Hal-Ihwal Radio: Suara Seorang Music Director dan Penyiar itu…

onair.jpg

Gadgetku bergetar di atas meja belajar. Perlahan-lahan, aku bangkit dari kasur, mengikat ke belakang rambut panjangku yang terurai. Lamat-lamat, aku telah mencapai meja belajar. Sebuah nomor tanpa nama tertera. Awalnya, aku tak ingin mengangkatnya. Namun lima panggilan tak terjawab membuatku dihantui rasa penasaran. Lalu, saat panggilan keenam, aku mencoba mengangkatnya:

Halo, Tam?”

Ya, ini aku, siapa ya?”

Ini aku, Mar…Maruli.”

Aku memejamkan mata, mengingat nama-nama Maruli yang pernah hinggap dalam kehidupanku. Aku hanya punya dua kawan yang bernama Maruli: pertama, Maruli kawan KKN-ku; dan yang kedua, adalah seorang penyiar radio.

Halo, Tam?”

Ini, Maruli, penyiar itu.”

Tepat, Tami.”

A…Ap…Apa kabarmu, Rul, eh Mar?”

Ha-ha, tak perlu gugup. Baik, aku sedang di Jakarta sekarang. Kau di Jakarta, kan?”

Aku memejamkan mata sekali lagi, dan bertanya-tanya, apakah sejak dulu, sejak pertemuan terakhir itu, ia masih menyimpan nomor ponselku? Tapi mengapa sejak ia meninggalkan pekerjaannya di satu stasiun radio, ia tak pernah menghubungiku lagi? Nama Maruli, seakan-akan tenggelam oleh dua pria lain yang selama enam tahun ini mengisi hidupku, Yanu (dua tahun) dan Geri (empat tahun hingga sekarang). Aku masih ingat saat-saat itu, Mar, ketika kau masih menjadi penyiar di program acaramu yang mengobrolkan tentang banyak hal pada kehidupan ketika pukul sepuluh malam itu. Kau tahu, Mar, aku selalu menanti suaramu di jam-jam siaranmu tersebut. Apakah kau tahu juga, Mar, betapa aku mengagumi kedewasaan pikiranmu saat itu, meski kau dan aku masih berumur dua-puluh tahunan. Ya, aku masih ingat, dan masih menyimpan kata-katamu itu hingga saat ini, bahwa kedewasaan tidaklah dilihat dari nominal umur, melainkan dari bagaimana kita mengolah pengalaman-pengalaman kita dan memberikannya dalam bentuk-bentuk apapun—dan kau lebih suka dengan pendekatan yang persuasif antar personal—di saat yang tepat, pada siapa yang sedang memerlukannya.

Tami, kau baik-baik saja, kan?”

Ah, ya, Mar…Ya tentu saja, ya aku di Jakarta. Kau tinggal di mana sekarang?”

Aku sekarang tinggal di Yogyakarta, dan aku ada acara di Kebayoran. Kemarin aku menghubungi Arina, dan dia memberikan nomormu. Kapan kau ada waktu?”

Aku masih mengingatmu, Mar. Aku masih memendam perasaan cintaku kepadamu. Aku juga menyimpan baik-baik lagu-lagu yang kau senangi di dalam rak pikiranku. Berkat keluasan wawasan musikmu, ketika kau menjadi seorang music director, suatu posisi yang mengharuskan dirimu juga layaknya seorang pendengar dan seorang penyusun playlist radio, kau mengatakan bahwa dari ratusan lagu yang pernah kau dengarkan hanya ada empat lagu yang membuat benar-benar menjadi seperti manusia seutuhnya: Apakah kau masih mendengar lagu Beautiful Boy (Darling Boy) dari John Lennon, sebuah lagu yang diciptakannya untuk putranya, Sean, ketika kau melihat seorang anak kecil. Apakah kau masih juga membicarakan lagu Aurora dari Hans Zimmer, sebuah lagu yang diciptakan untuk korban penembakan di Aurora, Colorado, ketika suatu peristiwa yang tak mampu diterka, yang kemudian terjadi begitu saja. Apakah kau juga masih memutar Very Sad Piano Music dari Roy Todd, sebuah lagu yang mengeksplanasikan tentang suatu emosi, ketika kau merasa senang bahkan sedih. Apakah kau masih mendengar lagu Damai Kami Sepanjang Hari dari Iwan Fals, sebuah soundtrack dari film Damai Kami Sepanjang Hari, yang pernah kau ceritakan tentang seorang anak yang telah kehilangan kedua orang tuanya dan harus membesarkan keempat adiknya dengan mengamen, ketika kau memahami bahwa kita tak mampu hidup sendiri dan memerlukan orang lain.

Tami…?”

Ah, ya Mar. Eng…bagaimana bila akhir pekan, sabtu?”

Baiklah, aku tunggu di Pasar Santa, oke.”

Baiklah.” Aku terdiam sesaat, pun dengan Maruli. “Mar, ada yang ingin aku…”

Dengan cepat, ia menutup teleponnya. Suara yang pernah kudengar beberapa tahun lalu itu muncul dan menghilang kembali, beriak-riak seperti gelombang air laut. Ah, Mar…

[] Image Radio via www.alexklim.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s