Surat untuk gadis kecilku dan para (keturunan) petani: Suatu pertentangan ilmu pengetahuan?

À cette époque, l’économie était submergée par des mathématiques très abstraites, explique Christian Gollier, directeur adjoint de TSE. Jean s’est inscrit à contre-courant, dans des problématiques très concrètes.

[Di masa lalu, ekonomi tenggelam oleh matematika yang sangat abstrak, jelas Christian Gollier, direktur TSE. Jean—Peraih nobel ekonomi 2014—melawan arus, dalam problem-problem yang sangat konkrit] – Matthieu Ravaud, tentang gagasan Jean Tirole, Aset, Ekonomi, Perusahaan, Pajak, Sistem Prancis. (1)

Hari ini, calon bapakmu masih menikmati kota tumbuh kembangnya dan melanjutkan untuk mengunjungi satu tempat yang telah lama tak dikunjungi, Villa Bukit Tidar, daerah Genting. Daerah ini, Nak, semasa es-em-pe, masih seperti hutan, hanya suara jengkerik yang terdengar; namun, kini, suara jengkerik menghilang berganti suara deru kendaraan penduduk setempat. Calon bapakmu hanya bisa mendesahkan nafas dalam-dalam, ketika berangkat dari rumah dan telah mencapai satu perumahan lama, tempat di mana masa kecil calon bapakmu dihabiskan di tempat tersebut bersama kawan-kawan masa kecil calon bapakmu, Perumahan Joyo Grand.

Tujuan calon bapakmu ada dua: 1) Dari Perum Joyo Grand ke Villa Bukit Tidar, terdapat jalan tanjakan yang cocok untuk berolahraga, khususnya untuk mendaki gunung, dan jika kamu ingin naik Gunung Elbrus, maka kamu harus menyiapkan kondisi tubuh, dalam istilah olahraga, khususnya mendaki gunung, seperti: Itenerary, perbedaan antara Hiking- Mountainering-Treking, Bonus. Nah yang calon bapakmu lakukan adalah olahraga Treking. Semoga, nanti, calon bapakmu dan calon ibumu—yang entah di mana—bisa mendaki Elbrus bersama-sama dan menceritakan pengalaman padamu; 2) Melihat sawah dari calon kakekmu bersama sayur-mayurnya. Sekalipun calon bapakmu telah ter-brainwash oleh pendidikan Barat, khususnya Eropa, namun calon bapakmu tak akan lupa pada akarnya sebagai seorang keturunan petani. Tokoh muda Nahdlatul Ulama yang calon bapakmu kagumi, pernah menulis seperti ini dalam blognya, yang sampai detik ini masih calon bapakmu simpan baik-baik: Sejauh-jauhnya aku belajar ke luar negeri, aku toh tetap santri. (2) Pun demikian dengan calon bapakmu, Sejauh-jauhnya aku belajar ke luar negeri, aku toh tetap petani.

Selangkah demi selangkah, calon bapakmu menapaki jalan aspal dari Perum Joyo Grand ke Villa Bukit Tidar. Mata calon bapakmu menangkap banyaknya perubahan yang terjadi: Perumahan, Cafe, Masjid, et cetera. Calon bapakmu, bukan Sherlock Holmes yang ingin menyelematkan dunia dari cara kotor ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Prof. Moriarty; calon bapakmu hanya seorang keturunan petani yang diberikan kenikmatan oleh Tuhan berupa merasakan pendidikan Barat, Eropa.

Pertanian kini bukan pertanian saat Hatta menuliskan bahwa sistem Sosialisme paling ideal untuk Indonesia adalah sistem yang ada di desa: kerja sama, tolong menolong. Kini, di era calon bapakmu yang sangat modern, kata ‘kerja sama, tolong menolong’ dapat disamakan dengan kolaborasi. Dari kolaborasi itulah, calon bapakmu menggunakannya sebagai tool dalam ilmu pengetahuan. Pertanian, tak bisa hidup tanpa ilmu-ilmu yang lain. Saat memotret yang entah ke berapa kalinya, saat berhenti memandang Gunung Arjuno dari kejauhan, calon bapakmu sempat berpikir: Jika pembangunan secara masif tak diatur, tak ada lahan untuk menanam secara alami dari tanah, maka pertanian akan masuk dalam laboratorium: rekayasa cabai, rekayasa petai, rekayasa padi, rekayasa lain-lain…

Tak hanya itu,

Didikan calon kakekmu yang keras, bukan kasar, dalam artian apa yang calon bapakmu inginkan, maka calon bapakmu harus memulai, berusaha-berjuang, pelajari kegagalan, temukan solusi. Dari hal-hal seperti, memulai, berusaha-berjuang, pelajari kegagalan, temukan solusi, plus cara pandang visioner, calon bapakmu tak tertarik untuk menjadikan sawah kakekmu sebagai bangunan, meskipun background pendidikan dari calon bapakmu adalah Teknik Sipil dan Bangunan. Calon bapakmu menduga bahwa di masa depan, perang ketahanan pangan akan sangat riuh, seriuh lalu lalang kendaraan yang melintas. Calon bapakmu lebih senang melihat sawah dari kakekmu menumbuhkan sayur-mayur, dan tentu saja tanpa rekayasa ilmu pengetahuan.

Semoga tahun ini, 2019, adalah tahun di mana calon bapakmu dipertemukan dengan calon ibumu yang manis itu, Nak. Dan satu hal, jangan malu punya calon bapak seorang (keturunan) petani yang mengenyam pendidikan Barat, Eropa.

Salam sayang dan rindu. Amin.

(1) https://lejournal.cnrs.fr/articles/jean-tirole-prix-nobel-deconomie

(2) https://fayyadl.wordpress.com/2012/12/19/des-feuilles-de-paris/

Bacaan lain tentang Jean Tirole di surat kabar Le Monde:

() https://www.lemonde.fr/economie/article/2014/10/13/le-prix-nobel-d-economie-distingue-le-francais-jean-tirole_4505250_3234.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s