menyusul]

Les Mots-Valises.

(Dua kata yang digabungkan menjadi satu untuk membentuk kata terma atau definisi baru)

1. Plan: Rencana (istilah ekonomi) dan Annonceur: pemasangan iklan (istilah publisistik).

Plan+Annonceur = Plannonceur (Rencana pemasangan iklan; ekonomi dan publisistik).

Plannonceur est le nouveau term dans le domain de la publicité. Le mot de «Plan» est prendre de la stratégie d’économie; alors, le mot d’«Annonceur» est prende d’operation de communication.

Plannonceur, Rencana pemasangan iklan adalah terma baru dalam domain periklanan. Kata ‘Plan’ diambil dari strategi ekonomi; lalu, kata ‘Annonceur’ diambil dari operasi komunikasi.

2. Bilingue: dua bahasa (istilah bahasa) dan Guêpe (istilah fauna): Tawon.

Bilingue+Guêpe = Bilinguêpe (Tawon dengan dua bahasa).

Noun. Masculin. Animal qui est deja créée par les chercheurs en forme de robot pour aider les enfants qui a difficulte d’apprendre le langue.

Kata benda. Kata benda jenis maskulin. Seekor hewan yang diciptakan oleh para peneliti dalam bentuk robot untuk membantu anak-anak yang memiliki kesulitan belajar bahasa.

Seni Rima.

– Persembahan agung untuk para pembuat lirik (lirisis) yang sangat dihargai di Seni/Budaya Prancis.

Sur La Ville (Tentang Kota)

Je me lève sur la terre dans la mont[agne] A

Devant-moi, je regarde à ma v[ille] B

A cote de moi, je raconte pour lui qui comp[agne] A

Il/elle repond-moi que ma ville est comme la ville de L[ille] B

Pelafalan:

[zemelev su later dong lamontayn

devangmwa, ze regad a maviy

akotedemwa, ze rakong pur lui ki kompayn

ilrepongmwa ke maviy e kom laviy de liy]

Indonesia:

Aku berdiri di atas tanah pegunungan

Dihadapanku, aku melihat kotaku

Disisiku, aku bercerita untuknya yang menemani

Ia/dia membalasku bahwa kotaku seperti Kota Lille

Aksentuasi (pemberian tekanan suara pada suku kata atau kata).

– Untuk seorang kawan di bidang sineas/film di Universitas Muhammadiyah Malang–dan apa kabar Madame Hannah Al Rashid.

Semasa kuliah, jika tepat, ogut pernah diajak oleh kawan baik ogut, Anak UMM Malang, di es-em-a untuk main film di PH-nya sebagai figuran. 3 kali scene, seingat ogut. Pengalaman menegangkan dihadapan kamera untuk main film. Membaca script film dan kemudian improvisasi.

Ada tarikan waktu antara momen pada main film saat itu ke momen di mana mempelajari bahasa yang maniak/fanatik dengan film: kurang-lebih 9 tahun yang lalu, dan catatan tambahan, di budaya Prancis, semua judul film di luar bahasa Frankofon harus di-Prancis-kan.

Di dalam script film terdapat susunan teks yang hampir mirip dengan naskah drama, dan ada pula istilah seperti tokoh dialog, beat, dan dialog (1). Dalam dialog, tak hanya tentang bagaimana teks dibentuk, melainkan ada emosi yang harus dimainkan dalam suatu bunyi atau suara pada kata-kata yaitu aksentuasi (2). Dalam gambar ada tulisan:

Je VEUX un bonbon (lafal: ze Ve (nada tinggi/pelan) angbongbong) [Aku ingin permen].

Dalam olah vokal ada term-term yang hampir mirip dengan aksentuasi semacam artikulasi perihal kejelasan vokal huruf hidup; intonasi lebih ke nada bicara tinggi/rendah; Phrasering, penggalan kalimat (3).

(1) http://idseducation.com/articles/contoh-format-skenario-film/

(2) https://kbbi.web.id/aksentuasi

(3) http://xp-dc.blogspot.com/2013/02/melatih-pelafalan-intonasi-jeda.html / http://publicspeakingmalang.blogspot.com/2017/01/olah-vokal-dalam-public-speaking.html

Parenting meet science.

“It is easier to build strong children than to repair broken men.” –Frederick Douglass.

Anak: Yah, kemarin aku main sepeda ke jalan X, jalannya mulus dan sepi; tapi di dekat mall, di jalan Y yang ramai, jalannya melengkung. Kok bisa ya, Yah?

Ayah: Oh, masalah itu. Gimana ya njelasinnya, oke gini aja. Setiap kendaraan punya bebannya masing-masing, truck atau mobil pribadi. Di jalan X, tak di lalui truck atau mobil pribadi, jalan masih rata; tapi beda dengan jalan Y, yang setiap hari dilalui, truck atau mobil pribadi dengan bebannya masing-masing, maka jalan tidak rata lagi tapi melengkung dan mengalami kejenuhan.

Anak: Jalan bisa jenuh, Yah?

Ayah: Bisa dong, kan produk manusia. Nah, nanti, jika sudah dewasa seperti ayah, maka kamu juga punya beban pada keluarga kecilmu, pada anak dan istrimu. Akan tetapi, beban itu bisa diminimalisir dengan pondasi-pondasi tanah yang kuat.

Anak: Apa Yah pondasi itu?

Ayah: 1) Cinta. 2) Perjuangan. 3) Pengorbanan. 4) Kepercayaan. 5) Harapan.

Anak: Wah, aku ngerti sekarang. Makasih ya, Yah.

Fuite Des Cerveaux.

I see white / Bright flashes of souls of those I know / They are so bright / They are so controlled / They won’t let go / And this vision – Synthesis of classic forms (album End Transmission, 2002), Snapcase.

Suatu term tentang peneliti—musik, kuliner, olahraga, sosial, iptek dan lain-lain—dari negara X yang kemudian terbang dan melanjutkan studi di negara Y. Ketika peneliti dari negara X selesai studi, akan kembali ke negaranya, dan kinerjanya baik, suatu institusi dari negara Y memberikan tawaran yang membuatnya harus berkompromi untuk menggadaikan nasionalisme-nya. Dalam konteks ini, peneliti memiliki alasan kuat:

Lingkungan penelitian yang tak dimiliki di negara X; 2) Negara Y memberikan apresiasi yang tinggi—seperti bayaran tinggi, pendidikan-kesehatan bagi istri dan anak si peneliti—yang mana negara X tak memberikannya; seperti perawatan gigi anak oleh dokter gigi di Denmark diberikan secara gratis sejak anak umur 1,5 tahun sampai 17 tahun; atau Subhanallah, disini saya benar-benar merasa disupport; atau salah satu programnya adalah spouse program, yakni program berdurasi 6 bulan yang tujuannya adalah untuk membantu suami/istri dari mahasiswa/pekerja international untuk mendapatkan pekerjaan di Denmark. (1)

Apabila negara X tak segera membenahi sistem yang ada bagi para peneliti muda, dan para stakeholder lebih senang membangun citra partai demi kekuasaan, percayalah negara X akan kehilangan Habibie-Habibie muda yang brilian, yang buah kerjanya justru diminati oleh negara Y.

Seperti mengingat judul lagu band Hardcore Jakarta Timur, Lost Sight: For those who care—to young Indonesian.

(1) Mamarantau Denmark—salah satu negara skandinavia dengan corak ekonomi mix/campuran sosialisme-kapitalisme https://mamarantau.com/2018/01/18/merantau-di-aalborg-denmark/

() Denmark dan Skandinavia Lebih Sosialis dari Negara Komunis https://www.kompasiana.com/terlambang/59c84a5f63a8e664a40e9352/denmark-dan-skandinavia-lebih-sosialis-dari-negara-komunis